Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Banyak macam ideologi di dunia ini. Hampir masing-masing negara mempunyai
ideologi tersendiri yang sesuai dengan negaranya, karena ideologi ini merupakan dasar
atau ide atau cita-cita negara tersebut untuk semakin berkembang dan maju. Namun,
dengan semakin berkembangnya zaman, ideologi negara tersebut tidak boleh hilang dan
tetap menjadi pedoman dan tetap tertanam pada setiap warganya. Begitu juga dengan
Negara Indonesia.
Ideologi negara Indonesia adalah Ideologi Pancasila. Ideologi Pancasila ini
dijadikan sebagai pandangan hidup bagi bangsa Indonesia dalam mengembangkan negara
Indonesia dalam berbagai aspek. Dengan ideologi inilah bangsa Indonesia bisa mencapai
kemerdekaan dan bertambah maju baik dari potensi sumber daya alam maupun sumber
daya manusianya. Namun dengan seiring barjalannya waktu, semakin maju zaman, dan
semakin maju teknologi seolah-olah ideologi Pancasila hanya sebagai pelengkap negara
agar tampak bahwa Indonesia sebuah negara yang merdeka dan mandiri. Oleh karena itu,
penulis membuat makalah ini dengan judul Pancasila sebagai Ideologi nasional agar kita
dapat mengenal ideologi kita dan bertindak sesuai dengan ideologi kita.
B. RUMUSAN MASALAH
Rumusan masalah pada makalah ini sebagai berikut
1. Apa pengertian asal mula Pancasila?
2. Bagaimana kedudukan dan fungsi Pancasila?
3. Bagaimana perbandingan ideologi Pancasila dengan paham ideologi besar lainnya di
dunia?

C. TUJUAN
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut.
1. Mengetahui pengertian asal mula Pancasila.
2. Mengetahui kedudukan dan fungsi Pancasila.
3. Mengetahui perbandingan ideologi Pancasila dengan paham ideologi besar lainnya di
dunia.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Asal Mula Pancasila
Pancasila sebagai dasar falsafat serta ideologi bangsa dan negara Indonesia, bukan
terbentuk secara mendadak serta tidak hanya diciptakan oleh seseorang melainkan terbentuknya
melalaui proses yang cukup panjang dalam sejarah bangsa Indonesia.
Ditinjau dari kausalitasnya, asal mula Pancasila dibedakan menjadi dua macam yaitu :
asal mula yang langsung dan asal mula yang tidak langsung. Adapun pengertiannya adalah
sebagai berikut:
1. Asal Mula yang Langsung
Asal mula yang langsung tentang Pancasila adalah asal mula yang langsung terjadinya
pancasila sebagai dasar filsafat Negara yaitu asal mula yang sesudah dan menjelang proklamasi
kemerdekaan. Adapun rincian asal mula langsung Pancasila tersebut menurut Notonagoro (1975)
adalah sebagai berikut:
a. Asal mula bahan (Kausa Materialis)
Asal bahan Pancasila adalah bangsa Indonesia sendiri yang terdapat dalam kepribadian
dan pandangan hidup. Unsure-unsur Pancasila tersebut dapat berupa nilai-nilai adat

istiadat kebudayaan serta nilai-nilai religius yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari
bangsa Indonesia.
b. Asal mula bentuk (Kausa Formalis)
Asal mula bentuk Pancasila adalah Ir. Soekarno bersama-sama dengan Drs. Moh. Hatta
serta anggota BPUPKI lainnya merumuskan dan membahas Pancasila terutama dalam hal
bentuk, rumusan serta nama Pancasila.
c. Asal mula karya (Kausa Effisien)
Asal mula karya yaitu asal mula yang menjadikan Pancasila dari calon dasar negara
menjadi dasar negara yang sah. Adapun asal mula Pancasila adalah PPKI sebagai
pembentuk negara dan atas kuasa pembentuk negara yang mengasahkan Pancasila
menjadi dasar negara yang sah, setelah dilakukan pembahasan baik dalam siding-sidang
BPUPKI maupun oleh Panitia Sembilan.
d. Asal mula tujuan (Kausa Finalis)
Tujuan dirumuskan dan dibahasnya Pancasila adalah untuk dijadikan sebagai dasar
negara. Adapun asal mula tujuannya yaitu para anggota BPUPKI dan Panitia Sembilan
termasuk Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta yang menentuka tujuan dirumuskannya
Pancasila sebelum ditetapkan oleh PPKI sebagai dasar negara yang sah.
2. Asal Mula yang Tidak Langsung
Asal mula tidak langsung Pancasila adalah asal mula sebelum proklamasi kemerdekaan
yang terdapat pada kepribadian serta dalam pandangan hidup sehari-hari bangsa Indonesia.
Adapun rincian asal mula tidak langsung Pancasila adalah sebagai erikut:
a. Nilai-nilai yang menjadi unsur-unsur Pancasila sebelum secara langsung dirumuskan
menjadi dasar negara yaitu: nilai ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai persatuan, nilai
kerakyatan, dan nilai keadilan telah ada dan tercermin dalam kehidupan sehari-hari
bangsa Indonesia sebelum membentuk negara.

b. Nilai-nilai tersebut terkandung dalam pandangan hidup masyarakat Indonesia sebelum


membentuk negara dan dijadikan pedoman dalam memecahkan problema kehidupan
sehari-hari bangsa Indonesia.
c. Dengan demikian asal mula tidak langsung Pancasila adalah bangsa Indonesia sendiri
sebagai Kausa Materialis yaitu sebagai asal mula tidak langsung nilai-nilai Pancasila.
Berdasarknan tinjauan kausalitas tersebut, pada hakikatnya Pancasila sebagai pandangan hidup
bangsa Indonesia jauh sebelum bangsa Indonesia membentuk Negara, nila-nilai tersebut telah
tercermin dan teramalkan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu tinjauan tersebut memberikan
bukti bahwa terbentuknya pancasila bukan merupakan hasil perenungan atau pemikiran
seseorang atau kelompok orang dan bukan hasil pengaruh dari paham-paham besar dunia,
melainkan nilai-nilai Pancasila secara tidak langsung telah terkandung dalam pandangan hidup
bangsa Indonesia.

