Anda di halaman 1dari 17

ANALISIS STANDAR AKUNTANSI

SEWA OPERASI PSAK 30

Disusun Oleh:

MARSHA MAHARANI

2013.35.1985

FEBRIANI

2013.35.2021

NADIA WARDA

2013.35.2035

ABDUL HALIM

2016.35.3384

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI


AHMAD DAHLAN

BAB I
PENDAHULUAN

I.

Latar Belakang
Dalam PSAK No. 30 didefinisikan bahwa sewa adalah suatu perjanjian
dimana lessor memberikan hak kepada lessee untuk menggunakan suatu aset
selama periode waktu yang disepakati. Elemen tanah dan bangunan dalam
suatu perjanjian sewa perlu untuk diklasifikasikan sebagai sewa pembiayaan
atau sewa operasi secara terpisah, dengan mempertimbangkan sifat tanah
yang memiliki umur ekonomis yang tidak terbatas. Hal ini tidak perlu
dilakukan apabila hak atas properti yang diperoleh melalui sewa operasi
diklasifikasikan sebagai properti investasi sesuai dengan PSAK 13 (revisi
2011): Properti Investasi.
Dalam PSAK 30 (Revisi 2011) diterapkan dalam akuntansi untuk
semua jenis sewa kecuali:
a. Sewa dalam rangka eksplorasi atau penambangan mineral, minyak,
gas alam dan sumber daya lainnya yang tidak dapat diperbarui; dan
b. Perjanjian lisensi untuk hal-hal seperti film, rekaman video, karya
panggung, manuskrip (karya tulis), hak paten dan hak cipta.
Pernyataan ini tidak diterapkan untuk pengukuran:
a. Properti investasi yang diserahkan oleh lessor yang dicatat sebagai

sewa operasi (PSAK 13: Properti Investasi).


b. Perjanjian sewa untuk aset biologic.
Lease atau sewa sendiri dikelompokkan menjadi dua yaitu:
a. Sewa Pembiayaan (Finance Lease) adalah sewa yang mengalihkan

secara substansial seluruh risiko dan manfaat yang terkait dengan


kepemilikan suatu aset. Hak milik pada akhirnya dapat dialihkan,
dapat juga tidak dialihkan (par. 8).

b. Sewa Operasi

(Operating Lease) adalah sewa yang tidak


mengalihkan secara substansial seluruh risiko dan manfaat yang
terkait dengan kepemilikan aset (par. 8).

Klasifikasi sebagai sewa pembiayaan atau sewa operasi didasarkan


pada substansi transaksi dan bukan pada bentuk kontraknya. Indikator dalam
menentukan klasifikasi sewa ini sendiri terdiri atas:
a. Sewa mengalihkan kepemilikan aset kepada lessee pada akhir masa
b.

c.
d.
e.

sewa.
Lessee mempunyai opsi untuk membeli aset pada harga yang cukup
rendah dibandingkan nilai wajar pada tanggal opsi mulai dapat
dilaksanakan, sehingga pada awal sewa dapat dipastikan bahwa
opsi memang akan dilaksanakan.
Masa sewa adalah untuk sebagian besar umur ekonomis aset
meskipun hak milik tidak dialihkan.
Pada awal sewa, nilai kini dari jumlah pembayaran sewa minimum
secara substansial mendekati nilai wajar aset sewaan.
Aset sewaan bersifat khusus dimana hanya lessee yang dapat
menggunakannya tanpa perlu modifikasi secara material.

IAS 17 mengatur transaksi sewa atas tanah dan bangunan sebagai sewa
pembiayaan atau sewa operasi sesuai klasifikasi yang ada. PSAK
menyesuaikan pengaturan dengan ketentuan IAS 17, namun tetap
memperhatikan pengaturan terkait hak atas sewa tanah dalam ISAK 25.
Perjanjian

sewa

mengandung

elemen

tanah

dan

bangunan

diklasifikasikan sebagai sewa pembiayaan atau sewa operasi diatur


tersendiri. Pembayaran sewa dialokasikan antara elemen tanah dan bangunan
secara proporsional sesuai nilai wajar relatif bagian perjanjian sewa pada
awal

kontrak.

