Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN DASAR BUDIDAYA TANAMAN

TANAM DAN POLA TANAM

Oleh :

Nama
NIM
Kelas
Asisten
Prodi

: Nadya Awaliah
: 155040201111216
:G
: Fachrurozi Ubaidillah
: Agroekoteknologi

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2015

1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam pertanian, tanam dan pola tanam sangat diperlukan. Tanam dan
pola tanam yang berbedaadapat menentukan tingkat produksi dalam kualitas
maupun kuantitas. Ada banyak jenis pola tanamdalam dunia pertanian. Ada
yang

menguntungkan

kita

namun

merugikan

alam,

ada

juga

yangmenguntungkan alam namun bagi kita kurang menguntungkan dari segi


kualitas maupun kuantitas.Kita harus mengetahui berbagai macam tanam
menanam serta polanya yang baik bagi kita namun tidak merusak lingkungan.
Dalam makakah ini kami akan mengupas tentang bagaimana menanamyang
baik dan cara- cara pola tanam yang benar.
Tanam adalah menempatkan bahan tanam berupa benih atau bibit pada
media tanam baik mediatanah maupun bukan media tanah dalam satu bentuk
pola tanam, sedangkan pola tanam sendiriadalah usaha penanam p ada
sebidang lahan dengan mengatiur susunan tata letak dan urutantanaman
selama periode waktu tertentu termasuk masa pengolahan tanah dan masa
tidak ditanamiselama periode tertentu. Jadi, dalam mengolah lahan kita perlu
mempelajari cara tanam serta pola tanam untuk menempatkansuatu bibit yang
ditanam dengan tepat dn dapat menghasilkan hasil yang memuasan sehingga
dapatmeningkatkan kesejahteraan para petani dan dapat memenuhi kebutuhan
konsumen dengan seimbang.
Dalam bercocok tanam, terdapat beberapa pola tanam agar efisien dan
memudahkan kita dalampenggunaan lahan, dan untuk menata ulang kalender
penanaman. Pola tanam sendiri ada tigamacam, yaitu : monokultur, polikultur
(tumpangsari), dan rotasi tanaman. Ketiga pola tanam tersebutmemiliki nilai
plus dan minus tersendiri. Pola tanam memiliki arti penting dalam sistem
produksitanaman. Dengan pola tanam ini berarti memanfaatkan dan
memadukan berbagai komponen yangtersedia (agroklimat, tanah, tanaman,
hama dan penyakit, keteknikan dan sosial ekonomi). Polatanam di daerah
tropis seperti di Indonesia, biasanya disusun selama satu tahun dengan
memperhatikancurah hujan (terutama pada daerah/lahan yang sepenuhnya

tergantung dari hujan. Maka pemilihan jenis/varietas yang ditanampun perlu


disesuaikan dengan keadaan air yang tersedia ataupun curah hujan.

1.2 Tujuan
Adapun tujuan dilakukannya praktikum tanam dan pola tanam ini adalah
untuk mengetahui pengertian pola tanam, fungsi pola tanam dan macammacam pola tanam. Serta mengetahui bagaimana teknik penanaman dan
perbandingan pola tanam monokultur dan pola tanam tumpang sari pada
tanaman jagung dan kedelai.

2.

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Tanam (minimal 3)


Tanam adalah menempatkan bahan tanam berupa benih atau bibit pada media
tanam baik media tanah maupun bukan media tanah dalam satu bentuk pola
tanam (Vincent, 1996).
Tanam adalah menanam sesuatu yang bisa hidup yang disesuaikan dengan
daerah kondsis dan lingkungan serta keadaan sehingga dapat menghasilkan
sesuatu yang menguntungkan mi nimal bagi pribadi yang menanam (Aak,
1993).
Tanam adalah proses pengisian lubang tanam yang sudah dipersiapkan pada
lahan budidaya baik menggunakan benih atau bibit dengan ketentuan jarak
jarak tanam yang telah ditetapkan (Mubyarto, 1989).

2.2 Fungsi Pola Tanam (minimal 3)


Pola tanam adalah usaha penanam pada sebidang lahan dengan mengatur
susunan tata letak dan urutan tanaman selama periode waktu tertentu
termasuk masa pengolahan tanah dan masa tidak d itanami selama periode
tertentu (Campbell, 2002).
Pola tanam atau (cropping patten) ialah suatu urutan pertanaman pada
sebidang tanah selama satu periode. Lahan yang dimaksud bisa berupa
lahan kosong atau lahan yang sudah terdapat tanaman yang mampu
dilakukan tumpang sirih (Saiful Anwar, 2011).
Pola tanam adalah susunan tanaman yang diusahakan dalam satu satuan
luas pada satu tahun. Pola tata tanam yang berlaku pada setiap daerah akan
berbeda dengan daerah lain, karena karakteristik setiap daerah juga
berbeda (Wirosoedarmo, 1985).

