Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PRAKTIKUM KONSELING

KONSELING II
KONSELING FARMASIS KEPADA PASIEN IBU HAMIL DAN ATAU KELUARGA
PASIEN

DISUSUN OLEH:
KELOMPOK 4 GELOMBANG 2
KELAS B

RAFAEL EGA GILCHRIST

(G1F013044)

DENA NURBANI AZHAR

(G1F013052)

YASYFA CAHYA YUAGESTI

(G1F013070)

RAHMA AYU WULANDARI

(G1F013080)

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN


FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN
JURUSAN FARMASI
PURWOKERTO
2016

I.
II.

JUDUL
Konseling Farmasis Kepada Pasien ibu hamil dan keluarga pasien
TUJUAN
1. Mampu melakukan konseling kepada pasien ibu hamil dan keluarganya
2. Mampu berkomunikasi secara efektif dan etis dengan pasien untuk dapat membangun
hubungan kepercayaan pasien maupun keluarga pasien dengan apoteker

III.

IDENTIFIKASI DAN PERUMUSAN MASALAH

Konseling merupakan serangkaian kegiatan pemberian bantuan yang dilakukan oleh


seorang ahli yaitu Apoteker (konselor) kepada pasien secara tatap muka langsung dengan
tujuan agar pasien dapat mengambil tanggung jawab sendiri terhadap bebagai persoalan atau
masalah terhadap penyakit dan pengobatannya maka masalah yang dihadapi oleh pasien
dapat teratasi. Pada umumnya dapat dikatakan suatu konseling yang efektif terjadi bila
konselor :
1. dapat berpartisipasi secara penuh dalam komunikasi pasien;
2. sangat memahami perasaan pasien dan dapat menunjukkan pemahaman tersebut;
3. mengikuti jalan pikiran pasien dan memperlakukan pasien sebagai teman kerja di
dalam menangani masalah (Authier, 1986)
Konseling yang baik terdiri atas dua elem besar yakni menciptakan hubungan yang
bersifat saling mempercayai, serta memberikan informasi yang relevan dan akurat untuk
menolong pasien membuat keputusan. Hal tersebut dilakukan dengan menunjukkan
empati, bersikap sopan dan ramah serta menghormati pasien, termasuk menghargai pendapat
pasien yang mungkin berbeda dengan pendapat petugas, serta memberikan informasi yang
sederhana, jujur, benar dan lengkap (Johns, 1994).
Konseling pada ibu hamil sangat penting dilakukan terkait obat-obatan yang diresepkan.
Pasien dalam kasus kami merupakan pasien ibu hamil trimester ketiga (7 bulan) yang
memerlukan konseling berbeda pada umumnya. Karena banyak obat yang melintasi
plasenta, maka penggunaan obat pada wanita hamil perlu berhati-hati. Dalam plasenta
obat mengalami proses biotransformasi, mungkin sebagai upaya perlindungan dan dapat
terbentuk senyawa yang reaktif, yang besifat teratogenik atau dismorfogenik. Obat-obat
teratogenik atau obat-obat yang dapat menyebabkan terbentuknya senyawa teratogenik
dapat merusak janin dalam masa pertumbuhan (Anonim, 2006)
Kelompok obat untuk Ibu Hamil dikategorikan menjadi 5 kategori :

Kategori A
Studi control untuk menunjukan resiko pada fetus ditrimester pertama gagal (tidak
ada bukti resiko pada trimester berikutnya) kemungkinan aman pada fetus

Kategori B
Pada studi reproduksi hawan tidak dapat menunjukan resiko pada fetus, pada studi

control wanita hamil / studi reproduksi hewan tidak menunjukan efek samping
(selain dari penurunan fertilitas) yang tidak dikonfimasikan pada studi control
wanita hamil pada trimester pertama (tidak ada bukti pada trimester berikutnya).

Kategori C
Studi pada hewan menunjukan efek samping pada fetus (teratogenik) / embriosidal
atau yang lainnya, tetapi belum ada studi control pada wanita hamil, obat harus
diberikan hanya jika keuntungan lebih besar dari resiko pada fetus.

Kategori D
Pada penelitian atau post-marketing study resiko pada janin terbukti positif.

Kategori X
Studi pada hewan atau manusia telah menunjukan ketidak normalan fetus / terdapat
bukti terhadap resiko fetus berdasarkan pengalaman manusia / keduanya,
penggunaan obat terhadap wanita hamil tidak ada keuntungannya. Obat ini
kontraindikasi dengan wanita hamil (Anonim, 2006).

IV.

