Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Belajar merupakan suatu proses usaha sadar yang dilakukan oleh individu
untuk suatu perubahan yang lebih baik dan berlangsung sepanjang hidup
manusia. Belajar memegang peranan penting di dalam perkembangan,
kebiasaan, sikap, keyakinan, tujuan, kepribadian, dan persepsi manusia.
Beberapa ahli memandang proses pembelajaran dari berbagai perspektif
yang berbeda. Hal inilah yang kemudian melahirkan beberapa teori belajar
klasik yang ditinjau dari sudut pandang yang berbeda. Salah satunya adalah
teori belajar humanistik. Perhatian psikologi humanistik yang terutama
tertuju pada masalah bagaimana tiap-tiap individu dipengaruhi dan dibimbing
oleh maksud-maksud pribadi yang mereka hubungkan kepada pengalamanpengalaman mereka sendiri. Menurut para pendidik aliran humanistis
penyusunan dan penyajian ateri pelajaran harus sesuai dengan perasaan dan
perhatian siswa (Dalyono, 2010: 43). Tujuan teori belajar humanistik adalah
membantu individu mengembangkan dirinya, yaitu membantu masingmasing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang
unik dan membangtunya dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada pada
diri mereka (Hamachek, 1977: 148).
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana akar perkembangan pendekatan humanistik?
2. Bagaimana pandangan humanistik dalam belajar?
3. Apa saja prinsip-prinsip belajar dalam pendekatan humanistik?
1.3 Tujuan
1. Untuk menjelaskan akar perkembangan pendidikan humanistik.
2. Untuk mengetahui pandangan humanistik dalam belajar.
3. Untuk menjelaskan prinsip-prinsip belajar dalam pendekatan humanistik.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Akar Pendekatan Humanistik
Praktik pendidikan humanistik sebenarnya tidak jauh berbeda dengan
pendidikan progresif yang telah berjalan selama paruh pertama tahun 1900an
yang dipelopori oleh John Dewey. John Dewey melawan pendidikan yang
tidak relevan dengan masyarakat industri. Dia melawan orang-orang yang
berpegang teguh pada waktu, menolak gagasan psikologi modern,
penggunaan latihan (drill) senagai metode pembelajaran, dan beberapa aspek
pendidikan yang tidak memiliki nilai manfaat dan bersifat dekoratif. John
Dewey percaya bahwa masyarakat perkotaan kontemporer akan menjadi
masyarakat yang tidak peka terhadap lingkungan. Pendidikan yang
berlangsung pada waktu itu memang akan mampu meningkatkan
pengetahuan dan keterampilan peserta didik, namun tidak akan mampu
menumbuhkembangkan kepekaan anak.
Pada tahun 1960an di Amerika Serikat muncul gerakan mahapeserta didik
karena mereka tidak menyukai proses dan hasil pendidikan di Amerika
Serikat yang telah mereka peroleh. Gerakan itu dipelopori oleh Neill, John
Holt, Jonathan Kozol, dan Paul Goodman. Gerakan yang disampaikan itu
merupakan respon atas ketidakpuasan atas kompetisi, tekanan, kehidupan
yang selalu diawasi, dan ketidaksesuaian apa yang mereka pelajari dengan
apa yang mereka amati ketika belajar di sekolah. Praktik pendidikan yang
dilawan oleh para tokoh gerakan itu adalah pendidikan di sekolah yang selalu
diarahkan oleh pendidik (direct instruction).
Gerakan yang telah dipelopori oleh para tokoh tersebut memunculkan
nama-nama gerakan pendidikan baru dengan berbagai sebutan seperti
romantisme, sistem pendidikan alternatif, dan pendidikan humanistik.
Selanjutnya praktik pendidikan humanistik berkembang di Amerika Serikat
pada tahun 1960an dan mencapai puncaknya pada tahun 1990an dengan
munculnya tokoh-tokoh psikologi seperti Abraham Maslow dan Carls
Rogers.