2.3 Macam-Macam Pola Tanam


2.3.1

Pola Tanam Monokultur


Pola tanam monokultur adalah penanaman satu jenis tanaman pada
lahan dan waktu penanaman yang sama. Monokultur adalah salah satu

budidaya dilahan pertanian dengan menanam satu jenis tanaman pada


satu areal. Monokultur menjadikan penggunaan lahan lebih efisien
karena memungkinkan perawatan dan pemanenan secara cepat dengan
bantuan mesin pertanian dan menekan biaya tenaga kerja karena
wajah lahan menjadi

seragam.

Kelemahan

utamanya

adalah

keseragaman kultivar mempercepat penyebaran organisme penggangu


tanaman atau OPT seperti hama dan penyakit (Setjanata, 1983).
Menurut Tambunan,dkk (2011), kelebihan penanaman pola tanam
monokultur adalah teknis budidayanya lebih mudah karena tanaman
yang ditanam maupun dipelihara hanya satu jenis. Selain itu,
monokultur

menjadikan

penggunaan

lahan

efisien

karena

memungkinkan perawatan dan pemanenan secara cepat dengan


bantuan mesin pertanian dan menekan biaya tenaga kerja karena
wajah lahan menjadi seragam. dan kekurangan monokultur adalah
tanaman relatif mudah terserang hama maupun penyakit dan
keseragaman kultivar mempercepat penyebaran organisme penganggu
tanaman.
2.3.2

Pola Tanam Tumpang Sari


Tumpang sari merupakan salah satu jenis pola tanam yang
termasuk jenis polikultur. Disebut dengan polikultur karena pada
suatu lahan ditanami lebih dari satu jenis tanaman. Lebih detail,
tumpang sari merupakan suatu pola pertanaman den gan menanami
lebih dari satu jenis tanaman pada suatu hamparan lahan dalam
periode waktu tanaman yang sama. Kultur teknis yang harus
diperhatikan pada pola tanam tump ang sari adalah jarak tanam,
populasi tanaman, umur tiap tanaman, dan arsitektur tanaman.
Semuanya itu berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil masing masing tanaman yang akan ditumpang sari (Jumin,1998).

Menurut Djaenudin, D, dkk (2003), keuntungan dari pola tanam


polikultur adalah:
1.

Mengurangi hama dan penyakit tanaman


Tanaman yang satu dapat mengurangi hama maupun penyakit

tanaman lainnya. Misalnya bawang daun dapat mengusir hana aphids


dan ulat kubis karena mengeluarkan bau allicin.
2.

Menambah kesuburan tanah


Dengan menanam kacang-kacangan, kandungan unsur N dalam

tanah akan bertambah karena adanya bakteri Rhizobium yang terdapat


dalam bintil akar. Dengan menanam tanaman yang mempunyai
perakaran berbeda tanah disekitarnya akan lebih gembur.
3.

Siklus hidup hama atau penyakit akan terputus


Sistem polikultur yang dibarengi dengan rotasi tanaman dapat

memutus siklus hidup hama dan penyakit tanaman.


4.

Memperoleh hasil panen yang beragam


Penanaman lebih dari satu jenis tanaman akan menghasilka

panen yang beragam. Ini menguntungkan karena bila harga salah satu
komoditas rendah, dapat ditutupi oleh harga komoditas lainnya.
Menurut Harjadi, S.S, (1989), kelemahan dari adanya pola tanam
polikultur adalah :
1.

Persaingan dalam hal unsur hara


Dalam pola tanama tumpang sari, akan terjadi persaingan dalam

menyerap unsur hara antar tanaman yang ditanam. Sebab, setiap


tanaman memiliki jumlah kebutuhan unsur hara yang berbeda,
sehingga tidak menutup kemungkinan bahwa salah satu tanaman a kan
mengalami defisiensi unsur hara akibat kalah bersaing dengan
tanaman lainnya.
2.

Pemilihan komoditas
Diperlukan wawasan yang luas untuk memilih tanaman selah

sabagai pendamping dari tanaman utama, karena tidak semua jenis


tanaman cocok ditanam berdampingan. Kecocokan tanaman-tanaman

yang akan ditumpangsarikan dapat diukur dari kebutuhan unsur


hranya, drainase, naungan, penyinaran, suhu, kebutuhan air, dll.
3.

Permintaan pasar
Pada pola tanam tumpangsari, tidak selalu tanaman yang

menjadi tanaman sela, memiliki permintaan yang tinggi. Sedangkan,


untuk memilih tanaman sela yang cocok ditumpang sarikan dengan
tanaman utama, merupakan usaha yang tidak mudah karena
diperlukan wawasan yang lebih luas lagi. Maka dari itu, diperlukan
strategi pemasaran yang tepat agar hasil dari tanaman sela tersebut
mendapatkan keuntangan pula bagi petani.
4.

