Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM NUTRISI IKAN

PEMBUATAN PAKAN BENTUK ROTI KUKUS


Disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Nutrisi Ikan semester
genap

Disusun Oleh:
Mia Berlia
Rambo
Ira Setyowati
Rizka Dwi Yulianti
Rakka Gilang Andika
Susetyo Ilman Rosyadi

230110130007
230110130021
230110130022
230110130037
230110130046
230110130064

PERIKANAN A / KELOMPOK 4

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
PROGRAM STUDI PERIKANAN
JATINANGOR
2016

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur senantiasa kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena
dengan segala limpahan nikmat dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan
Laporan Praktikum Nutrisi Ikan ini dengan tepat waktu. Laporan Praktikum ini
kami susun berdasarkan hasil praktikum tentang Pembuatan Pakan Bentuk Roti
Kukus.
Laporan Akhir praktikum Nutrisi Ikan ini disusun secara sistematis dan
tertata dengan baik yang di jelaskan secara lebih rinci dengan menggunakan
kalimat yang sederhana dan mudah untuk di mengerti. Pembahasan yang
dilakukan merupakan hasil dari praktikum yang didukung oleh berbagi teori
penunjang. Kami sangat berterima kasih kepada Dosen dan asisten laboratorium
Nutrisi Ikan yang telah membantu dalam pelaksanaan praktikum.
Semoga dengan adanya laporan praktikum ini dapat memberi pengetahuan
yang luas. Kami menyadari bahwa Laporan praktikum ini banyak kekurangan,
untuk itu kritik dan saran yang membangun sangat kami harapakan demi
perbaikan laporan praktikum ini kedepannya. akhir kata kami ucapkan .
Wassalamuallaikum Wr.Wb
Jatinangor, Mei 2016

Penyusun

DAFTAR ISI
Bab

I.

II.

III.

IV.

V.

Halaman
KATA PENGANTAR ..................................................................

DAFTAR ISI ................................................................................

ii

DAFTAR GAMBAR ...................................................................

iii

PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang ..................................................................
1.2
Tujuan Praktikum...............................................................
1.3
Manfaat Praktikum............................................................

1
2
2

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan Umum Pakan Bentuk Emulsi...................................
2.2 Kandungan Nutrisi Bahan Pakan Bentuk Larutan Emulsi......
2.3 Kelebihan dan Kekurangan Pakan Bentuk Larutan Emulsi....

3
4
7

METODOLOGI PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan Praktikum............................
3.2 Alat dan Bahan........................................................................
3.3 Prosedur Kerja.........................................................................

8
8
9

HASIL PEMBAHASAN
4.1
Hasil...................................................................................
4.2
Pembahasan.......................................................................

10
10

PENUTUP
5.1
Kesimpulan........................................................................
5.2
Saran..................................................................................

12
12

DAFTAR PUSTAKA...................................................................

13

DAFTAR GAMBAR
Nomor

Judul
1.
2.
3.
4.
5.

Halaman

Pakan Emulsi................................................................
Telur Ayam Negeri.......................................................
Tepung Kedelai............................................................
Tepung Sagu.................................................................
Vitamin Ikan.................................................................

3
4
5
6
7

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Di Indonesia terdapat lebih dari 4.000 jenis ikan yang meliputi ikan laut,

ikan payau, dan ikan tawar. Sebagian besar di antaranya dapat dikonsumsi secara
aman (Suseno, 2000). Kebutuhan manusia akan ikan, selain diperoleh dari
tangkapan alami, juga diperoleh dari hasil budidaya. Dalam usaha untuk
mencukupi

