Anda di halaman 1dari 23

BAB I PENDAHULUAN

Adaptasi adalah cara bagaimana organisme mengatasi tekanan lingkungan sekitarnya untuk
bertahan hidup. Adaptasi terbagi atas tiga jenis yaitu, adaptasi morfologi adalah adaptasi yang
meliputi bentuk tubuh, adaptasi Fisiologi adalah adaptasi yang meliputi fungsi alat-alat tubuh
dan adaptasi tingkah laku adalah adaptasi berupa perubahan tingkah laku. Organisme Laut
berdasarkan tempat hidup dan cara hidupnya dapat dikelompokan atas tiga kelompok besar yaitu,
Plankton, Nekton dan Bentos. Plankton terdiri atas mikroorganisme laut baik fitoplankton
maupun zooplankton yang mengapung dan hanyut karena arus air, atau hidup diatas maupun
dekat permukaan air. Habitat alami plankton adalah perairan tawar (sungai, danau, rawa), estuari
dan air laut/pantai. Keberadaan plankton di suatu perairan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu
intensitas cahaya, suhu, dan kecerahan suatu perairan. Intensitas cahaya sangat dibutuhkan
terutama bagi fitoplankton untuk melakukan proses fotosintesis karena fitoplankton sebagai
tumbuhan mengandung pigmen klorofil yang mampu melaksanakan reaksi fotosintesis dimana
air dan karbon dioksida dengan sinar surya dan garam-garam hara dapat menghasilkan senyawa
organik seperti karbohidrat. Selain phytoplankton, zooplankton juga berperan dalam rantai
makanan, dimana zooplankton ini merupakan produsen sekunder yang membutuhkan makanan
berupa phytoplankton. Untuk memahami lebih lanjut mengenai kehidupan plankton maka akan
dibahas lebih lanjut dalam makalah ini.

BAB II
PEMBAHASAN

A.Pengertian
Istilah plankton pertama kali digunakan oleh Victor Hensen direktur
Ekspedisi Jerman pada tahun 1889, yang dikenal dengan Plankton Expedition
yang khusus dibiayai untuk menentukan dan membuat sitematika organisme
laut, berasal dari bahasa Yunani planktos, yang berarti menghanyut atau
mengembara. Plankton adalah organisme renik yang melayang-layang dalam air atau mempunyai
kemampuan renang yang sangat lemah, pergerakannya selalu dipengaruhi oleh gerakan masa air.
Sebenarnya, plankton memiliki alat gerak (misalnya flagelata dan ciliata) sehingga secara
terbatas plankton akan melakukan gerakan-gerakan tetapi gerakan tersebut tidak cukup
mengimbangi pergerakan air sekelilingnya, sehingga dikatakan bahwa gerakan plankton sangat
dipengaruhi oleh gerakan air (Djumanto, 2009). Plankton merupakan organisme perairan pada
tingkat trofik pertama yang berfungsi sebagai penyedia energi. Secara luas plankton dianggap
sebagai salah satu organisme terpenting di dunia, karena menjadi bekal makanan untuk
kehidupan akuatik. Bagi kebanyakan makhluk laut, plankton adalah makanan utama mereka.
Plankton terdiri dari sisa-sisa hewan dan tumbuhan laut. Ukurannya kecil saja. Walaupun
termasuk sejenis benda hidup, plankton tidak mempunyai kekuatan untuk melawan arus, air
pasang atau angin yang menghanyutkannya. Plankton hidup di pesisir pantai di mana ia
mendapat bekal garam mineral dan cahaya matahari yang mencukupi. Ini penting untuk
memungkinkannya terus hidup. Mengingat plankton menjadi makanan ikan, tidak mengherankan
bila ikan banyak terdapat di pesisir pantai. Itulah sebabnya kegiatan menangkap ikan aktif
dijalankan di kawasan itu. Penggerak utama sistem kehidupan di bumi adalah energi matahari.
Energi matahari kemudian dimanfaatkan oleh organisme autotroph untuk membentuk bahan
organik yang akan dimanfaatkan oleh organisme herbivora. Fitoplankton merupakan organisme
autotroph utama dalam kehidupan di laut. Melalui proses fotosisntesis yang dilakukannya,
fitoplankton mampu menjadi sumber energy bagi seluruh biota laut lewat mekanisme rantai
makanan. Walaupun memiliki

ukuran yang kecil namun memiliki jumlah yang tinggi sehingga mampu menjadi pondasi dalam
piramida makanan di laut (Kasim, 2009).
B. Jenis-Jenis Plankton
Menrut nontji (2008), menyatakan bahwa penggolongn plankton Secara fungsional, plankton
digolongkan menjadi empat golongan utama, yaitu fitoplankton, zooplankton, bakterioplankton,
dan virioplankton. Berdasarkan siklus hidupnya, plankton dapat dikenal sebagai Holoplankton
yang seluruh daur hidupnya bersifat planktonik, mulai dari telur, larva, hingga dewasa.
Contohnya adalah copepod, amfipod, salpa, kaetognat. Dan Meroplankton yang sebagian
hidupnya bersifat sebagai planktonik dimana plankton golongan ini menjalani kehidupannya
sebagai plankton hanya pada tahap awal dari daur hidup biota tersebut, yakni pada tahap sebagai
telur dan larva saja. Beranjak dewasa ia berubah menjadi nekton, yakni hewan yang dapat aktif
berenang bebas atau sebagai bentos yang hidup menetap atau melekat di dasar laut. Contohnya
yaitu udang, krustacea, moluska, dan ikan. Plankton juga dapat digolongkan berdasarkan
ukurannya sebagai berikut (Nontji, 2008) :
a.Megaplankton (20-200 cm) Banyak ubur-ubur termasuk dalam golongan ini. Gambar 3.
Megaplankton, ubur-ubur
Cyanea arctica
b.Makroplankton (2-20 cm) Contohnya adalah eufausid, sergestid, pteropod. Larva ikan banyak
pula termasuk dalam golongan ini.

