Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pengetahuan berkaitan erat dengan penalaran, kemampuan penalaran manusia
menyebabkan manusia mampu mengembangkan pengetahuan yang merupakan
rahasia

kekuasaan-kekuasaannya.

Manusia

satu-satunya

mahluk yang

mengembangkan pengetahuan secara sungguh-sungguh, Binatang hanya terbatas


mempunyai pengetahuan untuk kelangsungan hidupnya saja.
Hakikat penalaran merupakan suatu proses berfikir dalam menarik kesimpulan
yang berupa pengetahuan. Penalaran menghasilkan pengetahuan yang dikait kan
dengan kegiatan berfikir dan bukan karena perasaan. Sebagai sebuah kegiatan
berfikir maka penalaran mempunyai ciri-ciri, pertama logika , ialah suatu pola
berfikir yang secara luas. Dengan pola yang bersifat Jamak (plural) dan bukan
tunggal (singular). Kedua ciri penalaran adalah bersifat analitik proses berfikir
( berfikir yang menyandarkan kepada suatu analisis dan kerangkaberfikir yang
digunakan untuk analisis. Pada ilmu pengetahuanpun terdapat syarat-syarat dan
beberapa teori didalamnya.
Dalam makalah ini, akan dibahas mengenai Pengertian, Syarat, Proses
Terbentuk Serta Teori Ilmu Pengetahuan
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa pengertian Ilmu Pengetahuan ?
2. Apa saja syarat-syarat ilmu pengetahuan ?
3. Bagaimana proses terbentuknya ilmu pengetahuan ?
4. Bagaimana teori ilmu pengetahuan ?
5. Apa saja Sumber-sumber Pengetahuan ?
6. Apa saja Ciri-ciri Ilmu Pengetahuan ?

1.3 Tujuan
1. Untuk menjelaskan pengertian ilmu pengetahuan.
2. Untuk menjelaskan syarat-syarat ilmu pengetahuan.
3. Untuk menjelaskan bagaimana proses terbentuknya ilmu pengetahuan.
1

4. Untuk menjelaskan teori ilmu pengetahuan.


5. Untuk menjelaskan Sumber-sumber Pengetahuan.
6. Untuk menjelaskan Ciri-ciri Ilmu Pengetahuan.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Ilmu Pengetahuan

Mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, ilmu membahas dan


membicarakan segala macam pengetahuan yang dapat dimiliki manusia, baik
pengetahuan lahir maupun pengetahuan bathin, termasuk masalah-masalah yang
tresedental dan metafisik.
Pengertian Ilmu adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan dan
meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan alam manusia.
Sedangkan pengertian pengetahuan adalah informasi yang telah diproses dan
diorganisasikan untuk memperoleh pemahaman, pembelajaran dan pengalaman
yang terakumulasi sehingga bisa diaplikasikan ke dalam masalah/proses bisnis
tertentu.
Pengertian Ilmu Pengetahuan Menurut Para Ahli
Adapun pengertian ilmu pengetahuan menurut para ahli di Indonesia dan luar
negeri. :
Menurut para ahli di Indonesia
1. Moh. Hatta: Pengertian ilmu pengetahuan menurut Moh. Hatta bahwa ilmu
pengetahuan adalah pengetahuan atau studi yang teratur tentang pekerjaan
hokum umum, sebab akibat dalam suatu kelompok masalah yang sifatnya
sama baik dilihat dari kedudukannya maupun hubungannya.
2. Dadang Ahmad S: Pengertian ilmu pengetahuan menurut Dadang Ahmad S,
adalah suatu proses pembentukan pengetahuan yang terus menerus hingga
dapat menjelaskan fenomena dan keberadaan alam itu sendiri.
3. Mappadjantji Amien: Menurutnya, pengertian ilmu pengetahuan adalah
sesuatu yang berawal dari pengetahuan, bersumber dari wahyu, hati dan
semesta yang memiliki paradigma, objek pengamatan, metode, dan media
komunikasi membentuk sains baru dengan tujuan untuk memahami semesta
untuk memanfaatkannya dan menemukan diri untuk menggali potensi fitrawi
guna mengenal Allah.
4. Syahruddin Kasim: Menurut Syahruddin Kasim, bahwa pengertian ilmu
pengetahuan adalah pancaran hasil metabolisme ragawi sebagai hidayah sang
pencipta yang berasal dari proses interaksi fenomena fitrawimelalui dimensi
3

