Anda di halaman 1dari 59

Ciri-ciri masyarakat madani sudah ada di Indonesia, akan tetapi perlu upaya dan kerja keras

dari semua pihak menciptakan masyarakat madani yang seutuhnya. Masyarakat madani itu
sendiri berarti masyarakat yang beradab dengan menjunjung tinggi norma-norma yang berlaku
dimasyarakat serta didukung oleh penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan kata
lain, masyarakat madani adalah masyarakat yang menjungjung tinggi imtak dan iptek. Dan
inilahciri-ciri masyarakat madani di Indonesia.
1. Free Public Sphere (Ruang Bebas Publik)
Salah satu karakteristik dari masyarakat madani adalah terdapat tempat bagi
masyarakat (Free Public Sphere) untuk melakukan aktivitas publiknya secara bebas
namun tetap harus dibarengi dengan rasa tanggung jawab. Masyarakat mendapatkan
haknya secara penuh dan merdeka untuk menyampaikan pendapat, berserikat,
berkumpul, berorganisasi termasuk mempublikasikannya kepada publik tanpa ada
tekanan dari pihak manapun.
2. Demokratisasi
Demokratisasi sangatlah penting bagi terciptanya masyarakat madani didalam suatu
negara, termasuk Indonesia. Demokratisasi itu sendiri merupakan sebuah proses
menegakkan prinsip-prinsip demokrasi didalam sebuah negara demi terciptanya
masyarakat yang menjungjung tinggi asas-asa demokrasi. Demokrasi ditegakkan oleh
lima pilar yaitu LSM, Pers yang bebas, Supremasi hukum, Perguruan Tinggi dan juga
Partai Politik.
3. Toleransi.
Ciri-ciri masyarakat madani lainnya adalah toleransi yang artinya sikap seseorang dalam
menerima pandangan-pandangan yang berbeda dengan dirinya didalam segi apapun
bisa politik, sosial, ekonomi, dan lain-lainnya. Sebagai negara yang heterogen tentu
toleransi ini merupakan sikap yang harus dimiliki oleh setiap masyarakat Indonesia agar
semboyan Bhinneka Tunggal Ikatetap tegak dibawah cengkraman Garuda.
4. Plural
Plularisme merupakan sikap yang mau menerima dengan tulus ikhlas suatu kondisi
masyarakat yang majemuk. Indonesia merupakan negara yang majemuk dan ini
merupakan salah satu kado terindah dari Tuhan untuk kita. Sudah sepatutnya bagi kita
untuk mensyukuri hal ini dan menjadikannya sebagai sebuah kekuatan dan nilai positif
untuk membangun Indonesia kearah yang lebih baik dengan semboyan berbeda-beda
tetapi tetap satu jua.
5. Keadilan Sosial
Keadilan sosial atau yang biasa disebut social justice oleh berbagai kalangan
merupakan salah satu syarat mutlak terciptanya masyarakat madani. Keadilan sosial itu

sendiri bermakna setiap warga negara mendapatkan proporsi hak dan kewajiban yang
seimbang didalam kehidupan sosial bermasyarakat. Sebagai negara yang berdaulat,
Indonesia senantiasa menjungjung tinggi keadilan sosial karena tercantum didalam
Pancasila sila ke-5.
6. Partisipasi Sosial
Partisipasi sosial merupakan bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat madani yang
senantiasa menegakkan demokrasi. Partisipasi sosial berarti setiap warga negara berhak
dan berkewajiban untuk ikut serta didalam berpolitik dengan rasa tanggung jawab secara
bersih tanpa adanya paksaan atau intimidasi dari pihak manapun. Partisipasi sosial ini
banyak contohnya, seperti pemilihan kepada daerah, pemilihan presiden dan wakil
presiden, dan lain-lain.
7. Supremasi Hukum
Indonesia adalah negara hukum dan senantiasa menegakkan supremasi hukum.
Supremasi hukum merupakan bagian penting dari suatu negara dan juga merupakan
salah satu ciri-ciri dari masyarakat madani. Masih banyak masyarakat Indonesia yang
menganggap hukum dinegeri ini bagaikan sebuah pisau, tajam kebawah tetapi tumpul
keatas. Seharusnya hukum ini bersifat netral yang artinya setiap warga negara memiliki
kedudukan yang sama dimata hukum.
Pembahasan diatas adalah mengenai ciri-ciri masyarakat madani di Indonesia.
Perlu dicatat bahwa karakteristik masyarakat madani di Indonesia sudah sangat kuat
secara konstitusional karena ke-7 pilar-pilar tersebut merupakan bagian dari nilai-nilai
luhur Pancasila dan butir-butir UUD 1945. Akan tetapi pada kenyataannya didalam
kehidupan bermasyarakat, ke-7 pilar-pilar tersebut belum terlaksana secara sebenarbenarnya. Semoga kelak Indonesia menjadi negara yang maju dengan masyarakat
madaninya yang senantiasa menegakkan ke-7 pilar-pilar tersebut.

http://www.invonesia.com/ciri-ciri-masyarakat-madani-indonesia.html
November 26, 2013 by admin

MAKALAH MASYARAKAT MADANI


BAB I
PENDAHULUAN
Masyarakat madani, konsep ini merupakan penerjemahan istilah dari
konsep civil society yang pertama kali digulirkan oleh Dato Seri Anwar
Ibrahim dalam ceramahnya pada simposium Nasional dalam rangka forum
ilmiah pada acara festival istiqlal, 26 September 1995 di Jakarta. Konsep
yang diajukan oleh Anwar Ibrahim ini hendak menunjukkan bahwa
masyarakat yang ideal adalah kelompok masyarakat yang memiliki
peradaban maju. Lebih jelas Anwar Ibrahim menyebutkan bahwa yang
dimaksud dengan masyarakat madani adalah sistem sosial yang subur

yang diasaskan kepada prinsip moral yang menjamin keseimbangan


antara kebebasan perorangan dengan kestabilan masyarakat.
Menurut Quraish Shibab, masyarakat Muslim awal disebut umat terbaik
karena sifat-sifat yang menghiasi diri mereka, yaitu tidak bosan-bosan
menyeru kepada hal-hal yang dianggap baik oleh masyarakat selama
sejalan dengan nilai-nilai Allah (al-maruf) dan mencegah kemunkaran.
Selanjutnya Shihab menjelaskan, kaum Muslim awal menjadi khairu
ummah karena mereka menjalankan amar maruf sejalan dengan
tuntunan Allah dan rasul-Nya. (Quraish Shihab, 2000, vol.2: 185).
Perujukan terhadap masyarakat Madinah sebagai tipikal masyarakat ideal
bukan pada peniruan struktur masyarakatnya, tapi pada sifat-sifat yang
menghiasi masyarakat ideal ini. Seperti, pelaksanaan amar maruf nahi
munkar yang sejalan dengan petunjuk Ilahi, maupun persatuan yang
kesatuan yang ditunjuk oleh ayat sebelumnya (lihat, QS. Ali Imran [3]:
105). Adapun cara pelaksanaan amar maruf nahi mungkar yang direstui
Ilahi adalah dengan hikmah, nasehat, dan tutur kata yang baik
sebagaimana yang tercermin dalam QS an-Nahl [16]: 125. Dalam rangka
membangun masyarakat madani modern, meneladani Nabi bukan hanya
penampilan fisik belaka, tapi sikap yang beliau peragakan saat
berhubungan dengan sesama umat Islam ataupun dengan umat lain,
seperti menjaga persatuan umat Islam, menghormati dan tidak
meremehkan kelompok lain, berlaku adil kepada siapa saja, tidak
melakukan pemaksaan agama, dan sifat-sifat luhur lainnya.
Kita juga harus meneladani sikap kaum Muslim awal yang tidak
mendikotomikan antara kehidupan dunia dan akhirat. Mereka tidak
meninggalkan dunia untuk akhiratnya dan tidak meninggalkan akhirat
untuk dunianya. Mereka bersikap seimbang (tawassuth) dalam mengejar
kebahagiaan dunia dan akhirat. Jika sikap yang melekat pada masyarakat
Madinah mampu diteladani umat Islam saat ini, maka kebangkitan Islam
hanya menunggu waktu saja.
Konsep masyarakat madani adalah sebuah gagasan yang
menggambarkan maasyarakat beradab yang mengacu pada nila-inilai
kebajikan dengan mengembangkan dan menerapkan prinsip-prinsip
interaksi sosial yang kondusif bagi peneiptaan tatanan demokratis dalam
kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

BAB II
MASYARAKAT MADANI DAN KESEJAHTERAAN UMAT
2.1 Konsep Masyarakat Madani
Konsep masyarakat madani merupakan penerjemahan atau
pengislaman konsep civil society. Orang yang pertama kali
mengungkapkan istilah ini adalah Anwar Ibrahim dan dikembangkan di
Indonesia oleh Nurcholish Madjid. Pemaknaan civil society sebagai
masyarakat madani merujuk pada konsep dan bentuk masyarakat
Madinah yang dibangun Nabi Muhammad. Masyarakat Madinah dianggap
sebagai legitimasi historis ketidakbersalahan pembentukan civil society
dalam masyarakat muslim modern.
Makna Civil Society Masyarakat sipil adalah terjemahan dari civil society.
Konsep civil society lahir dan berkembang dari sejarah pergumulan
masyarakat. Cicero adalah orang Barat yang pertama kali menggunakan
kata societies civilis dalam filsafat politiknya. Konsep civil society
pertama kali dipahami sebagai negara (state). Secara historis, istilah civil
society berakar dari pemikir Montesque, JJ. Rousseau, John Locke, dan
Hubbes. Ketiga orang ini mulai menata suatu bangunan masyarakat sipil
yang mampu mencairkan otoritarian kekuasaan monarchi-absolut dan
ortodoksi gereja (Larry Diamond, 2003: 278).
Antara Masyarakat Madani dan Civil Society sebagaimana yang telah
dikemukakan di atas, masyarakat madani adalah istilah yang dilahirkan
untuk menerjemahkan konsep di luar menjadi Islami. Menilik dari
subtansi civil society lalu membandingkannya dengan tatanan masyarakat
Madinah yang dijadikan pembenaran atas pembentukan civil society di
masyarakat Muslim modern akan ditemukan persamaan sekaligus
perbedaan di antara keduanya.
Perbedaan lain antara civil society dan masyarakat madani adalah civil
society merupakan buah modernitas, sedangkan modernitas adalah buah
dari gerakan Renaisans; gerakan masyarakat sekuler yang meminggirkan
Tuhan. Sehingga civil society mempunyai moral-transendental yang rapuh
karena meninggalkan Tuhan. Sedangkan masyarakat madani lahir dari
dalam buaian dan asuhan petunjuk Tuhan. Dari alasan ini Maarif
mendefinisikan masyarakat madani sebagai sebuah masyarakat yang

terbuka, egalitar, dan toleran atas landasan nilai-nilai etik-moral


transendental yang bersumber dari wahyu Allah (A. Syafii Maarif, 2004:
84).
Masyarakat madani merupakan konsep yang berwayuh wajah: memiliki
banyak arti atau sering diartikan dengan makna yang beda-beda. Bila
merujuk kepada Bahasa Inggris, ia berasal dari kata civil society atau
masyarakat sipil, sebuah kontraposisi dari masyarakat militer. Menurut
Blakeley dan Suggate (1997), masyarakat madani sering digunakan untuk
menjelaskan the sphere of voluntary activity which takes place outside of
government and the market. Merujuk pada Bahmueller (1997).
2.1.1 Pengertian Masyarakat Madani
Masyarakat madani adalah masyarakat yang beradab, menjunjung tinggi
nilai-nilai kemanusiaan, yang maju dalam penguasaan ilmu pengetahuan,
dan teknologi.
Allah SWT memberikan gambaran dari masyarakat madani dengan firmanNya dalam Q.S. Saba ayat 15:
Sesungguhnya bagi kaum Saba ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat
kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah
kiri. (kepada mereka dikatakan): Makanlah olehmu dari rezki yang
(dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya.
(Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan yang
Maha Pengampun.
2.1.2 Masyarakat Madani Dalam Sejarah
Ada dua masyarakat madani dalam sejarah yang terdokumentasi sebagai
masyarakat madani, yaitu:
1) Masyarakat Saba, yaitu masyarakat di masa Nabi Sulaiman.
2) Masyarakat Madinah setelah terjadi traktat, perjanjjian Madinah antara
Rasullullah SAW beserta umat Islam dengan penduduk Madinah yang
beragama Yahudi dan beragama Watsani dari kaum Aus dan Khazraj.
Perjanjian Madinah berisi kesepakatan ketiga unsur masyarakat untuk
saling menolong, menciptakan kedamaian dalam kehidupan sosial,
menjadikan Al-Quran sebagai konstitusi, menjadikan Rasullullah SAW
sebagai pemimpin dengan ketaatan penuh terhadap keputusankeputusannya, dan memberikan kebebasan bagi penduduknya untuk
memeluk agama serta beribadah sesuai dengan ajaran agama yang
dianutnya.

2.1.3 Karakteristik Masyarakat Madani


Ada beberapa karakteristik masyarakat madani, diantaranya:
1. Terintegrasinya individu-individu dan kelompok-kelompok ekslusif
kedalam masyarakat melalui kontrak sosial dan aliansi sosial.
2. Menyebarnya kekuasaan sehingga kepentingan-kepentingan yang
mendominasi dalam masyarakat dapat dikurangi oleh kekuatan-kekuatan
alternatif.
3. Dilengkapinya program-program pembangunan yang didominasi oleh
negara dengan program-program pembangunan yang berbasis
masyarakat.
4. Terjembataninya kepentingan-kepentingan individu dan negara karena
keanggotaan organisasi-organisasi volunter mampu memberikan
masukan-masukan terhadap keputusan-keputusan pemerintah.
5. Tumbuhkembangnya kreatifitas yang pada mulanya terhambat oleh
rejim-rejim totaliter.
6. Meluasnya kesetiaan (loyalty) dan kepercayaan (trust) sehingga
individu-individu mengakui keterkaitannya dengan orang lain dan tidak
mementingkan diri sendiri.
7. Adanya pembebasan masyarakat melalui kegiatan lembaga-lembaga
sosial dengan berbagai ragam perspektif.
8. Bertuhan, artinya bahwa masyarakat tersebut adalah masyarakat yang
beragama, yang mengakui adanya Tuhan dan menempatkan hukum Tuhan
sebagai landasan yang mengatur kehidupan sosial.
9. Damai, artinya masing-masing elemen masyarakat, baik secara individu
maupun secara kelompok menghormati pihak lain secara adil.
10. Tolong menolong tanpa mencampuri urusan internal individu lain yang
dapat mengurangi kebebasannya.
11. Toleran, artinya tidak mencampuri urusan pribadi pihak lain yang telah
diberikan oleh Allah sebagai kebebasan manusia dan tidak merasa
terganggu oleh aktivitas pihak lain yang berbeda tersebut.
12. Keseimbangan antara hak dan kewajiban sosial.
13. Berperadaban tinggi, artinya bahwa masyarakat tersebut memiliki
kecintaan terhadap ilmu pengetahuan dan memanfaatkan kemajuan ilmu
pengetahuan untuk umat manusia.
14. Berakhlak mulia.

Dari beberapa ciri tersebut, kiranya dapat dikatakan bahwa masyarakat


madani adalah sebuah masyarakat demokratis dimana para anggotanya
menyadari akan hak-hak dan kewajibannya dalam menyuarakan pendapat
dan mewujudkan kepentingan-kepentingannya; dimana pemerintahannya
memberikan peluang yang seluas-luasnya bagi kreatifitas warga negara
untuk mewujudkan program-program pembangunan di wilayahnya.
Namun demikian, masyarakat madani bukanlah masyarakat yang sekali
jadi, yang hampa udara, taken for granted. Masyarakat madani adalah
onsep yang cair yang dibentuk dari poses sejarah yang panjang dan
perjuangan yang terus menerus. Bila kita kaji, masyarakat di negaranegara maju yang sudah dapat dikatakan sebagai masyarakat madani,
maka ada beberapa prasyarat yang harus dipenuhi untuk menjadi
masyarakat madani, yakni adanya democratic governance (pemerintahan
demokratis) yang dipilih dan berkuasa secara demokratis dan democratic
civilian (masyarakat sipil yang sanggup menjunjung nilai-nilai civil
security; civil responsibility dan civil resilience).
Apabila diurai, dua kriteria tersebut menjadi tujuh prasyarat masyarakat
madani sbb:
1. Terpenuhinya kebutuhan dasar individu, keluarga, dan kelompok dalam
masyarakat.
2. Berkembangnya modal manusia (human capital) dan modal sosial
(socail capital) yang kondusif bagi terbentuknya kemampuan
melaksanakan tugas-tugas kehidupan dan terjalinya kepercayaan dan
relasi sosial antar kelompok.
3. Tidak adanya diskriminasi dalam berbagai bidang pembangunan;
dengan kata lain terbukanya akses terhadap berbagai pelayanan sosial.
4. Adanya hak, kemampuan dan kesempatan bagi masyarakat dan
lembaga-lembaga swadayauntuk terlibat dalam berbagai forum dimana
isu-isu kepentingan bersama dan kebijakan publik dapat dikembangkan.
5. Adanya kohesifitas antar kelompok dalam masyarakat serta tumbuhnya
sikap saling menghargai perbedaan antar budaya dan kepercayaan.
6. Terselenggaranya sistem pemerintahan yang memungkinkan lembagalembaga ekonomi, hukum, dan sosial berjalan secara produktif dan
berkeadilan sosial.
7. Adanya jaminan, kepastian dan kepercayaan antara jaringan-jaringan
kemasyarakatan yang memungkinkan terjalinnya hubungan dan
komunikasi antar mereka secara teratur, terbuka dan terpercaya.

Tanpa prasyarat tesebut maka masyarakat madani hanya akan berhenti


pada jargon. Masyarakat madani akan terjerumus pada masyarakat
sipilisme yang sempit yang tidak ubahnya dengan faham militerisme
yang anti demokrasi dan sering melanggar hak azasi manusia. Dengan
kata lain, ada beberapa rambu-rambu yang perlu diwaspadai dalam
proses mewujudkan masyarakat madani (lihat DuBois dan Milley, 1992).
Rambu-rambu tersebut dapat menjadi jebakan yang menggiring
masyarakat menjadi sebuah entitas yang bertolak belakang dengan
semangat negara-bangsa:
1. Sentralisme versus lokalisme. Masyarakat pada mulanya ingin
mengganti prototipe pemerintahan yang sentralisme dengan
desentralisme. Namun yang terjadi kemudian malah terjebak ke dalam
faham lokalisme yang mengagungkan mitos-mitos kedaerahan tanpa
memperhatikan prinsip nasionalisme, meritokrasi dan keadilan sosial.
2. Pluralisme versus rasisme. Pluralisme menunjuk pada saling
penghormatan antara berbagai kelompok dalam masyarakat dan
penghormatan kaum mayoritas terhadap minoritas dan sebaliknya, yang
memungkinkan mereka mengekspresikan kebudayaan mereka tanpa
prasangka dan permusuhan. Ketimbang berupaya untuk mengeliminasi
karakter etnis, pluralisme budaya berjuang untuk memelihara integritas
budaya. Pluralisme menghindari penyeragaman. Karena, seperti kata
Kleden (2000:5), penyeragaman adalah kekerasan terhadap
perbedaan, pemerkosaan terhadap bakat dan terhadap potensi manusia.
Sebaliknya, rasisme merupakan sebuah ideologi yang membenarkan
dominasi satu kelompok ras tertentu terhadap kelompok lainnya. Rasisme
sering diberi legitimasi oleh suatu klaim bahwa suatu ras minoritas secara
genetik dan budaya lebih inferior dari ras yang dominan. Diskriminasi ras
memiliki tiga tingkatan: individual, organisasional, dan struktural. Pada
tingkat individu, diskriminasi ras berwujud sikap dan perilaku prasangka.
Pada tingkat organisasi, diskriminasi ras terlihat manakala kebijakan,
aturan dan perundang-undangan hanya menguntungkan kelompok
tertentu saja. Secara struktural, diskriminasi ras dapat dilacak manakala
satu lembaga sosial memberikan pembatasan-pembatasan dan laranganlarangan terhadap lembaga lainnya.
3. Elitisme dan communalisme. Elitisme merujuk pada pemujaan yang
berlebihan terhadap strata atau kelas sosial berdasarkan kekayaan,
kekuasaan dan prestise. Seseorang atau sekelompok orang yang memiliki
kelas sosial tinggi kemudian dianggap berhak menentukan potensi-potensi
orang lain dalam menjangkau sumber-sumber atau mencapai
kesempatan-kesempatan yang ada dalam masyarakat.
Konsep Masyarakat Madani semula dimunculkan sebagai jawaban atas
usulan untuk meletakkan peran agama ke dalam suatu masyarakat

