Anda di halaman 1dari 9

Nama

: Hardy

RF (RHEUMATOID FACTOR) TEST


Tanggal Praktikum
Tempat praktikum
I.

: 12 Mei 2016
: Laboratorium Imunoserologi JAK

Tujuan
Untuk determinasi kualitatif dan semikualitatif adanya RF (Rheumatoid

Factor) dalam serum secara aglutinasi latex.


II.

Metode
Slide Aglutination test secara kualitatif dan semikuantitatif.

III.

Prinsip
Berdasarkan reaksi aglutinasi secara imunologis antara RF (Rheumatoid

Factor) dalam serum sebagai antibody dengan partikel latex yang telah dilapisi
IgG sebagai antigen.
IV.

Dasar Teori
Sistem imun tubuh adalah hal mendasar pada populasi yang heterogen,

terdiri dari dua efektor seluler dan molekuler dimana berfungsi secara terorganisir
dan terintegrasi untuk memberantas penyakit dan menjaga kesehatan Hostnya
secara keseluruhan, sekaligus meminimalkan aktifitas off-target (misalnya
autoimunitas). Sistem kekebalan tubuh biasanya dibagi menjadi dua sistem yang
berbeda, tapi saling berinteraksi, disebut sebagai sistem imun alamiah dan
mekanisme adaptif. (Knutson dkk, 2015).
Rheumatoid arthritis adalah penyakit autoimun yang paling umum yang
mempengaruhi sendi. Di seluruh dunia, sekitar 1% dari populasi yang
dipengaruhi, dengan prevalensi lebih tinggi pada orang keturunan Eropa atau
Asia. Rheumatoid arthritis dapat berkembang pada orang dari segala usia, yang
khas pada usia sekitar awal 55 tahun. Prevalensi rheumatoid arthritis meningkat
jauh dengan peningkatan usia, yang mempengaruhi sekitar 6% dari populasi
berkulit putih berusia lebih dari 65 tahun. Di Amerika Serikat, risiko hidup

terkena penyakit rheumatoid arthritis adalah 3,6% pada wanita dan 1,7% pada
pria. Ada beberapa indikasi bahwa risiko perkembangan rheumatoid arthritis telah
sedikit meningkat dalam beberapa tahun terakhir, setidaknya pada wanita (John
M. Davis, and Eric L. Matteson, 2012).
Rheumatoid arthritis (RA) adalah penyakit inflamasi yang menyebabkan
rasa sakit, pembengkakan, kekakuan, dan hilangnya fungsi pada sendi. Hal ini
terjadi ketika sistem kekebalan tubuh, yang biasanya membela tubuh dari
serangan organisme, ternyata menyerang membran yang melapisi sendi. Kejadian
rheumatoid arthritis dapat berkisar dari ringan sampai berat. Dalam kebanyakan
kasusnya adalah kronis, yang berarti berlangsung pada waktu yang lama hingga
sering semasa hidup. Bagi banyak orang, periode aktivitas penyakit yang relatif
ringan diselingi juga oleh flare, atau masa aktivitas penyakit meningkat. Di sisi
lainya, menimbulkan gejala yang konstan. Para ilmuwan memperkirakan bahwa
sekitar 1,5 juta orang, atau sekitar 0,6 persen dari populasi orang dewasa di AS,
memiliki arthritis. Rheumatoid arthritis terjadi pada semua ras dan kelompok
etnis. Meskipun penyakit ini sering dimulai pada usia pertengahan dan terjadi
dengan frekuensi meningkat pada orang tua, remaja dan orang dewasa muda juga
dapat didiagnosis adanya penyakit. (Anak-anak dan remaja yang lebih muda dapat
didiagnosis dengan arthritis juvenile idiopathic, sebuah kondisi yang berhubungan
dengan rheumatoid arthritis). Seperti beberapa bentuk lain dari arthritis,
rheumatoid arthritis lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan pada pria.
Sekitar dua sampai tiga kali lebih banyak perempuan memiliki penyakit ini
dibanding laki-laki (NIH, 2014).
Sementara etiologi rheumatoid arthritis (RA) tidak diketahui, semakin
banyak bukti menunjukkan bahwa RA berkembang pada individu dengan faktor
risiko genetik yang diturunkan setelah terpapar pemicu lingkungan. Identifikasi
autoantibodi dan sitokin dalam serum bertahun-tahun digunakan untuk diagnosis
RA menyebabkan konseptualisasi perkembangan RA yang terjadi secara bertahap
(Elizabeth W. Karlson, and Kevin Deane, 2012).
V.