Gambar 4. Makroplankton, pteropod

c.Mesoplankton (0,2-20 mm) Sebagian besar zooplankton berada dalam kelompok ini seperti
copepod, amfipod, ostrakod, kaetognat. Gambar 5. Ostrakod
d.Mikroplankton (20-200 m) Fitoplankton adalah yang paling umum ditemukan yang termasuk
dalam golongan ini seperti diatom dan dinoflagelat.
e. Nanoplankton (2-20 m) Kelompok ini terlalu kecil untuk dapat ditangkap dengan jaring
plankton. Misalnya kokolitoforid dan berbagai mikroflagelat.
Gambar 6. nanoplankton kokolitoford
Emiliania huxley
f.Pikoplankton (0,2-2 m) Umumnya bakteri termasuk dalam golongan ini, termasuk
sianobakteri yang tidak membentuk filament seperti Synechococcus.

Berdasarkan habitatnya, plankton dikelompokkan menjadi (Nontji, 2008) : a.


Haliplankton (Plankton Bahari) Plankton oceanic : Plankton yang hidupnya di luar paparan benua -

Plankton neritik : Plankton yang hidupnya diatas paparan benua (mulut sungai, perairan pantai
dan perairan lepas pantai) Plankton air payau : Plankton yang hidupnya di perairan yang bersalinitas rendah (0,5

30,00/00) b.
Limnoplankton (Plankton Air tawar) Semua jenis plankton yang hidupnya di perairan yang salinitasnya rendah (<50/00) Namun,
secara garis besar plankton dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu organisme fotosintetik
atau fitoplankton, yaitu organisme plankton yang bersifat tumbuhan dan non fotosintetik atau
zooplankton, yaitu plankton yang bersifat hewan. Fitoplankton merupakan tumbuhan planktonik
berklorofil yang umumnya terdiri atas Bacillariphyceae, Chlorophyceae, Dinophyceae, dan
Haptophyceae. Selain berkhlorofil, fitoplankton juga memiliki bahan makanan cadangan yang
umumnya berupa pati atau lemak, diding sel yang tersusun dari selulosa, serta bentuk flagel yang
beragam. Zooplankton merupakan kelompok plankter yang mempunyai cara makan holozoik.
Anggota kelompok ini meliputi hewan-hewan dari kelompok Protozoa, Coelenterata,
Ctenophora, Chaetognatha, Annelina, Arthropoda, Urochordata, Mollusca, dan beberapa larva
hewan-hewan vertebrata. Kelompok zooplankton hampir seluruhnya didominasi oleh Copepoda
dengan nilai sebesar 50--80% (Widyorini, 2009). Penggerak utama sistem kehidupan di bumi
adalah energi matahari. Energi matahari kemudian dimanfaatkan oleh organisme autotroph untuk
membentuk bahan organik yang akan dimanfaatkan oleh organisme herbivora. Fitoplankton
merupakan organisme autotroph utama dalam kehidupan di laut. Melalui proses fotosisntesis
yang dilakukannya, fitoplankton mampu menjadi sumber energy bagi seluruh biota laut lewat
mekanisme rantai makanan. Walaupun memiliki ukuran yang kecil namun memiliki jumlah yang
tinggi sehingga mampu menjadi pondasi dalam piramida makanan di laut.
Gambar 1. Contoh fitoplankton campuran (Diatom dan Dinoflagellata) Phytoplankton
merupakan hewan nabati yang berukuran microscopic dan bergerakannya sangat dipengaruhi
oleh arus, mampu membuat makanannya sendiri dengan cara proses phosintesis karena mereka

mengandung clorofil dalam selnya. Dengan kemampuan tersebut phytoplankton menempati


urutan pertama dalam rantai makanan sebagai produser primer pada perairan terbuka.
Zooplankton atau plankton hewani merupakan suatu organisme yang berukuran kecil yang
hidupnya terombang-ambing oleh arus di lautan bebas yang hidupnya sebagai hewan.
Zooplankton sebenarnya termasuk golongan hewan perenang aktif, yang dapat mengadakan
migrasi secara vertikal pada beberapa lapisan perairan, tetapi kekuatan berenang mereka adalah
sangat kecil jika dibandingkan dengan kuatnya gerakan arus itu sendiri. Zooplankton bersifat
heterotrofik, yaitu tidak dapat memproduksi bahan makanannya, tapi sebagai konsumen bahan
organik dan dikenal sebagai produser sekunder maupun konsumer primer. Hal ini dikarenakan
zooplankton merupakan pemangsa pertama terhadap phytoplankton dalam sistem jaring

jaring makanan. Selanjutnya zooplankton merupakan mangsa bagi biota

biota laut lain di tropik level diatasnya. Phytoplankton merupakan salah satu komponen penting
dalam suatu ekosistem karena memiliki kemampuan untuk menyerap langsung energy matahari
melalui proses fotosintesa guna membentuk bahan organik dari bahan-bahan anorganik yang
lazim dikenal sebagai produktivitas primer. Phytoplankton mampu membuat ikatan- ikatan
organik yang komplek (glukosa) dari ikatan-ikatan anorganik sederhana, karbondioksida (CO2)
dan

