Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH

INTEGRASI ETIKA
Untuk Memenuhi Tugas Terstruktur Mata Kuliah Etika Profesi

Disusun oleh: Kelompok 1


Kelas K
Anggota
1. Kinanthi Aprilia I.
2. Safarina Ubaydiyyah
3. Rustin Eka Sevtya y.
4. Gabreilla Diah P.
5. Iswatin Iftitah E. M.
6. Dame Gultom
7. Dewi Sitanggang
8. Yosephine Siahaan
9. Ummu Fatkhiyatul Afriza
10. Ghafrin Aqsath

135040100111046
135040100111047
135040100111057
135040100111072
135040100111097
135040100111128
135040100111148
135040100111154
135040101111001
135040101111004

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2015

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Etika adalah adalah studi tentang kehendak manusia yaitu kehndank yang
berhubungan dengan keputusan tetang yang benar dan yang salah dalam tindak
perbuatanmanusia. Etika berusaha untuk menemukan prinsip-prinsip yang paling
tepat dalam bersikap. Prinsip-prinsip tersebut dibutuhkan untuk membuat hidup
manusia menjadi sejahtera secara keseluruhan. Etika memiliki peranan penting
dalam mengati tindakan manusia. Etika mampu menggambarkan tindakantindakan yang baik atau buruk yang dilakukan manusia.
Kerja pada hakikatnya merupakan salah satu kewajiban dasar setiap
manuisa. Dengan bekerja mnusia dapat memiliki segala sesuaut yang
diinginkannya dan memperoleh apa yang menjadi haknya sendiri. Tujuan utama
sebuah profesi bukanlah untuk menciptakan uang sebagai pemenuh kebutuhan
manusia. Profesi sebagai sarana bagi hidupnya manusia, dan penyandang profesi
membutuhkan imbalan jasa atas pelayanannya. Bagi penyandang profesi,
imbalan jasa yang diperoleehnya akna berguna untuk memperoleh hidup yang
enak, berpakian bagus, membeli buku-buku serta bergahai hal yang diperlukan
yang memungkinkannya untuk menjalankan pekerjaannya dengan sebaikbaiknya serta memberikan sumbangan yang berharga kepada segenap anggota
masyarakat.
Dalam praktiknya, dalam setiap pekerjaan, memiliki aturan-aturan
tersendiri sehingga pekerjaan tersebut dapat terarah dan sesuai dengan apa yang
diharapkan. Adanya etika dalam sebuah pekerjaan akan mebuat setiap pihakpihak yang tergabung dalam profesi tersebut tidak semena-mena melakukan
apapun. Ada hal-hal yang benear-benar harus dijaga. Maka dari itu, diperlukan
lah etika profesi. Etika profesi diterapkan pada kelompok-kelompo fungsional
tertentu dan merupakan perntaraan usaga untuk menegaskan situasinya sehingga
peran atau fungsi kelompok-kelompok tersebut menjadi jelas.

Etika profesi juga akan berkaitan dengan nilai-nilai yang dianut dalam
suatu profesi yang saling berkaitan dengan etika. Dalam hal ini terdapat segitiga
keseimbangan yang menhubungkan antara nilai dan etika. Seperti yang diketahui
bahwa saat ini, pemenuhan kebutuhan dalam kehidupan sehari-hari merupakan
hal yang cukup dikejar-kejar oleh setiap individu untuk dapat melangsungkan
hidup mereka. Tidak cukup hanya untuk melangsungkan hidup mereka, profesi
yang dipegang juga diharapkan mampu memenuhi kepuasan-kepusana atau
keinginan dari setiap individu. Melihat hal tersebut, maka akan dibahas dalam
makalah ini bagaimana kondisi etika profeesi saat ini. Bagaimana etika
diharapkan mamapu menjaga kehormatan profesi dadri tiap individu-individu.
Hubungan etika dengan nilai akan saling berhubungan yang digambarkan dalam
segitiga keseimbangannya.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa itu segitiga keseimbangan dalam etika profesi?
2. Bagaiamana etika dan tujuan hidup sebenarnya?
3. Bagaimana peran manusia dan sistem nilai
4. Bagaimana integrasi nilai etika?
5. Bagaimana kondisi saat ini dalam segitiga keseimbangan?
6. Bagaimana penyelesaian dalam menggunakan segitiga keseimbangan?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui dan memahami kondisi saat ini dalam segitiga keseimbangan.
2. Mngetahui dan memahami penyelesaian dalam menggunakan segitiga
keseimbangan.
3. Mengetahui integrasi nilai etika yang sebenarnya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Definisi Etika Profesi