B. Kedudukan dan Fungsi Pancasila


Kedudukan dan fungsi Pancasila secara pokok ada dua macam yaitu sebagai Dasar Negara
Republik Indonesia dan sebagai Pandangan Hidup Bangsa Indonesia. Adapun kedudukan dan
fungsi Pancaila dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Pancasila sebagai Pandangan Hidup Bangsa
Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa dalam perjuangan untuk
mencapai kehidupan yang lebih sempurna, senantiasa memerlukan nilai-nilai luhur yang
dijunjungnya sebagai suatu pandangan hidup. Pandangan hidup tersebut berfungsi sebagai
kerangka acuan untuk menata kehidupan diri pribadi maupun dalam interaksi antar manusia
dalam masyarakat serta alam sekitarnya.
Sebagai makhluk individu dan sosial manusia akan senantiasa hidup sebagai bagian dari
lingkungan sosial yang lebih luas mulai dari lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, bangsa

dan negara. Dalam kehidupan bersama tersebut, muncul pandangan hidup dalam masyarakat
yang dituangkan dan dilembagakan menjadi pandangan hidup bangsa, selanjutnya pandangan
hidup bangsa dituangkan dan dilembagakan menjadi pandangan hidup negara.
Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa memberikan pedoman dan kekuatan rohaniah bagi
bangsa untuk berperilaku luhur dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Sehingga dalam Pancasila terkandung konsep dasar mengenai kehidupan yang dicita-citakan
serta dasar pemikiran dan gagasan mengenai wujud kehidupan yang dianggap baik
(Darmohardjo, 1996).
2. Pancasila sebagai Dasar Negara Republik Indonesia
Pancasila sebagai dasar negara merupakan suatu dasar nilai serta norma untuk mengatur
penyelenggaraan negara. Akibatnya seluruh pelaksanaan dan penyelenggaraan Negara terutama
peraturan perundang-undangan harus dijabarkan dan dirumuskan dari nilai-nilai Pancasila. Maka
Pancasila merupakan sumber dari segala sumber hukumyang mempunyai kekuatan mengikat
secara hukum.
Menurut Kaelan (2004) kedudukan Pancasila sebagai dasar negara dapat dirinci sebagai
berikut:
a. Pancasila sebagai dasar negara merupakan sumber dari segala sumber hukum (sumber
tertib hukum) Indonesia. Sehingga Pancasila merupakan asas kerokhanian tertib hukum
Indonesia.
b. Meliputi suasana kebatinan dari Undang-Undang Dasar 1945.
c. Mewujudkan cita-cita hukum bagi hukum dasar negara baik hukum dasar tertulis maupun
tidak tertulis.
d. Mengandung norma yang mengharuskan Undang-Undang Dasar mengandung isi yang
mewajibkan pemerintah dan penyelenggara negara memegang teguh cita-cita moral
rakyat yang luhur.

e. Pancasila sebagai sumber semangat bagi Undang-Undang Dasar 1945, bagi penyelenggara
Negara, dan para pelaksana pemerintahan.
Dasar formal kedudukan Pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia tertuang
dalam pembukaan UUD 1945 alinea IV, Ketetapan No. XX/MPRS/1966, Ketetapan MPR No.
V/MPR/1973 dan Ketetapan No. IX/MPR/1978.

3. Pancasila sebagai ideologi bangsa dan Negara Indonesia


Sebagai suatu ideologi bangsa dan Negara Indonesia maka pancasila pada hakikatnya bukan
hanya merupakan suatu hasil perenungan atau pemikiran seseorang atau kelompok orang
sebagaimana ideologi-ideologi lain di dunia, namun pancasila diangkat dari nilai-nilai adat
istiadat, nilai-nilai budaya serta nilai religious yang terdapat dalam pandangan hidup masyarakat
Indonesia sebelum membentuk Negara, dengan kata lain unsur-unsur yang merupakan materi
(bahan) pancasila tidak lain diangkat dari pandangan hidup masyarakat Indonesia sendiri,
sehingga bangsa ini merupakan kausa materialis (asal bahan) pancasila.
3.1 Pengertian Ideologi
Istilah ideologi berasal dari kata idea yang berarti gagasan, konsep, pengertian dasar,
cita-cita dan lagos yang

berarti ilmu.Kata idea berasal

dari

kata

bahasa

Yunani eidos yang berarti bentuk. Di samping itu ada kata idein yang rtinya melihat. Maka
secara harafiah, ideologi berarti ilmu pengertian-pengertian dasar. Dalam pengertian seharihari, idea disamakan artinya dengan cita-cita. Cita-cita yang dimaksud adalah cita-cita yang
bersifat tetap itu sekaligus merupakan dasar, pandangan atau faham. Memang pada hakikatnya,
antara dasar dan cita-cita itu sebenarnya dapat merupakan satu kesatuan. Dasar ditetapkan karena
atas suatu landasan, asas atau dasar yang telah ditetapkan pula. Dengan demikian ideologi
mencangkup pengertian tentang idea-idea, pengertian dasar, gagasan dan cita-cita (Kaelan,
2004).

