Anda di halaman 1dari 18

Pengaruh interaksi obat ( agonis

antagonis ) pada aktivitas obat


( Antihistamin)

Hewan uji

Marmut

Alat uji

- Kimograph universal models,


kertas grafik Harvard apparatus,
ltd.
- Magnus constan temperature
bath type DSK 3911
- Neraca analitik, bake glass 100
ml, 250 ml, 1000 ml.
- Labu ukur 500 ml, gelas ukur
10ml, mortir dan stamper, cawan
porselin
- thermometer, pengaduk , alat
bedah, spit injeksi
- Statif dan holder, api spiritus
- Kaki tiga, kasa asbes, kain

Marmut jantan atau betina.


Bobot badaan 300 400 gram.
Di pelihara 2 minggu sebelum di
lakukan penelitian.
Di puasakan 6 8 jam sebelum di
ujikan

Bahan uji

- Histamin. Histamin dalam


sediaan 25 g/ml.
- Antihistamin H1 Difenhidramil
HCL.

- Histamin di gunakan sebagai


penginduksi kontraksi otot
polos karena senyawa ini
meningkatkan tonus usus halus
dengan aktvasi R-H1
- Difenhidramil HCL bersifat
antagonis kompetitif dengan
histamin pada reseptor
histaminergic H1.

Larutan tyrode

- Larutan Tyrode :
- Dibuat dalam 2 bagian : larutan A
dan B.
- 1 Lt larutan A : NaCl 80,0 g, KCL
2,00 g, MgCl2.6H20 2,14 g, CaCl2.
2H2O 2,64 g dan NaH2PO4. 2H20
0,65 g di lartkan dalam 1 Lt air
suling.
- Larutan B : NaHCO3 10,0 g di
larutkan dalam 1 Lt air suling.

- larutan Tyrode adalah larutan


buffer fisiologis yang berfungsi agar
organ terisolasi tetap hidup dan
tahan lama.
- Larutan A di simpan dalam
lemari Es
- Larutan B selalu dalam keadaan
recent paratus atau di buat baru.

Parameter uji

Kontraksi ( frekwensi dan


kekuatan kontraksi ) otot polos
ileum atau otot halus marmot

Langkah praktikum :
Langkah 1

Menyiapkan hewan uji yaitu mart jantan aatu betina dengan bobot 300 400 g sebanyak 3- 5
ekor. Sebelum dilakukakan penelitian marmt di pelihara dahulu selama 2 minggu.
Kemudin di puasakan6 8 jam sebelum dilakukan uji.

Langkah 2

- Persiapat alat
- Bahan uji : histamin sebagai penginduksi kontraksi otot polos dan antihistamin Difenhidramil
HCL

Langkah 3

Persiapan larutan Tyrode

Langkah 4

Preparasi usus halus.

Langkah 5

Uji stabilitas usus. Hal ini dilakukan untuk pengujian obat baru.

Langkah 6

Melakukan pengujian pengaruh interaksi obat ( agonis antagonis ) pada aktivitas obat
( Antihistamin )

Persiapan Larutan tyrode :


Larutan tyrode dibuat dalam 2 bagian larutan, yaitu larutan A dan larutan B.
Dalam 1 larutan A terdiri dari : NaCl 80,0 gram, KCl 2,00 gram; MgCl2.6H20
2,14 gram; CaCl2.2H2O 2,64 gram ; NaH2PO4.2H2O 0,65 gram. Dilarutkan
dalam 1 liter air suling, ddan disimpan dalam lemari es
Untuk larutan B yang mengandung NaHCO3 10 gram dan dilarutkan dalam 1
liter air suling, selalu ddalam keadaan recent paratus atau dibuat baru. Larutan
A dan B , maing-masing 100 ml, kemudian dimasukkan kedalam 800 ml air
suling, aduk ad hom. Setelah itu ditambahkan 1 gram glukosa dan disimpan
pada suhu 37 derajad C .

