Anda di halaman 1dari 41

Makassar, 05 April 2016

LAPORAN TUTORIAL
MODUL 4 : KEPUTIHAN
SISTEM REPRODUKSI

Tutor : dr. Wawan Susilo


Kelompok 1
Suyudi Kimiko Putra La Udo
Rahmi Taftawaty

110 211 0151


110 213 0008

Gita Wulandari

110 213 0018

Andi Tenriawaru Parenrengi

110 213 0032

Muhammad Fauzan

110 213 0047

Hartati Burhan

110 231 0058

Ikhmah Sulistiyowati

110 213 0072

Zainulhaq Hambali
Rani Indryani Ariesti H

110 213 0080


110 213 0092

Agus Salim

110 213 0104

Nur Azizah

110 213 0125

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
2016

SKENARIO 2
Seorang perempuan, usia 26 tahun, P1A0, datang ke
puskesmas dengan keluhan keputihan sejak 2 bulan yang lalu.
Cairan yang keluar dari vagina berwarna putih dan menggumpal
disertai gatal dan kemerahan di daerah sekitar kemaluan. Saat
ini menggunakan IUD sejak 1 tahun yang lalu.
A. KATA SULIT
a. IUD (Intra Uterin Devices)
IUD adalah suatu alat/benda yang dimasukkan kedalam
rahim yang sangat efektif, reversibel dan berjangka
panjang, dapat dipakai oleh semua perempuan usia
reproduktif.1
b. Keputihan
Keputihan

yang

abnormal

(patologis)

biasanya

disebabkan infeksi bakteri, virus, jamur, atau parasit.2


Keputihan yang abnormal (patologis) biasanya disertai
rasa gatal pada vagina atau sekitar bibir vagina bagian
luar. Keputihan yang normal biasanya tidak disertai rasa
gatal.2

B. KATA KUNCI
a. Perempuan, 26 tahun P1A0
b. Keputihan sejak 2 bulan yang lalu
c. Cairan berwarna putih dan menggumpal
d. Gatal dan kemerahan di daerah sekita kemaluan
e. Menggunakan IUD sejak 1 tahun yang lalu
C. PERTANYAAN PENTING
1. Jelaskan anatomi, dan

histologi

dari

organ

terkait

berdasarkan skenario?
2. Jelaskan etiologi dari keputihan ?
3. Jelaskan faktor predisposisi dari keputihan ?
4. Jelaskan perbedaan dari keputihan fisisologis

dan

keputihan patologis?
5. Jelaskan patomekanisme dari keputihan fisiologis dan
keputihan patologis?

6. Jelaskan patomekanisme dari gatal dan kemerahan yang


dialami pasien sesuai skenario ?
7. Jelaskan hubungan riwayat penggunaan

IUD

dengan

keputihan sesuai skenario ?


8. Jelaskan keuntungan dan kerugian IUD ?
9. Jelaskan langkah-langkah diagnosis sesuai skenario ?
10.
Jelaskan differential diagnosa yang sesuai dengan
skenario ?
11.
Jelaskan komplikasi dari keputihan ?
12.
Jelaskan pencegahan keputihan secara umum ?
13.
Jelaskan perspektif islam yang sesuai skenario ?
D. JAWABAN PERTANYAAN
1. Anatomi dan histologi berdasarkan skenario
A. ANATOMI :
A.1 Genitalia Eksterna

Gam
bar 1 : Organ genitalia eksterna wanita

a. Mons Veneris / Mons Pubis


Merupakan bagian yang menonjol dan terdiri dari
jaringan lemak yang menutupi bagian depan simpisis
pubis. Setelah pubertas, kulit dari mons veneris tertutup
oleh rambut.3
b. Labia mayora (bibir bibir besar)

Labia mayora terdiri atas bagian kanan dan kiri,


lonjong mengecil ke bawah, terisi oleh jaringan lemk yang
serupa dengan yang ada di mons veneris. Organ yang
serupa (homolog) dengan skrotum pada pria.3
c. Labia Minora (bibir - bibir kecil)
Labia minora adalah suatu lipatan tipis dari kulit
sebelah dalam bibir besar. Ke depan kedua bibir kecil dan
membentuk di atas klitoris preputium klitoridis, dan di
bawah klitoris frenulum klitoridis.3
d. Klitoris
Terdiri dari caput/glans clitoridis yang terletak di
bagian superior vulva, dan corpus clitoridis yang tertanam
di dalam dinding anterior vagina. Homolog embriologik
dengan penis pada pria.3
e. Vestibulum
Daerah dengan batas atas clitoris, batas bawah
fourchet, batas lateral labia minora. Berasal dari sinus
urogenital.3
f. Kelenjar Bartholini
Merupakan kelenjar terpenting di daerah vulva dan
vagina. Mengeluarkan secret mucus terutama pada waktu
coitus.3
g. Hymen
Berupa lapisan yang tipis dan menutupi sebagian besar
dari introitus vaginae. Hymen normal terdapat lubang kecil
untuk aliran darah menstruasi, dapat berbentuk bulan
sabit, bulat, oval, cribiformis, septum atau fimbriae.3

A.2 Genitalia Interna

Gambar 2 : Organ genitalia interna wanita3

a Vagina
Vagina terletak antara kandung kencing dan rectum.
Dinding depan vagina (= 9 cm) lebih pendek dari dinding
belakang (= 11 cm). Karena terbentuk dari otot, vagina
bisa melebar dan menyempit. Kemampuan ini sangat
hebat, terbukti pada saat melahirkan vagina bisa melebar
seukuran bayi yang melewatinya.3
b Uterus
Suatu organ muskular berbentuk seperti buah pir,
dilapisi peritoneum (serosa). Selama kehamilan berfungsi
sebagai tempat implatansi, retensi dan nutrisi konseptus.
Pada saat persalinan dengan adanya kontraksi dinding
uterus

dan

pembukaan

serviks

uterus,

isi

konsepsi

dikeluarkan.3
c Tuba fallopii
Tuba fallopi adalah organ yang dikenal dengan istilah
saluran telur. Ujung yang satu dari tuba falopii akan
bermuara di uterus sedangkan ujung yang lain merupakan
ujung bebas dan terhubung ke dalam rongga abdomen.3
d Ovarium

Organ kecil berdiameter sekitar 4-5 cm ini sangat


berperan dalam fungsi reproduksi. Panjang Ovarium : + 3
cm, lebar : 1,5 cm dan tebal 1 cm. Bentuk ovarium bulat
telur, beratnya 5 6 gram. Bagian dalam ovarium disebut
Medulla Ovari, dibuat dari jaringan ikat. Bagian luar disebut
Korteks Ovari, terdiri dari folikel-folikel (kantung2 kecil yang
berdinding epitelium dan berisi ovum).3
e Parametrium
Jaringan ikat yang terdapat atara kedua lembar
ligamen latum disebut parametrium. Bagian atas ligament
latum yang mengandung tuba disebut mesosalpinx dan
bagian

caudalnya

yang

berhubungan

dengan

uterus

disebut mesometrium.3
B. HISTOLOGI

(Gambar 3 : Histologi dari uterus4)

Seperti pada tuba fallopi, dinding uterus juga terdiri


dari tiga lapisan yaitu tunika mucosa, tunika muscularis
dan

tunika

serosa.