Apabila ditelusuri secara historisistilah ideologi pertama kali dipakai dan dikemukakan
oleh seorang perancis, Destutt de Tracy, pada tahun 1796. Seperti halnya Leibniz, de Tracy
mempunyai cita-cita untuk membangun suatu sistem pengetahuan. Apabila Leibniz menyebutkan
impiannya sebagai one great system of truth, dimana tergabung segala cabang ilmu dan segala
kebenaran ilmiah, maka de Tracy menyebutkan ideologie, yaituscience of ideas, suatu
program yang diharapkandapat membawa perubahan institusional dalam masyarakat perancis.
Namun Napoleon mencemoohkan-nya sebagai suatu khayalan belaka, yang tidak mempunyai
artipraktis. Hal semacam itu hanya impian belaka yang tidak akan menemukan kenyataan.
(Pranarka, 1987).
Maka ideologi Negara dalam arti cita-cita Negara atau cita-cita yang menjadi basis bagi
suatu teori atau sistem kenegaraan untuk seluruh rakyat dan bangsa yang bersangkutan pada
hakikatnya merupakan asas kerohaniannyayang antara lain memiliki ciri sebagai berikut:
a. Mempunyai derajat yang tertinggi sebagai nilai hidup kebangsaan dan kenegaraan.
b. Oleh karena itu mewujudkan suatu asas kerohanian, pandangan dunia, pandangan
hidup, pedoman hidup,pegangan hidup yang dipelihara, dikembangkan, diamalkan,
dilestarikan kepada generasi berikutnya, diperjuangkan dan dipertahankan dengan
kesediaan berkorban (Notonegoro, Pancasila Yuridis Kenegaraan, tanpa tahun, hal
2,3)
3.2 Ideologi terbuka dan ideologi tertutup
Ideologi sebagai suatu sistem pemikiran (system of thought), maka ideologi terbuka itu
merupakan suatu sistem pemikiran terbuka, sedangkan ideologi tertutup itu merupakan suatu
sistem pemikiran tertutup. Suatu ideologi tertutup dapat dikenali dari berbagai ciri khas. Ideologi
itu bukan cita-cita yang sudah hidup dalam masyarakat, melainkan merupakan cita-cita suatu
kelompok orang yang mendasari suatu program untuk mengubah dan memperbaharui

masyarakat. Dengan demikian adalah menjadi cita-cita ideologi tertutup, bahwa atas nama
ideologi dibenarkan pengorbanan-pengorbanan yang dibebankan kepada masyarakat.
3.3 Ideologi partikular dan ideologi komprehensif
Dari segi sosiologis pengetahuan mengenai ideologi dikembangkan oleh Karl Mannhein
yang beraliran Marx. Mannhein membedakan dua macam kategori secara sosiologis, yaitu
ideologi yang bersifat partikular dan ideologi yang bersifat komprehensif. Kategori pertama
diartikan sebagai suatu keyakinan-keyakinan yang tersusun secara sistematis yang terkait erat
dengan suatu kelas social tertentu dengan masyarakat (Mahendra, 1999). Kategori kedua
diartikan sebagai suatu system pemikiran menyeluruh mengenai semua aspek kehidupan sosial
ideologi dalam kategori kedua ini bercita-cita melakuakn transformasi sosial secara besarbesaran.
3.4 Hubungan antara filsafat dan ideologi
Filsafat sebagai pandangan hidup dan hakikatnya merupakan system nilai yang secara
epistemologis kebenarannya telah diyakini sehingga dijadikan dasar atau pedoman hidup
manusia dalam memandang realitas alam semesta, manusia, masyarakat, bangsa dan negara,
tentag makna hidup serta sebagai dasar pedoman bagi manusia dalam menyelesaikan masalah
yang dihadapi dalam kehidupan (Abdulgani, 1986).
Tiap ideologi sebagai suatu rangkaian kesatuan cita-cita yang mendasar dan menyeluruh
yang saling menjalin menjadi satu sistem pemikiran yang logis dan bersumber kepada filsafat.
Dengan kata lain, ideologi sebagai system of trought mencari nilai, norma dan cita-cita yang
bersumber kepada filsafat.
Jadi filsafat sebagai dasar dan sumber bagi perumusan ideologi yang menyangkut
stategi dan doktrin, telah timbul di dalam kehidupan bangsa dan Negara, termasuk di dalamnya
menentukan sudut pandang atau filsafat hidup yang merupakan norma ideal yang melandasi
ideologi (Kaelan, 2004).

3.4.1 Makna ideologi bagi bangsa dan Negara


Manusia dalam mewujudkan tujuannya untuk meningkatkan harta dan martabatnya, dan
kenyataannya senantiasa membutuhkan orang lain. Oleh karena itu manusia membutuhkan suatu
lembaga bersama untuk melindungi haknya, dalam pengertian inilah manusia membentuk suatu
negara. Negara sebagai lembaga kemasyarakatan, sebagai organisasi hidup manusia senantiasa
memiliki cita-cita dan harapan, ide-ide serta pemikiran-pemikiran yang secara bersama
merupakan suatu yang orientasi yang bersifat dasariah bagi semua tindakan dalam hidup
kenegaraan.
3.4.2 Pancasila sebagai Ideologi yang Reformasi, Dinamis, dan Terbuka
Pancasila sebagai suatu ideologi tidak bersifat kaku dan tertutup, namun bersifat
reformatif, dinamis, dan terbuka. Hal ini dimaksudkan bahwa ideologi Pancasila adalah bersifat
aktual, dinamis dan terbuka. Hal ini dimaksudkan bahwa ideologi pancasila adalah bersifat
aktual, dinamis, aspiratif dan senantiasa mampu menyesuaikan dengan perkembangan zaman,
ilmu pengetahuan dan teknologi serta dinamika perkembangan aspirasi masyarakat. Keterbukaan
ideologi pancasila bukan berarti mengubah nilai-nilai dasaryang terkandung di dalamnya, naun
mengeksplisitkan wawasannya secara lebih komplit, sehingga memiliki kemampuan reformatif
untuk memecahkan masalah-masalah actual yang seiring dengan aspirasi rakyat, perkembangan
iptek serta zaman.
Menurut

