Anda di halaman 1dari 10

PENDAHULUAN

Seksualitas adalah perilaku seseorang yang menunjukkan ia laki-laki atau wanita.


Perilaku seksual yang normal adalah yang dapat menyesuaikan diri, bukan saja dengan
tuntunan masyarakat,

tetapi juga dengan kebutuhan diri sendiri dalam hal mencapai

kebahagaiaan dan pertumbuhan. Juga dapat mencapai perwujudan diri sendiri dalam
meningkatkan kemampuan untuk mengembangkan kepribadiannya menjadi lebih baik.
Seksualitas bergantung pada empat faktor yang saling berkaitan : identitas seksual, identitas
gender, orientasi seksual, dan perilaku seksual. Keempat faktor ini mempengaruhi
pertumbuhan, perkembangan, dan fungsi kepribadian. Seksualitas adalah sesuatu yang lebih
dari seks fisik, koitus, atau bukan koitus, dan hanya perilaku yang diarahkan untuk
memperoleh kesenangan (Kaplan, 2010).
Terdapat beberapa gangguan preferensi seksual atau parafilia yang didefinisikan
sebagai gangguan seksual yang ditandai dengan cara membangkitkan fantasi, dorongan
seksual atau perilaku yang melibatkan benda-benda non-manusia, penderitaan atau
penyiksaan diri sendiri atau salah satu pasangan, atau anak-anak yang terjadi selama 6 bulan
(Thibaut, 2012).
Beberapa paraphilias dapat dikaitkan dengan perilaku seksual yang aneh, mereka
tidak selalu terkait dengan pelanggaran. Pasien-pasien ini mungkin hadir untuk pengobatan
karena distress terkait untuk kehidupan pribadi mereka. Sebaliknya, paraphiliac lainnya
dapat menyebabkan pelanggaran seks, masalah kesehatan yang melibatkan pelanggaran yang
ditetapkan dalam aturan hukum atau moral perilaku seksual. Kasus yang parah akan
melibatkan lebih dari satu korban atau anak (Barra et al, 2010).

Page 1

GANGGUAN PREFERENSI SEKSUAL

A. EPIDEMIOLOGI
Prevalensi perilaku parailia pada suatu rentang periode tententu tidak tersedia untuk
parafilia. Di Perancis, 22% dari para tahanan adalah pelaku kejahatan seks. Di penjara
Inggris, sekitar 11% dari populasi telah melakukan pelanggaran seksual pada tahun 1998; di
Amerika Serikat, remaja untuk 17% dari individu yang ditangkap untuk pelanggaran seks.
Dalam populasi 193 siswa di Inggris, Briere dan Runtz telah melaporkan 21% dari subyek
yang memiliki fantasi pedofilia (Barra et al, 2010).

B. ETIOLOGI
Etiologi parafilia sebagian besar masih belum diketahui, berbagai teori telah diajukan
ke untuk terjadinya gangguan seksual ini. Teori belajar, merupakan aspek yang paling
berpengaruh dalam perilaku seksual manusia, termasuk perilaku seksual menyimpang.
Pengalaman negatif selama masa kanak-kanak, seperti kekerasan orang tua atau
ketidakharmonisan hubungan orangtua-anak merupakan prekursor penting untuk terjadinya
penyimpangan seksual dengan atau tanpa paraphilia. Pengalaman pelecehan seksual masa
kanak-kanak adalah faktor risiko untuk perilaku pedofil kemudian (Labelle et al, 2012).

C. KLASIFIKASI GANGGUAN PREFERENSI SEKSUAL

a. Gangguan Preferensi Seksual (Parafilia) (Maslim, 2001).


1. F65. Gangguan Preferensi Seksual Menurut Pedoman Penggolongan dan Diagnosis
Gangguan Jiwa di Indonesia Edisi III (PPDGJ III)
-

