Anda di halaman 1dari 80

ANALISIS KINERJA KEUANGAN DAERAH

PEMERINTAH KABUPATEN SOPPENG


TERHADAP EFISIENSI PENDAPATANASLIDAERAH
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Guna Mencapai Gelar Sarjana
Ekonomi Pada Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Hasanuddin

JUSMAWATI
A211 08 253
MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2011

LEMBARAN PENGESAHAN
ANALISIS KINERJA KEUANGAN DAERAH
PEMERINTAH KABUPATEN SOPPENG
TERHADAP EFISIENSI PENDAPATAN ASLI DAERAH

Skripsi Sarjana Lengkap Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat


Guna Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi
Pada Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Hasanuddin
Makassar

Diajukan Oleh:

JUSMAWATI
A21108253

Telah disetujui
Oleh Dosen Pembimbing
Pembimbing I

Prof. Dr. Hj. Mahlia Muis, SE., M.Si


NIP. 19660622199303 1 003

Pembimbing II

Fahrina Mustafa, SE., M.Si


NIP. 19740902200812 2 001

ANALISIS KINERJA KEUANGAN DAERAH

PEMERINTAH KABUPATEN SOPPENG


TERHADAP EFISIENSI PENDAPATAN ASLI DAERAH

Dipersiapkan dan disusun oleh :

JUSMAWATI
A21108253
Telah dipertahankan di depan Dewan Penguji
pada tanggal 30 DESEMBER 2011 dan dinyatakan LULUS
Dewan Penguji
No. Nama Penguji

Jabatan

Tanda

Tangan
1.

Prof. Dr. Hj. Mahlia Muis, SE., M.Si

Ketua 1 .........................

2.

Fahrina Mustafa, SE., M.Si

Sekretaris

2.........................

3.

Dr. Ria Mardiana, SE., M.Si

Anggota

3.........................

4.

Dr.Idayanti, SE., M.Si

Anggota

4.........................

5. Wardhani Hakim, SE., M.Si

Anggota

5.........................

Disetujui
Jurusan Manajemen
Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Hasanuddin
Ketua

Tim Penguji
Jurusan Manajemen
Fakultas Ekonomi danBisnis
Ketua

Dr.Muh.Yunus Amar.,SE.,MT.
NIP. 19620430 198810 1 001

Prof. Dr. Hj. Mahlia Muis, SE.,M.Si


NIP. 19660622199303 1 003

ABSTRACT
Jusmawati. 2011. Analysis of The Financial Perfomance of The Soppeng
Regency of The Efficiency of Local Government District Revenue. Final
Report. Department of Management. Faculty of Economics and Business.
Hasanuddin University. Supervising I. Prof. Dr. Hj. Mahlia Muis, SE., M. Si.
The Supervising II. Fahrina Mustafa, SE., M. Si. 68 pages.
Keywords: Ratio of Independence, Effectiveness Ratio, Growth Ratio,
Efficiency Ratio, Revenue (PAD)
Regional autonomy (decentralization) is a regional authority to regulate
and manage the interests of society at its own initiative based on community
aspirations and according to laws and regulations. One aspect of local government
that must be regulated carefully is the financial management area. To analyze the
performance of local governments in managing local finances can be done with
the financial ratio analysis. The financial ratios used include: the ratio of
independence, effectiveness ratios, growth ratios, and the efficiency ratio of
revenue.
The purpose of this study was to determine the financial performance of
the Regency Soppeng significant effect on the efficient use of revenue. The
population in this study, namely Regency Budget Realization Report Soppeng in
which samples are taken is eight years (2003-2010). The variables studied include
self-sufficiency ratio, the ratio of effectiveness, and growth ratios as independent
variables as well as the efficiency of the revenue as the dependent variable.
The results of regression analysis showed that the ratio of independence,
effectiveness ratio, and growth ratios significantly influence the efficiency of local
revenue from the year 2003-2010 is evident from the 0.009 probability value
<0.05. Partial, self-reliance ratio significantly influence the efficiency of revenue.
However, the effectiveness ratio and growth rate did not significantly influence
the efficiency of revenue.

ABSTRAK
Jusmawati. 2011. Analisis Kinerja Keuangan Daerah Pemerintah Kabupaten
Soppeng terhadap Efisiensi Pendapatan Asli Daerah. Skripsi. Jurusan
Manajemen. Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Hasanuddin.
Pembimbing I. Prof. Dr. Hj. Mahlia Muis, SE., M. Si. Pembimbing II.
Fahrina Mustafa, SE., M. Si. 66 hal.
Kata Kunci: Rasio Kemandirian, Rasio Efektifitas, Rasio Pertumbuhan,
Rasio Efisiensi, Pendapatan Asli Daerah (PAD)

Otonomi daerah (otoda) adalah kewenangan daerah untuk mengatur dan


mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan
aspirasi masyarakat dan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Salah satu aspek dari pemerintah daerah yang harus diatur secara hati-hati adalah
pengelolaan keuangan daerah. Untuk menganalisis kinerja pemerintah daerah
dalam mengelola keuangan daerah dapat dilakukan dengan analisis rasio
keuangan. Adapun rasio keuangan yang digunakan meliputi: rasio kemandirian,
rasio efektifitas, rasio pertumbuhan, dan rasio efisiensi PAD.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kinerja keuangan daerah
Pemkab Soppeng berpengaruh signifikan terhadap efisiensi penggunaan PAD.
Populasi dalam penelitian ini, yaitu Laporan Realisasi Anggaran Pemkab Soppeng
di mana sampel yang diambil adalah delapan tahun terakhir (2003-2010). Adapun
variabel yang diteliti meliputi rasio kemandirian, rasio efektifitas, dan rasio
pertumbuhan sebagai variabel bebas (independen) serta efisiensi PAD sebagai
variabel terikat (dependen).
Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa rasio kemandirian, rasio
efektifitas, dan rasio pertumbuhan berpengaruh signifikan terhadap efisiensi PAD
dari tahun 2003-2010 terbukti dari nilai probabilitas 0,009 < 0,05. Secara parsial,
rasio kemandirian berpengaruh signifikan terhadap efisiensi PAD. Namun, rasio
efektifitas dan rasio pertumbuhan tidak berpengaruh signifikan terhadap efisiensi
PAD.

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT karena berkat-Nya sehingga skripsi yang
berjudul, Analisis Kinerja Keuangan Daerah Pemerintah Kabupaten
Soppeng terhadap Efisiensi Pendapatan Asli Daerah dapat diselesaikan oleh
peneliti.
Peneliti menyadari sepenuhnya bahwa masih terdapat banyak kekurangan
dalam skripsi ini, walaupun telah diusahakan secara maksimal. Namun, peneliti
berharap agar skripsi ini dapat berguna untuk menambah pengetahuan pembaca
tentang kinerja keuangan daerah, khususnya daerah Kabupaten Soppeng.
Peneliti tidak lupa mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak
yang telah membantu, baik secara moril maupun materil dalam penelitian dan
dalam penyusunan skripsi ini. Sehubungan dengan hal tersebut, peneliti merasa
perlu untuk mengucapkan banyak terima kasih kepada:
1. Orang tua saya atas doa yang telah memberi dukungan serta lantunan doa
yang senantiasa tercurah dalam penyusunan skripsi ini.
2. Bapak Prof. Dr. Muhammad Ali, SE., M.Si selaku Dekan Fakultas
Ekonomi dan Bisnis.
3. Bapak Dr. Darwis Said, SE., M.SA., Ak selaku Wakil Dekan I, yang telah
banyak memberikan partisipasinya.
4. Bapak Dr. Muh. Yunus Amar, MT selaku Ketua Jurusan Manajemen yang
telah banyak partisipasinya.
5. Ibu Prof. DR. Hj. Mahlia Muis, SE., M.Si selaku Dosen Pembimbing I
yang telah memberikan arahan-arahan dalam proses penyusunan proposal
hingga skripsi.
6. Ibu Fahrina Mustafa, SE., M.Si selaku Dosen Pembimbing II yang telah
memberikan bimbingannya selama penyusunan proposal hingga skripsi.

7. Ibu Dr. Ria Mardiana, SE., M. Si., Dr. Idayanti, SE., M. Si., dan Wardhani
Hakim, SE., M. Si selaku dosen penguji yang telah memberikan banyak
kritik dan saran demi kesempurnaan skripsi ini.
8. Bapak H.M. Sobarsyah, SE., M.Si selaku Dosen Seminar Manajemen
Keuangan yang telah banyak menyumbangkan saran serta kritikannya
dalam penyusunan proposal hingga skripsi ini.
9. Bapak Kepala DPPKAD Kabupaten Soppeng, Drs. Andi Tenri Sessu, M.
Si dan Kepala Bidang Akuntansi, Ady Setiadi, S. Sos., M. Si., serta
segenap staf yang telah mengizinkan dan membantu dalam proses
penelitian.
10. Teman-teman seperjuangan Manajemen 08 yang saling sharing dalam
penyelesaian proposal dan skripsi.
Segala kritik dan saran dari semua pihak yang sifatnya membangun sangat
peneliti harapkan sebagai upaya penyempurnaan skripsi ini.
Makassar, November 2011
Peneliti

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL

...........................................................

LEMBAR PENGESAHAN ...........................................................

ii

LEMBAR PENGESAHAN PENGUJI

..................................

iii

ABSTRACT ..................................................................................

iv

ABSTRAK

..................................................................................

KATA PENGANTAR ...........................................................

v
vi

DAFTAR ISI ...................................................................................

viii

DAFTAR TABEL

.......................................................................

xi

DAFTAR GAMBAR .......................................................................

xii

DAFTAR LAMPIRAN

xiii

...........................................................

BAB I PENDAHULUAN
A.
B.
C.
D.

Latar Belakang ...........................................................


Rumusan Masalah ......................................................
Tujuan Penelitian ...........................................................
Manfaat Penelitian
.....................................................

1
4
5
5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


A.
B.
C.
D.
E.
F.
G.
H.
I.
J.
K.
L.
M.
N.
O.

Definisi Laporan Keuangan


...................................
Tujuan Laporan Keuangan
...................................
Komponen-Komponen Laporan Keuangan ..................
Definisi Kinerja ...........................................................
Definisi Pengukuran Kinerja
...................................
Aspek Pengukuran Kinerja
...................................
Tujuan Pengukuran Kinerja
...................................
Definisi Indikator Kinerja
...................................
Penyusunan Indikator Kinerja
...................................
Penelitian Terdahulu
...............................................
Analisis Rasio Keuangan ...............................................
Kegunaan Analisis Rasio Keuangan
.........................
Jenis-Jenis Rasio Keuangan
.....................................
Kerangka Pikir .............................................................
Hipotesis .........................................................................

7
7
8
11
11
11
12
13
14
16
17
18
19
21
23

BAB III METODOLOGI PENELITIAN


A. Lokasi Penelitian ...........................................................

24

B.
C.
D.
E.
F.

Populasi dan Sampel Penelitian ...................................


Metode Pengumpulan Data
...................................
Jenis dan Sumber Data ...............................................
Variabel Penelitian
...............................................
Metode Analisis ...........................................................

24
24
25
25
29

BAB IV GAMBARAN UMUM


A. Letak Geografis Kabupaten Soppeng
........................
B. Letak Administratif
................................................
C. Tugas dan Fungsi Unit Kerja Dinas Pendapatan,
Pengelolaan Keuangan, dan Aset Daerah (DPPKAD)
Kabupaten Soppeng
................................................

32
32
32

BAB V HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN


A. Hasil Analisis
B. Pembahasan

.............................................................
...........................................................

46
54

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan
...........................................................
B. Saran
.......................................................................

56
56

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................

58

LAMPIRAN ...................................................................................

59

DAFTAR TABEL
Tabel 3.1. Operasionalisasi Variabel ........................................................

28

Tabel 5.1. Perhitungan Rasio Kemandirian Kabupaten Soppeng


Tahun Anggaran 2003-2010

............................................. 47

Tabel 5.2. Perhitungan Rasio Efektifitas Pendapatan Asli Daerah


Tahun Anggaran 2003-2010

............................................. 48

Tabel 5.3. Perhitungan Rasio Pertumbuhan APBD Kabupaten Soppeng


Tahun Anggaran 2003-2010

............................................. 49

Tabel 5.4. Perhitungan Rasio Efisiensi Pendapatan Asli Daerah


Tahun Anggaran 2003-2010
Tabel 5.5. Hasil Analisis Regresi

............................................. 51

......................................................... 52

Tabel 5.6. Hasil Uji F (Uji Simultan) ......................................................... 54

DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1. Kerangka Pikir ...................................................................... 22

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1

Struktur Organisasi Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan


dan Aset Daerah (DPPKAD) Kabupaten Soppeng

............

60

Lampiran 2

Hasil Olah Data Analisis Rasio Keuangan

........................

61

Lampiran 3

Hasil Olah Data Analisis Regresi (SPSS)

........................

62

Lampiran 4

Laporan Realisasi Anggaran Pemerintah Kabupaten Soppeng


Per 31 Desember 2003, 2004, 2005, 2006

Lampiran 5

........................

