Anda di halaman 1dari 35

1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Diabetes mellitus (DM) merupakan suatu penyakit menahun yang ditandai
oleh kadar glukosa darah melebihi normal dan gangguan metabolism
karbohidrat, lemak dan protein yang disebabkan oleh kekurangan hormone
insulin secara relatif maupun absolut. Bila hal ini dibiarkan tidak terkendali
dapat terjadi komplikasi metabolik akut maupun komplikasi vaskuler jangka
panjang, baik mikroangiopati maupun makroangiopati (Hadisaputro &
Setyawan, 2007 ; PERKENI, 2006 ).
Jumlah penderita DM di dunia dari tahun ke tahun mengalami
peningkatan, hal ini berkaitan dengan jumlah populasi yang meningkat, life
expectancy bertambah, urbanisasi yang merubah pola hidup tradisional ke pola
hidup modern, prevalensi obesitas meningkat dan kegiatan fisik kurang. DM
perlu diamati karena sifat penyakit yang kronik progresif, jumlah penderita
semakin meningkat dan banyak dampak negatif yang ditimbulkan (Darmono,
2007).
Menurut survei yang di lakukan oleh World Health Organization (WHO)
tahun 2012, lebih dari 347 juta penduduk dunia menderita diabetes
Diperkirakan pada tahun 2030, DM akan menjadi 7 penyebab kematian utama
di dunia dan diabetes akan meningkat dua pertiganya antara tahun 2008
sampai 2030. Pada tahun 2004, WHO sudah mencatat bahwa 3,4 juta
penduduk dunia meninggal akibat tingginya kadar gula darah (WHO, 2012).
Lebih dari 80% kematian akibat penyakit DM terjadi di negara pada tingkat
penghasilan rendah dan menengah (WHO, 2012). Di Indonesia sendiri jumlah
penderita DM menduduki peringkat keempat terbanyak di dunia setelah
Amerika Serikat, China, dan India.
Di RSUD Banyumas terdapat 4 ruangan penyakit dalam yaitu ruang
Bougenvile, Melati, Cempaka, dan Teratai. Dari tahun ke tahun jumlah
penderita DM meningkat. Pada bulan November 2015-Januari 2016

ditemukan 60 % penderita DM disertai ulkus diabetikum. Dan penderita


rata-rata berjenis kelamin laki-laki.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Penulis mampu

menerapkan

atau

mengaplikasikan

asuhan

keperawatan pada pasien dengan Diabetes Mellitus disertai Ulkus


Diabetikum
2. Tujuan Khusus
a. Penulis mampu melakukan pengkajian secara sistematis pada pasien
dengan Diabetes Mellitus disertai Ulkus Diabetikum.
b. Penulis mampu merumuskan diagnosa keperawatan secara tepat pada
pasien dengan Diabetes Mellitus disertai Ulkus Diabetikum.
c. Penulis mampu menentukan perencanaan pada pasien dengan Diabetes
Mellitus disertai Ulkus Diabetikum.
d. Penulis mampu melakukan implementasi pada pasien dengan Diabetes
Mellitus disertai Ulkus Diabetikum.
e. Penulis mampu melakukan evaluasi sebagai hasil yang diharapkan.
f. Penulis mampu melakukan pendokumentasian secara komprehensif.

BAB II
TINJAUAN TEORI

A. KONSEP DASAR DIABETES MELLITUS DAN ULKUS DIABETIKUM


1. Pengertian
Diabetes mellitus adalah sekelompok kelainan heterogen yang
ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemi. Pada
DM kemampuan tubuh untuk bereaksi terhadap insulin dapat menurun
atau pankreas dapat menghentikan sama sekali produksi insulin ( Brunner
and Suddarth, 2001).
Diabetes mellitus adalah suatu kumpulan gejala ynag timbul pada
sesorang yang disebabkan oleh karena adanya peningkatan kadar gula
(glukosa darah) akibat kekurangan insulin baik absolut maupun relatif
(Arjatmo, 2002).
Diabetes mellitus adalah gangguan metabolisme yang ditandai
dengan hiperglikemi yang berhubungan dengan abnormalitas metabolisme
karbohidrat, lemak dan protein yang disebabkan oleh penurunan sekresi
insulin (Yuliana, Elin. 2009)
Ulkus adalah luka terbuka pada permukaan kulit atau selaput lendir
dan ulkus adalah kematian jaringan yang luas dan disertai invasif kuman
saprofit. Adanya kuman saprofit tersebut menyebabkan ulkus berbau,
ulkus diabetikum juga merupakan salah satu gejala klinik dan perjalanan
penyakit DM dengan neuropati perifer (Andyagreeni, 2010).
Ulkus diabetik didefinisikan sebagai jaringan nekrosis atau jaringan
mati yang disebabkan oleh adanya emboli pembuluh darah besar arteri
pada bagian tubuh sehingga suplai darah terhenti (Gitarja, W, 1999).
Jadi, diabetes mellitus dengan ulkus diabetik merupakan peningkatan
kadar glukosa darah yang disebabkan oleh adanya penurunan sekresi
insulin dalam sel yang dapat menimbulkan ulkus atau timbulnya jaringan
nekrosis pada daerah tungkai.
2. Etiologi
Penyebab timbulnya diabetes mellitus menurut Wijaya, Andra Saferi
(2013) adalah sebagai berikut :

a. DM tipe I (IDDM / insulin Dependent Diabetes Mellitus)


1) Faktor genetik atau herediter
Peningkatan kerentanan sel-sel beta dan perkembangan
antibodi autoimun terhadap penghancuran sel-sel beta.
2) Faktor infeksi virus
Infeksi virus coxsakie pada individu yang peka secara genetik.
3) Faktor imunologi
Respon autoimun abnormal : antibodi menyerang jaringan normal
yang dianggap jaringan asing.
b. DM tipe II (NIDDM)
1) Obesitas
Obesitas menurunkan jumlah reseptor insulin dari sel target
diseluruh tubuh : insulin yang tersedia menjadi kurang efektif
dalam meningkatkan efek metabolik.
2) Usia
Cenderung meningkat diatas usia 65 tahun.
3) Riwayat keluarga
4) Kelompok etnik
c. DM malnutrisi
Kekurangan protein kronik : menyebabkan nipofungsi pakreas
d. DM tipe lain
1) Penyakit pankreas : pankreatitis, ca pankreas dll.
2) Penyakit hormonal : acromegali yang merangsang sekresi sel-sel
beta sehingga hiperaktif dan rusak
3) Obat-obatan :
a) Aloxan, strepozokin : sitotoksin terhadap sel-sel beta.
b) Derivat thiazide : menurunkan sekresi insulin
Sedangkan faktor-faktor yang berpengaruh atas terjadinya ulkus
diabetikum menurut Levin, 2001 adalah sebagai berikut :
a. Faktor endogen, meliputi genetik metabolik, angiopati diabetic.
b. Faktor eksogen, meliputi trauma, infeksi, obat

