Anda di halaman 1dari 36

Laporan Kasus

KARSINOMA MAMMAE

Oleh

Sari Rahmayanti
Miftah Amalia

NIM. I1A004038
NIM. I1A0060xx

Pembimbing :
Dr. Budianto T, Sp. B. (K) Onk

BAGIAN/SMF ILMU BEDAH


FAKULTAS KEDOKTERAN UNLAM RSUD ULIN
Banjarmasin
April, 2011

PENDAHULUAN

Kanker

adalah

salah

satu

penyakit

yang

banyak

menimbulkan

kesengsaraan dan kematian pada manusia. Di negara-negara barat, kanker


merupakan penyebab kematian nomor 2 setelah penyakit-penyakit kardiovaskular.
Diperkirakan, kematian akibat kanker di dunia mencapai 4,3 juta per tahun dan
2,3 juta di antaranya ditemukan di negara berkembang. Jumlah penderita baru per
tahun 5,9 juta di seluruh dunia dan 3 juta di antaranya ditemukan di negara sedang
berkembang 1,2.
Di Indonesia diperkirakan terdapat 100 penderita kanker baru untuk setiap
100.000 penduduk per tahunnya. Prevalensi penderita kanker meningkat dari
tahun ke tahun akibat peningkatan angka harapan hidup, sosial ekonomi, serta
perubahan pola penyakit 3.
Kanker payudara sering ditemukan di seluruh dunia dengan insidens relatif
tinggi, yaitu 20% dari seluruh keganasan. Dari 600.000 kasus kanker payudara
baru yang didiagnosis setiap tahunnya. Sebanyak 350.000 di antaranya ditemukan
di negara maju, sedangkan 250.000 di negara yang sedang berkembang. Di
Amerika Serikat, keganasan ini paling sering terjadi pada wanita dewasa.
Diperkirakan di AS 175.000 wanita didiagnosis menderita kanker payudara yang
mewakili 32% dari semua kanker yang menyerang wanita. Bahkan, disebutkan
dari 150.000 penderita kanker payudara yang berobat ke rumah sakit, 44.000
orang

di

antaranya

meninggal

setiap

tahunnya. American

Cancer

Society memperkirakan kanker payudara di Amerika akan mencapai 2 juta dan


460.000 di antaranya meninggal antara 1990-2000 4,5,6.
Kanker payudara merupakan kanker terbanyak kedua sesudah kanker leher
rahim di Indonesia. Sejak 1988 sampai 1992, keganasan tersering di Indonesia
tidak banyak berubah. Kanker leher rahim dan kanker payudara tetap menduduki
tempat teratas. Selain jumlah kasus yang banyak, lebih dari 70% penderita kanker
payudara ditemukan pada stadium lanjut 3,5.
Gejala permulaan kanker payudara sering tidak disadari atau dirasakan
dengan jelas oleh penderita sehingga banyak penderita yang berobat dalam
keadaan lanjut. Hal inilah yang menyebabkan tingginya angka kematian kanker
tersebut. Padahal, pada stadium dini kematian akibat kanker masih dapat dicegah.
Tjindarbumi (1995) mengatakan, bila penyakit kanker payudara ditemukan dalam
stadium dini, angka harapan hidupnya (life expectancy) tinggi, berkisar antara 85
s.d. 95%. Namun, dikatakannya pula bahwa 70--90% penderita datang ke rumah
sakit setelah penyakit parah, yaitu setelah masuk dalam stadium lanjut 3.
Pengobatan kanker pada stadium lanjut sangat sukar dan hasilnya sangat
tidak memuaskan. Pengobatan kuratif untuk kanker umumnya operasi dan atau
radiasi. Pengobatan pada stadium dini untuk kanker payudara menghasilkan
kesembuhan 75%. Pengobatan pada penderita kanker memerlukan teknologi
canggih, ketrampilan, dan pengalaman yang luas. Perlu peningkatan upaya
pelayanan kesehatan, khususnya di RS karena jumlah yang sakit terus-menerus
meningkat, terlebih menyangkut golongan umur produktif 1.

Sebagai tolak ukur keberhasilan pengobatan kanker, termasuk kanker


payudara, biasanya adalah 5 year survival (ketahanan hidup 5 tahun). Vadya dan
Shukla menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi prognosis dan
ketahanan hidup penderita kanker payudara adalah besar tumor, status kelenjar
getah bening regional, skin oedema pembengkakan kulit, status menopause,
perkembangan sel tumor, residual tumor burden (tumor sisa), jenis patologinya,
dan metastase, terapi, serta reseptor estrogen. Selain itu, ditambahkan pula dengan
umur dan besar payudara. Ketahanan hidup penderita kanker dipengaruhi oleh
pengobatan, ukuran tumor, jenis histologi, ada tidaknya invasi ke pembuluh darah,
anemia, dan penyulit seperti hipertensi 7,8,9.
Ukuran tumor < 2 cm, ketahanan hidup 5 tahun sebesar 73%. Hal ini
sangat berbeda untuk ukuran tumor 3-6 cm yang angka ketahanan hidupnya
sangat rendah, yaitu 24%. Selain itu, ukuran tumor yang lebih besar berhubungan
dengan kelenjar limfa. Dalam ukuran kanker yang lebih besar, kelenjar limfa yang
melekat (involved) menjadi lebih banyak 8.
Pengobatan kanker payudara dengan simpel mastektomi tanpa sinar
memberikan ketahanan hidup 79% dan mastektomi radikal memberikan
ketahanan hidup 5 tahun 70--95%. Informasi tentang faktor-faktor ketahanan
hidup memberikan manfaat yang besar. Bukan hanya untuk peningkatan
penanganan penderita kanker payudara, tapi juga untuk memberikan informasi
yang cukup kepada masyarakat tentang kanker payudara dan perkembangan serta
prognosis penyakit tersebut di masa mendatang 10.