Dalam pendidikan humanistik, fokus utamanya adalah hasil pendidikan


yang bersifat afektif, belajar tentang cara-cara belajar (learning how to
learn), dan meningkatkan kreativitas dan semua potensi peserta didik.
Pilihan materi pembelajaran yang hendak digunakan dalam proses
pembelajaran merupakan hak peserta didik, dan bukan menjadi hak pendidik
yang akan disampaikan kepada peserta didik, atau perancang kurikulum.
Pembelajaran merupakan wahana bagi peserta didik untuk melakukan
aktualisasi diri, sehingga pendidik harus membangun kecenderungan tersebut
dan mengorganisir kelas agar peserta didik melakukan kontak dengan
peristiwa-peristiwa yang bermakna karena kreativitas individu yang
beraktualisasi diri memerlukan lingkungan yang mengungkapkan sifat-sifat
perseptif,

spontan,

ekspresif,

tidak

bersifat

pura-pura

(genuine),

menyenangkan, dan tidak menakutkan. Lingkungan pendidikan yang bebas


itu akan menghasilkan orang-orang yang mampu mengembangkan sifat-sifat
tersebut.
Hasil belajar dalam pandangan humanistik adalah kemampuan peserta
didik mengambil tanggung jawab dalam menentukan apa yang dipelajari dan
menjadi individu yang mampu mengarahkan diri sendiri (self-directing) dan
mandiri (independent). Namun demikian hasil belajar dalam pendekatan
humanistik sukar dispesifikasi dalam bentuk perilaku dan sukar diukur, sebab
pendekatan humanistik kurang menekankan pengetahuan dan keterampilan,
sebaliknya lebih menekankan pada hasil belajar yang lebih personal.
2.2 Pandangan Humanistik dalam Belajar
1. Pandangan Abraham Maslow
Abraham Maslow adalah tokoh gerakan psikologi humanistik yang
juga disebut sebagai bapak spiritual psikologi humanistik di Amerika.
Kontribusi yang diberikan Maslow adalah motivasi, aktualisasi diri, dan
pengalaman puncak yang memiliki dampak terhadap kegiatan belajar.
Maslow menyampaikan teori motivasi manusia berdasarkan hierarki
kebutuhan. Hierarki kebutuhan manusia dari tingkatan yang paling rendah
adalah sebagai berikut:
a. Kebutuhan fisik (physiological needs), seperti rasa lapar dan haus.
b. Kebutuhan akan rasa aman (safety needs).

c. Kebutuhan menjadi milik dan dicintai (sense of belongingness and


love).
d. Kebutuhan penghargaan (esteem needs), yakni merasa bermanfaat dan
hidupnya berharga.
e. Kebutuhan aktualisasi diri (self-actualization needs). Kebutuhan
aktualisasi itu termanifestasi di dalam keinginan untuk memebuhi
sendiri (self-fulfillment), untuk menjadi diri sendiri sesuai dengan
potensi yang dimiliki.
Dalam pandangan Maslow, tujuan pendidikan adalah aktualisasi diri,
atau membantu individu menjadi yang terbaik sehingga mampu menjadi
yang terbaik. Pendidik hendaknya menjadikan kegiatan belajar itu berasal
dari dalam individu, yakni belajar pada diri manusia pada umumnya dan
kedua belajar mandiri menjadi manusia tertentu. Proses pendidikan
hendaknya memberikan pengalaman yang digunakan sebagai sumber
daya dalam kegiatan belajar. Tujuan pendidikan di semua jenjang
hendaknya bersifat menemukan identitas dan kecakapan. Menemukan
identitas diri berarti menemukan karier diri sendiri.
Penelitian Maslow tentang orang-orang terkenal, seperti Lincoln dan
Beethoven , telah mengarahkan perhatiannya dalam mengidentifikasi 15
karakteristik kepribadian dasar bagi orang-orang yang beraktualisasi diri.
Pandangan yang menarik dari Maslow setelah melakukan penelitian itu
adalah bahwa aktualisasi diri hanya mungkin dicapai oleh orang-orang
yang sudah dewasa.
Individu yang beraktualisasi diri menampilkan karakteristik sebagai
berikut:
a. Berorientasi secara realistik.
b. Menerima diri sendiri, orang lain, dan dunia alamiah sebagaimana
adanya.
c. Bersifat spontan dalam berpikir, beremosi, dan berperilaku.
d. Terpusat pada masalah (problem centered) dan bukan berpusat pada
diri sendiri (self-centered).
e. Memiliki kebutuhan privasi dan berupaya memperolehnya, jika
memiliki kesempatan, serta memerlukan waktu berkonsentrasi untuk
memperoleh sesuatu yang menarik bagi dirinya.
f. Bersifat otonomi, independen, dan mampu

mempertahankan

kebenaran ketika menghadapi perlawanan.

