Anda di halaman 1dari 2

PENATALAKSANAAN NYERI

No. Dokumen:

No. Revisi :

Tanggal Terbit :

Halaman : /
Ditetapkan Direktur

STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
PENGERTIAN

TUJUAN

KEBIJAKAN

dr. Yudi Harisanoza


Penatalaksaan nyeri adalah suatu kegiatan dan tata cara penilaian dan
penanganan nyeri pada pasien yang dilakukan secara proaktif, multidsiplin
dan kolaborasi meliputi kegiatan penialain secara individu , perencanaan,
intenvensi serta evaluasi nyeri serta penanganan nyeri.
Sebagai pedoman penatalaksanaan nyeri bagi pasien dan memastikan
kenyamanan pasien secara optimal melalui prosedur penialain dan
penanganan nyeri yang proaktif
Skrining dan penialain awal nyeri dilakukan pada semua paasien tanpa
kecuali. Pengkajian nyeri dilakukan bila hasil skrening menunjukkan
adanya nyeri.

1. Ucapkan salam dan kenalkan diri pada pasien dan keluarga


PROSEDUR

2. Lakukan cuci tangan 6 langkah sesuai prosedur


3. Dilakukan identifikasi pada semua pasien
4. Lakukan identifikasi nyeri terhadap pasien dengan menggunakan
skala

nyeri

sesuai

dengana

kategori

usia

pasien

secara

komprehensive termasuk lokasi, kaaraakteristik, omset dan durasi,


frekuensi, kualitas, intensitas atau berat-ringannya nyeri dan faktor
presifitasi.
5. Hasil pengkajian dicatat pada pengkajian nyeri
6. Jika pasien mengalami nyeri dengan skala lebih dari O, maka
lakukan pengkajian lanjutan terhadap apsien dengan menggunakan
formulir observasi nyeri.
7. Laporkan pada dokter peananggung jawab pasien tentang nyeri
yang dialami pasien.
8. Berikan obat sesuai advis dokter.
9. Lakukan observasi terhadap nyeri sesuai dengan skor nyeri dimana
skor nyeri O, maka observasi tiap 24 jam, skor nyeri 1-3 observasi
dilakukan setiap shift/tiap 8 jam, skor nyeri 4-6, maka observasi
dilakukan 2 kali/sift atau tiap 4 jam, skor nyeri 7-10 maka
observasi nyeri dilakukan tiap 2 jam.

PENATALAKSANAAN NYERI
No. Dokumen:

No. Revisi :

Halaman : /

10. Untuk pasien yang berpotensi mengalami nyeri seperti pasien pasca
PROSEDUR

operasi, pasien onkologi, pasien dengan nyeri kronik, maka


dilakukan

observasi

nyeri

setiap

jam

pada

24

jam

pertama,kemudian setiap 4 jam.


11. Jelaskan pada pasien dan keluarga tentang nyeri seperti penyebab
nyeri, berapa lama berakhir, antisipasi ketidaknyamanan dari
prosedur.
12. Bila terjadi perubahan peningkatan dan penurunan skor nyeri
perwatan yang melakukan observasi harus segera melapor kepada
DPJP atau dokter jaga ruangan.
13. DPJP memberikan instruksi tatalaksana nyeri termasuk konsultasi
sejawat lain apabila diperlukan.
14.

Unit Terkait

Catat semua instruksi dokter di catatan terintegrasi.

Rawat Inap, Rawat Jalan, UGD, Unit Intensive, OK,