Anda di halaman 1dari 155

SAMBUTAN

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia dikenal pula sebagai negara maritim
dengan luas lautan mencapai 5,8 juta km2 yang terdiri dari perairan territorial 3,1 juta km2 dan ZEE
Indonesia 2,7 km2. Wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil di Indonesia terdiri dari 17.504 buah pulau
dan panjang pantai mencapai 95.181 km (KKP, 2011). Kondisi ini merupakan anugrah yang sangat
besar bagi pembangunan perikanan dan kelautan. Disamping itu, sumberdaya ikan yang hidup di
wilayah perairan Indonesia memiliki tingkat keragaman hayati (bio-diversity) sangat tinggi, dan
bahkan laut Indonesia merupakan wilayah Marine Mega-Biodiversity terbesar di dunia. Disamping
sumberdaya dapat pulih sebagaimana dikemukakan di atas, perairan laut Indonesia juga memiliki
sumberdaya tidak pulih seperti mineral (minyak, gas dan lain sebagainya) serta jasa-jasa lingkungan.
Kondisi ini selanjutnya menjadikan kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil sangat potensial untuk
dikembangkan berbagai kegiatan. Agar potensi wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil dapat dikelola
secara optimal dan tepat sasaran, maka perlu dikelola melalui Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah
Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K), sebagaimana amanat Undang-Undang Nomor 27 Tahun
2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pulau-Pulau Kecil dan Pulau-Pulau Kecil.
Rencana zonasi wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil dimaksudkan untuk menentukan arah
penggunaan sumberdaya tiap-tiap satuan perencanaan disertai dengan penetapan struktur ruang
dan pola ruang pada kawasan perencanaan yang memuat kegiatan yang boleh dilakukan dan tidak
boleh dilakukan. Agar dalam prakteknya penyusunan RZWP3K Kabupaten/Kota dapat dilaksanakan
dengan tahapan sesuai dengan peraturan yang berlaku dan sesuai dengan output serta sasaran,
maka diperlukan Pedoman Teknis Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
(RZWP3K) Kabupaten/Kota sebagai panduan bagi pelaksanaan penyusunan RZWP-3-K oleh
Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota.
Dengan disusunnya Pedoman Teknis ini, diharapkan akan memberikan kesamaan persepsi
dalam memberikan arahan teknis kepada Kelompok Kerja Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota
dan memberikan kemudahan dalam proses penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota kepada pihakpihak yang diberikan tugas penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota.
.
Jakarta,

Desember 2013
Sudirman Saad

Direktur Jenderal Kelautan Pesisir dan


Pulau-pulau Kecil

KATA PENGANTAR
Perencanaan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, terdiri atas: (1) Rencana
Strategis Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang selanjutnya disebut RSWP-3-K; (2) Rencana
Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang selanjutnya disebut RZWP-3-K; (3) Rencana
Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau Pulau Kecil yang selanjutnya disebut RPWP-3-K; dan (4)
Rencana Aksi Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang selanjutnya disebut RAWP-3K. Sebagaimana amanat UU No. 27 tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau
Kecil pada pasal 7 ayat 3 pemerintah daerah wajib untuk menyusun keempat perencanaan tersebut.
Dalam Undang-Undang No.27 tahun 2007 pada Bab IV tentang Perencanaan pasal 9 ayat (1),
disebutkan bahwa RZWP-3-K merupakan arahan pemanfaatan sumber daya di Wilayah Pesisir dan
Pulau-Pulau Kecil pemerintah provinsi dan/atau pemerintah kab/kota. Rencana Zonasi Wilayah
Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil sebagai salah satu perencanaan merupakan arahan alokasi ruang untuk
rencana kawasan pemanfaatan umum, rencana kawasan konservasi rencana kawasan strategis
nasional tertentu dan rencana alur. Pedoman Teknis Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir
dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten/Kota disusun sebagai panduan bagi pelaksanaan
penyusunan RZWP-3-K oleh Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. Diharapkan dengan adanya
Pedoman Teknis Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil ini, dapat
memberikan kesamaan persepsi dan memberikan kemudahan dalam proses penyusunan RZWP-3-K
Kabupaten/Kota, sehingga dapat menunjang upaya mengoptimalkan perencanaan wilayah pesisir
dan pulau-pulau kecil.
Kami menyadari bahwa buku Pedoman Teknis ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu
kami mengharapkan kritik dan saran untuk penyempurnaannya. Ucapan terimakasih dan
penghargaan kami sampaikan sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam
penyusunan pedoman ini. Semoga pedoman ini dapat bermanfaat dalam upaya Perencanaan
Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil di Indonesia.

Jakarta,

Desember 2013

Subandono Diposaptono

Direktur Tata Ruang Laut,


Pesisir dan Pulau-pulau Kecil

DAFTAR ISI
Daftar Isi
Daftar Tabel
Daftar Gambar
Daftar Lampiran
Bab 1 Ketentuan Umum
1.1
Istilah dan Definisi
1.2
Acuan Normatif
1.3
Kedudukan, Fungsi dan Manfaat RZWP-3-K Kabupaten/Kota
1.3.1. Kedudukan RZWP-3-K dalam Sistem Penataan Ruang dan
Sistem Perencanaan Pembangunan
1.3.2. Fungsi dan Manfaat RZWP-3-K
1.4
Maksud dan Tujuan
1.5
Masa Berlaku RZWP-3-K Kabupaten/Kota
Bab II

Bab III

Ketentuan Teknis Muatan RZWP-3-K Kabupaten/Kota


2.1
Batas Wilayah Perencanaan RZWP-3-K Kabupaten/Kota
2.2
Tujuan, Kebijakan, dan Strategi RZWP-3-K Pengelolaan WP-3-K
Kabupaten/Kota
2.3
Rencana Alokasi Ruang WP-3-K Kabupaten/Kota
2.4
Peraturan Pemanfaatan Ruang
2.5
Arahan Pemanfaatan Ruang WP-3-K
Prosedur dan Proses Penyusunan RZWP-3-K
3.1
Prosedur Penyusunan RZWP-3-K
3.1.1. Pra Penyusunan RZWP-3-K
Proses Penyusunan RZWP-3-K
3.2
3.2.1. Persiapan Penyusunan RZWP-3-K
3.2.2. Penyusunan Dokumen Final RZWP-3-K
3.2.2.1. Pengumpulan Data
3.2.2.2. Survei Lapangan
3.2.2.3. Pengolahan dan Analisis Data
3.2.2.4. Deskripsi Potensi dan Kegiatan Pemanfaatan
Sumberdaya Pesisir dan Pulau-pulau Kecil
3.2.2.5. Penyusunan Dokumen Awal
3.2.2.6. Konsultasi Publik I
3.2.2.7. Penentuan Usulan Alokasi Ruang
3.2.2.8. Penyusunan Dokumen Antara
3.2.2.9. Konsultasi Publik II
3.2.2.10. Penyusunan Dokumen Final
3.2.2.11. Permohonan Tanggapan dan/atau Saran

Halaman
i
iii
iv
v
I-1
I-1
I-5
I-6
I-6
I-9
I-10
I-10
II-1
II-1
II-3
II-5
II-9
II-10
III-1
III-1
III-1
III-4
III-8
III-8
III-9
III-10
III-12
III-13
III-14
III-15
III-16
III-33
III-34
III-35
III-36

DAFTAR TABEL
Tabel 2.1
Tabel 3.1
Tabel 3.2
Tabel 3.3
Tabel 3.4
Tabel 3.5
Tabel 3.6
Tabel 3.7
Tabel 3.8
Tabel 3.9
Tabel 3.10
Tabel 3.11
Tabel 3.12
Tabel 3.13
Tabel 3.14
Tabel L1.1
Tabel L1.2
Tabel L1.3
Tabel L1.4
Tabel L1.5
Tabel L1.6
Tabel L1.7
Tabel L1.8
Tabel L1.9
Tabel L1.10
Tabel L1.11
Tabel L1.12
Tabel L1.13
Tabel L1.14
Tabel L1.15
Tabel L1.16
Tabel L1.17
Tabel L1.18
Tabel L1.19
Tabel L1.20
Tabel L1.21
Tabel L1.22
Tabel L1.23
Tabel L1.24
Tabel L1.25

Pembagian Kawasan menjadi Zona, Sub-Zona


dan/atau Arahan Pemanfaatan
Contoh Identifikasi Stakeholders
Tujuan dan Target Peserta Sosialisasi Penyusunan RZWP-3-K
Materi, Metode, Output dan Lokasi Sosialisasi Penyusunan RZWP-3-K
Tujuan dan Target Peserta Bimtek Penyusunan RZWP-3-K
Materi, Metode, Output dan Lokasi Bimteki Penyusunan RZWP-3-K
Tujuan, Output dan Target Peserta Konsultasi Publik Penyusunan RZWP-3-K
Materi, Metode dan Lokasi Konsultasi Publik I Penyusunan RZWP-3-K
Nama Paket Sumberdaya dan Karakteristik Nilai-nilai Sumberdaya
Klasifikasi Kawasan dalam RZWP-3-K
Identifikasi Potensi Dampak Aktivitas dari Wilayah Sekitar
Klasifikasi Kompatibilitas Kegiatan
Contoh Tabel Kesepakatan Arahan Pemanfaatan Ruang
Tujuan,Output dan Target Peserta Konsultasi Publik II Penyusunan RZWP-3-K
Metode, Metode dan Lokasi Konsultasi Publik II Penyusunan RZWP-3-K
Parameter Kesesuaian Perairan Untuk Penangkapan Ikan
Tolok Ukur dan Kategori Daya Dukung Lahan Pantai Untuk Pertambakan
Parameter Kesesuaian Perairan Untuk Budidaya Air Laut
Parameter Kesesuaian Perairan Untuk Budidaya Air Payau
Parameter Kesesuaian Perairan Untuk Budidaya Tambak Udang
Parameter Kesesuaian Perairan Untuk Budidaya Tambak Bandeng
Parameter Kesesuaian Perairan Untuk Budidaya Kerang Hijau
Parameter Kesesuaian Perairan Untuk Budidaya Tiram Mutiara
Parameter Iklim dan Pengaruhnya terhadap Tambak Garam
Parameter Kesesuaian Perairan Untuk Wisata Bahari
Kriteria Sosial, Ekonomi dan Budaya dalam Penetapan Lokasi
Parameter Kesesuaian Wisata Selam
Parameter Kesesuaian Wisata Snorkeling
Parameter Kesesuaian Wisata Berperahu, jet Ski dan Banana Boat
Parameter Kesesuaian Wisata Pantai Rekreasi Pantai
Parameter Kesesuaian Wisata Pantai Olahraga Pantai dan Berjemur (Sun
Bathing)
Penggolongan Kelas Pelabuhan Berdasarkan Kriteria Teknis
Kriteria Pelabuhan Khusus
Kriteria Pelabuhan Daratan
Skoring Kesesuaian Kawasan Pelabuhan
Dampak Kawasan Pertambangan Terhadap Kegiatan Pemanfaatan Ruang
Kriteria Fisik Kesesuaian Perairan Kawasan Pertambangan Pasir Laut
Parameter Kesesuaian Lahan Pertanian di Pesisir
Parameter Kesesuaian Permukiman di Pesisir
Kriteria Pemilihan Lokasi Kawasan Industri

Halaman
II-6
III-1
III-2
III-3
III-3
III-4
III-15
III-15
III-17
III-20
III-26
III-28
III-32
III-34
III-34
L.1-2
L.1-3
L.1-3
L.1-4
L.1-5
L.1-5
L.1-5
L.1-6
L.1-7
L.1-7
L.1-8
L.1-8
L.1-9
L.1-9
L.1-9
L.1-10
L.1-11
L.1-12
L.1-12
L.1-13
L.1-18
L.1-19
L.1-21
L.1-21
L.1-22

ii

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1
Gambar 1.2
Gambar 2.1
Gambar 2.2
Gambar 2.3
Gambar 2.4
Gambar 2.5
Gambar 2.6
Gambar 3.1
Gambar 3.2
Gambar 3.3
Gambar 3.4
Gambar 3.5
Gambar 3.6
Gambar 3.7
Gambar 3.8
Gambar 3.9
Gambar 3.10
Gambar 3.11
Gambar 3.12
Gambar L.12.1
Gambar L.12.2
Gambar L.12.3
Gambar L.12.4
Gambar L.12.5
Gambar L.12.6
Gambar L.12.7
Gambar L.12.8
Gambar L.12.9
Gambar L.12.10

Hirarki Perencanaan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil


Kedudukan Perencanaan Pengelolaan WP3K dalam Sistem Perencanaan
Pembangunan NasionaL
Contoh penarikan garis batas pada pulau kecil yang berjarak lebih dari
2 (Dua) kali 12 mil namun berada dalam 1 (Satu) provinsi
Contoh Penarikan Garis Batas Pada Pulau Kecil Yang Berjarak
Kurang Dari 2 (Dua) Kali 12 Mil Yang Berada Dalam 1 (Satu) Provinsi
Contoh Penarikan Garis Batas Pada Gugusan Pulau-Pulau
Yang Berada Dalam Satu Provinsi
Contoh Penarikan Garis Batas Pada Pulau Kecil Yang Berjarak
Kurang Dari 2 (Dua) Kali 12 Mil Dan Berada Pada Provinsi Yang Berbeda
Ilustrasi Alokasi Ruang Laut Tiga Dimensi
Hubungan Instrumen Perencanaan, Pengendalian, dan Program
Tahapan dan Proses/Output Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota
Proses penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota Melalui Pelibatan
Masyarakat
Contoh Jangka Waktu Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten Kota
Ilustrasi Pemanfaatan Sumberdaya Pesisir
Peta Paket Sumberdaya Hasil Tumpangsusun Berbagai Karakteristik Lahan
dan Perairan
Contoh Proses Analisis Kesesuaian Lahan Untuk Zona Pariwisata
Contoh Ilustrasi Klasifikasi Kawasan di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau
Kecil
Diagram Penyusunan Peta Pola Ruang Wilayah Laut/Perairan Kabupaten
dan Kota Berdasarkan Peta Paket Sumberdaya
Ilustrasi Contoh Pembagian Kawasan menjadi Zona
Contoh Matriks Keterkaitan antar Kegiatan Pemanfaatan Ruang Pesisir
Ilustrasi Contoh Peta RZWP-3-K
Mekanisme Pemberian Tanggapan dan/atau Saran
Contoh Peta Jenis Tanah
Contoh Peta Topografi
Contoh Peta Kemiringan Lereng
Contoh Peta Bathimetri
Contoh Peta Geologi
Contoh Peta Geomorfologi
Contoh Peta Arus
Contoh Peta Gelombang
Contoh Peta Suhu Permukaan
Contoh Peta Kecerahan

Halaman
I-7
I-9
II-1
II-2
II-2
II-3
II-9
II-10
III-5
III-6
III-7
III-13
III-17
III-19
III-21
III-22
III-24
III-27
III-30
III-36
L12-1
L12-1
L12-2
L12-2
L12-3
L12-3
L12-4
L12-4
L12-5
L12-5

iii

Gambar L.12.11
Gambar L.12.12
Gambar L.12.13
Gambar L.12.14
Gambar L.12.15
Gambar L.12.16
Gambar L.12.17
Gambar L.12.18
Gambar L.12.19
Gambar L.12.20
Gambar L.12.21
Gambar L.12.22
Gambar L.12.23
Gambar L.12.24
Gambar L.12.25
Gambar L.12.26
Gambar L.12.27
Gambar L.12.28

Contoh Peta Sebaran TSS


Contoh Peta Sebaran pH
Contoh Peta Sebaran Salinitas
Contoh Peta Sebaran DO
Contoh Peta Sebaran BOD
Contoh Peta Sebaran Ammonia
Contoh Peta Sebaran Nitrat
Contoh Peta Sebaran Fosfat
Contoh Peta Penggunaan Lahan
Contoh Peta Pemanfaatan Wilayah Laut
Contoh Peta Sumberdaya Air
Contoh Peta Mangrove
Contoh Peta Terumbu Karang
Contoh Peta Lamun
Contoh Peta Sumberdaya Ikan
Contoh Peta Infrastruktur
Contoh Peta Jumlah Penduduk
Contoh Peta Pergerakan Ekonomi Wilayah

L12-6
L12-6
L12-7
L12-7
L12-8
L12-8
L12-9
L12-9
L12-10
L12-10
L12-11
L12-11
L12-12
L12-12
L12-13
L12-13
L12-14
L12-14

iv

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1
Lampiran 2
Lampiran 3
Lampiran 4
Lampiran 5
Lampiran 6
Lampiran 7
Lampiran 8
Lampiran 9
Lampiran 10
Lampiran 11
Lampiran 12

Kriteria Kesesuaian
Tabel Pernyataan pemanfaatan Ruang dan Peraturan Pemanfaatan Ruang
Contoh Tabel Indikasi Program
Sistematika Dokumen Final RZWP-3-K
Outline Laporan Akhir RZWP-3-K
Contoh Berita Acara Konsultasi Publik
Contoh Surat Permohonan Tanggapan/saran
Contoh TOR/KAK
Contoh RAB
Contoh Format Penyajian Peta
Contoh NLP (Nomor Lembar Peta)
Contoh Peta-peta Dasar dan Peta Tematik

Halaman
L1-1
L2-1
L3-1
L4-1
L5-1
L6-1
L7-1
L8-1
L9-1
L10-1
L11-1
L12-1

Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

Bab I
Ketentuan Umum
1.1.

Istilah dan Definisi


Dalam pedoman ini yang dimaksud dengan :
1 Perencanaan adalah suatu proses untuk menentukan tindakan masa depan yang tepat,
melalui urutan pilihan, dengan memperhitungkan sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil
yang tersedia.
2

Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil adalah suatu proses perencanaan,
pemanfaatan, pengawasan, dan pengendalian sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil
antarsektor, antara Pemerintah dan Pemerintah Daerah, antara ekosistem darat dan laut,
serta antara ilmu pengetahuan dan manajemen untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat.

Perencanaan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil adalah suatu proses
penyusunan tahapan-tahapan kegiatan yang melibatkan berbagai unsur kepentingan di
dalamnya, guna pemanfaatan dan pengalokasian sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil
yang ada dalam rangka meningkatkan kesejahteraan sosial dalam suatu lingkungan wilayah
atau daerah dalam jangka waktu tertentu.

Wilayah Pesisir adalah daerah peralihan antara ekosistem darat dan laut yang dipengaruhi
oleh perubahan di darat dan laut.

Pulau Kecil adalah pulau dengan luas lebih kecil atau sama dengan 2.000 km2 (dua ribu
kilometer persegi) beserta kesatuan ekosistemnya.

Pulau-pulau kecil adalah kumpulan beberapa pulau kecil yang membentuk kesatuan
ekosistem dengan perairan di sekitarnya.

Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil adalah sumber daya hayati, sumber daya
nonhayati; sumber daya buatan, dan jasa-jasa lingkungan; sumber daya hayati meliputi ikan,
terumbu karang, padang lamun, mangrove dan biota laut lain; sumber daya nonhayati
meliputi pasir, air laut, mineral dasar laut; sumber daya buatan meliputi infrastruktur laut
yang terkait dengan kelautan dan perikanan, dan jasa-jasa lingkungan berupa keindahan
alam, permukaan dasar laut tempat instalasi bawah air yang terkait dengan kelautan dan
perikanan serta energi gelombang laut yang terdapat di wilayah pesisir.

Ekosistem adalah kesatuan komunitas tumbuh-tumbuhan, hewan, organisme dan non


organisme lain serta proses yang menghubungkannya dalam membentuk keseimbangan,
stabilitas, dan produktivitas.

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

I-1

Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

Perairan Pesisir adalah laut yang berbatasan dengan daratan meliputi perairan sejauh 12
(dua belas) mil laut diukur dari garis pantai, perairan yang menghubungkan pantai dan pulaupulau, estuari, teluk, perairan dangkal, rawa payau, dan laguna.

10 Rencana Strategis Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil adalah rencana yang memuat arah
kebijakan lintas sektor untuk kawasan perencanaan pembangunan melalui penetapan tujuan,
sasaran dan strategi yang luas, serta target pelaksanaan dengan indikator yang tepat untuk
memantau rencana tingkat nasional.
11 Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil adalah rencana yang menentukan
arah penggunaan sumber daya tiap-tiap satuan perencanaan disertai dengan penetapan
struktur dan pola ruang pada kawasan perencanaan yang memuat kegiatan yang boleh
dilakukan dan tidak boleh dilakukan serta kegiatan yang hanya dapat dilakukan setelah
memperoleh izin.
12 Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil adalah rencana yang memuat
susunan kerangka kebijakan, prosedur, dan tanggung jawab dalam rangka pengoordinasian
pengambilan keputusan di antara berbagai lembaga/instansi pemerintah mengenai
kesepakatan penggunaan sumber daya atau kegiatan pembangunan di zona yang ditetapkan.
13 Rencana Aksi Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil adalah tindak lanjut
rencana pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil yang memuat tujuan, sasaran,
anggaran, dan jadwal untuk satu atau beberapa tahun ke depan secara terkoordinasi untuk
melaksanakan berbagai kegiatan yang diperlukan oleh instansi pemerintah, pemerintah
daerah, dan pemangku kepentingan lainnya guna mencapai hasil pengelolaan sumber daya
pesisir dan pulau-pulau kecil di setiap kawasan perencanaan.
14 Rencana Zonasi Rinci adalah rencana detail dalam 1 (satu) zona berdasarkan arahan
pengelolaan di dalam rencana zonasi yang dapat disusun oleh pemerintah daerah dengan
memperhatikan daya dukung lingkungan dan teknologi yang dapat diterapkan serta
ketersediaan sarana yang pada gilirannya menunjukkan jenis dan izin yang dapat diterbitkan
oleh pemerintah daerah.
15 Peraturan pemanfaatan ruang adalah ketentuan yang mengatur tentang persyaratan
pemanfaatan sumberdaya pesisir dan pulau-pulau kecil serta ketentuan pengendaliannya
yang disusun untuk setiap zona dan pemanfaatannya.
16 Izin Lokasi adalah izin yang diberikan untuk memanfaatkan ruang dari sebagian Perairan
Pesisir yang mencakup permukaan laut dan kolom air sampai dengan permukaan dasar laut
pada batas keluasan tertentu dan/atau untuk memanfaatkan sebagian pulau-pulau kecil.
17 Kawasan adalah bagian wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil yang memiliki fungsi tertentu
yang ditetapkan berdasarkan kriteria karakteristik fisik, biologi, sosial, dan ekonomi untuk
dipertahankan keberadaannya.
18 Zona adalah ruang yang penggunaannya disepakati bersama antara berbagai pemangku
kepentingan dan telah ditetapkan status hukumnya.
KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

I-2

Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

19 Zonasi adalah suatu bentuk rekayasa teknik pemanfaatan ruang melalui penetapan batasbatas fungsional sesuai dengan potensi sumber daya dan daya dukung serta proses-proses
ekologis yang berlangsung sebagai satu kesatuan dalam ekosistem pesisir.
20 Ruang adalah wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut, dan ruang udara, termasuk ruang
di dalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan mahluk lain hidup,
melakukan kegiatan, dan memelihara kelangsungan hidupnya.
21 Alokasi Ruang adalah distribusi peruntukan ruang dalam suatu wilayah.
22 Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kabupaten/Kota adalah rencana
Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kabupaten/Kota yang bersifat umum, berisi
arahan tentang alokasi ruang dalam rencana Kawasan Pemanfaatan Umum, rencana
Kawasan Konservasi, rencana Kawasan Strategis Nasional Tertentu, dan rencana Alur Laut.
23 Rencana Tata Ruang Wilayah adalah hasil perencanaan tata ruang berdasarkan aspek
administratif dan atau aspek fungsional yang telah ditetapkan.
24 Kawasan Pemanfaatan Umum adalah bagian dari wilayah pesisir yang ditetapkan
peruntukkannya bagi berbagai sektor kegiatan. (Kawasan Pemanfaatan Umum setara dengan
kawasan budidaya dalam Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang penataan ruang).
25 Kawasan Konservasi di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil adalah kawasan pesisir dan
pulau-pulau kecil dengan ciri khas tertentu yang dilindungi untuk mewujudkan pengelolaan
Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil secara berkelanjutan. (Kawasan Konservasi setara
dengan kawasan lindung dalam Undang-Undang No.26 Tahun 2007 tentang penataan ruang).
26 Kawasan Strategis Nasional Tertentu adalah Kawasan yang terkait dengan kedaulatan
negara, pengendalian lingkungan hidup, dan/atau situs warisan dunia, yang
pengembangannya diprioritaskan bagi kepentingan nasional.
27 Alur laut adalah merupakan perairan yang dimanfaatkan, antara lain, untuk alur pelayaran,
pipa/kabel bawah laut, dan migrasi biota laut.
28 Sempadan Pantai adalah daratan sepanjang tepian yang lebarnya proporsional dengan
bentuk dan kondisi fisik pantai, minimal 100 (seratus) meter dari titik pasang tertinggi ke arah
darat.
29 Daya Dukung Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil adalah kemampuan wilayah pesisir dan
Pulau-Pulau Kecil untuk mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lain.
30 Mitigasi Bencana adalah upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik secara struktur atau
fisik melalui pembangunan fisik alami dan/atau buatan maupun nonstruktur atau nonfisik
melalui peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana di wilayah pesisir dan
pulau-pulau kecil.
31 Paket Sumberdaya adalah informasi mengenai kondisi sumberdaya yang ada di area tertentu
di dalam satu unit perencanaan di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

I-3

Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

32 Konsultasi publik adalah proses penggalian masukan yang dapat dilakukan melalui rapat,
musyawarah, dan/atau bentuk pertemuan lainnya yang melibatkan berbagai unsur
pemangku kepentingan di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.
33 Dewan Perwakilan Rakyat Daerah adalah lembaga perwakilan rakyat daerah sebagai unsur
penyelenggara pemerintahan daerah.
34 Satuan Kerja Perangkat Daerah adalah organisasi/lembaga pada pemerintah daerah yang
bertanggungjawab pada pelaksanaan tugas di bidang tertentu di provinsi, atau
kabupaten/kota.
35 Pemangku Kepentingan Utama adalah para pengguna sumber daya pesisir dan pulau-pulau
kecil yang mempunyai kepentingan langsung dalam mengoptimalkan pemanfaatan sumber
daya pesisir dan pulau-pulau kecil, seperti nelayan tradisional, nelayan modern, pembudi
daya ikan, pengusaha pariwisata, pengusaha perikanan, dan masyarakat.
36 Masyarakat adalah masyarakat yang terdiri atas Masyarakat Hukum Adat, Masyarakat Lokal,
dan Masyarakat Tradisional yang bermukim di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.
37 Masyarakat Hukum Adat adalah sekelompok orang yang secara turun temurun bermukim di
wilayah geografis tertentu di Negara Kesatuan Republik Indonesia karena adanya ikatan pada
asal usul leluhur, hubungan yang kuat dengan tanah, wilayah, sumber daya alam, memiliki
pranata pemerintahan adat, dan tatanan hukum adat di wilayah adatnya sesuai ketentuan
perundang-undangan.
38 Masyarakat Lokal adalah kelompok masyarakat yang menjalankan tata kehidupan seharihari berdasarkan kebiasaan yang sudah diterima sebagai nilai-nilai yang berlaku umum,
tetapi tidak sepenuhnya bergantung pada sumber daya Pesisir dan pulau-pulau kecil
tertentu.
39 Masyarakat Tradisional adalah masyarakat perikanan tradisional yang masih diakui hak
tradisionalnya dalam melakukan kegiatan penangkapan ikan atau kegiatan lainnya yang sah
di daerah tertentu yang berada dalam perairan kepulauan sesuai dengan kaidah hukum laut
internasional.
40 Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional, yang selanjutnya disebut BKPRN adalah badan
yang dibentuk untuk mendukung pelaksanaan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007
tentang Penataan Ruang, yang tugas pokoknya mengoordinasikan penyusunan dan
pelaksanaan kebijakan penyelenggaraan penataan ruang.
41 Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah, yang selanjutnya disebut BKPRD adalah badan
bersifat ad-hoc yang dibentuk untuk mendukung pelaksanaan Undang-Undang Nomor 26
Tahun 2007 tentang Penataan Ruang di Provinsi dan di Kabupaten/Kota dan mempunyai
fungsi membantu pelaksanaan tugas Gubernur dan Bupati/Walikota dalam koordinasi
penataan ruang di daerah.

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

I-4

Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

42 Instansi terkait adalah instansi Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah, unit pelaksana
teknis, dan instansi vertikal yang terkait dengan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau
kecil.
43 Pemerintah Pusat, selanjutnya disebut Pemerintah, adalah Presiden Republik Indonesia yang
memegang kekuasaan pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana
dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
44 Pemerintah Daerah adalah gubernur, bupati, atau walikota, dan perangkat daerah sebagai
unsur penyelenggara pemerintahan daerah.
45 Menteri adalah Menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kelautan
dan perikanan.
46 Direktur Jenderal adalah direktur jenderal yang bertanggung jawab di bidang kelautan,
pesisir dan pulau-pulau kecil.
1.2.

Acuan Normatif
Pedoman ini disusun berdasarkan :
1. UU No 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya;
2. UU No 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan;
3. UU No 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas;
4. UUU No 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional;
5. UU No 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang;
6. UU No 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 1 Tahun 2014;
7. UU No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah dengan UU
No 12 Tahun 2008;
8. UU No 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran;
9. UU No 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan;
10. UU No 32 Tahun 2009 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup;
11. UU No 45 Tahun 2009 tentang Perubahan Atas UU No 31 Tahun 2004 tentang Perikanan;
12. PP No 19 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran dan/atau Perusakan Laut;
13. PP No 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara pemerintah,
pemerintahan Daerah, Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kab/ Kota;
14. PP No 60 Tahun 2007 tentang Konservasi Sumber Daya Ikan;
15. PP No 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang;
16. PP No 62 Tahun 2010 tentang Pemanfaatan Pulau-Pulau Kecil Terluar;
17. PP No 64 Tahun 2010 tentang Mitigasi Bencana di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil;
18. PP No 8 Tahun 2013 tentang Ketelitian Peta Rencana Tata Ruang;
19. Peraturan Presiden Nomor 122 Tahun 2012 tentang Reklamasi di Wilayah Pesisir dan PulauPulau Kecil;

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

I-5

Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

20. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No PER.08/MEN/2012 tentang Kepelabuhanan


Perikanan;
21. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. PER.xxx/MEN/2014 tentang Perencanaan
Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil;
22. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No.PER.17/MEN/2008 tentang Kawasan
Konservasi di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil;
23. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No.PER.30/MEN/2010 Tahun 2010 tentang
Rencana Pengelolaan dan Zonasi Kawasan Konservasi Perairan;
24. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No.PER.2/MEN/2011 tentang Jalur Penangkapan
Ikan dan Penempatan Alat Penangkapan Ikan dan Alat Bantu Penangkapan Ikan di Wilayah
Pengeloaan Perikanan Negara Republik Indonesia;
25. Peraturan Menteri Perhubungan No.PM 68 Tahun 2011 tentang Alur Pelayaran di Laut;
26. Peraturan Menteri Dalam Negeri No.76 Tahun 2012 tentang Pedoman Penegasan Batas
Daerah.
1.3. Kedudukan, Fungsi dan Manfaat RZWP-3-K Kabupaten/Kota
1.3.1. Kedudukan RZWP-3-K dalam Sistem Penataan Ruang dan Sistem Perencanaan Pembangunan
Pasal 6 ayat 5 UU UU Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang menyebutkan bahwa
Ruang laut dan ruang udara, pengelolaanya diatur dengan undang-undang tersendiri.
Khusus untuk ruang laut yang dimaksud dalam Undang-Undang tersebut adalah UU Nomor 27
Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil sebagaimana telah
diubah dengan UU Nomor 1 Tahun 2014. UU Nomor 27 Tahun 2007 sebagaimana telah diubah
dengan UU Nomor 1 Tahun 2014 merupakan Leg Specialis dari UU Nomor 26 Tahun 2007,
Indonesia mengenal asas Leg Spesialis Derogat Leg Generalis, hal-hal yang sifatnya khusus lebih
diutamakan dari hal yang sifatnya umum. Ruang lingkup pengaturan UU Nomor 27 Tahun 2007
sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 1 Tahun 2014, meliputi ke arah darat mencakup
wilayah administrasi kecamatan dan ke arah laut sejauh 12 mil laut diukur dari garis pantai
(cakupan wilayah pesisir).
Sesuai dengan UU Nomor 27 Tahun 2007 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 1 Tahun
2014, terdapat 3 (tiga) struktur yang menyusun pengelolaan pesisir dan pulau-pulau kecil, yakni
perencanaan, pemanfaatan, serta pengawasan dan pengendalian. Struktur perencanaan
memuat perencanaan yang bersifat spasial (keruangan) yaitu Rencana Zonasi Wilayah Pesisir
dan Pulau-Pulau Kecil yang selanjutnya disebut RZWP-3-K. Walaupun UU Nomor 27 Tahun 2007
sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 1 Tahun 2014 tidak secara eksplisit menyebut tata
ruang laut, namun perencanaan spasial tersebut diistilahkan dengan rencana zonasi wilayah
pesisir dan pulau-pulau kecil (RZWP-3-K).
Berdasarkan UU Nomor 27 Tahun 2007 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 1 Tahun
2014 pada Bab I Pasal 1 disebutkan, Rencana Zonasi adalah rencana yang menentukan arah
penggunaan sumber daya tiap-tiap satuan perencanaan disertai dengan penetapan struktur dan
KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

I-6

Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

pola ruang pada kawasan perencanaan yang memuat kegiatan yang boleh dan tidak boleh
dilakukan serta kegiatan yang hanya dapat dilakukan setelah memperoleh izin. Pengertian ini
mirip dengan definisi tata ruang yang tersurat dan tersirat pada Bab 1 Pasal 1 dalam UU Nomor
26 Tahun 2007. Perencanaan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil di dalam pasal 7
ayat (1), terdiri atas :
1) Rencana Strategis Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RSWP-3-K), yang memuat
isu, visi, misi, tujuan, sasaran, kebijakan, strategi dan program;
2) Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP-3-K), yang memuat
rencana alokasi ruang wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil;
3) Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RPWP-3-K), yang
memuat susunan kerangka kebijakan, prosedur, dan tanggung jawab dalam rangka
pengoordinasian pengambilan keputusan di antara berbagai lembaga/instansi
pemerintah mengenai kesepakatan penggunaan sumber daya atau kegiatan
pembangunan di zona yang ditetapkan; dan
4) Rencana Aksi Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RAPWP-3-K), yang
memuat tujuan, sasaran, anggaran, dan jadwal untuk satu atau beberapa tahun ke
depan secara terkoordinasi untuk melaksanakan berbagai kegiatan yang diperlukan
oleh instansi Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan pemangku kepentingan lainnya
guna mencapai hasil pengelolaan sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil di setiap
Kawasan perencanaan.
Hirarki perencanaan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil dapat dilihat pada
gambar 1.1 sebagai berikut :

Gambar 1.1. Hirarki Perencanaan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil

Selanjutnya di Pasal 7 ayat (3) disebutkan bahwa Pemerintah daerah wajib menyusun Rencana
Zonasi Wilayah Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP-3-K) sesuai dengan kewenangan masingmasing.

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

I-7

Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

Pemerintah daerah provinsi atau kabupaten/kota menyusun RZWP-3-K dengan memperhatikan:


1. RSWP-3-K dan RPJPD Provinsi atau Kabupaten/Kota yang terkait dengan pengelolaan
wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil;
2. RZWP-3-K Provinsi untuk penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota;
3. alokasi ruang untuk akses publik;
4. alokasi ruang untuk kepentingan sosial, ekonomi, dan budaya dengan tetap
memperhatikan kepemilikan serta penguasaan sumber daya di wilayah pesisir dan
pulau-pulau kecil;
5. keserasian, keselarasan dan keseimbangan dengan RTRW provinsi dan/atau RTRW
kabupaten/kota;
6. integrasi ekosistem darat dan laut;
7. keseimbangan antara perlindungan dan pemanfaatan berbagai jenis sumber daya
pesisir dan pulau-pulau kecil, jasa lingkungan, dan fungsi ekosistem dalam satu
bentang alam ekologis (bioekoregion);
8. perencanaan Pembangunan lainnya seperti Rencana Tata Ruang Hutan/Tata Guna
Hutan Kesepakatan (TGHK), Rencana Induk Pengembangan Pariwisata (RIPP), Kawasan
Rawan Bencana, Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP), prasarana perhubungan laut,
kawasan pemukiman, dan kawasan pertambangan;
9. kawasan, zona, dan/atau alur laut kabupaten/kota yang telah ditetapkan sesuai
dengan peraturan perundang-undangan; dan
10. peta rawan bencana dan peta risiko bencana.
Dalam Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 1
Tahun 2014 pada Bab IV tentang Perencanaan pasal 9 ayat (1), disebutkan bahwa RZWP-3-K
merupakan arahan pemanfaatan sumber daya di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
pemerintah provinsi dan/atau pemerintah kab/kota. Penyusunan RZWP-3-K seperti apa yang
diamanatkan UU Nomor 27 Tahun 2007 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 1 Tahun
2014 Pasal 9 ayat (2) tersebut di atas menegaskan bahwa RZWP-3-K harus diserasikan,
diselaraskan, dan diseimbangkan dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kab/Kota.
Rencana Tata Ruang Wilayah dalam UU Nomor 26 Tahun 2007 termasuk dalam Rencana Umum
Tata Ruang yang secara hirarki terdiri dari RTRW Nasional, RTRW Provinsi, RTRW Kab/Kota.
Kebijakan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil memiliki keterkaitan dengan
kebijakan perencanaan pembangunan nasional dan kebijakan penataan ruang. Berdasarkan
tujuan perencanaan pembangunan nasional, aktualisasi UU Nomor 25 Tahun 2004 diantaranya
ditandai dengan dihasilkannya: (a) Rencana Pembangunan Jangka Panjang; (b) Rencana
Pembangunan Jangka Menengah; dan (c) Rencana Pembangunan Tahunan. Keseluruhan
dokumen perencanaan tersebut menjadi pedoman bagi pelaksanaan segenap urusan yang
menjadi kewenangan pemerintah daerah dalam rangka mencapai tujuan dan sasaran daerah
pada akhir periode rencana, dan sekaligus menjadi dasar dalam penganggaran (pembiayaan)
program dan kegiatan yang dilaksanakan pemerintah dan pemerintah daerah. Dalam rangka
KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

I-8

Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

menjamin konsistensi pelaksanaan dokumen RZWP-3-K yang sudah disusun, maka hasil tersebut
perlu menjadi bagian dari proses perencanaan pembangunan daerah. Artinya Pemda perlu
menyusun tata cara perencanaan pembangunan untuk menghasilkan rencana-rencana
pembangunan jangka panjang, jangka menengah, dan tahunan yang telah memasukkan
pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Dokumen RSWP-3-K diharapkan berfungsi
sebagai instrumen yang akan dipakai sebagai referensi kebijakan dan program kegiatan dalam
pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil sampai dengan beberapa tahun ke depan
oleh pemerintah daerah, swasta, dan masyarakat. Untuk mewujudkan hal tersebut, maka
dokumen RSWP-3-K haruslah: (a) sejalan dan menjadi bagian dari sistem dan dokumen
perencanaan pembangunan daerah, serta (b) dilaksanakan secara konsisten oleh masing-masing
sektor, baik daerah maupun pusat.
Pada dasarnya, integrasi dokumen RZWP-3-K tersebut sejalan dengan sistem dan konsep
perencanaan pembangunan yang ada (UU Nomor 25 Tahun 2004) sebagaimana ilustrasi pada
Gambar 1.2 Tampak bahwa adopsi dan pelembagaan dokumen tersebut dilakukan dengan
menjadikan dokumen RZWP-3-K sebagai input dalam penyusunan RPJMD (Rencana
Pembangunan Jangka Mengengah Daerah), RKPD (Rencana Kerja Pemerintah Daerah), Renstra
SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah), dan Renja SKPD.

