Anda di halaman 1dari 22

REFERAT

FRAKTUR TERBUKA

PEMBIMBING:
dr. Wahyu Sp OT

PENULIS:
Bernadin Rexy A W 03011055
Ghaysa Miara Bahar 0301113
Nabilah Ahmad M 03011205
Shelina Nuriyanisa 03011272

KEPANITERAAN KLINIK ILMU BEDAH


RSUD DR. SOESELO SLAWI
PERIODE FEBRUARI APRIL 2016
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
LEMBAR PENGESAHAN

Referat dengan judul:


FRAKTUR TERBUKA
Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat menyelesaikan Kepaniteraan Klinik Ilmu Bedah
RSUD dr. Soeselo periode Februari April 2016

Disusun oleh:
Bernadin Rexy A W 03011055
Ghaysa Miara Bahar 0301113
Nabilah Ahmad M 03011205
Shelina Nuriyanisa 03011272

Telah diterima dan disetujui oleh dr. Wahyu Sp OT selaku dokter pembimbing Bedah Orthopedi
RSUD dr. Soeselo pada tanggal Maret 2016

Slawi, Maret 2016


Mengetahui,

dr. Wahyu Sp OT
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah karena atas rahmat dan karunianya,
penulis akhirnya dapat menyelesaikan referat ini. Penulis mengucapkan terima kasih kepada
seluruh staf pengajar di SMF Bedah RSUD DR soeselo Slawi, terutama kepada
dr Wahyu Sp OT selaku pembina kami atas segala waktu dan bimbingan yang telah diberikan
kepada kami. Dan penulis juga mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah
membantu dalam penyelesaian referat ini.
Sebagai manusia, penulis menyadari bahwa referat ini masih memiliki banyak kesalahan,
sehingga penulis sangat mengharapkan kritik dan masukan yang membangun dari segala pihak.
Akhir kata, penulis berharap semoga referat ini bermanfaat untuk berbagai pihak yang telah
membaca referat ini

BAB I

PENDAHULUAN
Fraktur terbuka merupakan suatu keadaan darurat yang memerlukan penanganan yang
terstandar untuk mengurangi resiko infeksi. Selain mencegah infeksi juga diharapkan terjadi
penyembuhan fraktur dan restorasi fungsi anggota gerak. Beberapa hal yang penting untuk
dilakukan dalam penanggulangan fraktur terbuka yaitu operasi yang dilakukan dengan segera,
secara hati-hati, debridemen yang berulang-ulang, stabilisasi fraktur, penutupan kulit dan bone
grafting yang dini serta pemberian antibiotik yang adekuat. Sepertiga dari pasien fraktur terbuka
biasanya mengalami cidera multipel. 1
Fraktur terbuka terjadi dalam banyak cara, dan lokasi serta tingkat keparahan cideranya
berhubungan langsung dengan lokasi dan besarnya gaya yang mengenai tubuh. Fraktur terbuka
dapat disebabkan oleh luka tembak, trauma kecelakaan lalu lintas, ataupun kecelakaan kerja yang
berhubungan dengan himpitan pada jaringan lunak dan devitalisasi.2
Fraktur terbuka sering membutuhkan pembedahan segera untuk membersihkan area
mengalami cidera. Karena diskontinuitas pada kulit, debris dan infeksi dapat masuk ke lokasi
fraktur dan mengakibatkan infeksi pada tulang. Infeksi pada tulang dapat menjadi masalah yang
sulit ditangani. Gustilo dan Anderson melaporkan bahwa 50,7 % dari pasien mereka memiliki
hasil kultur yang positif pada luka mereka pada evaluasi awal. Sementara 31% pasien yang
memiliki hasil kultur negatif pada awalnya, menjadi positif pada saat penutupan definitf. Oleh
karena itu, setiap upaya dilakukan untuk mencegah masalah potensial tersebut dengan
penanganan dini.

