Anda di halaman 1dari 19

I.

Tujuan
1. Memahami prinsip pengukuran melalui rangkaian RLC.
2. Menentukan nilai suseptibilitas dan permeabilitas bahan-bahan magnet.

II.
II.1

Teori Dasar
Magnet
Magnet atau magnit adalah suatu obyek yang mempunyai suatu medan

magnet. Asal kata magnet diduga dari kata magnesia yaitu nama suatu daerah di
Asia kecil. Menurut cerita di daerah itu sekitar 4.000 tahun yang lalu telah
ditemukan sejenis batu yang memiliki sifat dapat menarik besi atau baja atau
campuran logam lainnya. Benda yang dapat menarik besi atau baja inilah yang
disebut magnet. Magnet dapat dibuat dari bahan besi, baja, dan campuran logam
serta telah banyak dimanfaatkan untuk industri otomotif dan lainnya. Sebuah
magnet terdiri atas magnet-magnet kecil yang memiliki arah yang sama (tersusun
teratur), magnet-magnet kecil ini disebut magnet elementer. Pada logam yang
bukan magnet, magnet elementernya mempunyai arah sembarangan (tidak teratur)
sehingga efeknya saling meniadakan, yang mengakibatkan tidak adanya kutubkutub magnet pada ujung logam. Setiap magnet memiliki dua kutub, yaitu: utara
dan selatan. Kutub magnet adalah daerah yang berada pada ujung-ujung magnet
dengan kekuatan magnet yang paling besar berada pada kutub-kutubnya[2].

Gambar 1. Gaya saling-tolak dan saling-tarik pada magnet, serupa dengan


gaya Coulomb dalam Elektrostatik[3]
Magnet dapat menarik benda lain, beberapa benda bahkan tertarik lebih kuat
dari yang lain, yaitu bahan logam. Namun tidak semua logam mempunyai daya
tarik yang sama terhadap magnet. Besi dan baja adalah dua contoh materi yang
mempunyai daya tarik yang tinggi oleh magnet. Sedangkan oksigen cair adalah
contoh materi yang mempunyai daya tarik yang rendah oleh magnet. Satuan
intensitas magnet menurut sistem metrik Satuan Internasional (SI) adalah Tesla

dan SI unit untuk total fluks magnetik adalah weber (1 weber/m2 = 1 tesla) yang
mempengaruhi luasan satu meter persegi[2].
II.2

Medan Magnet
Medan magnet adalah daerah di sekitar magnet yang masih merasakan

adanya gaya magnet. Jika sebatang magnet diletakkan dalam suatu ruang, maka
terjadi perubahan dalam ruangan ini karena setiap titik dalam ruangan tersebut
akan terdapat medan magnetik. Arah medan magnetik suatu ruangan didefinisikan
sebagai arah yang ditunjukkan oleh kutub utara jarum kompas yang diletakkan
disekitar medan magnet tersebut[2].

Gambar 2. Garis Gaya Medan yang Selalu Mengarah dari Kutub Utara ke
Selatan[3]
Sebagaimana pada muatan listrik, sebuah dipol magnet (yang merupakan
satuan terkecil magnet) memiliki medan magnet yang arahnya dari kutub utara
menuju kutub selatan selatan. Hal ini mirip seperti pada muatan listrik positif,
medan listrik mengarah keluar menjauhi muatan, dan pada muatan negatif
sebaliknya. Benda-benda logam (magnetik) yang berada di sekitar medan magnet
akan mengalami gaya magnetik, seperti halnya gaya coulomb pada listrik[3].
2.3 Bahan Magnetik
Bahan magnetik adalah suatu bahan yang memiliki sifat kemagnetan dalam
komponen pembentuknya, dan terpengaruh oleh medan magnet berupa
penyearahan dipol-dipol megnetik pada bahan (magnetisasi). Magnetisasi
didefinisikan sebagai momen dipol magnet (m) persatuan volume (V). Secara
matematis dapat ditulis[1] :