KASUS

Pasien bernama Ny.Ayu, seorang ibu hamil bulan ke 7 mengeluh keputihan, yang disertai
gatal-gatal didaerah kewanitaan. Gatal-gatal ini sudah dirasakan sejak 4 hari kemarin.
Keputihannya berlendir, warna coklat muda, sedikit berbau. Ny. Ayu memiliki riwayat
penyakit gatal-gatal, gatal-gatal terjadi saat tidak hamil dan minum dexteem (kombinasi ctm
dan dexametason) langsung sembuh. Ini merupakan kehamilan pertama, Ny. Ayu tidak
pernah menderita DM maupun HT. TD 120/100 mmHg. Ny.Ayu ingin menebus separuh
resep terlebih dahulu dan meminta Apoteker untuk segera menyiapkannya.

dr. Amelia Wahyu, Sp.Og


Rumah :

Praktek :

Jl. Mawar No.301

Jl. Mewangi No.123

Purwokerto

Purwokerto

Telp.0281-323571

Telp.0281-3235768
Purwokerto, 21 Maret 2016

R/ Deksametason 0,75mg tab No. X


S.3.dd.1
R/ Flagystatin ovula No. X
S.s.dd.1 ue
R/ Kalk tab No X
S.1.dd.1
R/ Metronidazol 500mg tab No XV
S.1.dd.1

Pro :Ny.Ayu (30th)

Perumusan Masalah
1. Bagaimana cara memberikan konseling pilihan terapi yang aman pada pasien ibu
hamil ?
2. Bagaimana menjelaskan kepada pasien Ibu hamil tentang kegunaan obat ini?
3. Apa pengobatan yang pantas untuk pasien ibu hamil ?
4. Bagaimana menjelaskan cara penggunaan obat kepada pasien?
5. Bagaimana menjelaskan kepada keluarga pasien terhadap pengobatan pasien?
6. Bagaimana menjelaskan kepada pasien ibu hamil tentang hasil yang diharapkan dari
obat ini?
7. Bagaimanakah memastikan pasien mengerti apa yang disampaikan oleh apoteker?
V.

PEMECAHAN MASALAH
1. Bagaimana cara memberikan konseling pilihan terapi yang aman pada pasien ibu
hamil ?
Pemecahan masalah yang diberikan apoteker adalah memberikan pilihan terapi
mengenai penggantian obat kategori C menjadi kategori A/B atau Apoteker
menjelaskan keuntungan jika pasien memilih obat kategori A/B dimana resiko pada
kandungan sangat minimal, dan keuntungan jika pasien menghilangkan obat
kategori C dapat menghindari resiko buruk pada kandungan.

2. Bagaimana menjelaskan kepada pasien Ibu hamil tentang kegunaan obat ini?
Memberikan penjelasan bahwa kegunaan obat dalam resep :
a. Dexamethasone adalah obat anti inflamasi dan anti alergi yang sangat kuat.
b. Flagystatin ovula adalah obat yang digunakan untuk vagina: mengobati inveksi
pada vagina, menghilangkan nyeri, rasa terbakar dan ketidak nyamanan pada
vagina, mengurangi peradangan.
c. Kalk tab adalah suplemen tulang biasanya diberikan pada ibu hamil yang memang
butuh asupan kalsium tinggi untuk pembentukan tulang janin dan penderita
kekurangan kalsium atau osteoporosis.
d. Metronidazole adalah jenis obat antimikroba yang digunakan untuk mengobati
berbagai macam infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme protozoa dan
bakteri anaerob (MIMS, 2016).
3. Apa pengobatan yang pantas untuk pasien ibu hamil dalam kasus ini?
Flagystatin ovula 500 mg karena flagystatin sudah mengandng nystatin dan
metronidazole itu sendiri, sehingga jika diberikan metronidazole lagi akan
menyebabkan duplikasi terapi. Dexametason tidak perlu diberikan karena inflamasi
yang biasa terjadi disebabkan oleh jamur, jika jamurnya sudah dihilangkan maka tidak
akan terjadi inflamasi jadi tidak perlu diberi antiinflamasi (MIMS, 2016).
4. Bagaimana menjelaskan cara penggunaan obat flagystatin ovula kepada pasien?
Cara penggunaan flagystatin ovula :

1. Cucilah tangan anda dengan air dan sabun. Jika ovula melunak, taruhlah
didalam air dingin atau masukkan ke dalam lemari pendingin selama 30 menit
supaya mengeras sebelum dibuka bungkusnya.

2. Buka bungkus ovula.

3. Jika menggunakan ovula aplikator, letakkan ovula pada lubang yang terdapat
pada aplikator. Pastikan bahwa sisi ovula yang ditaruh pada aplikator adalah
sisi tumpul dari ovula.

4. Duduklah dengan satu tangan menopang berat tubuh anda dan tangan lainnya
memegang aplikator yang sudah dipasangi ovula. Kedua kaku ditekuk dengan
posisi terbuka untuk mempermudah penggunaan ovula.

5. Masukkan ujung lancip, ovula dengan bantuan aplikator ke lubang vagina.


Setelah aplikator berada dalam vagina, tekan tombol pada aplikator untuk
melepaskan ovula.