Apabila

tidak

dapat

dialokasikan,

seluruh

sewa

diklasifikasikan sebagai sewa pembiayaan, kecuali sangat jelas bahwa kedua


elemen tersebut adalah sewa operasi. Bila demikian, maka seluruh sewa
diklasifikasikan sebagai sewa operasi.

Tanah dianggap tidak material, maka tanah dan bangunan dapat diakui
sebagai unit tunggal untuk tujuan klasifikasi sewa dan diklasifikasikan
sebagai sewa pembiayaan atau sewa operasi sehingga umur ekonomik
bangunan dianggap sebagai umur ekonomik seluruh aset sewaan.
Pengukuran elemen tanah dan bangunan secara terpisah tidak diperlukan
apabila bagian lessee atas tanah dan bangunan diklasifikasikan sebagai
properti investasi PSAK 13 dan metode nilai wajar diadopsi dan apabila
pengklasifikasian tidak jelas, maka perlu dibuat suatu perhitungan secara
rinci untuk penilaian ini.

II.

Batasan Permasalahan
Adapun batasan permasalahan dalam penulisan makalah ini, yang
ingin penulis tetapkan, bahwa penulis hanya akan meneliti mengenai sewa
operasi yang terdapat pada PSAK 30.

BAB II

PEMBAHASAN

I. Pengertian Sewa

Pada awalnya sewa lebih dikenal dengan istilah leasing, leasing itu
sendiri berasal dari kata lease yang berarti sewa atau yang lebih umum
diartikan sebagai sewa-menyewa. Sewa-menyewa merupakan suatu
perjanjian, di mana lessor memberikan hak kepada lessee untuk
menggunakan suatu aset selama periode waktu yang telah disepakati.
Sebagai imbalannya, lessee melakukan pembayaran atau serangkaian
pembayaran kepada lessor (IAI:2009).
Definisi tersebut memberikan pengertian, yaitu perjanjian yang dibuat
oleh kedua belah pihak, yaitu lessor (pihak yang menyewakan) dan lessee
(pihak yang menyewa), di mana dalam perjanjian tersebut pihak lessor
memberikan atau mengalihkan hak guna atau hak pakai atas aset yang
dimilikinya baik itu berupa tanah, kendaraan, peralatan maupun aset lainya
yang dapat disusutkan selama beberapa periode tertentu kepada pihak
lessee. Sebagai balas jasa kepada pihak lessor dari hak pakai terhadap aset
tersebut, lessee dituntut untuk membayar sejumlah uang sewa atau
kompensasi sesuai dengan perjanjian yang dibuat di antara kedua belah
pihak. Demikian juga dengan lamanya perjanjian tergantung kepada
perjanjian yang dibuat oleh lessor dan lessee bervariasi sesuai dengan
kesepakatan kedua belah pihak.
Suatu sewa diklasifikasikan sebagai sewa pembiayaan jika sewa
tersebut mengalihkan secara substansial seluruh risiko dan manfaat yang
terkait dengan kepemilikan aset. Suatu sewa diklasifikasikan sebagai sewa
operasi jika sewa tidak mengalihkan secara substansial seluruh risiko dan
manfaat yang terkait dengan kepemilikan aset.
Situasi yang secara individual ataupun gabungan dapat juga
menunjukkan bahwa sewa diklasifikasikan sebagai sewa pembiayaan
adalah:

a. sewa mengalihkan kepemilikan aset kepada lessee pada akhir masa


b.

c.
d.
e.

sewa;
lessee memiliki opsi untuk membeli aset pada harga yang cukup
rendah dibandingkan nilai wajar pada tanggal opsi mulai dapat
dilaksanakan sehingga pada awal sewa dapat dipastikan bahwa opsi
akan dilaksanakan;
masa sewa adalah untuk sebagian besar umur ekonomik aset meskipun
hak milik tidak dialihkan;
pada awal sewa, nilai kini dari jumlah pembayaran sewa minimum
secara substansial mendekati nilai wajar aset sewaan; dan
aset sewaan bersifat khusus dan hanya lessee yang dapat
menggunakannya tanpa perlu modifikasi secara material.