Preparasi usus halus untuk uji efek histamin dilakukan sbg berikut :
Mula-mula marmot dipuasakan makan dan minum selama 6-8 jam. Kemudian dikorbankan
dengan cara disembelih dan perutnya dibuka untuk segera diambil usus halusnya
Usus halus dipotong kira-kira sepanjang 2-3cm. Isi usus dan lemak yang mengganggu
sebaiknya dibersihkan. Potongan usus tersebut segera masukkan ke dalam larutan tyrode.
Volume larutan tyrode yang digunakan pada setiap perlakuan diusahakan sama, yaitu 60ml.
Selama melakukan eksperimen, usus harus tetap tercelup ke dalam larutan tyrode pada
suhu 37
Selanjutnya ujung yang satu diikat dg kait yg terdapat dlm tabung tengah organbath
sedangkan ujung yg lain diikatkan pd alat pengumpil jarum penulis data pada alat
kimograph. Udara dialirkan secara teratur dan terus menerus dengan pompa udara. Suhu
larutan tyrode dijaga agar tetap stabil antara 34 C-37 C dengan bantuan alat pemanas air yg
ada di tabung gelas luar. Alat pencatat kimograph diatur sedemikian rupa sehingga mampu
merekam setiap pergerakan yang terjadi

UJI STABILITAS USUS


Mula-mula tonus normal diberi histamin, yang berfungsi sebagai agonis reseptor
histaminik dan diamati perubahan tonusnya
Sebuah grafik stabil kemudian diberi difehidrmain atau antihistamin-H1 lain
sebanyak 1-2ml, yang bekerja sebagai antagonis reseptor histaminik dan diamati
perubahan tonusnya
Setelah ini, prosedur yang sama dilakukan terhadap ileum normal, yang lain.
Apabila hasil grafik menunjukkan kondisi yang sama atau stabil dibandingkan
dengan hasil sebelumnya, baru dilakukan pengujian dengan bahan obat lain
yang akan ditentukan

Persiapan Larutan
Tyrode

Preparasi usus halus

Uji stabilitas usus

Disiapkan marmut jantan atau betina, bobot badan 300 400 g


Sudah di pelihara 2 minggu sebelum di lakukan pengujian
Di puasakan 6 8 jam sebelum di ujikan

Marmut di bagi menjadi 2 kelompok yaitu kontrol dan kelompok uji, yang masing
masing 1 ekor.
Hewan di puasakan 6 8 jam agar ususnya kosong.

Mamut di korbakan dengan cara di sembelih dan perutnya di


buka untuk segera di ambil usus halusnya

Potongan ileum marmot yang sudah di isolasidari tubuh marmot di potong 2- 3 cm.
Potongan ileum di kaitkan di organbath yang telah di isi larutan Tyrode, kemudian di
amati kontraksinya hingga di dapat kondisi stabil.

Marmut dibagi menjadi 2 kelompok, masing-masing 1 marmut

Kontrol
Di gunakan plasebo

Kelompok Uji
Di gunakan Histamin

Selanjutnya ditambahkan histamin. Dosis histamin yang dapat digunakan adalah 0,1
; 0,2 ; 0,3 ; 1; 3; 10 ; dan 30 mg/ml ), secara kumulatif. Setelah penambahan satu
dosis histamin maka ditunggu 2-3 menit hingga terjadi kontraksi maksimum.

Untuk mengamati efek pada dosis berikutnya, maka organ usus terlebih dahulu
dibilas berkali-kali hingga bersih dengan larutan tyrode 37 C. pencucian sebaiknya
dilakukan min 2 kalilalu dibiarkan selama 30-45 menit adgar kontraksi menjadi
normal.

