Anda di halaman 1dari 11

ABORTUS IMMINENS

Oleh
Andriawan Pujileksana
11 - 2006 - 021

Pembimbing
Dr. Zakaria, DSOG
Dr. Yenni, DSOG

KEPANITERAAN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI


RUSPAU dr. ESNAWAN ANTARIKSA
HALIM PERDANA KUSUMA
FK UKRIDA 2007

I. IDENTITAS PASIEN
Nama

: Ny. N

Nama Suami

: Tn. D K

Umur

: 27 tahun

Umur

: 30 tahun

Agama

: Islam

Agama

: Islam

Suku

: Jawa

Suku

: Jawa

Pekerjaan

: Ibu Rumah Tangga

Pekerjaan

: TNI AU

Alamat

: Griya Kukila

Alamat

: Griya Kukila

Tanggal masuk : 21 Juli 2007


II. ANAMNESIS
Autoanamnesa pada tanggal 21 Juli 2007 pukul 13.00
A. Keluhan utama

: Keluar darah dari kemaluan 3 hari SMRS

B. Keluhan tambahan

: sedikit mulas, Test pack (+)

C. Riwayat penyakit sekarang

Pasien datang dengan keluhan keluar darah dari kemaluan 3 hari SMRS. 4 hari SMRS
pasien periksa kehamilan di BKIA RUSPAU Halim PK lalu tes laboratorium dan dinyatakan
hamil. Pada sore hari, dirumah, pasien mengangkat kardus berisi besi-besi yang cukup berat,
kemudian dimalam harinya sekitar jam 8 malam perut terasa melilit seperti hendak
menstruasi, karena sakitnya pasien kemudian beristirahat dan tidur. Pagi hari sekitar jam 4
pagi, pasien bangun dan mengetahui keluarnya darah yang cukup banyak menurut pasien,
darah berwarna merah seperti darah haid tetapi tidak bergumpal.
Pasien kembali istirahat, pada sekitar jam 6 sore pasien berkemih dan darah kembali
keluar kali ini disertai gumpalan darah kecil-kecil. Jam 8 malam pasien periksa ke bidan dan
diperiksa dalam, bidan megatakan bahwa janin sudah keluar. Kemudian pasien diberi obat :
MecoHem 1 x 1 tab, Amoxicillin 500mg 3 x 1 kap, Opistan 500mg 3 x 1, dan Metiagin
0.125mg 3 x 1 tab. Setelah minum obat, darah berhenti keluar sampai saat pasien masuk
RS, pasien mencoba Test Pack hasilnya Positif
D. Riwayat Menstruasi :
Menarche 14 tahun, siklus haid teratur 30 hari, lamanya 10 hari, banyaknya 3 x ganti
pembalut, nyeri haid (-), HPHT 27 Mei 2007, TP 3 Februari 2008
E. Riwayat perkawinan
Menikah pada usia 20 tahun, 1 kali dengan suami sekarang, perkawinan 7 tahun
F. Riwayat kehamilan dan kelahiran sebelumnya :
1. laki-laki, tunggal, hidup, usia 6 tahun, secara spontan normal ditolong bidan
2. hamil saat ini

G. Riwayat kehamilan sekarang :


G2 P1 A0 H7 minggu, Mual (-), muntah (-)
H. Riwayat KB :
Tidak ada
I. Riwayat penyakit dahulu :
Disangkal
J. Riwayat operasi :
Disangkal
K. Riwayat penyakit keluarga :
Disangkal
L. Riwayat kebiasaan diri pribadi :
Merokok, minuman alkohol, jamu disangkal
III. PEMERIKSAAN FISIK
A. Status generalis
Keadaan umum

: Sakit sedang

Kesadaran

: CM

Tekanan darah

: 120 / 80 mmhg

Nadi

: 88x / menit

Suhu

: 36,6 C

Pernapasan

: 24x / menit

TB / BB

: 158 cm / 58 kg

Kepala

: rambut hitam, merata, tidak mudah tercabut

Mata

: konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik

Hidung

: septum deviasi (-)