Indikator dari situasi yang secara individual ataupun gabungan dapat


juga menunjukkan bahwa sewa diklasifikasikan sebagai sewa pembiayaan
adalah:
a. jika lessee dapat membatalkan sewa, maka rugi lessor yang terkait
dengan pembatalan ditanggung oleh lessee;
b. untung atau rugi dari fluktuasi nilai wajar residu dibebankan kepada
lessee (misalnya, dalam bentuk potongan harga rental dan yang setara
dengan sebagian besar hasil penjualan residu pada akhir sewa); dan
c. lessee memiliki kemampuan untuk melanjutkan sewa untuk periode
kedua dengan nilai rental yang secara substansial lebih rendah dari
nilai pasar rental.

II.

Proses Sewa
Pihak pihak yang tersangkut dalam perjanjian (kontrak) sewa atau
dapat pula disebut sebagai subjek dalam perjanjian sewa terdiri dari
beberapa pihak yang dapat saling berkaitan satu sama lain, yaitu:
a. Lessor

Lessor merupakan pihak yang menyewakan barang, dapat terdiri dari


beberapa perusahaan.
b. Lessee

Lessee merupakan pihak yang menikmati barang tersebut dengan


membayar sewa dan yang memiliki hak opsi.
c. Creditur dan Lender
Kreditur atau lender disebut juga debt holders atau loan participant
dalam transaksi sewa. Biasanya terdiri dari bank, atau lembaga keuangan
lainnya.
d. Supplier
Supplier merupakan penjual ataupun pemilik barang yang disewakan,
dapat terdiri dari perusahaan (manufacturers) yang berada di dalam negeri
atau yang memiliki kantor pusat di luar negeri.
Adapun proses maupun prosedur dari mekanisme kegiatan sewa yang
menyangkut pihak-pihak terkait diatas, secara garis besarnya dapat
diuraikan sebagai berikut:
1. Lessee bebas memilih dan menentukan aset yang dibutuhkan,
2.
3.

4.
5.

6.
7.

mengadakan penawaran harga dan menunjuk supplier.


Setelah lessee mengisi formulir permohonan lessee, mengirimkan
kepada lessor disertai dokumen pelengkap.
Lessor mengevaluasi kinerja serta kelayakan kredit lessee serta
memutuskan untuk memberikan fasilitas sewa dengan syarat dan
kondisi yang disetujui.
Lessee (seperti lama kontrak serta pembayaran sewa), maka
perjanjian sewa menyewa dapat ditandatangani.
Pada saat yang sama, lessee dapat menandatangani kontrak
asuransi untuk aset yang disewa dengan perusahaan asuransi yang
disetujui lessor, seperti yang tercantum dalam perjanjian sewa
menyewa. Antara lessor dan pihak asuransi terjalin perjanjian
kontrak utama.
Perjanjian pembelian aset akan ditandatangani lessor dengan
supplier.
Supplier dapat mengirim aset yang disewa ke lokasi lessee. Untuk
mempertahankan serta memelihara kondisi aset tersebut, supplier

akan menandatangani perjanjian pelayanan purna jual. Lessee


menandatangani tanda terima aset dan menyerahkan kepada
supplier.
8. Supplier menyerahkan surat tanda terima (yang diterima dari
lessee) sebagai bukti pemilikan serta pemindahan pemilikan
kepada lessor.
9. Lessor membayar harga aset yang disewa kepada supplier.
10. Lessee membayar sewa secara periodik sesuai dengan jadwal
pembayaran yang telah ditentukan dalam prejanjian sewa
menyewa.
Gambar 1
SKEMA PROSEDUR MEKANISME SEWA

III.

Klasifikasi Sewa
A. Sewa Operasi
Suatu sewa dikatakan sebagai sewa operasi apabila sewa tidak
mengalihkan secara substansial seluruh manfaat dan resiko kepemilikan
aset. PSAK (Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan) merupakan suatu
standar yang digunakan oleh sebuah perusahaan yang telah go public
dalam menyusun laporan keuangannya, di mana laporan keuangan tersebut

digunakan oleh para pihak eksternal baik itu kreditur, pemerintah maupun
pihak pihak lain yang berkepentingan.
Aturan yang mengatur kebijakan akuntansi serta pengungkapan yang
sesuai mengenai akuntansi sewa baik bagi lessee maupun lessor dalam
hubungannya dengan sewa pada awalnya diatur oleh PSAK No. 30. Dalam
PSAK No. 30 diatur mengenai klasifikasi sewa operasi, serta
pengungkapan akuntansi sewa.

