Anda di halaman 1dari 33

PRAKTIKUM PRESKRIB III

KELOMPOK GENAP :
Luluk Agustin (2012-122)
M. Mahfuzan (2012-049)
Fathin Istiadzah (2012-108)
Rully Claudya N (2013-056)
Irda Rizky W (2013-005)
Ayu Latifah J (2013-077)
Nuradria Nazala (2013-085)
Nindya Alfa D(2013-107)
Chiko Anggi S (2013-110)
Manggi Karina U (2013-112)
Lintang Alhaj F D (2013-115)
Fatmawati F S (2013-131)
Cici Dwi H H P (2013-134)
Deny Saputra P (2013-148)
Andini Ramadani A (2013-174)
Nur wazilah (2013-259)
Rifdiyatul A (2013-293)

GASTRITIS

(Price, Sylvia A., Wilson, Lorraine M. 2005. )

Gastritis merupakan suatu peradangan


mukosa lambung yang dapat bersifat akut,
kronik, difus, atau lokal. Dua jenis gastritis yang
paling sering terjadi gastritis superfisial akut
dan gastritis atrofik kronik.

Gastritis Superfisialis Akut

Gastritis Atrofik Kronik

Sering ditemukan
Biasanya jinak dan dapat
sembuh sendiri
Respon mukosa lambung
terhadap berbagai iritan, seperti
endotoksin bakteri, kafein,
alkohol, dan aspirin

Ditandai oleh atrofi progresif


epitel kelenjar disertai kehilangan
sel parietal dan chief cell
Produksi asam klorida, pepsin
dan faktor intristik menurun dan
dinding lambung menipis
Biasanya dihubungkan dengan
anemia pernisiosa, tukak
lambung dan kanker

Pada gastritis superfisial, mukosa


memerah, edematosa, dan
ditutupi oleh mukus yang
melekat; erosi kecil dan
pendarahan sering timbul.
Derajat peradangan sangat
bervariasi

Etiologi dan patogenesisnya


tidak diketahui
Sering terdapat pada orang tua
Minum alkohol berlebihan, teh
panas, dan merokok merupakan
predisposisi timbulnya

Manifestasi klinik : anoreksia atau


mual, sampai gejala yang lebih
berat seperti nyeri epigastrum,
muntah, pendarahan, dan
hematemesis

Gejala-gejalanya bervariasi dan


tidak jelas , antara lain :
perasaan penuh, anoreksia, dan
distres epigastrik yang tidak
nyata

Obat-obat mual dan muntah

Pengobatannya bervariasi,

Ulkus Peptikum
Ulkus peptikum mengacu pada semua ulkus yang ada pada daerah

mukosanya terendam dalam asam hidroklorat dan pepsin cairan


lambung. Obat-obatan yang efektif pada terapi ulkus peptikum
adalah yang menurunkan sekresi asam lambung atau yang
meningkatkan resistensi mukosa terhadap serangan asam-pepsin.
Ulkus peptikum seringkali kambuh tanpa pemakaian yang
berkelanjutan. Hal ini disebabkan oleh infeksi Helicobacter pylori.
Infeksi
bisa
menyebabkan
hipergastrinemia
kronis
yang
menstimulasi produksi asam dan menyebabkan ulkus.

Sel parietal mensekresi asam ke dalam lumen lambung

yang dihasilkan oleh suatu H+/K+ -ATPase (pompa


proton). Sekresi HCl distimulasi oleh asetilkolin (ACh) dan
oleh gastrin yang dilepaskan ke dalam aliran darah.
Ach maupun gastrin menstimulasi sekresi asam secara
tidak langsung, melalui pelepasan histamin dari sel-sel
parakin yang letaknya dekat dengan sel parietal.
Histamin bekerja secara lokal pada sel parietal dimana
aktivasi reseptor H2 histamin menyebabkan peningkatan
adenosin monofosfat siklik (cAMP) intraseluler dan sekresi
asam, sehingga sekresi asam dan gastrin dikurangi oleh
antagonis reseptor.
Sumber : At a Glance Farmakologi Medis Edisi Kelima hal.30

Penyebab

ulkus peptikum adalah pola


makan yang tidak teratur, ketegangan,
ketakutan, dan tekanan jiwa.
Gejala gangguan ulkus peptikum adalah
lambung terasa sakit. Keluhan ini timbul
sekitar 20 menit setelah makan. Setelah
penderita muntah, biasanya gangguan
terasa lebih ringan.
Pada gangguan ulkus peptikum disarankan
untuk istirahat dan minum obat antasida.