Multikultural. Multikultural merupakan produk dari proses demokratisasi di


negeri ini yang sedang berlangsung terus menerus yang kemudian
memunculkan ide pluralistik dan implikasinya kesetaraan hak individual.
Perlu kita pahami, perbincangan seputar Masyarakat Madani sudah ada
sejak tahun 1990-an, akan tetapi sampai saat ini, masyarakat Madani
lebih diterjemahkan sebagai masyarakat sipil oleh beberapa pakar
Sosiologi. Untuk lebih jelasnya, kita perlu menganalisa secara historis
kemunculan masyarakat Madani dan kemunculan istilah masyarakat Sipil,
agar lebih akurat membahas tentang peran agama dalam membangun
masyarakat bangsa.
Masyarakat Sipil adalah terjemahan dari istilah Inggris Civil Society yang
mengambil dari bahasa Latin civilas societas. Secara historis karya Adam
Ferguson merupakan salah satu titik asal penggunaan ungkapan
masyarakat sipil (civil society), yang kemudian diterjemahkan sebagai
masyarakat Madani. Gagasan masyarakat sipil merupakan tujuan utama
dalam membongkar masyarakat Marxis. Masyarakat sipil menampilkan
dirinya sebagai daerah kepentingan diri individual dan pemenuhan
maksud-maksud pribadi secara bebas, dan merupakan bagian dari
masyarakat yang menentang struktur politik (dalam konteks tatanan
sosial) atau berbeda dari negara. Masyarakat sipil, memiliki dua bidang
yang berlainan yaitu bidang politik (juga moral) dan bidang sosial ekonomi
yang secara moral netral dan instumental (lih. Gellner:1996).
Seperti Durkheim, pusat perhatian Ferguson adalah pembagian kerja
dalam masyarakat, dia melihat bahwa konsekuensi sosio-politis dari
pembagian kerja jauh lebih penting dibanding konsekuensi ekonominya.
Ferguson melupakan kemakmuran sebagai landasan berpartisipasi. Dia
juga tidak mempertimbangkan peranan agama ketika menguraikan saling
mempengaruhi antara dua partisipan tersebut (masyarakat komersial dan
masyarakat perang), padahal dia memasukan kebajikan di dalam konsep
masyarakatnya. Masyarakat sipil dalam pengertian yang lebih sempit ialah
bagian dari masyarakat yang menentang struktur politik dalam konteks
tatanan sosial di mana pemisahan seperti ini telah terjadi dan mungkin.
Selanjutnya sebagai pembanding, Ferguson mengambil masyarakat
feodal, dimana perbandingan di antara keduanya adalah, pada
masyarakat feodal strata politik dan ekonomi jelas terlihat bahkan dijamin
secara hukum dan ritual, tidak ada pemisahan hanya ada satu tatanan
sosial, politik dan ekonomi yang saling memperkuat satu sama lain. Posisi
seperti ini tidak mungkin lagi terjadi pada masyarakat komersial.
Kekhawatiran Ferguson selanjutnya adalah apabila masyarakat perang
digantikan dengan masyarakat komersial, maka negara menjadi lemah
dari serangan musuh. Secara tidak disadari Ferguson menggemakan ahli
teori peradaban, yaitu Ibnu Khaldun yang mengemukakan spesialisme
mengatomisasi mereka dan menghalangi kesatupaduan yang merupakan
syarat bagi efektifnya politik dan militer. Di dalam masyarakat Ibnu
Khaldun militer masih memiliki peran dan berfungsi sebagai penjaga

keamanan negara, maka tidak pernah ada dan tidak mungkin ada bagi
dunianya, masyarakat sipil.
Pada kenyataannya, apabila kita konsekuen dengan menggunakan
masyarakat Madani sebagai padanan dari Masyarakat Sipil, maka secara
historis kita lebih mudah secara langsung me-refer kepada
masyarakatnya Ibnu Khaldun. Deskripsi masyarakatnya justru banyak
mengandung muatan-muatan moral-spiritual dan mengunakan agama
sebagai landasan analisisnya. Pada kenyataannya masyarakat sipil tidak
sama dengan masyarakat Madani. Masyarakat Madani merujuk kepada
sebuah masyarakat dan negara yang diatur oleh hukum agama,
sedangkan masyarakat sipil merujuk kepada komponen di luar negara.
Syed Farid Alatas seorang sosiolog sepakat dengan Syed M. Al Naquib Al
Attas (berbeda dengan para sosiolog umumnya), menyatakan bahwa
faham masyarakat Madani tidak sama dengan faham masyarakat Sipil.
Istilah Madani, Madinah (kota) dan din (diterjemahkan sebagai agama)
semuanya didasarkan dari akar kata dyn. Kenyataan bahwa nama kota
Yathrib berubah menjadi Medinah bermakna di sanalah din berlaku (lih.
Alatas, 2001:7). Secara historispun masyarakat Sipil dan masyarakat
Madani tidak memiliki hubungan sama sekali. Masyarakat Madani bermula
dari perjuangan Nabi Muhammad SAW menghadapi kondisi jahiliyyah
masyarakat Arab Quraisy di Mekkah. Beliau memperjuangkan kedaulatan,
agar ummatnya leluasa menjalankan syariat agama di bawah suatu
perlindungan hukum.
Masyarakat madani sejatinya bukanlah konsep yang ekslusif dan
dipandang sebagai dokumen usang. Ia merupakan konsep yang
senantiasa hidup dan dapat berkembang dalam setiap ruang dan waktu.
Mengingat landasan dan motivasi utama dalam masyarakat madani
adalah Alquran.
Meski Alquran tidak menyebutkan secara langsung bentuk masyarakat
yang ideal namun tetap memberikan arahan atau petunjuk mengenai
prinsip-prinsip dasar dan pilar-pilar yang terkandung dalam sebuah
masyarakat yang baik. Secara faktual, sebagai cerminan masyarakat yang
ideal kita dapat meneladani perjuangan rasulullah mendirikan dan
menumbuhkembangkan konsep masyarakat madani di Madinah.
Prinsip terciptanya masyarakat madani bermula sejak hijrahnya Nabi
Muhammad Saw. beserta para pengikutnya dari Makah ke Yatsrib. Hal
tersebut terlihat dari tujuan hijrah sebagai sebuah refleksi gerakan
penyelamatan akidah dan sebuah sikap optimisme dalam mewujudkan
cita-cita membentuk yang madaniyyah (beradab).
Selang dua tahun pascahijrah atau tepatnya 624 M, setelah Rasulullah
mempelajari karakteristik dan struktur masyarakat di Madinah yang cukup
plural, beliau kemudian melakukan beberapa perubahan sosial. Salah satu
di antaranya adalah mengikat perjanjian solidaritas untuk membangun

dan mempertahankan sistem sosial yang baru. Sebuah ikatan perjanjian


antara berbagai suku, ras, dan etnis seperti Bani Qainuqa, Bani Auf, Bani
al-Najjar dan lainnya yang beragam saat itu, juga termasuk Yahudi dan
Nasrani.
Dalam pandangan saya, setidaknya ada tiga karakteristik dasar dalam
masyarakat madani. Pertama, diakuinya semangat pluralisme. Artinya,
pluralitas telah menjadi sebuah keniscayaan yang tidak dapat dielakkan
sehingga mau tidak mau, pluralitas telah menjadi suatu kaidah yang abadi
dalam pandangan Alquran. Pluralitas juga pada dasarnya merupakan
ketentuan Allah SWT (sunnatullah), sebagaimana tertuang dalam Alquran
surat Al-Hujurat (49) ayat 13.
Dengan kata lain, pluralitas merupakan sesuatu yang kodrati (given)
dalam kehidupan. Dalam ajaran Islam, pluralisme merupakan karunia
Allah yang bertujuan mencerdaskan umat melalui perbedaan konstruktif
dan dinamis. Ia (pluralitas) juga merupakan sumber dan motivator
terwujudnya vividitas kreativitas (penggambaran yang hidup) yang
terancam keberadaannya jika tidak terdapat perbedaan (Muhammad
Imarah:1999).
Satu hal yang menjadi catatan penting bagi kita adalah sebuah peradaban
yang kosmopolit akan tercipta manakala umat Islam memiliki sikap inklusif
dan mempunyai kemampuan (ability) menyesuaikan diri terhadap
lingkungan sekitar. Namun, dengan catatan identitas sejati atas
parameter-parameter autentik agama tetap terjaga.
Kedua, adalah tingginya sikap toleransi (tasamuh). Baik terhadap saudara
sesama Muslim maupun terhadap saudara non-Muslim. Secara sederhana
toleransi dapat diartikan sebagai sikap suka mendengar dan menghargai
pendapat dan pendirian orang lain.
Senada dengan hal itu, Quraish Shihab (2000) menyatakan bahwa tujuan
Islam tidak semata-mata mempertahankan kelestariannya sebagai sebuah
agama. Namun juga mengakui eksistensi agama lain dengan memberinya
hak hidup, berdampingan seiring dan saling menghormati satu sama lain.
Sebagaimana hal itu pernah dicontohkan Rasulullah Saw. di Madinah.
Setidaknya landasan normatif dari sikap toleransi dapat kita tilik dalam
firman Allah yang termaktub dalam surat Al-Anam ayat 108.
Ketiga, adalah tegaknya prinsip demokrasi atau dalam dunia Islam lebih
dikenal dengan istilah musyawarah. Terlepas dari perdebatan mengenai
perbedaan konsep demokrasi dengan musyawarah, saya memandang
dalam arti membatasi hanya pada wilayah terminologi saja, tidak lebih.
Mengingat di dalam Alquran juga terdapat nilai-nilai demokrasi (surat AsSyura:38, surat Al-Mujadilah:11).
Ketiga prinsip dasar setidaknya menjadi refleksi bagi kita yang
menginginkan terwujudnya sebuah tatanan sosial masyarakat madani

dalam konteks hari ini. Paling tidak hal tersebut menjadi modal dasar
untuk mewujudkan masyarakat yang dicita-citakan.
2.2 Peran Umat Islam Dalam Mewujudkan Masyarakat Madani
Dalam sejarah Islam, realisasi keunggulan normatif atau potensial umat
Islam terjadi pada masa Abbassiyah. Pada masa itu umat Islam
menunjukkan kemajuan di bidang kehidupan seperti ilmu pengetahuan
dan teknologi, militer, ekonomi, politik dan kemajuan bidang-bidang
lainnya. Umat Islam menjadi kelompok umat terdepan dan terunggul.
Nama-nama ilmuwan besar dunia lahir pada masa itu, seperti Ibnu Sina,
Ubnu Rusyd, Imam al-Ghazali, al-Farabi, dan yang lain.
2.2.1 Kualitas SDM Umat Islam
Dalam Q.S. Ali Imran ayat 110
Artinya:
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh
kepada yang maruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman
kepada Allah. sekiranya ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi
mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka
adalah orang-orang yang fasik.
Dari ayat tersebut sudah jelas bahwa Allah menyatakan bahwa umat Islam
adalah umat yang terbaik dari semua kelompok manusia yang Allah
ciptakan. Di antara aspek kebaikan umat Islam itu adalah keunggulan
kualitas SDMnyadibanding umat non Islam. Keunggulan kualitas umat
Islam yang dimaksud dalam Al-Quran itu sifatnya normatif, potensial,
bukan riil.
2.2.2 Posisi Umat Islam
SDM umat Islam saat ini belum mampu menunjukkan kualitas yang
unggul. Karena itu dalam percaturan global, baik dalam bidang politik,
ekonomi, militer, dan ilmu pengetahuan dan teknologi, belum mampu
menunjukkan perannya yang signifikan. Di Indonesia, jumlah umat Islam
lebih dari 85%, tetapi karena kualitas SDM nya masih rendah, juga belum
mampu memberikan peran yang proporsional. Hukum positif yang berlaku
di negeri ini bukan hukum Islam. Sistem sosial politik dan ekonomi juga
belum dijiwai oleh nilai-nilai Islam, bahkan tokoh-tokoh Islam belum
mencerminkan akhlak Islam.
2.3 Sistem Ekonomi Islam dan Kesejahteraan Umat

Menurut ajaran Islam, semua kegiatan manusia termasuk kegiatan sosial


dan ekonomi haruslah berlandaskan tauhid (keesaan Allah). Setiap ikatan
atau hubungan antara seseorang dengan orang lain dan penghasilannya
yang tidak sesuai dengan ajaran tauhid adalah ikatan atau hubungan yang
tidak Islami. Dengan demikian realitas dari adanya hak milik mutlak tidak
dapat diterima dalam Islam, sebab hal ini berarti mengingkari tauhid.
Manurut ajaran Islam hak milik mutlak hanya ada pada Allah saja. Hal ini
berarti hak milik yang ada pada manusia hanyalah hak milik nisbi atau
relatif. Islam mengakui setiap individu sebagai pemilik apa yang
diperolehnya melalui bekerja dalam pengertian yang seluas-luasnya, dan
manusia berhak untuk mempertukarkan haknya itu dalam batas-batas
yang telah ditentukan secara khusus dalam hukum Islam. Pernyataanpernyataan dan batas-batas hak milik dalam Islam sesuai dengan kodrat
manusia itu sendiri, yaitu dengan sistem keadilan dan sesuai dengan hakhak semua pihak yang terlibat di dalamnya.
Di dalam ajaran Islam terdapat dua prinsip utama, yakni pertama, tidak
seorangpun atau sekelompok orangpun yang berhak mengeksploitasi
orang lain; dan kedua, tidak ada sekelompok orangpun boleh memisahkan
diri dari orang lain dengan tujuan untuk membatasi kegiatan sosial
ekonomi di kalangan mereka saja. Islam memandang umat manusia
sebagai satu keluarga, maka setiap manusia adalah sama derajatnya di
mata Allah dan di depan hukum yang diwahyukannya. Konsep
persaudaraan dan perlakuan yang sama terhadap seluruh anggota
masyarakat di muka hukum tidaklah ada artinya kalau tidak disertai
dengan keadilan ekonomi yang memungkinkan setiap orang memperoleh
hak atas sumbangan terhadap masyarakat.
Allah melarang hak orang lain, sebagaimana dijelaskan dalam Q.S. alSyuara ayat 183:
Artinya:
Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah
kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan;
Dalam komitmen Islam yang khas dan mendalam terhadap persaudaraan,
keadilan ekonomi dan sosial, maka ketidakadilan dalam pendapatan dan
kekayaan bertentangan dengan Islam. Akan tetapi, konsep Islam dalam
distribusi pendapatan dan kekayaan serta konsepsinya tentang keadilan
sosial tidaklah menuntut bahwa semua orang harus mendapat upah yang
sama tanpa memandang kontribusinya kepada masyarakat. Islam
mentoleransi ketidaksamaan pendapatan sampai tingkat tertentu, akrena
setiap orang tidaklah sama sifat, kemampuan, dan pelayanannya dalam
masyarakat.
Dalam Q.S. An-Nahl ayat 71 disebutkan:

Artinya:
Dan Allah melebihkan sebahagian kamu dari sebagian yang lain dalam hal
rezki, tetapi orang-orang yang dilebihkan (rezkinya itu) tidak mau
memberikan rezki mereka kepada budak-budak yang mereka miliki, agar
mereka sama (merasakan) rezki itu. Maka Mengapa mereka mengingkari
nikmat Allah.
Dalam ukuran tauhid, seseorang boleh menikmati penghasilannya sesuai
dengan kebutuhannya. Kelebihan penghasilan atau kekayaannya.
Kelebihan penghasilan atau kekayaannya harus dibelanjakan sebagai
sedekah karena Alah.
Banyak ayat-ayat Allah yang mendorong manusia untuk mengamalkan
sedekah, antara lain Q.S. An-nisa ayat 114:
Artinya:
Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali
bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah,
atau berbuat maruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia.
dan barangsiapa yang berbuat demikian Karena mencari keredhaan Allah,
Maka kelak kami memberi kepadanya pahala yang besar.
Dalam ajaran Islam ada dua dimensi utama hubungan yang harus
dipelihara, yaitu hubungan manusia dengan Allah dan hubungan manusia
dengan manusia dalam masyarakat. Kedua hubungan itu harus berjalan
dengan serentak. Dengan melaksanakan kedua hungan itu hidup manusia
akan sejahtrera baik di dunia maupun di akhirat kelak.
2.4 Manajemen Zakat
2.4.1 Pengertian dan Dasar Hukum Zakat
Zakat adalah memberikan harta yang telah mencapai nisab dan haul
kepada orang yang berhak menerimanya dengan syarat-syarat tertentu.
Nisab adalah ukuran tertentu dari harta yang dimiliki yang mewajibkan
dikeluarkannya zakat, sedangkan haul adalah berjalan genap satu tahun.
Zakat juga berarti kebersihan, setiap pemeluk Islam yang mempunyai
harta cukup banyaknya menurut ketentuan (nisab) zakat, wajiblah
membersihkan hartanya itu dengan mengeluarkan zakatnya.
Dari sudut bahasa, kata zakat berasal dari kata zaka yang berarti
berkah, tumbuh, bersih, dan baik. Segala sesuatu yang bertambah disebut
zakat. Menurut istilah fikih zakat berarti sejumlah harta tertentu yang
diwajibkan Allah untuk diserahkan kepada yang berhak. Orang yang wajib
zakat disebut muzakki,sedangkan orang yang berhak menerima zakat

disebut mustahiq .Zakat merupakan pengikat solidaritas dalam


masyarakat dan mendidik jiwa untuk mengalahkan kelemahan dan
mempraktikan pengorbanan diri serta kemurahan hati.

Di dalam Alquran Allah telah berfirman sebagai berikut:


Al-Baqarah: 110
Artinya:
Dan Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. dan kebaikan apa saja yang
kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahala nya pada
sisi Allah. Sesungguhnya Alah Maha melihat apa-apa yang kamu
kerjakan.
At-Taubah: 60
Artinya:
Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu
sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang
dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu
dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang
Allah mengetahuinya. apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah
niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan
dianiaya (dirugikan).
At-Taubah: 103
Artinya:
Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu
membersihkan[658] dan mensucikan[659] mereka dan mendoalah untuk
mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi
mereka. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.
Adapun hadist yang dipergunakan dasar hukum diwajibkannya zakat
antara lain adalah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas berikut:
Dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah SAW ketika mengutus Muaz ke Yaman,
ia bersabda: Sesungguhnya engkau akan datang ke satu kaum dari Ahli
Kitab, oleh karena itu ajaklah mereka untuk bersaksi bahwa tidak ada

Tuhan selain Allah, dan sesungguhnya aku adalah utusan Allah. Kemudian
jika mereka taat kepadamu untuk ajakan itu, maka beritahukannlah
kepada mereka, bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka atas
mereka salat lima kali sehari semalam; lalu jika mereka mentaatimu untuk
ajakan itu, maka beritahukanlah kepada mereka, bahwa Allah telah
mewajibkan zakat atas mereka, yang diambil dari orang-orang kaya
mereka; kemudian jika mereka taat kepadamu untuk ajakan itu, maka
berhati-hatilah kamu terhadap kehormatan harta-harta mereka, dan
takutlah terhadap doa orang yang teraniaya, karena sesungguhnya antara
doa itu dan Allah tidak hijab (pembatas).
Adapun harta-harta yang wajib dizakati itu adalah sebagai berikut:
1. Harta yang berharga, seperti emas dan perak.
2. Hasil tanaman dan tumbuh-tumbuhan, seperti padi, gandum, kurma,
anggur.
3. Binatang ternak, seperti unta, sapi, kambing, dan domba.
4. Harta perdagangan.
5. Harta galian termasuk juga harta rikaz.
Adapun orang yang berhak menerima zakat adalah:
1. Fakir, ialah orang yang tidak mempunyai dan tidak pula berusaha.
2. Miskin, ialah orang yang tidak cukup penghidupannya dengan
pendapatannya sehingga ia selalu dalam keadaan kekurangan.
3. Amil, ialah orang yang pekerjaannya mengurus dan mengumpulkan
zakat untuk dibagikan kepada orang yang berhak menerimanya.
4. Muallaf, ialah orang yang baru masuk Islam yang masih lemah
imannya, diberi zakat agar menambah kekuatan hatinya dan tetap
mempelajari agama Islam.
5. Riqab, ialah hamba sahaya atau budak belian yang diberi kebebasan
berusaha untuk menebus dirinya agar menjadi orang merdeka.
6. Gharim, ialah orang yang berhutang yang tidak ada kesanggupan
membayarnya.
7. Fi sabilillah, ialah orang yang berjuang di jalan Allah demi menegakkan
Islam.
8. Ibnussabil, ialah orang yang kehabisan biaya atau perbekalan dalam
perjalanan yang bermaksud baik (bukan untuk maksiat).

2.4.2 Sejarah Pelaksanaan Zakat di Indonesia


Sejak Islam memsuki Indonesia, zakat, infak, dan sedekah merupakan
sumber sumber dana untuk pengembangan ajaran Islam dan perjuangan
bangsa Indonesia melawan penjajahan Belanda. Pemerintah Belanda
khawatir dana tersebut akan digunakan untuk melawan mereka jika
masalah zakat tidak diatur. Pada tanggal 4 Agustus 1938 pemerintah
Belanda mengeluarkan kebijakan pemerintah untuk mengawasi
pelaksanaan zakat dan fitrah yang dilakukan oleh penghulu atau naib
sepanjang tidak terjadi penyelewengan keuangan. Untuk melemahkan
kekuatan rakyat yang bersumber dari zakat itu, pemerintah Belanda
melarang semua pegawai dan priyai pribumi ikut serta membantu
pelaksanaan zakat. Larangan itu memberikan dampak yang sangat negatif
bagi pelakasanaan zakat di kalangan umat Islam, karena dengan
sendirinya penerimaan zakat menurun sehingga dana rakyat untuk
melawan tidak memadai. Hal inilah yang tampaknya diinginkan
Pemerintah Kolonial Belanda.
Setelah Indonesia merdeka, di Aceh satu-satunya badan resmi yang
mengurus masalah zakat. Pada masa orde baru barulah perhatian
pemerintah terfokus pada masalah zakat, yang berawal dari anjuran
Presiden Soeharto untuk melaksanakan zakat secara efektif dan efisien
serta mengembangkannya dengan cara-cara yang lebih luas dengan
pengarahan yang lebih tepat. Anjuran presiden inilah yang mendorong
dibentuknya badan amil di berbagai propinsi.
2.4.3 Manajemen Pengelolaan Zakat Produktif
Sehubungan pengelolaan zakat yang kurang optimal, sebagian
masyarakat yang tergerak hatinya untuk memikirkan pengelolaan zakat
secara produktif, sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan umat
Islam pada umumnya dan masyarakat pada umumnya. Oleh karena itu,
pada tahun 1990-an, beberapa perusahaan dan masyarakat membentuk
Baitul Mal atau lembaga yang bertugas mengelola dan zakat, infak dan
sedekah dari karyawan perusahaan yang bersangkutan dan masyarakat.
Sementara pemerintah juga membentuk Badan Amil Zakat Nasional.
Dalam pengelolaan zakat diperlukan beberapa prinsip, antara lain:
1. Pengelolaan harus berlandasakn Alquran dan Assunnah.
2. Keterbukaan. Untuk menumbuhkan kepercayaan masyarakat terhadap
lembaga amil zakat, pihak pengelola harus menerapkan manajemen yang
terbuka.
3. Menggunakan manajemen dan administrasi modern.