B. Sewa Dalam Laporan Keuangan Lessee Pada Sewa Operasi


a. Pengakuan

Dalam pembukuan lessee, PSAK 30 mensyaratkan bahwa


pembayaran sewa (tidak termasuk biaya jasa seperti biaya asuransi dan
pemeliharaan) diakui sebagai beban sewa dalam laporan laba rugi
komprehensif (paragraf 33). PSAK 30 lebih lanjut mensyaratkan bahwa
beban ke laporan laba rugi komprehensif diakui dengan dasar garis lurus
selama masa sewa, kecuali terdapat dasar sistematis lain yang lebih
mencerminkan pola waktu dari manfaat aset yang dinikmati pengguna
(paragraf 33). Dengan demikian, jumlah yang diakui bisa tidak sama
dengan jumlah yang dibayarkan untuk setiap periode akuntansi. Hal ini
demi menjamin prinsip penandingan yang memadai.
b. Pengungkapan
Dalam sewa operasi, PSAK 30 mensyaratkan bahwa lessee
minimal mengungkapkan komitmen modal terkait pembayaran sewa di
masa depan, beban sewa yang dibebankan ke laporan laba rugi, dan
penjelasan umum tentang perjanjian sewa. Secara khusus, paragraf 34
PSAK 30 mensyaratkan pengungkapan berikut:
a. Total pembayaran sewa minimum di masa depan dalam sewa operasi

yang tidak dapat dibatalkan untuk setiap periode berikut:


a. Sampai dengan satu tahun
b. Lebih dari satu tahun sampai lima tahun
c. Lebih dari lima tahun

b. Total perkiraan penerimaan pembayaran minimum sewa-lanjut di masa

depan dari kontrak sewa-lanjut yang ysng tidak dapat dibatalkan (noncancelable subleases) pada tanggal pelaporan.
c. Pembayaran sewa dan sewa-lanjut yang diakui sebagai beban periode
berjalan, dengan pengungkapan terpisah untuk masing-masing jumlah
pembayaran minimum sewa, rental kontijen, dan pembayaran sewalanjut.
d. Penjelasan umum perjanjian sewa lessee yang signifikan, yang
meliputi, namun tidak terbatas pada:
a. Dasar penentuan utang rental kontijen
b. Eksistensi dan persyaratan untuk memperbarui kembali
perjanjian sewa atau adanya opsi pembelian dan klausul
eskalasi, dan
c. Pembatasan yang ada dalam perjanjian sewa, seperti
pembatasan dividen, utang tambahan, dan sewa lanjutan.

c. Akuntansi Sewa Untuk Lessee Menurut Sak ETAP Bab 17

1.

Peristiwa peristiwa yang telah terjadi di perusahaan dalam


rangka sewa perlu diidentifikasi yang kemudian barulah dapat
dilakukan pencatatan sesuai dengan akunnya masing. Berikut
akan dijelaskan cara memperlakukan transaksi khususnya
akuntansi sewa yang terjadi menurut Standar Akuntansi
Keuangan Entitas Tanpa Akuntan Publik BAB 17IAI:2009:83)

Pembayaran sewa operasi merupakan beban sewa yang diakui


berdasarkan metode garis lurus selama masa sewa, meskipun
pembayaran sewa dilakukan dalam jumlah yang tidak sama setiap
periode.

Lessee diwajibkan mengungkapkan hal-hal berikut :

Jumlah pembayaran sewa yang harus dibayar selama masa sewa.

Jumlah pembayaran sewa selama periode berjalan yang diakui


sebagai beban sewa.

10

Jaminan yang diberikan sehubungan dengan transaksi sewa.

Keuntungan maupun kerugian yang ditangguhkan beserta


amortisasinya sehubungan dengan transaksi jual dan sewa balik.

Ikatan-ikatan penting yang dipersyaratkan dalam perjanjian sewa.