Pengertian Etika (Etimologi), berasal dari bahasa Yunani adalah
Ethos, yang berarti watak kesusilaan atau adat kebiasaan (custom). Etika
biasanya berkaitan erat dengan perkataan moral yang merupakan istilah dari
bahasa Latin, yaitu Mos dan dalam bentuk jamaknya Mores, yang berarti
juga adat kebiasaan atau cara hidup seseorang dengan melakukan perbuatan
yang baik (kesusilaan), dan menghindari hal-hal tindakan yang buruk. Etika dan
moral lebih kurang sama pengertiannya, tetapi dalam kegiatan sehari-hari
terdapat perbedaan, yaitu moral atau moralitas untuk penilaian perbuatan yang
dilakukan, sedangkan etika adalah untuk pengkajian sistem nilai-nilai yang
berlaku.
Adapun arti etika dari segi istilah, telah dikemukakan para ahli dengan
ungkapan yang berbeda-beda sesuai dengan sudut pandangnya. Menurut
Ahmad amin mengartikan etika adalah ilmu yang menjelaskan arti baik dan
buruk, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia, menyatakan
tujuan yang harus dituju oleh manusia di dalam perbuatan mereka dan
menunjukkan jalan untuk melakukan apa yang seharusnya diperbuat.
Berikutnya, dalam encyclopedia Britanica, etika dinyatakan sebagai filsafat
moral, yaitu studi yang sitematik mengenai sifat dasar dari konsep-konsep nilai
baik, buruk, harus, benar, salah, dan sebagainya. Sedangakan menurut Drs. H.
Burhanudin Salam etika adalah cabang filsafat yang berbicara mengenai nilai
dan norma moral yang menentukan prilaku manusia dalam hidupnya.
Dari definisi etika tersebut diatas, dapat segera diketahui bahwa etika
berhubungan dengan empat hal sebagai berikut. Pertama, dilihat dari segi objek
pembahasannya, etika berupaya membahas perbuatan yang dilakukan oleh
manusia. Kedua dilihat dari segi sumbernya, etika bersumber pada akal pikiran
atau filsafat. Sebagai hasil pemikiran, maka etika tidak bersifat mutlak, absolute

dan tidak pula universal. Ia terbatas, dapat berubah, memiliki kekurangan,


kelebihan dan sebagainya. Selain itu, etika juga memanfaatkan berbagai ilmu
yang membahas perilaku manusia seperti ilmu antropologi, psikologi, sosiologi,
ilmu politik, ilmu ekonomi dan sebagainya. Ketiga, dilihat dari segi fungsinya,
etika berfungsi sebagai penilai, penentu dan penetap terhadap sesuatu perbuatan
yang dilakukan oleh manusia, yaitu apakah perbuatan tersebut akan dinilai baik,
buruk, mulia, terhormat, hina dan sebagainya. Dengan demikian etika lebih
berperan sebagai konseptor terhadap sejumlah perilaku yang dilaksanakan oleh
manusia. Etika lebih mengacu kepada pengkajian sistem nilai-nilai yang ada.
Keempat, dilihat dari segi sifatnya, etika bersifat relative yakni dapat berubahubah sesuai dengan tuntutan zaman.
Dengan ciri-cirinya yang demikian itu, maka etika lebih merupakan ilmu
pengetahuan yang berhubungan dengan upaya menentukan perbuatan yang
dilakukan manusia untuk dikatakan baik atau buruk. Berbagai pemikiran yang
dikemukakan para filosof barat mengenai perbuatan baik atau buruk dapat
dikelompokkan kepada pemikiran etika, karena berasal dari hasil berfikir.
Dengan demikian etika sifatnya humanistis dan antroposentris yakni bersifat
pada pemikiran manusia dan diarahkan pada manusia. Dengan kata lain etika
adalah aturan atau pola tingkah laku yang dihasilkan oleh akal manusia. Etika
adalah Ilmu yang membahas perbuatan baik dan perbuatan buruk manusia
sejauh yang dapat dipahami oleh pikiran manusia.
Istilah profesi telah dimengerti oleh banyak orang bahwa suatu hal yang
berkaitan dengan bidang yang sangat dipengaruhi oleh pendidikan dan keahlian,
sehingga banyak orang yang bekerja tetap sesuai. Tetapi dengan keahlian saja
yang diperoleh dari pendidikan kejuruan, juga belum cukup disebut profesi.
Tetapi perlu penguasaan teori sistematis yang mendasari praktek pelaksanaan,
dan hubungan antara teori dan penerapan dalam praktek. Menurut De George,
profesi adalah pekerjaan yang dilakukan sebagai kegiatan pokok untuk
menghasilkan nafkah hidup dan yang mengandalkan suatu keahlian.
Profesional, adalah orang yang mempunyai profesi atau pekerjaan purna waktu

dan hidup dari pekerjaan itu dengan mengandalkan suatu keahlian yang tinggi.
Atau seorang profesional adalah seseorang yang hidup dengan mempraktekkan
suatu keahlian tertentu atau dengan terlibat dalam suatu kegiatan tertentu yang
menurut keahlian, sementara orang lain melakukan hal yang sama sebagai
sekedar hobi, untuk senang-senang, atau untuk mengisi waktu luang.
Dengan demikian, etika akan memberikan semacam batasan maupun
standar yang akan mengatur pergaulan manusia di dalam kelompok sosialnya.
Dalam pengertiannya yang secara khusus dikaitkan dengan seni pergaulan
manusia, etika ini kemudian dirupakan dalam bentuk aturan (code) tertulis yang
secara sistematik sengaja dibuat berdasarkan prinsip-prinsip moral yang ada
dan pada saat yang dibutuhkan akan bisa difungsikan sebagai alat untuk
menghakimi segala macam tindakan yang secara logika-rasional umum
(common sense) dinilai menyimpang dari kode etik.
Dengan demikian etika adalah refleksi dari apa yang disebut dengan self
control, karena segala sesuatunya dibuat dan diterapkan dari dan untuk
kepenringan kelompok sosial (profesi) itu sendiri. Selanjutnya, karena
kelompok