air (H2O). Energi matahari diabsorbsi oleh klorofil untuk membantu berlangsungnya reaksi
kimia yang terjadi dalam proses

fotosintesis tersebut.
Gambar 2. Zooplankton (left to right):
Valdiviella
sp. and
Sapphirina metalina
(Copepoda);
Cyphlocaris
sp. (Amphipoda); row 2:
Clio cuspidate
(Pteropoda);
Pyrosoma
sp. (Thaliacea);
Histioteuthis
sp. (Cephalopoda); row 3:
Zooplankton memainkan peran penting sebagai pemangsa yang mengontrol populasi
fitoplankton dan bakteri.Zooplankton dapat mempengaruhi struktur komunitas secara langsung
melalui pemangsaan selektif atau secara tidak langsung melalui regenerasi nutrient. Berbagai
studi telah menunjukkan penurunan biomassa fitoplankton tergantung dari densitas dan ukuran
zooplankton pemangsa (Evendi, 2011). Perkembangan fitoplankton sangat dipengaruhi oleh
zooplankton dengan mengemukakan teori grazing, yang menyatakan jika di suatu perairan
terdapat populasi zooplankton yang tinggi maka populasi fitoplankton akan menurun karena
dimangsa oleh zooplankton. Ada hubungan yang sangat erat antara fitoplankton dengan
zooplankton, pada musim panas jumlah fitoplankton akan melebihi zooplankton sedangkan pada
musim penghujan jumlah

fitoplankton menurun akibat berkurangnya sinar matahari sehingga jumlah zooplankton melebihi
fitoplankton (Evendi, 2011).
C.Dimensi Ruang Kehidupan Plankton
Plankton diklasifikasikan dalam lima kategori berdasarkan tempat hidupnya dan daerah
penyebarannya yaitu limnoplankton yaitu plankton yang dapat hidup di air tawar atau di danau,
patamoplankton yaitu plankton yang hidup di air mengalir, hipalmiroplankton yaitu plankton
yang hidup di air payau atau estuaria, heleoplankton yaitu plankton yang hidup di kolam,
haliplankton yaitu plankton yang hidup di air asin atau laut. Zooplankton dapat dijumpai mulai
dari perairan pantai, perairan estuari didepan muara sampai ke perairan di tengah samudra, dari

perairan tropis ingga ke perairan kutub. Zooplankton ada yang hidup di permukaan dan ada pula
yang hidup di perairan dalam. Adapula yang dapat melakukan migrasi vertikal harian dari lapisan
dalam ke permukaan. Fitoplankton biasanya berkumpul di zona eufotik yaitu zona dengan
intesitas cahaya masih memungkinkan terjadinya proses fotosintesis. Pada suatu perairan sering
dijumpai kandungan fitoplankton yang sangat melimpah akan tetapi pada tempat yang lain
sangat sedikit. Keadaan ini disebabkan oleh bermacam-macam faktor antara lain angin, arus,
nutrien, variasi kadar garam, kedalaman perairan, aktivitas pemangsaan serta adanya
percampuran massa air. Penyebaran fitoplankton lebih merata dibandingkan dengan penyebaran
zooplankton, hal ini karena kondisi perairan yang memungkinkan produksi fitoplankton seperti
sifat fototaksis positif yang dimiliki dan menyenangi sinar dan mendekati cahaya.
D. Pola Adaptasi Plankton
Diperairan Adaptasi merupakan cara bagaimana organisme mengatasi tekanan lingkungan
sekitarnya untuk bertahan hidup. Plankton hidup mengapung atau melayang dalam laut. Tentu
diperlukan strategi yang jitu untuk itu, agar tidak mudah tenggelam. Melawan gravitasi atau daya
tenggelam merupakan kunci untuk survival bagi plankton. Untuk dapat bertahan hidup dalam
perairan dengan berbagai kondisi perairan dengan berbagai variasinya, plankton melakukan pola
adaptasi baik dalam fungsi hal tubuh maupun morfologinya. Dalam bentuk morfologinya
plankton memiliki tipe pola
adaptasi seperti tipe kantong/gelembung, tipe jarum atau rambut, tipe pita, tipe bercabang.
Adaptasi ini pada plankton diatom ada beberpa tipe: 1)
Tipe kantong
, yakni berukuran relative besar dengan kandungan cairan yang ringan dalam selnya. Contohnya
adalah Coscinodiscus. Bentuknya dapat juga mendekati bentuk cakram seperti pada
Planktoniella, hingga kalaupun tenggelam akan membentuk jalur zigzag, tidak langsung terjun
ke dasar laut. 2)
Tipe jarum

