Anda di halaman 1dari 75

1

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Maksud dan Tujuan


Maksud dari praktikum Makro Paleontologi ini adalah sebagai salah
satu syarat kurikulum semester dua pada Jurusan Teknik Geologi, Fakultas
Teknologi Mineral Institut Sains dan Teknologi AKPRIND Yogyakarta.
Tujuan dari praktikum ini adalah :
1. Dapat mengetahui kehidupan makhluk hidup di masa lampau yang sudah
berupa fosil.
2. Dapat menetukan taksonomi dari berbagai phylum secara jelas dan
terperinci.
3. Dapat mengetahui bagaimana bentuk dari berbagai phylum yang telah
menjadi fosil.
1.2. Metode Penelitian
1. Dengan cara mengamati bentuk bentuk fosil dan dideskripsi.
2. Menggambar bentuk dan bagian fosil secara terperinci.
3. Menentukan / mendeskripsikan kehidupannya di masa lampau.
4. Mengetahui taksonominya dengan cara menentukan Phylum, Class, Ordo,
Family, Genus, dan Species.
1.3. Tempat dan Waktu Pratikum
Tempat
1. Laboratorium IST AKPRIND, Jalan I Dewa Nyoman Oka 32, Kotabaru,
Yogyakarta. Praktikum Makro Paleontologi.
2. Sangiran, Sragen Study Ekskursi Geologi pada mata kuliah Makro
Paleontologi.
Waktu
1. Praktikum Makro Paleontologi setiap hari Kamis pukul 13.00 WIB.
2. Study Ekskursi Sangiran pada hari Sabtu, 29 Mei 2010
1

BAB 2
DASAR TEORI PALEONTLOGI

2.1. Pengertian Paleontologi


Ilmu Palentologi adalah bagian dari ilmu Biologi. Di dalam ilmu Biologi
terbagi atas zoologi dan botani. Zoologi adalah bagian ilmu Biologi yang
mempelajari tentang binatang termasuk didalamnya manusia. Sedangkan Botani
mempelajari tentang tumbuh - tumbuhan. Berkaitan dengan hal tersebut, Biologi
masih bisa dibedakan lagi berdasar pada apakah kehidupan tersebut masih ada
atau sudah mati atau punah. Neontologi adalah ilmu yang memepelajari makhluk
yang masih hidup sampai sekarang, sedangkan Paleontologi mempelajari
kehidupan masa lampau. Sehingga Paleontologi dapat diartikan sebagai ilmu yang
mempelajari tentang kehidupan masa lampau.
Dalam perkenbangannya ilmu Paleontologi merupakan bagian penting
dari ilmu Geologi, dalam hal ini membantu menyingkapkan beberapa misteri di
alam berkaitan dengan gejala gelogi dan proses evolusi kehidupan. Perbedaan
yang nyata antara Neontologi dan Paleontologi adalah bahwa Paleontologi
mempelajari secara nyata proses evolusi, sedangkan Neontologi memberikan
praduga proses evolusi.
2.2. Sejarah Paleontologi
Sejarah ilmu Paleontologi dimulai oleh seorang Perancis Abbe GirandSaulavie (1777) setelah melakukan penelitian pada lapisan batugamping. Dari
hasil penelitiannya tersebut kemudian membuat suatu prinsip mengenai
paleontologi yaitu : Jenis - jenis fosil itu berada sesuai dengan umur geologinya:
fosil pada formasi dibawah tidak sama dengan lapisan yang di atas (terjemahan
dari buku Paleontologi Invertebrata, Permonowati, 1997). Prinsip Abbe GiraudSaulavie ini dikenal dengan hukum Faunal succesion atau Urut - urutan fauna.
Setelah itu sejalan dengan perkembangan ilmu biologi muncul Baron
Cuvier (1769 - 1832) yang menyusun tentang Sistematika Paleontologi. Dengan

disusunnya sistematika tersebut membuat penyelidikan-penyelidikan paleontologi


dapat lebih terarah.
Peneliti selanjutya adalah William Smith (1816) yang memperkenalkan
prinsip Strata Identified by Fossils. Adapun terjemahan dari pernyataannya adalah
bahwa lapisan yang satu dapat dihubungkan dengan lapisan lainnya dengan
berdasar pada kesamaan fosil (Smith, 1817 vide Paleontologi Invertebrata dari
Permonowati).
Perkembangan yang makin maju didalam bidang Paleontologi membuat
C.R. Darwin (1809 - 1882) mengeluarkan hipotesa evolusi. Pernyataannya yang
dikenal adalah Perubahan makhluk hidup disebabkan oleh adanya faktor seleksi
alam. Pernyataan tersebut memperkuat hipotesa yang dikeluarkan oleh Lamark
(1774 - 1829) bahwa Fana melakukan perubahan diri untuk beradaptasi dengan
lingkungannya.
2.3. Fosil
2.3.1. Pengertian Fosil
Dalam mempelajari ilmu Paleontologi, tentunya dibutuhkan suatu data data yang mendukung. Data - data adalah fosil. Fosil sendiri dapat diartikan
sebagai sisa atau jejak kehidupan masa lampau yang terawetkan. Fosil dapat
ditemukan pada lapisan batuan maupun lapisan tanah. Berdasar pada pengertian
tesebut, maka sisa peninggalan manusia purba baik berupa tubuhnya sendiri
maupun jejak kebudayaannya termasuk fosil pula.
Fosil adalah jejak / sisa kehidupan baik langsung / tidak langsung
terawetkan dalam lapisan kulit bumi, terjadi secara alami dan mempunyai umur
geologi ( > 500.000 tahun ).
Fosil dalam Paleontologi terbagi menjadi 2 jenis, yaitu :
- Fosil Makro/besar (Macrofossil)
> dapat dilihat dengan mata biasa (megaskopis)
- Fosil Mikro/kecil (Microfossil)
> hanya dapat dilihat dengan bantuan alat mikroskop (mikroskopis)

Tabel 1. Skala waktu geologi

2.3.2. Tujuan Dan Manfaat Fosil


Kegunaan fosil didalam bidang geologi sangat banyak manfaatnya
diantara manfaat - manfaat tersebut antara lain :
A. Melakukan Korelasi
Korelasi yaitu menghubungkan lapisan - lapisan yang memiliki umur
yang sama. Untuk mengetahui umur yang sama biasanya dengan menggunakan
fosil, sehingga fosil juga dapat untuk menentukan umur satuan batuan. Korelasi
sendiri biasanya menggunakan kesamaan dari kandungan fosilnya.

Gambar 1. Principle ofbiostratigraphic correlation

B. Menentukan Umur Relatif


Species - spesies tertentu kadang memiliki masa hidup yang pendek.
Fosil - fosil tersebut dapat dipergunakan untuk menetukan umur suatu batuan.
Penentuan umur dengan fosil dapat dilakukan dengan menggunakan fosil indeks.
Tetapi fosil indeks memiliki beberapa syarat tertentu, yaitu : a) Penyebaran lateral
luas, b) Penyebaran vertikal (umur) pendek dan c) mudah dikenal.
Selain menggunakan fosil indeks dapat juga menggunakan kisaran umur
dari sekumpulan fosil pada suatu lapisan batuan (Zonasi Blow).
C. Menetukan

Lingkungan

Pengendapan

(Paleoenvironment

&

Paleogeografi)
Dimasa hidupya, organisme hidup di lingkungan tertentu. Berdasarkan
hal tersebut, maka foil dapat digunakan untuk menentukan Paleoenvironment dan
Paleogeografi. Fosil yang dapat digunakan untuk hal tersebut harus insitu atau
belum mengalami proses transportasi. Contoh : Mollusca darat, Koral (laut
dangkal).
D. Menentukan Paleoklimatologi
Kehidupan suatu organisme sangat dipegaruhi oleh ekologi dimana dia
dapat hidup. Salah satu faktor pengontrol ekologi adalah iklim, sehingga
keberadaan fosil dapat digunakan untuk menentukan iklim masa lampau
(paleoklimatologi).
E. Membantu Penentuan Struktur Geologi Dan Posisi Stratigrafi
Pada fosil yang mengalami trasportasi, biasanya menunjukkan orientasi
arah tertentu akibat dari faktor sedimentasi. Dengan adanya orientasi tersebut kita
dapat menetukan struktur geologi dan juga posisi stratigrafi.
F. Mengetahui Evolusi Kehidupan

Mengacu pada teori Darwin, bahwa makhluk hidup akan mengalami suatu
proses evolusi, maka perkembangan kehidupan dapat diketahui dari zaman ke
zaman.
2.3.3. Lingkungan Kehidupan Organisme
Ada tiga kehidupan, yaitu : udara, darat dan air. Kondisi kehidupan di
udara dapat diabaikan, karena kehidupan yang mati pasti jatuh ke darat atau ke air.
2.3.3.1. Lingkungan Darat
Organisme yang hidup di lingkungan darat biasanya sangat sulit untuk
terawetkan, hal ini disebabkan mudahnya terjadi proses pembusukan. Lingkungan
darat terdiri atas : flood plain, gurun, pegunungan, dataran, dan sebagainya.
2.3.3.2. Lingkungan Air
Berbeda

dengan

lingkungan

darat,

banyak

organisme

dalam

kehidupannya membutuhkan air dalam jumlah yang banyak. Hal inilah yang
mengakibatkan sebagian besar organisme ditemukan hidup dilingkungan air.
Lingkungan air terdiri atas : sungai, danau, dan laut. Dari ketiga lingkungan
tersebut, lingkungan laut merupakan lingkungan sedimentasi yang paling banyak
ditemukan fosil. Secara umum lingkunagn laut dibagi atas : neritik, bathyal, dan
abyssal.
A. Litoral, merupakan zona gelombang dan dekat dengan pantai. Organisme
yang terawetkan biasanya yan bertubuh lunak seperti algae. Sifat sedimen
biasanya kasar, sehingga fosil jarang dijumpai.
B. Neritik, merupakan lingkungan laut dengan kedalaman berkisar 0 - 200
meter. Kondisi ekosistemnya adalah sinar matahari masih tembus, air terlihat
jernih, biasanya terjadi simbiosis dan berkoloni, proses sedimentasi halus dan
banyak dijumpai fosil, koral tumbuh dengan baik.
C. Bathyal, merupakan lingkungan laut dengan kedalaman berkisar 200 - 2000
meter. Pada zona ini matahari sudah tidak dapat menembus kecuali pada
bagian atas, shingga berupa zona yang gelap. Tumbuh - tumbuhan tidak dapat

melakukan fotosintesa. Fosil yang dijumpai umumnya adalah bersifat


plangtonik sedangkan benthonik jarang dijumpai. Pada lingkungan ini unsur
karbonat biasanya akan terlarutkan karena ada zona CCD (Carbonate
Compentation Depth).
D. Abyssal, merupakan lingkungan laut dengan kedalamna lebih dari 2000
meter. Zona yang sangat gelap dan dingin, tumbuh - tumbuhan tidak atau
sangat jarang hidup.

Gambar 2. Zona bathymetri laut

- Litoral

=05m

- Batyal

= 200 2000 m

- Epineritik

= 5 50 m

- Abyssal

= 2000 5000 m

- Neritik

= 50 200 m

- Hadal

= > 5000 m

Organisme sendiri dalam kehidupan di air mempunyai cara tersendiri, yaitu :


A. Planktonik, organisme ini hidupnya pada permukaan air. Pergerakannya
sngat dipengaruhi ole arus, terdiri :
Fitoplangton, kemampuan menghasilkan makan dari fotosintesa atau
autotropik. Contoh : Coccolithofora, Diatomae, Dinoflagelata.
Zooplangton, tidak dapat menghasilkan makanan sendiri, memakan
fitoplangton, bersifat heterotropik. Contoh : Foraminifera, Radiolaria,
Graptholit.

Meroplangton, pada usia muda sebagai plalngton, kemudian bebas pada


saat dewasa. Contoh : Mollusca.
Pseudoplangton, organisme tersebar karena arus dan gelombang, namun
menambat pada rumput laut, kayu dan sebagainya. Contoh : Bernakel,
Brachiopoda.
B. Benthonik, organisme merayap di dasar laut, dapat dipermukaan suubstratum
ataupun di bawah. Terdiri atas :

Sesil, menambat pada dasar. Contoh : Brachiopoda, Crinoida.

Vagyl, di dasar laut & berpindah-pindah


Contoh : Cacing.

C. Nektonik, organisme ini mampu berenang bebas dan bergerak tidak


tergantung oleh arus dan gelombang. Contoh : Cephalopoda, Ikan, Mamalia
Laut.
2.3.4. Proses Pemfosilan
Fosil - fosil yang ditemukan baik yang utuh maupun tinggal jejaknya saja
hanyalah merupakan bagian kecil dari suatu kehidupan yang pernah ada di masa
lampau. Hal ini disebabkan bahwa tidak semua kehidupan masa lampau dapat
terawetkan. Banyak faktor yang mempengaruhi dapat atau tidak terbentuknya
proses pemfosilan.
2.3.4.1. Faktor - faktor Perusak
Merupakan faktor - faktor yang mencegah terjadinya proses pemfosilan,
yaitu :
A. Biologi, pada faktor ini adalah kehidupan yang menjadi mangsa organisme
lainnya. Kondisi ini mengakibatkan organisme yang dimangsa tidak dapat
terawetkan.
B. Fisika, organisme yang mati bisa terawetkan apabila lingkungannya
mendukung proses pemfosilan. Lingkungan dimana organisme mati biasanya
terjadi proses sedimentasi yang sangat berpengaruh untuk terjadi atau

tidaknya proses pemfosilan. Sedimentasi dan material yang sangat kasar


biasanya akan merusak tubuh organisme, sehingga mencegah terjainya proses
pemfosilan.
C. Kimia, tubuh keras dari organisme biasanya mengandung unsur - unsur kimia
yang mudah larut dalam air. Terlarutnya unsur - unsur tersebut kadang
merusak bentuk shellnya, sehingga mencegah terjadinya proses pemfosilan.
2.3.4.2. Syarat Terjadinya Pemfosilan
Walaupun ada beberapa faktor yang bersifat merusak terjadinya proses
pemfosilan, tetapi ada beberapa faktor yang dapat mendukung terjadinya proses
pemfosilan.
A. Organisme yang mati tidak menjadi mangsa organisme lainnya.
B. Memiliki bagian tubuh atau rangka yang keras (resisten). Misal shell pada
Pelecypoda, Gasropoda, Brachiopoda, dan sebagainya.
C. Rongaa - rongga pada bagian yang keras dimasuki zat kersik sehingga
merubah struktur kimiawi tanpa merubah struktur fisik.
D. Diawetkan / tertimbun oleh lapisan es. Misal fosil mammout yang
diketemukan di Siberia.
E. Kejatuhan / tertingkupi oleh getah. Misal serangga yang masih terlingkup
getah resin di daerah Baltic (Eropa).
F.

Organisme jatuh di lingkungan anaerob (kekurangan O 2) sehingga tidak


mengalami proses pembusukan.

TATA CARA PENAMAAN


1.

Penamaan Family
= diikuti oleh akhiran idae
ex : Miliolidae (ditulis huruf tegak)

2.

Penamaan Genus
= Terdiri dari 1 suku kata & diawali huruf besar, ditulid miring/digarisbawahi
ex : Globorotalia atau Globorotalia

3.

Penamaan Spesies

10

= Nama genus + 1 suku kata (ada 2 suku kata)


Kata yang pertama ditulis huruf besar & kata kedua ditulis huruf kecil
ex : Globorotalia tumida atau Globorotalia tumida
4.

