Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Evolusi, atau sering juga disebut evolusi organik atau evolusi biologi adalah
perubahan dari waktu ke waktu pada satu atau lebih sifat terwariskan yang
dijumpai pada populasi organisme. Pemikiran tentang teori evolusi terus
berkembang seiring dengan perubahan zaman. Pada masa evolusi modern konsep
evolusi dikembangkan dengan tinjauan struktur DNA. Saat ini telaah tentang
DNA mengungkapkan bahwa ada mekanisme perubahan pada tingkat molekul
DNA, sehingga membawa pemahaman yang lebih baik pada proses perubahan
organisasi makhluk hidup.
Seperti diketahui bahwa keanekaragaman muncul melalui cladogenesis.
Cladogenesis merupakan bentuk penyimpangan dari perbedaan genetik dari nenek
moyangnya. Perbedaan genetic ini disebabkan karena adanya variasi genetik
dalam satu keturunan. Variasi ini sebagai hasil meiosis dan rekombinasi pada
fertilisasi organisme. Jadi fertilisasi organisme merupakan factor yang sangat
penting dalam proses terjadinya variasi ini. Pindah silang, translokasi, dan aberasi
kromosom merupakan rekombinasi selanjutnya. Semakin bervariasi, semakin
beranekaragam spesies yang dihasilkan, dalam arti semakin banyak spesies baru
yang bermunculan.
Setiap populasi terdiri atas kumpulan individu sejenis (satu spesies) dan
menempati suatu lokasi yang sama. Karena suatu sebab, populasi dapat terpisah
dan masing-masing mengembangkan adaptasinya sesuai dengan lingkungan baru.
Dalam jangka waktu yang lama, populasi yang saling terpisah itu masing-masing

berkembang menjadi spesies baru sehingga tidak dapat lagi mengadakan


perkawinan yang menghasilkan keturunan fertil. Terbentuknya spesies baru
(spesiasi) dapat diakibatkan oleh adanya isolasi geografi, isolasi reproduksi, dan
perubahan genetika. Spesiasi dapat berlangsung cepat, dapat pula berlangsung
lama hingga puluhan juta tahun. Spesiasi adalah pembentukan spesies baru dan
berbeda dari spesies sebelumnya dalam kerangka evolusi.

Spesiasi ini bisa

tampak dalam bidang anatomi, genetik, dan kesamaan lain antar kelompok
organisme, distribusi geografis spesies yang brkaitan, rekam fosil dan perubahan
genetik yang terekam pada makhluk hidup dari banyak generasi.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah konsep spesies dan spesiasi?
2. Bagaimanakah model-model spesiasi?
3. Bagaimanakah dua pengaruh utama Spesiasi?
4. Bagaimana perbedaan model spesiasi alotropik, paratrik, peripatrik dan
simpatrik?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan spesies dan spesiasi
2. Untuk mengetahui dua pengaruh utama Spesiasi
3. Untuk mengetahui model-model spesiasi beserta contohnya
4. Untuk mengetahui perbedaan model spesiasi alotropik, paratrik, dan
simpatrik

BAB II
PEMBAHASAN
A. Konsep spesies
Kata spesies dalam bahasa lati berarti jenis atau penampilan. Dalam
kehidupan sehari-hari, kita membedakan berbagai jenis organisme secara umum
anjing dan kuncing, misalnya berdasrakan perbedaan tampilan mereka. Namun
apakah organisme benar-benar terbagi menjadi unit-unit diskret yang kita sebuit
spesies, atau mungkinkah klasifikasi ini hanyalah usaha mana suka untuk
menyusun dunia alamiah dalam suatu keteraturan? Untuk menjawab pernyatan
ini? Untuk menjawab pertanyaan ini, para ahli biologi membandingkan tidak
hanya morfologi dari kelompok-kelompok organisme berbeda, namun juga
perbedaan-perbedaan tidak begitu nyata dalam fisiologi, biokimia dan sekuens

DNA. Hasil yang diperolah umumnya memastikan bahwa spesies yang berada
secara morfologi memanag merupakan kelompok-kelompok diskret, dengan
banyak perbedaan selain perbedaan morfologis.
1. Konsep spesies Biologi
Ernes Meyr (1942) mengemukakan bahwa spesies adalah suatu kelompok
populasi yang anggota-anggotanya memiliki potensi untuk saling megawini
(interbreed) di alam dan menghasilkan keturunan yang viabel (mampu bertahan
hidup) dan fertil namun tidak menghasilkan keturunan yang viabel dan fertil
dengan anggota dari kelompok lain semacam itu. Gambar berikut ini menunjukan
konsep spesies biologis.