Tunika

mucosa

dikenal

sebagai

endometrium. Terdiri atas jaringan epitel dan lamina


propia. Sel epitel berbentuk batang dan dibedakan menjadi
sel bersilia dan sel penggetah. Di bawah lapisan epitel

terdapat lamina propia yang mengandung banyak kelenjar


yang mengetahkan lendir. Dalam endometrium ditemukan
banyak

arteri

yang

melilit.Tunika

muscularis

terletak

dibawah tunika mucosa, lebih dikenal dengan sebutan


myometrium. Tunika serosa terdiri dari serat kolagen dan
fibroblast. Terkadang juga ditemukan serat elastis dan
retikulosa.4

(Gambar 4 : histologi dari vagina4)

Jaringan penyusun vagina terdiri dari tunika mucosa,


tunika muscularis dan tunika adventitia. Tunika mucosa
mengandung jaringan epitel berlapis dan mengelupas. Tidak ada
kelenjar lendir pada vagina. Lendir yang berada di vagina berasal
dari serviks. Pada lamina propia terdapat banyak serat elastik
dan limfosit. Terkadang juga ditemukan nodul limfa. Tunika
muscularis terletak diluar tunika mucosa, mengandung serat otot
polos dua lapis, sesuai dengan letak seratnya itu sirkuler dan
longitudinal.4
2. Etiologi keputihan
a. Keputihan Fisiologis :

1. Bayi yang baru lahir sampai umur kira kira 10 hari; disini
sebabnya

ialah

pengaruh

estrogen

terhadap uterus dan vagina janin.


2. Waktu disekitar menarche karena

pada

plasenta

mulai

terdapat

pengaruh estrogen; leukorea disini hilang sendiri, akan


tetapi dapat menimbulkan keresahan pada orang tuanya
sendiri.
3. Wanita dewasa yang apabila dia dirangsang sebelum dan
pada

waktu

koitus,

disebabkan

oleh

pengeluaran

transudasi dari dinding vagina.


4. Waktu disekitar ovulasi, dengan secret dari kelenjar
kelenjar serviks uteri juga bertambah pada wanita dengan
penyakit menahun, dengan neurosis, dan pada wanita
dengan ektropion porsions uteri.5
b. Keputihan patologis :
Adapun hal hal yang menjadi penyebab utama timbulnya
keputihan yang patologis adalah sebagai berikut:
1. Infeksi
Infeksi adalah masuknya bibit penyakit kedalam tubuh.
Salah satu gejalanya adalah keputihan. Infeksi yang sering
terjadi pada organ kewanitaan yaitu vaginitis, candidiasis,
trichomoniasis.5

Chlamidia Trachomatis
Bakteri ini sering menyebabkan penyakit pada mata
(trakoma) tetapi dapat juga ditemukan pada cairan vagina
dan terlihat melalui mikroskop setelah diwarnai dengan
pewarnaan Giemsa. Pada pemeriksaan Pap smear sukar
ditemukan adanya perubahan sel akibat infeksi klamidia ini
karena siklus hidupnya yang tak mudah dilacak.5

Gardnerella vaginalis

Bakteri ini biasanya mengisi penuh sel epitel vagina


dengan membentuk bentukan yang khas disebut sebagai clue
cell. Gardnerella menghasilkan asam amino yang diubah
menjadi senyawa amin yang menimbulkan bau amis seperti
ikan. Cairan vagina tampak keabu abuan.5

Treponema palidum
Bakteri

ini

merupakan

penyebab

sifilis.

Pada

perkembangan penyakit dapat terlihat sebagai kutil kutil kecil


di vulva dan vagina yang disebut kondiloma lata. Bakteri
berbentuk

spiral

dan

tampak

bergerak

aktif

pada

pemeriksaan lapangan gelap.5

Jamur
Jamur yang menyebabkan flour albus adalah dari

spesies kandida. Cairan yang keluar dari vagina biasanya


kental, berwarna putih susu dan sering disertai rasa
gatal. Vagina biasanya tampak kemerahan akibat proses
peradangan.

Dengan

KOH

10%

tanpak

(blastospora) atau hifa semu.5


Parasit
Etiologi flour albus terbanyak

sel

karena

ragi

parasit

biasanya disebabkan Trikomonas vaginalis. Parasit ini


berbentuk lonjong dan mempunyai bulu getar dan dapat
bergerak berputar putar dengan cepat. Gerakan ini
dapat dipantau dengan mikroskop. Cara

penularan

penyakit ini melalui senggama. Cairan yang keluar dari


vagina biasanya banyak, berbuih menyerupai air sabun
(berbusa), berwarna hijau kekuningan dan berbau. Fluor
albus oleh parasit ini tidak selalu gatal, tetapi vagina

tampak kemerahan dan timbul rasa nyeri bila ditekan


atau perih bila berkemih.5
Virus
Flour albus akibat infeksi virus sering disebabkan
oleh kondiloma akuminata dan herpes simpleks tipe 2.
Kondiloma ditandai dengan tumbuhnya kutil kutil yang
kadang sangat banyak dan dapat bersatu membentuk
jengger ayam yang berukuran besar. Penyebabnya
adalah Human Papiloma Virus. Cairan di vagina sering
berbau, tanpa rasa gatal. Virus lainnya yaitu Herpes
Simpleks Tipe 2 yang juga ditularkan melalui senggama.5
2. Non infeksi

Benda asing
Adanya benda asing seperti tertinggalnya kondom

atau benda tertentu yang dipakai pada waktu senggama,


adanya cincin pesarium yang digunakan wanita dengan
prolapsus uteri dapat merangsang pengeluaran cairan
vagina

yang

berlebihan.

Jika

rangsangan

ini

menimbulkan luka akan sangat mungkin terjadi infeksi


penyerta dari flora normal yang berada di dalam vagina
sehingga timbul flour albus.5
Neoplasma/Keganasan
Kanker akan menyebabkan flour albus patologis
akibat

gangguan

berlebihan
sangat

pertumbuhan

sehingga

cepat

secara

sel

menyebabkan
abnormal

dan

normal
sel

yang

bertumbuh

mudah

rusak,

akibatnya dapat terjadi pembusukan dan perdarahan


akibat pecahnya pembuluh darah yang bertambah untuk
memberikan makanan dan oksigen pada sel kanker
tersebut.5
Menopause

Flour albus pada menopause tidak semuanya


patologis. Saat menopause sel sel pada serviks uteri dan
vagina mengalami hambatan dalam pematangan sel
akibat tidak adanya hormone pemacu, yaitu estrogen.
Keadaan ini memudahkan terjadinya infeksi karena
tipisnya sel epitel sehingga mudah menimbulkan luka
dan akibatnya timbul fluor albus.5
Erosi
Pada masa reproduksi wanita, umumnya epitel kolumner
endocerviks lebih keluar ke arah portio sehingga tampak
bagian merah mengelilingi ostium uteri internum. Bila daerah
ini terkelupas akan memudahkan terjadinya infeksi penyerta
dari flora normal di vagina sehingga timbul flour albus.5
3. Faktor predisposisi keputihan
1. Faktor endogen :
a. Perubahan

fisiologik
Kehamilan, karena perubahan pH dalam vagina
Kegemukan, karena banyak keringat
Debilitas
Iatrogenik
Endokrinopati, gangguan gula darah kulit
Penyakit
kronik
:
tuberkulosis,
lupus
eritematosus dengan keadaan umum yang
buruk.
b. Umur : orang tua dan bayi lebih
sering terkena infeksi karena status
imunologiknya tidak sempurna.
c. Imunologik : penyakit genetik.6