hati, akal, nafsu yang rasional empirik dan hakiki dalam menjelaskan hasanah
alam semesta demi untuk menyempurnakan tanggung jawab kekhalifaan.
5. Helmy A. Kotto: Pengertian ilmu pengetahuan menurut Helmy. A. Kotto
bahwasanya

ilmu

pengetahuan

adalah

suatu

proses

pembentukan

pengetahuan yang terus menerus sampai menjelaskan fenomena dan


keberadaan alam itu sendiri.
6. Sondang Siagian: Menurut Sondang Siagian bahwa ilmu pengetahuan adalah
suatu objek, ilmiah yang memiliki sekelompok prinsipol, dalil, rumus, yang
melalui percobaan yang sistematis dilakukan berulang kali telah teruji
kebenarannya, dalil-dalil, prinsip-prinsip dan rumus-rumus mana yang dapat
diajarkan dan dipelajari.
7. Soerjono Soekanto: Pengertian ilmu pengetahuan menurut Soerjono Soekanto
adalah pengetahuan yang tersusun sistematis dengan menggunakan kekuatan
pemikiran, pengetahuan dimana selalu dapat diperiksa dan ditelaah
(dikontrol) dengan kritis oleh setiap orang lain yang mengetahuinya.
8. Abu Bakar: Pengertian ilmu pengetahuan menurut Abu Bakar adalah suatu
pendapat atau buah pikiran, yang memenuhi persyaratan dalam ilmu
pengetahuan terhadap suatu bidang masalah tertentu.
Menurut Para Ahli di Luar Negeri
1. Asle Montagu: Pengertian ilmu pengetahuan menurut Asle Montagu dalam
bukunya the cultured man adalah sebagai pengetahuan yang disusun dalam
satu sistem yang berasal dari pengalaman, studi dan percobaan yang telah
dilakukan dipakai untuk menentukan hakikat prinsip tentang hak yang sedang
dipelajari.
2. V.Afayanev: Menurut V. Afayanev, bahwa pengertian ilmu pengetahuan dalam
buknya Marxist Philosophy adlaah pengetahuan manusia tentang alam,
masyarakat dan pikiran.
3. Ralp Ross dan Ernes Van Den Haag: Menurut Ralp Ross dan Ernes Van Den
Haag dalam bukunya yang berjudul The Fabric of Society, bahwa ilmu

memiliki kriteria empiris, rasional umum, kumulatif, dan keempatnya serentak


terpenuhi.
Jadi Ilmu (atau ilmu pengetahuan) adalah seluruh usaha sadar untuk
menyelidiki, menemukan dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai
segi kenyataan dalam alam manusia. Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan
rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi
lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya.
2.2 Syarat-Syarat Ilmu Pengetahuan
Berbeda dengan pengetahuan, ilmu merupakan pengetahuan khusus dimana
seseorang mengetahui apa penyebab sesuatu dan mengapa. Ada persyaratan
ilmiah sesuatu dapat disebut sebagai ilmu. Sifat ilmiah sebagai persyaratan ilmu
banyak terpengaruh paradigma ilmu-ilmu alam yang telah ada lebih dahulu.
1. Objektif. Ilmu harus memiliki objek kajian yang terdiri dari satu golongan
masalah yang sama sifat hakikatnya, tampak dari luar maupun bentuknya dari
dalam. Objeknya dapat bersifat ada, atau mungkin ada karena masih harus
diuji keberadaannya. Dalam mengkaji objek, yang dicari adalah kebenaran,
yakni persesuaian antara tahu dengan objek, dan karenanya disebut
kebenaran objektif; bukan subjektif berdasarkan subjek peneliti atau subjek
penunjang penelitian.
2. Metodis adalah
kemungkinan

upaya-upaya
terjadinya

yang

dilakukan

penyimpangan

untuk

dalam

meminimalisasi

mencari

kebenaran.