atau rambut, berbentuk ramping atau memanjang seperti pada Rhizosolenia dan Thallasiothrix.
Bentuknya yang demikian menghambat untuk tenggelam pada posisi melintang. Dapat juga
berupa rantai yang saling bertautan panjang seperti pada Nizschia seriata. 3)
Tipe pita
, seperti terdapat pada Fragillaria dan Climacodium. Sel-selnya melebar pipih, saling bertautan
membentuk pita. 4)
Tipe bercabang
seperti terdapat pada Chaetoceros dan Corethron. Di sini cabang-cabangnya banyak, kadangkadang membentuk rantai bentuk spiral untuk menghambat penenggelaman. Selain itu plankton
dapat dijumpai pada siang hari jenis phyto dan temperature berkisar antara 24-34
o
C plankton dapat bertahan dengan temperature 28-34
o
C. Selain adaptasi morfologi beberapa jenis plankton ada juga yang memiliki kandungan minyak
(fatty oil) yang ringan di dalam selnya, hingga akan mengurangi berat jenisnya atau menambah
daya apungnya. Minyak ini, lebih kecil dari berat jenis air laut merupakan produk dari
fotosintesis. Viskosisitas air laut juga berpengaruh terhadap. penenggelaman plankton
(bergantung pada suhu dan salinitas). Sedangkan pola adaptasi secara fisiologi yaitu dengan
mengurangi berat lebih; Membentuk pelampung-pelampung yang berisi gas, karena kerapatan
gas jauh lebih kecil daripada air, maka terjadi kemampuan mengapung; mengubah hambatan
permukaan; mengubah bentuk tubuh; pembentukan bermacam duri atau tonjolan. Zooplankton
melakukan adaptasi berupa migrasi vertikal, migrasi vertikal merupakan migrasi harian yang
dilakukan oleh organisme tertentu ke arah dasar laut pada siang hari dan ke arah permukaan laut
pada malam hari. Zooplankton melakukan migrasi vertikal bertujuan untuk menghindari
pemangsaan oleh para predator yang mndeteksi mengsa secara verikal dan
menyesuaikan dengan lingkungan akibat perubahan suhu yang beruba-ruba(Evendi, 2011). Jarak
yang ditempuh zooplankton pada migrasi ini berkisar antara 100 - 400 m. Rangsangan utama
yang mengakibatkan terjadinya migrasi vertikal harian pada zooplankton adalah cahaya. Cahaya

mengakibatkan respon negatif bagi para migran, mereka bergerak menjauhi permukaan laut bila
intensitas cahaya di permukaan meningkat. Sebaliknya mereka akan bergerak ke arah
permukaan laut bila intensitas cahaya di permukaan menurun. Pola yang umum tampak adalah
bahwa zooplankton terdapat di dekat permukaan laut pada malam hari, sedangkan menjelang
dini hari dan datangnya cahaya mereka bergerak lebih ke dalam. Dengan meningkatnya
intensitas cahaya sepanjang pagi hari, zooplankton bergerak lebih ke dalam menjauhi
permukaan laut dan biasanya mempertahankan posisinya pada kedalaman dengan intensitas
cahaya tertentu (Evendi, 2011). Di tengah hari atau ketika intensitas cahaya matahari maksimal,
zooplankton berada pada kedalaman paling jauh. Kemudian tatkala intensitas cahaya matahari
sepanjang sore hari menurun, zooplankton mulai bergerak kearah permukaan laut dan sampai di
permukaan sesudah matahari terbenam dan masih tinggal di permukaan selama fajar belum tiba.
Pola migrasi vertical zooplankton dibagi menjadi 3 pola berdasarkan factor lingkungan seperti
kesedian makanan, kedalaman perairan, penetrasi cahaya, dan topografi dasar perairan
menyebabkan perbedaan tingkah laku migrasi sebagai berikut (Evendi, 2011) : 1)
Migrasi Nokturnal Migrasi ini paling umum terjadi, dimana pola migrasi ke arah permukaan
pada waktu petang dan sebelum fajar bermigrasi ke lapisan yang lebih dalam. Organisme yang
memiliki pola migrasi nokturnal maupun twilight berlindung di perairan yang lebih dalam dari
predator karena pengaruh cahaya matahari, aktif pada malam hari di daerah permukaan yang
kaya akan makanan. 2)
Migrasi Twilight Adalah pola migrasi ke arah permukaan menjelang petang dan bermigrasi ke
perairan yang lebih dalam saat tengah malam, diikuti migrasi kembali ke arah permukaan
kemudian kembali bermigrasi

PLANKTON
1.1 Latar Belakang
Laut merupakan sebuah ekosistem besar yang di dalamnya terdapat interaksi yang kuat antara
faktor biotik dan abiotik. Interaksi yang terjadi bersifat dinamis dan saling mempengaruhi.
Lingkungan menyediakan tempat hidup bagi organisme-organisme yang menempatinya
sebaliknya makluk hidup dapat mengembalikan energi yang dimanfaatkkannya ke dalam
lingkungan. Suatu daur energi memberikan contoh nyata akan keberadaan interaksi tersebut. Di
laut terjadi transfer energi antar organisme pada tingkatan tropis yang berbeda dengan demikian
terjadi proses produksi. Hirarki proses produksi membentuk sebuah rantai yang dikenal dengan
rantai makanan (Notji, 2002).
Makhluk yang hidup di lautan salah satunya adalah plankton. Plankton merupakan salah satu
makhluk hidup yang mempunyai peranan penting dalam kehidupan yang ada di dalam laut.
Plakton disini dapat termagi menjadi plakton hewani (zooplankton) dan plankton nabati
(fotoplankton). Fitoplanton berperan sebagai produsen primer karena fitoplankton dapat
membuat makanan sendiri. Sedangkan zooplankton memiliki peran sebagai konsumen pertama
karena langnsung memakan produsen primer (Romimohtarto dan Sri Juana,2005).
Untuk itu apabila kehidupan plankton di lautan terganggu maka siklus yang ada dalam laut dapat
terganggu. Maka dari itu kita harus mempelajari tenteng kehidupan plankton agar dapat menjaga
kelestariaannya.
1.2 Tujuan

Untuk mengetahui jenis-jenis plankton

Untuk mengetahui fungsi dan peranan planton

Untuk mengetahui tentang factor pembatas plankton


II. METODELOGI
Materi yang didapat untuk pembuatan peper ini berasal dari :
a.
Buku yang berjudul Biola Ilmu Pengetahuan Tentang Biotan Laaut, karangan Kasijan
Romimohtarto dan Sri Juana.
b.