Memerlukan tambahan biaya dan perlakuan


Untuk dapat melaksanakan pola tanam tumpangsari secara baik

perlu diperhatikan bebrapa faktor ligkungan yang mempunya i


pengaruh di antaranya ketersediaan air, kesuburan tanah, sinar
matahari dan hama penyakit. Penentuan jenis tanaman yang akan
ditumpangsarikan dari saat penanamna sebaiknya disesuaikan dengan
keteersediaan

air

yang

ada

selama

pertumpbuhan.

Hal

ini

dimaksudkan agar diperoleh pertumbuhan dan produksi secara


optimal. Kesuburan tanah mutlak diperlukan, hal ini dimaksudkan
untuk menghindari persaingan pada satu petak lahan antar tanaman.

2.4 Teknik Budidaya Jagung


Syarat tumbuh tanaman jagung adalah akan tumbuh ba ik pada
ketinggian antara 1000-1800 m dpl dengan ketinggian optimum sekitar
50

600 m dpl. Suhu optimum tanman jagungantara 23C

30C. Curah

hujan ideal yaitu sekitar 85-200 mm/bulan. Tanaman jagungsebaiknya


ditanam pada awal musim hujan atau menjelang musim kemarau.
Tanaman jagungjuga membutuhkan sinar matahari, karena tanaman
jagung yang ternaungi, pertumbuhannya akan menjadi terhambat dan
menghasilkan biji yang tidak optimal. sedangkan untuk tanah,jagung
tidak memerlukan persyaratan tanah yang khusus, tetap tanah yang

gembur, subur serta kaya humus. pH tanah yaitu antara 5,6

7,5 (Malti

et al., 2011)
Menurut Nuning dkk. (2012) t eknik dan proses dari budidaya
tanaman jagung adalah sebagai berikut :
1. Persiapan benih
Syarat benih jagung yang digunakan adalah yang mempunyai daya
tumbuh dan virgor yang cukup tinggi, kualitas fisiologi yang tinggi (daya
tumbuh minimal 90%).
2. Pengolahan lahan
Lahan untuk penanaman bisa diolah dengan menggunakan cangkul
atau dengan bajak.
3. Penanaman
Penanaman pada jagung ada beberapa pola tanam yang biasa
diterapkan yaitu tumpang sari (intercropping), tumpang gilir (Multiple
Cropping), tanaman bersisipan (Relay Cropping), dan tanaman campuran
(Mixed Cropping). Lubang tanam yaitu dengan kedalaman 3-5 cm. Jarak
tanam tanaman jagung disesuaikan dengan umur panennya, semakin
panjang umurjagung maka jarak tanamnya semakin lebar. Jagung yang
berumur panen lebih 100 hari sejak penanaman, jarak tanamnya adalah
40100 cm, sedangkan Jagung yang berumur panen 80 -100 hari, jarak
tanamnya adalah 2575 cm.
4. Pemeliharaan
Pemeliharaan yang dilakukan adalah dengan Penjarangan dan
Penyulaman,

penyiangan,

pembumbunan,

dan

pemupukan

serta

pengendalian hama dan penyakit.


Dilakukan penjarangan dan Penyulaman tanaman jagung yang
tumbuhnya kurang baik atau mati biasanya dilakukan 7-10 hst.
Penyiangan dilakukan untuk membuang gulma yang ada disekitar
tanaman jagung. Pembumbunan dilakukan untuk memperkokoh posisi
batang agar tanaman tidak rebah.
Pemupukan pada tanaman jagung terdiri dari pemupukan dasar yait u
menggunakan pupuk Urea 120 kg/ha, TSP 20 kg/ha, dan KCl 25 kg/ha.

Selanjutnya pemupukan kedua dilakukan ketika tanaman jagung berumur


3 minggu setelah tanam dengan menggunakan pupuk Urea 115 kg/ha dan
KCl 55 kg/ha, pemupukan ketiga dilakukan ketika tanam an jagung
berumur 6 minggu setelah tanam yaitu menggunakan pupuk urea 115
kg/ha.
Dilakukan pengendalian hama dan penyakit pada tanaman jagung.
Hama yang sering menyerang tanaman jagung yaitu lalat bibit
(Atherigona exigua Stein), dan ulat pemotong. Sedangkan penyakit yang
seing menyerang tanaman jagung adalah penyakit bulai (Downy
mildew),

penyakit

bercak

daun

(Leaf

bligh),

penyakit

karat

(Rust),penyakit gosong bengkak (Corn smut/boil smut), penyakit busuk


tongkol dan busuk biji. Pengendaliannya yaitu denga n menggunakan
pestisida alami dan pestisida kimia.
5. Panen dan Pasca panen
Tanaman jagung dipanen ketika jagung berumur 86

96 hari setelah

tanam. Jagung untuk sayur seperti jagung muda dan baby corn dipanen
sebelum bijinya terisi penuh, sedangkan untuk jag ung rebus atau bakar,
dipanen saat jagung sudah matang susu. Cara panennya yaitu dengan
memutar tongkol dan mematahkan tangkai buah jagung. Jagung dikupas
ketika masih menempel pada batang atau setelah pemetikan selesai,
supaya kadar air dalam tongkol dapat diturunkan sehingga cendawan
tidak tumbuh. Pengeringan jagung dengan sinar matahari. Setelah kering
jagung dipipil dengan tangan atau alat pemipil jagung.