2. Faktor eksogen :
a. Iklim, panas, dan kelembaban menyebabkan perspirasi
meningkat
b. Kebersihan kulit

c. Kebiasaan berendam kaki dalam air yang terlalu lama


menimbulkan maserasi dan memudahkan masuknya
jamur
d. Kontak

dengan

penderita,

misalnya

pada

thrush,

balanopostitis.6
4. Perbedaan keputihan fisiologis dan patologis
A. Fisiologis :
Sekretnya bening, terkadang mucus, banyak epitel, dan
jarang ditemukan leukosit.
Menjelang atau sesudah menstruasi
Pada saat keinginan seksual meningkat
Pada saat hamil7
B. Patologis :
Banyak ditemukan leukosit, berwarna kekuningan hingga
kehijauan, dan lebih kental. Lebih sering diakibatkan
olehinfeksi mikroorganisme.
Karena infeksi genitalia.
Benda asing, khususnya pada anak
Peserta KB IUCD
Manifestasi klinis keganasan7

5. Patomekanisme keputihan fisiologis dan keputihan


patologis

Vagina dilapisi epitel


bertingkat sel
superfisial vagina
dilepaskan ke rongga
vagina + glikogen oleh
basil Doderlein asam
laktat dan Hidrogen
peroksida pH 3,5-4,5

Transudasi cairan
dinding vagina

Bercampur dengan
sel vagina yg
rontok,asam
alifatik, &
mikrobakterial

Terbentuk
koagulum putih

Jumlah sekret
vagina (bervariasi
sesuai dgn siklus
menstruasi
memuncak saat
ovulasi)

KEPUTIHAN
KEPUTIHAN

(Bagan 1 : Patomekanisme keputihan patologis)8

Pada keadaan normal, cairan yang keluar dari vagina


wanita dewasa sebelum menopause terdiri dari epitel vagina,
cairan

transudasi

dari

dinding

vagina,

sekresi

dari

endoserviks berupa mucus, sekresi dari saluran yang lebih


atas

dalam

jumlah yang bervariasi

serta

mengandung

berbagai mikroorganisme terutama Laktobasilus doderlein.8


Peranan L.doderlein dianggap sangat penting dalam
menjaga suasana vagina dengan menekan pertumbuhan
mikroorganisme patologis karena basil doderlein mempunyai
kemampuan mengubah glikogen dari epitel vagina yang
terlepas menjadi asam laktat, sehingga vagina tetap dalam
keadaan asam dengan pH 3.0 4,5 pada wanita dalam masa
reproduksi. Suasana inilah yang mencegah mikroorganisme
patologis untuk tumbuh.8
Bila terjadi ketidakseimbangan suasana flora vagina
yang

disebabkan

oleh

beberapa

faktor

maka

terjadi

penurunan
jumlah

fungsi

glikogen

berkurang

maka

basil
karena
terjadi

doderlein
fungsi

dengan berkurangnya

proteksi

aktifitas

dari

basil

doderlein

mikroorganisme

patologis yang selama ini ditekan oleh flora normal vagina.


Progresifitas Mikroba patologis secara klinis akan memberikan
suatu reaksi inflamasi di daerah vagina. Sistem imun tubuh
akan bekerja membantu fungsi dari basil doderlein sehingga
terjadi pengeluaran leukosit PMN maka terjadilah flour albus.8
6. Patomekanisme gatal dan kemerahan berdasarkan
skenario

Infeksi
Reaksi peradangan oleh sel-sel
proinflamsi
Melepaskan sitokin dan
histamin
RASA GATAL DAN KEMERAHAN
(Bagan 2 : patomekanisme gatal dan kemerahan)8

Ada sejumlah flora normal pada vagina dan cerviks,


namun yang paling sering ditemui adalah Lactobacillus.
Bakteri ini mampu memecahkan glikogen yang berasal dari
sekret vagina dan cerviks. Asam laktat ini membentuk
semacam lapisan asam yang dapat mencegah proliferasi
bakteri

patologis

yang

biasanya

mudah

hidup

dan

berkembang di lingkungan yang basa .8


Kelenjar Bartholini dan kelenjar skene berpengaruh
pada proses ini. Sekeresi pada kelenjar ini bertambah pada
perangsangan, misalnya sewaktu coitus. Kelenjar kelenjar
tersebut akan meradang misalnya karena ada infeksi dengan
gonococcis maka sekret akan menjadi flour albus.8
Rasa gatal dan kemerahan yang timbul pada kasus ini
disebabkan oleh reaksi peradangan yang ditimbulkan sel-sel

proinflamasi. Sel-sel tersebut akan melepaskan berbagai


macam sitokin dan histamin yang akan memicu pruritis pada
pasien.8

7. Hubungan riwayat penggunaan IUD dengan keputihan


Penggunaan
IUD

(Bag

Gangguan
metabolisme
glikogen dan
ambilan
esterogen

Gangguan flora
normal vagina

Kandidiasis
Vagina

glikogen di epitel
vagina

Keputih
an

an 3 : hubungn riwayat penggunaan IUD dengan keputihan)9

AKDR merupakan salah satu Metode Kontrasepsi


Efektif Terpilih (MKET) oleh karena efektif dalam memberi
perlindungan terhadap terjadinya kehamilan. AKDR adalah
suatu alat berukuran kecil, terbuat dari plastik yang dibalut
dengan kawat halus tembaga dengan benang monofilamen
pada ujung bawahnya. AKDR ditempatkan didalam cavum
uteri dengan bagian benang monofilamen memanjang
sampai bagian atas vagina.8
Mekanisme kerja dari

AKDR

diantaranya

ialah

terjadinya reaksi endometrium terhadap adanya benda


asing

yang

dimungkinkan

dengan

adanya

tembaga,

dengan didapatkannya peningkatan jumlah leukosit dan


semua tipe sel darah putih yang terlibat pada reaksi benda
asing yang khas serta akan mempengaruhi enzim-enzim
endometrium, metabolisme glikogen dan pengambilan

estrogen yang akan menghambat perjalanan sperma juga


mengganggu impalntasi blastokis di dinding endometrium.8
Gangguan
dari
metabolisme
glikogen
dan
pengambilan esterogen akibat penggunaan AKDR akan
mendukung

terjadinya

pertumbuhan

kandida

dimana

glikogen yang tinggi pada epitel vagina akan membuat


Lactobacillus

(doderlein)

sebagai

flora

normal

vagina

kewalahan mengubahnya menjadi asam laktat. Sehingga


banyak glikogen yang nantinya gagal diubah menjadi asam
laktat,

kadar

glikogen

di

vagina

yang

meningkat

merupakan sumber karbon yang baik untuk pertumbuhan


kandida.8
8. Keuntungan dan kerugian IUD
Mekanisme kerja IUD dalam kavum uteri menimbulkan
reaksi peradangan endometrium disertai dengan sebukan
leukosit yang dapat menghancurkan Blastokista atau sperma,
selain itu pemeriksaan cairan uterus pada pemakaian IUD
seringkali di jumpai sel makrofag ( fagosit) yang mengandung
spermatozoa.
pemakaian

Selain

IUD

itu

terdapat

pada

penelitian

kontraksi

uterus

menyebutkan
yang

dapat

menghalangi nidasi karena peningkatan kadar prostaglandin


dalam uterus. Selain itu ion logam pada IUD menghambat
pergerakan Sperma.10
Keuntungan :
-

Umumnya hanya memerlukan satu kali pemasangan dan

dengan demikian satu kali motivasi


Tidak menimbulkan efek sistemik
Alat itu ekonomis
Efektivitas cukup tinggi
Refersibel. 10

Kerugian:

Perdarahan: seperti spotting, menoragia, dan metroragia


Rasa nyeri dan kejang di perut
Rasa tidak nyaman sewaktu senggama
Ekspulsi ( Pengeluaran Sensiri)
Cairan vagina bertambah.10

9. Langkah-langkah diagnosis berdasarkan skenario


a. Anamnesis

Sejak kapan mengalami keputihan


Bagaimana
konsistensi,
warna,

keputihannya
Riwayat penyakit sebelumnya
Riwayat penggunaan obat antibiotik atau kortikosteroid
Riwayat
penggunaan
bahan-bahan
kimia
dalam

membersihkan alat genialia


Higienis alat genitalia11

bau,

jumlah

dari

b. Pemeriksaan Fisis
Inspeksi : kekentalan, bau dan warna leukore
o Warna kuning kehijauan berbusa
:
( trichomonas)
o Warna kuning, kental
o Warna putih
o Warna merah muda
spesifik
Palpasi : pada kelenjar bartolini11
c. Pemeriksaan Ginekologi
Inspekulo
Pemeriksaan bimanual11
d Laboratorium
Pemeriksaan PH vagina
pH normal vagina : 3,8 4,5
Bacterial vaginosis

: >4,5

Candidiasis

: <4,5

: GO
: jamur
:
bakteri

parasit

non

Tricomoniasis

: >4,5

Pulasan dengan pewarnaan gram


N. gonorrhea memberikan gambaran adanya gonokkokus
intra

dan

ekstraseluler.

Gardnerella

vaginalis

memberikan gambaran batang-batang berukuran kecil,


gram negatif dan terdapat banyak sel epitel.

Pemeriksaan sediaan basah (saline wet mount)


Bacterial vaginosis : clue cells (+), dan peningkatan
leukosit
Candidiasis

KOH 10 %
Tricomoniasis
Kultur

: ditemukan hifa pada pemeriksaan


: protozoa dengan 3-5 flagel

Dengan kultur akan dapat ditemukan kuman penyebab


secara pasti, tetapi seringkali kuman tidak tumbuh
sehingga harus hati-hati dalam penafsiran.

Tes pap smear.


Pemeriksaan ini ditujukan untuk mendeteksi adanya
keganasan pada serviks.11

10. Differential diagnosa dari skenario


A. CANDIDIOSIS VULVOVAGINAL
1. Definisi
Kandidiosis vulvovaginal merupakan infeksi vagina
yang disebabkan oleh Candida spp terutama Candida
albicans.Diperkirakan

sekitar

50%

wanita

pernah

mengalami kandidiosis vulvovaginitis paling sedikit dua kali


dalam

hidupnya.

timbulnya

infeksi

Keadaan-keadaan
adalah

yang

kehamilan,

mendukung

pemakaian

pil

kontrasepsi, pemakaian kortikosteroid dan pada penderita


Diabetes Melitus.12
2. Gambaran Mikroskopis Candida albicans

C.albicans

merupakan

spesies

penyebab

infeksi

candida pada genitalia lebih dari 80% yaitu vaginitis dan


vulvovaginitis.Secara ketat, kandidiasis tidak dianggap di
tularkan secara seksual.13
Infeksi simtomatik timbul apabila terjadi perubahan
pada resistensi pejamu atau flora bakteri local.Faktor
predisposisi pada wanita adalah kehamilan, haid, diabetes
mellitus,

pada

pemakaian

kontrasepsi

dan

terapi

antibiotic.Baju dalan yang ketat, konstriktif dan sintetik,


sehingga
lembab

menimbulkan
untuk

lingkungan

kolonisasi

dapat

yang

hangat

menyebabkan

dan

infeksi

rekurent.13
Pada sebagian perempuan, reaksi hipersensitifitas
terhadap

produk-produk,

misalnya

pencuci

vagina,

semprotan deodorant dan kertas toilet dapat berperan


menimbulkan kolonisasi.Perempuan umumnya mengalami
infeksi akibat salah satu factor diatas sedangkan pada lakilaki umunya terjangkit infeksi melalui kontak seksual
dengan

perempuan

yang

mengidap

kandidiasis

vulvovagina. Keadaan yang saling menularkan antara


pasangan suami istri ini desebut femoma ping pong.13
3. Gejala klinis Kandidiosis Vulvovaginal (KV)

Duh tubuh vagina disertai gatal pada vula

Disuria eksternal dan dipareunia superfisial

Pada pemeriksaan tampak vulva eritem, edem dan lecet

Pada pemeriksaan spekulum tampak duh tubuh vagina


dengan jumlah yang bervariasi, konsistensi dapat cair atau
seperti susu pecah

Pada

kasus

yang

lebih

berat

pemeriksaan

inspekulo

menimbulkan rasa nyeri pada penderita.Mukosa vagina dan


ektoserviks tampak eritem, serta pada dinding vagina tampak
gumpalan putih seperti keju. Pemeriksaan pH vagina berkisar 44,5.12

(Gambar 5 : manifestasi klinis KV)12

1 Diagnosis
a Pemeriksaan langsung
Kerokan kulit atau usapan mukokutan diperiksa dengan
larutan KOH 10 % atau dengan pewarnaan gram, terlihat
sel ragi, blastospora, atau hifa semu
b Pemeriksaan biakan
Bahan yang akan diperiksa ditanam dalam agar dekstrosa
glukosa Sabouraud, dapat pula agar ini dibubuhi antibiotik
(kloramfenikol ) untuk mencegah pertumbuhan bakteri.
Perbenihan disimpan dalam suhu kamar atau lemari suhu
37 0C, koloni tumbuh setelah 24-48 jam, berupa yeast like
colony.Identifikasi

Candida

albicans

dilakukan

dengan

membiakkan tumbuhan tersebut pada corn meal agar.


c Leukorrhea yang bervariasi mulai dari cair sampai kental
dan sangat gatal (pruritus vulva)
d Dapat ditemukan rasa nyeri pada vagina, dispareunia, rasa
terbakar pada vulva dan iritasi vulva

e Tanda inflamasi : dapat ditemukan eritem (+), edem (+)


pada vulva dan labia, lesi diskret pustulopapular (+),
f

dermatitis vulva
Laboratorium : pH vagina < 4,5, Whiff test (-). Pada

sediaan gram : bentuk ragi (+) dan pseudohifa (+)


g Mikroskopik : leukosit, sel epitel, 80% pasien dengan gejala
terlihat : ragi (yeast) mycelia atau pseudomycelia12
2 Pengobatan
a. Klotrimazol 500 mg intravagina dosis tunggal atau 200 mg
b.
c.
d.
e.
f.

intravagina selama 3 hari atau


Nistatin 100.000 unit intravagina selama 14 hari atau
Fluconazole 150 mg peroral dosis tunggal atau
Itraconazole 200 mg 2 x 1 tablet selama 1 hari atau
Imidazole vagina krem, 1 tablet setiap hari selama3-7 hari
Wanita hamil sebaiknya hanya menggunakan penggunaan
topikal dengan tablet vagina.12

B. TRIKOMONIASIS
a. Definisi
Trikomoniasis adalah salah satu dari tiga infeksi vagina
yang paling umum pada wanita. Trikomoniasis disebabkan oleh
parasit Trichomonas vaginalis, sebuah organisme yang motile
dengan 4 flagella.12
b. Epidemiologi
Penyakit ini mengenai 180 juta perempuan di seluruh
dunia dan merupakan 10 sampai 25% dari infeksi vagina. Saat
ini, angka insidensi vaginitis trichomonal terus meningkat di
kebanyakan negara-negara industri.12
c. Gejala klinis
1. Peradangan

Pada

wanita,

trikomoniasis

dapat

menyebabkan

peradangan vaginitis pada wanita dan urethritis didalam


penis.
2. Keluarnya nanah berwarna kuning kehijau-hijauan dan
kadang berbusa
3. Bau yang kuat dan rasa sakit pada saat kencing atau
berhubungan seksual.
4. Iritasi dan gatal-gata disekitar vagina.
5. Sakit perut bagian bawah (jarang ditemukan).12

(Gambar 6 : infeksi parasit pada vagina12)

d. Pemeriksaan penunjang
1. Wet Mouth
Adalah metode yang paling umum digunakan untuk
mendiagnosis

trikomoniasis.