profesional

merupakan

kelompok

yang

berkeahlian

dan

berkemahiran yang diperoleh melalui proses pendidikan dan pelatihan yang


berkualitas dan berstandar tinggi yang dalam menerapkan semua keahlian dan
kemahirannya yang tinggi itu hanya dapat dikontrol dan dinilai dari dalam oleh
rekan sejawat, sesama profesi sendiri. Kehadiran organisasi profesi dengan
perangkat built-in mechanism berupa kode etik profesi dalam hal ini jelas
akan diperlukan untuk menjaga martabat serta kehormatan profesi, dan di sisi
lain melindungi masyarakat dari segala bentuk penyimpangan maupun
penyalah-gunaan kehlian.
Prinsip-prinsip etika profesi adalah sebagai berikut:
1. Tanggung jawab.
Prinsip ini memfokuskan kita terhadap pelaksanaan pekerjaan itu dan
terhadap hasilnya, serta terhadap dampak dari profesi itu untuk kehidupan
orang lain atau masyarakat pada umumnya.

2. Keadilan.
Prinsip ini menuntut kita untuk memberikan kepada siapa saja apa yang
menjadi haknya.
3. Otonomi.
Prinsip ini menuntut agar setiap kaum profesional memiliki dan di beri
kebebasan dalam

menjalankan profesinya.

Oleh karena itu dapatlah disimpulkan bahwa sebuah profesi hanya


dapat memperoleh kepercayaan dari masyarakat, bilamana dalam diri para
elit profesional tersebut ada kesadaran kuat untuk mengindahkan etika
profesi pada saat mereka inginmemberikan jasa keahlian profesi kepada
masyarakat yang memerlukannya. Tanpa etika profesi, apa yang semual
dikenal sebagai sebuah profesi yang terhormat akan segera jatuh
terdegradasi menjadi sebuah pekerjaan pencarian nafkah biasa (okupasi)
yang tidak diwarnai dengan nilai-nilai idealisme dan ujung-ujungnya akan
berakhir dengan tidak-adanya lagi respek maupun kepercayaan yang pantas
diberikan kepada para elite profesional ini.
2.2 Segitiga Keseimbangan ( Tuhan, Manusia dan Alam)
Manusia adalah makhluk yang unik. Beragam definisi tentang manusia
ditampilkan oleh para ahli. Dan uniknya lagi tak ada satu pun dari mereka yang
sepakat mengenai definisi manusia tersebut. Definisi yang di berikan mereka
saling bertolak belakang satu sama lainnya.mereka mendefisikan manusia
berdasarkan latar belakang disiplin keilmuan masing-masing.
Kaum

logika

mendefinisikan

manusia

sebagai

makhluk

yang

berfikir (Homo Sapien). Kalangan ekonomi mengartikan manusia sebagai


mahluk

yang

selalu

ingin

memenuhi

kebutuhan

ekonominya(Homo

Economicus). Kelompok manejemen melukiskan manusia sebagai makhluk


yang selalu menjalankan kegiatan administrasi (Homo Administraticus). Ahli
psikologi menerjemahkan manusia sebagai makhluk yang digerakkan oleh
keinginan-keinginan psikis (Homo Motorik) dan makhluk yang digerakkan oleh

lingkungan nya (Homo Mecanicus). Sedangkan kalangan adamawan mendesain


manusia sebagai makhluk yang diciptakan Tuhan menyembah kepada-Nya, dan
kepada-Nya pula akan dikembalikan.
Semua definisi itu mengandung kebenaran. Manusia, terlepas dari
berbagai macam karakter dan kepribadian yang melingkupinya, selalu
melakukan karakteristik-karakteristik seperti yang telah didefinisikan olah para
ahli. Pada kenyataannya manusia selalu berfikir. Manusia juga sepanjang
hidupnya tak pernah berhenti dan selalu berusaha menyukupi kebutuhankebutuhan hidupnya. Manusia tak pernah lepas dari keinginan-keinginan.
Manusia dalam banyak hal sering berperilaku mengikuti lingkungannya.
Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan, terdiri dari tubuh dan jiwa
sebagai kesatuan utuh. Manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang paling
sempurna karena dilengkapi oleh penciptanya dengan akal, perasaan dan
kehendak. Akal adalah alat berpikir, sebagai sumber ilmu dan teknologi.
Dengan akal manusia menilai mana yang benar dan yang salah. Perasaan adalah
alat untuk menyatakan keindahan sebagai sumber seni. Dengan perasaan
manusia menilai mana yang indah dan yang jelek sebagai sumber nilai
keindahan. Kehendak adalah alat untuk menyatakan pilihan, sebagai sumber
kebaikan. Dengan kehendak manusia menilai mana yang baik dan yang buruk
sebagai sumber nilai moral. Dalam kehidupan manusia disadari bahwa yang
benar dan yang indah dan yang baik itu menyenangkan, membahagiakan ,
menenteramkan dan memuaskan manusia. Sebaliknya, yang salah, yang jelek ,
dan yang buruk itu menyengsarakan, menyusahkan, mengelisahkan dan
membosankan manusia. Dari dua sisi yang bertolak belakang ini, manusia
adalah sumber penentu yang menimbang, menilai, memutuskan untuk memilih
yang paling menguntung baik ditinjau dari segi agama atau moral.
Jika berbicara tentang alam, alam bisa dikatakan yaitu sebagai suatu
yang mencakup segala sumber alam atau kekayaan alam. Alam bisa disebut
juga dengan lingkungan yang tanpa kegiatan manusia.