Gambar 2.1
Keragaman dalam suatu
spesies.
Meskipun
penampilan kita tampak
berbeda-beda, semua manusia
tergolong kedalam suatu
spesies
biologis
(Homo
sapiens), yang didefinisikan
menurut kapasitas kita untuk
saling mengawini.

Gambar 2.2
Kemiripan diatara spesiesspesies berbeda. Sturnella
magna (kiri) dan Sturnella
neglecta (kanan) memiliki
bentuk tubuh dan warna bulu
yang
serupa.
Meskipun
demikian, keduanya adalah
adalah spesies biologis yang
berbeda karena kicauan dan
perilaku yang cukup berbeda
untuk menghalangi mereka
saling mengawini seandainya
bertemu di alam.
Dengan demikian, anggota spesies biologis disatukan oleh kompabilitas
reproduktif, setidaknya secara potensial. Semua manusia misalnya, berasal dari
spesies yang sama. Seorang wanita karir di Manhatan mungkin tidak akan pernah
bertemu dengan seorang peternak sapi di Mongolia, namun jika keduanya ternyata
bertemu dan menikah, mereka bisa memiliki keturunan yang viabel dan mampu
berkembang menjadi orang dewasa yang fertil. Sebaliknya, manusia dan simpanse
tetap merupakan spesies yang biologis yang berbeda walaupun keduanya mungkin
tinggal diwilayah yang sama, karena banyak faktor yang menghalangi mereka
untuk kawin dan menghasilkan keturunan yang fertil.
Apa yang mempertahankan keutuhan lengkung gen dari suatu spesies,
yang menyebabkan anggota-anggota spesises tersebut lebih mirip satu sama lain
dibandingkan dengan spesises lain? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus
mempertimbangkan kembali mekanisme evolusioner seperti aliran gen, transfer
alal dalam populasi. Anggota suatu spesies seringkali mirip satu sama lain sebab
populasi mereka terhubung oleh aliran gen. Seperti yang mungkin anda duga,

populasi-populasi yang terletak berdekatanrelatif sering bertukar alel. Namun


bagaimana dengan populasi-populasi yang terpisah jauh? Hasil penelitiannya
menunjukan bahwa aliran gen tingkat rendah terjadi diantara populasi yang
terpisah sangat jauh sekalipun. Hasil-hasil serupa telah ditemukan pada hewan
lain, juga pada berbagai fungi dan tumbuhan. Hasil-hasil semacam itu
menggambarkan bahwa aliran gen memiliki potensi untuk mempertehankan
keutuha lengkung gen suatu spesies, asalkan tidak dikalahkan oleh efek-efek
seleksi atau hanyutan keduanya dapat menyebabkan populasi memisah atau
berdivergensi).
Keterbatasan Konsep Spesies Biologis
Salah satu kekuatan konsep spesies biologis adalah konsep tersebut
mengarahkan perhatian kita pada bagaimana spesiasi terjadi : melalui evolusi dari
isolasi reproduktif. Akan tetapi, konsep ini dapat diterapkan pada jumlah spesies
yang terbatas. Misalnya, tidak ada cara un tuk mengevaluasi isolasi reproduktif
dari fosil. Konsep spesies biologis juga tidak berlaku pada organisme yang selalu
atau nyaris selalu bereproduksi secara aseksual, mislanya prokariota. Lebih lanjut,
dalam konsep spesies biologis, spesies didefinisikan berdasarkan ketiadaan aliran
gen. Akan tetapi, terdapat banyak pasangan spesies yang berbeda secara
morfologis dan ekologis, namun aliran gen tetap terjadi diantara keduanya.
2. Konsep Spesies Morfologis
Mencirikan spesies berdasarkan bentuk tubuh dan sifat struktur lain.
Konsep spesies morfologis memiliki sejumlah keuntungan. Konsep ini dapat
diterapkan pada organisme aseksual dan seksual, dan dapat berguna bahkan tanpa
informasi tentang besarnya aliran gen. Kekurangan dari konsep spesies ini adalah

definisi ini bersandar pada kriteria yang subjektif, penelitimungkin tidak sepakat
ciri truktural mana yang digunakan untuk membedakan spesies..
3. Konsep Spesies Ekologis
Konsep ini memandang spesies berdasarkan relung

ekologinya.