Metode

ini

menunjukkan

sensitivitas 60%. Untuk metode ini, spesimen ditempatkan


dalam medium kultur selama 2-7 hari sebelum diperiksa.
Jika trichomonas hadir dalam spesimen asli, merek akan
berkembang biak dan akan mudah terdeteksi. Hak ini baik
sangat spesifik dan sangat sensitif.12
2. Trichomonas Rapid Test
Tes diagnostik yng mendeteksi

antigen

untuk

trikomoniasis. Dengan memasukkan sampel usap vagina ke


dalam tabung reaksi dengan 0,5ml buffer khusus dengan
beberapa perlakuan dan kemudian hasilnya dapat dibaca

dalam waktu 10 menit. Uji ini lebih sensitif dibandingkan uji


wet mouth.12
3. Tes PH vagina
Trichomonas tumbuh terbaik di lingkungan asam
kurang, dan PH meningkat mungkin merupakan indikasi
trikomoniasis. Tes dengan menyentuhkan kertas PH pada
dinding vagina atau spesimen usap vagina, kemudian
membandingkan dengan skala warna untuk menentukan
PH.12
e. Pencegahan
1. Melakukan ANC selama masa kehamilan untuk skrining
IMS
2. Meningkatkan

higiene

perorangan

dan

sanitasi

lingkungan.
3. Seks yang aman dan dengan satu pasangan.
4. Peningkatan status sosial ekonomi.12
f. Pengobatan
1. Metronidazole 2 gr oral dosis tunggal
2. Metronidazole 500mg 2x/hari selama 7 hari, jika gagal
Metronidazole multidosis selama 7 hari dengan pasangan
3. Klotrimazole krim 1% selama 7 hari.12
g. Prognosis
Pada wanita terjadi penyembuhan spontan kira-kira
sebesar 2025% setelah 6 minggu pengobatan. Pemberian
antibiotik dapat mengobati 95% wanita yang terinfeksi
setelah 6 mingu pengobatan.12
C. BAKTERIAL VAGINOSIS
a. Definisi
Vaginosis bakterial adalah keadaan abnormal pada
ekosistem

vagina

yang

disebabkan

bertambahnya

pertumbuhan flora vagina bakteri anaerob menggantikan


Lactobacillus yang mempunyai konsentrasi tinggi sebagai
flora normal vagina.14

b. Epidemiologi
Penyakit bakterial vaginosis lebih sering ditemukan
pada wanita yang memeriksakan kesehatannya daripada
vaginitis jenis lainnya. Frekuensi bergantung pada tingkatan
sosial ekonomi penduduk pernah disebutkan bahwa 50 %
wanita aktif seksual terkena infeksi G. vaginalis, tetapi hanya
sedikit yang menyebabkan gejala sekitar 50 % ditemukan
pada pemakai AKDR dan 86 % bersama-sama dengan infeksi
Trichomonas.14
c. Etiologi
Penyebab bakterial vaginosis bukan organisme tunggal.
Pada suatu analisis dari data flora vagina memperlihatkan
bahwa ada 3 kategori dari bakteri vagina yang berhubungan
dengan bakterial vaginosis, yaitu :
1. Gardnerella vaginalis
2. Mycoplasma hominis
3. Bakteri anaerob.14

d. Patogenesis
Ekosistem vagina adalah biokomuniti yang dinamik
dan kompleks yang terdiri dari unsur-unsur yang berbeda
yang saling mempengaruhi. Salah satu komponen lengkap
dari ekosistem vagina adalah mikroflora vagina endogen,
yang terdiri dari gram positif dan gram negatif aerobik,
bakteri fakultatif dan obligat anaerobik. Aksi sinergetik dan
antagonistik antara mikroflora vagina endogen bersama
dengan komponen lain, mengakibatkan tetap stabilnya

sistem ekologi yang mengarah pada kesehatan ekosistem


vagina.

Beberapa

faktor/kondisi

yang

menghasilkan

perubahan keseimbangan menyebabkan ketidakseimbangan


dalam ekosistem vagina dan perubahan pada mikroflora
vagina.

Dalam

keseimbangannya,

ekosistem

vagina

didominasi oleh bakteri Lactobacillus yang menghasilkan


asam organik seperti asam laktat, hidrogen peroksida
(H2O2), dan bakteriosin.14
G. vaginalis sendiri juga merupakan bakteri anaerob
batang

variabel

gram

yang

mengalami

hiperpopulasi

sehingga menggantikan flora normal vagina dari yang


tadinya bersifat asam menjadi bersifat basa. Perubahan ini
terjadi

akibat berkurangnya

menghasilkan

hidrogen

jumlah Lactobacillus

peroksida.

Lactobacillus

yang
sendiri

merupakan bakteri anaerob batang besar yang membantu


menjaga

keasaman

vagina

dan

menghambat

mikroorganisme anaerob lain untuk tumbuh di vagina.14


Sekret vagina adalah suatu yang umum dan normal
pada wanita usia produktif. Dalam kondisi normal, kelenjar
pada serviks menghasilkan suatu cairan jernih yang keluar,
bercampur dengan bakteri, sel-sel vagina yang terlepas dan
sekresi dari kelenjar Bartolini.

14

Pada bakterial vaginosis dapat terjadi simbiosis antara


G.vaginalis sebagai pembentuk asam amino dan kuman
anaerob beserta bakteri fakultatif dalam vagina yang
mengubah asam amino menjadi amin sehingga menaikkan
pH

sekret

vagina

pertumbuhan

G.

sampai
vaginalis.

suasana

yang

Beberapa

sesuai

amin

bagi

diketahui

menyebabkan iritasi kulit dan menambah pelepasan sel

epitel dan menyebabkan sekret tubuh berbau tidak sedap


yang keluar dari vagina.14
e. Gambaran klinis

(Gambar 7 : Sekret vagina pada bakterial vaginosis 14)

Wanita dengan bakterial vaginosis dapat tanpa gejala.


Gejala yang paling sering pada bakterial vaginosis adalah
adanya cairan vagina yang abnormal (terutama setelah
melakukan hubungan seksual) dengan adanya bau vagina
yang khas yaitu bau amis/bau ikan (fishy odor). Bau tersebut
disebabkan oleh adanya amin yang menguap bila cairan
vagina menjadi basa. Cairan seminal yang basa (pH 7,2)
menimbulkan terlepasnya amin dari perlekatannya pada
protein dan amin yang menguap menimbulkan bau yang
khas. Walaupun beberapa wanita mempunyai gejala yang
khas,

namun

pada

sebagian

besar

wanita

dapat

asimptomatik. Iritasi daerah vagina atau sekitar vagina


(gatal, rasa terbakar), kalau ditemukan lebih ringan daripada
yang disebabkan oleh Trichomonas vaginalis atau C.albicans.
Sepertiga penderita mengeluh gatal dan rasa terbakar, dan
seperlima timbul kemerahan dan edema pada vulva. Nyeri

abdomen, dispareuria, atau nyeri waktu kencing jarang


terjadi, dan kalau ada karena penyakit lain.14
Pada pemeriksaan biasanya menunjukkan sekret vagina
yang tipis dan sering berwarna putih atau abu-abu, viskositas
rendah atau normal, homogen, dan jarang berbusa.1 Sekret
tersebut melekat pada dinding vagina dan terlihat sebagai
lapisan tipis atau kelainan yang difus. Gejala peradangan
umum tidak ada.6,7 Sebaliknya sekret vagina normal, lebih
tebal dan terdiri atas kumpulan sel epitel vagina yang
memberikan gambaran bergerombol. Pada penderita dengan
bakterial vaginosis tidak ditemukan inflamasi pada vagina
dan vulva.