Tuhan, manusia dan alam raya ialah satu kesatuan utuh, dimana pemilik
kekuasaan penuh ialah Tuhan YME. Tuhan hanyalah satu dan tidak
diperanakkan. Hubungan sebab akibat hanya terjadi antara manusia dan alam
raya. Interaksi antara kedua hal tersebut tidak akan menguntungkan dan
merugikan Tuhan. Interaksi tersebut hanya akan mempengaruhi manusia dan
alam raya. Manusia ialah pihak yang aktif dalam pengelolaan alam raya. Alam
raya ialah pihak yang pasif yang mana bereaksi ketika mendapat aksi dari
manusia. Oleh karena itu, manusia disebut juga pemimpin alam raya.
TUHAN

MAKHLUK (MANUSIA)

LINGKUNGAN

SISTEM NILAI
YANG
DIANUT

(Anonimus, 2013)

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Etika dan Tujuan Hidup
Setiap perbuatan manusia selalu memandang dua hal yaitu sumber
perbuatan dan tujuan perbuatan. Sumber perbuatan adalah kecendrungan batin,
kecenderungan baik atau kecendrungan buruk. Sedangkan tujuan perbuatan adalah
sesuatu yang diharapkan timbul atau terjadi setelah dilakukan perbuatan itu.
Etika tujuan adalah etika yang memandang objek petimbangan moral
bukan sumber perbuatan melainkan tujuan perbuatan. Etika tujuan banyak dianut
dalam berbagai bentuk. Hal ini tidak mengherankan karena kenyataan bahwa
setiap manusia tentu pernah bertanya Apakah Tujuan Hidupku Sebenarnya?.
Apakah tujuan hidupku untuk mencapai kebahagian, membuat orang lain
bahagia, meningkatkan kesejahteraan umum, mengabdi kepada manusia-manusia
lain, menyempurnakan diri sendiri, memperkembangkan kepribadian ataupun halhal lain ?. Dengan kata lain, manusia mempertanyakan makna hidup, dengan
demikian mempertanyakan juga tujuan hidup. Hasrat ini didasarkan pada
kenyataan yang lebih mendasar, yaitu manusia yang dalam kebulatannya
merupakan objek pertimbangan moral adalah manusia yang melakukan perbuatan.
Melakukan perbuatan merupakan usaha, dan selalu terarah untuk mencapai tujuan.
Sifat tujuan menentukan sifat usaha, yang akhirnya dapat menyingkapkan sifat
manusia (Tim Dosen, 2014).
Dengan cara demikian, dapat diperoleh gambaran mengenai keadaan moral
seseorang berdasarkan tujuan yang hendak dicapainya. Tujuan yang hendak
dicapai memang harus baik. Tetapi norma-norma moral menentukan tujuan yang
baik itu. Sering tidak mudah untuk menentukan tujuan yang hendak dicapai
seseorang. Kelihatannya dia hendak mencapai tujuan tertentu, tetapi setelah
diselidiki lebih dalam ternyata semu belaka. Pada kenyataannya, dia hendak
mencapai sesuatu yang lain sama sekali.

3.2 Manusia Dan Sistem Nilai


Manusia sebagai makhluk budaya selalu melakukan penilaian terhadap
keadaan yang dialaminya. Menilai berarti memberi pertimbangan untuk
menentukan sesuatu itu benar atau salah, baik atau buruk, indah atau jelek,
berguna atau tidak berguna. Hasil penilaian itu disebut nilai, yaitu sesuatu yang
benar, yang baik, yang indah, yang berguna atau yang sebaliknya.
Manusia selalu cenderung menghendaki nilai kebenaran, nilai kebaikan,
nilai keindahan karena berguna bagi kehidupan manusia. Nilai-nilai yang hidup
dalam pikiran anggota masyarakat membentuk sistem nilai yang berfungsi sebagai
pedoman atau acuan perilaku. Sistem nilai dan sistem hukum menjadi dasar
kehidupan masyarakat (Tim Dosen, 2014).
Nilai yang dimiliki seseorang mempengaruhi perilakunya. Sedangkan
norma sebenarnya mengatur perilaku manusia yang berhubungan dengan nilai
yang terdapat dalam suatu kelompok. Artinya, untuk menjaga agar nilai kelompok
agar tetap bertahan, lalu disusunlah norma-norma untuk menjaganya. Oleh karena
itu pelanggaran terhadap norma berarti juga pelanggaran terhadap nilai yang
dimiliki oleh kelompok atau masyarakat.
Macam-macam Nilai Menurut Notonegoro (1974), nilai dibagi menjadi 3
bagian yaitu:
1. Nilai material, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi unsur manusia.
2. Nilai vital, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat
mengadakan aktivitas.
3. Nilai kerohanian, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi jiwa/rohani manusia.
Nilai kerohanian dapat dibagi atas 4 macam yaitu:
a. Nilai kebenaran atau kenyataan yang bersumber dari unsure akal manusia
b. Nilai keindahan yang bersumber dari unsur rasa manusia
c. Nilai moral/kebaikan yang berunsur dari kehendak/kemauan
d. Nilai religius, yaitu merupakan nilai Ketuhanan, kerohanian yang tinggi
dan mutlak yang bersumber dari keyakinan/ kepercayaan manusia