Keseluruhan interaksi dari anggota-anggota spesies dengan komponen tak hidup


dari lingkungannya. Misalnya dua spesies amfibi mungkin tampak mirip, namun
berbeda dalam makan dan kemampuan untuk toleransi terhadap kondisi kering.
Tidak seperti konsep spesies biologis, konsep spesies ekologis dapat
mengakomodasi spesies aseksualmaupun seksual. Konsep ini juga menekankan
peran seleksi alam disruptif ketika organisme beradaptasi dengan kondisi
lingkungan yang berbeda.
4. Konsep spesies filogenetik
Mendefinisikan spesies sebagai kelompok terkcil dari individu-individu
yang memiliki nenek moyang yang sama, membentuk suatu cabang pada pohon
kehidupan. Para ahli biologi menelusuri sejarah filogenetik sesies dengan cara
membeandingkan karakteristiknya, misalnya morfologi atau sekuns molekulaer,
dengan spesies lain. Analisis semacam itu dapat membedakan kelompok individu
yang cukup berbeda untuk diangap sebagai spesies terpisah. Tentu saja, kesulitan
untuk menerapkan konsep spesies ini terletak pada penemuan derajat perbedaan
yang diperlukan untuk mengindikasikan spesies yang terpisah.
5. Evolutionary Species Concept (ESC)
Satu keturunan yang berevolusi secara terpisah dari yang lain dan dengan
kecenderungan dan aturan evolusinya (Simpson, 1962).

Satu keturunan dari

populasi yang diturunkan dari nenek moyang yang memelihara identitasnya dari
yang lain, dan keturunan yang memiliki kencedungan dan nasib evolusinya
sendiri (Wiley, 1978).

Satu kesatuan yang tersusun dari organisme yang

memelihara identitasnya dari kesatuan lain sepanjang waktu dan ruang, dan yang
memiliki nasib evolusi dan kecenderungan sejarahnya yang bebas (Wiley and
Mayden, 1997).
Konsep ini awalnya diperjuangkan oleh Simpson (1951, 1962) dari
ketidakpuasan

umum

dengan

non-dimensinalitas

BSC.

Wiley

telah

mengembangkan konsep ini lebih lanjut dan telah membuktikan penerapan umum
konsep ini pada sistem biologis. Tidak seperti definisi lain yang telah dijelaskan
disini, ESC sebagian besar telah ditolak sampai baru-baru ini. Beberapa peneliti
telah menjelaskan dan mengembangkan lebih lanjut konsep ini. Mereka beralasan
bahwa hanya konsep inilah yang memiliki kapasitas untuk mengakomodasi semua
tipe keragaman biologi.

Berlawanan dengan persepsi dari beberapa peneliti

(Minelli, 1993) ESC tidak mempertimbangkan species sebagai kelas atau berfokus
pada species sebagai kesatuan ekologi.

ESC tidak sama dengan EcSC.

Sedangkan Simpson (1961) telah menganjurkan sau konsep keturunan terhadap


sepcies dan divergensi ekologi dan evolusi. Jadi, logika wajar dari konsep ESC
Simpson dan Wiley agak berbeda.
ESC bukan merupakan konsep yang operasional.