14

f. Pemeriksaan penunjang
1. Pemeriksaan preparat basah
Dilakukan dengan meneteskan satu atau dua tetes
cairan NaCl 0,9% pada sekret vagina diatas objek glass
kemudian

ditutupi

dengan

coverslip.

Dan

dilakukan

pemeriksaan mikroskopik menggunakan kekuatan tinggi


(400 kali) untuk melihat clue cells, yang merupakan sel
epitel vagina yang diselubungi dengan bakteri (terutama
Gardnerella vaginalis).6,13 Pemeriksaan preparat basah
mempunyai sensitifitas 60% dan spesifitas 98% untuk
mendeteksi bakterial vaginosis. Clue cells adalah penanda
bakterial vaginosis.14
2. Whiff test
Whiff test dinyatakan positif bila bau amis atau bau
amin terdeteksi dengan penambahan satu tetes KOH 1020% pada sekret vagina. Bau muncul sebagai akibat
pelepasan amin dan asam organik hasil alkalisasi bakteri

anaerob.

Whiff

test

positif

menunjukkan

bakterial

vaginosis.14
3. Tes lakmus untuk pH
Kertas lakmus ditempatkan pada dinding lateral
vagina. Warna kertas dibandingkan dengan warna standar.
pH vagina normal 3,8 - 4,2. Pada 80-90% bakterial
vaginosis ditemukan pH > 4,5.14
4. Pewarnaan gram sekret vagina
Pewarnaan gram sekret vagina dari bakterial vaginosis
tidak

ditemukan

Lactobacillus

sebaliknya

ditemukan

pertumbuhan berlebihan dari Gardnerella vaginalis dan atau


Mobilincus Spp dan bakteri anaerob lainnya.14
5. Kultur vagina
Kultur Gardnerella vaginalis kurang bermanfaat untuk
diagnosis bakterial vaginosis. Kultur vagina positif untuk G.
vaginalis pada bakterial vaginosis tanpa grjala klinis tidak
perlu mendapat pengobatan.14
g. Diagnosis
Dengan hanya mendapat satu gejala, tidak dapat
menegakkan suatu diagnosis, oleh sebab itu didapatkan
kriteria klinis untuk bakterial vaginosis yang sering disebut
sebagai kriteria Amsel (1983) yang berpendapat bahwa
terdapat tiga dari empat gejala, yaitu :
1 Adanya sekret vagina yang homogen, tipis, putih, melekat
pada dinding vagina dan abnormal
2 pH vagina > 4,5
3 Tes amin yang positif, yangmana sekret vagina yang
berbau amis sebelum atau setelah penambahan KOH 10%
(Whiff test).

4 Adanya clue cells pada sediaan basah (sedikitnya 20 dari


seluruh epitel).
Gejala diatas sudah cukup untuk menegakkan diagnosis.
Kriteria diagnosis yang digunakan untuk wanita hamil adalah
sama.14
h. Penatalaksanaan
1 Terapi sistemik
a. Metronidazol merupakan antibiotik yang paling sering
digunakan

yang

memberikan

keberhasilan

penyembuhan lebih dari 90%, dengan dosis 2 x 400 mg


atau 500 mg setiap hari selama 7 hari. Jika pengobatan
ini

gagal,

amoksisilin)

maka
yang

diberikan

ampisilin

merupakan

pilihan

oral
kedua

(atau
dari

pengobatan keberhasilan penyembuhan sekitar 66%).


b. Klindamisin 300 mg, 2 x sehari selama 7 hari. Sama
efektifnya

dengan

metronidazol

untuk

pengobatan

bakterial vaginosis dengan angka kesembuhan 94%.


Aman diberikan pada wanita hamil.
c. Amoksilav (500 mg amoksisilin dan 125 mg asam
klavulanat) 3 x sehari selama 7 hari. Cukup efektif
untuk

wanita

hamil

dan

intoleransi

terhadap

metronidazol.
d. Tetrasiklin 250 mg, 4 x sehari selama 5 hari. 6
e. Doksisiklin 100 mg, 2 x sehari selama 5 hari. 6
f. Eritromisin 500 mg, 4 x sehari selama 7 hari. 6
g. Cefaleksia 500 mg, 4 x sehari selama 7 hari.14
2 Terapi Topikal
a Metronidazol gel intravagina (0,75%) 5 gram, 1 x sehari
selama 5 hari.
b Klindamisin krim (2%) 5 gram, 1 x sehari selama 7 hari.
c Tetrasiklin intravagina 100 mg, 1 x sehari.
d Triple sulfonamide cream.3,6 (Sulfactamid 2,86%,
Sulfabenzamid 3,7% dan Sulfatiazol 3,42%), 2 x sehari

selama 10 hari, tapi akhir-akhir ini dilaporkan angka


penyembuhannya hanya 15 45 %.
e Pengobatan bakterial vaginosis pada masa kehamilan.
Terapi

secara

rutin

pada

masa

kehamilan

tidak

dianjurkan karena dapat muncul masalah.14


Metronidazol

tidak

digunakan

pada

trimester

pertama kehamilan karena mempunyai efek samping


terhadap

fetus.

Penisilin

aman

digunakan

selama

kehamilan, tetapi ampisilin dan amoksisilin jelas tidak


sama efektifnya dengan metronidazol pada wanita tidak
hamil dimana kedua antibiotik tersebut memberi angka
kesembuhan yang rendah.14

i. Prognosis
Prognosis bakterial vaginosis dapat timbul kembali pada
20-30%

wanita

walaupun

tidak

menunjukkan

gejala.

Prognosis bakterial vaginosis sangat baik, karena infeksinya


dapat disembuhkan.14
D. SERVISITIS
1. SERVISITIS GONORRHE
a. Defenisi
Gonore

adalah

penyakit

menular

seksual

yang

disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae yang menginfeksi


lapisan dalam uretra, leher rahim, rektum dan tenggorokan
atau bagian putih mata (konjungtiva) dan bagian tubuh
yang lain.15
b. Epidemiologi
Walaupun semua golongan rentan terinfeksi penyakit
ini, tetapi insidens tertingginya berkisar pada usia 15-35

tahun. Di antara populasi wanita pada tahun 2000, insidens


tertinggi terjadi pada usia 15 -19 tahun (715,6 per
100.000)

sebaliknya

tertinggi

terjadi

100.000).

15

pada

pada

usia

laki-laki
20-24

insidens
tahun

rata-rata

(589,7

per

c. Etiologi
Gonore disebabkan oleh gonokok yang dimasukkan ke
dalam kelompok Neisseria, sebagai Neisseria Gonorrhoeae.
Gonokok termasuk golongan diplokok berbentuk biji kopi
dengan lebar 0,8 u, panjang 1,6 u, dan bersifat tahan
asam. Kuman ini juga bersifat negatif-Gram, tampak di luar
dan di dalam leukosit, tidak tahan lama di udara bebas,
cepat mati pada keadaan kering, tidak tahan suhu di atas
39 derajat C, dan tidak tahan zat desinfektan.