2,3,5

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian
Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan/atau tulang
rawan yang umumnya disebabkan oleh tekanan yang berlebihan. Trauma yang menyebabkan
tulang patah dapat berupa trauma langsung dan trauma tidak langsung. Trauma langsung
menyebabkan tekanan langsung pada tulang dan terjadi fraktur pada daerah tekanan. Trauma
tidak langsung, apabila trauma dihantarkan ke daerah yang lebih jauh dari daerah fraktur.
Fraktur secara klinis dibedakan atas fraktur tertutup dan fraktur terbuka. Fraktur terbuka
merupakan suatu fraktur dimana terjadi hubungan dengan lingkungan luar melalui kulit sehingga
terjadi kontaminasi bakteri sehingga timbul komplikasi berupa infeksi. Luka pada kulit dapat
berupa tusukan tulang yang tajam keluar menembus kulit (from within) atau dari luar oleh karena
tertembus misalnya oleh peluru atau trauma langsung (from without).6
B. Epidemiologi
Frekuensi dari fraktur terbuka bervariasi tergantung dari faktor geografis dan
sosioekonomis, populasi penduduk, dan trauma yang terjadi. Dari data yang diambil dari
Universitas Gadjah Mada didapatkan insidensi fraktur terbuka sebesar 4% dari seluruh fraktur
dengan perbandingan laki-laki dan perempuan 3,64 : 1 dan kelompok umur mayoritas dekade
dua atau dekade tiga, dimana mobilitas dan aktifitas fisik tergolong tinggi. 3,4 Sedangkan insiden
fraktur terbuka di Edinburgh Orthopaedic Trauma Unit di Skotlandia mendata sebanyak 21.3
kasus per 100.000 dalam setahun. Fraktur diafisis menduduki peringkat terbanyak pada tibia
(21,6%), disusul oleh femur (12,1%), radius dan ulna (9,3%), dan humerus (5,7%). Pada tulang
panjang, fraktur terbuka diafiseal lebih sering terjadi dibanding metafiseal (15.3 % versus
1.2%).7,8

Lokasi
Ekstremitas atas

Jumlah kasus fraktur Fraktur Terbuka


15,406

503

% Fraktur Terbuka
3.3

Ekstremitas bawah

13,096

488

3.7

Lingkar bahu

1,448

0.2

Pelvis

942

0.6

Tulang Belakang

683

0.0

Total

31,575

1,000

3.17

Tabel 1.1 Frekuensi Relatif dari Fraktur Terbuka di Edinburgh Orthopaedic Trauma
Unit7,8
C. Klasifikasi
Menurut Gustilo dan Anderson, fraktur terbuka dibagi menjadi 3 kelompok :
1. Tipe I

: Luka kecil kurang dari 1cm panjangnya, biasanya karena luka tusukan dari

fragmen tulang yang menembus kulit. Terdapat sedikit kerusakan jaringan dan tidak terdapat
tanda-tanda trauma yang hebat pada jaringan lunak. Fraktur yang terjadi biasanya bersifat
simple, transversal, oblik pendek atau sedikit komunitif.
2. Tipe II

: Laserasi kulit melebihi 1cm tetapi tidak ada kerusakan jaringan yang hebat atau

avulsi kulit. Terdapat kerusakan yang sedang dari jaringan dengan sedikit kontaminasi
fraktur.
3. Tipe III

: Terdapat kerusakan yang hebat dari jaringan lunak termasuk otot, kulit dan

struktur neurovaskuler dengan kontaminasi yang hebat. Tipe ini biasanya di sebabkan oleh
karena trauma dengan kecepatan tinggi. Tipe 3 di bagi dalam 3 sub tipe:

Tipe IIIA : Jaringan lunak cukup menutup tulang yang patah walaupun terdapat laserasi
yang hebat ataupun adanya flap. Fraktur bersifat segmental atau komunitif yang hebat

Tipe IIIB: fraktur disertai dengan trauma yang hebat dengan kerusakan dan kehilangan
jaringan, terdapat pendorongan periost, tulang terbuka, kontaminasi yang hebatserta
fraktur komunitif yang hebat.

Tipe IIIC: fraktur terbuka yang disertai dengan kerusakan arteri yang memerlukan
perbaikan tanpa memperhatikan tingkat kerusakan jaringan lunak.6

Gambar 1. Klasifikasi Fraktur Terbuka Berdasarkan Gustilo dan Anderson


D. Etiologi
Penyebab fraktur adalah trauma yang mengenai tulang, dimana trauma tersebut
kekuatannya melebihi kekuatan tulang. Penyebab tersering fraktur terbuka adalah trauma dengan
velositas tinggi seperti gun shot wound (GSW), motor vehicle accident (MVA), dan jatuh dari
ketinggian.9
Trauma bisa terjadi secara langsung dan tidak langsung. Dikatakan langsung apabila
terjadi benturan pada tulang dan mengakibatkan fraktur di tempat itu, dan secara tidak langsung
apabila titik tumpu benturan dengan terjadinya fraktur berjauhan.
Menurut Sachdeva (1996), penyebab fraktur dapat dibagi menjadi tiga yaitu :
I.