Pada waktu perjanjian sewa diadakan antara pihak lessor dan lessee,
maka, pada saat itu telah ditentukan hak dan kewajiban masing-masing
pihak. Pencatatan transaksi sewa menurut Standard Akuntansi Keuangan
Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik BAB 17 untuk lessee adalah sebagai
berikut: Sewa Operasi
Perlakuan akuntansi yang dilakukan oleh lessee dalam melakukan
pengakuan serta pencatatan peristiwa maupun aktivitas sewa operasi
dilakukan selama masa sewa dengan rincian sebagai berikut :
Beban Sewa

Rp. Xxx

Kas / Bank

Rp. Xxx

Contoh pelaporan akuntansi sewa operasi menurut Standard


Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik BAB 17 untuk
lessee adalah sebagai berikut :
Neraca
(Dalam Rupiah)
ASET

KEWAJIBAN DAN

EKUITAS

11

Aset Lancar

Utang Jangka Pendek

Kas dan Setara Kas

XXX

Piutang Usaha

XXX

Piutang Lain-Lain

XXX

Total Aset Lancar

XXX

Utang Jangka Panjang XXX

Total Utang Jangka Panjang

XXX
Aset Tetap

Modal

Aset

XXX

Modal Disetor

XXX

Perlengkapan

XXX

Laba Tahun Berjalan XXX

Akumulasi Penyusutan (XXX)

Total AsetTetap

XXX

Total Aset

Total Modal

XXX

XXX

Total Kewajiban & Ekuitas

C. Sewa Dalam Laporan Keuangan Lessor Pada Sewa Operasi


1. Pengakuan

12

XXX

Lessor menyajikan aset untuk sewa operasi di laporan posisi


keuangan sesuai sifat aset tersebut. Biaya termasuk biaya penyusutan yang
terjadi untuk memperoleh pendapatan diakui sebagai beban. Pendapatan
sewa operasi diakui sebagai pendapatan dengan dasar garis lurus selama
masa sewa, kecuali terdapat dasar sistematis lain yang lebih
mencerminkan pola waktu dimana manfaat penggunaan aset sewaan
menurun.
Biaya langsung awal yang dikeluarkan oleh lessor dalam proses
negosiasi dan pengaturan sewa operasi ditambahkan ke jumlah tercatat
aset sewaan dan diakui seagai beban selama masa sewa dengan dasar yang
sama dengan pendapatan sewa. Kebijakan penyusutan untuk aset sewaan
harus konsisten dengan kbijakan penyusutan normal untuk aset sejenis
sesuai PSAK 16: Aset Tetap dan PSAK 19 : Aset Tak Berwujud
2. Pengungkapan

Selain mengungkapkan hal yang dipersyaratkan dalam PSAK 60:


Instrumen Keuangan: Pengungkapan, lessor mengungkapkan hal berikut
untuk sewa operasi :
a. Jumlah agregat pembayaran sewa minimum di masa depan dalam

sewa operasi yang tidak dapat dibatalkan untuk setiap periode


berikut :
a. Sampai dengan satu tahun
b. Lebih dari satu tahun sampai lima tahun
c. Lebih dari lima tahun
b. Total rental kontijen yang diakui sebagai penghasilan dalam
periode berjalan
c. Penjelasan umum isi perjanjian lessor
D. Transaksi Jual Dan Sewa-Balik

Jika suatu transaksi jual dan sewa-balik merupakan sewa pembiayaan,


selisih lebih hasil penjualan dari jumlah tercatat tidak dapat diakui segera
sebagai pendapatan oleh penjual-lessee, tetapi ditangguhkan dan diamortisasi
delama masa sewa.

13

Jika transaksi jual dan sewa-balik merupakan sewa operasi dan jelas
bahwa transaksi tersebut terjadi pada nilai wajar, maka laba rugi diakui segera,
kecuali rugi tersebut dikompensasikan dengan pembayaran sewa di masa
depan yang lebih rendah dari harga pasar, maka rugi tersebut harus
ditangguhkan dan diamortisasi secara proporsional dengan pembayaran sewa
selama periode penggunaan aset. Jika harga jual di atas nilai wajar, selisih
lebih dari nilai wajar tersebut ditangguhkan dan diamortisasi selama periode
penggunaan aset.
Untuk sewa operasi, jika nilai wajar aset pada saat transaksi jual dan
sewa-balik lebih rendah daripada jumlah tercatatnya, rugi sebesar selisih
antara jumlah tercatat dan nilai wajar diakui segera.
IV.