Kaelan

berdasarkan

pengertian

tentang

ideologi

terbuka,

nilai-nilai

terkandung dalam ideologi pancasila sebagai ideologi terbuka adalah sebagai berikut :
a. Nilai dasar yaitu : hakikat kelima sila pancasila yaitu ketuhanan, kemanusiaan,
persatuan, kesatuan, kerakyatan dan keadilan.

yang

b. Nilai instrumental yang merupakan arahan, kebijakan, strategi, sasaran serta lembaga
pelaksanaanya.
c. Nilai praksis yaitu merupakan realisassi nilai-nilai instrumental dalam suatu realisasi
perkembangan yang bersifat nyata dalam kehidupan sehari-hari dalam bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara (BP-7 Pusat, 1994).
Oleh karena itu pancasila sebagai ideologi terbuka secara struktural memiliki tiga dimensi yaitu:
1. Dimensi idealis, yaitu nilai-nilai dasar yang terkandung di dalam pancasilayang bersifat
sistematis, rasional dan menyeluruh, yaitu hakikat nilai-nilai yang terkandung dalam
sila-sila pancasila yaitu Ketuhanan, kemanusian, persatuan, kerakyatan dan keadilan.
2. Dimensi normatif yaitu nilai yang terkandung dalam pancasila perlu dijabarkan dalam
suatu sistem norma, sebagaimna terkandung dalam norma-norma kenegaraan.
3. Dimensi realistis, yaitu suatu ideologi harus mampu mencerminkan realitas yang hidup
dan berkembang di dalam masyarakat.
C. Perbandingan Ideologi Pancasila Dengan Paham Ideologi Besar Lainnya Di Dunia
Ideologi Pancasila sebagai ideologi bangsa dan negara Indonesia berkembang melalui
proses yang cukup panjang. Pada awalnya bersumber dari nilai-nilai yang dimiliki oleh bangsa
Indonesia yaitu dalam adat istiadat, serta dalam agama-agama yang bangsa Indonesia sebagai
pandangan hidup bangsa. Oleh karena itu ideologi Pancasila, ada pada kehidupan bangsa terlekat
pada kelangsungan hidup bangsa Indonesia.
Ideologi Pancasila mendasarkan sifat manusia sebagai makhluk individu dan makhluk
sosial, yaitu dalam ideologi Pancasila mengakui kebebasan individu. Namun dalam hidup
bersama juga harus mengakui hak dan kebebasan orang lain. Selain itu bahwa manusia menurut
Pancasila berkedudukan sebagai makhluk pribadi dan makhluk Tuhan yang Maha Esa. Dalam

hal ini nilai-nilai ketuhanan senantisa menjiwai kehidupan manusia dalam hidup bermasyarakat.
Hakikat serta pengertiannya sebagai berikut.
1. Paham Negara Persatuan
Hakikat negara kesatuan adalah negara yang merupakan suatu kesatuan dari unsur-unsur
yang membentuknya, yaitu rakyat yang terdiri dari berbagai macam suku bangsa, golongan
kebudayaan, dan agama; wilayah yang terdiri beribu-ribu pulau. Pengertian Persatuan Indonesia
dalam Pembukaan UUD 1945 negara yang mengatasi segala paham golongan dan paham
perseorangan. Jadi, negara persatuan bukanlah negara yang berdasarkan pada individualisme dan
golongan. Oleh karena itu, negara persatuan adalah negara yang memiliki sifat persatuan
bersama, bedasarkan kekeluargaan serta tolong menolong atas dasar keadilan sosial (Kaelan,
2004).
2. Paham Negara Kebangsaan
Bangsa merupakan suatu persekutuan hidup dalam suatu wilayah tertentu serta memiliki
tujuan tertentu (Kaelan, 2004). Sedangkan bangsa yang yang hidup dalam suatu wilayah tertentu
serta memiliki tujuan tertentu maka disebut negara. Menurut M. Yamin, bangsa Indonesia dalam
merintis terbentuknya suatu negara dalam panggung politik internasional melalui tiga fase, yaitu
zaman Sriwijaya, zaman Majapahit, dan Nasionale Staat yaitu negara kebangsaan Indonesia
Modern menurut susunan kekeluargaan dan berdasarkan atas Ketuhanan yang Maha Esa serta
kemanusiaan.
a. Hakikat Bangsa
Pada hakikatnya bangsa merupakan suatu penjelmaan dari sifat kodrat manusia dalam
merealisasikan harkat dan martabat kemanusiaannya. Oleh karena itu deklarasi bangsa Indonesia
dalam pembuikaan UUD 1945 dinyatakan bahwa ... kemerdekaan adalah hak segala bangsa.
Pernyataan tesebut merupakan suatu pernyataan universal hak kodrat manusia sebagai bangsa.
b. Teori Kebangsaan

Teori-teori kebangsaan tersebut adalah sebagai berikut.