Cedera traumatik
Cedera traumatik pada tulang dapat disebabkan oleh :

a. Cedera langsung berarti pukulan langsung terhadap tulang sehingga tulang patah
secara spontan. Pemukulan biasanya menyebabkan fraktur melintang dan
kerusakan pada kulit diatasnya.
b. Cedera tidak langsung berarti pukulan langsung berada jauh dari lokasi benturan,

II.

misalnya jatuh dengan tangan berjulur dan menyebabkan fraktur klavikula.


c. Fraktur yang disebabkan kontraksi keras yang mendadak dari otot yang kuat.
Fraktur Patologik
Dalam hal ini kerusakan tulang akibat proses penyakit dimana dengan trauma minor
dapat mengakibatkan fraktur dapat juga terjadi pada berbagai keadaan berikut :
a. Tumor tulang (jinak atau ganas) : pertumbuhan jaringan baru yang tidak
terkendali dan progresif.
b. Infeksi seperti osteomielitis : dapat terjadi sebagai akibat infeksi akut atau dapat
timbul sebagai salah satu proses yang progresif, lambat dan sakit nyeri.
c. Rakhitis : suatu penyakit tulang yang disebabkan oleh defisiensi Vitamin D yang
mempengaruhi semua jaringan skelet lain, biasanya disebabkan oleh defisiensi
diet, tetapi kadang-kadang dapat disebabkan kegagalan absorbsi Vitamin D atau

III.

oleh karena asupan kalsium atau fosfat yang rendah.


Secara spontan :
disebabkan oleh stress tulang yang terus menerus misalnya pada penyakit polio dan
orang yang bertugas dikemiliteran.

Hubungan garis fraktur dengan energi trauma :


GARIS FRAKTUR

MEKANISME TRAUMA

Transversal, oblik, spiral Angulasi/ memutar

ENERGI
Ringan

(sedikit bergeser/ masih


ada kontak)
Butterfly,
(bergeser),
kominutif

transversal Kombinasi
sedikit

Sedang

Segmental

kominutif Variasi

Berat

(sangat bergeser)

E. Diagnosis
Anamnesis
Biasanya penderita datang dengan suatu trauma (traumatik, fraktur), baik yang hebat
maupun trauma ringan dan diikuti dengan ketidakmampuan untuk menggunakan anggota gerak.
Anamnesis harus dilakukan dengan cermat karena fraktur tidak selamanya terjadi di daerah
trauma dan mungkin fraktur terjadi pada daerah lain.
Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan awal penderita, perlu diperhatikan adanya:
1. Syok, anemia atau pendarahan
2. Kerusakan pada organ-organ lain, misalnya otak, sumsum tulang belakang atau organorgan dalam rongga toraks, panggul dan abdomen
3. Faktor predisposisi, misalnya pada fraktur patologis.

Pemeriksaan Lokal

Inspeksi

(Look)

Pembengkakan,

memar

dan

deformitas

(penonjolan

yang

abnormal,angulasi, rotasi, pemendekan) mungkin terlihat jelas, tetapi hal yang penting
adalah apakah kulit itu utuh; kalau kulit robek dan luka memiliki hubungan dengan

fraktur, cedera terbuka, keadaan vaskularisasi


Palpasi (Feel) Palpasi dilakukan secara hati-hati oleh karena penderita biasanya mengeluh
sangat nyeri. Adanya cedera pembuluh darah adalah keadaan darurat
o Temperatur setempat yang meningkat.
o Nyeri tekan; nyeri tekan yang bersifat superfisial biasanya disebabkan oleh
kerusakan jaringan lunak yang dalam akibat fraktur pada tulang.
o Krepitasi; dapat diketahui dengan perabaan dan harus dilakukan secara hati-hati.

o Pemeriksaan vaskuler pada daerah distal trauma berupa palpasi arteri radialis, arteri
dorsalis pedis, arteri tibialis posterior sesuai dengan anggota gerak yang terkena.
o Refilling (pengisian) arteri pada kuku, warna kulit pada bagian distal daerah trauma ,
temperatur kulit.
o Pengukuran tungkai terutama pada tungkai bawah untuk mengetahui adanya
perbedaan panjang tungkai.

Pergerakan (Movement). Krepitus dan gerakan abnormal dapat ditemukan, tetapi lebih
penting untuk menanyakan apakah pasien dapat menggerakan sendi sendi di bagian
distal cedera. Pergerakan dengan mengajak penderita untuk menggerakkan secara aktif
dan pasif sendi proksimal dan distal dari daerah yang mengalami trauma. Pada pederita
dengan fraktur, setiap gerakan akan menyebabkan nyeri hebat sehingga uji pergerakan
tidak boleh dilakukan secara kasar, disamping itu juga dapat menyebabkan kerusakan
pada jaringan lunak seperti pembuluh darah dan saraf.