F65.0 Fetihisme

F65.1 Tranvetisme Fetihistik

F65.2 Ekshibisionisme

F65.3 Voyeurisme
Page 2

F65.4 Pedofilia

F65.5 Sadomasokisme

F65.6 Gangguan Preeferensi Seksual Multipel

F65.8 Gangguan Preferensi Seksual Lainya

F65.9 Gangguan Preferensi Seksual YTT

D. KARAKTERISTIK PARAFILIA
Karakteristik

pada

gangguan

parafilia

dapat

didiagnosis

dengan

DSM-5

mengharuskan orang dengan minat ini (APA, 2013):


a. Merasa tertekan secara pribadi tentang minat mereka, bukan hanya kesusahan akibat
ketidaksetujuan masyarakat; atau
b. Memiliki hasrat seksual atau perilaku yang melibatkan psikologis orang lain tertekan,
cedera, bahkan kematian, atau keinginan untuk perilaku seksual yang melibatkan
orang lain yang tidak mau atau tidak mendapatkan persetujuan hukum.
Terdapat beberapa jenis dari pedofilia yaitu pedofilia, ekshibisionisme, fetishisme,
froteurisme, masokisme seksual, sadisme seksual, voyeurisme, dan fetishisme transvestik.
1. Pedofilia
Pedofilia didefinisikan sebagai individu yang memiliki untuk membangkitkan fantasi,
dorongan seksual, atau perilaku seksual, yang melibatkan anak-anak berusia 13 tahun atau
lebih muda. Individu harus setidaknya 16 tahun, dan setidaknya lima tahun lebih tua dari
korban mereka (Beech & Harkins, 2012).
Pedoman Diagnostik menurut Pedofilia PPDGJ III (Maslim, 2001).

Preferensi seksual terhadap anak-anak, biasanya pra-pubertas atau awal masa pubertas,

baik laki-laki maupun perempuan


Pedofilia jarang ditemukan pada perempuan
Preferensi tersebut harus berulang dan menetap
Termasuk : laki-laki dewasa yang mempunyai preferensi partner seksual dewasa, tetapi
karena mengalami frustasi yang kronis untuk mencapai hubungan seksual yang
diharapkan, maka kebiasaanya beralih kepada anak-anak sebagai pengganti.
2. Transvestic Fetisisme

Page 3

Transvestic Fetisisme biasanya gejala keadaan seseorang yang mencari rangsangan dan
pemuasan sexual dengan memakai pakaian dan berperan sebagai seseorang dari sex yang
berlainan (Beech & Harkins, 2012).
Pedoman Diagnostik Tranvetisme Fetihistik menurut PPDGJ-III (Maslim, 2001).

Mengenakan pakaian dari lawan jenis dengan tujuan pokok untuk mencapai kepuasaan

seksual
Gangguan ini harus dibedakan dari fetihisme (F65.0) dimana pakaian sebagai objek
fetish bukan hanya sekedar dipakai, tetapi juga untuk menciptakan penampilan seorang
dari lawan jenis kelaminya. Biasanya lebih dari satu jenis barang yang dipakai dan
seringkali suatu perlengkapan yang menyeluruh, termasuk rambut palsu dan tat arias

wajah.
Transvetisme fetihistik deibedakan dari trasvetisme transsexual oleh adanya hubungan
yang jelas dengan bangkitnya gairah seksual dan keinginan/hasrat yang kuat untuk

melepaskan baju tersebut apabila orgasme sudah terjadi dan rangsang seksual menurun
Adanya riwayat transvetisme fetihistik biasanya dilaporkan sebagai suatu fase awal
oleh para penderita transeksualisme dan kemungkinan merupakan suatu stadium dalam
perkembangan transeksualisme.
3. Eksibisionisme
Eksibisionisme didefinisikan oleh individu yang memiliki dorongan berulang, intens,

fantasi, atau perilaku, yang menunjukan alat kelamin kepada orang lain tanpa persetujuan.
Permulaan paraphilia ini umumnya tampaknya terjadi pada pertengahan remaja individu.
Meskipun pada awalnya gangguan lebih sering pada laki-laki, beberapa menunjukkan bahwa
proporsi relatif lebih tinggi dari mereka yang mengalami paraphilia ini adalah perempuan
(Beech & Harkins, 2012).
Pedoman Diagnostik Ekhibisionisme menurut PPDGJ-III (Maslim, 2001).

Kecenderungan yang berulang atau menetap untuk memamerkan alat kelamin kepada
asing (biasanya lawan jenis kelamin) atau kepada orang banyak di tempat umum, tanpa

ajakan atau niat untuk berhubungan lebih akrab.