Mulut

: tidak kering, tidak sianosis

Leher

: KGB tidak teraba membesar

Thoraks
Cor

: Bunyi Jantung I - II reguler, Murmur (-), Gallop (-)

Pulmo

: Suara nafas vesikuler Ronkhi (- / -), Wheezing (- / -)

Abdomen

: lihat status obstetrik

Anogenital

: lihat status obstetrik

Ekstremitas

: akral hangat, edema tungkai - / -

B. Status Obstetrik
Pemeriksaan Luar
Abdomen

Inspeksi

: sedikit membuncit

Perkusi

: timphani

Palpasi

: nyeri tekan perut bawah (-). Defans muskular (-)

Auskultasi

: bisng usus (+) normal

Pemeriksaan Dalam
Anogenital

Inspeksi

: vulva / uretra tidak ada darah

VT

: tidak dilakukan

C. Pemeriksaan Penunjang

1. Laboratorium

: tidak dilakukan

2. U S G

: Tampak janin berada dalam kavum uteri sesuai usia kehamilan

VI. RESUME
Pasien wanita, usia 27 tahun dengan keluhan keluar darah dari kemaluan 3 hari SMRS,
tes laboratorium dinyatakan hamil. Sore hari, mengangkat beban berat, kemudian malam hari
perut melilit seperti hendak menstruasi. Pagi jam 4 pagi, keluar darah cukup banyak,
berwarna merah tidak bergumpal.
Jam 6 sore keluar darah disertai gumpalan kecil-kecil. Jam 8 malam ke bidan dinyatakan
janin sudah keluar. Pasien mendapat obat : MecoHem 1x1 tab, Amoxicillin 500mg 3x1 kap,
Opistan 500mg 3x1, dan Metiagin 0.125mg 3x1 tab. Setelah minum obat, darah berhenti
keluar sampai saat pasien masuk RS, Test Pack hasilnya masih Positif.
Dari pemeriksaan didapatkan :
Status Generalis
KU / Kesadaran

: Sakit sedang / CM

Tekanan darah

: 120/80 mmhg

Nadi

: 88x/ menit

Suhu

: 36,6 C

Pernapasan

: 24x/ menit

Status Obstetrik
Abdomen

Inspeksi

: sedikit membuncit

Perkusi

: timphani

Palpasi

: nyeri tekan perut bawah (-). Defans muskular (-)

Auskultasi

: bisng usus (+) normal

Anogenital

Inspeksi

: vulva / uretra tidak ada darah

VT

: tidak dilakukan

V. DIAGNOSIS
G2 P1 Ao H7 minggu dengan Abortus Imminens
VI. PROGNOSIS
Ibu

Ad vitam

: Dubia ad bonam

Ad functionam : Dubia ad bonam


Ad sanationam : Dubia ad bonam
Janin

Ad vitam

: Dubia ad malam

Ad funcionam

: Dubia ad malam

Ad snationam

: Dubia ad malam

VII. PENATALAKSANAAN
1. Perencanaan diagnostik :
Pemeriksaan USG
2. Perencanaan Terapi
Medikamentosa
-

IVFD RL 500 cc 16 tetes/menit

Bricasma 2 ampul per drip RL

Profenid Supp 3 X 1

3. Edukasi

Memberi pengertian kepada pasien dan keluarga terutama suami tentang keadaaan
pasien saat ini. Menulis surat keterangan persetujuan atas tindakan medis yang akan
dilakukan (kuretase) .
FOLLOW UPS
Tanggal 21 Juli 2007 (Pukul 13.00)
S : Sedikit mulas
O : KU / Kes

: Sakit sedang / CM

Tensi

: 120 / 80 mmHg

Suhu

: 36,6 OC

Nadi

: 88 X / menit

RR

: 22 X / menit

A : G2 P1 A0 H7 minggu + abortus imminens


P : IVFD RL 16 tetes/menit
Bricasma 2 ampul per drip RL
Profenid Supp 3 X 1

Tanggal 21 Juli 2007 (Pukul 18.00)