4. Badan amil zakat dan lembaga amil zakat harus mengelolah zakat
dengan sebaik-baiknya.
Selain itu amil juga harus berpegang teguh pada tujuan pengelolaan
zakat, antara lain:
1. Mengangkat harkat dan martabat fakir miskin dan membantunya keluar
dari kesulitan dan penderitaan.
2. Membantu pemecahan masalah yang dihadapi oleh para mustahik
3. Menjembatani antara yang kaya dan yang miskin dalam suatu
masyarakat.
4. Meningkatkan syiar Islam
5. Mengangkat harkat dan martabat bangsa dan negara.
6. Mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial dalam masyarakat.
2.4.4 Hikmah Ibadah Zakat
Apabila prinsip-prinsip pengelolaan dan tujuan pengelolaan zakat
dilaksanakan dipegang oleh amil zakat baik itu berupa badan atau
lembaga, dan zakat, infak, dan sedekah dikelola dengan manajemen
modern dengan tetap menerapkan empat fungsi standar manajemen,
tampaknya sasaran zakat, infak maupun sedekah akan tercapai.
Zakat memiliki hikmah yang besar, bagi muzakki, mustahik, maupun bagi
masyarakat muslim pada umumnya. Bagi muzakki zakat berarti mendidik
jiwa manusia untuk suka berkorban dan membersihkan jiwa dari sifat kikir,
sombong dan angkuh yang biasanya menyertai pemilikan harta yang
banyak dan berlebih.
Bagi mustahik, zakat memberikan harapan akan adanya perubahan nasib
dan sekaligus menghilangkan sifat iri, dengki dan suudzan terhadap
orang-orang kaya, sehingga jurang pemisah antara si kaya dan si miskin
dapat dihilangkan.
Bagi masyarakat muslim, melalui zakat akan terdapat pemerataan
pendapatan dan pemilikan harta di kalangan umat Islam. Sedangkan
dalam tata masyarakat muslim tidak terjadi monopoli, melainkan sistim
ekonomi yang menekankan kepada mekanisme kerja sama dan tolongmenolong.

2.5 Manajemen Wakaf


Wakaf adalah salah satu bentuk dari lembaga ekonomi Islam. Ia
merupakan lembaga Islam yang satu sisi berfungsi sebagai ibadah kepada
Allah, sedangkan di sisi lain wakaf juga berfungsi sosial. Wakf muncul dari
satu pernyataan dan perasaan iman yang mantap dan solidaritas yang
tinggi antara sesama manusia. Dalam fungsinya sebagai ibadah ia
diharapkan akan menjadi bekal bagi si wakif di kemudian hari, karena ia
merupakan suatu bentuk amalan yang pahalanya akan terus menerus
mengalir selama harta wakaf itu dimanfaatkan. Sedangkan dalam fungsi
sosialnya, wakaf merupakan aset amat bernilai dalam pembangunan
umat.
2.5.1 Pengertian Wakaf
Istilah wakaf beradal dari waqb artinya menahan. Menurut H. Moh.
Anwar disebutkan bahwa wakaf ialah menahan sesuatu barang daripada
dijual-belikan atau diberikan atau dipinjamkan oleh yang empunya, guna
dijadikan manfaat untuk kepentingan sesuatu yang diperbolehkan oleh
Syara serta tetap bentuknya dan boleh dipergunakan diambil manfaatnya
oleh orang yang ditentukan (yang meneriman wakafan), perorangan atau
umum.
Adapun ayat-ayat Al-Quran dan hadist yang menerangkan tentang wakaf
ini ialah:
Al-Baqarah ayat 267:
Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari
hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan
dari bumi untuk kamu. dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu
kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau
mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. dan
Ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.
Al-Hajj ayat 77
Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, rukulah kamu, sujudlah kamu, sembahlah
Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.
Abu Hurairah r.a. menceritakan, bahwa Rasullullah SAW bersabda, Jika
seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah masa ia melanjutkan
amal, kecuali mengenai tiga hal, yaitu: Sedekah jariyah (waqafnya)

selama masih dipergunakan, ilmunya yang dimanfaatkan masyarakat, dan


anak salehnya yang mendoakannya. (Riwayat Muslim).
Abu Hurairah r.a. menceritakan bahwa Rasullullah SAW mengutus Umar
untuk memungut zakat di dalam hadist itu terdapat pula Khalid
mewakafkan baju besi dan perabot perangnya di jalan Allah.
2.5.2 Rukun Wakaf
Adapun beberapa rukun wakaf ialah:
1) Yang berwakaf, syaratnya:
Berhak berbuat kebaikan walau bukan Isalam sekalipun
Kehendak sendiri, ridak sah karena dipaksa
2) Sesuatu yang diwakafkan, syaratnya:
Kekal zakatnya, berarti bila diambil manfaatnya, barangnya tidak rusak.
Kepunyaan yang mewakafkan walaupun musya (bercampur dan tidak
dapat dipisahkan dari yang lain).
3) Tempat berwakaf (yang berhak menerima hasil wakaf itu).
4) Lafadz wakaf, seperti: saya wakafkan ini kepada orang-orang miskin
dan sebagainya.
2.5.3 Syarat Wakaf
Syarat wakaf ada tiga, yaitu:
1) Tabid, yaitu untuk selama-lamanya/tidak terbatas waktunya.
2) Tanjiz, yaitu diberikan waktu ijab kabul.
3) Imkan-Tamlik, yaitu dapat diserahkan waktu itu juga
2.5.4 Hukum Wakaf
1) Pemberian tanah wakaf tidak dapat ditarik kembali sesudah
diamalkannya karena Allah.
2) Pemberian harta wakaf yang ikhlas karena Allah akan mendapatkan
ganjaran terus-menerus selagi benda itu dapat dimanfaatkan oleh umum
dan walaupun bentuk bendanya ditukar dengan yang lain dan masih
bermanfaat.
3) seseorang tidak boleh dipaksa untuk berwakaf karena bisa
menimbulkan perasaan tidak ikhlas bagi pemberiannya.
BAB III

KESIMPULAN
Untuk mewujudkan masyarakat madani dan agar terciptanya
kesejahteraan umat maka kita sebagai generasi penerus supaya dapat
membuat suatu perubahan yang signifikan. Selain itu, kita juga harus
dapat menyesuaikan diri dengan apa yang sedang terjadi di masyarakat
sekarang ini. Agar di dalam kehidupan bermasyarakat kita tidak
ketinggalan berita. Adapun beberapa kesimpulan yang dapat saya ambil
dari pembahasan materi yang ada di bab II ialah bahwa di dalam
mewujudkan masyarakat madani dan kesejahteraan umat haruslah
berpacu pada Al-Quran dan As-Sunnah yang diamanatkan oleh Rasullullah
kepada kita sebagai umat akhir zaman. Sebelumnya kita harus
mengetahui dulu apa yang dimaksud dengan masyarakat madani itu dan
bagaimana cara menciptakan suasana pada masyarakat madani tersebut,
serta ciri-ciri apa saja yang terdapat pada masyarakat madani sebelum
kita yakni pada zaman Rasullullah.
Selain memahami apa itu masyarakat madani kita juga harus melihat
pada potensi manusia yang ada di masyarakat, khususnya di Indonesia.
Potensi yang ada di dalam diri manusia sangat mendukung kita untuk
mewujudkan masyarakat madani. Karena semakin besar potensi yang
dimiliki oleh seseorang dalam membangun agama Islam maka akan
semakin baik pula hasilnya. Begitu pula sebaliknya, apabila seseorang
memiliki potensi yang kurang di dalam membangun agamanya maka
hasilnya pun tidak akan memuaskan. Oleh karena itu, marilah kita
berlomba-lomba dalam meningkatkan potensi diri melalui latihan-latihan
spiritual dan praktek-praktek di masyarakat.
Adapun di dalam Islam mengenal yang namanya zakat, zakat memiliki dua
fungsi baik untuk yang menunaikan zakat maupun yang menerimanya.
Dengan zakat ini kita dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat higga
mencapai derajat yang disebut masyarakat madani. Selain zakat, ada pula
yang namanya wakaf. Wakaf selain untuk beribadah kepada Allah juga
dapat berfungsi sebagai pengikat jalinan antara seorang muslim dengan
muslim lainnya. Jadi wakaf mempunyai dua fungsi yakni fungsi ibadah dan
fungsi sosial.
Maka diharapkan kepada kita semua baik yang tua maupun yang muda
agar dapat mewujudkan masyarakat madani di negeri kita yang tercinta
ini yaitu Indonesia. Yakni melalui peningkatan kualiatas sumber daya
manusia, potensi, perbaikan sistem ekonomi, serta menerapkan budaya
zakat, infak, dan sedekah. Insya Allah dengan menjalankan syariat Islam
dengan baik dan teratur kita dapat memperbaiki kehidupan bangsa ini
secara perlahan. Demikianlah makalah rangkuman materi yang dapat
kami sampaikan pada kesempatan kali ini semoga di dalam penulisan ini

dapat dimengerti kata-katanya sehingga tidak menimbulkan


kesalahpahaman di masa yang akan datang.
Wassalamualaiku wr.wrb.

DAFTAR PUSTAKA
Suito, Deny. 2006. Membangun Masyarakat Madani. Centre For Moderate
Muslim Indonesia: Jakarta.
Mansur, Hamdan. 2004. Materi Instrusional Pendidikan Agama Islam.
Depag RI: Jakarta.
Suharto, Edi. 2002. Masyarakat Madani: Aktualisasi Profesionalisme
Community Workers Dalam Mewujudkan Masyarakat Yang Berkeadilan.
STKS Bandung: Bandung.
Sosrosoediro, Endang Rudiatin. 2007. Dari Civil Society Ke Civil Religion.
MUI: Jakarta.
Sutianto, Anen. 2004. Reaktualisasi Masyarakat Madani Dalam Kehidupan.
Pikiran Rakyat: Bandung.
Suryana, A. Toto, dkk. 1996. Pendidikan Agama Islam. Tiga Mutiara:
Bandung
Sudarsono. 1992. Pokok-pokok Hukum Islam. Rineka Cipta: Jakarta.
Tim Icce UIN Jakarta. 2000. Demokrasi, Hak Asasi Manusia dan Masyarakat
Madani. Prenada Media: Jakarta.
https://fixguy.wordpress.com/makalah-masyarakat-madani/
Peran Umat Islam dalam Mewujudkan Masyarakat Madani
A. Pengertian Masyarakat Madani Masyarakat
madani
adalah
masyarakat
yang
beradab,
menjunjung
tinggi
nilainilaikemanusiaan, yang maju dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan
teknologi. Makna utama dari masyarakat Madani adalah masyarakat yang
menjadikan nilai-nilaiperadaban sebagai ciri utama. Kata madani
merupakan penyifatan terhadap kota madinah, yaitusifat yang
ditunjukkan oleh kondisi dan system kehidupan yang berlaku di
kota madinah.Kondisi dan system kehidupan out menjadi popular dan
dianggap ideal untuk menggambarkanmasyarakat yang islami, sekalipun
penduduknya terdiri dari berbagai macam keyakinan. Merekahidup rukun,

saling membantu, taat hukum dan menunjukkan kepercayaan penuh


terhadappimpinan. Al-Quran menjadi konstitusi untuk menyelesaikan
berbagai persoalan hidup yangterjadi di antara penduduk Madinah.Allah
SWT memberikan gambaran dari masyarakat madani dengan firman-Nya
dalamQ.S. Saba ayat 15
Artinya:Sesungguhnya bagi kaum Saba ada tanda (kekuasaan Tuhan) di
tempat kediaman mereka yaitudua buah kebun di sebelah kanan dan di
sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): Makanlaholehmu dari rezki
yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepadaNya.(Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan
yang Maha Pengampun
2) Demokratisasi, yaitu proses untuk menerapkan prinsip-prinsip demokrasi
sehingga
muwujudkan masyarakat yang demokratis. Untuk menumbuhkan
demokratisasi
dibutuhkan kesiapan anggota masyarakat berupa kesadaran pribadi,
kesetaraan, dan
kemandirian serta kemampuan untuk berperilaku demokratis kepada orang
lain dan
menerima perlakuan demokratis dari orang lain.
Demokratisasi dapat diwujudkan melalui :
a) Toleransi, sikap saling menghargai dan menghormati pendapat serta
aktivitas yang
dilakukan oleh orang atau kelompok lain. Tidak mencampuri urusan pribadi pihak
lain
yang telah diberikan oleh Allag sebagai kebebasan manusia.
b) Keadilan sosial (social justice), yaitu keseimbangan dan pembagian yang
proporsiaonal
antara hak dan kewajiban, serta tanggung jawab individu terhadap
lingkungannya
c) Bertuhan, artinya bahwa masyarakat tersebut adalah masyarakat yang
beragama, yang
mengakui adanya Tuhan dan menempatkan hukum Tuhan sebagai
landasan yang
mengatur kehidupan sosial.

d) Damai, artinya masing-masing kelompok masyarakat, baik secara


individu maupun
secara kelompok menghormati pihka lain secara adil.
e) Tolong menolong tanpa mencampuri urusan internal individu lain yang dapat
mengurangi
kebebasannya.
f) Berperadaban tinggi, yaitu masyarakat tersebut memiliki kencintaan
terhadap ilmu
pengetahuan dan memanfaatkan kemajuan ilmu pengtahuan untuk
memberikan
kemudahan dan meningkat harkat martabat manusia.
g) Berakhlak Mulia.
h) Supremasi hukum, yaitu upaya untuk memberikan jaminan
terciptanya keadilan.
Keadilan harus diposisikan secara netral, artinya setiap orang memiliki
kedudukan dan
perlakuan hukum yang sama tanpa kecuali
Adapun yang masih menjadi kendala dalam mewujudkan masyarakat madani di
Indonesia diantaranya :
1. Kualitas SDM yang belum memadai karena pendidikan yang belum merata.
2. Masih rendahnya pendidikan politik masyarakat.
3. Kondisi ekonomi nasional yang belum stabil pasca krisi moneter.
4. Tingginya angkatan kerja yang belum teserap karena lapangan kerja yang
terbatas.
5. Pemutusn Hubungan Kerja (PHK) sepihak dalam jumlah yang besar.
6. Kondisi sosial politik yang belum pasca reformasi.
C. Peran Umat Islam Dalam Mewujudkan Masyarakat MadaniDalam sejarah Islam,
realisasi keunggulan normatif atau potensial umat Islam terjadipada
masa Abbassiyah. Pada masa itu umat Islam menunjukkan kemajuan di
bidang kehidupanseperti ilmu pengetahuan dan teknologi, militer,
ekonomi, politik dan kemajuan bidang-bidanglainnya. Umat Islam
menjadi kelompok umat terdepan dan terunggul. Nama-nama
ilmuwanbesar dunia lahir pada masa itu, seperti Ibnu Sina, Ubnu Rusyd,
Imam al-Ghazali, al-Farabi, danyang lain.Dalam kontek masyarakat

Indonesia, dimana umat Islam adalah mayoritas, peranan umatIslam


untuk mewujudkan masyarakat madani sangat menentukan. Kondisi
masyarakat Indonesiasangat bergantung pada konstribusi yang
diberikanoleh umat Islam. Peranan umat Islam itu dapatdirealisasikan
melalui jalur hukum,sosial-politik, ekonomi, dan yang lain. Sistem
hukum, sosial-politik, ekonomi danyang lain di Indonesia, memberikan
ruang untuk menyalurkan aspirasinyasecarakonstruktif bagi
kepentingan bangsa secara keseluruhan.Permasalahan pokok yang
masih menjadi kendala saat ini adalah kemampuan
dankonsistensi umat Islam Indonesia terhadap karakter dasarnya untuk
mengimplementasikan ajaranIslam dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara melalui jalur-jalur yang ada. Sekalipun umatIslam secara
kuantitatif mayoritas tetapi secara kualitatif masih rendah
sehingga perlupemberdayaan secara sistematis ikap amar maruf nahi
munkar. Oleh karena itu dalam menghadapi perkembangan dan
perubahan zaman pemberdayaancivil society perlu ditekankan, antara
lain melalui peranannya:
1. Sebagai pengembangan masyarakat melalui
peningkatan pendapatan danpendidikan.

upaya

2. Sebagai advokasi bagi masyarakat yang teraniaya, tidak berdaya


membela hak-hak dankepentingan mereka (masyarakat yang terkena
pengangguran, kelompok buruh yangdigaji atau di PHK secara
sepihak dan lain-lain).3. Sebagai kontrol terhadap negara.4. Menjadi
kelompok kepentingan (interest group) atau kelompok penekan
(pressure group).5. Masyarakat madani pada dasarnya merupakan
suatu ruang yang terletak antara negara disatu pihak dan
masyarakat di pihak lain. Dalam ruang lingkup tersebut
terdapatsosialisasi warga masyarakat yang bersifat sukarela dan
terbangun dari sebuah jaringanhubungan di antara assosiasi tersebut,
misalnya berupa perjanjian, koperasi, kalanganbisnis, Rukun Warga,
Rukun Tetangga, dan bentuk organisasi-organsasi lainnya.D.
Mewujudkan Masyarakat MadaniAllah menyatakan bahwa umat islam
adalah umat yang terbaik dari semua kelompokumat manusia yang
Allah ciptakan. Diantara aspek kebaikan umat islam itu adalah
keunggulankualitas SDMnya dibanding umat non islam.Dalam QS. Ali
Imran: 110
5
Artinya :Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk
manusia, menyuruh kepada yangma`ruf, dan mencegah dari yang
munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitabberiman,
tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang
beriman, dankebanyakan mereka adalah orang-orang yang
fasikMasyarakat madani sejatinya bukanlah konsep yang ekslusif
dan dipandang sebagaidokumen usang. Ia merupakan konsep yang
senantiasa hidup dan dapat berkembang dalamsetiap ruang dan waktu.
Mengingat landasan dan motivasi utama dalam masyarakat

madaniadalah Alquran. Prinsip terciptanya masyarakat madani


bermula sejak hijrahnya NabiMuhammad Saw. beserta para
pengikutnya dari Makah ke Yatsrib. Hal tersebut terlihat daritujuan
hijrah sebagai sebuah refleksi gerakan penyelamatan akidah dan
sebuah sikap optimismedalam mewujudkan cita-cita membentuk yang
madaniyyah (beradab)
Oleh karena itu dalam menghadapi perkembangan dan perubahan
zaman maka perlu
ditekankan untuk mewujudkan
yang sudah dilakukan oleh

masyarakat

madani

selain

apa

Rasulullah SAW, antara lain:


1. Membangkitkan semangat
ilmu pengetahuan,

islam

melalui

pemikiran

islamisasi

islamisasi kelembagaan ekonomi melalui lembaga ekonomi dan


perbankan syariah dan
lain-lain.
2. Kesadaran untuk maju dan selalu bersikap konsisten terhadap moral
atau akhlak islami.
3. Menegakkan hukum islam dan ditegakkannya keadilan dengan
disertai komitmen yang
tinggi.
4. Ketulusan ikatan jiwa, sikap yang yakin kepada adanya tujuan hidup
yang lebih tinggi
daripada pengalaman hidup sehari-hari di dunia ini
5. Adanya pengawasan sosial.
6. Menegakkan nilai-nilai hubungan sosial yang luhur dan prinsip
demokrasi (musyawarah)
http://dokumen.tips/documents/peran-umat-islam-dalam-mewujudkanmasyarakat-madani-017376057.html

Masyarakat Madani
diposting oleh achmad-gigih-fkg13 pada 19 December 2013
di Agama Islam - 0 komentar

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
MADANI satu kata yang indah. Punya arti yang dalam. Kadang kala banyak juga yang menyalah
artikannya. Apa itu sebenarnya madani. Madani berasal dari kata mudun arti sederhananya maju
atau biasa disebut modern. Didalam kehidupan, masyarakat madani digolongkan sebagai masyarakat
yang berilmu, memiliki rasa (emosi) secara individu maupun secara kelompok dan memiliki
kemandirian dalam segala tata kehidupan serata taat terhadap peraturan-peraturan yang saling
berlaku.
Masyarakat madani atau yang biasa disebut civil society oleh Dato Seri Anwar Ibrahim (1995),
adalah masyarakat yang sistem sosial yang subur yang diasaskan kepada prinsip moral yang
menjamin keseimbangan antara kebebasan perorangan dengan kestabilan masyarakat. Dalam rangka
membangun masyarakat madani modern. meneladani Nabi bukan hanya penampilan fisik belaka,
tapi sikap yang beliau peragakan saat berhubungan dengan sesama umat Islam ataupun dengan umat
lain, seperti menjaga persatuan umat Islam, menghormati dan tidak meremehkan kelompok lain,
berlaku adil kepada siapa saja, tidak melakukan pemaksaan agama, dan sifat-sifat luhur lainnya.
Masyarakat Madani, memang mungkin cukup asing di telinga beberapa orang awam pada umumnya.
Tapi sebenarnya keberadaan masyarakat madani ini erat sekali kaitannya dengan kehidupan kita di
lingkungan sosial maupun dalam kehidupan bermasyarakat. Apalagi di era yang serba modern dan
segala sesuatu telah mengalami globalisasi seperti sekarang ini. Masyarakat madani sering dipandang
sebagai suatu kelompok orang atau masyarakat yang telah maju, modern, beradab, dan berilmu
pengetahuan. Mereka adalah pengikut perkembangan zaman. Dan tak jarang pula, masyarakat
madani ini dinilai sebagai contoh dan panutan dalam kehidupan bermasyarakat.
Lalu apa sebenarnya hubungan antara masyarakat madani dengan kaum islam? bagaimana peran
kaum islam dalam mewujudkan masayarakat madani? pertanyaan itu sering muncul dipikiran
seseorang saat mengkaji hubungan antara masyarakat madani dan kaum islam itu sendiri. Apalagi
jika kedua hal tersebut dihubungkan dengan kesejahteraan umat. Akan bertambah kompleks apa
yang akan kita bahas pada makalah ini. Karena kesejahteraan yang akhir-akhir ini menjadi tujuan
utama dalam mewujudkan keadilan sosial di negeri tercinta ini, Indonesia, sedang menjadi
perbincangan hangat di kalangan masyarakat madani untuk bisa menemukan jalan keluar yang
terbaik dalam mewujudkan kesejahteraan umat tersebut.
Maka dari itulah, mengkaji tentang masyarakat madani dan kehidupannya serta hubungannya
dengan umat islam dan kesejahteraan umat, merupakan suatu hal yang cukup menarik untuk
dibahas. Dan pada kesempatan kali ini, kelompok kami berkesempatan untuk mengkaji lebih dalam
tentang Masyarakat Madani dan Kesejahteraan Umat
1.2 Rumusan masalah
1. Apakah pengertian masyarakat madani?
2. Apa saja ciri-ciri masyarakat madani?
3. Bagaimana upaya umat islam dalam mewujudkan masyarakat madani?
4. Apakah tujuan masyarakat madani?
1.3 Tujuan
1. Untuk memahami pengertian konsep masyarakat madani
2. Untuk memahami karakteristik masyarakat madani.
3. Untuk memahami upaya umat islam dalam mewujudkan masyarakat madani.
4. Untuk mengetahui tujuan mayarakat mandiri.