Ekshibisionisme hampir sama sekali terbatas pada laki-laki heteroseksual yang
memamerkan pada wanita, remaja atau dewasa, biasanya menghadap mereka dalam
jarak yang aman di tempat umum. Apabila yang menyaksikan itu terkejut, takut, atau

terpesona, kegairahan penderita menjadi meningkat.


Pada beberapa penderita, ekshibisionisme merupakan satu-satunya penyaluran seksual,
tetapi pada penderita lainnya kebiasaan ini dilanjutkan bersamaan (stimultaneously)
Page 4

dengan kehidupan seksual yang aktif dalam suatu jalinan hubungan yang berlangsung
lama, walaupun demikian dorongan menjadi lebih kuat pada saat menghadapi konflik

dalam hubungan tersebut.


Kebanyakan penderita ekshibisionisme mendapatkan kesulitan dalam mengendalikan
dorongan tersebut dan dorongan ini bersifat ego-alien (suatu benda asing bagi
dirinya).
4. Fetisisme
Fetisisme melibatkan ketertarikan seksual pada objek non-hidup. Target paling umum

paraphilia ini adalah pakaian dalam wanita, kaki, dan sepatu. Fetisisme biasanya dimulai saat
pubertas; Namun, objek yang menjadi ketertarikan seksual mungkin sudah memiliki makna
khusus sejak anak usia dini (Beech & Harkins, 2012).
Pedoman Diagnostik Fetihisme menurut PPDGJ III (Maslim, 2001).

Mengandalkan pada beberapa benda mati(non-living object) sebagai rangsangan untuk


membangkitkan keinginan seksual dan memberikanb kepuasan seksual. Kebanyakan
benda tersebut (object fetish) adalah ekstensi dari tubuh manusia, seperti pakaian atau

sepatu
Diagnosis ditegakkan apabila object fetish benar-benar merupakan sumber yang utama

dari rangsangan seksual atau penting sekali untuk respon seksual yang memuaskan.
Fantasi fetihistik adalah lazim, tidak menjadi suatu gangguan kecuali apabila menjurus
kepada suatu ritual yang begitu memaksa dan tidak semestinya sampai menggangu

hubungan seksual dan menyebabkan bagi penderitaan individu.


Fetihisme terbatas hampir hanya pada pria saja
5. Voyeurisme
Voyeurisme menggambarkan tindakan mengamati individu yang telanjang, membuka
baju atau sedang melakukan hubungan seksual tanpa persetujuan. Pelanggaran biasanya
dilakukan oleh laki-laki dan jarang perempuan yang memenuhi kriteria diagnostik untuk
Voyeurisme (Beech & Harkins, 2012).
Pedoman Diagnostik Voyeurisme menurut PPDGJ-III (Maslim, 2001).

Kecenderungan yang berulang atau menetap untuk melihat orang yang sedang

berhubungan seksual atau berperilaku intim seperti sedang menanggalkan pakaian.


Hal ini biasanya menjurus kepada rangsangan seksual dan mastrubasi, yang dilakukan
tanpa orang yang diintip menyadarinya.

6. Masokisme seksual
Page 5

Masokisme seksual melibatkan gairah seksual pada tindakan yang dihina, dipukuli,
diikat, atau dibuat menderita dalam beberapa cara. Dalam beberapa kasus, fantasi ini timbul
selama masturbasi atau hubungan seksual (Beech & Harkins, 2012).
Kriteria Diagnostik Untuk Masokisme Seksual menurut DSM-IV (Kaplan, 2010)

Selama waktu sekurangnya 6 bulan, terdapat khayalan yang merangsang secara seksual,
dorongan seksual, atau perilaku yang berulang dan kuat berupa tindakan (nyata, atau

disimuasi) sedang dihina, dipukuli, diikat, atau hal lain yang membuat menderita.
Khayalan, dorongan seksual, atau perilaku menyebabkan penderitaan yang bermakna
secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lainnya.
7. Sadisme seksual
Dalam paraphilia ini, individu mendapatkan rangsangan seksual dengan melakukan

penderitaan fisik atau psikologis (termasuk penghinaan) kepada orang lain. Informasi yang
terbatas menunjukkan bahwa paraphilia ini yang paling sering ditemukan pada laki-laki kulit
putih. Praktek juga dapat melibatkan menahan diri, blindfolding, memukul, mencambuk,
mencubit, memukul, membakar, sengatan listrik, pemerkosaan, memotong, menusuk,
pencekikan, penyiksaan, dan mutilasi (Beech & Harkins, 2012).
Kriteria Diagnostik Untuk Sadisme Seksual menurut DSM-IV (Kaplan, 2010)

Selama waktu sekurangnya 6 bulan, terdapat khayalan yang merangsang secara seksual,
dorongan seksual, atau perilaku yang berulang dan kuat berupa tindakan (nyata atau
disimulasi) dimana penderitaan korban secara fisik atau psikologis (termasuk

penghinaan) adalah menggembirakan pelaku secara seksual.