Berikut ini akan dilaporkan sebuah kasus perempuan 39 tahun yang


didiagnosis dengan dengan karsinoma mammae yang dirawat di RSUD Ulin
Banjarmasin.

LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS
Nama

: Ny. E

Umur

: tahun

Jenis kelamin

: Perempuan

Pekerjaan

Alamat

: Jalan Jelapat II RT 4 Tamban

MRS

: 5 Maret 2008
6

No. RMK

: 59 91 93

II. ANAMNESIS
Autoanamnesis dengan penderita pada tanggal 9 April 2011 pukul 13.00 WITA

Keluhan Utama : Benjolan di payudara kiri

Riwayat Penyakit Sekarang :


Pada tahun 1988 os melahirkan anak ketiga. Os memberikan ASI kepada
anaknya tersebut sampai anaknya berumur 2 tahun. Saat itu produksi ASI os
masih sangat banyak.
Pada tahun 2003, os merasa ada benjolan di payudara sebelah kanan.
Bentuk benjolan tersebut memanjang dengan ukuran sedikit lebih besar dari telur
puyuh dan batas tepinya tidak jelas. Lalu os memeriksakan dirinya ke RSUD Ulin,
dan dikatakan kalau benjolan tersebut merupakan air susu yang mengendap. Oleh
dokter diambil tindakan untuk menyedot cairan tersebut. Setelah itu benjolan
tersebut hilang.

Pada tahun 2010, os sering merasa nyeri di payudara sebelah kiri seperti
saat mau haid. Os juga merasa payudara sebelah kirinya lebih besar disbanding
payudara kanannya. Saat payudara kirinya diraba, terdapat benjolan sebesar buah
jeruk. Lalu os memeriksakan dirinya ke RSUD Ulin dan dokter meminta
dilakukan pemeriksaan USG dan kemoterapi yang direncanakan dilakukan
sebanyak 3 kali. Kemoterapi pertama dilakukan pada bulan Februari 2011 dan
kemoterapi kedua dilakukan pada awal Maret 2011.

Riwayat Penyakit Dahulu :


Penderita tidak ada riwayat sakit asma, tidak ada riwayat tekanan darah tinggi dan
diabetes melitus serta tidak pernah menderita sakit jantung. Pasien pernah dirawat
di rumah sakit dengan benjolan di payudara sebelah kiri.

Riwayat Penyakit Keluarga :


Tidak didapatkan keluarga yang memiliki penyakit yang sama dengan penderita.
Tidak ada keluarga yang menderita kencing manis, tekanan darah tinggi, sakit
jantung dan asma.

Riwayat Kebiasaan :

Penderita mengaku tidak pernah merokok dan tidak mengkonsumsi minuman


beralkohol. Pola makan 2 3 kali sehari, jumlahnya cukup.

Riwayat Sosial Lingkungan :


Penderita mengaku tinggal bersama suaminya di rumah yang berdinding beton,
dengan 3 buah kamar. Kebutuhan MCK dari PDAM dan penerangan dari PLN.

Riwayat Operasi dan Pembiusan


1. Pada tanggal 17 November 2005 dilakukan operasi di dada dan hidung, dan
dilakukan operasi dengan anestesi umum.
2. Pada tanggal 21 Juni 2007 dilakukan operasi di lengan kiri dan punggung,
dan dilakukan operasi dengan anestesi umum.

Riwayat Alergi
Pasien tidak ada mengeluh alergi terhadap makanan ketika mengkonsumsi ayam
dan telur.

III. PEMERIKSAAN FISIK


Keadaan Umum

: Tampak sakit sedang

Kesadaran

: Komposmentis (GCS 4-5-6)

Gizi

: Cukup

Tanda Vital

: Tekanan darah

: 110/80 mmHg

Nadi

: 80 x/menit

Respirasi

: 18 x/menit

Suhu

: 36,9 oC

Kepala, leher dan axilla


Kepala

: Bentuk simetris, distribusi rambut normal, warna rambut hitam


keputihan

Mata

: Tidak ada edema palpebra, konjungtiva palpebra tidak anemis,


sklera tidak ikterik, pupil isokor, diameter pupil 3mm/3mm,
refleks cahaya (+).

