Anda di halaman 1dari 8

MAKALAH PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

DINAMIKA DAN TANTANGAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN


DI INDONESIA

Disusun oleh :
Kelompok 2/KWN 23

VANIA DYTA P.
ZELIKA GITA SARI
ETIKA HANIF R
ERGI GUNTARA
HAMID TRI M.

(141710101007)
(141710101061)
(141710101091)
(141710101058)
(141710101100)

JURUSAN TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS JEMBER
2016

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Menurut (Azra dalam ICCE, 2003) bahwa istilah Pendidikan Kewargaan

pada satu sisi identik dengan Pendidikan Kewarganegaraan. Namun di sisi lain,
istilah Pendidikan Kewargaan secara substantif tidak saja mendidik generasi muda
menjadi warga negara yang cerdas dan sadar akan hak dan kewajibannnya dalam
konteks kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang merupakan penekanan
dalam istilah Pendidikan Kewarganegaraan, melainkan juga membangun kesiapan
warga negara menjadi warga dunia (global society). Dengan demikian, orientasi
Pendidikan Kewargaan secara substantif lebih luas cakupannya daripada
Pendidikan Kewarganegaraan.
Pendidikan

Kewarganegaraan

adalah

pendidikan

demokrasi

yang

bertujuan untuk mempersiapkan warga masyarakat berpikir kritis dan bertindak


demokratis, melalui aktivitas menanamkan kesadaran kepada generasi baru bahwa
demokrasi adalah bentuk kehidupan masyarakat yang paling menjamin hak-hak
warga masyarakat. Demokrasi adalah suatu learning process yang tidak dapat
begitu saja meniru dari masyarakat lain. Kelangsungan demokrasi tergantung pada
kemampuan mentransformasikan nilai-nilai demokrasi. Selain itu, Pendidikan
Kewarganegaraan adalah suatu proses yang dilakukan oleh lembaga pendidikan
dimana seseorang mempelajari orientasi, sikap dan perilaku politik sehingga yang
bersangkutan memiliki poltical knowledge, awareness, attitude, political efficacy
dan political participation serta kemampuan mengambil keputusan politik secara
rasional dan menguntungkan bagi dirinya, masyarakat, dan bangsa. Menurut
Soedijarto (dalam ICCE, 2003) mengartikan Pendidikan Kewarganegaraan
sebagai pendidikan politik yang bertujuan untuk membantu peserta didik untuk
menjadi warga negara yang secara politik dewasa dan ikut serta dalam
membangun sistem politik yang demokratis.

Masalah yang ditemui adalah antusiasme masyarakat khususnya


mahasiswa untuk belajar pendidikan kewarganegaraan yang masih tergolong
rendah disebabkan karena faktor-fakotr internal dan eksternal.
1.2

Tujuan
Adapun tujuan dari materi dinamika dan tantangan pendidikan

kewarganegaraan bangsa indonesia ini adalah


1. Membentuk Negara dimana masyarakatnya memiliki jiwa budi pekerti
luhur yang berpedoman UUD 1945 sehingga terwujudnya kondisi
yang aman tentram dan damai.
2. Mewujudkan sikap demokratis

dan

sebagai

tauladan

yang

berpendidikan bagi mahasiswa sehingga mencerminkan warga Negara


yang baik sesuai dengan ajaran pendidikan kewarganegaraan.
3. Mengembangkan pengetahuan tentang pendidikan kewarganegaaran
yang luas dan menerapkannya dalam kehidupan bermasyarakat
sehingga tercapainya negara yang demokratis.
1.3

Manfaat
Adapun manfaat yabg diperoleh dari mempelajari dinamika dan tantangan

pendidikan kewarganegaraan adalah :