Buku yang berjudul, Laut Nusantara, karangan Anugrag Nontji.

c.

Internet

III. PEMBAHASAN
3.1 Pengertian Plankton
Plankton berasal dari bahasa Yunani yang mempunyai arti mengapung, Plankton biasanya
mengalir bersama arus laut. Plankton juga biasanya disebut biota yang hidup di mintakat pelagic
dan mengapung, menghanyutkan atau berenang sangat lincah, artinya mereka tidak dapat
melawan arus. Ukuran Plankton sangat beranekaragam dari yang terkecil yang disebut
Ultraplankton dengan ukuran <0,005 mikro, Nanoplankton yang berukuran 60-70 mikro, dan
Netplankton yang dapat berukuran beberapa millimeter dan dapat dikumpulkan dengan jarring
plankton. Makro plankton berukuran besar baik berupa tumbuhan ataupun hewan
(Romimohtarto dan Sri Juana, 2005).
Plankton adalah setiap organisme hanyut ( hewan, tumbuhan, archaea, atau bakteri ) yang
menempati zona pelagik samudera, laut, atau air tawar. Plankton ditentukan oleh niche ekologi
mereka dari pada taksonomi filogenetik atau klasifikasi. Mereka menyediakan sumber makanan
penting yang lebih besar, lebih dikenal organisme akuatik seperti ikan dan cetacea. Meskipun
banyak spesies planktik ( atau bagian plankton lihat di Terminologi ) berukuran mikro dalam
ukuran, plankton termasuk organisme meliputi berbagai ukuran, termasuk organisme besar
seperti ubur-ubur (Sidiq. 2008).
Plankton memiliki peranan ekologis sangat penting dalam menunjang kehidupan di perairan.
Tapi jika pertumbuhannya tidak terkendali akan merugikan. Plankton di Indonesia harus dapat
dikendalikan mengingat lautan Indonesia sangat luas dan sulit terjangkau, ujar ahli ekologi laut,
Dr Ir Ngurah Nyoman Wiadyana dalam orasi pengukuhan ahli peneliti utama bidang ekologi laut
di LIPI Jakarta, beberapa waktu yang lalu. Meskipun berukuran relatif sangat kecil plankton
memiliki peranan ekologis sangat penting dalam menunjang kehidupan di perairan. Sebab
berkat fitoplankton yang dapat memproduksi bahan organik melalui
proses fotosintesa, kehidupan di perairan dimulai dan terus berlanjut ke tingkat kehidupan yang
lebih tinggi dari tingkatan zooplankton sampai ikan-ikan yang berukuran besar, dan tingkatan
terakhir sampailah pada ikan paus atau manusia yang memanfaatkan ikan sebagai bahan
makanan (Ariviyanti, 2010)..
3.1.1 Fitoplankton
Fitoplankton (dari phyton Yunani, atau tumbuhan), autotrophic, prokariotik atau eukariotik alga
yang hidup dekat permukaan air di mana ada cahaya yang cukup untuk dukungan fotosintesis. Di
antara kelompok-kelompok lebih penting adalah diatom, cyanobacteria, dinoflagellates dan
coccolithophores (Sunarto. 2010).
Fitoplankton menurut Davis (1951) adalah mikroorganisme nabati yang hidup melayang-layang
di dalam air, relatif tidak mempunyai daya gerak sehingga keberadaanya dipengaruhi oleh
gerakan air serta mampu berfotosintesis (Samawi, 2002).

Fitoplankton disebut juga plankton nabati, adalah tumbuhan yang hidupnya mengapung atau
melayang dilaut. Ukurannya sangat kecil sehingga tidak dapat dilihat oleh mata telanjang.
Umumnya fitoplankton berukuran 2 200m (1 m = 0,001mm). fitoplankton umumnya berupa
individu bersel tunggal, tetapi juga ada yang berbentuk rantai. Fitoplankton merupakan
organisme autotroph utama dalam kehidupan di laut. Melalui proses fotosisntesis yang
dilakukannya, fitoplankton mampu menjadi sumber energi bagi seluruh biota laut lewat
mekanisme rantai makanan. Walaupun memiliki ukuran yang kecil namun memiliki jumlah yang
tinggi sehingga mampu menjadi pondasi dalam piramida makanan di laut ( Sunarto, 2010).
Karena kemampuannya yang dapat membuat makanan sendiri fitoplanton mempunyai
kedudukan yang sebagai produsen primer. Tanpa fitoplankton diperkirakan laut yang sangat luas
tidak akan dihuni oleh beberapa jenis biota yang mampu hidup dari rantai kehidupan lainnya
(Notji, 2002).
3.1.2 Zooplankton
Zooplankton (dari zoon Yunani, atau hewan), protozoa atau metazoans kecil (misalnya krustasea
dan hewan lainnya) yang memakan plankton lain dan telonemia. Beberapa telur dan larva hewan
lebih besar, seperti ikan, krustasea, dan Annelida, termasuk di sini. Zooplankton merupakan biota
yang sangat penting peranannya dalam rantai makanan dilautan. Mereka menjadi kunci utama
dalam transfer energi dari produsen utama ke konsumen pada tingkatan pertama dalam tropik
ecologi, seperti ikan laut, mamalia laut, penyu dan hewan terbesar dilaut seperti halnya paus
pemakan zooplankton ( Notji, 2002).
3.2 Faktor Pembatas Plankton
Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan plankton dibagi dalam dua kelompok, yaitu faktor fisik
dan faktor kimia :
1. Faktor fisik : cahaya, temperatur air, kekeruhan/kecerahan, pergerakan air
A. Cahaya
Bagi hewan laut, cahaya mempunyai pengaruh terbesar secara tidak langsung, yakni sebagai
sumber energi untuk proses fotosintesis tumbuh-tumbuhan yang menjadi tumpuan hidup mereka
karena menjadi sumber makanan. Cahaya juga merupakan faktor penting dalam hubungannya
dengan perpindahan populasi hewan laut. Laju pertumbuhan fitoplankton sangat tergantung pada
ketersediaan cahaya di dalam perairan. Hubungan antara cahaya dan perpindahan hewan laut ini
banyak dipelajari, terutama pada plankton hewan (Romimohtarto dan Juwana, 1999).
Menurut Heyman dan Lundgren (1988), laju pertumbuhan maksimum fitoplankton akan
mengalami penurunan bila perairan berada pada kondisi ketersediaan cahaya yang rendah.