g. Kadang-kadang memiliki pengalaman mistik yang tidak berkaitan


dengan pengalaman keagamaan.
h. Merasa sama dengan manusia secara keseluruhan berkenaan bukan
saja dengan keluarga, melainkan juga kesetaraan dunia secara
keseluruhan.
i. Memiliki hubungan dekat dan secara emosional dengan orang-orang
yang dicintai.
j. Memiliki struktur karakter demokratis berkenaan dengan penilaian
individu dan mampu bersahabat bukan didasarkan pada ras, status,
dan agama.
k. Memiliki etika yang berkembang terus.
l. Memiliki selera humor tinggi.
m. Memiliki selera kreativitas tinggi.
n. Menolak keseragaman budaya
2. Pandangan Karl Rogers
Dalam pandangan diri sendiri (self), Carl Rogers menyampaikan tiga
unsure pokok pada diri individu, yaitu (a) organisme, yakni orang secara
penuh; (b) medan fenomena, yakni totalitas pengalaman; dan (c) diri
sendiri, yakni bagian dari medan yang terdiferensiasi. Diri sendiri
memiliki karakteristik tertentu, mencakup upaya memperoleh konsistensi,
dan perubahan sebagai hasil dari kematangan dan belajar. Rogers
menyatakan adanya diri sendiri yang ideal dan diri sendiri yang nyata
dimana orang itu akan berada.
Kesenjangan antara keduanya dapat menadi stimulus belajar dan
potensi perilaku yang memunculkan tekanan tidak sehat.
Dengan memandang terapi dan pendidikan sebagai proses yang sama,
Rogers berupaya menjawab pertanyaan: jika pendidikan itu sempurna
seperti yang diharapkan dalam meningkatkan pertumbuhan dan
perkembangan individu, maka jenis manusia apakah yang muncul ?
Kemudian dia menjawab, yaitu : orang yang mampu mengalami semua
perasaannya dan tidak cemas akan perasaannya, dia berada dalam
penyaring informasi namun terbuka terhadap informasi dari berbagai
sumber, dia terlibat dalam proses menjadi dan menjadi diri sendiri serta
menemukan diri sebagai makhluk sosial, dia hidup di dalam suatu
peristiwa yang benar-benar sempurna namun belajar kehidupan sepanjang

hayat.Manusia merupakan organism yang berfungsi secara penuh, dank


arena

kesadaran

diri

yang

berlangsung

bebas

karena

melalui

pengalamannya, maka dia menjadi orang yang berfungsi secara penuh.


Rogers mendeskripsikan proses belajar yang terdiri atas dorongan
kearah aktualisasi diri secara penuh. Ada kontinum makna yang terdapat
di dalam rentangan belajar eksperiental, bermakna dan signifikan. Rogers
menggambarkan kualitas belajar eksperiental dalam mengembangkan
individu yang berfungsi secara penuh sebagai berikut .
a. Keterlibatan personal, yakni aspek-aspek kognitif dan afektif individu
harus terlibat di dalam peristiwa belajar.
b. Prakarsa diri, yakni menemukan kebutuhan yang berasal dari dalam
diri .
c. Pervasif, yakni belajar memiliki dampak terhadap perilaku, sikap atau
kepribadian diri.
d. Evaluasi diri, yakni

individu

dapat

mengevaluasi

diri

jika

pengalamannya memenuhi kebutuhannya.


e. Esensi, adalah makna , yakni apabila terjadi belajar eksperiental,
maknanya menjadi terpadu dengan pengalamannya secara total.
Tekanan Rogers terhadap belajar yang diprakarsai oleh diri sendiri
adalah relevan dengan kebutuhan peserta didik, dan gagasannya tentang
partisipasi peserta didik di dalam perencanaan dan evaluasi belajar
merupakan model baru dalam pendidikan. Apabila peserta didik memiliki
kemandirian dan tanggung jawab sendiri, mereka akan mampu
berpartisipasi di dalam menstrukturkan kegiatan belajarnya sendiri.
Kelompok merupakan mekanisme yang dikembangkan oleh Rogers
dalam membantu pertumbuhan dan perkembangan individu .Sebagaimana
terapi yang terpusat pada klien, dimana individu dapat tumbuh melalui
penggantian penahanan diri yang bersifat artifisial (kepura-puraan)
dengan mengenali diri secara nyata dan kemudian mengalami dan
berinteraksi dengan orang lain, maka kelompok itu dapat memberikan
suasana yang membuka tabir kehidupan diri sendiri. Kelompok itu
mendorong

anggotanya

untuk

mengungkapkan

pengalaman

dan

mendorong anggotanya untuk memilih, kreatif, menilai dan aktualisasi


diri.