Ulkus Duodenum
Pada ulkus duodenum atau usus dua belas

jari, rasa sakit akan uncul 2 jam sesudah


makan. Untuk penanganan dan gejala
hampir sama dengan ulkus peptikum.

Sumber : Ali, Iskandar. Mengatasi Gangguan


Pencernaan dengan Ramuan Tradisional.
Agromedia Pustaka.

Dispepsia
Dispepsia terjadi karena fungsi otot lambung dalam

menyerap makanan lemah. Dispepsia merupakan


bentuk gangguan pada pencernaan yang agak sulit
disembuhkan.
Penyebab dispepsia antara lain diet yang terlalu ketat,
pola makan tidak teratur, dan ketakutan atau tekanan
jiwa.
Gejalanya berupa perut kembung dan mudah masuk
angin

Sumber
:
Ali,
Iskandar.
Mengatasi
Gangguan
Pencernaan dengan Ramuan Tradisional. Agromedia
Pustaka.

Antasida
Antasida adalah obat yang digunakan (biasanya dalam bentuk tablet atau cair)
untuk membantu mengembalikan keseimbangan pH di perut/lambung. Antasida
adalah obat bebas.
Antasida utamanya adalah basa lemah yang digunakan untuk menetralkan asam
lambung berlebih.
Kebanyakan antasida merupakan basa anorganik lemah

Mekanisme aksi antasida


Antasida langsung menetralkan keasaman,

meningkatkan pH
membantu dalam mengurangi rasa sakit
dan rasa tidak nyaman, dan
memungkinkan penyembuhan lapisan
lendir di lapisan perut.
Antasida sering digunakan untuk
mengobati ulkus dengan mencegah asam
lambung menyerang lapisan perut
dapat mempromosikan mekanisme
pertahanan mukosa oleh produk
prostaglandin mukosa.

Mekanisme aksi antasida


Pengurangan rasa sakit yang terkait

dengan gangguan asam


Meningkatkan pH lambung 1,3-1,6
menetralkan 50% dari asam lambung.
Meningkatkan pH lambung 1 poin (1,3-2,3)
menetralkan 90% dari asam lambung

Efek Samping Antasida

Yang Tidak Boleh Mengkonsumsi


Antasida
Pasien dengan gagal ginjal atau penyakit jantung: Natrium
bikarbonat memiliki kandungan natrium yang tinggi dan tidak cocok
untuk orang-orang yang pada diet garam dibatasi atau gagal jantung
kongestif, tekanan darah tinggi, atau masalah ginjal.
Pada kehamilan: Jika sedang hamil, antasida yang aman digunakan
untuk gejala sakit maag. Tapi jangan menggunakan antasida yang
memiliki natrium bikarbonat. Mereka dapat menyebabkan penumpukan
cairan. Selama kehamilan tidak apa-apa untuk menggunakan antasida
yang memiliki kalsium karbonat.
Masalah dengan hati dan ginjal: Jika ada memiliki masalah dengan
fungsi ginjal atau hati, harus berhati-hati dengan antasida. Semua obat
dipecah dan dikeluarkan dari tubuh oleh aksi gabungan dari hati dan
ginjal.

Obat-obatan yang Berinteraksi


dengan Antasida
Ketika antasida yang dikonsumsi dengan

obat asam seperti digoxin, fenitoin,


klorpromazin, isoniazid, mereka
menyebabkan penyerapan obat asam akan
menurun, yang menyebabkan konsentrasi
obat dalam darah rendah, yang akhirnya
mengurangi efek obat.
Antasida yang mengandung magnesium
hidroksida ketika dikonsumsi dengan
beberapa obat lain (seperti tetrasiklin) akan
mengikat obat, serta mengurangi
penyerapan dan efek.