Pemeriksaan Neurologis
Pemeriksaan neurologis berupa pemeriksaan saraf secara sensoris dan motoris serta
gradasi kelelahan neurologis, yaitu neuropraksia, aksonotmesis atau neurotmesis. Kelaianan saraf
yang didapatkan harus dicatat dengan baik karena dapat menimbulkan masalah asuransi dan
tuntutan (klaim) penderita serta merupakan patokan untuk pengobatan selanjutnya.

Pemeriksaan Radiologis
Macam-macam pemeriksaan radiologi yang dapat dilakukan untuk menetapkan kelainan tulang
dan sendi :
o Foto Polos
Dengan pemeriksaan klinik kita sudah dapat mencurigai adanya fraktur. Walaupun demikian
pemeriksaan radiologis diperlukan untuk menentukan keadaan, lokasi serta ekstensi fraktur.
Untuk menghindarkan bidai yang bersifat radiolusen untuk imobilisasi sementara sebelum
dilakukan pemeriksaan radiologis. Tujuan pemeriksaan radiologis :

Untuk mempelajari gambaran normal tulang dan sendi


Untuk konfirmasi adanya fraktur
Untuk melihat sejauh mana pergerakan dan konfigurasi fragmenserta pergerakannya
Untuk menentukan teknik pengobatan

Untuk menentukan apakah fraktur itu baru atau tidak


Untuk menentukan apakah fraktur intra-artikuler atau ekstra-artikuler
Untuk melihat adanya keadaan patologis lain pada tulang
Untuk melihat adanya benda asing, misalnya peluru.

Pemeriksaan radiologis lainnya:


o CT-Scan. Suatu jenis pemeriksaan untuk melihat lebih detail mengenai bagian tulang atau
sendi, dengan membuat foto irisan lapis demi lapis.
o MRI, dapat digunakan untuk memeriksa hampir seluruh tulang, sendi, dan jaringan lunak.
mRI dapat digunakan untuk mengidentifikasi cedera tendon,ligamen, otot, tulang rawan dan
tulang.
o Radioisotop scanning
o Tomografi
Umumnya dengan foto polos kita dapat mendiagnosis fraktur, tetapi perlu ditanyakan apakah
fraktur terbuka atau tertutup, tulang mana yang terkena dan lokasinya, apakah sendi juga
mengalami fraktur serta bentuk fraktur itu sendiri. Konfigurasi fraktur dapat menentukan
prognosis serta waktu penyembuhan fraktur.

F. Patofisiologi

G.

Penatalaksanaan
Kasus fraktur biasanya terjadi akibat adanya trauma, oleh karena itu sebelum dilakukan
pengobatan definitif suatu fraktur, maka perlu dilakukan penatalaksaan sesuai dengan prinsip
trauma, sebagai berikut:
1. Penilaian awal
Survei awal bertujuan untuk menilai dan memberikan pengobatan sesuai dengan prioritas
berdasarkan trauma yang dialami.Fungsi-fungsi vital penderita harus dinilai secara tepat dan
efisien.Penanganan penderita harus terdiri atas evaluasi awal yang cepat serta resusitasi
fungsi vital, penangan trauma dan identifikasi keadaan yang dapat menyebabkan kematian,
yang terdiri dari airway, breathing, circulation, disability, dan exposure.
2. Prinsip-prinsip pengobatan fraktur

1. Pertolongan pertama membersihkan jalan napas, menutup luka dengan verban yang
bersih dan imobilisasi fraktur pada anggota gerak yang terkena agar penderita merasa
nyaman dan mengurangi nyeri sebelum diangkut dengan ambulans
2. Penilaian klinis nilai luka, apakah luka tembus tulang atau tidak, adakah trauma
pembuluh darah atau saraf atau trauma alat-alat dalam yang lain.
3. Resusitasi kebanyakan penderita dengan fraktur multiple tiba di rumah sakit dengan
syok, sehingga diperlukan resusitasi sebelum diberikan terapi pada frakturnya sendiri
berupa transfusi darah dan cairan-cairan lainnya serta obat-obat anti nyeri.
Semua fraktur terbuka, tidak peduli seberapa ringannya, harus dianggap terkontaminasi,
penting untuk mencoba mencegahnya infeksi. Untuk tujuan ini, perlu diperhatikan empat hal
yang penting :
1. Pembalutan luka dengan segera.
2. Profilaksis antibiotika.
3. Debridement luka secara dini.
4. Stabilisasi fraktur.
Beberapa prinsip dasar pengelolaan fraktur terbuka:6
1. Obati fraktur terbuka sebagai satu kegawatan.
2. Adakan evaluasi awal dan diagnosis akan adanya kelainan yang dapat menyebabkan
kematian.
3. Berikan antibiotik dalam ruang gawat darurat, di kamar operasi, dan setelah operasi.
4. Segera dilakukan debrideman dan irigasi yang baik
5. Ulangi debrideman 24-72 jam berikutnya
6. Stabilisasi fraktur.
7. Biarkan luka tebuka antara 5-7 hari
8. Lakukan bone graft autogenous secepatnya