Faktor utama yang berperan pada timbulnya ulkus diabteikum


adalah angiopati, neuropati dan infeksi. Adanya neuropati perifer akan
menyebabkan hilang atau menurunnya sensasi nyeri pada kaki,
sehingga akan mengalami trauma tanpa terasa yang mengakibatkan
terjadinya atrofi pada otot kaki sehingga merubah titik tumpu yang
menyebabkan ulsestrasi pada kaki klien.
Apabila sumbatan darah terjadi pada pembuluh darah yang lebih
besar maka penderita akan merasa sakit pada tungkainya sesudah ia
berjalan pada jarak tertentu. Angiopati menyababkan terjadinya
penurunan asupan nutrisi, oksigen serta antibiotika sehingga
menyebabkan terjadinya luka yang sukar sembuh (Levin, 2001).
3. Patofisiologi
Terjadi masalah kaki diawali adanya hiperglikemia pada penyandang
DM yang menyebabkan kelainan neuropati dan kelainan pada pembuluh
darah. Neuropati, baik neuropatik sensorik maupun motorik dan
autonomik akan mengakibatkan terjadinya perubahan distribusi tekanan
pada telapak kaki dan selanjutnya akan mempermudah terjadinya ulkus.
Adanya kerentanan terhadap infeksi menyebabkan infeksi mudah merebak
menjadi infeksi yang luas. Faktor aliran darah yang kurang juga akan lebih
lanjut menambah rumitnya pengelolaan kaki diabetes (Askandar, 2001).
Ulkus diabetikum terdiri dari kavitas sentral biasanya lebih besar
dibanding pintu masuknya, dikelilingi kalus keras dan tebal. Awalnya
proses pembentukan ulkus berhubungan dengan hiperglikemia yang
berefek terhadap saraf perifer, kolagen, keratin, dan suplai vaskuler.
Dengan adanya tekanan mekanik terbentuk keratin keras pada daerah kaki
yang mengalami beban terbesar. Neuropati sensori perifer memungkinkan
terjadinya trauma berulang mengakibatkan terjadinya kerusakan jaringan
area kalus. Selanjutnya terbentuk kavitas yang membesar dan akhirnya
ruptur sampai permukaan kulit menimbulkan ulkus. Adanya iskemia dan
penyembuhaan luka abnormal menghalangi resolusi. Mikroorganisme
yang masuk mengadakan kolonisasi didaerah ini. Drainase yang inadekuat

menimbulkan closed space infection. Akhirnya sebagai konsekuensi sistem


imun yang abnormal, bakteria sulit dibersihkan dan infeksi menyebar ke
jaringan sekitarnya.
Penyakit neuropati dan vaskuler adalah faktor utama yang
mengkontribusi terjadinya luka. Masalah luka yang terjadi pada pasien
dengan diabetik terkait dengan adanya pengaruh pada saraf yang terdapat
pada kaki dan biasanya dikenal sebagai neuropati perifer. Pada pasien
dengan diabetik sering kali mengalami gangguan pada sirkulasi. Gangguan
sirkulasi ini adalah yang berhubungan dengan pheripheral vasculal
diseases. Efek sirkulasi inilah yang menyebabkan kerusakan pada saraf.
Hal ini terkait dengan diabetik neuropati yang berdampak pada sistem
saraf autonom, yang mengontrol fungsi otot-otot halus, kelenjar dan organ
viseral.
Dengan adanya gangguan pada saraf otonom pengaruhnya adalah
terjadinya perubahan tonus otot yang menyebabkan abnormalnya aliran
darah. Dengan demikian kebutuhan akan nutrisi dan oksigen maupun
pemberian antibiotik tidak mencukupi atau tidak dapat mencapai jaringan
perifer, juga tidak memenuhi kebutuhan metabolisme pada lokasi tersebut.
Efek pada autonomi neuropati ini akan menyebabkan kulit menjadi kering,
antihidrosis; yang memudahkan kulit menjadi rusak dan mengkontribusi
untuk terjadinya gangren. Dampak lain karena adanya nneuropati perifer
yang mempengaruhi kepada saraf sensori dan sistem motor yang
menyebabkan hilangnya sensasi nyeri, tekanan dan perubahan temperatur
(Suryadi, 2004).

4. Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala diabetes mellitus adalah :
a. Keluhan klasik
1) Banyak kencing (poliuria)

Karena sifatnya, kadar glukosa dara yang tinggi akan


menyebabkan banyak kencing. Kencing yang sering dan dalam
jumlah banyak pada malam hari.
2) Banyak minum (polidipsia)
Rasa haus sering dialami penderita karena banyaknya cairan
yang keluar melalui kencing.
3) Banyak makan (polifagia)
Rasa lapar yang semakin besar sering timbul pada penderita
DM karena pasien mengalami keseimbangan kalori negatif,
sehingga timbul rasa lapar yang sangat besar.
4) Penurunan berat badan dan rasa lemah
Disebabkan karena glukosa dalam darah tidak dapat masuk ke
dalam

sel,

sehingga

sel kekurangan

bahan

bakar

untuk

menghasilkan tenaga.
b. Keluhan lain
1) Gangguan saraf tepi atau kesemutan
Kesemutan terjadi pada kaki diwaktu malam hari.
2) Gangguan penglihatan
3) Gatal atau bisul
Kelainan kulit berupa gatal, biasanya terjadi di daerah kemaluan
dan daerah lipatan kulit seperti ketiak dan dibawah payudara.
4) Gangguan ereksi
5) Keputihan
Sedangkan tanda dan gejala ulkus diabetikum adalah :
a. Pain (nyeri)
b. Paleness (kepucatan)
c. Paresthesia (parestesi dan kesemutan)
d. Pulselessness (denyut nadi hilang)
e. Paralysis (lumpuh)
Bila terjadi sumbatan kronik, akan timbul gambaran klinis menurut pola
dari fontaine :

a. Stadium I : asimtomatis atau gejala tidak khas (kesemutan)


b. Stadium II : terjadi klaudikasio intermiten
c. Stadium III : timbul nyeri saat istirahat
d. Stadium IV : terjadinya kerusakan jaringan karena anoksia (ulkus)
(Brunner & Suddarth, 2005)
5. Pemeriksaan diagnostik
Pemeriksaan penunjang yang perlu dilakukan untuk diabetes mellitus
adalah :
a. Kadar glukosa
1) Gula darah sewaktu / random > 200 mg/dl
2) Gula darah puasa / nucter > 140 mg/dl
3) Gula darah 2 jam pp (post prandial) > 200 mg/dl
b. Aseton plasma : hasil + mencolok
c. As lemak bebas : peningkatan lipid dan kolesterol
d. Osmolaritas serum ( > 330 osm/l )
e. Urinalisis : proteinuriam ketonuria, glukosuria
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan untuk pasien ulkus diabetikum
adalah :
a. Pemeriksaan fisik
1) Inspeksi
Denervasi kulit menyebabkan produktivitas keringat menurun,
sehingga kulit kaki kering, pecah, rabut kaki / jari (-), kalus, claw
toe. Ulkus tergantung saat ditemukan (0-5)
2) Palpasi
a) Kulit kering, pecah-pecah, tidak normal
b) Klusiarteri dingin, pulsasi (-)
c) Ulkus : kalus tebal dan keras
b. Pemeriksaan vaskuler
Tes vaskuler noninvasive : pengukuran oksigen transkutaneus, ankle
brachial index (ABI), absolute toe systolic pressure.
ABI : tekanan sistolik betis dengan tekanan sistolik lengan.