Efek yang berlawanan


Sembelit bisa terjadi pada pasien yang

menggunakan kalsium karbonat dan


aluminium yang berisi antasida.
Diare adalah efek samping yang umum dari
magnesium- dan antasida yang
mengandung natrium. Jika diare terjadi,
pasien mungkin alternatif campuran
antasida dengan aluminium hidroksida.

referensi
The pharmaceutical basis of

therapeutics,12 edition; Goodman &


Gilman.
http://www.patient.co.uk/health/antacids
http://www.drugbank.ca/drugs/DB01390
http://
pharmacy.utah.edu/pharmtox/common_med
s/icm15.htm
http://www.drugbank.ca/drugs/DB06723
http://pubchem.ncbi.nlm.nih.gov

Ranitidi
n

Ranitidin
merupakan
antihistamin
penghambat reseptor Histamin H2
bekerja menghambat sekresi asam
lambung.

Indikasi

Menurunkan sekresi asam lambung,


Tukak lambung/ Ulkus lambung dan duodenum
Zollinger ellison syndrom
Dipepsia
Strees ulcer
Luka lambung dan usus

(A to Z Drug Fact)

Farmakodina
mik
Ranitidine menghambat reseptor H2 secara
selektif dan reversible.
Perangsangan reseptor H2 akan merangsang
sekresi asam lambung, sehingga pada pemberian
Ranitidine sekresi asam lambung dihambat.
Ranitidine dapat menghambat sekresi cairan
lambung akibat rangsangan obat muskarinik,
stimulasi vagus atau gastrin. Ranitidine juga
mengganggu volume dan kadar pepsin cairan
lambung.
(Farmakologi dan terapi UI Edisi 5)

Farmakokinet
ik
Bioavailabilitas ranitidine yang diberikan secara oral
sekitar 50% dan meningkat pada pasien penyakit hati.
Masa paruhnya kira-kira 1,7 -3 jam pada orang dewasa,
dan memanjang pada orang tua dan pasien gagal ginjal.
Pada pasien penyakit hati masa paruh ranitidine juga
memanjang meskipun tidak sebesar pada ginjal.
Pada ginjal normal, volume distribusi 1,7 L/kg
sedangkan klirens kreatinin 25-35 ml/menit. Kadar
puncak plasma dicapai dalam 1-3 jam setelah
penggunaan ranitidine 150 mg secara oral, dan terikat
protein plasma hanya 15 %. Ranitidine mengalami
metabolism lintas pertama di hati dalam jumlah yang
cukup besar setelah pemberian oral. Ranitidine dan
matabolitnya diekskresi terutama melalui ginjal, sisanya
melalui tinja. Sekitar 70% dari ranitidine yang diberikan
IV dan 30 % yang diberikan secara oral diekskresi dalam
urin dalam bentuk asal.
(Farmakologi dan terapi UI Edisi 5)

Dosis pada pasien dengan


penurunan fungsi ginjal
Rata-rata waktu paruh ranitidin meningkat dari 2,09 jam di subjek

dengan fungsi ginjal normal antara 4,23 dan 8,45 jam pada
pasien dengan gangguan ginjal, tingkat perpanjangan yang
sebanding dengan tingkat kerusakan yang diukur dengan laju
filtrasi glomerulus. Informasi obat berlisensi merekomendasikan
bahwa dosis ranitidin dikurangi pada pasien dengan
gangguan ginjal berat
Pada pasien dengan klirens kreatinin kurang dari 50 mL/menit

maka dosis ranitidin yang direkomendasikan adalah 150 mg


setiap 24 jam peroral yang dapat ditingkatkan menjadi 150 mg
setiap 12 jam jika dibutuhkan. 50 mg setiap 18-24 jam untuk
pemberian parenteral.
(AHFS)

Dalam pengelolaan lambung jinak dan


duodenum ulserasi :
Dosis oral harian tunggal 300 mg. pada waktu tidur atau 150

mg dua kali sehari (pagi dan pada waktu tidur) diberikan


awalnya untuk setidaknya 4 minggu.
Dosis 300 mg dua kali sehari juga dapat digunakan dalam

ulkus duodenum. Apabila diperlukan pemeliharaan dosis 150


mg setiap hari dapat diberikan pada waktu tidur. Ranitidin 150
mg dua kali sehari dapat diberikan selama terapi dengan
NSAID untuk profilaksis terhadap ulkus duodenum.