M=

m
V

Dimana :
M = magnetisasi yang timbul pada bahan
m = momen dipole magnet
V = Volume
Momen dipol magnet pada sebuah atom bebas berasal dari 3 sumber utama,
yaitu:
1. Spin elektron (dari elektron yang disubsidi)
2. Orbital elektron
3. Perubahan momen magnet orbit yang diinduksi oleh medan magnet luar.
Arah momen dipol magnetik dari atom bahan non magnetik adalah acak
sehingga momen magnetik resultannya menjadi nol. Sebaliknya didalam bahanbahan magnetik, arah momen magnetik atom-atom bahan itu teratur sehingga
momen magnetik resultan tidak nol[1].

(a)

(b)

Gambar 3. Momen Magnetik Benda Magnetik (a) dan Benda Non-Magnetik (b) [2]

Menurut sifatnya terhadap adanya pengaruh kemagnetan, bahan dapat


digolongkan menjadi 5 yaitu[4]:
a. Diamagnetik
Bahan diamagnetik adalah bahan yang resultan medan magnet atomis masingmasing atom atau molekulnya nol, tetapi orbit dan spinnya tidak nol (Halliday &
Resnick, 1989). Bahan diamagnetik tidak mempunyai momen dipol magnet
permanen. Jika bahan diamagnetik diberi medan magnet luar, maka elektronelektron dalam atom akan berubah gerakannya sedemikian hingga menghasilkan
resultan medan magnet atomis yang arahnya berlawanan.
b. Paramagnetik

Bahan paramagnetik adalah bahan yang resultan medan magnet atomis masingmasing atom/molekulnya tidak nol, tetapi resultan medan magnet atomis total
seluruh atom/molekul dalam bahan nol. Hal ini disebabkan karena gerakan
atom/molekul acak, sehingga resultan medan magnet atomis masing-masing atom
saling meniadakan. Bahan ini jika diberi medan magnet luar, maka elektronelektronnya akan berusaha sedemikian rupa sehingga resultan medan magnet
atomisnya searah dengan medan magnet luar. Sifat paramagnetik ditimbulkan oleh
momen magnetik spin yang menjadi terarah oleh medan magnet luar. Pada bahan
ini, efek diamagnetik (efek timbulnya medan magnet yang melawan medan
magnet penyebabnya) dapat timbul, tetapi pengaruhnya sangat kecil.
c. Ferromagnetik
Bahan ferromagnetik adalah bahan yang mempunyai resultan medan atomis besar.
Hal ini terutama disebabkan oleh momen magnetik spin elektron. Pada bahan
ferromagnetik banyak spin elektron yang tidak berpasangan, misalnya pada atom
besi terdapat empat buah spin elektron yang tidak berpasangan. Masing-masing
spin elektron yang tidak berpasangan ini akan memberikan medan magnetik,
sehingga total medan magnetik yang dihasilkan oleh suatu atom lebih besar.
d. Antiferromagnetik
Jenis ini memiliki arah domain yang berlawanan arah dan sama pada kedua arah.
Arah domain magnet tersebut berasal dari jenis atom sama pada suatu kristal.
Contohnya MnO, MnS, dan FeS. Pada unsur dapat ditemui pada unsur Cromium,
tipe ini memiliki arah domain yang menuju dua arah dan saling berkebalikan.
Jenis ini memiliki temperature Curie yang rendah sekitar 37 C untuk menjadi
paramagnetik.
e. Ferrimagnetik
Jenis tipe ini hanya dapat ditemukan pada campuran dua >errom antara
>erromagneti dan >erromagnetic seperti magnet barium ferrite dimana barium
adalah jenis >erromagneti dan Fe adalah jenis >errom yang masuk
>erromagnetic.

