Anda di halaman 1dari 28

Perilaku Kekerasan

Nama Kelompok :
I Wayan Septian
Andreas Ngenget
Trisna Kawatak
Fanesia P.V Sondakh
Chika Dilla
Fallirin Ipol

Mata Kuliah

Sistem Neurobehavior

FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS KATOLIK DE LA SALLE
MANADO

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena atas berkat dan
rahmat Nya kami dari kelompok perilaku kekerasan masih diberi kesehatan sehingga makalah
ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya. Makalah yang berjudul PERILAKU
KEKERASAN ini disusun untuk memenuhi tugas mahasiswa dari mata kuliah Sistem
Neurobehavior di Jurusan Keperawatan Unika De la sale Manado.
Kami menyadari bahwa makalah ini tidaklah sempurna oleh karena itu, kritik dan saran yang
bersifat membangun sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini dimasa akan datang.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para mahasiswa khususnya dan masyarakat pada
umumnya. Dan semoga makalah ini dapat dijadikan sebagai bahan untuk menambah
pengetahuan para mahasiswa, masyarakat dan pembaca.

DAFTAR ISI
Kata Pengantar..i
Daftar Isi...ii

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Masalah..1

1.2

Tujuan Penulisan.1

1.3

Sistematika1

BAB II TINJAUAN TEORI


2.1

Pengertian2

2.2

Rentang Respon2

2.3

Proses Kemarahan3

2.4

Faktor Predisposisi dan Faktor Presipitasi3

2.5

Penatalaksanaan

2.6

Fokus Intervensi

BAB III TINJAUAN KASUS


1.

Pengkajian

2.

Perencanaan

3.

Implementasi

4.

Evaluasi

BAB V PENUTUP
Daftar Pustaka

BAB I
PENDAHULUAN

1.

Latar Belakang Masalah

Gangguan jiwa merupakan suatu gangguan yang terjadi pada unsur jiwa yang manifestasinya
pada kesadaran, emosi, persepsi, dan intelegensi. Salah satu gangguan jiwa tersebut adalah
gangguan perilaku kekerasan.
Marah adalah perasaan jengkel yang timbul sebagai suatu respon terhadap kecemasan yang
dirasakan sebagai ancaman individu. Suatu keadaan emosi yang merupakan campuran perasaan
frustasi dan benci atau marah yang bisa membahayakan diri sendiri dan orang lain. Gangguan
jiwa perillaku kekerasan dapat terjadi pada setiap orang yang memiliki tekanan batin yang
berupa kebencian terhadap seseorang.
Maka seseorang yang memiliki gangguan jiwa perilaku kekerasan ini perlu mendapatkan
perhatian khususnya dalam perawatan supaya resiko tindakan yang dapat membahayakan diri
sendiri dan orang lain. Dalam hal ini, peran serta keluarga sangat penting, namun perawatan
merupakan ujung tombak dalam pelayanan kesehatan jiwa.

2.
a.

Tujuan Penulisan
Tujuan umum

Setelah membahas kasus ini diharapkan mengerti dan memberikan asuhan keperawatan pada
pasien perilaku kekerasan.
b.

Tujuan Khusus
Setelah menyusun makalah ini diharapkan mahasiswa mampu :

> Melakukan pengkajian pada klien dengan perilaku kekerasan


> Merumuskan diagnosa untuk klien dengan perilaku kekerasan
> Membuat perencanaan untuk klien dengan perilaku kekerasan
> Melakukan implementasi pada klien dengan perilaku kekerasan
> Membuat evaluasi pada klien dengan perilaku kekerasan.

3.

Sistematika

Untuk menghindari luas masalah maka dalam penyusunan makalah ini kelompok
mengkhususkan pembahasan tentang penatalaksanaan pada pasien dengan perilaku kekerasan.
Asuhan keperawatan ini hanya menerapkan proses keperawatan melalui tahap pengkajian,
diagnosa keperawatan, implementasi, dan evaluasi pada kasus perilaku kekerasan.

BAB II
TINJAUAN TEORI

1.

Pengertian

Marah adalah perasaan jengkel yang timbul sebagai respons terhadap kecemasan yang dirasakan
sebagai ancaman individu. (Stuart and Sundeen, 1995).
Perilaku kekerasan adalah suatu bentuk perilaku yang bertujuan untuk melukai seseorang baik
secara fisik maupun psikologis (Depkes RI, 2000 hal 147).
Kemarahan merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari yang tidak dapat di elakkan dan
sering menimbulkan suatu tekanan.

2.

Rentang Respon

Adaptif, Maladaptif, Asertif, Frustasi, Pasif, Agresif, Kekerasan (Stuart dan Sundeen, 1995)
a.

Respon marah yang adaptif meliputi :

1.

Pernyataan (Assertion)

Respon marah dimana individu mampu menyatakan atau mengungkapkan rasa marah, rasa tidak
setuju, tanpa menyalahkan atau menyakiti orang lain. Hal ini biasanya akan memberikan
kelegaan.
2.