2.5 Tumpang Sari Tanaman Jagung dan Kedelai


Menurut Widyastuti dkk (2002) d alam proses penanaman tumpeng sari
tanaman jagung dan kedelai melalui dua proses penanaman yaitu
penanaman

jagung kemudian penanaman kedelai, berikut proses

penanaman dan perawatan yang dilakukan:


Penanaman jagung
1. Gunakan varietas hibrida bertipe tegak, Bima-2, Bima-4, Pioner-21,
Bisi-16 dan lain-lain. Jumlah benih yang dibutuhkan 15

17 kg/ha.

2.

Pastikan bahwa benih yang ditanam mempunyai daya berkecambah


(>90%) dan vigor benih yang baik (perhatikan masa daluwara benih)

3. Tanah diolah sempurna


4. Tanaman jagung ditanam 1 biji per lubang dengan sistem tanam
legowo/double row, kemudian ditutup dengan pupuk organik 1
genggam
5. Jarak tanam untuk tanaman jagung sistem legowo adalah (100-50) cm x
20 cm atau (110-40) cm x 20 cm.

Dosis pemupukan yang digunakan adalah:


1.

Lahan sawah menggunakan takaran 350 kg Urea + 300 kg


phonska atau pupuk majemuk lainnya. Pemberian diberikan 2
kali, pemberian pertama pada umur 7-10 hst sebanyak 100 kg
urea + 300 kg phonska/ pupuk majemuk lainnya per hektar.
Pemupukan kedua dilakukan pada 35 -45 hst dengan takaran 250
kg urea per hektar. Pupuk dimasukkan dalam lubang yang
dibuat + 10 cm di samping tanaman dan ditutup dengan tanah .

2. Lahan kering menggunakan takaran 325 kg Urea + 300 kg


phonska atau pupuk majemuk lainnya. Pemberian diberikan 2
kali, pemberian pertama pada umur 7-10 hst sebanyak 100 kg
urea + 300 kg phonska/ pupuk majemuk lainnya per hektar.
Pemupukan kedua pada umur 35 -45 hst dengan takaran 20 kg
urea + 100 kg phonska/pupuk majemuk lannya. Pupuk
dimasukkan dalam lubang yang dibuat + 10 cm di samping
tanaman di tutup dengan tanah.
Penyiangan dan pembumbunan dilakukan dengan cangkul
Penen dapat dilakukan apabila kelobot sudah kering dan lapisan
hitam pada pangkal biji (black layer) telah terlihat. Sisa batang
tanaman (biomas) dijadikan kompos atau dapat digunakan sebagai
mulsa diantara baris tanaman untuk pertanaman berikutnya.

Penanaman Kedelai
1. Gunakan varietas kedelai yang toleran naungan, diantaranya
Dena-1 atau Dena-2. Jumlah benih yang dibutuhkan 15 - 20 kg/ha
2. Benih dicampur dengan inokulan Rh izobium sp (nodulin,
rhizogin dll) 5 kg benih per 10 g (1 saset), caranya adalah benih
dibasahi kemudian ditiriskan, inokulan ditaburkan dan diaduk
merata hingga

merekat dan diperkirakan semua benih

mendapatkan inokulan, kemudian segera ditanam. Hindari


terkena cahaya matahari langsung pada benih yang telah
dicampur dengan nodulin.
3. Benih ditanam di antara barisan legowo pada tanaman jagung
dengan jarak tanam 40 cm x 20 cm, sehingga terdapat 2 barisan
tanaman kedelai antara setiap

barisan legowo jagung.

Penanaman kedelai dapat bersamaan dengan penanaman jagung


atau 1-7 hari setelah penanaman jagung.
4. Dosis pupuk yang digunakan adalah 50 kg urea + 50 kg
phonska/ha 7- 10 hst (bersamaan dengan pemupukan pertama
jagung apabila tanamnya bersamaan)
5. Kedelai di panen

sebelum polong pecah, yaitu saat polong

berwarna coklat. Kedelai

sebaiknya dipanen lebih awal dari

jagung. Biomas tanaman dapat dijadikan kompos.

3.

BAHAN DAN METODE


3.1 Alat dan Bahan

3.1.1

Alat

Dalam praktikum Dasar Budidaya Tanaman pada materi tanam dan pola
tanam alat-alat yang digunakan adalah sebagai berikut.
a. Cangkul

: Untuk menggemburkan atau mengolah tanah.

b. Tugal

: Untuk membuat lubang tempat benih jagung da n kedelai.

c. Tali rafia

: Untuk menandai dan menandai jarak tanam.

d. Ember

: Untuk mengambil air, kompos, dan cocopeat.

e. Plastik

: Untuk tempat benih jagung dan kedelai.

f. Botol plastik

: Untuk mengambil air dalam proses penyiraman.

g. Penggaris

: Untuk mengukur jarak tanam, mengukur tinggi tanaman,


serta mengukur panjang tanaman.

h. Alat tulis

: Untuk mencatat hasil praktikum.

i. Gunting

: Untuk memotong tali rafia.

j. Kamera

: Untuk mendokumentasikan praktikum.