Telinga

: Bentuk normal dan simetris, tidak ada deformitas, sekret dan


serumen minimal
10

Hidung

: bentuk normal dan simetris, tidak ada pernapasan cuping


hidung, tidak ada deformitas, tidak ada epistaksis

Leher

: Pulsasi vena jugularis tidak tampak, tidak ada pembesaran


getah bening, tidak ada massa, kaku kuduk (-), deviasi trakea
(-), pulsasi a. carotis (+).

Kulit

: kuning langsat

Thorax
-

Kulit dada dan punggung : tampak tanda bekas operasi

Paru

Inspeksi

: Bentuk normal, pergerakan napas simetris,

Palpasi

: Fremitus raba simetris, nyeri tekan tidak ada

Perkusi

: Sonor, tidak ada nyeri ketuk

Auskultasi

: Suara napas vesikuler, ronki (-/-), wheezing tidak ada

Jantung
Inspeksi

: Iktus, pulsasi, voussure cardiac tidak ada

11

Palpasi

: Iktus teraba pada ICS V LMK kiri, pulsasi tidak teraba,


thrill tidak teraba

Perkusi

: Batas kanan pada ICS III-IV LPS kanan, batas kiri ICS V
LMK kiri

Auskultasi

: S1S2 tunggal, murmur tidak ada

Abdomen
Inspeksi

: Bentuk simetris, datar, vena collateral (-), caput medusae tidak


ada, spider naevi tidak ada

Palpasi

: Tonus normal, hepatomegali (-), splenomegali (-)

Perkusi

: Timpani pada permukaan abdomen, asites (-)

Auskultasi

: Bising usus (+) normal

Inguinal
Tidak ada hernia, tidak ada pembesaran kelenjar inguinal, tidak ada nyeri dan
pembengkakkan kelenjar regio inguinal.

12

Ektremitas
Atas

: Refleks Fisiologi (+), refleks patologis (-), persendian tidak


kaku, tidak ada tremor, akral hangat, edema pergelangan tidak
ada, palmar eritem (-)

Bawah

: Refleks Fisiologi (+), refleks patologis (-), persendian tidak


kaku, tidak ada tremor, akral hangat, edema pergelangan tidak
ada

Tulang Belakang
Tidak ada scoliosis, tidak ada kiposis, nyeri tekan dan ketuk (-).

Status Lokalis :
Axilla kanan

: dalam batas normal

Axilla kiri

: tampak bekas luka operasi dengan jahitan yang mulai


mengering. Pus (-), drain (+)

IV.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

13

I.

Laboratorium Darah

PEMERIKSAAN
Hemoglobin
Lekosit
Eritrosit
Hematokrit
Trombosit
MCV
MCH
MCHC
Neutrofil
Limfosit
MXD%
Neutrofil #
Limfosit #
MXD #

14-03-08
6,6
8,900
2,35
20
270
84,3
28,1
33,3
86,4
55,4
10,9
6,60
1,30
1,00

HASIL
17-03-08
9,5
6,1
5,4
25
215
84,9
28,2
33,2
86,4
77,9
5,27
8,8
-

RUJUKAN

SATUAN

12,0 16,0
4 10,5
3,90 5,50
35 45
150 450
80,0-97,0
27,0-32,0
32,0-38,0
50,0-70,0
25,0-40,0
4,0-11,0
2,50-7,00
1,25-4,00
-

g/dl
x103/l
Juta/l
Vol%
x103/l
Fl
Pg
%
%
%
%
ribu/ul
ribu/ul
ribu/ul

Pemeriksaan Patologi Anatomi


Tanggal 17 Maret 2008
Makroskopik

: Seluruh jaringan ukuran 11 x 9 x 7 cm, berkulit warna putih


kecoklatan, pada lamilasi putih kecoklatan

Mikroskopik

: Sediaan dari aksila kiri, terdiri atas tumor ganas, epitelial


bentuk solid, sel-sel tumor dengan inti polimorfik vesikuler,
sel di tepi, tampak jembatan antar sel.

Kesan

: Karsinoma basoskuamosa

14

DIAGNOSA KERJA
Karsinoma Mammae

DIAGNOSA BANDING
Karsinoma Sel Basal

TERAPI
Eksisi Epidermoid et regio Axilla Sinistra
Instruksi post op :

Cefotaxim 2 x 1 gr

Antrain 3 x 1 ampul

Kalnex 3 x 1 ampul

Drain hari ketiga dievaluasi

PROGNOSA

15

Dubia ad malam

RESUME
Dilaporkan kasus, seorang perempuan umur 39 tahun, datang dengan keluhan
benjolan di mammae sinistra. Dari hasil anamnesis, pemeriksaan fisik dan
penunjang ditetapkan diagnosis karsinoma mammae dan telah dilakukan eksisi
luas.