Frustasi

Respons yang terjadi akibat individu gagal dalam mencapai tujuan, kepuasan, atau rasa aman
yang tidak biasanya dalam keadaan tersebut individu tidak menemukan alternatif lain.
b.

Respon marah yang maladaptif meliputi :

1.

Pasif

Suatu keadaan dimana individu tidak dapat mampu untuk mengungkapkan perasaan yang sedang
di alami untuk menghindari suatu tuntutan nyata.
2.

Agresif

Perilaku yang menyertai marah dan merupakan dorongan individu untuk menuntut suatu yang
dianggapnya benar dalam bentuk destruktif tapi masih terkontrol.
3.

Amuk dan kekerasan

Perasaan marah dan bermusuhan yang kuat disertai hilang kontrol, dimana individu dapat
merusak diri sendiri, orang lain maupun lingkungan.

Etiologi

Untuk menegaskan keterangan diatas, pada klien gangguan jiwa, perilaku kekerasan bisa
disebabkan adanya gangguan harga diri: harga diri rendah. Harga diri adalah penilaian individu
tentang pencapaian diri dengan menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai dengan ideal diri.
Dimana gangguan harga diri dapat digambarkan sebagai perasaan negatif terhadap diri sendiri,
hilang kepercayaan diri, merasa gagal mencapai keinginan.

Tanda dan Gejala

1.

Muka merah

2.

Pandangan tajam

3.

Otot tegang

4.

Nada suara tinggi

5.

Berdebat dan sering pula tampak klien memaksakan kehendak

6.

Memukul jika tidak senang

3.

Proses Kemarahan

Stress, cemas, harga diri rendah, dan bersalah dapat menimbulkan kemarahan. Respons terhadap
marah dapat di ekspresikan secara eksternal maupun internal.
a.

Eksternal yaitu konstruktif, agresif.

b.

Internal yaitu perilaku yang tidak asertif dan merusak diri sendiri.

c.
Mengekspresikan marah dengan perilaku konstruktif dengan menggunakan kata-kata
yang dapt di mengerti dan diterima tanpa menyakiti hati orang lain, akan memberikan perasaan
lega, keteganganpun akan menurun dan perasaan marah teratasi.
d.
Marah di ekspresikan dengan perilaku agresif dan menentang, biasanya dilakukan
individu karena ia merasa kuat. Cara ini tidak menyelesaikan masalah bahkan dapat
menimbulkan kemarahan yang berkepanjangan dandapat menimbulkan tingkah laku yang
destruktif, amuk yang ditujukan pada orang lain maupun lingkungan.

e.
Perilaku tidak asertif seperti menekan perasaan marah atau melarikan diri dan rasa marah
tidak terungkap. Kemarahan demikian akan menimbulkan rasa bermusuhan yang lama dan pada
suatu saat dapat menimbulkan kemarahan destruktif yang ditujukan pada diri sendiri.

4.

Faktor Predisposisi dan Faktor Presipitasi

Faktor Predisposisi

Berbagai pengalaman yang dialami tiap orang yang merupakan factor predisposisi, artinya
mungkin terjadi perilaku kekerasan jika factor berikut di alami oleh individu :

Psikologis : kegagalan yang dialami dapat mnimbulkan frustasi yang kemudian dapat
timbul agresif atau amuk. Masa kanak-kanak yang tidak menyenangkan yaitu perasaan di tolak,
di hina, di aniyaya atau saksi penganiayaan.

Perilaku : reinforcement yang diterima pada saat melakukan kekerasan, sering


mengobservasi kekerasan dirumah atau diluar rumah, semua aspek ini menstimulasi individu
mengadopsi perilaku kekerasan.

Sosial budaya : budaya tertutup dan membalas secara alam (positif agresif) dan control
social yang tidak pasti terhadap perilaku kekerasan diterima (permissive)

Bioneurologis : banyak pendapat bahwa kerusakan sisitem limbic, lobus frontal, lobus
temporal dan ketidak seimbangan neurotransmiter turut berperan dalam terjadinya perilaku
kekerasan.

Faktor Presipitasi

Faktor presipitasi dapat bersumber dari klien, lingkungan atau interaksi dengan orang lain.
Kondisi klien seperti ini kelemahan fisik (penyakit fisik), keputus asaan, ketidak berdayaan,
percaya diri yang kurang dapat menjadi penyebab perilaku kekerasan. Demikian pula dengan
situasi lingkungan yang ribut, padat, kritikan yang mengarah pada penghinaan, kehilangan orang
yang dicintainya / pekerjaan dan kekerasan merupakan factor penyebab yang lain. Interaksi yang
profokatif dan konflik dapat pula memicu perilaku kekerasan.

*
a.

Tingkah Laku
Muka merah, pandangan tajam, otot tegang, nada suara tinggi, berdebar.

b. Memaksakan kehendak, merampas makanan, memukul jika tidak senang perilaku yang
berkaitan dengan marah antara lain :

1.