3.1.2 Bahan
Selain alat-alat yang telah disebutkan, bahan-bahan yang digunakan pada
praktikum tanam dan pola tanam adalah sebagai berikut.
a. Benih jagung

: Sebagai bahan tanam.

b. Benih kedelai

: Sebagai bahan tanam.

c. Cocopeat

: Sebagai sebagai media tanam pendukung tanah.

d. Kompos

: sebagai sebagai media tanam pendukung tanah.

e. Serbuk Gergaji

: sebagai sebagai media tanam pendukung tanah.

f. Sekam

: sebagai sebagai media tanam pendukung tanah.

g. Pupuk Urea

: Untuk memupuk tanaman agar nitrisi tanaman tercukupi.

h. Pupuk KCL

: Untuk memupuk tanaman agar nitrisi tanaman tercukupi.

i. Pupuk SP36

: Untuk memupuk tanaman agar nitrisi tanaman tercukupi.

3.2 Cara Kerja (diagram alir + penjelasan)


3.2.1 Cara Kerja Tanam dengan Pola Tanam Monokultur
Menyiapkan alat dan bahan
.
Menggemburkan tanah menggunakan cangkul

Menentukan luas lahan untuk menanam jagung dengan memasang tali


rafia di pinggir lahan dengan panjang 4 meter dan lebar 3 meter

Menentukan jarak tanam , jarak antar baris 70 cm dan jarak dalam baris 30
cm

Buat lubang untuk benih jagung dengan tugal

Memasukkan benih jagung pada lubang dengan kedalaman satu ruas jari,
dan tutup kembali lubang

Melakukan perawatan dengan cara menyulam, meyiangi gulma,


menyiram, serta memberi pupuk

Melakukan pengukuran tinggi dan panjang tanaman jagung setiap


seminggu sekali

Catat hasil pengamatan

3.2.2

Cara Kerja Tanam dengan Pola Tanam Polikultur


Menyiapkan alat dan bahan
.
Menggemburkan tanah menggunakan cangkul

Menentukan luas lahan untuk menanam jagung dan kedelai dengan


memasang tali rafia di pinggir lahan dengan panjang 4 meter dan lebar 3
meter

Menentukan jarak tanam jagung, jarak antar baris 70 cm dan jarak dalam
baris 30 cm

Buat lubang untuk benih jagung dengan tugal

Memasukkan benih jagung pada lubang dengan kedalaman satu ruas jari,
dimana antara dua jagung ditanami kedelai. Kemudian tutup kembali
lubang

Melakukan perawatan dengan cara menyulam, meyiangi gulma,


menyiram, serta memberi pupuk

Melakukan pengukuran tinggi dan panjang tanaman jagung setiap


seminggu sekali

Catat hasil pengamatan

HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Data Hasil Pengamatan

4.1.1 Tinggi Tanaman Jagung


Berikut adalah tabel data perbandingan hasil pengamatan tinggi tanaman
jagung dengan pola tanam monokultur dan tumpangsari pada usia 1 sampai 4
minggu setelah tanam (mst).
Tabel 1. Perbandingan Rata-Rata Tinggi Tanaman Jagung Monokultur dan
Tumpang Sari
Pola Tanam
Monokultur
Tumpang Sari

1 mst
5,5
4,125

2 mst
12,375
8

Tinggi Tanaman (cm)


3 mst
4 mst
6 mst
21,5
34,5
14,68
22
-

7 mst
-

Data diatas terlihat tinggi tanaman jagung terus meningkat pada setiap
media tanamnya. Data diatas terlihat pada pola tanam monokultur rata r ata tinggi
tanaman jagung pada 1 minggu setelah tanam adalah 5,5 cm, pada 2 minggu
setelah tanamn adalah 12,375 cm, pada 3 minggu setelah tanam adalah 21,5 cm
dan pada 4 minggu setelah tanam adalah mencapai 34,5 cm. Sedangkan pada pola
tanam tumpang sari rata rata tinggi tanaman jagung pada 1 minggu setelah tanam
adalah 4,125 cm, pada 2 minggu setelah tanam adalah 8 cm, pada 3 minggu
setelah tanam adalah 14,68 cm dan pada 4 minggu setelah tanam rata rata tinggi
tanaman jagung mencapai 22 cm. Berikut adalah grafik rata rata tinggi tanaman
jagung pada pola tanam monokultur dan tumpang sari.

