Anda di halaman 1dari 9

PENGERTIAN, STRUKTUR, DAN JENIS WACANA

Disusun untuk memenuhi tugas matakuliah Evaluasi Pembelajaran


Dosen Pengampu Prof. Dr. Sarwiji Suwandi, M.Pd

Disusun Oleh:
Heny Kusuma W
S841302012

PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA


PASCASARJANA NEGERI SEBELAS MARET
SURAKARTA
2013

1. Pengertian wacana
1) Hasan Alwi, dkk (2000: 41) menjelaskan pengertian wacana sebagai rentetan kalimat
yang berkaitan sehingga terbentuklah makna yang serasi di antara kalimat-kalimat
itu. Dengan demikian sebuah rentetan kalimat tidak dapat disebut wacana jika tidak
ada keserasian makna. Sebaliknya, rentetan kalimat membentuk wacana karena dari
rentetan tersebut terbentuk makna yang serasi.
2) Sumarlam, dkk (2009:15) menyimpulkan dari beberapa pendapat bahwa wacana
adalah satuan bahasa terlengkap yang dinyatakan secara lisan seperti pidato, ceramah,
khotbah, dan dialog, atau secara tertulis seperti cerpen, novel, buku, surat, dan
dokumen tertulis, yang dilihat dari struktur lahirnya (dari segi bentuk bersifat kohesif,
saling terkait dan dari struktur batinnya (dari segi makna) bersifat koheren, terpadu.
3) Rani, dkk (2006: 3) menyepakati bahwa wacana merupakan satuan bahasa yang
paling besar yang digunakan dalam komunikasi. Satuan bahasa secara berturut-turut
adalah kalimat, frase, kata, dan bunyi.
Sintesis : satuan bahasa lisan maupun tulis yang memiliki keterkaitan atau keruntutan
antar bagian (kohesi), keterpaduan (koheren), dan bermakna (meaningful), digunakan
untuk berkomunikasi dalam konteks sosial.
2. Pengertian terstruktur dalam wacana
1) Artinya unsur-unsur wacana (kata atau kalimat) yang digunakan untuk menyusun
suatu wacana memiliki keterkaitan secara padu dan utuh. Untuk memperoleh wacana
yang baik dan utuh, maka kalimat-kalimatnya harus kohesif. Hanya dengan hubungan
kohesif seperti itulah suatu unsur dalam wacana dapat di interpretasikan, sesuai
dengan ketergantungannya dengan unsur-unsur lainnya. Kohesi wacana terbagi dalam
dua aspek yaitu kohesi gramatikal dan kohesi leksikal. Kohesi gramatikal artinya
kepaduan bentuk sesuai dengan tata bahasa. Kohesi leksikal artinya kepaduan bentuk
sesuai dengan kata( Anton M. Moelino, dkk 1988: 96).
2) Rani, dkk (2006: 49) menjelaskan bahwa seseorang hanya dapat melahirkan satu
produksi satu satuan bahasa, misalkan kata atau kalimat karena sifat penggunaan
bahasa yang demikian itu maka wacana memiliki struktur.
3. Aspek-aspek struktur wacana
Melalui berbagai karyanya, Van Dijk (dalam Eriyanto, 2001:227-229; Sobur, 2001:73-84)
mencetuskan kerangka analisis wacana yang terdiri atas tiga struktur utama yaitu :
struktur mikro, struktur makro, dan superstruktur.