Menyerang atau menghindar (flight or fight)

Timbul karena kegiatan sistem saraf otonom bereaksi terhadap sekresi epineprin menyebabkan
tekanan darah meningkat, takikardi, wajah merah, pupil melebar, mual, sekresi HCL meningkat,
peristaltik usus menurun, pengeluaran urine dan saliva meningkat, konstipasi, kewaspadaan
meningkat disertai ketegangan otot, seperti rahang terkatub, tangan dikepal, tubuh menjadi kaku
dan disertai reflek yang cepat.
2.

Menyatakan dengan jelas (assertiveness)

Perilaku yang sering ditampilkan individu dalam mengekspresikan kemarahannya yaitu dengan
perilaku pasif, agresif dan asertif. Perilaku asertif adalah cara yang terbaik untuk
mengekspresikan marah disamping dapat dipelajari juga akan mengembangkan pertumbuhan diri
pasien.
3.

Memberontak (acting out)

Perilaku biasanya disertai kekerasan akibat konflik perilaku acting out untuk menarik perhatian
orang lain.
4.

Amuk atau kekerasan (violence)

Perilaku dengan kekerasan atau amuk dapat ditujukan pada diri sendiri, orang lain maupun
lingkungan.

5.
a.

Penatalaksanaan Umum
Farmakoterapi

Klien dengan ekspresi marah perlu perawatan dan pengobatan yang tepat. Adapun pengobatan
dengan neuroleptika yang mempunyai dosis efektif tinggi contohnya Clorpromazine HCL yang
berguna untuk mengendalikan psikomotornya. Bila tidak ada dapat digunakan dosis efektif
rendah, contohnya Trifluoperasine estelasine, bila tidak ada juga maka dapat digunakan
Transquilizer bukan obat anti psikotik seperti neuroleptika, tetapi meskipun demikian keduanya
mempunyai efek anti tegang, anti cemas, dan anti agitasi.

b. Terapi Okupasi
Terapi ini sering diterjemahkan dengan terapi kerja, terapi ini bukan pemberian pekerjaan atau
kegiatan itu sebagai media untuk melakukan kegiatan dan mengembalikan kemampuan
berkomunikasi, karena itu dalam terapi ini tidak harus diberikan pekerjaan tetapi segala bentuk
kegiatan seperti membaca Koran, main catur dapat pula dijadikan media yang penting setelah
mereka melakukan kegiatan itu diajak berdialog atau berdiskusi tentang pengalaman dan arti
kegiatan uityu bagi dirinya. Terapi ini merupakan langkah awal yangb harus dilakukan oleh
petugas terhadap rehabilitasi setelah dilakukannyan seleksi dan ditentukan program kegiatannya.

c.

Peran serta keluarga

Keluarga merupakan system pendukung utama yang memberikan perawatan langsung pada
setiap keadaan(sehat-sakit) klien. Perawat membantu keluarga agar dapat melakukan lima tugas
kesehatan, yaitu mengenal masalah kesehatan, membuat keputusan tindakan kesehatan, memberi
perawatan pada anggota keluarga, menciptakan lingkungan keluarga yang sehat, dan
menggunakan sumber yang ada pada masyarakat. Keluarga yang mempunyai kemampuan
mengatasi masalah akan dapat mencegah perilaku maladaptive (pencegahan primer),
menanggulangi perilaku maladaptive (pencegahan skunder) dan memulihkan perilaku
maladaptive ke perilaku adaptif (pencegahan tersier) sehingga derajat kesehatan klien dan
kieluarga dapat ditingkatkan secara opti9mal. (Budi Anna Keliat,1992).
d.

Terapi somatic

Menurut Depkes RI 2000 hal 230 menerangkan bahwa terapi somatic terapi yang diberikan
kepada klien dengan gangguan jiwa dengan tujuan mengubah perilaku yang mal adaftif menjadi
perilaku adaftif dengan melakukan tindankan yang ditunjukkan pada kondisi fisik klien, tetapi
target terapi adalah perilaku klien
e.

Terapi kejang listrik

Terapi kejang listrik atau elektronik convulsive therapy (ECT) adalah bentuk terapi kepada klien
dengan menimbulkan kejang grand mall dengan mengalirkan arus listrik melalui elektroda yang
ditempatkan pada pelipis klien. Terapi ini ada awalnya untukmenangani skizofrenia
membutuhkan 20-30 kali terapi biasanya dilaksanakan adalah setiap 2-3 hari sekali (seminggu 2
kali).
Pohon Masalah
Resiko Mencederai Diri Sendiri, Orang Lain,
Lingkungan
Perilaku Kekerasan
Koping Individu Tidak Efektif

Diagnosa Keperawatan :
1.

Resiko menciderai diri dan orang lain atau lingkungan b.d perilaku kekerasan.

2.

Perilaku kekerasan b.d Mekanisme koping individu

6.
1.

Fokus Intervensi
Resiko menciderai diri dan orang lain b.d perilaku kekerasan.