16

TINJAUAN KEPUSTAKAAN

A. ANATOMI PAYUDARA
Kelenjar susu merupakan sekumpulan kelenjar kulit. Pada bagian lateral
atasnya, jaringan kelenjar ini keluar dari bulatannya ke arah aksila, disebut
penonjolan Spence atau ekor payudara 11.
Setiap payudara terdiri atas 12 sampai 20 lobulus kelenjar yang masingmasing mempunyai saluran ke papilla mamma, yang disebut duktus laktiferus.
Di antara kelenjar susu dan fascia pektoralis, juga di antara kulit dan kelenjar
tersebut mungkin terdapat jaringan lemak. Di antara lobules tersebut ada
jaringan ikat yang disebut ligamentum cooper yang memberi rangka untuk
payudara 11.
Pendarahan payudara terutama berasal dari cabang a. perforantes anterior
dari a. mammaria interna, a. torakalis lateralis yang bercabang dari a. aksilaris
dan beberapa a. interkostalis 11.
Persarafan kulit payudara diurus oleh cabang pleksus servikalis dan n.
interkostalis. Jaringan kelenjar payudara sendiri diurus oleh saraf simpatik.

17

Ada beberapa saraf lagi yang perlu diingat sehubungan dengan penyulit
paralisis dan mati rasa pasca bedah, yakni n. interkostobrakhialis dan n.
cutaneus brakhius medialis yang mengurus sensibilitas daerah aksila dan
bagian medial lengan atas. Pada diseksi aksila, saraf ini sedapat mungkin
disingkirkan sehingga tidak terjadi mati rasa di daerah tersebut 11.
Saraf n. pektoralis yang mengurus m. pektoralis mayor dan minor, n.
torakodorsalis yang mengurus m. latissimus dorsi dan n. torakalis longus yang
mengurus m. serratus anterior sedapat mungkin dipertahankan pada
mastektomi dengan diseksi aksila 11.
Penyaliran limf dari payudara kurang lebih 75% ke aksila, sebagian lagi
ke kelenjar parasternal, terutama dari bagian yang sentral dan medial, dan ada
pula penyaliran yang ke kelenjar interpektoralis. Pada aksila terdapat rata-rata
50 (berkisar 10-90) buah kelenjar getah bening yang berada di sepanjang arteri
dan vena brakhialis. Saluran limf dari seluruh payudara menyalir ke kelompok
anterior aksila, kelenjar aksila bagian dalam, yang lewat sepanjang v. aksilaris
dan yang berlanjut langsung ke kelenjar servikal bagian kaudal dalam di fosa
supraklavikuler 11.
Jalur limf lainnya berasal dari daerah sentral dan medial yang selain
menuju ke kelenjar sepanjang pembuluh mammaria interna, juga menuju ke
aksila kontralateral, ke m. rektus abdominis lewat ligamentum falsiparum
hepatis ke hati, pleura dan payudara kontralateral 11.

18

B. Pengertian Kanker Payudara


Kanker payudara (Carcinoma mammae) adalah suatu penyakit neoplasma
yang ganas yang berasal dari parenchyma. Penyakit ini oleh Word Health
Organization (WHO) dimasukkan ke dalam International Classification of
Diseases (ICD) dengan kode nomor 174.

C. Penyebab Kanker Payudara


Sampai saat ini, penyebab kanker payudara belum diketahui secara pasti.
Penyebab kanker payudara termasuk multifaktorial, yaitu banyak faktor yang
terkait satu dengan yang lain. Beberapa faktor yang diperkirakan mempunyai
pengaruh besar dalam terjadinya kanker payudara adalah riwayat keluarga,
hormonal, dan faktor lain yang bersifat eksogen 12.

D. Gejala Klinis
Gejala klinis kanker payudara dapat berupa benjolan pada payudara, erosi
atau eksema puting susu, atau berupa pendarahan pada puting susu. Umumnya
berupa benjolan yang tidak nyeri pada payudara. Benjolan itu mula-mula
kecil, makin lama makin besar, lalu melekat pada kulit atau menimbulkan
perubahan pada kulit payudara atau pada puting susu. Kulit atau puting susu
tadi menjadi tertarik ke dalam (retraksi), berwarna merah muda atau kecoklatcoklatan sampai menjadi oedema hingga kulit kelihatan seperti kulit jeruk
(peau d'orange), mengkerut, atau timbul borok (ulkus) pada payudara. Borok

19

itu makin lama makin besar dan mendalam sehingga dapat menghancurkan
seluruh payudara, sering berbau busuk, dan mudah berdarah. Rasa sakit atau
nyeri pada umumnya baru timbul kalau tumor sudah besar, sudah timbul
borok, atau kalau sudah ada metastase ke tulang-tulang. Kemudian timbul
pembesaran kelenjar getah bening di ketiak, bengkak (edema) pada lengan,
dan penyebaran kanker ke seluruh tubuh 12.
Kanker payudara lanjut sangat mudah dikenali dengan mengetahui kriteria
operbilitas Heagensen sebagai berikut: terdapat edema luas pada kulit
payudara (lebih 1/3 luas kulit payudara); adanya nodul satelit pada kulit
payudara; kanker payudara jenis mastitis karsinimatosa; terdapat model
parasternal; terdapat nodul supraklavikula; adanya edema lengan; adanya
metastase jauh; serta terdapat dua dari tanda-tanda locally advanced, yaitu
ulserasi kulit, edema kulit, kulit terfiksasi pada dinding toraks, kelenjar getah
bening aksila berdiameter lebih 2,5 cm, dan kelenjar getah bening aksila
melekat satu sama lain 12.