1) Teori Hans Kohn
Yang dikatakan bangsa yaitu terbentuk karena persamaan bahasa, ras, agama, peradaban,
wilayah, negara, dan kewarganegaraan.
2) Teori Ernest Renan
Menurut Renan pokok-pokok pikiran tentang bangsa sebagai berikut:
a) Bangsa adalah satu jiwa, suatu asas kerohanian
b) Bangsa adalah suatu solidaritas yang besar
c) Bangsa adalah suatu hasil sejarah
d) Bangsa bukan suatu yang abadi
e) Wilayah dan ras bukan penyebab timbulnya bangsa.
Faktor-faktor yang membentuk jiwa bangsa sebagai berikut:
a) Kejayaan dan kemuliaan di masa lampau
b) Keinginan hidup yang lebih baik
c) Penderitaan bersama
d) Modal sosial.
3) Teori Gepolitik oleh Frederick Ratzel
Teori geopolitik merupakan teori yang mengungkapkan hubungan antara wilayah
geografi dengan bangsa. Teori tersebut menyatakan bahwa negara adalah merupakan
suatu organisme hidup.
4) Negara kebangsaan Pancasila
Sintesa persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia dituangkan dalam suatu asas kerohanian
yang merupakan suatu kepribadian serta jiwa bersama yaitu Pancasila. Unsur-unsur
pembentuk nasionalisme Indonesia adalah sebagai berikut:
a) Kesatuan sejarah

b) Kesatuan nasib
c) Kesatuan kebudayaan
d) Kesatuan wilayah
e) Kesatuan asas kerohanian
3. Negara Pancasila adalah Negara Kebangsaan yang Berketuhanan Yang Maha Esa
Sesuai dengan makna negara kebangsaan Indonesia yang berdasarkan Pancasila adalah
kesatuan integral dalam kehidupan bangsa dan negara. Dalam pengertian ini negara Pancasila
pada hakikatnya adalah negara Kebangsaan yang Ber-Ketuhanan yang Maha Esa. Landasan
pokok sebagai pangkal tolak paham tersebut adalah sebagai Sang Pencipta segala sesuatu.
Setiap individu yang hidup dalam suatu bangsa adalah makhluk Tuhan maka bangsa dan
negara sebagai totalitas yang integral adalah Berketuhanan, demikian pula warganya juga
Berketuhanan Yang Maha Esa.
Rumusan Ketuhanan yang Maha Esa sebagaimana terdapat dalam Pembukaan UUD
1945 telah memberikan sifat khas kepada negara Kebangsaan Indonesia, yaitu bukan merupakan
negara sekuler yang memisahkan antara agama dengan negara demikian juga bukan merupakan
negara agama yaitu negara yang mendasarkan atas agama tertentu. Negara kebangsaan Indonesia
adalah negara yang mengakui Tuhan yang Maha Esa menurut dasar kemanusiaan yang adil dan
beradab, yaitu negara Kebangsaan yang Berketuhanan yang Maha Esa.Negara tidak memaksakan
agama seseorang karena agama merupakan suatu keyakinan batin yang tercermin dalam hati
sanubari dan tidak dipaksakan. Dalam hal ini, negara menjamin kemerdekaan setiap penduduk
untuk memeluk agama dan untuk beribadah menurut agama dan kepercayaan masing-masing.
Setiap umat beragama memiliki kebebasan untuk menggali dan meningkatkan kehidupan
spiritualnya dalam masing-masing agama. Negara wajib memelihara budi pekerti yang luhur dari
setiap warga Negara pada umumnya dan para penyelenggara negara khususnya, berdasarkan
nilai-nilai Pancasila.

3.1 Hakikat Ketuhanan Yang Maha Esa


Sila pertama Pancasila sebagai dasar filsafat negara adalah Ketuhanan Yang Maha
Esa. Oleh karena sebagai dasar negara maka sila tersebut merupakan sumber nilai, dan sumber
norma dalam setiap aspek penyelenggaraan negara, baik yang bersifat material dan spiritual.
Masalah-masalah yang menyangkut penyelenggaraan negara dalam arti material antara lain,
bentuk negara tujuan negara, tertib hukum, dan sistem negara. Adapun yang bersifat spiritual
antara lain moral agama dan moral penyelenggaraan negara.
Sila Ketuhanan Yang Maha Esa merupakan dasar yang memimpin cita-cita
kenegaraan kita untuk menyelenggarakan yang baik bagi masyarakat dan penyelenggara negara.
Dengan dasar sila ini, maka politik negara mendapat dasar moral yang kuat, menjadi dasar yang
memimpin kerohanian arah jalan kebenaran, keadilan, kebaikan, kejujuran dan persaudaraan
(Kaelan dalam Hatta, 2004: 134).
Hakikat Ketuhana Yang Maha Esa secara ilmiah filosofis mengandung makna
terdapat kesesuaian hubungan sebab akibat antara Tuhan, manusia dengan Negara. Kedudukan
kodrat manusia adalah sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itu terdapat
hubungan sebab akibat yang langsung antara Tuhan dengan manusia karena manusia sebagai
makhluk Tuhan. Adapun hakikat Tuhan adalah causa prima (sebab pertama) (dalam
Notonagoro, 1975).
3.2 Hubungan Negara dengan Agama
3.2.1 Hubungan Negara dengan Agama Menurut Pancasila
Menurut Pancasila, negara berdasar atas Tuhan Yang Maha Esa atas dasar Kemanusiaan
yang adil dan beradab. Rumusan yang demikian ini, menunjukkan pada kita bahwa Negara
Indonesia yang berdasarkan pancasila adalah bukan Negara sekuer yang memisahkan Negara
dengan agama, karena hal ini tercantum dalam pasal 29 ayat (1), bahwa negara berdasar atas

