Anda di halaman 1dari 4

SK Dirjen Dikti Kemenbud No

2/Dikti/Kep/2002 (organ ekstra dilarang


melakukan propaganda dan kampanye di
dalam kampus)
Posted on Januari 6, 2013 by ariefjundan

Merupakan pelanggaran melakukan propaganda dan kampanye bagi


organisasi ekstra kampus maupun partai politik di dalam kampus.
Peraturan itu berdasarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan
Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (SK Dirjen Dikti
Kemendikbud) No 2/Dikti/Kep/2002. Saya mengetahui hal itu sejak
menjadi mahasiswa baru yang pada saat itu akan mengikuti Masa
Penerimaan Angggota Baru (MAPABA), bersama sahabat-sahabat saya
mengibarkan bendera kebanggaan kami di depan kopma kampus III IAIN
Walisongo Semarang, ada beberapa mahasiswa smester atas (saya
menyebutnya) membentantak kami, selang beberapa menit kami
melaporkan hal tersebut kepada senior panitia MAPABA, akan tetapi
jawabanya kita yang salah dek, gulung benderanya.
Sebagai bagian dari organisasi pergerakan mahasiswa, di benak saya
muncul pertanyaan besar atas kebijakan yang sebenarnya sudah usang
itu. Saya bukan sekadar menyayangkan karena organisasi pergerakan
mahasiswa tidak mendapatkan lagi ruang untuk melakukan sosialisasi di
kampus, tetapi juga mengkhawatirkan kondisi kampus yang tak lain
adalah sebagai ruang kaderisasi generasi muda bangsa.
Gerakan mahasiswa merupakan salah satu elemen masyarakat yang tidak
dapat dilepaskan dari perjalanan bangsa Indonesia. Sejarah telah
membuktikan bahwa peran mahasiswa cukup besar dalam mendorong
perubahan baik pada masa sebelum maupun setelah kemerdekaan. Selain
dikenal sebagai golongan yang memiliki semangat muda dan sifat kritis,
mahasiswa juga relatif bersih dari berbagai kepentingan. Tidak berlebihan
jika kemudian muncul sebutan gerakan mahasiswa sebagai gerakan moral
atau moral force.
Secara umum hakikat gerakan mahasiswa adalah perubahan. Ia tumbuh
karena adanya dorongan untuk mengubah kondisi kehidupan untuk
digantikan oleh situasi baru yang dianggap memenuhi harapan (Albatch,

1998). Salah satu ciri khas dari organisasi pergerakan adalah kondusifnya
iklim diskusi baik tentang teori sosial, wacana kiri, maupun isu-isu
kontemporer. Diskusi tema-tema seperti ini yang jarang dilakukan di
bangku perkuliahan.
Wajar jika organisasi pergerakan mahasiswa disebut juga sebagai dapur
wacana bagi mahasiswa era 1998. Selain itu, jaringan (networking) yang
luas serta jenjang pengkaderan yang sistematis menjadikan organisasi
pergerakan mahasiswa menjadi memiliki peran lebih. Hal ini dapat dilihat
dari eksistensi dan peran organisasi pergerakan mahasiswa dari masa ke
masa.
Pelabelan organisasi pergerakan mahasiswa sebagai organ ekstrakampus
merupakan kebijakan politis Orde Baru (Orba) untuk membedakan antara
organisasi yang kooperatif dan nonkooperatif. Organisasi intrakampus
atau organisasi kooperatif ini ada di dalam struktur kampus seperti Unit
Kegiatan Mahasiswa (UKM), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Dewan
Mahasiswa (DEMA), dan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ).
Semuan perizinan dan pendanaan organisasi tersebut berasal dari
kampus. Pada masa Orba, organisasi intrakampus tidak berani melakukan
perlawanan secara terbuka sebagaimana organisasi ekstrakampus karena
terancam dicabut perizinan dan pendanaannya dari pihak kampus.
Sebaliknya, organisasi ekstrakampus seperti Pergerakan Mahasiswa Islam
Indonesia (PMII), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Gerakan Mahasiswa
Nasionalis Indonesia (GMNI), dan KAMMI memilki peluang yang besar
untuk melakukan kritik terhadap pemerintah yang berkuasa karena
posisinya berada di luar struktur kampus.
Pemerintah lebih sulit membekukan organisasi ekstrakampus daripada
intrakampus. Untuk mensiasati agar tidak dibekukan, pada era reformasi
1998 organisasi intrakampus dan ekstrakampus bekerja sama dengan
cara membuat organ-organ baru di luar organisasi yang sudah ada,
misalnya Solidaritas Mahasiswa Peduli Bangsa (SMPB), Solidaritas
Mahasiswa Peduli Tanah Air (SMPTA) dan organisasi taktis lainnya.