E. Faktor Risiko
Penyebab spesifik kanker payudara masih belum diketahui, tetapi terdapat
banyak faktor yang diperkirakan mempunyai pengaruh terhadap terjadinya
kanker payudara 12.

F. Faktor reproduksi

20

Karakteristik reproduktif yang berhubungan dengan risiko terjadinya


kanker payudara adalah nuliparitas, menarche pada umur muda, menopause
pada umur lebih tua, dan kehamilan pertama pada umur tua. Risiko
utama kanker payudara adalah bertambahnya umur. Diperkirakan, periode
antara terjadinya haid pertama dengan umur saat kehamilan pertama
merupakan window of initiation perkembangan kanker payudara. Secara
anatomi

dan

fungsional,

payudara

akan

mengalami

atrofi

dengan

bertambahnya umur. Kurang dari 25% kanker payudara terjadi pada masa
sebelum menopause sehingga diperkirakan awal terjadinya tumor terjadi jauh
sebelum terjadinya perubahan klinis.

G. Penggunaan hormone
Hormon eksogen berhubungan dengan terjadinya kanker payudara.
Laporan dari Harvard School of Public Health menyatakan bahwa terdapat
peningkatan kanker payudara yang bermakna pada para pengguna
terapi estrogen replacement. Suatu metaanalisis menyatakan bahwa walaupun
tidak terdapat risiko kanker payudara pada pengguna kontrasepsi oral, wanita
yang menggunakan obat ini untuk waktu yang lama mempunyai risiko tinggi
untuk mengalami kanker ini sebelum menopause.

H. Penyakit fibrokistik
Pada wanita dengan adenosis, fibroadenoma, dan fibrosis, tidak ada
peningkatan risiko terjadinya kanker payudara. Pada hiperplasis dan papiloma,

21

risiko sedikit meningkat 1,5 sampai 2 kali. Sedangkan pada hiperplasia


atipik, risiko meningkat hingga 5 kali.

I. Obesitas
Terdapat hubungan yang positif antara berat badan dan bentuk tubuh
dengan kanker payudara pada wanita pasca menopause. Variasi terhadap
kekerapan kanker ini di negara-negara Barat dan bukan Barat serta perubahan
kekerapan sesudah migrasi menunjukkan bahwa terdapat pengaruh diet
terhadap terjadinya keganasan ini.

J. Konsumsi lemak
Konsumsi lemak diperkirakan sebagai suatu faktor risiko terjadinya kanker
payudara. Willet dkk., melakukan studi prospektif selama 8 tahun tentang
konsumsi lemak dan serat dalam hubungannya dengan risiko kanker payudara
pada wanita umur 34 sampai 59 tahun.

K. Radiasi
Eksposur dengan radiasi ionisasi selama atau sesudah pubertas
meningkatkan terjadinya risiko kanker payudara. Dari beberapa penelitian
yang dilakukan disimpulkan bahwa risiko kanker radiasi berhubungan secara
linier dengan dosis dan umur saat terjadinya eksposur.

L. Riwayat keluarga dan faktor genetik

22

Riwayat keluarga merupakan komponen yang penting dalam riwayat


penderita yang akan dilaksanakan skrining untuk kanker payudara. Terdapat
peningkatan risiko keganasan ini pada wanita yang keluarganya menderita
kanker payudara. Pada studi genetik ditemukan bahwa kanker payudara
berhubungan dengan gen tertentu. Apabila terdapat BRCA 1, yaitu suatu gen
suseptibilitas kanker payudara, probabilitas untuk terjadi kanker payudara
sebesar 60% pada umur 50 tahun dan sebesar 85% pada umur 70 tahun.

M. Gambaran Patologi Anatomi Kanker Payudara


1. Stadium Klinik
Klasifikasi stadium klinik pada kanker payudara ada beberapa
jenis. Mula-mula stadium klinik Stental yang membagi kanker payudara
dalam 3 stadium, Portman membagi kanker payudara dalam 4 stadium,
Manchester sistem yang juga membagi kanker payudara dalam 4 stadium,
dan terakhir yang sekarang digunakan di hampir seluruh pusat ilmu
kedokteran adalah klasifikasi TNM yang ditemukan oleh Denoix 1962.
Berdasarkan sistem ini, diadakan stadium klinik I, II, III, dan IV dengan
formula sebagai berikut 10:
1.

Stadium I: T1a/bNoMo
T1a/bNoMo

2.

Stadium II: ToN1bMo


T1a/bNIbMo

23

TIIa/bNo/1aMo
TIIa/bN1/bMo
3.

Stadium III: TIIINo-1Mo


TIIINII-IIIMo
TIVwith every Nmo
Every T with NII-IIIMo

4.

Stadium IV: Tumor yang sudah lanjut

Keterangan:

TIS:

Carcinoma in

situ adalah non

infiltrating

intraductal

carcinoma atau paget's disease dimana tak teraba tumor.