Perencanaan Spasial

Gambar 1.2 Kedudukan Perencanaan Pengelolaan WP3K


dalam Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional

1.3.2. Fungsi dan Manfaat RZWP-3-K


RZWP-3-K Kabupaten/Kota, antara lain berfungsi:
1) Sebagai bahan pertimbangan dalam penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Daerah (RPJMD)
2) Sebagai acuan dalam penyusunan RPWP-3-K dan RAPWP-3-K
3) Sebagai instrumen penataan ruang di perairan laut wilayah pesisir, dan pulau-pulau kecil
4) Memberikan kekuatan hukum terhadap alokasi ruang di perairan laut wilayah pesisir, dan
pulau-pulau kecil
KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

I-9

Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

5) Untuk memberikan rekomendasi dalam pemberian perizinan di perairan laut wilayah pesisir,
dan pulau-pulau kecil
6) Sebagai acuan dalam rujukan konflik di perairan laut wilayah pesisir, dan pulau-pulau kecil
7) Sebagai acuan dalam pemanfaatan ruang di perairan laut wilayah pesisir, dan pulau-pulau
kecil
8) Sebagai acuan untuk mewujudkan keseimbangan pembangunan di WP3K.
Manfaat RZWP-3-K Kabupaten/Kota adalah untuk :
1) Memfasilitasi akselerasi pertumbuhan ekonomi wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil
2) Mengidentifikasi daerah-daerah yang sesuai untuk dimanfaatkan
3) Mendorong pemanfaatan ruang dan sumberdaya pesisir dan pulau-pulau kecil yang efisien
4) Mengurangi kemungkinan dampak negatif dari pemanfaatan sumberdaya pesisir dan pulaupulau kecil
5) Mengidentifikasi daerah-daerah yang penting secara ekologi dan kelangsungan kehidupan
habitat pesisir dan pulau-pulau kecil dan mengurangi konflik dengan pemanfaatan ekonomi
6) Menjamin dan memastikan alokasi ruang untuk keanekaragaman hayati dan konservasi
alam
7) Mendorong kesempatan bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembangunan melalui
keterlibatan dalam proses perencanaan
8) Melindungi ruang yang secara turun-temurun dimanfaatkan untuk kepentingan sosial
budaya masyarakat seperti untuk upacara adat, wilayah ulayat, wilayah suci laut
9) Mengurangi konflik pemanfaatan ruang baik antara pemanfaatan yang tidak kompatibel
maupun konflik antara pemanfaatan manusia dan kelestarian lingkungan alam
1.4.

Maksud dan Tujuan


Pedoman ini dimaksudkan sebagai acuan dalam kegiatan penyusunan RZWP-3-K kabupaten/kota
oleh pemerintah daerah kabupaten/kota dan para pemangku kepentingan lainnya.
Tujuan disusunnya pedoman ini adalah untuk mewujudkan RZWP-3-K kabupaten/kota yang sesuai
dengan ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah
Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 1 Tahun 2014.

1.5.

Masa Berlaku RZWP-3-K Kabupaten/Kota


RZWP-3-K Kabupaten/Kota berlaku selama 20 (dua puluh) tahun terhitung mulai sejak ditetapkan
dan dapat ditinjau kembali setiap 5 (lima) tahun.

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

I-10

Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

Bab II
Ketentuan Teknis Muatan RZWP-3-K
Kabupaten/Kota
2.1 Batas Wilayah Perencanaan RZWP-3-K Kabupaten/Kota
Batas wilayah perencanaan RZWP3K Kabupaten/Kota ke arah darat mencakup wilayah
administrasi kecamatan pesisir dan ke arah laut sejauh 1/3 wilayah pengelolaan perairan
Provinsi.
Bagi daerah yang telah memiliki cakupan wilayah di perairan laut berdasarkan peraturan
perundangan yang berlaku, batas wilayah perencanaan RZWP-3-K mengacu pada peraturan
tersebut.
Penentuan batas wilayah perencanaan untuk daerah yang memiliki pulau-pulau kecil mengacu
pada peraturan Permendagri Nomor 76 Tahun 2012 tentang Pedoman Penegasan Batas Daerah,
sebagai berikut :
A. Untuk mengukur batas daerah di laut pada suatu pulau yang berjarak lebih dari 2 kali 12
mil laut yang berada dalam satu provinsi, diukur secara melingkar dengan jarak 12 mil laut
untuk provinsi dan sepertiganya untuk kabupaten/kota.

Gambar 2.1 Contoh Penarikan Garis Batas Pada Pulau yang Berjarak
Lebih Dari 2 (Dua) Kali 12 Mil Laut yang Berada Dalam 1 (Satu) Provinsi
(Sumber : Permendagri No. 76 Tahun 2012)

B.

Untuk mengukur batas daerah di laut pada suatu pulau yang berjarak kurang dari 2 (dua)
kali 12 mil laut yang berada dalam satu daerah provinsi, diukur secara melingkar dengan
jarak 12 mil laut untuk Batas Laut Provinsi dan sepertiganya merupakan kewenangan
pengelolaan Kabupaten dan Kota di laut.

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

II-1

Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

Gambar 2.2 Contoh Penarikan Garis Batas Pada Pulau yang Berjarak Kurang Dari
2 (Dua) Kali 12 Mil Laut yang Berada Dalam 1(Satu) Provinsi.
(Sumber : Permendagri No. 76 Tahun 2012)

C.

Untuk mengukur Batas Daerah di Laut pada suatu Gugusan Pulau-Pulau yang berada dalam
satu daerah provinsi, diukur secara melingkar dengan jarak 12 mil laut untuk batas
kewenangan pengelolaan laut provinsi dan sepertiganya merupakan kewenangan
pengelolaan Kabupaten/kota di laut.

Gambar 2.3 Contoh Penarikan Garis Batas Pada Gugusan Pulau-Pulau


yang Berada Dalam Satu Provinsi.
(Sumber : Permendagri No. 76 Tahun 2012)

D.

Untuk mengukur Batas Daerah di Laut pada Pulau yang berada pada daerah yang berbeda
provinsi dan berjarak kurang dari 2 kali 12 mil laut, diukur menggunakan prinsip garis
tengah (median line).

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

II-2

Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

Gambar 2.4 Contoh Penarikan Garis Batas Pada Pulau yang Berjarak Kurang Dari 2 (Dua) Kali 12 Mil
Laut yang Berada Pada Provinsi yang Berbeda.
(Sumber : Permendagri No. 76 Tahun 2012)

2.2 Tujuan, Kebijakan, dan Strategi Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
Kabupaten/Kota
Tujuan, Kebijakan, dan Strategi pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil
kabupaten/kota merupakan penjabaran dari visi dan misi pengelolaan wilayah pesisir dan
pulau-pulau kecil kabupaten/kota untuk mencapai kondisi ideal pengelolaan wilayah pesisir dan
pulau-pulau kecil kabupaten/Kota yang diharapkan.
A. Tujuan
Tujuan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil kabupaten/kota merupakan arahan
perwujudan alokasi ruang wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil kabupaten/kota yang ingin
dicapai pada masa yang akan datang (20 tahun).
Tujuan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil kabupaten/kota memiliki fungsi:
1) sebagai dasar untuk memformulasikan kebijakan dan strategi RZWP-3-K
kabupaten/kota;
2) memberikan arah bagi penyusunan indikasi program utama RZWP-3-K
kabupaten/kota; dan
3) sebagai dasar penetapan ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah
pesisir dan pulau-pulau kecil kabupaten/kota.
Tujuan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil kabupaten/kota dirumuskan
berdasarkan:
1) visi dan misi pembangunan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil kabupaten/kota;
2) karakteristik wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil kabupaten/kota;
3) isu strategis; dan
4) kondisi objektif yang diinginkan.
KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

II-3

Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

Tujuan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil kabupaten/kota dirumuskan


dengan kriteria:
1) tidak bertentangan dengan tujuan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil
provinsi dan nasional;
2) jelas dan dapat tercapai sesuai jangka waktu perencanaan; dan
3) tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.
B. Kebijakan
Kebijakan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil kabupaten/kota merupakan
arah tindakan yang harus ditetapkan untuk mencapai tujuan pengelolaan wilayah pesisir dan
pulau-pulau kecil kabupaten/kota.
Kebijakan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil kabupaten/kota berfungsi
sebagai:
1) sebagai dasar untuk memformulasikan strategi pengelolaan wilayah pesisir dan
pulau-pulau kecil kabupaten/kota;
2) sebagai dasar untuk merumuskan alokasi ruang wilayah pesisir dan pulau-pulau
kecil;
3) memberikan arah bagi penyusunan indikasi program utama pengelolaan wilayah
pesisir dan pulau-pulau kecil kabupaten/kota; dan
4) sebagai dasar penetapan ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah
pesisir dan pulau-pulau kecil.
Kebijakan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil kabupaten/kota dirumuskan
berdasarkan:
1) tujuan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil kabupaten/kota;
2) karakteristik wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil kabupaten/kota;
3) kapasitas sumber daya wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil kabupaten/kota dalam
mewujudkan tujuan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil; dan
4) ketentuan peraturan perundang-undangan terkait.
Kebijakan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil kabupaten/kota dirumuskan
dengan kriteria:
1) mengakomodasi kebijakan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil
nasional dan provinsi yang berlaku pada wilayah kabupaten/kota bersangkutan;
2) jelas, realistis, dan dapat diimplementasikan dalam jangka waktu perencanaan pada
wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil kabupaten/kota bersangkutan;
3) mampu menjawab isu-isu strategis baik yang ada sekarang maupun yang
diperkirakan akan timbul di masa yang akan datang; dan
4) tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

II-4

Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

C. Strategi
Strategi pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil kabupaten/kota merupakan
penjabaran kebijakan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil kabupaten/kota ke
dalam langkah-langkah operasional untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Strategi pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil kabupaten/kota berfungsi:
1) sebagai dasar untuk penyusunan rencana alokasi ruang, dan penetapan kawasan
strategis kabupaten/kota;
2) memberikan arah bagi penyusunan indikasi program utama dalam RZWP-3-K
kabupaten/kota; dan
3) sebagai dasar dalam penetapan ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah
pesisir dan pulau-pulau kecil kabupaten/kota.
Strategi pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil kabupaten/kota dirumuskan
berdasarkan:
1) kebijakan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil wilayah kabupaten/kota;
2) kapasitas sumber daya wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil kabupaten dalam
melaksanakan kebijakan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil; dan
3) ketentuan peraturan perundang-undangan.
Strategi pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil wilayah kabupaten/kota
dirumuskan dengan kriteria:
1) memiliki kaitan logis dengan kebijakan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau
kecil;
2) tidak bertentangan dengan tujuan, kebijakan, dan strategi pengelolaan wilayah
pesisir dan pulau-pulau kecil nasional dan provinsi;
3) jelas, realistis, dan dapat diimplementasikan dalam jangka waktu perencanaan pada
wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil kabupaten/kota bersangkutan secara efisien
dan efektif;
4) harus dapat dijabarkan secara spasial dalam rencana alokasi ruang wilayah pesisir
dan pulau-pulau kecil kabupaten/kota; dan
5) tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.
Tujuan, kebijakan, dan strategi tersebut diatas diadopsi dari tujuan, kebijakan, dan strategi
yang tertuang dalam dokumen RSWP-3-K. Apabila belum ada, maka harus merumuskan
Tujuan, kebijakan, dan strategi Pengelolaan WP-3-K.
2.3 Rencana Alokasi Ruang WP-3-K Kabupaten/Kota
RZWP-3-K merupakan arahan pemanfaatan sumber daya di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau
Kecil pemerintah Kabupaten/Kota yang secara spasial diwujudkan dalam alokasi ruang. Alokasi
ruang terbentuk dari distribusi peruntukan ruang yang terdiri dari alokasi-alokasi ruang dengan
fungsi-fungsi tertentu.
Rencana alokasi ruang wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil Kabupaten/Kota merupakan
rencana distribusi ruang ke dalam Kawasan Pemanfaatan Umum, Kawasan Konservasi,
Kawasan Strategis Nasional Tertentu, dan Alur Laut. Alokasi Ruang di dalam Kawasan
KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

II-5

Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

Pemanfaatan Umum, Kawasan Konservasi, dan Kawasan Strategis Nasional Tertentu dijabarkan
ke dalam zona, sub zona dan arahan pemanfaatan untuk setiap zona pada masing-masing
kawasan yaitu sebagai berikut:
Tabel 2.1 Pembagian Kawasan menjadi Zona, Sub-Zona
dan/atau Arahan Pemanfaatan
KAWASAN
1. KAWASAN PEMANFAATAN
UMUM

ARAHAN PEMANFAATAN
Sub zona
Pariwisata
1. wisata selam;
2. wisata snorkeling;
3. wisata jet ski dan banana boat;
4. wisata pantai; dan/atau
5. olahraga pantai dan berjemur.
Permukiman
1. permukiman nelayan;
dan/atau
2. permukiman non nelayan
Pelabuhan
1. Daerah
Lingkungan
Kerja
(DLKr) dan Daerah Lingkungan
Kepentingan (DLKp); dan/atau
2. Wilayah Kerja dan Wilayah
Pengoperasian Pelabuhan
Perikanan
Pertanian
1. Pertanian lahan basah
2. Pertanian lahan kering ;
dan/atau
3. Hortikultura
Hutan
1. Hutan produksi terbatas
2. Hutan produksi tetap ;
dan/atau
3. Hutan produksi yang dapat
dikonversi
Pertambangan
1. Mineral
2. Pasir Laut (Galian C )
3. Minyak Bumi
4. Gas Bumi
5. Panas Bumi
Perikanan Budidaya
1. budidaya laut;
2. budidaya air payau; dan/atau
3. budidaya air tawar
Perikanan Tangkap
1. Pelagis; dan/atau
2. Demersal
Industri
1. Industri pengolahan ikan
ZONA

2.
3.
4.
5.
6.

Fasilitas Umum

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

7.
1.
2.
3.
4.

Industri maritim
Industri manufaktur
Industri minyak dan gas bumi
Industri garam
Industri biofarmakologi ;
dan/atau
Industri bioteknologi
Pendidikan
Olahraga
Keagamaan
Kesenian; dan/atau

II-6

Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota


KAWASAN

ZONA

ARAHAN PEMANFAATAN
Sub zona
5. Kesehatan

2. KAWASAN KONSERVASI
Kawasan Konservasi
dikategorikan atas:
a. Kawasan Konservasi Pesisir
dan Pulau-Pulau Kecil (KKP3K)
b. Kawasan Konservasi Maritim
(KKM);
c. Kawasan Konservasi Perairan
(KKP); dan
d. Sempadan pantai.

KKP3K dan KKM, dirinci


atas:
1. Zona Inti

2. Zona Pemanfaatan
terbatas

3. Zona Lain sesuai


peruntukan kawasan
(zona lain sesuai dengan
peruntukan Kawasan)
KKP dan sempadan pantai
diatur sesuai ketentuan
peraturan perundangundangan
3. KAWASAN STRATEGIS
NASIONAL TERTENTU (KSNT)
Kawasan Strategis Nasional
Tertentu, memperhatikan
kriteria:
1) batas maritim kedaulatan
negara;
2) kawasan secara geopolitik,
pertahanan dan keamanan
negara;
3) pengelolaan situs warisan
dunia;
4) pulau-pulau kecil terluar yang
menjadi titik pangkal
dan/atau habitat biota
endemik dan langka.
5) kesejahteraan masyarakat;
dan/atau
6) pelestarian lingkungan.
4. ALUR

Pemanfaatannya, antara lain:


1) perlindungan mutlak habitat
dan populasi ikan serta alur
migrasi biota laut;
2) perlindungan ekosistem pesisir
unik dan/atau rentan terhadap
perubahan;
3) perlindungan situs budaya
atau adat tradisional;
4) penelitian; dan/atau
5) pendidikan
Pemanfaatannya, antara lain:
1) perlindungan habitat dan
populasi ikan
2) pariwisata dan rekreasi
3) penelitian dan pengembangan
4) pendidikan
Pemanfaatannya, antara lain:
1) Rehabilitasi
2) Perlindungan

Kawasan Strategis Nasional Tertentu dapat dijabarkan ke dalam


zona dan sub zona atau pemanfaatan sesuai dengan ketentuan
pengalokasian ruang dalam kawasan pemanfaatan umum,
kawasan konservasi, dan alur laut.

Alur Pipa dan Kabel

Alur Pelayaran

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

1. Kabel Listrik;
2. Pipa Air Bersih;
3. Kabel Telekomunikasi;
4. Pipa Minyak dan Gas;
5. Pipa dan kabel lainnya
1. Pelayaran Internasional;

II-7

Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota


KAWASAN

ZONA

Alur Migrasi Biota

ARAHAN PEMANFAATAN
Sub zona
2. Pelayaran Nasional;
3. Pelayaran Regional;
4. Pelayaran Lokal;
5. Pelayaran Khusus (Wisata,
Tambang, dll)
1. Migrasi Ikan Tertentu (Tuna,
Sidat, dll);
2. Migrasi Penyu;
3. Migrasi Mamalia Laut (Paus,
Lumba-lumba, Dugong)

Rencana alokasi ruang wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil Kabupaten/Kota berfungsi :
a. Sebagai alokasi ruang untuk berbagai kegiatan sosial dan ekonomi masyarakat dan
kegiatan pelestarian lingkungan dalam WP-3-K Kabupaten/Kota;
b. Sebagai alokasi ruang untuk berbagai kegiatan terkait dengan kedaulatan negara,
pengendalian lingkungan hidup, dan/atau situs warisan dunia yang
pengembangannya diprioritaskan bagi kepentingan nacional;
c. Sebagai alokasi ruang untuk kepentingan perlindungan cadangan sumberdaya ikan;
d. Mengatur keseimbangan dan keserasian peruntukan ruang darat laut dan di ruang
pesisir itu sendiri;
e. Mengatur keseimbangan, keserasian, dan sinergitas peruntukan ruang di laut; dan
f. Sebagai dasar pemberian izin pemanfaatan ruang perairan laut pada wilayah pesisir
dan pulau-pulau kecil Kabupaten/Kota.
g. Sebagai dasar penentuan lokasi reklamasi, yang meliputi lokasi reklamasi dan lokasi
sumber material reklamasi. Zona yang sesuai untuk reklamasi harus mengikuti
ketentuan Peraturan Presiden Nomor 122 Tahun 2012 tentang Reklamasi di Wilayah
Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.
Rencana alokasi ruang WP-3-K dirumuskan dengan memperhatikan :
a. Tujuan, kebijakan dan strategi Pengelolaan WP-3-K Kabupaten/Kota;
b. Kesesuaian dan Keterkaitan antar kegiatan di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil;
c. Daya dukung dan daya tampung wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil;
d. Ketentuan peraturan perundang-undangan yang terkait;
e. kebijakan pengembangan kawasan strategis nasional dan/atau kawasan strategis
provinsi yang berada di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil Kabupaten/Kota yang
bersangkutan;
f. Rencana alokasi ruang di wilayah pesisir daratan mengacu RTRW;
g. Rencana alokasi ruang wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil Kabupaten/Kota yang
berbatasan dengan Kabupaten/Kota yang bersangkutan;
h. Sistem klaster dengan mempertimbangkan keterkaitan ekologi, ekosistem, dan sosial
budaya;

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

II-8

Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

Rencana alokasi ruang RZRWP-3-K di perairan ditetapkan sebagai hasil analisis tiga dimensi
ruang, yaitu permukaan, kolom, dan dasar laut. Pada setiap dimensi, alokasi ruang laut dapat
mengakomodasi kegiatan yang multifungsi pada satu zona tertentu.
Dalam kolom perairan pesisir dan pulau-pulau kecil secara vertikal dapat dialokasikan untuk
berbagai zona/subzona peruntukan. Pemanfaatan ruang dimaksud didasarkan pada hasil
analisis peruntukan ruangnya secara vertikal. Walaupun demikian, alokasi berbagai
zona/subzona tersebut harus disertai dengan peraturan pemanfaatan ruang yang memuat
aturan-aturan kegiatan yang diperbolehkan, kegiatan tidak diperbolehkan, serta kegiatan yang
hanya boleh dilakukan dengan syarat, yang disertai pengaturan tata waktu. Sebagai contoh,
misalnya didalam praktek biasanya pada layer permukaan dapat digunakan untuk kegiatan
pelayaran dan wisata bahari, pada layer kolom perairan dapat digunakan untuk penangkapan
ikan, sedangkan pada layer perairan dasar laut dapat digunakan untuk kegiatan konservasi dan
wisata selam.

Gambar 2.5 Ilustrasi Alokasi Ruang Laut Tiga Dimensi

2.4 Peraturan Pemanfaatan Ruang


Peraturan pemanfaatan ruang berisi ketentuan persyaratan pemanfaatan ruang dan ketentuan
pengendaliannya yang disusun untuk setiap zona peruntukan dalam RZWP-3-K Kabupaten/Kota.
Peraturan pemanfaatan ruang berfungsi:
1) sebagai alat pengendali kegiatan pemanfaatan zona/subzona;
2) menjaga kesesuaian pemanfaatan ruang dengan rencana zonasi;
3) menjamin agar kegiatan pemanfaatan baru tidak mengganggu kegiatan pemanfaatan
ruang yang telah berjalan dan sesuai dengan rencana alokasi ruang; dan
4) mencegah dampak kegiatan pemanfaatan yang merugikan.
Ketentuan persyaratan pemanfaatan ruang merupakan persyaratan kegiatan pemanfaatan
zona/subzona yang meliputi:
KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

II-9

Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

a. jenis kegiatan yang dapat dilakukan di dalam zona/subzona (dinyatakan dalam kegiatan
yang diperbolehkan, kegiatan tidak diperbolehkan, serta kegiatan yang hanya boleh
dilakukan dengan syarat)
b. Besaran kegiatan pemanfaatan pada zona/subzona (dinyatakan dalam luas jenis kegiatan
pemanfaatan yang boleh dilakukan pada zona/subzona)
c. ketentuan teknis kegiatan pemanfaatan zona/subzona (sesuai dengan ketentuan peraturan
teknis kegiatan sektor bersangkutan)

Ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang merupakan kegiatan pengendalian pemanfaatan


ruang yang dilaksanakan melalui instrumen perizinan, pemberian insentif dan disinsentif, serta
arahan pengenaan sanksi.

Gambar 2.6. Hubungan Instrumen Perencanaan, Pengendalian, dan Program

Peraturan pemanfaatan ruang memuat ketentuan umum persyaratan kegiatan pemanfaatan


zona/subzona yang meliputi :
1. ketentuan umum pernyataan pemanfaatan zona/subzona adalah batasan secara umum
mengenai ketentuan yang mengatur tentang persyaratan pemanfaatan ruang yang
berlaku di seluruh wilayah perencanaan khusus perairan pesisir dan pulau-pulau kecil;
2. ketentuan umum pernyataan pemanfaatan zona/subzona sebagai acuan :
a) bagi penentuan persyaratan kegiatan pemanfaatan zona/subzone;
b) bagi bahan pertimbangan pemberian izin ; dan
c) pengawasan kegiatan pemanfaatan ruang.
3. ketentuan umum pernyataan pemanfaatan zona/subzona yang ditetapkan dalam
RZWP-3-K :
a) jenis alokasi ruang, deskripsi atau definisi alokasi ruang yang telah ditetapkan
dalam rencana alokasi ruang WP-3-K;
b) ketentuan umum kegiatan yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan serta
kegiatan yang hanya dapat dilakukan setelah memperoleh ijin;
KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

II-10

Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

c)
d)

ketentuan tentang prasarana minimum yang perlu diatur terkait pemanfaatan


ruang;
ketentuan khusus yang disesuaikan dengan kebutuhan pembangunan
kabupaten/kota untuk mengendalikan pemanfaatan ruang, seperti pada kawasan
konservasi.

2.5 Arahan Pemanfaatan Ruang WP3K


Arahan pemanfaatan ruang WP3K dijabarkan ke dalam indikasi program utama dalam jangka
waktu perencanaan 5 (lima) tahunan hingga akhir tahun perencanaan 20 (duapuluh) tahun
dalam rangka mewujudkan RZWP-3-K. Arahan pemanfaatan ruang WP3K kabupaten/kota
berfungsi sebagai :
1. acuan bagi pemerintah dan masyarakat dalam penyusunan program pengelolaan
wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil kabupaten/kota, serta pengembangan wilayah;
2. arahan dalam penyusunan program sektor di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil
(besaran, lokasi, sumber pendanaan, instansi pelaksana, dan waktu pelaksanaan);
3. dasar estimasi kebutuhan pembiayaan setiap jangka waktu 5 (lima) tahun; dan
4. acuan bagi masyarakat dalam melakukan investasi
Arahan pemanfaatan ruang WP3K kabupaten/kota disusun berdasarkan:
1. rencana alokasi ruang;
2. ketersediaan sumber daya dan sumber pendanaan;
3. kesepakatan para pemangku kepentingan dan kebijakan yang ditetapkan; dan
4. prioritas pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil dan pentahapan rencana
pelaksanaan program sesuai dengan RPJPD atau RSWP-3-K.
Indikasi program utama dalam arahan pemanfaatan ruang wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil
Kabupaten/Kota meliputi :
a. Usulan program utama
Usulan program utama adalah program-program utama pengelolaan wilayah pesisir dan
pulau-pulau kecil kabupaten/kota yang diindikasikan memiliki bobot kepentingan utama
atau diprioritaskan untuk mewujudkan alokasi ruang wilayah pesisir dan pulau-pulau
kecil kabupaten/kota.
b. Lokasi
Lokasi adalah tempat yang dijabarkan dalam koordinat geografis serta dituangkan
diatas peta, dimana usulan program utama akan dilaksanakan.
c. Besaran
Besaran adalah perkiraan jumlah/luas satuan masing-masing usulan program utama
pengembangan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil yang akan dilaksanakan.
d. Sumber Pendanaan
Sumber pendanaan dapat berasal dari APBD kabupaten/kota, APBD provinsi, APBN,
swasta dan/atau masyarakat.
e. Instansi Pelaksana
Instansi pelaksana adalah pelaksana program utama yang meliputi pemerintah (sesuai
dengan kewenangan masing-masing pemerintahan), swasta, serta masyarakat.
f. Waktu dan Tahapan Pelaksanaan
KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

II-11

Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

Usulan program utama direncanakan dalam kurun waktu perencanaan 20 (dua puluh)
tahun yang dirinci setiap 5 (lima) tahunan, sedangkan masing-masing program
mempunyai durasi pelaksanaan yang bervariasi sesuai dengan kebutuhan. Program
utama 5 (lima) tahun dapat dirinci kedalam program utama tahunan.

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

II-12

Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

Bab III
Prosedur dan Proses Penyusunan
RZWP-3-K
3.1. Prosedur Penyusunan RZWP-3-K
Prosedur penyusunan RZWP-3-K merupakan tahapan yang dilalui sebelum disusun RZWP-3-K,
meliputi tahap pra penyusunan RZWP-3-K, yaitu kegiatan identifikasi stakeholder, sosialisasi, dan
pelatihan/Bimbingan Teknis (Bimtek).
3.1.1. Pra Penyusunan RZWP-3-K
1) Identifikasi Stakeholder
Langkah awal sebelum disusun RZWP-3-K, harus dilakukan identifikasi Stakeholders
users laut dengan menggunakan pendekatan Stakeholders Analysis yang meliputi
identifikasi pemangku kepentingan, tingkat otoritas yang dimiliki, tingkat kepentingan
masing-masing pemangku kepentingan terhadap sumberdaya dan perencanaan RZWP-3K, pengaruh pemangku kepentingan dalam implementasi RZWP-3-K. Kegunaannya adalah
untuk melihat potensi-potensi peluang serta hambatan yang akan terjadi selama
pelaksanaan penyusunan RZWP-3-K, dan agar apabila terjadi hambatan dalam
penyusunan RZWP-3-K, dapat segera dianalisis pihak-pihak mana yang berpengaruh dan
untuk segera ditangani. Analisis ini diharapkan dapat menghasilkan pendekatan dan
strategi untuk melancarkan pelaksanaan penyusunan RZWP-3-K.
Tabel 3.1 Contoh Identifikasi Stakeholders
1. Daftar
Stakeholders;
SKPD, kelompok
users dan masy
pesisir
Kelompok
nelayan bagan
tancap

2. Otoritas dan
tingkat
kepentingan
Stakeholders

3. Tingkat
kepentingan dan
lokasinya

Tidak ada
otoritas,
pengguna aktif di
laut, sangat
tergantung dgn
kualitas air.

Sangat tinggi
karena butuh
kualitas air yang
baik di lokasinya,
pendukung
sumber ekonomi
nelayan

4. Tingkat kepentingan
Stakeholders dalam
proses perencanaan?

5. Saran
Keterlibatan
dalam proses
penyusunan
RZWP-3-K
Anggota Pokja/
FGD/ Konsultasi
Publik/
Responden /
Gatekeeper/ Key
Informan Person/
dll

6. Pengaruh
Stakeholders
dalam
Implementasi
RZWP-3-K
Kepatuhan dan
kerjasama
Stakeholders ini
sangat penting

Sangat berpengaruh
and memiliki kelompok
nelayan yang
terorganisir baik. Dekat
dengan DKP setempat
krn mendapatkan
bantuan modal/alat
tangkap,dll
Catatan : Langkah ini ditambahkan skoring analysis stakeholder, termasuk disertainya berita acara
berisikan data kuota anggota untuk verifikasi.

2) Sosialisasi
Sosialisasi perlu dilakukan sebelum dilakukan penyusunan RZWP-3-K. Sosialisasi
dimaksudkan untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman mengenai pengelolaan
wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil termasuk di dalamnya terkait kebijakan dan
program terkait penyusunan RZWP-3-K, menumbuhkan rasa kepemilikan dari para
KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

III-1

Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

pemangku kepentingan terhadap rencana yang berlangsung di daerahnya. Sosialisasi


perlu dilakukan untuk meminimalisir konflik di kemudian hari, oleh karena itu pada saat
sosialisasi harus melibatkan berbagai pihak terkait. Sosialisasi selayaknya diikuti oleh
target peserta seperti tercantum dalam tabel berikut :
Tabel 3.2 Tujuan dan Target Peserta Sosialisasi Penyusunan RZWP-3-K
Tujuan

Target Peserta

Agar masyarakat mengenal,


mengetahui, dan memahami
tentang kebijakan dan program
Menjelaskan rencana
penyusunan dokumen
perencanaan WP-3-K dan
menumbukan rasa kepemilikan
Stakeholder terhadap rencana
yang berlangsung di daerahnya
Meningkatkan pemahaman dan
pengetahuan Stakeholder
terhadap pengelolaan wilayah
pesisir dan pulau-pulau kecil

1) Pemerintah
SKPD daerah yang terdiri dari :
Pemerintah Provinsi
1. Bappeda Provinsi
2. Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi
Pemerintah Kabupaten/Kota
1. Bappeda
2. Dinas Kelautan dan perikanan
3. Dinas Pekerjaan Umum
4. BPN
5. Dinas Kehutanan
6. Dinas Pertanian
7. Dinas Pariwisata
8. Dinas Perhubungan
9. Dinas Perindustrian
10. Dinas Lingkungan hidup.
11. Dinas Pendapatan Daerah
12. Dinas Pertambangan/ESDM
13. BUMD
14. dll.
2) TNI AL dan POLAIRUD
3) DPRD
4) LSM
5) Perguruan Tinggi/Akademisi
6) Kelompok Masyarakat (Masyarakat Hukum Adat,
Masyarakat Lokal, dan Masyarakat Tradisional)
7) Camat, Lurah/Kepala Desa
8) Dunia Usaha di Bidang Kelautan dan Perikanan
9) Pers

Sosialisasi penyusunan RZWP-3-K harus memiliki strategi komunikasi agar tercapai tujuan
secara efektif. Penentuan target, pesan utama yang akan disampaikan (key message),
media penyampaian (channeling) dan metode penyampaian harus disusun sedemikian
rupa agar masing-masing Stakeholders memahami perlunya RZWP-3-K. Identifikasi target
sosialisasi dapat diselaraskan dengan identifikasi Stakeholders sehingga dapat
disinkronkan satu sama lain. Materi, jadwal pelaksanaan, metode, serta output sosialisasi
penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota, adalah sebagai berikut:

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

III-2

Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

Tabel 3.3 Materi, Metode, Output dan Lokasi Sosialisasi


Penyusunan RZWP-3-K
Materi

Metode

Pengelolaan pesisir dan pulau-pulau


kecil sesuai dengan amanat UU No.27
Tahun 2007 tentang Pengelolaan
Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
Kebijakan RZWP-3-K
Harmonisasi Rencana Tata Ruang
Wilayah (RTRW) dengan Rencana
Zonasi Wilayah Pesisir dan PulauPulau Kecil (RZWP-3-K)

Pengumuman
Pemutaran film
berisikan
contoh kasus
Diskusi/
seminar/
pertemuan
terbuka
Media cetak
dan media
elektronik

Output

Adanya kesamaan cara


pandang dan pola pikir
yang sama para eksekutif
dan legislatif di tingkat
daerah dalam
perencanaan WP-3-K.
Adanya dukungan dan
partisipasi dari
pemerintah daerah agar
didapatkan suatu
komitmen baik dari
pemerintah daerah
maupun badan legislatif
setempat .
Adanya pemahaman
tentang RZWP-3-K sebagai
instrumen penataan
ruang perairan laut.

Lokasi
-

Kabupaten/Kota
sasaran sosialisasi
Kantor
Pemerintah
Daerah (Dinas
Kelautan dan
perikanan atau
Bappeda)

3) Pelatihan/Bimbingan Teknis (Bimtek)


Pelatihan ini dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan anggota Kelompok Kerja
Perencanaan Tata Ruang pada lembaga yang mengkoordinasikan penataan ruang di
daerah/BKPRD (Tim Penyusun RZWP-3-K) dalam menyusun dokumen RZWP-3-K.
Tabel 3.4 Tujuan dan Target Peserta Bimtek Penyusunan RZWP-3-K
Tujuan
Agar peserta mengerti tentang kebijakan dan tahapan
penyusunan RZWP-3-K
Agar peserta mengerti kebutuhan data dasar dan
tematik, pengumpulan data, survey lapangan,
penyusunan peta tematik dan paket sumberdaya
Agar peserta memahami pengertian dan jenis bencana,
konsep mitigasi bencana dalam penyusunan RZWP-3-K
Agar peserta memahami pengertian zona, kebutuhan
data dan informasi, kriteria, pertimbangan dan
ketentuan, delineasi serta pengaturan zona.
Agar peserta mengerti kriteria, pertimbangan, dan
penentuan alokasi ruang RZWP-3-K
Agar peserta mengerti pengertian Alur Laut, kebutuhan
data dan informasi pertimbangan dan ketentuan,
delineasi serta pengaturan.
Agar peserta mengerti prosedur penanganan konflik
dalam RZWP-3-K
Agar peserta mengerti peran dan pelibatan pemangku
kepentingan dalam RZWP-3-K

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

Target Peserta

Peserta terdiri atas anggota Kelompok Kerja


Perencanaan Tata Ruang BKPRD (Tim
Penyusun RZWP-3-K)

III-3

Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

Tabel 3.5 Materi, Metode, Output dan Lokasi Bimtek


Penyusunan RZWP-3-K
Materi
Proses penyusunan RZWP-3-K
Pengumpulan dan analisis data spasial serta
pemetaan
RZWP-3-K berbasis Mitigasi Bencana
Data Informasi, Kriteria, Pertimbangan dan
Penentuan, Delineasi, serta Pengaturan Kawasan
Konservasi, Alur Laut, Zona perikanan budidaya,
perikanan tangkap, Zona pertambangan, Zona
pariwisata, dll
Kriteria, pertimbangan, dan penentuan alokasi
ruang
Resolusi Konflik dalam RZWP-3-K
Pelibatan pemangku kepentingan dalam RZWP-3-K

Metode

Simulasi
Pemutaran
film berisikan
contoh kasus
Diskusi/
seminar/
pertemuan
terbuka

Output
Adanya
peningkatan
pemahaman
dalam
penyusunan
RZWP-3-K

Lokasi
-

Kabupaten/Kota
sasaran Bimtek
Kantor
Pemerintah
Daerah (Dinas
Kelautan dan
perikanan atau
Bappeda)

3.2. Penyusunan RZWP-3-K


Seluruh tahapan dalam proses penyusunan RZWP-3-K merupakan langkah yang mutlak dilalui
untuk mencapai dokumen final yang merupakan hasil perencanaan bersama.
Proses penyusunan RZWP-3-K, meliputi tahapan sebagai berikut :
1. Persiapan Penyusunan RZWP-3-K
2. Penyusunan Dokumen Final RZWP-3-K
3. Penetapan Ranperda RZWP-3-K

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

III-4

Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

Penyusunan Dokumen Final RZWP-3-K

Persiapan

TAHAPAN

PROSES
/ OUTPUT
PROSES
/ OUTPUT

Persiapan

Penyusunan Rencana Kerja


Penyusunan TOR/RAB

Pengumpulan Data

Pengumpulan data sekunder

Survei Lapangan

Pengumpulan data primer (apabila data sekunder yang telah


dikumpulkan belum memenuhi kebutuhan)

Pengolahan dan
Analisis Data

Pengolahan dan analisis data untuk disusun dalam peta-peta


tematik

Deskripsi Potensi &


Kegiatan Pemanfaatan

Pendeskripsian terhadap peta-peta tematik yang telah disusun

Penyusunan Dokumen
Awal

Peta-peta tematik
Hasil Pendeskripsian terhadap peta-peta tematik yang disusun
disusundisuusnyangtelahdisusun
ntifikasi potensi
wilayah
Penyampaian
Draft
Dokumen Awal RZWP3K
Menjaring masukan

Konsultasi Publik

10

11

Penetapan
Ranperda
RZWP-3-K

12

13

14

Penentuan Usulan
Alokasi Ruang

Tumpang susun peta-peta tematik dalam Dokumen Awal yang


telah diperbaiki dari hasil Konsultasi Publik (Penyusunan Paket
Sumberdaya)
Analisis kesesuaian terhadap kriteria kawasan, zona, sub zona,
dan/atau pemanfaatannnya
Penentuan usulan kawasan, zona, sub zona, dan/atau
pemanfaatannnya

Hasil perbaikan dokumen awal


Analisis non spasial
Analisis konflik pemanfaatan ruang (resolusi konflik)
Penentuan Alokasi Ruang
Penyelarasan , penyerasian dan penyeimbangan dengan RTRW
Penyusunan pernyataan pemanfaatan ruang peraturan
pemanfaatan ruang
Penyusunan Indikasi Program
Draft Rancangan Perda RZWP-3-K

Penyampaian Draft Dokumen Antara RZWP-3-K


Menjaring masukan

Hasil perbaikan Dokumen Antara

Permohonan
Tanggapan/Saran

Permohonan tanggapan/saran terhadap Dokumen Final

Pembahasan
Ranperda

Pembahasan Draft Ranperda oleh DPRD


Evaluasi

Penetapan Ranperda menjadi Perda RZWP-3-K

Penyusunan Dokumen
Antara

Konsultasi Publik

Penyusunan Dokumen
Final

Penetapan

Gambar 3.1 Tahapan dan Proses/Output Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

III-5

Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

Secara umum, tahapan dalam proses penyusunan dokumen Final RZWP-3-K dapat dilihat dalam diagram berikut:

Gambar 3.2 Proses Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota melalui Pelibatan Masyarakat

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

III-6

Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

Gambar 3.3 Contoh Jangka Waktu Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

Jangka waktu yang dibutuhkan dalam proses penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota hingga
dokumen final selesai diupayakan seefektif mungkin, minimal selama 12 (duabelas) bulan - 24 (dua
puluh empat) bulan dan maksimal adalah 5 (lima) tahun. Ilustrasi jangka waktu minimal proses
penyusunan RZWP-3-K dapat dilihat pada Gambar 3.2.
Tahap penyusunan dipengaruhi oleh situasi dan kondisi aspek politik, sosial, budaya,
pertahanan, keamanan, keuangan/pembiayaan pembangunan daerah, ketersediaan data, dan faktor
lainnya di dalam wilayah kabupaten/kota bersangkutan, sehingga perkiraan waktu yang dibutuhkan
untuk setiap tahap penyusunan RZWP-3-K disesuaikan dengan situasi dan kondisi kabupaten/kota
yang bersangkutan.