63

Laporan Realisasi Anggaran Pemerintah Kabupaten Soppeng


Per 31 Desember 2007, 2008, 2009, 2010

......................... 64

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Lahirnya Undang-Undang (UU) No. 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintah Daerah (Pemda) dan UU

No. 33 Tahun 2004 tentang

Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah, menjadi titik


awal dimulainya

otonomi daerah. Otonomi daerah (otoda) adalah

kewenangan daerah otonom untuk mengatur dan mengurus kepentingan


masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi
masyarakat sesuai peraturan perundang-undangan. Sedangkan perimbangan
keuangan antara pemerintah pusat dan daerah merupakan pemerataan
antardaerah secara proporsional, demokratis, adil, dan transparan dengan
memperhatikan potensi, kondisi, dan kebutuhan daerah sejalan dengan
kewajiban dan pembagian kewenangan tersebut, termasuk pengelolaan dan
pengawasan keuangannya.
Adanya Undang-Undang tersebut telah memberi kewenangan yang
lebih luas kepada Pemda tingkat kabupaten untuk menyelenggarakan semua
urusan pemerintah mulai dari perencanaan, pengendalian dan evaluasi,
sehingga mendorong Pemda untuk lebih memberdayakan semua potensi yang
dimiliki dalam rangka membangun dan mengembangkan daerahnya.
Sebenarnya

pertimbangan

mendasar

terselenggaranya

otoda

adalah

perkembangan dari dalam negeri yang mengindikasikan bahwa rakyat


menghendaki keterbukaan dan kemandirian (desentralisasi). Selain itu,
keadaan luar negeri yang banyak menunjukkan bahwa semakin maraknya
globalisasi yang menuntut daya saing tiap negara, termasuk setiap Pemdanya.
Hal tersebut akan tercapai dengan peningkatan kemandirian Pemda melalui
program otoda. Tujuan program otoda adalah mempercepat pertumbuhan
ekonomi dan perkembangan daerah dan meningkatkan kualitas pelayanan
publik agar lebih efisien dan responsif terhadap kebutuhan, potensi maupun
karakteristik di daerah masing-masing.
Salah satu aspek dari Pemda yang harus diatur secara hati-hati adalah
pengelolaan keuangan daerah dan anggaran daerah. Anggaran Pendapatan dan
Belanja Daerah yang selanjutnya disingkat APBD adalah suatu rencana
keuangan tahunan daerah yang ditetapkan berdasarkan peraturan daerah.
(Nordiawan, dkk, 2007: 39)
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) merupakan
instrumen kebijakan yang utama bagi Pemda. Sebagai instrumen kebijakan,
APBD mendukung posisi sentral dalam upaya pengembangan kapabilitas dan
efektivitas Pemda. APBD dapat digunakan sebagai alat untuk menentukan
besarnya pendapatan dan pengeluaran, membantu pengambilan keputusan
dan pencapaian pembangunan, otoritas pengeluaran di masa-masa yang akan
datang, sumber pengernbangan ukuran-ukuran standar untuk evaluasi kinerja,
alat untuk memotivasi para pegawai dan alat koordinasi bagi semua aktivitas
dari berbagai unit kerja.

Secara spesifik, tujuan pelaporan keuangan oleh Pemda adalah untuk


menyajikan informasi yang berguna untuk pengambilan keputusan dan untuk
menunjukkan akuntabilitas (pertanggungjawaban) Pemda atas sumber yang
dipercayakan. Pemda sebagai pihak yang diserahi tugas untuk menjalankan
roda pemerintahan, pembangunan, dan pelayanan masyarakat wajib
menyampaikan laporan pertanggungiawaban keuangan daerahnya untuk
dinilai apakah ia berhasil menjalankan tugasya dengan baik atau tidak. Salah
satu alat untuk menganalisis kinerja Pemda dalam mengelola keuangan
daerahnya adalah dengan melakukan analisis rasio keuangan terhadap APBD
yang telah dilaksanakan.
Hasil analisis rasio keuangan digunakan sebagai tolak ukur dalam :
1. Menilai

kemandirian

keuangan

daerah

dalam

membiayai

penyelenggaraan otoda.
2. Mengukur efektivitas dan efisiensi dalam merealisasikan pendapatan
daerah.
3. Mengukur sejauh mana aktivitas Pemda dalam membelanjakan
pendapatan daerahnya
4. Mengukur kontribusi

masing-masing

sumber

pendapatan

dalam

pembentukan pendapatan daerah.


5. Melihat pertumbuhan dan perkembangan perolehan pendapatan dan
pengeluaran yang dilakukan selama periode waktu tertentu.
Penggunaan analisis rasio pada sektor publik, khususnya terhadap
APBD dan realisasinya belum banyak dilakukan sehingga secara teori belum
ada kesepakatan secara bulat mengenai nama dan kaidah peraturannya.
Namun, analisis rasio terhadap realisasi APBD harus dilakukan untuk
meningkatkan

kualitas

pengelolaan

keuangan

daerah.

Di

samping

meningkatkan kuantitas pengelolaan keuangan daerah, analisis rasio terhadap


realisasi APBD juga dapat digunakan sebagai alat untuk menilai efektivitas
otoda sebab kebijakan ini yang memberikan keleluasaan bagi Pemda untuk
mengelola keuangan daerahnya seharusnya bisa meningkatkan kinerja
keuangan daerah yang bersangkutan. Maraknya pembahasan mengenai
keuangan daerah, terutama hubungannya dengan otoda yang sementara
berlangsung menjadikan hal ini menarik untuk dibahas. Peneliti memilih
salah satu kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan, yaitu Kabupaten Soppeng.
Kabupaten ini menjadi menarik sebagai salah satu obyek penelitian karena
adanya temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI Perwakilan Sulsel
mengenai penggunaan APBD Soppeng 2010 yang bermasalah sebesar Rp4,3
miliar. Dana tersebut direalisasikan untuk beberapa kegiatan, seperti belanja
hibah, bantuan sosial, dan transfer/bagi hasil ke desa yang belum
dipertanggungjawabkan penggunaannya (BPK RI Sulsel, September 2011).
Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dan
membuktikan kemampuan

Pemda Soppeng dalam mengelola keuangan

daerahnya dan melihat dari efisiensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) dengan
mengangkat judul, Analisis Kinerja

Keuangan Daerah Pemerintah

Kabupaten Soppeng terhadap Efisiensi Pendapatan Asli Daerah".


B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka
rumusan masalah dalam penelitian ini, antara lain:
1. Bagaimana gambaran kinerja keuangan daerah Pemkab Soppeng dalam
delapan tahun terakhir (2003-2010)?

2. Bagaimana gambaran efisiensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Pemkab


Soppeng dalam delapan tahun terakhir (2003-2010)?
3. Apakah kinerja keuangan daerah Pemkab Soppeng berpengaruh
signifikan terhadap efisiensi penggunaan PAD?
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang ingin dicapai sehubungan dengan penelitian ini,
antara lain:
1. Untuk mengetahui gambaran kinerja keuangan daerah Pemkab Soppeng
dalam delapan tahun terakhir (2003-2010).
2. Untuk mengetahui gambaran efisiensi PAD Pemkab Soppeng dalam
delapan tahun terakhir (2003-2010).
3. Untuk mengetahui kinerja keuangan

daerah

Pemkab

Soppeng

berpengaruh signifikan terhadap efisiensi penggunaan PAD.


D. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah:
1. Instansi pemerintahan
Diharapkan hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan informasi,
perbandingan, dan bahan acuan bagi instansi pemerintahan dalam rangka
upaya peningkatan kinerja Pemerintah Kabupaten Soppeng.
2. Ilmu pengetahuan
Diharapkan melalui penelitian ini dapat menambah khasanah ilmu
pengetahuan, khususnya mengenai kinerja keuangan daerah.
3. Peneliti selanjutnya
Diharapkan dengan adanya penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan
informasi dan bahan pengembangan bagi penelitian selanjutnya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Laporan Keuangan


Kieso dkk. (2002:3)

menjelaskan bahwa laporan keuangan

merupakan sarana pengomunikasian informasi keuangan utama kepada pihak-

pihak di luar korporasi. Laporan ini melampirkan sejarah perusahaan yang


dikuantitatifkan dalam nilai moneter.
Laporan keuangan merupakan bagian dari proses pelaporan keuangan.
Laporan keuangan yang lengkap biasanya meliputi neraca, laporan laba rugi,
laporan perubahan posisi keuangan (yang dapat disajikan dalam berbagai cara
misalnya laporan arus kas, atau laporan arus dana), catatan dan laporan lain
serta materi penjelasan yang merupakan bagian integral dari laporan
keuangan.

B. Tujuan Laporan Keuangan


Mardiasmo (2002:162), tujuan umum laporan keuangan bagi
organisasi pemerintahan adalah:
1. Untuk memberikan informasi yang digunakan dalam pembuatan
keputusan

ekonomi,

sosial,

dan

politik

serta

sebagai

bukti

pertanggungjawaban (accountability) dan pengeloloaan (stewarship).


2. Untuk mernberikan informasi yang digunakan untuk mengevaluasi
kinerja manajerial dan organisasional.
Secara spesifik, tujuan pelaporan keuangan pemerintah adalah untuk
menyajikan informasi yang berguna

untuk pengambilan keputusan dan

untuk menunjukkan akuntabilitas entitas pelaporan sumber daya yang


dipercayakan kepadanya, dengan:
1. Menyediakan informasi mengenai posisi sumber daya ekonomi,
kewajiban, dan ekuitas dana pemerintah.
2. Menyediakan informasi mengenai perubahan posisi sumber daya
ekonomi, kewajiban dan ekuitas dana pemerintah.

3. Menyediakan informasi mengenai sumber, alokasi, dan penggunaan


sumber daya ekonomi.
4. Menyediakan informasi

mengenai

ketaatan

realisasi

terhadap

anggarannya.
5. Menyediakan informasi mengenai cara entitas pelaporan mendanai
aktivitasnya dan memenuhi kebutuhan kasnya.
6. Menyediakan informasi mengenai potensi pemerintah untuk membiayai
penyelenggaraan kegiatan pemerintahan.
7. Menyediakan informasi yang berguna untuk mengevaluasi kemampuan
entitas pelaporan dalam mendanai aktivitasnya.
C. Komponen-Komponen Laporan Keuangan
Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi
Pemerintahan, komponen-komponen yang terdapat dalam suatu laporan
keuangan pokok adalah :
1. Laporan Realisasi Anggaran mengungkapkan kegiatan keuangan
pemerintah

pusat/daerah

yang

menunjukkan

ketaatan

terhadap

APBN/APBD. Laporan Realisasi Anggaran menyajikan ikhtisar sumber,


aplikasi dan penggunaan sumber daya ekonomi yang dikelola oleh
pemerintah

pusat/daerah

dalam

satu

periode

pelaporan.

Dalam

Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan


Keuangan Daerah, disebutkan unsur yang dicakup dalam Laporan
Realisasi Anggaran terdiri dari :
a. Pendapatan adalah semua penerimaan kas daerah yang menambah
ekuitas dana dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan yang
menjadi hak Pemda, dan tidak perlu dibayar kembali oleh Pemda.

b. Belanja adalah semua pengeluaran kas daerah yang mengurangi


ekuitas dana dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan, dan
tidak akan diperoleh kembali pembayarannya oleh Pemda.
c. Pembiayaan adalah setiap penerimaan yang perlu dibayar kembali
dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada tahun
anggaran

yang

bersangkutan

maupun

tahun-tahun

anggaran

berikutnya, yang dalam penganggaran Pemda terutama dimaksudkan


untuk menutupi defisit atau memanfaatkan surplus anggaran.
2. Neraca menggambarkan posisi keuangan suatu entitas pelaporan
mengenai aset, kewajiban, dan ekuitas dana pada tanggal tertentu.
Masing-masing unsur didefinisikan sebagai berikut :
a. Aset adalah sumber daya ekonomi yang dikuasai dan/atau dimiliki
oleh Pemda sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan dari mana
manfaat ekonomi dan/atau sosial di masa depan diharapkan dapat
diperoleh.
b. Kewajiban adalah utang yang timbul dari peristiwa masa lalu yang
penyelesaiannya mengakibatkan aliran keluar sumber daya ekonomi
pemberdayaan daerah.
c. Ekuitas dana adalah kekayaan bersih Pemda yang merupakan selisih
antara aset dan kewajiban Pemda.
3. Catatan atas laporan keuangan meliputi penjelasan atau daftar terinci atau
analisis atau nilai suatu pos yang disajikan dalam Laporan Realisasi
Anggaran, Neraca, dan Laporan Arus Kas. Catatan atas laporan keuangan
juga mencakup informasi tentang kebijakan akuntansi yang dipergunakan
oleh entitas pelaporan dan informasi lain yang diharuskan dan dianjurkan
untuk diungkapkan di dalam standar akuntansi pemerintahan serta
ungkapan-ungkapan yang diperlukan untuk menghasilkan penyajian

laporan keuangan secara wajar. Catatan atas laporan keuangan disajikan


secara sistematis. Setiap pos dalam Laporan Realisasi Anggaran, Neraca,
dan Laporan Arus Kas harus memiliki referensi silang dengan informasi
terkait dalam catatan atas laporan keuangan. Catatan atas laporan
keuangan terdiri dari hal-hal sebagai berikut :
a. Menyajikan informasi tentang ekonomi makro, kebijakan fiskal dan
pencapaian target Perda APBD, serta kendala yang dihadapi dalam
pencapaian target.
b. Menyajikan ikhtisar pencapaian kinerja selama tahun pelaporan.
c. Menyajikan informasi tentang dasar penyusunan laporan keuangan
dan kebijakan-kebijakan akuntansi yang dipilih untuk diterapkan atas
transaksi-transaksi dan kejadian-kejadian penting lainnya.
d. Menyediakan informasi tambahan yang diperlukan untuk penyajian
yang wajar, yang tidak disajikan dalam lembar muka laporan
keuangan.
D. Definisi Kinerja
Bastian (2005: 274)

memaparkan pengertian kinerja sebagai

gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan atau


program atau kebijaksanaan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, misi, dan
visi organisasi yang tertuang dalam perumusan perencanaan strategis
(strategic planning) suatu organisasi. Secara umum, kinerja merupakan
prestasi yang dapat dicapai oleh organisasi dalam periode tertentu.
E. Definisi Pengukuran Kinerja
Dalam mengukur keberhasilan atau kegagalan suatu organisasi,
seluruh aktivitas organisasi tersebut harus dapat dicatat dan diukur.

Pengukuran ini tidak hanya dilakukan pada masukan (input) program, tetapi
juga pada keluaran (output) dari program tersebut.
Ukuran kinerja dan indikator kinerja merupakan dua istilah yang
berbeda. Ukuran kinerja mengacu pada penilaian kinerja secara langsung,
sedangkan indikator kinerja mengacu pada penilaian secara tidak langsung,
yaitu hal-hal yang sifatnya hanya merupakan indikasi-indikasi kinerja.