To: Tumor tak teraba, tetapi dapat dilihat pada mamografi

T1: Tumor kurang dari 2 cm

T1a: Tidak ada perlengketan dengan fascia pectoralis atau otot

T1b: Adanya fixasi dengan fascia pectoralis atau otot

T2: Tumor antara 2 sampai dengan 5 cm

T2a: Belum adanya perlengketan dengan fascia pectoralis atau otot

T2b: Sudah ada fixasi dengan fascia pectoralis atau otot

T3: Tumor lebih dari 5 cm penampangnya.

T3a: Belum ada perlengketan dengan fascia pectoralis atau otot

T3b: Sudah ada fiksasi dengan fascia pectoralis atau otot

T4: Tumor dengan segala ukuran dimana extensinya telah mencapai


dinding toraks atau kulit (dinding toraks di sini termasuk iga otot-otot
intercostal dan musculus serratus anterior tapi belum musculus pectoralis).

24

T4a: Sudah ada fiksasi dengan dinding toraks

T4b: Terdapat oedema, infiltrasi atau ulcerasi dari kulit payudara atau
satelit nodul pada payudara yang sama.

No: Kelenjar getah bening homolateral tak dapat diraba

N1: Kelenjar getah bening homolateral dapat digerakkan

N1a: Kelenjar getah bening dianggap tidak membesar

N1b: Kelenjar getah bening dianggap dapat membesar

N2: Kelenjar getah bening homolateral yang melekat satu sama lain atau
pada jaringan sekitarnya.

N3: Kelenjar getah bening supraclavicular

homolateral

atau infra

claviculer homolateral atau oedema di lengan.

Mo: Tidak terdapat metastase jauh

M1: Sudah terdapat metastase jauh.

N. Pengobatan Kanker
Ada beberapa pengobatan kanker payudara yang penerapannya banyak
tergantung pada stadium klinik penyakit, yaitu 13:
1.

Mastektomi
Mastektomi adalah operasi pengangkatan payudara. Ada beberapa jenis
mastektomi:
a. Modified

Radical

Mastectomy, yaitu operasi pengangkatan

seluruh payudara, jaringan payudara di tulang dada, tulang


selangka dan tulang iga, serta benjolan di sekitar ketiak.

25

b. Total (Simple) Mastectomy, yaitu operasi pengangkatan seluruh


payudara saja, tetapi bukan kelenjar ketiak.
c. Radical Mastectomy, yaitu operasi pengangkatan sebagian dari
payudara. Biasanya disebut lumpectomy, yaitu pengangkatan hanya
pada jaringan yang mengandung sel kanker, bukan seluruh
payudara. Operasi ini selalu diikuti dengan pemberian radioterapi.
Biasanya lumpectomy direkomendasikan pada pasien yang besar
tumornya kurang dari 2 cm dan letaknya di pinggir payudara.
2. Penyinaran/radiasi
Yang dimaksud radiasi adalah proses penyinaran pada daerah yang
terkena kanker dengan menggunakan sinar X dan sinar gamma yang
bertujuan membunuh sel kanker yang masih tersisa di payudara setelah
operasi. Efek pengobatan ini tubuh menjadi lemah, nafsu makan
berkurang, warna kulit di sekitar payudara menjadi hitam, serta Hb dan
leukosit cenderung menurun sebagai akibat dari radiasi.
3. Kemoterapi
Kemoterapi adalah proses pemberian obat-obatan anti kanker
dalam bentuk pil cair atau kapsul atau melalui infus yang bertujuan
membunuh sel kanker. Tidak hanya sel kanker pada payudara, tapi juga di
seluruh tubuh. Efek dari kemoterapi adalah pasien mengalami mual dan
muntah serta rambut rontok karena pengaruh obat-obatan yang diberikan
pada saat kemoterapi.

26

O. Ketahanan Hidup Penderita Kanker


Ketahanan hidup penderita kanker dipengaruhi oleh stadium klinik,
pengobatan, ukuran tumor, jenis histologi, ada tidaknya metastase ke
pembuluh darah, anemia dan hipertensi (penyakit penyerta). Sedangkan halhal yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan ketahanan hidup adalah
umur, keadaan umum, fisik, stadium klinik, ciri-ciri histologis sel-sel tumor,
gambaran sitologis dari kanker, gambaran makroskopis dari kanker,
kemampuan ahli yang menangani, sarana pengobatan yang tersedia, dan status
ekonomi. Ketahanan hidup juga bisa tergantung dari adanya metastase ke
kelenjar getah bening, besar lesi, kedalaman infiltrasi, adanya metastase ke
parametrium, serta adanya metastase ke pembuluh darah.
Faktor-faktor yang mempengaruhi prognosis dan ketahanan hidup
penderita kanker payudara adalah: ukuran tumor, kelenjar getah bening
regional,skin

oedema (pembengkakan

pada

kulit),

status

menopause,

pertumbuhan tumor, residual tumor burden (tumor sisa), pengobatan pada


tumor awal, faktor-faktor patologi, dan reseptor estrogen.
Selain itu, faktor-faktor lainnya yang secara tidak langsung mempengaruhi
prognosis adalah ukuran payudara dan jenis kelamin.