Konsekuensi dari upaya ini adalah harus terdapat cara tertentu untuk
menjamin kepastian kebenaran. Metodis berasal dari kata Yunani Metodos
yang berarti: cara, jalan. Secara umum metodis berarti metode tertentu yang
digunakan dan umumnya merujuk pada metode ilmiah.
3. Sistematis. Dalam perjalanannya mencoba mengetahui dan menjelaskan
suatu objek, ilmu harus terurai dan terumuskan dalam hubungan yang teratur
dan logis sehingga membentuk suatu sistem yang berarti secara utuh,
menyeluruh, terpadu , mampu menjelaskan rangkaian sebab akibat
5

menyangkut objeknya. Pengetahuan yang tersusun secara sistematis dalam


rangkaian sebab akibat merupakan syarat ilmu yang ketiga.
4. Universal. Kebenaran yang hendak dicapai adalah kebenaran universal yang
bersifat umum (tidak bersifat tertentu). Contoh: semua segitiga bersudut 180.
Karenanya universal merupakan syarat ilmu yang keempat. Belakangan ilmuilmu sosial menyadari kadar ke-umum-an (universal) yang dikandungnya
berbeda dengan ilmu-ilmu alam mengingat objeknya adalah tindakan
manusia. Karena itu untuk mencapai tingkat universalitas dalam ilmu-ilmu
sosial, harus tersedia konteks dan tertentu pula.
Pandangan ini sejalan dengan pandangan Parsudi Suparlan yang menyatakan
bahwa Metode Ilmiah adalah suatu kerangka landasan bagi terciptanya
pengetahuan ilmiah. Selanjutnya dinyatakan bahwa penelitian ilmiah dilakukan
dengan berlandaskan pada metode ilmiah. Sedangkan penelitian ilmiah harus
dilakukan secara sistematik dan objektif (Suparlan P., 1994). Penelitian ilmiah
sebagai pelaksanaan metode ilmiah harus sestematik dan objektif, sedang metode
ilmiah merupakan suatu kerangka bagi terciptanya ilmu pengetahuan ilmiah.
Maka jelaslah bahwa ilmu pengetahuan juga mempersyaratkan sistematik dan
objektif.
Sebuah teori pada dasarnya merupakan bagian utama dari metode ilmiah.
Suatu

kerangka

teori

menyajikan

cara-cara

mengorganisasikan

dan

menginterpretasi-kan hasil-hasil penelitian, dan menghubungkannya dengan


hasil-hasil penelitian yang dibuat sebelumnya. Jadi peranan metode ilmiah adalah
untuk menghubungkan penemuan-penemuan ilmiah dari waktu dan tempat yang
berbeda. Ini berarti peranan metode ilmiah melandasi corak pengetahuan ilmiah
yang sifatnya akumulatif. Dari uraian tersebut di atas dapatlah dikatakan bahwa
proses terbentuknya ilmu pengetahuan ilmiah melalui metode ilmiah yang
dilakukan dengan penelitian-penelitian ilmiah.
Pembentukan ilmu pengetahuan ilmiah pada dasarnya merupakan bagian yang
penting dari metode ilmiah. Suatu ilmu pengetahuan ilmiah menyajikan cara-cara
pengorganisasian

dan

penginterpretasian

hasil-hasil

penelitian,

dan
6

menghubungkannya dengan hasil-hasil penelitian yang dibuat sebelumnya oleh


peneliti lain. Ini berarti bahwa ilmu pengetahuan ilmiah merupakan suatu proses
akumulasi dari pengetahuan. Di sini peranan metode ilmiah penting yaitu
menghubungkan pengetahuan-pengetahuan ilmiah dari waktu dan tempat yang
berbeda.
Dalam ilmu-ilmu sosial prinsip objektivitas merupakan prinsip utama dalam
metode ilmiahnya. Hal ini disebabkan ilmu sosial berhubungan dengan kegiatan
manusia sebagai mahluk sosial dan budaya sehingga tidak terlepas adanya
hubungan perasaan dan emosional antara peneliti dengan pelaku yang diteliti.
2.3 Proses Terbentuknya Ilmu Pengetahuan
Perkembangan ilmu pengetahuan seperti sekarang ini tidaklah berlangsung
secara mendadak, melainkan terjadi secara bertahap, evolutif. Oleh karena untuk
memahami sejarah perkembangan ilmu mau tidak mau harus melakukan
pembagian atau klasifikasi.
Secara periodik, karena setiap periode menampilkan ciri khas tertentu dalam
perkembangan ilmu pengetahuan. Perkembangan pemikiran secara teoritis
senantiasa mengacu kepadaperadaban Yunani. Oleh karena itu periodisasi
perkembangan ilmu disini dimulai dari peradaban Yunani dan diakhiri pada
zaman kontemporer.
1.