Penamaan Sub-spesies
= Nama spesie + 1 suku kata (ada 3 suku kata)
ex : Globorotalian tumida flexuosa

-.

Untuk nama spesies & sub-spesies : dapat diikuti nama tempat/orang pertama

yang menemukan
ex : Nummulites Djogdjakartae
Lepidocyclina subandri
2.3.4.3. Jenis Pemfosilan
A. Unaltered remains, merupakan fosil yang terawetkan utuh, meliputi tubuh
lunak maupun tubuh keras dan bersifat insitu. Contoh fosil mammouth dan
Rhinoceros didalam endapan es di Siberia.

Gambar 3. Fosil yang dihasilkan dari organisme itu sendiri

B. Altered remains, merupakan jenis pemfoisilan dimana unsur - unsur kimia


didalam tubuh organisme telah terubah baik secara keseluruhan maupun hanya
sebagian. Proses tersebut dapat berupa :

11

Permineralisasi, terisisinya pori - pori oleh mineral kalsit, silika, fosfat, dan
sebagainya tanpa merubah bentuk struktur cangkang atau tulang.
Replacement, tergantikannya unsur - usur kimiawi didalam bagian keras /
rangka oleh mneral lain tanpa merubah bentuk asli dari shell / rangka.
Leaching, terlarutnya unsur - unsur kimia yang ada sehingga sdikit merubah
bentuk asli dari shell / rangka.
Destilasi, hilangnya unsur nitrogen, oksigen dan hidrogen didalam cangkang
/ shell yang tergantikan oleh lapisan tipis karbon.
Hostometabesis, terubahnya unsur - unsur kimia pada fosil tumbuh tumbuhan.
C. Impression, merupakan sisa tubuh organisme yang terletak pada lapisan
batuan. Cetakan tesebut dapat berupa :
Internal mold, cetakan langsung dari bagian dalam cangkang / tubuh
organisme.
Eksternal mold, cetakan langsung dari bagian luar cangkang / tubuh
organisme.
Internal cast, cetakan dari mold yang memperlihatkan bagian dalam dari
cangkang / tubuh organisme.
Eksternal cast, cetakan dari mold yang memperlihatkan bagian luar dari
cangkang / tubuh organisme.

12

Gambar 4. Fosil yang berupa cetakan

D. Fosil Jejak, organisme selama hidupnya melakukan suatu aktivitas. Sisa


aktivitas organisme ini dapat terawetkan menjadi suatu fosil, berupa :

Coprolite, merupakan kotoran binatang yang terfosilkan.

Trail, jejak ekor dari binatang. Track, jejak kuku binatang. Foot print, jejak
kaki.

Burrows dan Boring, jejak berupa tempat tinggal binatang yang berbentuk
lobang - lobang.

Gambar 5. Fosil jejak

2.4. Terdapatnya Fosil


Dari urutan tersebut diatas terlihat bahwa tidak semua batuan dapat
dijumpai atau terdapat fosil. Hanya pada lngkungan tertentu saja yang
kemungkinan besar suatu organisme dapat menjadi fosil. Dimana didapatkan
fosil?
1. Batuan Beku
Batuan Beku adalah batuan yang terjadi dari hasil pembekuan magma.
Magma adalah cairan silikat kental yang berasal dari dalam bumi yang bersuhu
tinggi. Sehingga tidak memungkinkan suatu organisme dapat hidup pada kondisi
tersebut. Dengan demikian tidak mungkin dijumpai fosil pada batuan beku.

13

2. Batuan Metamorf
Batauan Metamorf adalah batuan yang terjadi sebagai akibat ubahan
batuan lain (batuan beku, bautan sedimen atau batuan metamorf) oleh peroses
metamorfose. Jika batuan metamorf itu berasal dari batuan beku maka tidak akan
dijumpai fosil.
Jika batuan metamorf itu berasal dari batuan sedimen maka kemunkinan
masih akan dijumpai fosil. Contoh : pada marmer kadang kala masih tampak
adanya fosil.
Sedangkan bila batuan metamorf itu berasal dari batuan metamorf maka
kemungkinannya sangat kecil ditemukan fosl, dan bila dijumpai biasanya sudah
rusak. Disamping itu juga tergantung pada tingakt metamorfosenya.
Metamorfose tingakat rendah kemungkinan masih dijumapi fosil,
sdangkan pada metamorfose tingkat tinggi biasanya tiadak dijumpai adanya fosil.
3. Batuan Sedimen
Diantara ketiga jenis batuan maka pada batuan sedimen yang paling
besar kemungkinannya dijumpai fosil. Tetapi semua batuan sedimen ternyata tidak
mengandung fosil. Batuan sedimen berbutir kasar seperti konglomerat dan breksi
ternyata jarang atau tidak mengandung fosil. Batuan ini terdapat pada arus yang
deras sehingga dapat menghancurkan sisa fosil. Apabila sisa organisme tadi
tersimpan dalam konglomerat / breksi maka oleh air tanah yang melalui rongga rongga ini akan terlarutkan sisa organisme tersebut. Akibatnya tidak akan
dijumpai fosil.
Batuan sedimen yang berbutir sedang seperti batupasir akan baik dalam
menyimpan fosil. Tetapi karena batupasir ini adalah batuan yang baik dalam
mengalirkan dan menyimpan air dan apabila terdapat fosil juga akan larut oleh air
tanah. Sehingga batupasir akan ditemukan bekas / tikas saja berbentuk cetakan.
Sedangkan pada batuan sedimen yang berbutir halus seperti napal dan
batulempung adalah batuan yang sangat baik sebagai penyimpan fosil. Batuan

14

yang berbutir halus ini akan membentuk cetakan terkesan yang menyerupai
aslinya.
BAB 3
PHYLUM PORIFERA

3.1. Dasar Teori


Porifera (Latin: porus = pori,fer = membawa) atau spons adalah hewan
multiseluler yang paling sederhana. Binatang bersel banyak (multiselluler) yang
sederhana dibanding phylum lainnya.

Gambar 6. Porifera

Phylum Porifera merupakan yang bersel banyak dengan struktur tubuh


paling sederhana dibandingkan dengan metazoa lainnya. Hidup dengan
menambatkan diri (sessile) pada benda - benda dilingkungan aquatik. Terutama
hidup di laut, dengan cara berkoloni yang besar. Hanya sedikit yang hidup di air
tawar. Porifera mulai muncul sejak zaman Kambrium dan masih dijumpai sampai
sekarang (resen).
Binatang ini tersusun oleh sel - sel yang kecil, namun sudah memiliki
tugas dan fungsi sendiri -sendiri (diferensiasi). Ciri binatang yang memiliki
tingkatan yang lebih tinggi dari Protozoa. Porifera paling sederhana berbentuk
seperti pot bunga dengan bagian alasnya melekat pada dasar laut dan bagian
atasnya membuka.
Lapisan terluar terdiri dari sel -sel pipih, disebut ectoderm (epidermis),
berfungsi melindungi bagian yang ada dibawahnya atau didalamnya. Diseluruh
permukaan ecetoderm terdapat pori - poriyang disebut ostia, merupakan lobang

14

15

bagi keluar masuknya air yang kemudian melalui saluran atau kanal. Lapisan
terdalam (endoderm) melapisi dan membatasi ruang tengah (spongocoel) dengan
kamar - kamar serta bagian saluran. Pada kanal terdapat flagel - flagel yang
berungsi untuk membawa masuk makanan melalui ostia, kanal dan sampai
akhirnya pada spongocoel. Setelah makanan diserap kemudian sisanya dibuang
melalui lobang pada ujungnya yang disebut osculuna. Bagian yang menyerap
makanan adalah sel - sel endoderm pada spongocoel.

Gambar 7. Jenis & bagian - bagian dari tubuh Porifera

Lapisan atau ruang yang terdapat antara endoderm dan ektoderm disebut
mesoglea (mesenchyme), diisi oleh cairan protoplasma. Disamping itu didapatkan
pula spiculae - spiculae yang berfungsi sebagai penguat rangka dan terbentuk oleh
sel - sel sceleroblast dan dapat tersusun dari silika, kalsium atau spongin.
Mesoglea berfungsi untuk mengangkut makanan, membentuk sel - sel
perkembangbiakan dan bahan - bahan penguat rangka (spiculae).
Atas dasar bentuk dan jumlah sumbunya, spiculae dibedakan empat
macam bentuk, yaitu Monaxon, Tetraxon, dan Polyaxon, yang kesemuanya
penting dalam klasifikasi. Sponsa sangat jarang yang dapat terawetkan, sehingga
sulit sekali dilakukan pengamatan dengan teliti. Walupun begitu beberapa
diantaranya merupakan fosil penunjuk yang sangat penting. Disamping itu pada
porifera dikenal pula tiga sistem saluran (Canal sistem) yaitu Ascenid, Syconoid,
dan Leuconoid.

16

Gambar 8. Spiculae porifera

Bagian-bagian tubuh Porifera


1. Dasar
2. Stem/tangkai
3. Ectoderm (lapisan luar) yang keras, terhadap spine/node
4. Mesinchyne (cairan), berfungsi sebagai darah
5. Bulu getar, untuk menggerakkan air keluar melalui osculum & sebaliknya
6. Canal : saluran air masuk ke dalam tubuh
7. Spongecoel : rongga dalam tubuh, terjadi proses OAMOSE
8. Osculum : lubang yang berfungsi sebagai anus
9. Endoderm (Gastrodermis) : sebagai perut & alat pernafasan
10. Spicule : tdp di dalam Mesinchyne, merupakan masa pejal yang berfungsi
sebagai penguat & bersifat :
- Calcareous : CaCO3 (putih)
- Opaque Silica : H2Si3O7 (kuning kehitaman)
Berdasarkan bentuknya, Spiculae yang berfungsi sebagai penguat tubuh terbagi
menjadi :
a. Monaxon

: bentuk 1 arah

b. Triasen

: bentuk 3 arah

c. Tetraxon

: bentuk 4 arah

17

Gambar 9. Bagian-bagian tubuh Porifera

Atas dasar bentuk dan jenis material penyusun spiculanya, maka filum ini
dibagi menjadi empat klas, yaitu :
1.
2.
3.
4.

Klas Calcarea (Calcispongia)


Klas Hexactinellida (Hyalospongia)
Klas Demospongia
Klas Pleospongia

1. Klas Calcarea
Sponge dari klas ini dibedakan dengan semua sponge lainnya oleh
kerangka dan spicule yang bersifat calcareous (gampingan). Material gampingan
sebagian besar adalah kalsit, aroganit, dan sejumlah kecil magnesium karbonat.
Sponge dari klas ini semuanya menunjukkan tiga tipe struktur yaitu asconoid,
sysconoid dan leuconoid. Semua asconoid sponge dan sysconoid sponge termasuk
klas ini. Mereka biasanya kecil, jarang lebih dari 15 m tingginya dan umurnya
hidup secara soliter berbentuk vas.
Sponge calcareous yang hidup adalah khas marine dan mempunyai
penyebaran yang luas di dunia. Hidup dalam laut dangkal (Neritic zone) dan
beberapa diantaranya ada yang di daerah pasang surut. Yang mewakili Klas
Calcarea ini sangat buruk terawetkan sebagai fosil.
Klas ini dibagi menjaadi 2 (dua) ordo :
1.1. Ordo Homocoela
Mempunyai dinding yang tipis, dengan bagian dalam tidak terlipat,
struktur ascenoid, kerangka tidak terawetkan, apabila dijumpai sebagai fosil
sedikit dan tidak lengkap.
Contoh : Leucosolenia
1.2. Ordo Heterocoela

18

Mempunyai dinding yang tebal, dengan bagian dalam terlipat, struktur


syconoid dan leuconoid, kerangka berkembang dengan baik dan didapatkan dalam
bentuk fosil.
Contoh : Girtyocoela (Pennsylvanian / Karbon Atas)
Tremacystia (Cretaceous / Kapur)
Petrosoma
Eudea
(Trias Jura)
2. Klas Hexatinellida
Hexactinellida atau glass sponge dibedakan dari semua sponge lainnya
dari speculenya yang siliceous. Kerangkanya seperti gelas terdiri dari specule
yang terpisah, bersama dengan jaringan spicule yang rapat membentuk sebuah
struktur yang agak tegar/kaku. Spicule ini tersusun oleh asam silica (opaline
silica) yang mengandung sejumlah kecil zat organik yang disebut spiculin.
1. Struktur Lyssucine
Struktur yang dibentuk oleh jaringan sumbu - sumbu hexaxon sehingga
memberikan struktur yang tidak beraturan.
2. Struktur Dictyonine
Struktur jaringan tiga dimensi pada sumbu hexaxon yang teratur yang terpadu
pada semua ujungnya dalam enam arah. Struktur ini relativ tegar dan
mempunyai jaringan yang berbentuk teratur.
Klas ini dibagi menjadi 2 ordo :
2.1.
Ordo Lyssacina
Kerangka dengan struktur Lysssacine.
Contoh : Hyalanema
Euplectella
Protospongia (Kambrium)
Hydnoceras (Devon)
2.2. Ordo Dictyonina
Kerangka dengan struktur dictyonine.
Contoh : Hexactinella
Ventriculites (Kapur)
3. Klas Demospongia
Demospongia termasuk sponge yang tidak mempunyai spicule. Sistem
saluran air leuconoid. Banyak sponge yag hidup termasuk dalam klas ini, dan ada
yang tercatat sebagai fosil yang berumur Kambrium.

19

Gambar 10. Golongan Demospongea yang telah memfosil

Klass ini dibagi menjadi 3 ordo :


3.1. Ordo Tetractinellida
Demospongia dengan kerangka yang bersumbu dua dan empat siliceous
spicule. Kerangka dibentuk oleh penggabungan dari bebrapa spicule yang disebut
lithistid dan terawetkan. Oleh banyak paleontologist dipisahkan dalam ordo
tersendiri (Lithistida), karena pentingnya sebagai fosil.
Contoh : Siphonia (Kapur)
Astylospongia (Silur)
Cylindropyma (Jura)
Doryderma (Kapur)
Jereica
(Kapur)
3.2. Ordo Monaxonida
Monaxoid sponge mempunyai kerangka siliceous. Spicule terpencar
melaluai mesenchyme. Ketika binatang ini mati mereka menjadi bagian endapan endapan didasar. Sebagian besar siliceous sponge marine yang hidup termasuk
pada ordo ini, spiculenya adalah ciri dari material sedimen dasar laut. Sponge air
tawar (Spongillidae) juga termasuk dalam ordo ini. Spiculenya ipis dan umumnya
dalam endapan sungai dan danau.
Contoh : Spongilla (Fresh water)
Halicliona (Marine water)
3.3. Ordo Keratosa
Kerangka dari ordo ini terdiri dari spongin fiber dan umumnya
digambarkan seperti tanduk (horny). Sebagian besar horny sponge hidup dalam
batuan, dasar laut dangkal didaerah tropis dan sub tropis. Ordo ini tidak tercatat
sebagai fosil, terkecuali dalam bentuk impression.
Contoh : Euspongia
4. Klas Pleospongia
Pleospongia adalah golongan calcareous berbentuk seperti gelas, sebagai
organisme seperti sponge yang muncul pertama kali dalam Kambrium Awal dan
musnah pada Kambrium Tengah, dan mempunyai penyebaran di dunia yang luas.