Ketuhanan Yang Maha Esa. Hal ini berarti bahwa Negara sebagai persekutuan hidup adalah
berketuhanan yang Maha Esa.
Konsekuensinya segala aspek dalam pelaksanaan dan penyelenggaraan negara harus
sesuai dengan hakikat nilai-nilai yang berasal dari Tuhan. Nilai-nilai yang berasal dari Tuhan
yang pada hakekatnya adalah Hukum Tuhan adalah merupakan sumber material bagi segala
norma, terutama bagi hukum positif di Indonesia.
Negara pancasila pada hakikatnya mengatasi segala agama dan menjamin kehidupan
agama dan umat beragama, karena beragama merupakan hak asasi yang bersifat mutlak.
Pada pasal 29 ayat (2) memberikan kebebasan kepada seluruh warga Negara untuk
memeluk agama dan menjalankan ibadah sesuai dengan keimanan dan ketaqwaan masingmasing. Negara kebangsaan yang berketuhanan yang Maha Esa adalah Negara yang merupakan
pemjelmaan dari hakikat kodrat manusia sebagai individu makhluk, sosial dan manusia adalah
sebagai pribadi dan makhluk Tuhan yang Maha Esa.
Hubungan Negara dengan Tuhan menurut agaman pancasila adalah sebagai berikut:
1) Negara adalah berdasar atas Ketuhanan yang Maha Esa
2) Tidak tempat bagi bagi atheisme dan sekulerisme karena hakikatnya manusia
berkedudukan kodrat sebagai makhluk Tuhan
3) Tidak ada tempat bagi pertentangan agama, golongan agama, antar dan antar-pemeluk
agama serta antarpemeluk agama.
4) Negara pada hakekatnya adalah merupakan berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa.
3.2.2 Hubungan Negara dengan Agama Menurut Paham Theokrasi
Hubungan negara dengan agama menurut paham Theokrasi bahwa antara Negara dan
agama tidak dapat dipisahkan. Negara menyatu dengan agama, pemerintahan dijalankan
berdasarkan firman-firman Tuhan, segala tata kehidupan masyarakat, bangsa dan Negara

didasrkan atas firman-firman Tuhan. Dalam praktik kenegaraan terdapat dua macam pengertian
Negara Theokrasi, yaitu Negara Theokrasi langsung dan Negara Theokrasi tidak langsung.
a. Negara Theokrasi Langsung
Dalam sistem Negara Theokrasi langsung, kekuasaan adalah langsung merupakan
otoritas Tuhan. Adanya Negara di dunia ini adalah atas kehendak Tuhan, dan yang memerintah
adalah Tuhan.
Doktrin-doktrin dan ajaran-ajaran berkembang dalam Negara Theokrasi langsung,
sebagai upaya untuk memperkuat dan meyakinkan rakyatterhadap kekuasaan Tuhan dalam
Negara (Kusnadi, 1995:60).
Dalam sistem Negara yang demikian maka agama menyatu dengan Negara, dalam arti
seluruh sistem negara, norma-norma Negara adalah merupakan otoritas langsung dari Tuhan
melalui wahyu.
b. Negara Theokrasi Tidak Langsung
Berbeda dengan sistem Negara Theokrasi yang langsung, Negara Theokrasi tidak
langsung bukan Tuhan sendiri yang memerintahkan dalam Negara, melainkan Kepala Negara
atau Raja, yang memiliki otoritas atas nama Tuhan, Kepala Negara atau Raja memerintah Negara
atas kehendak Tuhan, sehingga kekuasaan dalam Negara merupakan suatu karunia dari Tuhan.
Dalam sejarah kenegaraan Kerajaan Belanda, raja mengemban tugas suci yaitu kekuasaan yang
merupakan amanat dari Tuhan (mission sacre). Raja mengemban tugas suci dari Tuhan untuk
memakmurkan rakyat. Politik yang demikian inilah yang diterapkan Belanda terhadap wilayah
jajahannya sehingga dikenal dengan Ethische Politik (politik etis). Kerajaan Belanda mendapat
aman dari Tuhan untuk bertindak sebagai wali dari wilayah jajahan Indonesia (Kusnadi,
1995:63).
Negara merupakan penjelmaan dari Tuhan, dan oleh karena kekuasaan raja dalam
Negara adalah merupakan kekuasaan yang berasal dari Tuhan maka sistem dan norma-norma

dalam Negara dirumuskan berdasarkan firman-firman Tuhan. Demikianlah kedudukan agama