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

III-7

Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

3.2.1. Persiapan Penyusunan RZWP-3-K


Kegiatan yang dilakukan pada tahap persiapan, meliputi:
1) Persiapan awal pelaksanaan, meliputi: penyusunan rencana kerja, Kerangka Acuan Kerja
(KAK)/Terms of Reference (TOR) dan Rencana Anggaran Biaya (RAB). Rencana kerja
adalah langkah-langkah yang dibuat untuk mencapai target yang disertai dengan jadwal
waktu pelaksanaan dan personil yang melaksanakan. Target yang akan dicapai adalah
tersusunnya Peraturan Daerah (PERDA) mengenai Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan
Pulau-pulau Kecil. Kerangka Acuan Kerja (KAK) / Terms of Reference (TOR) adalah
dokumen perencanaan yang memberikan gambaran umum mengenai pekerjaan yang
akan dilaksanakan. Contoh lengkap TOR dan RAB sebagaimana dalam lampiran 8 dan 9.
2) persiapan teknis pelaksanaan yang meliputi:
a. Penyiapan personil dalam tim kerja
b. Penyiapan administrasi
c. Studi literatur sebagai awal atau referensi untuk pelaksanaan kegiatan.
d. Penyusunan rencana kerja
- Jadwal pekerjaan
- Metode pengumpulan data/survei lapangan berdasarkan Peta RBI, LPI, Peta Laut
Dishidros TNI AL, dan Citra Satelit di wilayah perencanaan.
- Peta rencana lokasi sampling
3) pemberitaan kepada publik perihal akan dilakukannya penyusunan RZWP-3-K

3.2.2. Penyusunan Dokumen Final RZWP-3-K


Secara umum, tahapan dalam proses penyusunan Dokumen Final RZWP-3-K adalah sebagai
berikut (Draft Revisi permen KP 16 Tahun 2008):
1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)
8)
9)
10)
11)

pengumpulan data;
survei lapangan;
pengolahan dan analisis data
deskripsi potensi dan kegiatan pemanfaatan sumberdaya pesisir dan pulau - pulau kecil;
penyusunan dokumen awal;
konsultasi publik;
penentuan usulan alokasi ruang;
penyusunan dokumen antara;
konsultasi publik;
penyusunan dokumen final; dan
permintaan tanggapan dan/atau saran.

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

III-8

Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

Tahap 1 :

3.2.2.1. Pengumpulan Data


Pengumpulan data dimaksudkan untuk memperoleh data dan informasi yang tersedia berupa
spasial dan non spasial. Data dan informasi yang dikumpulkan terdiri dari 2 (dua) dataset dasar
(terrestrial dan batrimetri) dan 10 (sepuluh) dataset tematik (geologi dan geomorfologi laut,
oseanografi, Ekosistem Pesisir dan Sumberdaya Ikan (jenis dan kelimpahan ikan), penggunaan lahan
dan status lahan, Data Pemanfaatan Wilayah Laut Eksisting, Sumberdaya Air, Infrastruktur,
Demografi, Ekonomi Wilayah dan resiko bencana dan pencemaran). Data dan informasi tersebut
diatas dapat diperoleh dari lembaga atau institusi terkait dalam bentuk laporan, buku, diagram,
peta, foto, dan media penyimpanan lainnya.
Data dasar dan tematik untuk pemetaan rencana zonasi WP-3-K kabupaten dan kota memiliki
skala, ketelitian dan kedetilan informasi yang berbeda, yaitu:
- Kabupaten
: skala minimal 1:50.000
- Kota
: skala minimal 1:25.000
Ketersediaan data harus memenuhi persyaratan secara kualitas maupun kuantitas, yaitu :
a) Kualitas
1. skala;
2. akurasi geometri;
3. kedetailan data;
4. kedalaman data;
5. kemutakhiran data;
6. kelengkapan atribut.
b) Kuantitas
secara kuantitas memenuhi ketentuan kelengkapan jenis data (12 dataset).
Apabila ketersediaan data belum memenuhi persyaratan kualitas dan kuantitas di atas maka
perlu dilakukan survei lapangan.
Dalam penyusunan rencana zonasi WP-3-K, dibutuhkan data dasar dan tematik dengan skala,
ketelitian data dan kedetilan informasi yang berbeda. Jenis data yang digunakan dalam penyusunan
rencana zonasi dibedakan untuk kabupaten/kota, yang terdiri atas :
1) Peta Dasar dan Citra Satelit
2) Data Spasial Dasar
3) Data Spasial dan Non Spasial Tematik
Jenis, fungsi, dan manfaat data yang diperlukan dapat mengacu pada Pedoman Teknis
Penyusunan Peta RZWP-3-K. Untuk alokasi ruang yang memerlukan kegiatan reklamasi diperlukan
data tambahan berupa data geoteknik.

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

III-9

Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

Tahap 2 :

3.2.2.2. Survei Lapangan


Survei lapangan dilaksanakan dalam rangka melengkapi data yang belum sesuai kebutuhan.
Adapun jenis data yang akan dikumpulkan adalah data primer. Pengumpulan data primer bertujuan
untuk:
o Melakukan verifikasi terhadap data sekunder yang sudah terkumpul sebelumnya
o Melakukan pengumpulan data primer yang belum tersedia.
Data primer yang dikumpulkan, antara lain :
1. Data Terestrial
a. tanah
b. topografi
c. kemiringan lereng
2. Data Bathimetri
3. Data Geologi dan Geomorfologi Laut (substrat dasar laut)
4. Data Oseanografi (arus, pasang surut, gelombang, kualitas air, biologi perairan)
5. Data Ekosistem Pesisir dan Sumberdaya Ikan
a. Data ekosistem pesisir (terumbu karang, mangrove, lamun)
b. Data jenis dan kelimpahan ikan
6. Data Penggunaan Lahan dan Status Lahan (kepemilikan lahan)
7. Data Pemanfaatan Wilayah Laut Eksisting (misalnya : perikanan budidaya, perikanan
tangkap, pariwisata, pertambangan, pelabuhan, alur pelayaran, alur biota, kawasan
konservasi)
8. Data Sumberdaya Air
9. Data Infrastruktur
10. Data Demografi dan Sosial
a. Jumlah penduduk
b. Jumlah tenaga kerja
c. Kepadatan penduduk
d. Proyeksi pertumbuhan penduduk
e. Mata pencaharian penduduk
f. Jumlah nelayan dan dan pembudidaya ikan
g. wilayah masyarakat hukum adat
h. wilayah penangkapan ikan secara tradisional
i. kondisi dan karakteristik masyarakat setempat termasuk tempat suci dan
kegiatan peribadatannya
j. aktifitas/ritual keagamaan dan situs cagar budaya.
11. Data Ekonomi Wilayah
a. PDRB
b. Pendapatan per kapita
KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

III-10

Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

c. Angkatan kerja dan tingkat pengangguran


d. Laju pertumbuhan ekonomi sektoral dan kabupaten
e. Komoditi unggulan
f. Kegiatan perekonomian perikanan dan kelautan
g. Produksi perikanan
12. Data Resiko Bencana dan Pencemaran
a. Jenis, lokasi, batas riwayat kebencanaan, tingkat kerusakan dan kerugian
bencana
b. Sumber dan lokasi pencemaran
Teknik untuk melakukan survei di lapangan yang antara lain meliputi:

Observasi
Pengambilan sampel
Pengukuran
Wawancara
Penyebaran kuesioner
Focus Group Discussion (FGD)

FGD bertujuan untuk menjaring aspirasi dan masukan dari masyarakat dan para
pemangku kepentingan lain, terkait dengan permasalahan pemanfaatan sumberdaya
pesisir dan pulau-pulau kecil.

FGD ini melibatkan instansi pemerintah terkait, unsur

perwakilan masyarakat, tokoh-tokoh masyarakat (tokoh adat), kelompok-kelompok


masyarakat yang bergerak di wilayah pesisir dan laut dan LSM. Metode survei tiap data
akan dibahas lebih lanjut pada Pedoman Teknis Penyusunan Peta RZWP-3-K.

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

III-11

Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

Tahap 3 :

3.2.2.3. Pengolahan dan Analisis Data


Penyusunan peta rencana zonasi wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil di tingkat
kabupaten/kota membutuhkan data dasar dan tematik pendukung dalam proses
penyusunannya. Data/peta dasar yang dibutuhkan dalam penyusunan peta rencana zonasi
tematik yang disusun dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua) dataset dasar, terdiri dari data
terestrial dan bathimetri. Data/peta dasar tersebut secara umum telah disediakan oleh instansi
terkait, namun apabila tidak tersedia maka perlu dilakukan pemetaan dan analisis sesuai
dengan kebutuhan perencanaan yang dilakukan.
Data yang telah dikumpulkan diolah dan dianalisis sehingga menghasilkan peta-peta tematik.
Pengolahan data dilakukan untuk memperoleh data yang siap digunakan untuk analisis.
Pengolahan data meliputi:
1. Konversi data non spasial ke format spasial
2. Standarisasi format dan kelengkapan data
3. Perbaikan data
Analisis data dilakukan untuk memperoleh informasi sesuai dengan tema yang
dibutuhkan. Aktivitas yang dilakukan adalah:
1. Interpolasi spasial/pemodelan ruang untuk menghasilkan keseragaman data melalui
pendekatan nilai yang sama.
2. Pemodelan matematis
3. Simbolisasi dan penyajian hasil analisis menjadi peta-peta tematik
Data tematik yang dibutuhkan dalam penyusunan peta rencana zonasi terdiri dari 10 (sepuluh)
dataset peta, meliputi geologi dan geomorfologi; oseanografi; penggunaan lahan, status lahan
dan rencana tata ruang wilayah; pemanfaatan wilayah laut; sumberdaya air; ekosistem wilayah
pesisir dan sumberdaya ikan; infrastruktur; demografi dan sosial; ekonomi wilayah; dan
kerawanan dan risiko bencana. Fungsi data/peta tematik tersebut adalah sebagai dasar
penyusunan peta paket sumberdaya dan kesesuaian lahan/perairan.
Pengolahan dan analisis peta tematik dilakukan sesuai dengan hirarki perencanaan, baik
provinsi, kabupaten maupun kota. Beberapa komponen yang harus diperhatikan antara lain
input data, proses pengolahan data dan output peta tematik yang dihasilkan. Input data untuk
penyusunan peta tematik provinsi, kabupaten dan kota berbeda, demikian pula proses
pengolahan yang dilakukan dan kerincian informasi tematik pada output peta.

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

III-12

Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

Tahap 4 :

3.2.2.4. Deskripsi Potensi dan Kegiatan Pemanfaatan Sumberdaya Pesisir dan


Pulau-pulau Kecil
Setelah dilakukan pengolahan dan analisis data serta disajikan dalam bentuk peta tematik
selanjutnya dilakukan pendeskripsian terhadap peta-peta tematik yang telah disusun.
1)

Deskripsi potensi sumberdaya Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil


Deskripsi potensi sumberdaya dilakukan untuk mengetahui potensi sumberdaya saat
ini (eksisting) berdasarkan peta tematik yang telah disusun. Potensi sumberdaya yang
dapat dideskripsikan antara lain potensi sebaran ikan, potensi ekosistem pesisir,
potensi pariwisata, potensi pertambangan, dll.

2). Deskripsi Pemanfaatan Sumberdaya Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil


Deskripsi ini meliputi deskripsi terhadap potensi kegiatan-kegiatan pemanfaatan
sumberdaya di masa lalu dan saat ini (eksisting) yang terdiri dari rona-rona dan fasilitas
yang terkait dengan pemanfaatan sumberdaya alam (penangkapan ikan, budidaya
perairan, pertanian, penambangan, kehutanan, wisata, habitat cagar a lam laut,
kapabilitas sumberdaya), pelabuhan, lokasi-lokasi industri, lokasi-lokasi pemukiman
dan perkotaan, serta fasilitas wisata.

Gambar 3.4 Ilustrasi Contoh Ilustrasi Pemanfaatan Sumberdaya Pesisir Eksisting di Kab. Banggai

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

III-13

Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

Tahap 5 :
3.2.2.5. Penyusunan Dokumen Awal
Penyusunan dokumen awal dilaksanakan setelah Tim Teknis melakukan pengolahan dan
analisis data untuk disusun dalam peta-peta tematik. Output dokumen awal adalah peta-peta
tematik.
Sistematika Dokumen Awal, sekurang-kurangnya memuat :
1) Pendahuluan
- Dasar Hukum Penyusunan RZWP-3-K
- Profil Wilayah
- Isu-isu Strategis Wilayah
- Peta-peta yang minimal mencakup peta orientasi wilayah
2) Tujuan, Kebijakan, dan Strategi Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
3) Deskripsi Potensi Sumberdaya Pesisir dan Pulau-pulau Kecil dan Kegiatan Pemanfaatan
4) Album Peta Tematik, yang mengacu pada Pedoman Teknis Penyusunan Peta RZWP-3-K

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

III-14

Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

Tahap 6 :

3.2.2.6. Konsultasi Publik I


Selanjutnya Dokumen awal RZWP-3-K wajib dilakukan konsultasi publik untuk memverifikasi
data dan informasi, dan untuk mendapatkan masukan, tanggapan atau saran. Konsultasi publik
adalah suatu proses penggalian dan dialog masukan, tanggapan dan sanggahan antara pemerintah
daerah dengan pemerintah, dan pemangku kepentingan di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil
yang dilaksanakan antara lain melalui rapat, musyawarah/rembug desa, dan lokakarya. Tahap ini
merupakan pelaksanaan konsultasi publik I (pertama). Hasil konsultasi publik dituangkan ke dalam
Berita Acara (Lampiran 6), dilengkapi dengan notulensi, daftar hadir, dan dokumentasi.
Tabel 3.6 Tujuan, Output dan Target Peserta Konsultasi Publik I Penyusunan RZWP-3-K

Tujuan
Memverifikasi data
dan informasi
Menjaring
masukan,
tanggapan, koreksi
dan usulan
terhadap data dan
informasi.

Output
Informasi potensi
dan permasalahan
di wilayah
perencanaan
verifikasi data dan
informasi
Tanggapan berupa
masukan/usulan

Target Peserta
1) Pemerintah
SKPD daerah yang terdiri dari :
Pemerintah Provinsi
1. Bappeda Provinsi
2. Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi
Pemerintah Kabupaten/Kota
1. Bappeda
2. Dinas Kelautan dan perikanan
3. Dinas Pekerjaan Umum
4. BPN
5. Dinas Kehutanan
6. Dinas Pertanian
7. Dinas Pariwisata
8. Dinas Perhubungan
9. Dinas Perindustrian
10. Dinas Lingkungan hidup.
11. Dinas Pendapatan Daerah
12. BUMD
13. BPBD
14. Administrasi Pelabuhan
15. dll.
2) TNI AL dan POLAIRUD
3) LSM
4) Perguruan Tinggi/Akademisi
5) Ormas
6) Kelompok Masyarakat (Masyarakat Hukum Adat,
Masyarakat Lokal, dan Masyarakat Tradisional)
7) Camat, Lurah/Kepala Desa
8) Dunia Usaha di Bidang Kelautan dan Perikanan

Tabel 3.7 Materi, Metode, dan Lokasi Konsultasi Publik I


Penyusunan RZWP-3-K
Materi
Metode pelaksanaan
Lokasi
Draft Dokumen Awal yang memuat :
Fokus group Discussion
Kantor Pemerintah Daerah
(FGD)
(Dinas Kelautan dan perikanan
data dan informasi penyusunan
rencana zonasi
atau Bappeda)
Rembug Desa
(dapat dilakukan dengan
peta-peta tematik
Kantor kecamatan/
menerapkan model Simulasi)
Kelurahan

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

III-15

Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

Tahap 7 :

3.2.2.7. Penentuan Usulan Alokasi Ruang


Setelah dokumen awal diperbaiki sesuai dengan masukan, tanggapan, atau saran pada saat
konsultasi publik I, maka dilanjutkan dengan kegiatan penentuan usulan alokasi ruang. Peta-peta
tematik yang telah disepakati pada saat Konsultasi Publik I (pertama) dan tersusun dalam Dokumen
Awal, selanjutnya dianalisis melalui dua metode, yaitu : a) penyusunan Paket Sumberdaya terhadap
kriteria kawasan, zona; dan/atau b) kesesuaian lahan (perairan pesisir dan/atau daratan pulau kecil)
terhadap kawasan, zona, sub zona. Hasil analisis ini berupa usulan alokasi ruang. Untuk
mempertajam usulan alokasi ruang maka dilakukan analisis non spasial.
1). Penyusunan Paket Sumberdaya
Paket atau satuan sumberdaya merupakan informasi mengenai kondisi sumberdaya yang ada di
area tertentu di dalam satu unit perencanaan di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Unit
perencanaan merupakan kawasan tertentu yang ada di suatu wilayah perencanaan (Provinsi
atau Kabupaten/kota).
Batas spasial unit perencanaan merupakan kombinasi dari kondisi topografi,
oseanografi, ekologi, pemanfaatan/penggunaan lahan/perairan saat ini (eksisting). Di dalam
setiap unit perencanaan terdapat paket-paket sumberdaya yang memiliki potensi untuk
dikembangkan sesuai dengan karakteristik biofisik dan lingkungannya. Berbagai kegiatan
pemanfaatan umum yang dapat dikembangkan diantaranya perikanan tangkap, budidaya
perairan, wisata bahari, permukiman, rekreasi, industri, pertambangan, hutan dan sebagainya.
Secara umum, peta paket sumberdaya secara spasial merupakan kombinasi dari 2 (dua) dataset
dasar (baseline dataset) dan 10 (sepuluh) dataset tematik (thematic dataset) yang diperoleh
melalui tumpangsusun (overlay) peta tematik.
Berdasarkan Peta Paket Sumberdaya hasil proses matching, kemudian dilakukan
pendeskripsian nilai-nilai sumberdaya yang ada di setiap unit pemetaan sumberdaya yang ada.
Secara teknis, proses penyusunan Paket Sumberdaya dan identifikasi nilai-nilai sumberdaya
mengacu pada Pedoman Teknis Penyusunan Peta RZWP-3-K.
Berikut adalah contoh peta paket sumberdaya hasil tumpangsusun berbagai karakteristik lahan
dan perairannya.

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

III-16

Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

Gambar 3.5 Peta Paket Sumberdaya


Hasil Tumpangsusun Berbagai Karakteristik Lahan dan Perairan
Tabel 3.8 Nama Paket Sumberdaya dan Karakteristik Nilai-nilai Sumberdaya
Wilayah
Perencanaan:
Nama
PaketSumber
daya
H

Kabupaten Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah

Nilai-Nilai Sumberdaya

Usulan Zona

memiliki kedalaman yang relatif dangkal, kondisi arus yang tenang,


memiliki keterlindungan yang baik dengan tinggi gelombang yang
kecil, salinitas yang tidak terlalu tinggi, dan oksigen terlarut yang
tinggi, kandungan pH rata-rata air laut, dengan TSS yang rendah,
kandungan klorofil yang tidak terlalu tinggi.

Perikanan
budidaya

Substrat dasar berupa karang mati, dimana tutupan karang sedang


dengan jumlah famili ikan yang rendah dan jumlah individu ikan yang
relatif tinggi.

Berjarak sekitar 2 mil laut dari bibir pantai, rata-rata merupakan


perairan laut dalam dengan kecerahan perairan yang sedang, suhu
rata-rata perairan terbuka, dengan salinitas yang tidak terlalu tinggi,
memiliki kecepatan arus yang cepat dan gelombang yang tinggi.

Perikanan
tangkap

Memiliki kandungan pH rata-rata air laut pada umumnya, dengan TSS

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

III-17

Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota


Wilayah
Perencanaan:
Nama
PaketSumber
daya

Kabupaten Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah

Nilai-Nilai Sumberdaya

Usulan Zona

yang rendah, dengan kandungan klorofil yang cukup tinggi.

Memiliki tutupan terumbukarang yang baik. Dekat dari darat tetapi


terlindung dari aktivitas yang bersifat destruktif. Kedalaman perairan
yang relatif dangkal. Terletak di sekitar teluk sehingga cukup
terlindung dari arus.

Pariwisata

Memiliki suhu dan salinitas perairan laut rata-rata dengan kandungan


oksigen terlarut yang relatif tinggi dengan TSS yang rendah dan tingkat
kecerahan yang tinggi.
Substrat dasar berupa karang hidup yang memiliki tutupan karang
yang tinggi dengan keberagaman jenis ikan karang yang berlimpah.
K

Tersedia cukup infrastruktur, lahan berbatu, dekat dengan bahan


baku, tersedia air bersih yang cukup, didukung oleh kondisi
sumberdaya sosial ekonomi dan budaya

industri

merupakan daerah yang terlindung dengan kecepatan arus dan tinggi


gelombang yang relatif rendah. Kedalaman perairan yang relatif
dangkal dan memiliki suhu dan salinitas perairan laut rata-rata dengan
kandungan oksigen terlarut yang relatif tinggi dengan TSS yang rendah
dan tingkat kecerahan yang tinggi sehingga memungkinkan cahaya
matahari tembus sampai dasar perairan. Substrat dasar berupa pasir
dan karang mati.

Perikanan
budidaya

2). Analisis Kesesuaian Lahan (Perairan Pesisir dan/atau Daratan Pulau Kecil) Terhadap Kawasan,
Zona, Sub Zona
Analisis kesesuaian lahan dilakukan terhadap wilayah perairan pesisir dan/atau daratan pulau
kecil. Analisis kesesuaian lahan dilakukan dengan cara mendeliniasi masing-masing parameter
peta-peta tematik berdasarkan kriteria kesesuaian zona/subzona tertentu. Hasil deliniasi
masing-masing parameter peta-peta tematik tersebut diatas dilakukan overlay/tumpang susun.
Proses ini dilakukan dengan cara yang sama terhadap parameter peta-peta tematik tertentu
berdasarkan kriteria zona/subzona lainnya.
Hasil dari proses overlay tersebut diatas adalah peta-peta kesesuaian untuk masing-masing
zona/subzona dengan kategori kesesuaiannya (sesuai (S1), kurang sesuai (S2), dan tidak sesuai
(N)). Masing-masing peta-peta kesesuaian zona/subzona tersebut kemudian dioverlay sehingga
menghasilkan peta multikesesuaian untuk zona/subzona. Berdasarkan peta multikesesuaian
dilakukan penilaian kesesuaian akhir untuk zona/subzona, sehingga dihasilkan usulan alokasi
ruang dalam bentuk peta Alokasi Ruang.
Apabila dalam satu lokasi memiliki beberapa kategori kesesuaian yang sama maka perlu
dilakukan analisis non spasial.

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

III-18

Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

Gambar 3.6 Contoh Proses Analisis Kesesuaian Lahan Untuk Zona Pariwisata

III-19
KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

III-19

Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

3). Penentuan Alokasi Ruang


Rencana alokasi ruang wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil kabupaten/ kota merupakan
rencana distribusi peruntukan ruang wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil di kabupaten
dan kota yang meliputi rencana peruntukan ruang yang ada di kawasan pemanfaatan
umum, kawasan konservasi, kawasan strategis nasional tertentu, dan alur laut. Klasifikasi
kawasan pada wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil berdasarkan UU Nomor 27 tahun 2007
tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil sebagaimana telah diubah dengan
UU Nomor 1 Tahun 2014 adalah sebagai berikut:
Tabel 3.9 Klasifikasi Kawasan dalam RZWP-3-K
Klasifikasi Kawasan
(Berdasarkan UU Nomor 27 tahun 2007)
Kawasan Konservasi merupakan kawasan pesisir dan
pulau-pulau kecil dengan ciri khas tertentu yang
dilindungi untuk mewujudkan pengelolaan pesisir dan
pulau-pulau kecil yang berkelanjutan
Kawasan Pemanfaatan Umum merupakan kawasan
yang dipergunakanuntuk kepentingan ekonomi, sosial
budaya seperti kegiatan perikanan, prasarana
perhubungan laut, industri maritim, pariwisata,
permukiman, dan pertambangan
Alur merupakan perairan yang dimanfaatkan antara lain
untuk alur pelayaran, pipa/kabel bawah laut, dan
migrasi biota laut yang perlu dilindungi
Kawasan Strategis Nasional Tertentu adalah Kawasan
yang terkait dengan kedaulatan negara, pengendalian
lingkungan hidup, dan/atau situs warisan dunia, yang
pengembangannya diprioritaskan bagi kepentingan
nasional

Keterangan
Kawasan Konservasi pada UU No 27 tahun
2007 setara dengan Kawasan Lindung pada
UU No 26 tahun 2007
Kawasan Pemanfaatan Umum pada UU No 27
tahun 2007 setara dengan Kawasan Budidaya
pada UU No 26 tahun 2007

Aturan mengenai alur pelayaran dapat


mengikuti Permen Perhubungan No.68 tahun
2011 tentang Alur Pelayaran di Laut
Kawasan Strategis Nasional Tertentu
memperhatikan kriteria; batas-batas maritim
kedaulatan negara; kawasan yang secara
geopolitik, pertahanan dan keamanan negara;
situs warisan dunia; pulau-pulau kecil terluar
yang menjadi titik pangkal dan/atau habitat
biota endemik dan langka

Klasifikasi Kawasan di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil berdasarkan UU No. 27 tahun 2007
tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, dapat dilihat pada ilustrasi gambar
di bawah ini.

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

III-20

Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

Gambar 3.7 Contoh Ilustrasi Klasifikasi Kawasan di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (Subandono,

2008)
Peta Rencana Alokasi Ruang WP-3-K Kabupaten atau Kota disusun berdasarkan peta paket
sumberdaya dan/atau kesesuaian terhadap kriteria. Diagram alir penyusunan peta rencana
alokasi ruang berdasarkan peta paket sumberdaya sebagai berikut:

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

III-21

Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

Gambar 3.8 Diagram Penyusunan Peta Alokasi Ruang Wilayah Laut/Perairan Kabupaten/Kota
Berdasarkan Peta Paket Sumberdaya

Penentuan alokasi ruang wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil harus memperhatikan hal-hal,
sebagai berikut:
1) Penentuan Kawasan Konservasi
Penentuan Kawasan konservasi harus memperhatikan keberadaan wilayah yang
berpotensi menjadi kawasan konservasi. Kawasan konservasi ditetapkan untuk wilayah
yang memiliki ciri khas tertentu yang dilindungi untuk mewujudkan pengelolaan pesisir
dan pulau-pulau kecil yang berkelanjutan. Pembagian kawasan konservasi disesuaikan
dengan jenis/kategori kawasan konservasi yang ada di Kabupaten/Kota.

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

III-22

Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

2) Penentuan Kawasan Strategis Nasional Tertentu (KSNT)


Penentuan Kawasan Strategis Nasional Tertentu memperhatikan kriteria-kriteria: batasbatas maritim kedaulatan negara; kawasan yang secara geopolitik, pertahanan dan
keamanan negara; situs warisan dunia; pulau-pulau kecil terluar yang menjadi titik
pangkal dan/atau habitat biota endemik dan langka.
3) Penentuan Kawasan Pemanfaatan Umum
Penentuan Kawasan Pemanfaatan Umum memperhatikan kriteria: tidak termasuk ke
dalam wilayah yang ditetapkan menjadi kawasan konservasi dan Kawasan Strategis
Nasional Tertentu, dan merupakan wilayah yang sebagian besar dipergunakan untuk
aktivitas ekonomi.
4) Penentuan Alur Laut
Penentuan Alur Laut memperhatikan kriteria: ruang yang dapat dimanfaatkan untuk
alur pelayaran, pipa/kabel bawah laut, dan migrasi biota laut yang perlu dilindungi.
Aturan mengenai alur pelayaran dapat mengikuti Permen Perhubungan No.68 tahun
2011 tentang Alur Pelayaran di Laut, dimana alur pelayaran di laut terdiri atas : (1) Alur
pelayanan umum dan perlintasan; dan (2) Alur pelayaran masuk pelabuhan.
Pipa/kabel bawah laut merupakan instalasi yang dapat dibangun di perairan, dengan
persyaratan, sebagai berikut :
a. penempatan, pemendaman, dan penandaan;
b. tidak menimbulkan kerusakan terhadap bangunan atau instalasi Sarana Bantu
Navigasi-Pelayaran dan fasilitas Telekomunikasi-Pelayaran;
c. memperhatikan ruang bebas dalam pembangunan jembatan;
d. memperhatikan koridor pemasangan kabel laut dan pipa bawah laut; dan
e. berada di luar perairan wajib pandu.
Sedangkan Alur Migrasi Ikan adalah pola ruaya (migrasi) ikan yang dipengaruhi suhu,
salinitas, kecepatan dan arah arus, pasang surut, tinggi dan panjang gelombang, warna
perairan, substrat dasar, kedalaman perairan, dan tipologi kelandaian dasar laut.
Kecepatan dan arah arus akan memberikan indikasi terhadap pola pergerakan dan alur
migrasi ikan, sementara keterkaitan suhu, salinitas, kedalaman perairan, kontur dasar,
dan warna perairan memberikan informasi perairan optimum terhadap ikan-ikan target
tangkapan yang dikehendaki. Alur migrasi biota laut, dapat berupa : alur migrasi
cetacea, tuna, penyu belimbing, penyu lekang, paus dll.

Selanjutnya, penentuan arahan pemanfaatan alokasi ruang wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil
dilakukan melalui penentuan zona dan sub zona atau arahan pemanfaatannya pada masingmasing kawasan.
Penentuan zona pada masing-masing kawasan dilakukan dengan
menggunakan metode kesesuaian perairan. Hasil kesesuaian perairan dan contoh peta alokasi
ruang dapat dilihat pada ilustrasi gambar di bawah ini.

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

III-23

Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

Gambar 3.9 Ilustrasi Contoh Pembagian Kawasan menjadi Zona (Subandono, 2008)

Deliniasi batas kawasan, zona dan sub-zona ditampilkan pada Peta yang menggunakan grid
dengan sistem koordinat lintang (longitute) dan bujur (latitute) pada lembar peta yang
diterbitkan oleh lembaga yang berwenang.

4). Analisis Non Spasial


Setelah diperoleh Peta Alokasi Ruang selanjutnya dilakukan analisis nonspasial :
a. Analisis Kebijakan dan Kewilayahan
Analisis Kebijakan digunakan untuk melihat kedudukan wilayah perencanaan terhadap
kebijakan rencana tata ruang nasional/provinsi/Kabupaten/Kota, dan menyesuaikan
perencanaan yang dibuat dengan kebijakan pembangunan daerah, dengan tujuan agar
tidak terjadi tumpang tindih kegiatan. Disamping itu, analisis yang didasarkan pada
kebijakan pembangunan nasional, termasuk kebijakan geopolitik dan pertahanan
keamanan. Sedangkan analisis kewilayahan merupakan analisis untuk melihat
kecenderungan perkembangan kawasan di wilayah perencanaan berdasarkan potensi
fisik wilayah dan kondisi ekonomi, sosial budaya yang ada.
b.

Analisis Sosial dan Budaya


Dalam upaya untuk mencapai pemanfaatan sumberdaya alam secara berkelanjutan bagi
peningkatan kesejahteraan masyarakat, perlu dilakukan penilaian/analisis sosial budaya
di wilayah dan atau kawasan. Penilaian/analisis sosial (urban social indicator) misalnya
kependudukan/demografi, struktur sosial budaya, pelayanan sarana dan prasarana sosial
dan budaya, potensi sosial budaya masyarakat, atau kesiapan masyarakat terhadap suatu
pengembangan.
Tujuan analisis ini adalah mengkaji kondisi sosial budaya masyarakat yang mendukung
atau menghambat pengembangan wilayah dan atau kawasan, serta memiliki fungsi antara
lain :
1. sebagai dasar penyusunan rencana tata ruang wilayah dan atau kawasan serta
pembangunan sosial budaya masyarakat

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

III-24

Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

2. mengidentifikasi struktur sosial budaya masyarakat


3. menilai pelayanan sarana dan prasarana sosial budaya yang mendukung
pengembangan wilayah dan atau kawasan
4. menentukan prioritas-prioritas utama dalam formulasi kebijakan pembangunan
sosial budaya masyarakat
5. memberikan gambaran situasi dan kondisi obyektif dalam proses perencanaan
c.

Analisis Infrastruktur
Analisis infrastruktur di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil bertujuan untuk mengetahui
sebaran infrastruktur yang ada, sebagai data dasar dalam pengembangan struktur
wilayah dan acuan dalam analisis proyeksi kebutuhan sarana dan prasarana kelautan dan
perikanan. Kondisi infrastruktur dapat diketahui berdasarkan data sekunder yang telah
ada dan observasi langsung di lapangan. Pemetaan dilakukan dengan cara digitalisasi data
sekunder dan plotting lokasi secara langsung di lapangan, meliputi sarana dan prasarana
transportasi, air bersih, listrik dan energi, sanitasi, dan prasarana lainnya.

d.

Analisis Ekonomi Wilayah


Analisis ekonomi wilayah bertujuan untuk mengetahui pola distribusi perkembangan
ekonomi wilayah melalui PDRB, pertumbuhan pusat-pusat kegiatan di wilayah kajian,
sektor basis wilayah dan/atau kawasan untuk mengetahui sektor yang memberikan
sumbangan/kontribusi relatif yang cukup besar terhadap PDRB di suatu wilayah dan/atau
kawasan sehingga sektor tersebut dikatakan sebagai sektor basis (dominan), dan
komoditas unggulan wilayah pada sektor basis yang memiliki keunggulan komparatif dan
berpotensi ekspor. Komoditas unggulan merupakan Komoditas kunci yang memiliki peran
penting baik secara langsung/tidak langsung dan bersifat multiplier effect.

e.

Analisis Pengembangan Wilayah


Identifikasi ini meliputi kegiatan-kegiatan pemanfaatan sumberdaya di masa yang
akan datang yang diproyeksikan di dalam kawasan perencanaan yang berpotensi
untuk pengembangan wilayah. Beberapa pertimbangan untuk melihat potensi
pengembangan wilayah diantaranya:
Potensi sumberdaya lokal
Potensi sumberdaya lokal dapat dilihat dari sumberdaya unggulan di suatu wilayah
yang akan dibuat RZWP-3-K. Pendekatan identifikasinya menggunakan kerangka
ekonomi kewilayahan, pendekatan keunggulan komparatif (comparative advantage
approach), dan pendekatan keunggulan bersaing (competitive advantage approach).
Potensi lingkungan strategis
Potensi lingkungan strategis dapat menggunakan cara pandang yang sedang
berkembangan di lingkup global, regional dan nasional. Pendekatan identifikasinya
menggunakan upaya sintesis dari informasi-informasi terkini.

f.

Analisis dampak aktivitas dari wilayah sekitar


Identifikasi ini dibutuhkan untuk mengetahui dampak aktivitas dari wilayah sekitar
terhadap wilayah perencanaan zonasi, sehingga dapat dilakukan antisipasi atau adaptasi
yang dibutuhkan. Contoh proses identifikasi ini dapat dilihat pada tabel berikut.

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

III-25

Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

Tabel 3.10 Identifikasi Potensi Dampak Aktivitas dari Wilayah Sekitar


No

Kegiatan

Lokasi

Potensi Dampak

Pertambangan minyak dan gas


bumi

Perairan Laut dan


Pesisir

Penurunan kualitas air


Polusi limbah cair
Kerusakan ekosistem sekitar

Pertambangan Bahan Galian C


(Pasir)

Perairan Laut dan


Pesisir

Penurunan kualitas air


Kerusakan ekosistem sekitar
Transpor sedimen
Perubahan garis pantai

Pertambangan Mineral

Daratan Pesisir

Penurunan kualitas air


Kerusakan ekosistem sekitar
Perubahan geomorfologi laut
Perubahan garis pantai

Pertambangan Batubara

Daratan Pesisir

Perubahan garis pantai


Kerusakan ekosistem sekitar

Industri Maritim

Pesisir

Penurunan kualitas air,


Transpor sedimen
Perubahan sedimen
Polusi limbah padat dan cair
Kerusakan ekosistem

Permukiman

Pesisir dan DAS

Penurunan kualitas air


Polusi limbah padat dan cair

Pariwisata Bahari

Perairan Pesisir

Penurunan kualitas air


Kerusakan ekosistem perairan
Perubahan alur migrasi ikan dan biota

Pertanian

Pesisir dan DAS

Penurunan kualitas air


Transpor sedimen
Perubahan sedimen
Polusi limbah cair

Budidaya laut

Perairan pesisir

Penurunan kualitas air


Gangguan alur transportasi laut

10

Pelabuhan

Pesisir

Penurunan kualitas air


Transpor sedimen
Perubahan sedimen
Polusi limbah padat dan cair

g.

Analisis isu dan permasalahan perencanaan di wilayah pesisir dan pulau -pulau
kecil
Identifikasi ini meliputi antara lain:
Identifikasi daerah rawan bencana: banjir, tsunami, erosi, abrasi, sedimentasi, akresi
garis pantai, subsiden/longsoran tanah, gempa bumi
Identifikasi masalah lingkungan dan pencemaran: intrusi air laut/asin, polusi,
kerusakan ekosistem/habitat hutan mangrove, kerusakan ekosistem/habitat terumbu
karang
Identifikasi daerah konservasi/perlindungan: kawasan lindung nasional/kawasan
konservasi yang ditetapkan secara nasional (taman nasional, taman laut, cagar alam,
suaka alam laut), kawasan konservasi yang sedang diusulkan oleh daerah, dan daerah
perlindungan laut lokal

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

III-26

Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

Identifikasi aktivitas di daratan yang berpengaruh terhadap kegiatan pada kawasan


perairan
Konflik penggunaan lahan
Konflik sosial
Kesenjangan ekonomi antar wilayah pesisir dengan wilayah daratan utama.
2). Analisis Konflik Pemanfaatan Ruang (Resolusi Konflik)
A. Potensi Konflik
Konflik dalam penyusunan rencana zonasi wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, dapat
terjadi pada saat tahap penyusunan rencana alokasi ruang dan pada tahapan konsultasi
publik.
a) Pada tahap penyusunan rencana alokasi ruang, identifikasi konflik dilakukan terhadap
kegiatan-kegiatan di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil yang bersinggungan namun
tidak sesuai (compatible). Hasil analisis paket sumberdaya yang dilanjutkan dengan
beberapa analisis lanjutan, kemudian diidentifikasi antar kegiatan/zona/sub zona
untuk memilih kegiatan/zona/sub zona yang paling sesuai dengan cara membuat
matrik kesesuaian/keterkaitan. Matrik keterkaitan antar zona menguraikan hubungan
antar zona/sub zona dalam suatu wilayah perencanan untuk melihat harmonisasi
antar zona/sub zona.
Konflik dapat terjadi pada pemanfaatan ruang secara horizontal maupun vertikal.
Secara horizontal pada level zona misalnya pemanfaatan pertambangan, industri, dan
perikanan tangkap, sedangkan secara vertikal di perairan misalkan pertambangan,
perikanan tangkap, dan perikanan budidaya.