F. Aspek Pengukuran Kinerja


Sesuai dengan publikasi Pengukuran Kinerja Instansi Pemerintah oleh
Lembaga Administrasi Negara (LAN) Jakarta, maka pengukuran kinerja
sangat terkait dengan aspek-aspek yang dijelaskan sebagai berikut :
1. Aspek finansial, terdiri atas belanja rutin dan belanja pembangunan dari
setiap instansi pemerintahan.
2. Aspek kepuasan pelanggan (customers), yaitu bagaimana instansi
pemerintah merespon tuntutan masyarakat atas pelayanan yang
berkualitas dengan memberikan

pelayanan yang prima secara terus-

menerus.
3. Aspek operasi bisnis internal, ditujukan untuk informasi bisnis internal
guna memastikan bahwa kegiatan pemerintah sudah seirama (in-concert)
dalam rangka mencapai tujuan dan sasaran organisasi seperti yang
tercantum dalam rencana strategis.
4. Aspek kepuasan pegawai, dalam setiap organisasi pegawai merupakan
aset yang harus dikelola dengan baik, terutama dalam organisasi yang
banyak melakukan inovasi dan peran strategis.

5. Aspek kepuasan komunitas dan stakeholders. Informasi dan pengukuran


kinerja harus didesain untuk mengakomodasi kepuasan komunitas dan
para pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders).
6. Aspek waktu. Ukuran waktu merupakan variabel penting dalam desain
pengukuran kinerja untuk kebutuhan perputaran informasi yang cepat
dalam rangka membantu pengambilan keputusan yang cepat dan tepat.
G. Tujuan Pengukuran Kinerja
Pengukuran kinerja merupakan manajemen pencapaian kinerja.
Pengukuran kinerja secara berkelanjutan akan memberikan umpan balik (feed
back) sehingga upaya perbaikan secara terus-menerus akan mencapai
keberhasilan di masa mendatang.
Pengukuran kinerja merupakan alat manajemen untuk :
1. Memastikan pemahaman para pelaksana dan ukuran yang digunakan
untuk pencapaian kinerja.
2. Memastikan tercapainya skema yang disepakati.
3. Memonitor dan mengevaluasi kinerja dan membandingkannya dengan
skema kerja serta melakukan tindakan untuk memperbaiki kinerja.
4. Memberikan penghargaan dan hukuman yang objektif atas kinerja yang
dicapai setelah dibandingkan dengan indikator kinerja yang telah
disepakati.
5. Menjadikan alat komunikasi antara bawahan dan pimpinan dalam upaya
memperbaiki kinerja organisasi.
6. Mengindentifikasi apakah kepuasan pelanggan sudah terpenuhi.
7. Membantu memahami proses kegiatan instansi pemerintah.
8. Memastikan bahwa pengambilan keputusan dilakukan secara objektif.
9. Menunjukkan peningkatan yang perlu dilakukan.
10. Mengungkapkan permasalahan yang terjadi.
H. Definisi Indikator Kinerja

Indikator kinerja adalah ukuran kuantitatif dan kualitatif yang


menggambarkan tingkat pencapaian suatu sasaran atau tujuan yang telah
ditetapkan dengan memperhatikan:
1. Indikator masukan (input), yaitu segala sesuatu yang dibutuhkan agar
pelaksanaan kegiatan dapat berjalan untuk menghasilkan keluaran
(output).
2. Indikator keluaran (output), adalah segala sesuatu yang diharapkan
langsung dicapai dari suatu kegiatan yang dapat berupa fisik dan/atau
nonfisik.
3. Indikator hasil (outcome), adalah segala sesuatu yang mencerminkan
berfungsinya keluaran (output) kegiatan pada jangka menengah (efek
langsung).
4. Indikator rnanfaat (benefit), adalah sesuatu yang terkait dengan tujuan
dari pelaksanaan kegiatan.
5. Indikator dampak (impacts) adalah pengaruh yang ditimbulkan, baik
positif maupun negatif terhadap setiap tingkatan indikator didasarkan
asumsi yang telah ditetapkan.
Dengan demikian, indikator kinerja harus merupakan sesuatu yang
dapat diukur dan digunakan sebagai dasar untuk menilai kinerja, baik pada
tahap perencanaan, tahap pelaksanaan maupun setelah kegiatan selesai.
Indikator kinerja juga dapat digunakan untuk melihat kemajuan dalam hal
pencapaian tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan oleh organisasi instansi
pemerintahan.

I. Penyusunan Indikator Kinerja


Dalam modul Lembaga Administrasi Negara (LAN) dan Badan
Pengawasan Keuangan Pemerintah (BPKP) (2000:10) dijelaskan bahwa

sebelum menyusun dan menetapkan indikator kinerja terlebih dahulu perlu


diketahui syarat-syarat dalam penyusunan indikator kinerja. Syarat-syarat
tersebut adalah sebagai berikut :
1. Spesifikasi dan jelas sehingga mudah dipahami dan meminimalisasi
kemungkinan kesalahan interpretasi.
2. Dapat diukur secara objektif, baik yang bersifat kuantitatif maupun
kualitatif, yaitu dua atau lebih yang mengukur indikator kinerja
mempunyai kesimpulan yang sama.
3. Relevan, indikator kinerja harus menangani aspek-aspek objektif yang
relevan.
4. Dapat dicapai dan bermanfaat untuk menunjukkan keberhasilan
masukan, keluaran, hasil, manfaat, dan dampak.
5. Efektif, data yang digunakan berkaitan dengan indikator kinerja yang
bersangkutan, dapat dikumpulkan, diolah, dan dianalisis dengan biaya
yang tersedia.
Ada beberapa langkah yang perlu dilakukan untuk penyusunan dan
penetapan indikator kinerja pemerintah, yaitu sebagai berikut :
1. Susun dan tetapkan rencana strategis terlebih dahulu. Rencana strategis
meliputi visi, misi, tujuan, sasaran, dan cara mencapai tujuan/sasaran
(kebijaksanaan, program dan kegiatan).
2. Identifikasi data/informasi yang dapat dikembangkan menjadi indikator
kinerja. Dalam hal ini, data/ informasi yang relevan, lengkap, akurat, dan
kemampuan pengetahuan tentang bidang yang akan dibahas untuk
menyusun dan menetapkan indikator kinerja yang tepat dan relevan.
3. Pilih dan tetapkan indikator kinerja yang paling relevan dan berpengaruh
besar terhadap keberhasilan pelaksanaan kebijakan/program kegiatan.

J. Penelitian Terdahulu
Hasil-hasil penelitian sebelumnya dapat digunakan sebagai acuan
dalam penelitian ini. Beberapa penelitian sebelumnya yang berkaitan dengan
keuangan daerah, antara lain:
Maharani (2006) melakukan penelitian di Kantor Dinas Pendapatan
Kota Batu. Jenis penelitian berupa studi kasus dan data yang digunakan
adalah data sekunder berupa dokumen dan catatan Pemda Kota Batu. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa kinerja tingkat kemandirian Pemda Kota Batu
rasio kemandirian mengalami penurunan yang berarti Pemda Kota Batu
cenderung memiliki ketergantungan finansial yang sangat tinggi kepada
pemerintah pusat. Hal ini dapat dilihat dari kontribusi PAD terhadap total
APBD yang masih relatif kecil dan sumber pembiayaan utama masih
bersumber dari dana Perimbangan Pemerintah Pusat.
Sakti (2010) meneliti tentang analisis perkembangan kemampuan
keuangan daerah dalam mendukung pelaksanaan otonomi daerah (studi
empiris

di

Kabupaten

Sukoharjo).

Dalam

penelitian

ini,

peneliti

menggunakan beberapa rasio keuangan, seperti rasio kemandirian keuangan


daerah, indeks kemampuan rutin, rasio keserasian, dan rasio pertumbuhan.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa perkembangan keuangan di
Kabupaten Sukoharjo di sektor keuangan masih kurang. Untuk itu diperlukan
upaya untuk peningkatan PAD, baik secara ekstensifikasi yaitu pemerintah
daerah harus dapat mengidentifikasi potensi daerah sehingga peluang-peluang
baru untuk sumber penerimaan daerah dapat dicari, sedangkan secara
intensifikasi dengan memperbaiki kinerja pengelolaan pemungutan pajak.

Yanti (2011) meneliti tentang analisis rasio sebagai indikator kinerja


keuangan pemerintah Kabupaten Soppeng. Dalam penelitian ini, peneliti
menggunakan beberapa analisis rasio untuk mengukur indikator kinerja
keuangan daerah, seperti rasio kemandirian keuangan daerah, rasio efektifitas
dan efisiensi pendapatan asli daerah, rasio aktivitas (rasio keserasian), debt
service coverafe ratio (DSCR), dan rasio pertumbuhan. Hasil dari penelitian
ini menunjukkan bahwa kemampuan Pemda Kabupaten Soppeng dalam
melaksanakan kegiatan pemerintahan dan pembangunan serta pelayanan
masyarakat dapat dikatakan memiliki kinerja yang positif.
Yuniarti (2011) meneliti tentang analisis kemampuan keuangan daerah
Kabupaten Situbondo di era otonomi daerah tahun 2001-2010. Dalam
penelitian ini ada beberapa indikator yang digunakan sebagai alat analisis
seperti rasio kemampuan keuangan daerah, rasio indeks kemampuan rutin,
dan rasio pertumbuhan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa
Kabupaten Situbondo mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan.
Namun, rasio kemampuan keuangan daerah dan indeks kemampuan rutin
masih kurang dari yang diharapkan.
K. Analisis Rasio Keuangan
Analisis dari item-item laporan keuangan berperan penting dalam
interpretasi data keuangan dan operasi entitas. Karena itu, banyak analisis
yang memanfaatkan rasio keuangan untuk membantu melakukan kegiatan
analisis dan interpretasi laporan keuangan. Penggunaan laporan keuangan
sebagai alat analisis dapat membantu pihak pembuat kebijakan untuk
membuat kebijakan yang rasional dan sesuai dengan tujuan entitas karena

analisis rasio dapat membantu dalam mengindentifikasi beberapa kekuatan


dan kelemahan keuangan entitas. Dengan kata lain, rasio keuangan adalah
penulisan ulang data akuntansi ke dalam bentuk perbandingan dalam rangka
mengindentifikasikan kekuatan dan kelemahan keuangan. Analisis keuangan
merupakan usaha mengindentifikasikan ciri-ciri keuangan berdasarkan
laporan keuangan yang tersedia.
Analisis

rasio

keuangan

pada

APBD

dilakukan

dengan

membandingkan hasil yang dicapai dari suatu periode dibandingkan dengan


periode sebelumnya sehingga dapat diketahui kecenderungan yang terjadi.
Adapun pihak-pihak yang berkepentingan dengan rasio keuangan pada APBD
antara lain :
1. DPRD sebagai wakil rakyat dari masyarakat.
2. Pihak eksekutif sebagai landasan dalam menyusun APBD berikutnya.
3. Pemerintah pusat/provinsi sebagai bahan masukan dalam pembinaan
pelaksanaan pengelolaan keuangan daerah.
4. Masyarakat dan kreditur sebagai pihak yang akan turut memiliki saham
Pemda, bersedia memberi pinjaman ataupun membeli obligasi.
L. Kegunaan Analisis Rasio Keuangan
Martono dan Agus (2001:240) mengungkapkan bahwa analisis rasio
keuangan antara lain berguna dalam:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Pengambilan keputusan investasi.


Keputusan pemberian kredit.
Penilaian aliran kas.
Penilaian sumber-sumber ekonomi.
Melakukan klaim terhadap sumber-sumber dana.
Menganalisis perubahan-perubahan yang terjadi terhadap sumber-sumber

dana.
7. Menganalisis penggunaan dana.
Berdasarkan sumber analisis, rasio keuangan dapat dibedakan menjadi :

1. Perbandingan internal, yaitu membandingkan rasio pada saat ini dengan


rasio pada masa lalu dan masa yang akan datang dalam entitas yang
sama.
2. Perbandingan eksternal, yaitu membandingkan rasio sebuah entitas
dengan entitas-entitas sejenis atau dengan rata-rata entitas pada saat yang
sama.
M. Jenis-Jenis Rasio Keuangan
Halim (2004:150) menyatakan, ada beberapa rasio yang dapat
dikembangkan berdasarkan data keuangan yang bersumber dari APBD:
1. Rasio Kemandirian Keuangan Daerah
Rasio

kemandirian

menggambarkan

ketergantungan

daerah

terhadap sumber dana ekstern. Semakin tinggi rasio kemandirian daerah,


tingkat ketergantungan terhadap bantuan pihak ekstern (terutama
pemerintah pusat dan provinsi) semakin rendah, dan sebaliknya.
Rasio Kemandirian =

Pendapatan Asli Daerah


Bantuan Pusat dan Pinjaman

(Halim, 2004:150)
22004

Rasio ini juga menggambarkan tingkat partisipasi masyarakat


dalam pembangunan daerah. Semakin tinggi rasio kemandirian, semakin
tinggi partisipasi masyarakat dalam membayar pajak dan retribusi daerah
serta menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat yang semakin
tinggi.
2. Rasio Efektifitas dan Efisiensi Pendapatan Asli Daerah (PAD)
Rasio efektifitas menggambarkan kemampuan Pemda dalam
merealisasikan PAD yang direncanakan dibandingkan target yang
ditetapkan berdasarkan potensi riil daerah. Kemampuan daerah dalam

menjalankan tugas dikategorikan efektif apabila rasio yang dicapai


minimal sebesar 1 (satu) atau 100 persen. Semakin tinggi rasio efektivitas
menggambarkan kemampuan daerah yang semakin baik.

Rasio Efektifitas
Untuk memperoleh ukuran yang lebih baik, rasio efektifitas perlu
dibandingkan dengan rasio efisiensi yang dicapai pemerintah. Rasio
Realisasi Penerimaan PAD
(Halim, 2004:150)
efisiensi menggambarkan Target
perbandingan
antara
biaya yang
Penerimaan
PADbesarnya
22004
dikeluarkan untuk memperoleh pendapatan dengan realisasi pendapatan
yang diterima. Kinerja pemerintah daerah dikatakan efisien apabila rasio
yang dicapai kurang dari 1 (satu) atau dibawah l00 persen. Semakin kecil
rasio efisiensi menggambarkan kemampuan daerah yang semakin baik.
Biaya yang dikeluarkan untuk memungut PAD

Rasio Efisiensi

Realisasi Penerimaan PAD


(Halim, 2004:150)
22004

3. Rasio Pertumbuhan
Rasio pertumbuhan (growth ratio) mengukur seberapa besar
kemampuan

Pemda

dalam

mempertahankan

dan

meningkatkan

keberhasilan yang telah dicapai dari periode ke periode berikutnya.