Gambar 1. Grafik Tinggi Tanaman Jagung


4.1.2

Jumlah Daun Tanaman Jagung


Berikut adalah tabel data perbandingan hasil pengamatan jumlah daun

tanaman jagung dengan pola tanam monokultur dan tumpangsari pada usia 1
sampai 4 minggu setelah tanam (mst).
Tabel 2. Tabel perbandingan jumlah daun tanaman jagung pola tanam
monokultur dan tumpeng sari.
Pola Tanam
Monokultur
Tumpang Sari

1 mst
3
5

2 mst
4
9

Jumlah daun
3 mst
4 mst
4
4
10
11

6 mst
-

7 mst
-

Data diatas terlihat rata-rata jumlah daun tanaman jagung terus meningkat
pada setiap minggunya pada setiap pola tanam, tetapi pada minggu ketujuh setelah
tanam, pengamatan pada pola tanam tumpang sari mengalami penurunan sehingga
rata-rata jumlah daun tanaman yang didapatkan sama dengan jumlah rata-rata
daun pada minggu keenam setelah tanam. Pada lahan dengan pola tanam
monokultur dan tumpang sari , pada pola tanam monokultur satu mingu setalah
tanam didapat jumlah daun sebanyak 3, pada 2 minggu setelah tanam jumlah daun
sebanyak 4, dan pada minggu ke tiga dan ke empat jumlah daun tidak mengalami
peningkatkan. Sedangkan pada pola tanam tumpeng sari jumalah daun didapat
lebih banyak dibandingkan dengan monokultur, pada satu minggu setelah tanam
jumlah daun sebanyak 5, dua minggu setelah tanam jumlah daun sebanyak 9, pada

tiga minggu setelah tanam jumlah daun sebanyak 10, dan pada minggu ke empat
setelah tanam jumlah daun sebanyak 11 helai daun. Berikut adalah grafik jumlah
daun tanaman jagung.

Gambar 2. Grafik perbandingan jumlah daun pola tanam monokultur dan


tumpang sari

4.2 Pembahasan
Terlihat bahwa dari minggu ke 1 setelah tanam sampai minggu ke 4 setelah
tanam tinggi tanaman jagung selalu mengalami peningkatan baik pola tanam
monokultur maupun tumpeng sari, akan tetapi pada pola tanam monokultur lebih
tinggi dari pada pola tanam tumpang sari. Hal tersebut tidak sesuai dengan yang
dkatakan Dwijoseputro bahwa tinggi tanaman jagung pada tanaman monokultur
atau polikultur akan sama saja. Tidak berpengaruhnya pola tanam terhadap tinggi
tanaman jagung karena tanaman jagung tinggi dari tanaman kedelai sehingga
tidak ada halangan cahaya untuk sampai ketanaman jagung. Cahaya sangat
dibutuhkan dalam proses fotosintesis sebagaimana yang disampaikan oleh
(Dwidjoseputro, 2004) bahwa tanaman butuh cahaya yang lebih banyak untuk
proses fotosintesis sebagai sumber energi dan mengolahnya menjadi energi kimia
berupa karbohidrat.

Perbedaan tinggi pada tanaman jagung di pola tana monokultur dan tu mpang
sari terjadi karena perebutan nutrisi antar kedelai maupun jagung didalam tanah.
Seperti yang dikatakan Subhan (1989) kedelai dan jagung yang ditanam secara
tumpangsari akan terjadi kompetisi dalam memperebutkan unsur hara, air dan
sinar matahari. Sehingga pengaturan populasi dan pengaturan selang waktu tanam
penting untuk mengurangi terjadinya kompetisi tersebut.
Jarak tanam juga dapat mempengaruhi tinggi tanaman jagung. Hasil
penelitian Waluya (2009) jagung adalah tanaman yang efisien dalam penggunaan
sarana tumbuh. Jarak tanam jagung yang dapat digunakan 80 x 20 cm dan 80 x 30
cm. Suwarto et al., (2005) .
Pada pola tanam monokultur rata -rata jumlah daun tanaman jagung pada 1
minggu setelah tanam adalah sebanyak 3 helai, pada 2 minggu setelah tanaman
adalah sebanyak 4 helai, pada 3 minggu setelah tanam adalah sebanyak 4 helai
dan pada 4 minggu setelah tanam adalah sebanyak 4 helai. Sedangkan pada pola
tanam tumpang sari rata rata jumlah daun tanaman jagung pada 1 minggu setelah
tanam adalah sebanyak 5 helai, pada 2 minggu setelah tanam adalah sebanyak 9
helai, pada 3 minggu setelah tanam adalah sebanyak 10 helai dan pada 4 minggu
setelah tanam rata rata jumlah daun tanaman jagung sebanyak 11 helai.
Daun jagung mulai terbuka sesudah koleoptil muncul di atas permukaan
tanah. Setiap daun terdiri atas helaian daun, ligula, dan pelepah daun yang erat
melekat pada batang. Jumlah daun sama dengan jumlah buku batang. Jumlah daun
umumya berkisar antara 10-18 helai, rata-rata munculnya daun yang terbuka
sempurna adalah 3-4 hari setiap daun. Tanaman jagung di daerah tropis
mempunyai jumlah daun relatif lebih banyak dibanding di daerah beriklim sedang
(temperate) (Paliwal 2000).
Terlihat bahwa dari minggu ke 2 setelah tanam sampai minggu ke 5 setelah
tanam jumlah daun tanaman jagung pada pola tanam tumpang sari selalu
mengalami peningkatan jumlah daun, sedang kan pada monokultur pada minggu
minggu ke 2 sampai ke 4 setelah tanam jumlah daun tidak mengalami
peningkatan. Hanya mengalami peningkatan saat 1 minggu setelah tanam ke 2
minggu setelah tanam. Jadi, jumlah daun jagung pada pola tanam monokultur