9. Rehabilitasi anggota gerak yang terkena


3. Tahap-Tahap Pengobatan Fraktur terbuka
1. Pembersihan luka
Hal ini dilakukan dengan cara irigasi dengan cairan NaCl fisiologis secara mekanis untuk
mengeluarkan benda asing yang melekat.
2. Eksisi jaringan yang mati (debridemen)
Semua jaringan yang kehilangan vaskularisasinya merupakan daerah tempat pembenihan
bakteri

sehingga

diperlukan

eksisi

secara

operasi

pada

kulit,jaringan

subkutaneus,lemak,fasia,otot dan fragmen-fragmen yang lepas


3. Pengobatan fraktur itu sendiri
Fraktur dengan luka yang hebat memerlukan suatu traksi skeletal atau reduksi terbuka
dengan fiksasi eksterna tulang.Fraktur grade II dan II sebaiknya difiksasi dengan fiksasi
eksterna.
4. Penutupan kulit
Apabila fraktur terbuka diobati dalam waktu periode emas (6-7 jam mulai dari terjadinya
kecelakaan), maka sebaiknya kulit ditutup.Hal ini tidak dilakukan apabila penutupan
membuat kulit sangat tegang. Dapat dilakukan split thickness skin-graft serta
pemasangan drainasi isap untuk mencegah akumulasi darah dan serum pada luka yang
dalam. Luka dapat dibiarkan terbuka setelah beberapa hari tapi tidak lebih dari 10 hari.
Kulit dapat ditutup kembali disebut delayed primary closure. Yang perlu mendapat
perhatian adalah penutupan kulit tidak dipaksakan yang mengakibatkan kulit menjadi
tegang.
5. Pemberian antibiotik
Bertujuan untuk mencegah infeksi, dimana diberikan dalam dosis yang adekuat
sebelum,pada saat, dan sesudah tindakan operasi. Co amoxiclav atau cefuroxime
(klindamisin jika alergi penisilin) merupakan antibiotic pilihan pertama sebagai
pencegahan terhadap bakteri gram positif dan gram negative.
Grade I
Segera mungkin Co amoxiclav
atau
pertama

jam

Grade II
Co amoxiclav

Grade III A
Co amoxiclav

Grade III B/C


Co amoxiclav

Debridement

Co

amoxiclav Co

Penutupan luka

dan gentamisin
-

amoxiclav Co

amoxiclav Co

amoxiclav

dan gentamisin
dan gentamisin
dan gentamisin
Gentamisin dan Gentamisin dan Gentamisin dan
vankomisin atau vankomisin atau vankomisin atau

Profilaksis
Periode max

Co amoxiclav
24 jam

telcoplanin
Co amoxiclav
72 jam

telcoplanin
Co amoxiclav
72 jam

telcoplanin
Co amoxiclav
72 jam

6. Pencegahan tetanus
Semua penderita dengan fraktur terbuka perlu diberikan pencegahan tetanus.Pada
penderita yang telah mendapat imunisasi aktif cukup dengan pemberian toksoid tapi bagi
yang belum,dapat diberikan 250 unit tetanus imunoglobulin (manusia).
4. Terapi Konservatif3,4
1. Proteksi saja
Misalnya mitella untuk fraktur collum chirurgicum humeri dengan kedudukan baik
2. Immobilisasi saja tanpa reposisi
Misalnya dengan pemasangan gips atau bidai pada fraktur inkomplit dan fraktur dengan
kedudukan baik
3. Reposisi tertutup dan fiksasi gips
Fragmen distal dikembalikan pada kedudukan semula terhadap fragmen proksimal dan
dipertahankan dalam kedudukan yang stabil dalam gips
4. Traksi
Dipakai untuk reposisi secara perlahan dan fiksasi hingga sembuh atau dipasang gips
setelah tidak sakit lagi.
5. Terapi Operatif
Prinsip debridement adalah untuk membersihkan kontaminasi yang terdapat di sekitar
fraktur dengan melakukan pengangkatan terhadap jaringan yang non viabel dan material asing,
seperti pasir yang melekat pada jaringan lunak.Dilakukan penilaian pada sekitar jaringan sekitar
tulang, cedera pembuluh darah, tendon, otot, saraf.Debridement jaringan otot dipertimbangkan
jika otot terkontaminasi berat dan kehilangan kontraktilitas.Debridement pada tendon
mempertimbangkan kontraktilitas tendon, sedangkan debridement pada kulit dilakukan hingga
timbul perdarahan. Pada fraktur terbuka grade IIIb dan IIIc dilakukan serial debridement yang
diulang dalarn selang waktu 24-72 jam untuk tercapainya debridement definitive.

