Anda di halaman 1dari 6

ASPEK KESEHATAN & KESELAMATAN KERJA

PADA TENAGA KERJA SEKTOR PERTANIAN


I. Pendahuluan
Pertanian di indonesia dan di negara berkembang pada umumnya
merupakan sector informal dengan sekala kegiatan usaha kecil di sector
ekonomi.
cuku[

Namun,

besar

di

dalam

indonesia
penyerapan

sector
tenaga

tersebut
kerja

mempunyai
Data

bps

andil
tahun

2001menunjukan bahwa sekitar 40 juta (45 %) dari sekitar 90 juta


angkatan kerja yang berusia 15 tahun keatas bekerja di sector pertanian,
kehutanan dan nelayan. Pekerjaan di ketiga sector tersebut dikenal
dengan nama petani baik sebagian kecil sebagai pemilik maupun
sebagian besar sebagai pekerja dan dikategorikan sector ekonomi
marginal.

Padahal

penyerapan lapangan kerja

di

sector

pertenian

termasuk kehutanan dan nelayan menduduki urutan tertinggi di banding


sector ekonomi lainnya.
System pertanian modern sering dikaitkan dengan pemakaian pestisida
untuk memberantas hama. Bahkan penggunaan pestisida ini diyakini
petani merupakan kebutuhan yang sangat penting dalam meningkatkan
produksinya. Pemakaian pestisida biasanya disebabkan oleh kehawatiran
akan serangan hama yang berakibat menurunnya hasil produksinya.
Terkadang kemarahan petani akan serangan hama sering dikonpensasikan
dengan penambahan kombinasi jenis dan peningkatan dosis pestisida
yang digunakan.
Sebagian besar penduduk yang bekerja di sector pertanian beserta
keluarganya merupakan kelompok penduduk yang belum mendapatkan
pelayanan kesehatan khususnya pelayanan kesehatan kerja secara
mendasar. Padahal bila dilihat dari lingkungan kerjanya baik lingkungan
alami, peralatan dan bahan-bahan kimiawi, kelompok ini memiliki resiko
penyakit akibat kerja yang cukup besar.

Program Ksehatan Kerja/IKM-5/2005/Isyeu

II. Tujuan
1. TIU
Pada akhir perkuliahan mahasiswa diharapkan mampu menjelaskan
aspek-aspek K3 pada tenaga kerja sektor pertanian.
2. TIK
a. Mahasiswa mampu menjelaskan karakteristik pekerjaan di sektor
pertanian
b. Mahasiswa

mampu

mengidentifikasi

masalah

kesehatan

dan

keselamatan kerja pada tenaga kerja di sektor pertanian


c. Mahasiswa

mampu

menjelaskan

langkah-langkah

dalam

meningkatkan kesehatan dan keselamatan kerja tenaga kerja di


sektor pertanian
III. Pokok bahasan
1. Karakteristik pekerjaan di sektor pertanian
Pertanian

merupakan

pekerjaan

sektor

informal,

yang

memilii

lingkungan kerja yang jelas. Secara turun-temurun pekerjaan pertanian


melibatkan tenaga kerja laki-laki dan wanita. Ada yang menerapkan
pembagian tugas secara gender adapula yang tidak sesuai dengan
jenis pertanian yang digarapnya. Sebagai contoh pada pertanian
bawang merah di brebes, tenaga kerja laki-laki mengerjakan penyiapan
lahan temasuk mencangkul dan menyiram air, menabur pupuk dan
menyemprot pestisida, mengagkut hasil panen dan melumuri benih
bawang merah dengan pestisida, sedangkan tenaga kerja wanita
mengerjakan

pemilihan

benih,

menanam

bawang

merah,

membersihkan rumput, memanen, membersihkan, menjemur dan


memasarkan.
Ritme kerja petanibiasanya berlangsung tiap hari dari pukul 06.0009.00 dan pukul 16.00-18.00 dan biasanya mereka bekerja lebih dari 8
jam/hari atau bahkan kurang. Pertanian mengerjakan pekerjaan fisik
yang cukup berat misalnya mencangkul, membajak, menyambit, dll.

