Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Ada dua masalah dalam bidang kedokteran atau kesehatan yang berkaitan
dengan aspek hukum yang selalu aktual dibicarakan dari waktu ke waktu, sehingga
dapat digolongkan ke dalam masalah klasik dalam bidang kedokteran yaitu tentang
abortus provokatus dan euthanasia. Dalam lafal sumpah dokter yang disusun oleh
Hippokrates (460-377 SM), kedua masalah ini telah ditulis dan telah diingatkan.
Sampai kini tetap saja persoalan yang timbul berkaitan dengan masalah ini tidak
dapat diatasi atau diselesaikan dengan baik, atau dicapainya kesepakatan yangdapat
diteroma oleh semua pihak. Di satu pihak tindakan abortus provokatus dan euthanasia
pada beberapa kasus dan keadaan memang diperlukan sementara di lain pihak
tindakan ini tidak dapat diterima, bertentangan dengan hukum, moral dan agama.
Mengenai masalah euthanasia bila ditarik ke belakang boleh dikatakan
masalahnya sudah ada sejak kalangan kesehatan menghadapi penyakit yang tak
tersembuhkan, sementara pasien sudah dalam keadaan merana dan sekarat. Dalam
situasi demikian tidak jarang pasien memohon agar dibebaskan dari penderitaan ini
dan tidak ingin diperpanjang hidupnya lagi atau di lain keadaan pada pasien yang
sudah tidak sadar, keluarga orang sakit yang tidak tega melihat pasien yang penuh
penderitaan menjelang ajalnya dan minta kepada dokter untuk tidak meneruskan
pengobatan atau bila perlu memberikan obat yang mempercepat kematian. Dari
sinilah istilah euthanasia muncul, yaitu melepas kehidupan seseorang agar terbebas
dari penderitaan atau mati secara baik.
Masalah makin sering dibicarakan dan menarik banyak perhatian karena
semakin banyak kasus yang dihadapi kalangan kedokteran dan masyarakat terutama
setelah ditemukannya tindakan didalam dunia pengobatan dengan mempergunakan
tegnologi canggih dalam menghadapi keadaan-keadaan gawat dan mengancam
kelangsungan hidup. Banyak kasus-kasus di pusat pelayanan kesehatanterurtama di

bagian gawat darurat dan di bagian unit perawatan intensif yang pada masa lalu sudah
merupakn kasus yang sudah tidak dapat dibantu lagi.

BAB II
TINJUAN PUSTAKA DAN PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Euthanasia
Istilah euthanasia berasal dari bahasa Yunani, yaitu eu dan thanatos.
Kata eu berarti baik, tanpa penderitaan dan thanatos berarti mati. Dengan demikian
euthanasia dapat diartikan mati dengan baik tanpa penderitaan. Ada yang
menerjemahkan mati cepat tanpa derita.
Secara etimologis euthanasia berarti kematian dengan baik tanpa penderitaan,
maka dari itu dalam mengadakan euthanasia arti sebenarnya bukan untuk
menyebabkan kematian, namun untuk mengurangi atau meringankan penderitaan
orang yang sedang menghadapi kematiannya. Dalam arti yang demikian itu
euthanasia tidaklah bertentangan dengan panggilan manusia untuk mempertahankan
dan memperkembangkan hidupnya, sehingga tidak menjadi persoalan dari segi
kesusilaan. Artinya dari segi kesusilaan dapat dipertanggungjawabkan bila orang
yang bersangkutan menghendakinya.
Akan tetapi dalam perkembangan istilah selanjutnya, euthanasia lebih
menunjukkan perbuatan yang membunuh karena belas kasihan, maka menurut
pengertian umum sekarang ini, euthanasia dapat diterangkan sebagai pembunuhan
yang sistematis karena kehidupannya merupakan suatu kesengsaraan dan penderitaan.
Inilah konsep dasar dari euthanasia yang kini maknanya berkembang menjadi
kematian atas dasar pilihan rasional seseorang, sehingga banyak masalah yang
ditimbulkan dari euthanasia ini. Masalah tersebut semakin kompleks karena definisi
dari kematian itu sendiri telah menjadi kabur.
Beberapa pengertian tentang terminologi euthanasia:
1. Menurut hasil seminar aborsi dan euthanasia ditinjau dari segi medis, hukum
dan psikologi, euthanasia diartikan:
a. Dengan sengaja melakukan sesuatu untuk mengakhiri hidup seorang
pasien.

b. Dengan

sengaja

tidak

melakukan

sesuatu

(palaten)

untuk

memperpanjang hidup pasien


c. Dilakukan khusus untuk kepentingan pasien itu sendiri atas
permintaan atau tanpa permintaan pasien.
2. Menurut kode etik kedokteran indonesia, kata euthanasia dipergunakan dalam
tiga arti:
a. Berpindahnya ke alam baka dengan tenang dan aman tanpa
penderitaan, untuk yang beriman dengan nama Allah dibibir.
b. Ketika hidup berakhir, diringankan penderitaan sisakit dengan
memberinya obat penenang.
c. Mengakhiri penderitaan dan hidup seorang sakit dengan sengaja atas
permintaan pasien sendiri dan keluarganya.
Dari beberapa kategori tersebut, dapat disimpulkan bahwa unsur-unsur euthanasia
adalah sebagai berikut:
1. Berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu
2. Mengakhiri hidup, mempercepat kematian, atau tidak memperpanjang hidup
pasien.
3. Pasien menderita suatu penyakit yang sulit untuk disembuhkan kembali.
4. Atas atau tanpa permintaan pasien atau keluarganya.
5. Demi kepentingan pasien dan keluarganya.
2.2. Jenis-Jenis Euthanasia
Euthanasia bisa ditinjau dari berbagai sudut, seperti cara pelaksanaanya, dari
mana datang permintaan, sadar tidaknya pasien dan lain-lain. Secara garis besar
euthanasia dikelompokan dalam dua kelompok, yaitu euthanasia aktif dan euthanasia
pasif. Di bawah ini dikemukakan beberapa jenis euthanasia:
1. Euthanasia aktif
Euthanasia aktif adalah perbuatan yang dilakukan secara aktif oleh dokter
untuk mengakhiri hidup seorang (pasien) yang dilakukan secara medis. Biasanya
dilakukan dengan penggunaan obat-obatan yang bekerja cepat dan mematikan.
Euthanasia aktif terbagi menjadi dua golongan :