P. Ukuran tumor
Ukuran tumor awal berhubungan dengan ketahanan hidup lima tahun pada
penderita kanker payudara. Tumor yang lebih kecil lebih tinggi ketahanan
hidup lima tahunnya.

27

Telah diobservasi bahwa apabila kelenjar getah bening ketiak negatif,


insiden ketahanan hidupnya lebih tinggi dibandingkan dengan penderita yang
positif kelenjar getah beningnya. Tidak hanya perlekatan dari masalah kelenjar
getah bening, tapi juga jumlah kelenjar getah bening yang bermetastase
mempunyai pengaruh terhadap prognosis. Titik kritikalnya adalah tingkat tiga
perlekatan kelenjar getah bening sampai tiga kelenjar getah bening yang
melekat, 5 dan 10 tahun ketahanan hidupnya adalah 62% dan 38%. Sedangkan
4 kelenjar getah bening atau lebih, ketahan hidup 5 tahunnya menjadi 32%
dan ketahanan hidup 10 tahunnya 13% .
Perlengketan dari kulit kelenjar payudara mengakibatkan pembengkakan
yang memberikan pengaruh terhadap prognosis kanker payudara. Pengamatan
pada penderita yang kulitnya melekat 0.04 mm, bebas dari lokal requrents
sampai 3 tahun. Ketika penderita kulitnya melekat dari 0,08 mm dan 0,12 mm
berkembang dari lokal requrentsnya. Ini ditemukan secara signifikan.

28

PEMBAHASAN

Melalui anamnesa, pada pasien ini didapatkan adanya benjolan yang


berulang kali tumbuh ditempat yang berbeda. Benjolan tersebut awalnya kecil
yang dalam waktu cepat membesar. Benjolan juga terasa nyeri dan terkadang
berdarah. Saat dilakukan pemeriksaan fisik benjolan tersebut sudah diangkat,
sehingga penyusun tidak dapat menggambarkan secara spesifik kharakteristik dari
benjolan tersebut.
Secara umum pasien ini tergolong albinisme, ditandai dengan kulit yang
putih kemerahan dan rambut yang merah. Warna kulit seperti ini dikarenakan
tubuh penderita mengalami kehilangan tirosinase herediter, dimana tubuh tidak
mampu mensintesis melanin dan sangat peka serta mudah terjejas oleh cahay
matahari. Tidak adanya sarung pigmen pelindung dalam kulit terhadap aktivitas
aktinik cahaya matahari dan perlindungan terhadap cahaya oleh pigmen dalam
mata menyebabkan penderita mudah mengalami luka bakar cahaya matahari dan
mudah silau karena mempunyai kepekaan visual yang luar biasa terhadap sinar

29

matahari. Albinisme ini merupakan faktor predisposisi terjadinya keganasan kulit


dimana didapatkan kelainan gen (genodermatosis) akibat kelainan pigmentasi.
Di lihat dari histopatologinya, setelah dilakukan pemeriksaan biopsi pada
jaringan yang diangkat dari aksilla, didapatkan

hasil tumor ganas berjenis

karsinoma basoskuamosa. Nama lain dari kelainan ini adalah karsinoma


epidermoid. Secara umum karsinoma ini terdiri dari 2 jenis yaitu: tipe yang timbul
lambat dan tipe yang timbul cepat. Pada penderita in diduga keganasan dengan
tipe yang timbul cepat dan cenderung bermetastase. Metastasis terjadi melalui
saluran limfe ke kelenjar getah bening regional. Hal ini didukung dari anamnesa
dimana timbul benjolan yang berpindah-pindah dan membesar secara cepat.
Pada pasien dilakukan tindakan operasi berupa eksisi luas di daerah
benjolan. Perawatan pasca bedah diberikan antibiotik, analgetik dan anti
perdarahan. Akibat perdarahan selama operasi, hemoglobin paenderita sempat
turun hingga 6,6 g/dl. Oleh karena itu dilakukan tranfusi darah hingga 4 kantong
dan mencapai kadar hemoglobin 9,5 g/dl.

Pada penderita karsinoma sudah

menyebar ke daerah kepala, dada, punggung dan ketiak. Terdapat 2 penatalaksaan


penting yang menjadi modalitas bagi pasien dengan karsinoma sel skuamosa
pada daerah kepala da leher yaitu pembedahan dan radioterapi.7 Pada pasien ini
hanya dilakukan tindakan pembedahan karena untuk radioterapi terdapat
keterbatasan sarana dan prasarana.
Adanya riwayat operasi sebelumnya pada pasien ini, dapat dipastikan
penyakit ini akibat proses residif sebelumnya. Hal ini menggambarkan prognosa

30

penyakit penderita dubia ad malam dimana faktor genetik memberikan peranan


penting dalam kasus ini.