Akan tetapi, ini

merupakan satu konsep keturunan yang non-relasional. Jadi, kelengkapan dan


pola species dapat diinterpretasikan dengan benar terkait dengan keturunan unik
mereka. Konsep ESC mengakomodasi organisme uniparental, species yang
terbentuk melalui hibridisasi dan nenek moyang species. Tidak diperlukan adanya
batasan kelengkapan tertentu untuk keberadaan species.
reproduktif,

dipertimbangkan

sebagai

turunan

Akhirnya, isolasi

kelengkapan

dari

status

plesiomorfik kompatibilitas reproduksi, jadi keberhasilan reproduksi benar-benar


bersifat segaram.
6. Genetic Species Concept (GSC)
Konsep ini mirip dengan konsep morfologi kecuali bahwa metode yang
digunakan untuk menentukan species adalah ukuran perbedaan genetic, diduga
untuk merefleksikan isolasi reproduksi dan kebebasan evolusi. Sebagai konsep
fenetik, jarak dan kemiripan genetic digunakan untuk mengidentifikasi species
yang berbeda. Kebebasan genetic diuji menggunakan metode yang beragaman
mulai dari kromatografi, elektroforesis sampai sekuensing.
Ketika nampaknya bersifat operasional, satu masalah mendasar dari GSC
adalah bahwa untuk sebagian besar keragaman tidak ada informasi genetic yang
tersedia. Karena divergensi pada setiap gen tertentu tidak memiliki laju yang
sama (seragam), mungkin sekali tidak pernah ada standar jarak untuk species.
Konsep ini bertahan pada asumsi bahwa pada setiap kejadian spesiasi disana akan
ada perubahan tertentu pada setiap gene. Jika peneliti menguji 200 gen dan
mereka semuanya identik diantara dua species, mereka akan mempertimbangkan
mereka sebagai species yang sama.

Namun, gen berikutnya dapat

memperlihatkan perubahan yang sangat besar diantara dua sister species sebagai
hasil kejadian spesiasi. Jika hanya satu gen dari 200 gene monoalel mengalami
divergensi akan menghasilkan jarak genetik yang dapat disepelekan. Pada satu
skala linier, divergensi tersebut akan menjadi sepele untuk perbandingan species
dimana lima dari 20 gene bersifat divergen. Disini, pada contoh heuristik ini
kedua pasangan species berada sebagai species yang bebas secara evolusi dan
secara genetik.

GSC secara esensi

adalah

pengganti,

konsep

operasional

yang

dikembangkan dari BSC, Derajat divergensi genetik tertentu diasumsikan dapat


menjamin pengenalan species. Namun, definisi operasional ini tidak memeiliki
petunjuk bagi peneliti ketika berapa besar perbedaan dianggap cukup untuk
digunakan sebagai batasan species? Hal ini sebagian besar karena divergensi gen
tertentu atau beberapa gen tidak mungkin dapat digunakan untuk menduga
didalam atau antar kelompok taksonomi. Menggunakan konsep non-evolusi ini,
peneliti juga disesatkan untuk percaya bahwa tidak adanya divergensi pada suatu
gen yang semata-mata tersedia karena teknologi menghilangkan realitas
divergensi yang mungkin ada pada setiap karakter. Dengan demikian, kenyataan
species dengan morfologi yang divergen dan dapat diturunkan mungkin secara
naif dipertanyaakan jika divegensi pada gen atau protein yang mudah diuji yang
diinginkan.

Ketika konsep ini tersedia sebagai konsep tradisional untuk

mengindentifikasi species, hal ini merupakan kesalahan fatal jika ia merupakan


konsep primer.

Kekurangan data secara umum, bersamaan dengan besarnya

variasi genetik yang terobservasi diantara sister species, validitasnya dapat


dipertanyakan jika semata-mata mendasarkan pada divergensi genetik untuk
memvalidasi

species,

dan

kurangnya

prespektif

filogenetik

didalam

menginterpretasikan variasi telah menghalangi GSC sebagai konsep primer.


B. Spesiasi
Spesiasi adalah proses dimana spesies bercabang menjadi dua atau lebih
spesies turunan. Spesiasi sudah sering diamati pada tingkat laboratorium maupun
alam. Pada organisme yang bereproduksi seksual, spesiasi dihasilkan dari isolasi
reproduksi yang diikuti percabangan genealogis. Menurut Campbell (2008)

spesiasi dapat terjadi dengan dua cara utama, bergantung pada bagimana aliran
gen terputus di antara beberapa populasi dengan spesies yang sudah ada
sebelumnya.
1. Spesies Alopatrik
Allopatrik spesiation berasal dari kata Yunani allos yang artinya lain dan
patra, tanah air. Aliran gen terputs ketika suatu populasi terbagi menjadi sejumlah
subpopulasi yang terisolasi secara geografis. Misalnya ketinggian permukaan air
di sebuah danau mungkin turun, menyebabkan pembentukan dua atau lebih danau
ukuran kecil, yang kini dihuni oleh dua populasi yang terpisah.
Gambar. 2.3 Spesiasi alopatrik
Suatu
populasi
membentuk
spesies baru karena terisolasi
secara geografis dari populasi
induknya.

