Anda di halaman 1dari 6

RESONANSI ELASTIS GAS

Vika Marcelina (140310130020)1, Ayunita Chitia C (140310130034)2


Program Studi Fisika, FMIPA Universitas Padjadjaran
Email : vika.marcelina@gmail.com
Selasa Pukul 12:00 s/d 14:00 WIB
Tanggal Praktikum : 3 April 2016
Asisten : Khoirima Ulfi
Abstrak
Resonansi adalah peristiwa ikut bergetarnya suatu benda akibat benda lain yang memiliki frekuensi sama dengan
frekuensi benda tersebut. Salah satu contohnya adalah pada gas yang digerakkan dengan menggunakan piston
didalam suatu tabung. Peristiwa resonansi gas dapat diamati dengan menempatkan sebuah piston yang bermassa
m pada sebuah tabung yang terdapat kumparan arus listrik di sekelilingnya sehingga piston tersebut dapat
melakukan gerak osilasi. Dari gerak osilasi ini akan diketahui seberapa besar simpangan (amplitudo) pada gerak
osilasi tersebut dan frekuensi yang menyebabkan terjadinya osilasi. Dengan diketahuinya nilai frekuensi maka
dapat ditentukan () dengan menggunakan metode Ruchhardt. Praktikum ini dilakukan dengan memvariasikan
jarak piston terhadap tabung dan dilakukan dengan dua metode, yaitu pada keadaan katup buka-tutup dan tutup-

tutup. Hasil yang diperoleh yakni untuk metode buka tutup untuk piston 1
99,9951%, untuk piston 3

= 8,8626.10-5 dengan KSR 99,9947%, dan untuk piston 1 dan 3

1,1843.10-4 dengan KSR 99,9929 %. Dan untuk metode tutup-tutup untuk piston 1
KSR 99,9939%, untuk piston 3

= 8,1625.10-5 dengan KSR

= 1,0172.10-5 dengan

= 1.0259.10-4 dengan KSR 99,9938%, dan untuk piston 1 dan 3

-4

1,2639.10 dengan KSR 99,9938%.


Kata Kunci : Resonansi gas, frekuensi, konstanta .

I.

Pendahuluan

Resonansi adalah peristiwa ikut bergetarnya


suatu benda akibat benda lain yang memiliki frekuensi
sama dengan frekuensi benda tersebut. Salah satu
contohnya adalah pada gas yang digerakkan dengan
menggunakan piston didalam suatu tabung, pada proses
ini akan terjadi secara adiabatik sehingga tidak ada
proses pertukaran kalor dari sistem ke lingkungan
maupun sebaliknya. Hal ini dikarenakan gas memiliki
sifat termal yakni kapasitas panas pada saat volume
tetap (Cv) dan pada saat tekanan tetap (C p). Dimana
perbandingan kapasitas kalor pada kondisi tersebut
dilambangkan dengan . Sehingga untuk mengetahui
konstanta tersebut, maka dilakukan percobaan kali ini
dengan
tujuan
untuk
menetukan
konstanta
perbandingan Cp dan Cv gas tersebut atau konstanta .

II.

Teori Dasar

II.1 Gas
Gas merupakan zat yang digolongkan sebagai
fluida dengan jarak antar partikel yang jauh dan
memiliki kerapatan yang kecil pula. Gas mudah
berubah bentuk sesuai dengan ruang yang
ditempatinya. Setiap gas akan berdifusi terhadap
sesamanya dan akan bercampur dalam segala
perbandingan, oleh karena itu campuran gas
merupakan capuran yang homogen.
Definisi mikroskopik gas ideal, antara lain[1] :
1. Suatu gas yang terdiri dari partikel-partikel yang
dinamakan molekul.
2. Jumlah seluruh molekul adalah besar.
3. Volume molekul adalah pecaha kecil yang
diabaikan dari volume yang ditempati oleh gas
tersebut.

4.

5.
6.

Gas ideal merupakan gas yang tumbukan antara


atom-atomnya elastis sempurna dan tidak ada gaya
atraktif antar molekul sehingga gaya tarik-menarik
atau tolak-menolak antara molekul dianggap nol.
Partikel gas ideal bergerak dengan arah sembarang
(acak).
Tidak ada gaya yang cukup besar yang beraksi
pada molekul tersebut kecuali selama tumbukan.
Gas ideal adalah gas yang memenuhi
persamaan gas umum, yakni

PV =nRT (1)
Dimana :
P = Tekanan (atm)
V = Volume (L)
n = Jumlah mol gas
R = Konstanta gas (0,082 L atm/mol atau 8,314 J/K
mol)
T = Suhu (K)
II.2 Kapasitas Panas
Kapasitas panas adalah jumlah energi yang dibutuhkan
untuk menaikkan suhu suatu zat sebesar 1 derajat
satuan suhu. Suhu pada suatu gas dapat dinaikkan
dalam kondisi yang bermacam-macam. Tetapi hanya
dua macam yang mempunyai arti praktis, yaitu[2]:
a)