TUM : Klien dapat melanjutkan peran sesuai dengan tanggung jawab.


TUK : 1. Klien dapat membina hubungan saling percaya.
Kriteria hasil :
> Klien mau menjawab salam
> Klien mau menjabat tangan
> Klien mau menyabutkan nama
> Klien mau tersenyum
> Ada kontak mata
> Mau mengetahui nama perawat
> Mau menyediakan waktu untuk kontak
Intervensi :
a.

Memberi salam atau panggil nama klien

b.

Sebutkan nama perawat sambil menjabat tangan

c.

Jelaskan tujuan interaksi

d. Jelaskan tentang kontrak yang akan dibuat


e.

Beri sikap aman dan empati

f.

Lakukan kontrak singkat tapi sering

TUK 2 : Klien dapat mengnidentifikasi penyebab perilaku kekerasan


Kriteria Evaluasi :
> Klien dapat mengungkapkan perasaannya
> Klien dapat mengungkapkan penyebab marah, baik dari diri sendiri nmaupun orang lain dan
lingkungan.
Intervensi :
a.

Anjurkan klien mengnungkapkan yang dialami saat marah.

b.

Obsevasi tanda-tanda perilaku kekerasan pada klien.

c.

Simpulkan tanda-tanda jengkel atau kesal yang dialami klien.

TUK 3 : klien dapat mengidentifikasi tanda-tanda perilaku kekerasan.


Kriteria Evaluasi :
> Klien dapat mengunngkapkan yang dialami saat marah.
> Klien dapat menyimpulkan tanda-tanda marah yang dialami.
Intervensi :
a.

Anjurkan klien mengnungkapkan yang dialami saat marah.

b.

Obsevasi tanda-tanda perilaku kekerasan pada klien.

c.

Simpulkan tanda-tanda jengkel atau kesal yang dialami klien.

TUK 4 : Klien dapat mengidentifikasi perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.


Kriteria evaluasi :

Klien dapat mengungkapkan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan

Klien dapat bermain peran dengan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.

Klien dapat mengetahui cara yang biasa dapat menyelesaikan masalah atau tidak.

Intervensi :
a.

Anjurkan klien mengungkapkan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.

b.

Bantu klien bermain peran sesuai dengan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.

c.

Bicarakan dengan klien apakah dengan cara yang klien lakukan masalahnya selesai.

TUK 5: Klien dapat mengidentifikasi akibat dari perilaku kekerasan.


Kriteria evaluasi :
Klien dapat menjelaskan akibat dari cara yang digunakan klien.
Intervensi :
a.

Berbicara akibat atau kerugian dari cara yang dilakukan klien.

b.

Bersama klien menyimpulkan akibat cara yang digunakan oleh klien.

c.

Tanyakan pada klien Apakah ia ingin mempelajari cara baru yang sehat.

TUK 6 : Klien dapat mengidentifikasi cara kontruktif dalam berespon terhadap kemarahan.
Kriteria evaluasi :
Klien dapat melakukan cara berespon terhadap kemarahan secarakonstruktif.
Intervensi :
a.

Tanyakan pada klien Apakah ia ingin mempelajari cara baru yang sehat.

b.

Berikan pujian jika klien mengetahui cara lain yang sehat.

c.

Diskusikan dengan klien cara lain yang sehat :

a.
Secara fisik : tarik nafas dalam jika sedang kesal atau memukul bantal atau kasur atau
olahraga atau pekerjaan yang memerlukan tenaga.
b.
Secara verbal : katakan bahwa anda sedang kesal atau tersinggung atau jengkel (saya
kesal Anda berkata seperti itu : saya marah karen mami tidak memenuhi keinginan saya).
c.

Secara sosial : lakukan dalam kelompok cara-cara marah yang sehat ; latihan asertif.

d.
Secar spiritual : anjurkan klien sembahyang, berdoa atau ibadah lain meminta pada
Tuhan untuk beri kesabaran, mengadu pada Tuhan kekerasan atau kejengkelan.

TUK 7 : Klien dapat mendemonstrasikan cara mengontrol perilaku kekerasan.


Kriteria evaluasi :
Klien dapat mendemonstrasikan cara mengontrol perilaku kekerasan.
Fisik : tarik nafas dalam olahraga menyiram tanaman,
Verbal : mengatakan secara langsung dengan tidak menyakiti.
Spiritual : sembahyang, berdoa atau ibadah klien.
Intrevensi :
a.

Bantu klien memilih cara yang paling tepat untuk klien.

b.

Bantu klien mengidentifikasi manfaat cara yang dipilih.

c.

Bantu klien untuk memaksimulasi cara tersebut (role play).

d. Beri reinforcement positif atas keberhasilan klien mensimulasi cara tersebut.


e.

Anjurkan klien untuk menggunakan cara yang telah dipelajari saat jengkel atau marah.

BAB III
TINJAUAN KASUS

Tanggal Pengkajian

15 Januari 2015

Tanggal Masuk

26 Desember 2014

Ruang

: Perkasa

PENGKAJIAN
1.