(a)

(b)

(d)

(c)

(e)

Gambar 4. Arah Domain (a) Diamagnetik (b) Paramagnetik (c) Ferromagnetik


(d) Antiferromagnetik dan (e) Ferrimagnetik[4]
2.4 Suseptibilitas dan Permeabilitas Bahan Magnet
Suseptibilitas magnetik bahan merupakan kecenderungan suatu material
untuk menjadi bahan magnet dalam pengaruh medan magnet luar, atau sifat
kemagnetan suatu bahan yang ditunjukkan dengan adanya respon terhadap medan
magnet luar. Dimana nilai suseptibilitas ini dilambangkan dengan m dengan
satuan A/m. nilai m ini sebanding dengan rasio magnetisasi bahan M dan kuat
medan magnet luar yang diberikan H[5]
m=

M
H

Dengan :
M = magnetisasi yang timbul pada bahan
H = kuat medan magnet yang diberikan pada bahan
m = suseptibilitas magnetik bahan
Dimana ada tiga kelompok bahan menurut nilai suseptibilitas magnetnya[5] :
1. m < 0 : bahan diamagnetic
2. m > 0, namun m << 1 : bahan paramagnetic
3. m> 0, dan m>> 1 : bahan feromagnetik

Gambar 5. Kurva Suseptibilitas Bahan Diamagnetik, Paramagnetik dan


Ferromagnetik[5]
Permeabilitas bahan magnet adalah ukuran kemampuan suatu bahan untuk
membentuk medan magnet didalamnya atau sebagai kemampuan suatu baha untuk
menerima medan magnetik luar. Dimana permeabilitas ini didefinisikan sebagai
perbandingan antara kerapatan magnetik (B) dalam bahan dan kuat medan magnet
luar

(H).

permeabilitas

suatu

bahan

merupakan

sifat

penting

untuk

mempertimbangkan sifat magnet suatu material.


B
=
H
Berdasarkan permeabilitas magnetik ( m) bahan magnetik dapat diklasifikasikan
menjadi tiga kelompok yaitu; diamagnetik ( m<0), paramagnetik ( m> 0) dan
ferromagnetik ( m>> 0). Satuan SI dari permeabilitas adalah Henry per meter
(Hm-1). Dimana hubungan antara B, H, dan m adalah diungkapkan sebagai
berikut[1] :

B=
H

= 0 r

dan r=1+m

B=
0 r H

B=
0 (1+m ) H

B=
0 H + 0 m H

B=
0 H + 0 M


B=
0(H + M )

2.5 Rangkaian RLC


Rangkaian RLC adalah rangkaian elektronika yang didalamnya terdapat tiga buah
komponen, yakni resistor, induktor, dan kapasitor. Penamaan rangkaian RLC ini
bukan tanpa alasan, karena nama RLC menjadi sebuah simbol listrik untuk
ketahanan, induktansi, serta kapasitansi. Rangkaian RLC dapat membentuk
sebuah sistem persamaan diferensial orde kedua atau bisa juga dua persamaan
diferensial orde pertama, dimana persamaan diferensial tersebut diselesaikan
secara simultan. Berikut adalah rumus frekuensi resonansi dari rangkaian RLC
yang harus anda ketahui.

0 =

1
LC

Dimana :
0

= Frekuensi resonansi (Hz)

L = Nilai induktansi (H)


C = Nilai kapasitansi (F)
Dalam rangkaian RLC kita mengenal dua jenis bagiannya yakni rangkaian RLC
seri dan rangkaian RLC parallel. Perbedaan dari kedua rangkaian ersebut tentunya
terletak pada penyusunan komponen resistor, induktor dan kapasitornya, dimana
yang satu dipasang seri dan yang satu lagi dipasang secara parallel. Perbedaan
model pemasangan tersebut bukan tanpa maksud. Terdapat beberapa perbedaan
hasil yang dotampilkan oleh kedua rangkaian tersebut.
Rangkaian RLC Seri

Gambar 6.Rangkaian Seri RLC[6]


Rangkaian seri RLC adalah rangkaian elektronika yang tersusun atas resistor,
induktor dan kapasitor yang dihubungkan secara seri, dengan sumber tegangan
bolak-balik atau tegangan AC. Pada rangkaian RLC seri, hambatan arus tegangan
sefase, induktor tegangan mendahului arus, serta kapasitor tegangan didahului
arus.
Rangkaian RLC Paralel