10

c. Pemeriksaan radiologis : gas subkutan, benda asing, osteomielitis.


d. Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan adalah :
1) Pemeriksaan darah
Pemeriksaan darah meliputi : GDS > 200 mg/dl, gula darah puasa
> 120 mg/dl dan dua jam post prandial > 200 mg/dl
2) Urin
Pemeriksaan didapatkan adanya glukosa dalam urine. Pemeriksaan
dilakukan dengan Benedict (reduksi). Hasil dapat dilihat melalui
perubahan warna pada urine : hijau (+), kuning (++), merah (+++),
dan merah bata (++++).
3) Kultur pus
Mengetahui jenis kuman pada luka dan memberikan antibiotik
yang sesuai dengan jenis kuman.
B. KONSEP DASAR TEORI ASUHAN KEPERAWATAN
1

Pengkajian
Pengkajian merupakan langkah utama dan dasar utama dari proses
keperawatan yang mempunyai dua kegiatan pokok yaitu :
a. Pengumpulan data
Pengumpulan data yang akurat dan sistematis akan membantu dalam
menentukan status kesehatan dan pola pertahanan penderita,
mengidentifikasi, kekuatan dan kebutuhan penderita yang dapat
siperoleh

melalui

anamnese,

pemeriksaan

fisik,

pemeriksaan

penunjang serta pemeriksaan penunjang lainnya.

1) Identitas pasien
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan,
alamat, status perkawinan, suku bangsa, nomor register, tanggal
masuk rumah sakit, dan diagnosa medis

11

2) Keluhan utama
Adanya rasa kesemutan pada kaki atau tungkai bawah, rasa raba
yang menurun, adanya luka yang tidak sembuh-sembuh dan
berbau, adanya nyeri pada luka.
3) Riwayat kesehatan sekarang
Berisi tentang kapan terjadinya luka, penyebab terjadinya luka
serta

upaya

yang

telah

dilakukan

oleh

penderita

untuk

mengatasinya.
4) Riwayat kesehatan dahulu
Adanya riwayat penyakit DM atau penyakit-penyakit lain yang ada
kaitannya dengan defisiensi insulin misalnya penyakit pankreas.
Adanya riwayat penyakit jantung, obesitas, maupun aterosklerosis,
tindakan medis yang pernah didapat maupun obat-obatan yang
biasa digunakan oleh penderita.
5) Riwayat kesehatan keluarga
Dari genogram keluarga biasanya terdapat salah satu anggota
keluarga yang juga menderita DM atau penyakit keturunan yang
dapat menyebabkan terjadinya defisiensi insulin misal hipertensi,
jantung.
6) Riwayat psikososial
Meliputi informasi mengenai perilaku, perasaan dan emosi yang
dialami penderita sehubungan dengan penyakitnya serta tanggapan
keluarga terhadap penyakit penderita.
b. Pemeriksaan fisik
1) Status kesehatan umum
Meliputi keadaan penderita, kesadaran, suara bicara, tinggi badan,
berat badan dan tanda-tanda vital.
2) Kepala dan leher
Kaji bentuk kepala, keadaan rambut, adakah pembesaran pada
leher, telinga kadang-kadang berdenging, adakah gangguan
pendengaran, lidah sering terasa tebal, ludah menjadi lebih kental,

12

gigi mudah goyah, gusi mudah bengkak dan berdarah, apakah


penglihatan kabur atau ganda, diplopia, lensa mata keruh.
3) Sistem integumen
Turgor kulit menurun, adanya luka atau warna kehitaman bekas
luka, kelembaban dan suhu kulit didaerah sekitar ulkus dan
gangren, kemerahan pada kulit sekitar luka, tekstur rambut dan
kuku.
4) Sistem pernafasan
Adakah sesak nafas, batuk, sputum, nyeri dada. Pada penderita DM
mudah terjadi infeksi.
5) Sistem kardiovaskuler
Perfusi jaringan menurun, nadi perifer lemah atau berkurang,
takikardi atau bradikardi, hipertensi atau hipotensi, aritmia,
kardiomegalis.
6) Sistem gastrointestinal
Terdapat polifagi, polidipsi, mual, muntah, diare, konstipasi,
dehidrasi, perubahan berat badan, peningkatan lingkar abdomen,
obesitas.
7) Sistem urinary
Poliuri, retensio urine, inkontinensia urine, rasa panas atau sakit
saat berkemih.
8) Sistem muskuloskeletal
Penyebaran lemak, peneybaran masa otot, perubahan tinggi badan,
cepat lelah, lemah dan nyeri, adanya gangren di ekstremitas.
9) Sistem neurologis
Terjadi

penurunan

sensoris,

parasthesia,

anastesia,

letargi,

mengantuk, reflek lambat, kacau mental, disorientasi.


2

Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul


a. Resti deficit volume cairan berhubungan dengan diuresis osmotik
b. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan produksi energi berkurang
c. Resiko infeksi berhubungan dengan tingginya kadar gula darah

13

d. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan komplikasi DM


e. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan adanya luka gangren
3

Intervensi Keperawatan
a. Diagnosa keperawatan : Resti deficit volume cairan berhubungan
dengan diuresis osmotik
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ...x... jam
diharapkan kebutuhan cairan atau hidrasi pasien terpenuhi
Kriteria hasil :
1) Pasien menunjukkan hidrasi yang adekuat dibuktikan oleh TTV
stabil
2) Nadi perifer dapat diraba
3) Turgor kulit dan pengisian kapiler baik
Intervensi keperawatan :
1) Pantau TTV, nadi tidak teratur
2) Pantau pola nafas seperti adanya pernafasan kusmaul
3) Pantau input dan output
4) Kaji suhu, warna kulit dan kelembaban
5) Observasi adanya kelelahan yang meningkat, edema, peningkatan
berat badan
6) Kolaborasi : berikan terapi cairan sesuai indikasi
b. Diagnosa Keperawatan : Intoleransi aktivitas berhubungan dengan
produksi energi berkurang
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ..x... jam
diharapkan masalah intoleransi aktivitas dapat teratasi.