Identitas Klien

Nama

: Tn. H

Alamat

Jombor, caper, Klaten

Umur

25 Tahun

Jenis Kelamin

Laki - laki

Status

: Belum Menikah

Agama

: Kristen

Pendidikan

SMA

Suku/Bangsa

: Jawa/Indonesia

No. CM

: 01 13 28

2.

Identitas Penanggung Jawab

Nama

: Tn. W

Umur

Agama

: Kristen

Pekerjaan

Wiraswasta

Alamat

Jombor, Ceper, Klaten

Hubungan dengan Klien :

57 Tahun

Ayah Kandung

KELUHAN UTAMA
Klien mengatakan tidak bisa tidur akibat tidak minum obat, mondar mandir, dan suka
mengancam. Klien mengatakan masih merasa jengkel dan marah jika keinginanya tidak
terpenuhi, saat marah atau jengkel pasien mengamuk dan memukul pintu / jendela.
Masalah Keperawatan : Perilaku Kekerasan

ALASAN MASUK
4 hari sebelum masuk rumah sakit klien dirumah bingung, agresif, labil, gelisah dan tidak
mengontrol diri. Klien juga marah marah dan memukul ayahnya karena klien merasa dibohongi
dan keinginanya tidak dipenuhi.Kemudian oleh keluarga, klien dibawa ke RSJD Klaten untuk
kembali di rawat inap.
Masalah Keperawatan : Prilaku Kekerasan

FAKTOR PREDISPOSISI
1.
Klien mengalami gangguan jiwa sejak 11 tahun yang lalu dan pernah masuk rumah sakit
jiwa klaten >35x.
2.

Tidak mau kontrol, dan putus obat selama 1 minggu.

3.

Klien mengatakan bahwa anggota keluarganya tidak ada yang mengalami gangguan jiwa.

4.
Klien mempunyai pengalaman yang tidak menyenangkan yaitu masuk penjara selama 3
minggu karena mencoba membobol ATM.

PEMERIKSAAN FISIK
1.

Tanda tanda Vital :

1)

Tekanan darah

: 120 / 80 mmHg

2)

Nadi

: 78 x/menit

3)

Suhu badan

: 36.4 0C

4)

Respirasi

: 23 x/menit

2.

Ukuran

1)

Tinggi Badan

: 168 cm

2)

Berat badan

3.

Kondisi Fisik

: 70 Kg

Klien mengatakan kondisi tubuhnya saat ini baik baik saja dan tidak ada keluhan fisik.
Masaalah Keperawatan : Distres spiritual

STATUS MENTAL
1.

Penampilan

Klien tampak agak rapi, rambutnya jarang disisir, gigi kuning, kulit bersih.

Cara berpakaian sudah rapi, baju dan celana tidak terbalik.

Klien menggunakan sandal.

Masalah Keperawatan :
2.

Pembicaraan

Klien ketika bicara nada suara keras, tinggi, tidak meloncat-loncat dari tema yang dibicarakan
dan dapat berkomunikasi dengan lancar.
Masalah Keperawatan : 3.

Aktifitas Motorik

Pada kondisi sekarang klien terlihat tampak tenang, diam, tiduran, untuk saat ini klien sudah
mampu mengendalikan emosinya yang labil.
Masalah Keperawatan : 4.

Alam Perasaan

Alam perasaan klien sesuai dengan keadaan, saat gembira pasien tampak gembira, saat sedih
klien tampak sedih.
Masalah Keperawatan : 5.

Afek

Afek klien datar mempunyai emosi yang stabil.


Masalah Keperawatan : Resiko Tinggi Cidera
6.

Interaksi selama wawancara

Saat diwawancara klien kooperatif, cenderung selalu berusaha mempertahankan pendapat dan
kebenaran dirinya.
Masalah Keperawatan : -

7.

Persepsi

Sampai saat dikaji klien mengatakan tidak mendengarkan suara-suara.


8.

Proses pikir

Pembicaraan klien normal biasa tidak berbelit-belit, tidak meloncat-loncat dan sampai tujuan
karena dapat kooperatif.
Masalah Keperawatan : 9.

Tingkat Kesadaran

Orientasi waktu, tempat dan orang dapat disebutkan dengan benar dan jelas yang ditandai
dengan klien mampu menyebutkan hari, tanggal, tahun yang benar pada saat wawancara.

Klien dapat mengenali orang-orang yang ada disekitarnya ditunjukkan dengan klien bias
menyebutkan beberapa nama temannya.
Masalah Keperawatan : 10.

Memori

Klien dapat mengingat kejadian saat dibawa rumah sakit dengan diantar oleh ayahnya. Dan klien
dapat mengingat nama mahasiswa saat berkenalan dengan benar.
Masalah Keperawatan : 11.

Tingkat Konsentrasi Berhitung

Klien dapat menghitung dengan baik misalnya 2x5 = 10, 5+5 = 10, Klien dapat memfokuskan
konsentrasi dengan baik
Masalah Keperawatan : 12.