5. Untuk memahami sistem ekonomi islam dan kesejahteraan umat.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 PENGERTIAN MASYARAKAT MADANI MENURUT PARA AHLI
Istilah masyarakat madani sebenarnya merupakan istilah baru dari hasil pemikiran Prof. Naquib
al-Attas. Beliau adalah seorang filosof kontemporer dari Malaysia. Di Indonesia, istilah masyarakat
madani atau civil society baru populer pada tahun 1990-an. Pada awalnya, istilah masyarakat madani
di Indonesia bermula dari gagasan Dato Anwar Ibrahim. Menteri Keuangan dan Asisten Perdana
Menteri Malaysia itu berkunjung ke Indonesia membawa istilah masyarakat madani sebagai
terjemahan civil society. Istilah masyarakat madani disampaikan dalam ceramahnya pada simposium
nasional dalam rangka Forum Ilmiah di acara Festival Istiqlal, 26 September 1995..
Dalam perkembangannya, istilah masyarakat madani dipahami para ahli berdasarkan lingkungan
masing-masing. Definisi tersebut merupakan hasil analisis dan kajian dari fenomena masyarakat.
Berikut ini pengertian masyarakat madani menurut beberapa ahli.
Pengertian Masyarakat Madani menurut Zbighiew Rau
Masyarakat madani adalah suatu masyarakat yang berkembang dari sejarah, yang mengandalkan
ruang di mana individu dan perkumpulan tempat mereka bergabung, bersaing satu sama lainnya
guna mencapai nilai-nilai yang mereka yakini. Sistem nilai yang harus ada dalam masyarakat madani
menurut Zbighiew Rau adalah:
1) individualisme,
2) pasar (market),
3) pluralisme.

Pengertian Masyarakat Madani menurut Han Sung Joo


Masyarakat madani adalah sebuah kerangka hukum yang melindungi dan menjamin hakhak dasar
individu, perkumpulan sukarela yang terbebas dari negara, suatu ruang publik yang mampu
mengartikulasi isu-isu politik, gerakan warga negara yang mampu mengendalikan diri dan
independen, yang secara bersama-sama mengakui norma dan budaya yang menjadi identitas dan
solidaritas yang terbentuk serta pada akhirnya akan terdapat kelompok inti dalam civil society ini
Pengertian Masyarakat Madani menurut Anwar Ibrahim
Masyarakat madani adalah masyarakat ideal yang memiliki peradaban maju dan sistem sosial yang
subur yang diasaskan kepada prinsip moral yang menjamin keseimbangan antara kebebasan
perorangan dengan kestabilan masyarakat, yaitu masyarakat yang cenderung memiliki usaha serta
inisiatif individu baik dari segi pemikiran seni, pelaksanaan pemerintahan untuk mengikuti undangundang bukan nafsu, demi terlaksananya sistem yang transparan.
Pengertian Masyarakat Madani menurut Nurcholish Madjid
Masyarakat madani adalah suatu tatanan kemasyarakatan yang mengedepankan toleransi,
demokrasi, dan berkeadaban serta menghargai akan adanya pluralisme (kemajemukan).

Pengertian Masyarakat Madani menurut A.S. Hikam


A.S. Hikam mendefi nisikan pengertian masyarakat madani berdasarkan istilah civil society.
Menurutnya, civil society didefinisikan sebagai wilayah-wilayah kehidupan sosial yang terorganisasi
dan bercirikan:
a. Kesukarelaan (voluntary), artinya tidak ada paksaan, namun mempunyai komitmen bersama untuk
mewujudkan cita-cita bersama.
b. Keswasembadaan (self generating), artinya setiap anggota mempunyai harga diri yang tinggi.
c. Keswadayaan (self supporting), artinya kemandirian yang kuat tanpa menggantungkan pada
negara, atau lembaga atau organisasi lain.
d. Kemandirian yang tinggi terhadap negara, artinya masyarakat madani tidak tergantung pada
perintah orang lain termasuk negara.
e. Keterkaitan dengan norma-norma hukum, yang artinya terkait pada nilai-nilai hukum yang
disepakati bersama.
Dari beberapa definisi di atas, dapat dirangkum bahwa masyarakat madani adalah sebuah kelompok
atau tatanan masyarakat yang berdiri secara mandiri di hadapan penguasa dan negara, memiliki
ruang publik dalam mengemukakan pendapat, dan memiliki lembagalembaga yang mandiri dapat
menyalurkan aspirasi dan kepentingan publik.
2.2 CIRI-CIRI MASYARAKAT MADANI
Masyarakat madani atau yang disebut orang barat civil society mempunyai prinsip pokok pluralisme,
toleransi, dan hak asasi (human right), termasuk di dalamnya adalah demokrasi. Bagi bangsa
Indonesia, masyarakat madani menjadi suatu cita-cita bagi negara. Sebagai bangsa yang pluralis dan
majemuk, model masyarakat madani merupakan tipe ideal suatu masyarakat Indonesia demi
terciptanya integritas sosial bahkan integritas nasional.
Menurut Bahmueller, terdapat beberapa karakteristik masyarakat madani, di antaranya:
a. Terintegrasinya individu-individu dan kelompok-kelompok eksklusif ke dalam masyarakat
melalui kontrak sosial dan aliansi sosial.
b. Menyebarnya kekuasaan sehingga kepentingan-kepentingan yang mendominasi dalam
masyarakat dapat dikurangi oleh kekuatan-kekuatan alternatif.
c. Dilengkapinya program-program pembangunan yang didominasi oleh negara dengan programprogram pembangunan yang berbasis masyarakat.
d. Terjembataninya kepentingan-kepentingan individu dan negara karena keanggotaan organisasiorganisasi volunter mampu memberikan masukan-masukan terhadap keputusan-keputusan
pemerintah.
e. Tumbuh kembangnya kreativitas yang pada mulanya terhambat oleh rezim-rezim totaliter.
f. Meluasnya kesetiaan (loyalty) dan kepercayaan (trust) sehingga individu-individu mengakui
keterkaitannya dengan orang lain dan tidak mementingkan diri sendiri.
g. Adanya pembebasan masyarakat melalui kegiatan lembaga-lembaga sosial dengan berbagai
ragam perspektif.
Dari beberapa karakteristik tersebut, dapat disimpulkan bahwa masyarakat madani adalah sebuah
masyarakat demokratis yang para anggotanya menyadari akan hak-hak dan kewajibannya dalam
menyuarakan pendapat dan mewujudkan kepentingan- kepentingannya; pemerintahannya
memberikan peluang yang seluas-luasnya bagi kreativitas warga negara untuk mewujudkan programprogram pembangunan di wilayahnya.
2.3 PERAN UMAT ISLAM DALAM MEWUJUDKAN MASYARAKAT MADANI
Dalam sejarah Islam, realisasi keunggulan normatif atau potensial umat Islam terjadi pada masa

Abbassiyah. Pada masa itu umat Islam menunjukkan kemajuan di bidang kehidupan seperti ilmu
pengetahuan dan teknologi, militer, ekonomi, politik dan kemajuan bidang-bidang lainnya. Umat
Islam menjadi kelompok umat terdepan dan terunggul. Nama-nama ilmuwan besar dunia lahir pada
masa itu, seperti Ibnu Sina, Imam al-Ghazali, al-Farabi, dan yang lain.
1. Kualitas SDM Umat Islam
Firman Allah SWT dalam QS. Ali Imran ayat 110 yang artinya: Kamu adalah umat yang terbaik yang
dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang maruf, dan mencegah dari yang munkar, dan
beriman kepada Allah. sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara
mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang yang fasik.
Dari ayat di atas sudah jelas bahwa Allah menyatakan bahwa umat Islam adalah umat yang terbaik
dari semua kelompok manusia yang Allah ciptakan. Di antara aspek kebaikan umat Islam itu adalah
keunggulan kualitas SDM-nya dibanding umat non Islam. Keunggulan kualitas umat Islam yang
dimaksud dalam Al-Quran itu sifatnya normatif, potensial, bukan riil.
2. Posisi Umat Islam
SDM umat Islam saat ini belum mampu menunjukkan kualitas yang unggul. Karena itu dalam
percaturan global, baik dalam bidang politik, ekonomi, militer, dan ilmu pengetahuan dan teknologi,
belum mampu menunjukkan perannya yang signifikan. Di Indonesia jumlah umat Islam 85% tetapi
karena kualitas SDM-nya masih rendah, juga belum mampu memberikan peran yang proporsional.
Hukum positif yang berlaku di negeri ini bukan hukum Islam. Sistem sosial politik dan ekonomi juga
belum dijiwai oleh nilai-nilai Islam, bahkan tokoh-tokoh Islam belum mencerminkan akhlak Islam.
2.4 TUJUAN MASYARAKAT MADANI
Terdapat beberapa prasyarat yang harus dipenuhi untuk menjadi masyarakat madani, yakni adanya
democratic governance (pemerintahan demokratis yang dipilih dan berkuasa secara demokratis) dan
democratic civilian (masyarakat sipil yang sanggup menjunjung nilai-nilai keamanan sipil (civil
security), tanggung jawab sipil (civil responsibility), dan ketahanan sipil (civil resilience). Apabila
diurai, dua kriteria tersebut menjadi tujuah prasyarat masyarakat madani, yaitu:
a. Tujuan Masyarakat Madani adalah Terpenuhinya kebutuhan dasar individu, keluarga, dan
kelompok dalam masyarakat.
b. Tujuan Masyarakat Madani adalah Berkembangnya modal manusia (human capital) dan modal
sosial (social capital) yang kondusif bagi terbentuknya kemampuan melaksanakan tugas-tugas
kehidupan dan terjalinya kepercayaan dan relasi sosial antarkelompok.
c. Tujuan Masyarakat Madani adalah Tidak adanya diskriminasi dalam berbagai bidang
pembangunan atau dengan kata lain terbukanya akses terhadap berbagai pelayanan sosial.
d. Tujuan Masyarakat Madani adalah Adanya hak, kemampuan, dan kesempatan bagi masyarakat dan
lembaga-lembaga swadaya untuk terlibat dalam berbagai forum, sehingga isu-isu kepentingan
bersama dan kebijakan publik dapat dikembangkan.
e. Tujuan Masyarakat Madani adalah Adanya persatuan antarkelompok dalam masyarakat serta
tumbuhnya sikap saling menghargai perbedaan antarbudaya dan kepercayaan.
f. Terselenggaranya sistem pemerintahan yang memungkinkan lembaga-lembaga ekonomi, hukum,
dan sosial berjalan secara produktif dan berkeadilan sosial.
g. Adanya jaminan, kepastian, dan kepercayaan antara jaringan-jaringan kemasyarakatan yang
memungkinkan terjalinnya hubungan dan komunikasi antarmasyarakat secara teratur, terbuka, dan
terpercaya.
2.5 SISTEM EKONOMI ISLAM DAN KESEJAHTERAAN UMAT
Ekonomi Islam merupakan ilmu yang mempelajari perilaku ekonomi manusia yang perilakunya

diatur berdasarkan aturan agama Islam dan didasari dengan tauhid sebagaimana dirangkum dalam
rukun islam dan rukun iman.
Tujuan Ekonomi Islam, berpedoman pada: Segala aturan yang diturunkan kepada Allah SWT dalam
sistem Islam yang mengarah dalam kebaikan, kesejahteraan, keutamaan, serta menghapus kejahatan,
kesengsaraan, dan kerugian pada seluruh ciptaan-Nya.
Beberapa prinsip-prinsip dasar pada Ekonomi Islam: Berbagai sumber daya dipandang sebagai
titipan dari Allah swt kepada manusia, Islam mengakui pemilikan pribadi dalam batas-batas tertentu,
Kekuatan penggerak utama ekonomi Islam adalah kerja sama, Ekonomi Islam menolak terjadinya
akumulasi kekayaan yang dikuasai oleh segelintir orang saja, Ekonomi Islam menjamin pemilikan
masyarakat dan penggunaannya direncanakan untuk kepentingan banyak orang, Seorang muslim
harus takut kepada Allah swt dan hari penentuan di akhirat nanti, Zakat harus dibayarkan atas
kekayaan yang telah memenuhi batas (nisab), Islam melarang riba dalam segala bentuk.
Dalam Q.S. An-Nahl ayat 71 disebutkan:
Artinya:Dan Allah melebihkan sebahagian kamu dari sebagian yang lain dalam hal rezki, tetapi orangorang yang dilebihkan (rezkinya itu) tidak mau memberikan rezki mereka kepada budak-budak yang
mereka miliki, agar mereka sama (merasakan) rezki itu. Maka Mengapa mereka mengingkari nikmat
Allah.
Dalam ukuran tauhid, seseorang boleh menikmati penghasilannya sesuai dengan kebutuhannya.
Kelebihan penghasilan atau kekayaannya. Kelebihan penghasilan atau kekayaannya harus
dibelanjakan sebagai sedekah karena Alah.
Banyak ayat-ayat Allah yang mendorong manusia untuk mengamalkan sedekah, antara lain Q.S. Annisa ayat 114:
Artinya: Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari
orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat maruf, atau mengadakan
perdamaian di antara manusia. dan barangsiapa yang berbuat demikian Karena mencari keredhaan
Allah, Maka kelak kami memberi kepadanya pahala yang besar.
Dalam ajaran Islam ada dua dimensi utama hubungan yang harus dipelihara, yaitu hubungan
manusia dengan Allah dan hubungan manusia dengan manusia dalam masyarakat. Kedua hubungan
itu harus berjalan dengan serentak. Dengan melaksanakan kedua hubunganngan itu hidup manusia
akan sejahtrera baik di dunia maupun di akhirat kelak.
2.6 MANAJEMEN ZAKAT
A. Pengertian Zakat
Zakat adalah satu kewajiban dari kewajiban-kewajiban islam, ia adalah salah satu dari rukunrukunnya, dan termasuk rukun yang terpenting setelah syahadat dan solat, Kitab dan sunnah serta
ijma' telah menunjukan kewajibanya, barang siapa mengingkari kewajibanya maka ia adalah kafir dan
murtad dari islam harus diminta agar bertaubat, jika tidak bertaubat dibunuh, dan barang siapa kikir
dengan enggan mengeluarkan zakat atau mengurangi sesuatu derinya maka ia termasuk orang-orang
dzolim yang berhak atas sangsi dari Allah SWT, Allah SWT berfirman:
" Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari
karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah
buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari
kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah
mengetahui apa yang kamu kerjakan."
(QS: Ali- Imron; 180)

B. Tujuan Zakat
Muhammad Daud Ali menerangkan bahwa tujuan zakat adalah :
1. Mengangkat derajat fakir miskin
2. Membantu memecahkan masalah para gharimin, ibnu sabil dan mustahik lainnya
3. Membentangkan dan membina tali persaudaraan sesama umat Islam dan manusia pada
umumnya
4. Menghilangkan sifat kikir dan loba para pemilik harta
5. Menghilangkan sifat dengki dan iri (kecemburuan sosial) dari hati orang-orang miskin
6. Menjembatani jurang antara si kaya dengan si miskin di dalam masyarakat;
7. Mengembangkan rasa tanggung jawab sosial pada diri seseorang terutama yang memiliki harta
8. Mendidik manusia untuk berdisiplin menunaika kewajiban dan menyerahkan hak orang lain
padanya
9. Sarana pemerataan pendapatan untuk mencapai keadilan sosial.
Secara umum fungsi zakat meliputi bidang moral, sosial dan ekonomi. Dalam bidang moral, zakat
mengikis ketamakan dan keserakahan hati si kaya. Sedangkan dalam bidang sosial, zakat berfungsi
untuk menghapuskan kemiskinan dari masyarakat. Di bidang ekonomi, zakat mencegah penumpukan
kekayaan di tangan sebagian kecil manusia dan merupakan sumbangan wajib kaum muslimin untuk
perbendaharaan Negara.
C. Manfaat Zakat
1. Sebagai perwujudan iman kepada Allah SWT, mensyukuri nikmat-Nya, menumbuhkan akhlak
mulia dengan memiliki rasa kepedulian yang tinggi, menghilangkan sifat kikir dan rakus,
menumbuhkan ketenangan hidup, sekaligus mengembangkan dan mensucikan harta yang dimiliki.
2. Menolong, membantu dan membina muzakki, terutama golongan fakir miskin, ke arah kehidupan
yang lebih baik dan lebih sejahtera, sehingga mereka dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dengan
layak, dapat beribadah kepada Allah SWT, terhindar dari bahaya kekufuran, sekaligus menghilangkan
sifat iri, dengki dan hasad yang mungkin timbul dari kalangan mereka ketika melihat golongan kaya
yang berkecukupan hidupnya. Zakat, sesungguhnya bukan sekedar memenuhi kebutuhan yang
bersifat konsumtif yang sifatnya sesaat, akan tetapi memberikan kecukupan dan kesejahteraan pada
mereka, dengan cara menghilangkan atau memperkecil penyebab kehidupan mereka menjadi miskin
dan menderita.
3. Sebagai pilar jama`i antara kelompok aghniya yang berkecukupan hidupnya, dengan para
mujahid yang waktunya sepenuhnya untuk berjuang di jalan Allah, sehingga tidak memiliki waktu
yang cukup untuk berusaha bagi kepentingan nafkah diri dan keluarganya.
4. Sebagai salah satu sumber dana bagi pembangunan sarana maupun prasarana yang harus
dimiliki umat Islam, seperti sarana pendidikan, kesehatan, maupun sosial ekonomi dan terlebih lagi
bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia.
5. Untuk memasyarakatkan etika bisnis yang benar, karena zakat tidak akan diterima dari harta
yang didapatkan dengan cara yang bathil (Al-Hadits). Zakat mendorong pula umat Islam untuk
menjadi muzakki yang sejahtera hidupnya.
6. Dari sisi pembangunan kesejahteraan umat, zakat merupakan salah satu instrumen pemerataan
pendapatan. Dengan zakat yang dikelola dengan baik, dimungkinkan membangun pertumbuhan
ekonomi sekaligus pemerataan pendapatan. Zakat juga merupakan institusi yang komprehensif untuk
distribusi harta, karena hal ini menyangkut harta setiap muslim secara praktis, saat hartanya telah
sampai atau melewati nishab. Akumulasi harta di tangan seseorang atau sekelompok orang kaya saja,
secara tegas dilarang Allah SWT.
Di dalam pembayaran zakat terdapat perluasan daerah harta, karena suatu harta jika dicairkan

sebagian darinya, maka akan meluas jangkauanya, dan banyak orang yang mengambil manfaat
darinya, berbeda jika harta hanya berputar di antara orang-orang kaya saja sedang orang-orang
miskin tidak mendapatkan sedikitpun darinya.
D. Harta Yang Dizakati
a) Emas, perak dan yang semisalnya, seperti uang dan lainnya.
b) Barang dagangan, semua barang dagangan.
c) Binatang ternak, yakni sapi, unta dan kambing
d) Pertanian, pada hasil bumi yang bisa ditakar dan ditimbang serta disimpan
E. Penerima Zakat
Pembagian harta zakat harus di berikan kepada orang-orang yang berhak menerimanya, yang sering
di sebut dengan mustahiq zakat. Berdasarkan ketentuan ayat Al-quran surat At-Taubah ayat 60,
mustahiq zakat itu sebanyak 8 orang (al-ashnafu al-tsamaniyah). Antara lain
1. Fakir, yaitu orang yang tidak mempunyai harta dan usaha/pekerjaan untuk mencukupi
kebutuhannya.
2. Miskin, yaitu orang yang mempunyai usaha/pekerjaan tetapi tidak dapat mencukupi
kebutuhannya.
3. Amil, yaitu orang yang bertugas mengurus zakat yang mendapat upah kecuali dari zakat tersebut.
4. Muallaf, yaitu orang yang baru masuk islam sedangkan imannya masih belum kuat.
5. Budak, yaitu hamba sahaya yang di janjikan kemerdekaannya oleh majikannya apabila dapat
menebus dirinya (budak mukatab).
6. Gharim, yaitu orang yang berhutang untuk kepentingan dirinya sendiri atau keperluan yang
mubah kemudian tidak bisa membayar.
7. Sabilillah, yaitu para pejuang pembela agama Allah yang tidak mendapatkan gaji sebagai imbalan
pekerjaannya.
8. Ibnu sabil, yaitu orang yang sedang dalam keadaan bepergian bukan untuk maksiat dan
kehabisan bekal dalam perjalanannya.
Di samping adanya mustahiq zakat tersebut, ada juga 5 orang yang tidak boleh menerima pembagian
zakat yaitu :
1. Orang kaya (muzakki).
2. Hamba sahaya.
3. Bani Hasyim dan Bani Mutholib (keturunan Rasulullah).
4. Orang kafir.
5. Orang yang menjadi tanggungan muzakki.
"Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orangorang miskin, penguruspengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang
berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu
ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana" ( QS: At-Taubah:
60).
F. Manajemen Pengelolaan Zakat Produktif
Sehubungan pengelolaan zakat yang kurang optimal, sebagian masyarakat yang tergerak hatinya
untuk memikirkan pengelolaan zakat secara produktif, sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan
umat Islam pada umumnya dan masyarakat pada umumnya. Oleh karena itu, pada tahun 1990-an,
beberapa perusahaan dan masyarakat membentuk Baitul Mal atau lembaga yang bertugas mengelola
dan zakat, infak dan sedekah dari karyawan perusahaan yang bersangkutan dan masyarakat.
Sementara pemerintah juga membentuk Badan Amil Zakat Nasional.
Dalam pengelolaan zakat diperlukan beberapa prinsip, antara lain:
1. Pengelolaan harus berlandasakn Alquran dan Assunnah.