Kelompok adalah bukan hal baru dalam pendidikan. Sejak jaman


kolonial, kelompok ini telah menajdi format belajar pertukaran
informasi,pemecahan masalah dan perkembangan personal. Rogers
memperkenalkan pandangannya tentang penggunaan proses kelompok
untuk memperlancar kematangan emosi dan psikologis. Kelompok, yakni
kelompok pelatihan (Training Group) , dan kelompok kepekaan telah
mencapai popularitas pada akhir tahun 1960 an. Rogers menaytakan
bahwa perubahan perilaku yang terjadi di dalam kelompok tidak harus
berlangsung lama. Individu mungkin terlibat secara mendalam di dalam
mengungkapkan dirinya sendiri dan kemudian meninggalkan berbagai
masalah yang tidak terselesaikan. Tekanan marital mungkin muncul, dan
komplikasi mungkin berkembang berkenaan dengan hubungan antar
anggota kelompok. Di samping adanya kelemahan itu, proses kelompok
merupakan kekuatan untuk memanusiakan kembali hubungan manusia
dan membantu menghidupkan kehidupan secara penuh disini dan
sekarang (here and now).
2.3 Prinsip-prinsip Belajar dalam Pendekatan Humanistik
Ada beberapa asumsi yang mendasari pendekatan humanistik dalam
pendidikan. Pertama, peserta didik mempelajari apa yang mereka
butuhkan dan ingin ketahui. Kedua, belajar tentang cara-cara belajar
adalah lebih penting dibandingkan dengan memperoleh pengetahuan
aktual. Ketiga, evaluasi yang dilakukan oleh peserta didik sendiri adalah
sangat bermanfaat dari pekerjaannya.Keempat, perasaan adalah sama
pentingnya dengan fakta dan belajar merasakan adalah sama pentingnya
dengan belajar tentang cara-cara berpikir. Kelima, belajar akan terjadi
apabila peserta didik tidak merasakan adanya ancaman.
1. Swa Arah (Self-Direction)
Prinsip swa arah menyatakan bahwa sekolah hendaknya
memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memutuskan
bahan belajar yang ingin dipelajari. Bahan belajar yang ingin
dipelajari peserta didik adalah yang memenuhi kebutuhan, keinginan,
hasrat ingin tahu, dan fantasinya. Prinsip ini lebih menekankan pada
motivasi intrinsik, dorongan dari dalam untuk bereksplorasi, dan
hasrat ingin tahu yang timbul dari dalam diri sendiri.
7

Prinsip belajar swa arah ini sangat penting bagi pendekatan


humanistik. Peserta didik hendaknya diberikan kesempatan untuk
mengarahkan belajarnya, memilih apa yang ingin mereka pelajari, dan
dalam derajat tertentu , mengarahkan kapan dan bagaimana peserta
didik itu akan mempelajarinya. Dalam prinsip ini anak akan menjadi
peserta didik yang mampu mengarahkan belajarnya sendiri,
memotivasi diri, dan tidak mejadi penerima informasi yang bersifat
pasif. Oleh karena itu anak belajar dengan motivasi tinggi apabila
mereka memiliki beberapa pilihan bahan belajar yang akan mereka
pelajari.
Tugas fasilitator di dalam mengarahkan peserta didik menjadi
pembelajar swa-arah adalah sebagai berikut :
a. Mendorong peserta didik untuk memenuhi komptensi baru.
b. Membantu memperjelas aspirasinya guna meningkatkan
kompetensinya.
c. Membantu mendiagnosis kesenjangan antara aspirasi dengan
kinerjanya sekarang.
d. Membantu mengidentifikasi masalah masalah kehidupan yang
mereka alami,dan
e. Melibatkan peserta didik dalam proses merumuskan tujuan belajar
dengan mempertimbangkan kebutuhan peserta didik yang telah
didiagnosis.
2. Belajar tentang Cara Belajar (learning how to learn)
Prinsip kedua dalam pendekatan humanistik adalah bahwa sekolah
hendaknya menghasilkan anak-anak yang secara terus menerus
menumbuhkan keinginannya untuk belajar dan mengetahui cara-cara
belajar. Pengetahuan yang diperoleh anak dari orang lain adalah
kurang berharga. Bagi anak-anak apa yang mereka pelajari tidak
membuat kenyataan itu berbeda, selama anak-anak itu ingin
mempelajari . Tugas sekolah adalah membuat anak ingin belajar
dengan tujuan yang ekplisit.
Para pendidik humanistik memiliki keyakinan bahwa tujuan akhir
pendidikan adalah mengubah batas-batas yang menjadi pendorong
individu untuk mendidik diri sendiri . Keinginan belajar merupakan
kondisi motivasional yang diharapkan oleh peserta didik, kemudian