Setelah itu dapat ditambahlan antagonis histamin 5-10 mg/ml seperti


cimetidin. Kemudian ditunggu sampai 20 menit agar terjadi kontak obat
dengan jaringan . Antagonis dapat ditambahkan berulang-ulang sampai
efek yg dikehendaki

Kontraksi yang terjadi dicatat, dibandingkan efeknya sebelum


dan setelah diberi bahan obat difenhidramin HCl

1. Bagaimana peranan histamin pada proses inflamasi ?


. Histamin adalah salah satu bagian otokoid yaitu substansi yang di produksi oleh
bermacam macam sel, yang memiliki aksi local di area di mana substansi tersebut
di produksi. Histamin adalah otokoid golongan amin.
. Histamin terdapat pada sel mastosit, peredaran basophil, sel histaminosit di lambung
dan neuron histaminergic di otak.
. Histamin merupakan salah satu mediator inflamasi. Efek inflamasi dari histamine
terjadi pada vaskuler. Histamin menstimulasi vasodilatasi arteriol dan venule
postkapiler, menyebabkan vasokontriksi vena dan kontraksi sel endothel.
. Histamin memiliki aksi meningkatkan permebilitas vaskuler sehingga terjadi
eksudasi cairan tubuh di ekstraseluler dengan demikian terjadi gejala udem.

Udem : di awali dengan kontriksi arteriol yang di ikuti dengan


vasodilatasi, sehingga terjadi perubahan volume darah kapiler
dan venul yang menjadi penuh sehingga pembuluh darah
merenggang dan menjadi lebih permeable. Akibatnya protein
plasma keluar dan terjadi penumpukan cairan interstisiil di
dalam jaringan yg di kenal dengan udem.

2.

Bagaimana peranan histamine pada alergi ?

Histamin adalah bentuk dari respon tubuh terhadap alergen. Histamin


di lepaskan ketika seseorang terjadi kontak dengan alergen.
Pelepasan histamin merupakan respon biologis yang dimediasi oleh
sistem kekebalan tubuh sebagai respons terhadap alergen tertentu dan
pemicu lain dari lingkungan luar atau tubuh sendiri.
Menanggapi ini, basofil dan sel mast merespon protein, saat
imunoglobulin melekat pada alergen, dengan melepaskan histamin,
suatu senyawa kimia yang diproduksi dan disimpan dalam sel-sel ini.
Serangkaian kaskade reaksi terjadi ketika histamin terhubung ke
reseptor dalam jaringan yang berdekatan.

3. Bagaimana

vertigo ?

peran histamin terhadap mual muntah, mabuk perjalanan,

- Antihistamin >> Mabuk Perjalanan >> Mata dan telinga menangkap


hal berbeda >> memicu histamin dan ach >> kemotrigerton >>
Stimulasi mual muntah
- Antihistamin >> vertigo >> illution of motion >> memicu histamine
dan ach >> Kemotrigerton stimulasi mual muntah

4. Apa

yang di maksud agonis dan antagonis ?

Agonis adalah sebuah obat yang memiliki afinitas terhadap reseptor


tertentu dan menyebabkan perubahan dalam reseptor yang
menghasilkan efek diamati. Respon molekuler dan seluler yang terjadi
akibat aktivitas reseptor oleh senyawa agonis. Obat atau suatu substansi
di katakana agonis terhadapa suatu reseptor apabila memiliki efikasi
yang tinggi.
Antagonis adalah obat yang menduduki reseptor yang sama tetapi tidak
mampu secara intrinsik menimbulkan efek farmakoligik sehingga
menghambat karja suatu agonis , obat tersebut di katakana sebagai
antagonis.

5. Mengapa

marmot ?

yang di gunakan sebagai preparat uji adalah usus halus

Karena mekanisme kontraksinya dipengaruhi oleh autokoid histamin,


yang mempengaruhi aktivitas saluran pencernaan secara langsung
tanpa melalui persarafan dan karena faktor sensitivitas yang tinggi dari
usus halus marmut terhdap pengaruh pemberian bahan uji, terutama
uji yang terkait dengan segmentasi usus.