Alat dan Bahan


5.1 Alat:
Mikropipet 50 l & 100 l
Yellow tip

Slide berwarna hitam


Pengaduk disposibel/Lidi
Tabung serologis
Rak tabung serelogis

5.2 Bahan:
Reagen RF latex
Kontrol serum positif
Kontrol serum negatif
Buffer glisin saline atau NaCL 0,85%
Aquadest
Tissue
Sampel: Serum (Bila tidak segera diperiksa maka serum dapat
disimpan pada suhu 2 - 80C sampai 48 jam atau suhu -20 0C sampai 4
minggu. Sampel tidak dapat digunakan jika Hemolisis, Lipemik dan
kontaminasi bakteri).
VI.

Cara Kerja
6.1 Secara Kualitatif ( Screening Test):
1. Alat, bahan, dan reagen disiapkan pada meja praktikum.
2. Bahan dan sampel disuhu ruangkan sebelum digunakan. Lalu reagen
RF latex di kocok perlahan agar partikel latex tersebar rata.
3. Reagen RF latex diteteskan satu tetes ke dalam lingkaran slide.
4. Serum dipipet sebanyak 50 mikron atau satu tetes dan diteteskan pada
lingkaran slide yang berisi reagen tadi.
5. Serum dan reagen RF latex diaduk selama lima detik dan
digoyangkan selama dua menit. Hasil dibandingkan dengan kontrol
positif dan negatif.
5.2 Cara Kerja Semi Kuantitatif
a. Lakukan pengenceran serum dengan menggunakan NaCl 0,85% atau
buffer saline , , 1/8, 1/16.
pengencera

1/8

1/16

n
Buffer
Serum

100 l
100 l

100 l

100 l

100 l

100 l
100 l
100 l

b. Pengenceran tadi dipipet 50 mikron dan diteteskan pada petak slide.

c. Ditambahkan 1 tetes reagen RF latex.


d. Aduk selama 5 detik dan goyangkan selama 2 menit lalu diamati
hasilnya.
e. Ditentukan hasil akhir/titer yaitu pengenceran tertinggi yang masih
menunjukkan hasil positif.
Pengenceran
1:2
1:4
1:8
1 : 16

Kadar CRP (IU/ml)


- 16 IU/ml
- 32 IU/ml
- 64 IU/ml
- 128 IU/ml

VII. Interpretasi Hasil


a. Kualitatif : * Test negatif : bila tidak terjadi aglutinasi (< 8 mg/l)
* Test positif : bila terjadi aglutinasi (gumpalan) latex.
Homogen
(-)

Aglutination
(+)

b. Semikuantitatif: Kadar RF test dalam sampel dinyatakan dari titer


dikalikan dengan sensitivitas reagen. Contoh: Jika titer 1:4 maka kadar
RF= 4 x 8 IU/mL= 32 IU/mL.
VIII. Hasil Pengamatan
1. Identitas probandus
a. Nama Probandus : Made Nurma Ningsih
b. Jenis Kelamin
: Perempuan
c. Usia
: 20 tahun
d. Hasil
: Tidak terjadi aglutinasi
2. Foto pengamatan
Sampel Serum

Reagen RF latex

Reagen kontrol (+)

Control Positif

Reagen kontrol (+)

Control Negatif

Uji Kualitatif

Tidak Terjadi Aglutinasi


(-)

Buffer

IX.