Sebuah sungai juga mungkin berubah aliran dan membagi suatu populasi
hewan yang tidak dapat menyebrangi sungai tersebut. Spesiasi alopatrik juga
dapat terjadi tanpa pembentukan ulang geologis, misalnya ketika individuindividu mengolonisasi wilayah terpencil dan keturunan mereka terisolasi dari
populasi induk, contohnya Pecuk tak dapat terbang mungkin muncul dengan cara
ini dari spesies yang bisa terbang dan bermigrasi ke kepulauan Galapogus.
Proses spesiasi alopatrik
Seberapa hebatkah penghalang geografis sehingga spesiasi alopatrik dapat
terjadi? Jawabannya tergantung pada kemampuan organisme untuk berpindah
tempat. Burung dan singa gunung

dapat menyebrangi sungai dan ngarai.

Penghalang semacam itu juga bukan ritangan bagi serbuk sari yang tertiup angin
dari pohon pinus atau biji-bijian tumbuhan berbunga. Sebaliknya, rodensia kecil
mungkin menganggap sungai yang lebar atau ngarai yang dalam sebagai
penghalang yang menyulitkan.

A. harrisi

A. Leucur
us

Gambar 2.4 Spesiasi alopatrik bajing antelop di ngarai Grand


Canyon yang berlawanan. Bajing antelop harris (Ammospermophillus
harris) menghuni ngarai selatan (kiri). Hanya beberapa kilometer hanya
beberapa kilometer jauhnya dari Ngarai Utara (kanan) hiduplah bajing
antelop ekor putih (Ammospermophillus leucurus) yang berkerabat denkat
dengan bajing harris. Sebaliknya, burung dan organisme lain yang dapat
menyebar dengan menyeberangi ngarai secara mudah, belum
berdivergensi dan menjadi spesies yang berbeda pada kedua sisi ngrai.
Bagitu pemisahan geografistelah berlangsung. Lengkung gen yang
terpisah dapat berdivergensi melalui berbagai mekanisme. Mutasi yang berbeda
akan muncul, seleksi alam bekerja pada organnisme-organisme yang terpisah, dan
hanyutn genenetik mengubah frekuensi alel. Isolasi reproduktif kemudian dapat
trjadi sebagai produk sampingan dari seleki dan hanyutan genetik yang
menyebabkan populasi berdivergensi secara genetis.

Misalnya pada bunga

monyetan

Mimullus gutatus , seleksi telah menguntungkan evolusi toleransi

tembaga pada populasi yang hidup didekat pertambangan tembaga. Konsentrasi


temabaga pada tanah diwilayah tersebut dapat mencapai kadar yang mematikan
bagi individu yang nontoleran. Sewaktu anggota populasi toleran tembaga
Mimullus gutatus kawin dengan individu dari populasi lain, kesintasan
kerutunanya rendah. Analisis genetik menunjukan bahwa gen untuk toleran
terhadap tembagaatau sebuah alel yang terpaut secara genetis dengan gen toleransi
terhadap tembaga menyebabkan kesintasan dari keturunan hibrida rendah. Dengan
demikian , seleksi bagi toleransi terhadap tembaga tampaknya memiliki efek
samping yang penting namun tidak disengaja: isolasi reprodukstif parsial di antara
populasi-populasi Mimullus gutatus.
Lengkung gen dari poipulasi-populasi yang sangat terisolasi (misalnya di
pulau terpencil) mengalami aliran gen yang sangta sedikit sehingga sangat
mungkin mengalami spesiasi alopatrik. Misalanya, dalam waktu kurang dari dua
juta tahun, segelintir hewan dan tumbuhan dari daratan utama Amerika selatan
dan Utara yang mengolonisasi galapagos menyebabkan kemunculan semua
spesies baru yang ditemukan dikepulauan tersebut.
Bukti Spesiasi Alopatrik
Salah satu bukti spesiasi alopatrik adalah data biogeografis bersama dengan
data genetik menunjukan bahwa dua kelompok katak yang ada disini, subfamili
mantellinae dan Rhacophorinae, mulai berdivergensi sekitar 88 juta tahun yang
lalu, ketika tempat yang kini menjadi pulau Madagaskar mulai memisah dari
massa daratan India. Tampaknya keduanya kedua kelompok katak memiliki nenek
moyang bersama. Hasilnya adalah pembentukan banyak spesies baru pada
masing-masing lokasi