Kriteria hasil :
1) Berpartisipasi dalam aktivitas fisik tanpa disertai peningkatan
tekanan darah, nadi dan RR
2) Mampu melakukan aktivitas sehari hari secara mandiri

14

3) Tanda-tanda vital normal


Intervensi keperawatan :
1) Monitor respon fisik, emosi, sosial dan spiritual
2) Bantu klien untuk mengidentifikasi aktivitas yang mampu
dilakukan
3) Bantu untuk mengidentifikasi dan mendapatkan sumber yag
diperlukan untuk aktivitas yang diinginkan
4) Bantu pasien atau keluarga untuk mengidentifikasi kekurangan
dalam beraktivitas
5) Bantu pasien untuk mengembangkan motivasi diri dan penguatan
6) Bantu klien untuk membuat jadwal latihan diwaktu luang.
c. Diagnosa keperawatan : Resiko infeksi berhubungan dengan tingginya
kadar gula darah.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ...x.. jam
diharapkan klien tidak menunjukkan tandaa-tanda infeksi.
Kriteria hasil :
1) Tanda-tanda infeksi tidak ada
2) Keadaan luka baik dan kadar gula dalam darah normal
3) TTV normal
Intervensi keperawatan :
1) Kaji adanya tanda-tanda adanya penyebaran infeksi pada luka
2) Pertahankan teknik aseptik bila mengganti balutan
3) Anjurkan kepada pasien dan keluarga untuk selalu menjaga
kebersihan selama perawatan
4) Inspeksi balutan dan luka
5) Perhatikan karakteristik luka
6) Lakukan perawatan luka secara aseptik
7) Ajarkan kepada pasien untuk menaati diet, latihan fisik dan
pengobatan yang ditetapkan
8) Kolaborasi :

15

Berikan antibiotik dan insulin


Observasi hasil GDS
d. Diagnosa Keperawatan : pola nafas tidak efektif berhubungan dengan
komplikasi DM
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ...x.... jam
diharapkan pola nafas klien efektif
Kriteria hasil :
1) Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang bersih,
tidak ada sianosis dan dyspneu
2) Menunjukkan jalan nafas yang paten ( klien tidak merasa tercekik)
3) Tanda-tanda vital dalam rentang normal
Intervensi keperawatan :
1) Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan
2) Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
3) Monitor pola pernafasan abnormal
4) Lakukan fisioterapi dada jika perlu
5) Keluarkan sekret dengan batuk atau suction
6) Berikan terapi oksigen nassal kanul

e. Diagnosa Keperawatan : kerusakan integritas kulit berhubungan


dengan adanya luka gangren
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ...x... jam
diharapkan kerusakan integritas kulit dapat berkurang

16

Kriteria hasil :
1) Kondisi luka menunjukkan adanya perbaikan jaringan dan tidak
terinfeksi
2) Integritas kulit yang baik bisa dipertahankan
Intervensi keperawatan :
1) Monitor tanda dan gejala infeksi pada area insisi
2) Monitor status nutrisi pasien
3) Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian longgar
4) Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan kering
5) Ganti balutan pada interval waktu yang sesuai ayau biarkan luka
tetap terbuka
6) Monitor aktivitas dan mobilisasi pasien
7) Mandikan pasien dengan sabun dan air hangat

BAB III
TINJAUAN KASUS

17

Asuhan Keperawatan Pada Pasien Ny. P Dengan Gangguan Sistem Endokrin :


Diabetes Mellitus Disertai Ulkus Diabetikum Di Ruang Teratai RSUD Banyumas.
Dengan ini penulis melakukan pengkajian pada tanggal 1 Januari 2016 dan
dilakukan pengelolaan kasus selama 3 hari.
A. Pengkajian
Pengkajian keperawatan dilakukan pada hari Selasa, 1 Januari 2016
diperoleh dengan wawancara, observasi, dan studi dokumentasi catatan
keperawatan klien (rekam medis). Dari data pasien didapatkan data tentang
identitas pasien bernama Ny. P berusia 48 tahun, berjenis kelamin perempuan,
status sudah menikah, dan pasien beralamat di Jl. Patikraja Kaliori. Pasien
beragama islam bersuku Jawa bangsa Indonesia, pendidikan terakhir SD dan
pasien bekerja sebagai petani. Pasien masuk rumah sakit pada tanggal 23
Desember 2015. Identitas penanggung jawab pasien adalah Tn. D, berumur 34
tahun, beralamat di Kaliori Kalibagor dan hubungan dengan pasien adalah
anak pasien.
Keluhan utama saat pengkajian pasien mengatakan nyeri pada telapak
kaki kanan P : karena penyakit ulkus DM, Q: cenod-cenod, R : di telapak kaki
sebelah kanan, S : skala 4, T : terasa hilang timbul. Keluhan tambahan pasien
mengatakan badan terasa pegal karena bedrest

selama 24 jam post

debridment. Riwayat penyakit sekarang sebelum masuk rumah sakit (1 bulan


yang lalu) kaki kanan klien terkena api, kemudian pada hari Sabtu 23
Desember 2015 pagi jam 08.00 klien menggigil kemudian kaki bengkak, lalu
klien berobat ke dokter namun dokter menyarankan untuk memeriksakan ke
RSUD Banyumas. Pada hari Sabtu 23 Desember 2015 jam 21.00 WIB klien
masuk ke IGD, di IGD klien dilakukan tindakan insersi vena dan diberikan
terapi obat, kemudian pada pukul 22.00 WIB klien dipindah ke ruang teratai.
Riwayat penyakit dahulu klien mengatakan pada tahun 2006 klien
menggalami syok atau depresi karena anaknya meninggal klien rutin kontrol
ke dr. Spesialis psikologis. Kemudian pada tahun 2013 diketahui bahwa kadar
gula darah klien tinggi yaitu mencapai 407 g/dl. Pada tahun 2014 klien
dilakukan tindakan debridment pada kaki kiri. Riwayat kesehatan keluarga

18

klien mengatakan dalam keluarganya tidak ada yang menderita penyakit yang
sama dengan klien dan tidak ada riwayat penyakit menurun lainnya seperti
asma, hipertensi dll.
Pengkajian pola fungsional gordon didapatkan data pada pengkajian pola
nutrisi sebelum sakit pasien mengatakan jarang makan nasi, makan nasi jika
ingin saja, 1 hari makan 1x dengan nasi, lauk pauk dan sayur. Makan tidak
habis 1 porsi. Minum pasien mengatakan suka medang teh atau kopi 1 hari 2-3
kali, minum air putih 8-9 gelas belimbing/hari, klien juga suka mengkonsumsi
jamu, minum jamu 1 hari 1 kali. Pola eliminasi klien sebelum sakit
mengatakan BAB 1x sehari (konsistensi lembek, bau khas) BAK klien
mengatakan sering BAK malam 4-5 x semalam, untuk sehari-hari klien BAK
5-6 kali/hari. Selama sakit BAB klien mengatakan 1 x sehari, BAK klien
mengatakan BAK 2-3 kali/hari (warna urin kuning jernih, bau khas).Pada
pengkajian pola keyakinan dan nilai sebelum sakit klien mengatakan
beragama islam dan klien selalu melaksanakan ibadah sholat 5 waktu.
Sedangkan selama sakit klien mengatakan kadang-kadang sholat.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan data keadaan umum pasien baik,
kesadaran composmentis dan GCS E4M6V5. Tanda-tanda vital TD: 110/90
mmHg, RR: 20 x/menit, S: 35,5 oC, N: 80 x/menit dan TB : 155 cm, BB: 40
kg. Pemeriksaan head to toe didapatkan data kepala bentuk mesochepal,
rambut hitam,bersih, tidak berminyak, tidak ada luka atau jejas. Mata bersih,
simetris, onjungtiva anemis, sklera anikterik, pupil isokor (ukuran 2 mm),
tidak ada peradangan, fungsi penglihatan baik. Hidung bersih, seimteris, tidak
ada pembesaran polip. Mulut dan gigi mukosa bibir kering, tidak ada
sariawan, gigi bersih, tidak ada karies gigi, tidak ada gigi palsu. Telinga klien
bersih, simetris, tidak ada serumen, fungsi pendengaran baik. Leher tidak ada
pembesaran kelenjar tiroid. Pemeriksaan dada, inspeksi: pengembangan dada
simetris, tidak ada lesi pada dada, palpasi: vokal fremitus kanan kiri sama,
perkusi: pada paru-paru resonan dan jantung pekak. Auskultasi paru-paru
vesikuler dan jantung S1-S2 reguler. Pemeriksaan abdomen inspeksi: perut
datar, simetris, tidak ada lesi, aukultasi : bising usus 12 x/menit, palpasi: tidak