Manusia menjadikan nilai sebagai landasan, alasan, atau motivasi dalam


segala tingkah laku dan perbuatannya. Dalam bidang pelaksanaannya, nilai-nilai
dijabarkan dan diwujudkan dalam bentuk kaidah atau norma.
3.3 Integrasi Nilai Etika
Integrasi adalah mutu, sifat atau keadaan yang menunjukkan kesatuan
yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan
kewibawaan dan kejujuran. Sementara, etika didefinisikan sebagai pemahaman
tentang hal yang baik dan buruk atau hak dan kewajiban mengenai moral dan
ahlak. Jika keduanya digabung dan ditempatkan di dalam sanubari, maka dapat
mencetak perilaku setiap individu untuk selalu beretika baik serta berintegritas
tinggi baik di dalam maupun di luar lingkungan lingkungan kerja (profesi).
Karena itu, setiap profesi harus berani merumuskan integrasi ke dalam sebuah
Nilai Etika.
Nilai etika harus dituangkan ke dalam berbagai aturan atau standar
perilaku agar dapat menjadi kerangka perilaku yang dipedomani setiap profesi.
Nilai etika bukan sekadar bermanfaat untuk membentuk (memotivasi dan
mendorong) perilaku masyarakat sehari-hari, namun juga membimbing mereka
ketika melakukan proses pengambilan keputusan. Sehingga jika nilai etika dapat
ditegakkan secara konsisten dan konsekuen dalam suatu profesi.
Namun di tengah perkembangan kondisi seperti sekarang, banyak orang
yang sudah mulai melupakan nilai-nilai norma serta budaya yang berkembang di
lingkungan tempat mereka berinteraksi. Sebaiknya nilai etika yang dibangun
harus diutamakan untuk membentuk perilaku para pekerja yang benar. Ini menjadi
sangat penting, agar setiap profesi dapat berperilaku dengan baik yang sesuai
dengan bidang pekerjaan masing-masing yang dapat menyesuaikan perilaku
sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku di lingkungan kerja dan dapat
membangun relasi yang baik dengan rekan kerja lainnya. Selain itu, masyarakat
atau pekerja juga harus dapat menyesuaikan perilaku dengan Tuhan atau dengan
kata lain dapat membangun relasi yang baik dengan Tuhan. Masyarakat harus

sadar bahwa segala sesuatu yang diperolehnya adalah bersumber dari Tuhan.
Maka dari itu harus dibentuknya Kode Etik yang sesuai dengan bidang masingmasing.
Pada masa sekarang ini yang di sebut-sebut dengan masa kebebasan
demokrasi, kebebasan berpendapat dan kebebasan berkreasi banyak disalah
artikan. Kebebasan yang dimaksud tetap harus mengikuti tata tertib yang berlaku ,
UU yang berlaku dan tetap pada jalur yang benar. Tapi sebagian masyarakat
dengan berbagai profesi telah melanggar kode etik profesi mereka, dengan alasan
kebebasan demokrasi, kebebasan berpendapat ,dan kebebasan berkreasi. Padahal
sadar ataupun tidak karena pelanggaran kode etik tersebut juga merugikan pihak
lain. Pelanggaran kode etik profesi berarti pelanggaran atau penyelewengan
terhadap sistem norma, nilai dan aturan profesional tertulis yang secara tegas
menyatakan apa yang benar dan baik, dan apa yang tidak benar dan tidak baik
bagi suatu profesi dalam masyarakat.
Tujuan utama dari kode etik adalah memberi pelayanan khusus dalam
masyarakat tanpa mementingkan kepentingan pribadi atau kelompok. Adapun
fungsi dari kode etik profesi adalah:
1. Memberikan pedoman bagi setiap anggota profesi tentang prinsip
profesionalitas yang digariskan.
2. Sebagai sarana kontrol sosial bagi masyarakat atas profesi yang
bersangkutan.
3. Mencegah campur tangan pihak diluar organisasi profesi tentang hubungan
etika dalam keanggotaan profesi.
Etika profesi sangatlah dibutuhkan dalam berbagai bidang khususnya
bidang pertanian. Misalnya contoh yang dapat kita ambil adalah Penyuluh
Pertanian. Dalam melakukan penyuluhan juga perlu adanya etika khusus agar
dapat terjadi keseimbangan antara hubungan dengan Tuhan, sesama dan
lingkungan.
Di dalam melaksanakan tugasnya penyuluh pertanian sebagai seorang
agen pembangunan dibidang pertanian, akan senantiasa dihadapkan kepada