20

Plaespongia juga disebut Archaeos, Archaeocyatha, Archaeocyathacea,


Archaeocyathinue dan Cyathospongia.
Nature of skeleton (Sifat kerangka)
Kerangka Pleospongia ini khususnya mempunyai satu atau dua dinding
berbentuk cylindrical atau conical. Ruang antara dinding luar dan dinding dalam
disebut intervallum, yang dibatasi oleh banyak sekat - sekat vertikal dan radial
yang disebut parieties.
Sekat horisontal disebut synapticula yang menghubungkan parieties satu
dengan yang lainnya, dan lapisan tipis yang tidak beraturan (dissipiments) meluas
dari parieties satu ke parieties lainnya. Horisontal tabular plate (tabula) merupakan
sekat tambahan. Kedua dinding berlubang, dinding luar umumnya mempunyai
lubang yang lebih kecil dibanding dinding dalam, dan bagian dalam dari cup-nya
membuka pada dasar. Sebagian besar dari intervallum strukturnya juga berlubang
- lubang.
KLASIFIKASI
Pleospongia dibagi kedalam 4 subclass.
1. Subclass Monocyatha
Berdinding tunggal, mempunyai bentuk conical dengan sekat-sekat dan pori pori.
Contoh : Monocyathus
2. Subclass Archaeocyatha
Mempunyai dinding ganda dengan kerangka conical dan struktur intervallum.
Dibagi menjadi 2 ordo :
1. Ordo Ajacicyatina
Contoh : Ajacicyathus
Archaeocyathellus
Nevadacyathus
2. Ordo Metacyathina
Contoh : Cambrocyathus
Protopharetra
3. Subclass Acanthocyatha
Pleospongia dari subclass ini termasuk golongan yang belum pasti karena
mirip dengan Anthozoa (Koral). Bagian dalam ruangan diisi dengan jaringan
kerangka. Keduanya dinding dan parieties tidak berpori dengan dinding dalam
tidak berkembang dengan baik.
Anggota dari subclass ini merupakan golongan transisi antara Pleospongia
dan Koral
4. Subclass Uranocyatha

21

Pleospongia ini mempunyai bentuk spheroidal, ovoidal dengan sebuah


dinding tunggal tersusun oleh spicule calcareous. Anggota dari subclass ini
akhirnya ditetapkan kedalam Pleospongia lainnya atau mungkin kedalam Class
Calcarea.
SEJARAH GEOLOGI PLEOSPONGIA
Kerangka pleospongia terawetkan dengan baik dan diketahui berumur
Lower Cambrian dan tidak diketahui setelah Middle Cambrian.
Pleospongia tidak diragukan telah ada sepanjang Pre-Cambrian, walaupun tidak
ada fosil yang mewakili itu belum ditemukan. Bahwa mereka adalah bagian yang
penting dari kehidupan benthonik pada awal Cambrian ditunjukkan oleh
kenyataan bahwa lebih dari 450 species (26 families, 8 order dan 92 genera) telah
berkembang sebelum punah.
Pleospongia telah ditemukan bersama-sama deagn brachiopoda (Rustella),
gastropoda (Helcionella dan Scenella) dan algae.
KEGUNAAN PORIFERA DALAM GEOLOGI
Porifera merupakan organisme yang hidup dalam lingkungan air,
semuanya hidup di laut kecuali family Spongocollidae yang hidup di air tawar.
Mempunyai jangka hidup yang panjang dan dikenal sejak jaman Kambrium Sekarang. Hanya beberapa saja yang mempunyai kisaran hidup pendek, misalnya
Girtyocoelia yang merupakan fosil indek yang penting untuk Paleozoic.

Gambar 11. Fosil Porifera

Hidup secara benthos sessile, menunjukkan bahwa ia peka terhadap


lingkungan dimana ia hidup. Sehingga dapat dipakai untuk menentukan
lingkungan sedimentasi batuan yang mengandungnya. Keratosa dan Calcarea
banyak dijumpai pada laut dangkal (kurang dari 450 meter).
Porifera hidup bersimbiose dengan brachiopoda, gastropoda, trilobita dan
algae.

22

Tabel 2. Fosil-fosil Porifera yang telah terekam dalam kurun waktu geologi

23

3.2. Hasil Deskripsi Phylum Porifera

BAB 4
PHYLUM COELENTERATA

4.1. Dasar Teori


Coelenterata berasal dari kata Koilos/Hollow yang berarti cekung dan
Enteron/intestine yang berarti dalam. Sehingga dapat diartikan sebagai binatang
yang mempunyai cekungan (berlekuk) dibagian dalamnya atau disebut juga
semacam kantong berlapiskan endoderm. Phylum ini meliputi golongan
invertebrata yang berjumlah sangat banyak dengan bentuk - bentuk yang sangat
beragam. Perkembangbiakan bisa dilakukan baik secara sexual maupun asexual.
Hidup dilingkungan aquatik secara sesil (menambat) bisa berkoloni maupun
soliter.

24

Dinding tubuh binatang ini tersusun atas tiga lapisan, yaitu : ectoderm,
mesoglea, dan endoderm. Secara umum kehidupan ini memiliki dua bentuk
berbeda yaitu polyp dan medusa. Bentuk polyp dicirikan oleh bentuk menyerupai
tabung, dan biasanya hidup secara menambat dan memiliki satu atau lebih
lingkaran dari tentakel. Mempunyai bagian yang keras, disebut sebagai
Eksoskeleton/Hydrotheca. Bentuk medusa merupakan makhluk yang berenang
dengan bebas, berbentuk seperti payung dan memiliki sejumlah tentakel
sepanjang tepi dari tubuhnya, dengan mulut terletak pada bagian tengahnya.
Dijumpai 2 macam Canal (Circular (berjumlah satu) & Radial (berjumlah empat
& kelipatannya).
Adapun ciri - ciri umum dari Coelenterata :
1. Symetri radial, atau bilateral dengan suatu lobang yang berfungsi sebagai
mulut (oral) dan umumnya dikelilingi oleh tentakel - tentakel (bulu getar).
2. Termasuk fauna invertebrata (tidak bertulang belakang).
3. Dinding tubunya selalu tersusun oleh dua lapisan sel, bagian luar disebut
epidermis (ektoderm) dan bagian dalam disebut gastrodermis (endoderm),
juga ada

lapisan tipis yang disebut mesoglea yang memisahkan antara

epidermis dengan endodermis. Juga adanya nemaatocyst yang merupakan sel


yang kecil pada bagian epidermis.
4. Mulutnya langsung berhubungan dengan rongga gastrovaskuler yang disebut
dengan enteron yang merupakan nama dari filum ini. Rongga tersebut
berfungsi sebagai tempat pendistribusian
makanan. Enteronn ini merupakan
25
bentuk rongga yang sangat sederhana, tetai pada beberapa dapat dijumpai
memiliki ruang - ruang yang terbagi secara radier disebut dengan mesenteries.
5. Coelenterata hanya memiliki jarungan sel - sel sepanjang dinding tubuhnya
yang berfungsi sebagai sistem syaraf.
6. Disekitar mulut tdp tentakel yang berfungsi sebagai anus.
7. Mempunyai 2 bentuk :
- Polyp
: kerangka zat tanduk/karbonat
- Medusa : tidak mempunyai bagian yang keras, dijumpai sebagai fosil hanya
berupa jejak (impression).

25

Gambar 12. Fisiografi bentuk polyp & medusa

PERKEMBANGBIAKAN
1. Sexual (pada Medusa)
Gonad menghasilkan sel jantan & sel betina (hermprodit). Sel jantan
dikeluarkan melalui mulut, berenang masuk ke individu lain yang sama
spesiesnya melalui mulut. Sel jantan & betina akan membentuk zygot, lalu
membentuk larva bercilia, berenang melalui mulut menjadi individu baru
- Pada Polyp : Gastrodermis menghasilkan sel jantan & sel betina.
2. Asexual (hanya pada Polyp)
a. Fision : bagian keras membelah menjadi 2 bagian, tetapi masih saling
menempel.
b. Rejuvenencens : bagian keras membelah jadi 2 bagian dimana masingmasing menjadi individu baru.
c. Budding : pada dinding tubuhnya bisa mengadakan tunas baru, kecuali pada
bagian yang ada sengatnya, biasanya disekitar mulut.

Gambar 13. Skema Perkembangbiakan

Untuk menggolongkan dalam tiap - tiap klas pada filum Coelenterata,


didasarkan atas :
1. Hubungan antara phylogenetic
2. Bagian -bagian tubuh yang lunak
3. Perputaran (siklus) kehidupan termasuk cara perkembangbiakannya.
4. Struktur dan bentuk arsitektur rangka luar
5. Struktur rangka dalam
1. Klas Hydrozoa
Dominan hidup di laut, dengan kantong peryt tidak terbagi. Mulut
dikelilingi tentakel, tetapi bagian dasarnya tidak memiliki gullet (stomadeum

26

seperti Anthozoa). Keturunannya sebagai perubahan antara koloni polyp dengan


medusa. Diameter 2 - 6 mm, medusa kecil sebagai craspedote. Hydrozoa Resen
hidup pada keadalaman 8000 meter.
Sebagian besar Hydrozoa mempunyai tubuh keras yang tersusun ileh zat
tanduk atu zat gampingan (calcareous). Hanya pada bebrapa yang hidup pada air
tawar tidak mempunyai rangka. Hydrozoa diketahui mulai hidup pada zaman
Kambrium. Hydrozoa sendiri dibagi atas empat ordo.
1.1. Ordo Hydroida
Merupakan Hydroida dengan bentuk polyp yang berkembang baik, hidup
secara soliter maupun berkoloni. Walaupun begitu beberapa hydroida ada yang
berbentuk medusa. Bentuk luar dari rangkanya berbentuk dendritik atau seperti
bunga, dan berkomposisi zat tanduk ataupun gampingan yang memungkinkan
terawetkan.
Fosil tertua dari hydroida adalah berumur Kambrium Bawah, yang
ditemukan di Amerika Uatara dan Australia. Tempat hidupnya adalah laut
dangkal. Contoh genus adalah Cryptolaria.
1.2. Ordo Hydrocorallina
Memiliki bentuk polyp, kadang sering disebut juga dengan koral. Dikenal
sebagai salah satu pembenatuk reef (terumbu), memiliki rangka gampingan, serta
tumbuh ke atas secara vertikal.
Bentuk polypnya bermacam - macam dan mempunyai fungsi sendiri,
yaitu gastrozoid (polyp pemakan) dan dactylozoid (polyp berlindung). Hidup di
daerah dengan iklim tropis dan berada di laut dengan kedalaman sampai 30 m.
Tinggi petumbuhan tidak lebih dari 0,5m serta tersusun rangka bersifat gampingan
(calcareous). Merupakan bagian yang cukup berperanan dalam pembentukan coral
reef (terumbu karang). Hidup diperkirakan muncul pada zaman Trias. Contoh
genus Millepora dan Stylaster.
1.3. Ordo Trachylina
Bentuk tubuh berupa medusa dan memiliki velum yang dibentuk dari
ovum. Sebagian besar Trachylina adalah coelenterata yang primitip, terutama
yang terbentuk medusa. Hidup secara pelagic dan pada habitat laut dengan
kedalaman dari permukaan sampai 5000 m dan bersifat hangat. Beberapa ada

27

yang hanya hidup di laut dangkal, bahkan ada yang di air payau maupun tawar.
Karena sifatnya yang lunak, fosil sangat jarang dijumpai. Contoh genus
Kurklandia (Kapur Bawah).
1.4. Ordo Siphonophora
Bentuk polymorphic, hidup berenang maupum menambat. Merupakan
coelenterata dengan tubuh peralihan antara medusa dengan polyp. Hidup dari
Zaman Kmabrium sampai Devon. Contoh genus Plectodiscus ditemukan di New
York.
2. Klas Stromatoporoidae
Tubuh tersusun oleh rangka bersifat gampingan yang disebut dengan
coenosteum. Hidup di lingkungan marine di dasar laut yang dangkal.
Sromatopoidea merupakan kehidupan yang telah punah. Perkiraan punah pada
masa paleozoikum sampai mesozoikum.
Pada masa hidupnya golongan ini membentuk koloni - koloni dengan
tipe - tipe sebagai berikut :
a. Hyrozoid, merupakan koloni yang masif, pipih atau spherical dengan
permukaan atasnya berbuku - buku (noduse).
b. Beatricoid, merupakan koloni yang berbentuk tabung dengan permulaan
luarnya tidak rata (undulating) dengan sebuah sumbu tengah yang berbentuk
tabung pula.
3. Klas Scyphozoa
Scyphozoa merupakan jenis Coelenterata dengan bentuk tubuh medusa.
Hidup secara soliter dan berenang. Tubuhnya berbentuk payung dengan garis
tengah mencapai lebih kurang 2 meter dan mempunyai tentakel yang panjangnya
dapat mencapai 40 meter. Hidup diduga dari Kambrium Tengah sampai Resent,
dimana fosilnya lebih sering dijumpai dalam bentuk cetakan. Dengan ini oleh para
ahli dibagi dalam empat ordo :
3.1.

Ordo Stauromedusae
Hidup secara menambat dengan menggunakan mulut yang bertangkai

pada dasar laut, terdapat didaerah laut yang dingin didekat pantai. Bentuknya
menyerupai piala (goblet - shaped), belum ada fosil yang ditemukan.
3.2.

Ordo Cubomedusae

28

Bentuk tubuhnya menyerupai bel - kubus, memiliki empat atau lebih


tentakel, dengan penyebaran sepanjang laut yang hangat. Fosilnya pertama kali
ditemukan pada Batugamping Solenhofen yaitu Medusina quodrata berumur
Yura.
3.3.

Ordo Coronata
Hidup di laut dalam, fosilnya ditemukan pada Batugamping Bavaria yang

berumur Yura. Contoh fosil adalah Camplostroma roddyi.


3.4.

Ordo Discomedusae
Berbentuk medusa, hidup dengan penyebaran yang sangat luas di laut.

Dikenal sebagai ikan Ubur - ubur. Contoh Rhizostoma yang hidup sampai
sekarang.
4. Klas Anthozoa
Klas ini tersusun oleh sekelompok bunatang yang khusus idup di laut,
mencakup golongan koral dan anemon laut. Kelompok ini mempunyai evolusi
yang sangat cepat sehingga banyak yang spesiesnya mempunyai kisaran yang
pendek dan berguna sebagai fosil index. Melimpah sejak Jaman Ordovician.
Binatang koral, yang biasa disebut sebagi polyp, membentuk rangka luar
yang bersifat gampingan yang disebut coralite, berbentuk cawan atau kantong
yang berkembang ke arah luar maupun kearah atas.
Koral diklasifikasikan berdasar keadaan dan susunan septanya dan
kenampakan rangka yang lain. Sebagai contoh, golongan koral tanduk (horn
coral) yang banyak hidup di Kurun Paleozoik, hanya menyisikan pertambahan
septa hanya di empat lokasi saja sepangjang pertumbuhannya. Oleh karena itu
jenis koral tersebut sebagai tetrakoral. Pada jenis koral paleozoik lain, tabulae
adalah bagian yang paling penting dari theca sedangkan septanya tidak dijumpai.
Koral seperti iini disebut sebagai koral tabulata, yang umunya
membentuk koloni yang menyerupai sarang lebah dan koral yang berbentuk
sebagai rantai (Halysites). Golongan tabulata dan koral tanduk punah pada akhir
Paleozoik. Koral yang berkembang pada Mesozoik dan Kenozoik umumnya
golongan yang memiliki simetri septa lipat enam, oleh karenanya disebut sebagai
golongan Hexakoral dan termasuk kedalam Ordo Sclerectina.