Gambar 3.10 Contoh Matriks Keterkaitan antar Kegiatan Pemanfaatan Ruang Pesisir

Kompabilitas kegiatan selanjutnya diklasifikasikan menjadi kegiatan-kegiatan, yang


meliputi kegiatan dengan kompabilitas: tinggi, menengah, rendah. Setelah diketahui

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

III-27

Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

kegiatan yang termasuk ke dalam kegiatan dengan jenis kompabilitas (tinggi,


menengah, rendah) kemudian kegiatan tersebut dikelompokkan berdasarkan jenis
kompabilitasnya dan diidentifikasi kebutuhan ruang (spatial/temporer), kegiatan lain
yang kompatible, dan kegiatan lain yang tidak kompatible, seperti pada tabel berikut :
Tabel 3.11 Klasifikasi Kompatibilitas Kegiatan
1.
Aktiv
itas

Kompatibilitas Tinggi
Kebutuhan
Ruang
(Spatial/te
mporer)

Kegiatan
lain yang
kompatibel

2. Kompatibilitas Menengah
Kegiatan yg
tidak
kompatibel

Aktivi
tas

Kebutuhan
Ruang
(Spatial/te
mporer)

Kegiatan
lain yang
kompatibel

Kegiatan yg
tidak
kompatibel

3. Kompatibilitas Rendah
Aktivi
tas

Kebutuha
n Ruang
(Spatial/t
emporer)

Kegiatan
lain yang
kompatibel

1
2
3
dll

b)

c)

Pada tahap konsultasi publik, peluang terjadinya konflik besar sekali. Konflik
dimungkinkan terjadi karena tidak semua harapan dari para pemangku kepentingan
terakomodasi dalam rencana zonasi tersebut. Konflik ini dapat memberikan dampak
positif jika seluruh pihak mau menghormati pemikiran masing-masing pemangku
kepentingan dan memperoleh kesepakatan mengenai kebutuhan prioritas yang perlu
diadopsi dalam rencana zonasi. Di sisi lain, konflik dalam konsultasi publik bisa
berdampak negatif saat ada satu atau lebih pihak memaksakan keinginannya dan tidak
mau bernegosiasi. Pada tahapan ini, jika semua pihak bersikeras untuk memasukkan
keinginannya dalam rencana zonasi makan akan terjadi dead lock sehingga tidak
terjadi kesepakatan. Rencana zonasi menjadi terkatung-katung penyelesaiannya.
Pada tahap pembahasan pemberian tanggapan dan/atau saran, konflik kepentingan
berpeluang terjadi apabila masing-masing pemangku kepentingan ada yang merasa
kebutuhannya tidak terakomodasi.

B. Penanganan Konflik
Konflik yang terjadi memerlukan adanya manajemen konflik, yaitu suatu proses yang
diarahkan pada pengelolaan konflik agar terjadi suatu kondisi yang lebih terkendali melalui
suatu rekayasa yang dilakukan untuk mengendalikan konflik agar menjadi lebih baik.
Dengan berusaha mengendalikan konflik, diharapkan tidak sampai terjadi akumulasi dan
besaran berkembangnya konflik menjadi destruktif. Beberapa upaya yang dapat dilakukan
dalam manajemen konflik antara lain:
(1) Pencegahan Konflik, yaitu suatu usaha yang bertujuan untuk membatasi dan
menghindari kekerasan dengan mendorong perubahan perilaku yang positif bagi
fihak-fihak yang terlibat.
(2) Penyelesaian Konflik, yaitu suatu bentuk usaha untuk menangani sebab-sebab konflik
dan berusaha membangun hubungan baru dan yang bisa tahan lama diantara
kelompok-kelompok yang bermusuhan.

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

III-28

Kegiatan yg
tidak
kompatibel

Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

(3) Transformasi Konflik, yaitu suatu upaya yang dilakukan untuk mengatasi sumbersumber konflik sosial dan politik yang lebih luas dan berusaha mengubah kekuatan
negatif menjadi kekuatan yang positif.
Secara garis besar ada dua cara penyelesaian konflik yaitu dengan kolaborasi membangun
konsensus dan penyelesaian melalui proses legal. Penyelesaian cara pertama dapat
dilakukan hanya dengan menyertakan pihak-pihak yang terlibat konflik maupun dengan
melibatkan pihak ketiga.
Secara umum strategi resolusi konflik seharusnya dimulai dengan pengetahuan yang
mencukupi tentang peta atau profil konflik sosial yang terjadi di suatu kawasan. Dengan
peta tersebut, segala kemungkinan dan peluang resolusi konflik diperhitungkan dengan
cermat, sehingga setiap manfaat dan kerugiannya dapat dikalkulasikan dengan baik.
Penyelesaian konflik yang terjadi di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil dapat diselesaikan
melalui cara Alternative Dispute Resolution (ADR). Beberapa metode resolusi konflik
dengan metode ADR adalah sebagai berikut :
1) Negosiasi langsung
Negosiasi adalah suatu proses yang melibatkan pihak-pihak yang bertikai, bertemu,
dan mencapai suatu kesepakatan yang dapat diterima secara bersama-sama.
2) Konsiliasi
Konsiliasi adalah suatu proses pihak luar sebagai mediasi untuk membawa pihak-pihak
yang berselisih bermusyawarah secara bersama. Pihak yang melakuakn konsiliasi
harus membuat agenda, melakukan pencatatan secara administrasi dan mengunjungi
pihak-pihak yang tidak sempat bertemu langsung, dan bertindak sebagai mediator
dalam pertemuan.
3) Fasilitasi
Merupakan penanganan konflik yang melibatkan fasilitator. Peran fasilitator adalah
menjadi moderator dalam pertemuan yang cakupannya lebih besar dan menjamin
setiap orang dapat berbicara dan mendengar. Fasilitasi juga diterapkan dalam
membantu individu melakukan proses pemecahan masalah (problem solving),
prioritas, dan perencanaan.
4) Mediasi
Mediasi adalah suatu proses penyelesaian konflik dengan menggunakan jasa pihak
luar untuk menjembatani proses negosiasi antaa pihak-pihak yang berselisih. Pihakpihak yang berselisih dipertemukan secara bersama oleh pihak luar yang
kedudukannya netral dan independen (berperan sebagai mediator). Dalam proses ini
dikaji secara mendalam dan diputuskan bagaimana konflik tersebut diselesaikan.
Peran mediator adalah membantu semua pihak agar mampu menghasilkan suatu
perjanjian tetapi tidak memiliki kekuatan hukum. Keuntungan dari mediasi adalah : (1)
mediator dapat memfasilitasi komunikasi antara pihak-pihak yang bertikai dan
membangun komunikasi dengan pihak-pihak yang teralienasi, mencegah terjadinya
deadlock yang menghambat resolusi konflik, (2) membantu pihak-pihak yang
berselisih untuk menciptakan kesepakatan bersama, (3) mempercepat proses
negosiasi dan menstimulasi pihak yang berselisih dengan mengajukan penyelesaian
konflik secara kreatif dan realistis, (4) memfasilitasi suatu kerjasama antarpihak yang
bertikai.

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

III-29

Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

5)

Arbitrasi
Arbitrasi adalah proses penyelesaian konflik dengan cara pihak yang berselisih
menyerahkan proses penyelesaiannya kepada pihak yang dapat memberi legitimasi
untuk memutuskan pihak yang benar dalam perselisihan tersebut. Proses semacam ini
juga dapat berlaku dalam penyelesaian konflik melalui jalur hukum.

Penyelesaian konflik yang terbaik adalah melalui negosiasi kolaboratif antara pihak-pihak
yang berkonflik itu sendiri. Cara demikian akan memperbaiki hubungan dan interaksi
antara pihak-pihak yang berkonflik. Namun demikian seringkali pihak-pihak yang
berkonflik itu tidak mampu berinteraksi sehingga diperlukan pihak ketiga yang membantu
proses penyelesaian konflik. Idealnya pihak ketiga tersebut tidak mendominasi proses
penyelesaian konflik dan atau mempunyai kuasa untuk membuat keputusan melainkan
bertindak sebagai fasilitator komunikasi dan peace builder, yang sering disebut sebagai
mediator. Sebagai catatan, pada kenyataannya, kebanyakan konflik yang terjadi dalam
masyarakat sekitar 60 persen diselesaikan melalui mediasi.
Hasil analisis non spasial diformulasikan untuk menyempurnakan usulan peta alokasi ruang
menjadi peta RZWP-3-K.

PEMERINTAH
KABUPATEN BERAU

Gambar 3.11 Ilustrasi Contoh Peta RZWP-3-K

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

III-30

Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

4). Penyelarasan, Penyerasian dan Penyeimbangan dengan RTRW


Rencana alokasi ruang yang dihasilkan perlu dilakukan penyelarasan, Penyerasian dan
Penyeimbangan antara RZWP-3-K dengan RTRW sesuai UU No.27 Tahun 2007 Jo. UU No. 1
Tahun 2014 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Selain itu, juga perlu
diserasikan, diselaraskan, dan diseimbangkan dengan RZWP-3-K propinsi/kabupaten/kota yang
bersebelahan atau berhadapan.
Tujuan penyelarasan, penyerasian dan penyeimbangan antara RZWP-3-K dengan RTRW adalah
untuk mereview dan membandingkan draft dokumen antara RZWP-3-K dengan rencana lain
yang telah disahkan dan untuk merevisi draft dokumen antara RZWP-3-K tersebut, sehingga
konsisten dengan rencana-rencana dan program-program yang bersesuaian yang telah
disahkan.
Penyelarasan, penyerasian dan penyeimbangan tersebut dilakukan melalui tiga (3) cara berikut
ini:
i. Menyelaraskan/ mengadopsi pola ruang dan struktur ruang daratan pesisir RTRW ke dalam
RZWP-3-K
ii. Menyerasikan alokasi ruang perairan pesisir dan pulau-pulau kecil dalam RZWP-3-K yang
bersinggungan dengan pola ruang dalam RTRW
iii. Menyeimbangkan/memadukan rencana Pemerintah dan Pemerintah Daerah yang telah
ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan ke dalam alokasi ruang perairan
pesisir dalam RZWP-3-K.
Setelah RZWP-3-K diselaraskan, diserasikan dan diseimbangkan dengan RTRW, maka disusun
deskripsi zona/subzona yang memuat : nama, batas dan luas. Contoh deskripsi zona/subzone
dapat dilihat pada lampiran 2.
5). Penyusunan Pernyataan pemanfaatan Ruang dan Peraturan Pemanfaatan Ruang

Pernyataan pemanfaatan ruang merupakan hasil akhir dari serangkaian proses penyusunan
rencana alokasi ruang. Penyusunan pernyataan pemanfaatan ruang dilengkapi dengan
peraturan pemanfaatan ruang yang berisi ketentuan persyaratan pemanfaatan ruang dan
ketentuan pengendaliannya yang disusun untuk setiap zona peruntukan dalam RZWP-3-K
Kabupaten/Kota, terdiri dari kegiatan yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan serta
kegiatan yang hanya dapat dilakukan setelah memperoleh izin. Contoh tabel pernyataan dan
peraturan pemanfaatan ruang dapat dilihat pada lampiran 2.
Arahan pemanfaatan ruang hasil konsep dan rencana dilakukan konsultasi publik II (kedua).
Berikut adalah contoh tabel arahan pemanfaatan ruang yang dikonsultasikan ke Stakeholder.

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

III-31

Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota


Tabel 3.12 Contoh Tabel Kesepakatan Arahan Pemanfaatan Ruang
RZWP-3-K Kabupaten/Kota :

ARAHAN PEMANFAATAN RUANG

Zona
Perikanan
Budidaya

Sub-Zona
1. Rumput Laut
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Hasil Konsultasi Publik dengan Stakeholder terkait

Setuju

Tidak setuju

Mutiara
Keramba Jaring Apung
Keramba Lainnya
Bagan
Pertambakan
Pembenihan (Hatchery)
Perkotaan

dll
Renstra Daerah
Arahan
Pemanfaatan

6). Rekomendasi terhadap RTRW dan Rencana Pembangunan Lainnya


Hasil penyerasian, penyelarasan, dan penyeimbangan RZWP-3-K dengan RTRW, RZW-3-K dapat
digunakan sebagai pertimbangan di dalam penetapan struktur dan pola ruang yang terdapat
didalam RTRW. Rekomendasi terhadap RTRW, meliputi :
1. Alokasi ruang di WP3K untuk kegiatan-kegiatan yang memiliki keterkaitan terhadap
sumberdaya di WP3K;
2. Kawasan Strategis Nasional Tertentu (KSNT) dapat menjadi muatan kawasan strategis
RTRW;
3. Penetapan Kawasan Strategis WP3K dapat menjadi muatan kawasan strategis Kab/Kota
pada RTRW.

7). Penyusunan Indikasi Program


Indikasi program dijabarkan dalam jangka waktu perencanaan 5 (lima) tahunan hingga akhir
tahun perencanaan 20 (duapuluh) tahun. Contoh Tabel Indikasi Program dapat dilihat pada
lampiran 3.

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

III-32

Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

Tahap 8 :
3.2.2.8. Penyusunan Dokumen Antara
Penyusunan dokumen antara dilaksanakan setelah melakukan tahapan penentuan usulan
alokasi ruang.
Sistematika Dokumen Antara, sekurang-kurangnya memuat :
1) Pendahuluan
- Dasar Hukum Penyusunan RZWP-3-K
- Profil Wilayah
- Isu-isu Strategis Wilayah
- Peta-peta yang minimal mencakup peta orientasi wilayah
2) Tujuan, Kebijakan, dan Strategi Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
3) Deskripsi Potensi Sumberdaya Pesisir dan Pulau-pulau Kecil dan Kegiatan Pemanfaatan
4) Rencana Alokasi Ruang yang berisi Peta RZWP-3-K
5) Peraturan Pemanfaatan Ruang
6) Indikasi Program RZWP-3-K
7) Album Peta Tematik dan Peta RZWP-3-K

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

III-33

Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

Tahap 9 :

3.2.2.9. Konsultasi Publik II


Konsultasi publik pada tahap ini merupakan pelaksanaan konsultasi publik II (kedua) yang
dilakukan untuk memverifikasi draft rencana zonasi, arahan pemanfaatan dan memeriksa
konsistensi draft RZWP-3-K dengan RTRW dan aturan-aturan lainnya, sehingga draft rencana alokasi
ruang dapat disepakati oleh semua pemangku kepentingan daerah. Sasaran yang ingin dicapai
adalah perbaikan dan penyempurnaan dari draft dokumen antara dan memfasilitasi aspirasi dari
seluruh Stakeholder terkait, serta penetapan alokasi ruang ke dalam kawasan/zona/subzona dalam
dokumen final yang akan disusun.
Tabel 3.13 Tujuan, Output dan Terget Peserta Konsultasi Publik II Penyusunan RZWP-3-K
Tujuan
Output
Target Peserta

Memverifikasi atau
memastikan kembali bahwa
data dan informasi tematis
yang menjadi masukan publik
pada tahap konsultasi
sebelumnya
Menginformasikan hasil
perbaikan draft rencana zonasi
dari hasil kesepakatan pada
konsultasi publik sebelumnya,
serta menilai
kelayakan/kesesuaian
pemanfaatan, analisis, usulan
alokasi ruang, serta arahan
pemanfaatan dan memeriksa
konsistensi draft RZWP-3-K
dengan RTRW (Penyelarasan,
Penyerasian dan
Penyeimbangan dengan) dan
aturan-aturan lainnya

Tanggapan,
masukan atau
keberatan terhadap
hasil perbaikan dari
konsultasi publik
sebelumnya
Kesepakatan publik
terhadap draf
rencana alokasi
ruang

1) Unsur pemerintah
Pemerintah Pusat
Pemerintah Daerah
1. Bappeda
2. Dinas Kelautan dan perikanan
3. Dinas Pekerjaan Umum
4. BPN
5. Dinas Kehutanan
6. Dinas Pertanian
7. Dinas Pariwisata
8. Dinas Perhubungan
9. Dinas Perindustrian
10. Dinas Lingkungan hidup.
11. Dinas Pendapatan Daerah
12. BUMD
13. dll
2) TNI AL dan POLAIRUD
3) DPRD
4) LSM
5) Perguruan Tinggi/Akademisi
6) Ormas
7) Kelompok Masyarakat
8) Camat, Lurah/Kepala Desa
9) Pers
10) Dunia Usaha di Bidang Kelautan dan Perikanan

Tabel 3.14 Materi, Metode, dan Lokasi Konsultasi Publik II Penyusunan RZWP-3-K
Materi
Metode pelaksanaan
Lokasi
Draft Dokumen Antara yang
memuat :
Hasil perbaikan dokumen awal
Hasil Analisis lanjutan
Penetapan Alokasi Ruang
Penyelarasan , penyerasian dan
penyeimbangan dengan RTRW

Fokus Group Discussion


(FGD)
Rembug Desa
(dapat dilakukan dengan
menerapkan model
Simulasi)

Kantor Pemerintah
Daerah (Dinas Kelautan
dan perikanan atau
Bappeda)
kantor
kecamatan/kelurahan

Hasil dari konsultasi publik II (kedua) adalah diperolehnya kesepakatan pemanfaatan ruang
(kawasan/zona/subzona). Hasil konsultasi publik dituangkan ke dalam Berita Acara (lampiran 6),
dilengkapi dengan notulensi, daftar hadir, dan dokumentasi.
KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

III-34

Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

Tahap 10 :
3.2.2.10. Penyusunan Dokumen Final
Setelah Dokumen Antara diperbaiki sesuai dengan masukan, tanggapan, atau saran pada saat
konsultasi publik II, selanjutnya Tujuan, Kebijakan, dan Strategi Pengelolaan Wilayah Pesisir dan
Pulau-Pulau Kecil, Peta Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, Deskripsi
Zona/Subzona, Peraturan Pemanfaatan Ruang, dan Indikasi Program dibahasahukumkan menjadi
draft rancangan perda RZWP-3-K.
Dokumen Final merupakan perbaikan Dokumen Antara yang telah dikonsultasipublikkan.
Sistematika dokumen final RZWP-3-K (lampiran 4), sekurang-kurangnya terdiri atas:
1) Pendahuluan yang memuat Dasar Hukum Penyusunan RZWP3K, Profil Wilayah, Isu-isu
Strategis Wilayah, Peta-peta yang minimal mencakup peta orientasi wilayah;
2) Tujuan, Kebijakan, dan Strategi Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
Kabupaten/Kota;
3) Deskripsi Potensi Sumberdaya Pesisir dan Pulau-pulau Kecil dan Kegiatan Pemanfaatan
4) Rencana Alokasi Ruang;
5) Peraturan Pemanfaatan Ruang;
6) Indikasi program;
7) Album Peta Tematik dan Album Peta RZWP-3-K; dan
8) Draft Rancangan Perda RZWP-3-K.

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

III-35

Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

Tahap 11 :
3.2.2. 11. Permintaan Tanggapan dan/atau Saran
Dokumen Final RZWP-3-K selanjutnya dimintakan tanggapan dan/atau saran kepada Menteri
Kelautan dan Perikanan dan Gubernur. Berdasarkan UU Nomor 27 Tahun 2007 sebagaimana telah
diubah dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 pasal 14 dan Peraturan Menteri Kelautan dan
Perikanan Nomor 16 Tahun 2008 pasal 26, mekanisme pemberian tanggapan dan/atau saran, adalah
sebagai berikut :
(1)

Bupati/walikota menyampaikan Dokumen Final RZWP-3-K kabupaten/kota kepada


gubernur dan Menteri untuk mendapatkan tanggapan dan/atau saran.

(2)

Gubernur atau Menteri memberikan tanggapan dan/atau saran terhadap dokumen final
RZWP-3-K dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari kerja.

(3)

Gubernur atau Menteri dalam memberikan tanggapan dapat melibatkan lembaga yang
mengkoordinasikan penataan ruang nasional atau daerah.

(4)

Tanggapan atau saran perbaikan oleh gubernur atau bupati/walikota dipergunakan


sebagai bahan perbaikan Dokumen Final RZWP-3-K.

(5)

Dalam hal tanggapan dan/atau saran tidak dipenuhi, maka dokumen RZWP-3-K dapat
diberlakukan secara definitif.

Gubernur & Menteri KP

Bupati/Walikota
1

PENYUSUNAN DOKUMEN RZWP-3-K

Lembaga yang mengkoordinasikan


penataan ruang di daerah/BKPRD

Tanggapan/saran
terhadap
Dokumen Final

Tim pemberian
tanggapan MKP
Tim pemberian
tanggapan
Gubernur

Tim BKPRD

Tim BKPRN
(Vocal Point
KKP)

Dokumen Final RZWP-3-K


berikut lampiran
Album Peta

Dokumen Final
RZWP-3-K
Kabupaten/Kota setelah
mendapatkan
tanggapan dan/atau
saran Gubernur &
Menteri KP

Pembahasan
ranperda dengan
DPRD

Gambar 3.12 Mekanisme Pemberian Tanggapan dan/atau Saran

Setelah Dokumen Final RZWP-3-K diperbaiki berdasarkan tanggapan dan/atau saran oleh Menteri
dan Gubernur selanjutnya dilakukan pembahasan Ranperda di daerah sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

III-36

Lampiran 1. Kriteria Kesesuaian


1) Perikanan Tangkap
Kriteria-kriteria lingkungan dan ekologi yang harus diperhatikan antara lain sebagai berikut :

Lokasi harus memperhatikan dan mempertimbangkan habitat kritis dan sensitive yang
terdapat di daratan maupun perairan pesisir (lahan basah; mangrove; padang lamun;
terumbu karang; tempat pembesaran dan pemijahan; gumuk pasir; taman laut, rute migrasi
burung, mamalia & spesies terancam punah lainnya);

Pembukaan lahan hutan dan pertanian harus diminimalkan;

Pemenuhan kebutuhan air bersih dan fasilitas pengolahan limbah cair/padat;

Penetapan pemanfaatan lahan didalam dan sekitar lokasi perencanaan termasuk antisipasi
kegiatan pembangunan yang akan datang;

Kedekatan jarak terhadap daerah permukiman, perdagangan dan pendidikan;

Pekerjaan dan orientasi masyarakat yang ada di dekat lokasi perencanaan, guna
meminimalisasi gangguan dan hilangnya kegiatan sosio ekonomi yang ada;

Pengurangan sumberdaya yang ada harus diminimalkan baik yang terjadi karena dampak
langsung maupun tidak langsung dari kegiatan pembangunan;

Lokasi pada daerah brackish water harus direncanakan secara hati-hati.


Kriteria untuk menentukan daerah penangkapan ikan (fishing ground), antara lain berdasarkan visual
langsung di perairan/pengalaman nelayan dan bantuan teknologi Inderaja dan hidroakustik. Daerah
penangkapan ikan diantaranya ditandai oleh :
Warna perairan lebih gelap dibandingkan perairan sekitarnya ;
Ada banyak burung pemakan ikan beterbangan dan menukik-nukik ke permukaan air ;
Banyak buih/riak di permukaan air ; dan
Umumnya jenis ikan ini bergerombol di sekitar batang-batang kayu yang hanyut di perairan
atau bersama dengan ikan yang berukuran besar.
Penentuan daerah penangkapan ikan menggunakan metode analisis data inderaja dilakukan dengan
memanfaatkan citra satelit yang dihasilkan terhadap beberapa parameter fisika kimia dan biologi
perairan, seperti :
Vegetasi mangrove,
Suhu permukaan laut (SPL) dan arus permukaan laut,
Konsentrasi klorofil dan produktivitas primer air laut,
Kedalaman air,
Terumbu karang, padang lamun, muara sungai,
Angin di permukaan laut, dan
Pengangkatan massa air (up-welling) dan pertemuan dua massa air yang berbeda (sea front).
Hasil interpretasi citra tersebut dituangkan dalam bentuk peta tematik, sehingga dapat diperkirakan
tingkat kesuburan suatu lokasi perairan atau kesesuaian kondisi perairan dengan habitat yang
disukai gerombolan (schoaling) ikan dalam bentuk daftar titik koordinat (bujur dan lintang).
Berdasarkan peta tersebut kemudian dibuat regulasi pengusahaan penangkapan ikan yang meliputi
tata ruang, nursery ground, waktu penangkapan dan jenis alat tangkap dan bobot kapal.

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

L.1-1

Lampiran 1. Kriteria Kesesuaian


Metode hidroakustik merupakan suatu usaha untuk memperoleh informasi tentang obyek di bawah
air dengan cara pemancaran gelombang suara dan mempelajari echo yang dipantulkan. Dalam
pendeteksian ikan digunakan sistem hidroakustik yang memancarkan sinyal akustik secara vertikal,
biasa disebut echo sounder atau fish finder.
Tabel L1.1. Parameter Kesesuaian Perairan Untuk Penangkapan Ikan
NO

INPUT PETA YANG


DIBUTUHKAN

1.
2.

Peta Batimetri
Peta Oksigen Terlarut (Data
Osenografi Kimia)

Kedalaman
Oksigen
Terlarut

3.

Peta Salinitas (Data


Osenografi Kimia)
Peta Suhu Permukaan (Data
Oseanografi fisik)
Peta Kecerahan (Data
Oseanografi fisik)
Peta PH (Data Osenografi
Kimia)
Peta Arah Kecepatan Arus
(Data Oseanografi Fisik)
Peta Sedimen (Substrat dasar
peraiaran)
Peta Tinggi Gelombang (Data
Oseanografi fisik)
Peta Curah Hujan (Data
Klimatologi)
Peta Terumbu karang (Data
ekosistem SD Hayati)

Salinitas

4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.

12.

Peta Mangrove (Data


ekosistem SD Hayati)
13.
Peta LPI, Peta Administrasi
Sumber: Anonim dengan modifikasi

KRITERIA KESESUAIAN

PARAMETER
KESESUAIAN

SATUAN

Suhu

S1 (80)

S2 (60)

S3 (40)

m
mg/L

0 - 400
>5

33 - 34

Celcius

28 - 32

7 - 8,5

0-1

1-2

>=3

>3

hari/thn

150-180

110-150

<110

<100

60-80

40-60

<40

<20

60-80

40-60

<40

<20

0-10

10-20

>20

>30

Kecerahan
pH
Kecepatan
arus
Substrat dasar
perairan
Tinggi
Gelombang
Jumlah Hari
Hujan
Tutupan
Terumbu
Karang
Tutupan
Mangrove
Jarak Pantai

N (1)

cm/detik

Km

2) Perikanan Budidaya
a.

Budidaya air laut


Tabel L1.2. Parameter Kesesuaian Perairan Untuk Budidaya Air Laut

No
1.

Input Peta Yang


Dibutuhkan
Peta Suhu Permukaan,
Peta Sebaran TSS, Peta
Sebaran Salinitas, Peta
Sebaran Tinggi
Gelombang, Peta
Sebaran arah dan
Kecepatan Arus

Parameter
Kesesuaian
FISIK :
Temperatur
Kekeruhan
Kecerahan
Salinitas
Gelombang
Arus

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

Satuan
o

C
m
m
o/oo
m
m/dt

S1 (80)
26 30
< 30
>3
18 32
< 0,5
< 0,75

Kriteria Kesesuaian
S2 (60)
S3 (40)

N (1)

28 30
<5
>5
Alami

>35
<2
>15
>34

30 35
52
10-15
32 - 34

L.1-2

Lampiran 1. Kriteria Kesesuaian


Input Peta Yang
Dibutuhkan

No

2.

3.

4.

Peta Sebaran PH, DO,


BOD,
Nitrit,
H2S,
Mercuri (Hg)
Kadmium (Cd)
Seng (Zn)
Timbal (Pb)
Kromium (Cr)
Selenium (Se)
Tembaga (Cu)
Perak (Ag)
Arsen (As)
Nikel (Ni)
Senyawa phenol
DDT

Peta Sebaran Ekosistem


di Pesiisr

Peta Sebaran Daerah


Rawan Bencana

Parameter
Kesesuaian

KIMIA :
pH
DO
BOD
Nitrit
H2S
Mercuri (Hg)
Kadmium (Cd)
Seng (Zn)
Timbal (Pb)
Kromium (Cr)
Selenium (Se)
Tembaga (Cu)
Perak (Ag)
Arsen (As)
Nikel (Ni)
Senyawa phenol
DDT

Satuan

mg/l
mg/l
mg/l
mg/l
mg/l
mg/l
mg/l
mg/l
mg/l
mg/l
mg/l
mg/l
mg/l
mg/l
mg/l
mg/l

BIOLOGI :
Organisme penempel
Limbah sampah
Pemangsa

KEAMANAN :
Jarak dari pantai
Alur pelayaran
Badai/gempa

m
m
m

S1 (80)

Kriteria Kesesuaian
S2 (60)
S3 (40)

N (1)

69
>4
< 45
< 0,1
< 0,03
< 0,003
< 0,01
< 0,1
< 0,01
< 0,01
< 0,005
< 0,06
< 0,05
< 0,01
< 0,1
< 0,002
< 0,002

6,5 8,5
>6
< 25
Nihil
< 0,01
< 0,00001
< 0,00002
< 0,002
< 0,00002
< 0,00004
< 0,00045
< 0,001
< 0,003
< 0,0026
< 0,002
Nihil
< 0,001

8,5
>8
<20
Sedang
<0.04
<0,004
<1
<0,8
<1
<1
<0,5
<0,1
<0,1
<0,1
<1
<0,001
<0,002

>8,5
>8
<10
Banyak
<0.05
<0,005
<2
<1
<2
<2
<1
<1
<1
<1
<2
<0,01
<0,003

Sedikit
500 - 1000
Tidak ada

Nihil
1000 m
TTidak ada

Sedikit
>500
ada

Banyak
>200
Banyak

< 1.000
< 500
Tidak ada

Sumber : Pedoman Pemetaan, 2013

b.

Budidaya Air Payau


Tabel L1.3. Parameter Kesesuaian Perairan Untuk Budidaya Air Payau

No
1.
2.
3.
4.

Input Peta Yang


Dibutuhkan
Peta
Salinitas
(Data
Osenografi Kimia
Peta Suhu Permukaan
(Data Oseanografi fisik)
Peta Kecerahan (Data
Oseanografi fisik)
Peta Oksigen Terlarut

(%)

S1 (80)
20

Kriteria Kesesuaian
S2 (60)
S3 (40)
20-35
>35

N (1)
> 40

Suhu

(C)

26-31

20-26

<20

<10

Kecerahan

(m)

25-34

16-24

>5

<16 atau
>34
<3

<10
>40
<1

Parameter
Kesesuaian
Salinitas

Oksigen Terlarut

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

Satuan

L.1-3

atau

Lampiran 1. Kriteria Kesesuaian

5.

6.
7.
8.

9.
10.
11.

12.

(Data Osenografi Kimia


Peta Curah Hujan (Data
Klimatologi)
Peta PH (Data Osenografi
Kimia
Peta Sebaran Amonia
(data Oseanografi Kimia
Peta LPI, Peta Curah
Hujan, Peta Sumberdaya
Air
Peta Oksigen Terlarut
(Data Osenografi Kimia
Peta Kerawanan Bencana
Peta Oksigen Terlarut,
Peta Sebaran Amonia
(Data Osenografi Kimia
Peta Batimetri

Curah Hujan

2500-3000

<1000 atau
>3500

<8000 atau
> 4000

<0,3

1000-2000
dan 30003500
6-7,5 dan
8,5-10
0,3-0,5

>10 atau
<6
>0,5

> 20 atau
<5
>1

Input air tawar

Besar

Sedang

Kurang

Tidak ada

Kesuburan air

Tinggi

Sedang

Rendah

Tidak ada

Tidak ada
Tidak ada

Ada
Ada

>100

50-75

<50

PH
Amoniak

7,5-8,5
(NH3)
(mg/l)

Pengaruh banjir
Polutan

Kedalaman pirit

(cm)

Ada
(jumlah
besar)
<40

Sumber : Pedoman Pemetaan, 2013

c.

Budidaya Tambak Udang


Tabel L1.4. Parameter Kesesuaian Perairan Untuk Budidaya Tambak Udang
No

Parameter

1.

Curah Hujan (mm/th)

Baik
2500-3000

2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.

Kecerahan (%)
Kedalaman Pirit (cm)
Oksigen Terlarut (mg/l)
Salinitas (o/oo)
o
Suhu ( C)
Amoniak (NH3) (mg/l)
pH
Input air tawar
Kesuburan air
Pengaruh banjir
Polutan

25-34
>100
>5
12-20
28-31
<0,3
7,5-8,5
Besar
Tinggi
Tidak ada
Tidak ada

Kriteria Kesesuaian
Sedang
Buruk
1000-2000
<1000 atau >3500
dan 3000-3500
16-24
<16 atau >34
50-75
<50
3-5
<3
20-35
>35
26-28
<26 atau >31
0,3-0,5
>0,5
6-7,5 dan 8,5-10
>10 atau <6
Sedang
Kurang
Sedang
Rendah
Ada
Ada

Sumber : Pedoman Pemetaan, 2013

d.

Budidaya Tambak Bandeng


Tabel L1.5. Parameter Kesesuaian Perairan Untuk Budidaya Tambak Bandeng
No

Parameter

1.

Curah Hujan (mm/th)

2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Kecerahan (%)
Kedalaman pirit (cm)
Oksigen Terlarut (mg/l)
o
Salinitas ( /oo )
o
Suhu ( C)
Amoniak (NH3) (mg/l)
pH

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

Baik
2500-3000
25-34
>100
>5
12-20
26-31
<0,3
7,5-8,5

Kriteria Kesesuaian
Sedang
Buruk
1000-2000
<1000 atau >3500
dan 3000-3500
16-24
<16 atau >34
50-75
<50
3-5
<3
20-35
>35
20-26
<20
0,3-0,5
>0,5
6-7,5 dan 8,5>10 atau <6

L.1-4

Lampiran 1. Kriteria Kesesuaian

9.
10.
11.
12.

Input air tawar


Kesuburan air
Pengaruh banjir
Polutan

10
Sedang
Sedang
-

Besar
Tinggi
Tidak ada
Tidak ada

Kurang
Rendah
Ada
Ada

Sumber : Pedoman Pemetaan, 2013

e.

Budidaya Beberapa Biota Laut


Tabel L1.6. Parameter Kesesuaian Perairan Untuk Budidaya Laut
Jenis Biota

Salinitas
()

Budidaya Kerang
Kerang Hijau
26 33
Kerang Bulu
18 30
Tiram
15 35
Budidaya Ikan dalam KJA
Beronang
25 31
Kerapu
25 30
Kakap
20 30
Budidaya Rumput Laut
Rumput Laut
30 - 34

Suhu
o
( C)

Kondisi Lingkungan
Nitrat
Fosfat
(mg/l)
(mg/l)

pH

Oksigen
(mg/l)

14 32
15 31
15 32

2,5 3,0
1,5 3,0
1,5 3,0

0,5 1,0
0,5 3,0
0,5 1,0

6,5 9,0
6,5 9,0
6,5 9,0

38
38
28

28 30
28 30
28 30

1,0 3,2
0,9 3,2
0,9 3,2

0,2 0,5
0,2 0,5
0,2 0,5

6,5 8,0
6,5 8,0
6,5 8,0

48
48
38

27 - 30

6,5 8,0

3-8

Sumber : Pedoman Pemetaan, 2013

f.

Budidaya Ikan dengan KJA


Tabel L1.7. Parameter Kesesuaian Perairan Untuk Budidaya Ikan dengan KJA
No

Parameter

1.
2.
3.
4.

Kenyamanan
Tinggi air pasang
Arus (m/detik)
Kedalaman air dari dasar jaring

Baik
Baik
> 1,0
0,2 0,4
> 10

5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.

Oksigen terlarut (ppm)


Salinitas ()
Perubahan cuaca
Sumber listrik
Sumber pakan
Tenaga kerja
Ketersediaan Benih
Pencemaran

5
> 30
Jarang
Baik
Baik
Baik
Baik
Tidak ada

Kesesuaian Lahan
Sedang
Sedang
0,5 1,0
0,05 0,2
4 10
35
20 30
Sedang
Cukup
Cukup
Cukup
Cukup
Sedang

Kurang
Kurang
< 0,5
0,4 0,5
<4
<3
< 20
Sering
Kurang
Kurang
Kurang
Kurang
Kurang

Sumber : Pedoman Pemetaan, 2013

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

L.1-5

Lampiran 1. Kriteria Kesesuaian


g.

Budidaya KJA
Tabel L1.8. Parameter Kesesuaian Perairan Untuk Budidaya KJA
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Persyaratan Menurut Komoditas


Kerapu
Kakap Putih
Kakap Merah
Kecil
Kecil
Kecil

Faktor
Pengaruh angin dan
gelombang yang kuat
Kedalaman air dari dasar
kurung
Pergerakan air/arus
Kadar garam
Suhu Air Pengaruh
Polusi
Pelayaran

5-7 m pada surut


terendah
20-40 Cm/detik
27-32
28 C-30 C
bebas
tdk menghambat
alur pelayaran

5-7 m pada surut


terendah
20-40 Cm/det
27-32
28 C-30 C
bebas
tdk menghambat
alur pelayaran

7-10 m pada
surut terendah
20-40Cm/detik
32-33
28 C-30 C
bebas
tdk
menghambat
alur pelayaran

Sumber : Pedoman Pemetaan, 2013

h.

Budidaya Kerang Hijau


Tabel L1.9. Parameter Kesesuaian Perairan Untuk Budidaya Kerang Hijau
No

Parameter

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Kedalaman (m)
Substrat
Arus (m/dt)
Derah terlarang
Kecerahan (m)
Pencemaran
Kesuburan perairan

8.
9.
10.

Suhu (C)
Salinitas ()
Aksesbilitas

Baik
3-7m
Lumpur
0,05 - 0,2 m/dt
Aman
1-4m
Tidak tercemar/Ringan
Tinggi (>15.000 ind/lt)
25 - 27
25 - 30
Mudah

Kesesuaian Lahan
Sedang
>7m
Pasir Lumpur
0,2 - 0,5
Cukup
5-8
Tercemar Sedang
Sedang (200015.000)
28 - 30
31 - 35
Cukup

Kurang
<3m
Pasir, Karang
>0,5
Kurang
>8
Tercemar berat
<2000 ind/lt
<26, >30
<21, >35
Kurang

Sumber : Pedoman Pemetaan, 2013

i.