kebutuhan

konsumsi

ikan

yang

meningkat

seiring

dengan

pertambahan jumlah penduduk, perlu usaha peningkatan produksi ikan. Dalam


usaha budidaya ikan, perlu diperhatikan tentang penyediaan benih dan pakan yang
cukup memadai baik secara kuantitas maupun kualitas. Untuk memperoleh hasil
yang maksimal, antara lain dicapai melalui sistem intensif. Menurut Djajasewaka
(1985), budidaya ikan yang intensif merupakan suatu usaha pemeliharaan ikan
dengan padat penebaran tinggi dan keharusan memberi pakan buatan. Salah satu
jenis ikan yang dapat dibudidayakan secara intensif adalah ikan tawes. Budidaya
tawes tidak memerlukan modal yang besar. Ikan ini banyak digemari masyarakat
karena memiliki daging cukup tebal, rasa daging yang enak, dan termasuk ikan
prolifik. Tujuan pemberian pakan pada ikan adalah menyediakan kebutuhan gizi
untuk kesehatan yang baik, pertumbuhan dan hasil panen yang optimum, produksi
limbah yang minimum dengan biaya yang minimum demi keuntungan yang
maksimum. Pakan yang berkualitas kegizian dan fisik merupakan kunci untuk
mencapai tujuan-tujuan produksi dan ekonomis budidaya ikan.
Permasalahan yang sering dihadapi dalam penyediaan pakan buatan ini
adalah biaya yang cukup tinggi untuk pembelian pakan. Menurut Rasidi (1998),
biaya pakan ini dapat mencapai 60-70% dari komponen biaya produksi. Salah satu
alternatif yang dapat dilakukan untuk menekan biaya produksi tersebut adalah
dengan membuat pakan buatan sendiri. Pembuatan pakan buatan ini menggunakan
teknik yang sederhana dengan memanfatkan sumber- sumber bahan baku lokal,
termasuk pemanfaatan limbah hasil industri pertanian yang relatif murah.
Formula pakan ikan harus memenuhi kebutuhan ikan yang dibudidayakan
seperti protein, lemak, karbohidrat, vitamin, dan mineral. Mutu pakan akan
tergantung pada tingkatan dari bahan gizi yang dibutuhkan oleh ikan.
1

Akan tetapi, perihal gizi pada ikan bermutu sukar untuk digambarkan
karena banyaknya interaksi yang terjadi antara berbagai bahan gizi selama dan
setelah penyerapan didalam pencernaan ikan.
Untuk mendapatkan pertumbuhan ikan yang optimum, perlu ditambahkan
pakan tambahan yang berkualitas tinggi, yaitu pakan yang memenuhi kebutuhan
nutrisi ikan. Nilai gizi pakan ikan pada umumnya dilihat dari komposisi zat
gizinya, seperti kandungan protein, lemak, karbohidrat, vitamin, dan mineral.
Selain nilai gizi makanan, perlu diperhatikan pula bentuk dan ukuran yang tepat
untuk ikan yang dipelihara. (Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian,
1991; Sumantadinnata, 1983).
1.2

Tujuan Praktikum
1. Mahasiswa mengetahui kandungan dari tiap komposisi bahan baku pakan.
2. Mahasiswa dapat langsung mempraktikan sendiri dalam memformulasikan
pakan sesuai kebutuhan gizi yang dibutuhkan.
3. Mahasiswa dapat mengetahui bentuk-bentuk pakan.

1.3

Manfaat Praktikum
1. Dapat mengetahui kandungan gizi bahan baku pakan dan cara pembuatan
pakan.
2. Dapat mengetahui pengujian pakan secara fisik.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Tinjauan Umum Pakan Bentuk Roti Kukus

2.2

Kandungan Nutrisi Bahan Pakan Bentuk Roti Kukus

2.3

Kelebihan dan Kekurangan Pakan Bentuk Roti Kukus

BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM
3.1

Waktu dan Tempat Pelaksanaan Praktikum


Adapun waktu praktikum Nutrisi Ikan dilaksanakan pada hari Selasa

tanggal 17 Mei 2016 pukul 13.00 WIB 15.00 WIB. Tempat pelaksanaan
praktikum di Laboratorium Fisiologi Hewan Air Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan Universitas Padjadjaran.
3.2

Alat dan Bahan

3.2.1

Alat-alat

1. Baskom
2. Spatula

: Sebagai wadah pembuatan adonan pakan roti kukus


: Sebagai alat pengoles vitamin atau pembersih sisa-

sisa adonan di baskom.


3. Sendok
: Sebagai pengaduk adonan pakan roti kukus.
4. Gelas Plastik : Sebagai wadah stok air
5. Cetakan Plastik: Sebagai wadah adonan pada saat pemasakan /
pemanasan / pematangan pakan.
6. Kompor
: Sebagai pemanas proses pematangan pakan bentuk roti
kukus.
7. Lemari es

: Sebagai pendingin sebelum pakan bentuk roti kukus

diberikan pada ikan


8. Saringan
: Sebagai penyaring pakan bentuk roti kukus saat
pembuatan suspensi sebelum pemberian pakan.
3.2.2
1.
2.
3.
4.
5.
6.

3.3

Bahan-bahan
Telur ayam butir
Tepung ikan 25 gr
Tepung terigu 50 gr
Tepung susu 5 gr
Vitamin 2,5 gr/ setengah bungkus
Air 50 ml

Prosedur Kerja

Pembuatan Pakan Bentuk Roti Kukus


Telur ayam dikocok sampai lumat dan berbuih
Secara berangsur-angsur ditambahkan tepung ikan,
tepung terigu, tepung susu, sambil diaduk
ditambahkan air sedikit demi sedikit
Adonan dikukus sampai masak selama 30 menit
Dibentuk menjadi gumpalan kecil setelah roti kukus
dingin, kemudian dioleskan pada campuran vitamin dan
antibiotik, lalu diremas sampai rata
Roti kukus disimpan dalam lemari es selama 3 hari
Dibuat suspense apabila ingin digunakan dengan
melarutkannya di air melalui kain saringan halus yang
ukurannya disesuaikan dengan ukuran burayak

BAB IV
HASIL PEMBAHASAN
4.1

Hasil

4.1.1

Data Karakteristik Pakan Bentuk Roti Kukus


Tabel 1. Karakteristik Pakan Bentuk Roti Kukus

No
1.