dalam Negara Theokrasi dimana firman Tuhan, norma agama serta otoritas Tuhan menyatu
dengan Negara.
3.2.3 Hubungan Negara dengan Agama menurut Sekulerisme
Paham Sekulerisme membedakan dan memisahkan antara agama dan bentuk, sistem,
segala aspek kenegaraan tidak ada hubungannya dengan agama. Sekulerisme berpandangan
bahwa negara adalah masalah-masalah keduniawian hubungan manusia dengan manusia, adapun
agama adalah urusan akherat yang menyangkut hubungan manusia dengan Tuhan. Negara adalah
urusan hubungan horizontal antarmanusia dalam mencapai tujuannya, sedangkan agama adalah
menjadi urusan umat masing-masing agama. Walaupun dalam Negara sekuler yang membedakan
antara Negara dengan agama, namun lazimnya warga negara diberikakan kebebasan dalam
memeluk agama masing-masing.
4. Negara Pancasila adalah Negara Kebangsaan yang Berkemanusiaan yang Adil dan
Beradab
Negara adalah lembaga kemanusiaan, lembaga kemasyarakatan yang bertujuan demi
tercapainya harkat dan martabat manusia serta kesejahteraan lahir maupun batin. Sehingga tidak
mengherankan apabila manusia adalah merupakan subjek pendukung pokok negara. Oleh karena
itu negara adalah suatu negara Kebangsaan yang Berketuhanan yang Maha Esa, dan
Berkemanusiaan yang Adil dan Beradab.
Negara Pancasila sebagai negara Kebangsaan yang berkemanusiaan yang Adil dan
Beradab, mendasarkan nasionalisme (kebangsaan) berdasarkan hakikat kodrat manusia.
Kebangsaan Indonesia adalah kebangsaan yang berkemanusiaan, bukan suatu kebangsaan yang
Chauvinistie (Kaelan, 2004: 139).

5. Negara Pancasila adalah Negara Kebangsaan Yang Berkerakyatan


Negara kebangsaan yang berkedaulatan rakyat berarti bahwa kekuasaan tertinggi adalah
di tangan rakyat yang dilaksanakan oleh MPR. Oleh karena itu negara kebangsaan yang
berkedaulatan rakyat adalah suatu negara demokrasi. Penggunaan hak-hak demokrasi dalam
negara kebangsaan, diantaranya hak-hak demokrasi yang disertai tanggung jawab kepada Tuhan
yang Maha Esa, menjunjung dan memperkokoh persatuan dan keatuan bangsa, serta disertai
dengan tujuan untuk mewujudkan sutu keadilan sosial, yaitu suatu keadilan sosial berupa
kesejahteraan dalam hidup bersama.
Demokrasi

kerakyatan

mengembangkan

demokrasi

bersama, berdasarkan

asas

kekeluargaan, dan kebebasan individu diletakkan dalam rangka tujuan atas kesejahteraan
bersama-sama. Pokok-pokok kerakyatan yang terkandung dalam sila keempat dalam
penyelenggaraan negara mempunyai ciri-ciri sebagai berikut. Manusia Indonesia sebagai warga
negara dan warga masyarakat mempunyai kedudukan dan hak yang sama.
a. Dalam menggunakan hak-haknya selalu memperhatikan dan mempertimbangkan
kepentingan negara dan masyarakat.
b. Karena mempunyai kedudukan, hak serta kewajiban yang sma maka pada dasarnya
tidak dibenarkan memaksakan kehendak pada pihak lain.
c. Sebelum mengambil keputusan, terlebih dahulu diadakan musyawarah.
d. Keputusan diusahakan ditentukan secara musyawarah.
e. Musyawarah untuk mencapai mufakat, diliputi oleh suasana dan semangat
kebersamaan.

6. Negara Pancasila adalah Negara Kebangsaan Yang Berkeadilan Sosial


Negara Pancasila adalah negara kebangsaan yang berkeadilan sosial, yang berarti bahwa
negara sebagai penjelmaan manusia sebagai makhluk Tuhan yang Maha Esa, sifat kodrat
individu dan makhluk sosial bertujuan untuk mewujudkan suatu keadilan dalam hidup bersama
(keadilan sosial).
Sebagai suatu negara berkeadilan sosial maka negara Indonesia bertujuan untuk
melindungi warga negaranya dan seluruh tumpah darahnya, memajukan kesejahteraan umum,
serta mencerdaskan warganya. Dalam pergaulan internasional, Indonesia bertujuan untuk ikut
menciptakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan
sosial.
Negara yang berkeadilan sosial harus merupakan negara yang berdasarkan hukum yang
memiliki 3 persyaratan, yaitu pengakuan dan perlindungan atas hak alam asasi manusia,
peradilan yang bebas, dan legalitas dalam arti hukum dalam segala bentuknya.
Konsekuensi Indonesia sebagi negara berkeadilan sosial yang berdasarkan hukum
adalah harus melindungi hak-hak asasi manusia yang tercantum dalam UUD 1945 diantaranya
pasal 27, 28A-J, pasal 29, dan Pasal 31.
6.1 Ideologi liberal
Paham liberalisme berkembang dari akar-akar rasionalisme, materialisme, dan
empirisme. Rasionalisme adalah paham yang meletakkan rasio sebagai sumber kebenaran
tertinggi. Materialisme adalah paham yang meletakkan materi sebgai nilai tertinggi. Sedangkan
empirisme mendasarkan atas kebenaran fakta empiris yang meletakkan kebebasan individu
sebagai nilai teringgi dalam kehidupan masyarakat dan negara.
Liberalisme memiliki prinsip bahwa rakyat adalah ikatan individu-individu yang bebas
dan ikatan hukumlah yang mendasari kehidupan bersama dalam negara. Kebebasan manusia