tugas pendidik adalah membantu peserta didik belajar tentang caracara belajar. Peserta didik yang mengetahui cara-cara mempelajari
bidang-bidang pengetahuan memiliki harapan dalam memadukan
belajar baru dengan belajar yang menantang mengenai situasi yang
terus berubah. Apabila peserta didik dihadapkan pada tantangan baru,
mereka akan mudah menyesuaikan diri.
Tugas fasilitator dalam membantu peserta didik mengetahui caracara belajar adalah sebagai berikut :
a. Memotivasi peserta didik mempelajari tugas-tugas belajar yang
telah dirancang bersama,
b. Membantu merancang pengalaman belajar, memilih bahan belajar,
dan metode belajar, dan melibatkan peserta didik dalam
pembuatan keputusan bersama.
3. Evaluasi diri (Self-Evaluation)
Prinsip ini menyatakan bahwa evaluasi diri adalah sangat
diharapkan oleh peserta didik. Evaluasi diri merupakan prasyarat bagi
kemandirian peserta didik.Evaluasi yang dilakukan oleh sekolah atau
pendidik yang diakhiri dengan kenaikan kelas dan lulusan dipandang
sebagai tindakan yang menganggu aktivitas belajar peserta didik.
Demikian pula intrumen evaluasi yang diwujudkan dalam bentuk tes
dipandang tidak relevan dengan pendekatan humanistik, lebih-lebih
tes yang disusun bentuk tes objektif yang memiliki karakteristik
jawaban yang benar adalah satu. Ujian yang mempersyaratkan peserta
didik tidak boleh membuka buku atau catatan dalam bentuk apapun
juga tidak disukai oleh pendekatan humanistik.Alasannya adalah
apabila tujuan ujian itu digunakan untuk memberikan balikan atau
bimbingan belajar kepada peserta didik atau perbaikan pembelajaran
yang diperlukan oleh pendidik, maka buku atau catatan harus boleh
dibuka oleh peserta didik pada waktu mengerjakan soal ujian. Peserta
didik tidak dievaluasi dengan cara membandingkan dengan peserta
didik lain atau dengan standar yang ditetapkan oleh pendidik,
melainkan sebaliknya dievaluasi dengan menggunakan standar
peserta didik itu sendiri, dan tanpa ada grading.