29

Golongan koral hidup pada laut jernih, hangat dan dangkal. Pada masa
kini, koral merupakan pembentuk terumbu utama yang hidup pada kedalaman 15
meter atau kurang. Temperatur yang mereka kehendaki adalah antara 25 C
hingga 29 C dan hanya terdapat mulai lintang 0 (ekuator) hingga 30 LU dan
30 LS. Dalam petumbuhannya membentuk terumbu, koral bersimbiosis dengan
algae, yang memerlukan cahaya matahari untuk melakukan fotosintesis. Hal ini
berakibat bahwa koral umumnya tidak tumbuh pada kedalaman lebih dari 100
meter.
Golongan ini sebagian besar hidup secara soliter, selebihnyaa hidup
secara berkoloni. Mempunyai bentuk tubuh seperti bunga (Anthos), dimana pada
bagian atas tubuhnya terdapat mulut yang dikelilingi tentakel - tentakel. Mulutnya
dihubungkan sampai kebagian dalam tubuhnya (enteron) oleh gullet. Dinding
tubuhnya terdiri dari epidermis, mesoglea dan gastrodermis. Sebagian besar
golongan ini mempunyai eksoskeleton (rangka luar) yang masif. Sedangkan pada
golongan Sea nemones (bunga laut) tidak mempunyai skeleton (rangka).
Hewan ini umumnya terbuat dari zat chitin berbentuk tabung (cup).
Tempat dimana hewan ini tinggal disebut callyx. Strutur rangka disebut theca
atau corallite. Pada theca didapatkan sekat - sekat, merupakan bidang yang
disebut septum. Septa - septa tersebut berguna didalam klasifikasi. Selain itu juga
ada sekat horisontal yang disebut tabula, sedangkan yang horisontal tetapi
terputus - putus disebut dissepiment.
Perkembangbiakan klas ini umumnya bertunas, dimana tunas - tunas
yang baru tumbuh ini tidak dari induknya, jadi membentuk satu koloni.
Perkembangbiakan

dengan bertunas

disebut

lateral

buding, sedangkan

perkembangbiakan dengan sistem membelah diri disebut caicyl dimana tunas tunas baru akan hidup scara soliter.
Anthozoa dipisah menjadi beberapa subklas, yaitu :
4.1.
Sub - klas Octocorallina
Hewan yang berciri khas memiliki 8 buah tentakel dan 8 mesentris.
Memiliki pseudotheca (septal spine) dan koralit - koralit berhubungan satu sama
lain dengan saluran - saluran yang berbentuk tabung. Contoh Tubipora mursica
(resen).
4.2.

Sub - klas Hexacoralina

30

Adalah coral yang hidup berkoloni maupun soliter, dimana ciri khasnya
adalah septanya dalam enam siklus. Contoh Meandrina, Septastrea.
4.3.

Sub - klas Tetracorallia


Tetracorallia ini umumnya hidup secara soliter, walaupun ada yang hidup

secara koloni. Ciri khas golongan ini yaitu memiliki septa yang tersusun didalam
empat kwadran. Bentuk ini kadang - kadang disebut juga dengan rugosa, sering
juga disebut sebagai koral tanduk (horn corals) dan hidup dari Ordovisium Bawah
serta punah pada zaman Perm. Contoh : Zapherentis.
4.4.

Sub - klas Tabulata


Golongan ini hidup pada masa Paleozoikum yang telah punah. Bentuk

tubuhnya dicirikan adanya theca yang berbentuk tabung, tabula sangat banyak dan
berkembang sangat baik. Pada dindingnya ditembusi oleh lobang - lobang halus
disebut mural pores. Contoh Favosites (Ordovisium Bawah - Perm). Halyites
wallychi REED (Silur).
4.5. Sub - klas Schizocorallia
Hidup dari Paleozoikum sampai Mesozoikum dan telah mengalami
kepunahan. Komposisi gampingan, dapat berbentuk sederhana bercabang atau
masif. Yang hidup berkoloni tidak mempunyai septa atau tidak berkembang baik.
Peranan dalam Geologi
Coelenterata merupakan penciri kehidupan terumbu karang di laut,
sehingga kehadirannya sangat membantu dalam penentuan umur dan terutama
lingkungan pengendapannya (lingkungan laut/marine).

31

Gambar 14. Fosil Coelenterata

4.2. Hasil Deskripsi Phylum Coelenterata

32

BAB 5
PHYLUM BRACHIOPODA

5.1. Dasar Teori


Berasal dari bahasa latin :
Bracchium

: lengan (arm)

Poda

: kaki (foot)

Artinya hewan ini merupakan suatu kesatuan tubuh yang difungsikan


sebagai kaki & lengan. Phylum ini merupakan salah satu phylum kecil dari
benthic invertebrates

Gambar 15. Bagian Dalam Tubuh Brachiopoda

Hingga saat ini terdapat sekitar 300 spesies dari phylum ini yang mampu
bertahan & sekitar 30.000 fosilnya telah dinamaiMerupakan organisme yang
hidup di laut dengan cara benthonik. Sebagian besar Brachiopoda hidup di dasar
laut dengan menambatkan diri menggunakan flehy stalk atau pedikel. Bentuk
tubuh Brachiopoda mirip dengan lampu etruscan, sehingga disebut juga dengan

33

kerang lampu. Tubuh dari Brachiopoda tersusun oleh 2 valve mirip dengan
Pelecypoda (Molluska).
Untuk dapat mengenali Brachiopoda, perlu mengetahui ciri fisik secara
umum. Susunan tubuh Brachiopoda terdiri atas tubuh keras (valve) dan tubuh
lunak. Lingkungan hidupnya biasanya terdapat didasar laut pada kedalaman
kurang dari 100 m, dengan menambatkan diri pada tumbuh - tunbuhan atau dasar
laut itu sendiri.
35

Gambar 16 . Valve Brachiopoda

Gambar 17. Perkembangan Valve

34

KLASIFIKASI PHYLUM BRACHIOPODA


1. Klas Articulata/Pygocaulina
Cangkang atas & bawah (valve) dihubungkan dengan otot dan terdapat
selaput & gigi.
2.

Klas Inarticulata/Gastrocaulina
Cangkang atas & bawah (valve) tidak dihubungkan dengan otot dan

terdapat socket dan gigi yang dihubungkan dengan selaput pengikat.

Gambar 18. Berbagai bentuk valve Brachiopoda

SUSUNAN TUBUH
a. Tubuh Keras
Brachiopoda tersusunleh 2 valve, yaitu ventral valve (atas) dan dorsal
valve (bawah), dengan bentuk shell dari Brachiopoda adalah simetri bilateral.
Susunan kedua shell dapat berupa bikonvek, dorsi - konvek, plano - konvek,

35

konkavo - konvek, resupinate dan pseudo - resupinate. Pada salah satu valve
terdapat lobang untuk keluar masuknya pedikel disebut dengan deltryum. Valve
yang memiliki lobang tersebut dinamakan pedikel valve, sedangkan yang lainnya
disebut brachial valve. Bagian kulit kerang yang mula - mula tumbuh disebut
beak (apex), pertumbuhan kedua disebut umbo. Pada pertumbuhan berikutnya
biasanya ditandai dengan adanya growth line.
Dorsal valve dan ventral valve berhubungan satu sama lain dengan
engsel atau hinge line. Pada bagian dalam valve biasana ditemukan bekas - bekas
urat daging yang disebut dengan muscle.

Gamabr 19. Morfologi Brachiopoda

b. Tubuh Lunak
Bagian lunak dari Brachiopoda susunan cukup kompleks. Pada bagian
yang menempel dengan dinding shell terdapat dua buah mantel yang tersusun
oleh kalsit atau ehitnous phospat. Brachipoda sudah dilengkapi dengan alat
pencernaan (visceral) berupa saluran alimnetary dengan mulut, usus, hati, otot dan
jantung yang menutupi perut. Pada tubuhya dijumpai cairan coclom sebagai darah
dan melalui saluran yang disebut dengan vessel. Saluran dan otot ini kadang
meninggalkan jejak pada dinding shell yang bermanfaat bagi taksonomi. Untuk
menangkap makanan. Brachiopoda dilengkapi dengan dua lengan yang fleksibel
disebut lofofor, yang dilengkapi dengan dua buah tentakel dan bulu getar
(brachidium). Pada bagian urat syaraf terdapat 32 kelompok otot yang terbagi atas
: otot aduktor untuk menutup valve, deduktor untuk membuka valve, dan otot
adjustor untuk menggerakkan pedikel.

36

TAKSONOMI
Phylum Brachiopoda dibagi atas dua kelas, yaitu Klas Inarculata dan
Klas Articulata. Pembagian klasifikasi pada Brachiopoda ini didasarkan pada :
1. Ada tidaknya engsel (hinge line)
2. Bentuk dari deltyriumnya (lobang pedikel)
3. Bentuk - bentuk engselnya
4. Bentuk - bentuk dari muscle scarsnya
5. Morfologi dari shellnya (valve)
1. Klas Inarculata
Klas Inarculata hanya terdiri atas dua ordo, yaitu : Lingulida (Atremata)
dan Actrotrelida (Neotremata). Ciri umum Inarculata adalah :
1. Valve terdiri dari Chitinoposphatic (horny phosphatic)
2. Mempunyai lobang anus
3. Urat daging kompeks
4. Tidak mempunyai hinge line (gigi dan soket)
5. Tidak mempunyai pedikel opening

Gambar 20. Inartikulata

1.1. Ordo Lingulida (Atremata)


Dicirikan dengan memiliki bentuk pedikel berupa saluran pedikel
memanjang seperti lidah. Bentuk valve umumnya oval sampai agak membulat
(subrounded). Kemudian dari Kambrium bawah sampai resen.
1.2. Ordo Acrotretida (Neotremata)

37

Ordo Acrotretida memiliki valva pedikel berbentuk tinggi, dengan valva


brachial agak datar. Valvanya berbentuk ellips dengan pertumbuhan valvanya
holoperipheral. Waktu pemunculan dari Kambrium bawah sampai Resen.
2. Klas Articulata
Articulata dicirikan oleh bentuk oval dengan komposisi valva gampingan
tersusun oleh dua valva konvek. Kedua valva dihubungkan oleh adanya hinge line
berupa gigi dan soket. Adanya hinge line ini membuat susunan urat daging pada
Articulata menjadi sederhana.
Penyelidikan terbaru dari Articulata menghasilkan suatu taksonomi baru,
dimana pada saat ini Articulata terdiri atas 6 ordo.

Gambar 21. Articulata

2.1. Ordo Orthida


Memiliki valva bikonvek dengan hinge line lurus pada sejumlah species
berumur Kambrium - Perm. Terdiri atas 2 sub ordo yang dibedakan berdasar pada
struktur cangkangnya.
a. Orthacea.
Memiliki beberapa species pada Ordovisium, pada saat ini memiliki 2 genus
yaitu Orthis dan Platytropia.
b. Dalmanellacea.
Bentuk morfologi luar sama dengan Orthis, rib halus, genus yang ada
Dalmanella. Tersebar melimpah pada Devon.
2.2. Ordo Strophomenida

38

Strophomenida memiliki hingeline yang lurus sampai bagian terluar


cangkang. Permukaan valvanya berupa psedopuctate dengan kombinasi valva
concavo - convex (cembung - cekung). Genus penting : Strophomena, Chonetes
dan Productus.
2.3. Ordo Pentamerida
Pentamerida merupakan perkembangan dari Orthida, bentuk sama.
Permukaan valava tidak berpori, dengan bentuk cembung kuat dan besar, dengan
lingkungan kuat pada cardinallia. Hinge line pendek dan memiliki bukaan
dethyrium pada valva pedikel berbentuk spondvlium. Pentamerida hadir pada
Ordovisium - Perm.
2.4. Ordo Rhynconellida
Ordo ini secara umum dicirikan oleh cangkang berbentuk membulat.
Pada permukaan cangkang terdapat pori - pori dan menjarum. Bentuk hinge line
pada ordo ini pendek. Pedikel valve memiliki sulcus dan lipatan pada beak
protruding yang pendek. Bentuk valva adalah cembung ganda dan sederhana.
Delthryium diperpendek dari samping oleh lempeng deltidial, ada bukaan kecil
biasanya menyisakan dibawah umbo untuk pedikel. Rhynconellida muncul pada
Ordovisium tengah dan melimpah pada Mesozoikum.
2.5. Ordo Spiriferida
Spiferida merupakan kelompok yang besar dan penting. Bentuk
cangkang terlipat dengan rib yang meradial, kombinasi cangkang cembung kuat.
Permukaan cangkang tidak berpori. Ciri khusus ordo ini adalah spiral brachidium.
Pada valva pedikel dipersempit oleh lempengan deltidial. Ordo ini melimpah pada
Ordovisium tengah sampai Perm atas.
2.6. Ordo Terebratullida
Merupakan Brachiopoda yang permukaan cangkangnya berpori dan
halus. Bentuk cangkang terlipat dengan hinge line pendek dan brachidium seperti

39

toop (ancylopegmate). Foramen membulat pada daerah beak. Ordo Terebratullida


muncul pada Ordovisium sampai Resen.

Fosil Brachiopoda & Kegunaannya dalam Geologi


Kegunaan fosil Brachiopoda ini yaitu sangat baik untuk fosil indeks
(index fossils) untuk strata pada suatu wilayah yang luas.
- Contoh fosil dari phylum ini :

Gambar 22. Fosil Brachiopoda

Contoh kegunaan fosil brachiopoda dalam geologi :


Brachiopoda dari Klas Inarticulata ; Genus Lingula merupakan penciri
dari jenis brachiopoda yang paling tua, yaitu Lower Cambrian
Jenis ini ditemukan pada batuan Lower Cambrian dengan kisaran umur
550 juta tahun yang lalu
Secara garis besar, jenis Phylum Brachiopoda ini merupakan hewanhewan yang hidup pada Masa Paleozoikum, sehingga kehadirannya sangat
penting untuk penentuan umur batuan sebagai Index Fossils.

40

5.2. Hasil Deskripsi Phylum


Brachiopoda

41

BAB 6
PHYLUM MOLLUSCA
6.1. Dasar Teori
Mollusca merupakan hewan yang mempunyai bagian tubuh yang lunak
dengan dilapisi oleh bagian kulit yang keras. Hidup dari zaman Kambrium sampai
Resen. Mollusca merupakan golongan invertebrata yang penting dan banyak
jumlah spesiesnya. Habitat dari Mollusca dapat di laut air setengah asam (brackish
water) maupun air tawar.
Mollusca sudah memiliki organ tubuh yang kompleks. Pada bagian
permukaan ventral sudah dilengkapi dengan organ kaki, yang pada beberapa
kelompok digunakan untuk merayap, menggali membuat lobang, berenang, dsb.
Mollusca juga diperlengkapi dengan organ mulut, perut, usus, dan juga anus.

Tabel 3. Peta konsep mollusca

Sifat Umum Phylum Mollusca


1. Mempunyai bagian tubuh yang lunak dengan dilapisi oleh bagian kulit yang
2.
3.
4.
5.
6.
7.

keras
Merupakan golongan hewan yang tidak bertulang belakang
Mempunyai daya adaptasi yang tinggi
Hidup pada air asin, payau hingga air tawar
Muncul dari Zaman Kambrium hingga sekarang
Tubuh Mollusca terdiri dari kaki, massa viseral, dan mantel
Ukuran dan bentuk tubuh Mollusca sangat bervariasi
Pembagian taksonominya dadasarkan atas perbedaan dibandingkan

dibagian yang keras, meliputi ornamen 44


spine maupun bentuk - bentuk test. Juga
didasarkan atas perbedaan pada bagian lunak,seperti sistem urat daging (muscl
system), urat syaraf (nerves), atau bagian halus lainnya.