Untuk ulkus duodenum akibat Helicobacter


pylori
Ranitidin dalam dosis oral biasa 300 mg sekali sehari atau 150

mg dua kali sehari dapat diberikan sebagai bagian terapi triple


dengan amoksisilin 750 mg dan metronidazole 500 mg,
keduanya tiga kali sehari, selama 2 minggu. Terapi dengan
ranitidin kemudian harus dilanjutkan untuk lanjut 2 minggu.

Pada penyakit refluks gastroesofagus dosis oral 150 mg

dua kali sehari atau 300 mg sebelum tidur hingga 8 minggu


atau, jika diperlukan, 12 minggu.

Dalam pemeliharaan penyembuhan esofagitis erosif, dosis

150 mg dua kali sehari. Ranitidin untuk penyakit refluks gastroesofagus dan esofagitis erosif pada anak-anak, dosis 5 sampai
10 mg / kg sehari, biasanya diberikan dalam 2 dosis terbagi.

Dalam

kondisi hipersekresi patologis, seperti sindrom


Zollinger-Ellison, Dosis oral awal biasanya 150 mg dua kali
atau tiga kali sehari-hari dan dapat ditingkatkan jika perlu;
dosis hingga 6 g sehari telah digunakan.

Intravena infus dapat diberikan, awalnya pada tingkat 1 mg /

kg perjam. dapat ditingkatkan dengan pertambahan 500


mikrogram / kg per jam, yang dimulai setelah 4 jam, jika
diperlukan.
Untuk pengelolaan pasien berisiko dari stres ulserasi
pada saluran pencernaan bagian atas, terapi parenteral
dapat diberikan sebagai injeksi intravena lambat dari priming
dosis 50 mg diikuti dengan infus intravena kontinu 125-250
mikrogram / kg perjam. Dosis oral 150 mg dua kali sehari
dapat diberikan setelah makan dan oral dilanjutkan.

EFEK SAMPING

Efek pada sistem syaraf pusat dapat berupa: sakit kepala,

rasa tidak enak badan (malaise), pusing, mengantuk, insomnia,


vertigo, kebingungan mental, agitasi, depresi mental dan
halusinasi terutama pada pasien geriatri lemah.
Penggunaan ranitidin dosis tinggi dan dalam jangka

panjang pada anak-anak (8 mg/Kg BB perhari selama 10


bulan) dapat menyebabkan perubahan pada pola kesadaran,
disartria, hiporefleksia, mengantuk, gejala Babinski, diaforesis,
dan bradikardia yang mana gejala-gejala tersebut akan
menghilang dengan sendirinya setelah penggunaan ranitidin
dihentikan dalam 24 jam.

Efek

pada
GI:
konstipasi,
mual,
muntah,
nyeri
dan
ketidaknyamanan pada perut, dan pada sebagian kecil pasien
dapat mengalami pankreatitis.

Reaksi sensitivitas dan dermatologi: ruam, urtikaria, pruritus,

dan urtikaria ditempat penyuntikan. Reaksi hipersensitivitas seperti


bronkospasme, demam, ruam, eosinofilia jarang terjadi. Anafilaksis
yang ditandai dengan urtikaria berat dan penurunan tekanan darah
dalam satu kali pemberian dosis tunggal dapat terjadi namun
jarang. Eksaserbasi astma dan angiodema juga dapat terjadi.

Efek

pada
Hematologi:
dapat
terjadi
leukopenia,
agranulositopenia,
trombositopenia,
anemia
aplastik
dan
pansitopenia yang disertai hipoplasia sumsum tulang belakang
namun jarang.

Efek pada ginjal dan saluran kemih: peningkatan kreatinin

serum tanpa disertai peningkatan BUN dapat terjadi namun jarang.


Penurunan libido juga pernah terjadi pada pria yang diterapi
dengan ranitidin.

Efek

pada hati: dapat terjadi peningkatan konsentrasi


aminotransferase serum (AST, SGOT, SGPT, ALT), alkalin fosfatase
serum, LDH, bilirubin total, gama-glutamiltranspeptidase. Beberapa
kasus juga diketahui bahwa terapi ranitidin dapat menyebabkan
hepatitis baik hepatoseluler atau pun hepatokanalikuler dan
kolestasis yang umumnya bersifat reversibel.

Efek pada sistem kardiovaskuler: aritmia jantung jarang terjadi,

bradikardia yang berhubungan dengan dispnea dapat terjadi.