tanggung jawab berlangsungnya perubahan-perubahan yang menyangkut


perilaku, perikehidupan dan nasib pada petani-nelayan yang dilayaninya.
Tanggung jawab tersebut bukanlah hal yang ringan dan mudah dilakukan
dimana penyuluh pertanian dituntut bukan saja memiliki kecakapan dan keahlian
memadai, tetapi juga dedikasi, pengabdian yang tinggi dan moral yang luhur.
Dari seorang penyuluh pertanian dituntut integritas profesi yang kuat yang
dilandasi oleh keyakinan yang teguh dalam membantu petani-nelayan menolong
dirinya sendiri memperbaiki nasib dan derajat hidup kearah yang lebih tinggi.
Mengingat beratnya tugas dan tanggung jawab dalam melaksanakan
profesinya, penyuluh pertanian dituntut untuk berbuat dan berperilaku sebaikbaiknya sesuai dengan martabat profesinya, sehingga apapun yang dilakukannya
tidak akan merugikan petani-nelayan yang dilayaninya serta tidak menodai citra
profesi penyuluh pertanian.
Untuk itu, diperlukan sebuah kode etik yang dapat dipakai sebagai acuan
perilaku profesi bagi Penyuluh Pertanian dalam melaksanakan tugasnya. Kode
etik ini diberi nama Panca Etika Penyuluh Pertanian, yaitu:
1. Penyuluh Pertanian beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
serta senantiasa menghormati dan memperlakukan petani-nelayan beserta
keluarganya sebagai subjek dan mitra kerja yang berkedudukan sederajat
dengan dirinya.
2. Penyuluh Pertanian senantiasa menempatkan keinginan dan kebutuhan
petani-nelayan sebagai dasar utama pertimbangan dalam mengembangkan
program apapun bersama petani-nelayan berserta keluarganya.
3. Penyuluh Pertanian senantiasa lugas, tulus dan jujur dalam menyampaikan
informasi, saran ataupun rekomendasi dan bertindak sebagai motivator,

dinamisator, fasilitator serta katalisator dalam membimbing petani-nelayan


beserta keluarganya.
4. Penyuluh Pertanian senantiasa memiliki dedikasi dan pengabdian untuk
membela kepentingan petani-nelayan atas dasar kebenaran serta dalam
melaksanakan tugas senantiasa memperlihatkan perilaku teladan, serasi,
selaras dan seimbang kepada semua pihak.
5. Penyuluh Pertanian senantiasa memelihara kesetiakawanan dan citra korps
Penyuluh Pertanian atas prinsip "Silih Asuh-Silih Asih dan Silih Asah" serta
senantiasa bersikap dan bertingkah laku yang menghormati agama,
kepercayaan, aturan, norma, dan adat istiadat setempat.
Kemajuan IPTEK sangat berpengaruh dalam kehidupan manusia,
dampak kehadirannya merebak kedalam berbagai aspek perikehidupan. IPTEK
yang digunakan suatu masyarakat menjadi indikasi kemajuan peradaban
kehidupan manusia. Tak dapat dipungkiri bahwa berbagai aspek kehidupan
manusia ditangani dan diatas oleh kemajuan IPTEK. Kemajuan IPTEK jelas
membawa pengaruh dan kontribusi yang sangat positif kepada kehidupan
manusia, namun di sisi lain juga membawa pengaruh dan kontribusi negatif
dalam kehidupan manusia. Untuk itu yang terpenting dalam menghadapi
berbagai kemajuan IPTEK yaitu sikap dan perilaku manusia. Bukan
permasalahan yang dihadapi melalikan sikap dan perilaku manusia menghadapi
masalah yang terjadi.
Kemajuan IPTEK tersebut disebabkan oleh kemampuan manusia untuk
menalar ilmu pengetahuan yang dilalukan melalui penelitian dan kajian ilmiah
terhadap pengetahuan dan teknologi. Tak dapat dipungkiri, betapa pesatnya
kemajuan dunia saat ini berkat ilmu pengetahuan. Kalau harus dilakukan trace
back, kehidupan manusia mulai dari jaman batu, jaman logam, penemuan mesin
uap oleh James Watt, penemuan listrik, penemuan penisilin, diikuti oleh banyak

penemuan dalam berbagai ilmu pengetahuan sudah membawa dunia ilmu


kepada suatu peradapan dan tingkat kehidupan yang modern.
Saat ini dapat disaksikan dalam kehidupan setiap hari, selalu muncul
produk baru yang membantu dan mempermudah manusia untuk menangani
persoalannya. Munculnya produk baru tentu dikuti oleh cara pengetahuan dan
keterampilan cara penggunaan produk tsb. Untuk itu manusia harus terus belajar
untuk menggunakan produk tsb.
Produk yang terus berkembang dan merebak ini membawa dampak
perubahan dalam kehidupan manusia; di mana memaksa manusia untuk terus
belajar dan mengubah gaya hidupnya. Di sisi lain, para peneliti dan penemu di
dunia akan terus melalukan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi untuk terus mendapatkan temuan-temuan baru yang dijadikan produk
unggul bagi kehidupan manusia. Temuan-temuan atau produk baru yang terus
bermunculan akan terus memaksa manusia untuk mengkonsumsi produk
tersebut yang tentu selayaknya manusia harus mempelajari cara penggunakan
produk unggul buatan manusia tersebut.
Penelitian Ilmiah adalah suatu proses Ilmiah untuk menemukan teoriteori Ilmiah dalam sebuah Ilmu. Suatu keharusan bagi ilmuwan memiliki moral
dan akhlak untuk membuat pengetahuan ilmiah menjadi pengetahuan yang
didalamnya memiliki karakteristik kritis, rasional, logis, objektif, dan terbuka.
Disamping itu, pengetahuan yang sudah dibangun harus memberikan kegunaan
bagi kehidupan manusia, menjadi penyelamat manusia, serta senantiasa menjaga
kelestarian dan keseimbangan alam. Di sinilah letak tanggung jawab ilmuwan
untuk memiliki sikap ilmiah.
Pengetahuan ilmiah adalah pengetahuan yang didalam dirinya memiliki
karakteristik krisis, rasional, logis, objektif, dan terbuka. Hal ini merupakan
suatu keharusan bagi seorang ilmuwan untuk melaksanakanya. Namun selain itu