Budidaya Tiram Mutiara (Pinctada maxima)


Tabel L1.10. Parameter Kesesuaian Perairan Untuk Budidaya Tiram Mutiara (Pinctada maxima)
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10

Parameter
Terlindung dari pengaruh
angin musim
Kondisi gelombang
Arus (cm/detik)
Kedalaman air (m)
Dasar perairan
Salinitas (o/oo)
Suhu (oC)
Kecerahan (m)
Kesuburan perairan
Sumber benih dan induk

Baik
Baik
Tenang
15 25
15 25
Berkarang
32 3
25 35
4,5 6,5
Subur
Banyak

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

Kesesuaian Lahan
Sedang
Sedang
Sedang
10 15 dan 25 30
> 25
Pasir
28 31 dan 36 40
28 31 dan 30 32
3,5 4,4 dan 6,6 7,7
Cukup
Sedang

Kurang
Kurang
Besar
< 10 dan> 30
< 15
Pasir/lumpur
< 27 dan > 40
< 22 dan > 32
< 3,5 dan > 7,7
Kurang
Kurang

L.1-6

Lampiran 1. Kriteria Kesesuaian


11.
12.
13.

Sarana penunjan
Pencemaran
Keamanan

Baik
Tidak ada
Aman

Cukup
Sedang
Cukup

Kurang
Kurang
Kurang

Sumber : Pedoman Pemetaan, 2013

j.

Budidaya Rumput Laut (Sea Weed)


Tabel L1.11. Parameter Kesesuaian Perairan Untuk Budidaya Rumput Laut (Sea Weed)
No

Parameter

1.

Terlindung dari pengaruh angin musim

2.
3.

Kondisi gelombang (cm)

4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.

Kedalaman air (m)


Dasar perairan
Salinitas ()
Suhu (oC)
Kecerahan (cm)
Kesuburan perairan
Sumber benih dan induk
Sarana penunjang
Pencemaran
Keamanan

Arus (cm/detik)

Baik
Baik
< 10
20 30
2,5 5
Berkarang
32 34
24 30
110 60
Subur
Banyak
Baik
Tidak ada
Aman

Kesesuaian Lahan
Sedang

Kurang

Sedang

Kurang

10 30
10 20 dan
30 40
1 2,5
Pasir
30 32
20 24
30 40
Cukup
Sedang
Cukup
Sedang
Cukup

>30 dan < 10


< 10 dan > 40
< 0,5
Pasir/lumpur
< 30 dan > 34
< 20 dan > 30
< 30
Kurang
Kurang
Kurang
Kurang
Kurang

Sumber : Pedoman Pemetaan, 2013

k.

Budidaya Molusca (Kerang darah, Kerang bulu, Kerang mutiara, Tiram) dan Teripang
Tabel L1.12. Parameter Kesesuaian Perairan Untuk
Budidaya Molusca (Kerang darah, Kerang bulu, Kerang mutiara, Tiram) dan Teripang
Parameter yang diukur
Terlindung dari pengaruh angin musim

Kondisi gelombang

Arus (cm/detik)

Kedalaman air (m)

Dasar perairan

Salinitas ()

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

Angka Penilaian
Baik
:5
Sedang
:3
Kurang
:1
Tenang
:5
Sedang
:3
Besar
:1
15 25
:5
10 15
& 25 30
:3
< 10 & > 30 : 1
15 25
:5
> 25
:3
< 15
:1
Berkarang
:5
Pasir
:3
Pasir/lumpur : 1
32 35
:5
28 31 &
36 40
:3
< 27 & > 40 : 1

Bobot Kredit
2

Nilai
10
6
2
5
3
1
5
3
1
10
6
2
5
3
1
10
6
2

L.1-7

Lampiran 1. Kriteria Kesesuaian


Parameter yang diukur
o

Suhu ( C)

Kecerahan (m)

Kesuburan perairan

Sumber benih dan induk

Sarana penunjang

Pencemaran

Keamanan

Angka Penilaian
25 35
:5
28 31
& 30 32
:3
< 22 & > 32 : 1
4,5 6,5
:5
3,5 4,4
& 6,6 7,7
:3
< 3,5 & > 7,7 : 1
Subur
:5
Cukup
:3
Kurang
:1
Banyak
:5
Sedang
:3
Kurang
:1
Baik
:5
Cukup
:3
Kurang
:1
Tidak ada
:5
Sedang
:3
Kurang
:1
Aman
:5
Cukup
:3
Kurang
:1

Bobot Kredit
2

Nilai
10
6
2

5
3
1

15
9
3
5
3
1
5
3
1
10
6
2
5
3
1

Sumber : Pedoman Pemetaan, 2013

Evaluasi :
85 100 %
75 84 %
65 74 %
< 65 %

l.

: Bagus (sangat layak)


: Cukup layak
: Dapat dipertimbangkan, asalkan parameter yang kurang memenuhi syarat
diperbaiki dengan pendekatan ilmiah dan manajemen yang tepat.
: Tidak layak

Tambak Garam
Wilayah potensial penghasil garam harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1. memiliki ketersediaan bahan baku garam (air laut) yang sangat cukup, bersih, tidak tercemar
dan bebas dari air tawar.
2. memiliki iklim kemarau yang cukup panjang (tidak mengalami gangguan hujan berturut-turut
selama 4 5 bulan).
3. memiliki dataran rendah yang cukup luas dengan permeabilitas (kebocoran) tanah yang
rendah.
4. memiliki jumlah penduduk yang cukup sebagai sumber tenaga kerja
Parameter Iklim yang Berpengaruh untuk Tambak Garam, antara lain :
1. Curah hujan tahunan yang kecil, curah hujan tahunan daerah garam antara 1000 1300
mm/tahun.
2. Mempunyai sifat kemarau panjang yang kering yaitu selama musim kemarau tidak pernah
terjadi hujan. Lama kemarau kering ini minimal 4 bulan (120 hari).
3. Mempunyai suhu atau penyinaran matahari yang cukup. Makin panas suatu daerah,
penguapan air laut akan semakin cepat.

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

L.1-8

Lampiran 1. Kriteria Kesesuaian


4. Mempunyai kelembaban rendah/kering. Makin kering udara di daerah tersebut, peguapan
akan makin cepat.
Tabel L1.13. Parameter Iklim dan Pengaruhnya terhadap Tambak Garam
Pengaruh

Parameter Iklim

No
1.

Hujan

2.

Angin

3.

Kelembaban Udara

4.

Penguapan

menghambat penguapan air laut serta mengencerkan


larutan pekat air laut yang sudah siap dikristalkan
menjadi garam
kecepatan angin mempunyai pengaruh positif terhadap
besarnya penguapan
makin rendah kelembaban, penguapan semakin tinggi,
padau mumnya kelembaban udara di daerah tropis cukup
tinggi bahkan di musim kemarau kelembaban masih di
atas (>) 60 %
kecepatan dan jumlah penguapan tergantung dari suhu,
kelembaban, kecepatan angin

Sumber : BRKP & BMG, Cuaca dan Iklim untuk Tambak Garam, 2005

3) Wisata Bahari
Tabel L1.14. Parameter Kesesuaian Perairan Untuk Wisata Bahari
No
1.
2.

Input Peta Yang


Dibutuhkan
Peta Sebagran TSS
Peta Kecerahan

Parameter
Kesesuaian
Warna air
Material
terapung
Tanda polusi

3.

Peta Kualitas
Peraiaran

4.

6.
7.

Peta Penggunaan
Lahan
Peta Penggunaan
lahan, Peta
Ekosistem Pesisir
Peta Sebaran Karang
Peta Ekosistem WP3K

Kepentingan manusia dan faktor

1.

Peta Aksesbilitas

2.

Peta Aksesbilitas

3.

Peta Sarana
Prasarana

4.

Peta Struktur Ruang


RTRW

5.

dan

S1 (80)
Jernih
Tidak ada

Kriteria Kesesuaian
S2 (60)
S3 (40)
Berwarna
berwarna
Vegetasi
Berwarna

Tidak ada

Variasi
(Minyak,Samp
ah,busa, dll)

N (1)
berwarna
berwarna
Variasi
(Minyak,Sampah,bu
sa, limbah rumah
tangga)
Jelas

Flora penutup
daratan
Flora penutup
lereng perairan

pohon

semak

Jelas

Terumbu
karang

Lamun

Terbuka atau
rumput

Kering

Kondisi karang
Spesies ikan

Baik
Bervariasi

Sedang
Sedang

Terbuka
Jelek

buruk
Jelek

Mudah

Sedang

Sulit

Sangat sulit

Mudah

Sedang

Sulit

Sangat sulit

Ada

Sedikit

Sulit

Sangat sulit

Ada

Ada

Tidak ada

Tidak ada

Pencapaian
dengan
kendaraan
pribadi
Pencapaian
dengan
kendaraan
umum
Sarana dan
prasarana
wisata
Telekomunikasi

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

L.1-9

Lampiran 1. Kriteria Kesesuaian

No
5.
6.
7.

8.
9.
10.

Input Peta Yang


Parameter
Dibutuhkan
Kesesuaian
Peta Struktur Ruang Listrik
RTRW
Peta RTRW
Perencanaan
Peta Struktur Ruang Pelabuhan
RTRW, Peta Struktur
Ruang Kelautan dan
Perikanan
Peta Struktur Ruang Sarana jalan
RTRW
Peta Struktur Ruang Jumlah
RTRW
bangunan
Peta Struktur Ruang Air Tawar
RTRW
Sumber: Anonim dengan modifikasi

S1 (80)
Ada

Kriteria Kesesuaian
S2 (60)
S3 (40)
ada
Tidak ada

N (1)
Tidak ada

Ada
Ada

Belum
Tidak ada
/ada

Tidak ada
Tidak ada

Tidak ada
Tidak ada

Aspal

Tidak ada

Tidak ada

sedikit

Jalan
setapak
sedang

Tidak ada

Tidak ada

Ada
(banyak)

Ada
(sedikit)

Tidak ada

Tidak ada

Tabel L1.15. Kriteria Sosial, Ekonomi dan Budaya dalam Penetapan Lokasi
Jenis Wisata

Jenis AtraksiWisata

Wisata Pesisir & Pantai

Wisata Rekreasi Pantai


Wisata Olahraga Pantai
Wisata Budaya
Wisata Belanja
Wisata Makan
Wisata pendidikan

Wisata Rekreasi Laut


Wisata olahraga air
Wisata Budaya
Sumber: Anonim dengan modifikasi
Wisata Laut

a.

Daya Tarik
Budaya
Sedang
Rendah
Tinggi
Rendah
Rendah
Tinggi

Daya dukung
masyarakat
Tinggi
Tinggi
Tinggi
Tinggi
Tinggi
Tinggi

Rendah
Rendah
Tinggi

Tinggi
Tinggi
Tinggi

Nilai Historis
Sedang
Rendah
Tinggi
Rendah
Rendah
Tinggi
Sedang
Rendah
Tinggi

Wisata Selam (sumber lebih update yg terdapat di pedum RZWP3K daripd pedoman
pemetaan,pakai yg mana????????)
Tabel L1.16. Parameter Kesesuaian Wisata Selam

No

Kriteria Teknis

Bobot

S1

S2

S3

TS

Keterangan

1.
2.
3.
4.
5.

Kecerahan perairan (%)


Penutupan komunitas karang (%)
Jenis life form karang
Jumlah jenis ikan karang
Kecepatan arus (cm/dtk)

5
5
3
3
1

>80
>75
>12
>100
0-15

6.

Kedalaman terumbu karang (m)

6-15

60-80
50-75
7-12
50-100
>15-30
>15-20
3-6

30-<60
25-50
4-7
20-<50
>30-50
>20-30

<30
<25
<4
<20
>50
>30

Nilai skor
Kategori S1 = 3
Kategori S2 = 2
Kategori S3 = 1
Kategori TS = 0
Nilai maksimum
Bobot x skor = 54

Sumber : Yulianda, 2007


Keterangan :
S1 = Sangat sesuai, dengan nilai 83 100%
S2 = Cukup sesuai, dengan nilai 50 - <80%
S3 = Sesuai bersyarat, dengan nilai 17 - <50%
TS = Tidak sesuai, dengan nilai <17%

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

L.1-10

Lampiran 1. Kriteria Kesesuaian


b.

Wisata Snorkeling
Tabel L1.17. Parameter Kesesuaian Wisata Snorkeling

No

Kriteria Teknis

Bobot

S1

S2

S3

TS

Keterangan

1.
2.
3.
4.
5.

Kecerahan perairan (%)


Penutupan komunitas karang (%)
Jenis life form karang
Jumlah jenis ikan karang
Kecepatan arus (cm/dtk)

5
5
3
3
1

100
>75
>12
>50
0-15

80-<100
>50-75
<7-12
30-50
>15-30

6.

Kedalaman terumbu karang (m)

1-3

>3-6

60-<80
25-50
4-7
10-<30
>30-50
>6-10

<20
<25
<4
<10
>50
>10

Nilai skor
Kategori S1 = 3
Kategori S2 = 2
Kategori S3 = 1
Kategori TS = 0
Nilai maksimum
Bobot x skor = 57

>500

100-500

20-100

<20

7
Lebar hamparan karang (m)
Sumber : Yulianda, 2007

Keterangan :
S1 = Sangat sesuai, dengan nilai 83 100%
S2 = Cukup sesuai, dengan nilai 50 - <80%
S3 = Sesuai bersyarat, dengan nilai 17 - <50%
TS = Tidak sesuai, dengan nilai <17%

c.

Wisata Berperahu, Jet Ski dan Banana Boat


Tabel L1.18. Parameter Kesesuaian Wisata Berperahu, jet Ski dan Banana Boat
Kelas Kesesuaian dan Skor
S1
Skor
S2
Skor
N
1.
Kedalaman (m)
3
10-25
3
5-10
2
<5
2.
Kecepatan arus (cm/dtk)
5
0-15
3
15-50
2
>50
Sumber : Modifikasi dari Bakosurtanal (1996);Yulianda (2007)

No

Kritera teknis

Bobot

Skor
1
1

Keterangan :
S1 = Sangat sesuai
S2 = Sesuai
N = Tidak Sesuai

d.

Wisata Pantai Rekreasi Pantai


Tabel L1.19. Parameter Kesesuaian Wisata Pantai Rekreasi Pantai

No

Kritera teknis

1.
2.

Kedalaman perairan (m)

S1
0-5

Tipe pantai

Pasir putih

3.
4.
5.
6.
7.
8.

Lebar pantai (m)


Material dasar perairan
Kecepatan arus (cm/dtk)
Kemiringan pantai (o)
Kecerahan perairan (%)

5
4
4
4
4

Penutupan lahan pantai

>15
Pasir
0-20
<15
>80
Kelapa,
lahan
terbuka
Tidak ada
<1

9.
10.

Bobot

Biota berbahaya
3
Ketersediaan air tawar (jarak/km)
3
Sumber : Modifikasi dari Yulianda (2007)

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

Kelas Keseuaian (Skor)


S2
N
5-10
>10
Pasir hitam
Lumpur, berbatu
berkarang
terjal
5-15
<5
Pasir berkarang
Lumpur
20-50
>50
15-45
>45
50-80
<50
Hutan bakau,
Semak belukar
permukiman,bulu
babi
Bulu babi
Ikan pari,lepu,hiu
1-2
>2

L.1-11

Lampiran 1. Kriteria Kesesuaian


Keterangan :
S1 = Sangat sesuai
S2 = Sesuai
N = Tidak Sesuai

e.

Wisata Pantai Olahraga Pantai dan Berjemur (Sun Bathing)


Tabel L1.20. Parameter Kesesuaian Wisata Pantai Olahraga Pantai dan Berjemur (Sun Bathing)
No

Kritera teknis

Bobot

S1

Skor

1.

Substrat

Pasir

2.
3.

Luasan pantai (m2)


Panjang pantai (m)

5
5

>2500
>300

3
3

4.

Tipe pantai

Berpasir

5.

Lahan
terbuka
Sumber : Modifikasi dari Bakosurtanal (1996)
Penutupan lahan pantai

Kelas Kesesuaian (Skor)


S2
Skor
N
Karang pasir
2
Lumpur/
lumpur
1000-2500
2
<1000
100-300
2
<100
Pasir, sedikit
2
Lumpur,
karang
karang
Semak
2
Hutan
belukar
bakau

Skor
1
1
1
1
1

Keterangan :
S1 = Sangat sesuai
S2 = Sesuai
N = Tidak Sesuai

4) Pelabuhan
Kriteria pemilihan lokasi pelabuhan perikanan antara lain:
A. Kriteria Ruang
Kriteria ruang pelabuhan perikanan harus memperhatikan kriteria-kriteria sebagai berikut:
Kriteria Perikanan, seberapa dekat pelabuhan tersebut dengan menghadap daerah
penangkapan ikan (fishing ground), potensi perikanan (stock assesment) yang belum
termanfaatkan, ketersediaan tenaga kerja (nelayan),
Kriteria Historis, sudah sejak lama menjadi tempat pendaratan kapal nelayan setempat dan
merupakan perkampungan nelayan, perkembangan produksi perikanan, perkembangan
armada dan peralatan perikanan.
Kriteria Akses, seberapa besar dekat dengan daerah/tempat pemasaran , seberapa besar
pelabuhan tersebut dibutuhkan untuk mendukung fungsi-fungsi kota (PKN/PKW/PKL),
ketersediaan infrastruktur penghubung dengan daerah lain (jalan) dan kedekatan dengan
jalur pelayaran.
Kriteria Perkiraan Perkembangan Komoditas, perkiraan kebutuhan pasar akan komoditas,
perkiraan kegiatan lanjutan/ikutan dari kegiatan perikanan tangkap.
Kriteria Keberadaan Kawasan Pemanfaatan ruang lain disekitarnya, seberapa dekat
pelabuhan tersebut dengan kawasan konservasi, pemukiman nelayan, perkotaan, dan
kawasan industri.
Skoring penilaian pemilihan lokasi pelabuhan perikanan berdasarkan besaran pelabuhan.

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

L.1-12

Lampiran 1. Kriteria Kesesuaian


B. Kriteria teknis
Kriteria teknis yang harus diperhatikan dalam perencanaan pelabuhan secara umum sebagai
berikut:
1. Lokasi terlindung dari gangguan angin dan gelombang sehingga kapal mudah untuk
bermanuver saat dari/ke pelabuhan.
2. Kapal harus dapat dengan mudah ke luar / masuk pelabuhan. Kedalaman alur pelayaran harus
memenuhi kedalaman yang dibutuhkan saat kapal bermuatan penuh.
3. Tersedia ruang gerak kapal di dalam kolam pelabuhan (luas perairan). Hal ini untuk
memudahkan kapal untuk bermanuver saat akan bersandar, saat akan ke laut atau berlabuh.
4. Pengerukan mula dan pemeliharaan pengerukan yang minim. Pelabuhan seyogyanya tidak
terletak didaerah perairan yang dangkal atau daerah sedimentasi yang menyebabkan
pembengkakan biaya pengerukan dan biaya pemeliharaan pengerukan.
5. Mengusahakan perbedaan pasang surut yang relatif kecil, tetapi pengendapan sedimentasi
harus diperkecil.
6. Memiliki topografi yang landai dan cukup luas untuk pengembangan kawasan selanjutnya.
7. Pelabuhan memiliki tempat penyimpanan tertutup atau lapangan terbuka untuk menampung
muatan. (fasilitas)
8. Tersedianya fasilitas prasarana/infrastruktur lain yang mendukung.
9. Terhubung dengan
jaringan angkutan darat yang menghubungkan dengan daerah
pendukungnya/daerah belakangnya.
Tabel L1.21. Penggolongan Kelas Pelabuhan Berdasarkan Kriteria Teknis

No. Kriteria

(PPS)

Luas Lahan (Ha)

2.

Pemanfaatan Lahan

3.

Jumlah Kapal
(Unit/Hari)

100

75

30

20

4.

Fasilitas tambat labuh


u/ kapal berukuran (GT)

60

30

10

5.

Panjang Dermaga (m)

Min. 300

150

100

50

6.

Kedalaman (m)

Daya Tampung
7. Kapal Sandar sekaligus
(GT)

(PPS)

15 Ha

5 Ha

Kelas IV
(PPI)

1.

No. Kriteria

Min. 30 Ha
Prasarana,
Industri
Perikanan

Kelas Pelabuhan Perikanan


Kelas II
Kelas III
(PPN)
(PPP)

Prasarana, Prasarana,
Industri
Industri Kecil

Kelas Pelabuhan Perikanan


Kelas II
Kelas III
(PPN)
(PPP)

2 Ha
Prasarana

Kelas IV
(PPI)

6.000

2.250

300

60

60

30

15 20

> 10

8. Ikan Didaratkan (Ton/Hari)

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

L.1-13

Lampiran 1. Kriteria Kesesuaian

9.

Fasilitas Pembinaan &


Pengujian Mutu

Tersedia

Tersedia

Tersedia

10. Sarana Pemasaran

Tersedia

Tersedia

Tersedia

11. Pengembangan Industri

Tersedia

Tersedia

Tersedia

Laut
Perairan
Teritorial,
Pedalaman,
Laut
ZEEI dan
Perairan
Teritorial
Perairan
Kepulauan,
dan ZEEI
Internasiona
Laut Teritorial
l
dan ZEEI
Sebagian u/ Sebagian u/
Lokal,
Ekspor
Ekspor
Antardaerah

12. Skala Layanan

13. Tujuan Pemasaran

Perairan
Pedalaman
dan Perairan
Kepulauan
Lokal

Sumber : Kepmen No. 10 Th 2004 tentang pelabuhan perikanan

Tabel L1.22.Kriteria Pelabuhan Khusus


No

Variabel

1.

Pelayanan

2.

Teknis

Pelabuhan
Khusus
Nasional
menangani pelayanan
barang-barang
berbahaya dan Beracun
(B3);
melayani kegiatan
pelayanan lintas
Propinsi dan
Internasional.
bobot kapal yang
dilayani 3000 DWT
atau lebih;
panjang dermaga 70 M
atau lebih, konstruksi
beton/baja;
kedalaman di depan
dermaga - 5 M LWS
atau lebih;

Pelabuhan
Khusus Regional
- tidak menangani
pelayanan barangbarang berbahaya dan
beracun (B3);
- melayani kegiatan
pelayanan lintas
Kabupaten/Kota
dalam satu Propinsi.
- bobot kapal yang
dilayani lebih clan
1000 DWT dan kurang
dan 3000 DWT;
- panjang dermaga
kurang dari 70 M',
konstruksi
beton/baja;
- kedalaman di depan
dermaga kurang clan 5 M LWS;

Pelabuhan
Khusus
Lokal
- tidak menangani
pelayanan barang
berbahaya dan
beracun (B3); dan
melayani kegiatan
pelayanan lintas Kota
dalam satu
Kabupaten/Kota.
- bobot kapal kurang
dari 1000 DWT;
- panjang dermaga
kurang clan 50 M'
dengan konstruksi
kayu;
- kedalaman di depan
dermaga kurang clan
- 4 M LWS;

Sumber: Kepmenhub No. 53 Tahun 2002 Tentang Tatanan Kepelabuhan Nasional

Tabel L1.23. Kriteria Pelabuhan Daratan


No

Variabel

1.

volume angkutan barang/peti


kemas

2.

luas terminal

3.

area penumpukan

Pelabuhan
Khusus
Nasional
> 20.000
TEUs/tahun
> 3 Ha
> 8.000 m2

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

Pelabuhan
Khusus
Regional
< 12.000
TEUs/tahun;

Pelabuhan
Khusus
Lokal
< 12.000
TEUs/tahun;

< 2 Ha

< 2 Ha

5.000 8.000 m2

< 5.000 m2

L.1-14

Lampiran 1. Kriteria Kesesuaian

4.

kapasitas penumpukan

5.

gudang ekspor

6.

gudang impor

7.

hangar mekanik

8.

gedung perkantoran

9.
10.

750 1.000TEUs

< 750 TEUs

>450 m2

300 450 m2

< 300 m2

> 450 m2

300 450 m2

< 300 m2

> 350 m2

250 350 m2

< 250 m2

> 400 m2

250 400 m2

< 250 m2

> 1.000 TEUs

area bongkar muat dan lalu


> 6.000 m2
> 6.000 m2
lintas trailer/alat berat
panjang landasan pacu gantry
200 250 m2
> 250 m2
crane
Sumber: Kepmenhub No. 53 Tahun 2002 Tentang Tatanan Kepelabuhan Nasional

< 3.000 m2
< 200 m2

Tabel L1.24. Skoring Kesesuaian Kawasan Pelabuhan


No

Nama Kriteria

KRITERIA PERIKANAN
1.
Jumlah Armada
2.
Zona tangkap
Jenis Komoditi

4.
5.

Daerah Operasional
Volume Hasil Tangkap

6.
7.
8.

Kegiatan Lanjutan
volume potensi
Ikan didaratkan
Tenaga
Kerja
Perikanan

30-75
I,II,III
pelagis
besar,pela
gis kecil,
demersal
0-12
2250

20-30
I,II
pelagis
kecil,pela
gis besar,
demersal
0-6
300

10-20
I

mil
ton/Tahun

75-100
I,II,III
pelagis
besar,pel
agis kecil,
demersal
0-12
>6000

%
Ton/hari

Ada
60-80
30-60

40-60
20-30

20-40
10-20

10-20
5-10

< 10
I
pelagis
kecil,
demersa
l
0-4
<60
Tidak
Ada
< 10
<5

orang

>5000

1000-5000

500-1000

<500

%
buah
%

15-30
75-100
50

30-75
40-50

0-15
20-30
30-40

10-20
20-30

Ada

0
< 10
<20
Tidak
Ada

Klas Jalan

Arteri
Primer

Kolekt
or
Primer

Lokal Primer

Arteri
Sekunder

pelagis
kecil,
demersal
0-4
60

Sektor

KRITERA HISTORIS
Kawasan
Nelayan(Nelayan/pendudu
10 k)
11 Riwayat Armada Nelayan
12 Armada kapal dari luar
13

Unit

3.

9.

Nilai
3

SATUAN

Histori Pelabuhan

KRITERIA AKSES
Moda Transportasi
14
15

Sumber Air

km

Ada

16
17

Listrik
BBM

km

Ada
Ada

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

Tidak
Ada
Tidak
Ada
Tidak

L.1-15

Lampiran 1. Kriteria Kesesuaian

18

Ada
-

Fungsi Kota yang dilayani


Pusat Kegiatan
KRITERIA PERKIRAAN PROSPEK
20 Kebutuhan Pasar Thd
ton
Komoditas (volume)
21 Pemenuhan Komoditas di
%
Pasar
22 Prospek Industri Lanjutan
KRITERIA KEDEKATAN DG KAWASAN LAIN
23 Kawasan Konservasi
km
24 Kawasan Pemukiman
km
25 Kawasan Industri
km
KRITERIA TEKNIS
26 Topografi
m
27 Bathimeteri
m
28
Geologi

PKN

PKW

PKL

> 60

> 30

>20

> 10

60-80

40-60

20-40

10-20

< 10

Baik

Sedang

Kurang

> 10
<3
<3

7,5-10
5-3
5-3

5-7,5
5-7,5
5-7,5

5-3
7,5-10
7,5-10

<3
> 10
> 10

Landai
>8
kohesif

7-8
kohesif

Datar
6-7
Non- kohesif

Curam
<5
plastis

29
30
31
32
33
34
35
36
37

Ha
GT
m

Kecil
<0,2
Kecil
Kecil
Kecil
Kecil
>30
0-60
>300

Sedang
0,5-0,8
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
5-15
0-10
100-150

m
GT

>6
>6000

4-5
300-2250

3-4
60-300

<3
< 60

m
m
m

>15
>40
>8

0,2-0,5
15-30
0-30
150300
5-6
22506000
11-14
30-40
7-8

5-6
Nonkohesif
0,8-1
2-5
0-7
50-100

10
30-20
6-7

10-20
5-6

5
<10
<5

Ada
(besar)
Baik

Ada (kecil)

Sedang

Tidak
Ada
Kurang

Baik

Sedang

Kurang

Ada
(besar)
Ada
(besar)
Baik

Ada (kecil)

Ada (kecil)

Sedang

Tidak
Ada
Tidak
Ada
Kurang

Pasang-Surut
Gelombang
Sedimentasi
Angin
Arus
Hidrologi & Sungai
Luas Lahan Darat
Kapasitas Kapal
Panjang Dermaga

38
39

Kedalaman Kolam labuh


Daya Tampung Kapal
Sandar (GT)
40 Lebar Alur (1 Kapal)
41 Lebar Alur (2 Kapal)
42 Kedalaman Alur
KRITERIA EKONOMI
43 Komoditi lain
44

46

Dukungan/Kesiapan
daerah belakangnya
Prospek Perkembangan
Kegiatan
Ekspor

47

Import

45

45

Prospek Perkembangan
Kegiatan
Sumber: Analisa TRLP3K
Skoring :
0
47
=
48 - 94
=
95 - 141
=
142 - 188
=
189 - 235
=

Besar
>1
Besar
Besar
Besar
Besar
<2
0-3
< 50

Tidak direkomendasikan dibangunnya pelabuhan


Dapat dibangun pelabuhan perikanan setingkat PPI
Dapat dibangun pelabuhan perikanan setingkat PPI hingga PPP
Dapat dibangun pelabuhan perikanan setingkat PPI hingga PPN
Dapat dibangun pelabuhan perikanan setingkat PPI hingga PPS

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

L.1-16

Lampiran 1. Kriteria Kesesuaian


5) Pertambangan Pasir Laut
Batasan pengembangan kawasan pertambangan pasir laut mengacu pada Keputusan Menteri
Kelautan dan Perikanan No: Kep.33/MEN/2002 tentang Zonasi wilayah pesisir dan laut untuk
kegiatan pengusahaan pasir laut. Berdasarkan Kepmen tersebut, kawasan pertambangan pasir laut
di wilayah pesisir dan laut dapat dibedakan menjadi 2 (dua) zona yaitu:
a. Zona Perlindungan
Zona perlindungan adalah zona di wilayah pesisir dan laut yang telah ditetapkan sebagai
kawasan perlindungan menurut undang-undang atau berdasarkan kriteria dan
pertimbangan tertentu sehingga perlu dilindungi dari kegiatan pengusahaan pasir laut.
Kawasan-kawasan perlindungan tersebut antara lain :
Kawasan Pelestarian Alam seperti taman nasional dan taman wisata alam
Kawasan suaka alam seperti; cagar alam dan suaka margasatwa
Kawasan perlindungan ekosistem, pesisir dan pulau-pulau kecil seperti ; taman laut
daerah, kawasan perlindungan bagi mamalia laut, suaka perikanan, daerah migrasi, biota
laut dan daerah perlindungan laut, terumbu karang serta kawasan pemijahan, ikan dan
biota laut lainnya.
Perairan yang jarak dari atau sama dengan 2 (dua) mil laut yang diukur dari garis pantai
ke arah perairan kepulauan atau laut lepas pada saat surut terendah.
Perairan dengan kedalaman kurang dari atau sama dengan 10 meter dan berbatasan
langsung dengan garis pantai yang diukur dari permukaan air laut pada surut terendah
Instalasi kabel dan pipa bawah laut serta zona keselamatan selebar 500 meter pada sisi
kiri dan kanan dari instalasi kabel dan pipa bawah laut.
Alur laut kepulauan Indonesia (ALKI)
Zona keselamatan sarana bantu navigasi
b. Zona Pemanfaatan pengusahaan pasir laut
Zona Pemanfaatan untuk pengusahaan pasir laut dapat dibedakan menjadi dua yaitu :
1) Zona pemanfaatan bersyarat
Kawasan atau zona pemanfaatan bersyarat adalah zona yang dapat dimanfaatkan
untuk pengusahaan pasir laut dengan persyaratan tertentu.
Kawasan laut yang merupakan zona pertambangan pasir laut dengan persyaratan atau
zona dengan pemanfaatan bersyarat adalah:
Skema pemisah lalu lintas di laut (Traffic Separation Scheme TSS).
Kawasan pemindahan dan atau bongkar muat lepas pantai (Ship to Ship Transfer
STS) dan daerah lego jangkar.
Alur lalu lintas pelayaran.
Kawasan wisata bahari.
Kawasan penangkapan ikan tradisional.
Tempat pembuangan bahan-bahan peledak.
Zona latihan TNI AL.
Zona pengambilan benda berharga asal muatan kapal tenggelam
Zona pengeboran lepas pantai (zone off shore drilling) termasuk prasarana
penunjang keselamatan pelayaran.

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

L.1-17

Lampiran 1. Kriteria Kesesuaian


Perijinan pertambangan pasir laut dapat diberikan dengan beberapa persyaratan yang
bertujuan untuk membatasi kegiatan pertambangan sehingga tidak mengganggu kegiatan
sektor lain.
Beberapa persyaratan yang diterapkan antara lain :
Pembatasan terhadap jenis dan jumlah kapal yang dioperasikan.
Penentuan sistem penambangan dan pengerukan yang dilakukan.
Pembatasan jumlah volume pasir laut yang ditambang.
Pengaturan jadwal kegiatan penambangan dan pengerukan.
2)

Zona terbuka tambang


Zona terbuka tambang adalah zona atau kawasan pesisir dan laut yang dapat dijadikan
lokasi pertambangan pasir laut yang berada di luar kawasan atau zona perlindungan.
Zona terbuka tambang merupakan kawasan perairan yang berada di luar Zona
Perlindungan dan Zona Pemanfaatan Bersyarat. Meskipun pada zona tersebut diijinkan
dilakukannya kegiatan pertambangan pasir laut secara bebas, namun kegiatan tersebut
tetap harus memperhatikan aspek-aspek penting lain yang terkait dengan upaya
pelestarian dan perlindungan ekosistem, maupun perlindungan kehidupan sosial
ekonomi masyarakat nelayan.
Pasal 10 Kepmen KP Nomor Kep.33/MEN/2002 disebutkan bahwa setiap kegiatan
pengusahaan pasir laut diwajibkan menjaga :
-

Kelestarian lingkungan pesisir dan laut


Stabilitas geologi lingkungan pesisir dan laut
Keberlanjutan usaha nelayan dan petani tambak
Keserasian kegiatan pertambangan dengan kepentingan pemanfaatan ruang sektor
lain di pesisir dan laut, seperti kegiatan wisata bahari, perikanan tangkap, perikanan
budidaya, pelayaran, serta pertahanan dan keamanan

Pengembangan kawasan
pesisir dan laut menjadi zona pertambangan pasir laut harus
memperhatikan beberapa faktor, antara lain:
- Faktor Utama; nilai tambah/nilai ekonomis, potensi tambang.
a. Analisis nilai tambah dari kegiatan pertambangan pasir laut diperlukan untuk melihat
besarnya penerimaan negara/pendapatan asli daerah. Kegiatan pengusahaan tambang pasir
laut diharapkan dapat menjadi pembangkit kegiatan perekonomian di kawasan sekitarnya bila
dibandingkan dengan tingkat kerusakan lingkungan atau gangguan terhadap aktifitas sektor
lain yang mungkin akan terjadi.
b. Nilai dari suatu potensi bahan galian sangat dipengaruhi oleh kuantitas dan kualitasnya.
Potensi bahan galian yang telah dipahami baik geometri, sebaran dan kualitasnya dapat
digolongkan menjadi cadangan bahan galian. Sementara potensi dengan tingkat pemahaman
yang lebih rendah digolongkan sebagai sumberdaya.
Potensi suatu kawasan dapat dibedakan menjadi tinggi, sedang dan rendah. Berdasarkan kualitas
dan kuantitasnya, maka proses penetapan suatu daerah menjadi kawasan pertambangan dapat
digambarkan pada matriks berikut ini.

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

L.1-18

Lampiran 1. Kriteria Kesesuaian

Penetapan Menjadi
Kawasan Tambang

Nilai Tambah

Potensi B.Galian

Sangat Perlu

Tinggi

Tinggi

Perlu

Tinggi
Sedang

Sedang
Tinggi

Mungkin Perlu

Sedang
Rendah
Rendah

Sedang
Tinggi
Sedang

Tidak Perlu

Sedang
Rendah

Rendah
Sedang

- Faktor Pembatas; dampak terhadap kondisi fisik (hidro-oceanografi, geologi/geomorfologi),


dampak ekologis, dampak terhadap kawasan lindung, pemanfaatan ruang saat ini (permukiman,
perikanan, pariwisata, alur pelayaran, infrastruktur), sosial-ekonomi masyarakat sekitar,
jangkauan dampak.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengembangan kawasan pertambangan pasir laut
yang menjadi faktor pembatas :
Dampak terhadap lingkungan fisik dan ekosistem
Hubungan kegiatan pertambangan dengan kegiatan sektor lain
Dampak terhadap kondisi sosial dan ekonomi masyarakat
Faktor keamanan terhadap lingkungan, masyarakat disekitarnya, dan pekerja dilapangan
- Faktor Politis/Kebijakan Pemerintah; UU, PP, Kepmen, Perda
a. Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No: Kep 33/MEN/2002 tentang Zonasi wilayah
pesisir dan laut untuk kegiatan pengusahaan pasir laut.
b. Keputusan Direktur Jenderal Pesisir dan Pulau-pulau Kecil No. Kep.01/P3K/HK.156/X/2002
tentang Petunjuk pelaksanaan zonasi wilayah pesisir dan laut untuk kegiatan pengusahaan
pasir laut.
Proses kegiatan pertambangan pasir laut meliputi:
1. Pretreatment, perlakuan khusus terhadap bahan yang akan ditambang dengan cara kimiawi
atau mekanis tergantung dari jenis bahan.
2. Ekstraksi/pengerukan, proses pemindahan material pengerukan dari tempat asalnya ke atas
permukaan air.
3. Transportasi, proses pengangkutan dari tempat penambangan menuju tempat
penimbunan/pengolahan.
4. Disposal/penimbunan, proses penimbunan/pembuangan material kerukan.
Seluruh proses kegiatan pertambangan pasir laut diatas akan menimbulkan efek terhadap
lingkungan maupun kegiatan lain yang berada pada kawasan yang sama. Kegiatan pertambangan
pasir laut baik pada zona pertambangan terbuka maupun pada zona pertambangan bersyarat akan
menimbulkan dampak terhadap :
Lingkungan fisik kawasan dampak terhadap kondisi fisik (hidro-oceanografi,
geologi/geomorfologi),
KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

L.1-19

Lampiran 1. Kriteria Kesesuaian

Lingkungan hayati/dampak ekologis (kawasan lindung, perikanan)


Lingkungan sosial, ekonomi, dan budaya (wisata bahari, permukiman, alur pelayaran,
infrastruktur).
Tabel L1.25. Dampak Kawasan Pertambangan Terhadap Kegiatan Pemanfaatan Ruang

No
1.

2.
3.
4.

Faktor

Variabel

Dampak
hidro-oceanografi

Perubahan pola arus dan perambatan gelombang, erosi dan sedimentasi


dasar laut dan pantai, perubahan bathymetri, peningkatan sedimen
tersuspensi
Dampak terhadap ekologi Kerusakan ekosistem mangrove, terumbu karang dan padang lamun,
penurunan populasi ikan
Dampak terhadap sosial Penurunan produksi, penangkapan ikan secara tradisional, penurunan
ekonomi
produksi kegiatan budidaya lainnya
Jangkauan dampak

Jumlah manusia yang terkena dampak


(AMDAL)

Luas wilayah persebaran dampak

Lamanya dampak berlangsung intensitas dampak

Banyaknya komponen lingkungan lainnya yang terkena dampak

Sifat kumulatif dampak tersebut

Berbalik atau tidak berbaliknya dampak

5.

Dampak terhadap
kawasan lindung

Penurunan kualitas hutan mangrove, terumbu karang, padang lamun,


sempadan pantai, cagar alam, cagar budaya, suaka margasatwa, taman suaka
alam laut

6.