2. Keterbukaan. Untuk menumbuhkan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga amil zakat, pihak
pengelola harus menerapkan manajemen yang terbuka.
3. Menggunakan manajemen dan administrasi modern.
4. Badan amil zakat dan lembaga amil zakat harus mengelolah zakat dengan sebaik-baiknya.
Selain itu amil juga harus berpegang teguh pada tujuan pengelolaan zakat, antara lain:
1. Mengangkat harkat dan martabat fakir miskin dan membantunya keluar dari kesulitan dan
penderitaan.
2. Membantu pemecahan masalah yang dihadapi oleh para mustahik
3. Menjembatani antara yang kaya dan yang miskin dalam suatu masyarakat.
4. Meningkatkan syiar Islam
5. Mengangkat harkat dan martabat bangsa dan negara.
6. Mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial dalam masyarakat.
G. Hikmah Zakat
Ibadah zakat memilikki hikmah baik yang berhubungan vertikal dengan Allah SWT, maupun
hubungan horizontal dengan manusia. Hikmah-hikmah zakat antara lain :
Perwujudan nilai-nilai iman kepada Allah SWT. Dengan mensyukuri nikmatnya dan
menumbuhkan rasa kemanusiaan yang tinggi.
Sebagai pertolongan dan bantuan kepada fakir miskin di dalam mewujudkan kehidupan sejahtera
dengan memenuhi kebutuhan hidupnya, sehingga dapat terhindar dari kekufuran.
Sebagai sistem pembangunan sistem kemasyarakat Islam yang terdiri di atas persatuan, persamaan
derajat dan hak, persaudaraan, saling membantu.
Sebagai sumber dana pembangunan sarana dan pra sarana agama Islam seperti sarana ibadah,
pendidikan, sosial, dan ekonomi. Serta pengembangan kualitas sumber daya manusia muslim.
2.7 MANAJEMEN WAKAF
Wakaf adalah salah satu bentuk dari lembaga ekonomi Islam. Ia merupakan lembaga Islam yang satu
sisi berfungsi sebagai ibadah kepada Allah, sedangkan di sisi lain wakaf juga berfungsi sosial. Wakaf
muncul dari satu pernyataan dan perasaan iman yang mantap dan solidaritas yang tinggi antara
sesama manusia. Dalam fungsinya sebagai ibadah ia diharapkan akan menjadi bekal bagi si wakif di
kemudian hari, karena ia merupakan suatu bentuk amalan yang pahalanya akan terus menerus
mengalir selama harta wakaf itu dimanfaatkan. Sedangkan dalam fungsi sosialnya, wakaf merupakan
aset amat bernilai dalam pembangunan umat.

A. Pengertian Waqaf
Menurut istilah bahasa waqaf berarti menahan atau berhenti tetapi menurut istilah fuqaha
menyerahkan harta atau benda milik pribadi yang kekal zatnya ke pihak lain untuk kepentingan
umum supaya bisa bermanfaat dengan bertujuan mendapat keridlaan Allah. Waqaf biasanya di sebut
dengan sodaqoh jariyah seperti menyerahkan sebidang tanah untuk kepentingan masjid, pondok
pesantren, musholla, dan sarana pendidikan.
Harta yang diwakafkan tidak boleh dijual, dihibahkan atau diwariskan. Akan tetapi, harta wakaf
tersebut harus secara terus menerus dapat dimanfaatkan untuk kepentingan umum sebagaimana
maksud orang yang mewakafkan.
Dalil Wakaf adalah Surat Ali Imran ayat 92:
Artinya: Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (harta sempurna) sebelum kamu

menafkahkan sebagian harta yg kamu cintai. Dan apa saja yg kamu nafkahkan, maka sesungguhnya
Allah mengetahuinya.
B. Rukun Waqaf
Orang yang mewaqafkan ( al-waqif)
syaratnya : baligh, berakal, atas dasar kemauan sendiri, memilikki hak membelanjakan terhadap
benda yang di waqafkan.
Orang yang menerima waqaf (al-mauquf alaih)
syaratnya : berhak memilikki selama-lamanya, bila waqaf perorangan maka berhak memilikki
sesuatutersebut, mampu dan sanggup mengelola benda yang di waqafkan.
Benda yang di waqafkan (al-mauquf)
syaratnya : benda tetap, tidak mudah rusak bila dimanfaatkan, milik orang yang mewaqafkan, barang
yang di waqafkan berlaku selamanya tidak di batasi waktunya, barang yang diwaqafkan harus tunai.
Lafadz waqaf (sighat).
yaitu ikrar serah terima waqaf dengan syaratnya : dengan bahasa yang jelas atau kinayah yang di
sertai dengan niat waqaf, jika di berikan kepada orang tertentu maka harus di jawab. Sedangkan
untuk umum tidak di syaratkan untuk di jawab.
C. Syarat Waqaf
1. Barang yang diwakafkan harus bisa diambil manfaatnya & keadaanya masih tetap (tidak
berkurang/tidak habis jumlahnya)
2. Barang tersebut adalah hak milik sendiri
3. Barang tersebut dapat digunakan untuk tujuan yang baik.
D. Syarat Harta yang Diwaqafkan
Kekal zatnya, walaupun manfaatnya di ambil. Contoh harta yang memenuhi syarat untuk di
waqafkan : tanah, bangunan, masjid, rumah sakit, jam dinding, tikar sholat, dan sebagainya.
Kepunyaan yang berwaqaf dan hak miliknya dapat berpindah-pindah.
Ketentuan lain mengenai harta waqaf, yakni harta waqaf itu terlepas dari milik orang yang
berwaqaf. Harta waqa f itu tidak boleh di jual, tidak boleh di berikan (hibah), dan tidak boleh di
wariskan.
Akan tetapi menurut sebagain ulama madzhab Imam Hambali, menjual harta waqaf tersebut boleh,
asalkan hasil penjualannya di belikan barang baru dan di waqafkan kembali. Sahabat Rasulullah
SAW, Umar bin Khattab, pernah menganti dan memindah masjid kufah dengan masjid baru di
tempat lain, sedangkan di bekas masjid lama itu di bangun pasar, yang sudah tentu manfaatnya untuk
kepentingan umum. Yang menjadi rujukan dalam pengertian ini adalah firman Allah surat Al-Araf
ayat 35.
E. Unsur Waqaf
Waqif (orang yang berwaqaf) meliputi perseorangan, organisasi dan badan hukum.
Nazir, yaitu pihak yang menerima waqaf dari waqif untuk di kelola dan di kembangkan sesuai
dengan peruntukkanya.
Harta benda waqaf, adalah harta benda yang memilikki daya tahan lama atau manfaat jangka
panjang serta mempunyai nilai ekonomi menurut syariat. Ada dua macam harta benda yang bisa di
waqafkan yaitu : benda tidak bergerak dan benda bergerak.
Ikrar waqaf, adalah pernyataan kehendak waqif yang di ucapkan secara lisan atau tulisan kepada
nazir, untuk mewaqafkan harta benda miliknya dengan di saksikan oleh dua orang saksi di hadapan
Pejabat Pembuat Akta.
Dalam rangka mencapai tujuan dan fungsi waqaf, harta benda waqaf hanya dapat di peruntukkan

bagi : sarana kegiatan ibadah, sarana kegiatan pendidikan dan kesehatan, bantuan untuk fakir miskin,
anak terlantar, yatim piatu dan beasiswa, kemajuan dan peningkatan ekonomi umat, kemajuan dan
kesejahteraan umum lainnya yang tidak bertentangan dengan syariah.
F. Landasan Pelaksanaan Waqaf di Indonesia
a. Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 1977 tentang Perwakafan Tanah Milik
b. Peraturan Menteri dalam Negeri No. 6 Tahun 1977 tentang Tata Cara Pendaftaran Tanah mengenai
Perwakafan Tanah Milik
c. Peraturan Menteri Agama No. 1 Thn 1978 Tentang Peraturan PelaKsanaan Peraturan Pemerintah
No. 28 Tahun 1977 tentang Perwakafan Tanah Milik
d. Peraturan Direktur Jendral Bimbingan Masyarakat Islam No. Kep/P/75/1978 tentang Formulir dan
Pedoman Peraturan-Peraturan tentang Perwakafan Tanah Milik
G. Tata Cara Waqaf di Indonesia
1) Calon Wakaf yang akan mewakafkan tanahnya harus menghadap kepada nazir dihadapan Pejabat
Pembuat Akta Ikrar Wakaf ( PPAIW ) yang menangani wilayah tanah wakaf itu. PPAIW adalah kepala
kantor urusan agama setempat.
2) Ikrar Wakaf disaksikan oleh sedikitnya 2 orang saksi dewasa yang sehat akal dan dilakukan
secara tertulis
3) Ikrar Wakaf dapat juga ditulis dengan persetujuan Kantor Departemen Agama kab/kotamadya
yang menangani wilayah tanah wakaf itu dan hal tersebut dibicarakan di hadapan PPAIW
4) Tanah wakaf itu dalam keadaan tuntas bebas dari ikatan dan sengketa. Jika ikrar wakaf itu telah
memenuhi syarat dengan lengkap, maka PPAIW menerbitkan Akta Ikrar Wakaf Tanah.
H. Hikmah Waqaf
Di antara hikmah waqaf antara lain :
1) Merupakan realisasi perintah Allah agar seseorang menafkahkan sebagian hartanya di jalan Allah.
Sebagaimana firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 92.
2) Sebagai tanda syukur seorang hamba Allah atas nikmat yang telah di terimanya.
3) Sebagai sumber dana sosial bagi keluarga yang tidak mampu.
4) Sebagai sumber dana, sarana dan pra sarana aktifitas agama islam.

BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Untuk mewujudkan masyarakat madani dan agar terciptanya kesejahteraan umat maka kita sebagai
generasi penerus supaya dapat membuat suatu perubahan yang signifikan. Selain itu, kita juga harus
dapat menyesuaikan diri dengan apa yang sedang terjadi di masyarakat sekarang ini. Agar di dalam
kehidupan bermasyarakat kita tidak ketinggalan berita. Adapun beberapa kesimpulan yang dapat
kami ambil dari pembahasan materi yang ada di bab II ialah bahwa di dalam mewujudkan
masyarakat madani dan kesejahteraan umat haruslah berpacu pada Al-Quran dan As-Sunnah yang
diamanatkan oleh Rasullullah kepada kita sebagai umat akhir zaman. Sebelumnya kita harus
mengetahui dulu apa yang dimaksud dengan masyarakat madani itu dan bagaimana cara
menciptakan suasana pada masyarakat madani tersebut, serta ciri-ciri apa saja yang terdapat pada
masyarakat madani sebelum kita yakni pada zaman Rasullullah.
Selain memahami apa itu masyarakat madani kita juga harus melihat pada potensi manusia yang ada
di masyarakat, khususnya di Indonesia. Potensi yang ada di dalam diri manusia sangat mendukung
kita untuk mewujudkan masyarakat madani. Karena semakin besar potensi yang dimiliki oleh
seseorang dalam membangun agama Islam maka akan semakin baik pula hasilnya. Begitu pula
sebaliknya, apabila seseorang memiliki potensi yang kurang di dalam membangun agamanya maka
hasilnya pun tidak akan memuaskan. Oleh karena itu, marilah kita berlomba-lomba dalam
meningkatkan potensi diri melalui latihan spiritual dan praktek-praktek di masyarakat.
Adapun di dalam Islam mengenal yang namanya zakat, zakat memiliki dua fungsi baik untuk yang
menunaikan zakat maupun yang menerimanya. Dengan zakat ini kita dapat meningkatkan taraf hidup
masyarakat higga mencapai derajat yang disebut masyarakat madani. Selain zakat, ada pula yang
namanya wakaf. Wakaf selain untuk beribadah kepada Allah juga dapat berfungsi sebagai pengikat
jalinan antara seorang muslim dengan muslim lainnya. Jadi wakaf mempunyai dua fungsi yakni
fungsi ibadah dan fungsi sosial.
Maka diharapkan kepada kita semua baik yang tua maupun yang muda agar dapat mewujudkan
masyarakat madani di negeri kita yang tercinta ini yaitu Indonesia. Yakni melalui peningkatan
kualiatas sumber daya manusia, potensi, perbaikan sistem ekonomi, serta menerapkan budaya zakat,
infak, dan sedekah. Insya Allah dengan menjalankan syariat Islam dengan baik dan teratur kita dapat
memperbaiki kehidupan bangsa ini secara perlahan. Demikianlah makalah rangkuman materi yang
dapat kami sampaikan pada kesempatan kali ini semoga di dalam penulisan ini dapat dimengerti
kata-katanya sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman di masa yang akan datang.
3.2 SARAN
Dengan selesainya pembahasan mengenai masyarakat madani dan kesejahteraan umat di era
globalisasi pada makalah ini, penulis menyarankan kepada para pembaca untuk berusaha menjadi
lebih baik lagi kedepannya dalam bertindak dan dalam segala hal yang dilakukan seperti masyarakat
madani yang berilmu, beriman, dan berakhlak. Selain itu sebagai umat Islam yang baik penulis
menyarankan agar para pembaca senantiasa ikut berpartisipasi dalam menciptakan kesejahteraan
umat terutama umat Islam yang ada di Indonesia ini sehingga terwujud cita-cita negara yaitu keadilan
sosial atau kesejahteraan masyarakat yang merata di segala aspek dan bidang.

DAFTAR PUSTAKA
http://budisma.web.id/pengertian-masyarakat-madani-para-ahli.html
http://budisma.web.id/pengertian-masyarakat-madani-para-ahli.html
http://budisma.web.id/tujuan-masyarakat-madani.html
http://penanusantara.com/2012/12/masyarakat-madani-dan-kesejahteraan-umat
http://id.wikipedia.org/wiki/Terminologi
http://arisandi.com/pengertian-wakaf/
http://id.wikipedia.org/wiki/Wakaf
http://lazmm.org/tentang-wakaf/arti-wakaf-apakah-wakaf-itu
http://salwintt.wordpress.com/bahan-ajr-pai/demokrasi/zakat-dan-wakaf/
http://elshohwah.tripod.com/makalah/Diskusi%201.html
http://marlinds.blogspot.com/2013/01/makalah-zakat-dan-manfaatnya.html
http://kadjiekampret99.blogspot.com/2012/10/manajemen-zakat-dan-wakaf.html
http://kianaputrisanusi.blogspot.com/2012/11/masyarakat-madani.html
http://danisapujiati94.blogspot.com/2013/01/signifikansi-kearifan-lokal-dalam.html
Undang-Undang Republik Indonesia nomor 41 Tahun 2004 tentang wakaf
Suryana, A. Toto, dkk. 1996. Pendidikan Agama Islam. Tiga Mutiara: Bandung
Sosrosoediro, Endang Rudiatin. 2007. Dari Civil Society Ke Civil Religion. MUI:Jakarta.
Sutianto, Anen. 2004. Reaktualisasi Masyarakat Madani Dalam Kehidupan. Pikiran Rakyat: Bandung.

http://achmad-gigih-fkg13.web.unair.ac.id/artikel_detail-89383-Agama%20IslamMasyarakat%20Madani.html

Makalah Pendidikan Ilmu Sosial Yang Humanis. Berikut ini saya mempunyai Makalah
Pendidikan yang berjudul Civil Society dalam Era Globalisasi: Pendidikan dan
Perubahan Sosial Yang Humanis dan Berkelanjutan. Semoga makalah ini bermanfaat
bagi para pelajar.
Abstrak
Masyarakat madani atau lebih sering terdengar dengan sebutan Civil Society menjadi isu
atau bahan yang menarik dari berbagai kalangan akademisi, dimana konsep tersebut,
berimplikasi pada peradaban manusia yang lebih maju dan berbudaya. Civil Society sebuah
paradigma yang terus mengalami perkembangan dan perubahan seiring perjalanan waktu,
dimana banyak pakar mendefinisikan paradigma tersebut, dengan beragam interpretasi.
Beragamnya interpretasi tentang konsep, aplikasi, dan implikasi Civil Society, terutama
dikaitkan dengan era Globalisasi akan menjadi kajian yang lebih menarik, karena hal
tersebut, secara tidak langsung berdampak pada perubahan sosial dan budaya dalam

kehidupan masyarakat. Intensitas sosialisasi lebih efektif dan efisien, sebagai akibat dari era
globalisasi, sehingga secara empiris dan teoritis masyarakat madani saling berkaitan dengan
Globalisasi. Kajian-kajian literatur dan pengamatan dinamika masyarakat kini, yang
terhubung dengan dinamika peradaban, tentunya menjadi isu atau perbincangan yang
menarik dan menantang, karena menyangkut konsep masyarakat yang idealis dalam
mewujudkan masyarakat yang humanis dan berkelanjutan. Selain itu studi historis sangat
dibutuhkan dalam memahami dinamika masyarakat madani yang kini banyak mengalami
perubahan dan perkembangan dalam tataran interpretasi dan persepsi masyarakat luas atau
global. Pendidikan mempunyai peran dan fungsi dalam perubahan dan perkembangan
tersebut, sehingga aspek pendidikan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
paradigma Masyarakat madani.
Pendahuluan
Masyarakat Madani atau lebih dikenal dengan istilah Civil Society sudah bukan barang
atau bahan baru dalam perbincangan dikalangan akademisi saat ini, karena konsep tersebut,
secara historis sudah berlangsung sejak diperkenalkannya atau dipopulerkan oleh Nurcholish
Madjid, disamping itu wacana masyarakat madani sudah semarak pada tahun 1990-an,
khususnya setelah jatuhnya Komunisme (Masudi, 1999). Beragam konsep atau teoritis yang
ditawarkan oleh pakar atau pengamat, baik Sosial, ekonomi, Budaya, politik, bahkan dalam
Islam sendiri, dalam membangun sebuah masyarakat yang adaptatif, dalam arti masyarakat
yang mampu beradaptasi dengan perkembangan dan perubahan zaman. Berbagai diskusi
sudah banyak dilakukan dikalangan akademisi maupun politisi, dalam merumuskan untuk
mewujudkan sebuah kebijakan yang mampu membangun sebuah masyarakat yang idealis
sesuai dengan konsep Civil Society. Membumikan konsep masyarakat madani, secara tidak
langsung merupakan bagian dari proses perubahan sosial yang secara empiris telah berjalan
dalam masyarakat yang dinamis.
Membangun sebuah peradaban dengan paradigma civil society didalam masyarakat yang
plural, terutama di Indonesia tentunya membutuhkan tenaga dan waktu yang panjang, selain
itu terkait dengan latar belakang pendidikan yang dilalui. Kompleksitas dan sulitnya
membangun peradaban tersebut, akan banyak menimbulkan permasalahan yang tidak
sederhana atau rumit, disamping kondisi geografis yang beragam dan dinamik. Dipahami
bersama di Indonesia, sebuah Negara yang amat beragam akan suku, bahasa, dan agama,
sehingga beragam pendekatan yang dilakukan harus sesuai dengan kondisi masing-masing
wilayah. Masyarakat perkotaan dengan masyarakat pedesaan sangat berbeda, akan cara atau
model kehidupannya, dimana daerah perkotaan lebih cenderung pada aspek materiil,
sehingga seluruh kehidupannya bergantung pada ketersediaan sumber daya alam yang ada,
tiadanya keteraturan dalam pemakaiannya, sehingga terjadi kompetisi. Kompetisi dapat
menimbulkan sebuah potensi yang besar, baik potensi besar maupun kecil, dimana potensi
tersebut, dapat menjadi motivator dalam dinamika manusia dalam berhidup. Secara tidak
langsung proses kehidupan diperkotaan lebih agresif dan radikal, dibanding didaerah
pedesaan yang penuh dengan kenyaman dan ketentraman, sehingga proses kehidupan
dipedesaan kini kadang-kadang menjadi inspirasi untuk dijadikan pedoman atau pegangan
yang telah hilang dari derap kehidupan perkotaan. Diakui bersama, bahwa kehidupan
diperkotaan lebih cepat berkembang atau cepat mendapat segala impian yang dicita-citakan,
terkait segala sarana dan prasarananya yang lebih komplet dan maju, disamping itu
perubahan dinamika peradaban juga lebih cepat dibanding suasana diwilayah pedesaan.
Gerakan-gerakan akan signal perubahan kearah perbaikan secara spontan dan keberlanjutan
lebih mudah terlihat diatmosfer perkotaan dibanding pedesaan, tetapi kerusakan juga lebih
cepat terjadi diperkotaan, yang menjadi pertanyaan untuk semua, sejauh mana peradaban
manusia madani mampu menjebatani atau mengiringi masyarakat dalam bersikap dan beraction dalam era globalisasi masa kini yang terus bergerak cepat?