Kapasitas panas pada volume konstan (Cv) :

(2)
( dQ
dT )

CV =

b) Kapasitas panas pada tekanan konstan (CP) :

C P=

(3)
( dQ
dT )
P

Kapasitas panas gas ideal pada tekanan konstan selalu


lebih besar dari pada kapasitas panas gas ideal pada
volume konstan (Cp>Cv), dan selisihnya sebesar
konstanta gas umum (universal) yaitu[2] : R = 8,317
J/mol K.
Cp Cv = R
Berdasarkan teori kinetik gas kita dapat menghitung
panas jenis gas ideal, sebagai berikut[2]:
a. Untuk gas beratom tunggal atau monoatomik
diperoleh bahwa :

5
C P= R
2

3
CV = R
2

Dengan mensubstutusikan persamaan (5) dan (6) ke


dalam (7) diperoleh :

P V

7
C P= R
2

5
CV = R
2

C
= P =1,4
CV

F
=0 (8)
A

Dibagi dengan V -1 diperoleh :

P yA+V

F
FV
=0
=PyA
A
A

Persamaan (9) merupakan persyaratan untuk gerak


selaras sederhana (Hukum Hooke), maka periode ()
dirumuskan :

2.3.
Metode Ruchhardt untuk
Mengukur Gamma ()
Gas ditempatkan dalam bejana besar
bervolume V. Pada bejana itu dipasang tabung gelas
dengan lubang berpenampang sama berluas A. Ke
dalam lubang itu dimasukkan bola logam bermassa m
yang tepat menutup lubang tapi masih dapat bergerak
bebas sehingga berlaku sebagai piston. Karena gas
agak tertekan oleh bola baja yang ada di dalam
kedudukan kesetimbangan, tekanan gas sedikit lebih
besar daripada tekanan atmosfer Po. Dengan
mengabaikan gesekan, diperoleh[3] :

mgh
mg
=P0 +
(4)
V
A

Simpangan positif (y) kecil menyebabkan perubahan


volume yang sangat kecil pula, sehingga:

dV = y A (5)
Simpangan positif (y) kecil menyebabkan pula
penurunan tekanan yang sangat kecil. Karena
gaya resultan (F) yang beraksi pada bola sama dengan
A dP, dengan mengabaikan gesekan diperoleh[3] :

F
(6)
A

Catatan : bila y positif, dP negatif, sehingga F menjadi


negatif, jadi F merupakan gaya pemulih.
Karena bola bergetar cukup cepat, perubahan P dan V
berlangsung secara adiabatik. Karena perubahannya
sangat kecil, keadaan yang dilalui gas dapat dianggap
mendekati keadaan setimbang yang menunjukkan
proses kuasi statik adiabatik, diperoleh :

=2

m
=2
k

=2

mV
(10)
P A 2

=Konstanta Laplace

dP=

yA+V

Untuk gas beratom dua atau diatomik diperoleh


bahwa :

P=P0 + Ph =P 0+ gh=P0 +

P A
F=
y (9)
V

C
= P =1,67
CV
b.

PV =K dan P V 1 dV + V dP=0 (7)

=
III.

m
=2
F
y

m
P A2
V

4 2 mV
(11)
A2 P 2
Percobaan

Gambar 1. Rangkaian Peralatan Percobaan


Resonansi Elastis Gas
Pada percobaan kali ini yang berjudul
Resonansi Elastis Gas dilakukan percobaan, pertama
yakni menyusun alat seperti pada Gambar . lalu
memasukkan piston magnetik 1 kedalam tabung
dengan hati-hati. Lalu memposisikan piston magnetik 1
pada skala 20 dan menutup kedua kran. Selanjutnya
meletakkan kumparan pada posisi skala 20 sehingga
piston dan kumpuaran bersesuaian. Hidupkan osilator
RC dan mengatur frekuensi sehingga diperoleh osilasi
dengan amplitudo maksimum dan mencatat nilai
frekuensi tersebut. Lakukan percobaan untuk posisi
kumparan 20 sampai 70 dengan perbedaan skala 10
dan melakukkan masing-masing percobaan minimal 3
kali untuk masing-maisng skala atau volume. Jika telah
selesai lanjutkan percobaan untuk piston magnetik 3
dan piston magnetik 1 ditambah piston magnetik 3.

IV.