15

d. Gejala Klinis
Wanita yang mengalami cervicitis biasanya tidak
mengalami gejala, hanya ditemukan discharge berwarna
kekuningan, putih, atau abu-abu. Pasien biasanya
mengalami erythema pada cervix dan keluar discharge,
namun pasien tidak merasakan adanya keluhan. Pada
beberapa kasus pasien dapat mengalami adanya rasa
tertekan dan tidak nyaman pada area pelvic. Selain itu
pasien mengalami rasa sakit saat berhubungan seksual.15

(Gambar 8: Cervicitis Gonorrhea. Discharge yang tampak pada


endoservik.15)

e. Diagnosis
Pemeriksaan discharge dengan mikroskop biasanya
menunjukkan lebih dari 5 leukosit per bidang daya tinggi.
Kebanyakan pedoman merekomendasikan praktek ambang
10-30 polymorphonuclear (PMN) leukosit per bidang daya
tinggi untuk mendukung diagnosis cervicitis mukopurulen dan
DGNI positif. Pengecatan Gram dari cervical mucopus akan
menunjukkan bakteri Gram negative diplococcus. Kultur pada
media Thayer-Martin yang dimodifikasi adalah standar kriteria
untuk

mengkonfirmasikan

gonorrheae.

Enzyme-linked

immunosorbent assay or direct fluorescent antibody testing


sering digunakan untuk mendeteksi infeksi klamidia. DNA
probe

dengan

sensitivitas

90-97%

juga

tersedia

untuk

mendeteksi simultan organisme gonococcal dan klamidia.15


f. Treatment
Pasien diberikan antibiotik dengan pilihan salah satu dari:
1 Cefixime 400 mg orally in a single dose,
2 Ceftriaxone 125 mg IM in a single dose,
3 Ciprofloxacin 500 mg orally in a single dose,
4 Ofloxacin 400 mg orally in a single dose,
5 Levofloxacin 250 mg orally in a single dose,
6 Azithromycin 1 g orally in a single dose,

7 Doxycycline 100 mg orally twice a day for 7 days.


Seperti terapi jenis SDV yang lain, sebaiknya pengobatan
dilakukan

pada

pasangan

berhubungan

seks,

dan

juga

abstinence hingga sembuh total.15


2. INFEKSI NON GONORE
a. Definisi
Urethritis

Non-Gonokokal

(GNO)

biasa

disebut

sebagai Urethritis Non-Spesifik. Gejalanya mirip dengan


gonorhea atau kencing nanah, namun terapi yang biasa
diberikan kepada gonorhea tidak akan dapat bekerja.
Selain itu, GNO disebabkan oleh bakteri yang disebut
sebagai Chlamydia trachomatis dan beberapa jenis bakteri
lainnya termasukureaplasma urealyticum, mycoplasma,
dan trichomonas-yang dapat mengakibatkan gejala seperti
pada GNO.

16

b. Manifestasi Klinis
Banyak pasien, termasuk sekitar 25% dari mereka
dengan GNO, tidak memiliki gejala dan diketemukan saat
skrining pasangannya. Lebih dari 75% wanita dengan
infeksi C trachomatis bersifat asimptomatis.
1. Waktu : Gejala, secara umum, sejak 4 hari hingga 2
minggu

setelah

kontak

dengan

pasangan

yang

terinfeksi atau pasien juga dapat tidak memiliki gejala.


2. Duh urethra : Cairan yang dapat berwarna kekuningan,
hijau, kecoklatan atau disertai bercak bercak darah
dan

jumlah

produksinya

tidak

berkaitan

dengan

aktifitas seksual.
3. Disuria : Disuria biasanya terlokalisasi pada lubang luar
penis atau bagian distalnya, memburuk saat kencing
pagi

hari

pertama

kali,

dan

diperburuk

dengan

konsumsi

alkohol.

Frekuensi

urinasi

dan

urgensi

biasanya tidak disertai. Namun jika ada, pasien boleh


jadi memiliki prostatitis atau radang kandung kemih.
4. Gatal : sebuah sensasi dari gatal pada urethra atau
iritasi dapat bertahan ketika urinasi, dan beberaa
pasien memiliki gejala gatal dibandingkan nyeri atau
rasa terbakar.
5. Orchalgia : pria biasanya mengeluh rasa berat pada alat
kelaminnya. Berkaitan dengan nyeri pada testis yang
mengarahkan kecurigaan kepada epididimitis, orchitis,
atau keduanya.
6. Siklus Menstruasi : Wanita biasanya mengeluh tentang
perburukan gejala saat mens.
7. Benda asing atau instrumentasi
ditanyakan

mengenai

penggunaan

Pasien
kateter

harus
urethra

beberapa waktu yang lalu atau instrumentasi lainnya,


baik secara medical maupun secara mandiri. Prosedur
tersebut dapat menyebabkan urethritis traumatis.16
Gejala sistemik : Gejala sistematis (cth demam,
mengigil, berkeringat, mual) biasanya tidak ada, namun
bila

didapatkan,

gonokosemia,

biasanya

pyelonephritis,

menandakan
arthritis,

disseminasi
konjungtivitis,

proctitis, prostatitis, epididymitis, atau orchitis, pneumonia,


otitis media, nyeri punggung bawah (cth, reaktif arthritis),
iritis,

atau

ruam

(karakteristiknya

tangan atau telapak kaki).

mencakup

telapak

16

c. Penunjng Diagnosis
1 Pemeriksaan Laboratorium
Urethritis dapat didiagnosa berdasarkan adanya satu
atau lebih dari hal berikut : 1) Duh urethra purulen atau

mukopurulen, 2) hapusan duh urethra yang menunjukkan


adanya, paling tidak, 5 leukosit pe lapang minyak imersi
secara

mikrospkopis,

pertama

yang

dan

3)

menunjukkan

spesimen
leukosit

urine

miksi

esterase

pada

pemeriksaan dipstik atau paling tidak 10 sel darah putih


lapang

pandang

urethritis

harus

mikroskop.
diuji

trachomatis.16
2 Pewarnaan Gram
Kultur
urethra
trachomatis
a. Kultur endourethra,

Seluruh

untuk N

untuk N
diperlukan

pasien

dengan

Gonorrhoeae dan C

gonorrhoeae dan C
untuk

pengujian

infeksi C trachomatis. Kultur endoservikal harus pula


didapatkan bagi wanita.
b. Kultur ini kemungkinan berguna sebagai alat skrining
untuk N gonorrhoeae yang memproduksi penicillinase
atau secara kromosom dapat memediasi ketahanan
terhadap berbagai antibiotik. Dan melakukan skrining
ini bersifat tidak efektif biaya.16
3 Preparat Basah : Sekresi akan menunjukkan adanya
pergerakan dari organisme trichomonas, apabila ada.16
4 Pengujian PMS : Pasien dengan urethritis harus
dikonsultasikan untuk resiko penyakit menular seksual
yang lebih serius, seperti uji serologi sifillis (Venereal
Disease Research Laboratory Test atau Rapid Plasma
Reagin Test) dan Serologi HIV.16
5 Tes lainnya : Pasien dengan arthritis reaktif didiagnosa
berdasarkan adanya GNO dan temuan klinis dari uveitis
dan arthritis. Uji HLA-B27 memiliki nilai yang terbatas.
Lebih tersedia perangkat-pernagkat seperti peningkatan
laju endap darah (LED) pada faktor rheumatoid, mungkin
dapat berguna.16

d. Pengobatan
Antibiotik :Azithromycin.
Dalam dosis 2 g, dapat mengobati baik urethritis
gonococcal dan non-gonokokal urethritis. Obat ini merupakan
pilihan terapi dan dapat ditoleransi dengan baik oleh pasien.
Pengobatan membutuhkan 8 tablet besar, dan juga tersedia
dalam bentuk cair. Sediaan : Suspensi oral ( 100 mg/5 ml &
200mg/5ml ), serbuk injeksi (500mg), serbuk untuk suspensi
oral ( 1g), dan tablet (250 mg, 500mg, dan 600 mg).16
Doxycycline.