1. Dengan mempelajari pendidikan kewarganegaraan negara indonesia
akan lebih memiliki jati diri ditinjau dari masyarakatnya yang berbudi
pekerti luhur.
2. Kita dapat mengetahui peran penting pendidikan kewarganegaraan
dalam membentuk sikap dan perilaku yang sesuai sebagai warganegara
indonesia yang baik.
3. Kita akhirnya mampu

mengetahui

sejauh

mana

pendidikan

kewarganegaraan yang diterima oleh mahasiswa khusunya pada era


globalisasi

seperti

saat

ini

dan

penerapannya

bermasyarakat.
BAB 2. PEMBAHASAN
2.1

Permasalahan

dikehidupan

Pendidikan kewarganegaraan merupakan suatu bentuk pendidikan yang


berisi tentang pentingnya nilai-nilai hak dan kewajiban suatu warga negara untuk
mencapai suatu tujuan bangsa, khususnya bangsa Indonesia juga membentuk
moral bangsa indonesia khususnya bagi individu seperti mahasiswa yang mulai
mengenal ideologi pancasila dan politik demokrasi, pada perkembangan zaman
seperti saat ini pendidikan kewarganegaraan mulai dipandang sebelah mata karena
kurangnya minat masyarakat mendalami ilmu kewarganegaraan. Banyak warga
negara Indonesia yang mendahulukan haknya kemudian melupakan kewajibannya
sebagai warga negara. Hal tersebut dapat menggambarkan bahwa warga tersebut
bukan merupakan warga negara yang baik karena tidak memperdulikan nilai-nilai
dan norma sebagai warga negara yang baik. Faktor yang menyebabkan pendidikan
kewarganegaraan dipandang sebelah mata datang dari sisi internal dan eksternal.
Sisi internal adalah sisi dimana masing-masing individu yang memiliki
niatan untuk menjadi warga negara yang baik atau tidak dengan mematuhi nilai
dan norma yang berlaku. Apabila individu tersebut ingin menjadi warga negara
yang

baik

maka

akan

berkeinginan

untuk

mempelajari

pendidikan

kewarganegaraan dan menerapkannya dalam kehidupan bermasyarakat. Pada era


saat ini jiwa nasionalisme warga Indonesia dinilai mulai berkurang, contohnya
adalah golongan orang-orang yang melakukan demo tanpa mempengetahui akar
masalah. Hal tersebut dapat menyebabkan konflik baru justru mencerminkan
bahwa jiwa nasionalisme yang mereka miliki rendah karena tujuan Pendidikan
Kewarganegaraan adalah mewujudkan warga negara sadar bela negara
berlandaskan pemahaman politik kebangsaan, dan kepekaan mengembangkan jati
diri dan moral bangsa dalam perikehidupan bangsa. Negara yang akan melangkah
maju membutuhkan daya dukung besar dari masyarakat, membutuhkan tenaga
kerja yang lebih berkualitas, dengan semangat loyalitas yang tinggi. Negara
didorong untuk menggugah masyarakat agar dapat tercipta rasa persatuan dan
kesatuan serta rasa turut memiliki. Masyarakat harus disadarkan untuk segera
mengabdikan dirinya pada negaranya, bersatu padu dalam rasa yang sama untuk
menghadapi krisis budaya, kepercayaaan, moral dan lain-lain. Negara harus
menggambarkan image pada masyarakat agar timbul rasa bangga dan keinginan

untuk

melindungi

serta

mempertahankan

Negara

kita.

Pendidikan

kewarganegaraan adalah sebuah sarana tepat untuk memberikan gambaran secara


langsung tentang hal-hal yang bersangkutan tentang kewarganegaraan pada
mahasiswa. Pendidikan kewarganegaraan sangat penting. Dalam konteks
Indonesia, pendidikan kewarganegaraan itu berisi antara lain mengenai pruralisme
yakni sikap menghargai keragaman, pembelajaran kolaboratif, dan kreatifitas.
Pendidikan itu mengajarkan nilai-nilai kewarganegaraan dalam kerangka identitas
nasional. Seperti yang pernah diungkapkan salah satu rektor sebuah universitas,
tanpa pendidikan kewarganegaraan yang tepat akan lahir masyarakat egois.
Tanpa penanaman nilai-nilai kewarganegaraan, keragaman yang ada akan menjadi
penjara dan neraka dalam artian menjadi sumber konflik. Pendidikan, lewat
kurikulumnya, berperan penting dan itu terkait dengan strategi kebudayaan.
Sisi eksternal yang menjadi faktor adalah dari lingkungan dan keluarga.
Faktor lingkungan ini biasanya disebabkan dari seorang warga negara yang
mudah terpengaruh pada teman-temannya yang bersikap sok cuek atau yang tidak
peduli terhadap tanah air atau sikap nasionalismenya kurang sedangkan untuk
keluarga setiap orang pasti tergantung dari didikan keluarganya, jika keluarganya
mendidik anaknya bagaimana sikap nasionalisme dan cara mejadi warga negara
yang baik.
2.2 Pembahasan
Sisi internal menjadi faktor yang sangat penting dalam peningkatan
tentang kewarganegaraan karena sisi internal berhubungan langsung dengan
masyarakat atau mahasiswa. Sisi internal berasal dari kemauan setiap individu
untuk menjadi pribadi yang baik sesuai dengan norma yang berlaku yang ia
peroleh salah satunya dengan mempelajari ilmu kewarganegaraan. Masyarakat
atau mahasiswa saat ini dianggap lebih mementingkan haknya daripada
kewajibannya. Jadi dikehendaki hak yang wajib mereka terima dapat diterima
dengan baik sehingga mereka memiliki kesadaran dan kepekaan untuk
melaksanakan kewajibannya. Sehingga pada mahasiswa yang biasanya mengikuti