6. Jika tidak menggunakan aplikator, masukkan ujung lancip vagina kurang lebih
sedalam telunjuk anda.

7. Rapatkan kedua kaki anda untuk beberapa detik. Tetaplah duduk sekitar 5
menit untuk mencegah ovula keluar kembali

8. Bersihkan aplikator dengan air hangat, kerigkan dan jagalah agar tetap bersih.
Cucilah tangan anda dengan sabun untuk membersihkan obat yang mungkin
menempel (Yankes, 2008).
5. Bagaimana menjelaskan kepada keluarga pasien terhadap pengobatan pasien?
Apoteker juga menjelaskan jika keluarga pasien tetap menebus obat sesuai resep,
belum ada penelitian mengenai jenis obat kategori C pada ibu hamil, sehingga resiko
efek samping pada fetus mungkin saja terjadi.
6. Bagaimana Apoteker menjelaskan tentang indikasi dan efek samping obat terhadap
ibu dan janin?
a. Flagystatin ovula diindikasikan untuk mengobati infeksi vaginal. Efek samping
yang sering muncul yaitu rasa pahit di mulut, sakit perut, atau mual
(MyHealth.Aberta.ca, 2015).
b. Kalk diindikasikan sebagai suplemen kalsium untuk mencukupi kebutuhan kalsium
bagi pasien ibu hamil. Efek samping yang sering muncul yaitu sembelit dan sakit
perut (WebMD, 2016).
Apoteker menjelaskan bahwa antibiotik digunakan secara teratur, yaitu flagystatin
harus digunakan secara rutin setiap hari. Obat dalam resep yang tidak dapat ditebus

separuhnya adalah antibiotik (flagystatin ovula). Antibiotik tidak dapat ditebus


separuhnya karena harus digunakan rutin dan harus dihabiskan. Sedangkan obat lain,
yaitu kalk dapat ditebus separuhnya karena kalk hanya sebagai suplemen. Flagystatin
ovula disimpan dalam lemari es, tetapi bukan di freezer (MIMS, 2016).
7. Bagaimana menjelaskan kepada pasien ibu hamil tentang hasil yang diharapkan dari
obat ini?
Apoteker memberikan saran untuk mengganti antibiotik dengan antibiotik yang tidak
menimbulkan alergi pada pasien dan tetap aman untuk dikonsumsi untuk ibu hamil
atau tidak perlu diberikan antibiotik karena di dalam resep sudah terdapat antibakteri
untuk keputihan. Menjelaskan bahwa keputihan untuk ibu hamil merupakan hal yang
wajar dikarenakan perubahan hormonal dan pH vagina pada wanita hamil, serta
diberikan penjelasan untuk selalu menjaga kebersihan vagina. Sehingga hasil yang
diharapkan gejala yang dirasakan akan hilang.
8. Bagaimanakah memastikan pasien mengerti apa yang disampaikan oleh apoteker?
Apoteker menanyakan kembali cara penggunaan obat dan bahayanya obat yang biasa
dipakai pasien saat keadaan hamil.
VI.
PEMBAHASAN
A. Ulasan role play
Pada praktikum konseling tentang pasien ibu hamil ini Apoteker sudah
menyampaikan 3 prime quesion, sudah menginformasikan kepada dokter terkait resep
bahwa dalam resep yang dokter berikan ada duplikasi terapi dan menginformasikan
ada obat yang tidak usah diberikan, memberikan saran terapi yang cocok untuk
pasien, sudah memberikan informasi mengenai terapi non farmakologis, cara
pemakaian flagystatin ovula yang benar, dan sudah meberitahu cara menjaga
kebersihan daerah kewanitaan untuk menghindari terjadinya keputihan. Namun dalam
praktikum ini masih banyak kekurangan yaitu Apoteker belum memperkenalkan diri
fungsi dari memperkenalkan diri bahwa dirinya apoteker di apotek sejahtera tersebut
sangatlah penting karena pasien harus mengetahui bahwa di apotek yang melakukan
konseling yaitu apoteker seseorang yang sangat memahami tentang obat, belum
memberi tahu frekuensi pemakaian obat pentingnya dari memberi tahu frekuensi obat
untuk mengetahui pasien dalam pemakaian obatnya harus digunakan berapa kali
sehari, belum menyampaikan waktu pemakaian obat fungsi dari informasi waktu
pemakaian obat sangatlah penting agar pasien mengetahui kapan ia memakai obat
agar pasien patuh waktu saatnya minum obat, belum menyampaikan status alergi
pasien fungsinya untuk mengetahui apakah pasien mempunyai riwayat alergi untuk
mengindari timbulnya alergi saat menggunakan obat tersebut, belum menyampaikan
cara penyimpanan obat fungsinya agar pasien tidak salah menyimpan obatnya karena
setiap obat suhu penyimpanan agar obat tetap stabil saat penyimpanan berbeda-beda
sehingga penting untuk disampaikan, dan belum menekankan bahwa obat flagystatin
ovula harus ditebus semua obatnya karena flagystatin termasuk antibiotik sehingga
obat harus ditebus semuanya, serta apoteker belum memberikan kesempatan tentang
pemahaman pengobatan kepada pasien untuk mengulang kembali cara pemakaian,
dan cara penyimpanan obat flagystatin ovula karena untuk memastikan apoteker