Dengan mengetahui pertumbuhan masing-masing komponen sumber
pendapatan dan pengeluaran, maka dapat dilakukan evaluasi terhadap
potensi-potensi daerah yang perlu mendapat perhatian. Semakin tinggi
persentase pertumbuhan setiap komponen pendapatan dan pengeluaran,
maka semakin besar kamampuan Pemda dalam mempertahankan dan
meningkatkan keberhasilan yang dicapai dari setiap periode.

Pendapatan Asli Daerah ( PAD )=

PAD t 1 PAD t 0
PAD t 0

dimana: t0 = tahun awal


t1 = tahun akhir

(Halim, 2004:150),
22004

N. Kerangka Pikir
Penelitian ini didasari oleh Peraturan Menteri Dalam Negeri (PMDN)
No.13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. Dalam
hal ini ada 2 (dua) kebijakan yang sangat berperan di dalamnya, yaitu
kebijakan nasional dan kebijakan daerah. Kebijakan nasional tertuang dalam
UU No. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah
Pusat dan Daerah yang telah direvisi dengan UU No. 33 Tahun 2004. Selain
itu, juga tertuang dalam PP No. 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi
Pemerintahan. Sementara kebijakan daerah tertuang dalam UU No. 22 Tahun
1999 tentang Pemerintah Daerah yang telah direvisi dengan UU No. 32 Tahun
2004.
Dilihat dari kebijakan-kebijakan di atas, maka dalam penelitian ini
peneliti menggunakan metode pengukuran kinerja keuangan daerah dengan
alat analisis sebagai berikut:
1. Rasio kemandirian keuangan daerah
2. Rasio efektifitas
3. Rasio pertumbuhan
Alat analisis tersebut digunakan berdasarkan kajian teori dan
penelitian terdahulu yang sangat memengaruhi metode pengukuran kinerja
keuangan daerah. Rasio-rasio tersebut akan digunakan untuk melihat kinerja

keuangan daerah Pemkab Soppeng berpengaruh signifikan terhadap efisiensi


penggunaan PAD.
Berdasarkan masalah yang ada, maka dapat dibuat suatu kerangka
pikir secara sistematis seperti berikut:

Rasio Kemandirian(X1)
Rasio Efisiensi
PAD
(Y)

Rasio Efektifitas (X2)


Rasio Pertumbuhan (X3)

Gambar 2.1 Kerangka Pikir

O. Hipotesis
Hipotesis dalam penelitian ini, antara lain:
Hipotesis 1

: Didugabahwa kinerja keuangan daerah Pemkab Soppeng


dalam delapan tahun terakhir (2003-2010) baik.

Hipotesis 2

: Diduga bahwa

efisiensi PAD Pemkab Soppeng dalam

delapan tahun terakhir (2003-2010) efisien.


Hipotesis 3

: Diduga bahwa kinerja keuangan daerah Pemkab Soppeng


berpengaruh signifikan terhadap efisiensi penggunaan PAD.

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan di Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan, dan
Aset Daerah (DPPKAD) Pemerintah Daerah Kabupaten Soppeng yang
berlokasi di Kompleks Perkantoran Jalan Salotungo, Kecamatan Lalabata,
Kabupaten Soppeng.
B. Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi dalam penelitian ini adalah Laporan Realisasi Anggaran


Pemerintah Kabupaten Soppeng. Sementara kriteria penarikan sampel
diambil dari Laporan Realisasi Anggaran Pemerintah Kabupaten Soppeng
selama 8 (delapan) tahun, dari tahun 2003 sampai 2010.
C. Metode Pengumpulan Data
Metode penelitian yang digunakan dalam pengumpulan data adalah :
1. Tinjauan Pustaka (Library Research)
Tinjauan pustaka dilakukan dengan cara mengumpulkan data dan
mempelajari literatur-literatur yang ada berupa buku-buku, karya ilmiah,
jurnal atau artikel-artikel terkait, serta mengakses website dan situs-situs
yang menyediakan informasi yang berkaitan dengan masalah penelitian.
2. Penelitian Lapangan (Field Research)
Penelitian lapangan adalah penelitian yang dilakukan langsung di
instansi pemerintahan, dalam hal ini Pemda Kabupaten Soppeng dengan
melakukan wawancara (interview) dengan pihak yang berkompeten
terhadap data yang diperlukan oleh penulis serta pengumpulan data yang
dianggap relevan dengan masalah penelitian.

D. Jenis dan Sumber Data


Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas :
1. Data kuantitatif, yaitu data yang berupa angka-angka yang termuat dalan
Laporan Realisasi Anggaran Pemda Kabupaten Soppeng tahun anggaran
2003-2010 serta data-data lain yang berhubungan dengan masalah
penelitian.

2. Data kualitatif, yaitu data yang diperoleh dari hasil wawancara dengan
pihak-pihak yang terkait, baik dari instansi Pemda Kabupaten Soppeng
maupun pihak lain yang dianggap kompeten dalarn memberikan
informasi yang dibutuhkan dalam penelitian ini.
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari :
1. Data primer, yaitu data yang diperoleh secara langsung dari hasil
penelitian (field research) pada instansi Pemda Kabupaten Soppeng.
2. Data sekunder, yaitu data yang diperoleh dari pihak lain atau sumber lain
yang berkaitan dengan penelitian ini yang sudah diolah dan didapatkan
melalui dokumen-dokumen yang telah tersedia.

E. Variabel Penelitian
Variabel dalam penelitian ini ada dua, yaitu variabel independen atau
variabel bebas yang selanjutnya dinyatakan dengan simbol X dan variabel
dependen atau terikat yang selanjutnya dinyatakan dengan simbol Y.

1. Variabel Bebas (X)


Variabel bebas merupakan variabel yang diduga memengaruhi
variabel terikat. Variabel bebas yang digunakan dalam penelitian ini
meliputi:
a. Rasio Kemandirian Keuangan Daerah (X1)
Rasio kemandirian menggambarkan ketergantungan daerah
terhadap sumber dana ekstern. Semakin tinggi rasio kemandirian
daerah, tingkat ketergantungan terhadap bantuan pihak ekstern
(terutama pemerintah pusat dan provinsi) semakin rendah, dan
sebaliknya.

Rasio Kemandirian

Pendapatan Asli Daerah


Bantuan Pusat dan Pinjaman

Rasio ini juga menggambarkan tingkat partisipasi masyarakat


dalam pembangunan daerah. Semakin tinggi rasio kemandirian,
semakin tinggi partisipasi masyarakat dalam membayar pajak dan
retribusi

daerah

serta

menggambarkan

tingkat

kesejahteraan

masyarakat yang semakin tinggi.


b. Rasio Efektifitas Pendapatan Asli Daerah (X2)
Rasio efektifitas menggambarkan kemampuan Pemda dalam
merealisasikan PAD yang direncanakan dibandingkan target yang
ditetapkan berdasarkan potensi riil daerah. Kemampuan daerah dalam
menjalankan tugas dikategorikan efektif apabila rasio yang dicapai
minimal sebesar 1 (satu) atau 100 persen. Semakin tinggi rasio
c.

efektivitas menggambarkan kemampuan daerah yang semakin baik.


Rasio Pertumbuhan (X3)
Rasio pertumbuhanRealisasi
(growthPenerimaan
ratio) mengukur
PAD seberapa besar
Rasio Efektifitas =
kemampuan Pemda dalam
mempertahankan
dan meningkatkan
Target
Penerimaan PAD
keberhasilan yang telah dicapai dari periode ke periode berikutnya.
Dengan mengetahui pertumbuhan masing-masing komponen sumber
pendapatan dan pengeluaran, maka dapat dilakukan evaluasi terhadap
potensi-potensi daerah yang perlu mendapat perhatian. Semakin tinggi
persentase

pertumbuhan

setiap

komponen

pendapatan

dan

pengeluaran, maka semakin besar kamampuan Pemda dalam


mempertahankan dan meningkatkan keberhasilan yang dicapai dari
setiap periode.
Pendapatan Asli Daerah ( PA D ) =

2. Variabel Terikat (Y)

PAD t 1 PAD t 0
PAD t 0

Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi oleh variabel


bebas. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah rasio efisiensi PAD (Y).
Untuk memperoleh ukuran yang lebih baik, rasio efektifitas perlu
dibandingkan dengan rasio efisiensi yang dicapai pemerintah. Rasio
efisiensi menggambarkan perbandingan antara besarnya biaya yang
dikeluarkan untuk memperoleh pendapatan dengan realisasi pendapatan
yang diterima. Kinerja pemerintah daerah dikatakan efisien apabila rasio
yang dicapai kurang dari 1 (satu) atau dibawah l00 persen. Semakin kecil
rasio efisiensi menggambarkan kemampuan daerah yang semakin baik.

Rasio Efisiensi=

Biaya yang dikeluarkan untuk Memungut PAD


realisasi Penerimaan PAD

Tabel 3. 1. Operasionalisasi Variabel


Variabel

Konsep
Rasio

Kemandirian

Rasio

Indikator
kemandirian
menunjukk
an
kemampua
n Pemda
dalam
membiayai
sendiri
kegiatan
pemerintah
an,
pembangu
nan,
dan
pelayanan
masyarakat
.
efektifitas

Rasio Kemandirian =
PAD
Bantuan Pusat & Pinjaman

Rasio

Pertumbuhan

Rasio

menggamb
arkan
kemampua
n Pemda
dalam
merealisasi
kan PAD
yang
direncanak
an
dibandingk
an target
yang
ditetapkan
berdasarka
n potensi
riil daerah.
pertumbuhan
mengukur
seberapa
besar
kemampua
n Pemda
dalam
mempertah
ankan dan
meningkat
kan
keberhasila
n
yang
telah
dicapai
dari
periode ke
periode
berikutnya.
efisiensi
menggamb
arkan
perbanding
an antara
besarnya
biaya yang
dikeluarka
n
untuk
memperole
h
pendapatan

Rasio Efektifitas

Realisasi Penerimaan PAD


Target Penerimaan PAD

PAD=

PAD t 1 PAD t 0
PAD t 0

Rasio Efisiensi =
Biaya Pemungutan PAD
Realisasi Penerimaan PAD

dengan
realisasi
pendapatan
yang
diterima.

F. Metode Analisis
Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini, antara lain:
1. Analisis deskripsi kuantitatif
Metode ini menerapkan konsep perhitungan rasio keuangan, yaitu
dengan menghitung rasio keuangan dari pos-pos dalam Realisasi Anggaran
yang tertuang dalam Laporan Realisasi Anggaran untuk tahun anggaran
2003-2010. Metode ini dilakukan dengan memperhatikan indikator kinerja
Pemda Kabupaten Soppeng dalam mengelola keuangan daerahnya dengan
menggunakan rasio-rasio.
2. Analisis Regresi Berganda
Regresi berganda berguna untuk meramalkan pengaruh dua
variabel atau lebih terhadap satu variabel untuk membuktikan ada atau
tidaknya hubungan antara dua buah variabel bebas (X) atau lebih dengan
sebuah variabel terikat (Y). Analisis regresi berganda dalam penelitian ini
digunakan untuk menganalisa kinerja kemandirian keuangan daerah
Pemkab Soppeng terhadap efisiensi PAD.
Formulasi persamaan regresi berganda adalah sebagai berikut:
Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + e
di mana:

(Ghozali, 2009:13)

: rasio efisiensi PAD

: bilangan konstanta

b1-b3

: koefisien regresi

X1

: rasio kemandirian keuangan daerah

X2

: rasio efektifitas

X3

: rasio belanja

: variabel pengganggu

3. Uji T atau Uji Parsial


Uji T digunakan untuk menguji pengaruh variabel independen
secara parsial terhadap variabel dependen, yaitu pengaruh dari masingmasing variabel independen yang terdiri atas rasio kemandirian keuangan
daerah, rasio efektifitas, dan rasio belanja terhadap rasio efisiensi PAD
yang merupakan variabel dependennya. Pengambilan keputusan uji
hipotesis secara parsial didasarkan pada nilai probabilitas yang diperoleh
dari hasil pengolahan data melalui program SPSS Statistik Parametrik
(Ghozali, 2009:25) sebagai berikut:
a) Jika probabilitas < 0,05 atau nilai thitung > ttabel pada taraf signifikansi
0,05, maka hipotesis diterima.
b) Jika probabilitas > 0,05 atau thitung < ttabel pada taraf signifikansi 0,05,
maka hipotesis ditolak.
Pada uji T, nilai probabilitas dapat dilihat dari hasil pengolahan
program SPSS pada tabel coefficients kolom sig atau significance.
4. Uji F atau Uji Simultan
Uji F digunakan untuk menguji pengaruh variabel independen
secara bersama-sama terhadap variabel dependen dari suatu persamaan

regresi dengan menggunakan hipotesis statistik. Sama halnya dengan uji


hipotesis secara parsial, pengambilan keputusan secara simultan juga
didasarkan pada nilai probabilitas yang diperoleh dari hasil pengolahan
data SPSS Statistik Parametrik (Ghozali, 2009:26)sebagai berikut:
a) Jika probabilitas < 0,05 atau nilai Fhitung > Ftabel pada taraf signifikansi
0,05, maka hipotesis diterima.
b) Jika probabilitas > 0,05 atau F hitung < Ftabel pada taraf signifikansi 0,05,
maka hipotesis ditolak.
Nilai probabilitas dari uji F dapat dilihat dari hasil pengolahan
program SPSS pada tabel ANOVA kolom sig atau significance.