a. Mikro Struktur
Mikro struktur diartikan sebagai analisis sebuah teks berdasarkan unsur-unsur
intrinsiknya. Unsur-unsur intrinsik tersebut meliputi :
1) Unsur semantik, yaitu dikategorikan sebagai makna lokal (local meaning), yakni
makna yang muncul dari kata, klausa, kalimat, dan paragraf, serta hubungan di antara
mereka, seperti hubungan antarkata, hubungan antarklausa, antarkalimat, dan
antarparangraf yang membangun satu kesatuan makna dalam satu kesatuan teks;
2) Unsur sintaksis, yaitu salah satu elemen yang membantu pembuat teks untuk
memanipulasi keadaan dengan jalan penekanan secara tematik pada tatanan kalimat.
Manipulasi tersebut dapat berupa pemilihan penggunaan kata, kata ganti, preposisi,
dan konjungsi, serta pemilihan bentuk-bentuk kalimat seperti kalimat pasif atau aktif;
3) Unsur stilistik, yaitu unsur style atau ragam tampilan sebuah teks dengan
menggunakan bahasa sebagai sarananya. Sebuah teks bisa memilih berbagai ragam
tampilan, seperti puisi, drama, atau narasi. Terkait dengan gaya bahasanya, sebuah
teks bisa menampilkan style melalui diksi/pillihan kata, pilihan kalimat, majas,
mantra, atau ciri kebahasaan yang lainnya; dan
4) Unsur retoris, yaitu unsur gaya penekanan sebuah topik dalam sebuah teks. Gaya
penekanan ini berhubungan erat dengan bagaimana pesan sebuah teks akan
disampaikan yang meliputi gaya hiperbola, repetisi, aliterasi atau gaya yang lainnya.
b. Makro Struktur
Makro struktur diartikan sebagai makna global/umum dari sebuah teks yang dapat
dipahami dengan melihat topik dari sebuah teks. Dengan kata lain, analisis struktur makro
merupakan analisis sebuah teks yang dipadukan dengan kondisi sosial di sekitarnya untuk
memperoleh satu tema sentral. Tema sebuah teks tidaklah terlihat secara eksplisit di dalam
teks, melainkan tercakup di dalam keseluruhan teks secara satu kesatuan bentuk yang
koheren. Jadi, tema sebuah teks dapat ditemukan dengan cara membaca teks tersebut secara
keseluruhan sebagai sebuah wacana sosial sehingga dapat ditarik satu ide pokok atau topik
atau gagasan yang dikembangkan dalam teks tersebut.
c. Superstruktur
Superstruktur merupakan kerangka dasar sebuah teks yang meliputi susunan atau
rangkaian struktur atau elemen sebuah teks dalam membentuk satu kesatuan bentuk yang
koheren. Dengan kata lain, analisis superstruktur merupakan analisis skema atau alur sebuah
teks. Seperti halnya sebuah bangunan, sebuah teks juga tersusun atas berbagai elemen

seperti pendahuluan, isi dan penutup yang harus dirangkai sedemikian rupa, guna
membentuk sebuah teks yang utuh dan menarik.
4.

Jenis-jenis struktur wacana


a. Berdasarkan tujuan komunikasi, jenis wacana menurut Rani, dkk (2006: 37)

dibedakan menjadi empat yaitu:


1) Wacana Narasi
Narasi adalah cerita yang didasarkan pada urut-urutan suatu kejadian atau peristiwa.
Narasi dapat berbentuk narasi ekspositoris dan narasi imajinatif.Unsur-unsur penting dalam
sebuah narasi adalah kejadian, tokoh, konfik, alur/plot, serta latar yang terdiri atas latar
waktu, tempat, dan suasana.
Contoh :
Saya cepat merasakan ada kesalahan. Seorang petugas saya tanyai. Ternyata saya
harus kembali ke pintu bersinar x yang telah saya lewati tadi. Akan tetapi, untuk mencapai
terminal, saya harus naik bus yang sudah menuggu di bawah terminal. Kalau saya jalan
kaki, saya butuh waktu 1 jam. Saya agak panik juga. Pesawat ke Singapura take off pukul
15.15. sedangkan pukul 14.30 saya masih di terminal. Saya langsung lari menuruti petunjuk
petugas untuk mengerjar bus yang ada di bawah terminal.
2) Wacana Deskripsi
Deskripsi adalah karangan yang menggambarkan/suatu objek berdasarkan hasil
pengamatan, perasaan, dan pengalaman penulisnya.Untuk mencapai kesan yang sempurna
bagi pembaca, penulis merinci objek dengan kesan, fakta, dan citraan.Dilihat dari sifat
objeknya, deskripsi dibedakan atas 2 macam, yaitu deskripsi Imajinatif/Impresionis dan
deskripsi faktual/ekspositoris.
Contoh :
Ruangan berukuran 9m x 8m ini sungguh sangat nyaman ditempati. Sebuah sofa
empuk berwarna putih dengan meja kayu berada di tengah ruangan. Sementara itu, rak
buku berisi beberapa novel dan buku-buku ilmiah diletakkan mepet dengan dinding
sebelah selatan bersanding dengan sebuah pot berisi pohon palem kecil yang seakanakan menyatu dengan tembok yang dicat dengan warna hijau muda. Diluar ruangan,
terdapat sebuah kolam kecil berukuran 2,5m x 2m berisi beberapa ikan koi yang
berseliweran. Suara gemericik air dari kolam menambah sejuknya suasana di ruang
tamu milik Pak Toni ini.
3) Wacana Eksposisi
Karangan eksposisi adalah karangan yang memaparkan atau menjelaskan secara
terperinci (memaparkan) sesuatu dengan tujuan memberikan informasi dan memperluas
pengetahuan kepada pembacanya. Karangan eksposisi biasanya digunakan pada karya-karya