Dampak terhadap
kegiatan pemanfaatan
ruang

Terganggunya dan tercemarnya kawasan pariwisata, kawasan pemukiman,


kawasan perikanan tangkap/budidaya, alur pelayaran, instalasi kabel bawah
laut/infrastruktur lainnya, dll

Sumber: Analisa TRLP3K

a. Dampak positif pertambangan pasir laut


Pasir laut merupakan potensi sumberdaya kelautan yang memberikan sumbangan cukup
besar terhadap devisa negara ataupun PAD. Pertambangan pasir laut tidak hanya memberikan
dampak yang negatif tetapi juga dampak positif, antara lain:
- Penerimaan devisa negara dari pajak ekspor pasir laut
- Pendapatan asli daerah meningkat
- Adanya penyerapan tenaga kerja.
- Tumbuhnya kegiatan ekonomi lokal dan kesempatan berusaha bagi masyarakat.
b. Dampak negatif pertambangan pasir laut
Selain dampak positif, kegiatan pertambangan pasir laut akan menimbulkan dampak negatif
yang cukup signifikan terhadap lingkungan dan ekosistem laut dan pesisir, antara lain:
- Penurunan hasil tangkapan ikan nelayan tradisional yang menimbulkan dampak lebih lanjut
pada penurunan pendapatan nelayan
- Terjadinya abrasi pantai sehingga hal ini dapat membuat benteng atau tembok tambak
budidaya ikan dan udang menjadi goyang, bocor maupun longsor, serta kerusakan
ekosistem pesisir.
- Terjadinya kekeruhan badan air sampai radius 3-4 km dari lokasi penambangan yang
mengganggu usaha budidaya laut seperti keramba jaring apung, serta ekosistem di laut.
KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

L.1-20

Lampiran 1. Kriteria Kesesuaian


- Perubahan pola hidrodinamika air laut akibat perubahan permukaan dasar perairan
- Adanya tenaga kerja pendatang seringkali menimbulkan konflik sosial dengan penduduk
setempat
Kriteria penentuan kawasan pertambangan pasir laut harus memperhitungkan faktor-faktor sebagai
berikut:
Jumlah estimasi potensi deposit pasir laut.
Pola hidrodinamika perairan laut yang mencakup pola arus, kecepatan arus dan tinggi
gelombang.
Jarak dari kawasan konservasi atau daerah perlindungan laut.
Keberadaan kawasan perlindungan ekosistem pesisir dan pulau-pulau kecil.
Tingkat kedalaman perairan laut.
Keberadaan Instalasi kabel dan pipa bawah laut serta zona keselamatan selebar 500 meter
pada sisi kiri dan kanan dari instalasi kabel dan pipa bawah laut.
Alur laut kepulauan Indonesia (ALKI).
Keberadaan prasarana keselamatan sarana bantu navigasi.
Keberadaan Skema pemisah lalu lintas di laut (Traffic Separation Scheme TSS).
Keberadaan Kawasan pemindahan dan atau bongkar muat lepas pantai (Ship to Ship Transfer
STS) dan daerah lego jangkar.
Alur lalu lintas pelayaran.
Keberadaan Kawasan wisata bahari.
Kawasan penangkapan ikan nelayan tradisional.
Keberadaan Tempat pembuangan bahan-bahan peledak.
Keberadaan Zona latihan TNI AL.
Keberadaan Zona pengambilan benda berharga asal muatan kapal tenggelam (BMKT).
Keberadaan Zona pengeboran lepas pantai (Zone Offshore Drilling) termasuk prasarana
penunjang keselamatan pelayaran.
Tabel L1.26. Kriteria Fisik Kesesuaian Perairan Kawasan Pertambangan Pasir Laut
No.
1.
2.
3.
4.

Kriteria

Baik
Kandungan Deposit
Banyak
Kec. Arus (m/ det)
<1
Tinggi Gelombang
<1
Jarak dari Kawasan
> 10
Konservasi
Sumber : Direktorat TRLP3K, 2003

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

Kriteria Kesesuaian
Sedang
Sedang
1-2
1-2

Buruk
Sedikit
>2
>2

2 - 10

<2

L.1-21

Lampiran 1. Kriteria Kesesuaian


Tabel L1.27.Kriteria Fisik Kesesuaian Perairan Untuk Subzona Pertambangan
Kawasan
Zona
Subzona
Acuan Kriteria
Pemanfaatan Umum
Pertambangan
Mineral
Batu bara
Kep Men ESDM No.
2095-20/MDJB/1999
Minyak Bumi
UU No. 22 Tahun 2001
tentang Minyak dan
Gas Bumi
Gas Bumi
Panas Bumi
UU No. 27 Tahun 2003
tentang Panas Bumi,
dan peraturan
turunannya
Air Tanah di kawasan
pertambangan
Pertambangan air laut Skema Pemilihan Lokasi Kawasan Pertambangan
Foto
Udara

Peta
Topografi /RBI

Citra

Peta
Geologi

Peta Regional

Zona Perlindungan

Delineasi
Awal Daerah SD
Mineral

Data Dukung
lainnya : Kriteria Kaw .
Lindung /Penting /
Kritis /Berbahaya dan
Kajian

Daerah bukan
Zona Lindung

Zona
Penyangga

Kajian Hidro
Oceanografi

Zona Pemanfaatan

Eksplorasi

Tambang
Bersyarat

Studi
Kelayakan

Faktor Utama
Faktor Pembatas

Tambang
Terbuka

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

L.1-22

Lampiran 1. Kriteria Kesesuaian


Sumber : Hasil modifikasi Distamben Jabar 2005 dan Kegiatan TP4L (pasir Laut)
Prinsip-prinsip wilayah pertambangan pasir laut secara umum dicirikan oleh :
1. Penetapan kawasan pertambangan pasir laut berarti pada kawasan laut yang bersangkutan
telah menempatkan kegiatan pertambangan pasir laut sebagai prioritas dan sebagai
pendorong pembangunan.
2. Kawasan Pertambangan Pasir laut ditentukan disamping berdasarkan pertimbangan geologi
tetapi juga berdasarkan pertimbangan faktor lingkungan, ekonomi, hukum/perundangundangan, sosial-budaya, penilaian rencana manajemen tambang serta optimalisasi
pemanfaatan sumberdaya alam melalui perhitungan biaya-manfaat (cost-benefit).
3. Kawasan pertambangan pasir laut terletak di daerah yang cukup aman untuk dapat
mencemari/memberikan dampak negatif pada daerah vital/strategis atau daerah yang
rentan/peka terhadap gangguan. Oleh karena itu dalam melakukan eksploitasi hendaknya
memperhitungkan kebutuhan, persediaan dari potensi pertambangan.
4. Kawasan pertambangan pasir laut memudahkan/memberi kejelasan pada investor yang
berminat mengembangkan usaha di bidang penambangan, pengolahan maupun jasa
pendukungnya.
Sedangkan prinsip pengembangan kawasan pertambangan yang termuat dalam peraturan antara
lain, yaitu Menurut Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor Kep 34/MEN/2002 tentang
Pedoman umum penataan ruang pesisir dan pulau-pulau kecil mengenai perencanaan zona
eksploitasi dan eksplorasi pasir laut harus memperhatikan ketentuan sebagai berikut :
a. Tidak dilakukan pada kawasan suaka alam dan cagar budaya baik yang ada di perairan
maupun dipantai, yang meliputi zona taman nasional, cagar alam, suaka margasatwa,
Taman Wisata Alam dan zona Cagar Budaya.
b. Tidak dilakukan pada daerah yang merupakan area pemijahan, perlindungan, pembesaran
dan tempat mencari makan biota laut. Misalnya pada daerah terumbu karang, daerah
mangrove, padang lamun, dll.
c. Perlu menghindari zona pangkalan pertahanan (militer), alur-alur keluar masuk pesawat
terbang, alur pelayaran, instansi pelayaran, pelabuhan, menara suar, rambu suar, anjungan
kapal tengah laut dan instalasi lain yang bersifat permanen, di atas atau dibawah
permukaan air.
d. Perlu dihindari dari daerah-daerah yang digunakan sebagi laboratorium alam atau tempat
penelitian ilmiah.
e. Di lokasi yang jaraknya kurang dari 250 (dua ratus lima puluh) meter dari batas wilayah,
kuasa pertambangan dan atau wilayah kerja atau apabila berbatasan dengan negara lain
maka ada ketentuan jarak yang ditentukan dalam perjanjian antar Negara Republik
Indonesia dengan negara yang bersangkutan.
f. Memperhitungkan instalasi bawah permukaan air antara lain pipa penyalur, kabel bawah
laut, dermaga laut setiap jenis pondamen (fondasi dermaga), dan perangkap atau alat
tangkap ikan yang sudah ada maupun rencana kedepan sebelum dimulainya usaha
pertambangan tersebut.
g. Penambangan pasir laut di perairan laut tidak boleh menimbulkan terjadinya pencemaran
pada air laut, air sungai, dan udara dengan zat yang mengandung racun, bahan radio aktif,
barang tidak terpakai dan lainnya.
KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

L.1-23

Lampiran 1. Kriteria Kesesuaian

Hirarki Rencana
Rencana tata ruang kawasan pertambangan pasir laut dibuat pada lingkup nasional, provinsi dan
kabupaten/kota.
a. Rencana tata ruang kawasan pertambangan pasir laut nasional
Berisikan persebaran potensi dan arahan lokasi pertambangan pasir laut di seluruh provinsi dan
merupakan bagian dari Rencana Tata Ruang Kelautan Nasional dan Rencana Tata Ruang Wilayah
Nasional. Skala peta rencana ini adalah 1:1.000.000.
b. Rencana tata ruang kawasan pertambangan pasir laut provinsi
Berisikan persebaran potensi dan arahan lokasi di wilayah provinsi, dan sebagai koordinasi
perencanaan antar kabupaten/kota. Merupakan bagian dari Rencana Tata Ruang Pesisir dan
Pulau-pulau Kecil Wilayah Provinsi. Skala peta rencana 1:250.000
c. Rencana tata ruang kawasan pertambangan pasir laut kabupaten/kota
Merupakan rencana pemanfaatan ruang sebagai dasar bagi penetapan lokasi kawasan/zonasi
pertambangan pasir laut dalam wilayah Kabupaten. Skala peta rencanan 1:20.000 sampai
1:10.000.
Hirarki Pengembangan kawasan pertambangan berupa urutan kewenangan yang dimiliki oleh
pemerintah pusat, provinsi (tingkat I) dan kabupaten/kota (tingkat II) yang mengacu pada Pasal 4
Rancangan Undang-undang Pertambangan Umum.
Kewenangan Pemerintah dalam Pengelolaan Pertambangan pasir laut meliputi :
1. Pembuatan Kebijakan nasional
2. Pembuatan Peraturan perundang-undangan di bidang pertambangan umum dalam hal ini
komoditas pasir laut.
3. Pembuatan dan penetapan standarisasi nasional.
4. Pembuatan dan penetapan sistem perizinan pertambangan umum nasional.
5. Pengelolaaan pengusahaan dan pengawasan pertambangan pasir laut pada wilayah lintas
provinsi dan wilayah laut diluar 12 mil laut.
6. Penetapan tatacara pelaksanaan izin dan pengawasan pertambangan pasir laut pada wilayah
lintas provinsi dan wilayah laut di luar 12 mil laut.
7. Penetapan kebijakan pemasaran, pemanfaatan dan konservasi.
8. Penetapan kebijakan kerjasama dan kemitraan.
9. Penetapan kriteria kawasan pertambangan pasir laut.
10. Perumusan dan penetapan tarif iuran tetap dan iuran produksi yang menjadi bagian
pemerintah.
11. Pembinaaan dan pengawasan pelaksanaan pengelolaan dan penyusunan peraturan daerah
di bidang pertambangan pasir laut;
12. Pengelolaan informasi geologi, potansi bahan galian dan informasi pertambangan nasional.
13. Penyusunan neraca sumberdaya pasir laut tingkat nasional.
Kewenangan provinsi dalam pengelolaaan pertambangan pasir laut meliputi :
1. Penetapan kerja sama dan kemitraan di bidang pertambangan pasir laut.
2. Pembuatan peraturan perundang-undangan daerah di bidang pertambangan pasir laut.

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

L.1-24

Lampiran 1. Kriteria Kesesuaian


3. Pengelolaan pengusahaan dan pengawasan Pertambangan pasir laut pada wilayah lintas
kabupatan/kota dan wilayah laut di luar sepertiga dari batas laut daerah provinsi.
4. Penetapan tata cara pelaksanaan pemberian izin pengawasan pertambangan pasir laut
pada wilayah lintas kabupaten/kota dan wilayah laut sepertiga dari batas laut daerah
provinsi.
5. Pengelolaan informasi geologi, potensi bahan galian pada wilayah lintas kabupaten /kota
dan informasi pertambangan di wilayah kabupaten /kota.
6. Penyusunan neraca sumber daya pasir laut tingkat provinsi
Kewenangan Kabupaten /kota diatur dalam pengelolaan pertambangan pasir laut meliputi :
1. Penetapan kerjasama dan kemitraan di bidang pertambangan pasir laut.
2. Pembuatan peraturan perundang-undangan daerah di bidang pertambangan pasir laut.
3. Pengelolaan pengusahaan dan pengawasan pertambangan pasir laut di wilayah kabupatan
/kota dan wilyah laut sampai dengan sepertiga dari batas laut daerah provinsi.
4. Penetapan tata cara pelaksanaan izin dan pengawasan pertambangan pasir laut di wilayah
kabupaten /kota dan wilayah laut sampai dengan sepertiga dari batas laut daerah provinsi.
5. Pengelolaan informasi geologi, potensi bahan galian informasi pertambangan di wilayah
kabupaten /kota.
6. Penyusunan neraca sumberdaya bahan galian tingkat kabupaten /kota.
6) Pertanian di Pesisir
Tabel L1.28. Parameter Kesesuaian Lahan Pertanian di Pesisir
Kriteria Kesesuaian Lahan
No.

Kriteria
Baik

Sedang

Buruk

1.

Kesuburan Tanah

Tinggi

sedang

Rendah

2.

Kelerengan dan keadaan


permukaan tanah

<3% dan 80% dari


wilayah rata

<5 % dan 50% dari


wilayah rata

<8 % dan 40% dari


wilayah rata

3.

Kelas drainase

Terhambat

Agak terhambat

Tidak terhambat

4.

pH tanah lapisan atas (0 30 cm)

5.5 7.4

<4.0 dan 7.5 8.0

< 3.5 & > 8.5

5.

Banjir dan Genangan musian

Tanpa

< 2 km tanpa ada


genangan
permanen < 1m

2 7 km adanya
genangan
permanen >= 1 m

6.

Batu-batu di kawasan Permukaan

<5%

5 50 %

>50 %

7.

Zone agroklimat

A1..A2. B1.B2

B3.C1.C2.C3

C3.D1.D2.D3

8.

Ketinggian (Mdpl)

< 500

500 - 750

750 1000

4-6

>6

9.

Daya hantar lis trik (m mhos/cm)


<4
Sumber : Manajemen Sumberdaya Pertanian, IPB (2003)

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

L.1-25

Lampiran 1. Kriteria Kesesuaian


7) Permukiman di Pesisir
Tabel L1.29. Parameter Kesesuaian Permukiman di Pesisir
Kesesuaian
No

Kesesuaian

1.
2.
3.

Jarak dari sarana jalan


Jarak dari lahan gambut
Jarak dari lahan rawa

4.
5.
6.
7.

Kelerengan
Jarak dari daerah banjir
Jarak dari daerah pasang surut
Sempadan pantai
- sungai besar
- sungai kecil
- sungai di daerah permukiman
dibangun jalan inspeksi

Satuan

Sesuai

Cukup Sesuai

Tidak Sesuai

m
m
m

200
200
500

200 500
150 200
300 500

>500
0-149
0 - 299

%
m
m

8
500
> 300

8 - 15
300 500
150 300

15
0 - 300
0 - 150

m
m
m

100
> 50
> 15

Sumber Dit. TRLP3K 2005

8) Kawasan Industri
Tabel L1.30. Kriteria Pemilihan Lokasi Kawasan Industri
No

Kriteria Pemilihan Lokasi

Faktor Pertimbangan

1.

Jarak ke Pusat Kota

Minimal 10 Km

2.

Jarak terhadap permukiman

Minimal 2 (dua) km

3.

Jaringan jalan yang melayani

Arteri primer

4.

Sistem jaringan yang melayani

Jaringan listrik, Jaringan telekomunikasi, air

5.

Prasarana angkutan

Tersedia pelabuhan laut sebagai outlet ekspor-impor

6.

Topografi / kemiringan tanah

Maksimal 15%

7.

Jarak terhadap sungai

8.

Daya dukung lahan

Maks 5 (lima) km dan terlayani sungai tipe C dan D


atau kelas III dan IV
Sigma tanah : 0,7 1,0 kg/cm2

9.

Kesuburan tanah

Relatif tidak subur (non-irigasi teknis)

10.

Peruntukan lahan

Non-Pertanian, Non-Permukiman, Non-Konservasi

11.

Ketersediaan lahan

Minimal 50 Ha

12.

Harga lahan

13.

Orientasi lokasi

14.

Multiplier Effects

Relatif (bukan merupakan lahan dengan harga yang


tinggi di daerah tersebut)
Aksessibilitas tinggi, Dekat dengan potensi tenaga
kerja
Bangkitan lalulintas = 5,5 smp/ha/hari, Kebutuhan
lahan industri dan multiplier-nya = 2 x luas
perencanaan KI, Kebutuhan rumah (1,5 TK ~ 1 KK),
Kebutuhan Fasum dan Fasos

Sumber : Pedoman Teknis Kawasan Industri, Kementerian Perindustrian, 2010

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

L.1-26

Lampiran 1. Kriteria Kesesuaian

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

L.1-27

Lampiran 3. Tabel Pernyataan dan Peraturan Pemanfaatan Ruang


Tabel L3.1. Contoh Deskripsi Zona
RZWP-3-K Kabupaten/Kota :

Batas Koordinat
Lon (X)
Lat (Y)

Lokasi

Luas

Aktivitas yg
diperbolehkan

Aktivitas yg
tidak
diperbolehkan

Rencana Alokasi Ruang


1). KAWASAN PEMANFAATAN UMUM
ARAHAN PEMANFAATAN RUANG
Zona
Sub-Zona
Perikanan Budidaya
1. budidaya rumput laut;
2. budidaya mutiara; dan/ atau
3. budidaya KJA
Perikanan Tangkap
1. ikan pelagis; dan/atau
2. ikan demersal
dll....
2). KAWASAN KONSERVASI
ARAHAN PEMANFAATAN RUANG
Kategori Kawasan
Zona
Kawasan Konservasi Pesisir
dan Pulau-Pulau kecil
(KKP3K)
Kawasan Konservasi
Maritim (KKM)
Kawasan Konservasi
Perairan (KKP)
Sempadan pantai
3). ALUR
ARAHAN PEMANFAATAN RUANG
KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

L.3-1

Lampiran 3. Tabel Pernyataan dan Peraturan Pemanfaatan Ruang


RZWP-3-K Kabupaten/Kota :

Batas Koordinat
Lon (X)
Lat (Y)

Lokasi

Luas

Aktivitas yg
diperbolehkan

Aktivitas yg
tidak
diperbolehkan

Kategori Kawasan
Alur pipa dan kabel
Alur pelayaran
Alur migrasi biota
4). KAWASAN STRATEGIS NASIONAL TERTENTU
ARAHAN PEMANFAATAN RUANG
Kategori Kawasan
Instalasi Militer
Perbatasan dan PPK terluar
Situs warisan dunia
Habitat Biota Endemik
Nilai-Nilai Utama Zona / Sub
Zona
Prioritas utama untuk
Pembangunan 5 tahun
kedepan
Isu-isu perencanaan
strategis 5 tahun kedepan
Kebutuhan Pengendalian
Ruang

......

..

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

L.3-2

Lampiran 3. Contoh Indikasi Program


Tabel L5. 1 Contoh Indikasi Program

No

Program Utama

A.
1.
a.

RENCANA KAWASAN KONSERVASI


TPPKD dan SAP
Penetapan TPPKDD

b.

Penyusunan Rencana Pengelolaan TPPKD &


SAP

c.

Penataan batas TPPKD dan SAP

dll
2.
a.
b.

c.
dll
B.
1.
a.
b.
c.

Sempadan Pantai
Identifikasi pantai pantai rawan abrasi dan
rawan tsunami
Pembangunan struktur buatan/alami untuk
penanggulangan abrasi dan tsunami
Penataan lingkungan pantai

Lokasi

5 Lokasi
TPPKD
Lokasi KKPD
dan SAP

Seluruh
Kecamatan
Pantai
rawan abrasi
& tsunami
Seluruh
Kecamatan

RENCANA KAWASAN PEMANFAATAN UMUM


Zona Perikanan Tangkap
Sosialisasi aturan alat tangkap, besar armada
Seluruh
pada jalur penangkapan ikan
Kecamatan
Studi kelayakan pembangunan PPI dan TPI
Pulau X
Pembangunan PPI dan TPI dan sarana
prasarana pendukungnya

Sumber
Dana

APBN, APBD

DKP, KemKP

APBN, APBD
LSM

DKP, KemKP,
LSM

APBN, APBD
APBN, APBD
APBD

DKP, KemKP

APBN, APBD,
swasta

DKP, DisPU
Kem KP,
swasta

Zona Perikanan Budidaya

a.

Pembangunan Balai Benih Ikan

Pulau Y

APBN, APBD

b.

Pemberdayaan keluarga pembudidaya

Sentra2x
Budidaya

APBN, APBD

TAHAP I
TAHAP II
TAHAP III
TAHAP IV
(Tahun ke)
(Tahun ke)
(Tahun ke)
(Tahun ke)
1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5

DKP, DisLH
Kem KP
DisPUDis LH
Kem PU
KemKP
DKP, DisPU
Bappeda

APBN, APBD

dll
2.

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

Instansi
Pelaksana

DKP,
Kem KP
DKP,
Kem KP

L.3-1

Lampiran 3. Contoh Indikasi Program

No

Program Utama

Penelitian identifikasi jenis jenis ikan yang


bermigrasi dan polanya

Alur migrasi
biota

APBN, APBD
LSM

Pengembangan sistem pengawasan dan


monitoring alur migrasi biota
Identifikasi
kondisi
sarana
prasarana
pelabuhan lokal dan dermaga wisata

Alur migrasi
biota
Seluruh
Kabupaten

APBN, APBD
LSM

Pulau A,B,C

APBN, APBD

TNI, Polair,
DKP, Kem KP

Kawasan
Minapolitan

APBN, APBD,
Swasta

DKP,
Kem KP,
Swasta,
Disprindag

dll
C.

RENCANA ALUR LAUT

c.
dll
D.
1.
a.
b.
c.
dll
2.
a.
b.
c.

Instansi
Pelaksana

APBN, APBD

Peningkatan ketrampilan pembudidaya

b.

Sumber
Dana

Sentra
Budidaya

c.

a.

Lokasi

RENCANA KAWASAN STRATEGIS


KSNT
Sosialisasi koordinat-koordinat batas
Negara/wilayah
Pemasangan dan pemeliharaan rambu dan
tanda batas Negara/wilayah
Melakukan pengawasan batas Negara/wlayah
Kawasan Minapolitan
Sosialisasi pengembangan minapolitan
temu usaha/kemitraan pemngembangan
minapolitan
pengembangan sarana-prasarana pendukung
minapolitan

APBN, APBD

TAHAP I
TAHAP II
TAHAP III
TAHAP IV
(Tahun ke)
(Tahun ke)
(Tahun ke)
(Tahun ke)
1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5

DKP,
Kem KP

DKP, LIPI,
BPPT, LSM
KemKP,
DKP, LSM
KemKP,
DisHub, Dis
Par

dll

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

L.3-2

Lampiran 4. Sistematika Dokumen Final RZWP3K Kab/Kota


Tabel L4. 1 Sistematika Dokumen Final RZWP3K Kabupaten/Kota
BAB

URAIAN

Pendahuluan

II

Tujuan, Kebijakan, dan Strategi Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
Kabupaten/Kota

III

Deskripsi Potensi Sumberdaya Pesisir dan Pulau-pulau Kecil dan Kegiatan


Pemanfaatan

IV

Rencana Alokasi Ruang

Peraturan Pemanfaatan Ruang

VI

Indikasi Program

VII

Album Peta Tematik dan Album Peta RZWP-3-K

VIII

Draft Rancangan Perda RZWP-3-K

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

MUATAN
1)
2)
3)
4)
1)

Dasar Hukum Penyusunan RZWP3K;


Profil Wilayah;
Isu-isu Strategis Wilayah; dan
Peta-peta yang minimal mencakup peta orientasi wilayah
Tujuan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
Kabupaten/Kota; dan
2) Kebijakan dan Strategi Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau
Kecil Kabupaten/Kota.
1. Deskripsi mengenai potensi 12 data set beserta peta-peta
tematiknya; dan
2. Deskripsi kegiatan pemanfaatan eksistingnya.
Rencana alokasi ruang, meliputi :
1. Kawasan Pemanfaatan Umum
2. Kawasan Konservasi
3. Kawasan Strategis Nasional Tertentu
4. Alur Laut
Rencana alokasi ruang dijabarkan ke dalam zona, sub zona dan arahan
pemanfaatan untuk setiap zona pada masing-masing kawasan.
Pengaturan pemanfaatan ruang WP3K, meliputi pernyataan
kawasan/zona/subzona terdiri dari kegiatan yang boleh dilakukan dan
tidak boleh dilakukan serta kegiatan yang hanya dapat dilakukan setelah
memperoleh izin.
Tabel indikasi program utama jangka panjang yang dirinci pada program
jangka menengah 5 (lima) tahunan kabupaten, yang mencakup indikasi
program utama, lokasi, besaran, waktu pelaksanaan, perkiraan
pembiayaan, sumber dana, kelembagaan, dan instansi pelaksana
Album peta terdiri dari:
1. Peta-peta tematik
2. Peta RZWP3K Skala 1 : 50.000

L.4-1

Lampiran 4. Sistematika Dokumen Final RZWP3K Kab/Kota

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

L.4-2

Lampiran 5. Outline Laporan Akhir RZWP3K Kabupaten/Kota


Tabel L3. 1 Outline Laporan Akhir RZWP3K Kabupaten/Kota
BAB
I

II

URAIAN
Pendahuluan

Tinjauan Kebijakan

SUB
BAB

ISI

1.1

Latar Belakang

1.2
1.3

Maksud, Tujuan dan Sasaran


Landasan Hukum Penyusunan RZWP-3-K

1.4

Ruang Lingkup:
1.4.1. Ruang lingkup wilayah perencanaan

1.5

1.4.2. Ruang lingkup materi dokumen


RZWP-3-K
Output

1.6

Sistematika Laporan

2.1

Kebijakan Non Spasial

2.2

Kebijakan Spasial

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

KETERANGAN
Uraian mengenai sedikit gambaran umum wilayah perencanaan, isu,
potensi, dan isu permasalahan, serta perlunya disusun RZWP3K di
wilayah perencanaan.
Maksud, tujuan dan sasaran Penyusunan Rencana Zonasi WP-3-K
Daftar Peraturan perundang-undangan yang berlaku, seperti UU,
Permen, Perda, dll.
Ruang lingkup wilayah perencanaan merupakan batasan (delineasi)
wilayah perencanaan. Disertai peta wilayah perencanaan.
Ruang lingkup materi dokumen RZWP3K berisi garis besar substansi
yang ada di dokumen RZWP-3-K.
Berisi penjelasan keluaran (output) yang dihasilkan dalam
penyusunan RZWP3K
Penjelasan singkat sistematika atau outline laporan akhir pada setiap
Bab
Pada bab ini diuraikan tinjauan kebijakan non spasial yang dijadikan
bahan rujukan kegiatan RZWP-3-K, yaitu :
a. Kebijakan strategis
b. UU, PP, Permen, Kepmen, Perda
c. RPJPD
d. Dokumen Renstra WP3K (jika sudah ada)
e. dll
Pada bab ini diuraikan tinjauan kebijakan spasial yang dijadikan
bahan rujukan kegiatan RZWP-3-K, yaitu :
a. RTRW Nasional/Provinsi/Kabupaten/Kota
b. dll
L.5-1

Lampiran 5. Outline Laporan Akhir RZWP3K Kabupaten/Kota

BAB
III

IV

URAIAN
Metodologi

Profil Wilayah Pesisir


dan Pulau-pulau Kecil

SUB
BAB

ISI

3.1

Metodologi Penyusunan RZWP3K

3.2

Pengumpulan Data

3.3

Analisis

4.1

Letak Geografis dan Administrasi Wilayah

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

KETERANGAN
Menjabarkan dan membuat alur INPUT PROSES OUTPUT terdiri
dari:
1) Kerangka Alur Proses Kegiatan dan
2) Kerangka Pikir Substansi
Berisi penjelasan Data dan informasi yang dibutuhkan dalam
penyusunan peta rencana zonasi, terdiri atas 12 Datasets :
A. Baseline Datasets :
1. Terestrial
2. Batimetri
B. Thematic Datasets :
1. Geologi dan Geomorfologi
2. Oseanografi
3. Penggunaan Lahan, Status Kepemilikan Lahan, RTRW
4. Pemanfaatan Wilayah Laut
5. Kesesuaian Lahan/Perairan dan Sumberdaya Air
6. Ekosistem Pesisir dan Sumberdaya Ikan
7. Infrastruktur
8. Demografi dan Sosial
9. Ekonomi Wilayah
10. Resiko Bencana
Menjabarkan metode analisis yang dipakai dalam menganalisis 12
data set
Penjabaran terhadap letak geografis wilayah, kondisi demografi,
sosial ekonomi makro, arah kebijakan pembangunan, kontribusi
sektoral terhadap PAD, arahan struktur dan pola ruang.
Disertai dengan peta-peta:
- Orientasi wilayah
- Sebaran kepadatan penduduk per kecamatan
L.5-2

Lampiran 5. Outline Laporan Akhir RZWP3K Kabupaten/Kota

BAB

URAIAN

SUB
BAB

ISI

KETERANGAN
-

Deskripsi Potensi
Sumberdaya Pesisir dan
Pulau-pulau Kecil dan
Kegiatan Pemanfaatan

Selain itu juga menggambarkan kondisi wilayah pesisir yang meliputi


gambaran umum kondisi eksisting daerah, berisi deskripsi umum,
sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil, pola penggunan lahan
dan perairan, serta kondisi sosial budaya dan ekonomi. Hal-hal yang
terkait antara lain:
- luas Perairan,
- panjang garis pantai,
- jumlah pulau-pulau kecil,
- jumlah administrasi kecamatan pesisir,
- luasan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil,
- pulau yang berpenghuni dan tidak berpenghuni,
- pemanfaatan ruang saat ini di WP-3-K
Gambaran eksisting terhadap 12 Datasets yang ada.

4.2

Gambaran Fisik, Sosial, Budaya dan Ekonomi


Wilayah

5.1

Deskripsi potensi sumberdaya Pesisir Dan


Pulau-Pulau Kecil

5.2

Deskripsi Pemanfaatan Sumberdaya


Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

Rencana Pola Ruang dalam RTRW


Rencana Struktur Ruang dalam RTRW

Berisi deskripsi mengenai potensi 12 dataset sumberdaya


dilakukan untuk mengetahui potensi sumberdaya saat ini
(eksisting) berdasarkan peta tematik yang telah disusun.
Potensi sumberdaya yang dideskripsikan antara lain
potensi sebaran ikan, potensi ekosistem pesisir, potensi
pariwisata, potensi pertambangan, dll.
Berisi deskripsi meliputi deskripsi terhadap potensi
kegiatan-kegiatan pemanfaatan sumberdaya di masa lalu
dan saat ini (eksisting) yang terdiri dari rona-rona dan
fasilitas yang terkait dengan pemanfaatan sumberdaya
alam (penangkapan ikan, budidaya perairan, pertanian,
penambangan, kehutanan, wisata, habitat cagar alam laut,
L.5-3

Lampiran 5. Outline Laporan Akhir RZWP3K Kabupaten/Kota

BAB

URAIAN

SUB
BAB

ISI

KETERANGAN
kapabilitas sumberdaya), pelabuhan, lokasi-lokasi industri,
lokasi-lokasi pemukiman dan perkotaan, serta fasilitas
wisata.

VI

VII

Analisis Wilayah
Perencanaan

Rencana Zonasi

6.1

Analisis Kebijakan dan Kewilayahan

6.2

Analisis Sosial dan Budaya

6.3

Analisis Infrastruktur

6.4

Analisis Ekonomi Wilayah

6.5

Analisis Daya Dukung Wilayah

6.6

Analisis Risiko Bencana

7.1

Tujuan, Kebijakan dan Strategi

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

- Menganalisis tinjauan kebijakan yang dijadikan bahan rujukan


kegiatan RZWP-3-K, yaitu :
a. RTRW
b. RPJPD
c. Dokumen Renstra WP3K (kalau sudah ada)
- Menganalisis
konflik
kepentingan
yang
terjadi
di
provinsi/kabupaten/kota yang bersangkutan
Analisis untuk mengetahui kondisi masyarakat dari sisi struktur dan
komposisi penduduk dan sisi sosial, budaya, dan agama
Analisis untuk mengetahui sebaran infrastruktur yang ada, sebagai
data dasar dalam pengembangan struktur wilayah dan acuan dalam
analisis proyeksi kebutuhan sarana dan prasarana kelautan dan
perikanan.
Analisis untuk mengetahui kondisi perekonomian masyarakat,
struktur ekonomi dan pola distribusi perkembangan wilayah, sektor
basis, komoditas unggulan dan pertumbuhan pusat-pusat kegiatan di
wilayah kajian
Analisis untuk mengetahui daya tampung maksimum lingkungan
yang dapat diberdayakan manusia
Analisis untuk mengetahui kerawanan dan risiko bencana yang dapat
dilakukan dengan menggunakan metode GIS, pemodelan, dan
identifikasi lokasi secara langsung di lapangan. Data sekunder
kerawanan dan risiko bencana dapat diperoleh dari instansi yang
terkait.
Berisi tujuan yang ingin dicapai dengan disusunnya RZWP3K,
L.5-4

Lampiran 5. Outline Laporan Akhir RZWP3K Kabupaten/Kota

BAB

URAIAN

SUB
BAB

Wilayah Pesisir dan


Pulau-pulau Kecil

Pengembangan
7.2

7.3

7.4.

VIII

ISI

Indikasi Program

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

Rencana Alokasi Ruang


a. Kawasan Pemanfaatan Umum
b. Kawasan Konservasi
c. Kawasan Strategis Nasional Tertentu
d. Alur Laut
Arahan, Pernyataan, dan Peraturan
Pemanfaatan Ruang

Rekomendasi dan Harmonisasi RZWP-3-K


dengan RTRW

KETERANGAN
Kebijakan dan strategi secara umum terhadap penyusunan rencana
zonasi.

Berisi arahan dan pernyataan pemanfaatan ruang pada masing2


kawasan:
a. Arahan Pemanfaatan Ruang Kawasan Pemanfaatan Umum
b. Arahan Pemanfaatan Ruang Kawasan Konservasi
c. Arahan Pemanfaatan Ruang Kawasan Strategis Nasional Tertentu
d. Arahan Pemanfaatan Ruang Alur
Pada bagian ini setiap arahan pemanfaatan ruang pada Rencana
Alokasi Ruang dituliskan peraturan pemanfaatan ruang untuk
kegiatan yang diperbolehkan, kegiatan yang tidak diperbolehkan,
dan kegiatan yang dibatasi dan kegiatan yang hanya dapat dilakukan
setelah memperoleh izin.
Arahan pemanfaatan ruang dapat dibuat tabel atau dapat dirinci
secara tertulis
Berisi rekomendasi terhadap RTRW dan peraturan lainnya dalam
rangka penyerasian, penyelarasan, dan penyeimbangan
Penjabaran indikasi program utama dalam jangka waktu
perencanaan 5 tahunan sampai akhir tahun perencanaan 20 tahun.

L.5-5

Contoh. Berita Acara Konsultasi Publik

BERITA ACARA KONSULTASI PUBLIK


PENYUSUNAN RENCANA ZONASI WILAYAH PESISIR
DAN PULAU-PULAU KECIL (RZWP-3-K)
KABUPATEN/KOTA ...........................
Nomor : ..................................................

Pada hari ini ........., tanggal ........., bulan........., tahun ......... bertempat di ......., kami yang bertanda
tangan di bawah ini, telah mengadakan Rapat Konsultasi Publik ke-...... terhadap Dokumen ............
Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kabupaten/Kota ..........
Berdasarkan hasil rapat tersebut, disepakati tanggapan/saran/masukan terhadap Dokumen ...........
Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kabupaten/ Kota ............sebagai berikut:
1. ....................................................
2. ....................................................
3. ....................................................
4. ....................................................
Untuk perbaikan Dokumen ............. Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
Kabupaten/Kota ..................... sehingga secara substantif sesuai dengan ketentuan Undang-Undang
Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil, Peraturan
Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 16 Tahun 2008 tentang Perencanaan Pengelolaan Wilayah
Pesisir dan Pulau-pulau Kecil, Pedoman Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulaupulau Kecil Kabupaten/Kota, dan peraturan perundang-undangan bidang perencanaan pengelolaan
wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil lainnya.
Secara rinci masukan/saran perbaikan Dokumen ............... Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan
Pulau-Pulau Kecil Kabupaten/Kota............. tercantum dalam tabel pada lampiran Berita Acara ini.
Demikian Berita Acara ini dibuat untuk dipergunakan sebagaimana mestinya.
.................., ......................
Pimpinan Rapat,

Nama :...............................
Jabatan/NIP: ....................

Lampiran :
1. TANDA TANGAN PESERTA KONSULTASI PUBLIK KE-........
2. MASUKAN/SARAN PERBAIKAN DOKUMEN

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

L.6-1

Contoh Konsep Surat Permohonan Tanggapan dan/ Saran

BUPATI/WALIKOTA...............
................., .....................201.......
Nomor
Lampiran
Perihal

:
:
:

1 (satu) berkas
Permohonan Tanggapan dan/Saran Terhadap Dokumen Final Rencana Zonasi
Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kabupaten/Kota________

Kepada Yth.
1. Menteri Kelautan dan Perikanan
2. Gubernur.........
di...............

Dalam

rangka

Pengelolaan

Wilayah

Pesisir

dan

Pulau-Pulau

Kecil

(WP-3-K),

Kabupaten/Kota..................telah menyusun dokumen final Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan


Pulau-Pulau Kecil (RZWP-3-K) Kabupaten/Kota.............. Dokumen tersebut telah mendapat
kesepakatan di daerah.
Sebagaimana yang diamanatkan oleh Undang-Undang No. 27 Tahun 2007 tentang
Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil pasal 14 ayat (4), dokumen final Rencana Zonasi
Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP-3-K) perlu mendapat tanggapan dan/atau saran dari
Menteri yang bertanggung jawab di bidang kelautan dan perikanan. Pada kesempatan ini kami
memohon tanggapan dan/ atau saran dari Saudara Menteri terhadap Dokumen Final RZWP-3-K
Kabupaten/Kota.....................
Demikian disampaikan, atas perhatiannya kami menyampaikan terimakasih.
Bupati/ Walikota..........................

.................................................