Perbandingan dan grading dipandang oleh pendekatan humanistik


sebagai sesuatu yang menakutkan bagi peserta didik. Banyak peserta
didik melupakan bahan belajar di sekolah bukan karena mereka
memiliki memori yang buruk, melainkan karena mereka merasa tidak
percaya diri akan memori yang dimiliki. Peserta didik yang sering
dikoreksi atau memperoleh gading dari peserta didik tidak akan
mampu merespon masalah dengan baik karena mereka mengetahui
konsekuensi negatif yang akan dihadapi.
Pemberian grading seperti nilai A, B, dan sejenisnya dipandang
oleh pendekatan humanistic dapat memprakarsai proses belajar anak
untuk belajar memperoleh nilai tersebut, namun tidak akan mampu
memberikan keputusan personal peserta didik. Oleh karena itu
grading akan dipandang akan membuat peserta didik merasa rendah
diri. Apabila nilai itu diketahui oleh masyarakat umum, biasanya
disampaikan kepada orang tua, akan memberikan dampak buruk
terhadap identitas sosial peserta didik.
Apabila peserta didik memilih apa yang akan dipelajari dan
mengembangkan keterampilan cara-cara belajar maka peserta didik
itu harus melakukan evaluasi diri. Kapan peserta didik itu harus
mengambil tanggung jawab untuk memutuskan kriteria yang penting
bagi dirinya sendiri, tujuan belajar yang akan dicapai, dan seberapa
jauh mereka telah mencapai tujuan belajar yang ditetapkan sendiri,
semua itu diputuskan oleh peserta didik. Untuk merealisasikan prinsip
evaluasi diri itu pendidik dan peserta didik hendaknya bertemu secara
regular untuk melaksanakan perencanaan belajar dan kontrak kegiatan
belajar. Dalam pertemuan itu, mereka bersama-sama merumuskan
kriteria untuk digunakan dalam evaluasi, dan peserta didik memiliki
kesempatan untuk melaksanakan dan menguasai evaluasi diri.
Tugas fasilitator di dalam kegiatan evaluasi peserta didik adalah
sebagai berikut :
a. Melibatkan peserta didik dalam mengembangkan criteria kinerja,
dan metode dalam mengukur kemajuan tujuan belajarnya,
b. Membantu mengembangkan dan menerapkan prosedur evaluasi
kemajuan belajar.

10

4. Pentingnya Perasaan (Important of Feelings)


Pendekatan humanistic tidak membedakan domain kognitif dan
afektif dalam belajar, dalam arti kedua domain itu merupakan satu
kesatuan

yang

tidak

dapat

dipisah-pisahkan.

Dalam

pratik

pembelajaran ada kecenderungan pendidik lebih terkonsentrasi pada


domain kognitif dan melupakan domain afektif. Dalam pandangan
humanistic domain afektif adalah sama pentingnya dengan domain
kognitif, sehingga keduanya tidak boleh dipisahkan.
Dari sudut pandang pendekatan humanistik, belajar merupakan
kegiatan memperoleh informasi atau pengalaman baru, dan secara
personal peserta didik menemukan maknaakan informasi atau
pengalaman baru tersebut. Kegagalan peserta didik di sekolah bukan
disebabkan oleh kurangnya mereka memperoleh informasi atau
pengalaman, melainkan karena kepala sekolah tidak memberikan
kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan makna
personaldan perasaan mengenai objek, peristiwa, atau pengetahuan.
Untuk

merealisasikan

pembelajaran

yang

diarahkan

pada

pengembangan domain kognitif dan afektif sekaligus, para pakar


humanistik mengembangkan metode pembelajaran pertemuan kelas
untuk membahas masalah, nilai-nilai dan persaan interpersonal.
Secara spesifik, para pakar humanistik merekomendasikan bahwa
pendidik dalam melaksanakan pembelajaran hendaknya menekankan
nilai-nilai kerjasama, saling menghormati dan kejujuran, baik pada
waktu membuat contoh dan pada waktu mendiskusikan serta
memperkuat nilai-nilai yang dipelajari oleh peserta didik.
Tugas fasilitator di dalam mengembangkan perasaan positif
peserta didik terhadap pembelajaran adalah sebagai berikut :
a. Membantu peserta didik menggunakan pengalamannya sendiri
sebagai sumber belajar dengan menggunakan teknik seperti
diskusi, permainan peran, studi kasus dan sejenisnya.
b. Menyampaikan isi pembelajaran berdasarkan sumbersumber
belajar yang sesuai dengan tingkat pengalaman peserta didik.

11

c. Membantu menerapkan hasil belajar ke dalam dunia nyata


(transfer of learning) .Hal ini akan membuat belajar lebih
bermakna dan terpadu.
5. Bebas dari ancaman (Freedom of Threat )
Belajar akan lebih mudah, lebih bermakna dan lebih diperkuat
apabila belajar itu terjadi dalam suasana yang bebas dari ancaman.
Pendidikan yang berlangsung selama ini dipandang oleh pakar
humanistik sebagai tempat yang tidak menghargai peserta didik,
menjijikan, membuat malu peserta didik, dan mengancam identitas
sosial peserta didik. Persoalan utamanya adalah peserta didik selalu
dikendalikan dan dievaluasi oleh sekolah dan pendidik, mereka tidak
memiliki pilihan untuk memilih bahan ajar, dan tidak ada kesempatan
memilih kegiatan belajar dengan gaya belajarnya sendiri. Berbagai
persoalan itu akan menajdi ancaman pembelajar yang pada gilirannya
akan menganggu belajarnya.
Peserta didik yang belum mampu membaca bacaan dengan baik
kemudian diminta membaca dengan suara keras , peserta didik yang
belum