42

Berdasarkan perbedaan teresebut, Molusca dibagi dalam lima kelas,


yaitu:
1. Klas Amphineura, fosil jarang terdapat (umur : Kambrium-sekarang).
2. Klas Scaphoda, fosil jarang dalam batuan yang lebih tua dari Mesozoik.
3. Klas Pelecypoda, masuk dalam banyak genus & spesies, hidup dari
Ordovisium bawah - sekarang.
4. Klas Gastropoda, fosil melimpah dan terekam luas dari Kambrium - sekarang.
5. Klas Cephalopoda, lazim pada batuan Paleozoik, sangat melimpah pada
Mesozoik.
1. Klas Amphineura
Hewan Mollusca kelas Amphineura ini hidup di laut dekat pantai atau di
pantai. Tubuhnya bilateral simetri, dengan kaki di bagian perut (ventral)
memanjang. Ruang mantel dengan permukaan dorsal, tertutup oleh 8 papan
berkapur, sedangkan permukaan lateral mengandung banyak insang.
Hewan ini bersifat hermafrodit (berkelamin dua), fertilisasi eksternal
(pertemuan sel teur dan sperma terjadi di luar tubuh). Contohnya Cryptochiton sp
atau kiton. Hewan ini juga mempunyai fase larva trokoper.

Gambar 23. Amphineura masa kini

Gambar 24. Fosil Amphineura

43

2. Klas Scaphopoda
Dentalium vulgare adalah salah satu contoh kelas Scaphopoda. Jika Anda
berjalan-jalan di pantai, hati-hati dengan cangkang jenis Scaphopoda ini. Karena
biasanya hewan ini tumbuh di batu atau benda laut lainnya yang berbaris
menyerupai taring.
Dentalium vulgare hidup di laut dalam pasir atau lumpur. Hewan ini juga
memiliki cangkok yang berbentuk silinder yang kedua ujungnya terbuka. Panjang
tubuhnya sekitar 2,5 s.d 5 cm. Dekat mulut terdapat tentakel kontraktif bersilia,
yaitu alat peraba. Fungsinya untuk menangkap mikroflora dan mikrofauna.
Sirkulasi air untuk pernafasan digerakkan oleh gerakan kaki dan silia, sementara
itu pertukaran gas terjadi di mantel. Hewan ini mempunyai kelamin terpisah.

Gambar 25. Fosil Scaphopoda

3.

Klas Pelecypoda (Lamellibranchia)


Hidup dari zaman Ordovisium bawah samai Resen. Ciri utama hewan ini

memiliki test (cangkang) terdiri dari dua buah (bivalve) yang sama besar
(equivalve) dan berbentuk dari zat gampingan. Kedua valve ini dihubungkan satu
sama lain dengan sistem engsel yang terdiri dari gigi dan socket (ruang antar dua
gigi). Bagian dalam test (valve) dilapisi membran yang tipis disebut mantle, yang
mana kearah posterior kulit mantel ini membentuk siphon semacam saluran.
Saluran - saluran tersebut dapat tergabung menjadi tabung besar yang kemudian
dapat dibedakan menjadi dua bagian yaitu :
1. Incurrent siphon, berfungsi untuk memasukkan air + O2 + makanan.

44

2. Excurrent siphon, berfungsi untuk mengeluarkan air dan kotoran.


Pelecypoda yang hidup di lumpur memiliki siphon yan lebih besar dan
pelecypoda hidup di lingkungan laut. Kulit mantle tersebut melekat dipinggir kulit
kerangnya dan biasanya meninggalkan bekas berupa garis yang disebut garis
mantel (pallial line). Untuk menutup shellnya digunakan adductor, biasanya
berpasangan. Adductor ini meninggalkan bekas disebut dengan muscle sear.
Sedanglan untuk membuka shellnya digunakan ligamen berbentuk menyerupai
pita dan bersifat elastis. Sedangkan kelompok pelecypoda yang tidak mempunyai
ligamen menggunakn resilium yaitu cairan yang terdapat pada resilifer berbentuk
segitiga.

Gambar 26. Bagian tubuh pelecypoda

Pelecyoda memiliki alat untuk bergerak yang disebut dengan foot. Posisi
foot terletak pada bagian anteroventral, yaitu dibagian dalam pada ventral-nya.
Foot ini berfungsi untuk berpindah tempat dan menggali.
Pelecypoda juga mempunyai bagian lunak yang disebut dengan visceral,
terdiri dari mooth (mulut), esophagus (usus), stomach (lambung), intestine
(saluran buang), dan anus (lobang pembuangan).

45

Gambar 27. Bagian dalam tubuh pelecypoda

Bagian shell dari Pelecypoda berupa biconvex, tersusunn oleh unsur


gampingan yang dihubungkan dengan dorsal hinge line. Kedua va;ve tersebut
terbagi atas right valve dan left valve. Bagian shell yang tunbuh pertama kali
disebut dengan beak, sedangkan bagian yang tumbuh berikutnya adalah umbo.
Bagian atas atau yang terdapat hinge line kita sebut dorsal, sedang bagian bawah
kita namakan ventral. Bagian yang ditunjukkan oleh pallial sinus disebut sebagai
anterior, bagian lain kita sebut posterior. Selain itu kita dapat melihat pula
besarnya muscle sear-nya, yaitu apabila muscle sear-nya besar bagian tersebut
adalah posterior. Jika hanya ada satu musce sear, bagian yang terdapat muscle sear
adalah posterior.

Gambar 28. Daur hidup pelecypoda

Berdasarkan pembagian yang dikemukakan oleh Thicle (1935), ada 3 ordo, yaitu
1. Ordo Taxodonta
2. Ordo Anisomyaria
3. Ordo Eulamelliranchia
3.1. Ordo Taxodonta
Ordo Taxodonta ini dicirikan oleh adanya gigi yang hampir sama
besarnya dan berjumlah lebih kurang 35 buah. Umunya mempunyai muscle sear
dua (dimyaria).

46

Sub Ordo Nuculacea, dicirikan dengan bentuk gill-nya (alat pernapasan)


berupa protobranch.
Contoh genus Nucula, Ctenodonia.

Sub Ordo Arcacea, dicirikan dengan bentk gill-nya berupa filibranch.


Contoh genus Arca ,Cyrtodonta.

3.2. Ordo Anisomyaria


Ordo Anisomyaria ini dicirikan oleh adanya gigi dan socket sebanyak
dua buah. Muscle sear biasanya satu atau apabila hadir dua, muscle sear bagian
posterior lebih besar. Hidup dari zaman Ordovisium sampai Resen.
Sub Ordo Pteriacea, contoh Pterinea dan inoceramus.
Sub Ordo Ostreacea, contoh Ostrea, Exogyra.
Sub Ordo Peetinacea, memiliki shell yag equivalve, shell berbentuk agak
membulat dengan permukaannya costate atau plicate. Contoh Pecten.
Sub Ordo Anominacea, memiliki shell equivalve, shellnya tipis serta concave
pada bagian kanan dan convex bagian kiri. Contooh Anomia.
Sub Ordo Mytilacea, struktur gill berupa fillbranch, shell-nya simetri bilateral,
dengan bentuk bervariasi. Contoh Mytilus.
3.3. Ordo Eulamellibranchia
Merupakan ordo dari pelecypoda yang terbesar dan terpenting. Saat ini
diperkirakan ada sedikit sub ordo yang sudah dikenal. Ordo Eulamellibranchia ini
dicirikan oleh dua muscle scar yang besar, gigi - gigi yang ada sama besar. Nama
Eulamellibrachia diambil dari tipe gill-nya, eulamellibrachiate. Muncul dari
zaman silur sampai resen.
Sub Ordo Carditacea, mempunyai ciri - ciri muscle scar sama besar,
mempunyai gigi han sepanjang valvenya, umbo terletak pada anterior. Contoh :
venericardia (Eosen).

47

Sub Ordo Tellmacea, memiliki gigi dari bawah beak sampai bagian antrior dan
posterior. Mempunyai ligament dan terletak dibelakang beak, pallia sinus-nya
besar. Contoh : Tellina (Yura -Resen).
Sub Ordo Trigoniacea, memiliki bentuk shell trigonal, siphon belum
berkembang sempurna. Contoh : Trigonia (Yura - Resen).
Sub Ordo Saxicavacea, memiliki bentuk ligamen yang terdapat pada resilifer
pada bagian engselnya, engsel hanya memiliki satu gigi utama. Contoh :
Saxicava (Tersier - Resen).
Sub Ordo Rudistacea, memiliki permukaan shell yang beralur, inequivalve,
bentuk - bentuk spiral pada shell tidak ada. Contoh : Hippurites (Kapur).
Kehidupan pelecypoda dapat dijumpai pada lingkungan air tawar
maupun air laut. Dengan cara hidup menggali lobang pada dasar sungai maupun
laut. Pada kehidupan laut pelecypoda biasanya dicirikan oleh shell memiliki
ornamen yang bagus, sedangkan pada air tawar biasanya ornamennya kurang
berkembang baik. Saat ini pelecypoda dimanfaatkan baik dari mutiaranya maupun
untuk dimakan.
4. Klas Gastropoda
Gastropoda berasal dari kata
- Gaster

: perut

- podos

: kaki

Jadi Gastropoda adalah hewan yang bertubuh lunak, berjalan dengan


perut yang dalam hal ini disebut kaki
Gastropoda adalah hewan hemafrodit, tetapi tidak mampu melakukan
autofertilisasi. Beberapa contoh Gastropoda adalah bekicot (Achatina fulica),
siput air tawar (Lemnaea javanica), siput laut (Fissurella sp), dan siput perantara
fasciolosis (Lemnaea trunculata).
Gastropoda ini mencakup golongan siput, baik yang membentuk
cangkang maupun yang tidak (siput telanjang = slug). Bagi yang bercangkang
umumnya cangkang tersebut terputar. Gastropoda umumnya mempunyai kepala

48

yang jelas lengkap dengan mulut, mata dan tentakel dan kaki yang merupakan
bagian yang ceper dibawah perut. Bagian kepala dan kaki dapat ditarik masuk
kedalam cangkang melewati lubang utama pada cangkang tersebut (apertur), dan
beberapa jenis diantaranya mempunyai penutup (operculum) yang tumbuh pada
bagian kaki tersebut.
Cangkangnya berkembang sebagai tabung yang mekar yang terputar
secara spiral melingkari suatu sumbu yang berlubang yang disebut columella.
Bagian cangkang yang berupa satu lingkaran teresebut disebut satu putaran.
Putaran yang terakhir dan terbesar disebut sebagai body whorl. Kontak antar
putaran berupa garis yang disebut sebagai sutur. Dinding dari cangkang sering
menunjukkan hiasan yang sangat bervariasi, dengan bentuk lekukan, tonjolan,
duri, alur, pematang dan garis tumbuih atau kombinasi dari semua itu.
Gastropoda dapat kita jumpai pada lingkugan darat, air tawar, air payau
sampai dengan laut. Klas ini merupakan yang terbesar didalam phlum mollusca,
hidup sejak zaman kambrium sampai sekarang. Seara umum gastropoda
mempunyai satu shell, beberapa diantaranya memiliki bentuk - bentuk arsitektual
yang bagus serta warna - warna yang indah. Bentuk shellnya sendiri berupa
pilinan terputar meninggi.
Untuk golongan yang hidup di laut dangkal yang hampir jenuh dengan
senyawa karbonat biasanya akan mempunyai ukuran cangkang yang relatif besar,
dinding cangkang yang tebal serta mempunyai hiasan yang kompleks. Sedangkan
golongan yang berdinding tipis dengan hiasan sederhana atau bahkan tanpa hiasan
sama sekali menunjukkan lingungan perairan yang tidak jenuh karbonat, yaitu
lingungan air tawar atau sebaliknya lingkungan laut yang dalam.
Cara hidup gastropoda adalah aquatic, berpindah tempat dengan cara
merayap menggunakan kaki, sampai sekarang ada sekitar 50.000 spesies telah
diketahui, 15.000 diantaranya berupa fosil dan sekitar 35.000 masih hidup sampai
sekarang.

49

Gambar 29. Bagian tubuh gastropoda

Tubuh Lunak
Tubuh lunak dari gastropoda ini terdiri atas tiga bagian, yaitu kepala,
kaki, dan alat pencernaan. Bagian vital ini dilindungi oleh semacam selubung atau
mantel berupa membran yang tipis. Membran teersebut memanjang membentuk
siphon yang berfungsi sebagai alat untuk memasukkan air dan mengeluarkan
kotoran. Untuk yang memliki perkembangan yang baik, pada bagian kepala
dilengkapi dengan mulut, sepasang mata diujung belalai, selain itu juga
mempunyai sepasang tentakel sebagai alat sensor. Dibagian dalam mulut,
dijumpai radula dengan deretan gigi - gigi. Pada beberapa gastropoda juga
dijumpai adanya rahang pada bagian dorsal (bawah). Adanya radula dengan
sederetan giginya merupakan organ yang berfungsi untuk membasahi dan
memegang.
Tubuh Keras (shell)
Bentuk lengkap shell dari gastropoda berupa satu shell yang terpilin
memanjang didalam satu garis sumbu. Shell gastropoda terdiri atas, pada bagian
awal disebut dengan nuclear whorls. Nuklear whorls biasanya pada
permukaannya mulus (smooth). Perkembangan shell dibawah nuclear whorls
disebut dengan whorls. Batas antara whorls disebut dengan suture. Apabila
whorls berkembang sampai akhir, maka sekumpulan whorls disebut dengan spire.
Pada putaran terakhir akan dijumpai adanya lobang yang kita sebut dengan
aperture, yang pada beberapa jenis gastropoda dilengkapi dengan plat penutup
yang disebut dengan operculum. Lobang yang berada pada sumbu perputaran
whorls disebut dengan umbilicus.

50

Gambar 30. Fosil Gastropoda dilihat dari Ventral & Dorsal

Beberapa shell memiliki arah perputaran sinistral (mengkiri /


berlawanan arah jarum jam) atau dextral (mengkanan / searah jarum jam).
Perputaran bisa disebut tinggi atau terputar rendah, rendah jika sudut putaran lebih
besar dari 30. Pada kamar terakhir biasanya akan memperlihatkan adanya
siphonal canal.
Klasifikasi
Klasifikasi dari gastropoda modern hampir seluruhnya didasarkan pada
bagian yang lunak, diantaranya yang dianggap paling penting adalah :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Respiratory organs (alat pernapasan)


Nervous system (system urat saraf)
Heart (hati)
Reproductive organs (alat perkembangbiakan)
Foot (kaki)
Radular complex
Sedangkan untuk kategori taxonomi yang lebih rendah (family dan

genus) didasarkan pada ciri khas shell.