juga masalah yang mendasar yang dihadapi ilmuwan setelah ia membangun


suatu bangunan yang kokoh dan kuat adalah masalah kegunaan ilmu bagi
kehidupan manusia. Memang tak dapat disangkal bahwa ilmu telah membawa
manusia kearah perubahan yang cukup besar.
Etika ilmiah harus dimiliki oleh setiap ilmuwan. Hal ini disebabkan oleh
karena sikap ilmiah adalah suatu sikap yang diarahklan untuk mencapai suatu
pengetahuan ilmiah yang bersifat objektif. Etika ilmiah bagi seorang ilmuwan
bukanlah membahas tentang tujuan dari ilmu, melainkan bagaimana cara untuk
mencapai suatu ilmu yang bebas dari prasangka pribadi dan dapat dipertanggung
jawabkan secara sosial untuk melestarikan dan menyeimbangkan alam semesta
ini, serta dapat dipertangung jawabkan kepada Tuhan. Artinya selaras dengan
kehendak manusia dan kehendak Tuhan.
Adapun etika ilmiah yang perlu dimiliki oleh para ilmuwan sedikitnya
ada tujuh, yaitu:
1. Tidak ada rasa pamrih (disinterstedness), merupakan sikap yang diarahkan
untuk mencapai pengetahuan ilmiah yang objektif dan menghilangkan
pamrih.
2. Bersikap selektif, yaitu suatu sikap yang tujuannya agar para ilmuwan
mampu mengadakan pemilihan terhadap segala sesuatu yang dihadapi.
3. Adanya rasa percaya yang layak baik terhadap kenyataan maupun terhadap
alat-alat inderaserta budi (mind).
4. Adanya sikap yang berdasar pada suatu kepercayaan (belief) dan dengan
merasa pasti (conviction) bahwa setiap pendapat atau teori yang terdahulu
telah mencapai kepastian.

5. Adanya suatu kegiatan rutin bahwa ilmuwan harus selalu tidak puas
terhadap penelitian yang telah dilakukan, sehingga selalu ada dorongan
untuk riset. Dan riset atau penelitian merupakan aktifitas yang menonjol
dalam hidupnya.
6. Memiliki

sikap

etis

(akhlak)

yang

selalu

berkehendak

untuk

mengembangkan ilmu bagi kemajuan ilmu dan untuk kebahagiaan


manusia.
7. Menghormati

alam,

melindungi

ekosistem

dan

lingkungan,

dan

mewujudkan koeksistensi harmonis dan evolusi berkelanjutan antara


manusia dan alam.
Norma-norma umum bagi etika keilmuan sebagaimana yang telah
dipaparkan secara normatif berlaku bagi semua ilmuwan. Hal ini karena pada
dasarnya seorang ilmuwan tidak boleh terpengaruh oleh sistem budaya, sistem
politik, sistem tradisi, atau apa saja yang hendak menyimpangkan tujuan ilmu.
Tujuan ilmu yang dimaksud adalah objektivitas yang berlaku secara universal
dan komunal.
Penerapan dari ilmu membutuhkan dimensi etika sebagai pertimbangan
dan yang mempunyai pengaruh pada proses perkembangannya lebih lanjut.
Tanggung jawab etika menyangkut pada kegiatan dan penggunaan ilmu. Dalam
hal ini pengembangan ilmu pengetahuan harus memperhatikan kodrat manusia,
martabat manusia, keseimbangan ekosistem, bersifat universal dan sebagainya,
karena pada dasarnya ilmu pengetahuan adalah untuk mengembangkan dan
memperkokoh eksistensi manusia dan bukan untuk menghancurkannya.
Penemuan baru dalam ilmu pengetahuan dapat mengubah suatu aturan alam
maupun manusia. Hal ini menuntut tanggung jawab etika untuk selalu menjaga
agar yang diwujudkan tersebut merupakan hasil yang terbaik bagi
perkembangan ilmu dan juga eksistensi manusia secara utuh.

3.4 Kondisi Saat Ini


Manusia sebagai makhluk ciptaan tuhan Yang Maha Esa, memiliki
berbagai hubungan yaitu hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan
alam raya, serta manusia dengan tuhan. Manusia merupakan makhluk ciptaan
tuhan yang maha esa yang paling sempurna karena memiliki akal dan perasaan
sehingga manusia memiliki nilai yang lebih dibandingkan makluk lain. Kondisi
saat ini yang paling terlihat yaitu adanya kekacauan yang terjadi akibat dari
ketidak seimbangan alam yang sering terjadi akibat kelalaian manusia. Manusia
dalam mengelola serta memanfaatkan sumber daya alam lewat kemampuan yang
dimilikinya. Di samping ada kemanfaatannya bagi makhluk hidup tetapi juga ada
sisi negatif yang muncul. Efek yang selalu mengiringinya adalah rusaknya
sumber daya alam dan bahkan seringkali juga memusnahkan sumber daya alam
flora maupun fauna serta manusia itu sendiri. Sehingga masalah ini diperlukan
kesadaran manusia yang merupakan factor terpenting dalam masalah ini.