Teknik Operasi
Sebelum dilakukan debridement, diberikan antibiotik profilaksis yang dilakukan di
ruangan emergency.Yang terbaik adalah golongan sefalosforin.Biasanya dipakai sefalosforin
golongan pertama.Pada fraktur terbuka Gustilo tipe III, diberikan tambahan berupa golongan
aminoglikosida, seperti gentamicin, sedangkan pada fraktur yang dicurigai terkontaminasi
kuman clostridia diberikan penicillin.
Debridement dilakukan pertama kali pada daerah kulit.Kemudian rawat perdarahan di
vena dengan melakuan koagulasi.Buka fascia untuk menilai otot dan tendon.Viabilitas otot
dinilai dengan 4C, Color, Contractility, Circulation and Consistency.Tulang dipertahankan
dengan reposisi. Bisa digunakan ekternal fiksasi pada fraktur grade III.
Penutupan luka dilakukan jika memungkinkan. Berdasarkan jumlah jaringan lunak yang
hilang, luka-luka kompleks (complex wound) dapat ditutupi dengan menggunakan metode yang
berbeda, yakni :
a. Local Flap
Jaringan otot dari ekstremitas yang terlibat diputar untuk menutupi fraktur. Kemudian
diambil sebagian kulit dari daerah lain dari tubuh (graft) dan ditempatkan di atas luka.
b. Free Flap
Beberapa luka mungkin memerlukan transfer lengkap jaringan. Jaringan ini sering diambil
dari bagian punggung atau perut. Prosedur free flap membutuhkan bantuan dari seorang ahli
bedah mikrovaskuler untuk memastikan pembuluh darah terhubung dan sirkulasi tetap
berjalan.5
Pada fraktur tipe III yang tidak bisa dilakukan penutupan luka, dilakukan rawat luka terbuka,
hingga luka dapat ditutup sempurna.
Komplikasi Operasi
Komplikasi debridement hampir tidak ada.Komplikasi terjadi berupa infeksi pada jaringan lunak
dan tulang, hingga sepsis pasca operasi.

Perawatan Pasca Bedah


Antibiotika post operasi dilanjutkan hingga 2-3 hari pasca debridement. Kultur pus, jika ada pus,
lakukan kultur pus. Pada fraktur terbuka grade yang memerlukan debridement ulangan, maka
akan dilakukan debridement ulangan hingga jaringan cukup sehat dan terapi definitive terhadap
tulang bisa dimulai.
Terapi Definitif Fraktur Terbuka
Hal ini penting untuk menstabilkan patah tulang sesegera mungkin untuk mencegah kerusakan
jaringan yang lebih lunak.Tulang patah dalam fraktur terbuka biasanya digunakan metode fiksasi
eksternal atau internal.Metode ini memerlukan operasi.
a. Fiksasi Internal
Selama operasi, fragmen tulang yang pertama direposisi (dikurangi) ke posisi normal
kemudian diikat dengan sekrup khusus atau dengan melampirkan pelat logam ke permukaan
luar tulang.Fragmen juga dapat diselenggarakan bersama-sama dengan memasukkan batang
bawah melalui ruang sumsum di tengah tulang.Karena fraktur terbuka mungkin termasuk
kerusakan jaringan dan disertai dengan cedera tambahan, mungkin diperlukan waktu
sebelum operasi fiksasi internal dapat dilakukan dengan aman.10
b. Fiksasi Eksternal
Fiksasi eksternal tergantung pada cedera yang terjadi.Fiksasi ini digunakan untuk
menahan tulang tetap dalam garis lurus.Dalam fiksasi eksternal, pin atau sekrup ditempatkan
ke dalam tulang yang patah di atas dan di bawah tempat fraktur.Kemudian fragmen tulang
direposisi. Pin atau sekrup dihubungkan ke sebuah lempengan logam di luar kulit. Perangkat
ini merupakan suatu kerangka stabilisasi yang menyangga tulang dalam posisi yang tepat.10,11
6. Amputasi 11
Pada beberapa kasus, amputasi menjadi pilihan terapi.Immediate amputation biasanya
diindikasikan pada keadaan berikut:

Fraktur terbuka derajat IIIC dimana lesi tidak dapat diperbaiki daniskemia sudah
terjadi>8 jam

Anggota gerak yang mengalami crush berat dan jaringan viable yang tersisa untuk

revaskularisasi sangat minimal


Kerusakan neurologis dan soft tissue yang berat, dimana hasil akhir repair tidak lebih

baik dari penggunaan prosthesis.