maupun tumpeng sari tidaklah jauh berbeda artinya sama. Menurut Fithriadi
(1997), menyatakan bahwa apabila suatu tanaman budidaya mendapatkan cahaya
matahari yang cukup akan membantu tanaman budidaya tersebut dalam proses
fotosintesis. Semakin banyak zat hijau daun akan mempermudah tanaman dalam
proses tumbuh seperti pertumbuhan batang,akar,buah dan daun.
Tanaman Jagung tumpangsari denga Kedelai sangatlah cocok, karena menurut
Muhadjir (1998) tanaman jagung termasuk famili rumput-rumputan (graminae)
dari sub famili myadeae. Dua famili yang berdekatan dengan jagung adalah
teosinte dan tripsacum yang diduga merupakan asal dari tanaman jagung. Teosinte
berasal dari Meksico dan Guatemala sebagai tumbuhan liar didaerah pertanaman
jagung. Jagung merupakan tanaman berumah satu Monoecious dimana letak
bunga jantan terpisah dengan bunga betina pada satu tanaman. Jagung termasuk
tanaman C4 yang mampu beradaptasi baik pada faktor -faktor pembatas
pertumbuhan dan hasil. Salah satu sifat tanaman jagung sebagai tanaman C4,
antara lain daun mempunyai laju fotosintesis lebih tinggi dibandingkan tanaman
C3, fotorespirasi rendah, efisiensi dalam penggunaan air (Muhadjir, 1988).

KESIMPULAN

Setelah praktikum pola t anam monokultur dan tumpang sari pada tanaman
jagung dapat disimpulkan bahwa tinggi tanaman jagung pada pola tanam
monokultur lebih tinggi dibandingka dengan tanaman jagung pda tumpangsari.
Hal tersebut dikarenakan pada pola tanam tumpang sari terjadi persaingan nutrisi
antara tanaman jagung dan kedelai. Sedangkan pada parameter kedua yaitu jumlah
daun pada tanaman jagung. Daun pada tanaman jagung monokultur maupun
tumpangsari sama jumlahnya. Artinya, tidak berpengaruh ke daun asalkan nutrisi
yang dipenuhi cukup.
Tanaman jagung sangan cocok ditumpangsarikan dengan tanaman ke delai.
Karena pada tanaman Jagung memiliki perakaran yang dalam sedangkan pada
tanaman kedelai akarnya dangkal. Selain itu, tanaman Jagung merupakan tanaman
C4 sedangkan tanaman kedelai merupakan tanaman C3 karena itu cocok.

DAFTAR PUSTAKA
Aak. 1993. Teknik bercocok tanam jagung. Yogjakarta: Kanisisius.
Campbell, V.A. 2002. Biology. Jakarta: Erlangga.
Djaenudin, D., Marwan H., Subagyo H., dan A. Hidayat. 2003. Petunjuk Teknis
untuk Komoditas Pertanian. Edisi Pertama tahun 2003 , ISBN 979-9474-256. Balai Penelitian Tanah, Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan
Agroklimat, Bogor, Indonesia.
Dwidjoseputro, D. 2004, Pengantar Fisiologi Tumbuhan. edisi IV. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama.
Harjadi, S.S. 1989. Dasar-dasar Hortikultura. Jurusan Budidaya Pertanian .
Fakultas Pertanian. IPB. Bogor.
Jumin, Hasan Basri. 1998. Dasar-Dasar Agronomi. Jakarta: Agronomi.
Malti, Ghosh, Kaushik, Ramasamy, Rajkumar, Vidyasagar. 2011. Comparative
Anatomy of Maize and its Application.Intrnational Journal of Bio -resorces
and Stress Management.
Mubyarto. 1989. Pengantar Ekonomi Pertanian Lembaga Penelitian, Pendidikan
dan Penerangan Ekonomi dan Sosial . Jakarta: LP3ES.
Muhadjir, F. 1988. Budidaya Tanaman Jagung . Badan Penelitian dan
Pengembangan Pertanian. Bogor. 423 hal.
Nuning, Argo Subekti, Syafruddin, Roy Efendi, dan Sri Sunarti. 2012, Morfologi
Tanaman dan Fase Pertumbuhan Jagun g, Balai Penelitian Tanaman
Serealia, Maros.
Paliwal. R.L. 2000. Tropical Maize Morphology . In: Tropical Maize:Improvement
and Production. Food and Agriculture Organization of the United Nations.
Rome. p 13-20.
Saiful
,Anwar.
2011.
Definisi
Pola
Tanam
(online)
http://lampung.litbang.deptan.go.id/i. diakses pada tanggal 22 Mei 2015 .
Setjanata, S. 1983. Perkembangan Penerapan Pola Tanam dan Pola Usahatani
dalam Usaha Intensifikasi (Proyek Bimas). Lokakarya Teknologi dan
Dampak Penelitian Pola Tanam dan Usahatani, Bogor, 20-21 Juni 1983.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanam
Subhan. 1989. Pengaruh Jarak Tanam dan Pemu pukan Fospat terhadap
Pertumbuhan dan Hasil Kacang Jogo (Phasealus Vulgaris. L). Bull. Penel.
Horti.VIII.2. Lembang. 12 hal.
Suwarto, S. Yahya, Handoko, M. A. Chozhin. 2005. Kompetisi Tanaman Jagung
dan Ubi Kayu dalam System Tumpang Sari . Medan: USU.
Tambunan, Sonia. Dkk. 2011. Tanam dan Pola Tanam . http://www.tanam-danpola-tanam.pdf.html. Diakses pada tanggal 22 Mei 2015.
Vincent, H.R. 1998. Agriculture Fertilizer and Envisement. CO. BI Publishing.
New York.

