Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN
Trakeostomi merupakan suatu teknik yang digunakan untuk mengatasi
pasien dengan ventilasi yang tidak adekuat dan obstruksi jalan pernafasan bagian
atas. Insisi yang dilakukan pada trakea disebut dengan trakeotomi sedangkan
tindakan yang membuat stoma selanjutnya diikuti dengan pemasangan kanul
trakea agar udara dapat masuk ke dalam paru-paru dengan menggunakan jalan
pintas jalan nafas bagian atas disebut dengan trakeostomi. 1,2
Prosedur trakeostomi dahulu disebut dengan berbagai istilah, antara lain
laringotomi atau bronkotomi sampai istilah trakeotomi diperkenalkan. Pada tahuntahun belakangan ini digunakan istilah yang lebih tepat yaitu trakeostomi.
Menurut letak insisinya, trakeostomi dibedakan letak yang tinggi dan letak yang
rendah dan batas letak ini adalah cincin trakea ketiga. Jika dibagi menurut waktu
dilakukannya tindakan, maka trakeostomi dibagi kepada trakeostomi darurat dan
segera dengan persiapan sarana sangat kurang dan trakeostomi elektif dengan
persiapan sarana cukup yang dapat dilakukan secara baik. Perbedaan lain dari
kedua jenis trakeostomi di atas adalah dari jenis insisinya. Pada trakeostomi
darurat, insisi yang dilakukan adalah insisi vertikal yang memberikan keuntungan
berupa pembukaan lapangan operasi yang dibutuhkan bagi kontrol jalan nafas
secara cepat, sedangkan pada trakeostomi elektif insisi yang dilakukan adalah
insisi horizontal karena lebih menguntungkan secara kosmetik 1,2,3
Terdapat berbagai indikasi untuk melakukan tindakan trakeostomi mulai
dari yang bersifat darurat maupun elektif. Sejumlah referensi menjelaskan
prosedur trakeostomi namun pada dasarnya semua mengharuskan adanya
persiapan pasien dan alat yang baik. Menurut Endean et al. (2003), tindakan
trakeostomi diindikasikan pada pasien:
1. Yang memerlukan ventilasi mekanis dalam jangka panjang
2. Keganasan kepala dan leher yang akan dilakukan reseksi yang sulit
dilakukan intubasi
3. Trauma maksilofasial disertai dengan resiko sumbatan jalan nafas
4. Sumbatan jalan nafas akibat dari trauma, luka bakar atau keduanya

5. Gangguan neurologis yang disertai dengan risiko sumbatan jalan nafas


6. Severe sleep apnea yang tidak dapat dilakukan intubasi.2,3

BAB II
PEMBAHASAN
I. ANATOMI TRAKHEA
Trakhea merupakan tabung berongga yang disokong oleh cincin kartilago.
Trakea berawal dari kartilago krikoid yang berbentuk cincin stempel dan meluas
ke anterior pada esofagus, turun ke dalam thoraks di mana ia membelah menjadi
dua bronkus utama pada karina. Pembuluh darah besar pada leher berjalan sejajar
dengan trakea di sebelah lateral dan terbungkus dalam selubung karotis. Kelenjar
tiroid terletak di atas trakea di sebelah depan dan lateral. Ismuth melintas trakea di
sebelah anterior, biasanya setinggi cincin trakea kedua hingga kelima. Saraf
laringeus rekuren terletak pada sulkus trakeoesofagus. Di bawah jaringan
subkutan dan menutupi trakea di bagian depan adalah otot-otot supra sternal yang
melekat pada kartilago tiroid dan hyoid. 1,2,3

Gambar 1. Conducting Passag

Gambar 2. Anatomi Trakea 4


Trakea dari pinggir ke bawah cartilago cricoidea setinggi vertebra
cervicalis ke-6. Trakea merupakan tabung yang terdiri dari jaringan ikat dan otot
polos, dengan disokong oleh 15 20 kartilago berbentuk huruf C. Kartilago
membentuk sisi anterior dan lateral. Berfungsi melindungi trakea dan menjaga
terbukanya jalan udara. Dinding posterior tidak memiliki kartilago. Esofagus
terletak langsung pada dinding posterior yang tidak memiliki kartilago. Trakea
dilapisi oleh epitel kolumnar bersilia yang memiliki banyak sel Goblet. 2,3,4
Dindingnya dibangun oleh sebaris tulang rawan yang bentuknya serupa
dengan huruf C dengan ujung-ujungnya yang terbuka lebar menuju ke
belakang, cincin-cincin trakea ini saling dihubungkan oleh suatu selaput elastis :
Ligamentum Annularium trakealis. Antara kedua ujung posterior yang terbuka
terdapat dinding selaput. Didaerah leher kita dapat menemukan ventral dan trakea:
Isthmus glandula tiroid setinggi cincin-cincin trakea ke-2, ke-3, ke-4 kemudian
dibawahnya : valvula tirodea inferior. Didalam toraks, trakea mempunyai
hubungan dengan pembuluh-pembuluh besar didalam mediastinum superior.
Lateral sebelah kanan dari trakea tampak nervus vagus dexter.3,4
Trakea terdiri dari 9 kartilago yang terhubung satu sama lain dengan otot
dan ligamen. 6 kartilago berpasangan, 3 kartilago tidak berpasangan.3,4,5
-

Kartilago tiroid : kartilago terbesar dan terletak paling superior, sering


disebut Adams apple

Kartilago krikoid : kartilago paling inferior yang tidak berpasangan, yang

membentuk dasar laring.


-

Epiglotis : kartilago ketiga yang tidak berpasangan. Terdiri dari kartilago


elastis daripada hialin. Selama menelan epiglotis menutup pembukaan
laring dan mencegah masuknya berbagai materi ke dalam laring

Enam kartilago yang saling berpasangan terletak pada 2 pilar antara kartilago
krikoid dan tiroid.
-

Kartilago aritenoid : terbesar dan terletak paling inferior

Kartilago kornikulatum : terletak di tengah

Kartilago kuneiformis : terletak paling superior dan terkecil

II. FISIOLOGI PERNAFASAN


Sistem pernapasan mencakup saluran pernapasan yang berjalan ke paru,
paru itu sendiri, dan struktur-struktur toraks (dada) yang terlibat menimbulkan
gerakan udara masuk-keluar melalui saluran pernapasan. Saluran hidung berjalan
ke faring (tenggorokan), yang berfungsi sebagai saluran bersama bagi sistem
pernapasan maupun sistem pencernaan. Terdapat dua saluran yang berjalan dari
faring-trakea merupakan tempat lewatnya udara ke paru, dan esofagus merupakan
saluran tempat lewatnya makanan ke lambung.
Laring atau kotak suara yang terletak di pintu masuk trakea memiliki
penonjolan di bagian anterior yang membentuk jakun (adams apple). Pita suara
merupakan dua pita jaringan elastik yang terentang di bukaan laring, dapat
diregangkan dan diposisikan dalam berbagai bentuk oleh otot-otot laring. Pada
saat udara mengalir cepat melewati pita suara yang tegang, pita suara tersebut
bergetar untuk menghasilkan bermacam-macam bunyi. Pada saat menelan, pita
suara mengambil posisi rapat satu sama lain untuk menutup pintu masuk ke
trakea.1,4,5

Gambar 3. Plika vokalis6


III.PATOFISIOLOGI OBSTRUKSI SALURAN NAFAS ATAS
Obstruksi saluran napas atas mengakibatkan hipoventilasi alveolus dan
menimbulkan tiga perubahan biokimiawi : hipoksi arterial (hipoksemi), retensi
CO2 (hiperkapni) dan asidosis respirasi dan metabolik (penurunan serum).
Asidosis metabolic disebabkan oleh terbentuknya asam laktat dan penimbunan
asam karbonat. Ketiga faktor tersebut dapat menyebabkan asfiksia.1
Hipoksi menyebabkan gangguan fungsi seluler terutama pada SSP. Badan
karotis dan aorta merupakan reseptor kimiawi terpenting yang mendeteksi
perubahan O2. 1,4
Hipoksemi pada tingkat tertentu akan meningkatkan usaha pernapasan,
takikardi, vasokonstriksi perifer dan hipertensi, peningkatan resistensi pembuluh
darah paru, peningkatan aktivitas adrenal, dan peningkatan aktivitas korteks
serebri akibat rangsangan reseptor kimia san sistem saraf simpatis. Efek ini
diperkuat oleh asidosis dan hiperkapni, yang biasanya menyertai hipoksemi
sebagai akibat hipoventilasi alveolus.2,4
Jika hipoksia berlangsung beberapa hari terjadi penyesuaian fisiologik dan
perbaikan gejala. Peningkatan aliran darah dan polisitemia memperbaiki
oksigenisasi jaringan. Hiperkapni dapat merangsang langsung SSP (merangsang
pernapasan). Umumnya dapat meninggikan frekuensi pernapasan dengan akibat
lainnya berupa sakit kepala, peka terhadap rangsangan, bingung, gatal, lemas dan

lesu. Hiperkapni berat menyebabkan pasien tidak sadar, reflex menurun, kaku,
tremor, dan kejang. Akhirnya terdapat narkosis CO2 dan koma.1,3,5
Ion H+ merupakan stimulan pernapasan spesifik untuk pusat pernapasan di
medulla. Tetapi H+ dalam cairan serebrospinal tidak dapat menembus sawar darah
otak dengan baik, sedangkan CO2 dapat dengan cepat memasukinya. Kadar CO2
yang meningkat menyebabkan asidosis cairan serebrospinal dan stimulasi
pernapasan. Oleh karena CO2 harus berdifusi dalam cairan serebrospinal yang
tidak mempunyai sistem buffer maka kadar ion H + abnormal dalam cairan
serebrospinal akan timbul secara bertahap tetapi berlangsung lebih lama dan lebih
hebat daripada kelainan darah perifer.2,3,4
1. Sumbatan Laring

Sumbatan laring dapat disebabkan oleh : 4,5

Radang akut dan radang kronik.

Benda asing.

Trauma akibat kecelakaan, perkelahian, percobaan bunuh diri


dengan senjata tajam.

Trauma akibat tindakan medik.

Tumor laring, baik berupa tumor jinak atau pun tumor ganas.

Kelumpuhan nervus rekuren bilateral.

Gejala dan tanda sumbatan laring ialah:

Suara serak (disfoni) sampai afoni.

Sesak napas (dispnea).

Stridor (napas berbunyi) yang terdengar pada waktu inspirasi.

Stridor merupakan suara nafas bernada rendah saat insipirasi yang


disebabkan oleh udara yang melewati saluran nafas yang menyempit pada saluran
nafas atas yang biasanya memiliki saluran yang besar. Sering terjadi akibat
sumbatan pada laring dan trakea bagian atas. 3,5
1. Cekungan yang terdapat pada waktu inspirasi di suprasternal,
epigastrium, supraklavikula, dan interkostal. Cekungan ini terjadi

sebagai upaya dari otot-otot pernapasan untuk mendapatkan oksigen


yang adekuat.
2. Gelisah karena pasien haus udara (air hunger).
3. Warna muka pucat dan terakhir menjadi sianosis karena hipoksia.
Jackson membagi sumbatan laring yang progresif dalam 4 stadium dengan tanda
dan gejala: 3,4
-

Stadium 1 : Cekungan tampak waktu inspirasi di suprasternal, stridor pada


waktu inspirasi dan pasien masih tenang.

Stadium 2 : Cekungan pada waktu inspirasi di daerah suprasternal makin


dalam, ditambah lagi dengan timbulnya cekungan di daerah epigastrium.
Pasien sudah mulai gelisah. Stridor terdengar waktu inspirasi.

Stadium 3 : Cekungan selain di daerah suprasternal, epigastrium juga


terdapat di infraklavikula dan sela-sela iga, pasien sangat gelisah dan
dispnea. Stridor terdengar pada waktu inspirasi dan ekspirasi.

Stadium 4 : Cekungan-cekungan di atas bertambah jelas, pasien sangat


gelisah, tampak sangat ketakutan dan sianosis. Jika keadaan ini
berlangsung terus maka pasien akan kehabisan tenaga, pusat pernapasan
paralitik karena hiperkapnea. Pasien lemah dan tertidur, akhirnya
meninggal karena asfiksia.

2. Penanggulangan Sumbatan Laring


Prinsip penanggulangan sumbatan laring ialah menghilangkan penyebab
sumbatan dengan cepat atau membuat jalan napas baru yang dapat menjamin
ventilasi. Dalam penanggulangan sumbatan laring pada prinsipnya diusahakan
supaya jalan napas lancar kembali.4,6
Tindakan konservatif dengan pemberian anti inflamasi, anti alergi,
antibiotika, serta pemberian oksigen inttermitten dilakukan pada sumbatan laring
stadium 1 yang disebabkan peradangan.
Tindakan operatif atau resursitasi untuk membebaskan saluran napas ini
dapat dengan cara memasukkan pipa endotrakea melalui mulut (intubasi
orotrakea) atau melalui hidung (intubasi nasotrakea), membuat trakeostoma atau
melakukan krikotirotomi.

Intubasi endotrakea dan trakeostomi dilakukan pada pasien dengan


sumbatan laring stadium 2 dan 3, sedangkan krikotirotomi dilakukan pada
sumbatan laring stadium 4. Tindakan operatif atau resusitasi dapat dilakukan
berdasar anlisis gas darah (pemeriksaan Astrup).4,6,7,8
IV. DEFINISI TRAKHEOSTOMI
Trakeostomi adalah pembuatan lubang di dinding anterior trakea untuk
mempertahankan jalan napas. Pertama kali dikemukakan oleh Aretaeus dan Galen
pada abad pertama dan kedua sesudah masehi. Walaupun teknik ini dikemukakan
berulang kali setelah itu, tetapi orang pertama yang diketahui secara pasti
melakukan tindakan ini ialah Antonio Brasavola pada tahun 1546. Prosedur ini
disebut dengan berbagai istilah, antara lain laringotomi dan bronkotomi sampai
istilah trakeostomi diperkenalkan oleh Heister pada tahun 1718. Pipa trakeostomi
yan pertama dengan kanul dalam diperkenalkan oleh George Martine di Inggris
kira-kira tahun 1730 untuk menghindari sumbatan pipa pascabedah.4,6,8
Trakeostomi

merupakan

tindakan

bedah

trakea

untuk

membuat

trakeostoma. Trakeotomi dapat menyelamatkan jiwa penderita yang mengalami


obstruksi jalan napas di atas trakea dan tidak dapat diatasi dengan cara lain,
misalnya intubasi. Trakeostomi juga dilakukan pada penderita yang memerlukan
bantuan pernapasan buatan untuk waktu lama dan yang memerlukan bantuan
pernapasan buatan untuk waktu lama dan yang memerlukan pertolongan
pembersihan jalan nafas secara memadai. Trakeostoma merupakan fistel antara
trakea dan kulit leher yang dipertahankan dengan kanul. 1,6,7,8
Trakeostomi merupakan suatu teknik yang digunakan untuk mengatasi
pasien dengan ventilasi yang tidak adekuat dan obstruksi jalan pernafasan bagian
atas. Insisi yang dilakukan pada trakea disebut dengan trakeotomi sedangkan
tindakan yang membuat stoma selanjutnya diikuti dengan pemasangan kanul
trakea agar udara dapat masuk ke dalam paru-paru dengan menggunakan jalan
pintas jalan nafas bagian atas disebut dengan trakeostomi. Istilah trakeotomi dan
trakeostomi dengan maksud membuat hubungan antara leher bagian anterior
dengan lumen trakea, sering saling tertukar. Definisi yang tepat untuk trakeotomi

ialah membuat insisi pada trakea, sedang trakeostomi ialah membuat stoma pada
trakea.1,7,8
Dapat disimpulkan, trakeostomi adalah tindakan operasi membuat jalan
udara melalui leher dengan membuat stoma atau lubang di dinding depan/ anterior
trakea cincin kartilago trakea ketiga dan keempat, dilanjutkan dengan membuat
stoma, diikuti pemasangan kanul. Bertujuan mempertahankan jalan nafas agar
udara dapat masuk ke paru-paru dan memintas jalan nafas bagian atas saat pasien
mengalami ventilasi yang tidak adekuat dan gangguan lalulintas udara pernapasan
karena obstruksi jalan nafas bagian atas.6,7

Gambar 5. Trakeostomi
V. INDIKASI TRAKEOSTOMI
Indikasi untuk melakukan tindakan trakeostomi adalah :6,7,8
1. Mengatasi obstruksi laring.
2. Mengurangi ruang rugi (dead air space) di saluran napas bagian atas
seperti daerah rongga mulut, sekitar lidah dan faring. Dengan adanya
stoma maka seluruh oksigen yang dihirupnya akan masuk ke dalam paru.
3. Mempermudah penghisapan sekret dari bronkus pada pasien yang tidak
dapat mengeluarkan sekret secara fisiologik, misalnya pasien koma.

10

4. Untuk memasang respirator (alat bantu pernapasan).


5. Untuk mengambil benda asing dari subglotik, apabila tidak mempunyai
fasilitas untuk bronkoskopi.
6. Bantuan jalan napas diperlukan lebih dari 2 minggu.
7. Refleks laring atau kemampuan untuk menelan hilang (misalnya penyakit
serebrovaskular).
8. Cedera kepala dan leher.
Trakheostomi dapat dilakukan untuk tujuan terapi atau sebagai suatu
prosedur berencana. Trakeostomi berencana mungkin diperlukan bila diramalkan
akan terjadi problem pernafasan pada pasien pasca bedah daerah kepala, leher,
atau toraks, atau pasien dengan insufisiensi paru kronik. Indikasi yang jarang ialah
pada pasien, yang intubasi orotrakea sukar dilakukan atau tak mungkin dilakukan
untuk tujuan anestesi umum. Trakeostomi juga harus dilakukan sebelum
pembedahan tumor tumor orofaring atau laring untuk menghindari manipulasi
tumor yang tidak perlu. 5,7
Trakeostomi untuk terapi perlu dilakukan pada tiap kasus insufisiensi
pernafasan yang disebabkan oleh hipoventilasi alveolus untuk memintas
sumbatan, mengeluarkan sekret, atau untuk tujuan penggunaan pernapasan buatan
secara mekanis. 7,8,9
Bila mungkin, trakeostomi harus didahului oleh intubasi endotrakea.
Walaupun intubasi endotrakea dapat segera memperbaiki gangguan jalan nafas,
trakeostomi harus dilakukan bila diperhitungkan perlu perawatan jalan nafas lebih
dari 48 jam, karena :4,7,8,9
1.

Mengeluarkan sekret jauh lebih mudah lewat suatu pipa trakeostomi, dan
kemungkinan terjadinya obstruksi pipa lebih kecil.

2.

Pasien sangat sulit menelan dengan adanya pipa endotrakea.

3.

Membersihkan pipa endotrakea pada posisinya sulit dan untuk mengganti


pipa diperlukan laringoskopi berulang.

4.

Intubasi lama endolaring menimbulkan ulserasi mukosa yang akhirnya dapat


menjadi granuloma, adhesi, dan stenosis laring.

11

5.

Trakeostomi kurang menyebabkan rangsangan refleks batuk, yang mungkin


penting pada pasien dengan kelainan saraf dan pasca bedah.

6.

Dengan trakeostomi pasien yang sadar dapat berbicara.


Kontraindikasi trakeostomi adalah pasien dengan obstruksi laring oleh tumor

ganas.
VI. PERALATAN TRAKEOSTOMI
Alat yang perlu dipersiapkan untuk melakukan trakeostomi adalah semprit
dengan obat analgesia (novokain), pisau (skapel), pinset anatomi, gunting panjang
yang tumpul, sepasang pengait tumpul, klem arteri, gunting kecil yang tajam serta
kanul trakea yang ukurannya cocok untuk pasien. 2,5,6,9

Gambar 6. Alat-alat Trakeostomi8


Seperti pipa endotrakeal, kaf pipa yang bertekanan rendah dan bervolume
banyaklah yang dipilih. Yang sering digunakan adalah pipa yang terbuat dari
klorida polivinil (KPV), silastik dan metal. Pipa KPV dan silastik umum
digunakan untuk UTI sedangkan pipa metal digunakan untuk trakeostomi jangka
panjang terutama bila kaf tidak diperlukan.

12

Gambar 7. Kanul trakeostomi9


VII. PROSEDUR TRAKEOSTOMI
1. Trakeostomi elektif
Pada kebanyakan kasus trakeostomi dilakukan di Intensive Care
Unit atau di kamar operasi. Pada lokasi tersbut pasien terus dimonitor
dengan pulse oxymetri dan elektrokardiogram. Anestesiologis biasanya
melakukan gabungan antara medikasi intravena dan anestesi lokal.5,7
Teknik trakeostomi ditentukan sampai batas tertentu oleh keadaan
yang memerlukan tindakan tersebut. Yang terpenting ialah memperoleh
udara pernafasan secepat dan seefisiensi mungkin dengan menhindari
trauma pada laring, trakea, dan struktur yang berdekatan.

Bila mungkin,

dilakukan intubasi endotrakea sebelum trakeostomi terapi, terutama pada


anak. Jika tidak mungkin melakukan intubasi, ventilasi dan oksigenasi
melalui kantong dan masker sangat membantu. Jika udara pernafasan telah
terkontrol, dapat dilakukan trakeostomi dengan lebih cermat dan trauma
minimal.4,7,8
Prosedur yang akan dilakukan adalah sebagai berikut:

Pasien tidur terlentang, bahu diganjal dengan bantalan kecil sehingga


memudahkan kepala untuk diekstensikan pada sendi atlanto oksipital.

13

Dengan posisi seperti ini leher akan lurus dan trakea akan terletak

digaris median dekat permukaan leher.


Kulit leher dibersihkan sesuai dengan prinsip aseptik dan antiseptik

dan ditutup dengan kain steril.


Obat anestetikum (novokain) disuntikkan di pertengahan krikoid

dengan fossa suprasternal secara infiltrasi.


Sayatan kulit dapat vertikal di garis tengah leher mulai dari bawah
krikoid sampai fosa suprasternal atau jika membuat sayatan horizontal
dilakukan pada pertengahan jarak antara kartilago krikoid dengan fosa

suprasternal atau kira-kira 2 jari dari bawah krikoid orang dewasa.


Sayatan jangan terlalu sempit, dibuat kira-kira 5 cm
Dengan gunting panjang yang tumpul kulit serta jaringan di bawahnya
dipisahkan lapis demi lapis dan ditarik ke lateral dengan pengait
tumpul sampai tampak trakea yang berupa pipa dengan susunan

cincin-cincin tulang rawan yang berwarna putih


Pembuluh darah vena jugularis anterior yang tampak ditarik lateral.
Ismus tiroid yang ditemukan ditarik ke atas supaya cincin trakea jelas
terlihat. Jika tidak mungkin, ismuth tiroid diklem pada dua tempat dan

dipotong ditengahnya.
Sebelum klem ini dilepaskan ismuth tiroid diikat kedua tepinya dan

disisihkan ke lateral.
Perdarahan dihentikan dan jika perlu diikat.
Lakukan aspirasi dengan cara menusukkan jarum pada membran

antara cincin trakea dan akan terasa ringan waktu ditarik.


Buat stoma dengan memotong cincin trakea ke tiga dengan gunting

yang tajam.
Kemudian pasang kanul trakea dengan ukuran yang sesuai.
Kanul difiksasi dengan tali pada leher pasien dan luka operasi ditutup
dengan kasa.

14

Gambar 8. Posisi Kepala dan Leher Pada Trakeostomi 9

Gambar 9. Prosedur Trakeostomi Elektif. 7,9

Gambar 10. Letak kanul9

15

Gambar 11. Letak kanul yang salah


VII. Trakeostomi Darurat
Pada keadaan darurat, trakeostomi harus dapat dilakukan dalam 2 3
menit, dimana anoksia akan terjadi dalam 4 5 menit. Pada trakeostomi darurat
lebih baik dilakukan insisi secara vertikal, yang dimulai pada level kartilago
krikoid, lanjutkan ke inferior sekitar 2,5 3,75 cm. Gunakan tangan kiri untuk
menstabilkan laring dan mengekstensi leher bila tidak ada kontraindikasi (seperti
cedera servikal). Sementara tangan kanan digunakan untuk membuat insisi. Jari
telunjuk tangan kiri dapat digunakan untuk mendorong ismus tiroid ke inferior
dan mempalpasi trakea. Insisi kulit secara vertikal ini sangat krusial dalam
keadaan darurat, karena tindakan dapat dilakukan lebih cepat dan kurangnya
resiko trauma terhadap struktur leher yang lain. 7,9,10
Trakeostomi darurat harus dihindari, bagian terbesar kesalahan pada
trakeostomi disebabkan oleh trakeostomi darurat. Komplikasinya meliputi trauma
arteria inominata, pembuluh darah tiroidea inferior, esofagus, nerfus laringeus
rekuren dan pleura.

Tindakan tersebut dapat menyebabkan perdarahan.

Pneumomediatinitis dan pneumotoraks. Osbtruksi saluran pernafasan pada awal


fase paskah bedah bisa timbul akibat tersumbatnya pipa secara tidak disengaja.
Intubasi endotrakea tidak bebas dari komplikasi obtruksi ekstubasi atau
pneumotoraks. Pneumotoraks dapat terjadi akibat batuk untuk mengatasi obstruksi
pipa endotrakea oleh sekresi. Mungkin terjadi ekstubasi secara tidak disengaja.
Problema utama pemasangan pipa endotrakea jangka lama adalah trauma pada
laring.7,10
Untuk sementara trakeostomi menyebabkan pasien sulit berbicara, tetapi
bila saluran pernafasan diatas trakeostomi masih mempunyai sisa patensi, pasien
dapat berbicara dengan menutup pipa dengan jarinya sewaktu ekspirasi. 8,9,10

16

VIII. TRAKEOSTOMI PADA BAYI DAN ANAK


Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan berhubungan dengan ukuran
dan konsistensi trakea pada bayi dan anak. Pada semua kasus trakeostomi
seharusnya hanya dilakukan setelah bronkoskop, pipa enotrakea atau kateter
dimasukkan untuk memperbaiki saluran udara pernafasan dan memberi kekakuan
pada trakea, sehingga memudahkan diseksi dan identifikasi trakea. Pada anak
kecil, sangan mudah melakukan diseksi yang terlalu dalam dan lateral dari trakea,
sehingga merusak nervus laringius rekuren, arteri karotis komunis atau apeks
pleura. Saat melakukan insisi pada dinding trakea, harus hati hati agar pisau
tidak masuk terlalu dalam dan merobek dinding posterior. Dengan bronkoskop
dalam trakea dapat membantu untuk terhindar dari komplikasi ini.6,8,9,10
Kesulitan lain pada anak ialah pipa trakeostomi sering keluar dari trakea,
karena leher bayi yang pendek dan sering gemuk, terutama bila leher dalam
keadaan fleksi. Dapat juga dilakukan jahitan dengan benang sutra pada tepi insisi
trakea untuk menandai dan benang ini dilekatkan ke leher untuk mencegah
hilangnya lumen trakea jika pipa bergeser. Trakea harus diperiksa setelah pipa
dimasukkan, untuk menjaga agar tidak terjadi lipatan ke dalam dari cincin trakea
yang dipotong, yang dapat menyebabkan pergeseran pipa dan obstruksi pada saat
dekanulasi.8,10
Sering terjadi kesulitan untuk mendapatkan pipa trakeostomi yang sesuai.
Pipa yang terlalu panjang dapat masuk ke karina atau salah satu bronkus,
menyebabkan atelektasis paru sisi lain. Jika lengkung pipa terlalu panjang, akan
menekan trakea pada batas atas insisi trakea, sedangkan ujung bawah pipa
menempel pada dinding anterior trakea, dan lengkung yang terlalu tumpul dapat
menyebabkan ulserasi dinding posterior trakea dan esofagus. Oleh karena itu
harus dibuat foto Rontgen leher dan dada pasca bedah pada bayi.8,9,10
Pipa plastik rancangan Aberdeen ialah yang terbaik digunakan pada bayi
dan anak. Alat ini fleksibel, dapat dipotong untuk meyesuaikan panjang, dan
memungkinkan aliran udara yang lebih baik, karena kanul dalam.8,10

17

Tabel I. Ukuran Pipa Trakeostomi 9


Umur
Prematur
Bayi sampai
bulan
3 6 bulan
6 12 bulan
1 2 tahun
3 tahun

Diameter Luar
4,5 mm
3 4,5 5,0 mm
5,0 5,5 mm
5,0 5,5 mm
5,5 6,0 mm
5,5 6,0 mm

Diameter Kanal Respirator


4,5 5,0 mm
5,0 5,5 mm
5,5 mm
5,5 6,0 mm
5,5 6,0 mm
6,0 6,5 mm

Setelah usia enam bulan, anak memerlukan ukuran tuba sekurangkurangnya sama dengan usia mereka pada ulang tahun berikutnya (hingga ukuran
6). Identifikasi ukuran dari seluruh tuba intratrakea kini telah distandarisasi. Suatu
komite dari American Standard Institute mengharuskan semua pabrik untuk
memberi pengenal pada tuba intratrakea yaitu dengan diameter internal dalam
millimeter. Suatu aturan sederhana untuk mengingat dalam memilih tuba
endotrakea untuk anak dalam situasi gawat darurat adalah dengan melihat jari
kelingking anak tersebut. Ukuran kelingking anak kira-kira mendekati diameter
luar dari tuba endotrakea yang dipilih. 8,9,10
IX. PERAWATAN TRAKEOSTOMI
Hal-hal penting pada perawatan trakeostomi adalah :7,8,9,10
1. Humidifikasi.
2. Fiksasi harus aman dan ganti setiap hari.
3. Bersihkan luka setiap 6 jam atau sesering yang diperlukan.
4. Penghisapan trakeobronkial dilakukan dengan mengindahkan kaidah a
dan antisepsis. Gunakan kateter dan sarung tangan steril.
5. Radiografi dada harus diambil untuk konfirmasi posisi ujung pipa. Pipa
dipertahankan selama 7 hari setelah itu ganti setiap 4 hari. Bila
digunakan pipa metal, pipa bagian dalam dapat sering diganti tanpa
mengganti pipa utama.
6. Kultur luka dan sputum harus diperiksa.

18

7. Alat-alat untuk keadaan darurat harus selalu tersedia tidak jauh dari
pasien, seperti :
a. Pipa trakeostomi yang baru dengan ukuran yang sama dan satu
nomor lebih kecil.
b. Dilator trakea, speculum hidung dan laringoskop untuk anak yang
dapat digunakan untuk dilatasi stoma dan pemasangan pipa kembali.
c. Peralatan untuk menghisap dan fasilitas untuk ventilasi kendali.
d. Sungkup muka, laringoskop dan pipa endotrakeal. Jika pipa
trakeostomi tidak berhasil dimasukkan kembali, kadang-kadang
dilupakan bahwa pasien dapat di ventilasi melalui laring.
Anak anak yang memerlukan trakeostomi lama dapat dirawat di rumah,
dengan memberikan pendidikan yang cermat pada orangtua dalam penggunaan
alat penyedot yang steril, pengaturan kelembaban dan penggantian pita
trakeostomi. 6,7,9,10
Pipa trakeostomi pada trakeostomi yang baru harus dipertahan 2 sampai 3
hari sebelum diganti. Pada saat itu telah terbentuk saluran yang permanent, dan
sedikit sekali kemungkinan tidak dapat memasukkan pipa kembali. Mengganti
pipa sebelum 2 - 3 hari dapat menyebabkan bahaya hilangnya lumen trakea.
Mengganti pipa trakeostomi pada bayi untuk pertama kali harus tersedia sebuah
bronkoskop.9,10
Kelembaban khusus udara inspirasi diperlukan untuk mencegah trakeitis dan
pembentukan krusta, yaitu ruangan dengan alat humidifikasi Watson atau sebuah
kerah trakea dengan uap basah. Untuk menambahkan kelembaban atmosfir perlu
diteteskan 3 atau 4 tetes larutan garam hipotonik atau larutan Ringer Laktat ke
dalam pipa setiap 3 atau 4 jam. Pasien dengan sekret yang kental dan banyak perlu
pemberian mukolitik intratrakea untuk mencairkan sekret. 8,9,10
X. DEKANULASI
Pipa trakeostomi jangan dibiarkan lebih lama dari waktu yang diperlukan,
terutama pada anak. Harus diangkat secepat mungkin untuk mengurangi
timbulnya trakeobronkitis, ulserasi trakea, stenosis trakea, trakeomalasi, dan

19

fistula trakeokutan menetap. Segera setelah keadaan pasien membaik, ukuran pipa
trakeostomi diperkecil sampai ukuran yang memungkinkan udara dapat memintas
pipa menuju saluran nafas bagian atas. Hal ini menolong menghindari
ketergantungan fisiologik pada pipa yang besar akibat menurunnya resistensi
pernafasan. Kemudian pipa ditutup dan dinilai apakah jalan nafas adekuat,
kemampuan menelan dan mengeluarkan sekret. Jika pipa dapat ditutup selama 8
12 jam, pipa dikeluarkan dan fistel trakeokutan ditutup. Segera setelah dekanulasi,
pasien harus diamati dengan ketat dan alat yang diperlukan untuk mendapatkan
jalan nafas kembali selalu harus tersedia. 9,10
Faktor Penyulit Dekanulasi:7,9,10
1. Kondisi yang membutuhkan trakeostomi secara persisten
2. Dislokasi dinding anterior trakea
3. Jaringan granulasi di sekitar stoma
4. Edema mukosa trakea
5. Ketergantungan emosional terhadap trakeostomi
6. Ketidakmampuan mentoleransi resistensi saluran nafas atas
7. Stenosis subglotis
8. Trakeomalasia
9. Inkoordinasi refleks pembukaan laring
10. Perkembangan laring yang terganggu akibat trakeostomi jangka
panjang.
XI. KOMPLIKASI TRAKEOSTOMI
Seperti tindakan bedah lainnya, trakeostomi juga memiliki resiko
komplikasi dan cedera. Karena setiap individu bervariasi dalam hal sirkulasi
jaringan dan proses penyembuhan, maka tidak dapat dijamin tidak akan terjadi
komplikasi akibat tindakan trakeosotmi. Trakeostomi darurat dan trakeotomi yang
dilakukan pada pasien sakit berat memiliki resiko lebih besar terhadap komplikasi
setelah prosedur.9,10
Pneumomediastinum tidak tergolong sebagai komplikasi, namun merupakan
akibat. Kondisi ini biasanya terjadi pada anak, dan harus ditindak lanjut guna

20

memastikan tidak adanya perkembangan ke arah pneumotoraks. Paralisis


sarafrekuren jarang terjadi dan harus dicegah dengan memperhatikan teknik
bedah. Tuba harus terpasang pada jalan napas, tidak menyumbat bronkus serta
tidak mengenai dinding anterior trakea. Pengalaman klinis dan evaluasi radiologik
akan terdiagnosis dan mencegah kejadian ini.9,10
Jenis komplikasi :7,8,9,10
1. Segera
a. Komplikasi perioperatif seperti perdarahan, emfisema, pneumotorak,
emboli udara dan kerusakan tulang rawan krikoid.
b. Diskoneksi.
c. Salah menempatkan trakeostomi, misalnya di jaringan pretrakea atau
bronkus utama kanan.
d. Herniasi kaf yang menyebabkan pipa tersumbat.
e. Ujung pipa tertutup dinding trakea atau carina.
f. Apnea akibat hilangnya rangsangan hipoksia pernafasan.
Trakeostomi yang dilakukan pada pasien dengan riwayat hipoksia kronik,
tarikan nafas pertama atau kedua setelah pipa dimasukkan dapat diikuti dengan
henti nafas. Hal ini sehubungan dengan denervasi fisiologik pada reseptor kimia
perifer karena naiknya PO2 tiba tiba. Oleh karena hipoksia sangat
mempengaruhi rangsangan pernafasan, maka dapat terjadi apnea. 9,10

Gambar 12. Komplikasi trakeostomi 9,14

21

Keterangan Gambar :
A. Trakea tertekuk ke depan
B. Tukak dinding depan trakea karena ukuran kanul terlalu besar
C. Emfisema subkutis karena dislokasi kanul
D. Tukak karina karena kateter isap
E. Manset ditiup terlalu kuat sehingga menyebabkan penutupan kanul
( herniasi akibat ditiup berlebihan )
F. Manset kanul terlepas di trakea
G. Nekrosis cincin trakea karena manset ditiup terlalu kuat
H. Cedera dinding belakang (hati hati fistel trakeo-esofagus)
2. Menengah
a. Tersumbat sekret, dapat terjadi segera atau gradual. Tetapi hal ini
jarang terjadi bila humidifikasi, hidrasi dan penghisapan lendir baik.
b. Infeksi pada stoma atau trakeobronkial.
c. Ulserasi trakea kerena penekanan kaf.
d. Erosi yang dalam dapat menyebabkan perdarahan dari a. inominata
atau fistel trakeoesofagus.
3. Lanjut
Komplikasi ini cukup bcnnakna dalain hal variasi dan jumlahnya, sehingga
perlu dilakukan usaha-usaha pencegahan. Perdarahan lanjut adalah akibat
erosi trakea pada pembuluh utama, biasanya arteri inominata. (Sebenarnya
menghitung cincin trakea mulai dari kartilago krikoid merupakan tindakan
yang esensial). Tindakan mengekstensikan kepala pasien dan menarik
trakea ke atas dengan suatu pengait trakea dapat menggambarkan cincin
trakea kesembilan. Trakeostomi rendah (di bawah cincin trakea kelima)
seringkali salah.
Komplikasi lanjut pada trakeostomi diantaranya :
a. Granuloma trakea yang bias menyebabkan kesulitan bernapas bila pipa
diangkat.

22

b. Trakeomalasia dan dilatasi trakea.


c. Stenosis trakea.
d. Fistel trakeokutan menetap
e. Fistel trakeoesofagus
Pemasangan manset yang lama dengan akibat nekrosis dinding
trakea juga ikut berperan dalam erosi pembuluh darah. Mathog
menganjurkan pemakaian tuba plastik lunak yang lebih aman. Penanganan
dari perdarahan mayor tindakan darurat dan memerlukan pemakaian tuba
(dengan manset dalam keadaan terkembang) yang cukup panjang untuk
mencapai bagian distal dari pembuluh yang tererosi. Tindakan ini dapat
mencegah aspirasi darah ke dalain paru. Kesalahan dalam membedah dan
menjahit

pembuluh

mungkin

mengharuskan

tindakan

sternotomi

parsial.8,9,10
Infeksi dapat dikendalikan dengan teknik steril dan humidifikasi.
Antibiotik profilaksis harus dilarang karena memungkinkan perkembangan
bakteri oportunistik. Pseudomonas aeruginosa tidak jarang dapat dibiak
dari lokasi trakeostomi dan tidak selalu merupakan infeksi sistemik.
Tindakan yang perlu dilakukan mungkin hanyalah membasahi kasa dengan
larutan asam asetat 0,5 persen. Pasien yang mendapat banyak antibiotik
mungkin

mengalami

kontaminasi

Candida

albicans

pada

lokasi

trakeostomi. Namun, sebelum memulai pengobatan sistemik, harus dicoba


perawatan luka secara lokal.9,10
Penanganan obstruksi jalan napas akibat posisi tuba yang tergeser
atau oklusi lumen adalah berbeda, tergantung pada berapa lama terjadinya
setelah pembedahan. Bila telah melampaui 48 jam dilakukan trakeostomi,
maka perawat dapat diperintahkan untuk memotong tali pengikat leher,
mengeluarkan tuba, dan memeriksa lumen dan tuba. Sumbat mukus yang
menutup lumen tuba harus dibersihkan. Memasukan kembali tuba dapat
dilakukan setelah dokter datang. Tenaga yang terlatih dapat diinstruksikan
untuk memasukkan kait ke dalain stoma dan menahan jalan napas pada
tempatnya, sebelum mengeluarkan dan mengamati tuba yang baru saja

23

dipasang. Bila situasi tidak mendesak, sebaiknya tindakan ini dilakukan


sendiri oleh dokter. Pada anak-anak, tali pengikat sutera bila ditarik dengan
hati-hati ke lateral akan mempertahankan jalan napas dan menunjukkan
jalur kembali ke stoma untuk penggantian tuba.
Fistula trakeoesofagus biasanya timbul pada pasien yang hipotensi
dan telah menjalani intubasi yang lama dengan tuba bennanset dan
ventilasi terkontrol. Pasien demikian memerlukan tuba naso-gastrik,
namun seringkali meninggal akibat penyakit primernya ataupun akibat
pneumoiua aspirasi lewat fistula. Perbaikan bedah amat kompleks dan
melibatkan penempatan otot-otot leher di antara trakea dan esofagus
setelah perbaikan primer pada fistula.6,7,10
Komplikasi mayor yang tersering adalah stenosis trakea.
Frekuensi komplikasi ini semakin meningkat karena pasien seringkali
memerlukan ventilasi terkontrol jangka lama dengan tuba bermanset.
Menurut Fearon, stenosis stoma bukanlah suatu komplikasi melainkan
suatu parut pasca operasi yang telah diperkirakan, dan bahwa gejala hanya
akan timbul bila diameter lumen sama dengan atau kurang dari 4 mm.
Bilamana terdapat granulasi di atas stoma atau kartilago dalam lumen,
maka masalah dapat diatasi dengan eksisi endoskopik atau memasang stent
pada jalan napas.7,8,9,10

BAB III
KESIMPULAN

24

Trakeostomi adalah tindakan membuat lubang pada dinding anterior trakea


untuk bernapas. Trosseau dan Bretonneau mempopulerkan operasi ini di Perancis.
Mereka melakukannya untuk menangani kasus difteria dengan angka keberhasilan
25 persen.
Trakeostomi dapat dilakukan pada obstruksi jalan nafas jika gambaran
yang ada meliputi : dispnea, stridor, perubahan suara, nyeri, batuk, penurunan atau
tidak didapatinya suara pernafasan, perdarahan, keluarnya air liur secara
berlebihan, leher tegang, hemodinamik yang tidak stabil (lanjut), hilangnya
kesadaran (sangat lanjut).
Trakeostomi memiliki beberapa komplikasi bahkan kematian.

DAFTAR PUSTAKA

25

1.

Sherwood, Lauralee. Fisiologi Manusia dari sel ke sistem. Edisi kedua.


Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC, 2001. 412-413.

2.

Jacob Ballenger, John. Penyakit Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala dan


Leher. Jilid 1. Edisi ketiga belas. Jakarta : Binarupa Aksara, 1994.435 456.

3.

Respiratory System. [12 Juli 2008]. Hyperlink http://www.cayugacc.edu/people/facultypages/greer/biol204/resp2/resp2.html

4.

Soepardi, Arsyad., Iskandar, Nurbaiti. Buku ajar Ilmu Kesehatan Telinga


Hidung Tenggorok Kepala Leher. Edisi kelima. Jakarta: Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia, 2001. 201-208.

5.

Sjamsuhidajat R, De Jong, Wim. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi kedua. Jakarta
: Penerbit Buku Kedokteran EGC, 2004. 421 422.

6.

Staf pengajar bagian Anestesiologi dan terapi intensif FK UI. Editor dr.
Muhardi Muhiman. 1989. Penatalaksanaan Pasien di Intensive Care Unit.
Jakarta : Balai Penerbit FK UI. 14-16.

7.

Paparella, Michael., Shumrick, Donald. Otolaryngology- Head and Neck.


Philadelphia : WB Saunders Company

8.

Byron. Otolaryngology Head and Neck Surgery, 3 rd edition. North Carolina


: Byron. p66.

9.

Jerry R. Balentine, DO, FACEP. Tracehostomy. MedicineNet. [9 Juli 2008].


Hyperlink : http://www.medicinenet.com/tracheostomy/article.htm

10. Jerry R. Balentine, DO, FACEP. Tracehostomy. MedicineNet. [9 Juli 2008].


Hyperlink : http://www.medicinenet.com/tracheostomy/page2.htm
11. Hyperlink :
http://en.wikipedia.org/wiki/File:Illu_conducting_passages.s vg [9 Juli 2010]
12. Hyperlink :
http://healthy-lifestyle.most-effective-solution.com/2010/09/20/humananatomy-trachea/ [12 Juli 2008]
13. Hyperlink

http://www.kmle.co.kr/search.php?

Search=respiratory+glottis&SpecialSearch=HTMLWebHtdig&Page=4

[13

Juni 2011]

26