19

ada nyeri tekan epigastrium, perkusi tympani. Pemeriksaan ekstremitas atas


klien terpasang infus RL 30 tpm di ekstremitas kiri. Ekstremitas bawah
terdapat ulkus DM di ekstremitas kanan post debridment pada tanggal 4
januari 2016, ulkus tertutup dengan kassa, tidak rembes, tidak ada edema.
Ekstremitas kiri tampak kehitaman, jari tersisa 2 (jempol dan tengah), post
debridment pada tahun 2014.
Pemeriksaan genetalia pasein berjenis kelamin perempuan, menstruasi
sudah jarang dan tidak terpasang DC. Pada pemeriksaan kulit tampak pucat,
tidak ada sianosis, kulit pada kaki kehitaman.
Hasil pemeriksaan laboratorium pada tanggal 2 januari 2016 didapatkan
hasil RBC 3,52 10e6/uL (N: 4.06-4.69), HGB: 9.29 g/dL (N: 12.9-14.2), HCT
28.4 (N: 37.7-53.7), MCV 79.8 (N: 81.1-96.0). pada pemeriksaan kimia klinik
didapatkan hasil total protein 9.67 unit (N: 6.6-6.7), albumin 2.73 (N: 3.464.8). Hasil pemeriksaan ro thorax didapatkan apex paru tenang, corakan paru
dalam batas normal, sinus dan diafragma baik, CTR <0,56, tulang-tulang
dinding thorax intak kesan: pulmo dan cor dalam batas normal. Pada Ro. Pedis
dextra didapatkan hasil tampak destruksi ossa tarsalia, basis metatarsal digit 1,
2, 3, 4 dan metatarsal 2 sampai phalanges 2 serta digiti 1.
Dilakukan debridment luka ulkus diabetikum pada kaki kanan di IBS
RSUD Banyumas pada tanggal 4 januari 2016 jam 09.00 WIB. Diberikan
tranfusi PRC 4 kolf, golongan darah AB. Pemberian IVFD Futrolit atau NaCl
30 tpm, Terapi injeksi ondansentron 2x4 mg, omeprazole 3x1000 gr, caftazidin
3x100 gr.

B. Analisa Data
Tanggal
4
jan DS :

Data fokus

Etiologi
Problem
Agen
cidera Nyeri akut

20

2016

Pasien mengatakan nyeri biologis


pada telapak kaki kanan
P: ulkus dm
Q: cenod-cenod
R: telapak kaki kanan
S: skala 4
T: hilang timbul
DO :
Klien tampak meringis
kesakitan
Klien tampak gelisah
Wajah tampak menahan

4
2016

nyeri
jan DS :

Faktor biologis

Resiko

Klien mengatakan porsi

ketidakseimbanga

makan dikurangi, makan

n nutrisi kurang

habis porsi dari RS

dari

dengan nasi, sayur, lauk

tubuh

kebutuhan

pauk.
DO :
Wajah pasien

tampak

pucat
Konjungtiva anemis
Mukosa bibir kering
Hb : 9.29 g/dL
Penurunan BB : 5 kg
4
2016

jan DS :

Adanya

luka Resiko infeksi

Klien mengatakan nyeri ulkus diabetikum


pada luka
DO :

21

Terdapat

luka

ulkus

diabetikum pada kaki


kanan
Leukosit 6,68x103uL
jan DS :

4
2016

Klien

Fisik (penyakit)

mengatakan

Hambatan
religiositas

beragama islam, klien


mengatakan

kadang-

kadang sholat
DO :
Klien

tampak

jarang

sholat 5 waktu
C. Diagnosa keperawatan sesuai prioritas
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen injury biologis
2. Resiko infeksi berhubungan dengan adanya luka ulkus diabetikum
3. Resiko

ketidakseimbangan

nutrisi

kurang

dari

kebutuhan

tubuh

berhubungan dengan faktor biologis


4. Hambatan religiositas berhubungan dengan fisik (penyakit)
D. Intervensi Keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen injury biologis
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x8 jam
diharapkan masalah yeri akut dapat teratasi.
Kriteria hasil :
a.

Ekspresi nyeri pada wajah

Indikator

IR
3

b.

Frekuensi nyeri sering

c.

Skala nyeri

Keterangan :
1. Sangat berat
2. Berat
3. Sedang
4. Ringan
5. Tidak ada

ER

22

Intervensi :
a. Monitor TTV
b. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif
c. Ajarkan teknik non farmakologis
d. Anjurkan pasien meningkatkan istirahat
e. Kolaborasi dengan dokter : pemberian analgetik
2. Resiko infeksi berhubungan dengan adanya luka ulkus diabetikum
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x8 jam
diharapkan masalah resiko infeksi teratasi.
Kriteria hasil :
Indikator

IR

a.

Leukosit normal

b.

Suhu normal

c.

Tidak ada tanda infeksi

ER

Keterangan :
1. Gangguan ekstrim
2. Gangguan berat
3. Gangguan sedang
4. Gangguan ringan
5. Tidak ada gangguan
Intervensi :
a. Batasi pengunjung
b. Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah tindakan
c. Tingkatkan intake nutrisi
d. Monitor tanda dan gejala infeksi
e. Monitor TTV
f. Lakukan perawatan luka
g. Kolaborasi dengan dokter pemberian antibiotik
3. Resiko

ketidakseimbangan

nutrisi

berhubungan dengan faktor biologis.

kurang

dari

kebutuhan

tubuh

23

Setelah dilakukan tindakan keperawatann selama 3x8 jam diharapkan


masalah resiko ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
teratasi.
Kriteria hasil :
Indikator

IR

a.

Asupan nutrisi kurang

b.

Tanda malnutrisi

ER

Keterangan :
1. Keluhan ekstrim
2. Keluhan berat
3. Keluhan sedang
4. Keluhan ringan
5. Tidak ada keluhan
Intervensi :
a. Kaji kemampuan klien untuk mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan
b. Kolaborasi dengan ahli gizi
c. Anjurkan pasien minum air hangat
d. Monitor Hb
e. Monitor konjungtiva dan mukosa bibir
4. Hambatan religiositas berhubungan dengan fisik (penyakit)
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x8 jam
diharapkan masalah hambatan religiositas teratasi.
Kriteria hasil :
a.

Kemampuan untuk berdoa

Indikator

IR
3

b.