Khayalan, dorongan seksual, atau perilaku menyebabkan penderitaan yang bermakna
secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lainnya.
8. Frotteurism
Frotteurism yaitu membangkitkan fantasi seksual atau dorongan seksual atau perilaku

yang menyentuh dan bergesekan dengan bagian tubuh seorang wanita tanpa persetujuan.
Perilaku seperti biasanya terjadi pada tempat yang ramai atau tempat umum (misalnya, bus
atau kereta). Karena keadaan di mana paraphilia ini terjadi, sulit untuk mengidentifikasi
pelaku. Korban yang sebagian besar perempuan, sementara kontak seksual adalah yang
paling mungkin untuk terjadi dari belakang (Beech & Harkins, 2012).
Kriteria diagnostik Frotteurisme menurut DSM-IV (Maramis, 2009)

Selama waktu sekurangnya 6 bulan, terdapat khayalan yang merangsang secara seksual,
dorongan seksual, atau perilaku yang berulang dan kuat berupa menyentuh atau
bersenggolan dengan orang yang tidak menyetujuinya.
Page 6

Khayalan, dorongan seksual, atau perilaku yang menyebabkan penderitaan yang


bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi
penting lainnya

E. TATALAKSANA
a. Farmakologi
Terapi farmakologi yang dapat digunakan yaitu antipsikotik dan antidepresan. Antipsikotik
dan antidepresan

adalah diindikasikan sebagai pengobatan skizofrenia atau gangguan

depresif jika parafilia disertai dengan gangguan-gangguan tersebut. Antiandrogen,


seperti ciproterone acetate di Eropa dan medroxiprogesterone acetate (Depo-Provera) di
Amerika Serikat, telah digunakan secara eksperimental pada parafilia hiperseksual.
Medroxiprogesterone acetate bermanfaat bagi pasien yang dorongan hiperseksualnya diluar
kendali atau berbahaya (sebagai contoh masturbasi yang hampir terus-menerus, kontak
seksual setiap kesempatan, seksualitas menyerang yang kompulsif). Obat serotonorgik seperti
Fluoxetin (prozac) telah digunakan pada beberapa kasus parafilia dengan keberhasilan yang
terbatas (Thibaut, 2012).
b. Non Farmakologi
1. Kendali Eksternal
Penjara adalah mekanisme kendali eksternal untuk kejahatan seksual yang biasanya
tidak berisi kandungan terapi. Memberitahu teman sebaya, atau anggota keluarga
dewasa lain mengenai masalah dan menasehati untuk menghilangkan kesempatan bagi
perilaku untuk melakukan dorongannya (Thibaut, 2012).
2. Terapi Seks
Adalah pelengkap yang tepat untuk pengobatan pasien yang menderita disfungsi
seksual tertentu dimana mereka mencoba melakukan aktivitas seksual yang tidak
menyimpang dengan pasangannya (Thibaut, 2012).
3. Terapi Perilaku
Digunakan untuk memutuskan pola parafilia yang dipelajari. Stimuli yang
menakutkan, seperti kejutan listrik atau bau yang menyengat, telah dipasangkan dengan
impuls tersebut, yang selanjutnya menghilang. Stimuli dapat diberikan oleh diri sendiri
dan digunakan oleh pasien bilamana mereka merasa bahwa mereka akan bertindak atas
dasar impulsnya (Thibaut, 2012).
4. Psikoterapi Berorintasi Tilikan
Page 7

Merupakan pendekatan yang paling sering digunakan untuk mengobati parafilia.