dalam realisasi demokrasi senanstiasa berdasarkan atas kebebasan individu di atas segalagalanya. Rasio merupakan hakikat tingkatan tertinggi dalam negara sehingga dimungkinkan
kedudukannya masih lebih tinggi dari nilai religius. Hal ini harus dipahami karena demokrasi
mencakup seluruh sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Atas dasar inilah perbedaan
sifat serta karakter bangsa yang sering menimbulkan gejolak dalam menerapkan demokrasi yang
hanya berdasarkan liberalisme. Indonesia sendiri pada era reformasi ini yang tidak semua orang
memahami makna demokrasi sehingga penerapannya tidak sesuai dengan kondisi bangsa
sehingga menimbulkan berbagai konflik (Kaelan, 2004).
6.1.1Hubungan Negara dengan Agama Menurut Paham Liberalisme
Negara memberi kebebasan kepada warga negara untuk memeluk agama dan
menjalankan ibadah sesuai dengan agamanya masing-masing. Namun dalam negara liberal juga
diberi kebebasan untuk tidak percaya kepada Tuhan (atheis) bahkan negara liberal memberi
kebebasan warganya untuk menilai dan mengkritik Tuhannya. Karena menurut liberal bahwa
kebenaran individu adalah sumber kebenaran tertinggi.
Nilai-nilai agama dalam negara dipisahkan dan dibedakan dengan negara, keputusan,
dan ketentuan kenegaraan terutama peraturan perundang-undangan walaupun ketentuan tersebut
bertentangan dengan norma-norma agama. Misalnya UU Aborsi di Irlandia tetap diberlakukan
walaupun ditentang oleh Gereja dan agama lain (Kaelan, 2004).
Berdasarkan pandangan filosofis tersebut hampir dapat dipastikan bahwa dalam sistem
negara liberal membedakan dan memisahkan antara negara dengan agama atau yang bersifat
sekuler.
6.2 Ideologi Sosialisme Komunis
Paham ini adalah sebagai bentuk reaksi atas perkembangan masyarakat kapitalis
hasil leberalisme. Berkembangnya paham liberalisme memunculkan masyarakat kapitalis yang

mengakibatkan penderitaan sehinggi komunisme muncul sebagai reaksi atas penindasan rakyat
kecil oleh kalangan kapitalis yang didukung pemerintah.
Ideologi komunisme mendasarkan pada suatu keyakinan bahwa manusia pada
hakikatnya adalah hanya makhluk sosial saja. Hak milik pribadi tidak ada karena hal ini
menimbulkan kapitalisme yang akan menimbulkan penindasan terhadap rakyat kecil. Etika
idiologi komunisme mendasarkan suatu kebaikan hanya pada kepentingan demi keuntungan
kelas masyarakrat secara totalitas. Atas dasar inilah inilah komunisme mendasarkan moralnya
pada kebaikan yang relatif demi keuntungan kelasnya. Oleh karena itu, segala cara dihalalkan.
Hak asasi manusia dalam negara hanya berpusat pada hak kolektif sehingga hak individu pada
hakikatnya tidak ada. Atas dasar inilah komunisme adalah anti demokrasi dan hak asasi manusia
(Kaelan, 2004).
6.2.1 Hubungan Negara dengan Agama Menurut Paham Komunisme
Komunisme berpaham atheis karena manusia ditentukan oleh diri sendiri. Agama
menurut komunis adalah suatu kesadaran diri bagi manusia yang kemudian menghasilkan.
Agama menurut komunisme adalah realisasi fanatis makhluk manusia, agama adalah keluhan
makhluk tertindas. Negara yang berpaham komunisme adalah bersifat atheis bahkan melarang
dan menekan kehidupan agama. Nilai tertinggi dalam negara adalah materi sehingga manusia
ditentukan materi (Kaelan, 2004).

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Ditinjau dari kausalitasnya, asal mula Pancasila dibedakan menjadi dua macam
yaitu: asal mula yang langsung dan asal mula yang tidak langsung. Asal mula yang
langsung tentang Pancasila adalah asal mula yang langsung terjadinya Pancasila
sebagai dasar filsafat Negara yaitu asal mula yang sesudah dan menjelang proklamasi
kemerdekaan, sedangkan asal mula tidak langsung Pancasila adalah asal mula
sebelum proklamasi kemerdekaan yang terdapat pada kepribadian serta dalam
pandangan hidup sehari-hari bangsa Indonesia.
Kedudukan dan fungsi Pancasila yaitu sebagai Dasar Negara Republik Indonesia
dan sebagai Pandangan Hidup Bangsa Indonesia, serta sebagai ideology bangsa dan
negara Indonesia.
Perbandingan ideologi Pancasila dengan paham ideologi besar lainnya di dunia
adalah ideologi Pancasila berketuhanan yang maha esa, berkemanusiaan yang adil
dan beradab, menjunjung persatuan dan kesatuan serta berkebangsaan yang
kerakyatan dan berkeadilan sosial.

B. SARAN
1. Sebaiknya warga Indonesia memahami Pancasila sebagai ideologi bangsa
Indonesia.
2. Menerapkan atau bertindak sesuai dengan ideologi Pancasila dalam kehidupan
sehari-hari.

DAFTAR RUJUKAN
Abdulgani, Ruslan. 1998. Pancasila dan Reformasi. Yogyakarta.
Aziz, M. Tobiyin. 1997. Pendidikan Pancasila. Jakarta: Rineka Cipta.
BP-7 pusat.1994. BAhan Penataran P-4, UUD 1945. Jakarta.
Darmodihardjo, Darji. dkk.1996. Penjabaran Nilai-Nilai Pancasila dalam Sistem Hukum
Indonesia. Jakarta: Rajawali.
Kaelan. 2004. Pendidikan Pancasila. Yogyakarta: Paradigma.
Kusnadi. 1995. Ilmu Negara. Jakarta: Gya Media Pratama.
Mahendra, Y.I. 1999. Ideologi dan Negara. Jakarta: Rajawali.
Notonagoro. 1975. Pancasila secara Ilmiah Populer. Jakarta: Pantjuran Tujuh.
Notonagoro. ----. Pancasila Yuridis Kenegaraan. -----Pranarka, A.W.N. 1985. Sejarah tentang Pemikiran Pancasila. Jakarta: CSIS.