S : Tidak ada, darah tidak keluar
O : KU / Kes

: Sakit sedang / CM

Tensi

: 110 / 60 mmHg

Suhu

: 37,3 OC

Nadi

: 75 X / menit

RR

: 22 X / menit

A : G2 P1 A0 H7 minggu + abortus imminens


P : IVFD RL 16 tetes/menit
Bricasma 2 ampul per drip RL
Profenid Supp 3 X 1
Tanggal 22 Juli 2007 (Pukul 24.00)
S : Tidak ada, darah tidak keluar
O : KU / Kes

: Sakit sedang / CM

Tensi

: 100 / 60 mmHg

Suhu

: 37,1 OC

Nadi

: 92 X / menit

RR

: 24 X / menit

A : G2 P1 A0 H7 minggu + abortus imminens


P : IVFD RL 16 tetes/menit
Bricasma 2 ampul per drip RL
Profenid Supp 3 X 1
Tanggal 22 Juli 2007 (Pukul 06.00)
S : Tidak ada, darah tidak keluar
O : KU / Kes

: Sakit sedang / CM

Tensi

: 110 / 70 mmHg

Suhu

: 36,3 OC

Nadi

: 90 X / menit

RR

: 24 X / menit

A : G2 P1 A0 H7 minggu + abortus imminens


P : IVFD RL 16 tetes/menit
Bricasma 2 ampul per drip RL
Profenid Supp 3 X 1
Tanggal 22 Juli 2007 (Pukul 12.00)
S : Tidak ada, darah tidak keluar
O : KU / Kes

: Sakit sedang / CM

Tensi

: 120 / 60 mmHg

Suhu

: 37,2 OC

Nadi

: 70 X / menit

RR

: 22 X / menit

A : G2 P1 A0 H7 minggu + abortus imminens


P : Terapi dilanjutkan

Tanggal 22 Juli 2007 (Pukul 18.00)


S : Tidak ada, darah tidak keluar
O : KU / Kes

: Sakit sedang / CM

Tensi

: 100 / 60 mmHg

Suhu

: 37 OC

Nadi

: 80 X / menit

RR

: 22 X / menit

A : G2 P1 A0 H7 minggu + abortus imminens


P : Terapi dilanjutkan
Tanggal 23 Juli 2007 (Pukul 24.00)
S : Tidak ada, darah tidak keluar
O : KU / Kes

: Sakit sedang / CM

Tensi

: 110 / 60 mmHg

Suhu

: 36 OC

Nadi

: 80 X / menit

RR

: 24 X / menit

A : G2 P1 A0 H7 minggu + abortus imminens


P : Terapi dilanjutkan
Tanggal 23 Juli 2007 (Pukul 06.00)
S : Tidak ada
O : KU / Kes

: Sakit sedang / CM

Tensi

: 100 / 60 mmHg

Suhu

: 36,3 OC

Nadi

: 74 X / menit

RR

: 20 X / menit

A : G2 P1 A0 H7 minggu + abortus imminens


P : Terapi dilanjutkan
Pro Curretage
Tanggal 23 Juli 2007 (Pukul 12.00)
S : Tidak ada
O : KU / Kes

: Sakit sedang / CM

Tensi

: 100 / 70 mmHg

Suhu

: 36,3 OC

Nadi

: 88 X / menit

RR

: 22 X / menit

A : G2 P1 A0 H7 minggu post curretage a/I abortus imminens


P : Terapi dilanjutkan
Observasi TNSP
Pasien boleh pulang

TINJAUAN PUSTAKA
ABORTUS
DEFINISI
Abortus adalah suatu proses berahkirnya suatu kehamilan, dimana janin belum mampu
hidup diluar rahim (belum viable); dengan kriteria usia kehamilan < 20 minggu atau berat janin <
500 gram.
ETIOLOGI
1. Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi
a. Kelainan kromosom (Trisomi, Monosomi X, Triploidi, Polisomi, kromosom seks)
b. Lingkungan kurang sempurna.
c.