ilmiah seperti artikel ilmiah, makalah-makalah untuk seminar, simposium, atau


penataran.Tahapan menulis karangan eksposisi, yaitu menentukan objek pengamatan,
menentukan tujuan dan pola penyajian eksposisi, mengumpulkan data atau bahan, menyusun
kerangka karangan, dan mengembangkan kerangka menjadi karangan.Pengembangan
kerangka karangan berbentuk eksposisi dapat berpola penyajian urutan topik yang ada dan
urutan klimaks dan antiklimaks.
Contoh :
Pohon pepaya, disamping buahnya yang digunakan untuk campuran aneka jenis
minuman, daunnya pun juga dapat digunakan untuk sayuran, salah satunya sayuran pecel
khas Madiun. Caranya, ambillah daun pepaya secukupnya. Lalu, rebuslah air hingga
mendidih. Masukkan daun pepaya ke dalam air yang mendidih itu. Jangan terlalu lama
memasaknya karena dapat mengurangi khasiat daun pepaya. Jika daun sudah terlihat
masak, angkat lalu dinginkan sebentar. Setelah itu, iris dengan pisau sesuai dengan
kebutuhan, campur dengan sayuran lain, sambel kacang, lauk, dan nasi.
4) Wacana Argumentasi
Karangan argumentasi ialah karangan yang berisi pendapat, sikap, atau penilaian
terhadap suatu hal yang disertai dengan alasan, bukti-bukti, dan pernyataan-pernyataan yang
logis. Tujuan karangan argumentasi adalah berusaha meyakinkan pembaca akan kebenaran
pendapat pengarang.Tahapan menulis karangan argumentasi, yaitu menentukan tema atau
topik permasalahan, merumuskan tujuan penulisan, mengumpulkan data atau bahan berupa:
bukti-bukti, fakta, atau pernyataan yang mendukung, menyusun kerangka karangan, dan
mengembangkan kerangka menjadi karangan.Pengembangan kerangka karangan argumentasi
dapat berpola sebab-akibat, akibat-sebab, atau pola pemecahan masalah.
Contoh:
Telepon genggam sudah banyak dimiliki masyarakat bahkan dalam sebuah keluarga,
hampir semua anggota keluarga memilikinya. Di samping itu, memang sudah merupakan
alat komunikasi yang mudah dibawa-bawa, pengoperasiannya telepon pun tidak sulit dan
harganya terjangkau. Ada kemungkinan perkembangan alat ini pesat sekali karena hal-hal
tersebut. Selain itu, muncul variasi bentuk, merk, dan model baru. Oleh sebab itu, sekarang
barang-barang tersebut sudah dianggap bukan barang mewah lagi.
b. Berdasarkan media komunikasinya, wacana dapat diklasifikasikan atas wacana
lisan dan tulisan.
1) Wacana Tulisan
Wacana tulis sering dipertukarkan maknanya dengan teks atau naskah. Namun, untuk
kepentingan bidang kajian wacana yang tampaknya terus berusaha menjadi disiplin ilmu
yang mandiri. Kedua istilah tersebut kurang mendapat tempat dalam kajian wacana. Apalagi
istilah teks atau naskah tampaknya hanya berorientasi pada huruf (graf) sedangkan gambar