Pembahasan
Pada praktikum ini dilakukan pemeriksaan RF (rheumatoid factor test)

untuk menunjang diagnosis penyakit rheumatoid arthritis. Rheumatoid arthritis


adalah penyakit autoimun yang mempengaruhi 0,5-2% dari populasi. Meskipun
pengobatan modern untuk rheumatoid arthritis dapat menyebabkan remisi pada
banyak pasien, diagnosis rheumatoid arthritis dalam tahap awal penyakit ini
penting untuk mencegah kerusakan permanen pada lapisan sinovial dan tulang
rawan sendi yang sakit dan untuk mencegah perkembangan ke tahap penyakit
berikutnya (Sune F Nielsen dkk, 2012). Rheumatoid arthritis bisa sulit untuk
didiagnosa dalam tahap awal penyakit karena beberapa alasan. Pertama, tidak ada
tes tunggal untuk penyakit ini. Selain itu, gejala pada setiap orang berbeda-beda
dan dapat lebih parah pada beberapa orang dari orang lainnya. Gejala juga dapat
mirip dengan arthritis jenis lain dan kondisi sendi, dan mungkin diperlukan
beberapa waktu untuk mengkesampingkan kondisi lainnya.
Rheumatoid arthritis (RA) sering ditandai dengan adanya autoantibodi yang
beredar. Dijelaskan lebih dari 50 tahun yang lalu, rheumatoid factor (RF)
terdeteksi di hampir 70% dari pasien meskipun kehadirannya tidak spesifik untuk
RA. Meski demikian, peran RF dalam patogenesis RA masih tetap tidak jelas
(Jeremy Sokolove dkk, 2014).
Rheumatoid factor adalah autoantibodi yang mentargetkan sisi Fc dari
antibodi IgG. Pengujian untuk rheumatoid factor adalah tes darah yang paling
banyak digunakan dalam klasifikasi rheumatoid arthritis. Dalam klasifikasi saat
ini untuk rheumatoid arthritis "rheumatoid arthritis definit" didasarkan pada
konfirmasi kehadiran sinovitis setidaknya pada satu sendi. Sekitar 80% dari
semua pasien dengan rheumatoid arthritis pada akhirnya akan menjadi seropositif
untuk rheumatoid factor, sementara hanya 40% yang positif pada awal penyakit
klinis arthritis (Sune F Nielsen dkk, 2012). Pada penelitian Sune F. Nielsen dkk
(2012) menemukan bahwa peningkatan kadar rheumatoid factor berhubungan
dengan peningkatan jangka panjang (hingga 28 tahun) risiko rheumatoid arthritis.
Data dari penelitian mereka menunjukkan bahwa peningkatan kadar rheumatoid
factor dapat hadir bertahun-tahun sebelum manifestasi klinis arthritis. Individu
pada populasi umum tanpa rheumatoid arthritis tetapi dengan tingkat plasma

reumatoid factor yang tinggi memiliki risiko jangka panjang hingga 26 kali lipat
lebih besar terkena rheumatoid arthritis, dan sampai 32% 10 tahun berisiko
absolut rheumatoid arthritis.
Pada National Institute of Arthritis and Musculoskeletal and Skin Diseases
menyebutkan bahwa rheumatoid factor adalah antibodi yang akhirnya muncul
dalam darah pada kebanyakan orang dengan rheumatoid arthritis. Tidak semua
orang dengan rheumatoid arthritis positif untuk tes rheumatoid factor, dan
beberapa orang dites positif untuk rheumatoid factor, namun tidak pernah
mengalami perkembangan penyakit. Rheumatoid factor juga bisa menjadi positif
dalam beberapa penyakit lainnya, seperti sindrom sjogren, systemic lupus
erythematosus, polymyositis, dan dermatomyositis, serta pada inflamasi lainnya
seperti hepatitis kronis. Namun, RF positif dalam diri seseorang yang memiliki
gejala