Kemampuan Penilaian

Klien mampu menilai suatu masalah dan dapat mengambil keputusan sesuai tingkat atau mana
yang lebih baik untuk dikerjakan pertama kali.
Masalah Keperawatan : 13.

Daya Tilik Diri

Klien mampu mengenali penyakitnya dan tidak mengingkari terhadap penyakitnya karena klien
mampu menjelaskan mengapa klien bisa seperti ini dan penyebab mengapa klien bisa sakit jiwa
seperti ini.
Masalah Keperawatan : -

KEBUTUHAN PERSIAPAN PULANG


1.

Makan

Klien mampu makan dengan mandiri dengan cara yang baik seperti biasanya, klien makan 3x
sehari, pagi, siang dan sore, minum 6 gelas sehari.
2.

BAB/BAK(Buang Air Besar/Buang Air Kecil)

Klien BAB 1x sehari, BAK 5x sehari dan mampu melakukan eliminasi dengan baik,
menjaga kebersihan setelah BAB dan BAK dengan baik.
3.

Mandi

Klien mengatakan mandi 2x sehari pagi dan sore hari, menyikat gigi saat mandi, kebersihan
tubuh baik.
4.

Berpakaian

Klien mengatakan ganti pakaian 1x sehari dengan pakaian yang disediakan rumah sakit, klien
dapat memilih dan mengambil pakaian dengan baik dan sudah sesuai dengan aturan rumah sakit.
5.

Pola Istirahat Tidur

Klien selama ini tidak mengalami ga ngguan tidur karena klien dapat tidur dengan kualitas 6-8
jam perhari, baik malam maupun siang.
6.

Penggunaan Obat

Klien mengatakan dirumah sakit selalu minum obat.


7.

Aktivitas di dalam rumah

Klien bisa membantu pekerjaan rumah seperti mencuci, menyapu, dll.


8.

Aktivitas diluar rumah

Klien mengatakan bekerja sehari-hari sebagai buruh.

MEKANISME KOPING
Mekanisme

koping

adalah

tiap

upaya

yang

diharapkan

pada

penatalaksanaan stress, termasuk upaya penyelasaian masalah langsung


dan mekanisme pertahanan yang digunakan untuk melindungi diri (tuart dan
sundeen, 1998 hal : 33)

Beberapa

mekanisme

koping

yang dipakai pada

klien marah untuk

melindungi diri antara lain :


a)

Sublimasi : menerima suatu sasaran pengganti yang mulia. Artinya

dimata masyarakat untuk suatu dorongan yang mengalami hambatan


penyaluranya secara normal. Misalnya seseorang yang sedang marah
melampiaskan kemarahannya pada obyek lain seperti meremas remas
adona kue, meninju tembok dan sebagainya, tujuanya adalah untuk
mengurangi ketegangan akibat rasa marah.
b) Proyeksi : menyalahkan orang lain kesukaranya atau keinginanya yang
tidak baik, misalnya seorang wanita muda yang menyangkal bahwa ia
mempunyai perasaan seksual terhadap rekan sekerjanya, berbalik menuduh
bahwa temanya tersebut mencoba merayu, mencumbunya
c) Represi : mencegah pikiran yang menyakitkan atau membahayakan
masuk kealam sadar. Misalnya seorang anak yang sangat benci pada orang
tuanya yang tidak disukainya. Akan tetapi menurut ajaran atau didikan yang
diterimanya sejak kecil bahwa membenci orang tua merupakan hal yang
tidak baik dan dikutuk oleh tuhan. Sehingga perasaan benci itu ditekannya
dan akhirnya ia dapat melupakanya.
d) Reaksi formasi : mencegah keinginan yang berbahaya bila di ekspresikan.
Dengan

melebih

lebihkan

sikap

dan

perilaku

yang

berlawanan

dan

menggunakanya sebagai rintangan. Misalnya seseorang yang tertarik pada


teman suaminya, akan memperlakukan orang tersebut dengan kuat.
e)
Deplacement : melepaskan perasaan yang tertekan biasanya
bermusuhan. Pada obyek yang tidak begitu berbahaya seperti yang pada
mulanya yang membangkitkan emosi itu. Misalnya : timmy berusia 4 tahun
marah karena ia baru saja mendapatkan hukuman dari ibunya karena
menggambar didinding kamarnya. Dia mulai bermai perang-perangan
dengan temanya.
Sumber Koping
Menurut Suart Sundeen 1998 :
1. Aset ekonomi
2. Kemampuan dan keahlian
3. Tehnik defensif

4. Sumber sosial
5. Motivasi
6. Kesehatan dan energi
7.
Kepercayaan
8. Kemampuan memecahkan masalah
9. Kemampuan sosial
10. Sumber sosial dan material
11. Pengetahuan
12. Stabilitas budaya
MASALAH PSIKOSOSIAL DAN LINGKUNGAN
1.