Era globalisasi merupakan sebuah era yang kini masih menjadi perdebatan atau kajian
diberbagai Negara atau wilayah, terutama di Negara berkembang, seperti Indonesia, dimana
globalisasi dipandang dari berbagai aspek atau sudut pandang, baik aspek agama, sosial,
budaya, politik, dan ekonomi. Beragam pandangan dari berbagai pakar membahas masalah
dampak dari era globalisasi, secara umum dalam kaca mata ekonomi, era globalisasi sangat
dibutuhkan dalam pergerakan pemasaran secara global, sehingga globalisasi berdampak
positif dan menguntungkan bagi perusahaan atau industri-industri yang berkembang. Berbeda
dengan kacamata agama, sosial, maupun politik dalam penafsirannya, dimana sebagian masih
meragukan dampak yang dibawa globalisasi dalam masyarakat secara luas, dimana kondisi
masyarakatnya masih plural disamping itu latar belakang pendidikan yang beragam dan
kondisi geografis yang beragam pula, tentunya ini masih menjadi perdebatan, dikalangan
pemikir hingga kini. Ketakutan dan kekwatiran akan dampak era globalisasi masih
menggrayangi segenap pemikiran yang terus berkembang dan berubah-ubah. Secara eksplisit
membangun sebuah peradaban masyarakat madani mengarah pada modernitas dan kemajuan
peradaban yang lebih rasional, disamping adanya transformasi kebudayaan yang beradab,
beretika, dan berpengetahuan. Membangun masyarakat yang ideal, dalam arti sebuah
peradaban masyarakat yang dewasa dan kritis dalam mempersepsikan fenomena sekitar
dengan rasional dan komprehensif, sehingga masyarakat model tersebut, tidak mudah tersulut
atau terprovokasi untuk melakukan tindakan yang berdampak negatif. Itulah ciri-ciri sebuah
masyarakat yang sudah pada tahap kedewasaan dalam mempersepsikan kondisi dan situasi
atau pluralitas budaya dan agama secara arif dan bijak, sehingga secara tidak langsung
terjalin toleransi dan kebersamaan dalam hidup yang ideal. Apakah masyarakat madani (Civil
Society) merupakan driver atau inspirator dalam membangun sebuah masyarakat yang ideal
dalam khasanah era globalisasi yang penuh tantangan dan hambatan, disamping begitu plural
budaya dan agama yang ada? Dan apakah konsep masyarakat madani sesuai dengan dinamika
kehidupan masyarakat modern, seiring ingin tercapainya sebuah perubahan sosial yang
humanis dan berkelanjutan?
Pembahasan
Masyarakat Ideal: Toleransi dan Kebersamaan dalam Berhidup
Secara umum situasi dan kondisi masyarakat Indonesia, yang begitu plural akan budaya,
bahasa, agama dan sebagainya, tentunya tidak mudah untuk membangkitkan sebuah toleransi
dan kebersamaan, jikalau masih adanya kesenjangan atau gesekan antara kepentingan pribadi
maupun kelompok. Masyarakat kumpulan dari beragam latar belakang yang berbeda-beda,
yang ditandai dengan kepentingan yang tercermin dari rasa kebersamaan dan cara hidup,
dalam arti bahwa setiap manusia mempunyai suatu visi dan misi yang berbeda dalam
kehidupannya. Perbedaan tersebut, sudah terdoktrin sejak anak-anak dalam bangku sekolah
dari SD sampai perguruan tinggi sekalipun, dimana pandangan akan masa depan menjadi
perhatian utama, sehingga banyak masyarakat sekarang mengejar impian masa depan dengan
segala cara tanpa pertimbangan konsekuensi yang matang. Tiadanya pertimbangan dalam
mengejar masa depan, tentunya menjadi perhatian bersama, dalam memahami dinamika
kehidupan yang penuh dengan tantangan dan hambatan dalam meraih kehidupan masyarakat
yang ideal seiring dinamika khasanah era globalisasi yang menggerus tatanan hidup
masyarakat. Sikap toleranasi dan kebersamaan dalam berhidup, beberapa dari target yang
ingin tercapai dari konsep masyarakat madani, dimana konsep tersebut, mengandung makna
dan arti sebagai wujud masyarakat yang ideal dalam menapaki kisah perjalanan hidup yang
penuh kepentingan pribadi (Egois).
Egoistis menjadi paradigma dalam perubahan sosial yang penuh konflik dan
kesenjangan sosial yang lebar, dalam peradaban manusia kini, tak mengherankan sumber dari
permasalahan sosial muncul sebagai dampak dari kepentingan pribadi yang mengakar pada
setiap masyarakat. Demokrasi dalam beberapa aspek lain, yang melahirkan kebebasan dalam

beraktivitas maupun mengutarakan pendapat dalam bermasyarakat maupun bernegara. Secara


tidak langsung atmosfer dampak dari konsep demokrasi tersebut, sangat menentukan jalannya
terbangunnya masyarakat madani, tetapi dilain pihak juga menyebabkan dampak negatif,
dimana beragam masalah baik masalah horizontal maupun vertikal terus berjalan, seiring
berjalannya proses demokrasi dan era globalisasi. Masyarakat dengan beragam kepentingan
dan permasalahan yang dihadapi, tentunya menjadi pembelajaran yang berharga dan penting
dalam membentuk kepribadian dan pengetahuan yang mampu menganalisa permasalahan
secara dewasa dan kritis, sehingga diharapkan masyarakat kedepan berparadigma
keberlanjutan. Humanis dan keberlanjutan dalam bermasyarakat, tentunya dikaitkan dengan
bagaimana masyarakat mampu menelaah dan menganalisis fenomena lingkungan sekitar
yang terjadi, yang kemudian diinterpretasikan dengan bijak dan arif untuk menimalisir atau
melangkah kedepan yang lebih baik. Sejarah dalam perjalanan manusia dalam menata
peradaban yang baik, tentunya membutuhkan waktu yang panjang, karena perjalanan
manusia dalam melihat atau memandang kedepan, sangat ditentukan bagaimana masyarakat
melihat masa lalu (sejarah) untuk dijadikan pembelajaran atau pegangan atau ukuran dalam
menatap atau melangkah kedepan.
Membangun peradaban masyarakat yang ideal seperti membangun sebuah
tatanan masyarakat yang ingin dicapai sesuai kesepakatan bersama dalam membentuk
masyarakat yang bermartabat, berpendidikan, berpengetahuan, dewasa dalam melihat
fenomena alam maupun sosial, berprinsip, berkeadilan, dan lain sebagainya.
Kompleksitas masyarakat, terutama dinegara berkembang, seperti Indonesia sulit dan
tidak mudah, tetapi secara garis besar, Indonesia sakan atau sudah mengarah pada
masyarakat yang humanis dengan indikator berprilaku sopan santun, toleran, dan
kebersamaan yang kental dengan adapt atau tradisi yang terus berlangsung ditengahtengah masyarakat hingga saat ini. Kekentalan dalam berkerabat dan kerukunan
dalam bermasyarakat sudah terjalin sejak lama, terutama dalam masyarakat pedesaan,
dimana sifat gotong royong dan kerja sama masih berjalan, tetapi apakah seiring
berjalannya perubahan dan perkembangan zaman, karakteristik sifat masyarakat
tersebut, mampu bertahan seiring berjalannya era globalisasi yang makin merasuk
dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat kini dan kedepan? Apakah masyarakat kini
telah mengalami sebuah pembelajaran yang mengarah pada kedewasaan dalam
menatap masa depan, seiring adanya gempuran dan gesekan sosial yang terus
berlangsung?
Era Globalisasi: Kemajuan atau Kemunduran dalam Perubahan Sosial
Ketika kebebasan dan kemerdekaan dalam mengutarakan atau menyuarakan pendapat,
sebagai tanda telah dimulainya atmosfer demokrasi, disamping berjalannya paradigma
globalisasi yang kini makin mengakar dalam setiap perjalanan peradaban manusia. secara
tidak tersadari masyarakat telah mengalami perubahan yang signifikan dalam proses
kehidupannya, baik dalam aspek sosial maupun budaya berinteraksi dengan alam, dimana
masyarakat kini mulai menata atau mengelola dengan sebaik mungkin dalam mencapai
tujuan hidup yang damai, sejahtera, nyaman, tentram, dan kebersamaan dalam merangkai
kehidupan. Pencapaian akan perubahan sosial yang ideal, tentunya menjadi impian bersama
dalam membangun masyarakat yang demokratis, tetapi semua itu membutuhkan atau ada
konsekuensi yang tidak sedikit baik materi maupun non materi.
Globalisasi sebuah era yang mampu mengantarkan pada peradaban manusia yang modern
dan maju, terutama dalam percepatan persebaran informasi yang lebih cepat dan luas,
sehingga aspek teknologi informasi mengalami perkembangan yang pesat dalam mendukung
atau mengantarkan peradaban manusia yang lebih konkret dan global. Banyak kesan dan
pesan yang dapat ditangkap terkait bagaimana masyarakat, sebagai manusia individu dan
sosial sangat dinamis, tercermin bagaimana masyarakat kini memandang atau menatap

kedepan. Bercermin pada masa lalu (Sejarah), manusia terus mengembangkan dan
memodifikasi atau memanupulasi paradigma atau peradaban dengan seprangkat teknologi
dan informasi untuk mencapai keinginan dalam mewujudkan sebuah kehidupan yang ideal.
Era globalisasi menjadi barometer atau parameter dalam melihat atau mengukur prestasi
manusia dalam peradaban yang diciptakannya, yang secara langsung membawa perubahan
mendasar dalam kehidupan masyarakat global. Keberuntungan atau kekecewaan dalam
melihat dan mempersepsikan perkembangan peradaban dalam era globalisasi selalu terjadi
dalam masyarakat, karena secara garis besar era globalisasi menentukan kesiapan dan
kesigapan masyarakat. Diketahui bersama, bahwa masyarakat Indonesia sangat plural,
sehingga datangnya era globalisasi menjadi moment penting bagi masyarakat yang sudah
siap, tetapi berbeda dengan masyarakat yang tidak siap, sehingga terjadi ketimpangan dan
kesenjangan sosial dalam masyarakat. Kesenjangan dan ketimpangan salah satu konsekuensi
dari perubahan sosial dalam era globalisasi, sehingga terciptanya ketidakseimbangan
masyarakat dalam berhidup dengan lingkungan sekitar.
Belum ada yang menyimpulkan secara jelas dan tegas dampak dari era globalisasi pada
perubahan akan kemajuan suatu masyarakat yang ideal, atau kemundurannya, hingga saat ini
masih berlangsung perdebatan bahkan sampai pada isu-isu yang mengarah pada penerapan
konsep-konsep yang terbangun. Membangun masyarakat madani Civil Society dalam
era globalisasi, tentunya ingin mengarah pada kemajuan perubahan sosial yang
adaptif, dalam arti perubahan yang humanis dan berkelanjutan, tetapi realitas
menggambarkan, sejauh ini implikasi dari aplikasi masih menemukan kendala dalam
masyarakat. Aspek pendidikan selain aspek-aspek lain sangat menentukan dalam
mendorong perubahan masyarakat yang mampu mengikuti perkembangan dan
perubahan zaman yang berjalan secara dinamik. selama ini aspek pendidikan menjadi
masalah yang dilematis, yang sampai kini belum terselesaikan dengan baik, bahkan
dalam era yang sudah maju dan modern, masih banyak masyarakat dengan latar
belakang pendidikan rata-rata, bahkan sebagian ada yang hanya lulusan sekolah dasar.
Problematika tersebut, sepatutnya menjadi pertimbangan bersama dalam membangun sebuah
masyarakat madani, jikalau belum adanya pemerataan pendidikan yang adil dalam
masyarakat Indonesia. Pendidikan mempunyai peran dan fungsi yang penting dalam
pergeseran perubahan peradaban, kearah yang lebih baik, disamping itu suatu Negara
dianggap maju dan modern, selain teknologi dan kebudayaannya, tingkat pendidikan juga
menjadi barometernya.
Dilain pihak era globalisasi merupakan bagian dari perubahan zaman yang lebih agresif dan
progressif, dimana segala informasi dapat diakses lebih cepat dan mudah oleh semua
masyarakat global. Tiada hal yang dapat disembuyikan dalam dinamika kehidupan
masyarakat kini, era globalisasi suatu kunci pembuka dunia global dan modern. Tanpa
mengikuti dari era globalisasi akan mengalami ketertinggalan dalam perjalanan peradaban
manusia, terlihat akan banyak masyarakat tersebut, gagap dan tidak percaya diri dalam
melihat atau memandang masa depan yang lebih baik. Sepatutnya sebagai masyarakat
Indonesia, apalagi mayoritas beragam Islam, seharusnya selalu siap dan sigap dalam
menyosong dinamika perubahan, dimana dalam ajaran Agama Islam sendiri, terutama dalam
hadist Nabi, mengungkapkan, bahwa didiklah anakmu sesuai dengan zamannya. Ungkapan
atau perintah Nabi tersebut, tentunya mengandung makna bahwa setiap manusia harus selalu
belajar dan bekerja disamping itu zaman kini akan berbeda dengan zaman berikutnya,
sehingga diwajibkan bagi orang tua untuk mengajarkan pada anaknya sesuai dengan
zamannya.
Dipahami bersama, bahwa kebekuan atau kekakuan masyarakat, terutama anak muda zaman
sekarang, secara sistematis telah mengalami degenerasi jiwanya dalam optimisme dalam
menyosong masa depannya. Kaku dalam bergerak maupun berpikir disertai jiwa yang tidak

dinamis, permasalahan tersebut, sepatutnya menjadi pembahasan bersama, dimana anak


muda merupakan penerus bangsa dan Negara dalam menciptakan atau membangun sebuah
Negara yang kuat. Kuatnya Negara dan bangsa, terletak dari peran dan fungsi pemuda dalam
pergulatan zaman diera globalisasi, sehingga pemuda sebagai agen utama dalam perubahan
sosial yang dinamis, humanis dan berkelanjutan. Sepatutnya pemerintah wajib memeliharan
dan memberikan pelayanan dalam arti pendidikan kepada anak-anak, karena mereka adalah
aset atau harta karun masa depan yang tidak bisa dianggap remeh dalam perannya kedepan
terhadap bangsa dan negara. Negara manapun membutuhkan pemuda sebagai kendaraan
utama dalam perubahan suatu Negara yang lebih maju dan modern, sehingga dinegara maju
seperti USA, bahkan Jepang banyak mengalokasikan dana untuk pendidikan, berbeda yang
terjadi di Indonesia.
Peran dan Fungsi Pendidikan dalam Era Globalisasi
Pada alinea sebelumnya, bahwa pendidikan mempunyai peran dan fungsi yang
penting dalam membangun sebuah perubahan sosial, disamping itu mampu menciptakan
generasi yang matang dalam menyosong era globalisasi yang penuh rintangan dan tantangan,
terutama pada umat Islam (Alisjahbana, 1992; Hafidhuddin, 2004; Amin, 2011). Faktor
pendidikan salah satu instrument penting dalam dinamika peradaban yang tidak bisa
disingkirkan dari perkembangan dan perubahan zaman, dimana pendidikan merupakan
barometer dari maju atau modernnya sebuah Negara. Dilain pihak pendidika Islam secara
histories mempunyai kontribusi yang besar dalam perubahan zaman, apalagi dalam era
globalisasi kini. Disamping itu pendidikan mampu membentuk karakter bangsa dan Negara
yang kuat sesuai UU 45 secara garis besar yaitu beretika dan bermoral, sehingga diharapkan
out put dari proses pendidikan mampu menciptakan generasi yang tawadhu dan berwawasan
luas juga sesuai kebutuhan zaman. Diketahui bersama setiap zaman rintangan dan tantangan
berbeda-beda, sehingga proses dalam pendidikan, seharusnya juga dinamis dalam melihat
akan perubahan yang dibutuhkan. Dilain pihak pendidikan juga harus mengacu pada
perkembangan dan perubahan global, sehingga secara kontinue dan konsisten adanya
evaluasi untuk mengimplementasikan sebuah proses pendidikan yang dibutuhkan baik oleh
industri, masyarakat, dan lain sebagainya. Menerapkan sebuah pendidikan yang berbasis
kebutuhan atau pengalaman dalam kondisi masyarakat Indonesia kini, sangat dinantikan dan
dibutuhkan, tetapi pihak birokrasi atau pemerintah sendiri masih belum mampu
menangkapnya, sehingga belum adanya sinergitas antara permasalahan dan kebutuhan.
Pendidikan yang berbasis Islam atau istilah yang sering terdengar adalah Pesantren, dimana
pesantren merupakan sebuah lembaga pendidikan yang kini mulai diangkat menjadi isu yang
menarik dalam pergulatan perubahan sosial yang diharapkan. Dahulu pesantren dianggap
sebagai lembaga yang tidak mempunyai kontribusi dalam menata atau membangun karakter
bangsa, tetapi kini peran pesantren dalam perubahan sosial sangat dibutuhkan, terutama
dalam membangun atau menciptakan generasi muda yang berkarakter dan religius atau
menjadi manusia seutuhnya. Disamping itu generasi muda juga merupakan bagian dari
perubahan yang tidak terpisahkan, akan perannya dalam mengubah peradaban yang lebih
maju dan modern. Seyogyanya hal tersebut, menjadi perhatian bersama dalam pola atau gaya
pendidikan yang sesuai untuk generasi muda saat ini, dimana pola pendidikan mempunyai
peran penting dalam doktrinasi dalam pola pikir yang lebih terarah, tentunya pendidikan yang
mencerahkan atau mencerdaskan (Freire dan Shor, 2001). Pendidikan mempunyai peran
penting dalam menyiapkan generasi yang mampu menyosong atau mengimplikasikan konsep
dari msyarakat madani dalam era globalisasi, sehingga perubahan dan perkembangan dunia
tidak luput dari peran pendidikan. Beragam konseptual dan teoritikal mengenai pendekatanpendekatan dalam pola pendidikan saat ini, dimana tentunya mengacu pada perubahan
masyarakat yang cerdan dan mampu berjalan seiring perubahan sosial yang kompleks, seiring

juga dampak dari era globalisasi yang makin banter dalam mempengaruhi perjalanan
peradaban manusia kini.
Pendidikan Humanis: Pendidikan yang Memanusikan
Tidak terbantahkan bahwa pendidikan mempunyai peran penting dalam proses kemajuan dan
perubahan suatu bangsa dan negara, dimana pendidikan selalu mengarah pada perbaikan
peradaban dan masyarakat kini. Era globalisasi dengan konsep dan paradigmanya, tentunya
akan berdampak pada masyarakat global dalam menyosongnya atau menyambutnya, dimana
bagi masyarakat yang berpendidikan akan menerimanya sebagai kemajuan yang harus
diterima, sedangkan bagi masyarakat yang tidak berpendidikan, itu akan menjadi petaka,
karena masyarakat tersebut, gagap, bingung, dan sebagainya. Disadari bersama, perubahan
dan perkembangan zaman akan membawa sebuah angin segar dalam kehidupan masa kini
dan kedepan, kendaraan yang dijadikan tumpangan adalah pendidikan, sehingga pemerintah
sebagai pengendali dan pengontrol, serta pelaksana dalam mencerdaskan bangsa seharusnya
harus sigap dan sensitif akan hal tersebut. Sensitifitas dalam menangkap fenomena dampak
dari perubahan dan kemajuan bangsa, apalagi dalam era globalisasi dapat diupayakan dengan
peningkatan atau pemberdayaan pendidikan yang lebih bermasyarakat atau humanis
(Sutiyono, 2009), sesuai dengan kebutuhan. Diharapkan dengan pemberdayaan tersebut,
dapat mencerahkan atau mengajak masyarakat siap dalam menyambut era globalisasi dengan
cermat dan jernih. Dilain pihak pendidikan karakter juga penting dalam era globalisasi,
karena dengan pendidikan karakter bangsa tidak akan tergerus atau terhempas dari jati dirinya
sebagai manusia berbangsa dan beragama (Hasanah, 2012).
Membangun sebuah bangsa yang berkarakter, tentunya tidak mudah seiring masuknya era
globalisasi yang penuh tantangan dan rintangan, tetapi sepatutnya bukan menjadi faktor
utama dalam mewujudkannya, sehingga beragam pemikiran dalam berbagai forum atau
diskusi perlu dilakukan sebagai evalusi dan refleksi untuk melangkah kedepan lebih baik dan
terarah. Mempelajari dan mengkaji dinamika masyarakat dalam menapaki berjalannya
peradaban, sangat penting sebagai pembelajaran atau merupakan bagian penting dari proses
proses internalisasi dalam membangun karakter bangsa yang dinamis. Era globalisasi menjadi
bagian penting dalam proses pembentukan karakter, sehingga akan tercapai sebuah bangsa
yang tangguh dan dinamis dalam mengikuti perkembangan dan perubahan zaman kini dan
kedepan. Pembangunan Karakter sepatutnya menjadi perhatian bersama dalam membangun
sebuah masyarakat madani, seiring berjalannya era globalisasi dalam rangka mengarah pada
perubahan sosial yang humanis dan berkelanjutan. Arah perubahan tersebut, sangat
dinantikan masyarakat global, yang kini masih menjadi perdebatan dikalangan pemikir,
dengan berbagai alasan yang rasional atau logis maupun tidak rasional/logis, salah satunya
adalah masyarakat yang plural. Pluralitas itulah yang akan menjadi aspek penting dalam
rintangan atau hambatan dalam membangun masyarakat madani yang komprehensif dan
terintegrasi. Disamping itu usaha yang tidak mudah untuk mensinergiskan pandangan dalam
mencapai sebuah tatanan yang ingin dicapai dalam peradaban masyarakat yang dewasa dan
kritis dalam dinamika kehidupan yang berubah-ubah. Komponen masyarakat, LSM, Pemikir
dan pemerintah sepatutnya berkonsolidasi secara bersama-sama dalam membangun sebuah
sistem pendidikan yang benar-benar dibutuhkan dalam ruang dan waktu yang dinamis,
sehingga sistem pendidikan berlaku sampai akhir hayat. Hal tersebut, dapat dicontohkan atau
tercermin dari sistem pendidikan sekarang, yang hanya mengarah pada mental-mental yang
bergantung dan pasif terhadap perkembangan dan perubahan zaman, sehingga banyak
sarjana-sarjana yang menganggur dan tidak punya ketrampilan yang memadahi.
Keberagaman dalam membangun kebersamaan dalam mencapai sebuah masyarakat ideal
atau masyarakat madani akan membuahkan sebuah kehidupan yang sangat indah dan merdu,
bilamana dilakukan secara konsisten. Disamping itu masyarakat tersebut, secara tidak
langsung telah mengaplikasikan sebuah kehidupan yang humanis dan keberlajutan, sehingga