Gambar 7.Rangkaian Paralel RLC[6]


Rangkaian paralel RLC adalah rangkaian elektronika yang tersusun atas resistor,
induktor dan kapasitor yang dihubungkan secara paralel, dengan sumber tegangan
bolak-balik atau tegangan AC. Pada rangkaian RLC paralel, terjadi pembagian
arus listrik dari sumber menjadi tiga, yakni mengarah ke resistor, induktor dan
kapasitor.
III.
Metodologi Percobaan
III.1 Alat dan Bahan
1. Perangkat sinyal Fungction Generator dan Oscilloscope Digital.
2. Perangkat rangkaian RLC, (R= 220, C= 220F dan L).

3. Bahan padat magnet, aluminium, dan ferit.


3.2 Prosedur Percobaan
1. Menghitung nilai komponen-komponen untuk rangkaian RLC seperti nilai
kapasitor yang digunakan, resistor, banyak lilitan dan tinggi lilitan yang
digunakan sebagai induktor.
2. Menyusun rangkaian pada protoboard untuk rangkaian RLC parallel.
3. Melakukan kalibrasi untuk masing-masing probe yang akan digunakan pada
oscilloscope.
4. Menghubungakan rangkaian yang telah dibuat pada protoboard ke sumber
tegangan sebesar 5V, Function Generator dan Oscilloscope.

5. Memberikan

Gambar . Rangkaian Percobaan


frekuensi input pada rangkaian dan

mengamati

hasil

keluarannya.
6. Setelah diberikan frekuensi input pada rangkaian, ternyata bentuk sinyal
keluaran kurang baik. Dimana salah satu channel ada yang tidak menampilkan
nilai frekuensi outputnya. Dan untuk tegangannya, dimana tegangan input dan
output memiliki nilai yang sama. Padahal seharusnya nilai tegangan output
selalu memiliki nilai yang lebih kecil dibanding input karena telah melewati
rangkaian.
7. Rangkaian dicek ulang dan mengulangi kembali rangkaian.
8. Yang terjadi adalah ketika nilai frekuensi input terus dicoba dengan
mengganti-ganti nilainya, namun hasil yang ditampilkan Oscilloscope selalu
tidak sesuai. Karena hasil pratikum tidak sesuai, maka praktikum diulang pada
tanggal 21 April 2016.

9. Praktikum diulang pada tanggal 21 April 2016, namun hasilnya masih tidak
sesuai. Sehingga asisten memutuskan untuk menggunakan data praktikum
kelompok sebelumnya.
10. Jika melakukan percobaan langsung maka hal yang dilakukan adalah pertama
untuk bahan udara yakni mengiputkan frekuensi sebesar 20 sampai 60 Hz, lalu
mencatat nilai F in, F out, V in dan Vout. Jika data dirasa sudah cukup dimana
ada nilai Vout yang paling tinggi diantara lainnya, maka dilakukan hal yang
sama untuk percobaan selanjutnya dengan memberikan bahan ferit, aluminium
dan magnet kedalam lilitan.

IV.
Pengolahan Data
1. Menentukan Frekuensi Acuan
f resonansiacuan=

1
2 LC

2. Menentukan KSR Fresonansi


f
f
KSR= resonansiacuan resonansipercobaan x 100
f resonansiacuan

3. Menentukkan Induktansi Percobaan


L percobaan=

4.

