Anda di halaman 1dari 19

Supositoria

KELOMPOK 6

Anggota Kelompok :
Oka J.M.
Rafikasari
Corry A.S.
Monita P.
Herza S.

Tujuan Pembelajaran

Mahasiswa memahami tentang supositoria baik dari segi tujuan


penggunaan, jenis-jenis supositoria, keuntungan dan kerugian
sediaan, cara pembuatan, cara penggunaan, cara penyimpanan,
cara pemberian etiket, cara penyerahan serta penyampaian
informasi obat kepada pasien.

Pengertian

Supositoria menurut FI edisi IV adalah sediaan padat dalam berbagai


bobot dan bentuk, yang diberikan melalui rektum, vagina, atau uretra
umumnya meleleh, melunak, atau melarut pada suhu tubuh.
Supositoria dapat bertindak sebagai pelindung jaringan setempat dan
sebagai pembawa zat terapeutik yang bersifat lokal atau sistemik.

Jenis jenis Supositoria


Macam-macam Suppositoria berdasarkan tempat penggunaannya :

Rektal Suppositoria
Digunakan lewat rektal atau anus, beratnya menurut FI IV 2 g. Supositoria
rektal berbentuk torpedo mempunyai keuntungan yaitu bila bagian yang besar
masuk melalui jaringan otot penutup dubur, maka supositoria akan tertarik
masuk dengan sendirinya.

Vaginal Suppositoria (Ovula)


Bentuk bola lonjong seperti kerucut, digunakan lewat vagina, berat umumnya 5
g.

Urethral Suppositoria (bacilla, bougies)


Digunakan lewat urethra, bentuk batang panjang antara 7 cm - 14 cm.

Keuntungan

Dapat menghindari terjadinya iritasi pada lambung

Dapat menghindari kerusakan obat oleh enzim pencernaan dan


asam lambung

Obat dapat masuk langsung ke dalam saluran darah sehingga


obat dapat berefek lebih cepat daripada penggunaan obat per
oral

Baik bagi pasien yang mudah muntah atau tidak sadar

Kerugian

Penggunaan tidak menyenangkan

Absorpsi obat dari suppositoria tidak konsisten

Cairan dalam rectum relatif sedikit dibandingkan dengan cairan


saluran cerna (lambung dan usus), kekurangan cairan dalam
rectum menghambat proses desintegrasi dan absorbsi.

Difusi /absorpsi obat melalui mukosa rectum terbatas.

Tujuan Penggunaan
1.

Supositoria dipakai untuk pengobatanlokal, baik dalam rektum


maupun vagina atau urethra, seperti penyakit haemorroid / wasir /
ambein dan infeksi lainnya.

2.

Supositoria secara rektal juga digunakan untuk distribusisistemik,


karena dapat diserap oleh membran mukosa dalam rektum,
apabila penggunaan obat peroral tidak memungkinkan, seperti
pasien mudah muntah atau tidak sadar. Aksi kerjaawalakan
diperoleh secara cepat, karena obat diabsorpsi melalui mukosa
rektal langsung masuk ke dalam sirkulasi darah.

3.

Supositoria juga ditujukan agar terhindar dari perusakan obat oleh


enzim di dalam saluran gastrointestinal dan perubahan obat secara
biokimia di dalam hepar.

Metode Pembuatan Supositoria

Dengan tangan
Pembuatan dengan tangan hanya dapat dikerjakan untuk supositoria yang
menggunakan bahan dasar oleum cacao berskala kecil, dan jika bahan obat
tidak tahan terhadap pemanasan. Metode ini kurang cocok untuk iklim panas.

Dengan mencetak hasil leburan


Cetakan harus dibasahi lebih dahulu dengan parafin cair bagi yang memakai
bahan dasar gliserin-gelatin, tetapi untuk oleum cacao dan PEG tidak
dibasahi karena akan mengerut pada proses pendinginan dan mudah dilepas
dari cetakan.

Dengan kompresi
Pada metode ini, proses penuangan, pendinginan dan pelepasan supositoria
dilakukan dengan mesin secara otomatis. Kapasitas bisa sampai 3500-6000
supositoria/jam.