tidak akan terdengar lagi masalah sosial, seperti konflik dan sebagainya. Tujuan akhir dari
pendidikan, memang sepatutnya mengarah pada pendidikan yang memanusiakan, sehingga
secara tidak langsung membangun sebuah masyarakat yang ideal dalam arti masyarakat
madani yang penuh dengan kearifan, bermoral, berpengetahuan, bertoleransi, saling
memahami atau mengerti, hormat-menghormati dan lain-lain. Indonesia dari beberapa
Negara berkembang lain yang kini mencoba membangun sebuah masyarakat madani, tetapi
belum sepenuhnya berhasil dalam penerapannya, karena masih terdengar adanya konflikkonflik sosial yang sering terjadi diberbagai wilayah atau daerah. Konflik tersebut, biasanya
terjadi diwilayah yang mayoritas masyarakatnya berlatar pendidikan rendah, tetapi akhirakhir ini, masyarakat intelektual, bahkan mahasiswa pun sering terjadi tawuran. Semuanya
terjadi, karena disebabkan tiadanya kebersamaan dan toleransi antar masyarakat, baik itu
masyarakat awam maupun masyarakat intelektual. Disamping itu kepentingan pribadi atau
kelompok yang menyebabkan awal dari terjadinya konflik yang berkepanjangan dengan
intensitas dan durasi yang makin meningkat serta mengkwatirkan.
Agama dan Masyarakat: Dalam Peradaban Humanis dan Religius
Semua manusia membutuhkan agama, walaupun secara langsung masyarakat modern
seakan menjauh agama, bahkan Atheis. Tuhan dalam kamus mereka tidak mempunyai peran
dalam kemajuan peradaban kini, sehingga rasionalitas yang berkontribusi besar dalam
perkembangan dan perubahan yaman yang makin maju dan modern. Modernitas merupakan
akumulasi dari perkembangan dan perubahan budaya yang teraplikasikan dalam kehidupan
yang tidak konvesional dalam arti segala kehidupan dipengaruhi dan mempengaruhi oleh
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Modernitas mencerminkan atau
menggambarkan akan kemajuan peradaban manusia kini, dimana segala aspek kehidupannya
mengacu pada proses kehidupan yang lebih baik, tetapi tanpa disadari, ternyata modernitas
membawa beban yang cukup besar dalam pola pemikiran dan beban ekologis. Lajunya
pertumbuhan dan perkembangan pola pembangunan, seiring pula laju kerusakan, baik itu
kerusakan ekologis maupun kerusakan kejiwaan masyarakat (krisis spiritual), karena pola
pembangunan yang diimplikasikan mengacu pada aspek pembangunan ekonomi, sehingga
hedonisme menjadi tujuan akhir dari proses pembangunan yang dicapainya.
Bagi orang atau masyarakat yang beriman dan beragama tentunya akan menyakini dan
percaya bahwa dibalik semua fenomena yang terjadi, terdapat campur tangan Tuhan,
sehingga secara tidak langsung telah terbangun sebuah masyarakat yang religius. Dinamika
agama dalam aspek sosial sangat menentukan arah akan perubahan sosial yang diharapkan,
dimana agama mempunyai peran penting dalam menata kehidupan yang lebih baik dan
Qurani. Membangun mental dan sikap Qurani ini tidaklah mudah, disamping paradigma
materialisme dan hedonisme telah menjadi bagian hidup masyarakat kini. Pendidikan agama
Islam berperan dalam dinamika sosial masyarakat dalam memahami dan mengamalkan ajaran
agama, sehinga akan tercipta sebuah kehidupan yang humanis dan religius. Aspek agama
merupakan aspek penting dalam pergulatan paradaban yang makin kompleks, karena agama
mampu menyaring (mengasimilasi), mengontrol, mengendalikan, dan menuntun segenap
umat manusia dalam kehidupan yang lebih hakiki dan terarah. Kehidupan hakiki merupakan
bagian dari proses pencaharian manusia untuk lebih dekat dengan Tuhan, sehingga segala
bentuk rintangan atau hambatan dapat dilalui dengan mudah, secara tidak langsung telah
mengarah pada kehidupan yang penuh makna atau arti. Itulah peran agama dalam masyarakat
yang kini mulai diperdebatkan dalam dinamika kehidupan sosial, agama dikaji kembali
(Reorientasi) untuk menemukan kaidah-kaidah yang relevan dengan realitas sosial sekarang.
Agama bukan hanya sekedar dogma atau ritual belaka, tetapi mengandung makna yang
dinamis dan penuh makna, dalam arti mampu menjawab tantangan atau rintangan zaman
yang penuh ketidakjelasan atau kepastian.

Modernisasi, secara tidak langsung telah mengeringkan rasa iman dan jiwa seseorang,
sehingga tanpa adanya filter secara keberlanjutan dan kontinue dapat menyebabkan
ketimpangan atau ketidakseimbang berhidup. Kehidupan masyarakat yang modern dan maju
dalam bidang teknologi, secara tidak langsung mengarah pada kerusakan alam, bahkan dalam
jiwa manusia sendiri, dimana diakui juga bahwa peran dan dampak dari kemajuan iptek
berkontribusi besar dalam kemajuan suatu bangsa dan Negara. Kemajuan tersebut, secara
realitas telah menjauh dari makna hidup dan arah hidup yang hakiki, sehingga aspek
materialisme dan hedonisme menjadi bagian dari hidupnya. Hal tersebut, sangat bertentangan
dengan ajaran agama, dimana agama telah mengalami atau dianggap sebagai penghambat
atau penghalang kemajuan. Seiring perjalanan waktu, kemudian seiring kebutuhan jiwa
manusia, kini agama menjadi kebutuhan masyarakat yang tidak bisa dipungkiri, terlihat
bagaimana masyarakat modern mengikuti berbagai pengkajian baik dimasjid, maupun di
mushola.
Beragam pengkajian dan model-model dakwah yang dibawa oleh kyai atau ustad menjadi
trend, tidak ketinggalan memenuhi kebutuhan masyarakat modern untuk mengisi atau seakan
menjadi konsultan untuk mengobati jiwa yang kering dan hampa. Kini dapat dilihat, banyak
masyarakat awam maupun modern rutin dan kontinue menyimak berbagai pengkajian baik di
media elektronik maupun non elektronik, seperti media massa juga tidak ketinggalan dalam
berdakwah. Perubahan tersebut, menggambarkan betapa pentingnya agama sekarang, yang
dahulu sempat dilupakan bahkan ditinggalkan dalam perjalanan peradaban manusia. hal
tersebut, seharusnya menjadi perhatian bersama, bahwa agama merupakan bagian dari
masyarakat yang kini tidak terpisahkan, sehingga dalam perkembangan dan perubahan sosial
yang dinamik dapat mencapai sebuah nafas kehidupan masyarakat ideal atau madani yang
penuh dengan toleransi, humanis, dan keberlanjutan dalam menata kehidupan yang lebih
hormonis, seirama, dam seimbanga. Itulah kehidupan yang dijanjikan Tuhan dalam AlQuran, bagi manusia yang selalu membaca dan memahami isi, yang kemudian
mengaplikasikan dalam kehidupan sosial yang kini dalam gucangan atau terombang-ambing
oleh dinamika era globalisasi. Berpegang dan berpedoman pada agama melalui Al-Quran
akan menjadikan era globalisasi menjadi sarana dan prasarana dalam menyebar luaskan nafas
kehidupan Qurani secara cepat dan tepat, sehingga bukan sebagai hambatan atau rintangan
dalam menyosongnya. Semoga Tuhan selalu ada dalam hati sekalian umat manusia dalam
menapaki kisah perjalanan hidup dipermukaan bumi penuh dengan berkah dan manfaat, baik
kepada sesama maupun lingkungan sekitar.
Kesimpulan
Membangun sebuah masyarakat yang ideal, tidak luput dari konsep Civil Society yang kini
menjadi pembahasan dan kajian yang tidak ada ujungnya. Masyarakat ideal dalam suatu
masyarakat tercermin dari sikap dan mentalnya yang penuh toleransi dan saling hormat dan
menghargai antar sesama dan lingkungan, disamping itu tersirat dalam prilaku yang dewasa
serta berdedikasi, sehingga tidak mudah tersulut provokasi dan selalu berpandangan optimis
dan kedepan. Dilain pihak dalam masyarakat ideal, secara tidak langsung menjadi wahana
pendidikan yang harus terus menjadi bahan atau modal sebagai inspirator dalam membangun
sebuah perubahan sosial yang humanis dan berkelanjutan. Humanis dan berkelanjutan, dalam
arti masyarakat yang adaptatif terhadap fenomena yang terjadi dilingkungan sekitar dan
global, sehingga masyarakat tetap eksist dalam menapaki proses kehidupannya dengan bijak
dan arif. Tidak terlupakan juga bahwa perkembangan dan perubahan yang dikehendaki
tersebut, tentunya tidak semudah dibayangkan, terkait dampak dari era globalisasi yang
makin kuat dalam menggerus kebersamaan dalam berhidup. Era globalisasi, seperti yang
diketahui bersama, membawa sebuah perubahan yang bagus bagi peradaban dalam arti
mempeluas dan mempercepat segala informasi, disamping itu kebebasan menjadi bagian dari
era globalisasi. Dilain pihak era globalisasi menjadi era yang membawa konsekuensi negatif

dalam perjalanan masyarakat, terutama masyarakat awam yang notabene berlatar pendidikan
rendah dan masyarakat plural.
Pendidikan agama menjadi instrument atau sarana dan prasarana yang harus
dikuatkan dalam peran dan fungsinya, untuk membangun sebuah karakter atau
membangun masyarakat yang berkarakter religius. Karakter religius ini, merupakan
bagian dari proses masyarakat madani yang berperan penting dalam pembangunan
peradaban yang bermoral dan beretika, sehingga tercipta sebuah masyarakat yang
ideal, seperti yang terurai pada aline sebelumnya. Pendidikan karakter sudah
sepatutnya menjadi bahan pertimbangan dan perhitungan dalam proses pembentukan
generasi muda yang kini sedang dihadang oleh berbagai rintangan dan tantangan
dalam era globalisasi. Diharapkan kedepan, dengan adanya pendidikan karakter
terbangun sebuah generasi yang mampu menyosong era globalisasi dengan bijak dan
arif, disamping itu mampu mengadopsi dan mengasimilasi sesuai dengan kebutuhan
masyarakat kini dan kedepan (budaya).
Daftar Pustaka
Amin, M. Harmoni dalam Keberagaman: Dinamika Relasi Agama-Negara, Penerbit Dewan
Pertimbangan Presiden Bidang Hubungan Antar Agama, 2011.
Alisjahbana, T. Pemikiran Islam dalam Menghadapi Globalisasi dan Masa Depan Umat
Manusia, Penerbit DIAN RAKYAT Jakarta, 1992
Hasanah, A. Pendidikan Karakter: Berperspektif Islam, Penerbit Insan Komunika, Bandung,
2012.
Hafidhuddin, D. Al-Quran: Dalam Arus Globalisasi dan Modernitas, Mencari Alternatif
Pemikiran di Tengah Absurditas Modernisme, Penerbit Lembaga Pengembangan Studi dan
Informasi (LPSI), 2004.
Freire, P, dan Ira, S. Menjadi Guru Merdeka: Petikan Pengalaman, Penerbit LKIS
Yogyakarta,
2001
Sutiyono, A. Sketsa Pendidikan Humanis-Religius: INSANIA, Jurnal Pemikiran Alternatif
Kependidikan, Vol. 14, No. 2 (2009) 207-220
http://kumpulanmakalah-kedokteran-psikologi.blogspot.co.id/2013/06/civilsociety-dalam-era-globalisasi.html

PERANAN UMAT ISLAM DALAM MEWUJUDKAN MASYARAKAT


MADANI
Dalam QS. 3 (Ali Imran) : 110 Allah berfirman. Ayat tersebut
menegaskan, bahwa umat Islam adalah umat yang terbaik dari semua kelompok
umat manusia yang Allah ciptakan. Di antara aspek kebaikan umat Islam itu
adalah keunggulan kualitas SDM nya disbanding umat non Islam. Keunggulan
kualitas umat Islam yang dimaksud dalam Al Quran itu sifatnya normative,
potensial, bukan realitas melekat pasti secara permanen. Realitas dari norma
tersebut bergantung dari kemampuan umat Islam sendiri untuk memanfaatkan
norma atau potensi yang diberikan Allah.
Dalam sejarah umat Islam, realitas keunggulan normative atau potensi
umat Islam terjadi pada masa Abbasiyah. Pada masa itu umat Islam
menunjukkan kemajuan di berbagai bidang kehidupan : ilmu pengetahuan dan

teknologi, militer, ekonomi, politik, dan kemajuan bidang-bidang lainnya. Umat


Islam menjadi kelompok umat terdepan dan terunggul. Nama-nama ilmuwan
besar dunia lahir pada masa itu, seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Imam alGhazali, Al-Farabi, dan lain-lain. Kemunduran umat Islam terjadi pada
pertengahan abad ke-13 setelah Dinasti Bani Abbas dijatuhkan oleh Hulagu
Khan, cucu Jengis Khan.
Saat ini kendali kemajuan dipegang masyarakat Barat. Umat Islam belum
mampu bangkit mengejar ketertinggalannya. Semangat untuk maju berdasar
nilai-nilai Islam telah mulai dibangkitkan melalui Islamisasi ilmu pengetahuan.
Islamisasi kelembagaan ekonomi melalui lembaga ekonomi dan perbankan
syariah, dan lain-lain. Kesadaran dan semangat untuk maju tersebut apabila
disertai dengan sikap konsisten terhadap moral atau akhlak islami, pasti akan
memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan hasil yang dicapai
masyarakat Barat, yang sekedar mengandalkan pemikiran akal semata.
SDM umat Islam saat ini belum mampu menunjukkan kualitas yang
unggul. Karena itu dalam percaturan global, baik dalam bidang politik,
ekonomi, militer, ilmu pengetahuan dan teknologi, belum mampu menunjukkan
perannya yang signifikan. Dari segi jumlah, umat Islam cukup besar, begitu pula
dari segi potensi alam yang terdapat dalam wilayah kekuasaannya, tetapi karena
kualitas SDM nya masih rendah, eksplorasi kekayaan alamnya itu justru
dilakukan oleh bangsa-bangsa non Islam, sehingga keuntungan terbesar
diperoleh oleh orang non Islam.
Di Indonesia, jumlah umat Islam lebi dari 80 tetapi juga karena kualitas
SDM umat Islam masih rendah, juga belum mampu memberikan peran yang
proporsional. Hukum positif yang berlaku di Indonesia bukan hukum Islam.
Sistem sosial politik dan ekonomi juga belum dijiwai oleh nilai-nilai Islam,
bahkan took-tokoh Islam belum mencerminkan akhlak Islami. Terealisasi
tidaknya syiar dan keunggulan Islam bergantung pada keunggulan dan
komitmen SDM umat Islam.
https://kholidarifin.wordpress.com/2013/12/26/peranan-umat-islam-dalammewujudkan-masyarakat-madani/

PERANAN UMAT ISLAM DALAM MEWUJUDKAN MASYARAKAT BERADAB


(MASYARAKAT MADANI)
Dalam pembahasan materi ini saya akan menguraikan melalui lima aspek, yaitu kualitas
SDM, posisi umat islam, sistem ekonomi islam dan kesejahteraan umat, manajemen zakat,
manajemen wakaf. Dan disertai dengan ulasan atas dasar hadis dan Al-quran.
1. Kualitas SDM umat islam
Dalam QS. 3 (Ali Imran) : 110

Allah berfirman. Ayat tersebut menegaskan, bahwa umat Islam adalah umat yang terbaik dari
semua kelompok umat manusia yang Allah ciptakan. Di antara aspek kebaikan umat Islam itu
adalah keunggulan kualitas SDM nya dibanding umat non Islam. Keunggulan kualitas umat
Islam yang dimaksud dalam Al Quran itu sifatnya normative, potensial, bukan realitas
melekat pasti secara permanen. Realitas dari norma tersebut bergantung dari kemampuan
umat Islam sendiri untuk memanfaatkan norma atau potensi yang diberikan Allah.
Dalam sejarah umat Islam, realitas keunggulan normative atau potensi umat Islam terjadi
pada masa Abbasiyah. Pada masa itu umat Islam menunjukkan kemajuan di berbagai bidang
kehidupan : ilmu pengetahuan dan teknologi, militer, ekonomi, politik, dan kemajuan bidangbidang lainnya. Umat Islam menjadi kelompok umat terdepan dan terunggul. Nama-nama
ilmuwan besar dunia lahir pada masa itu, seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Imam al-Ghazali, AlFarabi, dan lain-lain. Kemunduran umat Islam terjadi pada pertengahan abad ke-13 setelah
Dinasti Bani Abbas dijatuhkan oleh Hulagu Khan, cucu Jengis Khan.
Saat ini kendali kemajuan dipegang masyarakat Barat. Umat Islam belum mampu bangkit
mengejar ketertinggalannya. Semangat untuk maju berdasar nilai-nilai Islam telah mulai
dibangkitkan melalui Islamisasi ilmu pengetahuan. Islamisasi kelembagaan ekonomi melalui
lembaga ekonomi dan perbankan syariah, dan lain-lain. Kesadaran dan semangat untuk maju
tersebut apabila disertai dengan sikap konsisten terhadap moral atau akhlak islami, pasti akan
memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan hasil yang dicapai masyarakat Barat,
yang sekedar mengandalkan pemikiran akal semata.
SDM umat Islam saat ini belum mampu menunjukkan kualitas yang unggul. Karena itu
dalam percaturan global, baik dalam bidang politik, ekonomi, militer, ilmu pengetahuan dan
teknologi, belum mampu menunjukkan perannya yang signifikan. Dari segi jumlah, umat
Islam cukup besar, begitu pula dari segi potensi alam yang terdapat dalam wilayah
kekuasaannya, tetapi karena kualitas SDM nya masih rendah, eksplorasi kekayaan alamnya
itu justru dilakukan oleh bangsa-bangsa non Islam, sehingga keuntungan terbesar diperoleh
oleh orang non Islam.
Di Indonesia, jumlah umat Islam lebih dari 80 tetapi juga karena kualitas SDM umat Islam
masih rendah, juga belum mampu memberikan peran yang proporsional. Hukum positif yang
berlaku di Indonesia bukan hukum Islam. Sistem sosial politik dan ekonomi juga belum
dijiwai oleh nilai-nilai Islam, bahkan tokoh-tokoh Islam belum mencerminkan akhlak Islami.
Terealisasi tidaknya syiar dan keunggulan Islam bergantung pada keunggulan dan komitmen
SDM umat Islam.
2. Posisi umat islam
SDM umat islam saat ini belum mampu menunjukkan kualitas yang unggul, karena itu dalam
peraturan global, baik dalam bidang politik, militer, ilmu pengetahuan dan teknologi belum
mampu menunjukkan peranan yang signifikat.
3. Sistem ekonomi islam dan kesejahteraan umat

Menurut ajaran islam semua kegiatan manusia termasuk kegiatan sosial dan ekonomi
haruslah berlandaskan tauhid (mengesakan Allah)
Dalam Q.S. Al-Syu-ara ayat 183.
Dan janganlah kamu mengurangi hak-hak orang ramai, dan janganlah kamu bermarajalela
melakukan kerusakan di bumi.
Dalam komitmen islam khas dan mendalam terhadap persaudaraan keadilan ekonomi dan
social.
Q.S. AN-NAHL ayat 71





Artinya: dan Allah melebihkan sebagian kamu dan sebagian yang lain dalam hal rezeki, tetapi
orang-orang yang di lebihkan rezeki nya itu tidak mau membagikan sebagian rezeki nya itu
kepada budak-budak yang mereka miliki, agar mereka sama merasakan rezeki itu maka
mengapa mereka mengingkari nikmat Allah.
Banyak ayat-ayat Allah yang menguatkan atau mendorong manusia untuk mengamalkan
sedekah antara lain adalah Q.S. Annisa ayat 114
4. Manajemen zakat
Pengertian dan dasar hukum zakat
Zakat adalah memberikan harta yang telah mencapai nisab dan haul kepada orang yang
berhak menerimanya dengan syarat-syarat tertentu.
Nisab adalah ukuran tertentu dari harta yang di miliki yang mewajibkan dikeluarkan nnya
zakat.
Haul adalah berjalan genap satu tahun.
Zakat juga berarti kebersihan.
Di dalam Alquran Allah telah berfirman sebagai berikut:
Al-Baqarah: 110
Artinya:
Dan Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan
bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahala nya pada sisi Allah. Sesungguhnya Alah Maha
melihat apa-apa yang kamu kerjakan.
Dan dalam ayat-ayat lain nya
At-Taubah: 60
At-Taubah: 103
Adapun hadist yang dipergunakan dasar hukum diwajibkannya zakat antara lain adalah hadis
yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas berikut:
Dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah SAW ketika mengutus Muaz ke Yaman, ia bersabda:
Sesungguhnya engkau akan datang ke satu kaum dari Ahli Kitab, oleh karena itu ajaklah

mereka untuk bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan sesungguhnya aku adalah
utusan Allah. Kemudian jika mereka taat kepadamu untuk ajakan itu, maka beritahukannlah
kepada mereka, bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka atas mereka salat lima kali
sehari semalam; lalu jika mereka mentaatimu untuk ajakan itu, maka beritahukanlah kepada
mereka, bahwa Allah telah mewajibkan zakat atas mereka, yang diambil dari orang-orang
kaya mereka; kemudian jika mereka taat kepadamu untuk ajakan itu, maka berhati-hatilah
kamu terhadap kehormatan harta-harta mereka, dan takutlah terhadap doa orang yang
teraniaya, karena sesungguhnya antara doa itu dan Allah tidak hijab (pembatas).
5. Manajemen wakaf
Menurut Hj. Muh. Anwar wakaf adalah menahan suatu barang dari pada di jual belikan atau
diberikan atau di pinjamkan dari empunya dan dipergunakan untuk suatu kepentingan sesuatu
yang di perbolehkan oleh syuraserta tetap bentuk nya dan boleh dipergunakan di ambil
manfaatnya oleh orang yang di tentukan (yang menerima wakafan, , perorangan atau umum.)
Adapun ayat-ayat Al-Quran dan hadist yang menerangkan tentang wakaf ini ialah:
Al-Baqarah ayat 267:
Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu
yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu. dan
janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal
kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya.
dan Ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.
Al-Hajj ayat 77
Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, rukulah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan
perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.
KESIMPULAN
Sebagai umat islam hendak nya kita mampu mewujudkan masyarakat yang beradab/madani
yang sesuai dengan tuntunan Al-Quran dan Al-hadist sahih dan Rosullullah saw sebagai suri
tauladan kita.
Terima kasih atas perhatiannya.
sumber : BMP UT/Agama Islam
https://ariniputrisari.wordpress.com/2014/09/15/peranan-umat-islam-dalammewujudkan-masyarakat-beradab-masyarakat-madani/
Pengertian Masyarakat Madani, Ciri, Syarat, Unsur & Definisi Para Ahli|Secara Umum,
Pengertian Masyarakat Madani (Civil Society) adalah masyarakat yang beradab dalam

membangun, menjalani, dan memaknai kehidupannya. Istilah Masyarakat madani diperkenalkan


oleh mantan wakil perdana meteri Malaysia yakni Anwar Ibrahim. Menurut Anwar Ibrahim, arti
masyarakat madani adalah sistem sosial yang subur berdasarkan prinsip moral yang menjamin
keseimbangan antara kebebasan individu dengan kestabilan masyarakat.
Masyarakat madani adalah kelembagaan sosial yang melindungi warga negara dari
perwujudkan kekuasaan negara yang berlebihan. Masyarakat madani merupakan tiang utama
dalam kehidupan politik berdemokratis. Wajib bagi setiap masyarakat madani yang tidak hanya
melindungi warga negara dalam berhadapan dengan negara, namun masyarakat madani juga
dapat merumuskan dan menyuarakan aspirasi masyarakat.