Kemampuan untuk beribadah

Keterangan :
1. Gangguan ekstrim
2. Gangguan berat
3. Gangguan sedang
4. Gangguan ringan
5. Tidak ada gangguan

ER

24

Intervensi :
a. Kaji adanya hambatan dalam praktek keagamaan
b. Tawarkan dukungan doa secara individu atau bersama
c. Perlihatkan empati dan penerimaan
d. Tunjukkan sikap menerima dan tidak menghakimi praktek keagamaan
klien
e. Informasikan pasien atau keluarga mengenai sumber keagamaan
f. Motivasi untuk melakukan kegiatan ibadah
E. Implementasi Keperawatan
Implementasi keperawatan pad Ny. P dilakukan selama 3 hari kelolaan yaitu
mulai tanggal 04-06 Januari 2016.
1. Dx : Nyeri akut berhubungan dengan agen injury biologis
Senin, 04 Januari 2016 tindakan yang dilakukan : melakukan
pengkajian

nyeri

secara

komprehensif,

mengajarkan

teknik

non

farmakologis. Respon pasien setelah dilakukan tindakan keperawatan yaitu


pasien mengatakan nyeri pada kaki kanan skala 4, nyeri berkurang setelah
dilakukan relaksasi nafas dalam.
Selasa, 05 Januari 2016 tindakan yang dilakukan : memonitor TTV,
melakukan pengkajian nyeri secara komprehensif, mangajarkan teknik non
farmakologis. Respon pasien setelah dilakukan tindakan keperawatan
adalah TD 110/90 mmHg, N : 94 x/menit, RR: 20 x/menit, S: 36,5 oC,
klien mengatakan nyeri berkurang dengan skala 3, klien mengatakan nyeri
berkurang setelah dilakukan relaksasi nafas dalam.
Rabu, 06 Januari 2016 tindakan yang dilakukan : melakukan
pengkajian

nyeri

secara

komprehensif,

menganjurkan

pasien

meningkatkan istirahat. Respon klien setelah dilakukan tindakan yaitu :


klien mengatakan luka sudah tidak nyeri, saat diberikan penjelasan untuk
meningkatkan istirahat klien tampak mengerti.
2. Resiko infeksi berhubungan dengan adanya luka ulkus diabetikum

25

Senin, 04 Januari 2016 tindakan yang dilakukan : menjaga


kebersihan tempat tidur, membatasi pengunjung, mencuci tangan setiap
sebelum dan sesudah tindakan. Respon pasien setalah dilakukan tindakan
yaitu telah dilakukan verbed, dilakukan pembatasan pengunjung, dan
dilakukan cuci tangan sebelum dan sesudah tindakan.
Selasa, 05 Januari 2016 tindakan yang dilakukan : membatasi
pengunjung dan mencuci tangan setiap sebelum dan sesudah tindakan,
memberikan terapi antibiotik, memonitor tanda dan gejala infeksi.
Respon : telah dilakukan pembatasan pengunjung, dilakukan cuci tangan
setiap sebelum dan sesudah tindakan dan diberikan terapi ceftazidin 1000
gr, terdapat luka pada kaki kanan, tidak rembes, luka nyeri dan rembes,
terdapat kemerahan disekitar luka.
Rabu, 06 Januari 2016 tindakan yang dilakukan : membatasi
pengunjung dan mencuci tangan setiap sebelum dan sesudah tindakan,
memberikan terapi antibiotik, memonitor tanda dan gejala infeksi.
Respon : telah dilakukan pembatasan pengunjung, dilakukan cuci tangan
setiap sebelum dan sesudah tindakan dan diberikan terapi ceftazidin 1000
gr, terdapat luka pada kaki kanan, tidak rembes, luka nyeri dan rembes,
terdapat kemerahan disekitar luka.
3. Resiko

ketidakseimbangan

nutrisi

kurang

dari

kebutuhan

tubuh

berhubungan dengan faktor biologis


Senin, 04 Januari 2016 tindakan yang dilakukan : mengecek GDS,
memonitor Hb, memonitor konjungtiva dan mukosa bibir, memberikan diit
sesuai indikasi ahli gizi. Respon pasien setelah dilakukan tindakan yaitu
GDS : 102 Hb : 9,29 g/dL, konjungtiva anemis dan mukosa bibir kering,
pasien diberikan diit rendah kalori.
Selasa, 05 Januari 2016 tindakan yang dilakukan : memberikan diit
sesuai indikasi ahli gizi, mengkaji kemampuan pasien makan. Respon :
pasien diberikan diit rendah kalori, pasien mengatakan makan habis
porsi.

26

Rabu, 06 Januari 2016 tindakan yang dilakukan : memberikan diit


sesuai indikasi ahli gizi, menganjurkan pasien minum air hangat,
memonitor konjungtiva dan mukosa bibir, melakukan pengukuran GDS.
Respon : pasien diberikan diit rendah kalori, pasien tampak mengerti,
konjungtiva anemis dan mukosa bibir kering, GDS : 146.
4. Hambatan religiositas berhubungan dengan fisik (penyakit)
Senin, 04 Januari 2016 tindakan yang dilakukan : mengkaji adanya
hambatan dalam praktek keagamaan. Respon : pasien mengatakan jarang
sholat.
Selasa, 05 Januari 2016 tindakan yang dilakukan : mengkaji adanya
hambatan dalam praktek keagamaan, memotivasi klien untuk melakukan
kegiatan ibadah dengan tayamum. Respon pasien setelah dilakukan
tindakan : pasien mengatakan jarang sholat karena kaki kanannya sakit,
klien mengatakan mengerti saat diberikan motivasi.
Rabu, 06 Januari 2016 tindakan yang dilakukan : mengkaji adanya
hambatan dalam praktek keagamaan, memotivasi klien untuk melakukan
kegiatan ibadah dengan tayamum. Respon pasien setelah dilakukan
tindakan : pasien mengatakan jarang sholat karena kaki kanannya sakit,
klien mengatakan mengerti saat diberikan motivasi.

F. Evaluasi Keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen injury biologis
Evaluasi keperawatan dilakukan pada hari Rabu, 06 Januari 2016
jam 18.00 WIB setelah dilakukan tindakan keperawatan pada Ny. P
didapatkan data yaitu : S: klien mengatakan kaki kanan sudah tidak nyeri.

27

O: klien tampak tenang, klien mampu tidur nyenyak, ekspresi wajah


senang. A: masalah nyeri akut teratasi.
a.

Indikator
Ekspresi nyeri pada wajah

IR
3

Tujuan
5

ER
5

b.

Frekuensi nyeri sering

c.

Skala nyeri

P: rencana pasien boleh pulang hari kamis, 7 Januari 2016. Discharge


planning :
a. Gunakan teknik relaksasi nafas dalam jika nyeri timbul kembali
b. Anjurkan pasien meningkatkan istirahat.
2. Resiko infeksi berhubungan dengan adanya luka ulkus diabetikum
Evaluasi keperawatan dilakukan pada hari Rabu,06 Januari 2016 jam
18.10 WIB, detelah dilakukan tindakan keperawatan pada Ny. P
didapatkan data yaitu : S : klien mengatakan terdapat luka ulkus DM di
kaki kanan. O: terdapat luka ulkus DM pada kaki kanan, tampak
kemerahan disekitar luka, luka rembes. A: masalah resiko infeksi belum
teratasi.
a.

Leukosit normal

Indikator
3

IR

Tujuan
5

ER
4

b.

Suhu normal

c.