3.5 Penyelesaian Menggunakan Segitiga Keseimbangan


Segitiga keseimbangan (Tuhan, manusia dan alam raya) merupakan
satu kesatuan utuh, dimana pemilik kekuasaan penuh ialah Tuhan YME.
Disini manusia memiliki dua hal yaitu keinginan dan kehendak. Manusia
memiliki dua hal yang hampir sama maknanya, yaitu keinginan (kehendak)
dan kebutuhan. Kebutuhan manusia memiliki tingkatan berdasarkan sifatnya
tentang mendesak atau tidaknya. Berawal dari terpenuhinya beberapa
kebutuhan tersebut, maka timbulah yang disebut dengan keinginan. Keinginan
manusia bersifat tidak terbatas, namun hal ini berbanding terbalik dengan
kemampuan manusia yang bersifat terbatas untuk memenuhi keinginan
tersebut. Sehingga manusia sebagai makhluk yang paling sempurna serta
dilengkapi dengan akal pikiran dan hati dapat memecahkan persoalan yang

dihadapinya. Berkat kemampuan dalam hal berpikir dan bernalar, manusia


dapat mengatur serta memanfatkan sumber daya alam hayati maupun non
hayati untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Cara memanfaatkan sumber
daya alam ini dilakukan lewat berbagai cara yang kesemuanya itu ditujukan
untuk kemakmuran hidup, kesejahteraan dan kelangsungan hidup manusia
beserta kehidupan anak turunnya. Oleh sebab itu manusia dapat membuat
perencanaan yang lebih baik untuk mempertahankan kehadirannya di muka
bumi ini. Dalam hal ini juga terdapat kesinambungan terhadap etika profesi
dimana Pada dasarnya prinsip prinsip etika profesi terdiri dari tanggung
jawab, kedalian, dan otonomi. Etika profesi diharapkan memberikan suatu
tatanan atau pedoman nilai untuk suatu organisasi maupun individu yang
bersangkutan dalam mengatur setiap perilaku bersama didalam sebuah
organisasi. Sehingga peran dari segitiga keseimbangan dapat saling
melengkapi dimana manusia yang sudah sejak awal sudah diberikan amanah
oleh tuhan yang maha esa untuk menjaga sumber daya yang ada.

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Etika merupakan sebuah kebiasaan individu maupun kelompok yang
mana dilakukan dalam kegiatan sehari-hari dan nantinya akan muncul penilaian
itu baik atau buruk. Dalam kehidupan sehari-hari akan terjadi sebuah interaksi
antara manusia dan alam. Sedangkan yang akan menjadi penguasa penuh adalah
Tuhan. Dengan melihat keseimbangan dalam segitiga sumber etika ini, kita dapat
melihat kembali apa tujuan hidup kita. Dengan hal ini, maka diperlukannya
sebuah nilai di dalam etika profesi. Setiap profesi akan memiliki kode etik
masing-masing sesuai dengan profesinya. Dengan memiliki nilai maka hidup
akan menjadi terarah dan mutu hidup dalam bertindak dalam profesi akan
menjadi baik dan bermutu.
Segitiga keseimbangan memuat tentang hubungan antara tuhan, manusia,
dan lingkungan (alam). Ketiga unsur tersebut saling berhubungan dan sangat
dibutuhkan dalam melakukan atau menjalankan suatu profesi sehingga memiliki
nilai, pedoman, dan norma atau baik-buruknya (etika) agar suatu pekerjaan
tersebut dapat dilakukan secara profesional. Sehingga peran dari segitiga
keseimbangan dapat saling melengkapi dimana manusia yang sudah sejak awal
sudah diberikan amanah oleh tuhan yang maha esa untuk menjaga sumber daya
yang ada.
4.2 Saran
Menurut kelompok kami, dalam makalah ini masalah yang sedang
dihadapi oleh masyarakat di masa kebebasan ini adalah kurangnya nilai etika,
dimana nilai ini menjadi sebuah landasan untuk bertindak. Sebaiknya dalam
bertindak, dalam berinteraksi, kita sebagai pemilik profesi seharusnya mengikuti
kode etik yang ada sesuai dengan bidang profesi masing-masing. Dengan kita
melakukan kode etik, nilai etika yang akan tergambarkan oleh masyarakat umum
adalah profesi kita memiliki mutu yang baik.

DAFTAR PUSTAKA
Anonymous. 2013. Segitiga Keseimbangan; Tuhan, Manusia dan Alam raya. Malang
Hulu, Rokan. 2013. Kode Etik Penyuluhan. http://bkp3.rokanhulukab.go.id/
index.php/component/content/article/39-beritaterkini/63-kode-etiik-penyuluhan.
(Online). Diakses pada tanggal 29 September 2015.
Isnanto, Rizal. 2009. Buku Ajar Etika Profesi. Universitas Diponegoro : Semarang.
Salam, Zarkasji Abdul. 1994. Pengantar Ilmu Fiqh Ushul Fiqh. Lembaga Studi
Filsafat Islam. Yogyakarta.
Rasyidi. 2011. Etika Ilmiah. https://vhocket.wordpress.com/2011/10/12/etika-ilmiah/.
(Online). Diakses pada tanggal 29 September 2015.
Soedojo, Peter. 2004. Pengantar Sejarah dan Filsafat Ilmu Pengetahuan. Yogyakarta
: Gajah Mada University Press.