Pengertian Masyarakat Madani Menurut Para Ahli


Pengertian Masyarakat Madani Menurut Para Ahli - Selain pengertian masyarakat madani
diatas, banyak ilmuwan yang mendefinisikan pengertian masyarakat madani (civil society).
Macam-macam pengertian masyarakat madani menurut para ahli adalah sebagai berikut..

W.J.S Poerwadarminto: Menurut W.J.S Poerwadarminto, kata masyarakat berarti suatu


pegaulan hidup manusia, sehimpunan orang yang hidup bersama dalam suatu tempat
dengan ikatan dan aturan tertentu.Sedangkan kata madani berasal dari bahasa Arab
yaitu madinah, artinya kota. Jadi secara etimologis, masyarakat madani berarti
masyarakat kota. Meskipun demikian, istilah kota tidak merujuk semata-mata kepada
letak geografis, tetapi justru kepada karakter atau sifat-sifat tertentu yang cocok untuk
penduduk kota. Dari sini masyarakat madani tidak asal masyarakat perkotaan, tetapi
memiliki sifat yang cocok dengan orang kota, yaitu berperadaban.

Rumusan PBB: Pengertian masyarakat madani menurut PBB, adalah masyarakat yang
demokratis dan menghargai human dignity atau hak-hak tanggung jawab manusia.

Thomas Paine: Menurut Thomas Paine bahwa arti masyarakat madani adalah suatu
ruang tempat warga dapat mengembangkan kepribadiannya dan memberi peluang bagi
pemuasan kepentingan secara bebas dan tanpa paksaan.

Nucholish Madjid: Pengertian masyarakat madani menurut Nurcholis Madjid yang


mendefinisikan masyarakat madani sebagai masyarakat yang merujuk pada masyarakat
islam yang perna dibanguna Nabi Muhammad Saw. di negeri Madinah.

Gellner: Menurutnya,

pengertian

masyarakat

madani

adalah

sekelompok

institusi/lembaga dan asosiasi yang cukup kuat untuk mencegah tirani politik, baik oleh
negara maupun komunal/komunitas.

Muhammad A.S. Hikam: Pengertian masyarakat madani menurut Muhammad. A.S.


Hikam adalah wilayah-wilayah kehidupan sosial yang terorganisasi dan bercirikan antara
lain kesukarelaan, keswasembadaan dan keswadayaan, kemandirian tinggi terhadap
negara, dan keterikatan dengan norma serta nilai-nilai hukum yang diikuti warganya.

Dawan

Rahardjo: Menurutnya,

pengertian

masyarakat

madani

adalah

proses

penciptaan peradaban yang mengacu kepada nilai-nilai kebijakan bersama.

M. Hasyim: Pengertian masyarakat madani menurut M. Hasyim adalah masyarakat yang


selalu memelihara perilaku yang beradab, sopan santun berbudaya tinggi, baik dalam
menghadapi sesama manusia atau alam lainnya.

Ciri-Ciri Masyarakat Madani/Karakteristik Masyarakat Madani


Masyarakat madani memiliki beragam karakteristik/ciri-ciri baik itu secara umum maupun
pendapat para ahli. Ciri-ciri masyarakat madani adalah sebagai berikut...
Ciri-Ciri/Karakteristik Umum Masyarakat Madani

Diakui semangat pluralisme. Artinya plularis menjadi sebuah keniscayaan yang tidak
dapat dielakkan, sehingga plularitas telah menjadi suatu kaidah yang abadi.

Sikap toleran antara sesama agama dan umat agama lain. Sikap toleran merupakan
sikap suka mendengar, dan menghargai pendapat dan juga pendirian orang lain.

Tegaknya prinsip demokrasi. Demokrasi tidak sekedar kebebasan dan persaingan,


demokrasi juga pilihan untuk bersama-sama membangun, dan memperjuangkan
masyarakat untuk semakin sejaktera.

Ciri-Ciri/Karakteristik Masyarakat Madani Menurut Bahmuller (1997)

Terintegrasinya individu-individu dan kelompok-kelompok eksklusif ke dalam masyarakat


dengan kontak sosial dan aliansi sosial.

Menyebarkan kekuasaan sehingga kepentingan-kepetingan yang mendominasi dalam


masyarakat dapat dikurangi oleh kekuatan-kekuatan alternatif.

Terjembataninya kepentingan-kepentingan individu dan negara karena keanggotaan


organisasi-organisasi volunter mampu
keputusan-keputusan pemerintah.

memberikan

masukan-masukan

terhadap

Meluasnya kesetiaan (loyalty) dan kepercayaan (trust) sehingga individu-individu


mengakui keterkaitannya dengan orang lain dan tidak mementingkan diri sendiri
(individualis).

Adanya kebebasan masyarakat melalui kegiatan lembaga-lembaga sosial dengan


berbagai perspektif.

Syarat Masyarakat Madani


Terdapat tujuh syarat masyarakat madani antara lain sebagai berikut..

Terpenuhinya kebutuhan dasar individu, keluarga, dan juga kelompok yang berada di
dalam masyarakat.

Berkembangnya human capital (modal manusia) dan social capital (modal sosial) yang
kondusif untuk terbentuknya kemampuan melaksanakan tugas-tugas kehidupan an
terjalinnya kepercayaan dan relasi sosial antar kelompok.

Tidak adanya diskriminasi dalam setiap bidang pembangunan atau terbukanya akses
berbagai pelayanan sosial

Adanya Hak, kemampuan, dan kesempatan bagi masyarakat dan lembaga-lembaga


swadaya untuk terlibat dalam setiap forum, sehingga isu-isu kepentingan bersama dan
kebijakan publik dapat dikembangkan.

Adanya persatuan antarkelompok di masyarakat serta tumbuhnya sikap saling


menghargai perbedaan antarbudaya dan kepercayaan.

Terselenggaranya sistem pemerintahan yang lembaga-lembaga ekonomi hukum, sosial


berjalansecara produktif dan berkeadilan sosial

Adanya

jaminan,

kepastian,

dan

kepercayaan

dari

setiap

jaringan-jaringan

kemasyarakatan sehingga terjalinnya hubungan dan komunikasi antara masyarakat


secara teratur, terbuka dan terperacaya.

Unsur-Unsur Masyarakat Madani


Unsur-Unsur Masyarakat Madani - Masyarakat Madani tidak muncul dengan sendirinya. Ia
menghajatkan unsur-unsur sosial sebagai prasyarat terwujudnya tatanan masyarakat madani.
Beberapa unsur pokok masyarakat madani adalah sebagai berikut..

Adanya wilayah publik yang luas, adalah ruang publik yang bebas sebagai sarana
mengemukakan pendapat warga masyarakat.

Demokrasi, ialah prasyarat mutlak keberadaan civil society yang murni (genuine).

Toleransi, ialah sikap saling menghargai dan meghormati adanya perbedaan pendapat

Plural, ialah tidak hanya sebagai batas sikap dan menerima kenyataan sosial yang
beragam tapi disertai dengan sikap tulus menerima perbedaan dan rahmat tuhan yang
bernilai positig bagi kehidupan masyarakat.

Keadilan sosial, adalah keseimbangna dan pembagian yang proporsional atas hak dan
kewajiban setiap warga Negara yang mengenai seluruh aspek kehidupan; ekonomi,
pilitik, pengetahuan dan kesempatan.

Baca Juga:
Pengertian Demokrasi, Macam-Macam, Ciri-Ciri, Definisi Para Ahli, Prinsip & Nilai
Pengertian Budaya Politik, Ciri-Ciri, Macam-Macam & Definisi Para Ahli

Pengertian, Tujuan, Fungsi, dan Macam-Macam Konstitusi


Mengenal Ciri-Ciri Negara Hukum
Pengertian Dasar Negara dan Fungsi Dasar Negara

Demikianlah informasi mengenai Pengertian Masyarakat Madani, Ciri, Syarat, Unsur &
Definisi Para Ahli. Semoga teman-teman dapat menerima dan bermanfaat bagi kita semua baik
itu pengertian masyarakat madani, ciri-ciri masyarakat madani, syarat-syarat masyarakat
madani, unsur-unsur masyarakat madani, dan pengertian masyarakat madani menurut para ahli.
Referensi: Pengertian Masyarakat Madani, Ciri, Syarat, Unsur & Definisi Para Ahli

A. Ubaedillah dan Abdul Rozak, 2008. Judul : Pendidikan Kewarganegaraan Edisi Ketiga
(Demokrasi, Hak Asasi Manusia dan Masyarakat Madani). Penerbit Prenada Media
Group : Jakarta.

Azyumardi Azra, Menuju Masyarakat Madani. (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2004),


hlm 9-11

http://www.artikelsiana.com/2015/08/pengertian-masyarakat-madani-ciri.html

7 Ciri-Ciri Masyarakat Madani dan


Pengertiannya
Sebelum kita mengetahui tentang ciri-ciri yang dimiliki oleh masyarakat madani, tentu kita harus tahu
terlebih dahulu apa pengertian dari masyarakat madani tersebut. Sebagaimana telah kita ketahui
bahwa masyarakat madani terdiri dari dua kata, yaitu masyarakat dan madani.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) disebutkan bahwa kedua kata tersebut memiliki arti
sebagai berikut Masyarakat adalah sejumlah manusia dalam arti seluas-luasnya dan terikat oleh
suatu kebudayaan yang mereka anggap sama, sedangkan Madani adalah menjunjung tinggi nilai,
norma, hukum yang ditopang oleh penguasaan iman, ilmu, dan tekhnologi yang berperadaban.
Pengertian masyarakat madani

Sedemikian sehingga dapat kita artikan bahwa masyarakat madani adalah sejumlah orang yang
menjunjung tinggi nilai, norma, hukum yang ditopang oleh penguasaan iman, ilmu, dan tekhnologi
yang berperadaban dengan suatu tujuan dan kebudayaan yang sama.
Sedangkan secara umum dan formalitas di semua kalangan khususnya di Indonesia, masyarakat
madani atau dengan nama lain civic/civil society ini berarti sebuah tatanan masyarakat sipil (civil
society) yang mandiri dan demokratis serta menjunjung tinggi nilai, norma, hukum yang berlaku
dengan suatu tujuan dan kebudayaan yang sama dan tidak menjadi penyebab terjadinya tindakan
penyalahgunaan kewenangan.
Berdasarkan beberapa pengertian di atas, berikut adalah penjelasan mengenai ciri-ciri masyarakat
madani :
1. Menjunjung tinggi nilai
Menjunjung tinggi nilai, norma, dan hukum yang ditopang dengan iman, ilmu, dan tekhnologi. Itu
artinya masyarakat madani hidup berdasarkan aturan-aturan yang berlaku, seperti nilai, norma, dan
hukum. Ketaatan tersebut dilandaskan pada ilmu dan tekhnologi yang telah dipelajari dan
dikembangkannya beserta kekuatan iman atau keyakinannya kepada Sang Maha Pencipta.
2. Memiliki perabadan yang tinggi
Sebagai makhluk yang memiliki keyakinan atau iman kepada Sang Maha Pencipta, masyarakat
madani telah membuktikan bahwa mereka merupakan manusia yang memiliki peradaban, yaitu
beradab atau bertata krama. Selain bertata krama terhadap Tuhan, tentunya juga bertata krama pada
sesama manusia.
3. Mengedepankan kesederajatan dan transparansi.
Ciri masyarakat madani dalam hal ini adalah mereka menganggap bahwa status mereka sama, baik
pria atau perempuan. Transparansi atau keterbukaan berarti mereka menjalankan hidupnya harus
dengan sikap jujur dan tidak perlu ada hal-hal yang harus ditutupi sehingga menumbuhkan rasa
saling percaya antar satu sama lain. Hal ini menunjukkan bahwa dalam masyarakat madani terdapat
nuansa demokrasi, di mana demokratisasi dapat diwujudkan dengan adanya fungsi Lembaga
Swadaya Masyarakat (LSM), pers yang bebas, supremasi atau kekuasaan tertinggi dalam hukum,
partai politik, perguruan tinggi, dan toleransi.
Hal ini dikarenakan dalam masyarakat sosial memiliki kaitan dengan wacana kritik rasional
masyarakat yang secara eskplisit atau jelas mensyarakat munculnya demokrasi. Sedemikian
sehingga masyarakat madani hanya bisa dijamin di negara yang menganut sistem demokrasi, seperti
Indonesia. Demikianlah pendapat yang disampaikan oleh Neera Candoke. Toleransi sebagaimana
telah disinggung dalam poin keempat di atas, memiliki artian bahwa kesedian individu atau
perseorangan untuk menerima pandangan, pendapat serta sikap yang berbeda mengenai politik dan

sosial. Toleransi yang demikian juga merupakan sikap yang dikembangkan dalam masyarakat madani
sebagai bentuk dari rasa saling menghargai dan menghormati antar sesama, baik perorangan
maupun kelompok terkait pendapat dan sikap yang berbeda-beda.
4. Ruang publik yang bebas
Ruang public yang bebas atau dikenal dengan istilah free public sphere merupakan wilayah yang
memungkinkan masyarakat sebagai warga negara untuk memiliki hak dan kewajiban warga
negara melalui akses penuh terhadap kegiatan politik, menyampaikan pendapat dengan status orang
yang merdeka (yang berarti bebas), berserikat atau bekerjasama, berkumpul serta mempublikasikan
pendapat dan informasi kepada publik atau masyarakat luas.
5. Supremasi hukum
Supremasi hukum atau dalam KBBI diartikan sebagai kekuasaan tertinggi dalam hukum memiliki arti
bahwa terdapat jaminan terciptanya keadilan yang bisa dicapai bila menempatkan hukum sebagai
kekuasaan tertinggi dalam sebuah negara. Tentu keadilan tersebut akan tercipta apabila hukum
diberlakukan secara netral, dalam artian tidak adanya pengecualian untuk memperoleh suatu
kebenaran atas nama hukum.
6. Keadilan sosial
Keadilan sosial atau social justice merupakan suatu keseimbangan dan pembagian yang proporsional
atau sesuai antara hak dan kewajiban antar warga dan negara yang meliputi seluruh aspek
kehidupan. Artinya seorang warga negara memiliki hak dan kewajiban terhadap negaranya.
Begitupula pula sebuah negara juga memiliki hak dan kewajiban atas warganya. Yang mana hak dan
kewajiban tersebut memiliki porsi atau ukuran yang sama sehingga berimbang. Plural atau
keberagaman pasti akan terjadi dalam kalangan masyarakat terlebih dalam suatu negara yang
merupakan kesatuan atau kumpulan dari berbagai kelompok masyarakat, terlepas dari masyarakat
asli maupun pendatang yang menutuskan untuk tinggal di dalamnya.
Sedemikian sehingga yang dimaksud dengan pluralisme adalah sebuah sikap menerima dan
mengakui fakta serta tulus bahwa masyarakat itu bersifat majemuk atau beragam dan dapat
menjadi penyebab terciptanya masyarakat majemuk dan multikultural. Mulai dari kebiasaan, nilai
norma, dan kebudayaannya, seperti contohnya Negara kita sendiri, yaitu Indonesia. Banyak sekali
keragaman masyarakat, mulai dari bahasa, suku, agama, etnis, dan budayanya. Sebagai masyarakat
madani, tentunya sikap tersebut, yaitu pluralisme harus dimiliki dan dijaga serta berkeyakinan bahwa
keberagaman itu bernilai positif yang dirahmatkan oleh Sang Maha Pencipta.
7. Partisipasi sosial
Berpatisipasi dalam lingkungan sosial merupakan salah satu cara untuk menjalin hubungan dan
kerjasama antar individu maupun kelompok untuk mencapai sebuah tujuan tertentu. Partisipasi sosial

yang bersih tanpa rekayasa merupakan awal yang baik untuk menciptakan masyarakat madani. Hal
ini bisa saja terjadi apabila terdapat nuansa yang memungkinkan otonomi (hak dan kewajiban)
individu terjaga dengan baik. Artinya dalam masyarakat madani harus seimbang antara hak dan
kewajibannya sesama individu. Sedemikian sehingga tercipta keadilan sosial atau social
justice sebagaimana telah disebutkan sebelumnya pada poin kedelapan.

Ciri ciri Khusus


Sebagai tambahan, beberapa tokoh juga berpendapat tentang pengertian masyarakat madani, antara
lain:

Syamsudin Haris mengatakan bahwa masyarakat madani adalah suatu lingkup interaksi
sosial yang berada di luar pengaruh negara dan model yang tersusun dari lingkungan masyarakat
paling akrab seperti keluarga, asosiasi sukarela, gerakan kemasyarakatan, dan berbagai bentuk
lingkungan komunikasi antar warga masyarakat serta pengaruh globalisasi.

Muhammad AS Hikam mengatakan bahwa masyarakat madani adalah wilayah-wilayah


kehidupan sosial yang terorganisasi dan bercirikan, antara lain kesukarelaan (voluntary),
keswasembadaan (self-generating), keswadayaan (self-supporing), dan kemandirian yang tinggi
berhadapan dengan negara, dan keterikatan dengan norma-norma dan nilai-nilai hukum yang diikuti
oleh warganya.

Ryaas Rasyid mengatakan bahwa masyarakat madani adalah suatu gagasan masyarakat
yang mandiri, yang dikonsepsikan sebagai jaringan-jaringan yang produktif dari kelompok-kelompok
sosial yang mandiri, perkumpulan-perkumpulan, serta lembaga-lembaga yang saling berhadapan
dengan negara.
Adapun ciri-ciri khusus dari masyarakat madani di Indonesia sebagaimana disampaikan oleh Prof. Dr.
M. A. S. Hikan, diantaranya:
1. Kesukarelaan (voluntary) Kesukarelaan atau kemauan sendiri merupakan suatu sikap yang
dimiliki warga negara Indonesia dalam melakukan atau patuh akan sesuatu meski tidak ada peraturan
yang mewajibkannya untuk melakukan maupun mematuhinya. Contohnya adalah mematuhi dan
menghormati norma-norma masyarakat yang ada dalam suatu wilayah, padahal norma-norma
tersebut tidaklah tertulis dan tidak ada pula tuntutan untuk mematuhinya. Namun masyarakat
Indonesia tetap saja menjaga dan melestarikannya sebagai sebuah tradisi dan peninggalan nenek
moyang mereka.
2. Kemandirian yang tinggi terhadap Negara Kemandirian di sini adalah sikap yang tidak terlalu
bergantung diri kepada negara. Namun bukan berarti juga bahwa mengabaikan negara karena
kemandirian tersebut. Artinya tidak mencanpuradukkan antara masalah negara dan bukan masalah
negara (pribadi atau kelompok).
3. Keswasembadaan (self-generating) Swasembada artinya sebuah usaha untuk bisa mencukupi
kebutuhan sendiri. Sedemikian sehingga keswasembadaan merupakan hal-hal terkait usaha untuk

bisa mencukupi kebutuhan sendiri. Dalam artian masyarakat madani di Indonesia memiliki ciri dan
cara tersendiri mengenai usaha yang akan dilakukan untuk bisa memenuhi kebutuhannya sendiri.
4. Keterkaitan pada nilai-nilai hukum yang disepakati bersama Dalam hal ini berarti masyarakat
madani di Indonesia dalam menjalani aktivitas kehidupannya berlandaskan pada nilai-nilai hukum
yang telah disepakati bersama melalui para wakil-wakil masyarakat yang duduk di tampuk
pemerintahan. Terlebih lagi Indonesia memang merupakan salah satu negara yang menganut paham
negara hukum di dunia dalam menjalankan roda pemerintahan sebagai suatu negara.

http://guruppkn.com/ciri-ciri-masyarakat-madani