BAB IV
GAMBARAN UMUM

A. Letak Geografis Kabupaten Soppeng


Kabupaten Soppeng adalah salah satu wilayah yang mempunyai peranan
cukup penting dalam pembangunan ekonomi Provinsi Sulawesi Selatan,
Kondisi alam yang potensial terutama untuk lahan pertanian serta letak
geografis yang sangat strategis menjadi pendukung utama dalam pembangunan
ekonomi di Kabupaten Soppeng.
Adapun letak astronomis Kabupaten Soppeng adalah terletak antara 4
06 LS dan 4o 32o LS 119o 42o 18o BT dan 120o 06o 13o BT.
B. Letak Administratif
Kabupaten Soppeng beribukota di Kecamatan Lalabata yang secara
administratif berbatasan dengan :
1. Kabupaten Sidenreng Rappang di sebelah utara.
2. Kabupaten Wajo dan Kabupaten Bone di sebelah timur.
3. Kabupaten Bone di sebelah selatan.
4. Kabupaten Barru di sebelah barat.
C. Tugas dan Fungsi Unit Kerja Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan
dan Aset Daerah (DPPKAD) Kabupaten Soppeng
Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD)
adalah salah satu perangkat yang dalam melaksanakan tugasnya berada di

bawah dan bertanggung jawab langsung kepada bupati melalui sekretaris


daerah kabupaten. Adapun tugas pokok, fungsi dan tata kerja DPPKAD
berdasarkan Perda Nomor 26 tahun 2008 tentang Pembentukan Organisasi dan
Tata Kerja Dinas Daerah Pemerintah Kabupaten Soppeng. Untuk lebih
jelasnya, struktur organisasi DPPKAD Kabupaten Soppeng dapat dilihat pada
lampiran.
Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD)
Kabupaten Soppeng terdiri atas :
1. Kepala Dinas
Kepala Dinas mempunyai fungsi;
a. Perumusan kebijakan teknis dinas
b. Penyusunan rencana stratejik dinas
c. Penyelenggaraan pelayanan urusan pemerintahan dan pelayanan umum
di bidang pengelolaan pendapatan, pengelolaan keuangan dan aset
daerah.
d. Pembinaan, pengkoordinasian, pengendalian, pengawasan program dan
kegiatan dinas.
e. Penyelenggaraan evaluasi program dan kegiatan dinas.
f. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh pimpinan sesuai dengan
tugas dan fungsinya.
Rincian tugas kepala dinas antara lain :
a. Merumuskan, mengarahkan dan menyelenggarakan rencana stratejik
program kerja dinas sesuai dengan visi dan misi daerah.
b. Mengkoordinasikan perumusan dan penyusunan program kerja dinas

sesuai dengan bidang tugasnya.


c. Mengkoordinasikan penyusun dan pedoman pelaksanaan kebijakan
pengelolaan

keuangan

daerah,

mengkoordinasikan

penyusunan

Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD),


rancangan perubahan APBD dan sisa perhitungan APBD serta
melakukan pengendalian dan pengawasan terhadap pelaksanaan
APBD.
d. Mengarahkan, merumuskan program kerja dan menetapkan kebijakan
operasional di bidang pendapatan, pengelolaan keuangan dan aset
daerah.
e. Mengkoordinasikan penyusunan laporan keuangan daerah dalam
rangka mempertanggung jawabkan pelaksanaan anggaran.
2. Sekretariat
Sekretariat mempunyai fungsi:
a. Perumusan kebijakan teknis administrasi kepegawaian, adminstrasi
keuangan, perencanaan pelaporan dan urusan rumah tangga.
b. Penyelenggaraan administrasi umum.
c. Pembinaan, pengkoordinasian, pengendalian pengawasan program dan
kegiatan sub bagian.
d. Penyelenggaraan monitoring dan evaluasi program kegiatan.
e. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh atasan sesuai dengan tugas
dan fungsinya,
Rincian tugas sekretariat antara lain :
a. Merencanakan,

mengkoordinasikan,

menggerakkan

dan

mengendalikan serta menetapkan kebijakan di bidang umum,


kepegawaian, keuangan, dan perlengkapan.
b. Merencanakan kegiatan tahunan sebagai pedoman pelaksanaan tugas.
c. Mengelola dan mengkoordinasikan pelaksanaan pelayanan teknis dan
administratif kepada seluruh satuan organisasi dalam lingkup dinas.
d. Mengelola dan mengkoordinasikan pelaksanaan urusan umum dan
kepegawaian.
e. Mengelola dan mengkoordinasikan pelaksanaan urusan perencanaan
dan pelaporan.
Sekertariat terdiri dari :
a. Sub bagian umum dan kepegawaian, mempunyai tugas antara lain :
1) Menyusun rencana pelaksanaan program dan kegiatan di bidang
umum

dan kepegawaian sebagai pedoman dalam pelaksanaan

tugas.
2) Mengelola dan melaksanakan urusan rumah tangga dan surat
menyurat.
3) Mengelola dan melaksanakan urusan kearsipan dan perpustakaan.
4) Mengelola dan melaksanakan urusan keprotokoleran dan perjalan
dinas.
b. Sub bagian perencanaan dan pelaporan, mempunyai tugas antara lain :
1) Menyusun rencana dan jadwal kegiatan operasional tahunan dinas
sebagai pedoman pelaksanaan tugas.
2) Menghimpun dan mempersiapkan bahan penyusun rencana kerja
dinas.

3) Menghimpun dan mempersiapkan bahan penyusunan laporan.


4) Mengkoordinasikan penyusunan rencana program dan kegiatan
dinas.
c. Sub bagian keuangan, mempunyai tugas antara lain :
1) Membuat rencana operasional program kerja sub bagian.
2) Mempersiapkan bahan-bahan dan penyusunan rencana kebutuhan
anggaran dilingkungan dinas' sebagai pedoman pelaksanaan tugas.
3) Membuat daftar usulan kegiatan.
4) Membuat daftar gaji dan melaksanakan penggajian.
3. Bidang Pendapatan Asli Daerah (PAD)
Bidang PAD mempunyai fungsi yaitu :
a. Penyusunan kebijakan teknis bidang
b. Penyelenggaraan program dan kegiatan bidang.
c. Pembinaan, pengkoordinasian, pengendalian, pengawasan program dan
kegiatan kepala seksi dalam lingkup bidang.
d. Penyelenggaraan monitoring dan evaluasi program kegiatan.
e. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh atasan sesuai dengan tugas dan
fungsinya.
Bidang PAD mempunyai tugas yaitu :
a. Merencanakan program dan kegiatan sesuai tugas dan fungsinya
sebagai pedoman pelaksanaan tugas.
b. Menyelenggarakan operasionalisasi rencana kerja sesuai dengan tugas
dan fungsinya.
c. Merumuskan kebijakan teknis pelaksanaan dan pengkoordinasian

potensi PAD.
d. Memberikan petunjuk administratif dan operasional pelaksanaan tugas
kepada Kepala Seksi dan Kepala UPTD sesuai dengan tugas dan
fungsinya.
e. Menyelenggarakan kebijakan pengelolaan pajak, retribusi daerah,
pembinaan dan pengawasan, evaluasi pajak dan retribusi serta
pungutan lainnya yang sah.
Bidang PAD terdiri dari :
a. Seksi pajak daerah, bertugas:
1) Menyusun rencana kerja sesuai tugas dan fungsinya sebagai
pedoman pelaksanaan tugas.
2) Melaksanakan rencana penerimaan pendapatan daerah yang
bersumber dari pajak daerah.
3) Melaksanakan pengkajian terhadap peraturan perundang-undangan
di bidang pajak daerah serta data potensi pajak daerah.
4) Membuat kebijakan bisnis pemungutan pajak daerah meliputi
pendataan, penetapan penerimaan, penyetoran dan penagihan.
b. Seksi retribusi pajak daerah, bertugas:
1) Menyusun rencana kerja sesuai tugas dan fungsinya sebagai
pedoman pelaksanaan tugas.
2) Melaksanakan pengkajian terhadap peraturan perundang-undangan di
bidang retribusi daerah serta data potensi retribusi daerah.
3) Melakukan koordinasi dengan instansi terkait dalam rangka kelancaran
pelaksanaan tugas.

4) Melaksanakan monitoring dan evaluasi pr-ogram dan kegiatan serta


membuat laporan hasil pelaksanaan tugas.
c. Seksi lain-lain PAD yang sah, bertugas:
1) Menyusun rencana kerja sesuai tugas dan fungsinya sesuai dengan
pedoman pelaksanaan tugas.
2) Melaksanakan pengkajian terhadap peraturan perundang-undangan di
bidang lain-lain PAD yang sah serta data potensi lain-lain PAD yang
sah.
3) Melakukan koordinasi dengan instansi terkait dalam rangka kelancaran
pelaksanaan tugas.
4) Menilai

prestasi

kerja

staf

dalam

rangka

pembinaan

dan

pengembangan karier.
4. Bidang Anggaran
Bidang Anggaran mempunyai fungsi antara lain ;
a. Penyusun kebijakan teknis bidang.
b. Penyelenggraan program dan kegiatan bidang.
c. Pembinaan, pengkoordinasian, pengendalian, pengawasan program
dan kegiatan kepala seksi dalam lingkup bidang.
d. Penyelenggaraan monitoring dan evaluasi program kegiatan.
e. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh atasan sesuai dengan tugas
dan fungsinya,
Bidang anggaran mempunyai tugas antara lain:
a. Merencanakan program dan kegiatan sesuai tugas dan fungsinya sebagai
pedoman pelaksanaan tugas.

b. Menyelenggarakan operasionalisasi rencana kerja sesuai tugas dan


fungsinya.
c. Merumuskan

kebijakan

teknis

pelaksanaan

dan

pengoordinasian

pengelolaan anggaran.
d. Melaksanakan pengkajian kebijakan pengaplikasian anggaran daerah dan
penyusunan APBD.
Bidang anggaran terdiri dari :
a. Seksi penyusunan APBD
Seksi penyusunan APBD mempunyai tugas antara lain :
1) Menyusun rencana kerja sesuai tugas dan fungsinya sebagai
pedoman pelaksanaan tugas.
2) Melaksanakan pengkajian kebijakan pegalokasian daerah.
3) Menyiapkan bahan perumusan pedoman penyusunan APBD.
4) Melaksanakan rekapitulasi dokumen anggran dan perubahan
anggaran.
b. Seksi perbendaharaan
Seksi perbendaharaan mempunyai tugas antara lain :
1) Menyusun rencana sesuai tugas dan fungsinya sebagai pedoman
pelaksanaan tugas.
2) Menyiapkan bahan perumusan kebijakan pelaksanaan tugas
perbendaharaan.
3) Melakukan

pembinaan

penatausahaan

keuangan

dan

perbendaharaan.
4) Melaksanakan koordinasi dengan unit kerja terkait dalam rangka

kelancaran pelaksanaan tugas.


5. Bidang akuntansi
Bidang akuntansi mempunyai fungsi antara lain :
a. Penyusunan teknis bidang
b. Penyelenggaraan program dan kegiatan bidang.
c. Pembinaan, pengoordinasian, pengawasan program dan kegiatan
kepala seksi dalam lingkup bidang.
d. Penyelenggaraan monitoring dan evaluasi program kegiatan.
e. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh atasan sesuai dengan tugas
dan fungsinya.
Bidang akuntansi mempunyai tugas antara lain;
a. Merencanakan kegiatan dan program sesuai dengan tugasnya sebagai
pedoman pelaksanaan tugas.
b. Menyelenggarakan operasionalisasi rencana kerja sesuai tugas dan
fungsinya.
c. Melaksanakan pengendalian dan pengawasan bidang keuangan sesuai
dengan target yang ditentukan.
d. Melaksanakan koordinasi dengan instansi terkait dalam rangka
kelancaran pelaksanaan tugas.
Bidang akuntansi terdiri dari :
a. Seksi akuntansi penerimaan dan pengeluaran kas
Seksi akuntansi penerimaan dan pengeluaran kas mempunyai tugas
antara lain ;
1) Menyusun rencana kerja sesuai tugas dan fungsinya sebagai

pedoman/ pelaksanaan tugas.


2) Menyiapkan

bahan

perumusan

kebijakan

penyelenggaraan

penerimaan dan pengeluaran kas.


3) Melakukan sistem dan prosedur akuntansi yang berkenaan dengan
penerimaan dan pengeluaran kas daerah.
4) Melaksanakan pencatatan dan penggolongan berdasarkan rincian
objek penerimaan dan pengeluaran kas daerah,
b. Seksi akuntansi aset
Seksi akuntansi aset mempunyai tugas antara lain :
1) Menyusun rencana kerja sesuai tugas dan fungsinya sebagai
pedoman pelaksanaan tugas.
2) Menyiapkan

bahan

perumusan

kebijakan

penyelenggaraan

akuntansi aset.
3) Melaksanakan pencatatan transaksi dan/atau kejadian keuangan
daerah yang berkenaan dengan aset.
4) Membuat laporan penerimaan dan pengeluaran kas yang
berkenaan dengan aset secara periodik ( semesteran dan laporan
akhir bulanan).
c. Seksi penyusunan laporan keuangan
Seksi penyusunan laporan keuangan mempunyai tugas antara lain :
1) Menyusun rencana kerja sesuai tugas dan fungsinya sebagai
pedoman pelaksanaan tugas.
2) Menyiapkan

bahan

laporan keuangan.

perumusan

kebijakan

penyelenggaraan

3) Mengumpulkan data, menganalisis dan menyusun laporan


semesteran dan pronosis APBD tahun anggaran yang berkenaan.
4) Melaksanakan koordinasi penuunan laporan pertanggung jawaban
pelaksanaan APBD tahun anggran yang berkenaan.
6. Bidang aset
Bidang aset mempunyai fungsi antara lain :
a. Penyusunan teknis bidang
b. Penyelenggaraan program dan kegiatan bidang.
c. Pembinaan, pengoordinasian, pengawasan program dan kegiatan
kepala seksi dalam lingkup bidang.
d. Penyelenggaraan monitoring dan evaluasi program kegiatan.
e. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh atasan sesuai dengan tugas
dan fungsinya.
Bidang aset mempunyai tugas antara lain :
a. Merencanakan program dan kegiatan sesuai dengan tugasnya sebagai
pedoman pelaksanaan tugas.
b. Menyelenggarakan operasionalisasi rencana kerja sesuai tugas dan
fungsinya.
c. Merumuskan kebijakan teknis pelaksanaan dan pengkoordinasian
pengelolaan aset.
d. Mengordinir inventarisasi aset daerah, baik yang bergerak maupun yang
tidak bergerak.
e. Melakukan monitoring dan evaluasi serta melaporkan hasil pelaksanaan
tugas.