1
4 fres 2 C
2

Menentukan Permeabilitas Bahan (


percobaan =

percobaan

L percobaan. l
2

N A

5. Menentukan Suseptibilitas Bahan (


=

percobaan
1
0

Contoh Pengolahan Data untuk Udara


Diketahui : L = 70 mH, C = 220F, A = 0,0011775 m, N = 50 lilitan

f resonansiacuan=

f resonansiacuan=

1
2 LC
1
2.3,14 70 x 103 220 x 106

f resonansiacuan=40,58 Hz

F (Hz)

F input (Hz)

F output (Hz) V input (V)

Vout (mV)

20

21,05

21,16

2,12

4,40

30

30,24

31,56

2,10

4,40

40

40,37

42,74

2,10

7,6

50

50,57

50,34

2,08

4,2

60

60,39

58,82

2,10

5,2

Nilai Vout maksimum didapat pada saat frekuensi output = 42,74 Hz (disebut
frekuensi resonansi)

KSR=

f resonansiacuanf resonansipercobaan
x 100
f resonansiacuan

|40,5842,74
|x 100
40,58

KSR=

KSR = 5,33 %
sehingga didapat nilai induktansi dengan menggunakan rumus:
L percobaan=

1
4 fres 2 C

L percobaan =

1
2
6
4.(3,14) ( 42,72) .220 x 10

L percobaan =0,063094 H
Dari nilai induktansi percobaan (Lpercobaan) yang didapat maka dapat ditentukan
nilai permeabilitas bahan dengan menggunakan rumus:

percobaan =

L percobaan. l
N2 A
2

percobaan =

0,063094 . 1,5 x 10
( 50 )2 .(0,0011775)
4

percobaan =3,21 x 10 H /m
percobaan

Nilai

dapat digunakan untuk menentukan nilai suseptibilitas bahan,

digunakan rumus:
=

percobaan
1
0

Dengan
=

adalah permebilitas di ruang hampa yang nilainya 12,56 x 10-7 H/m

3,21 x 104
1
12,56 x 107

=254,9704

Dengan menggunakan rumus yang sama maka diperoleh hasil perhitungan sebagai
berikut :

Grafik Hubungan Fout terhadap Vout untuk Masing-masing Bahan

Udara

Ferit

Aluminium

Magnet

V.

Pembahasan Hasil
Pada praktikum kali ini yang dilakukan untuk menentukan nilai

suseptibilitas dan permeabilitas digunakan beberapa bahan atau medium


diantaranya adalah udara, ferit, aluminium dan magnet. Dimana pada percobaan
rangkaian yang digunakan adalah rangkaian RLC paralel yang selanjutnya nilai
yang didapatkan adalah frekuensi resonansi rangkaian tersebut. Dari setiap kali
percobaan untuk tiap bahan atau medium yang berbeda digunakan nilai frekuensi
input yang berbeda dan frekuensi resonansi didapatkan adalah nilai frekuensi
output ketika tegangan output (Vout) pada rangkaian mencapai nilai
maksimumnya sesuai dengan grafik hubungan Fout terhadap Vout yang
merupakan kurva kuadratik yang terbuka kebawah. Dari setiap bahan memiliki
nilai frekuensi resonansi yang berbeda-beda. Dimana jika sesuai dengan nilai
induktansi literatur maka nilai frekuensi resonansi yang paling besar adalah bahan
aluminium dengan nilai induktansi literatur yang lebih kecil dibanding bahan lain,
dan jika dilihat dari segi perumusan, nilai frekuensi resonansi berbanding terbalik
dengan nilai induktansi. Dari hasil percobaan, nilai frekuensi resonansi yang
dihasilkan memiliki perbedaan nilai dengan frekuensi literatur atau acuannya. Hal
ini bisa terjadi akibat nilai kapasitor yang tidak pas sesuai dengan nilai yang
tertera dan nilai frekuensi inputan bisa saja tidak pas dengan literatur. Lalu dari
nilai frekuensi resonansi ini, kita dapat menentukan induktansi percobaan (L),
permeabilitas () dan suseptibilitas () setiap bahan inti yang berbeda-beda. Dari
segi hubungan nilai frekuensi resonansinya dapat dipastikan bahwa yang memiliki
nilai frekuensi resonansi terkecil maka induktansi (L) bahan tersebut memiliki
nilai yang besar. Berikut tabel nilai frekuensi setiap bahan.
Bahan
Udara
Ferit
Aluminium
Magnet

Frekuensi Resonansi (Hz)