Pengaruh dari luar; radiasi, virus, obat-obatan.

2. Kelainan plasenta.
Misalnya endarteritis villi korialis karena hipertensi menahun.
3. Penyakit pada ibu.
Penyakit mendadak seperti Pneumonia, Tifus abdominalis, Pielonefritis, dan malaria.
4. Kelainan traktus genitalis.
a. Retroversia uteri gravidi inkarserata
b. Mioma uteri sub mukosa
c.

Kelainan bawah uterus

d. Serviks inkompeten yang disebabkan kelainan bawaan pada serviks, dilatasi serviks
berlebih, konisasi, atau robekan luas yang tidak dijahit.
JENIS ABORTUS
1. Abortus imminens (Threatened abortion, abortus mengancam)
ialah peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu,
dimana hasil konsepsi masih dalam uterus, dan tanpa adanya dilatasi serviks.
2. Abortus insipiens (Inevitable aborton, abortus sedang berlangsung)
ialah peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu
dengan adanya dilatasi serviks uteri yang meningkat, tetapi hasil konsepsi masih dalam
uterus.
3. Abortus inkompletus
ialah pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan
masih ada sisa tertinggal dalam uterus.

4. Abortus kompletus
ialah proses abortus dimana keseluruhan hasil konsepsi telah keluar melalui jalan lahir.
5. Abortus servikalis
ialah bila keluarnya hasil konsepsi dari uterus dihalangi oleh ostium uteri eksternum yang
tidak membuka, sehingga semuanya terkumpul dalam kanalis servikalis dan serviks uteri
menjadi besar, kurang-lebih bundar, dengan dinding menipis.
6. Missed abortion
ialah kematian janin berusia sebelum 20 minggu, tetapi janin mati itu tidak dikeluarkan
selama 8 minggu atau lebih.
7. Abortus habitualis
ialah abortus spontan yang terjadi 3 kali atau lebih berturut-turut.
8. Abortus infeksiosus
ialah abor tus yang disertai infeksi pada genitalia.
9. Abortus septik
ialah abortus infeksiosus berat disertai penyebaran kuman atau toksin ke dalam
peredaran darah atau peritoneum.
KRITERIA DIAGNOSIS

Adanya terlambat haid atau amenorea kerang dari 20 minggu.

Perdarahan pervaginam dapat pula disertai jaringan.

Rasa nyeri atau kram, terutama di daerah supra simpisis.

Diagnosis abortus imminens ditegakkan dengan terjadinya perdarahan pada


wanita hamil kurang dari 20 minggu, kadang disertai rasa mules, uterus
membesar sebagaimana kehamilan, serviks dijumpai tidak membuka dan tes
kehamilan positif.

Abortus inkompletus jika sebagian hasil konsepsi telah keluar, namun sebagian
masih tertinggal intrauterus. Ostium uteri eksternum dijumpai terbuka, kadangkadang teraba adanya jaringan atau bahkan kadang menonjol di ostium.

Abortus kompletus apabila keseluruhan jaringan hasil konsepsi telah keluar


secara lengkap, ostium uteri telah menutup dan uterus sudah banyak mengecil.

Missed abortion biasanya ditandai dengan adanya pengecilan ukuran uterus


hamil, oleh karena itu sering kali diagnosis ditegakkan setelah melalui beberapa
kali pemeriksaan serial. Sering kali missed abortion didahului dengan abortus
imminens yang kemudian menghilang spontan atau setelah diobati.

Abortus infeksiosus bila terlihat tanda-tanda infeksi yakni kenaikan suhu tubuh
(>38,5o C), kenaikan angka lekosit (WBC) dan discharge berbau pervaginam.