a. Euthanasia aktif langsung, yaitu cara pengakhiran kehidupan melalui


tindakan medis yang diperhitungkan akan langsung mengakhiri hidup
pasien. Misalnya dengan memberi tablet sianida atau suntikan zat yang
segera mematikan
b. Euthanasia aktif tidak langsung, yang menunjukkan bahwa tindakan
medis yang dilakukan tidak akan langsung mengakhiri hidup pasien,
tetapi diketahui bahwa risiko tindakan tersebut dapat mengakhiri hidup
pasien. Misalnya, mencabut oksigen atau alat bantu kehidupan lainnya.
2. Euthanasia pasif
Euthanasia pasif adalah perbuatan menghentikan atau mencabut segala
tindakan atau pengobatan yang perlu untuk mempertahankan hidup manusia,
sehingga pasien diperkirakan akan meninggal setelah tindakan pertolongan
dihentikan.
3. Euthanasia volunter
Euthanasia jenis ini adalah Penghentian tindakan pengobatan atau
mempercepat kematian atas permintaan sendiri.
4. Euthanasia involunter
Euthanasia involunter adalah jenis euthanasia yang dilakukan pada
pasien dalam keadaan tidak sadar yang tidak mungkin untuk menyampaikan
keinginannya. Dalam hal ini dianggap famili pasien yang bertanggung jawab
atas penghentian bantuan pengobatan. Perbuatan ini sulit dibedakan dengan
perbuatan kriminal.
Selain kategori empat macam euthanasia di atas, euthanasia juga
mempunyai macam yang lain, hal ini diungkapkan oleh beberapa tokoh,
diantaranya Frans magnis suseno dan Yezzi seperti dikutip Petrus Yoyo
Karyadi, mereka menambahkan macam-macam euthanasia selain euthanasia
secara garis besarnya, yaitu:
a) Euthanasia murni, yaitu usaha untuk memperingan kematian
seseorang tanpa memperpendek kehidupannya. Kedalamnya termasuk

semua usaha perawatan agar yang bersangkutan dapat mati dengan


"baik".
b) Euthanasia tidak langsung, yaitu usaha untuk memperingan kematian
dengan efek samping, bahwa pasien mungkin mati dengan lebih cepat.
Di sini ke dalamnya termasuk pemberian segala macam obat narkotik,
hipnotik

dan

analgetika

yang

mungkin

"de

fakto"

dapat

memperpendek kehidupan walaupun hal itu tidak disengaja


c) Euthanasia sukarela, yaitu mempercepat kematian atas persetujuan
atau permintaan pasien. Adakalanya hal itu tidak harus dibuktikan
dengan pernyataan tertulis dari pasien atau bahkan bertentangan
dengan pasien.
d) Euthanasia nonvoluntary, yaitu mempercepat kematian sesuai dengan
keinginan pasien yang disampaikan oleh atau melalui pihak ketiga
(misalnya keluarga), atau atas keputusan pemerintah.
2.3. Beberapa Kasus Euthanasia
1. Kasus Hasan Kusuma Indonesia
Sebuah permohonan untuk melakukan euthanasia pada tanggal 22
Oktober 2004 telah diajukan oleh seorang suami bernama Hassan Kusuma
karena tidak tega menyaksikan istrinya yang bernama Agian Isna Nauli, 33
tahun, tergolek koma selama 2 bulan dan disamping itu ketidakmampuan
untuk menanggung beban biaya perawatan merupakan suatu alasan pula.
Permohonan untuk melakukan euthanasia ini diajukan ke Pengadilan Negeri
Jakarta Pusat. Kasus ini merupakan salah satu contoh bentuk euthanasia yang
diluar keinginan pasien. Permohonan ini akhirnya ditolak oleh Pengadilan
Negeri Jakarta Pusat, dan setelah menjalani perawatan intensif maka kondisi
terakhir pasien (7 Januari 2005) telah mengalami kemajuan dalam pemulihan
kesehatannya.
2. Terri Schiavo (usia 41 tahun) meninggal dunia di negara bagian Florida , 13
hari setelah Mahkamah Agung Amerika memberi izin mencabut pipa
makanan (feeding

tube)

yang

selama

ini

memungkinkan

pasien

dalam koma ini masih dapat hidup. Komanya mulai pada tahun 1990 saat
Terri jatuh di rumahnya dan ditemukan oleh suaminya, Michael Schiavo,
dalam keadaan gagal jantung . Setelah ambulans tim medis langsung
dipanggil, Terri dapat diresusitasi lagi, tetapi karena cukup lama ia tidak
bernapas,

ia

mengalami

kerusakan otak yang

berat,

akibat

kekurangan oksigen . Menurut kalangan medis, gagal jantung itu disebabkan


oleh ketidakseimbangan unsur potasium dalam tubuhnya. Oleh karena itu,
dokternya kemudian dituduh malapraktik dan harus membayar ganti rugi
cukup besar karena dinilai lalai dalam tidak menemukan kondisi yang
membahayakan ini pada pasiennya.Setelah Terri Schiavo selama 8 tahun
berada dalam keadaan koma, maka pada bulan Mei 1998 suaminya yang
bernama Michael Schiavo mengajukan permohonan ke pengadilan agar pipa
alat bantu makanan pada istrinya bisa dicabut agar istrinya dapat meninggal
dengan tenang, namun orang tua Terri Schiavo yaitu Robert dan Mary
Schindler menyatakan keberatan dan menempuh langkah hukum guna
menentang niat menantu mereka tersebut. Dua kali pipa makanan Terri
dilepaskan dengan izin pengadilan , tetapi sesudah beberapa hari harus
dipasang kembali atas perintah hakim yang lebih tinggi. Ketika akhirnya
hakim memutuskan bahwa pipa makanan boleh dilepaskan, maka para
pendukung

keluarga

Schindler

melakukan

upaya-upaya

guna

menggerakkan Senat Amerika Serikat agar membuat undang-undang yang


memerintahkan pengadilan federal untuk meninjau kembali keputusan
hakim tersebut. Undang-undang ini langsung didukung oleh Dewan
Perwakilan Amerika Serikat dan ditandatangani oleh Presiden George
Walker Bush . Tetapi, berdasarkan hukum di Amerika kekuasaan kehakiman
adalah independen, yang pada akhirnya ternyata hakim federal membenarkan
keputusan hakim terdahulu.
3. Kasus "Doctor Death"

Dr. Jack Kevorkian dijuluki "Doctor Death", seperti dilaporkan Lori A.


Roscoe .

Pada

awal

April

1998,

di

Pusat

Medis

Adven

Glendale , California diduga puluhan pasien telah "ditolong" oleh Kevorkian


untuk mengakhiri hidup. Kevorkian berargumen apa yang dilakukannya
semata demi "menolong" pasien-pasiennya. Namun, para penentangnya
menyebut apa yang dilakukannya adalah pembunuhan.
4. Kasus rumah sakit Boramae - Korea
Pada tahun 2002, ada seorang pasien wanita berusia 68 tahun yang
terdiagnosa menderita penyakit sirosis hati . Tiga bulan setelah dirawat,
seorang dokter bermarga Park umur 30 tahun, telah mencabut alat bantu
pernapasan (respirator ) atas permintaan anak perempuan si pasien. Pada
Desember 2002, anak lelaki almarhum tersebut meminta polisi untuk
memeriksa kakak perempuannya beserta dua orang dokter atas tuduhan
melakukan pembunuhan. Seorang dokter yang bernama dr. Park mengatakan
bahwa si pasien sebelumnya telah meminta untuk tidak dipasangi alat bantu
pernapasan tersebut. Satu minggu sebelum meninggalnya, si pasien amat
menderita oleh penyakit sirosis hati yang telah mencapai stadium akhir, dan
dokter

mengatakan

bahwa

walaupun respirator tidak

dicabutpun,

kemungkinan hanya dapat bertahan hidup selama 24 jam saja.


5. Kasus BBC
Seorang warga Swiss bunuh diri dibantu medis atau euthanasia. Disaksikan
keluarganya, ia menenggak obat mematikan di satu klinik di Swiss . Proses
menuju kematian itu, disiarkan oleh televisi BBC. Kontroversi pun sontak
merebak.Nama pria itu adalah Peter Smedley berusia 71 tahun dan sedang
sakit parah yang tak mungkin disembuhkan lagi.Pemilik hotel ini pun
memutuskan untuk mengakhiri penderitaan itu dengan cara meminum obat
mematikan.Niatnya itu bisa terlaksana karena di negaranya, Swiss, euthanasia
tidak terlarang. Ia pun meminta dokter di satu klik bernama Dignitas
memberikan obat mematikan, barbituates . Entah bagaimana dia memberikan

izin kepada Sir Terry Pratchett , pembawa acara Terry Pratchett: Choosing To
Die, untuk merekam momen terakhirnya saat meminum racun. Itu terjadi
sebelum Natal tahun lalu. Dalam gambar yang ditayangkan di BBC , sang
pasien, Smedley, didampingi dokter dari klinik dan istrinya Christine. Dalam
hitungan detik, ia meninggal di kursinya. Segera setelah tayangan itu, debat
panas muncul di Twitter, media sosial lainnya serta media cetak membuat
BBC dijuluki 'pemandu sorak' euthanasia. Warga pun menulis pengaduannya
pada Dirjen Mark Thompson dan Kepala BBC Lord Patten mengenai acara
itu. Warga menganggap acara ini 'tak pantas'.Kelompok amal, politik dan
agama bergabung menyatakan acara ini 'propaganda' euthanasia.Dalam
gugatan, tertulis, "Menayangkan kematian pasien di acara demi hiburan, BBC
harus punya alasan kuat". Baroness Campbell of Surbiton, Baroness Finlay of
Llandaff, Lord Alton of Liverpool dan Lord Charlie of Berriew mengatakan,
BBC menayangkan acara ini guna mendukung bunuh diri yang dibantu.
Alhasil, hampir 900 warga membuat pengaduan resmi pada BBC atas
program itu. Juru bicara BBC menambahkan, "Terkait acara ini, saya punya
82 apresiasi dan 162 pengaduan, total pengaduan pun menjadi 898". Regulator
media Ofcom sendiri mengakui seperti dikutip Dailymail, BBC mendapat
'banyak' pengaduan.
2.4. Tinjauan Etika Euthanasia
A. Tinjauan Kedokteran
Profesi tenaga medis sudah sejak lama menentang euthanasia sebab
profesi kedokteran adalah untuk menyembuhkan dan bukan untuk mematikan.
Profesi medis adalah untuk merawat kehidupan dan bukan untuk merusak
kehidupan. Sumpah Hipokrates jelas-jelas menolaknya, Saya tidak akan
memberikan racun yang mematikan ataupun memberikan saran mengenai hal ini
kepada mereka yang memintanya. Sumpah ini kemudian menjadi dasar sumpah

seluruh dokter di dunia, termasuk di Indonesia. Mungkin saja sumpah ini bukan
Hipokrates sendiri yang membuatnya.
Dalam pasal 9, bab II Kode Etik Kedokteran Indonesia tentang kewajiban
dokter kepada pasien, disebutkan bahwa seorang dokter harus senantiasa
mengingat akan kewajiban melindungi hidup makhluk insani. Ini berarti bahwa
menurut kode etik kedokteran, dokter tidak diperbolehkan mengakhiri hidup
seorang yang sakit meskipun menurut pengetahuan dan pengalaman tidak akan
sembuh lagi. Tetapi apabila pasien sudah dipastikan mengalami kematian batang
otak atau kehilangan fungsi otaknya sama sekali, maka pasien tersebut secara
keseluruhan telah mati walaupun jantungnya masih berdenyut. Penghentian
tindakan terapeutik harus diputuskan oleh dokter yang berpengalaman yang
mengalami kasus-kasus secara keseluruhan dan sebaiknya hal itu dilakukan
setelah diadakan konsultasi dengan dokter yang berpengalaman, selain harus pula
dipertimbangkan keinginan pasien, kelurga pasien, dan kualitas hidup terbaik
yang diharapkan. Dengan demikian, dasar etik moral untuk melakukan euthanasia
adalah memperpendek atau mengakhiri penderitaan pasien dan bukan mengakhiri
hidup pasien. Sampai saat ini, belum ada aturan hukum di Indonesia yang
mengatur tentang euthanasia. Pasal-pasal KUHP justru menegaskan bahwa
euthanasia aktif maupun pasif tanpa permintaan dilarang. Demikian pula dengan
euthanasia aktif dengan permintaan. Hakikat profesi kedokteran adalah
menyembuhkan dan meringankan penderitaan. Euthanasia justru bertentangan
radikal dengan hakikat itu.
Namun, beberapa ahli hukum juga berpendapat bahwa tindakan
melakukan perawatan medis yang tidak ada gunanya secara yuridis dapat
dianggap sebagai penganiayaan. Ini berkaitan dengan batas ilmu kedokteran yang
dikuasai oleh seorang dokter. Tindakan di luar batas ilmu kedokteran tersebut
dapat dikatakan di luar kompetensi dokter tersebut untuk melakukan perawatan
medis. Apabila suatu tindakan dapat dinilai tidak ada gunanya lagi, dokter tidak
lagi berkompeten melakukan perawatan medis.

B. Tinjauan Filosofis-Etis
Dari segi filosofis, persoalan euthanasia berhubungan erat dengan
pandangan otonomi dan kebebasan manusia di mana manusia ingin menguasai
dirinya sendiri secara penuh sehingga dapat menentukan sendiri kapan dan
bagaimana ia akan mati (hak untuk mati). Perdebatan mengenai euthanasia dapat
diringkas sebagai berikut: atas nama penghormatan terhadap otonomi manusia,
manusia harus mempunyai kontrol secara penuh atas hidup dan matinya sehingga
seharusnya

ia

mempunyai

kuasa

untuk mengakhiri hidupnya

jika ia

menghendakinya demi pengakhiran penderitaan yang tidak berguna.


Banyak pakar etika menolak euthanasia dan assisted suicide. Salah satu
argumentasinya menekankan bahaya euthanasia disalahgunakan. Jika kita
mengizinkan pengecualian atas larangan membunuh, sebentar lagi cara ini bisa
dipakai juga terhadap orang cacat, orang berusia lanjut, atau orang lain yang
dianggap tidak berguna lagi. Ada suatu prinsip etika yang sangat mendasar yaitu
kita harus menghormati kehidupan manusia. Tidak pernah boleh kita
mengorbankan manusia kepada suatu tujuan tertentu. Prinsip ini dirumuskan
sebagai kesucian kehidupan (the sanctity of life). Kehidupan manusia adalah
suci karena mempunyai nilai absolut dan karena itu dimana-mana harus
dihormati.
Masing-masing orang memiliki martabat (nilai) sendiri-sendiri yang ada
secara intrinsik (ada bersama dengan adanya manusia dan berakhir bersama
dengan berakhirnya manusia). Keberadaan martabat manusia ini terlepas dari
pengakuan orang, artinya ia ada entah diakui atau tidak oleh orang lain. Masingmasing orang harus mempertanggungjawabkan hidupnya sendiri-sendiri dan oleh
karena itu masing-masing orang memiliki tujuan hidupnya sendiri. Karena itu,
manusia tidak pernah boleh dipakai hanya sebagai alat/instrumen untuk mencapai
suatu tujuan tertentu oleh orang lain.
Meski demikian, tidak sedikit juga yang mendukung euthanasia.
Argumentasi yang banyak dipakai adalah hak pasien terminal: the right to die.

Menurut mereka, jika pasien sudah sampai akhir hidupnya, ia berhak meminta
agar penderitaannya segera diakhiri. Beberapa hari yang tersisa lagi pasti penuh
penderitaan. Euthanasia atau bunuh diri dengan bantuan hanya sekedar
mempercepat kematiannya, sekaligus memungkinkan kematian yang baik,
tanpa penderitaan yang tidak perlu.
2.5.Tinjauan Hukum Euthanasia
Di Indonesia dilihat dari perundang-undangan dewasa ini, memang belum ada
pengaturan (dalam bentuk undang-undang) yang khusus dan lengkap tentang
euthanasia. Tetapi bagaimanapun karena masalah euthanasia menyangkut soal
keamanan dan keselamatan nyawa manusia, maka harus dicari pengaturan atau pasal
yang sekurang-kurangnya sedikit mendekati unsur-unsur euthanasia itu. Maka satusatunya yang dapat dipakai sebagai landasan hukum, adalah apa yang terdapat di
dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Indonesia.
Kitab undang-undang Hukum Pidana mengatur sesorang dapat dipidana atau
dihukum jika ia menghilangkan nyawa orang lain dengan sengaja ataupun karena
kurang hati-hati. Ketentuan pelangaran pidana yang berkaitan langsung dengan
euthanasia aktif tedapat padapasal 344 KUHP.
Pasal 344 KUHP: Barangsiapa menghilangkan jiwa orang lain atas permintaan
orang itu sendiri, yang disebutnya dengan nyata dan dengan sungguh-sungguh,
dihukum penjara selama-lamanya dua belas tahun.
Ketentuan ini harus diingat kalangan kedokteran sebab walaupun terdapat
beberapa alasan kuat untuk membantu pasien atau keluarga pasien mengakhiri hidup
atau memperpendek hidup pasien, ancaman hukuman ini harus dihadapinya.
Untuk jenis euthanasia aktif maupun pasif tanpa permintaan, beberapa pasal
dibawah ini perlu diketahui oleh dokter, yaitu:
Pasal 338 KUHP: Barangsiapa dengan sengaja menghilangkan jiwa orang lain,
dihukum karena makar mati, dengan penjara selama-lamanya lima belas tahun.

Pasal 340 KUHP: Barangsiapa dengan sengaja dan direncanakan lebih dahulu
menghilangkan jiwa orang lain, dihukum, karena pembunuhan direncanakan
(moord) dengan hukuman mati atau penjara selama-lamanya seumur hidup atau
penjara selama-lamanya dua puluh tahun.
Pasal 359 KUHP: Barang siapa karena salahnya menyebabkan matinya orang
dihukum penjara selama-lamanya lima tahun atau kurungan selama-lamanya satu
tahun.
Selanjutnya di bawah ini dikemukakan sebuah ketentuan hukum yang
mengingatkan kalangan kesehatan untuk berhati-hati menghadapi kasus euthanasia,
yaitu:
Pasal 345 KUHP: Barang siapa dengan sengaja menghasut orang lain unutk
membunuh diri, menolongnya dalam perbuatan itu, atau memberikan daya upaya itu
jadi bunuh diri, dihukum penjara selama-lamanya empat tahun.
Kalau diperhatikan bunyi pasal-pasal mengenai kejahatan terhadap nyawa
manusia dalam KUHP tersebut, maka dapatlah kita dimengerti betapa sebenarnya
pembentuk undang-undang pada saat itu (zaman Hindia Belanda) telah menganggap
bahwa nyawa manusia sebagai miliknya yang paling berharga. Oleh sebab itu setiap
perbuatan apapun motif dan macamnya sepanjang perbuatan tersebut mengancam
keamanan dan keselamatan nyawa manusia, maka hal ini dianggap sebagai suatu
kejahatan yang besar oleh negara.
Adalah suatu kenyataan sampai sekarang bahwa tanpa membedakan agama,
ras, warna kulit dan ideologi, tentang keamanan dan keselamatan nyawa manusia
Indonesia dijamin oleh undang-undang. Demikian halnya terhadap masalah
euthanasia ini.
2.6.Tinjauan Agama Terhadap Euthanasia
Syariah Islam merupakan syariah sempurna yang mampu mengatasi segala
persoalan di segala waktu dan tempat. Berikut ini solusi syariah terhadap euthanasia,
baik euthanasia aktif maupun euthanasia pasif.

1. Euthanasia Aktif
Syariah Islam mengharamkan euthanasia aktif, karena termasuk dalam
kategori pembunuhan sengaja (al-qatlu al-amad), walaupun niatnya baik yaitu untuk
meringankan penderitaan pasien. Hukumnya tetap haram, walaupun atas permintaan
pasien sendiri atau keluarganya.
Dalil-dalil dalam masalah ini sangatlah jelas, yaitu dalil-dalil yang
mengharamkan pembunuhan. Baik pembunuhan jiwa orang lain, maupun membunuh
diri sendiri. Misalnya firman Allah SWT :
(151:). .... .......
Dan

janganlah

kamu

membunuh

jiwa

yang

diharamkan

Allah

(untuk

membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar. (QS Al-Anaam :


151)
(92 : ). ....
Dan tidak layak bagi seorang mu`min membunuh seorang mu`min (yang lain),
kecuali karena tersalah (tidak sengaja) (QS An-Nisaa` : 92)
(29 : ). .... .......
Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha
Penyayang kepadamu. (QS An-Nisaa` : 29).
Dari dalil-dalil di atas, jelaslah bahwa haram hukumnya bagi dokter
melakukan euthanasia aktif. Sebab tindakan itu termasuk ke dalam kategori
pembunuhan sengaja (al-qatlu al-amad) yang merupakan tindak pidana (jarimah) dan
dosa besar.
Dokter yang melakukan euthanasia aktif, misalnya dengan memberikan
suntikan mematikan, menurut hukum pidana Islam akan dijatuhi qishash (hukuman
mati karena membunuh), oleh pemerintahan Islam (Khilafah), sesuai firman Allah :
(178 :). ....
Telah diwajibkan atas kamu qishash berkenaan dengan orang-orang yang
dibunuh. (QS Al-Baqarah : 178)

Namun jika keluarga terbunuh (waliyyul maqtuul) menggugurkan qishash


(dengan memaafkan), qishash tidak dilaksanakan. Selanjutnya mereka mempunyai
dua pilihan lagi, meminta diyat (tebusan), atau memaafkan/menyedekahkan.
Firman Allah SWT :
(178 :). .... .......
Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah
(yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi
maaf) membayar (diyat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik
(pula). (QS Al-Baqarah : 178)
Diyat untuk pembunuhan sengaja adalah 100 ekor unta di mana 40 ekor di
antaranya dalam keadaan bunting (khalifah), 30 ekor umur 3 tahun (hiqqah) dan 30
ekor berumur 4 tahun (jadzaah) berdasarkan hadits Nabi riwayat An-Nasa`i. Jika
dibayar dalam bentuk dinar (uang emas) atau dirham (uang perak), maka diyatnya
adalah 1000 dinar, atau senilai 4250 gram emas (1 dinar = 4,25 gram emas), atau
12.000 dirham, atau senilai 35.700 gram perak (1 dirham = 2,975 gram perak).
Tidak dapat diterima, alasan euthanasia aktif yang sering dikemukakan yaitu
kasihan melihat penderitaan pasien sehingga kemudian dokter memudahkan
kematiannya. Alasan ini hanya melihat aspek lahiriah (empiris), padahal di balik itu
ada aspek-aspek lainnya yang tidak diketahui dan tidak dijangkau manusia. Dengan
mempercepat kematian pasien dengan euthanasia aktif, pasien tidak mendapatkan
manfaat (hikmah) dari ujian sakit yang diberikan Allah kepada-Nya, yaitu
pengampunan dosa. Rasulullah SAW bersabda,Tidaklah menimpa kepada seseorang
muslim suatu musibah, baik kesulitan, sakit, kesedihan, kesusahan, maupun penyakit,
bahkan duri yang menusuknya, kecuali Allah menghapuskan kesalahan atau dosanya
dengan musibah yang menimpanya itu. (HR Bukhari dan Muslim).
Telah ada diantara orang-orang sebelum kamu seorang laki-laki yang
mendapat luka, lalu keluh kesahlah ia. Maka ia mengambil pisau lalu memotong
tangannya dengan pisau itu. Kemudian tidak berhenti-henti darahnya keluar
sehingga ia mati. Maka Allah berfirman : hambaku telah menyegerakan kematiannya

sebelum aku mematikan. Aku mengharamkan surga untuknya. (HR Bukhari dan
Muslim).
2. Euthanasia Pasif
Adapun hukum euthanasia pasif, sebenarnya faktanya termasuk dalam praktik
menghentikan pengobatan. Tindakan tersebut dilakukan berdasarkan keyakinan
dokter bahwa pengobatan yag dilakukan tidak ada gunanya lagi dan tidak
memberikan harapan sembuh kepada pasien. Karena itu, dokter menghentikan
pengobatan kepada pasien, misalnya dengan cara menghentikan alat pernapasan
buatan dari tubuh pasien. Bagaimanakah hukumnya menurut Syariah Islam?
Jawaban untuk pertanyaan itu, bergantung kepada pengetahuan kita tentang
hukum berobat (at-tadaawi) itu sendiri. Yakni, apakah berobat itu wajib,
mandub,mubah, atau makruh? Dalam masalah ini ada perbedaan pendapat. Menurut
jumhur ulama, mengobati atau berobat itu hukumnya mandub (sunnah), tidak wajib.
Namun sebagian ulama ada yang mewajibkan berobat, seperti kalangan ulama
Syafiiyah dan Hanabilah, seperti dikemukakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
Dasar dari pada kewajiban berobat oleh sebagian ulama adalah hadits bahwa
Rasulullah SAW bersabda : Sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla setiap kali
menciptakan penyakit, Dia ciptakan pula obatnya. Maka berobatlah kalian! (HR
Ahmad, dari Anas RA)
Hadits di atas menunjukkan Rasulullah SAW memerintahkan untuk berobat.
Menurut ilmu Ushul Fiqih, perintah (al-amr) itu hanya memberi makna adanya
tuntutan (li ath-thalab), bukan menunjukkan kewajiban (li al-wujub). Ini sesuai
kaidah ushul :

.Perintah itu pada asalnya adalah sekedar menunjukkan adanya tuntutan
Jadi, hadits riwayat Imam Ahmad di atas hanya menuntut kita berobat. Dalam
hadits itu tidak terdapat suatu indikasi pun bahwa tuntutan itu bersifat wajib. Bahkan,
qarinah yang ada dalam hadits-hadits lain justru menunjukkan bahwa perintah di atas
tidak bersifat wajib. Hadits-hadits lain itu membolehkan tidak berobat.

Di antaranya ialah hadits yang diriwayatkan Ibnu Abbas RA, bahwa seorang
perempuan hitam pernah datang kepada Nabi SAW lalu berkata,Sesungguhnya aku
terkena penyakit ayan (epilepsi) dan sering tersingkap auratku [saat kambuh].
Berdoalah kepada Allah untuk kesembuhanku! Nabi SAW berkata,Jika kamu mau,
kamu bersabar dan akan mendapat surga. Jika tidak mau, aku akan berdoa kepada
Allah agar Dia menyembuhkanmu. Perempuan itu berkata,Baiklah aku akan
bersabar, lalu dia berkata lagi,Sesungguhnya auratku sering tersingkap [saat
ayanku kambuh], maka berdoalah kepada Allah agar auratku tidak tersingkap.
Maka Nabi SAW lalu berdoa untuknya. (HR Bukhari)
Hadits di atas menunjukkan bolehnya tidak berobat. Jika hadits ini
digabungkan dengan hadits pertama di atas yang memerintahkan berobat, maka hadits
terakhir ini menjadi indikasi (qarinah), bahwa perintah berobat adalah perintah
sunnah, bukan perintah wajib. Kesimpulannya, hukum berobat adalah sunnah
(mandub), bukan wajib.
Dengan demikian, jelaslah pengobatan atau berobat hukumnya sunnah,
termasuk dalam hal ini memasang alat-alat bantu bagi pasien. Jika memasang alatalat ini hukumnya sunnah, maka jika para dokter telah menetapkan bahwa si pasien
telah mati organ otaknya, maka para dokter berhak menghentikan pengobatan, seperti
menghentikan alat bantu pernapasan dan sebagainya. Sebab pada dasarnya
penggunaan alat-alat bantu tersebut adalah termasuk aktivitas pengobatan yang
hukumnya sunnah, bukan wajib. Kematian otak tersebut berarti secara pasti tidak
memungkinkan lagi kembalinya kehidupan bagi pasien. Meskipun sebagian organ
vital lainnya masih bisa berfungsi, tetap tidak akan dapat mengembalikan kehidupan
kepada pasien, karena organ-organ ini pun akan segera tidak berfungsi.
Berdasarkan penjelasan di atas, maka hukum pemasangan alat-alat bantu
kepada pasien adalah sunnah, karena termasuk aktivitas berobat yang hukumnya
sunnah. Karena itu, hukum euthanasia pasif dalam arti menghentikan pengobatan
dengan mencabut alat-alat bantu pada pasien setelah matinya/rusaknya organ otak
hukumnya boleh (jaiz) dan tidak haram bagi dokter. Jadi setelah mencabut alat-alat

tersebut dari tubuh pasien, dokter tidak dapat dapat dikatakan berdosa dan tidak dapat
dimintai tanggung jawab mengenai tindakannya itu.
Namun untuk bebasnya tanggung jawab dokter, disyaratkan adanya izin dari
pasien, walinya, atau washi-nya (washi adalah orang yang ditunjuk untuk mengawasi
dan mengurus pasien). Jika pasien tidak mempunyai wali, atau washi, maka wajib
diperlukan izin dari pihak penguasa (Al-Hakim/Ulil Amri).
2.7. Euthanasia Menurut Hukum Diberbagai Negara
Sejauh ini euthanasia diperkenankan yaitu dinegara Belanda, Belgia serta
ditoleransi di Negara bagian Oregon di Amerika, Kolombia dan Swiss dan dibeberapa
Negara dinyatakan sebagai kejahatan seperti di Spanyol, Jerman dan Denmark
termasuk di Indonesia.
1. Euthanasia di Belanda
Pada tanggal 10 April 2001 Belanda menerbitkan undang-undang yang
mengizinkan euthanasia, undang-undang ini dinyatakan efektif berlaku sejak
tanggal 1 April 2002, yang menjadikan Belanda menjadi Negara pertama di dunia
yang melegalisasi praktik euthanasia. Pasien-pasien yang mengalami sakit
menahun dan tidak dapat disembuhkan lagi, diberi hak untuk mengakhiri
penderitaannya.Tetapi perlu ditekankan, bahwa dalam KItab Hukum Pidana
Belanda secara formal euthanasia dan bunuh diri berbantuan masih dipertahankan
sebagai perbuatan kriminal.
Sejak akhir tahun 1993, Belanda secara hukum mengatur kewajiban para
dokter untuk melapor semua kasus euthanasia dan bunuh diri berbantuan. Instansi
kehakiman selalu akan menilai betul tidaknya prosedurnya. Pada tahun
2002,sebuah konvensi yang berusia 20 tahun telah dikodifikasi oleh undangundang Belanda, dimana seorang dokter yang melakukan euthanasia pada suatu
kasus tertentu tidak akan dihukum.
2. Euthanasia di Australia

Negara bagian Australia, Northern Territory, menjadi tempat pertama didunia


dengan UU yang mengizinkan euthanasia dan bunuh diri berbantuan, meski
reputasi ini tidak bertahan lama. Pada tahun 1995 Northern Territory menerima
UU yang disebut Right of the terminally ill bill (UU tentang hak pasien
terminal). Undang-undang baru ini beberapa kali dipraktikkan, tetapi bulan maret
1997 ditiadakan oleh keputusan Senat Australia, sehingga harus ditarik kembali.
Dengan demikian menurut aturan hukum di Australia, tindakan euthanasia tidak
dibenarkan.
3. Euthanasia di Belgia
Parlemen Belgia telah

melegalisasi

tindakan

eutanasia

pada

akhir

September 2002. Para pendukung eutanasia menyatakan bahwa ribuan tindakan


eutanasia setiap tahunnya telah dilakukan sejak dilegalisasikannya tindakan
eutanasia dinegara ini, namun mereka juga mengkritik sulitnya prosedur
pelaksanaan eutanasia ini sehingga timbul suatu kesan adaya upaya untuk
menciptakan birokrasi kematian. Belgia kini menjadi negara ketiga yang
melegalisasi eutanasia ( setelahBelanda dan negara bagian Oregon di Amerika ).
Senator Philippe Mahoux, dari partai sosialis yang merupakan salah satu
penyusun rancangan undang-undang tersebut menyatakan bahwa seorang pasien
yang menderita secara jasmani dan psikologis adalah merupakan orang yang
memiliki hak penuh untuk memutuskan kelangsungan hidupnya dan penentuan
saat-saat akhir hidupnya.
5. Euthanasia di Amerika
Eutanasia agresif dinyatakan ilegal dibanyak negara bagian di Amerika. Saat
ini satu-satunya negara bagian di Amerika yang hukumnya secara eksplisit
mengizinkan pasien terminal ( pasien yang tidak mungkin lagi disembuhkan)
mengakhiri

hidupnya

tahun 1997 melegalisasikan

adalah

negara

kemungkinan

bagian Oregon,
dilakukannya

yang

eutanasia

pada
dengan

memberlakukan UU tentang kematian yang pantas (Oregon Death with Dignity

Act)[8]. Tetapi undang-undang ini hanya menyangkut bunuh diri berbantuan, bukan
euthanasia.
Syarat-syarat yang diwajibkan cukup ketat, dimana pasien terminal berusia 18
tahun ke atas boleh minta bantuan untuk bunuh diri, jika mereka diperkirakan
akan meninggal dalam enam bulan dan keinginan ini harus diajukan sampai tiga
kali pasien, dimana dua kali secara lisan (dengan tenggang waktu 15 hari di
antaranya) dan sekali secara tertulis (dihadiri dua saksi dimana salah satu saksi
tidak boleh memiliki hubungan keluarga dengan pasien). Dokter kedua harus
mengkonfirmasikan diagnosispenyakit dan prognosis serta memastikan bahwa
pasien dalam mengambil keputusan itu tidak berada dalam keadaan gangguan
mental.Hukum juga mengatur secara tegas bahwa keputusan pasien untuk
mengakhiri hidupnya tersebut tidak boleh berpengaruh terhadap asuransi yang
dimilikinya baik asuransi kesehatan, jiwa maupun kecelakaan ataupun juga
simpanan hari tuanya.
Belum jelas apakah undang-undang Oregon ini bisa dipertahankan di masa
depan, sebab dalam Senat AS pun ada usaha untuk meniadakan UU negara bagian
ini. Mungkin saja nanti nasibnya sama dengan UU Northern Territory di
Australia. Bulan Februari lalu sebuah studi terbit tentang pelaksanaan UU Oregon
selama tahun 1999.
6. Euthanasia di Swiss
Di Swiss, obat yang mematikan dapat diberikan baik kepada warga
negara Swiss ataupun orang asing apabila yang bersangkutan memintanya sendiri.
Secara umum, pasal 115 dari Kitab Undang-undang Hukum Pidana Swiss yang
ditulis pada tahun 1937 dan dipergunakan sejak tahun 1942, yang pada intinya
menyatakan bahwa membantu suatu pelaksanaan bunuh diri adalah merupakan
suatu perbuatan melawan hukum apabila motivasinya semata untuk kepentingan
diri sendiri.

Pasal 115 tersebut hanyalah menginterpretasikan suatu izin untuk melakukan


pengelompokan terhadap obat-obatan yang dapat digunakan untuk mengakhiri
kehidupan seseorang.
7. Euthanasia di Inggris
Pada tanggal 5 November 2006, Kolese Kebidanan dan Kandungan Britania
Raya (Britains Royal College of Obstetricians and Gynaecologists) mengajukan
sebuah proposal kepada Dewan Bioetik Nuffield (Nuffield Council on Bioethics)
agar dipertimbangkannya izin untuk melakukan eutanasia terhadap bayi-bayi
yang lahir cacat (disabled newborns). Proposal tersebut bukanlah ditujukan untuk
melegalisasi

eutanasia

dipertimbangkannya

di Inggris melainkan

semata

guna

memohon

secara saksama dari sisi faktor kemungkinan hidup si

bayi sebagai suatu legitimasi praktek kedokteran.


Namun hingga saat ini eutanasia masih merupakan suatu tindakan melawan
hukum di kerajaan Inggris demikian juga di Eropa (selain daripada Belanda).
Demikian pula kebijakan resmi dari Asosiasi Kedokteran Inggris(British Medical
Association-BMA) yang secara tegas menentang eutanasia dalam bentuk apapun
juga.
2.8. Tinjauan Euthanasia Oleh Penulis
Euthanasia secara moral, tidak dapat diterima dari perspektif dan etika Islam
karena hal ini menolak kedaulatan Allah atas hidup manusia sekaligus telah membuat
manusia dapat menentukan kematiannya sendiri, sedangkan seperti kita ketahui
bahwa Allah yang menciptakan manusia dan Dia pula yang berkenan atas hidup
manusia sehingga yang berhak untuk menentukan dan mengambil hidup manusia
(kematian) adalah Allah sendiri.
Sering banyak orang menjadi salah persepsi bahwa euthanasia itu baik unutuk
dilakukan karena merupakan perbuatan kasih dan belas kasihan. Tetapi mereka
ternyata keliru, sebab tidak mungkin Tuhan mengajarkan manusia untuk
saling mengasihi bila pada akhirnya manusia jualah yang membunuh mereka, jika itu

kita tetap lakukan maka kita sama dengan orang yang tidak percaya Tuhan. Ketika
kita melihat orang yang sudah sekarat bertahun-tahun dan sangat menderita, beberapa
kelompok orang sering secara cepat mengambil keputusan karena merasa kasihan dan
mengambil tindakan yang menurut mereka baik agar orang tersebut tidak lagi hidup
dalam kondisi yang menderita, tindakan baik yang kebanyakan kita lakukan yaitu
meminta tolong dokter atau para medis untuk membunuhnya, hal itu juga dipicu
karena orang ini sudah terlalu menyusahakan keluarganya.
Jika kita memang berpikir dan melakukan hal semacam itu, kita sama dengan
mengtuhankan diri kita sendiri sebagai Tuhan yang dapat menentukan hidup atau
matinya orang ini. Pada dasarnya pihak-pihak yang menyetujui euthanasia dapat
dilakukan, beranggapan bahwa setiap manusia memiliki hak untuk hidup dan hak
untuk mengakhiri hidupnya dengan segera dan hal ini dilakukan dengan alasan yang
cukup mendukung yaitu alasan kemanusian. Dengan keadaan dirinya yang tidak lagi
memungkinkan untuk sembuh atau bahkan hidup, maka ia dapat melakukan
permohonan untuk segera diakhiri hidupnya. Ini merupakan tindakan dan pola pikir
yang salah dari pihak yang mendukung Eutanasia sebab seperti yang kita ketahui
bahwa setiap manusia tidak memiliki hak untuk mengakhiri hidupnya, karena
masalah hidup dan mati adalah kekuasaan mutlak Tuhan yang tidak bisa diganggu
gugat oleh manusia.
Selain itu, salah satu alasan mengapa melakukan euthanasia adalah ketika
suatu keluarga merasakan ketidaksanggupannya dalam membayar biaya perawatan
untuk si penderita dan membiarkannya hidup hanyalah membuang-buang uang saja.
Apakah nilai kehidupan ini bisa dibayarkan oleh sejumlah uang? Hidup dan mati
seseorang tidak dapat diukur dengan uang, karena kehidupan kita lebih berharga
daripada uang atau apapun juga, uang itu berasal dari hidup kita dan kita yang
menghasilkan uang, uang itu bisa saja habis dan musnah karena dipakai atau
digunkan oleh kita, namun Tuhan Allah menciptakan kita didunia ini untuk hidup
bukan untuk mati. Jadi selama si pasien masih memiliki kesempatan untuk hidup

mengapa orang lain justru ingin mengakhiri hidupnya. Oleh karena itulah hidup kita
ini lebih berharga daripada uang dan tak bisa diukur dengan nilai apapun.
Seseorang yang menderita penyakit yang sudah tak ada harapan lagi tersebut
sebenarnya tidak pernah ingin menghadapi situasi seperti itu, dan ketika pihak
keluarga ingin melakukan euthanasia, maka keputusan ini hanya akan mempengaruhi
kondisi psikologis pasien. Karena ketika ia diperhadapkan pada pilihan hidup atau
mati, dan orang-orang sekitarnya lebih ingin ia untuk mati, maka pasien tersebut akan
merasa tertolak oleh keluarga dan kondisinya akan semakin parah karena
depresi. Sebenarnya, jika memang merasa kasihan, tindakan kasihan itu tidaklah
dilakukan dengan cara menghabisi hidupnya.Karena kasih sayang itu bukan dengan
cara membunuh.
Euthanasia ini dapat dilakukan dengan cara memberhentikan alat-alat medis
yang fungsinya menunjang kehidupan pasien.Menurut saya, mengapa alat yang
menunjang tersebut harus dilepas dari pasien kalau kehidupannya bisa didukung
dengan alat tersebut? Alat-alat yang dilepas dari pasien hanya membuatnya akan mati
dan itu sama saja dengan membunuhnya, sehingga alat tersebut tidak perlu dilepas
selama alat itu masih menunjang diri pasien tersebut untuk hidup. Mengenai birokrasi
rumah sakit yang sering kali menunda tindakan penyembuhan jika administrasinya
belum selesai, menurut saya hal tersebut bukanlah tindakan euthanasia, karena
euthanasia adalah suatu bentuk kematian yang disengaja agar tidak merasakan sakit,
sedangkan penundaan tindakan pengobatan oleh rumah sakit, bukanlah bertujuan
untuk memberikan kematian yang nyaman. Masalahnya disini adalah dokter belum
bertanggungjawab atas pasien sebelum pasien tersebut sudah berada didepannya, jadi
selagi pasien masih berurusan dengan birokrasi rumah sakit, pasien masih tanggungan
keluarga. Untuk mengurangi hal-hal seperti ini, pemerintah Indonesia harus semakin
ketat terhadap peraturan hukum yang terdapat pada pasal 304 dan 344 KUHP, dimana
penundaan pengobatan akibat administrasi yang belum selesai yang adalah suatu
tindakan yang disengaja, bisa berkurang. Seharusnya, administrasi bisa dilakukan
setelah pasien ditangani agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Jadi menurut saya, euthanasia merupakan salah satu praktek kedokteran yang
tidak bermoral.Jika euthanasia dilakukan bedasarkan permintaan pasien, kita perlu
menyadari bahwa tidak seorang pun yang dapat menentukan kematianya. Secara tidak
langsung permintaan tersebut sama dengan bunuh diri. Jika euthanasia dilakukan
dengan alasan untuk mengurangi beban penderitaan pasien atau alasan ekonomi
keluarga yang tidak mampu, tentu saja hal ini melanggar hak asasi si
pasien. Pengakhiran kehidupan tanpa sepengetahuan pasien sudah termasuk dalam
kategori tindak pidana pembunuhan.Sesuai dengan sumpahnya, seorang dokter
seharusnya berusaha untuk mempertahankan kehidupan pasien sampai batas akhir
kesanggupannya.dalam kode etik kedokteran (1969) juga dinyatakan bahwa dokter
harus mengerahkan kepandaian dan kemampuannya untuk meringankan penderitaan
dan memelihara hidup, tetapi tidak dengan cara mengakhiri hidup si pasien.

BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
1. Euthanasia lebih menunjukkan perbuatan yang membunuh karena belas
kasihan, maka menurut pengertian umum sekarang ini, euthanasia dapat
diterangkan sebagai pembunuhan yang sistematis karena kehidupannya
merupakan suatu kesengsaraan dan penderitaan.
2. Euthanasia dapat dikelompkkan menjadi euthanasia aktif, euthanasia pasif,
euthanasia volunter, dan uethanasia involunter.
3. Menurut kode etik kedokteran, dokter tidak diperbolehkan mengakhiri hidup
seorang yang sakit meskipun menurut pengetahuan dan pengalaman tidak
akan sembuh lagi
4. Di Indonesia dilihat dari perundang-undangan dewasa ini, memang belum ada
pengaturan (dalam bentuk undang-undang) yang khusus dan lengkap tentang
euthanasia. Maka satu-satunya yang dapat dipakai sebagai landasan hukum,
adalah apa yang terdapat di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
Indonesia.
3.2. Saran
Dalam makalah ini penulis memberikan saran kepada kepeda para pemberi
layanan kesehatan khususnya para dokter untuk tidak melakukan euthanasia, karena
jika dilihat dari segi hak asasi manusia steiap orang berhak untuk hidup. Dan jika
dilihat dari segi agama, yang mempunyai kuasa atas hidup manusia adalah Tuhan.

DAFTAR PUSTAKA
1. Hanafiah Jusuf: Etika Kedokteran dan Hukum Kesehatan, Jakarta, 2005

2. Karo-Karo, Andre. 1987. Euthanasia. Penerbit Erlangga. Jakarta.


3. Shannon, Thomas (Diterjemahkan K.Bertens). 1995. Pengantar Bioetika.
Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
4. http://Hukum-Kesehatan.web.id/AspekHukumdalam Pelaksanaan Euthanasia

diIndonesiaHukumKesehatan.htm
5. http:// JohnkoplosWeblog.com/Euthanasia Tinjauan dari Segi Medis, Etis,

dan Moral