Keuntungan Serta Kerugian Sewa


Keuntungan serta kerugian sewa tergantung dari situasi masing
masing perusahaan yang berbeda beda menyebabkan faktor faktor yang
menunjang pada satu kasus tidaklah dapat diterapkan pada kasus lain. Salah
satu keuntungan keuntungan berikut ini mungkin akan menjelaskan lebih
lanjut sehingga menyebabkan perjanjian sewa ini dapat menjadi alternative
yang menarik untuk dijadikan penyediaan modal / biaya (financing) pada
situasi tertentu. (Syofan Syarif Harahap:2002).
Beberapa keuntungan serta kerugian pembiayaan melalui sewa yang
meliputi sebagai berikut:

A. Keuntungan bagi lessee


a.
b.

Lessee akan terhindar dari kebutuhan dana besar serta biaya bunga
yang tinggi.
Sewa mengurangi resiko keuangan, karena dapat mengoperkan barang
yang disewakan kepada lessor apabila tidak diikuti dengan hak opsi.

14

c.

d.
e.

Perjanjian pada sewa lebih fleksibel karena lebih bebas dibandingkan


dengan perjanjian utang lainnya. Lessor yang pintar akan dapat
menyesuaikan perjanjian sewa terhadap kebutuhan perusahaan.
Dana pembiayaan jauh lebih mudah dibandingkan pembiayaan
sekaligus.
Sewa tidak menambah pos utang di neraca dan tidak mempengaruhi
resiko leverage apabila sewa yang dipilih adalah sewa operasi.

B. Kerugian bagi lessee


a. Lessee wajib memenuhi berbagai persyaratan yang ditetapkan lessor

untuk melindungi peralatannya. Misalnya dalam bentuk pembatasan


pengoperasian barang sewaan aupun perlindungan asuransi.
b. Lessee

bisa saja kehilangan kesempatan untuk memperoleh


keuntungan barang pada saat akhir masa sewa untuk beberapa jenis
barang.
c. Sewa khususnya financial lease mungkin kurang tepat apabila lessee
hanya membutuhkan Aset dalam jangka pendek, karena apabila
dilakukan pembatalan dapat meimbulkan biaya yang cukup besar.
d. Pembiayaan secara sewa merupakan pembiayaan yang relative mahal
dibandingkan dengan kredit investasi dari bank. Hal ini dikarenakan
sumber dana yang digunakan oleh lessor pada umumnya didapatkan
dari bank atau lembaga keuangan lain bukan bank.

BAB III
KESIMPULAN
Sewa adalah suatu perjanjian dimana lessor memberikan hak kepada lessee
untuk menggunakan suatu aset selama periode waktu yang disepakati.
Sewa Operasi (Operating Lease) adalah sewa yang tidak mengalihkan
secara substansial seluruh risiko dan manfaat yang terkait dengan kepemilikan

15

aset (par. 8) Klasifikasi sebagai sewa pembiayaan atau sewa operasi didasarkan
pada substansi transaksi dan bukan pada bentuk kontraknya.
Aset tetap selain dibeli dapat disewa dari pihak lain:
Sewa operasi / operating lease
Sewa pembiayaan / capital lease
Sewa sebagai alternatif pembiayaan menghemat kas entitas. Sewa operasi
disajikan off balance sheet (tidak ditampilkan di laporan posisi keuangan sehingga
dapat meningkatkan beberapa rasio keuangan efisiensi dan leverage.

DAFTAR PUSTAKA

ISAK 8
Kieso, D. E., Jerry J. Weiganndt & Tery D. Warfield.(2007). Akuntansi

Intermediate. Jakarta: Penerbit Erlangga.

16

PSAK No. 30
Intermediate

Accounting
Standar
Akuntansi
Keuangan
Dewan Standar Akuntansi Keuangan, IAI
International Financial Reporting Standards Certificate Learning
Material
Juan, N. E., & Wahyuni, E. T. (2014). Panduan Praktis: Standar Akuntansi
Keuangan. (B. B. Alkemis, Trans.) Jakarta: Salemba Empat.

17