sesuai

dengan

rheumatoid

arthritis

dapat

berguna

dalam

mengkonfirmasikan diagnosis. Selanjutnya, tingginya tingkat rheumatoid factor


berhubungan dengan rheumatoid arthritis yang lebih berat.
Pada praktikum ini menggunakan sampel serum atas nama Made Nurma
Ningsih yang berusia 20 tahun. Metode yang digunakan adalah metode slide
aglutination, dimana slide yang dipakai berwarna hitam. Tujuannya adalah untuk
memudahkan pengamatan saat terjadinya aglutinasi (apabila positif) karena
reagen RF latex berwarna putih. Dalam mengerjakan tes RF ini dilakukan dengan
2 cara yaitu secara kualitatif dan semi kuantitatif. Secara kulitatif digunakan
sebagai screening tes atau uji penyaring ada tidaknya antibodi RF dan secara
semikualitatif dilakukan untuk mengetahui titer RF dalam sampel dengan cara
pengenceran.
Pertama

pemeriksaan

secara

kualitatif

dilakukan

dengan

cara

mengkondisikan tiap-tiap komponen baik sampel dan reagen pada suhu ruang
agar sensitifitas reagen tidak berkurang karena sebelumnya disimpan pada suhu
yang rendah, lalu reagen dihomogenkan. Diteteskan 1 tetes reagen latex dan 1
tetes serum sampel (50 l) di atas lingkaran slide lalu diratakan hingga memenuhi
area lingkaran. Dengan hati-hati slide uji dimiringkan kebelakang dan kedepan
setiap 2 detik selama 2 menit. Diamati reaksi yang terjadi, hasil yang positif akan
terbentuk aglutinasi dan negatif bila tidak terjadi aglutinasi. Apabila pada tahap

uji kualitatif didapatkan hasil yang positif dilanjutkan pada tahap uji
semikuantitatif. Untuk uji semikuantitatif dilakukan dengan cara yang sama
dengan uji secara kualitatif namun serum diencerkan terlebih dahulu
menggunakan larutan buffer saline atau NaCl 0,85 % di dalam tabung serologi,
dimana pengenceran yang dilakukan adalah pengenceran , , 1/8, dan 1/16.
Pada serum probandus Made Nurma Ningsih didapatkan hasil negatif pada tahap
uji kualitatif yang artinya didalam serumnya tidak ada antibodi RF atau kadar
antibodi RF didalam serum tersebut <8 IU/mL, karena hasilnya negatif pada uji
kualitatif maka tidak dilanjutkan ke tahap uji semikuantitatif.
Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum melakukan pemeriksaan
RF ini yaitu, sampel yang digunakan tidak boleh lisis, tidak lipemik dan tidak
boleh terkontaminasi. Dan apabila dilakukan penundaan pemeriksaan sebaiknya
disimpan pada suhu 2-80 C untuk 48 jam atau dibekukan untuk periode yang
cukup lama.
X.

Simpulan
Dari praktikum pemeriksaan RF (rheumatoid factor) pada serum pasien

atas nama Made Nurma Ningsih dengan jenis kelamin perempuan didapatkan
hasil negatif RF.
XI.

Daftar Pustaka

Elizabeth W. Karlson and Kevin Deane. 2012. Environmental and geneenvironment interactions and risk of rheumatoid arthritis. Rheum Dis Clin
North Am. 38(2): 405426.
Jeremy Sokolove dkk. 2014. Rheumatoid factor as a potentiator of anticitrullinated protein antibody mediated inflammation in rheumatoid arthritis.
Arthritis Rheumatol. 66(4): 813821.
John M. Davis, and Eric L. Matteson. 2012. My Treatment Approach to
Rheumatoid Arthritis. Mayo Clin Proc.87(7): 659673.
Knutson, Keith L. 2015. Targeted Immune Therapy of Ovarian Cancer. Cancer
Metastasis Rev. 2015 Mar; 34(1): 5374.
NIH.

2013.

Rheumatoid

Arthritis:

In

Depth.

[online].

Tersedia:

https://nccih.nih.gov/health/RA/getthefacts.htm. (Diakses: 14 Mei 2016).

NIH. 2014. Handout on Health: Rheumatoid Arthritis. [online]. Tersedia:


http://www.niams.nih.gov/health_info/Rheumatic_Disease/default.asp.
(Diakses: 14 Mei 2016).
RF Latex Test kit. 2013.
Sune F Nielsen dkk. 2012. Elevated rheumatoid factor and long term risk of
rheumatoid arthritis: a prospective cohort study. BMJ. 345: e5244.