Zaman Pra Yunani Kuno.


Pada zaman ini ditandai oleh kemampuan :
a. Know how dalam kehidupan sehari-hari yang didasarkan pada pengalaman.
b. Pengetahuan yang berdasarkan pengalaman itu diterima sebagai fakta dengan
sikap receptive mind, keterangan masih dihubungkan dengan kekuatan magis.
c. Kemampuan menemukan abjad dan sistem bilangan alam sudah
menampakkan perkembangan pemikiran manusia ke tingkat abstraksi.
d. Kemampuan menulis, berhitung, menyusun kalender yang didasarkan atas
sintesa terhadap hasil abstraksi yang dilakukan.
e. Kemampuan meramalkan suatu peristiwa atas dasar peristiwa-peristiwa

2.

sebelumnya yang pernah terjadi. (Rizal Muntazir, 1996)


Zaman Yunani Kuno
7

Zaman Yunani Kuno dipandang sebagai zaman keemasan filsafat, karena pada
masa ini orang memiliki kebebasan untuk mengungkapkan ide-ide atau
pendapatnya.Yunani pada masa itu dianggap sebagai gudang ilmu dan filsafat,
karena Bangsa Yunani pada masa itu tidak lagi mempercayai mitologimitologi. Bangsa Yunani juga tidak dapat menerima pengalaman yang
didasarkan pada sikap receptive attitude (sikapmenerima begitu saja),
melainkan menumbuhkan sikap an inquiring attitude (suatu sikap yang senang
menyelidiki sesuatu secara kritis). Sikap belakangan inilah yang menjadi cikal
bakal tumbuhnya ilmu pengetahuan modern. Sikap kritis inilah menjadikan
bangsa Yunani tampil sebagai ahli-ahli pikir terkenal sepanjang masa.
Beberapa filsuf pada masa itu antara lain Thales,Phytagoras, Sokrates,
3.

Plato,Aristoteles.
Zaman Abad Pertengahan
Zaman Abad Pertengahan ditandai dengan tampilnya para theolog di lapangan
ilmu pengetahuan. Para ilmuwan pada masa ini hampir semua adalah para
theolog, sehingga aktivitas ilmiah terkait dengan aktivitas keagamaan.
Semboyan yang berlaku bagi ilmu pada masa ini adalah Ancilla Theologia
atau abdi agama. Namun demikian harus diakui bahwa banyak juga temuan

4.

dalam bidang ilmu yang terjadi pada masa ini.


Zaman Renaissance
Zaman Renaissance ditandai sebagai era kebangkitan kembali pemikiran yang
bebas dari dogma-dogma agama. Renaissance ialah zaman peralihan ketika
kebudayaan Abad Pertengahan mulai berubah menjadi suatu kebudayaan
modern. Manusia pada zaman ini adalah manusia yang merindukan pemikiran
yang bebas. Manusia ingin mencapai kemajuan atas hasil usaha sendiri, tidak
didasarkan atas campur tangan ilahi. Penemuan-penemuan ilmu pengetahuan
modern sudah mulai dirintis pada Zaman Renaissance. Ilmu pengetahuan yang
berkembang maju pada masa ini adalah bidang astronomi. Tokoh-tokoh yang

5.

terkenal seperti Roger Bacon, Copernicus, Johannes Keppler, Galileo Galilei.


Zaman modern (17-19 M)
Zaman modern ditandai dengan berbagai penemuan dalam bidang
ilmiah.Perkembangan ilmu pengetahuan pada zaman modern sesungguhnya
8

sudah dirintis sejak zaman Renaissance. Seperti Rene Descartes, tokoph yang
terkenal sebagai bapak filsafat modern. Rene Descartes juga seorang ahli ilmu
pasti. Penemuannya dalam ilmu pasti adalah sistem koordinat yang terdiri dari
dua garis lurus X dan Y dalam bidang datar. Isaac Newton dengan temuannya
teori gravitasi. Charles Darwin dengan teorinya struggle for life (perjuangan
6.

untuk hidup). J.J Thompson dengan temuannya elektron.