42,74
11,09
28,03
54,93

Dari nilai frekuensi resonansi dan induktansi (L) literatur dapat diperkirakan
bahwa bahan yang memiliki nilai suseptibilitas dan permeabilitas yang paling

besar adalah bahan ferit dan yang terkecil adalah aluminium. Namun, dari hasil
percobaan terlihat bahwa justru bahan yang memiliki nilai suseptibilitas dan
permeabilitas yang paling besar adalah ferit dan paling kecil adalah magnet.
Berikut tabel nilai suseptibilitas dan permeabilitas percobaan untuk setiap bahan.
Bahan
Udara
Ferit
Aluminium
Magnet

Permeabilitas (H/m)
3,2 x 10-4
4,7 x 10-3
7,5 x 10-4
1,9 x 10-4

Suseptibilitas
254,97
3800,86
594,131
153,967

Berdasarkan literatur diketahui bahwa nilai suseptibilitasnya untuk bahan


ferromagnetik

adalah

lebih

dari

1,

untuk

bahan

paramagnetik

nilai

suseptibilitasnya adalah 10-3 sampai dengan 10-6, dan untuk bahan diamagnetik
nilai suseptibilitasnya adalah -10-5 sampai dengan -10-9. Dimana secara teori udara
dan alumunium adalah bahan paramagnetik dan bahan ferit dan magnet termasuk
bahan ferromagnetik. Berdasarkan perbandingan nilai permeabilitas hasil
percobaan dan literatur terlihat bahwa semua medium termasuk jenis bahan
paramagnetik karena nilainya m>0. Tetapi jika dibandingkan dengan nilai
suseptibilitasnya maka dapat dikatakan bahwa semua medium merupakan bahan
ferromagnetik karena nilai suseptibilitasnya adalah lebih dari 1. Hal ini tentunya
tidak sesuai karena suatu bahan tidak mungkin memiliki dua sifat yang berbeda
ataupun berbeda jenisnya hanya karena ada perbedaan nilai suseptibilitas dan
permeabilitasnya sebab nilai suseptibilitas dan permeabilitas itu saling
berhubungan. Dimana suseptibilitas bahan magnetik merupakan respon dari bahan
ketika diberikan medan magnet luar dan permeabilitas merupakan kemampuan
suatu bahan untuk membentuk medan magnet didalamnya atau juga sebagai
kemampuan suatu bahan untuk menerima medan magnet luar. Hasil yang tidak
sesuai ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor misal terjadinya kesalahan pada
rangkaian baik dari segi komponen maupun penyusunannya, lalu kumparan yang
digunakan bisa saja sudah sedikit berkarat, nilai komponen yang digunakan pada
saat perhitungan tidak pas dengan nilai yang tertera dan kurang tepatnya praktikan
pada saat menentukan nilai Vout maksimum.

VI.

Tugas Akhir

1. Tentukan suseptibilitas (

) bahan atau medium yang digunakan dalam

percobaan.
Jawab:
Berdasarkan pengolahan data, didapat nilai suseptibilitas masing-masing medium
adalah sebagai berikut:
Bahan/Medium
Udara
Ferit
Aluminiu
m
Magnet

Suseptibilitas
)

254,97
3800,86
594,131
153,967

2. Tentukan nilai permeabilitas (m) bahan atau medium yang digunakan dalam
percobaan!
Jawab:
Berdasarkan pengolahan data, didapat nilai permeabilitas masing-masing medium
adalah sebagai berikut
Bahan/Medium
Udara
Ferit
Aluminium
Magnet

Permeabilitas
(H/M)
3,2 x 10-4
4,7 x 10-3
7,5 x 10-4
1,9 x 10-4

3. Jelaskan metode lain dalam menentukan suseptibilitas bahan magnet!


Jawab:

SQUID atau superconducting quantum interference devices adalah alat yang


digunakan untuk mengukur medan magnet dengan tingkat ketelitian yang sangat
tinggi. SQUID memiliki ring superkonduktor dengan lapisan tipis isolator yang
dikenal dengan sambungan Josephson. Keberadaan ring superkonduktor dan
sambungan Josephson menyebabkan fluks magnetik dapat terkuantisasi. Hal ini
menyebabkan SQUID dapat mengukur perubahan fluks magnetik yang sangat
kecil. Keistimewaan ini menyebabkan alat ini dapat mengukur medan magnet
yang lemah sekalipun. Perumusan matematis fluks magnetik pada SQUID harus
memperhitungkan beberapa faktor, yaitu jumlah fluks magnetik yang disebabkan
oleh medan aplikasi dan fluks yang disebabkan oleh arus pada ring
superkonduktor.
VII.