bahwa informasi yang sudah disampaikan apoteker tentang obat dan pengobatannya
pada pasien, pasien memahami untuk menghindari salah pemakaian obat.
B. Pembahasan feedback yang diberikan dosen dan praktikan lain
Role play yang dilakukan Apoteker masih terlihat grogi. Hal tersebut terlihat
ketika apoteker lupa memperkenalkan diri, belum memberi tahu frekuensi pemakaian
obat, belum menyampaikan waktu pemakaian obat, belum menyampaikan waktu
pemakaian obat, belum menyampaikan status alergi pasien, belum menyampaikan
cara penyimpanan obat, belum menekankan bahwa obat flagystatin ovula harus
ditebus semua obatnya, belum menyampaikan efek samping dari obat yang
digunakan, serta apoteker belum memberikan kesempatan tentang pemahaman
pengobatan kepada pasien untuk mengulang kembali cara pemakaian, cara
penyimpanan obat. Kelebihan dari role play ini Apoteker sudah mengkonfirmasi
kepada dokter ketika ada penggantian atau penurunan dosis obat. Ibu hamil memiliki
karakteristik takut mengkonsumsi obat-obatan. Ketika pasien mendapatkan obat yang
termasuk dalam kategori aman untuk ibu hamil maka apoteker perlu menyampaikan
kepada pasien. Apoteker memiliki peran penting untuk meyakinkan bahwa obat yang
akan dikonsumsi pasien merupakan obat yang aman. Hal yang penting bagi apoteker
ketika akan memberikan layanan konseling yaitu mengetahui kategori obat untuk ibu
hamil. Tidak semua obat yang ada memiliki efek berbahaya saat digunakan oleh ibu
hamil. Selain itu, apoteker juga dapat menyampaikan efek samping yang mungkin
terjadi ketika pasien ibu hamil mengkonsumsi obat tertentu. Karakteristik ibu hamil
berbeda pada trimester tertentu. Misalnya pada kasus pasien sedang hamil 7 bulan
(trimester terakhir), maka pasien membutuhkan dukungan karena sebentar lagi pasien
akan mengalami proses persalinan. Hal ini membuat menanyakan usia kehamilan
merupakan hal yang penting agar apoteker dapat menyesuaikan dalam penyampaian
informasi. Apoteker juga perlu menanyakan apakah ibu hamil mengkonsumsi obat
lain atau tidak dan menanyakan riwayat penyakit pasien.
VII.

KESIMPULAN
Apoteker dalam melakukan role play yang dilakukan masih memiliki
kekurangan. Sehingga musti diperbaiki lagi dalam melakukan konseling kepada
pasien. Pelayanan konseling kepada ibu hamil perlu memperhatikan usia kehamilan
dan obat yang akan dikonsumsi dalam pengobatan harus obat pada golongan yang
aman golongan A/B yang masih aman dikonsumsi pasien ibu hamil.

VIII. REFERENCE
Anonim, 2006. Pedoman Pelayanan Farmasi Untuk Ibu Hamil dan Menyusui.
Direktorat Jenderal Bina Kefrmasian dan Alat Kesehatan. Departemen
Kesehatan RI. Jakarta

Authier, J. 1986. Showing Warmth and Empathy. In: Hargie, editor Handbook of
Communication Skills. Routledge. London.
Johns, H. Medical Conseling. University Bloomberg School of Public Helath.
Pupulation report. Baltimore : Family Planning Programs. 1994:J(40).
Mims,

2016,
Flagystatin,
https://www.mims.com/Indonesia/Drug/info/Flagystatin
/Flagystatin?type=brief&LANG=ID, diakses pada tanggan 06 Mei 2016

MyHealth.Aberta.ca, 2015, Nystatin/Metronidazole Ovule Vaginal, https://


myhealth.alberta.ca/Health/medications/Pages/conditions.aspx?hwid=fdb126&,
diakses pada tanggal 06 Mei 2016
WebMD, 2016, Calcium lactate, http://www.webmd.com/drugs/2/drug-3709/ calciumlactate-oral/details, diakses tanggal 06 Mei 2016.
Yankes, 2008, Cara Penggunaan Ovula, http://yankes.itb.ac.id/?page_id=330, diakses
tanggal 06 Mei 2016.