Zaman kontemporer (Abad 20 dan seterusnya)
Fisikawan termashur abad keduapuluh adalah Albert Einstein. Ia menyatakan
bahwa alam itu tak berhingga besarnya dan tak terbatas, tetapi juga tak
berubah status totalitasnya atau bersifat statis dari waktu ke waktu. Einstein
percaya akan kekekalan materi. Ini berarti bahwa alam semesta itu bersifat
kekal, atau dengan kata lain tidak mengakui adanya penciptaan alam.
Disamping teori mengenai fisika, teori alam semesta, dan lain-lain maka
Zaman Kontemporer ini ditandai dengan penemuan berbagai teknologi
canggih. Teknologi komunikasi dan informasi termasuk salah satu yang
mengalami kemajuan sangat pesat. Mulai dari penemuan komputer, berbagai
satelit komunikasi, internet, dan lain sebagainya. Bidang ilmu lain juga
mengalami kemajuan pesat, sehingga terjadi spesialisasi-spesialisasi ilmu
yang semakin tajam.

2.4 Teori Ilmu Pengetahuan


Ada dua teori yang digunakan untuk mengetahui hakekat Pengetahuan:
1.

Realisme, teori ini mempunyai pandangan realistis terhadap alam.


Pengetahuan adalah gambaran yang sebenarnya dari apa yang ada dalam alam
nyata.

2.

Idealisme, teori ini menerangkan bahwa pengetahuan adalah proses-proses


mental/psikologis yang bersifat subjektif. Pengetahuan merupakan gambaran
subjektif tentang sesuatu yang ada dalam alam menurut pendapat atau
penglihatan orang yang mengalami dan mengetahuinya. Premis pokok adalah
jiwa yang mempunyai kedudukan utama dalam alam semesta.

2.5 Asal-Usul Pengetahuan / Sumber Pengetahuan


Ada beberapa pendapat tentang sumber pengetahuan antara lain:
1.

Empirisme, menurut aliran ini manusia memperoleh pengetahuan melalui


pengalaman (empereikos = pengalaman). Dalam hal ini harus ada 3 hal, yaitu
yang mengetahui (subjek), yang diketahui (objek) dan cara mengetahui
(pengalaman). Tokoh yang terkenal: John Locke (1632 1704), George
Barkeley (1685 -1753) dan David Hume.

2.

Rasionalisme, aliran ini menyatakan bahwa akal (reason) merupakan dasar


kepastian dan kebenaran pengetahuan, walaupun belum didukung oleh fakta
empiris. Tokohnya adalah Rene Descartes (1596 1650, Baruch Spinoza
(1632 1677) dan Gottried Leibniz (1646 1716).

3.

Intuisi. Dengan intuisi, manusia memperoleh pengetahuan secara tiba-tiba


tanpa melalui proses pernalaran tertentu. Henry Bergson menganggap intuisi
merupakan hasil dari evolusi pemikiran yang tertinggi, tetapi bersifat
personal.

4.

Wahyu adalah pengetahuan yang bersumber dari Tuhan melalui hambanya


yang terpilih untuk menyampaikannya (Nabi dan Rosul). Melalui wahyu atau
agama, manusia diajarkan tentang sejumlah pengetahuan baik yang terjangkau
ataupun tidak terjangkau oleh manusia.

2.6 Ciri-Ciri Ilmu Pengetahuan


Ilmu pengetahuan atau pengetahuan ilmiah menurut The Liang Gie (1987)
(dalam Surajiyo, 2010) mempunyai lima ciri pokok antara lain:
1. Empiris, pengetahuan itu diperoleh berdasarkan pengamatan dan percobaan.
2. Sistematis, berbagai keterangan dan data yang tersusun sebagai kumpulan
pengetahuan itu mempunyai hubungan ketergantungan dan teratur;
3. Objektif, ilmu berarti pengetahuan itu bebas dari prasangka perseorangan dan
kesukaan pribadi;