Gambar 2.5 Spesiasi allopatrik pada katak. Subfamili katak mentellinae


dan Rhacoporinae berdivergensi sewaktu pulau yang sekarang disebut
Madagaskar memisah dari India. Peta menunjukan pergerakan Madagaskar
(merah) dan India (biru).
Nilai penting dari spesiasi alopatrik juga ditunjukan melalui fakta bahwa
wilayah yang sangat terbagi-bagi oleh berbagai penghalang geografis secara khas
memiliki lebih banyak spesies dari pada wilayah dengan sedikit penghalang.
2. Spesiasi Peripatrik
Merupakan spesiasi yang terjadi bila populasi-populasi kecil organisme
menjadi terisolasi pada lingkungan baru. Yang membedakan dengan spesiasi
alopatrika adalah populasi yang terisolasi jumlahnya jauh lebih kecil dibanding
populasi parental. Disini the founder effect menyebabkan spesiasi yang cepat
melalui penyimpangan genetik yang cepat dan seleksi pada kolam gen yang kecil.
Efek pendiri bisa terjadi misalnya ketika sedikit anggota populasi tertiup badai
kesebuah pulau baru. Hanyutan genetik saat peristiwa tersebut kebetulan
mengubah frekuensi alel-terjadi dalam kasus semacam itu karena badai tidak

membeda-bedakan saat memindahkan

beberapa individu (besera alel-alel

meraka), bukan yang lain dari populasi sumber.


3. Spesiasi Parapatrik
Spesiasi ini mirip dengan spesiasi paripatrik yakni jumlah pupulasi yang
masuk ke habitat baru sangat kecil. Namun bedanya adlah tak ada pemisahan
secara fisik antara dua populasi ini. Sebaliknya, spesiasi adalah hasil dari
mekanisme evolusi yang mengurangi aliran gen antara kedua populasi. Umumnya
ini terjadi bila ada perubahan lingkungan secara drastis didalam haitat spesies
parntal. Satu contoh spesiasi ini adalah rumput Anthoxanthum odoratum sebagai
respon terhadap populasi logam di tempat tanaman ini berada. Disini tanaman ini
berevolusi sehingga memiliki resistensi terhadap tingginya kadar logam dalam
tanah. Seleksi menolak saling kawin dengan populasi parental yang peka terhadap
lo9gam menyebabkan perubahan gradual terhadap waktu pembungaann dari
tanaman yang resisten logam, yang pada akhirnya menghasilkan isolasi
reproduksi yang sempurna. Seleksi menolak hibris antara antara kedua populasi
ini dapata menyebabkan penguatan (reinforcemen), yakni evolusi sifat-sifat yang
mempromosikan perkawinan didalam satu spesies. Sekaligus juga peminadahan
karakter, yakni bila dua spesies semakin lama semakin tampak berbeda. Isolasi
geografis di kepulauan Galapogus menghasioakan beasan spesies baru.
4. Spesiasi Simpatrik
Pada spesiasi ini spsies bercabang tanpa isolasi geografis atau perubahan
habitat. Bentuk ini jarang terjadi karena aliran gen dalam jumah kecil pun cukup
mampu untuk menghilangkan perbedaan genetik antar bagian populasi (Hassan,
dkk (2014).
Spesiasi simpatrik terjadi dalam populasi hidup di area geografis yang
sama. Bagaimana penghalang reproduktif terbentuk di antara populasi-populasi

simpatrik padahal anggota-anggotanya tetap saling berhubungan? Walaupun


hubungan semacam itu membuat spesiasi simpatrik lebih jarang terjadi dibanding
spesiasi allopatrik, spesiasi simpatrik dapat terjadi jika aliran gen berkurang akibat
faktor-faktor seperti poliploidi, diferensiasi habitat dan seleksi seksual.

