Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN KASUS

Nama : Nur Afifah Thamrin


Stambuk : 1102100138
Supervisor : dr. Syamsu Hilal, Sp. An

IDENTITAS PASIEN
Nama
Jenis

Penderita: Tn. B

Kelamin : Laki-laki

Umur
Tanggal

: 65 tahun
lahir

: 16/08/1953

Alamat

: Jl. Galangan Kapal 1 No. 8

No.

: 110718

RM

Anamnesis

: Alloanamnesis

ANAMNESIS
Keluhan Utama : Nyeri perut hebat
Nyeri seluruh lapang perut dirasakan sejak 3 hari yang lalu.
Nyeri dirasakan tiba-tiba, terasa seperti ditikam pisau. Awalnya
dirasakan disekitar daerah epigastrium, kemudian menyebar ke
seluruh lapang abdomen. Nyeri dirasakan terus menerus,
memberat bila pasien bergerak, bernapas, batuk atau mengedan.
Nyeri berkurang bila pasien berbaring. Selain nyeri, pasien juga
mengeluh badan terasa lemas dan nafsu makan menurun. Mual
(-). Muntah (-). Perut terasa kembung (+). Demam (-). BAB (+),
1-2 x/hari, feses berupa cairan berwarna keruh, ampas (-),
Riwayat BAB berwarna hitam, pekat, lengket dan berbau.
Dikeluhkan sekitar 1-2 minggu yang lalu sebanyak dua kali.
BAK (+) kateter terpasang.

Riwayat Penyakit Dahulu

Os mengaku beberapa bulan terakhir sering mengalami keluhan


serupa sebelumnya. Riwayat HT (-), DM (-), Penyakit Kuning (-),
Gangguan Jantung (-), Gangguan Ginjal (-), Riwayat Operasi
sebelumnya (-), Riwayat trauma atau operasi dibagian abdomen
sebelumnya (-).

Riwayat nyeri pada sendi lutut (+), sering kambuh, bisa setiap bulan.
Bila sedang kambuh pasien biasanya berobat ke puskesmas atau
dokter praktek dan diberi obat penghilang nyeri. Riwayat
mengkonsumsi jamu-jamuan ada.

Riwayat Penyakit Keluarga

Tidak ada keluarga os yang mengaku memiliki keluhan serupa


dengan os. Riwayat keluarga yang mengalami tumor pada saluran
cerna (-). Riwayat keluarga os HT (-), DM (-), penyakit jantung (-),
penyakit ginjal (-).

Analisa Kasus
( IRD RSI.Faisal )
Senin, 11-05-2015 pukul 20.00 wita
S : Nyeri perut hebat dan sesak.
O : Airway : Tidak ada bunyi suara tambahan (Clear)
Breathing : Pengembangan dada simetris kiri dan kanan
Pernafasan : 29 x/m
Circulation : TD : 90/60 mmHg
HR : 110x/m
Suhu : 36,5 C
Disability : GCS 15,
Exposure

: Cegah hipotermi

A : Susp.Peritonitis generalisata et causa susp. Perforasi gaster

P:

R/

Observasi keadaan umum dan vital sign

Pasang O2 8 LPM

Pasang NGT, Puasa

IVFD NaCl 0,9 % 20 tpm

Inj Ketorolac 1 ampul / 12 jam

Inj Ranitidin 1 ampul / 12 jam

(ICU RSI.FAISAL )
Senin, 11-05-2015 pukul 23.00 wita
S : Kesadaran menurun
O : Pengembangan dada (-)
TD tidak terukur
Nadi tidak teraba
Akral dingin
A : Peritonitis generalisata et causa susp.Perforasi gaster
P : R/

Pasang O2 8 LPM

RJP , (sesuai AHA 2010, dimana tekniknya CAB)

Inj. Epinefrin 1 amp / 5mml

Pasien meninggal 11-iba 05-2015 pukul 23.30 wita

PEMBAHASAN

Definisi
CPR = Cardio Pulmonary Resuscitation

Re = Kembali

Resusitasi : Tindakan Mengembalikan fungsi jantung, paru,


otak pada :

Henti

jantung

Henti

nafas

Harus segera dilakukan menghentikan proses menuju


kematian

Indikasi
1. Henti nafas (Respiratory Arrest),
Henti nafas yang bukan disebabkan gangguan pada jalan
nafas tp dapat terjadi karena gangguan pada sirkulasi
(asistole, bradikardia, fibrilasi ventrikel)
2. Henti jantung (Cardiac Arrest) dapat disebabkan oleh
beberapa hal seperti:

Hipoksemia karena berbagai sebab

Gangguan elektrolit (hipokalemia, hiperkalemia,


hipomagnesia)

Gangguan irama jantung (aritmia)

Penekanan mekanik pada jantung (tamponade jantung,


tension pneumothoraks)

CPR (NEW GUIDELINE AHA 2010)

Berikut ini adalah beberapa perbedaan antara Panduan RJP 2005


dengan RJP 2010 :
1. Bukan ABC lagi tapi CAB

Sebelumnya dalam pedoman pertolongan pertama, kita


mengenal ABC : airway, breathing dan chest compressions,
yaitu buka jalan nafas, bantuan pernafasan, dan kompresi dada.
Saat ini kompresi dada didahulukan, baru setelah itu kita bisa
fokus pada airway dan breathing. Pengecualian satu-satunya
adalah hanya untuk bayi baru lahir. Namun untuk RJP bayi,
RJP anak, atau RJP dewasa, harus menerima kompresi dada
sebelum kita berpikir memberikan bantuan jalan nafas.