B. Suhu
Suhu air dapat mempengaruhi sifat fisika kimia perairan maupun biologi, antara lain kenaikan
suhu dapat menurunkan kandungan oksigen serta menaikkan daya toksit yang ada dalam suatu
perairan. Suhu air mempengaruhi kandungan oksigen terlarut dalam air, semakin tinggi suhu
maka semakin kurang kandungan oksigen terlarut. Perkembangan plankton optimal terjadi dalam
kisaran suhu antara 25oc 30oc (Mujib, 2010).
C. Kekeruhan/kecerahan
Kekeruhan sangat mempengaruhi perkembangan plankton, apabila kekeruhan tinggi maka
cahaya matahari tidak dapat menembus perairan dan menyebabkan fitoplankton tidak dapat
melakukan proses fotosintesis (Mujib, 2010).
D. Pergerakan Air
Arus berpengaruh besar terhadap distribusi organisme perairan dan juga meningkatkan terjadinya
difusi oksigen dalam perairan. Arus juga membantu penyebab plankton dari satu tempat ke
tempat lainnya dan membantu menyuplai bahan makanan yang dibutuhkan plankton (Mujib,
2010).
2. Faktor kimia : oksigen terlarut, ph, salinitas, nutrisi
A. Derajat Keasaman (ph)
Derajat keasaman (ph) berpengaruh sangat besar terhadap tumbuh-tumbuhan dan hewan air
sehingga sering digunakan sebagai petunjuk untuk menyatakan baik atau tidaknya kondisi air
sebagai media hidup. Apabila derajat keasaman tinggi apakah itu asam atau basa menyebabkan
proses fisiologis pada plankton terganggu (Mujib, 2010).
B. Oksigen Terlarut
Oksigen terlarut diperlukan oleh tumbuhan air, plankton dan fauna air untuk bernapas serta
diperlukan oleh bakteri untuk dekomposisi. Dengan adanya proses dekomposisi yang dilakukan
oleh bakteri menyebabkan keadaan unsur hara tetap tersedia di perairan. Hal ini snagat
menunjang pertumbuhan air, plankton dan perifiton (Mujib, 2010).
C. Salinitas
Salinitas berperanan penting dalam kehidupan organisme, misalnya distribusi biota akuatik.
Menyatakan bahwa pada daerah pesisir pantai merupakan perairan dinamis, yang menyebabkan
variasi salinitas tidak begitu besar. Organisme yang hidup cenderung mempunyai toleransi
terhadap perubahan salinitas sampai dengan 15 (Nybakken 1992).
D. Nutrisi

Nutrisi sangat berperan penting untuk pertumbuhan plankton, nutrisi yang paling penting dalam
hal ini adalah nitrat ( NO3 ) dan phosphat ( PO4 ) phytoplankton mengkonsumsi nitrogen dalam
banyak bentuk, seperti nitrogen dari nitrat, ammonia, urea, asam amino. Tetapi phytoplankton
lebih cendrung mengkonsumsi nitrat dan ammonia. Nitrat lebih banyak didapati di dasar yang
banyak mengandung unsur organik ketimbang dari air laut, nitrat juga bisa diperoleh dari siklus
nitrogen. Nitrogen dari nitrat adalah salah satu unsur penting untuk pertumbuhan blue green alga
dan phytoplankton lainnya (Mujib, 2010).

https://nihrawi.wordpress.com/plankton/

Klasifikasi Zooplankton
Arinardi et al., (1994) mengatakan bahwa beberapa filum hewan terwakili di dalam kelompok zooplankton.
Zooplankton terdiri dari beberapa filum hewan antara lain :filum Protozoa, Cnidaria, Ctenophora, Annelida,
Crustacea, Mollusca, Echinodermata, dan Chordata.