Cedera multipel dimana amputasi dapat mengontrol perdarahan dan mengurangi efek

sistemik/life saving
Kasus dimana limb salvage bersifat life-threatening dengan adanya penyakit kronik
yang berat, seperti diabetes mellitus dengan gangguan vaskular perifer berat dan

neuropati
H. Komplikasi 2,3
Komplikasi dari fraktur terbuka dapat dibagi menjadi dua, yaitu fase dini dan fase lambat.
Pada fase dini, komplikasi timbul dalam beberapa hari atau beberapa minggu setelah terjadinya
fraktur, dimana komplikasinya bisa berupa kerusakan lapisan visceral, kerusakan pembuluh
darah, kerusakan saraf, sindroma kompartemen, infeksi, hemartrosis, dan gas gangrene.
1. Sindroma Kompartemen
Perdarahan, edema,

radang, dan infeksi dapat meningkatkan tekanan pada salah satu

kompartemen osteofasia. Terjadi penurunan aliran kapiler yang mengakibatkan iskemia otot,
yang akan menyebabkan edema lebih jauh, sehingga mengakibatkan tekanan yang lebih besar
lagi dan iskemia yang lebih hebat. Lingkaran setan ini terus berlanjut dan berakhir dengan
nekrosis saraf dan otot dalam kompartemen setelah kurang lebih 12 jam.Meningkatnya tekanan
jaringan menyebabkan obstruksi vena dalam ruang yang tertutup.Peningkatan tekanan terus
meningkat hingga tekanan arteriolar intramuskuler bawah meninggi. Pada titik ini, tidak ada lagi
darah yang akan masuk ke kapiler, menyebabkan kebocoran ke dalam kompartemen, sehingga
tekanan dalam kompartemen semakin meningkat. Penekanan saraf perifer disekitarnya akan
menimbulkan nyeri hebat. Bila terjadi peningkatan intra kompartemen, tekanan vena meningkat.
Setelah itu, aliran darah melalui kapiler akan berhenti. Dalam keadaan ini penghantaran oksigen
juga akan terhenti, Sehingga terjadi hipoksia jaringan (pale). Jika hal ini terus berlanjut, maka
terjadi iskemia otot dan nervus, yang akan menyebabkan kerusakan ireversibel komponen
tersebut. Secara klasik terdapat 5 P yang menggambarkan gejala klinis sindroma kompartemen,
yaitu Pain, Paresthesia, Pallor, Paralysis, Pulseness.
2. Gas Gangren

Keadaan yang mengerikan ini ditimbulkan oleh infeksi clostridium. Organisme anaerob ini
dapat hidup dan berkembang biak hanya dalam jaringan dengan tekanan oksigen yang rendah
dimana tempat utama infeksinya adalah luka yang kotor dengan otot mati yang telah ditutup
tanpa debridemen yang memadai. Toksin yang dihasilkan oleh organisme ini menghancurkan
dinding sel dan dengan cepat mengakibatkan nekrosis jaringan.
Sedangkan untuk komplikasi fase lambat terjadi beberapa bulan setelah terjadinya
fraktur, dimana diantaranya delayed union, non-union, malunion, avascular necrosis, gangguan
pertumbuhan, dan kompresi saraf.
1. Penyembuhan Terlambat
Pada patah tulang panjang yang sangat tergeser dapat terjadi robekan pada periosteum dan
terjadi gangguan pada suplai darah intramedular.Kekurangan suplai darah ini dapat
menyebabkan pinggir dari patah tulang menjadi nekrosis. Nekrosis yang luas akan menghambat
penyembuhan tulang. Kerusakan jaringan lunak dan pelepasan periosteum juga dapat
mengganggu penyembuhan tulang.
2. Non-Union
Bila keterlambatan penyembuhan tidak diketahui, meskipun patah tulang telah diterapi
dengan memadai, cenderung terjadi non-union. Penyebab lain ialah adanya celah yang terlalu
lebar dan interposisi. 10
3. Malunion
Bila fragmen menyambung pada posisi yang tidak memuaskan, seperti contoh angulasi,
rotasi, atau pemendekan yang tidak dapat diterima. Penyebabnya adalah tidak tereduksinya patah
tulang secara cukup, kegagalan mempertahankan reduksi ketika terjadi penyembuhan, atau
kolaps yang berangsur-angsur pada tulang yang osteoporotik atau kominutif.10
4. Gangguan pertumbuhan
Pada anak-anak, kerusakan pada fisis dapat mengakibatkan pertumbuhan yang abnormal atau
terhambat.Patah tulang melintang pada lempeng pertumbuhan tidak membawa bencana; patahan
menjalar di sepanjang lapisan hipertrofik dan lapisan berkapur dan tidak pada daerah germinal
maka, asalkan patah tulang ini direduksi dengan tepat, jarang terdapat gangguan pertumbuhan.
Tetapi patah tulang yang memisahkan bagian epifisi pasti akan melintasi bagian fisis yang
sedang tumbuh, sehingga pertumbuhan selanjutnya dapat asimetris dan ujung tulang berangulasi