Waluya, A.2009. Gulma pada Tanaman Jagung di Kebun Percobaan Cikabayan,


Institut Pertanian Bogor. Pengu asaan Sarana Tumbuh. Departemen
Agronomi dan Hortikultura.Institut Pertanian Bogor.
Widyastuti, Yustina E. dan Adisarwanto T. 2002. Meningkatkan Produksi Jagung
di Lahan Kering, Sawah, dan Pasang Suru t. PT. Penebar Swadaya. Jakarta.
Wirosoedarmo. 1985. Dasar dasar irigasi pertanian. Malang: Universitas
Brawijaya Press.

LAMPIRAN
Lampiran 1. Data Pengamatan Tinggi Tanaman Jagung Monokultur
Tabel 1. Tinggi Tanaman Jagung Monokultur
Sampel

Tinggi Tanaman (cm)


4 mst
5 mst
6 mst
19
32

Tanaman 1

2 mst
4

3 mst
10

Tanaman 2

19

27

40

Tanaman 3

16

23

34

Tanaman 4

15

21

36

Tanaman 5

24

37

Tanaman 6

14

23

40

Tanaman 7

18

25

Tanaman 8

17

28

Rata-rata

5,5

12,375

21,5

34

7 mst

Tabel 2. Jumlah Daun Tanaman Jagung Monokultur


Sampel

Jumlah Daun Tanaman (helai)


3 mst
4 mst
5 mst
6 mst
7
11
11

Tanaman 1

2 mst
5

Tanaman 2

10

11

11

Tanaman 3

11

10

Tanaman 4

12

Tanaman 5

16

10

12

Tanaman 6

11

13

Tanaman 7

Tanaman 8

12

Rata-rata

10

11

7 mst

Tabel 3. Tinggi tanaman jagung tumpang sari


Sampel

Tinggi Tanaman (cm)


4 mst
5 mst
6 mst
15
22

Tanaman 1

2 mst
3,5

3 mst
10,5

Tanaman 2

10

17

Tanaman 3

3,5

14

Tanaman 4

12,5

18,5

27

Tanaman 5

6,5

15

27

Tanaman 6

12

20

25

Tanaman 7

18

25

Tanaman 8

3,5

13

19

Rata-rata

4,125

14,6875

22

7 mst

Tabel 4. Jumlah daun tanaman jagung tumpang sari


Sampel

Jumlah Daun Tanaman (helai)


3 mst
4 mst
5 mst
6 mst
5
5
5

Tanaman 1

2 mst
4

Tanaman 2

Tanaman 3

Tanaman 4

Tanaman 5

Tanaman 6

Tanaman 7

Tanaman 8

Rata-rata

7 mst

NB: mahasiswa silahkan mencari lieratur dari jurnal dan


text book bisa download dibebera web berlangganan
ub.
TIDAK
diperkenankan
anomim
serta
mengunakan modul bahan ajar dari tim dosen atau
asisten dbt yang sudah ada sebelumnya. Silahkan
belajar !!!
Karena dilaporan pertama masih ditemukan kelas yang
molor pengerjaan laporannya dan juga beberapa
praktikan molor. TIM asisten akan segera
mengumuman Tanggal Pengumpulan baik bab 1-3
ataupun selesai dari pengumpulan laporan jika
ditemukan mahasiswa yang mengumpulkan melebihi
jadwal yang di tentukan tidak akan ditegor baik
asisten dan praktikan kelas bersangkutan, tetapi
konsekuensi akan diberikan saat pengumpulan nilai
akhir. Ikuti jadwal yang sudah dibuat. Thx.