Kesimpulan
Simpulan

pada

praktikum

kali

ini

yang

berjudul

Pengukuran

Susceptibilitas dan Permeabilitas Bahan Magnet adalah sebagai berikut :


1. Praktikan dapat memahami prinsip pengukuran melalui rangkaian RLC
dimana jika pada sebuah magnet dialiri arus akan terjadi induksi magnet.
Dimana rangkaian yang digunakan adalah rangkaian RLC parallel. Pada
rangkaian ini resonansi terjadi bersamaan dengan terbentuknya osilator
harmonik yang disebabkan oleh adanya komponen kapasitor dan induktor.
Dan nilai frekuensi resonansi didapat ketika nilai Vout mencapai maksimum
yang selanjutnya digunakan untuk menentukan nilai induktansi (L).
2. Praktikan dapat menentukan nilai suseptibilitas dan permeabilitas bahan atau
medium yang digunakan dalam percobaan. Dimana keempat bahan atau
medium yang digunakan adalah udara, ferit, alumunium dan magnet. Dari
hasil perhitungan nilai yang didapat semua medium yang digunakan
merupakan jenis bahan paramagnetik jika nilai yang dibandingkan adalah nilai
permeabilitasnya dan semua medium merupakan jenis bahan ferrromagnetik
jika yang dibandingkan adalah nilai suseptibilitasnya. Nilai suseptibilitas dan
permeabilitas dapat dilihat pada tabel berikut:

Bahan
Udara
Ferit
Aluminium
Magnet

Permeabilitas (H/m)
3,2 x 10-4
4,7 x 10-3
7,5 x 10-4
1,9 x 10-4

Suseptibilitas
254,97
3800,86
594,131
153,967

Daftar Pustaka
[1] Saragih, Togar. 2014. BAB 5 MAGNETOSTATIK DALAM BAHAN.
Program Studi Fisika. Universitas Padjadjaran.
[2]Anonim.2011.http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/26544/4/Chapter
%20II.pdf (Diakses tanggal 9 April 2016 Pukul 11:37 WIB)
[3] Suhendi, Endi. Bab 6 Fisika Dasar II Listrik Menghasilkan Medan Magnet.
http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND._FISIKA/ENDI_SUHENDI/K
uliah/FI321_Fisika_Dasar_II/Bahan_Ajar/Powerpoint_Fisika_Dasar_II/9._Indukt
ansi_%26_Energi_Magnetik_%5BCompatibility_Mode%5D.pdf (Diakses tanggal
9 April 2016 Pukul 12:31 WIB)
[4] Sawitri, Dyah. PENGARUH KOMPOSISI DAN PROSES PENDINGINAN
TERHADAP

KARAKTERISASI

MAGNET

BARRIUM

FERRITE.

http://digilib.its.ac.id/public/ITS-Undergraduate-12711-Paper.pdf(Diakses tanggal
20 April 2016 Pukul 21:35 WIB)
[5]Yelfianhar,Ichwan. 2010. BahanMagnet.
https://iwan78.files.wordpress.com/2010/11/12_13_bahan-magnet.pdf (Diakses
tanggal 12 April 2016 Pukul 00:18 WIB)
[6]Admin,

2016.

Rangkaian

RLC

Seri

dan

Paralel.

http://belajarelektronika.net/rangkaian-r-l-c-seri-dan-paralel/ (Diakses tanggal 25


April 2016 Pukul 19:32 WIB)