DAFTAR PUSTAKA

1. (Ama, 1990)
2. (Parkin,et al 1988 dalam Sirait, 1996)
3. (Tjindarbumi, 1995).
4. (Tjahjadi, 1995)
5. (Moningkey, 2000)
6. (Oemiati, 1999)
7. (Sirait, 1996)
8. Vadya dan Shukla
9. Azis dkk
10. Tjindarbumi, 1982).
11. Sjamsuhidajat R, Wim de Jong. Buku Ajar Ilmu Bedah edisi 2. Jakarta: EGC.
2004
12. Moningkey,
Shirley
Ivonne,
2000.
Epidemiologi
Kanker
Payudara. Medika; Januari 2000. Jakarta.
13.

31

LAMPIRAN 1
Follow up pasien tanggal 5 Maret 2008 18 Maret 2008:

32

5-03-2008 (HP-I)
S

: KU baik, nyeri pada ketiak kiri

: TD 130/80 mmHg
N 80 x/menit

: Epidermoid Ca a/r axilla + wajah

: pro diseksi axilla & eksisi luas

6-03-2008 (HP-II)
S

: KU baik, nyeri pada ketiak kiri

: TD 120/80 mmHg
N 80 x/menit

: Epidermoid Ca a/r axilla + wajah

: pro diseksi axilla & eksisi luas

7-03-2008 (HP-III)
S

: KU baik, nyeri pada ketiak kiri

: TD 110/80 mmHg
N 86 x/menit

: Epidermoid Ca a/r axilla + wajah

: pro diseksi axilla & eksisi luas

8-03-2008 (HP-IV)
S

: KU baik, nyeri pada ketiak kiri

: TD 110/80 mmHg
N 68 x/menit

: Epidermoid Ca a/r axilla + wajah

: pro diseksi axilla & eksisi luas

33

9-03-2008 (HP-V)
S

: KU baik, nyeri pada ketiak kiri

: TD 110/90 mmHg
N 68 x/menit

: Epidermoid Ca a/r axilla + wajah

: pro diseksi axilla & eksisi luas

10-03-2008 (HP-VI)
S

: KU baik, nyeri pada ketiak kiri

: TD 120/90 mmHg
N 78 x/menit

: Epidermoid Ca a/r axilla + wajah

: pro diseksi axilla & eksisi luas

11-03-2008 (HP-VII)
S

: KU baik, nyeri pada ketiak kiri

: TD 110/90 mmHg
N 76 x/menit

: Epidermoid Ca a/r axilla + wajah

: pro diseksi axilla & eksisi luas

12-03-2008 (HP-VIII)
S

: KU baik, nyeri pada ketiak kiri

: TD 110/70 mmHg
N 68 x/menit

: Epidermoid Ca a/r axilla + wajah

: pro diseksi axilla & eksisi luas

34

13-03-2008 (HP-IX. POD I)


S

: KU baik, nyeri luka operasi (+)

: TD 120/80 mmHg
N 70 x/menit

: post op excisi ca. Epidermoid a/r axilla sin

: Inj. Ceftriaxone 2 x 1 gr
Inj. Antrain 3 x 1 amp
Inj. Kalnex 3 x 1 amp

14-03-2008 (HP-X, POD II)


S

: KU baik, nyeri luka operasi (+)

: TD 120/80 mmHg
N 70 x/menit

: post op excisi ca. Epidermoid a/r axilla sin

: Inj. Ceftriaxone 2 x 1 gr
Inj. Antrain 3 x 1 amp
Inj. Kalnex 3 x 1 amp

15-03-2008 (HP-X, POD III)


S

: KU baik, nyeri luka operasi (+)

: TD 120/80 mmHg
N 70 x/menit

: post op excisi ca. Epidermoid a/r axilla sin

: Inj. Ceftriaxone 2 x 1 gr
Inj. Antrain 3 x 1 amp
Inj. Kalnex 3 x 1 amp
Hb 6,6 pro tranfusi WB sampai Hb > 10 g%

16-03-2008 (HP-X, POD IV)


35

: KU baik, nyeri luka operasi (+), tranfusi WB 2 kolf

: TD 120/80 mmHg
N 70 x/menit

: post op excisi ca. Epidermoid a/r axilla sin

: Inj. Ceftriaxone 2 x 1 gr
Inj. Antrain 3 x 1 amp
Inj. Kalnex 3 x 1 amp

17-03-2008 (HP-X, POD V)


S

: KU baik, nyeri luka operasi (+), tranfusi WB 1 kolf

: TD 120/80 mmHg
N 70 x/menit

: post op excisi ca. Epidermoid a/r axilla sin

: Inj. Ceftriaxone 2 x 1 gr
Inj. Antrain 3 x 1 amp
Inj. Kalnex 3 x 1 amp

18-03-2008 (HP-X, POD VI)


S

: KU baik, nyeri luka operasi (+)

: TD 120/80 mmHg
N 70 x/menit

: post op excisi ca. Epidermoid a/r axilla sin

: Inj. Ceftriaxone 2 x 1 gr
Inj. Antrain 3 x 1 amp
Inj. Kalnex 3 x 1 amp
Besok aff infus dan drain---blpl

36