1 Protozoa
Protozoa dibagi dalam 4 kelas yaitu : Rhizopoda, Ciliata, Flagellata dan Sporozoa. Kelas Sporozoa tidak
ada yang hidup sebagai plankton karena semuanya merupakan plankton seperti Plasmodium dan
Nyzobulus yang hidup dalam tubuh manusia dan ikan. Mengenai Flagellata, dalam hal ini Zooflagellata
yang hidup sebagai plankton (freeliving) sebetulnya semuanya merupakan tipe holozoik dari alga yang
berflagel seperti Pyrrophyta (Sachlan, 1982).
Beberapa flagelata diklasifikasikan sebagai Fitoflagelata, akan tetapi karena memiliki sedikit pigmen
fotosintesis dan makan dengan cara memangsa maka dimasukkan ke dalam golongan zooplankton.
Jenis ini paling banyak terdapat dalam peridinia dan paling banyak diketahui adalah Nocticula miliaris
dengan ciri ciri memiliki diameter 200 1200 m dan ditandai dengan flagelum yang panjangnya sama
dengan tubuhnya, jenis ini dapat melakukan bioluminisense (Bougis, 1976).
Cilliata sebagian besar hidup bebas di air tawar, dan ada hanya beberapa golongan yang hidup di laut
(golongan Tintinnidae). Cilliata ini merupakan zooplankton sejati di air tawar, tetapi banyak hidup diantara
Periphyton atau di dasar sebagai bentos, dimana terdapat banyak detritus yang membusuk (Sachlan,
1982).

Rhizopoda merupakan zooplankton yang penting di air laut maupun air tawar, selain itu ia juga penting
untuk ilmu Paleontologi dan Geologi. Rhizopoda memiliki arti kaki- kaki yang bentuknya seperti akar
tumbuh- tumbuhan yang tidak teratur. Rhizopoda dianggap berasal dari genera-genera alga dari
Saprophytic-type seperti Chloramoeba, Gametamoeba, dan Chrysamoeba. Rhizopora terdiri dari
beberapa ordo:Amoebina, Foraminifera, Radiolaria dan Heliozoa (Sachlan, 1982). Contoh genus dari
filum Protozoa antara lain : Paramecium, Vorticella, Dileptus, Dinoclonium, dan Rabdonella ( Hutabarat
dan Evans, 1986).

2. Cnidaria
Cnidaria terdiri dari klas Hydrozoa, Scypozoa, dan Anthozoa. Hanya pada kelas Hydrozoa, dimana
Hydra juga termasuk dan terdiri dari spesies-spesies berupa ubur-ubur kecil yang hidup sebagai plankton
(Sachlan, 1982).
Bentuk morfologi Cnidaria terkadang sangat rumit walaupun memiliki struktur yang sederhana. Cnidaria
memiliki 2 lapisan sel, yaitu external dan lapisan internal yang dipisahkan oleh lapisan gelatin non selular
yang disebut mesoglea. Karakteristik penting Cnidaria adalah adanya sel penyengat (nematocysts) yang
menyuntikkan venum yang dapat melumpuhkan mangsanya (Bougis, 1976).
Termasuk dalam filum Cnidaria yang holoplanktonik ialah ubur-ubur dari kelas Hydrozoa dan Scypozoa,
serta koloni-koloni yang kompleks dan aneh dikenal dengan nama sifonofora. Ubur-ubur dari kelas
Scypozoa merupakan organisme plankton terbesar dan kadang-kadang terdapat dalam jumlah besar
(Nybakken, 1992). Contoh genus dari filum Cnidaria antara lain : Obelia, Liriope, Bougaivillia, Diphyes
( Hutabarat dan Evans, 1986).

3. Ctenophora
Filum Ctenophora yang secara taksonomi masih dekat dengan Cnidaria sebagian besar bersifat
planktonik. Semua Ctenophora adalah karnivora rakus, yang menangkap mangsanya dengan tentakeltentakel yang lengket atau dengan mulutnya yang sangat lebar. Untuk bergerak dalam air menggunakan
deretan- deretan silia yang besar yang disebut stenes (Nybakken, 1992). Perbedaan Ctenophora dengan
Cnidaria adalah tidak adanya sel penyengat (nematocysts) pada Ctebophora tetapi memiliki sel pelengket
yang disebut coloblast dimana sel ini dapat melekatkan mangsanya (Bougis, 1976).
Ctenophora dahulu di masukkan dalam filum Coelenterata tetapi kemudian di pisahkan, karena tidak
mempunyai nematokis dan hanya mempunyai struktur-struktur seperti sisir (cteno). Spesies ini sangat
transparan dan tidak berwarna (Sachlan, 1982). Contoh genus dari filum Ctenophora antara lain :
Pleurobrachia, Velamen, Beroe ( Hutabarat dan Evans, 1986).
4. Annelida

Annelida ini cukup banyak terdapat sebagai meroplankton di laut. Di perairan air tawar jenis Annelida ini
hanya terdapat lintah (ordo Hirudinae) dan dapat menjadi parasit pada ikan-ikan yang dipelihara di kolam.
Banyak meroplankton dari Annelida ini terdapat di pantai-pantai yang subur, seperti halnya meroplankton
dari Crustacea. Larva- larva Annelida bernama trochophore larva, jika baru keluar dari telur, berbentuk
bulat atau oval, besilia dan mempunyai tractus digesvitus agar di lautan bebas dapat memakan
nanoplankton dan detritus yang halus ( Sachlan, 1982).