Program Ksehatan Kerja/IKM-5/2005/Isyeu

Pekerjaan merekapun dilakukan di luar ruangan dengan potensi panas


sinar matahari. Peralatan yang digunakan pun sangat sederahan dan
pakaian seadanya/alakadarnya seperti baju lengan pendek atau kaos,
celana pendek serta topi tanpa menggunakan alat pelindung diri yang
memadai.
2. Masalah kesehatan dan keselamatan kerja pada tenaga kerja di sektor
pertanian
Kesehatan kerja petani pada hakekatnya, tergantung pada hubungan
interaktif antara 3 komponen utama yang mempengaruhi perpormance
kerja mereka, yaitu :
a. Kapasitas kerja
Kapasitas

kerja

adalah

kemampuan

seorang

petani

untuk

menyelesaikan pekerjaanya dalam medan yang berat. Kapasitas


kerja termasuk tingkat kesehatan, gizi para petani, keterampilan
menyangkul maupun berfikir masalah-masalah pertanian.
Petani aktif yang dijumpai di sawah atau diperkebunan, secara
alamiah sudah terseleksi memenuhi tingkat kesehatan minimum.
Pekerjaan-pekerjaan sektor pertanian menuntut kondisi badan yang
prima. Petani-petani yang menderita tuberkulosis berat, diabetes
melitus, secara alamiah akan terseleksi dan tinggal di rumah
sehingga tidak akan dijumpai dilapangan. Namun demikian, selain
tingkat

gizi,

yang

rendah

banyak

masalah

kesehatan

yang

sebenarnya dapat dijumpai di lapangan.


b. Beban kerja
Termasuk beban kerja fisik yang cukup bera, misalnya mencangkul,
menyambit, membajak dan lain-lain. Berbeda dengan pekerjaanpekerjaan manager atau dokter yang lebih menggunaan otak untuk
menyelesaikan pekerjaanya. Untuk menentukan beban kerja petani
dapat digunakan beberapa indikator seperti denyut nadi atau

Program Ksehatan Kerja/IKM-5/2005/Isyeu

dengan menggunakan alat-alat pengukur beban kerja. Namun perlu


pula diperhatikan beban kerja rangkap, bekerja lebih dari 8 jam/hari.
c. Beban tambahan
Beban

tambahan

dari

lingkungan

kerja

pertanian

dapat

dikategorikan :
-

fisik

: sinar ultrapiolet, suhu udara, musim, dll

kimia

: pestisida, herbisida, pupuk, hormon tumbuhan

biologis

sosial : hubungan antar petani

: cacing tambang, malaria, lintah, dll

Selain itu masalah ergonomi juga perlu diperhatikan. Pada fase


pengolahan tanah bermacam-macam alat, cara kerja, dan sikap
kerja yang bisa diketemukan segala permasalahannya. Cangkul
yang digunakan dengan tipe, bentuk, mutu dan berat yang berbedabeda banyak dijumpai di kalangan petani. Selain itu traktor yang
digunakan yang lebih ekonomis dan menguntungkan di dalam
mengerjakan tanah memiliki kelemahan-kelemahan jika dilihat dari
segi ergonomi. Traktor tangan yang sekarang banyak beredar
ternyata memiliki berat lebih dari 200 kg satu beban yang cukup
berat untuk ditangani sendiri. Belum juga didalam menjalankan
peralatan khusus traktor seperti alat pindah gigi, handle shifting
level, dan power take off,

yang tidak sesuai dengan ukuran

antropometri petani. Begitu juga berjalan dalam lumpur dibelakang


traktor masih merupakan pekerjaan berat, apalagi pada saat-saat
memutar, resiko kecelakaan disini sangat memungkinkan. Belum
lagi berbicara mengenai adanya getaran, bising, pengotor udara,
dan tanah oleh asap dan bekas minyak.
Yang perlu diperhatikan lagi diantara beban tambahan sektor
pertanian, masalah pestisida merupakan masalah yang utama
kesehatan kerja sektor pertanian dan perkebunan yang memerlukan
penangan yang cukup mendesak. Pertanian merupakan sekttor
tebesar

dalam

hal

Program Ksehatan Kerja/IKM-5/2005/Isyeu

menggunakan

bahan

kimia

ini.