Abortus septik bila ditandai dengan tanda-tanda sepsis, seperti nadi cepat dan
lemah, syok dan penurunan kesadaran.

PEMERIKSAN PENUNJANG
Pemeriksaan penunjang ini diperlukan dalam keadaan abortus imminens, abortus habitualis,
serta missed abortion.
1. Pemeriksaan Ultrasonographi atau Doppler untuk menentukan apakah janin masih hidup
atau tidak, serta menentukan prognosis.
2. Pemeriksaan kadar fibrinogen pada missed abortion.
3. Tes kehamilan.
4. Pemeriksaan lain sesuai dengan keadaan dan diagnosis pasien.
TERAPI

Penanganan abortus imminens dapat berupa istirahat baring. Tidur berbaring


merupakan unsur penting dalam pengobatan, karena cara ini menyebabkan
bertambahnya aliran darah ke uterus dan berkurangnya rangsang mekanik.

Abortus insipien pada prinsipnya dilakukan evakuasi atau pembersihan kavum


uteri (DK atau Suction Kuretase) sesegera mungkin. (DK = Dilatasi dan
Kuretase).

Abortus inkompletus ditangani hampir sama dengan abortus insipien, kecuali jika
pasien dalam keadaan syok karena perdarahan banyak, maka harus dilakukan
resusitasi cairan (bahkan kalau perlu tranfusi) untuk mengatasi syoknya terlebih
dahulu. DK atau Suction Kuretase dapat dilakukan setelah syok diatasi.

Abortus kompletus tidak memerlukan tindakan DK, mungkin perlu tranfusi dan
pengobatan suportiflainya untuk anemia.

Pada missed abortion dengan kadar fibrinogen normal dapat segera dilakukan
DK, tetapi jika fibrinogen rendah perli diberikan dulu fibrinogen atau darah segar.
Kuretase pada missed abortion sering kali cukup sulit, karena hasil konsepsi
melekat sangat erat pada dinding uterus.

Abortus infeksiosus sebaiknya tidak langsung dilakukan evakuasi, melainkan


diberikan dahulu payung antibiotik selama sedikitnya 48 jam dan kemudian baru
dilakukan evakuasi. Tanpa payung antibiotika, tindakan kuretase justru dapat
mengakibatkan sepsis.

Pada keadaan abortus septik, tidak dapat dilakukan tindakan, sebelum keadaan
sepsisnya teratasi.

PENYULIT
1. Anemia :
Biasanya tipe hemoragik dan pengobatannya dengan pemberian darah atau komponen
darah.
2. Infeksi :
Umumnya tejadi dari luar (akibat penanganan yang tidak memadai, misalnya abortus
provokatus oleh dukun), tapi dapat juga setelah tindakan di RS. Dalam keadaan infeksi
sebaiknya tidak dilakukan evakuasi dulu sebelum diberikan payung antibiotik.
3. Perforasi :
Biasanya adalah akibat tindakan profokatus atau pada saat dilakukan kuretase. Untuk
mencegahnya diberikan uterotonika, lakukan sonde untuk menentukan arah dan ukuran
uterus.
INFORMED CONSENT
Diperlukan pada setiap tindakan kuretase.
LAMA PERAWATAN
Kecuali jika terjadi komplikasi, perawatan terhadap pasien biasanya tidak perlu (pasien bisa
langsung dapat pulang) setelah observasi perdarahan selama 2 jam pertama.
PATOLOGI ANATOMI
Jaringan hasil konsepsi yang dilakukan kuretase dapat dikirim ke laboratorium PA, jika fasilitas
memungkinkan.
DIAGNOSIS BANDING
1. KET : Nyeri lebih hebat dibandingkan abortus.
2. Mola hidatidosa : Uterus biasanya lebih besar dari pada lamanya amenore dan muntah
lebih sering.
3. Kehamilan dengan kelainan serviks seperti karsinoma servisi uteri, polipus uteri, dsb.

10