mampu

mengerjakan

matematika

kemudian

disuruj

mengerjakan soal di papan tulis, peserta didik yang mengalami


gangguan fisik kemudian disuruh melaksanakan gerakan-gerakan
olahraga secara sempurna, bentuk-bentuk tindakan itu dipandang
sebagai ancaman pada diri peserta didik. Apabila pendidik
melaksanakan tindakan seperti itu, maka belajar di sekolah dipandang
peserta didik sebagai bentuk ancaman, karena peserta didik
mengalami kendala dalam melaksanakan kegiatan belajar. Kegiatan
belajar yang dipandang membebaskan peserta didik dari ancaman
adalah pembelajaran yang diwarnai oleh suasana demokratis secara
bertanggung jawab. Dalam kegiatan belajar ini peserta didik dapat
mengungkapkan perasaannya dan kerendahan hatinya. Sebaliknya
kegiatan belajar yang diwarnai dengan berbagai ancaman, peserta
didik akan merasa gagal sebelum melaksanakan kegiatan belajar, dan
peserta didik yang merasa gagal itu pada akhirnya tidak akan mampu
menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Dengan kata lain, anak

12

yang sudah merasa gagal sebelum melakukan kegiatan belajar akan


tidak akan menumbuhkan kesehatan mental, atau akan mengalami
sakit mental karena selalu dihinggapi persaan gagal sebelum
melakukan suatu kegiatan.
Tugas fasilitator dalam menciptakan iklim belajar yang bebas dan
ancaman adalah sebagai berikut :
a. Menciptakan kondisi fisik yang menyenangkan , seperti tempat
duduk, ventilasi, lampu dan kondusif untuk terciptanya interaksi
b.

antar peserta didik.


Memandang bahwa setiap peserta didik merupakan pribadi yang
bermanfaat, dan menghormati perasaan-perasaan dan gagasan-

c.

gagasannya,
Membangun hubungan saling membantu antar peserta didik
dengan

mengembangkan

kegiatan-kegiatan

yang

bersifat

kooperatif dan mencegah adanya persaingan dan saling


memberikan penilaian.

13

BAB III
PENUTUP
3.1

Simpulan
Dari materi yang telah dipaparkan dalam makalah ini, dapat diambil
kesimpulan sebagai berikut:
1. Fokus utama dalam pendidikan humanistik adalah hasil pendidikan
yang bersifat afektif, belajar tentang cara-cara belajar (learning how
to learn), dan meningkatkan kreativitas dan semua potensi peserta
didik.
2. Dalam praktik pembelajaran, pendidikan humanistik memungkinkan
peserta didik untuk melakukan aktualisasi diri. Maka dari itu,
diperlukan lingkungan yang mendukung supaya peserta didik dapat
mengembangkan sifat-sifat yang mandiri dan mampu mengarahkan
diri sendiri.
3. Ada beberapa asumsi yang mendasari pendekatan humanistik dalam
pendidikan, yaitu: swa arah, belajar tentang cara belajar, evaluasi

3.2

diri, pentingnya perasaan, dan bebas dari ancaman.


Saran
Ada beberapa teori belajar klasik yang dikemukakan oleh para ahli,
yaitu teori belajar behavioristik, teori belajar kognitif, dan teori belajar
humanistik. Masing-masing teori belajar ini memandang suatu proses
dan hasil pembelajaran dari sudut pandang yang berbeda. Seorang
pendidik sebaiknya mengetahui dan memahami berbagai teori belajar ini
supaya mampu mengaplikasikannya dalam dunia pendidikan dengan
bijak.

14

DAFTAR PUSTAKA
Dalyono. 2010. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
RifaI, Achmad dan Catharina Tri Anni. 2012. Psikologi Pendidikan. Semarang:
Pusat Pengembangan MKU/MKDK-LP3 Unnes.

15