Bila ditinjau dari bagian-bagian tersebut diatas maka kesemuanya
merupakan bagian-bagian yang lunak, yang kelak tidak akan dijumpai dalam
bentuk fosil. Oleh karena itu, dasar pembagian tersebut diatas tidak dapat dipakai
dalam klasifikai paleontology. Dalam hal ini untuk foot (kaki) akan
menentukan ukuran dan bentuk bagian yang keras. Untuk paleontology yang
dipakai adalah klasifikasi yang diusulkan oleh THIELE (1931), yang kemudian
diikuti oleh WENZ (1938) dan KNIGHT (1944). Dasar pembagian dari

51

klasifikasi ini adalah sifat dan posisi gill dan sebagian pada kenampakan anatomi
lainnya (hubungan bagian lunak binatangnya dengan bagian yang keras) serta
hiasan yang ada.
Klasifikasi Gastropoda menurut THIELE (1931), WENZ (1938) dan
KNIGHT (1944).
Subclass 1. Protogastropoda
Ordo 1.1. Cynostraca
L. Camb - Carb? Perm
Ordo 1.2. Cochliostraca
L.Camb - Ord
Subclass 2. Prosobranchia
Ordo 2.1. Archaeogastropoda (Aspidobtanchia)
U. Camb - Recent
Ordo 2.2. Mesogastropoda
(Taenioglossa)
L. Ord - Recent
Ordo 2.3. Neogastropoda
(Stenoglossa)
Ord - Recent
Subclass 3. Opisthobranchia
Ordo 3.1. Pleurocoela
Carb - Recent
Ordo 3.2. Pteropoda
? L. Camb? Perm; Cret - Recent
Ordo 3.3. Acoela
Eocene - Recent
Subclass 4. Pulmonata
Ordo 4.1. Basommatophora
U. Carb - Recent
Ordo 4.2. Stylommatiphora
U. Cret - Recent

Subclass 4.1. Protogastropoda


Subclass yang telah punah ini termasuk yang paling awal diketahui
sebagai shell gastropoda, yang bentuknya (kerucut) dan shell-nya terputar secara
planispiral. Kisaran umurnya dari Kambrium bawah- Karbon? Perm.
Berasal dari kata protos = first = pertama + gaster = stomach = perut +
podos = kaki. Menunjukkan kenyataan bahwa adalah gastropoda paling awal.
Ordo 4.1.1. Cynostraca
Kyon = dog + ostracon = shell, menunjukkan bahwa shellnya seperti
gigi anjing. Ordo ini yang mempunyai bentuk conical (kerucut), terputar
planispiral dan permukaan shell yang halus maupun yang ada hiasan
(sculptured). Anggota ordo ini dianggap paling primitive dari semua gastropoda.
Yang paling awal mewakili ordo ini muncul dalam batuan kambrium Bawah, dan
tampaknya punah kadangkala pada Karbon atau Perm.
Contoh: Scenella dan Palaeacmaea.
Ordo 4.1.2. Cochliostraca

52

Kochlos = spiral shell + ostracon = shell, menunjukkan putaran spiral


dari shell-nya. Ordo ini termasuk yang paling awal diketahui sebagai gastropoda
yang shell-nya terputar. Yang pertama mewakili adalah dari batuan Kambrium
Bawah-Ordovisium. Shell terputar secara planispiral.
Contoh: Pelagiella dan Matherella.
Subclass 4.2. Prosobranchia
Yang paling utama dari gastropoda marine. Sebagian shellnya terputar
secara dextral, dan putarannya adalah helicoids. Tetapi ada juga yang berbentuk
cap (seperti sumbat), bentuk cup. Yang lebih primitive adalah nonsiphonate, dan
yang lebih modern/ maju adalah siphonate. Biasanya ada operculum (penutup
aperture) yang tersusun oleh zat tanduk atau gampingan. Prosobranchia
merupkan subclass yang paling besar. Sejarah geologinya mulai dari akhir
Kambrium, dan mereka telah meninggalkan fosil dalam batuan pada setiap
periode geologi.
Ordo 4.2.1. Archaeogastropoda (Aspidobranchia)
Ordo ini paling primitive diantara Prosobranchia. Shellnya tidak
tersendiri, karena banyak variasinya dalam arsitektur, tetapi mereka dicirikan
oleh seleni zone (slit band). Operculum mungkin ada atau tidak ada. Shell yang
paling tua datang dari batuan yang berumur Kambrium Atas. Ordo ini sebagian
besar adalah marine, terbaik diwakili oleh fauna marine modern, dan merreka
juga anggota gastropoda air tawar dan darat. Walaupun sedikit. Ada dua sub ordo
dari Prosobranchia yang masih hidup yaitu Docoglossa dan Rhipidoglossa.
Docoglossa adalah gastropoda yang shell-nya berbentuk kerucut terbuka (openconical shell) dan terputar secara spiral.
Contoh: Acmaea.
Rhipidoglossa termasuk gastropoda yang shellnya terputar spiral,
mempunyai operculum. Semuanya adalah khas marine kecuali tiga family yaitu
Neritidae, Helicinidae dan Proserpinidae. Family Neritidae adlaah marine,
lainnya hidup dalam air tawar, dan sedikiit diantaranya telah meluas ke
lingkungan daratan.

53

Karena radula tidak pernah terawetkan dalam gastropoda purba, dan jika
ada jarang dalam bentuk-bentuk fosil yang paling muda. Tidak mungkin
ditunjukkan fosil geus dari sub ordo Docoglossa dan Rhipidoglossa.
Archaeogastropoda dibagi menjadi 5 super family:
1. Super family Bellerophontacea
Contoh : Cyrtolites
(Ordocisium)
Salpingostoma (Ord - Devon)
Knightites
(Karbon Atas)
2. Super family Pleurotomariacea
Contoh : Rhacopea
( Kambrium Atas - Ord. Bawah)
Ophileta
(Ordocisium)
Loxoplocus
(Ordovisium)
Pleurotomaria
(Silur-Sekarang)
Fissurella
(Sekarang)
3. Super family Trochacea
Contoh: Astrea (Miosen - Sekarang)
4. Super family Euomphalacea
Contoh : Ceratopea
(Ordovisium)
Maclurites
(Ordocisium)
Lytospira
(Ord - Silur)
Strapalorus
(Silur - Devon)
5. Super family Trochonematacea
Contoh : Trochonema
(Ord - Devon)
Platyostoma
(Silur - Devon)
Orthonychia
(silur - Perm)
Ordo 4.2.2. Mesogastropoda
Ordo ini merupakan ordo yang besar dan penting dari gastropoda
prosobranchia, termasuk sub ordo Gymnoglossata, sub ordo ptenoglossa, dan sub
ordo taenioglossa dan tersusun oleh banyak family dari genus yang masih hidup
maupun yang telah menjadi fosil diantaranya yang marine, air tawar dan darat.
Shell biasanya helicoids tetapi mungkin discoid.
Fosil yang paling awal mewakili dating dari batuan Ordovisium
Genus Palaozoic : Meekospira, Acanthonema, Girtyospira, Orthonema.
Genus Mesozoic dan Cenozoic : Vermucularia, Crepidula, Lambis, Rostellaria,
Cyrpraea, Ampnilaria, Littorina.
Ordo 4.2.3. Neogastropoda
Neogastropoda yang termasuk sejumlah besar genus yang masih hidup
(Murex, Voluta, Oliva, Conus, dan Terebra) adalah gastropoda yang mempunyai
operculum yang tepi aperture dasi shellnya mempunyai siphonal canal.

54

Operculum bersifat zat tanduk (horny). Ordo ini yang tampaknya muncul dalam
Awal Ordovisium, dibagi dalam 4 super family yang masih hidup (tidak semua
genus fosil dimasukkan dalam super famili ini).
1. Super family Muricacea (U. Cret - Recent)
Contoh : Sargana, Rapana, Purpura, Murex, Urosalpinx
2. Super family Buccinacea (U. Cret - Recent)
Contoh : Pyrene, Bucinum, Busycon, Fusus
3. Super family Volutacea (U. Cret - Recent)
Contoh : Oliva, Harpa, Voluta, Cymbium, Mitra, Cancellaria.
4. Super family Conacea (U. Cret - Recent)
Contoh : Drllia, Conus, Terebra
Genus Paleozoic : Subulites
Tersier : Falsifusus
Subclass 4.3. Opisthobranchia
Opisthem = behind = belakang + branchia = gill = insang menunjukkan
bahwa posisi gill terletak dibelakang hati. Opisthobranchia biasanya mempunyai
gill tunggal, nephridium dan auricle. Organ pernapasan jika ada pada bagian
posterior (belakang), jika tidak ada binatangnya menggunakan permukaan luar
mantle untuk pernapasan.
Shell jika ada adalah relative kecil dan arsitekturnya sederhana dan pada
bentuk dewasa kecuali dalam Actaeonidae dan Limacinidae tanpa operculum. 4
ordo dikenal oleh Thiele (1931) dan Wenz (1938). Subclass hanya mempunyai
sedikit fosil yang terawetkan dalam batuan, tetapi terwakili dengan baik di lautan
modern oleh banyaknya macam-macam genus.
Ordo 4.3.1. Pleurocoela (Tectibranchia = Steganobranchia)
Shell biasanya tipis dan tidak berkembang baik. Fosil yang tertua dari
Pleurobranchia adalah dari batuan karbon.
Contoh : Actaneon (Cret - Recent), Aplysia (Recent), Bulla (Jura - Recent),
Haminea (Recent)
Ordo 4.3.2. Pteropoda
Pteron = wing = sayap + podos = foot = kaki, menunjukkan kakinya
seperti sayap.
Pteropoda adalah apisthobranchia yang hidupnya berenang. Mereka
biasanya berukuran kecil, tetapi melimpah dan menutupi permukaan laut. Shell
mempunyai komposisi gampingan.
Contoh : Vaginella (U. Cret - Olig), Lamacina (Tert - Recent)

55

Cavolina (Mioc - Pleist), Coleoloides (L. Camb)


Hyolithes (Camb - Perm), Tentaculites (Ord - Devon)
Styliolina (Devon)
Ordo 4.3.3. Sacoglossa
Ordo ini terdiri dari kelompok kecil opisthobranchia yang dicirikan oleh
shell yang tipis. Shell hanya menutupi sebagian kecil bagian lunaknya. Tidak
pernah dijumpai sebagai fosil.
Ordo 4.3.4. Acoela (Nudibranchia)
Shell jika ada kecil, mempunyai bentuk seperti telinga. Hanya satu
family yaitu Umbraculidae yang telah meninggalkan fosil, mulai muncul pada
kala Eocene.
Contoh : Eolis.
Subclass 4.4. Pulmonata
Pulmonata merupakan kelompok kedua terbesar dari gastropoda dan
jumlah spesies yang diketahui diduga 7.000, 6.300 masih hidup dan 700 adalah
fosil. Pulmonata paling awal diduga muncul pada batuan Karbon Atas, jarang
fosil didapatkan pada batuan yang lebih tua dari Kapur Atas.
Subclass ini dibagi menjadi 2 ordo:
Ordo 4.4.1. Basommatophora
Yang mewakili ordo ini mempunyai shell helicoids atau cup. Mereka
adalah khas aqutic dan dapat hidup dalam air tawar, air payau, san air laut.
Contoh : Physa, Lymnea, Helisoma, dan Planorbis, Anisomyon adalah genus
yang telah punah.
Ordo 4.4.2. Stylommatophora
Binatangnya biasanya mempunyai shell helicoids. Anggota ordo ini
sebagian besar adalah siput darat.
Contoh : Helix (U. Cret - Recent)
Arion dan Testacella adalah genus yang masih hidup
Sejarah Geologi Gastropoda
Kisaran geologi dari beberapa superfamili Class Gastropoda
diperlihatkan dalam klasifikasi (lihat klasifikasi). Dari kisaran ini dapat dilihat
bahwa gastropoda mempunyai kisaran umur yang panjang. Fosil gastropoda yang
paling tua adalah Scenella, Helcionella, Pelagiella yang dikumpulkan dari batuan

56

Kambrium Bawah, Tetapi diduga dari sifat genus yang terawal (paling awal)
mungkin tampaknya klas gastropoda dating dari kehidupan sebelum Kambrium.
Dari jumlah yang diambil ternyata bahwa mereka terdapat bersama-sama dengan
fosil marine lainnya (trilobite dan brachiopod), ini menunjukkan bahwa
gastropoda pertama adalah asli marine water.
Ekologi Dan Paleokologi
Gastropoda seluruhnya dianggap mempunyai penyebaran yang luas
didunia dan memperlihatkan adaptasi yang baik. Mereka hidup dalam lingkungan
laut, air payau, air tawar dan darat. Sebagian besar populasinya ditemukan dalam
air laut dangkal dan jernih pada continental shelve, tetapi beberapa species hidup
pada kedalaman continental lebih ari 5300 meter, dan didarat keduanya dalam
bentuk darat dan air tawar telah ditemukan pada ketinggian 5480 meter.
Gastropoda marine menunjukkan kisaran adaptasi yang luas. Sedikit hidup
berenang (Heteropoda dan Pteropoda), tetapi sebagian besar adalah menghuni
dasar dimana mereka bergerak bebas di dasar diatas lumpur dan pasir dan
biasanya meninggalkan bekas yang khas. Atau melekat pada batuan dan
tumbuhan dasar laut atau menggali dalam batuan yang lunak.
Gastropoda pulmonata mempunyai penyebaran yang luas didunia dan
ditunjukkan kisaran vertical yang besar. Bentuk air tawar yang telah diabil dari
danau (di Himalaya) pada ketinggian 5480 mdpl dan ditempatlain sperti danau,
rawa, dan sungai. Bentuk darat hidup pada tempat yang basah dan permukaan
yang tertutup tumbuhan pada tebing atau tempat lain dimana ada tumbuhan
penutup. Secara local gastropoda mungkin sangat melimpah.
Dari cara hidup tersebut diatas dapat diketahui bahwa gastripoda
merupakan salah satu anggota dari mollusca yang mempunyai sifat adaptasi yang
baik. Pertama hidup dalam lingkungan air laut, kemudian meluas kelingkungan
brackish dan akhirnya ke lingkungan air tawat dan darat. Selama adaptasi
tersebut terjadi perubahan dalam organ kehidupan, dan akhirnya terlihat pula
pada bagian kerasnya (shell). Karena itu dengan melihat bagian yang keras akan
dapat diketahui cara hidupnya, dan akhirnya akan diketahui lingkungan
pengendapannya.

57

Kondisi laut merupakan tempat dimana banyak terlarutkan garam


karbonat yang diperlukan untuk pembentukan shell gastropoda. Disamping itu
juga laut merupakan tempat dimana hampir semua kehidupan berada. Gastropoda
yang hidupnya dilaut dicirikan oleh dinding shell yang tebal, sebab laut
merupakan tempat dimana terlarutkan garam-garam karbonat. Mempunyai hiasan
shell yang komplek, karena bahan pembentuk shell yang berlebihan serta
mempunyai warna yang bermacam-macam.
Sedangkan gastropoda yang hidup didarat atau air tawar dicirikan oleh
bentuk shell yang sederhana dan dinding shell yang tipis dan warna yang
sederhana. Ukuran dari shell umumnya kecil.
Sifat fosil gastropoda
Materi shell gastropoda Paleozoic biasanya tidak terawetkan, kecuali
dalam batuan yang lebih muda. Fosil yang terekam dalam batuan terdiri dari
external impression atau steinkern (core). Pada umumnya fosil gastropoda awal
Paleozoic juga terawetkan dengan buruk, sehingga menyulitkan untuk diskripsi
dan identifikasi yang diteliti. Diduga bahwa kagagalan pengawetan disbabkan
kenyataan bahwa kebanyakan shell gastropoda paling awal disusun oleh
aragonite yang merupakan mineral tidak stabil dari kalsium karbonat.
Sedikit dari shell yang terawetkan dengan baik adalah cyclonemids (Ord
- Silur) dan platycerids (Sil - Perm) yang diduga sebagian tersusun oleh kalsit.
Shell dari kebanyakan gastropoda Mesozoic dan Cenozoic umumnya terawetkan
degan baik dan kemungkinan sebagian besar dari kalsit.
Selain meninggalkan fosil berupa shell, gastropoda juga meninggalkan
fosil berupa jejak/ bekas (trail) diatas lumpur lunak atau pasir.
Kepentingan gastropoda dalam statigrafi
Gastropoda berkembang cukup baik didaerah tropis. Beberapa spesies
akan mencirikan lapisan teretntu. Ostingh seorang ahli paleontology telah
berhasil menyusun stratigrafi neogen P. Jawa yang didasarkan atas fosil indek
gastropoda.
1. Jenjang Rembang (Miosen Bawah)
Dicirikan oleh Turritella subulata
2. Jenjang Preanger (Miosen tengah)
Dicirikan oleh : Turritella angulata
Siphocyprea caput viperae

58

Vicarya verneuilli callosa


3. Jenjang Cirodeng (Miosen Atas)
Dicirikan oleh : Turritella angulata cramatensis
4. Jenjang Cirebon (Pliosen Bawah)
Dicirikan oleh : Turritella angulata acuticarinata
5. Jenjang Sunda (Pliosen Atas)
Dicirikan oleh : Turritella angulata tjicumpatensis
Terebra verbeeki, Conus sondeanus
Terebra insulinidae
6. Jenjang Banten (Pleitosen Bawah)
Dicirikan oleh : Turritella angulata bantamensis
Clavus malingpingensis.
5. Klas Cephalopoda
Cephalopoda, berasal dari kata
- cephale
: kepala
- podos
: kaki
Adalah Mollusca yang berkaki di kepala. Contoh dari Klas ini yaitu
Cumi-cumi dan sotong yang memiliki 10 tentakel yang terdiri dari 2 tentakel
panjang dan 8 tentakel lebih pendek.