Wadah

Dikemas sedemikian rupa sehingga tiap Suppositoria terpisah,


tidak mudah hancur atau meleleh.

Biasanya dimasukkan dalam wadah dari alumunium foil atau


strip plastik sebanyak 6 sampai 12 buah, untuk kemudian
dikemas dalam dus.

Harus disimpan dalam wadah tertutup baik di tempat sejuk.

Faktor Yang Harus Diperhatikan

Faktor Fisiologis
Epitel rektum sifatnya berlipoid (berlemak) maka diutamakan permeabel
terhadap obat yang tidak terionisasi (obat mudah larut dalam lemak). Faktor
Fisiologis meliputi:
a.

Kandungan Kolon :
Absorpsi lebih besar pada rektum yang kosong (tidak ada feses), keadaan
lainnya seperti diare dapat mempengaruhi kadar dan tingkat absorpsi obat
dari rektum.

b.

Jalur Sirkulasi :
Obat yang diabsorbsi melalui rektum, tidak melalui sirkulasi portal (tidak
dihilangkan oleh hati).

c.

pH :
Rektum mengandung sedikit cairan dengan pH 7,2 dan kapasitas dapar
rendah. Obat secara kimia tidak berubah oleh lingkungan rektum.

Faktor Yang Harus Diperhatikan

Faktor Fisika-Kimia Obat dan Basis


1.

Kelarutan obat :
Obat yang mudah larut dalam lemak akan lebih cepat terabsorpsi daripada obat
yang larut dalam air.

2.

Kadar obat dalam basis :


Jika kadar obat makin besar, absorpsi obat semakin cepat.

3.

Ukuran partikel :
Ukuran partikel obat akan mempengaruhi kecepatan larutnya obat ke cairan rektum.

4.

Basis supositoria :
Obat yang larut dalam air dan berada dalam basis lemak akan segera dilepaskan ke
cairan rektum jika basis dapat segera terlepas setelah masuk ke dalam rektum; obat
segera diabsorpsi dan aksi kerja awal obat akan segera muncul. Jika obat larut
dalam air dan terdapat dalam basis larut air, aksi kerja awal obat akan segera
muncul jika basis tadi cepat larut dalam air.

Cara Pemberian Etiket


Pemberian etiket supositoria berwarna biru
Dengan diberi keterangan:

Nama Pasien

Nama Obat

Frekuensi Pemakaian

Bentuk Sediaan

Keterangan Pemakaian : Masukan pada lubang anus (dubur)

Cara Penyerahan
Supositoria diserahkan kepada pasien dan berikan informasi kepada pasien
mengenai cara penggunaan dan penyimpanan supositoria yang baik dan benar

Berikut adalah cara penggunaan supositoria:

1.

Cuci tangan anda sampai bersih dengan sabun

2.

Keluarkan supositoria dari kemasan dan basahi sedikit dengan air bersih

3.

Bila supositoria terlalu lembek, maka dinginkan terlebih dahulu dalam


lemari es selama 30 menit, atau rendam dalam air dingin sebelum
membuka kemasan

4.

Atur posisi tubuh berbaring menyamping dengan kaki bagian bawah


diluruskan, sementara kaki bagian atas ditekuk ke arah perut

5.

Angkat bagian atas dubur untuk menjangkau daerah anus

6.

Masukkan supositoria, ditekan dan ditahan dengan jari telunjuk


sampai betul-betul masuk ke bagian otot sfinkter rektum
(sekitar 0,5-1 inci dari lubang dubur). Jika tidak dimasukkan
sampai bagian otot sfinkter, supositoria akan terdorong keluar
lagi dari lubang dubur

7.

Tahan posisi tubuh anak agar tetap berbaring menyamping


dengan kedua kaki menutup selama kurang lebih 5 menit untuk
menghindari supositoria terdorong keluar

8.

Usahakan tidak BAB selama 1 jam setelah pemberian obat

Berikut cara penyimpanan supositoria :

Supositoria disimpan dalam lemari es, dengan wadah yang


tertutup baik dan pada suhu yang berkisar 2-8 C serta
terlindung dari cahaya.

Jauhkan dari jangkauan anak-anak.

Latihan Resep

Tambahan Video

TERIMA KASIH