Bidang aset terdiri dari :


a. Seksi Bidang Perencanaan Kebutuhan
Seksi Bidang Perencanaan Kebutuhan memiliki tugas antara lain :
1) Menyusun rencana kerja sesuai tugas dan fungsinya.
2) Menyiapkan

bahan

perumusan

kebijakan

penyelenggaraan

perencanaan kebutuhan.
3) Menyediakan bahan perencanaan dan pengadaan aset daerah.
4) Membuat daftar rencana dan analisis kebutuhan aset daerah.
b. Seksi Distribusi
Seksi Distribusi memiliki tugas antara lain :
1) Menyusun rencana kerja sesuai tugas dan fungsinya.
2) Menyiapkan

bahan

perumusan

kebijakan

penyelenggaraan

distribusi aset.
3) Melaksanakan pengawasan distribusi aset.
4) Membuat data dasar neraca aset daerah.
c. Seksi Inventarisasi dan Penghapusan
7. Bidang Dana Perimbangan
Bidang dana perimbangan memiliki fungsi antara lain :
a. Penyusunan kebijakan teknis bidang
b. Penyelenggaraan program dan kegiatan bidang.
c. Penyelenggaraan monitoring dan evaluasi program kegiatan.
d. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh atasan sesuai dengan tugas
dan fungsinya.

Bidang dana perimbangan memiliki tugas antara lain :


a. Merencanakan program dan kegiatan sesuai dengan tugasnya sebagai
pedoman pelaksanaan tugas.
b. Menyelenggarakan operasionalisasi rencana kerja sesuai tugas dan
fungsinya.
c. Merumuskan kebijakan teknis pelaksanaan dan pengkoordinasian
penyelenggaraan dana perimbangan.
d. Merumuskan dan mengendalikan perimbangan keuangan dalam
pengelolaan pendapatan daerah dan penggunaan anggaran pada
perangkat daerah.
Bidang dana perimbangan terdiri dari :
a. Seksi dana bagi hasil
Seksi dana bagi hasil memiliki tugas antara lain :
1) Menyiapkan bahan perumusan kebijakan penyelenggaraan dana
bagi hasil.
2) Memfasilitasi penyusunan bahan rumusan dan perhitungan dana
bagi hasil.
3) Menyiapkan bahan dalam rangka penetapan dana bagi hasil.
4) Melaksanakan bimbingan teknis kebijakan dana bagi hasil.
b. Seksi dana alokasi umum
Seksi dana alokasi umum memiliki tugas antara lain :
1) Mengumpulkan data penerimaan dari dana alokasi umum.
2) Menyiapkan bahan ketepatan dan dokumen transfer dana alokasi

umum.
3) Menyiapkan bahan dalam rangka pelaksanaan penetapan dana
alokasi umum.
4) Melaksanakan bimbingan teknis kebijakan dana alokasi umum.
c. Seksi lain-lain pendapatan yang sah
Seksi lain-lain pendapatan yang sah memiliki tugas antara lain :
1) Menyusun rencana kerja sesuai dengan tugas dan fungsinya sebagai
pedoman pelaksanaan tugas.
2) Membuat petunjuk teknis di bidang penerimaan dana perimbangan
dana dan sumber-sumber lain yang sah.
3) Melakukan koordinasi dengan instansi terkait dalam rangka
kelancaran pelaksanaan tugas.
Rumusan Visi dan Misi Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan
Aset daerah Kabupaten Soppeng adalah sebagai berikut:
Tercapainya Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset
Daerah Kabupaten Soppeng yang terukur dan rasional.
1. Meningkatkan pendapatan serta efektifitas pengeloloaan keuangan dan
aset daerah.
2. Meningkatkan sarana dan prasarana yang memenuhi standar pelayanan.
3. Meningkatkan kualitas sumber daya aparatur.
4. Meningkatkan kesadaran masyarakat.

BAB V
HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Analisis
1. Gambaran Umum variabel Penelitian
a) Rasio Kemandirian Keuangan Daerah
Kemandirian keuangan daerah menunjukkan kemampuan
Pemda

dalam

membiayai

sendiri

kegiatan

pemerintahan,

pembangunan, dan pelayanan masyarakat. Rasio kemandirian juga


menggambarkan ketergantungan daerah terhadap sumber dana
ekstern, terutama pemerintah pusat dan provinsi. Semakin tinggi rasio
kemandirian daerah, tingkat ketergantungan terhadap bantuan pihak
ekstern (terutama pemerintah pusat dan provinsi) semakin rendah,
dan sebaliknya.
Rasio Kemandirian Pemerintah Kabupaten Soppeng dapat
dihitung sebagai berikut:

Rasio Kemandirian=

Pendapatan Asli Daerah


Bantuan Pusat dan Pinjaman

Hasil perhitungan rasio kemandirian keuangan daerah dapat dilihat


pada tabel berikut (berdasarkan lampiran):

Tabel 5.1. Perhitungan Rasio Kemandirian Kabupaten Soppeng


Tahun Anggaran 2003-2010
Keterangan
Tahun
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010

Pendapatan
Transfer
Daerah (PAD)
Dana Perimbangan
8.914.222.635,39 169.168.080.079,14
6.084.124.834,80 179.180.422.067,79
6.876.125.679,32 201.193.276.220,00
11.266.106.312,36 325.463.397.877,00
16.280.918.440,7
9
364.303.221.066,00
17.460.780.983,5
2
392.132.343.171,00
15.879.402.285,4
7
414.327.271.541,00
16.531.437.645,6
1
397.522.593.650,00
Pendapatan Asli

Lain-Lain
Pendapatan
yang Sah
12.188.130.364,00
10.164.422.657,00
10.146.928.131,00
5.389.408.621,00

Kemandirian
4,92%
3,21%
3,25%
3,41%

8.358.266.957,00

4,37%

38.657.223.368,00

4,05%

30.961.364.434,00

3,57%

90.618.295.232,14

3,39%

Rasio

Sumber : Data Sekunder yang Diolah (Lampiran)


Pada tabel 5.1 di atas, diketahui bahwa rasio kemandirian keuangan
daerah Pemkab Soppeng dalam delapan tahun terakhir (2003-2010) hanya
mengalami tiga kali kenaikan, yaitu pada tahun 2004-2005 sebesar 0,04%
(3,25%-3,21%),

2005-2006 sebesar 0,16% (3,41%-3,25%), dan 2006-

2007 sebesar 0,83% (4,24%-3,41%). Selebihnya mengalami penurunan


yang cukup drastis, yaitu

2003-2004 sebesar 1,71% (4,92%-3,21%),

2007-2008 sebesar 0,19% (4,24%-4,05%), tahun 2008-2009 sebesar 0,48%


(4,05%-3,57%) hingga tahun 2009-2010 sebesar 0,18% (3,57%-3,39%).
b) Rasio Efektifitas Pendapatan Asli Daerah (PAD)

Rasio efektivitas menggambarkan kemampuan Pemda dalam


merealisasikan PAD yang direncanakan dibandingkan target yang
ditetapkan berdasarkan potensi riil daerah. Kemampuan daerah dalam

menjalankan tugas dikategorikan efektif apabila rasio yang dicapai


minimal sebesar 1 (satu) atau 100 persen. Semakin tinggi rasio efektivitas
menggambarkan kemampuan daerah yang semakin baik.
Rasio efektivitas Pemerintah Kabupaten Soppeng dapat dihitung
sebagai berikut:

Rasio Efektifitas=

Realisasi penerimaan PAD


Target penerimaan PAD

Hasil perhitungan rasio efektifitas PAD dapat dilihat pada tabel


berikut (berdasarkan lampiran):
Tabel 5.2. Perhitungan Rasio Efektifitas Pendapatan Asli Daerah (PAD)
Tahun Anggaran 2003-2010
Keterangan
Tahun
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010

Target Penerimaan
PAD
10.565.242.572,00
8.146.203.368,00
6.709.499.464,00
7.764.902.747,00
14.810.965.660,00
13.419.093.406,00
18.083.539.916,00
20.423.100.023,06

Realisasi Penerimaan
PAD
8.914.222.635,39
6.084.124.834,80
6.876.125.679,32
11.266.106.312,36
16.280.918.440,79
17.460.780.983,52
15.879.402.285,47
16.531.437.645,61

Rasio
Efektifitas
84,37%
74,69%
102,48%
145,10%
109,92%
130,12%
87,81%
80,94%

Sumber : Data Sekunder yang Diolah (Lampiran)


Pada tabel 5. 2 di atas, dapat dilihat bahwa rasio efektifitas Pemkab
Soppeng dalam sembilan tahun terakhir (2003-2010) mengalami kenaikan
sebanyak tiga kali, yaitu pada tahun 2004-2005 sebesar 27,79% (102,48%74,69%), 2005-2006 sebesar 42,62% (145,10%-102,48%), dan 2007-2008
sebesar 23,3% (130,12%-106,82%). Selebihnya mengalami penurunan
pada tahun 2003-2004 sebesar 9,68% (84,37%-74,69%), 2006-2007

sebesar 38,28% (145,10%-106,82%), tahun 2008-2009 sebesar 42,31%


(130,12%-87,81%), dan tahun 2009-2010 sebesar 6,87% (87,81%80,94%).
c) Rasio Pertumbuhan
Rasio pertumbuhan (growth ratio) mengukur seberapa besar
kemampuan

Pemda

dalam

mempertahankan

dan

meningkatkan

keberhasilan yang telah dicapai dari periode ke periode berikutnya.


Dengan mengetahui pertumbuhan PAD, maka dapat dilakukan evaluasi
terhadap potensi-potensi daerah yang perlu mendapat perhatian. Semakin
tinggi persentase pertumbuhan pendapatan asli daerah, maka semakin
besar kamampuan Pemda dalam mempertahankan dan meningkatkan
keberhasilan yang dicapai dari setiap periode.
Rasio pertumbuhan Pemerintah Kabupaten Soppeng dapat dihitung
sebagai berikut:
Pendapatan Asli Daerah ( PAD )=

PAD t 1 PAD t 0
PAD t 0

Hasil perhitungan rasio pertumbuhan dapat dilihat pada tabel


berikut (berdasarkan lampiran):
Tabel 5. 3. Perhitungan Rasio Pertumbuhan APBD Kabupaten Soppeng
Tahun Anggaran 2003-2010
Keterangan
Tahun
2003-2004
2004-2005
2005-2006
2006-2007
2007-2008

PADt0

PADt1

8.914.222.635,39
6.084.124.834,80
6.876.125.679,32
11.266.106.312,36
16.280.918.440,79

6.084.124.834,80
6.876.125.679,32
11.266.106.312,36
16.280.918.440,79
17.460.780.983,52

Rasio
Pertumbuhan
-31,75%
13,02%
63,84%
44.51%
7.25%

2008-2009
2009-2010

17.460.780.983,52
15.879.402.285,47

15.879.402.285,47
16.531.437.645,61

-9.06%
4.11%

Sumber : Data Sekunder yang Diolah (Lampiran)

Pada tabel 5.3 di atas, ada dua periode dalam delapan tahun
terakhir (2003-2010) di mana rasio petumbuhan Pemkab Soppeng negatif,
yaitu pada tahun 2003-2004 sebesar -31,75%, dan 2008-2009 sebesar
-9,06%. Adapun rasio pertumbuhan yang mengalami kenaikan, yaitu pada
tahun 2003-2004 sebesar -31,75% naik menjadi 13,02% tahun 2004-2005,
kemudian naik menjadi 63,84% pada tahun 2005-2006. Begitupula pada
tahun 2008-2009 sebesar -9,06% naik menjadi 4,11% tahun 2009-2010.
Selebihnya mengalami penurunan, yaitu pada tahun 2005-2006 turun dari
63,84% menjadi 44,51% pada tahun 2006-2007, kemudian turun menjadi
7, 25% tahun 2007-2008, dan turun menjadi -9,06% tahun 2008-2009.
d) Rasio Efisiensi Pendapatan Asli Daerah (PAD)
Untuk memperoleh ukuran yang lebih baik, rasio efektifitas perlu
diperbandingkan dengan rasio efisiensi yang dicapai pemerintah. Rasio
efisiensi menggambarkan perbandingan antara besarnya biaya yang
dikeluarkan untuk memperoleh pendapatan dengan realisasi pendapatan
yang diterima. Kinerja Pemda dikatakan efisien apabila rasio yang
dicapai kurang dari 1 (satu) atau dibawah 100 persen. Semakin kecil
rasio efesiensi menggambarkan kemampuan daerah yang semakin baik.
Rasio efesiensi Pemerintah Kabupaten Soppeng dapat dihitung
sebagai berikut:

Rasio Efesiensi=

Biaya yang dikeluarkan untuk Memungut PAD


Realisasi Penerimaan PAD

Hasil perhitungan rasio efisiensi PAD dapat dilihat pada tabel


berikut (berdasarkan lampiran):
Tabel 5.4. Perhitungan Rasio Efisiensi Pendapatan Asli Daerah (PAD)
Tahun Anggaran 2003-2010
Keterangan
Tahun
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010

Realisasi Penerimaan
PAD
8.914.222.635,39
6.084.124.834,80
6.876.125.679,32
11.266.106.312,36
16.280.918.440,79
17.460.780.983,52
15.879.402.285,47
16.531.437.645,61

Biaya Pemungutan
PAD
6.341.105.060,00
72.943.008,00
89.812.848,00
1.335.081.366,00
10.723.999.999,00
11.490.926.673,00
241.776.290,00
247.021.054,00

Rasio
Efisiensi
71,13%
1,20%
1,31%
11,85%
65,87%
65,81%
1,52%
1,49%

Sumber : Data Sekunder yang Diolah (Lampiran)


Pada tabel 5.4 di atas, dapat dilihat bahwa rasio efisiensi PAD
Pemkab Soppeng dalam delapan tahun terakhir (2003-2010)
mengalami kenaikan sebanyak tiga kali, yaitu pada tahun 2004-2005
sebesar 0,11% (1,31%-1,20%), 2005-2006 sebesar 10,54% (11,85%1,31%), 2006-2007 sebesar 54,02% (65,87%-11,85%). Selebihnya
mengalami penurunan, yaitu pada tahun 2003-2004 sebesar 69,93%
(71,13%-1,20%), 2007-2008 sebesar 0,06% (65,87%-65,81%), 20082009 sebesar 64,29% (65,81%-1,52%), 2009-2010 sebesar 0,03%
(1,52%-1,49%).
2. Uji Hipotesis

Analisis kinerja keuangan daerah Pemkab Soppeng terhadap


efisiensi PAD atau pengaruh rasio kemandirian, rasio efektifitas, dan
rasio pertumbuhan terhadap efisiensi PAD dapat dilihat dari analisis
regresi berganda dengan menggunakan SPSS (Statistical Produt Service
Solution) seperti pada lampiran berikut:
Tabel 5.5. Hasil Analisis Regresi
Coefficientsa
Standardized
Unstandardized Coefficients
Model
1

B
(Constant)
Rasio Kemandirian
Rasio Efektifitas
pertumbuhan

Std. Error

-221.627

41.699

51.147

7.279

.583
-.272

Coefficients
Beta

t
-5.315

.006

.943

7.026

.002

.295

.438

1.972

.120

.249

-.245

-1.093

.336

a. Dependent Variable: Rasio Efisiensi

Sumber: Data Sekunder yang Diolah (Lampiran)


Berdasarkan hasil analisis regresi yang tertera pada tabel 5.5 di
atas, diperoleh persamaan regresi yang distandarkan, yaitu:
Efisiensi = 0,943RK + 0,438RE 0,245RP,
di mana:
RK = Rasio Kemandirian
RE = Rasio Efektifitas
RP = Rasio Pertumbuhan
Model regresi tersebut menunjukkan bahwa setiap terjadi kenaikan
rasio kemandirian satu satuan akan diikuti kenaikan rasio efisiensi sebesar
0,943.
a) Uji T atau Uji Parsial

Sig.