Gambar 31. Bagian Tubuh Cephalopoda

59

Gambar 32. Fosil Cephalopod

6.2. Hasil Deskripsi Phylum Mollusca

60

BAB 7
KESIMPULAN

Dalam perkenbangannya ilmu Paleontologi merupakan bagian penting


dari ilmu Geologi, dalam hal ini membantu menyingkapkan beberapa misteri di
alam berkaitan dengan gejala gelogi dan proses evolusi kehidupan. Perbedaan
yang nyata antara Neontologi dan Paleontologi adalah bahwa Paleontologi
mempelajari secara nyata proses evolusi, sedangkan Neontologi memberikan
praduga proses evolusi.
Organisme sendiri dalam kehidupan di air mempunyai cara tersendiri,
yaitu :
D. Planktonik, organisme ini hidupnya pada permukaan air. Pergerakannya
sngat dipengaruhi ole arus, terdiri :
Fitoplangton, kemampuan menghasilkan makan dari fotosintesa atau
autotropik. Contoh : Coccolithofora, Diatomae, Dinoflagelata.
Zooplangton, tidak dapat menghasilkan makanan sendiri, memakan
fitoplangton, bersifat heterotropik. Contoh : Foraminifera, Radiolaria,
Graptholit.
Meroplangton, pada usia muda sebagai plalngton, kemudian bebas pada
saat dewasa. Contoh : Mollusca.
Pseudoplangton, organisme tersebar karena arus dan gelombang, namun
menambat pada rumput laut, kayu dan sebagainya. Contoh : Bernakel,
Brachiopoda.
E. Benthonik, organisme merayap di dasar laut, dapat dipermukaan suubstratum
ataupun di bawah. Terdiri atas :

Sesil, menambat pada dasar. Contoh : Brachiopoda, Crinoida.

Vagyl, di dasar laut & berpindah-pindah

61

F. Nektonik, organisme ini mampu berenang bebas dan bergerak tidak


tergantung oleh arus dan gelombang. Contoh : Cephalopoda, Ikan, Mamalia
Laut.
BAB 8
LAMPIRAN FIELD TRIP
65

A. Regional Sangiran
Daerah Sangiran, terutama di sebelah utara, termasuk wilayah Kabupaten
Sragen, Kecamatan Kalijambe. Sedangkan sebagian kecil di daerah selatan,
termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karang anyar.
Keduanya termasuk ke dalam propinsi Jawa Tengah. Daerah ini dapat dicapai dari
Yogyakarta-Surakarta sejauh 65 km, kemudian jalan raya Surakarta-Purwodadi
sejauh 12 km hingga Kalijambe membelok kea rah timur, mengikuti jalan ke arah
Plupuh hingga mencapai desa Sangiran.
Akhir abad ke 19, daerah Sangiran sudah menjadi obyek studi geologi.
Pada tahun tigapuluhan hingga menjelang pecahnya perang dunia kedua, sejumlah
ahli geologi telah melakukan penelitian intensif di daerah ini, terutama untuk
mempelajari batuan yang berumur Kuarter serta fosil vertebrata, termasuk fosil
manusia purba (Duyfjes, 1936 ; von Koeningswald, 1936, 1940).
Pada tahun 1934,seorang ahli paleontropologi bangsa Jerman yang
bernama G.H.R. Von Koeningswald melakukan penelitian di daerah Ngebung,
yang terletak di barat laut Sangiran. Di tempat itu ia menemukan artefak yang
berupa serihan jaspis, dan kalsedon yang diduga dibuat oleh manusia purba
yangpernah tinggal di sekitar daerah tesebut. Selanjutnya dua tahun kemudian,
pada tahun 1938, ia menemukan fosil hominid yang pertama, berupa fragmen
rahang bawah. Sampai dengan pecahnya perang dunia kedua, Von Koeningswald
berhasil menemukan 6 fosil hominid. Pada waktu itu keenam fosil tersebut diberi
nama Pithecantropus erectus, Pithecantropusrobustus, Pithecantropus Dubois, dan
Meghantropus palaeojavanicus. Saat ini semua fosil yang masuk dalam golongan
Pithecantropus erectus disebut dengan tata nama yang baku menurut para ahli
paleo-bioanthropologi lebih tepat, yaitu Homo erectus.

62

Tahun 1988, diresmikan berdirinya Museum Pleistosen Sangiran. Tujuan


didirikannya museum ini adalah agar masyarakat umum mendapatkan gambaran
66daerah Sangiaran. Museum ini didirikan
tentang kondisi geologi dan paleontology

di atas puncak bukit dekat desa Ngampon, hamper di tengah kubah. Dalam
museum dapat diamati koleksifosil inventebrata maupun vertebrata yang berasal
dari daerah di sekitar Sangiran, termasuk replica fosil manusia purba. Dapat
diamati pula diorama konstruksi kehidupan Homo erectus dengan lingkungan si
sekitarnya paka kala Pleistosen.
1. Geomorfologi Regional
Kawasan Sangiran yang dikunjungi merupakan daerah yang berbukitbukit rendah yang utamanya tersusun oleh batuan berumur Pleistosen. Perbukitan
rendah ini berada di antara Gunung Merapi dan Merbabu di sebelah barat dan
Gunung Lawu di timur. Secara fisiografis, daerah antar gunung ini merupakan
dataran yang disebut sebagai Depresi Tengah Pulau Jawa atau yang lebih populer
disebut sebagai Zona Solo (Bemmelen, 1949). Di bagian utara, zona ini
berbatasan dengan Pegunungan Kendeng dan di selatan berbatasan dengan
Pegunungan Selatan. Zona ini dibagi menjadi 3 SubZona yaitu (dari utara ke
selatan) SubZona Ngawi, Solo sensu stricto, dan Baturetno atau Blitar. Sangiran
termasuk pada Zona Solo sensu stricto.
Bentuk bentang alam daerah Sangiran berdasarkan morfogenesanya
merupakan bentang alam struktural. Bentang alam struktural ini berupa kubah
(dome), yaitu suatu bubungan di mana perlapisan batuan di bagian tengah berada
di atas sebagai puncak, sedang sisi-sisinya mempunyai kemiringan ke segala arah
(ke arah luar). Kubah Sangiran mempunyai bentuk yang tidak sepenuhnya bulat,
akan tetapi agak memanjang ke arah Utara Timur Laut - Selatan Barat Daya. Pada
masa kini, bentuk kubah tersebut sudah tidak nampak lagi dikarenakan oleh erosi.
Di kawasan ini mengalir 2 sungai yaitu Sungai Brangkal di sebelah utara dan

63

Sungai

Cemoro di sebelah selatan yang memotong kubah secara anteseden

dengan arah aliran dari barat ke timur. Kedua sungai ini dan anak-anak sungainya
mengerosi batuan-batuan yang dilewatinya sehingga atap kubah habis terkikis.
Hal ini menyebabkan bentukan kubah yang tersisa menjadi bentukan
yang mirip cekungan yang berupa bukit-bukit yang melingkar mengelilingi pusat
kubah yang berupa dataran atau lekukan. Kenampakan morfologi yang
berkebalikan dengan pola struktur seperti ini disebut sebagai gejala inverse
topography. Gejala ini terjadi karena pusat kubah tersusun oleh batuan tertua yang
terdiri dari lempung dan napal yang sangat mudah tererosi, sedangkan bagian tepi
terbentuk bukit-bukit karena batuan yang menyusun puncak bukit terdiri dari
batupasir, konglomerat, dan breksi yang sukar tererosi.
2. Stratigrafi Regional
Stratigrafi daerah Sangiran sudah cukup lama dipelajari dan informasi
batuan di daerah ini telah diberikan oleh Koenigswald (1940), Soedarmadji (1977)
dan Watanabe &Kadar (1985). Nama-nama satuan stratigrafi di Sangiran
diperkenalkan oleh Duyfjes (1936). Watanabe & Kadar (1985) telah mengusulkan
agar nama formasi di Sangiran diganti dengan nama baru yang diambil dari nama
unsur geografis di sekitar daerah tersebut. Oleh karena nama-nama formasi lama
sudah sedemikian terkenal tidak seperi yang diusulkan oleh kedua peneliti
tersebut.
Batuan sedimen yang menyusun stratigrafi daerah Sangiran secara umum
merupakan hasil pengendapan yang bersifat syn- dan post-orogenic, yaitu proses
pengendapan bahan rombakan yang terjadi pada dan setelah terangkatnya
perbukitan Kendeng yang berada di sebelah utara Sangiran. Urutan stratigrafinya
menunjukkan bahwa bagian terbawah yang tersusun oleh Formasi Kalibeng
bagian atas (Duyjes, 1936) atau formasi Sonde (Harsono, 1983) terdiri dari urutan
yang menunjukkan gejala pendangkalan ke atas (shallowing upwards).
Selanjutnya formasi ini ditumpangi oleh urutan sediment paralik-non marin, yang
terdiri dari Formasi Pucangan, Kabuh, dan Notopuro.

64

1) Formasi Kalibeng
Batuan tertua yang tersingkap di daerah Sangiran ini merupakan satu
urutan yang terdiri dari napal dan gampingan berwarna abu-abu kebiruan di
bagian bawah kemudian diikuti dengan batugamping kalkarenit dan kalsirudit di
bgian atas. Batuan ioni terpusat di daerah pusat kabuh, yaitu pada depresi di utara
desa Sangiran serta sepanjang aliran sungai Puren di sebelah timur dan tenggara
desa Sangiran setebal 125 m. Napal dan batulempung gampingan bersifat liat
dan lunak, sangat mudah tererosi. Pada napal banyak dijumpai fosil foraminifera
bentonik yang berupa Operculina complanata, Ammonia beccarii, Elphidium
craticulatum bersama dengan fosil gigi ikan hiu (Soedarmadji, 1976). Kandungan
Foraminifera plangtonik yang dijumpai pada formasi ini terdiri dari Globorotalia
acostaensis, G. tumida flexuosa dan Sphaeroidinella dehiscens. Kumpulan ini
menunjukkan bahwa batuan tersebut diendapkan pada kala akhir Pliosen pada
kondisi laut dangkal yang berhubungan langsung dengan laut terbuka.
Batulempung abu-bunya juga bersifat sangat lunak, sehingga daerah ini
mudah mengalami gerakan tanah di musim hujan baik dalam bentuk rayapn,
aliran maupun longsoran. Pada anggota batulempung ini banyak dijumpai fosil
sangiranensis, Placenfa sp., dan Strombus sp., semuanya menunjukkan
pengendapan pada kondisi laut dangkal juga pada akhir Pliosen. Selain fosil
tersebut, pada batulempung ini banyak dijumpai konkresi kalsit, bebrapa
diantaranya mempunyai initi berupa fosil kepiting. Semakin ke atas pada
betulempung dijumpai ostrakoda dan pelecypoda jenis ostrea. Di atas
batulempung dijumpai lapisan kalkarenit dan kalsirudit. Batuan ini tersusun
hamper seluruhnya dari fragmen fosil (coquina) yang saling bertumpu. Adanya
fosil Balanus menunjukkan bahwa pengendapan tersebut terjadi pada daerah
pasang surut (litoral). Di atas gamping Balanus dijumpai batugamping yang kaya
akan fosil Corbicula yang merupakan pelecypoda penunjuk kondisi pengendapan
air tawar.
Berdasarkan urutan litologi dan kandungan fosilnya maka dapat
disimpulkan urutan batuan tersebut menunjukkan gejala pengkasaran ke atas
(coarsening up-ward) sekaligus pendangkalan ke atas (shoaling upward), dari

65

kondisi laut terbuka menjadi kondisi pasang surut dan berakhir dengankondisi air
tawar.
2) Formasi Pucangan
Di atas formasi kalibeng terdapat satu seri batuan yang tersusun oleh dua
fasies yang berbeda yaitu formasi Pucangan. Bagian bawahnya tersusun oleh
fasies breksi vulkanik (breksi lahar) dan bagian atasnya terdiri dari fasies lempung
hitam. Zaim et al (1999) telah memberikan uraian tentang karakteristik breksi
lahar pada formasi Pucangan ini.
Breksi vulkaniknya sering disebut sebagai lahar bawah. Secara
morfologis batuan ini membentuk deretan bukit kecil yang penyebarannya
melingkari singkapan dari formasi Kalibeng. Breksi ini sendiri tahan terhadap
erosi dan menumpang secara tidak selaras di atas formasi Kalibeng. Fragmen dari
breksi tersebut merupakan hasil erosi dari formasi Kalibeng yaitu batugamping
Orbicula. Fragmen breksi itu sendiri tersusun oleh fragmen andesit piroksen,
andesit hornblende dan fragmen batulempung, batugamping, dan batupasir yang
berasal dari Formasi Kalibeng. Fragmen tersebut berukuran dari kerakal hingga
bongkah tertebar mengambang diantara massa dasar batupasir tufa yang tidak
berlapis. Di antara breksi dijumpai sisipan batupasir konglomeratan dengan
fragmen andesit berukuran pasir hingga kerakal.
Pada batupasir konglomeratan dijumpai fragmen fosil vertebrata seperti
jenis kuda air Hexaprotodon simplex dan gajah purba Tetralophodon bimiajuensis.
Menurut Sondaar (1983) dan de Vos et al. (1993) dua fosil tersebut merupakan
perwakilan dari Fauna Satir yang berasal dari 1,5 juta tahun yang lalu. (Widianto,
1994).
Di atas lahar bawah terdapat suatu seri litologi yang terdiri dari lempung
hitam. Bagian bawah terdiri dari perselingan antara lempung abu-abu kebiruan
dengan beberapa sisipan tanah diatomae (diatomite) dan lapisan-lapisan yang
mengandung fosil moluska secara melimpah. Pada lempung abu-abu kebiruan
dijumpai fragmen fosil moluska, ostrakoda dan foraminifera. Fosil moluskanya
terdiri dari Corcicula, Melanoides dan Aloides (Itihara et al, 1985). Kumpulan