Efek pada penglihatan: dapat terjadi kekaburan penglihatan yang bersifat

reversibel, eksaserbasi nyeri mata dan kaburnya penglihatan yang


berhubungan dengan peningkatan tekanan intraokuler dan glaukoma kronis,
dan buta warna.

Efek

pada endokrin: belum ada efek yang diketahui secara pasti


sehubungan penggunaan ranitidin pada sistem endokrin. Namun telah
diketahui adanya pasien pria yang mengalami impotensi seksual akibat
penggunaan ranitidin yang segera sembuh seiring penghentian penggunaan
obat, dan impotensi berulang saat penggunaan obat diulang. Nyeri
ginekomastia juga dapat terjadi pada pria.

Efek pada sistem pernafasan: ranitidin dan antagonis reseptor H2 lainnya

berpotensi meningkatkan
pneumonia.

resiko

infeksi

pneumonia

pada

komunitas

Efek lain: dapat terjadi arthralgia, myalgia dan porphyria akut. Penggunaan

ranitidin harus dihindari pada pasien dengan riwayat porphyria.

KONTRAINDIKA
SI

Ranitidin tidak boleh digunakan untuk swamedikasi jika pasien

mengalami kesulitan menelan dan tidak boleh digunakan


dalam kombinasi dengan obat penekan sekresi asam lambung
lainnya.

Pasien dengan gejala mulas yang menetap lebih dari 3 bulan

tidak boleh menggunakan ranitidin untuk swamedikasi.

Ranitidin juga tidak boleh digunakan untuk swamedikasi pada

pasien dengan keluhan nyeri dada dan atau bahu, sesak nafas,
dan rasa nyeri yang menyebar.

INTERAKSI OBAT

Makanan dan Antasida. Konsumsi bersama makanan atau

antasida dengan ranitidin dapat menyebabkan penurunan


absorpsi ranitidin hingga 33% dan konsentrasi puncak dalam
serum menurun hingga 613-432 ng/mL.

Propantelin

bromida. Propantelin bromida menghambat


penyerapan dan meningkatkan konsentrasi puncak serum
ranitidin, melalui mekanisme penghambatan pengosongan
lambung dan perpanjangan waktu transit. Bioavalabilitas
ranitidin meningkat 23% jika digunakan bersama propantelin
bromida.

Merokok.

Kebiasaan merokok menghambat penyembuhan


ulkus
duodenum
dan
mengurangi
khasiat
ranitidin.
Perbandingan kesembuhan ulkus duodenum pada perokok dan
bukan perokok dengan terapi ranitidin adalah 62 dan 100%.

Alkohol.

Penggunaan bersama alkohol dan ranitidin


menyebabkan peningkatan konsentrasi alkohol serum.

Nifedipin.

Penggunaan ranitidin bersama nifedipin dapat


menyebabkan peningkatan AUC nifedipin hingga 30%.

Vitamin B12. Penggunaan ranitidin dapat mengakibatkan

defisiensi vitamin B12 karena malabsorpsi vitamin B12.

Penggunaan

bersama ranitidin dan warfarin dapat


menurunkan atau meningkatkan waktu protrombin (PT).
penggunaan bersama ranitidin 2x200 mg dan warfarin 2,5-4,5
mg telah terbukti memperpanjang PT secara signifikan.

Pengunaan bersama ranitidin dan teofilin menyebabkan

penurunan bersihan plasma teofilin.


Penggunaan bersama 100 mg metoprolol dan ranitidin

menyebabkan AUC metoprolol meningkat hingga 80% dan


rata-rata konsentrasi serum puncak meningkat hingga 50%,
dan waktu paruh eliminasi metoprolol meningkat hingga 4,46,5 jam.

Penggunaan bersama
ranitidin
Diazepam: efek farmakologis akan menurun karena penurunan
absorpsi di GI oleh ranitidin.
Glipzide: Kemungkinan meningkatkan efek hipoglikemi
Ketokonazole: Menurunkan efek ketokonazole
Lidocaine: Meningkatkan level lidocaine

Literatur
Martindale 36th ed. hal. 1766

Drug interaction handbook 17th edition


BNF 54
A to Z drug fact
AHFS
Farmakologi dan Terapi UI Edisi 5