Tembusan Kepada Yth. :


1.
Ketua BKPRN
2.
Menteri Negara PPN/Kepala Bappenas
3.
Ketua DPRD Kabupaten/Kota___________
4.
Ketua BKPRD Kabupaten/Kota__________
5.
Direktur Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-pulau Kecil, KKP
6.
Direktur Tata Ruang Laut Pesisir dan Pulau-pulau Kecil, KKP
7.
Arsip

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

L.7-1

Lampiran 8. Contoh TOR RZWP-3-K

S
KERANGKA ACUAN KERJA
PENYUSUNAN RENCANA ZONASI WILAYAH PESISIR DAN PULAUPULAU KECIL KABUPATEN / KOTA

DIREKTORAT JENDERAL KELAUTAN, PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2013

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

L.8-1

Lampiran 8. Contoh TOR RZWP-3-K

KERANGKA ACUAN KERJA


PENYUSUNAN RENCANA ZONASI WILAYAH PESISIR
DAN PULAU-PULAU KECIL KABUPATEN / KOTA

1.

Latar Belakang
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia dikenal pula sebagai negara
maritim dengan luas lautan mencapai 5,8 juta km2 yang terdiri dari perairan territorial 3,1 juta km 2
2
dan ZEE Indonesia 2,7 km . Wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil di Indonesia terdiri dari 17.504
buah pulau dan panjang pantai mencapai 95.181 km (KKP, 2011). Kondisi ini merupakan
anugrah yang sangat besar bagi pembangunan perikanan dan kelautan. Disamping itu,
sumberdaya ikan yang hidup di wilayah perairan Indonesia memiliki tingkat keragaman hayati
(bio-diversity) sangat tinggi, dan bahkan laut Indonesia merupakan wilayah Marine MegaBiodiversity terbesar di dunia, yang memiliki sekitar 8.500 species ikan, 555 species rumput laut
dan 950 species biota terumbu karang. Sumberdaya ikan tersebut meliputi 37 persen dari
species ikan di dunia. Disamping sumberdaya dapat pulih sebagaimana dikemukakan di atas,
perairan laut Indonesia juga memiliki sumberdaya tidak pulih seperti mineral (minyak, gas dan
lain sebagainya) serta jasa-jasa lingkungan seperti sumber energi yang berasal dari arus pasang
surut, gelombang, perbedaan salinitas, angin dan perbedaan suhu air laut di lapisan permukaan
dan lapisan dalam perairan yang dikenal dengan ocean thermal energy convertion (OTEC).
Kondisi ini selanjutnya menjadikan kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil sangat potensial untuk
dikembangkan berbagai kegiatan. Potensi sumberdaya kelautan, seperti minyak dan gas,
meneral dan energi, perhubungan laut, industry maritim, dan industri jasa seperti pariwisata serta
perikanan yang terdiri dari perikanan tangkap dan budidaya sangat potensial untuk
pembangunan ekonomi nasional.
Akan tetapi, dalam pemanfaatan dan pengolahan sumber daya alam tersebut masih
belum optimal dan kurang tepat sasaran. Disamping wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil yang
rentan terhadap perubahan lingkungan, bencana alam, dan perubahan iklim, juga banyaknya
konflik pemanfaatan ruang dan kerusakan habitat yang diakibatkan oleh ulah manusia.
Untuk itu, wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil perlu dikelola secara terpadu dalam
rangka mewujudkn tata ruang wilayah yang aman, nyaman dan produktif, agar diperoleh
manfaat baik dari segi lingkungan, ekonomi, sosial, dan budaya.
Keberadaan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah
Pulau-Pulau Kecil dan Pulau-Pulau Kecil jo Undang-Undang No. 1 Tahun 2014 mengamanatkan
bahwa dalam rangka pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, yang didalamnya
meliputi kegiatan perencanaan, pemanfaatan, pengawasan dan pengendalian, memerlukan
upaya yang sistematis dan terukur agar dapat mengoptimalkan potensi wilayahnya demi
kesejahteraan masyarakat.
Pengelolaan WP3K dilaksanakan dengan tujuan :
a. melindungi, mengonservasi, merehabilitasi, memanfaatkan, dan memperkaya Sumber Daya
Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil serta sistem ekologisnya secara berkelanjutan;
b. menciptakan keharmonisan dan sinergi antara Pemerintah dan Pemerintah Daerah dalam
pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil;
c. memperkuat peran serta masyarakat dan lembaga pemerintah serta mendorong inisiasif
masyarakat dalam pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil agar tercapai
keadilan, keseimbangan, dan keberlanjutan; dan
d. meningkatkan nilai sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat melalui peran serta masyarakat
dalam pemanfaatan Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.
Dalam UU No 27 Tahun 2007 jo Undang-Undang No. 1 Tahun 2014 pasal 7 ayat (3),
memandatkan kepada Pemerintah Daerah untuk menyusun semua dokumen perencanaan
sesuai dengan kewenangan masing-masing. Salah satu perencanaan yang wajib disusun adalah
perencanaan spasial yang berupa Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
(RZWP-3-K), yang berfungsi sebagai arahan pemanfaatan bagi berbagai kegiatan berbasiskan
pada sumberdaya di wilayah laut, pesisir dan pulau-pulau kecil.

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

L.8-2

Lampiran 8. Contoh TOR RZWP-3-K


2.

Maksud dan Tujuan


Maksud yang ingin dicapai dari kegiatan ini adalah menyusun dokumen Rencana Zonasi
Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP-3-K) Kabupaten/Kota.
Tujuan yang ingin dicapai dari kegiatan ini adalah :
Melakukan identifikasi potensi sumberdaya alam, sumberdaya fisik, dan sumberdaya
manusia, serta kendala pemanfaatan sumberdaya alam
Memformulasikan tujuan, kebijakan dan strategi pengelolaan wilayah pesisir dan pulaupulau kecil
Menyusun rencana alokasi ruang RZWP-3-K
Menyusun peta dasar, peta-peta tematik, dan peta RZWP-3-K
Menyusun peraturan pemanfaatan ruang
Memformulasikan indikasi program
Menyusun Dokumen Awal, Dokumen Antara, dan Dokumen Final RZWP3-K
Menyusun Ranperda RZWP3K
(Disesuaikan dengan fokus pekerjaan, apakah sampai dengan tahap dokumen awal, dokumen
antara, atau dokumen final.)

3.

Sasaran
Sasaran yang ingin dicapai dari kegiatan ini antara lain :
a. teridentifikasinya potensi dan permasalahan wilayah
b. terformulasikannya tujuan, kebijakan, dan strategi pengelolaan wilayah pesisir dan pulaupulau kecil
c. tersusunnya rencana alokasi ruang
d. tersusunnya peta-peta tematik dan peta RZWP-3-K
e. tersusunnya peraturan pemanfaatan ruang
f. terformulasikannya indikasi program
g. tersusunnya Dokumen Awal, Dokumen Antara, dan Dokumen Final RZWP3-K
h. tersusunnya Ranperda RZWP3K

4.

Lokasi Kegiatan
Wilayah perencanaan kegiatan Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau
Kecil Kabupaten/Kota adalah kecamatan pesisir (batas darat) sampai 1/3 (sepertiga) wilayah
perairan kewenangan Provinsi.

5.

Sumber Pendanaan
(Besarnya anggaran disesuaikan dengan fokus pekerjaan.)

6.

Landasan Hukum
1. UU No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya;
2. UU No 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional;
3. UU No 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang;
4. UU No 45 Tahun 2009 tentang Perubahan Atas UU No 31 Tahun 2004 tentang Perikanan;
5. UU No 1 Tahun 2014 tentang Perubahan atas UU No 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan
Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil;
6. PP No 60 Tahun 2007 tentang Konservasi Sumber Daya Ikan;
7. PP No 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang;
8. PP No 64 Tahun 2010 tentang Mitigasi Bencana di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil;
9. PP No 8 Tahun 2013 tentang Ketelitian Peta Rencana Tata Ruang;
10. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No.PER.16/ MEN/2008 tentang Perencanaan
Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil;
11. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No.PER.17/MEN/2008 tentang Kawasan
Konservasi di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil;
12. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No.PER.8/MEN/2012 tentang Kepelabuhanan
Perikanan;
13. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No.PER.18/MEN/2013 tentang Perubahan
Ketiga atas Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No.PER.2/MEN/2011 tentang Jalur
Penangkapan Ikan dan Penempatan Alat Penangkapan Ikan dan Alat Bantu Penangkapan
Ikan di Wilayah Pengeloaan Perikanan Negara Republik Indonesia.

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

L.8-3

Lampiran 8. Contoh TOR RZWP-3-K


7.

Studi-Studi Terdahulu
Studi-studi yang telah dilakukan, antara lain :
1) RZWP3K Provinsi
2) RTRW Provinsi
3) RPJPD Kabupaten/Kota
4) RTRW Kabupaten/Kota
5) dll

8.

Ruang Lingkup Pekerjaan


Tahapan pelaksanaan kegiatan penyusunan RZWP-3-K adalah sebagai berikut:
8.1. Persiapan
1) Penyiapan personil dalam tim kerja (tenaga ahli dan tenaga pendukung sesuai dengan
tata laksana personil).
2) Penyiapan administrasi.
3) Studi literatur sebagai awal atau referensi untuk pelaksanaan kegiatan.
4) Penyusunan rencana kerja
- Jadwal pekerjaan
- Metode pengumpulan data/survei lapangan berdasarkan Peta RBI, LPI, Peta Laut
Dishidros TNI AL, dan Citra Satelit di wilayah perencanaan.
- Peta rencana lokasi sampling
8.2. Pengumpulan Data Sekunder
Data sekunder yang dikumpulkan, meliputi :
1. Data terestrial (diambil dari Dokumen RTRW)
a. Peta topografi
b. Peta kemiringan lereng
c. Peta tanah
2. Data Bathimetri
3. Data geologi dan geomorfologi laut
4. Data ekosistem pesisir dan kelimpahan sumberdaya ikan
a. Data ekosistem pesisir (terumbu karang, mangrove, lamun)
b. Data kelimpahan sumberdaya ikan
5. Data penggunaan lahan dan status lahan
a. Status (kepemilikan) Lahan (tanah negara, bukan tanah negara,dll)
6. Data pemanfaatan wilayah laut eksisting (misalnya perikanan budidaya, perikanan
tangkap, pariwisata, pertambangan, pelabuhan, alur pelayaran, alur biota, kawasan
konservasi)
7. Data sumberdaya air
8. Data infrastruktur
9. Data sosial dan budaya
a. Jumlah penduduk
b. Jumlah tenaga kerja
c. Kepadatan penduduk
d. Proyeksi pertumbuhan penduduk
e. Mata pencaharian penduduk
f.
Jumlah nelayan dan dan pembudidaya ikan per kecamatan
g. wilayah masyarakat hukum adat
h. wilayah penangkapan ikan secara tradisional
i.
kondisi dan karakteristik masyarakat setempat termasuk tempat suci dan
kegiatan peribadatannya
j.
aktifitas/ritual keagamaan, situs cagar budaya.
10. Data ekonomi wilayah
a. PDRB
b. Pendapatan per kapita
c. Angkatan kerja dan tingkat pengangguran
d. Laju pertumbuhan ekonomi sektoral dan kabupaten
e. Komoditi unggulan per kecamatan
f.
Kegiatan perekonomian perikanan dan kelautan
g. Produksi perikanan
11. Data resiko bencana dan pencemaran

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

L.8-4

Lampiran 8. Contoh TOR RZWP-3-K


a.

Jenis, lokasi, batas riwayat kebencanaan, tingkat kerusakan dan kerugian


bencana
b. Sumber dan lokasi pencemaran
12. Rencana Struktur dan Pola Ruang Wilayah dari RTRW Provinsi
13. Rencana Struktur dan Pola Ruang Wilayah dari RTRW Kabupaten/Kota
Apabila data tersebut masih dalam bentuk hardcopy (analog), format gambar (jpg, pdf, tif,
ppt) harus dikonversi ke dalam format standar (shapefile).
8.3. Perumusan Tujuan, Kebijakan, dan Strategi
Tujuan, kebijakan, dan strategi diadopsi dari Tujuan, kebijakan, dan strategi yang tertuang
dalam dokumen RSWP-3-K. Apabila belum ada, maka harus merumuskan Tujuan,
kebijakan, dan strategi Pengelolaan WP-3-K melalui FGD. Tujuan, Kebijakan, dan Strategi
pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil kabupaten/kota merupakan terjemahan
dari visi dan misi pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil pengembangan
kabupaten/kota untuk mencapai kondisi ideal pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau
kecil kabupaten/Kota yang diharapkan.
1. Tujuan Pengelolaan Wilayah Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil Kabupaten/Kota
Tujuan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil kabupaten/kota merupakan
arahan perwujudan alokasi ruang wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil kabupaten/kota
yang ingin dicapai pada masa yang akan datang (20 tahun).
Tujuan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil kabupaten/kota memiliki
fungsi:
1) sebagai dasar untuk memformulasikan kebijakan dan strategi RZWP-3-K
kabupaten/kota;
2) memberikan arah bagi penyusunan indikasi program utama RZWP-3-K
kabupaten/kota; dan
3) sebagai dasar penetapan ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah
pesisir dan pulau-pulau kecil kabupaten/kota.
Tujuan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil kabupaten/kota dirumuskan
berdasarkan:
1) visi dan misi pembangunan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil kabupaten/kota;
2) karakteristik wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil kabupaten/kota;
3) isu strategis; dan
4) kondisi objektif yang diinginkan.
Tujuan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil kabupaten/kota dirumuskan
dengan kriteria:
1) tidak bertentangan dengan tujuan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil
provinsi dan nasional;
2) jelas dan dapat tercapai sesuai jangka waktu perencanaan; dan
3) tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.
2. Kebijakan
Kebijakan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil kabupaten/kota
merupakan arah tindakan yang harus ditetapkan untuk mencapai tujuan pengelolaan
wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil kabupaten/kota.
Kebijakan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil kabupaten/kota berfungsi
sebagai:
1) sebagai dasar untuk memformulasikan strategi pengelolaan wilayah pesisir dan
pulau-pulau kecil kabupaten/kota;
2) sebagai dasar untuk merumuskan alokasi ruang wilayah pesisir dan pulau-pulau
kecil;
3) memberikan arah bagi penyusunan indikasi program utama pengelolaan wilayah
pesisir dan pulau-pulau kecil kabupaten/kota; dan

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

L.8-5

Lampiran 8. Contoh TOR RZWP-3-K


4) sebagai dasar penetapan ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah
pesisir dan pulau-pulau kecil.
Kebijakan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil kabupaten/kota
dirumuskan berdasarkan:
1) tujuan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil kabupaten/kota;
2) karakteristik wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil kabupaten/kota;
3) kapasitas sumber daya wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil kabupaten/kota dalam
mewujudkan tujuan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil; dan
4) ketentuan peraturan perundang-undangan terkait.
Kebijakan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil kabupaten/kota
dirumuskan dengan kriteria:
1) mengakomodasi kebijakan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil
nasional dan provinsi yang berlaku pada wilayah kabupaten/kota bersangkutan;
2) jelas, realistis, dan dapat diimplementasikan dalam jangka waktu perencanaan pada
wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil kabupaten/kota bersangkutan;
3) mampu menjawab isu-isu strategis baik yang ada sekarang maupun yang
diperkirakan akan timbul di masa yang akan datang; dan
4) tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.
3. Strategi
Strategi pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil kabupaten/kota merupakan
penjabaran kebijakan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil
kabupaten/kota ke dalam langkah-langkah operasional untuk mencapai tujuan yang
telah ditetapkan.
Strategi pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil kabupaten/kota berfungsi:
1) sebagai dasar untuk penyusunan rencana alokasi ruang, dan penetapan kawasan
strategis kabupaten/kota;
2) memberikan arah bagi penyusunan indikasi program utama dalam RZWP-3-K
kabupaten/kota; dan
3) sebagai dasar dalam penetapan ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang
wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil kabupaten/kota.
Strategi pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil kabupaten/kota dirumuskan
berdasarkan:
1) kebijakan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil wilayah
kabupaten/kota;
2) kapasitas sumber daya wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil kabupaten dalam
melaksanakan kebijakan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil; dan
3) ketentuan peraturan perundang-undangan.
Strategi pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil wilayah kabupaten/kota
dirumuskan dengan kriteria:
1) memiliki kaitan logis dengan kebijakan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau
kecil;
2) tidak bertentangan dengan tujuan, kebijakan, dan strategi pengelolaan wilayah
pesisir dan pulau-pulau kecil nasional dan provinsi;
3) jelas, realistis, dan dapat diimplementasikan dalam jangka waktu perencanaan pada
wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil kabupaten/kota bersangkutan secara efisien
dan efektif;
4) harus dapat dijabarkan secara spasial dalam rencana alokasi ruang wilayah pesisir
dan pulau-pulau kecil kabupaten/kota; dan
5) tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.
8.4. Survey Lapangan
Survei lapangan dilaksanakan dalam rangka pengumpulan data sekunder dan primer yang
belum tersedia, serta validasi terhadap data sekunder yang sudah terkumpul sebelumnya.
Adapun jenis data primer yang dikumpulkan, antara lain :

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

L.8-6

Lampiran 8. Contoh TOR RZWP-3-K


1). Teresterial / topografi
Terestrial
Peta tanah umumnya sudah ada di peta RTRW sehingga apabila peta RTRW sudah
tersedia, maka tidak perlu dilakukan analisis pemetaan tanah di lokasi perencanaan.
Topografi
Pemetaan topografi suatu wilayah dimaksudkan untuk mengetahui kondisi relief atau
kelerengan dan ketinggian tempat di atas permukaan laut.
Peta topografi umumnya dapat diperoleh dari instansi terkait (diturunkan dari peta
Rupabumi skala 1 : 50.000 untuk kabupaten). Apabila peta topografi untuk skala tertentu
tidak tersedia, perlu dilakukan survei lapangan.
Beberapa metode pengukuran kemiringan lereng, yaitu :
1. Metode Went Worth
Peta Kemiringan Lereng dapat diperoleh melalui perhitungan dari peta topografi
menggunakan rumus Went-Worth yaitu pada peta topografi yang menjadi dasar
pembuatan peta kemiringan lereng dengan dibuat grid atau jaring-jaring berukuran
1 cm kemudian masing-masing bujur sangkar dibuat garis horizontal. Dengan
mengetahui jumlah konturnya dan perbedaan tinggi kontur yang memotong garis
horizontal tersebut, dapat ditentukan kemiringan atau sudut lereng.
2. Metode Terestris
Pengukuran topografi dilakukan dilapangan dilakukan dengan menggunakan
peralatan ukur seperti : Theodolit, Waterpass, GPS, dan Total Station.
3. Metode pemodelan Digital Elevasi Model (DEM)
Informasi topografi yang diwakili oleh bentuk relief dan kemiringan lereng dapat
diperoleh melalui pemodelan DEM. Data DEM diolah melalui analisis kontur
permukan bumi yang diperoleh dari peta rupabumi.
2). Bathimetri
Pengumpulan data bathimetri dimaksudkan sebagai data dasar dalam menganalisis
kedalaman perairan laut. Metode penentuan lokasi survei dan pengukuran dengan
menggunakan metode pemeruman, yaitu penentuan lokasi ditentukan secara sistematis
dengan pertimbangan dapat mewakili karakteristik kedalaman di wilayah perairan
setempat. Metode pengambilan data, yaitu :
Grid pengukuran 50 meter yaitu dengan perekaman data bathimetri setiap 1 (satu)
detik. Misal: Lebar tegak lurus ke arah laut 4 mil atau sampai kedalaman
maksimum 100 m dan sejajar sepanjang garis pantai Kabupaten Biak Numfor.
Koordinat titik - titik pengukuran didapat dengan menggunakan alat GPS (Global
Positioning Sistem) yang telah terintegrasi dengan Echosounder.
3). Geologi dan geomorfologi
A. Geologi laut
Peta geologi dasar laut memberikan petunjuk tentang susunan lapisan batuan dasar
laut dan pada umumnya memberikan informasi tentang formasi apa saja yang ada
di daerah yang dipetakan. Metode identifikasi, antara lain :
1. Analisis citra satelit altimetry
2. Pemeruman dasar perairan
3. Peralatan Pengambilan contoh sedimen dasar laut
Untuk mendeteksi lokasi dan jenis substrat dasar laut dilakukan survey
pengambilan sample. Survey substrat dasar laut dilakukan pada kedalaman
maksimal 100 m.
4. Analisa Laboratorium (Analisis besar butir, Analisis mineral berat, Analisis
Geokimia, Analisis Unsur Tanah Jarang, Mikrofauna
B.

Geomorfologi laut
Pemetaan geomorfologi laut dimaksudkan untuk memperoleh informasi bentuk
lahan laut. Metode pengumpulan data menggunakan teknik interpretasi citra,
pengolahan citra secara digital dan survei lapangan.
Penentuan Lokasi sampel dilakukan menggunakan metode acak proporsional
berstrata (Stratified Proportional Random Sampling). Analisis penginderaan jarak
jauh dilakukan dengan plotting data dan perbaikan interpretasi (re interpretasi)
berdasarkan hasil groundcheck/survei lapangan

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

L.8-7

Lampiran 8. Contoh TOR RZWP-3-K


4). Oceanografi
Seluruh pengumpulan data primer dataset oseanografi dilakukan hingga kedalaman 50
m, data yang diambil meliputi:
1. Fisika Perairan
a. Arus
Arus diukur dengan Current meter bolak balik dengan berbagai type yang dapat
mengukur dari berbagai arah atau dengan ADCP (Acoustic Dopler Current
Profiler). Pengukuran arus untuk mengetahui arah dan kecepatan arus.
Arus diukur selama 3 hari 3 malam secara bolak-balik pada 1 titik pengamatan
secara simultan bersamaan dengan pengukuran pasang surut. Pengukuran
sebaiknya dilakukan pada saat kondisi pasang surut pada fase spring tide
(pasang surut di saat bulan purnama atau bulan mati), hal ini untuk memperoleh
hasil pengukuran arus yang optimal.
b. Pasang Surut
Pasang surut diukur dengan menggunakan peralatan Tide Recorder, selama 7
hari 7 malam pada 2 stasiun pengamatan secara simultan. Setelah dilakukan
pengukuran harus diikat dengan Bench Mark terdekat (kalau ada). Jika tidak ada
maka harus dibuatkan Bench Mark. Pengukuran pasut dilakukan bersamaan
dengan pengukuran arus.
c. Gelombang
Gelombang dapat diprediksi dari data angin dengan mempertimbangkan panjang
fetch, kecepatan dan arah angin. Apabila pasang surut diukur dengan tide
recorder, maka tinggi gelombang dapat diketahui dari pengukuran pasang surut.
Gelombang juga dapat diukur dengan alat papan berskala, meteran, serta
Wave Rider atau Wave Recorder, pada saat musim barat dan musim timur,
masing-masing selama 7 hari dengan interval waktu pencatatan antara 10 menit
1 jam.
d. Suhu, Kecerahan, dan TSS
1) Suhu
Suhu diinterpretasi dengan citra satelit modis dan dilakukan ground check
dengan thermometer pada titik lokasi yang ditentukan berdasarkan
interpretasi citra satelit.
2) Kecerahan
Kecerahan dilakukan secara insitu dengan menggunakan secchi disk pada
titik lokasi yang ditentukan berdasarkan analisis.
3) Total Suspended Solid (TSS)
Total Suspended Solid (TSS) dilakukan di laboratorium.
2.

Kimia dan Biologi Perairan


1) pH dan Salinitas
pH, Salinitas diukur dengan menggunakan waterchecker dan dianalisis di
laboratorium.
2) COD, BOD, Amonia
COD, BOD, Amonia diutamakan diukur di muara sungai dengan
menggunakan waterchecker dan dianalisis di laboratorium.
3) Klorofil
Klorofil dianalisis dengan citra satelit modis/seaWIFS dan dilakukan ground
check pada titik pengambilan sample yang lokasinya ditentukan berdasarkan
analisis citra satelit.

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

L.8-8

Lampiran 8. Contoh TOR RZWP-3-K


5). Ekosistem pesisir dan sumberdaya ikan
1. Ekosistem Pesisir
A. Terumbu Karang
Data dan informasi tentang terumbu karang yang dikumpulkan, yang meliputi :
sebaran, luasan, dan kondisi terumbu karang. Untuk mendeteksi keberadaan,
sebaran dan luasan terumbu karang dilakukan analisis citra satelit, dengan
resolusi minimal 20 x 20 m. Hasil analisis citra satelit digunakan untuk penentuan
lokasi sample, dengan jumlah sample 12 titik pengamatan. Berdasarkan
penentuan titik sample, dilakukan survey lapangan untuk mengetahui tutupan
dan kondisi terumbu karang.
B. Lamun
Data dan informasi tentang lamun yang dikumpulkan, meliputi : sebaran, luasan,
dan kondisi lamun. Jumlah sample 12 titik pengamatan. Berdasarkan penentuan
titik sample, dilakukan survey lapangan untuk mengetahui tutupan dan kondisi
lamun.
Identifikasi data lamun menggunakan metode penginderaan jauh (on screen
digitizing/transformasi Lyzenga dan survei lapangan dengan metode Transek
Kuadrat. Pengukuran struktur komunitas padang lamun dilakukan melalui
Metode Transek Kuadrat yang dibentangkan secara tegak lurus terhadap garis
pantai. Metode ini digunakan untuk mengetahui komposisi spesies dan
persentase penutupan lamun. Petak pengamatan seluas 10 m x 10 m, pada
petakan tersebut diletakkan kuadrat ukuran 1 m x 1 m secara sejajar luas areal
pengamatan. Pengamatan didukung dengan kamera bawah air (underwater
camera) sesuai dengan ukuran yang ditetapkan. Hasil yang diperoleh dari
metode ini adalah persentase tutupan relatif
C. Mangrove
Data dan informasi tentang mangrove yang meliputi : sebaran, luasan, dan
kondisi (penutupan tajuk dan kerapatan pohon) mangrove. Untuk mendeteksi
keberadaan, sebaran dan luasan mangrove dilakukan analisis citra satelit,
dengan resolusi minimal 20 x 20 m. Hasil analisis citra satelit digunakan untuk
penentuan lokasi sample, dengan jumlah sample 12 titik pengamatan.
Berdasarkan penentuan titik sample, dilakukan survey lapangan untuk
mengetahui penutupan tajuk (%) dan kerapatan pohon (jumlah pohon per
hektare) dan kondisi mangrove.
Identifikasi data mangrove menggunakan metode penginderaan jauh (on screen
digitizing/transformasi Lyzenga dan survei lapangan dengan plot petak. Untuk
mengidentifikasi struktur komunitas mangrove, menggunakan plot/petak dengan
ukuran 10 x 10 meter yang diletakkan secara acak.
Dilakukan identifikasi jumlah individu setiap jenis, dan lingkaran batang setiap
pohon mangrove. Data-data mengenai spesies, jumlah individu dan diameter
pohon yang telah dicatat pada tabel Form Mangrove.
Berdasarkan data-data mangrove yang telah diidentifikasi di lapangan berupa
spesies, jumlah individu dan diameter pohon, dilakukan pengolahan lebih lanjut
untuk memperoleh kerapatan jenis, frekuensi jenis, luas area penutupan, dan
nilai penting jenis suatu spesies dan keanekaragaman spesies.
2.

Sumberdaya ikan
A. Ikan Demersal
Data dan informasi yang dikumpulkan yaitu jenis dan kelimpahan ikan
demersal, diperoleh dari hasil survey lapangan. Survey lapangan dilakukan
bersamaan dengan survey ekosistem (terumbu karang,lamun, dan mangrove),
untuk memperoleh jenis, kelimpahan, keanekaragaman, keseragaman,
dominansi ikan demersal, dan makrobentos.

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

L.8-9

Lampiran 8. Contoh TOR RZWP-3-K


Untuk mendeteksi digunakan metode analisis GIS dengan pendekatan
ekosistem perairan. Beberapa parameter yang digunakan yaitu sebaran dan
kualitas terumbu karang, padang lamun, mangrove, kedalaman perairan,
topografi perairan, kecerahan, perubahan cuaca dan pencemaran.
Pengolahan dan analisis data dilakukan dengan metode overlay dan skoring
parameter-parameter sebaran dan kualitas terumbu karang, padang lamun,
mangrove, kedalaman perairan, topografi perairan, kecerahan, perubahan
cuaca dan pencemaran.
B.

C.

Ikan Pelagis
Data dan informasi yang dikumpulkan, meliputi : lokasi, keberadaan, jenis dan
kelimpahan ikan pelagis. Untuk mendeteksi keberadaan ikan pelagis dilakukan
analisis citra satelit, dengan resolusi minimal 20 x 20 m terhadap kedalaman,
klorofil, TSS, suhu permukaan laut, serta dikombinasikan dengan pola arus dari
hasil simulasi model hidrodinamika. Hasil analisis citra satelit digunakan untuk
penentuan lokasi ground check untuk mengetahui jenis dan kelimpahan ikan,
dengan jumlah sample 10 titik pengamatan.
Jenis Ikan yang dilindungi
Ddata dan informasi jenis ikan yang dilindungi dikumpulkan bersamaan dengan
survei ikan pelagis dan ikan demersal.

6). Pemanfaatan ruang laut (Marine use)


Data dan informasi yang dikumpulkan, meliputi : area pertambangan, konservasi(Daerah
yang dapat dimanfaatkan) yang sudah ditetapkan, Pariwisata, BMKT, Tambat Labuh,
Rig, Floating Unit, Bangunan perikanan permanen (KJA, Seabed,dll), Area penangkapan
ikan modern dan tradisional, udidaya laut: rumput laut, mutiara. Untuk mendeteksi lokasi
pemanfaatan wilayah laut yang ada dilakukan analisis citra satelit google pro dengan
resolusi minimal 1 m dan data sekunder pemanfaatan wilayah laut. Hasil analisis citra
satelit google pro digunakan untuk ground check untuk mengetahui jenis pemanfaatan
wilayah laut yang ada.
7). Infrastruktur
Data dan informasi yang dikumpulkan, meliputi : Bandara, terminal, pasar umum,
pelabuhan umum, kawasan industri, kantor pemerintah, sekolah, rumah
sakit/puskesmas, bangunan wisata/sejarah. Infrastruktur khusus, misalnya : Pasar ikan,
KUD, Balai Benih Ikan (BBI), Pelabuhan perikanan, Tempat Pelelangan Ikan, Gudang
penyimpanan, Bangunan perlindungan pesisir (jeti, penahan gelombang). Jaringan
sarana prasarana, misalnya : transportasi, sumberdaya air, energi, telekomunikasi,
persampahan, sanitasi, drainase. Untuk mendeteksi keberadaan infrastruktur di atas
dilakukan analisis citra satelit google pro. Untuk mendeteksi lokasi dan sebarannya
dilakukan ground check dengan menggunakan GPS.
9). Sumberdaya air
Sumberdaya air di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil menggambarkan informasi
mengenai potensi air alami yang ada di wilayah daratan pesisir dan pulau-pulau kecil.
Pendekatan yang digunakan untuk memperoleh data sumberdaya air :
Identifikasi batas DAS dari data sekunder yang sudah ada di instansi terkait.
Perhitungan cadangan air permukaan : untuk daerah aliran sungai yang telah
dilakukan pengukuran debitnya agar menggunakan data hasil pengukuran debit
sungai pada DAS tersebut.
Perhitungan cadangan air bawah tanah ada beberapa pendekatan: perhitungan
cadangan air bawah tanah diperlukan data tebal akifer, sebaran akuifer dan
transmisibilitas akuifer baik akuifer tidak tertekan maupun tertekan.
10). Demografi dan sosial
Data dan informasi yang dikumpulkan, meliputi
a) Demografi, meliputi : jumlah penduduk, gender, tenaga kerja, jumlah nelayan dan
pembudidaya ikan, mata pencaharian, pendidikan

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

L.8-10

Lampiran 8. Contoh TOR RZWP-3-K


b) Sosial, meliputi : wilayah masyarakat hukum adat (lokasi, batas dan karakteristik),
wilayah penangkapan ikan secara tradisional (lokasi, batas, dan karakteristik),
kelembagaan
c) Budaya, meliputi : kondisi dan karakteristik masyarakat setempat termasuk agama,
tempat suci dan kegiatan peribadatannya, aktifitas/ritual keagamaan, kearifan lokal,
situs cagar budaya dll.
Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara terstruktur maupun wawancara
mendalam, observasi (pengamatan langsung) dan diskusi dengan kelompok-kelompok
masyarakat (Focus Group Discussion).
11). Ekonomi wilayah
Data dan informasi yang dikumpulkan, meliputi : Pendapatan perkapita, Pola pergerakan
ekonomi wilayah, Angkatan kerja dan tingkat pengangguran, Tenaga kerja, Pendapatan
di sektor perikanan, Produksi perikanan, Pendapatan rata-rata dan pengeluaran,
komoditas unggulan, dll. Pengumpulan data dan informasi dilakukan dengan cara
wawancara terstruktur maupun wawancara mendalam, observasi (pengamatan
langsung) dan diskusi dengan kelompok-kelompok masyarakat (Focus Group
Discussion).
12). Risiko Bencana dan Pencemaran
Data dan informasi yang dikumpulkan, meliputi : resiko bencana (jenis, lokasi, batas,
riwayat kebencanan, tingkat kerusakan, kerugian) dan pencemaran (sumber
pencemaran). Untuk mendeteksi resiko bencana dan pencemaran dilakukan ground
check dengan menggunakan GPS dan wawancara.
8.5. Analisis Data dan Penyusunan Peta-Peta Tematik
1) Bathimetri
Hasil pengukuran bathimetri diolah dengan menggunakan software surfer atau
sejenisnya dengan cara interpolasi terhadap titik-titik kedalaman yang telah diukur di
lapangan. Titik-titik lokasi yang memiliki informasi kedalaman kemudian diinterpolasi
menghasilkan peta kedalaman (isobath) perairan. Peta bathimetri skala 1: 50.000
digambar dengan interval 0;2;5;10;15;20;30;50;70;100.
2) Oseanografi
1. Fisika Perairan
a) Arus, gelombang, dan Pasut
a. Arus
Hasil pengukuran digambarkan dalam scatter diagram, vektor plot,
current rose (mawar arus). Untuk distribusi spasial pola arus untuk tiap
500 m disimulasikan dengan model hidrodinamika pola arus dengan grid
maksimal 500 x 500 m, dan dikalibrasi dengan hasil pengukuran. Peta
arus skala 1:50.000, digambar dalam bentuk kontur isoline dengan
interval per 0,05 m/detik.
b. Gelombang
Gelombang diprediksi dari data angin dengan mempertimbangkan
panjang fetch, kecepatan dan arah angin. Distribusi spasial tinggi dan
arah gelombang setiap 500m disimulasikan dengan model refraksi
gelombang. Peta tinggi gelombang skala 1:50.000 digambarkan dalam
bentuk kontur isoline per 0,1 m.
c. Pasang Surut
Penyedia jasa harus memplot hasil pengukuran pasang surut untuk
mengetahui tinggi elevasi muka air pasang surut terhadap waktu
pengukuran. Kemudian diolah dengan analisis harmonic pasang surut
dengan menggunakan metode admiralty untuk mengetahui komponen
pasang surut sehingga dapat diketahui tipe pasang surut serta
karakteristik pasang surut lainnya.
b) Suhu
Suhu yang telah diperoleh dari hasil interpretasi citra yang telah di lakukan
groundcheck, penyedia jasa harus menuangkan dalam peta suhu skala

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

L.8-11

Lampiran 8. Contoh TOR RZWP-3-K

c)

d)

1:50.000, dan digambar dalam bentuk kontur isoline dengan interval per 1
(C).
Kecerahan
Data kecerahan yang telah diperoleh dari hasil pengukuran dituangkan dalam
peta kecerahan skala 1:50.000 dan digambarkan dalam bentuk kontur isoline
dengan interval per 1 meter
TSS
Sampel TSS yang diambil dianalisis di laboratorium dan dilakukan interpolasi
sehingga menghasilkan Peta TSS skala 1:50.000 dan digambar dalam
bentuk kontur isoline.

2. Kimia dan Biologi Perairan


a) pH dan salinitas
Peta pH digambar dalam bentuk kontur isoline dengan interval per 0,5. Peta
Salinitas digambar dalam bentuk kontur isoline dengan interval per 1 o/oo.
b) COD, BOD dan amonia
Peta COD, BOD, Amonia digambar pada skala 1:50.000. Peta COD dan BOD
digambar dengan bentuk kontur isoline dengan selang 0,4 mg/l. Peta Amonia
digambar dalam bentuk kontur isoline dengan selang 0,1 mg/l.
c) Klorofil
Peta klorofil skala 1:50.000, digambar dalam bentuk kontur isoline dengan interval
per 0,1 mg/m3.
3) Ekosistem Pesisir
Ekosistem pesisir dianalisis untuk mengetahui sebaran, luasan dan kondisinya. Hasil
analisis ditampilkan pada peta ekosistem pesisir skala 1:50.000 dalam bentuk polygon
dan kondisi dalam bentuk pie chart.
4) Sumberdaya Ikan
a) Sumberdaya ikan demersal
Hasil survey Sumberdaya ikan demersal dianalisis untuk mengetahui jenis,
kelimpahan, keanekaragaman, keseragaman, dominansi ikan demersal, dan
makrobentos. hasil analisis sumberdaya ikan demersal ditampilkan pada Peta
sumberdaya ikan demersal skala 1:50.000 digambar dalam bentuk pie chart dengan
informasi dasar ekosistem pesisir.
b) Sumberdaya ikan pelagis
Hasil survey sumberdaya ikan pelagis dianalisis untuk mengetahui lokasi,
keberadaan, jenis dan kelimpahan ikan pelagis. hasil analisis ditampilkan pada
Peta sumberdaya ikan pelagis skala 1:50.000 digambar dalam bentuk polygon, dan
jenis serta kelimpahan ikan dalam bentuk pie chart dengan informasi dasar lokasi
fishing ground.
c) Ikan yang dilindungi
Hasil survey sumberdaya ikan yang dilindungi dianalisis untuk mengetahui lokasi,
keberadaan, jenis dan kelimpahan ikan yang dilindungi. hasil analisis ditampilkan
pada Peta sumberdaya ikan yang dilindungi skala 1:50.000 digambar dalam bentuk
polygon, dan jenis serta kelimpahan ikan dalam bentuk pie chart
5) Pemanfaatan Wilayah Laut Eksisting
Hasil survey pemanfaatan wilayah laut dituangkan pada Peta pemanfaatan wilayah laut
skala 1:50.000 dalam bentuk polygon dan point.
6) Substrat Dasar Laut
Hasil pengambilan sample substrat dasar laut dianalisis di laboratorium untuk
mengetahui persentase ukuran butir dan jenis substrat. Hasil survey substrat dasar laut
dituangkan pada Peta Substrat Dasar Laut skala 1:50.000 dalam bentuk polygon.
7) Infrastruktur
Hasil survey infrastruktur dituangkan pada peta infrastruktur skala 1:50.000 dalam
bentuk point.