Masalah dengan dukungan kelompok (-)

2.

Masalah berhubungan dengan lingkungan klien agak menarik diri dengan lingkungan.

MK : Harga Diri Rendah


3.

Masalah dengan kesehatan (-)

4.

Masalah dengan perumahan, klien tinggal dengan ayah dan adiknya.

5.

Masalah dengan ekonomi, kebutuhan klien di penuhi oleh ayahnya.

ASPEK MEDIK
Terapi obat :

Inj. Lodomer

: 1amp IM extra

Trihexiyl Phenidyl

: 3 x 2 mg

Haloperidol

: 3 x 5 mg

Resperidon

: 2 x 2 mg

MASALAH KEPERAWATAN
1.

Prilaku kekerasan

2.

Resiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan

3.

Harga diri rendah

4.

Disstres spiritual

ANALISA DATA
NO DATA
1

ETIOLOGI

DS : klien mengatakan dirumah Perilaku Kekerasan


marah-marah kepada ayahnya
karena keinginanya tidak
dipenuhi dan merasa dibohongi.
Serta klien memukul ayahnya
sampai berdarah.

PROBLEM
Resiko mencederai diri
sendiri, orang lain dan
lingkungan

DO : face tegang, mudah


tersinggung saat di ajak bicara,
tatapan mata tajam, muka
tampak merah.
2

DS : klien mengatakan saat


mempunyai masalah dipendam
sendiri, tidak mau bercerita.
DO : pasien tidak banyak
bicara, pasien berdiam diri

Koping Individu Tidak Efektif

Perilaku Kekerasan

RENCANA KEPERAWATAN
Diagnosa

Tujuan

Criteria hasil

Intervensi

Resiko
menciderai diri
sendiri, orang
lain dan
lingkungan

TUM:

1. klien
mau membalas salam

1.
ber salam panggil
nama

2. klien mau menjabat


tangan

2.
sebutkan nama
perawat sambil jabat tangan

3. klien mau
menyebut nama

3.
jelaskan maksud
hubungan interaksi

4. klien mau
tersenyum

4.
jelaskan kontrak
yang akan dibahas

5. klien mau kontak


mata

5.
beri rasa aman dan
simpati

6. klien mau
mengetahui nama
perawat

6.
lakukan kontak mata
singkat tapi sering

Kliendapat
melanjutkan peran
sesuai dengan
tanggung jawab.

TUK 1:

1. klien
mengungkapkan
perasaanya

Klien dapat
membina hubungan
2. klien dapat
saling percaya.
mengungkapkan
penyebab perasaan
marah dari lingkungan
atau orang lain

TUK 2:
Klien dapat
mengidentifikasi
kemampuan
penyebab

1.
klien mampu
mengungkapkan
perasaan saat
marah/jengkel
2.
klien dapat
menyimpulkan tanda-

1. beri kesempatan untuk


mengungkapkan perasaan
2. bantu klien untuk
mengungkapkan penyebab
perasaan jengkel/kesal

1.
Anjurkan klien
mengungkapkan apa yang
dialami dan dirasakan saat
marah
2.
Observasi tanda-tanda
perilaku kekerasan pada
klien

kekerasan

TUK 3 :
Klien dapat
mengidentifikasi
tanda-tanda
perilaku kekerasan

tanda marah yang


dialami.

1. Klien dapat
mengungkapkan
perilaku kekerasan yang
biasa dilakukan
2. Klien dapat
bermain peran dengan
perilaku kekerasan yang
biasa dilakukan
3. Klien dapat
mengetahui cara yang
biasa dilakukan untuk
menyelesaikan masalah

1. Anjurkan klien untuk


mengungkapkan perilaku
kekerasan yang biasa
dilakukan klien .
2. Bantu klien bermain
peran sesuai dengan
perilaku kekerasan yang
biasa dilakukan.
3. Bicarakan dengan klien
apakah dengan cara yang
dilakukan klien masalahnya
selesai

1. bicarakan akibat dan


cara yang dilakukan klien

TUK 4;
Klien dapat
mengidentifikasi
perilaku kekerasan
yang biasa
dilakukan

3.
Simpulkan bersama
klien tanda dan gejala kesal
yang di alami

1. Klien dapat
menjelaskan akibat dari
cara yang digunakan

2. bersama klien
menyimpulkan akibat cara
yang digunakan oleh klien

Akibat pada klien


sendiri

Akibat pada orang


lain

3. Tanya pada klien apakah


ia ingin mempelajari cara
yang baru dan yang sehat.

akibat pada
lingkungan
1. Bantu klien memilih
cara yang paling tepat untuk
klien

TUK 5;
Klien dapat
mengidentikasi
akibat perilaku

1. klien dapat
menyebutkan contoh
pencegahan perilaku
kekerasan secara :

2. Bantu klien
mengidentifikasi manfaat
cara yang telah dipilih
3.

Bantu klien untuk

kekerasan

- Fisik: Tarik nafas


dalam , olah raga,
memukul bantal

menstimulasikan cara
tersebut atau dengan role
play

- Verbal: Mengatakan
secara langsung dengan
tidak menyakiti.