Obat

ini

hanya

mampu

mengobati

non-

gonokokal urethritis (GNO) saja. Dosis : Awal : 200 mg/hari


terbagi 2 kali sehari PO/IV atau IV diberikan 1x/hari, Lanjut :
dosis rumatan : 100 200 mg/ hari terbagi tiap 12 jam
PO/IV.16
Tabel Differential diagnosa sesuai gejala pada skenario :

Gejala

Candidia
sis

Trichomoni
asis

Bakteri
al

Gonore

Non
gonore

Purulent
(kekuning
an)

Kekuning
an

vaginos
is
Wanita, 26
tahun

Sekret
putih dan
bergumpa
l

Sekret kuning Sekret


kehijauan
putih/abuabu

Gatal

Kemeraha
n

Riwayat

pengguna
an IUD

Dari

tabel

diatas,

disimpulkan

bahwa

kemungkinan

dignosis penyakit pada skenario adalah Candidiasis.

11. Komplikasi keputihan


a PID (Pelvic Inflammatory Disease), Endometritis post
partum.
Bila penyakit keputihan ini tidak diobati secara tuntas
,maka infeksi dapatmerembet ke rongga rahim kemudian
kesaluran telur dan sampai ke indung telur dan akhirnya
ke dalam rongga Panggul .
b KPD (Ketuban Pecah Dini)
Wanita hamil yang terkena keputihan akibat infeksi jamur.
Jika

jamur ini tak segera diobati, ia bisa naik ke

atasmenyebabkan ketuban pecah dini dan menimbulkan


prematuritas sampai kematian janin.
c Infertilitas
Keputihan yang disebabkan infeksi kuman, bakteri, jamur
atau infeksi campuran akan menimbulkan gangguan
reproduksi sehingga memicu terjadinya kemandulan.8
12. Pencegahan keputihan
a. Setelah BAK, gunakan air mengalir atau air hangat untuk
membersihkan daerah kewanitaan
b. Biasakan menyiram toilet sebelum menggunakannya
untuk

meminimalkan

kontaminasi

mikroorganisme,

terlebih di toilet umum. Sebisa mungkin gunakan air


yang mengalir untuk membersihkan organ kewanitaan
c. Cara
membersihkan
vagina
adalah
dengan
membersihkan bagian depan terlebih dahulu setelah itu
bagian belakang. Demikian juga setelah BAB, bersihkan
dahulu bagian vagina dan uretra hingga tuntas kemudian
bersihkan di daerah anus. Daerah anus memiliki banyak
kuman dan mebersihkan anus dan vagina secara bolakbalik akan memudahkan vagina terinfeksi kuman dari
anus
d. Pakailah sabun yang sesuai dengan pH kulit agar tidak
terjadi perubahan pH kulit yang dapat memudahkan
bakteri untuk masuk
e. Jangan gunakan celana jeans, karena dapat menutup
pori-pori kulit sehingga terjadi kelembapan pada vagina.
Hal ini akan membuat pH vagina berubah
f. Saat menstruasi, pembalut sebaiknya diganti 3-4 kali
sehari agar menghindari kelembapan dan pertumbuhan
bakteri
g. Konsumsi Vitamin C 500 mg 2x1 hari untuk Asiditas pH
vagina
h. Biasakan BAK setelah melakukan hubungan seksual.
Cara ini berguna untuk mencegah terjadinya infeksi
saluran kemih.17
13. Perspektif Islam sesuai skenario
a. SURAH AN-NISA AYAT 19



(19)





Artinya:

Wahai

orang-orang

beriman,

tidak

halal

bagi

kalian

mewariskan perempuan-perempuan dengan jalan paksa dan


janganlah kalian menyulitkan mereka karena ingin mengambil
sebagian dari apa yang telah kalian berikan kepada mereka
kecuali apabila mereka melakukan perbuatan keji yang nyata.
Dan pergaulilah mereka dengan cara yang baik. Jika kalian
tidak menyukai mereka maka bisa jadi kalian membenci
sesuatu padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak
padanya.
b. SURAH AN-NUR AYAT 30





: Artinya
Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, "Hendaklah
mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya;
yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya
".Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat
c. SURAH AL-BAQARAH AYAT 223





Artinya : Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu
bercocok-tanam, maka datangilah tanah tempat bercocoktanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah
(amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah
dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan
berilah kabar gembira orang-orang yang beriman. Qs.2:223

DAFTAR PUSTAKA
1. Anna, dkk. 2006. Keluarga Berencana dan Kesehatan
2.

Reproduksi . Jakarta : EGC


Ida bagus gde manuaba. 2000. Penuntun kepanitraan
klinik obsetri dan ginekologi. Edisi Jakarta,Penerbit buku

kedokteran EGC. Hal 242


3. Snell, R. 2006. Anatomi

Klinik

Untuk

Mahasiswa

Kedokteran. Edisi 6. Jakarta : EGC


4. Junqueira L. C., Carneiro J.1992. Histologi Dasar, Edisi 3,
Buku Kedokteran EGC, Jakarta
5. Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obstetri: Obstetri
Fiologi/Obstetri Patologi Edisi 2. Jakarta: ECG
6. Djuanda, A., Hamzah, M & Aisah, S. (2005). Ilmu
Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta: FKUI

7. Ida bagus gde manuaba. 2000. Penuntun kepanitraan


klinik obsentri dan ginekologi. Edisi Jakarta,Penerbit
buku kedokteran EGC. Hal 242
8. Anwar,Mohhamad. 2011. Ilmu kandungan edisi ketiga.
Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo
9. Darmani, Endang Herliyanti. 2003. Hubungan antara
Pemakaian AKDR dengan Kandidiasis Vagina. Medan:
Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
10. Prawirohardjo, Sarwono, 2014, Ilmu Kebidanan.
Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo
11. Benson, Ralphc C. & Martin L. 2009. Buku Saku
Obstetri dan Ginekologi Edisi 9. Jakarta : EGC
12.

Kuswadji.Kandidosis.Dalam : Djuanda A., Hamzah M.,

Aishah S., Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi IV, Balai
Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,
Jakarta, 2006. Pp:103-6
13.

Jawetz, M. 2007. Mikrobiologi Kedokteran. Jakarta :

EGC
14. Makmur AAA, Ilyas SF. 2004. Trikomoniasis. Makassar
; Bagian Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin FK UNHAS
15. Daili SF, Makes WIB, Zubier,F. 2003. Vaginosis
bakterial. Edisi kedua. Jakarta : FK UI
16. Behrman, A.J. & Shoff, W.H., 2009. Gonorrhea,
University of Pennsylvania.
17. Sari Wening, 2012. Panduan Lengkap Kesehatan
Wanita. Jakarta : penebar plus Halaman 105-106