1) Pengaruh Rasio Kemandirian terhadap Efisiensi PAD


Berdasarkan hasil pengujian secara parsial, pengaruh rasio
kemandirian terhadap efisiensi PAD dengan menggunakan program
SPSS diperoleh thitung sebesar 7,026 dan ttabel sebesar 2,78 dengan nilai
signifikansi 0,002. Karena thitung > ttabel dan nilai probabilitasnya <
0,05, maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis diterima. Hal ini
menunjukkan bahwa rasio kemandirian berpengaruh signifikan
terhadap efisiensi PAD.
2) Pengaruh Rasio Efektifitas terhadap Efisiensi PAD
Berdasarkan hasil pengujian secara parsial, pengaruh rasio
efektifitas terhadap efisiensi PAD dengan menggunakan program
SPSS diperoleh thitung sebesar 1,972 dan ttabel sebesar 2,78 dengan
nilai signifikansi 0,120. Karena thitung < ttabel dan nilai probabilitasnya
> 0,05, maka hipotesis ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa rasio
efektifitas tidak berpengaruh signifikan terhadap efisiensi PAD.
3) Pengaruh Rasio Pertumbuhan terhadap Efisiensi PAD
Berdasarkan hasil pengujian secara parsial, pengaruh rasio
pertumbuhan terhadap efisiensi PAD dengan menggunakan program
SPSS diperoleh thitung sebesar -1,093 dan ttabel sebesar 2,78 dengan
nilai signifikansi 0,336. Karena thitung < ttabel dan nilai probabilitasnya
> 0,05, maka hipotesis ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa rasio
pertumbuhan tidak berpengaruh signifikan terhadap efisiensi PAD.
b) Uji F atau Uji Simultan
Pengujian hipotesis yang menyatakan ada pengaruh secara
simultan antara rasio kemandirian, rasio efektifitas, rasio pertumbuhan

terhadap efisiensi PAD dapat dilihat dari hasil uji F yang tertera pada
tabel 5.6 berkut:
Tabel 5.6. Hasil Uji F (Uji Simultan)
ANOVAb
Model
1

Sum of Squares
Regression
Residual
Total

Df

Mean Square

7273.299

2424.433

544.196

136.049

7817.495

Sig.

17.820

a. Predictors: (Constant), pertumbuhan, Rasio Kemandirian, Rasio Efektifitas


b. Dependent Variable: Rasio Efisiensi

Sumber : Data Sekunder yang Diolah (Lampiran)


Berdasarkan hasil uji F (Uji Simultan) di atas, diperoleh F hitung
sebesar 17,820 dan Ftabel sebesar

6,59 dengan nilai signifikansi 0,09.

Karena Fhitung > Ftabel dan nilai probabilitasnya < 0,05, maka hipotesis
diterima. Hal ini menunjukkan bahwa kinerja keuangan daerah dengan
rasio kemandirian, rasio efektifitas, rasio pertumbuhan berpengaruh
secara simultan terhadap efisiensi PAD.
B. Pembahasan
Hasil analisis data di atas menunjukkan bahwa secara parsial rasio
kemandirian berpengaruh signifikan terhadap efisiensi PAD, terbukti dengan
nilai probabilitas 0,002 < 0,05. Model regresi yang terbentuk dari hasil
analisis regresi menunjukkan bahwa setiap kenaikan rasio kemandirian satu
satuan akan diikuti kenaikan efisiensi PAD sebesar 0,943. Sementara itu,
rasio kemandirian Pemkab Soppeng cukup dinamis dengan adanya kenaikan
dan penurunan dalam delapan tahun terakhir (2003-2010).

Meskipun

.009a

demikian, Kabupaten Soppeng dapat terus meningkatkan kemandirian


keuangan daerahnya dengan mengoptimalkan pemanfaatan 9 (sembilan)
sektor usaha yang dimilkinya, yaitu:

pertanian, pertambangan dan

penggalian; industri pengolahan, listrik, gas dan air bersih; konstruksi;


perdagangan; hotel dan restoran; angkutan dan komunikasi; keuangan;
persewaan dan jasa perusahaan; serta jasa-jasa.
Berdasarkan hasil analisis regresi secara parsial, rasio efektifitas tidak
berpengaruh signifikan terhadap efisiensi PAD terbukti dari nilai probabilitas
sebesar 0,120 > 0,05. Hal ini berarti bahwa apa yang ditargetkan belum tentu
sama dengan realisasi yang ada. Target bisa lebih besar dari realisasi, dan
sebaliknya target bisa lebih kecil dari realisasi.
Hasil

analisis

regresi

secara

parsial

menunjukkan

bahwa

rasio

pertumbuhan tidak berpengaruh signifikan terhadap efisiensi PAD, terbukti


dari nilai probabilitas sebesar 0,336 > 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa rasio
pertumbuhan tidak berdampak positif terhadap efisiensi PAD.
Sedangkan secara simultan, dapat diketahui bahwa variabel independen
yang digunakan, yaitu rasio kemandirian (X1), rasio efektifitas (X2), dan rasio
pertumbuhan (X3) berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen, yaitu
efisiensi PAD (Y). Hal ini dapat dilihat dari nilai Fhitung sebesar 17,820 dengan
tingkat signifikansi sebesar 0,009 yang lebih kecil dari tingkat signifikansi
yang digunakan, yaitu 0,05. Nilai R Square sebesar 0,930 menunjukkan
bahwa efisiensi PAD pada Pemkab Soppeng dapat dijelaskan oleh variabel
independen, yaitu rasio kemandirian, rasio efektifitas, dan rasio pertumbuhan
sebesar 93%. Sedangkan sisanya, 7% dijelaskan oleh variabel lain di luar

model.

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dibahas pada bab sebelumnya,
maka peneliti dapat mengambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1. Kinerja keuangan daerah Pemkab Soppeng dalam delapan tahun terakhir
terbukti baik. Hal ini dapat dilihat melalui perhitungan rasio kemandirian,
rasio efektivitas, dan rasio pertumbuhan dari tahun 2003-2010.
2. Efisiensi PAD Pemkab Soppeng dalam delapan tahun terakhir terbukti
efisien. Hal ini dpat dilihat melalui perhitungan rasio efisiensi PAD dari
tahun 2003-2010.
3. Secara parsial, rasio kemandirian Pemkab Soppeng berpengaruh signifikan
terhadap efisiensi PAD pada delapan tahun terakhir (2003-2010).
4. Secara parsial, rasio efektifitas Pemkab Soppeng tidak berpengaruh
signifikan terhadap efisiensi PAD pada delapan tahun terakhir (2003-2010).
5. Secara parsial, rasio pertumbuhan Pemkab Soppeng tidak berpengaruh
signifikan terhadap efisiensi PAD pada delapan tahun terakhir (2003-2010).
6. Secara simultan, rasio kemandirian, rasio efektifitas, dan rasio pertumbuhan
berpengaruh signifikan terhadap efisiensi PAD pada delapan tahun terakhir
(2003-2010).

B. Saran

Berdasarkan hasil analisis rasio dan uji hipotesis kinerja keuangan


Pemerintah Daerah Kabupaten Soppeng serta beberapa kesimpulan yang telah
dibuat, maka peneliti dapat memberikan saran-saran yang sekiranya bisa
dipertimbangkan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Soppeng dalam rangka
meningkatkan kinerja keuangannya, antara lain:
1. Pemerintah Daerah Kabupaten Soppeng dapat menggunakan analisis rasio
keuangan untuk melakukan penilaian dan evaluasi kinerja untuk
kepentingan manajemen birokrasi pemerintahan serta untuk menambah
kualitas sistem informasi keuangan daerah.
2. Lebih mengoptimalkan sumber-sumber PAD yang ada maupun yang
belum diolah agar dapat meningkatkan PAD sehingga ketergantungan
terhadap sumber dana ekstern dapat diminimalisir.
3. Pemerintah Daerah Kabupaten Soppeng diharapkan dapat meningkatkan
kemampuan semua pihak yang terlibat dalam penyusunan laporan
keuangan, baik itu dengan memberikan bimbingan teknis dan pelatihan
mengenai pengelolaan keuangan daerah ataupun dengan melakukan
perekrutan pegawai yang ahli dalam bidang keuangan. Dengan begitu
diharapkan penyusunan laporan keuangan dapat berjalan dengan lancar
dan tepat waktu sehingga memudahkan penyusunan Anggaran Pendapatan
dan Belanja Daerah. (APBD).
4. Untuk peneliti selanjutnya, diusahakan agar sampel penelitian yang
diambil dibedakan dari penelitian ini. Mungkin dengan berbedanya sampel
penelitian yang diambil, maka variabel rasio efektiitas dan rasio
pertumbuhan dapat berpengaruh signifikan terhadap efisiensi PAD.

Meskipun dalam penelitian ini ternyata variabel tersebut tidak signifikan


terhadap efisiensi PAD.

DAFTAR PUSTAKA

Bastian, Indra. 2001. Akuntansi Sektor Publik. Yogyakarta: ANDI


Halim, Abdul. 2005. Akuntansi Keuangan Daerah. Jakarta: Salemba Empat
Darsono dan Ashari. 2004. Pedoman Praktis Memahami Laporan Keuangan.
Yogyakarta: ANDI
Ghozali, Imam. 2009. Ekonometrika: Teori, Konsep dan Aplikasi dengan SPSS
17. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro
http://beta.fajar.co.id/read-20110912212451-bpk-temukan-dana-bermasalah-rp43mKieso, Donal E., dkk. 2002. Intermediate Accounting. (Diterjemahkan Oleh: Gina
Gania dan Ichsan Setiyo Budi). Jakarta: Erlangga
Lembaga Administrasi Negara dan BPKP. 2000. Akuntabilitas dan Good
Governance: Modul Sosialisasi Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi
Pemerintahan. Jakarta: LAN dan BPKP
Mardiasmo. 2002. Otonomi dan Manajemen Keuangan Daerah. Yogyakarta:
ANDI
Nordiawan, Deddi, dkk. 2007. Akuntansi Pemerintahan. Jakarta: Salemba Empat
Pemerintah Kabupaten Soppeng. Peraturan Bupati Soppeng No. 26 Tahun 2008
tentang Tugas, Fungsi, dan Rincian Tugas Jabatan Struktural pada DPPKAD
Kabupaten Soppeng
Republik Indonesia. Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah
Daerah
. Undang-Undang No. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan
Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah
. Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 2005 tentang Standar
Akuntansi Pemerintahan
. Peraturan Pemerintah No. 54 Tahun 2005 tentang Pinjaman
Daerah

. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 tentang


Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah

LAMPIRAN

STRUKTUR ORGANISASI
DINAS PENDAPATAN, PENGELOLAAN KEUANGAN DAN ASET
DAERAH (DPPKAD) KABUPATEN SOPPENG

KEPALA DINAS

KELOMPOK
JABATAN
FUNGSIONAL

SEKRETARIAT

KASUBA
G

KABID
PENDAPATA
N

KABID
ANGGARAN

KASI
PAJAK
DAERAH

KASI
PENYUSUNA
NAPBD

KASI
RETRIBUSI
DAERAH

PJ. KASI
OTORISASI
DPA-SKPD

KASI
LAIN-LAIN
PAD YANG
SAH

KABID
AKUNTANSI

KASI
AKUN.
PENE. &
PENGE. KAS

KASI
PEMBENDAHARAAN

UPT

KASUBAG
PERENCANAA
N
&

KABID
ASET

KASUBAG
KEUANGAN

KABID DANA
PERIMBANGA

KASI
PERENC
.
KEB.

KASI
DANA
BAGI

KASI
AKUN.
ASET

KASI
DISTRI.

KASI
PENYU.
LAP.
KEU.

KASI
INVENT.
&
PENGH.