Karakteristik
Warna

2.

Tekstur

3.

Aroma

4.2

Hasil

Pembahasan
Kelompok 4 telah melakukan praktikum yang melalui berbagai beberapa

tahapan dalam pembuatan pakan bentuk emulsi. Pertama, bahan yang diolah yaitu
telur yang di buat suspensi untuk dicampurkan, kemudian tepung kedelai, tepung
sagu dan vitamin dicampurkan dengan di tambahkan air secara perlahan, pada saat
pencampuran tersebut warna pakan sudah mulai berubah menjadi coklat muda,
hal ini karena warna dasar tepung kedelai memang berwarna coklat sehingga
merubah warna pakan, dan pada saat pengadukan juga sudah tercium aroma
tepung dan bau amis telur tidak terlalu tercium, sedangkan teksturnya sendiri
masih cair karena belum dipanaskan.
Setelah dipanaskan tekstur pakan berubah menjadi kental dan agak lengket
seperti lem kertas, hal ini karena air yang terkandung telah menguap seiring
suhunya berubah menjadi panas, dan terdapat zat perekat yang membantu proses
pengentalan tersebut dan warna pada pakanpun berubah menjadi coklat muda
namun terlihat agak tua, dan tidak terjadi perubahan pada aroma.
Pakan buatan yang dibutuhkan ikan harus mempunyai formula yang
lengkap, mengandung bahan-bahan yang dapat meningkatkan pertumbuhan dan
mempertahankan sintasan kultivan yang pada ahirnya dapat meningkatkan
produktifitas dan keuntungan. Hal ini dapat diperoleh dari pakan buatan yang
dibuat dengan cermat dan perhitungan kandungan nutrien yang teliti dari bahanbahan penyusunnya.

Menurut Febrina, et al, 2007 pakan bentuk larutan emulsi yang terbuat
dari bahan baku yang memiliki sifat sebagai emulsifier atau zat pengemulsi.
Emulsifier adalah zat untuk membantu menjaga kestabilan emulsi minyak dan air.
Sehingga setelah selesai proses pembuatan bisa di ketahui, jika pakan di
peruntukan untuk ikan kecil (burayak ikan) hal ini juga disesuaikan karena bukaan
mulut ikan yang tidak terlalu besar.
Pembuatan pakan buatan tidak lepas akan komposisi maupun formulasi
kandungan gizi dalam pakan. Hal tersebut memiliki proporsi yang disesuaikan
dengan kebutuhan dari sasaran ikan yang akan diberi pakan. Kandungan gizi pada
pakan bentuk emulsi di dapat dari bahan yang di campur yang diantaranya:
Karbohidrat yang di peroleh dari tepung sagu, selain sebagai sumber karbohidrat
tepung sagu memiliki fungsi sebagai perekat dalam pembuatan pakan bentuk
emulsi. Perekat dibutuhkan dalam pembuatan pakan karena saat pemanasan
mempercepat proses pengentalan larutan dan lekat sehingga apabila pakan
dimasukkan ke air untuk pakan larva tidak mudah hancur. Sumber protein di dapat
dari tepung kedelai, selain protein nabati kedelai berfungsi sebgaai sumber lisin.
Kebutuhan ikan akan lisin sekitar 2% dan dalam pembuatan pakan penggunaan
tepung kedelai tidak kurang dari 10%.
Sumber lemak di dapat dari kuning telur yang berfungsi juga sebagai
emulgator. Emulgator yaitu bahwa aktif permukaan yang menurunkan tegangan
antarmuka antara minyak dan air dan mengeiilingi tetesan terdispersi dengan
membentuk lapisan yang kuat untuk mencegah koalesensi dan pemisahan fase
terdispersi ( Parrot, 1971 dalam Najib, 2011). Pakan buatan ini juga ditambahkan
vitamin komersil, fungsi dari vitamin sebagai mikronutrien dalam pakan. Bentk
vitamin yang digunakan yaitu premix yag selain mengandung vitamin premix
tersebut juga mengandung mineral, asam amino esssensial bahkan antioksidan.
Penggunaan vitamin dalam pakan ikan cukup 1-2% saja. Karena dalam tubuh ikan
hanya membutuhkan dalam jumlah sedikit.