tidak termasuk didalamnya. Padahal gambar atau lukisan dapat dimasukkan pula kedalam
jenis wacana tulis (gambar). Sebagaiman dikatakan Hari Mukti Kridalaksana dalam Mulyana
(2005:52), wacana adalah satuan bahasa yang terlengkap, yang dalam hirarki kebahasaan
merupakan satuan gramatikal tertinggi dan terbesar. Wacana dapat direalisasikan dalam
bentuk kata, kalimat, paragraf atau karangan yang utuh (buku, novel, ensiklopedia, dan lainlain) yang membawa amanat yang lengkap dan cukup jelas berorientasi pada jenis wacana
tulis.
Menurut Djajasudarma (1994: 7-8) wacana dengan media komunikasi tulis dapat
berwujud antara lain:
a. Sebuah teks/ bahan tertulis yang dibentuk oleh lebih dari satu alinea yang mengungkapkan
sesuatu secara beruntun dan utuh, misalnya sepucuk surat, sekelumit cerita, sepenggal uraian
ilmiah.
b. Sebuah alinea, merupakan wacana, apabila teks hanya terdiri atas sebuah alinea, dapat
dianggap sebagai satu kesatuan misi korelasi dan situasi yang utuh.
c. Sebuah wacana (khusus bahasa Indonesia) mungkin dapat dibentuk oleh sebuah kalimat
majemuk dengan subordinasi dan koordinasi atau sistem elipsis.
Perhatikanlah makna yang terdapat dalam pernyataan berikut:
Ade mencintai bapaknya, saya juga.
Ketidakhadiran verba pada klausa kedua (saya juga) dan juga ketidakhadiran objek yang
diramalkan klausa kedua adalah:
d. ..........................., saya juga mencintai bapak saya
Atau
d. ............................., saya juga mencintai bapak Ade
2) Wacana Lisan
Menurut Mulyana (2005:52) wacana lisan (spoken discourse) adalah jenis wacana
yang disampaikan secara lisan atau langsung dalam bahasa verbal. Jenis wacana ini sering
disebut sebagai tuturan (speech) atau ujaran (utterance). Adanya kenyataan bahwa pada
dasrnya bahasa kali pertama lahir melalui mulut atau lisan. Oleh karena itu, wacana yang
paling utama, primer, dan sebenarnya adalah wacana lisan. Kajian yang sungguh-sungguh
terhadap wacana pun seharusnya menjadikan wacana lisan sebagai sasaran penelitian yang
paling utama. Tentunya, dalam posisi ini wacana tulis dianggap sebagai bentuk turunan
(duplikasi) semata.

Menurut Djajasudarma (1994:7) sebagai media komunikasi, wujud wacana sebagai


media komunikasi berupa rangkaian ujaran (tuturan) lisan dan tulis. Sebagai media
komunikasi wacana lisan, wujudnya berupa:
a. Sebuah percakapan atau dialog yang lengkap dari awal sampai akhir, misalnya
obrolan di warung kopi.
b. Satu penggalan ikatan percakapan (rangkaian percakapan yang lengkap, biasanya
memuat: gambaran situasi, maksud, rangkaian penggunaan bahasa) yang berupa:
Ica : .........................
Ania : Apakah kau punya korek?
Rudi : Tertinggal di ruang makan tadi pagi.
Penggalan wacana ini berupa bagian dari percakapan dan merupakan situasi yang
komunikatif.
c. Berdasarkan Cara Pengungkapan
1) Wacana langsung
Wacana langsung atau direct discourse adalah kutipan wacana yang sebenarnya
dibatasi oleh intonasi atau pungtuasi Kridalaksana (dalam Tarigan, 1987:55).
2) Wacana Tidak Langsung
Wacana tidak langsung atau indirect discourse adalah pengungkapan kembali wacana
tanpa mengutip harfiah kata-kata yang dipakai oleh pembicara dengan mempergunakan
konstruksi gramatikal atau kata tertentu, antara lain dengan klausa subordinatif, kata bahwa,
dan sebagainya.
d. Berdasarkan Isi
Menurut Mulyana (2005:57-63) klasifikasi wacana berdasarkan isi, relatif mudah
dikenali. Hal ini disebabkan antara lain, oleh tersedianya ruang dalam berbagai media yang
secara khusus langsung mengelompokkan jenis-jenis wacana atas dasar isinya. Isi wacana
sebenarnya lebih bermakna sebagai nuansa atau muatan tentang hal yang ditulis, disebutkan,
diberitakan, atau diperbincangkan oleh pemakai bahasa (wacana).
1) Wacana Politik
Wacana politik berkaitan dengan masalah politik.
2) Wacana Sosial
Wacana sosial berkaitan dengan kehidupan sosial dan kehidupan sehari-hari
masyarakat.
3) Wacana ekonomi