Pasien memiliki kesempatan untuk mengerti dinamikanya sendiri dan peristiwaperistiwa yang menyebabkan perkembangan parafilia. Secara khusus, mereka menjadi
menyadari peristiwa sehari-hari yang menyebabkan mereka bertindak atas impulsnya
(sebagai contohnya, penolakan yang nyata atau dikhayalkan). Psikoterapi juga
memungkinkan pasien meraih kembali harga dirinya dan memperbaiki kemampuan
interpersonal dan menemukan metode yang dapat diterima untuk mendapatkan
kepuasan seksual. Terapi kelompok juga berguna (Thibaut, 2012).

KESIMPULAN

Perilaku seksual yang normal adalah yang dapat menyesuaikan diri, bukan saja
dengan tuntunan masyarakat, tetapi juga dengan kebutuhan diri sendiri dalam hal mencapai
Page 8

kebahagaiaan dan pertumbuhan. Terdapat beberapa gangguan preferensi seksual atau parafilia
yang didefinisikan sebagai gangguan seksual yang ditandai dengan cara membangkitkan
fantasi, dorongan seksual atau perilaku yang melibatkan benda-benda non-manusia,
penderitaan atau penyiksaan diri sendiri atau salah satu pasangan, atau anak-anak yang terjadi
selama 6 bulan. Prevalensi perilaku parailia pada suatu rentang periode tententu tidak tersedia
untuk parafilia. Etiologi parafilia sebagian besar masih belum diketahui, berbagai teori telah
diajukan ke untuk terjadinya gangguan seksual ini. Teori belajar, merupakan aspek yang
paling berpengaruh dalam perilaku seksual manusia, termasuk perilaku seksual menyimpang.
Terdapat beberapa jenis dari pedofilia yaitu pedofilia, ekshibisionisme, fetishisme,
froteurisme, masokisme seksual, sadisme seksual, voyeurisme, dan fetishisme transvestik.
Tatalaksana dari parafilia ini dapat dilakukan secara farmakologi dan nonfarmakologi.

DAFTAR PUSTAKA

APA. (2013). Paraphilic Disorders. National Medical Specialty Society American


Psychiatric

Association..

Available

Page 9

from:

http://www.psychiatry.org/file

%20library/practice/dsm/dsm-5/dsm-5-paraphilic-disorders.pdf

[Accessed on 22 th

April 2015].
Barra et al. (2010). The World Federation of Societies of Biological Psychiatry (WFSBP)
Guidelines for the biological treatment of paraphilias. The World Journal of Biological
Psychiatry, 2010; 11: 604655. ISSN 1562-2975 print/ISSN 1814-1412. Available
from:http://www.wfsbp.org/fileadmin/user_upload/Treatment_Guidelines/Paraphilias_
Guidelines.pdf [Accessed on 22 th April 2015].
Beech & Harkins. (2012). DSM-IV paraphilia: Descriptions, demographics and treatment
interventions. University of Birmingham, UK. Aggression and Violent Behavior 17
(2012)

527539.

Available

from:

http://www.rimas.qc.ca/wp-

content/uploads/2013/10/Beech-2.pdf. [Accessed on 22 th April 2015].


Kaplan & Sadock Buku Ajar Psikiatri Klinis. 02th ed. Jakarta : EGC; 2010.
Labelle et al. (2012). Familial Paraphilia: A Pilot Study with the Construction of
Genograms. International Scholarly Research Network. ISRN Psychiatry Volume
2012, Article ID 692813, 9 pages doi:10.5402/2012/692813. Available from:
http://www.hindawi.com/journals/isrn/2012/692813/ [Accessed on 22 th April 2015].
Maslim, R. Diagnosis Gangguan Jiwa, rujukan Ringkas PPDGJ-III. Edisi 1. Jakarta : PT.
Nuh Jaya. 2001.
Maramis FM, Maramis AA. Sexualitas Normal dan Abnormal Edisi 2. Surabaya : Airlangga
University Press. 2009.
Thibaut, Florence. (2012). Pharmacological Treatment of Paraphilias. Psychiatric
Department, University Hospital Ch. Nicolle, INSERM U 614, Rouen, France. Isr J
Psychiatry Relat Sci - Vol. 49 - No 4. Available from: http://doctorsonly.co.il/wpcontent/uploads/2013/03/09_-Pharmacological-treatment.pdf. [Accessed on 22 th April
2015].

Page 10