5. Arthropoda
Menurut Nybakken (1992) bagian terbesar zooplankton adalah anggota filum arthropoda. Dari phylum
Arthropoda hanya Crustacea yang hidup sebagai plankton dan merupakan zooplankton terpenting bagi
ikan di perairan air tawar maupun air laut. Crustacea berarti hewan-hewan yang mempunyai sel yang
terdiri dari kitin atau kapur yang sukar dicerna. Crustacea dapat dibagi menjadi 2 golongan:
Entomostracea atau udang-udangan tingkat rendah dan Malacostracea atau udang-udangan tingkat
tinggi. Sebagian besar dari larva Malacostracea merupakan meroplankton dan sebagian besar mati
sebagai plankton karena di makan oleh spesies hewan yang lebih besar atau mati karena kekurangan
makanan. Entomostracea yang terdiri dari ordo-ordo Branchiopoda, Ostracoda, Copepoda dan Cirripedia,
tidak mempunyai stadium zoea seperti halnya Malocostracea. Entomostracea yang merupakan
zooplankton ialah Cladocera, Ostracoda dan Copepoda, sedangkan dari Malacostracea hanya Mycidacea
dan Euphausiacea yang merupakan zooplankton kasar atau makrozooplankton (Sachlan, 1982).
Salah satu subkelas Crustacea yang penting bagi perairan adalah Copepoda. Copepoda adalah
crustacea holoplanktonik berukuran kecil yang mendominasi zooplankton di semua laut dan samudera.
Pada umumnya copepoda yang hidup bebas berukuran kecil, panjangnya antara satu dan beberapa
milimeter. Kedua antenanya yang paling besar berguna untuk menghambat laju tenggelamnya. Copepoda
makan fitoplankton dengan cara menyaringnya melalui
rambutrambut (setae) halus yang
tumbuh di appendiks tertentu yang mengelilingi mulut (maxillae), atau langsung menangkap fitoplankton
dengan apendiksnya (Nybakken, 1992).
Bougis (1974) menjelaskan bahwa copepoda merupakan biota plankton yang mendominasi jumlah
tangkapan zooplankton yang berukuran besar
(2500 m) pada suatu perairan dengan kelimpahan
mencapai 30% atau lebih sepanjang tahun dan dapat meningkat sewaktu-waktu selama masa reproduksi.
Copepoda mendominasi populasi zooplankton di perairan laut dengan persentase berkisar antara 5080% dari biomassa zooplankton dalam ekosistem laut. Beberapa diantaranya bersifat herbivor (pemakan
fitoplankton) dan membentuk rantai makanan antara fitoplankton dan ikan. Copepoda merupakan
organisme laut yang sangat beragam dan melimpah, dan merupakan mata rantai yang sangat penting
dalam rantai makanan dan ekonomi lautan (Wickstead 1976). Contoh genus dari Arthropoda antara lain
Paracalanus, Pseudocalanus, Acartia, Euchaeta, Calanus, Oithona, Microsetella (Hutabarat dan Evans,
1986).

6. Moluska
Moluska terdiri dari klas Gastropoda, Pelecypoda (Bivalvea) dan Cephalopoda. Di periran air tawar,
meroplankton dari Gastropoda dan Bivalvea tidak begitu berperan penting (Sachlan, 1982).
Filum Moluska biasanya terdiri dari hewan-hewan bentik yang lambat. Namun, terdapat pula bermacam
moluscka yang telah mengalami adaptasi khusus agar dapat hidup sebagai holoplankton. Moluska
planktonik yang telah mengalami modifikasi tertinggi ialahptepropoda dan heteropoda. Kedua kelompok
ini secara taksonomi dekat dengan siput dan termasuk kelas Gastropoda. Ada dua tipe pteropoda, yang
bercangkang (ordo Thecosomata) dan yang telanjang (ordo Gymnosomata). Pteropoda bercangkang
adalah pemakan tumbuhan (herbivora), cangkangnya rapuh dan berenang menggunakan kakinya yang
berbentuk sayap. Pteropoda telanjang dapat berenang lebih cepat daripada yang bercangkang.
Heteropoda adalah karnivora berukuran besar dengan tubuh seperti agar-agar yang tembus cahaya
(Nybakken, 1992). Contoh genus dari filum Moluska antara lain : Creseis, Limacina, Cavolina, Diacria,
Squid ( Hutabarat dan Evans, 1986).

7. Echinodermata
Phylum Echinodermata hanya larva-larva dari beberapa ordo yang termasuk meroplankton. Ada larva
yang bentuknya seperti larva Chordata, sehingga ada anggapan bahwa Chordata adalah keturunan
Echinodermata. Genus-genus Echinodermata yang larva-larvanya merupakan meroplankton ialah
Bipinaria, Brachiolarva dan Auricularia, yang ada pada waktunya akan mengendap semua pada dasar
laut sebagai benthal-fauna (Sachlan, 1982).
Semua Echinodermata melalui fase larva pelagik dalam perkembangannya. Sama seperi hewan lainnya
lamanya menjadi larva pelagik tergantung pada telurnya, kurang baik atau sudah bagus (Newell dan
Newell, 1977). Contoh genus dari filum Echinodermata antara lain : Echinopluteus, Ophiopluteus, dan
Auricularia (Hutabarat dan Evans, 1986).

8. Chordata
Chordata termasuk dalam ordo Mamalia,menurut evolusi merupakan keturunan dari spesies-spesies
yang hidup sebagai zooplankton dan bentuknya mirip dengan larva-larva Echinodermata. Dari 4 subfilum
dari Chordata hanya ada 2 yang hidup sebagai zooplankton yaitu Enteropneusta dan Urochordata. Larvalarva dari Enteropneusta inilah yang bentuknya seperti larva Echinodermata, seperti Tornaria-larva
(Sachlan, 1982). Contoh genus dari filum Chordata antara lain : Thalia, Oikopleura, dan Fritillaria
(Hutabarat dan Evans, 1986).

https://strukturkomunitasplankton.wordpress.com/2012/04/23/zooplankton/