Wacana ekonomi berkaitan dengan persoalan ekonomi. Dalam wacana ekonomi, ada
beberapa register yang hanya dikenal di dunia bisnis dan ekonomi. Contoh ungkapanungkapan register ekonomi seperti persaingan pasar, biaya produksi tinggi, langkanya
sembako, konsumen dirugikan, inflasi, evaluasi, harga saham gabungan, mata uang, dan
sebagainya.
4) Wacana budaya
Wacana budaya berkaitan dengan aktivitas kebudayaan. Meskipun sampai saat ini
makna kebudayaan masih terus diperdebatkan, namun pada wilayah kewicanaan ini,
kebudayaan lebih dimaknai sebagai wilayah kebiasaan atau tradisi, adat, sikap hidup, dan
hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan manusia sehari-hari. Wilayah tersebut kemudian
menghasilkan bentuk-bentuk kebahasaan sabagai representasi aktivitasnya yang kemudian
disebut wacana budaya.
5) Wacana militer
Wacana jenis ini hanya dipakai, dikembangkan di dunia militer. Instasi militer dikenal
sangat suka menciptakan istilah-istilah khusus yang hanya dikenal oleh kalangan militer.
Contoh istilah dalam wicana militer seperti operasi militer, desersi, intelijen, apel pagi,
sumpah prajurit, veteran, dan lain-lain.
6) Wacana hukum dan kriminalitas
Persoalan hukum dan kriminalitas, sekalipun bisa dipisahkan, namun keduanya
bagaikan dua sisi dari mata uang: berbeda tetapi menjadi satu kesatuan. Kriminalitas
menyangkut hukum, dan hukum mengelilingi kriminalitas. Contoh istilah yang digunakan
dalam wacana hukum dan kriminalitas seperti tersangka, tim pembela, kasasi, vonis, hakim.
7) Wacana olahraga dan kesehatan
Wacana olahraga dan kesehatan berkaitan dengan masalah olahraga dan kesehatan.
Masalah yang berkaitan dengan kesehatan misalnya, muncul kalimat Sempat joging 10
menit, didiagnosis jantung ringan. Istilah joging adalah aktivitas olahraga ringan yang
berkaitan dengan kesehatan. Oleh karena itu, munculnya istilah jantung ringan pada bagian
berikutnya sama sekali bukan berarti berat jantung yang ringan (tidak berat), tetapi jenis sakit
jantung pada stadium awal (masih belum mengkhawatirkan).

DAFTAR RUJUKAN
Djajasudarma, Fatimah T. 1994. Wacana (Pemahaman dan hubungan antar unsur). Bandung:
PT. UNESCO.

Moeliono. M. Anton. 1988. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Hasan Alwi, et.al. 2000. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Henry Guntur Tarigan. 1987. Pengajaran wacana. Bandung: Angkasa.
Mulyana. 2005. Kajian wacana. Yogyakarta: Tiara wacana.
Rani, Bustanul Arifin, dan Martutik. 2006. Analisis Wacana. Malang: Bayumedia Publishing.
Sumarlam, dkk. 2009. Teori dan Praktik Analisis Wacana. Surakarta: Pustaka Cakra
Surakarta.