2. Tidak ada lagi look, listen dan feel

Kunci utama menyelamatkan seseorang dengan henti jantung adalah


dengan bertindak, bukan menilai. Telepon ambulans segera saat kita
melihat korban tidak sadar dan tidak bernafas dengan baik. Percayalah
pada nyali anda, jika anda mencoba menilai korban bernafas atau tidak
dengan mendekatkan pipi anda pada mulut korban, itu boleh-boleh
saja. Tapi tetap saja sang korban tidak bernafaas dan tindakan look feel
listen ini hanya akan menghabiskan waktu.

3. Kompresi dada lebih dalam lagi

Seberapa dalam anda harus menekan dada telah berubah pada


RJP 2010 ini. Sebelumnya adalah 1 sampai 2 inchi (4-5 cm),
namun sekarang AHA merekomendasikan untuk menekann
setidaknya 2 inchi (5 cm) pada dada.

4. Kompresi dada lebih cepat lagi

AHA mengganti redaksi kalimat disini. Sebelumnya tertulis:


tekanan dada sekitar 100 kompresi per menit. Sekarang AHA
merekomndasikan kita untuk menekan dada minimal 100
kompresi per menit. Pada kecepatan ini, 30 kompresi
membutuhkan waktu 18 detik.

5. Hands only CPR

Ada perbedaan teknik dari yang tahun 2005, namun AHA


mendorong RJP seperti ini pada 2008. AHA masih
menginginkan agar penolong yang tidak terlatih melakukan
Hands only CPR pada korban dewasa yang pingsan di depan
mereka. Pertanyaan besarnya adalah : apa yang harus
dilakukan penolong tidak terlatih pada korban yang tidak
pingsan di depan mereka dan korban yang bukan dewasa/ AHA
memang tidak memberikan jawaban tentang hal ini namun ada
saran sederhana disini : berikan hands only CPR karena
berbuat sesuatu lebih baik daripda tidak berbuat sama sekali.

7. Jangan berhenti menekan

Setiap penghentian menekan dada berarti menghentikan darah


ke otak yang mengakibatkan kematian jaringan otak jika
aliran darah berhenti terlalu lama. Membutuhkan beberapa
kompresi dada untuk mengalirkan darah kembali. AHA
menghendaki kita untuk terus menekan selama kita bisa.
Terus tekan hingga alat defibrilator otomatis datang dan siap
untuk menilai keadaan jantung. Jika sudah tiba waktunya
untuk pernafasan dari mulut ke mulut, lakukan segera dan
segera kembali pada menekan dada.

Algoritma RJP
1.

Memastikan bahwa lingkungan di sekitar korban yang


tergeletak itu aman

2.

Nilai respon pasien apakah pasien benar-benar tidak


sadar atau hanya tidur saja.

3.

Aktifkan sistem emergensi

4.

Cek Nadi karotis ( 10 detik)

5.

Segera lakukanResusitasiJantungParu (RJP) 30:2


Kecepatan sedikitnya 100 kali/menit. (circulation)

6.

Buka jalan nafas. (airway)

7.

Jika masih tidak ada pernafasan maka segera beri


nafas buatandua kali pernafasan (Breathing)

Teknik RJP

DEFIBRILASI
Seperti yang telah disebutkan diatas, segera dilakukan defibrilasi jantung merupakan
salah satu penekanan pada algoritma BLS AHA 2010. Begitu alat Defibrilasi datang maka
langsung pasang alat Defibrilasi dengan mengikuti petunjuk penggunaan alat defibrilasi.
Alat Defibrilasi akan menganalisa apakah korban memerlukan defibrilasi jantung atau tidak,
bila memerlukan defibrilasi maka alat defibrilasi akan memandu untuk menekan tombol
defibrilasi. Begitu defibrilasi jantung selesai lanjutkan dengan 5 siklus RJP berikutnya.
Setelah 5 siklus RJP tersebut, gunakan alat Defibrilasi untuk menganalisis nadi korban lagi.
Begitu seterusnya sampai ada indikasi penghentian RJP yaitu apabila nadi spontan dan
nafas korban kembali normal, bantuan tim ALS (Advance Life Support) / ACLS (Advance
Cardiac Life Support) datang atau penolong tidak mampu lagi

melakukan RJP.

AED
( AUTOMATIC EXTERNAL DEFIBRILLATOR )

DAFTAR PUSTAKA
1. John M. Field, Part 1: Executive Summary: 2010 American Heart
Association Guidelines forCardiopulmonary Resuscitation and
Emergency Cardiovascular Care.
2. Robert A. Berg, et al. Part 5: Adult Basic Life Support: 2010
American Heart Association Guidelines for Cardiopulmonary
Resuscitation and Emergency Cardiovascular Care.
3. Andrew H. Travers, et al. Part 4: CPR Overview: 2010 American
Heart Association Guidelines for Cardiopulmonary Resuscitation and
Emergency Cardiovascular Care. Circulation 2010;122;S676-S684
4. Anggaditya Putra, MD.CPR ABC to CAB New AHA guidlines for
resuscitation.http://www.exomedindonesia.com
5.referensi-kedokteran/artikel-ilmiah-kedokteran/jantung-danpembuluh-darah-cardiovaskular/2015/05/18/cpr-abc-to-cba-new-ahaguidlines-for-resuscitation.