Dan

penggunaanya pun kurang baik dan memiliki potensi bahaya yang


dapat mempengaruhi keehatan petani. Sebagai contoh praktek
pemkaian pestisida yang dilakukan tanpa menghentikan petani lain
yang

ada

disekitarnya,

perlindungan

penggunaan

terhadap

tubuh/tanpa

tanpa

memperhatikan

menggunakan

APD,

pncampuran dan penyemprotan yang kurang baik, penyimpanan


dan pembuangan bekas pestisida yang kurang baik, dan pemakaian
pestisida secara berlebihan dan digunakan secara rutin yang disebut
praktek cover mass blanket system.
Beberapa study tentang pestisida kaitannya dengan kesehatan
tenaga kerja di daerah di Indonesia telah banyak dilakukan dan
relatif

serupa

yaitu

terfokus

pada

masalah

pengukuran

cholinesterase atau monitoring biologis lainnya seperti kadar residu


pestisida, yang kesemuanya sebagai manifestasi prilaku petani
dalam penggunaan pestisida. Bahaya pestisida telah dilaporkan
dalam berbagai studi yang dilaporkan, akan tetapi pengetahuan ini
tampaknya belum menyentuh ke semua level petani. Bahkan dari
studi-studi tersebut diperoleh hubungan yang signifikan antara
tingkat pendidikan dengan perilaku petani terhadap pestisida
3. Langkah-langkah dalam meningkatkan kesehatan dan keselamatan
kerja tenaga kerja di sektor pertanian.
Sektor pertanian merupakan pekerjaan sektor informal. Untuk dapat
meningkatkan kesehatan dan keselamatan kerja bagi para petani perlu
diupayakan

penyelenggaraan

pelayanan

kesehatan

dengan

membentuk suatu program upaya kesehatan kerja sektor informal


dalam bentuk ukk melalui puskesmas.
Dengan tidak mengesampingkan aspek lainnya, aspek k3 yang paling
dominan dalam bidang pertanian adalah penggunaan pestisida dalam
pekerjaannya. Upaya untuk meingkatkan derajat kesehatan dapat
diambil langkah-langkah sebagai berikukt :

Program Ksehatan Kerja/IKM-5/2005/Isyeu

a. Peningkatan pengetahuan para petani dan pihak pemerintah yang


terkait yang merupakan sasaran yang strategis dalam jangka waktu
panjang utnuk meningkatkan kesadaran masyarakat khususnya
petani akan bahaya pestisida dan kerugian yang bisa diderita akibat
biaya pengobatan yang ditanggung, serta kehilangan income karena
kehilangannya hari kerja akibat pemaparan pestisida.
b. Pengembangan

efektivitas

dan

promosi

pemakaan

apd

serta

kemudahan akses bagi petani maupun pedagang eceran pestisida


akan meningkatkan kesadaran pentingnya memakai apd yang
memadai bagi petani maupaun pedagang yang menggunakan atau
bekerja dengan pestisida.
c. Pengembangan
kesehatan

penerapan

masyarakat

dari

program
segi

jaminan

kualitas

pemeliharaan

pelayanan

serta

kemudahan dalam akses sehingga masyarakat dapat menjangkau


pelayanan

kesehatan

yang

dibutuhkan

sesuai

permasalahan

kesehatan yang dihadapi.


d. Pengaktipan forum komunikasi antar petani dengan petani dan
petani

dengan

pemerintahsetempat

untuk

bersama-sama

menanggulangi permasalahan pemakaian pestisida pada kesehatan.

Pustaka :
Ahmadi, F.U. Aspek Kesehatan Kerjs Pengguns Pestisida pada Sektor
Pertanian dan Perkebunan. dalam Buku Upaya Kesehatan Kerja
Sektor Informal di Indonesia. Depkes R I.
Denny, M. H. Aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada Pemakai
Pestisida di Pertanian. Simposium Ristek K3 Jakarta. 2002.

Program Ksehatan Kerja/IKM-5/2005/Isyeu