Gambar 2.6: Empat mekanisme spesiasi


C. Pengaruh Utama dalam Spesiasi

Spesiasi atau terbentuknya spesies baru dapat diakibatkan oleh adanya


isolasi geografi, isolasi reproduksi, dan perubahan genetika (Campbell, 2003).
Adapun proses spesiasi ini dapat berlangsung secara cepat atau lama hingga
berjuta-juta tahun.
a. Peran Isolasi Geografi

Mayoritas para ahli biologi berpandangan bahwa faktor awal dalam proses
spesiasi adalah pemisahan geografis, karena selama populasi dari spesies yang
sama masih dalam hubungan langsung maupun tidak langsung gene flow masih
dapat terjadi, meskipun berbagai populasi di dalam sistem dapat menyimpang di
dalam beberapa sifat sehingga menyebabkan variasi intraspesies. Hal serupa juga
dikemukakan oleh Campbell dkk (2003) bahwa proses-proses geologis dapat
memisahkan suatu populasi menjadi dua atau lebih terisolasi. Suatu daerah
pegunungan bisa muncul dan secara perlahan-lahan memisahkan populasi
organisme yang hanya dapat menempati dataran rendah; atau suatu danau besar
bisa surut sampai terbentuk beberapa danau yang lebih kecil dengan populasi yang
sekarang menjadi terisolasi. Jika populasi yang semula kontinyu dipisahkan oleh
geografis sehingga terbentuk hambatan bagi penyebaran spesies, maka populasi
yang demikian tidak akan lagi bertukar susunan gennya dan evolusinya
berlangsung secara sendiri-sendiri. Seiring dengan berjalannya waktu, kedua
populasi tersebut akan makin berbeda sebab masing-masing menjalani evolusi
dengan caranya masing-masing
b. Peran Isolasi Reproduksi
Pengaruh isolasi geografis dalam spesiasi dapat terjadi karena adanya
pencegahangene flow antara dua sistem populasi yang berdekatan akibat faktor
ekstrinsik (geografis). Setelah kedua populasi berbeda terjadi pengumpulan
perbedaan dalam rentang waktu yang cukup lama sehingga dapat menjadi
mekanisme isolasi instrinsik. Isolasi instrinsik dapat mencegah bercampurnya dua

populasi atau mencegah interbreeding jika kedua populasi tersebut berkumpul


kembali setelah batas pemisahan tidak ada.
Spesiasi dimulai dengan terdapatnya penghambat luar yang menjadikan
kedua populasi menjadi sama sekali alopatrik (mempunyai tempat yang berbeda)
dan keadaan ini belum sempurna sampai populasi mengalami proses instrinsik
yang menjaga supaya supaya mereka tetap alopatrik atau gene pool mereka tetap
terpisah meskipun mereka dalam keadaan simpatrik (mempunyai tempat yang
sama).
Mekanisme isolasi intrinsik yang mungkin dapat timbul yaitu isolasi
sebelum perkawinan dan isolasi sesudah perkawinan.
1. Isolasi Sebelum Perkawinan (Pre-mating isolation/prezygotic barrier)

Isolasi sebelum perkawinan menghalangi perkawinan antara spesies


atau merintangi pembuahan telur jika anggota-anggota spesies yang berbeda
berusaha untuk saling mengawini. Isolasi ini terdiri dari:
Isolasi Ekologi (ecological)
Isolasi Tingkah laku (Behavioral)
Isolasi Sementara (temporal)
Isolasi Mekanik (mechanical)
Isolasi Gametis (gametic)
2. Isolasi Setelah Perkawinan (Post-mating isolation/Postzigotic barrier)
Hal ini terjadi jika sel sperma dari satu spesies membuahi ovum dari
spesies yang lain, maka barier postzigot akan mencegah zigot hibrida itu untuk
berkembang menjadi organisme dewasa yang bertahan hidup dan fertil.
Mekanisme ini dapat terjadi melalui:
Kematian zigot (zygotic mortality)
Perusakan hibrid (hybrid breakdown)
Sterilitas hibrid