10

4. Analitis, pengetahuan ilmiah berusaha membeda-bedakan pokok soalnya


kedala bagian yang terperinci untuk memahami berbagai sifat, hubungan, dan
peranan dari bagian-bagian itu;
5. Verifikatif, dapat diperiksa kebenaranya oleh siapapun juga.
Adapun Van Melsen (1985) (dalam Surajiyo, 2010) mengemukakan ada delapan
ciri yang menandai ilmu, yaitu sebgai berikut:
1. Ilmu pengetahuan secara metodis harus mencapai suatu keseluruhan yang
secara logis koheren. Itu berarti adanya sistem dalam penelitian (metode)
maupun harus (susunan logis).
2. Ilmu pengetahuan tanpa pamrih, karena hal itu erat kaitannya dengan
tanggung jawab ilmuwan.
3. Universal ilmu pengetahuan.
4. Objektivitas, artinya setiap ilmu terpimpin oleh object dan tidak didistorsi
oleh prasangka-prasangka subjektif.
5. Ilmu pengetahuan harus dapat di verifikasi oleh semua peneliti ilmiah yang
bersangkutan, karena itu ilmu pengetahuan harus dapat dikomunikasikan.
6. Progresivitas, artinya suatu jawaban ilmiah baru bersifat ilmiah sungguhsungguh, bila mengandung pertanyaan baru dan menimbulkan problem baru
lagi.
7. Kritis, artinya tidak ada teori yang definitif, setiap teori terbuka bagi suatu
peninjauan kritis yang memanfaatkan data-data baru.
8. Ilmu pengetahuan harus dapat digunakan sebagai perwujudan kebertautan
antara teori dengan praktis.

11

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan makalah yang telah dibuat, dapat diambil kesimpulan sebagai
berikut.
1) Ilmu (atau ilmu pengetahuan) adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki,
menemukan dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan
dalam alam manusia.
2) Syarat-Syarat Ilmu Pengetahuan, terdiri dari
1. Objektif.
2. Metodis
3. Sistematis.
4. Universal
12

3) Proses Terbentuknya Ilmu Pengetahuan


1.
2.
3.
4.
5.
6.

Zaman Pra Yunani Kuno.


Zaman Yunani Kuno
Zaman Abad Pertengahan
Zaman Renaissance
Zaman modern (17-19 M)
Zaman kontemporer (Abad 20 dan seterusnya)

4) Teori Ilmu Pengetahuan


1. Realisme
2. Idealisme
5) Asal-Usul Pengetahuan / Sumber Pengetahuan
Ada beberapa pendapat tentang sumber pengetahuan antara lain:
1. Empirisme
2. Rasionalisme
3. Intuisi
4. Wahyu
6) Ciri-Ciri Ilmu Pengetahuan
1. Empiris, pengetahuan itu diperoleh berdasarkan pengamatan dan percobaan.
2. Sistematis, berbagai keterangan dan data yang tersusun sebagai kumpulan
pengetahuan itu mempunyai hubungan ketergantungan dan teratur;
3. Objektif, ilmu berarti pengetahuan itu bebas dari prasangka perseorangan dan
kesukaan pribadi;
4. Analitis, pengetahuan ilmiah berusaha membeda-bedakan pokok soalnya kedala
bagian yang terperinci untuk memahami berbagai sifat, hubungan, dan peranan
dari bagian-bagian itu;
5. Verifikatif, dapat diperiksa kebenaranya oleh siapapun juga.
3.2 Saran
Berdasarkan makalah yang telah dibuat, dapat diambil saran sebagai berikut.
1) Diharapkan sebagai calon pendidik, untuk mampu mengetahui dasar ilmu
pengetahuan

meliputi

pengertian, syarat, proses, teori terkait ilmu


13

pengetahuan sebagai bekal dalam mengajarkan ilmu pengetahuan kepada


siswa.

DAFTAR PUSTAKA
Bungin, B. (2005). Metodologi Penelitian Kuantitatif. Jakarta: Fajar Interpratama
Grafika
Surajiyo. 2010. Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia. Jakarta: Bumi

Aksara.
Surajiyo. Kelahiran dan Perkembangan Ilmu Pengetahuan. (Online). Tersedia:
http://download.portalgaruda.org/article.php?article. Diakses 9 April 2016
Suriasumantri, Jujun. Filsafat ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar
Harapan .1998

14

15

Anda mungkin juga menyukai