Kerja Sama

Dampak paling kentara dari kebijakan Dirjen Dikti Kemendikbud tersebut


adalah saat penerimaan mahasiswa baru setiap organisasi mahasiswa
ekstrakampus dilarang mendirikan stan atau tempat promosi sebagai
ajang bersosialisasi kepada mahasiswa. Secara tidak langsung hal itu
mengurangi gerak organisasi ekstrakampus di dalam kampus dan
menghambat proses kaderisasi dalam organisasi.
Pelarangan organisasi ekstrakampus melakukan sosialisasi di dalam
kampus bukanlah hal baru. Pada masa Orba, pelarangan dilakukan karena
pemerintah saat itu tidak menginginkan mahasiswa membicarakan politik.
Hal itu dinilai dapat menimbulkan kritik yang berujung pada aksi turun ke
jalan. Ini juga yang mungkin dikhawatirkan oleh pemerintah yang
berkuasa saat ini. Untuk menekan kekhawatiran tersebut, lahirlah
kebijakan melarang organisasi ekstrakampus melakukan propaganda
maupun sosialisasi di kampus.
Adanya pelarangan kegiatan organisasi pergerakan mahasiswa
ekstrakampus di dalam kampus tidak sekadar melupakan peran organisasi
ekstrakampus pada masa lalu, tetapi juga akan melumpuhkan nalar kritis
mahasiswa dan relasinya dengan realitas di tengah masyarakat. Dampak
jangka panjangnya adalah hilangnya rasa keberpihakan kaum intelektual
kepada masyarakat marginal atau masyarakat tertindas.
Rasa keberpihakan inilah salah satu yang membedakan antara organisasi
intrakampus dan ekstrakampus. Yang muncul kemudian adalah
mahasiswa hanya menjadi kaum intelektual yang bekerja berdasarkan
asas profesionalisme. Dia tidak mau tahu bekerja kepada siapa dan untuk
apa. Hal inilah yang menurut Antonio Gramsci disebut sebagai intelektual
tradisional yang justru menghambat proses perubahan.
Untuk membangun nalar kritis mahasiswa, kerja sama antara
organisasi/lembaga intrakampus dan ekstrakampus tetap diperlukan
untuk menjaga dan mengingatkan fungsi mahasiswa sebagai agen
perubahan (agen of change). Kerja sama ini juga dilakukan gerakan
mahasiswa pada 1998 dan periode gerakan sebelumnya. Adanya kerja
sama ini tentu saling melengkapi satu sama lain dan memiliki kekuatan
yang besar untuk mendorong lahirnya perubahan ke arah yang lebih baik.

Ketika mahasiswa sudah memiliki kesadaran dan keberpihakan kepada


masyarakat pinggiran, kalangan marginal, perubahan tentu dapat
diciptakan. Ada banyak alternatif pilihan gerakan yang dapat diambil
mahasiswa untuk mengawal perubahan seperti menulis, berwirausaha,
pengabdian masyarakat dan hal-hal lain yang bermanfaat bagi
masyarakat.
Hidup Mahasiswa!!
Hidup Rakyat Indonesia!!
Salam Pergerakan!!