66

fauna ini menunjukkan kondisi transisi yang barangkali berupa danau atau rawa
yang tidak jauh dari laut. Semakin ke atas dijumpai lapisan tanah diatomae yang
menunjukkan struktur laminasi dan mengandung spesies-spesies yang hidup di
laut, diantaranya thallassionema, Cyclothella, Actinoclyclus, Coscinodiscus,
Diploneis.
Bagian atas dari fasies lempung merupakan perlapisan tebal dari lempung
abu-abu hitam yang kaya akan kandungan moluska air tawar seperti Corbicula,
Unio, Viviparus, Melanoides, Brotia, dan Thiara (Itihara et al., 1985). Pada
lempung ini masih terdapat sisipan tanah diatomae yang bersifat tufaan, setebal
0,8 m dan kaya akan diatomae air tawar seperti Navicula. Percampuran ini ini
diduga sebagai akibt masuknya hasil erosi batuan napal dan batugamping berfosil
yang berasal dari perbukitan Kendeng di utara Sangiran, yang pada masa
pembentukan Formasi Pucangan mulai terangkat dan tererosi. Formasi Pucangan
ini adalah anggota dari apa yang disebut Fauna Cisaat (Widianto, 1994) terdiri
atas Axis lydekkeri, Panthera ligris, Hexaprotodon sivalensis (sejenis kuda air)
dan Stegodon trigonocephalus (gajah purba) sebagai akibat masuknya hasil erosi
batuan napal dan batugamping brfosil.
Dari urutan litologi yang menyusun Formasi Pucangan ini dapat
ditafsirkan bahwa pengendapan semula merupakan aliran lahar ke cekungan yang
berair payau, yang sudah terbentuk sejak akhir pengendapan Formasi Kalibeng,
dengan ciri utama adanya fosil Corbicula. Endapan lahar tersebut mempersempit
cekungan air payau tadi, yang kemudian akibat sedimentasi yang terus menerus
berubah menjadi cekungan air tawar, berupa danau atau rawa yang sudah tidak
lagi berhubungan dengan laut.
3) Formasi Kabuh
Di atas formasi Pucangan dijumpai urutan batupasir yang termasuk pada
formasi Kabuh. Bagian terbawah formasi ini tersusun oleh perlapisan tipis
batugamping konglomeratan. Perlapisannya tidak selalu menerus dan di beberapa
tempat misalnya di daerah Brangkal, menunjukkan bentuk-bentuk lensa yang
terputus diantara batupasir. Ketebalan lensa bervariasi antara 0,5 hingga 3 m. Oleh

67

von Koenigswald (1940) lapisan ini disebut lapisan batas (grenzbank), yang
membatasi Formasi Kabuh dengan Formasi Pucangan di bawahnya. Grenzbank ini
tersusun oleh fragmen membulat yang terdiri dari kalsedon dan beberapa batuan
lain yang telah mengalami alterasi hidrotermal (silisifikasi), bercampur dengan
pelecypoda yang cangkangnya menebal dan membulat karena kalsifikasi dan
tersemen secara kuat. Lapisan ini diduga diendapkan oleh energi yang tinggi,
misalnya badai yang terjadi di tepi danau dan menghasilkan onggokan yang
berbutir kasar.
Pada lapisan grenzbank ini ditemukan fosil mamalia, termasuk juga
fragmen fosil hominid (Widianto, 1993). Penelitian kemagnitan purba yang
dilakukan oleh Semah (1982,1984) menghasilkan umur 730.000 tahun, bertepatan
dengan awal dari periode geomagnetic normal Brunhess, sedangkan Itihara et al.
(1985) mencapai kesimpulan umur 730.000 hingga 900.000 bersamaan dengan
masa akhir periode geomagnetic Matuyama.
Di atas grenzbank tersebut terdapat perulangan endapan batupasir
konglomeratan di bagian bawah ke arah atas menjadi lapisan batupasir. Batupasir
konglomeratannya menunjukkan struktur silang siur parallel dengan skala sedang
tebal set berkisar antara 0,3 hingga 1,5 m, sedang batupasir yang ada di sebelah
atas menunjukkan struktur silang siur tipe palung dengan tebal set berkisar antara
0,3 hingga 0,8 m. Kelompok batupasir ini ditafsirkan terbentuk pada lingkungan
pengendapan sampai teranyam (Rahardjo, 1981) dalam situasi lingkungan
vegetasi terbuka, mirip sabana (Semah, 1984). Pada bagian bawah dai batupasir
ini Pada bagian bawah dari batupasir ini dijumpai fosil yang merupakan anggota
dari Fauna Trinil (Widianto, 1994) yang terdiri dari Sus brachygnathus, Bibos
palaeosundaicus, Bubalus palaeokerabau, Duboisia santeng, Rhinoceros
sondaicus,

Panthera

tigris

trinfiensis,

Axis

lydekkeri

dan

Stegodon

trigonocephalus. Kea rah atas dijumpai perwakilan dari Fauna Kedungbrubus


yang isinya mirip dengan Fauna Trinil ditambah dengan Tapirus indicus, Elephas
hysudrindicus dan Epileptobos groeneveldtii. Kumpulan ini menunjukkan umur
0,8 juta tahun.

68

Beberapa sisipan tuf dijumpai pada batupasir menunjukkan bahwa pada


saat pengendapan batupasir tersebut terjadi beberapa kali letusan gunung api. Pada
batupasir inilah sebagian besar fosil hominid ditemukan. Sayang sekali bahwa
kebanyakan penemuan itu bukan hasil ekskavasi yang sistematis, tetapi hasil
pencarian oleh penduduk setempat setiap habis hujan lebat.
Pada bagian tengah dari formasi Kabuh ini yakni di daerah Grenjeng,
Bapang, Ngebung Brangkal dan Pucung, dijumpai tektite yang berukuran kerikil
hingga kerakal (13-40 mm). Fragmen meteorit ini umumnya berbentuk bulat telur
termasuk dalam golongan splashform tektites (O`Keefe, 1976) sering juga disebut
Javanite tektite. Bagian permukaannya menunjukkan gejala korosi. Pertanggalan
jejak bilah (fission track) yang dilakukan pada tektite Sangiran menunjukkan
kisaran umur 0,62 hingga 0,81 juta tahun (Itihara, Wikarno & Kagemori, 1985).
Fosil vertebrata dan golongan Hominid banyak ditemukan pada lapisan
grenzbank dan juga pada bagian tengah formasi Kabuh ini. Salah satu temuan
yang paling penting adalah temuan fosil manusia purba dari golongan apa yang
disebut Pithecanthropus erectus yang sekarang disebut sebagai Homo erectusI.
4) Formasi Notopuro
Secara umum Formasi Notopuro tersusun oleh material vulkanik, berupa
batupasir vulkanik, konglomeratan dan breksi yang mengandung fragmen batuan
beku yng berukuran berangkal hingga bongkah, mengambang diantara masa
dasarnya yang terutama terdiri dari batupasir dan batulempung vulkanik.
Kenampakan tersebut menunjukkan bahwa batuan tersebut terbentuk sebagai hasil
pengendapan lahar. Untuk membedakan dengan lahar pada formasi Pucangan,
lahar Notopuro ini disebut sebagai lahar atas. Pada dasar dari formasi ini dijumpai
lapisan yang mengandung fragmen klsedon dan kuarsa susu. Endapan lahar ini
terdiri dari bongkah-bongkah batuan beku andesit yang mengambang pada masa
dasar terdiri dari batupasir tufa kristal dengan sekali-kali dijumpai fragmen
batuapung, mempunyai sifat yang lebih tahan erosi daripada dua formasi yang ada
di bawahnya, oleh karena itu lahar atas ini membentuk puncak gawir dari
perbukitan yang melingkar di daerah Sangiran ini.

69

Pada formasi Notopuro sangat dijumpai fosil. Kalau ada biasanya


merupakan hasil pengerjaan kembali dari Formasi Kabuh yang ada di bawahnya.
Formasi Notopuro ditafsirkan sebagai hasil aktifitas vulkanik yang kuat dan
terjadi pada kala akhir Pleistosen, merupakan hasil pengendapan lahar yang terjadi
di lingkungan darat.
5) Endapan Mud Volcano
Pada daerah sekitar inti kubah diantara desa Ngampon dan Sangiran,
dijumpai lereng bukit yang tersusun oleh litologi yang campur aduk. Penyusun
utamanya adalah lempung abu-abu kehitaman yang liat dan fragmen yang besar
berupa bongkah batugamping yang mengandung fosil foraminifera besr jenis
Nummulites yang serupa dengan batugamping Nummulites yang berumur akhir
Eosen dan tersingkap di Bayat, Klaten. Sedangkan fragmen batuan metamorf
berasal dari basement batuan metamorf, serupa dengan batuan yang juga
tersingkap di Bayat. Kumpulan sedimen ini ditafsirkan teronggok di permukaan
tanah sebagai akibat pemelototan yang terjadi karena proses diapir lempung yang
mencapai permukaan, berujud sebagai mud volcano. Gejala mud volcano tersebut
oleh Itihara et al. (1985) ditafsirkan terjadi karena adanya proses diapir yang
terjadi melalui suatu sesar baru yang memotong sesar tua yang berada jauh di
bawah permukaan. Sesar pertama atau sesar tua adalah sesar naik. Pergerakan
sesar sedemikian rupa sehingga basement yang tersusun oleh batuan metamorf
berada sebagai hanging wall, di atas lapisan yang lunak dan mudah tertekan
terdapat pada foot wall-nya. Akibat terjadinya kompresi yang membenuk kubah,
terjadi sesar baru yang memotong sesar tua tadi. Selanjutnya akibat lain dari
kompresi adalah bahwa batuan lunak tersebut tertekan, naik ke atas dan mencabik
batuan basement yang ada pada hanging wall dan membawanya ke permukaan
melewati lorong atau saluran yang terbentuk sepanjang sesar yang baru tersebut.
Gejala mud volcano ini terbentuk pada saat perlengkungan kubah Sangiran, yaitu
selama dan setelah Formasi Notopuro terbentuk.
6) Endapan Undak (terrace deposits)

70

Satuan ini dalam acuan lama disebut sebagai formasi Trinil (Brouwer,
1917 ; Ainegoro, 1972 ; Koesoemadinata, 1978). Penyusunnya terdiri dari
konglomerat polimik dengan fragmen andesit, napal, dan fragmen batupasir yang
mengandung fosil vertebrata. Secara norfologis satuan ini menempati undak
(terrace) yang banyak terdapat disepanjang Bengawan Solo dan anak-anak
sungainya. Undak ini tidak hanya terdapat pada satu horizon saja, tetapi biasanya
dijumpai dalam jumlah beberapa buah yang posisinya bertingkat-tingkat, masingmasing mempunyai elevasi yang berbeda antara undak satu dengan yang lain. Di
daerah aliran Bengawan Solo antara Ngawi hingga Cepu dijumpai undak
sebanyak 6 jenjang (Sartono, 1978)
Di daerah Sangiran endapan undak ini dijumpai di sekitar Brangkal
terutama memotong singkapan formasi Kabuh dan Notopuro (Rahardjo &
Wiyono, 1993). Di tempat ini endapan undak berupa konglomerat andesit yang
tersemen dengan kuat. Selain batuan, pada endapan undak ini juga dijumpi
fragmen vertebrata sebagai penyusunnya. Fragmen ini diduga merupakan hasil
pengendapan kembali dari fosil yang aslinya dijumpai pada formasi-formasi
batuan yang lebih tua. Disamping fragmen andesit pada endapan undak ini
dijumpai pula fragmen kalsedon putih, rijang merah yang berasal dari batuan yang
mengalami alterasi dan banyak terdapat di Pegunungan Selatan. Disamping itu
juga dijumpai artefak yang diduga nerupakan hasil budaya dari Homo Erectus.
a. Struktur Regional
Kawasan Sangiran merupakan bentukan kubah yang telah tererosi pada
bagian tengahnya. Dengan melihat formasi batuan yang termuda ikut terlipat,
diduga struktur kubah ini terbentuk pada waktu geologi yang belum terlalu lama ,
mungkin 0,5 juta tahun yang lalu. Ada beberapa pendapat tentang asal-usul
terbentuknya Kubah Sangiran ini. Menurut van Bemmelen, 1949, kubah ini
terbentuk akibat tenaga kompresif yang berhubungan dengan proses vulkanotektonik sebagai akibat longsornya G. Lawu tua. Sedangkan menurut van Gorsel
et.al., 1987, kubah ini terbentuk akibat proses pembentukan gunungapi yang baru
mulai. Selain itu ada kemungkinan lain asal-usul terbentuknya kubah ini seperti

71

akibat adanya struktur diapir atau adanya struktur lipatan akibat adanya
wrenching.
Akibat adanya gaya yang membentuk kubah ini, daerah Sangiran juga
mengalami peretakan dan penyesaran. Tipe sesar yang dijumpai pada beberapa
sesar utama adalah tipe sesar mendatar, sesar naik, dan sesar turun. Sesar-sesar ini
umumnya memotong jurus perlapisan, membentuk pola radier dari pusat kubah.
Sesar naik dan sesar turun semakin banyak dijumpai jika semakin ke arah pusat
kubah. Adanya sesar pada kubah menyebabkan terjadinya retakan yang diduga
sangat dalam dan memotong lapisan batuan tua yang bersifat lunak. Tersedianya
celah ini menyebabkan batuan tersebut mencuat sebagai diapir dan muncul
sebagai mud-vulcano. Letak dari mud-vulcano ini berada di dekat pusat kubah,
sebelah selatan Desa Sangiran.

72

IX.2. Lokasi Pengamatan


LP 1
Waktu

: 10.30

Lokasi

: Sragen, jalan solo-purwodadi di kali jambe, tempatnya


di kali cemoro

Cuaca

: cerah

Vegetasi

: lebat (bambu, pisang, pepohonan dan lain-lain)

Litologi

: endapan vulkanik muda (aglomera tuff, batupasir)


berstruktur silangsiur, formasi ini diosebut Formasi Notopuro

LP 2
Waktu

: 10.45

Lokasi

: Menara pandang

Cuaca

: Cerah

Litologi

: menceritakan terbentuknya dome sangiran, bentuknya seperti


mangkok yang tertelungkup dan longsorannya kesemua arah

LP 3
Waktu

: 12.17

Lokasi

: Sangiran

Cuaca

: Cerah

Vegetasi

: persawahan

Litologi

: mud vulkano: ada beberapa teori

Karna terkurungnya air laut didalam cekungan sedimen pada kala pleosen
akhir yang tadinya laut kemudian tertutup karna aktifitas vulkanisme
gunung api, karna ada tekanan dari dalam dan akhirnya keluar
kepermukaan,

Ini terbentuk dari rejuis lempung yang terkungkung antara zona kendeng
dan depresi solo, 2000 m dibawah permukan.

73

Mud Volcano

LP 4
Waktu

: 13.20

Lokasi

: Sangiran

Cuaca

: Cerah

Vegetasi

: persawahan dan pohon jati

Litologi

: Singkapan batuan sedimen berbutir halus yang mana pada batuan


sedimen ini banyak terdapat posil posil dari pilum moluska, juga
termasuk formasi pucangan

Lempung hitam berfosil (Pelecypoda)

LP 5

74

Waktu

: 14.08

Lokasi

: Sangiran

Cuaca

: Cerah

Vegetasi

: lebat (pohon jati)

Litologi

: Tanah diatomae, napal,dibawahnya terdapat sedikit pasir, tuff,


Aglomerat, lempug hitam yang mengandung cangkang-cangkang
molusca, ini membuktikan bahwa sangiran dulu pernah menjadi
lautan. Formasi ini dinamakan formasi pucangan.

Tanah Diatome

75

DAFTAR PUSTAKA

Sukandarrumidi. 1998. Paleontologi Umum Pengantar Untuk Pratikum.


Yogyakarta : STTNAS.
Sanyoto Siwi, dkk. 1993. Petunjuk Pratikum Makro Paleontologi. Yogyakarta :
AKPRIND.