secara khas; jika seluruh fisis rusak, mungkin terjadi perlambatan atau penghentian pertumbuhan
sama sekali.
Golden periode penanganan fraktur terbuka adalah kurang dari 6-8 jam dikarenakan proses dan
pola pertumbuhan bakteri yang terjadi pada luka fraktur terbukanya yang umumnya jenis bakteri
golongan bakteri Staphylococcusyang dapat menyebabkan osteomyelitis.3

BAB III
KESIMPULAN
Fraktur terbuka merupakan diskontinuitas atau terputusnya jaringan tulang maupun
jaringan skeletal akibat tekanan dari luar yang lebih besar dari yang dapat diserap tulang, dimana
hal ini merupakan suatu keadaan darurat.Pada kasus fraktur terbuka, digunakan suatu klasifikasi
menurut Gustillo dan Anderson.Penyebab dari frkatur terbuka sendiri bisa disebabkan karena
berbagai hal, seperti adanya trauma baik langsung maupun tidak langsung. Dalam penegakkan

diagnosis, dibutuhkan anamnesis, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang berupa


pemeriksaan radiologis, CT Scan, ataupun MRI. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam
penanggulangan fraktur tulang terbuka adalah operasi yang harus dilakukan dengan segera dan
secara hati-hati, serta debridement yang dilakukan berulang. Stabilisasi dari fraktur itu sendiri,
penutupan kulit, bone grafting, serta pemberian antibiotik secara dini juga harus diperhatikan.
Fraktur terbuka yang tidak segera diatasi dapat menyebabkan timbulnya beberapa komplikasi
dan prognosis juga tergantung dari seberapa cepat melakukan tatalaksana pada pasien yang harus
dilakukan sebelum 6 jam (golden period).

DAFTAR PUSTAKA
1. Kenneth J.K., Joseph D.Z. Handbook of Fractures, 3rd Edition. Pennsylvania. 2006.
2. Thomas M. S., Jason H.C. Open Fractures. Mescape Reference (update 2012, May 21).
Available from http://emedicine.medscape.com/article/1269242-overview#aw2aab6b3.
Accessed 15 Agustus 2013

3. Jonathan C. Open Fracture. Orthopedics (update 2012, May 27). Available from
http://orthopedics.about.com/cs/ brokenbones/g/openfracture.htm. Accessed 15 Agustus
2013
4. Sugiarso. Pola Kuman Penderita Fraktur Terbuka. Universitas Sumatera Utara. 2010.
Available

from

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/27630/6/Cover.pdf.

Accessed 15 Agustus 2013


5. American Academy of Orthopaedics Surgeons. 2011. Open Fractures. Available from
http://orthoinfo.aaos.org/topic.cfm?topic=A00582. Accessed 15 Agustus 2013
6. Rasjad C. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi: Trauma, Fraktur Terbuka, Edisi ke-3. Jakarta:
PT Yarsif Watampone. 2008; 317-478.
7. Brien PJO dan Mosheiff R.Open Fractures-Principles. Available From:[URL]:
http://www.aopublishing.org/ . Accessed 15 Agustus 2013
8. Court-Brown CM, Brewster N (1996) Epidemiology of open fractures. Court-Brown CM,
McQueen MM, Quaba AA (eds), Management of open fractures. London: Martin Dunitz,
25-35.
9. Egol, KA, et. al. Handbook of Fractures. Philadelphia: Wolter Kluwer; 2015.
10. Lakatos R dan Herbenick MA. General Principles of Internal Fixation. 2009[cited 2011
Feb 2]. Available from:URL:http://emedicine.medscape.com/article/1269987-overview.
Accessed 15 Agustus 2013
11. American Academy of Orthopaedic Surgeons. Internal Fixation and External Fixations
for Fractures. Available from:URL: http://orthoinfo.aaos.org/topic.cfm? topic=A00196.