Tidak ada tanda infeksi

P : rencana pasien boleh pulang hari kamis, 7 Januari 2016. Discharge


planning :
a. Anjurkan pasien untuk melakukan perawatan luka setiap hari
b. Jaga kebersihan luka
3. Resiko

ketidakseimbangan

nutrisi

kurang

dari

kebutuhan

tubuh

berhubungan dengan faktor biologis


Evaluasi keperawatan dilakukan pada hari Rabu, 06 Januari 2016
jam 18.10 WIB, setelah dilakukan tindakan keperawatan pada Ny. P
didapatkan data yaitu : S : klien mengatakan makan habis porsi dari RS
dengan nasi, sayur, lauk pauk dan tidak mual. O: pasien diberikan diit
tampak tidak habis atau habis porsi, konjungtiva ananemis, mukosa

28

bibir kering, penurunan BB : 5 kg. A: masalah resiko ketidakseimbangan


nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh belum teratasi.
a.

Asupan nutrisi kurang

Indikator

IR
3

Tujuan
5

ER
4

b.

Tanda malnutrisi

P : rencana pasien boleh pulang hari kamis, 7 Januari 2016. Discharge


planning :
a. Porsi makan dikurangi
b. Hindari makanan atau minuman yang manis-manis
c. Rutin kontrol GDS
d. Anjurkan pola hidup bersih dan sehat
4. Hambatan religiositas berhubungan dengan fisik (penyakit)
Evaluasi keperawatan dilakukan pada hari Rabu, 06 Januari 2016
jam 18.10 WIB, detelah dilakukan tindakan keperawatan pada Ny. P
didapatkan data yaitu : S: klien mengatakan beragama islam, klien
mengatakan kadang-kadang sholat. O: pasien tampak jarang sholat 5
waktu. A: masalah hambatan religiusitas belum teratasi.
Indikator

IR

Tujuan

E
R

c.

Kemampuan untuk berdoa

d.

Kemampuan untuk beribadah

P : rencana pasien boleh pulang hari kamis, 7 Januari 2016. Discharge


planning :
a. Motivasi klien untuk melaksanakan ibadah sholat wajib 5 waktu

BAB IV
PEMBAHASAN
Pada BAB ini penulis akan membahas kesenjangan antara teori
dengan studi kasus asuhan keperawatan pada Ny. P dengan
Diabetes Mellitus disertai Ulkus Diabetikum, pada tanggal 04 06

29

Januari 2015. Pembahasan yang penulis lakukan akan meliputi


pengkajian, diagnosa keperawatan.
A. Pengkajian
Pengkajian adalah pengumpulan data atau pengumpulan informasi tentang
klien yang dilakukan secara sistematis untuk menentukan masalah-masalah,
serta kebutuhan keperawatan dan kesehatan klien. Metode yang digunakan
oleh penulis dalam pengumpulan data antara lain dengan wawancara,
pemeriksaan fisik dan studi dokumentasi (catatan medis) (Dalami, dkk, 2011).
1. Wawancara
Wawancara adalah menanyakan atau membuat tanya jawab yang
berkaitan dengan masalah yang dihadapi oleh klien, biasa juga disebut
dengan anamnesa. Wawancara berlangsung untuk menanyakan hal-hal
yang berhubungan dengan masalah yang dihadapi klien dan merupakan
suatu komunikasi yang direncanakan (Dalami, dkk, 2011).
Pada saat melakukan pengkajian atau wawancara penulis tidak
menemukan kesulitan karena pasien kooperatif dan saat dilakukan
wawancara pasien selalu menjawab pertanyaan yang diajukan penulis.
Hasil dari pengkajian didapatkan keluhan utama saat
pengkajian Keluhan utama saat pengkajian pasien mengatakan nyeri
pada telapak kaki kanan P : karena penyakit ulkus DM, Q: cenod-cenod, R
: di telapak kaki sebelah kanan, S : skala 4, T : terasa hilang timbul.
Keluhan tambahan pasien mengatakan badan terasa pegal karena bedrest
selama 24 jam post debridment.
Hasil pengkajian pola fungsional Gordon didapatkan data pola
nutrisi sebelum sakit pasien mengatakan jarang makan nasi, makan nasi
jika ingin saja, 1 hari makan 1x dengan nasi, lauk pauk dan sayur. Makan
tidak habis 1 porsi. Minum pasien mengatakan suka medang teh atau kopi
1 hari 2-3 kali, minum air putih 8-9 gelas belimbing/hari, klien juga suka
mengkonsumsi jamu, minum jamu 1 hari 1 kali. Pola eliminasi klien
sebelum sakit mengatakan BAB 1x sehari (konsistensi lembek, bau khas)
BAK klien mengatakan sering BAK malam 4-5 x semalam, untuk seharihari klien BAK 5-6 kali/hari. Selama sakit BAB klien mengatakan 1 x

30

sehari, BAK klien mengatakan BAK 2-3 kali/hari (warna urin kuning
jernih, bau khas).Pada pengkajian pola keyakinan dan nilai sebelum sakit
klien mengatakan beragama islam dan klien selalu melaksanakan ibadah
sholat 5 waktu. Sedangkan selama sakit klien mengatakan kadang-kadang
sholat.
Hasil pengkajian tersebut sesuai dengan pengkajian teori. Pada
pengkajian teori tertulis tanda dan gejala Ulkus diabetikum yaitu Pain
(nyeri), Paleness (kepucatan), Paresthesia (parestesi dan kesemutan).
B. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah penilaian klinis mengenai pengalaman/
respons individu, keluarga, atau komunitas terhadap masalah kesehatan yang
aktual atau potensial / proses hidup (Dalami, dkk, 2011).
Diagnosa keperawatan berdasarkan pathway dikonsep teori muncul 5
diagnosa keperawatan, yaitu Resti deficit volume cairan berhubungan dengan
diuresis osmotik, Intoleransi aktivitas berhubungan dengan produksi energi
berkurang, Resiko infeksi berhubungan dengan tingginya kadar gula darah,
Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan komplikasi DM, Kerusakan
integritas kulit berhubungan dengan adanya luka gangren
Pada kasus nyata penulis menemukan 1 diagnosa keperawatan yang sesuai
dengan konsep teori, 3 diagnosa keperawatan yang tidak sesuai dengan konsep
teori dan 4 diagnosa yang yang tidak ditemukan pada kasus nyata tetapi ada di
teori.
1. Diagnosa Keperawatan yang ditemukan pada kasus nyata yang sesuai
degan teori yaitu :
a. Resiko infeksi berhubungan dengan adanya luka ulkus diabetikum
Resiko infeksi adalah mengalami peningkatan resiko terserang
organisme patogenik.
Faktor-faktor resiko yaitu penyakit kronis, pengetahuan yang tidak
cukup untuk menghindari pemajanan patogen, pertahanan tubuh
primer yang tidak adekuat, ketidakadekuatan pertahanan sekunder,