KASI
DANA
ALOKASI
UMUM
KASI
LAIN-LAIN
PAD YANG
SAH

HASIL OLAH DATA ANALISIS RASIO KEUANGAN

Rasio Efisiensi
Y
71.13
1.2
1.31
11.85
65.87
65.81
1.52
1.49

Rasio Kemandirian
X1
4.92
3.21
3.25
3.41
4.37
4.05
3.57
3.39

Rasio Efektifitas
X2
84.37
74.69
102.48
145.1
109.92
130.12
87.81
80.94

Rasio Pertumbuhan
X3
0
-31.75
13.02
63.84
44.51
7.25
-9.06
4.11

HASIL OLAH DATA ANALISIS REGRESI (SPSS)


Variables Entered/Removedb

Model
1

Variables

Variables

Entered

Removed

Method

pertumbuhan,
Rasio

. Enter

Kemandirian,
Rasio Efektifitasa
a. All requested variables entered.
b. Dependent Variable: Rasio Efisiensi

Model Summary

Model
1

R Square

.965a

Adjusted R

Std. Error of the

Square

Estimate

.930

.878

11.66400

a. Predictors: (Constant), pertumbuhan, Rasio Kemandirian, Rasio


Efektifitas

ANOVAb
Model
1

Sum of Squares
Regression

Mean Square

7273.299

2424.433

544.196

136.049

7817.495

Residual
Total

df

a. Predictors: (Constant), pertumbuhan, Rasio Kemandirian, Rasio Efektifitas


b. Dependent Variable: Rasio Efisiensi

F
17.820

Sig.
.009a

Coefficientsa
Standardized
Unstandardized Coefficients
Model
1

B
(Constant)
Rasio Kemandirian

Std. Error

-221.627

41.699

51.147

7.279

.583
-.272

Rasio Efektifitas
Pertumbuhan

Coefficients
Beta

Sig.

-5.315

.006

.943

7.026

.002

.295

.438

1.972

.120

.249

-.245

-1.093

.336

a. Dependent Variable: Rasio Efisiensi

PEMERINTAH KABUPATEN SOPPENG


LAPORAN REALISASI ANGGARAN
PER 31 DESEMBER 2003, 2004, 2005, 2006
URAIAN
Pendapatan
Pendapatan Asli Daerah
Hasil Pajak Daerah

2003
8,914,222,635.3
9
1,267,799,413.0
0
3,515,969,361.0
0

2004
6,084,124,834.80

2005

2006

6,876,125,679.3 11,266,106,312.3
2
6
1,442,850,769.0
1,725,707,410.0
0
0
4,300,991,020.0
5,495,258,067.0
0
0

1,883,821,549.0
0
Hasil Retribusi Daerah
3,571,829,991.0
0
Hasil Pengelolaan Kekayaan
318,481,190.8
270,176,047.39
391,856,914.32
Daerah
0
Lain-lain Pendapatan Asli
309,992,104.0
3,860,277,814.00
740,417,976.00
Daerah yang Sah
0
Dana Perimbangan
169,168,080,079. 179,180,422,067.7 201,193,276,220.
14
9
00
Bagi Hasil Pajak/Bagi Hasil
13,930,876,979.
15,390,639,315.7
18,621,911,989.
Bukan Pajak
14
9
00
Dana Alokasi Umum
147,030,000,000. 151,053,590,333.0 164,543,000,000.
00
0
00
Dana Alokasi Khusus
6,350,241,000.
9,360,000,000.0
12,843,394,959.
00
0
00
Bagi Hasil Pajak dan Bantuan
1,856,962,100.0
3,376,192,419.0
5,184,969,272.0
Keuangan
0
0
0
Provinsi
Lain-Lain Pendapatan yang 12,188,130,364.0
10,146,928,131.0
10,164,422,657.00
Sah
0
0
Dana Bagi Hasil Pajak dari 0.00
0.00
7,096,742,334.

31,533,000.00
4,013,607,835.3
6
325,463,397,877.
00
22,906,290,672.0
0
270,884,000,000.
00
24,680,000,000.
00
6,993,107,205.00
5,389,408,621.00
0.00

Provinsi dan
Pemerintah
Daerah
Dana
Penyesuaian
dan
Otonomi
0.00
0.00
Daerah
Bantuan
Keuangan
dari
Provinsi atau
12,188,130,364.0 10,164,422,65257.
Pemerintah
0
00
Daerah
Lainnya
Jumlah 190,270,433,078. 195,428,969,559.5
Pendapatan
53
9
Belanja
Belanja Tidak Langsung
48,843,592,574.
61,209,056,404.2
00
5
Belanja Pegawai
42,502,487,474.
52,108,416,775.2
00
5
Belanja Bunga
0.00
0.00
Belanja Hibah
0.00
0.00
Belanja Bantuan Sosial
0.00
0.00
Belanja Bagi Hasil Kepada
Provinsi/Kabu
5,170,552,530.0
paten/Kota dan
72,943,008.00
0
Pemerintah
Desa
Belanja Bantuan Keuangan
KepadaProvin
si/Kabupaten/
1,170,552,530.
8,817,696,621.0
Kota
dan
00
0
Pemerintah
Desa
Belanja Tidak Terduga
0.00
210,000,000.0
0
Belanja Langsung
97,156,059,051.
95,818,772,299.0
00
0
Belanja Pegawai
67,794,432,233.
76,202,728,492.0
00
0
Belanja Barang dan Jasa
2,871,194,245.
4,065,496,069.0
00
0
Belanja Modal
26,490,432,573.
15,550,547,648.0
00
0
Jumlah 145,999,651,625. 157,027,828,693.2

00
18,534,364,500.
0.00
00

10,146,928,131.
00
213,216,330,030.
32
68,732,149,855.
00
53,033,825,681.
00
0.00
0.00
0.00

5,389,408,621.
00
342,118,912,810.
36
68,900,636,176.0
0
95,657,078,760.0
0
0.00
0.00
0.00

89,812,848.0
1,335,081,366.00
0

15,608,511,326.
1,050,000,000.00
00

0.00

656,364,200.0
0
104,311,583,323. 171,457,193,929.
80
25
74,364,303,757. 86,392,554,251.0
00
0
3,136,695,261.
3,589,890,767.0
00
0
26,810,584,305. 88,209,651,861.2
80
5
111,184,803,278. 240,357,830,105.

Belanja
Surplus/Defi
sit

00
44,270,781,393,
53

5
80
3,840,114,090.3 102,031,526,852.
4
52

Pembiayaan
Daerah
Sisa
Lebih
Perhitungan
Anggaran
Tahun
Anggaran
sebelumnya
Penerimaan
Kembali
Pemberian
Pinjaman
Penerimaan Piutang Daerah

1,485,467,745.6
0

1,591,261,160.1
3

22,878,724,483. 36,444,105,241.6
52
9

1,485,467,745.6
0

500,285,750.13

10,610,372,077. 28,059,590,645.6
52
1

0.00

1,090,975,410.00

1,979,888,200.
7,919,552,200.00
00

0.00

0.00

Jumlah

1,485,467,745.6
0

Pembiayaan
Penerimaan

Pengeluaran

Penerimaan
Pembiayaan

1,591,261,160.13

25
101,761,082,705.
11

10,288,464,216.
464,962,396.0
00
8
22,878,724,483.5 36,444,105,241.6
2
9

Pembiayaan 27,230,000,000.0
12,359,561,836.6
11,312,767,557.95
Daerah
0
3
Penyertaan Modal Pemda
17,730,000,000.0
5,100,000,000.00
512,819.7
0
0
Pembayaran Pokok Utang
1,500.000,000.0
6,212,767,557.95
2,070,733,074.9
0
3
Pemberian Pinjaman Daerah
8,000,000,000.0
0.00
0.00
0
Pembayaran Utang Belanja
0.00
0.00
10,288,315,948.0
0
Jumlah
Pengeluaran 27,230,000,000.0
12,359,561,836.6
11,312,767,557.95
Pembiayaan
0
3
Pembiayaan Neto
0.00
0.00
0.00
Sisa
Lebih
Pembiayaan
Anggaran
500,287,250.1
28,059,590,645.6
8,595,049,882.52
Tahun
3
1
Berjalan

3,703,977,953.00
1,000,000,000.0
0
1,601,402,253.0
0
1,102,575,700.0
0
0.00
3,703,977,953.0
0
0.00
53,930,144,640.6
0

PEMERINTAH KABUPATEN SOPPENG


LAPORAN REALISASI ANGGARAN
PER 31 DESEMBER 2007, 2008, 2009, 2010

URAIAN
Pendapatan
Pendapatan Asli Daerah

2007
16,280,918,440.7
9
1,810,422,871.0
0
6,086,009,566.0
0

2008
17,460,780,983.
52
1,992,333,187.
00
9,648,562,911.
41

2009

2010

15,879,402,285.4 16,531,437,645.6
7
1
Hasil Pajak Daerah
2,345,203,805.0
3,037,488,871.0
0
0
Hasil Retribusi Daerah
8,806,002,785.0
9,075,375,909.0
0
0
Hasil Pengelolaan Kekayaan
1,738,229,903.1
444,749,520.79
934,087,877.11
1,385,966,227.47
Daerah
9
Lain-lain Pendapatan Asli
4,885,797,008.
3,342,229,468.0
2,680,342,962.
7,480,619,757.51
Daerah yang Sah
00
0
42
Dana Perimbangan
364,303,221,066. 392,132,343,171. 414,327,271,541.0 397,522,593,650.
00
00
0
00
Bagi Hasil Pajak/Bagi Hasil
29,527,785,866.
28,518,239,171. 40,124,355,541.0
30,864,581,650.
Bukan Pajak
00
00
0
00
Dana Alokasi Umum
294,675,435,200. 317,480,921,000. 320,703,916,000.0 332,095,212,000.
00
00
0
00
Dana Alokasi Khusus
40,100,000,000.
46,133,183,000. 53,499,000,000.0
34,562,800,000.
00
00
0
00
Bagi Hasil Pajak dan Bantuan
Keuangan
0.00
0.00
0.00
0.00
Provinsi
Lain-Lain Pendapatan yang
38,657,223,368.0
90,618,295,232.
8,358,266,957.00
30,961,364,434.00
Sah
0
14
Dana Bagi Hasil Pajak dari 0.00
8,556,457,568.
7,096,742,334.0
10,789,128,623.
Provinsi dan
00
0
14

Pemerintah
Daerah
Dana
Penyesuaian
dan
7,358,266,957.
Otonomi
00
Daerah
Bantuan
Keuangan
dari
Provinsi atau
1,000,000,000.
Pemerintah
00
Daerah
Lainnya
Jumlah 388,483,289,684.
Pendapatan
30
Belanja
Belanja Tidak Langsung
178,505,541,850.
19
Belanja Pegawai
153,815,388,895.
19
Belanja Bunga
1,417,500,085.
00
Belanja Hibah
3,645,000,000.
00
Belanja Bantuan Sosial
8,771,300,000.
00
Belanja Bagi Hasil Kepada
Provinsi/Kabu
10,723,999,999.
paten/Kota dan
00
Pemerintah
Desa
Belanja Bantuan Keuangan
KepadaProvin
si/Kabupaten/
132,352,871.
Kota
dan
00
Pemerintah
Desa
Belanja Tidak Terduga
0.00
Belanja Langsung
Belanja Pegawai
Belanja Barang dan Jasa
Belanja Modal

22,163,674,800.
00

7,937,091,000.
00
448,250,347,522.
52

18,534,364,500.0
0

5,330,257,600

71,004,594,409.
00

8,824,572,200.
00

461,168,038,260.4 504,672,326,527.
7
75

246,185,947,840. 273,624,406,369.0 335,503,653,462.


00
0
00
212,604,699,043. 241,456,866,642.0 305,782,936,613.
00
0
00
1,717,071,327.
887,713,715.0
738,316,749.
00
0
00
5,880,000,000.
9,511,887,500.0
12,070,544,616.
00
0
00
14,809,095,788.
7,295,535,544.0
1,216,852,756.
00
0
00
11,490,926,637.
00

241,776,290.0
0

247,021,054.
00

230,155,009.0
0

14,180,626,678.0
0

14,379,606,674.0
0

0.00

0.00

1,068,375,000.0
0
185,901,920,707. 218,158,302,426. 230,053,656,654. 150,354,010,744.
20
00
00
00
20,885,243,400.
18,940,523,572.
25,494,323,710.
23,145,995,622.
00
00
00
00
49,458,965,459.
63,261,737,600.
71,070,713,507.
59,183,706,536.
00
00
00
00
155,557,711,848. 135,945,041,254. 133,488,619,437.
77,024,308,586.

00
00
00
00
Jumlah 364,407,462,557. 464,324,250,266. 503,678,063,023. 494,857,664,206.
Belanja
39
00
00
00
Surplus/Defi
24,075,827,126. (16,091,902,743.4 (42,510,024,762.5
9,814,662,321.
sit
91
8)
3)
75
Pembiayaan
Penerimaan

Pembiayaan
Daerah
Sisa
Lebih
Perhitungan
Anggaran
Tahun
Anggaran
sebelumnya
Penerimaan
Kembali
Pemberian
Pinjaman
Penerimaan Piutang Daerah
Jumlah

54,561,443,787.
00

75,186,307,182.
03

55,011,286,740.0
7

15,341,921,304.
12

53,930,144,640.
00

73,475,132,122.
51

53,585,796,837.
55

15,245,278,129.
12

15,656,916.0
0

1,330,425,139.
43

51,528,108.
52

500,000.
00

615,642,231.0
380,749,934.
1,373,961,794.
96,143,175.0
0
09
00
0
Penerimaan 54,561,443,787.6 75,186,307,186.0
15,341,921,304.1
55,011,286,740.07
Pembiayaan
0
3
2

Pengeluaran

Pembiayaan
5,115,957,067.00 5,508,607,605.00
Daerah
Penyertaan Modal Pemda
1,000,000,000.0
2,000,000,000.
0
00
Pembayaran Pokok Utang
1,954,957,067.0
2,431,482,795.0
0
0
Pemberian Pinjaman Daerah
2,154,000,000.0
923,000,000.0
0
0
Pembayaran Utang Belanja
0.00
154,124,810.0
0
Jumlah
Pengeluaran
5,115,957,067.00 5,508,607,605.00
Pembiayaan
Pembiayaan Neto
49,445,485,720.0 69,677,699,581.0
0
3
Sisa
Lebih
Pembiayaan
Anggaran
73,521,313,845.5 53,585,796,837.5
Tahun
1
5
Berjalan

4,601,325,041.00

1,351,967,312.00

2,000,000,000. 0.00
00
2,601,325,041.0
1,277,958,614.0
0
0
0.00
0.00
0.00

74,008,698.0
0

4,601,325,041.00

1,351,967,312.00

50,409,961,726.0
0

13,988,613,871.0
0

7,899,936,963.54

23,803,276,192.8
7

Sumber : Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan, dan Aset Daerah


(DPPKAD) Kab. Soppeng, 2011

Beri Nilai