Hasil dan Pembahasan

IV.1Hasil
Tabel 1. Hasil Pengolahan Data untuk Piston 1 untuk Metode Buka-tutup

Tabel 2. Hasil Pengolahan Data untuk Piston 3 untuk Metode Buka-tutup

Tabel 3. Hasil Pengolahan Data untuk Piston 1 dan 3 untuk Metode Buka-tutup

Tabel 4. Nilai

dan , dan grafik Beserta KSR nya untuk Metode Buka-tutup

Tabel 5. Hasil Pengolahan Data untuk Piston 1 untuk Metode Tutup-tutup

Tabel 6. Hasil Pengolahan Data untuk Piston 3 untuk Metode Tutup-tutup

Tabel 7. Hasil Pengolahan Data untuk Piston 1 dan untuk Metode Tutup-tutup

Tabel 8. Nilai

dan , dan grafik Beserta KSR nya untuk Metode Tutup-tutup

(a)
(b)
Gambar 2. Grafik Hubungan V terhadap T2 untuk Metode Buka-tutup (a) dan Metode Tutup-tutup (b)
IV.2Pembahasan
Pada praktikum kali ini yang berjudul Resonansi
Elastis Gas untuk metode buka-tutup dan tutup-tutup
diperoleh hasil bahwa ketika volume gas semakin
besar, maka frekuensi yang dihasilkan akan semakin
kecil sesuai dengan persamaan (10) dimana frekuensi
berbanding terbalik dengan volume. Lalu ketika piston
yang dimasukkan memiliki massa yang berbeda, maka
seharusnya nilai frekuensi akan semakin kecil jika
massa piston yang dimasukkan semakin besar
dibandingkan dengan piston lain yang lebih ringan
pada volume yang sama. Namun, dari kedua metode ini
ada saja nilai frekuensi yang justru semakin tinggi
ketika massa piston yang dimasukkan semakin besar
pada volume yang sama. Hal ini tidak sesuai dengan
teori dan perumusan dimana ketika massa benda
semakin besar, maka frekuensi yang dihasilkan akan
semakin kecil. Lalu untuk nilai konstanta

yang

dihasilkan pada kedua metode ini memiliki nilai KSR


diatas 99,99%. Namun KSR untuk metode tutup-tutup
sedikit lebih rendah dibanding dengan metode bukatutup, sebab pada metode tutup-tutup syarat untuk
tekanan dan volume konstan mungkin dapat terpenuhi.
Lalu dari nilai grafik yang diperoleh dari hubungan
volume (V) terhadap T2 yang memiliki hubungan
berbanding lurus untuk kedua metode ini seperti yang
terlihat pada Gambar 2. dimana nilai grafik sama-sama
memiliki nilai KRS yang sangat besar yakni diatas
99,99%. Sehingga dari hasil ini baik dari hasil
percobaan maupun ploting grafik nilai yang
dihasilkan memiliki nilai KSR yang sangat besar.
Kesalahan-kesalahan nilai yang dihasilkan bisa
disebabkan oleh beberapa faktor, yakni pengamatan
amplitude maksimum yang kurang tetap sehingga
mempengaruhi nilai frekuensi yang dicatat, lalu massa
piston yang dimasukkan memiliki sesatan, tidak adanya
patokan frekuensi awalan untuk percobaan sehingga

mungkin saja ada frekuensi lain yang menghasilkan


amplitude maksimum yang dapat ditetapkan menjadi
frekuensi resonansi, lalu syarat tekanan dan volume
konstan pada percobaan yang tidak terpenuhi, dan lain
sebagainya. Namun dari segi nilai KSR metode tutuptutup memiliki KSR yang lebih rendah yang mungkin
saja pada metode tutup-tutup syarat tekanan dan
volume konstan sedikitnya dapat terpenuhi.

V.

Kesimpulan

Simpulan pada praktikum kali ini yakni dapat


menentukan konstanta , yakni untuk metode buka
tutup untuk piston 1

99,9951%, untuk piston 3

= 8,1625.10-5 dengan KSR

= 8,8626.10-5 dengan

KSR 99,9947%, dan untuk piston 1 dan 3

-4

1,1843.10 dengan KSR 99,9929 %. Dan untuk metode


tutup-tutup untuk piston 1

KSR 99,9939%, untuk piston 3

= 1,0172.10-5 dengan

= 1.0259.10-4

dengan KSR 99,9938%, dan untuk piston 1 dan 3

= 1,2639.10-4 dengan KSR 99,9938%.

Daftar Pustaka
[1]http://www.chem-is-try.org/materikimia/kimiasmk/kelasx/hukum-keadaan-standar-dan-hukum-gasideal/ (diakses pada tanggal 24 April 2016 Pukul 06:59
WIB)
[2]https://sulistyaning2.files.wordpress.com/2012/02/k
onstanta_laplace.pdf (diakses pada tanggal 22 April
2016 Pukul 00:06 WIB)
[3]Irzaman. 2011. Materi Termodinamika 2010.
http://irzaman.staff.ipb.ac.id
/files/2011/08/materitermodinamika-2010.pdf
(diakses pada tanggal 23April 2016 Pukul 21:59 WIB)

Beri Nilai