4. Beri reinforcement
positif atas keberhasilan
klien menstimulasikan cara
tersebut

2. klien dapat
mendemonstrasikan
cara fisik (memukul
bantal) untuk mencegah
perilaku kekerasan.

5. Anjurkan klien untuk


menggunakan cara yang
dipelajari saat jengkel atau
marah.

1.Jelaskan jenis-jenis obat


yang di minum pada klien
dan keluarga.

1. Klien dapat
menyebut kan obat
Klien dapat
obat yang di minum dan
mendemonstrasikan kegunaanya ( jenis
cara mengontrol
,waktu,dosis,dan efek )
perilaku kekerasan
TUK 6 :

TUK 7 :
Klien dapat
menggunakan obat
dengan benar
( sesuai dengan
program )

2. Klien dapat minum


obat sesuai program
pengobatan

2.Diskusikan manfaat
minum obat dan kerugian
berhenti minum obat tanpa
seijin dokter
3.Jelaskan prinsip benar
minum obat(baca nama yg
tertera pd botol obat,dosis
obat ,waktu dan cara
minum)

1.Anjurkan klien minum


obat tepat waktu
2.Anjurkan klien
melaporkan pada perawat
atau dokter jika merasakan
efek yang tidak menyenang
kan
3.Beri pujian jika klien
minum obat dengan benar.

Waktu

Dx

SP

IMPLEMENTASI

EVALUASI

Selasa

SP 1

1. Membina hubungan
saling percaya dengan
mengungkapkan
komunikasi terapeutik

S : Klien senang
karena disapa oleh perawat.

15/01/15
17.00

2. Menyapa klien
dengan ramah,baik verbal
maupun non verbal.
3. Memperkenal diri
dengan sopan.

O:

Klien mau berjabat


tangan

Klien mau bercerita


tentang diri nya

Kontak mata cukup

4. Menjelaskan tujuan
pertemuan dengan
lengkap

A : Klien mampu membina


hubungan saling percaya,
SP 1 tercapai.

5. Menanyakan nama
klien dengan lengkap.

P : Lanjutkan SP 2,klien
dapat mengidentifikasi
penyebab marah.

6. Mengatakan dengan
jujur dan menepati janji
7. Menunjukkan rasa
empati dan menerima
klien apa adanya.

K : Klien di minta untuk


mencari penyebab marah.

8. Memberikan
perhatian kepada klien
dan perhatikan
kebutuhan dasar klien

17.00

SP 2

1. Mengkaji pengetahuan
klien tentang perilaku
kekerasan dan penyebab.
2. Memberikan
kesempatan kepada klien
untuk mengungkapkan
perasaan penyebab
perilaku kekerasan
3. Memberikan pujian
terhadap kemampuan
klien memngungkap kan
persaan nya.

S : Klien marah apabila


keinginannya tidak
terpenuhi
O:
Klien dapat
mengungkapkan perasaan
marah atau jengkel.
Klien tampak tegang
tegangan dan tatapan mata
tajam.
A : Klien mampu
mengungkapkan penyebab
marah atau jengkel,SP 2

BAB
PENUTUP

Kesimpulan
Pada kasus perilaku kekerasan yang dialami pada Tn. H tindakan yang dilakukan sesuai
dengan konsep teori adalah membina hubungan saling percaya, membantu klien mengungkapkan
penyebab perasaan jengkel atau marah, membantu klien mengidentifikasi tanda-tanda perilaku
kekerasan, membantu mengungkapkan akibat atau kerugian dari cara yang digunakan klien,
membantu klien mengidentifikasi cara yang konstruktif dalam berespon terhadap kemarahannya
dan mengajarkan cara untuk menyalurkan energy marah yang sehat agar tidak menciderai diri
sendiri, oarng lain dan lingkungan.
(Budi Anna Keliat , S.Kp 1998)

DAFTAR PUSTAKA

Direktorat Jendral Kes. Wa, 1998, Standar Asuhan Keperawatan Kesehatan Jiwa, Edisi I,
Direktorat Kesehatan Jiwa RSJP Bandung

Keliat B.A, 1998, Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa, ( Terjemahan ). Penerbit Buku
Kedokteran , EGC, Jakarta.

Maramis, WF. 1998. Ilmu Kedokteran Jiwa. Airlangga University Press. Surabaya.

Stuart G. W, Sundeen. S. J. 1998 Buku Saku Keperawatan Jiwa. (Terjemahan) Edisi 3, Alih
Bahasa Yasmin Asih, Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.

Stuart G. W, dan Laria M. T, 2001, Erinciple and Practice of Phychitric Nursing. (Terjemahan) (7
th ed), St. Lois : Mosby

Townsend M. C, 1998, Buku Saku Diagnosa Keperawatan Psikiatri, (terjemahan), Edisi 3,


Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta