Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Analisa Kelayakan Proyek adalah suatu penilaian pada proyek yang akan
dikerjakan dimasa mendatang. Penilaian disini tidak lain adalah untuk
memberikan rekomendasi apakah sebaiknya proyek yang bersangkutan layak
dikerjakan atau sebaiknya ditunda terlebih dahulu. Mengingat di masa mendatang
penuh dengan ketidakpastian, maka analisa yang dilakukan tentunya akan
melibatkan berbagai aspek dan membutuhkan pertimbangan-pertimbangan
tertentu untuk memutuskannya. Diantaranya seperti Aspek Pasar dan Pemasaran,
Aspek Teknis Produksi dan Teknologi, Aspek Sosial Ekonomi dan Lingkungan,
Aspek Hukum dan Legalitas, Aspek Keuangan, dan lain-lain. Dimana pada kali
ini akan membahas masalah Aspek Teknis dan Teknologi. Aspek teknis dan
teknologi itu sendiri merupakan suatu aspek yang berkenaan dengan proses
pembangunan proyek secara teknis dan pengoperasiannya setelah proyek tersebut
dibangun.
Ditengah-tengah kondisi perekonomian yang serba sulit ini, peluang untuk
mendapatkan pekerjaan menjadi tambah sulit. Berbagai cara ditempuh orang agar
mereka tidak menjadi pengangguran. Salah satu alternatifnya adalah memulai
sebuah bisnis atau proyek baru. Ada banyak peluang yang bisa dilakukan dan
semuanya ada di depan mata kita, tetapi masalahnya adalah cara kita
memaksimalkan peluang bisnis tersebut.
Membangun suatu pabrik gula merupakan salah satu peluang yang lumayan
menjanjikan, mengingat kebutuhan gula yang semakin hari semakin meningkat di
masyarakat. Dengan memproduksi gula yang berkualitas baik maka proyek
pembangunan pabrik gula ini akan menghasilkan suatu keuntungan yang besar.
Berdasarkan hal-hal tersebut maka perlu untuk dilakukan analisa kelayakan
proyek bisnis terhadap proyek pabrik gula yang akan dilaksanakan, ditinjau dari
aspek-aspek yang terkait dengan analisis kelayakan. Salah satunya yaitu aspek
teknis produksi dan teknologinya.
1.2. Tujuan
1

Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk mendapatkan suatu
pembelajaran mengenai dasar-dasar analisa kelayakan proyek dalam aspek teknis
produksi dan teknologi, serta mendapatkan suatu kesimpulan apakah proyek
pabrik gula ini layak untuk didirikan atau tidak, jika ditinjau dari aspek teknis
produksi dan teknologinya.
1.3. Manfaat
Makalah ini memberikan kontribusi sebagai berikut:
1. Memberikan informasi dan pengetahuan baru mengenai analisa kelayakan
proyek khususnya dalam aspek teknis produksi dan teknologi.
2. Memberikan informasi bagi mahasiswa yang ingin melakukan suatu analisa
kelayakan proyek.
3. Memberikan manfaat dalam hal pengembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi (IPTEK).
1.4. Rumusan Masalah
Permasalahn yang akan dibahas pada makalah ini adalah bagaimana analisa
kelayakan proyek yang dilakukan pada pabrik gula yang ditinjau dari aspek teknis
produksi dan teknologinya. Apakah proyek tersebut sudah layak untuk didirikan
atau sebaliknya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Analisis Kelayakan Proyek


Definisi dari Analisis Kelayakan Proyek adalah suatu kegiatan untuk
menilai sejauh mana manfaat yang dapat diperoleh dalam melaksanakan suatu
kegiatan usaha atau proyek. Maksud dari sejauh mana manfaat yang dapat
diperoleh disini adalah pada akhir-akhir ini telah banyak dikenal oleh masyarakat,
terutama masyarakat yang bergerak dalam bidang dunia usaha. Bermacam-macam
peluang dan kesempatan yang ada dalam kegiatan dunia usaha, telah menuntut
perlu adanya penilaian sejauh mana kegiatan atau kesempatan tersebut dapat
memberikan manfaat bila diusahakan.
Dengan demikian studi kelayakan yang juga sering disebut dengan
feasibility study merupakan bahan pertimbangan dalam mengambil suatu
keputusan, apakah menerima atau menolak dari suatu gagasan usaha atau proyek
yang direncanakan. Pengertian layak dalam penilaian ini adalah kemungkinan dari
gagasan usaha atau proyek yang akan dilaksanakan memberikan manfaat, baik
dalam arti manfaat finansial maupun dalam arti manfaat sosial. Layaknya suatu
gagasan usaha atau proyek dalam arti manfaat sosial tidak selalu menggambarkan
layak dalam arti manfaat finansial, hal ini tergantung dari segi penilaian yang
dilakukan (Ibrahim, 2003).
2.2. Fungsi Analisis Kelayakan Proyek
Dilihat dari segi perbankan dan lembaga keuangan lainnya, peranan analisis
kelayakan proyek menjadi lebih penting lagi untuk mengadakan penilaian
terhadap gagasan usaha atau proyek yang mempunyai sumber dana dari lembaga
tersebut. Dengan adanya analisis kelayakan dalam berbagai kegiatan usaha atau
proyek dapat diketahui sampai seberapa jauh gagasan usaha yang dilaksakan
mampu menutupi segala kewajiban-kewajiban serta prospeknya di masa yang
akan datang. Berdasarkan pada hasil penilaian ini pula, para pihak perbankan akan
menyetujui atau tidak terhadap permintaan kredit dari usaha atau proyek yang
diusulkan. Perlu juga diketahui, penentuan kredit bukan hanya tergantung pada
studi kelayakan yang diajukan, tapi juga tergantung pada jaminan kredit, koneksi,
atau hubungan antara pihak pengusaha dengan pihak perbankan disamping

bonafide tidaknya pengusaha tersebut namun demikian peranan studi kelayakan


mempunyai andil yang cukup besar dalam mendapatkan kredit. Bagi penanam
modal, studi kelayakan merupakan gambaran tentang usaha atau proyek yang
akan dikerjakan dan melalui studi kelayakan mereka akan dapat mengetahui
prospek perusahaan dan kemungkinan-kemungkinan keuntungan yang diterima.
Dengan studi kelayakan mereka akan dapat mengetahui jaminan keselamatan dari
modal yang ditanam dan berdasarkan studi kelayakan ini pula mereka akan
mengambil keputusan terhadap investasi.
Berdasarkan pada uraian ini, peranan studi kelayakan dan analisis proyek
dalam kegiatan pembangunan cukup besar dalam mengadakan penilaian terhadap
kegiatan usaha atau proyek yang akan dilaksanakan. Demikian pula terhadap para
pengusaha ekonomi lemah, pada umumnya masalah yang dihadapi para
pengusaha, selain keterbatasan modal, juga keterbatasan sumber daya dalam
melihat prospek usaha atau proyek yang dikembangkan. Hal ini merupakan
masalah baru yang memerlukan pemecahan secara terpadu untuk pengembangan
usaha. Bertitik tolak pada permasalahan tersebut, untuk meningkatkan peranan
para pengusaha ekonomi lemah dalam perekonomian nasional, selain mengatasi
masalah permodalan juga diperlukan peningkatan sumber daya melalui penataran,
terutama dalam hal studi kelayakan bisnis (Ibrahim, 2003).
2.3. Tujuan Analisis Kelayakan Proyek
Banyak sebab yang mengakibatkan suatu proyek ternyata kemudian menjadi
tidak menguntungkan (gagal). Antara lain penyebabnya adalah kesalahan
perencanaan, kesalahan dalam menaksir pasar yang tersedia, kesalahan daam
memperkirakan teknologi yang tepat dipakai, kesalahan dalam memperkirakan
kontinuitas bahan baku, kesalahan dalam memperkirakan kebutuhan tenaga kerja
dengan tersedianya tenaga kerja yang ada. Penyebab lain apabila berasal dari
pelaksanaan proyek yang tidak terkendali, akibatnya biaya pembangunan proyek
jadi membengkak, penyelesaian proyek jadi membengkak, penyelesaian proyek
jadi tertunda dan lain-lain. Disamping itu bisa juga disebabkan karena faktor
lingkungan yang berubah, baik lingkungan ekonomi, sosial, bahkan politik.

Kemungkinan lain juga bisa karena sebab-sebab yang benar-benar diluar dugaan,
seperti bencana alam pada lokasi proyek. Untuk itulah studi kelayakan atau
analisis kelayakan suatu proyek menjadi sangat penting. Semakin besar skala
investasi maka semakin penting analisis kelayakan proyek untuk dilakukan.
Maka dari itu tujuan dilakukan analisis kelayakan adalah untuk menghindari
keterlanjuran penanaman modal yang terlalu besar pada kegiatan yang ternyata
tidak menguntungkan, untuk menghindari resiko kegagalan suatu proyek yang
menyangkut investasi dalam jumlah besar (Husnan dan Suwarsono, 2000).
2.4. Aspek-aspek Analisis Kelayakan Proyek
Aspek-aspek yang dinilai dalam analisis kelayakan proyek meliputi aspek
pasar dan pemasaran, aspek teknis dan teknologis, aspek keuangan, aspek sosial
ekonomi, aspek manajemen dan sumber daya manusia, aspek hukum, dan aspek
dampak lingkungan (Ibrahim, 2003).
2.5. Aspek Teknis Produksi dan Teknologi
Bila berdasarkan evaluasi pasar, suatu proyek memiliki kesempatan
pemasaran yang memadai untuk suatu jangkauan waktu yang relatif panjang,
maka tahapan berikutnya yang perlu dilakukan adalah analisa aspek teknis dari
proyek yang bersangkutan. Aspek Teknis merupakan suatu aspek yang berkenaan
dengan proses pembangunan proyek secara teknis dan pengoperasiannya setelah
proyek tersebut dibangun. Berdasarkan analisa ini perlu diketahui rancangan awal
penaksiran biaya investasi termasuk biaya eksploitasinya.
Hal-hal yang perlu diperhatikan pada aspek teknis produksi dan teknologi
adalah:
1) Lokasi Proyek, yaitu dimana suatu proyek akan didirikan baik untuk
pertimbangan pabrik atau bukan pabrik.
2) Seberapa besar skala operasi atau luas produksi ditetapkan untuk mencapai
skala ekonomis?
3) Kriteria pemilihan mesin dan equipment utama serta alat pembantu mesin
dan equipment.
4) Bagaimana proses produksi dilakukan?

5) Bagaimana teknologi yang digunakan, apakah sudah tepat?


2.5.1.

Penentuan Lokasi Proyek

Penentuan lokasi pabrik merupakan suatu hal yang penting. Pemilihan


lokasi yang tepat akan berpengaruh terhadap kelangsungan dan efisiensi
perusahaan. Beberapa hal yang harus dipertimbangan dalam pemilihan lokasi
pabrik adalah ketersediaan bahan mentah, letak pasar yang dituju, tenaga listrik
dan air, suplai tenaga kerja, dan fasilitas transportasi (Husnan dan Muhammad
dalam Jannah, 2014).
Tujuan penentuan lokasi suatu perusahaan atau pabrik dengan tepat adalah
untuk dapat membantu perusahaan atau pabrik beroperasi dengan lancar, efektif
dan efisien. Adapun faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam penentuan lokasi
perusahaan adalah rencana masa depan, biaya tanah dan bangunan, kemungkinan
perluasaan, adanya fasilitas pelayanan, ketersediaan air, pajak, sikap masyarakat
sekitar lokasi, iklim, tanah, perumahan dan fasilitas lainnya. Husnan dan
Suwarsono dalam Jannah (2014) menambahkan, beberapa variabel utama yang
perlu mendapat perhatian dalam penentuan lokasi pabrik adalah ketersediaan
bahan mentah, letak pasar yang dituju, tenaga listrik dan air, supply tenaga kerja,
fasilitas transportasi.
Terdapat dua tahap penentuan lokasi yang dilakukan, yaitu penentuan bobot
prioritas parameter kelayakan lokasi dengan metode Analytical Hierarchy Process
(AHP) dan penentuan alternatif lokasi dengan metode zero-one.
a. Metode AHP adalah sebuah kerangka untuk mengambil keputusan dengan
efektif atas persoalan yang kompleks dengan menyederhanakan dan
mempercepat proses pengambilan keputusan dengan memecahkan persoalan
tersebut kedalam bagian-bagiannya, menata bagian atau variabel ini dalam
suatu susunan hirarki, memberi nilai numerik pada pertimbangan subjektif
tentang pentingnya tiap variabel dan mensintesis berbagai pertimbangan ini
untuk menetapkan variabel yang mana yang memiliki prioritas paling tinggi
dan bertindak untuk mempengaruhi hasil pada situasi tersebut. Pembobotan
dilakukan dengan nilai yang paling tinggi diasumsikan sebagai biaya yang

termurah. Menurut Husnan dan Suwarsono dalam Jannah (2014) penentuan


bobot prioritas meliputi lima parameter kelayakan lokasi perusahaan.
Parameter-parameter yang akan dibandingkan adalah kemudahan penyediaan
bahan baku (Bb), kemudahan akses pasar (Ps), ketersediaan sarana
transportasi (St), dan ketersediaan utilitas air dan listrik (Ut). Penentuan bobot
prioritas terhadap kelima parameter dilakukan dengan survei.
b. Tahap kedua yaitu penentuan alternatif lokasi dengan zero-one. Metode ini
merupakan penilaian terhadap perbandingan alternatif lokasi yang didasarkan
pada kondisi wilayah yang dimiliki dengan menggunakan bobot parameter
yang telah diketahui sebelumnya. Parameter yang digunakan adalah bahan
baku, kemudahan akses pasar, tenaga kerja, transportasi, serta tersedianya
pembangkit tenaga listrik dan air.
Daerah pemasaran
Kebijakan dalam menentukan lokasi usaha/proyek, apakah dekat dengan
pasar hasil produksi atau dekat dengan bahan baku harus dipertimbangkan
secara teknis dan ekonomis sehingga kelangsungan dari usaha dapat terjamin.
Lokasi usaha yang dekat dengan pasar biasanya mempunyai beberapa
keunggulan, antara lain pelayanaan terhadap konsumen dapat dilakukan
dengan lebih cepat, ongkos angkut dari produk yang dihasilkan relative lebih
murah dan volume penjualan dapat ditingkatkan.
Ditinjau dari segi biaya pengangkutan, apabila biaya pengangkutan barang
jadi lebih besar dari biaya pengangkutan bahan mentah dalam ukuran yang
sama, selayaknya lokasi usaha/proyek yang dekat dengan pasar lebih
menguntungkan dari pada dekat dengan bahan baku.

Bahan baku
Pendirian usaha/proyek yang dekat dengan bahan baku mempunyai

beberapa keunggulan, antara lain supply bahan mentah dapat menjamin


kontinuitas kegiatan usaha, ongkos angkut bahan lebih murah, dan perluasan
usaha lebih mudah untuk dilakukan.

Dilihat dari ongkos angkut bahan mentah, apabila jumlah bahan mentah
yang diangkut jauh lebih besar daripada bahan jadi sebagai akibat proses
produksi, lokasi usaha/proyek yang dekat dengan bahan baku lebih
menguntungkan dalam jangka panjang.

Tenaga kerja
Dalam menentukan lokasi usaha/proyek, supply tenaga kerja juga perlu

mendapat perhatian, baik dilihat dari jumlah tenaga kerja maupun kualitas
yang diperlukan. Apabila usaha jenang yang didirikan membutuhkan tenaga
kerja dalam jumlah yang relative besar (padat karya) sebaiknya lokasi usaha
yang didirikan dekat dengan pemukiman penduduk. Demikian pula dengan
usaha-usaha yang memanfaatkan keahlian penduduk setempat.
Supply tenaga kerja yang cukup bagi usaha padat karya pada umumnya
merupakan faktor yang perlu mendapat perhatian, walaupun kualitas dan
komposisi tenaga kerja yang tersedia juga amat diperlukan. Untuk gagasan
usaha/pabrik yang direncanakan memerlukan tenaga yang mempunyai
keahlian (skill) sebaiknya lokasi usaha tersebut didirikan dekat dengan tenaga
kerja yang mempunyai skill karena ada kalanya untuk memindahkan tenaga
kerja skill amat sulit untuk dilakukan.
Berdasarkan pada uraian ini, dalam menyusun studi kelayakan bisnis,
faktor supply tenaga kerja perlu mendapat perhatian terutama menyangkut
dengan penyediaan tenaga kerja baik tenaga kerja ahli, setengah ahli, maupun
tenaga kerja yang tidak mempunyai keahlian.

Fasilitas pengangkutan
Fasilitas pengangkutan yang tersedia dalam pemilihan lokasi perlu

menjadi perhatian dari penyusunan studi kelayakan, karena masalah


pengangkutan merupakan masalah dalam pengangkutan bahan mentah, barang
jadi, maupun tenaga kerja.
Pendirian usaha yang tidak mempunyai fasilitas angkutan, terpaksa
membangun jalan-jalan baru yang memerlukan investasi yang cukup besar
dan kesemuanya itu merupakan beban dari proyek/kegiatan usaha yang
direncanakan. Besarnya biaya transportasi yang dikeluarkan akan berpengaruh
8

terhadap harga pokok produksi dan keadaan ini menyebabakan gagasan


usaha/proyek yang direncanakan tidak feasible untuk dikerjakan.

Fasilitas tenaga listrik dan air


Secara teknis, apabila usaha/proyek yang direncanakan memerlukan

fasilitas listrik dalam kegiatan produksi, tentu dalam penyusunan studi


kelayakan dalam perhitungan lokasi proyek (pabrik) perlu mendapat perhatian,
terutama ada tidaknya tenaga listrik yang tersedia. Tenaga listrik yang telah
ada seperti PLN biayanya lebih murah dibanding dengan membangun tenaga
listrik sendiri.
Demikian pula dengan air, apabila usaha/proyek yang didirikan dalam
proses produksi memerlukan air dalam proses produksi maka lokasi
proyek/pabrik harus dekat dengan air. Berdasarkan pada uraian ini, peranan
lokasi dalam menentukan tempat pendirian kegiatan proyek/pabrik yang akan
didirikan tidak dapat diabaikan, tapi harus diperhitungkan secara objektif
dengan menggunakan penilaian dan perhitungan yang cermat dan teliti
sehingga keadaan ini dapat menjamin kontinuitas dari kegiatan usaha yang
akan didirikan.
2.5.2.
Kapasitas Produksi / Luas Produksi
Luas produksi yaitu jumlah produk yang seharusnya diproduksi untuk
mencapai keuntungan optimal. Kapasitas didefinisikan sebagai suatu kemampuan
pembatas dari unit produksi untuk berproduksi dalam waktu tertentu. Kapasitas
dapat dilihat dari sisi masukan (input) dan keluaran (output). Rencana kapasitas
produksi dalam rangka studi kelayakan aspek teknis dan teknologi ini tergantung
beberapa pilihan sistem antara lain skala ekonomi dan focused facilities (Fikri,
2013).
Luas produksi dapat ditentukan oleh antara lain batasan permintaan,
tersedianya kapasitas mesin-mesin, jumlah dan kemampuan pengelola proses
produksi, kemampuan finansial dan manajemen, kemungkinan adanya perubahan
teknologi.
Terdapat tiga jenis proses produksi, yaitu:

1. Proses produksi yang terputus-putus (intermiten). Contohnya: budidaya


tanaman semusim.
2. Kontinu (menggunakan mesin-mesin dengan teknologi yang lebih baik).
Contohnya: pengalengan nanas.
3. Kombinasi antara produksi terputus-putus dan kontinu.
2.5.3.
Pemilihan Teknologi dan Equipment
Berkaitan dengan pemilihan teknologi, biasanya suatu produk tertentu dapat
diproses dengan labih dari satu cara, sehingga teknologi yang dipilih pun perlu
ditentukan secara jelas. Patokan umum yang dapat dipakai misalnya adalah
dengan mengetahui seberapa jauh derajat mekanisasi yang diinginkan dan manfaat
ekonomi yamg diharapkan (Fikri, 2013), disamping kriteria yang lain yakni:
- Ketepatan jenis teknologi yang dipilih dengan bahan mentah yang
-

digunakan.
Keberhasilan penggunaan jenis teknologi tersebut tersebut ditempat lain

memiliki ciri-ciri yang mendekati dengan lokasi bisnis.


Kemampuan pengetahuan penduduk (tenaga kerja)

setempat

dan

kemungkinan pengembangannya, juga kemungkinan penggunaan tenaga


-

kerja asing.
Pertimbangan kemungkinan adanya teknologi lanjutan sebagai akibat
keusangan.
Pemilihan mesin wajib mengikuti ketentuan jenis teknologi yang telah

ditetapkan, walaupun perlu juga mempertimbangkan berbagai macam faktor non


teknologi yang lain misalnya:
-

Keadaan infrastruktur dan fasilitas pengangkutan mesin dari tempat

pembongkaran pertama sampai ke lokasi bisnis.


Keadaan fasilitas pemeliharaan dan perbaikan mesin dan peralatan yang ada

disekitar lokasi bisnis.


Kemungkinan memperoleh tenaga ahli yang akan mengelola mesin dan
peralatan.

10

BAB III
METODE PEMBUATAN MAKALAH
Metode yang digunakan dalam pembuatan makalah ini adalah studi
literatur, yang dilakukan dengan mengumpulkan bahan-bahan berupa jurnal dan
artikel yang berkaitan dengan analisis kelayakan proyek khususnya pada aspek
teknis produksi dan teknologinya. Setelah itu dilakukan penyusunan makalah,
dimana dalam penyusunan makalah ini mulai dari pencarian bahan sampai
penyusunan makalah selesai dilakukan selama kurang lebih dua minggu.

11

BAB IV
PEMBAHASAN
4.1. Lokasi Proyek
Perusahaan menentukan lokasi dengan mempertimbangkan letak pasar,
sumber bahan baku, kesediaan tenaga kerja, listrik, air, sarana transportasi,
ketersediaan tenaga kerja, lingkungan sosial, dan faktor pendukung lainnya.
Faktor-faktor tersebut dijadikan variabel penilaian dalam menentukan lokasi.
Penilaian yang digunakan menggunakan metode analisis nilai ideal.
Berikut beberapa pertimbangan penentuan lokasi usaha berdasarkan metode
penilaian hasil yang dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

12

Faktor-faktor yang

Nilai lokasi

1
2
3
4
5

dipertimbangkan
Biaya pembelian lahan
Letak pasar yang dituju
Ketersediaan bahan baku
Sarana transportasi
Ketersediaan tenaga

yang ideal
35
20
10
10
10

6
7
8

kerja
Tenaga listrik, air
Lingkungan sosial
Fasilitas pendukung
lainnya
Total

No

OI

Lahat

OKU

30
20
10
9
10

20
17
8
10
10

25
18
9
9
9

5
5
5

5
5
4

5
5
5

5
5
5

100

93

80

85

Dari hasil perhitungan tersebut perusahaan memilih lokasi yang berada di


wilayah Kecamatan Lubuk Keliat, Kabupaten Ogan Ilir yang merupakan lokasi
yang tepat untuk pendirian unit pengolahan gula tebu dengan luas area 2.500
hektar dengan masa pemakaian selama 30 tahun, biaya yang diperlukan
Rp.100.000,00 per hektar. Wilayah ini juga berdekatan dengan sungai Ogan Ilir
yang merupakan salah satu sungai terbesar di provinsi Sumatera Selatan.
4.2. Kapasitas Produksi
Kapasitas produksi merupakan volume atau jumlah satuan produk yang
dihasilkan selama satu satuan waktu tertentu dan dinyatakan dalam bentuk
keluaran (output) per satuan waktu. Kapasitas minuman gilingan tebu yang akan
diproduksi sebesar 500 ton/hari (sebelum pemasakan). Salah satu dasar penentuan
kapasitas produksi ditargetkan 500 ton/hari adalah untuk meningkatkan
pemanenan tebu. Hal ini dilakukan atas pertimbangan kapasitas mesin yang
digunakan, terutama pada mesin ekstraktor. Apabila kapasitas kurang dari 500
ton/hari diduga akan menyebabkan bertambahnya biaya produksi. Selain itu
alasan mengapa dipilihnya kapasitas tersebut adalah respon dari beberapa
responden yang cukup bagus serta potensi pasar yang besar.
Faktor faktor pembatas penentu kapasitas produksi, meliputi:
1. Kapasitas mesin dan Peralatan : 500 ton/ hari.
2. Permintaan pasar : 120.000 ton/tahun .

13

3. Ketersediaan bahan baku : tanaman tebu yang siap di tebang tersedia pada
bulan Mei-Oktober.
4.3. Ketersediaan Bahan Baku
Ketersediaan bahan baku merupakan faktor yang paling penting untuk
menentukan kelangsungan proses produksi. Bahan baku utama yang digunakan
untuk memproduksi gula pasir adalah tebu yang dapat diperoleh dari kebun yang
dikelola, yaitu di Indralaya. Luas area kebun yang dikelola adalah 2.500 hektar
yang meliputi lahan sendiri dan lahan sewa.
4.3.1.
Bahan Pembantu
1. Asam phospat adalah bahan pembantu yang digunakan dan dicampurkan
pada nira mentah di tangki nira tertimbang pada unit operasi purifikasi.
Tujuan pemberian asam phospat cair ini adalah untuk menambah kadar
phospat pada nira mentah, sehingga dalam proses pemurnian dapat dengan
mudah terbentuk endapan kalsium phospat (endapan inti) yang dapat
menyerap warna. Phosfat ditambahkan pada nira mentah karena kandungan
phosfat dalam tebu yang tidak mencapai 300-350 ppm. Kandungan phosfat
dalam tebu 250 ppm. Maka dibutuhkan sekitar 50-100 ppm penambahan
phosfat dalam nira mentah. Phosfat dialirkan secara kontinyu ke dalam
weight juice tank (WJT) yang sebelumnya dilarutkan dengan air. Phosfat
berfungsi untuk membantu proses penggumpalan kotoran pada nira mentah.
2. Susu kapur adalah bahan pembantu yang berfungsi untuk menetralkan
nira, mencegah terbentuknya inversi gula, menaikkan pH dan membentuk
endapan kotoran dalam nira. Kapur diperoleh dengan cara membeli dari luar
atau distributor kapur dengan kadar CaO harus lebih dari 90%. Pada
penggunaannya kapur diubah terlebih dahulu menjadi susu kapur yang
dibuat dengan cara menambahkan air pada kapur. Pembuatan susu kapur
dilaksanakan pada unit pembuatan susu kapur (lime warehouse), yaitu
dengan memasukkan kapur ke dalam tempat pemadaman kapur (lime
sliker). Alat ini berbentuk silinder yang horizontal dengan kemiringan 5 o,
dimana air dan kapur dimasukkan dari daerah yang lebih tinggi. Lime sliker
ini diputar dengan kecepatan 5 sampai 8 rpm. Air yang digunakan adalah

14

air kondensat dengan suhu sekitar 80oC. Sebelum dikirim ke tangki


penampung, susu kapur dibersihkan terlebih dahulu dari kotoran yang
terbawa dalam kapur pada bak clasifier dengan menggunakan sistem
penggaruk. Batu kapur yang tidak bereaksi tertahan oleh limesliker dan
secara periodic dibuang lewat manhole yang tersedia. Susu kapur
kemudian ditampung pada tangki penampungan yang berjumlah dua tangki
dan selanjutnya dipompakan ke tangki pengenceran. Pada tiap tangki
dilengkapi dengan pengaduk untuk mencegah agar emulsi kapur tidak
mengendap dan mengeras. Kapur yang diberikan pada proses klarifikasi
yaitu 1 - 1,8 ton per 100 ton tebu.
3. Belerang (sulfur) adalah bahan pembantu yang digunakan pada unit operasi
purifikasi. Belerang digunakan dalam bentuk sulfit yang bertujuan untuk
menetralisir kelebihan susu kapur dan menyerap atau menghilangkan zat
warna pada nira. Sulfur atau belerang yang digunakan berbentuk padat
dengan kemurnian >85%. Dalam penggunaannya belerang ini dibakar
dengan menggunakan alat rotaryburner untuk menghasilkan gas SO2.
Energi proses tersebut berlangsung pada suhu >600 oC. Bila suhu
pembakaran dibiarkan terus meningkat, maka gas yang dihasilkan buka gas
SO2 melainkan gas SO3. Gas ini sangat tidak dikehendaki dalam proses
pemurnian karena akan membentuk garam sulfat yang bersifat asam sulfur
yang digunakan sebanyak 100 kg per jam.
4. Flokulan adalah bahan pembantu yang digunakan di unit operasi purifikasi.
Tujuan pemberian flokulan adalah sebagai katalisator guna

mempercepat

proses pengen dapan kotoran dalam clarifier sehingga proses pengen dapan
berlangsung lebih cepat dan untuk meningkatkan densitas nira kotor
sehingga

akan

flokulan berlebih,

lebih
maka

mudah

untuk

disaring.

dampak

yang

timbul

Bila

pemberian

adalah

terjadinya

penghambatan proses pada rotary vacuum filter kemudian membuat


material di boiling dan masecuite menjadi lebih viscous. Dari segi ekonomi
proses akan membutuhkan biaya yang tinggi karena harga flokulan yang
mahal. Pemberian flokulan 0,1 % berat tebu.

15

5. Enzim merupakan protein katalitik. Enzim terdiri dari satu atau beberapa
gugus polipeptida (protein) yang berfungsi sebagai katalis (senyawa yang
mempercepat proses reaksi tanpa habis bereaksi) dalam suatu reaksi kimia.
Pada proses penggilingan tebu di stasiunmill, dibutuhkan bahan tambahan
untuk membantu mengekstrak sukrosa dan zat-zat lain dalam tebu. Bahan
tambahan ini berupa enzim yaitu enzim amilase dan enzim sakarase. Enzim
amilase berfungsi untuk memecah ikatan-ikatan pada amilum sehingga
tidak

terbentuk

kristal

palsu

pada

saat

kristalisasi

serta

korosi

pada vacuum pan, sedangkan enzim dekstran sakarase berfungsi untuk


memecah dekstran yang terdapat pada serat-serat tebu. Enzim-enzim ini
ditambahkan pada stasiun mill digilingan 1dan 5. Dengan jumlah total yang
diberikan 20-25 ppm.
4.4. Teknologi Pembuatan Gula
Tahapan-tahapan dalam proses pembuatan gula dimulai dari penanaman
tebu, proses ekstraksi, pembersihan kotoran, penguapan, kritalisasi, afinasi,
karbonasi, penghilangan warna, dan sampai proses pengepakan sehingga sampai
ketangan konsumen.
1. Ekstraksi
Tahap pertama pembuatan gula tebu adalah ekstraksi jus atau sari tebu.
Caranya dengan menghancurkan tebu dengan mesin penggiling untuk
memisahkan ampas tebu dengan cairannya. Cairan tebu kemudian
dipanaskan dengan boiler. Jus yang dihasilkan masih berupa cairan yang
kotor: sisa-sisa tanah dari lahan, serat-serat berukuran kecil dan ekstrak dari
daun dan kulit tanaman, semuanya bercampur di dalam gula. Jus dari hasil
ekstraksi mengandung sekitar 50 % air, 15% gula dan serat residu,
dinamakan bagasse, yang mengandung 1 hingga 2% gula. Dan juga kotoran
seperti pasir dan batu-batu kecil dari lahan yang disebut sebagai abu.
2. Pengendapan kotoran dengan kapur (Liming)
Jus tebu dibersihkan dengan menggunakan semacam kapur (slakedlime)
yang akan mengendapkan sebanyak mungkin kotoran , kemudian kotoran
ini dapat dikirim kembali ke lahan. Proses ini dinamakan liming.
16

Jus

hasil

ekstraksi

dipanaskan

sebelum

dilakukan

liming

untuk

mengoptimalkan proses penjernihan. Kapur berupa kalsium hidroksida atau


Ca(OH)2 dicampurkan ke dalam jus dengan perbandingan yang diinginkan
dan jus yang sudah diberi kapur ini kemudian dimasukkan ke dalam tangki
pengendap gravitasi yaitu sebuah tangki penjernih (clarifier). Jus mengalir
melalui clarifier dengan kelajuan yang rendah sehingga padatan dapat
mengendap dan jus yang keluar merupakan jus yang jernih. Kotoran berupa
lumpur dari clarifier masih mengandung sejumlah gula sehingga biasanya
dilakukan penyaringan dalam penyaring vakum putar (rotasi) dimana jus
residu diekstraksi dan lumpur tersebut dapat dibersihkan sebelum
dikeluarkan, dan hasilnya berupa cairan yang manis. Jus dan cairan manis
ini kemudian dikembalikan ke proses.
3. Penguapan (evaporasi)
Setelah mengalami proses liming, proses evaporasi dilakukan untuk
mengentalkan jus menjadi sirup dengan cara menguapkan air menggunakan
uap panas (steam). Terkadang sirup dibersihkan lagi tetapi lebih sering
langsung menuju ke tahap pembuatan kristal tanpa adanya pembersihan
lagi. Jus yang sudah jernih mungkin hanya mengandung 15% gula tetapi
cairan (liquor) gula jenuh (yaitu cairan yang diperlukan dalam proses
kristalisasi) memiliki kandungan gula hingga 80%. Evaporasi dalam
evaporator majemuk' (multiple effect evaporator) yang dipanaskan dengan
steam merupakan cara yang terbaik untuk bisa mendapatkan kondisi
mendekati kejenuhan (saturasi).
4. Pendidihan / kristalisasi
Pada tahap akhir pengolahan, sirup ditempatkan ke dalam wadah yang
sangat besar untuk dididihkan. Di dalam wadah ini air diuapkan sehingga
kondisi untuk pertumbuhan kristal gula tercapai. Pembentukan kristal
diawali dengan mencampurkan sejumlah kristal ke dalam sirup. Sekali
kristal terbentuk, kristal campur yang dihasilkan dan larutan induk (mother
liquor) diputar di dalam alat sentrifugasi untuk memisahkan keduanya, bisa
diumpamakan seperti pada proses mencuci dengan menggunakan pengering
berputar. Kristal-kristal tersebut kemudian dikeringkan dengan udara panas

17

sebelum disimpan. Larutan induk hasil pemisahan dengan sentrifugasi


masih mengandung sejumlah gula sehingga biasanya kristalisasi diulang
beberapa kali. Sayangnya, materi-materi non gula yang ada di dalamnya
dapat menghambat kristalisasi. Hal ini terutama terjadi karena keberadaan
gula-gula lain seperti glukosa dan fruktosa yang merupakan hasil pecahan
sukrosa. Olah karena itu, tahapan-tahapan berikutnya menjadi semakin sulit,
sampai kemudian sampai pada suatu tahap di mana kristalisasi tidak
mungkin lagi dilanjutkan. Sebagai tambahan, karena gula dalam jus tidak
dapat diekstrak semuanya, maka terbuatlah produk samping (byproduct)
yang manis: molases. Produk ini biasanya diolah lebih lanjut menjadi pakan
ternak atau ke industri penyulingan untuk dibuat alkohol (etanol).
Belakangan ini molases dari tebu di olah menjadi bahan energi alternatif
dengan meningkatkan kandungan etanol sampai 99,5%.
5. Penyimpanan
Gula kasar yang dihasilkan akan membentuk gunungan coklat lengket
selama penyimpanan dan terlihat lebih menyerupai gula coklat lunak yang
sering dijumpai di dapur-dapur rumah tangga. Gula ini sebenarnya sudah
dapat digunakan, tetapi karena kotor dalam penyimpanan dan memiliki rasa
yang berbeda maka gula ini biasanya tidak diinginkan orang. Oleh karena
itu gula kasar biasanya dimurnikan lebih lanjut ketika sampai di negara
pengguna.
6. Afinasi (Affination)
Tahap pertama pemurnian gula yang masih kasar adalah pelunakan dan
pembersihan lapisan cairan induk yang melapisi permukaan kristal dengan
proses yang dinamakan dengan afinasi. Gula kasar dicampur dengan sirup
kental (konsentrat) hangat dengan kemurnian sedikit lebih tinggi
dibandingkan lapisan sirup sehingga tidak akan melarutkan kristal, tetapi
hanya sekeliling cairan (coklat). Campuran hasil (magma) disentrifugasi
untuk memisahkan kristal dari sirup sehingga kotoran dapat dipisahkan dari
gula dan dihasilkan kristal yang siap untuk dilarutkan sebelum proses
karbonatasi. Cairan yang dihasilkan dari pelarutan kristal yang telah dicuci
mengandung berbagai zat warna, partikel-partikel halus, gum dan resin dan
18

substansi bukan gula lainnya. Bahan-bahan ini semua dikeluarkan dari


proses.
7. Karbonatasi
Tahap pertama pengolahan cairan (liquor) gula berikutnya bertujuan untuk
membersihkan cairan dari berbagai padatan yang menyebabkan cairan gula
keruh. Pada tahap ini beberapa komponen warna juga akan ikut hilang.
Salah satu dari dua teknik pengolahan umum dinamakan dengan
karbonatasi. Karbonatasi dapat diperoleh dengan menambahkan kapur/ lime
(kalsium hidroksida, Ca(OH)2) ke dalam cairan dan mengalirkan gelembung
gas karbondioksida ke dalam campuran tersebut. Gas karbondioksida ini
akan bereaksi dengan lime membentuk partikel-partikel kristal halus berupa
kalsium karbonat yang menggabungkan berbagai padatan supaya mudah
untuk dipisahkan. Supaya gabungan-gabungan padatan tersebut stabil, perlu
dilakukan pengawasan yang ketat terhadap kondisi-kondisi reaksi.
Gumpalan-gumpalan yang terbentuk tersebut akan mengumpulkan sebanyak
mungkin materi-materi non gula, sehingga dengan menyaring kapur keluar
maka substansi-substansi non gula ini dapat juga ikut dikeluarkan. Setelah
proses ini dilakukan, cairan gula siap untuk proses selanjutnya berupa
penghilangan warna. Selain karbonatasi, teknik yang lain berupa fosfatasi.
Secara kimiawi teknik ini sama dengan karbonatasi tetapi yang terjadi
adalah pembentukan fosfat dan bukan karbonat. Fosfatasi merupakan proses
yang sedikit lebih kompleks, dan dapat dicapai dengan menambahkan asam
fosfat ke cairan setelah liming seperti yang sudah dijelaskan di atas.
8. Penghilangan warna
Ada dua metoda umum untuk menghilangkan warna dari sirup gula,
keduanya mengandalkan teknik penyerapan melalui pemompaan cairan
melalui kolom-kolom medium. Salah satunya dengan menggunakan karbon
teraktivasi granular (granular activated carbon, GAC) yang mampu
menghilangkan hampir seluruh zat warna. GAC merupakan cara modern
setingkat bone char, sebuah granula karbon yang terbuat dari tulangtulang hewan. Karbon pada saat ini terbuat dari pengolahan karbon mineral
yang diolah secara khusus untuk menghasilkan granula yang tidak hanya

19

sangat aktif tetapi juga sangat kuat. Karbon dibuat dalam sebuah oven panas
dimana warna akan terbakar keluar dari karbon. Cara yang lain adalah
dengan menggunakan resin penukar ion yang menghilangkan lebih sedikit
warna dari pada GAC tetapi juga menghilangkan beberapa garam yang ada.
Resin dibuat secara kimiawi yang meningkatkan jumlah cairan yang tidak
diharapkan.Cairan jernih dan hampir tak berwarna ini selanjutnya siap untuk
dikristalisasi kecuali jika jumlahnya sangat sedikit dibandingkan dengan
konsumsi energi optimum di dalam pemurnian. Oleh karenanya cairan
tersebut diuapkan sebelum diolah di panci kristalisasi.
9. Pendidihan
Sejumlah air diuapkan di dalam panci sampai pada keadaan yang tepat
untuk tumbuhnya kristal gula. Sejumlah bubuk gula ditambahkan ke dalam
cairan untuk mengawali/memicu pembentukan kristal. Ketika kristal sudah
tumbuh campuran dari kristal-kristal dan cairan induk yang dihasilkan
diputar dalam sentrifugasi untuk memisahkan keduanya. Proses ini dapat
diumpamakan dengan tahap pengeringan pakaian dalam mesin cuci yang
berputar. Kristal-kristal tersebut kemudian dikeringkan dengan udara panas
sebelum dikemas dan disimpan siap untuk didistribusikan.
Gambar 1. Diagram alir pembuatan gula.

20

4.5. Rangkaian Operasi Produksi


1. Stasiun Timbangan dan Cane Yard (Halaman Tebu)
Stasiun timbangan dan cane yard merupakan stasiun pendahuluan pada
semua pabrik gula. Pada pabrik gula terdapat 3 timbangan yang terdapat pada
stasiun timbangan. Dari ke 3 timbangan tersebut memiliki kegunaan dan
fungsinya masing-masing dengan spesifikasi yang berbeda-beda.
Timbangan 1 dan 2 merupakan timbangan bruto yang mempunyai kapasitas
60 ton. Digunakan untuk menimbang tebu dan bahan tambahan (umum) seperti
kapur, asam phosfat, sulfur dll yang akan masuk dalam cane yard atau pun
pabrik. Kemudian timbangan 3 merupakan timbangan Netto yang mempunyai
kapasitas 20 ton. Digunakan untuk menimbang truk atau alat transportasi lain
yang akan keluar dari cane yard atau pabrik.
Sebelum kendaraan pengangkut tebu masuk dalam stasiun timbangan,
kendaraan pengangkut di semprot terlebih dahulu pada bagian bawah kendaraan
menggunakan air guna mengurangi kotoran (tanah) yang akan ikut tertimbang dan
masuk dalam cane yard. Kendaraan pengangkut tebu ditimbang (bruto) dengan
tanpa pengendara di dalamnya guna menghindari penambahan berat pada

21

timbangan tebu yang dibawa. Berat tebu yang tertimbang secara otomatis masuk
dalam komputer yang telah diatur sebagai alat pencatat hasil timbangan berserta
kode kendaraan pengangkut dengan satuan kwintal.
Untuk bahan tambahan (umum) yang masuk, tertimbang dengan satuan kg.
Setelah ditimbang maka kendaraan pengangkut tebu masuk dalam cane yard
untuk melakukan pembongkaran tebu yang telah diangkut. Jika telah selesai maka
kendaraan pengangkut tebu kembali pada stasiun timbangan untuk ditimbang
(netto) berat kendaraan yang digunakan. Dengan sistem yang sama, maka
diperoleh berat kendaraan pengangkut tanpa tebu (kosong). Hasil yang diperoleh
digunakan untuk pembagi berat kotor tebu yang telah tertimbang dan tercatat.
Sehingga diperoleh berat bersih tebu yang dibawa dan masuk oleh kendaraan
pengangkut tersebut. Semua bahan yang melewati stasiun timbangan akan
ditimbang terlebih dahulu kecuali gula. Dalam stasiun timbangan semua data hasil
timbangan akan direkap per jam/per harinya.
2. Gilingan
Langkah pertama dalam proses pembuatan gula adalah pemerahan tebu di
gilingan. Pada proses ini tebu yang ditebang dari kebun dicacah menggunakan alat
pencacah tebu. Biasanya terdiri dari cane cutter, hammer shredder atau kombinasi
dari keduanya. Tebu diperah menghasilkan nira dan ampas. Nira inilah yang
mengandung gula dan akan di proses lebih lanjut di pemurnian. Ampas yang
dihasilkan pada proses pemerahan ini digunakan untuk berbagai macam
keperluan. Kegunaan utama dari ampas adalah sebagai bahan bakar ketel (boiler)
dan apabila berlebih bisa digunakan sebagai bahan partikel board, furfural, xylitol
dan produk lain.
3. Pemurnian
Setelah tebu diperah dan diperoleh nira mentah (raw juice), lalu
dimurnikan. Dalam nira mentah mengandung gula, terdiri dari sukrosa, gula invert
(glukosa+fruktosa) ; zat bukan gula, terdiri dari atom-atom (Ca,Fe,Mg,Al) yang
terikat pada asam-asam, asam organik dan an organik, zat warna, lilin, asam-asam
kieselgur yang mudah mengikat besi, aluminium, dan sebagainya. Pada proses
pemurnian zat-zat bukan gula akan dipisahkan dengan zat yang mengandung gula.

22

Proses pemurnian ini dapat dilakukan secara fisis maupun kimiawi. Secara fisis
dengan cara penyaringan sedangkan secara kimia melalui pemanasan, pemberian
bahan pengendap. Pada proses pemurnian nira terdapat tiga buah jenis proses,
yaitu defekasi, sulfitasi, dan karbonatasi.
Pada saat ini sebagian besar pabrik gula di Indonesia menggunakan proses
sulfitasi dalam memurnikan nira. Pada proses sulfitasi nira mentah terlebih dahulu
dipanaskan melalui heat exchanger sehingga suhunya naik menjadi 700 C.
Kemudian nira dialirkan kedalam defekator dicampur dengan susu kapur. Fungsi
dari susu kapur ini adalah untuk membentuk inti endapan sehingga dapat
mengadsorp bahan bukan gula yang terdapat dalam nira dan terbentuk endapan
yang lebih besar. Pada proses defekasi ini dilakukan secara bertahap (3 kali)
sehingga diperoleh pH akhir sekitar 8.5 10. Reaksi antara kapur dan phospat
yang terdapat dalam nira :
CaCO3

CaO + CO2

CaO + H2O

Ca(OH)2 + 15.9 Kcal

Ca(OH)2

Ca2+ + 2 OH-

3Ca2+ + 2PO43-

Ca3(PO4)2

Setelah itu nira akan dialirkan kedalam sulfitator, dan direaksikan dengan
gas SO2. Reaksi antara nira dan gas SO2 akan membentuk endapan CaSO3, yang
berfungsi untuk memperkuat endapan yang telah terjadi sehingga tidak mudah
terpecah, pH akhir dari reaksi ini adalah 7.
Tahap akhir dari proses pemurnian nira dialirkan ke bejana pengendap
(clarifier) sehingga diperoleh nira jernih dan bagian yang terendapkan adalah nira
kotor. Nira jernih dialirkan ke proses selanjutnya (Penguapan), sedangkan nira
kotor diolah dengan rotary vacuum filter menghasilkan nira tapis dan blotong.
4. Pengupan
Hasil dari proses pemurnian adalah nira jernih (clear juice). Langkah
selanjutnya dalam proses pengolahan gula adalah proses penguapan. Penguapan
dilakukan dalam bejana evaporator. Tujuan dari penguapan nira jernih adalah
untuk menaikkan konsentrasi dari nira mendekati konsentrasi jenuhnya. Pada
proses penguapan menggunakan multiple effect evaporator dengan kondisi

23

vakum. Penggunaan multiple effect evaporator dengan pertimbangan untuk


menghemat penggunaan uap. Sistem multiple effect evaporator terdiri dari 3 buah
evaporator atau lebih yang dipasang secara seri. Di pabrik gula biasanya
menggunakan 4 (quadrupple) atau 5 (quintuple) buah evaporator.
Pada proses penguapan air yang terkandung dalam nira akan diuapkan. Uap
baru digunakan pada evaporator badan I sedangkan untuk penguapan pada
evaporator badan selanjutnya menggunakan uap yang dihasilkan evaporator badan
I. Penguapan dilakukan pada kondisi vakum dengan pertimbangan untuk
menurunkan titik didih dari nira. Karena nira pada suhu tertentu ( > 125 0 C) akan
mengalamai karamelisasi atau kerusakan. Dengan kondisi vakum maka titik didih
nira akan terjadi pada suhu 700 C. Produk yang dihasilkan dalam proses
penguapan adalah nira kental.
5. Kristalisasi
Proses kristalisasi adalah proses pembentukan kristal gula. Sebelum
dilakukan kristaliasi dalam pan masak (crystallizer) nira kental terlebih dahulu
direaksikan dengan gas SO2 sebagai bleaching dan untuk menurunkan viskositas
masakan (nira). Dalam proses kristalisasi gula dikenal sistem masak ACD, ABCD,
ataupun ABC. Tingkat masakan (kristalisasi) tergantung pada kemurnian nira
kental. Apabila HK nira kental > 85 % maka dapat dilakukan empat tingkat
masakan (ABCD). Dan apabila HK nira kental < 85 % dilakukan tiga tingkat
masakan (ACD). Pada saat ini dengan kondisi bahan baku yang rendah pabrik
gula menggunakan sistem masakan ACD, dengan masakan A sebagai produk
utama.
Langkah pertama dari proses kristalisasi adalah menarik masakan (nira
pekat) untuk diuapkan airnya sehingga mendekati kondisi jenuhnya. Dengan
pemekatan secara terus menerus koefisien kejenuhannya akan meningkat. Pada
keadaan lewat jenuh maka akan terbentuk suatu pola kristal sukrosa. Setelah itu
langkah membuat bibit, yaitu dengan memasukkan bibit gula kedalam pan masak
kemudian melakukan proses pembesaran kristal. Pada proses masak ini kondisi
kristal harus dijaga jangan sampai larut kembali ataupun terbentuk tidak
beraturan. Setelah diperkirakan proses masak cukup, selanjutnya larutan dialirkan

24

ke palung pendingin (receiver) untuk proses Na Kristalisasi. Tujuan dari palung


pendingin ialah : melanjutkan proses kristalisasi yang telah terbentuk dalam pan
masak, dengan adanya pendinginan di palung pendingin dapat menyebabkan
penurunan suhu masakan dan nilai kejenuhan naik sehingga dapat mendorong
menempelnya sukrosa pada kristal yang telah terbentuk. Untuk lebih
menyempurnakan dalam proses kristalisasi maka palung pendingin dilengkapi
pengaduk agar dapat sirkulasi.
6. Centrifugal Process
Setelah masakan didinginkan proses selanjutnya adalah pemisahan. Proses
pemisahan kristal gula dari larutannya menggunakan alatcentrifuge atau puteran.
Pada alat puteran ini terdapat saringan, sistem kerjanya yaitu dengan
menggunakan gaya sentrifugal sehingga masakan diputar dan strop atau larutan
akan tersaring dan kristal gula tertinggal dalam puteran. Pada proses ini dihasilkan
gula kristal dan tetes. Gula kristal didinginkan dan dikeringakan untuk
menurunkan kadar airnya. Tetes di transfer ke Tangki tetes untuk di jual.
7. Proses packing
Gula Produk dikeringkan di talang goyang dan juga diberikan hembusan
uap kering. Produk gula setelah mengalami proses pengeringan dalam talang
goyang, ditampung terlebih dahulu ke dalam sugar bin, selanjutnya dilakukan
pengemasan atau pengepakan. Berat gula dalam pengemasan untuk masingmasing pabrik gula tidak sama, ada yang per sak plastiknya 25 kg atau 50 kg.
Setelah itu gula yang berada di sak plastik tidak boleh langsung dijahit, harus
dibuka dulu supaya temperatur gula dalam sak plastik mengalami penurunan
suhu/temperatur. Suhu gula dalam karung tidak boleh lebih dari 30 oC/suhu kamar,
setelah gula dalam plastik dinyatakan dingin maka boleh dijahit. Jika gula dalam
sak plastik dalam keadaan panas dijahit maka berakibat penurunan kualitas gula.

25

BAB V
PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Dari hasil analisis terhadap kelayakan proyek pabrik gula di Kabupaten
Ogan Ilir, maka penulis mengambil kesimpulan dari aspek teknis produksi dan
teknologinya, dipertimbangkan dari harga lahan, bahan baku yang tersedia, sarana
transportasi, ketersediaan tenaga kerja yang banyak, sarana dan pra sarana serta
fasilitas pendukung lainnya telah memenuhi syarat yang telah ditentukan.
Sehingga proyek pabrik gula ini layak untuk didirikan, ditinjau dari aspek teknis
produksi dan teknologinya.
5.2. Saran

26

1. Karena produk yang dihasilkan adalah gula maka kebersihannya harus lebih
dijaga agar dapat menarik minat konsumen.
2. Sebaiknya dilakukan promosi yang lebih efektif dan membuat kemasan
yang menarik agar banyak konsumen yang tertarik.

DAFTAR PUSTAKA
_______.2010.
Aspek-Aspek
Studi
Kelayakan
Bisnis.
https://www.google.co.id/url?
sa=t&source=web&rct=j&ei=ioQeVcGFA4aOuATEzoGwDg&url=https://s
kbagb.files.wordpress.com/2010/10/3-aspek-aspekskb.pdf&ved=oCBsQFjAB&usg=AFQjCNHBk5z9hnIsX1cbNWSo
VF5bNn54Xg. Diakses 31 Maret 2015.
Fikri,

Iqbal
Fawaid.
2013.
Aspek
Teknik
dan
Teknologi.
http://iqbalfawaidfikri.blogspot.com/2013/04/aspek-teknik-danteknologi.html?m=1. Diakses 1 April 2015.

Husnan, Saud dan Suwarsono. 2000. Studi Kelayakan Proyek : Konsep, Teknik
dan Penyusunan Laporan. UPP AMP YKPN, Yogyakarta.
Ibrahim, Yacob. 2003. Studi Kelayakan Bisnis Edisi Revisi. Rineka Cipta.
27

Jannah,
Risqiyatul.
2014.
Aspek
Teknis
dan
http://kikyrisqiyatulj.blogspot.com/2014/06/aspek-teknis-danteknologi.html?m=1. Diakses 2 April 2015.

Teknologi.

Nugroho, Radityo Kusumo Hikmah Adi. 2012. Analisis Kelayakan Usaha


Pendirian Rumah Makan Ibu Sri. Universitas Gunadarma, Depok.
Sirait, Hasanudin. 2008. Aspek Teknis Proyek. https://www.gogle.co.id/orl?
sa=t&source=web&rct=j&ei=YYweVfDALMyuATmuoLQBg&url=http://siraits.files.wordpress.com/2008/01/aspek_
tek2.pdf&ved=oCBsQFjAA&usg=AFQjCNH_LVPGVsFpXCJj8QwBhtaeK
cQR9w. Diakses 1 April 2015.

28