demo yang tidak memiliki dasar yang kuat harus lebih memahami lebih dalam
tentang masalah yang dipermasalahkan sehingga mahasiswa dapat memutuskan
untuk memilih kegiatan yang dirasa lebih bermanfaat.
Sisi eksternal merupakan sisi pendukung apabila dari sisi internal telah
terbentuk dengan baik. Dalam hal ini harus ada sifat penguatan dalam sisi
positifnya sehingga ketika dari sisi eksternal kurang mendukung atau kurang baik,
setidaknya dari sisi positif telah terbentuk dengan baik. Diharapkan setelah sisi
internal terbentuk dengan baik maka kita dapat memilih untuk berada pada sisi
eksternal yang baik atau yang sesuai dengan hakikatnya. Salah satu sisi eksternal
yang telah dijelaskan dalam permasalahan diatas yaitu pada lingkungan jadi bagi
warga negara yang memiliki lingkungan yang kurang mendukung rasa
nasionalisme dapat menegur dan mengingat bahwa jiwa nasionalisme itu penting
dan membenarkan tindakan yang dirasa salah. Merangkul dengan cara mengajak
untuk melaksanakan kewajiban warga negara yang baik serta untuk menghindari
agar tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan sekitar yaitu dengan cara
menguatkan sisi internal dengan memperbanyak pengetahuan tentang bagaimana
menjadi warga negara yang baik.

BAB 3. PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat disampaikan dari permasalahan diatas yaitu :

a. Untuk menjadi warga negara yang baik seharusnya kita dapat melakukan
kewajiban sehingga kita dapat menerima hak kita dari negara Indonesia
b. Didalam penerapannya, seorang warga negara tidak patut terpengaruh
oleh faktor lingkungan dalam mencintai negaranya.
c. Sebagai generasi muda penerus bangsa kita harus menjunjung tinggi jiwa
nasionalisme demi kemajuan bangsa. Dimulai dari dalam diri kita sendiri.
3.2 Saran
Adapun saran yang dapat disampaikan untuk kedepannya yaitu sebagai
masyarakat dan mahasiwa di Indonesia kita harus memiliki jiwa nasionalisme
yang sesuai dengan norma norma karena majunya sebuah negara tergantung pada
warganya, sehingga jika warga negaranya tetap menjalankan kewajiban dan
mendapat hak maka negara Indonesia ini akan maju.

DAFTAR PUSTAKA

ICCE. 2003. Pendidikan Kewargaan (Civic Education): Demokrasi, HAM dan


Masyarakat Madani. Jakarta: Prenada Media.

Undang-Undang No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Sumarsono, dkk. 2001. Pendidikan Keawrganegaraan. Jakarta: Gramedia Pustaka


Utama.
Sukaya, dkk. 2002. Pendidikan Kewarganegaraan. Yogyakarta: Paradigma.

Winataputra, Udin S. 1999. Perkembangan Pendidikan Kewarganegaraan sebagai


Wahana Pendidikan Demokrasi di Indonesia (Paper). Disampaikan dalam
Worrshop on Civic Education Content Mapping, Oktober 18-19, 1999,
Hotel Papandayan, Bandung : CICED.