31

vaksinasi tidak adekuat, pemajanan terhadap patogen lingkungan


meningkat, prosedur invasif, malnutrisi
2. Diagnosa Keperawatan yang tidak ditemukan pada kasus nyata tetapi ada
di konsep teori yaitu :
a. Resti deficit volume cairan berhubungan dengan diuresis osmotik
Resiko kekurangan volume cairan adalah resiko penurunan cairan
interstitial dan atau intraseluler. Ini mengacu pada dehidrasi,
kehilangan cairan.
Batasan karakteristik resiko kekurangan volume cairan yaitu
perubahan status mental, perubahan tekanan darah, perubahan tekanan
nadi, penurunan turgor kulit, penurunan haluaran urin, membran
mukosa kering, peningkatan hematokrit, haus, kelemahan.
b. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan produksi energi berkurang
Intoleransi aktivitas adalah ketidakcukupan energy psikologis atau
fisiologis untuk melanjutkan atau menyelesaikan aktivitas kehidupan
sehari-hari harus atau yang tidak ingin dilakukan (Herdman, 2012).
Batasan

karakteristik

dari

intoleransi

aktivitas

meliputi

ketidaknyamanan atau dispnea saat beraktivitas, melaporkan keletihan


atau kelemahan secara verbal, frekuensi jantung atau tekanan darah
tidak normal sebagai respons terhadap aktivitas dan perubahan EKG
yang menunjukan aritmia atau iskemia.
c. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan komplikasi DM
Ketidakefektifan pola nafas adalah inspirasi dan atau ekspirasi
yang tidak memberi ventilasi.
Batasan karakteristik ketidakefektifan pola nafas yaitu perubahan
kedalaman pernafasan, bradipneu, penurunan tekanan ekspirasi,
dispneu, penurunan kapasitas vital, pernafasan cuping hidung,
takipneu, fase ekspirasi memanjang, penggunaan otot aksesorius untuk
bernafas
d. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan adanya luka gangren

32

Kerusakan integritas kulit adalah perubahan atau gangguan


epidermis dan atau dermis.
Batasan karakteristik kerusakan integritas kulit yaitu kerusakan
lapisan kulit (dermis), gangguan permukaan kulit (epidermis), invasi
struktur tubuh.
3. Diagnosa Keperawatan yang ditemukan pada kasus nyata tetapi tidak ada
di konsep teori yaitu :
a. Nyeri akut berhubungan dengan agen injury biologis
Nyeri akut adalah pengalaman sensori dan emosional yang tidak
menyenangkan yang muncul akibat kerusakan jaringan yang actual
atau potensial atau digambarkan dalam hal kerusakan sedemikian
rupa ; awitan yang tiba-tiba atau lambat dari intensitas ringan hingga
berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau diprediksi dan
berlangsung < 6 bulan (Wilkinson, 2013).
Batasan karakteristik dari nyeri akut meliputi mengungkapkan
secara verbal atau melaporkan nyeri dengan isyarat, posisi untuk
menghindari nyeri, perubahan tonus otot, respons autonomic,
perubahan selera makan, perilaku distraksi, perilaku ekspresif, wajah
topeng, perilaku menjaga atau sikap melindungi, fokus menyempit,
bukti nyeri yang dapat diamati, berfokus pada diri sendiri dan
gangguan tidur.
b. Resiko ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan faktor biologis
Menurut Huda dan Kusuma (2015), resiko ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh adalah resiko ketidakcukupan
asupan nutrisi untuk memenuhi kebutuhan metabolik. Batasan
karakteristik resiko ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh yaitu kram abdomen, nyeri abdomen, menghindari makanan,
berat badan 20% atau lebih dibawah berat badan ideal, kerapuhan
kapiler, diare, kehilangan rambut berlebihan, bising usus hiperaktif,
kurang minat pada makanan, membran mukosa pucat, tonus otot

33

menurun, sariawan rongga mulut, cepat kenyang setelah makan,


kelemahan otot mengunyah, kelemahan otot untuk menelan, kurang
informasi.
c. Hambatan religiositas berhubungan dengan fisik (penyakit)

BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Setelah penulis melakukan asuhan keperawatan selama 3x24 jam pada
pasien dengan Diabetes Mellitus disertai Ulkus Diabetikum, penulis mampu
menerapkan atau mengaplikasikan asuhan keperawatan pada pasien dengan

34

Diabetes Mellitus disertai Ulkus Diabetikum, secara sistematis menggunakan


pendekatan proses keperawatan secara komprehensif, maka penulis dapat
menarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Penulis mampu melakukan pengkajian
Keluhan utama saat pengkajian pasien mengatakan nyeri

pada

telapak kaki kanan P : karena penyakit ulkus DM, Q: cenod-cenod, R : di


telapak kaki sebelah kanan, S : skala 4, T : terasa hilang timbul. Keluhan
tambahan pasien mengatakan badan terasa pegal karena bedrest selama 24
jam post debridment.
Riwayat penyakit dahulu klien mengatakan pada tahun 2006 klien
menggalami syok atau depresi karena anaknya meninggal klien rutin
kontrol ke dr. Spesialis psikologis. Kemudian pada tahun 2013 diketahui
bahwa kadar gula darah klien tinggi yaitu mencapai 407 g/dl. Pada tahun
2014 klien dilakukan tindakan debridment pada kaki kiri.
2. Penulis mampu merumuskan diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan yang diangkat pada kasus Ny. P dengan
Diabetes Mellitus disertai Ulkus Diabetikum sesuai dengan prioritas
adalah :
a. Nyeri akut berhubungan dengan agen injury biologis
b. Resiko infeksi berhubungan dengan adanya luka ulkus diabetikum
c. Resiko ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan faktor biologis
d. Hambatan religiositas berhubungan dengan fisik (penyakit)
B. Saran
Setelah penulis melakukan Asuhan Keperawatan diharapkan Karya Tulis
Ilmiah ini dapat menjadi bahan pustaka yang dapat memberikan gambaran
tentang bagaiamana Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Diabetes
Mellitus disertai Ulkus Diabetikum.
1. Rumah Sakit
Rumah sakit sebagai tempat pelayanan kesehatan dapat memberikan
tindakan dan pelayanan yang cepat untuk para penderita Ulkus Diabetikum
khususnya pada pasien-pasien yang akan dilakukan debridment, agar luka
tidak bertambah parah dan infeksi.

35

2. Perawat
Perawat sebaiknya perlu telaten, dan selalu menjaga/mengaplikasikan
teknik steril dalam melakukan perawatan luka ulkus. Agar proses
penyembuhan luka dapat cepat dan maksimal. Motivasi dan penkes untuk
menjaga kebersihan luka pada pasien perlu dilakukan agar tidak terjadi
kekambuhan luka pada penderita DM.
3. Institusi Pendidikan
Institusi pendidikan Akper Serulingmas Cilacap diharapkan bisa
memperbaharui sarana dan prasarana laboratorium keperawatan yang ada
seperti penambahan phantom dan alat-alat steril dan lengkap untuk
perawatan luka ulkus, bahkan diharapkan dari institusi dapat menemukan
penelitian terbaru cara penyembuhan luka ulkus dengan cepat.
4. Pasien
Pasien bisa lebih menjaga kesehatannya untuk mencegah kambuhnya
lagi penyakit dan mencegah komplikasi dari penyakit DM, seperti gaya
hidup yang sehat seperti lebih sering berolahraga ringan, pola makan yang
rendah gula.