BAB V
PENUTUP
5.1

Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukuan oleh kelompok 4 dapat di

simpulkan pakan larutan emulsi ini berwarna coklat ketua-tuaan, bertekstur kental
dan lengket, dan beraroma khas tepung. Pakan emulsi ini jika di berikan pada ikan
akan larut dengan air.
Pakan emulsi ini di berikan pada burayak ikan yang bukaan mulutnya
masih kecil yaitu dengan umur ikan 3-20 hari. Kandungan yang terdapat pada
pakan buatan ini mengikuti bahan yang di campurkan, pakan pada saat praktikum
memiliki kandungan nutrisi diantaranya protein yang di dapat dari tepung kedelai,
karbohidrat dari tepung sagu (perekat), lemak dari telur (emulgator), dan vitamin
yang dicampur.
Kandungan gizi dalam pembuatan pakan emulsi perlu di perhatikan
perbandingannya. Sebab, apabila terdapat bahan penyusun pakan yang terlalu
banyak kadarnya juga akan mempengaruhi proses pembuatan dan tentunya juga
berdampak terhadap pertumbuhan ikan.
5.2

Saran
Urutan pencampuran haruslah diperhatikan agar tiap pakan yang di

berikan kandungan nutrisinya sama, dan pencampuran air pada pakan larutan
emulsi ini haruslah secara perlahan agar tekstur akhir tidak encer.

DAFTAR PUSTAKA
Djajasewaka, H.. 1985. Makanan Ikan. Jakarta. Yasa Guna.
Djarijah, 1995. Pakan Ikan. Yogyakarta. Kanisius.
Febrina et al. 2007. Formulasi Sediaan Emulsi Buah Merah (Pandanus
Conoideus LAM.) Sebagai Produk Antioksidan Alami.
http://pustaka.unpad.ac.id/wpcontent/uploads/2010/10/formulasi_sediaan_emulsi_buah_merah.pdf
(Diakses pada tanggal 16 Juni 2015 pukul 21:53)
Handajani dan Widodo. 2010. Nutrisi Ikan. Malang. Universitas Muhamadiyah
Malang Press.
January,Arif.2007.Emulsi.http://kimia.upi.edu/utama/bahanajar/kuliah_web/2007/
Winiati% 20(044482)new/Emulsi.html. Diakses pada 13 Mei 2016, pukul
20.30 WIB
Kamal, M. 1998. Nutrisi Ternak I. Yogyakarta. Rangkuman. Lab. Makanan
Ternak, jurusan Nutrisi dan Makanan Ternak, Fakultas Peternakan, UGM.
Murniati. 2008. Pengaruh penggunaan pakan suplemen yang mengandung
bungkil kedelai terhadap Kecernaan nutrien ransum sapi Peranakan
ongole jantan. Masters thesis, Universitas Sebelas Maret (di akses pada
tanggal 15 juni 2015 pukul 23:04)
Najib.2011.EmulgatorEmulsi.https://nadjeeb.wordpress.com/2011/10/29/emulgato
r/ Diakses pada 13 Mei 2016 pukul 19.30 WIB
Raharjo, Sri. 2011. Emulsi :Karakteristik, Pembentukan dan Stabilisasi.
www.elearning.tp.ugm.ac.id/.. ./E%20M%20U%20L%20S%20I. diakses
pada 13 Mei 2016, pukul 12.30 WIB
Sudi. 2008. Analisis Kandungan Proksimat Bahan Baku dan Pakan Buatan/Pelet
untuk Kepiting Bakau (Scylla paramamosain). Bul. Tek Lit. Akuakultur Vol.
7 No.1 Tahun 2008. http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/71084145.pdf
diakses pada tanggal 14 Mei 2016 pukul 22.07 WIB.
Suparjo. 2008. Analisis Secara Kimiawi.
http://jajo66.files.wordpress.com/2008/06/4analisis-kimiawi.pdf diakses
pada tanggal 25 Desember 2013 pukul 20.26 WITA.
Wurganto,S. 2000.Kandungan Protein Dalam Serat Kasar. Surabaya. fakultaas
kedokteran Hewan. Universitas Airlangga.

LAMPIRAN
Lampiran 1. Alat dan Bahan Praktikum

Persiapan alat dan bahan

Tepung sagu

Tepung kedelai

Vitamin

Lampiran 2. Prosedur praktikum

10

Penimbangan tepung kedelai

Pengayakan tepung kedelai

11

12

Kuning Telur

Kuning Telur + T.Kedelai

Kuning Telur + T. Sagu

Kuning Telur + Vitamin