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

L.8-12

Lampiran 8. Contoh TOR RZWP-3-K

8) Demografi dan Sosial


Data demografi dan sosial dituangkan pada peta demografi dan sosial skala 1:50.000
dalam bentuk point/polygon disertai informasi yang disajikan dalam bentuk
diagram/tabel/pie chart.
9) Ekonomi Wilayah
Data ekonomi wilayah dituangkan pada peta ekonomi wilayah skala 1:50.000 dalam
bentuk point/polygon disertai informasi yang disajikan dalam bentuk diagram/tabel/pie
chart.
10) Resiko Bencana dan Pencemaran
Data resiko bencana (jenis, lokasi, batas, riwayat kebencanan, tingkat kerusakan,
kerugian) dan pencemaran (lokasi dan sumber pencemaran) dituangkan pada peta
resiko bencana dan pencemaran skala 1:50.000 dalam bentuk polygon/point.
8.6. Penyusunan Dokumen Awal
Dokumen Awal memuat : 1). Pendahuluan (Dasar Hukum Penyusunan RZWP3K, Profil
Wilayah, Isu-isu Strategis Wilayah, Peta-peta yang minimal mencakup peta orientasi
wilayah), 2). Tujuan, Kebijakan, dan Strategi Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau
Kecil, dan 3) Album Peta Tematik.
Album Peta Tematik disesuaikan dengan Pedoman Teknis Pemetaan RZWP3K, yang
terdiri atas :
1) Peta Wilayah Perencanaan WP3K Kabupaten/Kota
2) Peta Rencana Struktur dan Pola Ruang Wilayah dari RTRW Provinsi
3) Peta Rencana Struktur dan Pola Ruang Wilayah dari RTRW Kabupaten/Kota
4) Peta Topografi
5) Peta Kemiringan Lereng
6) Peta Tanah
7) Peta Bathimetri
8) Peta Geologi Laut
9) Peta Geomorfologi Laut
10) Peta Arus
11) Peta Gelombang
12) Peta Suhu Permukaan Laut (SPL)
13) Peta Kecerahan
14) Peta pH
15) Peta Salinitas
16) Peta Sebaran Klorofil
17) Peta Sosial Ekonomi dan budaya
a. Peta ekonomi wilayah
b. Peta Wilayah masyarakat Hukum Adat
c. Peta Wilayah penangkapan ikan secara tradisional
18) Peta Penggunaan Lahan Eksisting (RTRW)
19) Peta Pemanfaatan Perairan (Eksisting)
a. Peta Perikanan Budidaya
b. Peta perikanan tangkap (Fishing ground)
c. Peta Pelabuhan
d. Peta Pariwisata
e. Peta Alur pelayaran
20) Peta ekosistem pesisir dan kelimpahan sumberdaya ikan
a. Peta sebaran ekosistem pesisir (terumbu karang, mangrove dan lamun)
b. Peta kelimpahan sumberdaya ikan
21) Peta Status (kepemilikan) lahan
22) Peta Sumber daya air
23) Peta Infrastruktur (RTRW)
a. Peta Jaringan jalan
b. Peta transportasi laut
c. Peta jaringan Listrik
d. Peta Jaringan Telekomunikasi

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

L.8-13

Lampiran 8. Contoh TOR RZWP-3-K


e. Peta Jaringan Air Bersih
24) Peta Demografi
a. Peta Jumlah Penduduk
b. Peta Kepadatan Penduduk
c. Peta Proyeksi Pertumbuhan Penduduk
d. Peta Mata Pencaharian Penduduk
25) Peta Resiko bencana dan pencemaran
a. Peta resiko bencana (jenis dan lokasi bencana)
b. Peta pencemaran (lokasi dan sumber pencemaran)
8.7. Konsultasi Publik I
Konsultasi publik dilakukan kepada POKJA dan masyarakat sebanyak 40 orang di
Kabupaten/Kota, yang terdiri atas : Pusat (KKP), Provinsi (Bappeda, DKP Provinsi),
Kabupaten (Bappeda, DKP Kabupaten, Dinas Pariwisata, Dinas Kehutanan, Dinas
Perhubungan, BLHD, Dinas PU, Dinas Pertambangan, BPBD, BPN, Administrasi
Pelabuhan, Perguruan Tinggi, HNSI, LSM, Camat Pesisir, Polairud, TNI AL, DPRD, Bagian
Hukum Sekda, Tokoh Adat) untuk memberikan masukan dan saran terhadap Tujuan,
Sasaran, kebijakan, dan Strategi Pengelolaan WP-3-K, disamping itu Konsultasi Publik I
dimaksudkan untuk memperoleh masukan dan saran serta memverifikasi data dan/atau
peta-peta tematik serta informasi. Hasil konsultasi publik dituangkan ke dalam Berita Acara,
dilengkapi dengan notulensi, daftar hadir, dan dokumentasi.
8.8. Penyusunan Paket Sumberdaya
Berdasarkan peta dasar dan peta tematik yang telah disusun, selanjutnya dilakukan analisis
paket sumberdaya, yang berisi informasi mengenai karakteristik perairan yang merupakan
kombinasi dari berbagai parameter yang ada. Hasil analisis paket sumberdaya dituangkan
ke dalam peta paket sumberdaya. Berdasarkan Peta Paket Sumberdaya dilakukan
pendeskripsian nilai-nilai sumberdaya.
8.9. Analisis Kesesuaian Perairan
Selain menggunakan paket sumbedaya, dapat juga dilakukan analisis kesesuaian perairan
dengan menggunakan kriteria-kriteria untuk menentukan kesesuaian kawasan/zona/sub
zona.
8.10. Analisis Non Sasial
Selanjutnya dilakukan analisis non spasial yang meliputi :
a) Analisis Kebijakan dan Kewilayahan
b) Analisis Sosial dan Budaya
c) Analisis Infrastruktur
d) Analisis Ekonomi Wilayah
e) Analisis Daya Dukung Wilayah
Hasil analisis non spasial diformulasikan untuk menyempurnakan usulan peta alokasi ruang.
8.11. Analisis Konflik Pemanfaatan Ruang
Analisis konflik pemanfaatan ruang dilakukan baik di wilayah perairan maupun
penyelarasannya dengan struktur ruang dan pola ruang di darat. Analisis konflik
pemanfaatan ruang di perairan dilakukan terhadap potensi penggunaan ruang perairan
secara tiga dimensi (horizontal dan vertikal). Dalam analisis tersebut, perlu diikuti dengan
alternatif penyelesaian konflik (resolusi konflik).
8.12. Penentuan Alokasi Ruang
Hasil akhir keseluruhan proses dituangkan ke dalam Draft peta RZWP3K berupa rumusan
alokasi ruang kawasan/zona/subzona.
8.13. Penyusunan Peraturan Pemanfaatan Ruang
Penyusunan draft ketentuan-ketentuan mengenai kriteria dan persyaratan dalam
pemanfaatan ruang untuk setiap zona/sub zona yang akan menjadi muatan peraturan
pemanfaatan ruang.

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

L.8-14

Lampiran 8. Contoh TOR RZWP-3-K

8.14. Penyusunan Indikasi Program


Penyusunan desain/rancangan rangkaian program pemanfaaatan ruang jangka panjang
(20 tahun) yang tersusun ke dalam tahapan jangka menengah dan institusi yang menjadi
leading sector. Dalam desain program tersebut, termasuk mencantumkan lokasi dan
sumber pendanaan program serta indikasi program utama/prioritasi program.
8.15. Penyusunan Ranperda
Penyusunan naskah Rancangan Perda RZWP-3-K Kabupaten/Kota yang terdiri atas:
1. Ranperda, yang merupakan rumusan pasal per pasal dari Dokumen Final yang
disajikan dalam bentuk A4.
2. Lampiran, yang terdiri atas peta rencana alokasi ruang yang disajikan dalam bentuk
A3, serta tabel indikasi program.
8.16. Penyusunan Dokumen Antara
Penyusunan Dokumen Antara, yang memuat Dokumen Awal yang telah
dikonsultasipublikkan ditambah dengan penetapan alokasi ruang wilayah pesisir dan
pulau-pulau kecil, hasil analisis paket sumberdaya dan kesesuaian perairan, dan telah
dioverlay dengan analisis non spasial dan telah dilakukan penyelarasan, Penyerasian dan
Penyeimbangan antara RZWP-3-K dengan RTRW dilengkapi dengan Peta-peta tematik
dan Draft Peta Rencana Zonasi.
Sistematika Dokumen Antara, meliputi : 1). Pendahuluan (Dasar Hukum Penyusunan
RZWP-3-K, Profil Wilayah, Isu-isu Strategis Wilayah, Peta-peta yang minimal mencakup
peta orientasi wilayah), 2). Tujuan, Kebijakan, dan Strategi Pengelolaan Wilayah Pesisir
dan Pulau-Pulau Kecil Kabupaten/Kota, 3) Draft RZWP-3-K, 4). Peraturan Pemanfaatan
Ruang, 5). Indikasi Program, dan 6). Album Peta Tematik.
8.17. Konsultasi Publik II
Konsultasi publik dilakukan kepada POKJA dan masyarakat sebanyak 40 orang di
Kabupaten/Kota, yang terdiri atas : Pusat (KKP), Provinsi (Bappeda, DKP Provinsi),
Kabupaten/Kota (Bappeda, DKP Kabupaten, Dinas Pariwisata, Dinas Kehutanan, Dinas
Perhubungan, BLHD, Dinas PU, Dinas Pertambangan, BPBD, BPN, Administrasi
Pelabuhan, Perguruan Tinggi, HNSI, LSM, Camat Pesisir, Polairud, TNI AL, DPRD,
Bagian Hukum Sekda, Tokoh Adat), untuk menjaring masukan terhadap usulan peta
alokasi ruang. Hasil konsultasi publik dituangkan ke dalam Berita Acara, dilengkapi
dengan notulensi, daftar hadir, dan dokumentasi.
8.18. Penyusunan Dokumen Final
Dokumen Final merupakan perbaikan terhadap Dokumen Antara yang telah
dikonsultasipublikkan, dengan sistematika : 1). Pendahuluan (Dasar Hukum Penyusunan
RZWP3K, Profil Wilayah, Isu-isu Strategis Wilayah, Peta-peta yang minimal mencakup
peta orientasi wilayah), 2). Tujuan, Kebijakan, dan Strategi Pengelolaan Wilayah Pesisir
dan Pulau-Pulau Kecil Kabupaten/Kota, 3) Rencana Alokasi Ruang, 4). Peraturan
Pemanfaatan Ruang, 5). Indikasi Program, dan 6). Album Peta Tematik dan Album Peta
RZWP-3-K. Dokumen Final tersebut dilengkapi dengan Draft Ranperda RZWP-3-K.
9.

Keluaran
Keluaran (output) kegiatan Rencana Zonasi WP3K Kabupaten/Kota (contoh sampai dengan
tahap Dokumen Final), antara lain :
1. Laporan Pendahuluan
2. Laporan Antara
3. Draft Laporan Akhir
4. Laporan Akhir
5. Dokumen Awal RZWP-3-K
6. Dokumen Antara RZWP-3-K
7. Dokumen Final RZWP-3-K
8. Album peta
9. Draft Ranperda RZWP-3-K
10. DVD Softcopy seluruh Laporan dan Dokumen

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

L.8-15

Lampiran 8. Contoh TOR RZWP-3-K


(Disesuaikan dengan fokus pekerjaan, apakah sampai dengan tahap dokumen awal, dokumen
antara, atau dokumen final.)
10. Standar Teknis
Sandar teknis Pelaporan dan Peta adalah sebagai berikut :
1) Format Laporan

Kertas (HVS, A4, 80 gram)

Tulisan (huruf standar, 1,5 spasi)

Sampul/cover (Hard cover, laminating, biru muda)


2) Format Peta
(1) Peta disajikan berdasarkan hasil interpertasi citra, ground check dan analisis potensi
wilayah.
(2) Peta-peta yang disajikan meliputi:
Peta Hasil Interpretasi Citra, skala sesuai sumber citra.
Peta-peta Tematik, skala sesuai sumbernya.
Peta Kerja / Peta Analisis, skala 1:50.000
Draft peta dibuat dengan sistim referensi geografis grid UTM (Universal
Tranverse Mercartor) dan sistem proyeksi WGS 84.
(3) Untuk Hardcopy keseluruhan peta tersebut dalam laporan, Dokumen Awal dan Album
peta dapat disajikan dalam bentuk perkecilan optis sampai batas ukuran / format yang
masih dapat dibaca dan diterima dari segi estetika (ukuran A3, kertas 100 gr).
(4) Untuk Softcopy keseluruhan laporan dan peta tersebut meliputi:
Laporan Pendahuluan, Laporan Antara, Draft Laporan Akhir, Laporan Akhir,
Dokumen Awal, Dokumen Antara, dan Dokumen Final dalam bentuk MsWord dan
(.pdf)
Peta Dasar dan Peta Tematik dalam bentuk digital dalam format shape file (*.shp)
dan disusun dalam bentuk geodatabase (*.gdb).
Citra Satelit dalam bentuk raw data dan header citra dasar serta sudah terkoreksi
secara geometrik dan radiometrik. Citra satelit yang digunakan memiliki resolusi
spasial 10 x 10 m dan minimal perekaman tahun 2009.
Album Peta dibuat dalam skala 1:50.000.
Softcopy tersebut disimpan dalam Digital Video Disk (DVD)
11.

Personil
(Kebutuhan tenaga ahli dan tenaga pendukung disesuaikan dengan fokus pekerjaan dan
anggaran yang tersedia)
11.1. Kebutuhan Tenaga Ahli
Tabel 1. Tenaga Ahli dan Tenaga Pendukung

No

Klasifikasi Tenaga Ahli

Tenaga Ahli
1
Ahli Pengelolaan Sumberdaya
Pesisir (Team Leader)
2
Ahli Pengelolaan Sumberdaya
Pesisir
3

Ahli Perencanaan Wilayah

Ahli Geografi (Sistem


Informasi Geografi) dan
Penginderaan Jauh
Ahli Kelautan/Ahli
Oseanografi

Kualifikasi/Jumlah

Pengalaman

S2 Manajemen Sumberdaya Perairan (1


orang)
S1 Manajemen Sumberdaya Perairan/ S2
Manajemen Sumberdaya Perairan
(1 orang)
S1 Planologi, S1 Pengambangan
Wilayah/S2 Planologi, S2 Perencanaan
Wilayah (1 orang)
S1 Geografi/ S2 Geografi (1 orang)

5 Tahun

S1 Kelautan,S1 Oseanografi,S1 Sipil


Hidro / S2 Kelautan,S2 Oseanografi,S2
Sipil Hidro
(1 orang)

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

5 Tahun / 3 Tahun

5 Tahun / 3 Tahun

5 Tahun / 3 Tahun

5 Tahun / 3 Tahun

L.8-16

Lampiran 8. Contoh TOR RZWP-3-K


6

Ahli Perikanan

Ahli Sosial Ekonomi

Ahli Geologi dan Geomorfologi


Laut

Ahli Permodelan
Hidrodinamika

10

Ahli Hidrografer

S1 Perikanan/ S2 Perikanan (1 orang)

5 Tahun / 3 Tahun

S1 Sosial Ekonomi/ S2 Sosial Ekonomi (1


orang)

5 Tahun / 3 Tahun

S1 Geologi, S1 Teknik Geologi, S1


Geografi/ S2 Geologi, S2 Teknik
Geologi, S2 Geografi
(1 orang)
S1 Oseanografi,S1 Teknik Kelautan,S1
Teknik Sipil / S2 Oseanografi,S2
Teknik Kelautan,S2 Teknik Sipil (1
orang)
S1 Kelautan,S1 Oseanografi,S1 Sipil
Hidro / S2 Kelautan,S2 Oseanografi,S2
Sipil Hidro
(1 orang)

5 Tahun / 3 Tahun

Tenaga Pendukung
1
Tenaga Selam Perikanan
2
3

Teknisi Oseanografi
Tenaga Survei Sosial Ekonomi

Tenaga Survei ekosistem


pesisir dan pulau-pulau kecil
Tenaga Survei Geologi dan
Geomorfologi Laut
Operator GIS dan Remote
Sensing

5
6

7
8

Operator Komputer
Kartografer

CAD Drafter

11.2.

5 Tahun / 3 Tahun

5 Tahun / 3 Tahun

Sertifikat B1 (1 orang)

3 Tahun

S1 Oseanografi/ (3 orang)
S1 Sosial Ekonomi Perikanan
(1 orang)
S1 Perikanan (1 orang)

2 Tahun
2 Tahun

S1 Geologi/ S1 Geografi
(1orang)
S1 Geografi/S1 Geodesi/S1 Kelautan
(1 orang)

2 Tahun

D3 Komputer (1 orang)
S1 Geografi / S1 Geodesi/ S1 Kelautan/
S1 Planologi (10 orang)
S1 Oseanografi / S1 Kelautan / S1 Teknik
Sipil

2 Tahun
2 Tahun

2 Tahun

2 Tahun

2 Tahun

Kualifikasi Personil
Kualifikasi personil untuk pekerjaan ini adalah sebagai berikut :
11.2.1. Tenaga Ahli
1) Ahli Pengelolaan Sumberdaya Pesisir (Team Leader)
Tugas dan Tanggung Jawab :
a. mengkoordinasikan pelaksanaan pekerjaan
b. menyusun langkah-langkah pelaksanaan kegiatan perencanaan yang dilakukan
seluruh bidang keahlian.
c. melaksanakan pembahasan laporan pendahuluan, draft laporan akhir, dan
laporan akhir di pusat
d. Melakukan asistensi dengan pemberi pekerjaan dalam rangka pelaksanaan
pekerjaan di pusat
e. memimpin pelaksanaan survei lapangan dan pembahasan di daerah.
f.
menyiapkan kerangka model proses perencanaan pengelolaan WP3K.
g. melakukan analisis hubungan antara kesesuaian peruntukan dengan aspekaspek non-spasial untuk mewujudkan alokasi ruang WP3K.
h. menyusun indikasi program
i.
melakukan pengendalian atas pelaksanaan kegiatan masing-masing bidang
keahlian.
2) Ahli Pengelolaan Sumberdaya Pesisir
Tugas dan Tanggung Jawab :
a. membantu Team Leader dalam memformulasikan tujuan, kebijakan, sasaran,
dan strategi pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

L.8-17

Lampiran 8. Contoh TOR RZWP-3-K


b.
c.

mengumpulkan data lintas sektor terkait tentang kebijakan pengelolaan wilayah


pesisir dan pulau-pulau kecil.
melakukan FGD dalam rangka perumusan tujuan, kebijakan, sasaran, dan
strategi pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.

3) Ahli Perencanaan Wilayah


Tugas dan Tanggung Jawab :
a. membantu Team Leader dalam menyusun konsep, analisis, dan perencanaan
pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.
b. mengumpulkan data lintas sektor terkait tentang kebijakan pengelolaan wilayah
pesisir dan pulau-pulau kecil.
4) Ahli Sistem Informasi Geografis.
Tugas dan Tanggung Jawab :
a. membantu Team Leader dalam analisis GIS untuk penyusunan Rencana Zonasi
WP-3-K
b. melakukan proses pengolahan citra (koreksi dan interpretasi)
c. menyiapkan peta kerja sebagai acuan untuk survei lapangan
d. melakukan survei lapangan berupa ground check hasil interpretasi citra, plotting
posisi pemanfaatan perairan laut yang sudah ada (eksisting) dan infrastruktur
e. melakukan analisis data hasil survei lapangan
f.
menyiapkan peta-peta tematik hasil survei lapangan masing-masing bidang
keahlian sesuai dengan kaidah one map policy.
g. melakukan analisis paket sumberdaya
h. melakukan analisis kesesuaian peruntukan perairan
i.
menuangkan hasil analisis spasial dan non spasial untuk menentukan alokasi
ruang
j.
menyiapkan peta rencana zonasi.
k. Menyusun database manajemen sistem sesuai standar Pedoman Pemetaan
RZWP3K
l.
melaksanakan pertemuan-pertemuan dengan penyedia pekerjaan, pada saat
pembahasan laporan pendahuluan, laporan antara, dan draft laporan akhir, serta
asistensi
m. mengikuti pelaksanaan survei lapangan, pembahasan dan konsultasi publik di
daerah
5) Ahli Kelautan/Ahli Oseanografi
Tugas dan tanggung jawab :
a. membantu Team Leader dalam analisis oseanografi untuk penyusunan Rencana
Zonasi WP-3-K
b. menelaah data-data sekunder terkait oseanografi, meliputi : arus, gelombang,
pasang surut, suhu, kecerahan, pH, salinitas, COD, BOD, amonia, klorofil,
c. melakukan survei lapangan terkait oseanografi
d. melakukan pengolahan data hasil survei terkait oseanografi
e. menyiapkan hasil analisis dalam bentuk numerik, tubular, dan sebaran (spasial)
f.
memberi masukan penyiapan peta-peta tematik hasil survei lapangan terkait
oseanografi.
g. melaksanakan pertemuan-pertemuan dengan penyedia pekerjaan, pada saat
pembahasan laporan pendahuluan, laporan antara, dan draft laporan akhir, serta
asistensi
h. mengikuti pelaksanaan survei lapangan, pembahasan dan konsultasi publik di
daerah
6) Ahli Perikanan
Tugas dan tanggung jawab :
a. membantu Team Leader dalam analisis perikanan untuk penyusunan Rencana
Zonasi WP-3-K
b. menelaah data-data sekunder terkait perikanan, meliputi : produksi perikanan,
pengolahan hasil perikanan, konsumsi perikanan, distribusi perikanan, tata niaga
hasil perikanan, sumberdaya ikan (pelagis, demersal), fishing ground,

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

L.8-18

Lampiran 8. Contoh TOR RZWP-3-K

c.
d.
e.
f.
g.
h.

kelimpahan ikan, ekosistem pesisir (terumbu karang, mangrove, lamun), sarana


dan prasarana perikanan, sosial ekonomi perikanan,
melakukan survei lapangan terkait perikanan
melakukan pengolahan data hasil survei terkait perikanan
menyiapkan hasil analisis dalam bentuk numerik, tubular, dan sebaran (spasial)
memberi masukan penyiapan peta-peta tematik hasil survei lapangan terkait
perikanan.
melaksanakan pertemuan-pertemuan dengan penyedia pekerjaan, pada saat
pembahasan laporan pendahuluan, laporan antara, dan draft laporan akhir, serta
asistensi
mengikuti pelaksanaan survei lapangan, pembahasan dan konsultasi publik di
daerah

7) Ahli Sosial Ekonomi


Tugas dan tanggung jawab :
a. membantu Team Leader dalam analisis sosial ekonomi untuk penyusunan
Rencana Zonasi WP-3-K
b. menelaah data-data sekunder terkait sosial ekonomi, yang meliputi :
- Demografi : jumlah penduduk, gender, tenaga kerja, jumlah nelayan dan
pembudidaya ikan, mata pencaharian, pendidikan
- Sosial : wilayah masyarakat hukum adat (lokasi, batas dan karakteristik),
wilayah penangkapan ikan secara tradisional (lokasi, batas, dan
karakteristik), kelembagaan
- Budaya : kondisi dan karakteristik masyarakat setempat termasuk agama,
tempat suci dan kegiatan peribadatannya, aktifitas/ritual keagamaan, kearifan
lokal, situs cagar budaya dll.
- Ekonomi : mata pencaharain, pendapatan perkapita, angkatan kerja dan
tingkat pengangguran, pendapatan kegiatan ekonomi perikanan dan
kelautan, produksi perikanan, pendapatan rata-rata dan pengeluaran,
komoditas unggulan, dll.
c. melakukan analisis lokasi optimum kegiatan kelautan dan perikanan
d. melakukan survei lapangan terkait sosial ekonomi
e. melakukan pengolahan data dan informasi hasil survei terkait sosial ekonomi
f.
menyiapkan hasil analisis dalam bentuk numerik, tubular, dan sebaran (spasial)
g. memberi masukan penyiapan peta-peta tematik hasil survei lapangan terkait
sosial ekonomi.
h. melaksanakan pertemuan-pertemuan dengan penyedia pekerjaan, pada saat
pembahasan laporan pendahuluan, laporan antara, dan draft laporan akhir, serta
asistensi
i.
mengikuti pelaksanaan survei lapangan, pembahasan dan konsultasi publik di
daerah
8) Ahli geologi dan geomorfologi laut
Tugas dan tanggung jawab:
a. membantu Team Leader dalam analisis geologi dan geomorfologi laut untuk
penyusunan Rencana Zonasi WP-3-K
b. menelaah data-data sekunder terkait geologi dan geomorfologi laut meliputi
substrat dasar laut, morfologi dasar laut, morfologi pantai.
c. melakukan survei lapangan terkait geologi dan geomorfologi laut meliputi
pengambilan sampel substrat dasar, observasi morfologi pantai.
d. melakukan pengolahan data terkait substrat dasar laut, morfologi dasar laut,
morfologi pantai.
e. memberi masukan penyiapan peta-peta tematik hasil survei lapangan terkait
geologi dan geomorfologi laut.
f.
melaksanakan pertemuan-pertemuan dengan penyedia pekerjaan, pada saat
pembahasan laporan pendahuluan, laporan antara, dan draft laporan akhir, serta
asistensi
g. mengikuti pelaksanaan survei lapangan, pembahasan dan konsultasi publik di
daerah

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

L.8-19

Lampiran 8. Contoh TOR RZWP-3-K

9) Ahli Permodelan Hidrodinamika


Tugas dan tanggung jawab:
a. melakukan permodelan hidrodinamika, yang meliputi : pola arus dan gelombang
untuk berbagai musim (musim barat, musim, timur, musin peralihan)
b. melaksanakan pertemuan-pertemuan dengan penyedia pekerjaan, pada saat
pembahasan laporan pendahuluan, laporan antara, dan draft laporan akhir, serta
asistensi
10) Ahli Hidrografer
Tugas dan tanggung jawab:
a. melakukan permodelan bathimetri
b. melaksanakan pertemuan-pertemuan dengan penyedia pekerjaan, pada saat
pembahasan laporan pendahuluan, laporan antara, dan draft laporan akhir, serta
asisten
11.2.2. Tenaga Pendukung
1) Tenaga Selam Perikanan
Tugas dan Tanggung Jawab :
a. Membantu Tenaga Ahli Perikanan dalam melakukan survey terumbu karang dan
sumberdaya ikan (ikan demersal)
b. Membantu menganalisis ekosistem pesisir
2) Teknisi Oseanografi
Tugas dan Tanggung Jawab :
a. Membantu Tenaga Ahli Oseanografi dalam melakukan pemasangan peralatan
dan pengukuran oseanografi
b. Membantu Tenaga Ahli Oseanografi dalam pencatatan dan analisis data
oseanografi
3) Tenaga Survei Sosial Ekonomi
Tugas dan Tanggung Jawab :
a. Membantu Tenaga Ahli Sosial Ekonomi dalam melakukan survey sosial ekonomi
4) Tenaga survei ekosistem pesisir dan pulau-pulau kecil
Tugas dan Tanggung Jawab :
a. Membantu Tenaga Ahli Perikanan dalam melakukan survey ekosistem pesisir
dan pulau-pulau kecil
5) Tenaga survei geologi dan geomorfologi laut
Tugas dan Tanggung Jawab :
a. Membantu Tenaga Ahli geologi dan geomorfologi laut dalam melakukan survey
geologi dan geomorfologi laut meliputi pengambilan sampel substrat dasar,
observasi morfologi pantai.
6) Operator GIS dan Remote Sensing
Tugas dan Tanggung Jawab :
a. Membantu proses pemasukan data digital spasial;
b. Membantu menyusun peta-peta tematik;
c. Membantu menginterpretasi citra;
d. Membantu menyusun database manajemen sistem sesuai standar Pedoman
Pemetaan RZWP3K;
7) Operator Komputer
Tugas dan Tanggung Jawab :
a. Membantu proses pemasukan data digital;
b. Membantu menyusun dokumen laporan;
c. Membantu dalam bidang administrasi kegiatan, surat menyurat dan lain-lain.
8) Kartografer
Tugas dan Tanggung Jawab :
a. Membantu Tenaga Ahli GIS dalam menyiapkan format standar (layout) peta
tematik maupun peta Rencana Zonasi
b. Membantu Tenaga Ahli GIS dalam menuangkan data dan informasi, serta
rencana ke dalam peta yang sesuai dengan kaidah-kaidah kartografi
9) CAD Drafter

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

L.8-20

Lampiran 8. Contoh TOR RZWP-3-K


Tugas dan Tanggung Jawab :
a. Membantu Tenaga Ahli Hidrografer dalam menuangkan data dan informasi
terkait dengan bathimetri
12.

Jangka Waktu Penyediaan Kegiatan


(Jangka waktu pelaksanaan kegiatan Penyusunan RZWP-3-K disesuaikan dengan fokus
pekerjaan dan anggaran yang tersedia)

Tabel 2. Jadwal Pelaksanaan Kegiatan


No.
1

2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15

16

Kegiatan

Bulan
6
7 8

10

11

Persiapan
a. Penyiapan personil dalam tim kerja (tenaga ahli dan
tenaga pendukung sesuai dengan tata laksana personil
b. Penyiapan administrasi
c. Studi literatur sebagai awal atau referensi untuk
pelaksanaan kegiatan
d. Penyusunan rencana kerja
Pengumpulan Data Sekunder
Perumusan Tujuan, Sasaran, Kebijakan, dan Strategi
Survey lapangan
Analisis Data dan Penyusunan Peta-Peta Tematik
Penyusunan dokumen awal
Konsultasi Publik I
Analisis Paket Sumberdaya
Analisis Kesesuaian
Analisis Non Spasial
Penetapan Alokasi Ruang
Penyusunan Dokumen Antara
Konsultasi Publik II
Penyusunan Dokumen Final dan Ranperda
Penyusunan Laporan
- Penyusunan laporan Pendahuluan
- Penyusunan Laporan Antara
- Penyusunan Draft Laporan Akhir
- Penyusunan Laporan Akhir
Pembahasan Laporan
1) pembahasan laporan di pusat
- inception meeting
- interim meeting
- draft final meeting
2) pembahasan laporan di daerah
- inception meeting
- interim meeting
- draft final meeting
13.

Kegiatan Pelaporan
13.1. Penyusunan Laporan Pendahuluan
Laporan pendahuluan memuat antara lain :
a) Pendahuluan
b) Tinjauan Kebijakan
c) Metodologi

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

L.8-21

12

Lampiran 8. Contoh TOR RZWP-3-K


d) Gambaran Umum
e) Rencana Pelaksanaan Kegiatan, yang memuat :
- rencana kerja rinci (termasuk rencana lokasi pengambilan titik sample dataset);
- rencana waktu pelaksanaan (dibuat per hari);
- rencana mobilisasi tenaga ahli dan peralatan survei;
13.2. Penyusunan Laporan Antara
Laporan Antara merupakan Laporan Pendahuluan yang telah diperbaiki berdasarkan
masukan dan informasi yang diperoleh dari berbagai pemangku kepentingan di pusat
dan di daerah ditambahkan hasil analisa yang diperoleh dari data primer dan sekunder.
13.3. Penyusunan Draft Laporan Akhir
Draft laporan akhir merupakan penyempurnaan Laporan Antara yang telah diberikan
masukan dan informasi dari berbagai pemangku kepentingan di pusat dan telah
dilakukan pembahasan di daerah. Dalam tahap ini dapat dilakukan proses pengolahan
data dan analisis kembali.
13.4. Penyusunan Laporan Akhir
Laporan akhir memuat laporan pekerjaan yang telah dilakukan dalam penyusunan
Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Laporan akhir memuat
Pendahuluan, Tinjauan Kebijakan, Metodologi, Gambaran Umum, dan Analisis.
Laporan Akhir disusun setelah Draft Laporan Akhir disepakati oleh semua pihak.

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

L.8-22

Lampiran 9. Contoh Komponen RAB (Rencana Anggaran Biaya) Penyusunan RZWP-3-K


RENCANA ANGGARAN BIAYA

Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K)


Kabupaten/Kota
Tahun Anggaran 2013
Kode

Tahapan Pelaksanaan dan Rincian Komponen Biaya

Volume

Satuan

12
4
8
6
4
4
4
4
4
8
4

OB
OB
OB
OB
OB
OB
OB
OB
OB
OB
OB

1
17
6
10
17
3
12
30
18
12
17
1

OH
OH
OH
OH
OH
OB
OB
OB
OH
OB
OH
OB

II
1)

Belanja Jasa Profesi


BIAYA LANGSUNG PERSONEL
- Tenaga Ahli
- Ahli Pengelolaan Sumberdaya Pesisir (Team Leader)
- Ahli Pengelolaan Sumberdaya Pesisir
- Ahli SIG / Geografi
- Ahli Oseanografi/Ahli Kelautan
- Ahli Perikanan/Ahli Ekosistem Pesisir
- Ahli Sosial Ekonomi
- Ahli Geologi dan Geomorfologi laut
- Ahli Permodelan hidrodinamika
- Ahli Teknik Sipil (untuk reklamasi, dll)
- Ahli Perencanaan Wilayah (untuk analisis kewilayahan dan lintas wilayah)
- Ahli Hidrografer
- Asisten Tenaga Ahli
- Tenaga Selam Perikanan (Instruktur) (1 orang x 6 hari)
- Teknisi Oseanografi (1 orang x 17 hari)
- Tenaga Survei Sosial Ekonomi (1 orang x 6 hari)
- Tenaga Survei ekosistem pesisir dan pulau-pulau kecil
- Tenaga Survei Geologi dan Geomorfologi Laut
- Operator GIS dan Penginderaan Jauh (1 orang x 3 bulan)
- Operator Komputer (1 orang x 5 bulan)
- Kartografer ( 10 orang x 3 bulan)
- Penyelam lokal (3 orang x 6 hari)
- Tenaga Administrasi
- Tenaga Survei Bathimetri
- CAD Drafter
BIAYA LANGSUNG NON PERSONEL
Persiapan

A. Sosialisasi
Belanja Bahan
- Bahan Komputer
- ATK
- Penggandaan bahan
- Konsumsi pertemuan sosialisasi [60 ORG x 1 KL]
Honor Output Kegiatan
- Honorarium Ketua/Wakil Sosialisasi [1 ORG x 1 KL]
- Honorarium Anggota Panitia Sosialisasi [4 ORG x 1 KL]
Belanja Barang Non Operasional Lainnya
- Uang Transport Kegiatan Dalam Kota [60 ORG x 1 KL]
Belanja Sewa
- Sewa Kendaraan Roda 4 (Papua) [1 UNIT x 3 HR]
- Sewa Ruangan [ 1 unit x 1 hari]
Belanja Jasa Profesi
- Honorarium Narasumber Eselon II [1 ORG x 2 JAM x 1 KL]
- Honorarium Narasumber Eselon III [2 ORG x 2 JAM x 1 KL]
- Honorarium Moderator [1 ORG x 2 JAM x 1 KL]
Belanja Perjalanan Lainnya
- Perjalanan dalam rangka sosialisasi [3 ORG x 1 KL]
B. Pembentukan Pokja
Belanja Bahan
- Konsumsi rapat koordinasi Tim Pokja [40 ORG x 3 KL]
Honor Output Kegiatan
> Tim Pokja
- Honorarium Ketua/Wakil ketua [1 ORG x 5 KL]
- Honorarium Sekretaris [1 ORG x 5 KL]
- Honorarium Anggota [8 ORG x 5 KL]
> Tim Pokja Lintas Sektor
- Honorarium Pengarah Tim Pelaksana Kegiatan [1 ORG x 5 BLN]
- Honorarium Penanggung Jawab Tim Pelaksana Kegiatan [1 ORG x 5 KL]
- Honorarium Ketua Tim Pelaksana Kegiatan [1 ORG x 5 BLN]
- Honorarium Wakil Ketua Tim Pelaksana Kegiatan [1 ORG x 5 BLN]
- Honorarium Sekretaris Tim Pelaksana Kegiatan [1 ORG x 5 BLN]
- Honorarium Anggota Tim Pelaksana Kegiatan [6 ORG x 5 BLN]
Belanja Barang Non Operasional Lainnya
- Uang Transport Kegiatan Dalam Kota [20 ORG x 3 LOK]

1
1
1
60

PKT
PKT
PKT
OK

1
4

OK
OK

60

OH

3
1

UH
UH

2
4
2

OJ
OJ
OJ

OK

60

OK

5
5
40

OK
OK
OK

5
5
5
5
5
30

OB
OB
OB
OB
OB
OB

60

OH

Belanja Sewa
- Sewa Kendaraan Roda 4 (Papua) [1 UNIT x 3 HR]
- Sewa Ruangan
Belanja Perjalanan
- Perjalanan dalam rangka pembentukan pokja [ 3 ORG x 3 KL]
2)

Pengumpulan Data Sekunder


Belanja Bahan
- Penggandaan data terestrial
- Penggandaan data bathimetri
- Penggandaan data geologi dan geomorfologi
- Penggandaan data oseanografi
- Penggandaan data ekosistem pesisir dan sumber daya ikan
- Penggandaan data penggunaan lahan dan status lahan
- Penggandaan data pemanfaatan wilayah laut
- Penggandaan data sumber daya air
- Penggandaan data infrastruktur
- Penggandaan data sosial dan budaya
- Penggandaan data ekonomi wilayah
- Penggandaan data risiko bencana dan pencemaran

3
1

UH
UH

OK

1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1

PKT
PKT
PKT
PKT
PKT
PKT
PKT
PKT
PKT
PKT
PKT
PKT

Belanja Modal
- Pengadaan citra sumberdaya
- Pengadaan dan Pengolahan Peta Dasar Digital dan Hardcopy RBI
3)

3
12

Pengadaan dan Pengolahan Peta Dasar Digital dan Hardcopy LPI


Pengadaan dan Pengolahan Peta Dasar Digital dan Hardcopy Dishidros

7
2

scene
sheet
sheet
sheet

FGD Perumusan Tujuan, Sasaran, Kebijakan, dan Strategi


Belanja Bahan
- ATK
- Komputer
- Penggandaan Bahan
Belanja Sewa
- Sewa Kendaraan Roda 4 (papua) [1 UNIT x 3 HR]
- Sewa ruangan
Belanja Perjalanan Dinas Paket Meeting Dalam Kota

1
1
1

PKT
PKT
PKT

3
1

UH
UH

- Uang Transport Kegiatan Dalam Kota [40 orang x 1 KL]


- Konsumsi Rapat ( 40 orang x 1 KL)
Belanja Perjalanan Lainnya
- Perjalanan dalam rangka Perumusan Tujuan, Sasaran
4)

Survei Lapangan
Belanja Bahan
- ATK
- Bahan Komputer
- Penggandaan Bahan
Survey Data Bathimetri
Belanja Sewa
- Sewa Kapal
- Sewa Echosounder [ 1 unit x 4 Hari + 4 mob-demob]
Belanja Perjalanan
- Perjalanan Tenaga Ahli Hidrografer
- Perjalanan Asisten Tenaga Ahli Hidrografer
Survey Data Geologi dan Geomorfologi Laut
Belanja Sewa
- Sewa Kapal (menggunakan kapal untuk survey oseanografi)
- Sewa Alat Bor [ 1 unit x 13 Hari + 4 mob-demob]
Belanja Jasa
- Analisis Lab
Belanja Perjalanan
- Perjalanan Tenaga Ahli Geologi dan Geomorfologi
- Perjalanan Asisten Tenaga Ahli Geologi dan Geomorfologi
Survey Data Oseanografi
Belanja Sewa
- Sewa Kapal untuk survey oseanografi [1 unit x 13 Hr]
- Sewa Kapal untuk pemasangan alat [ 2 unit x 1 Hr]
- GPS [1 UNIT x 13 HR + 4 hr mob-demob]
a. Arus dan Gelombang
Belanja Sewa
- ADCP (2 unit x 3 hari + 4 hari mob-demob)
Belanja Jasa
- Pengolahan data arus dengan ADCP

40
40

OK
OK

OK

1
1
1

PKT
PKT
PKT

3
8

UH
UH

1
1

OK
OK

0
17

UH
UH

PKT

1
1

OK
OK

13
2
17

UH
UH
UH

10

UH

unit

b. Pasang Surut
Belanja Sewa
- Sewa Tide recorder [2 UNIT x 7 HR + 4 hari mob-demob]
Belanja Jasa
- Pengolahan data pasang surut dengan tide recorder
c. Substrat Dasar Laut
Belanja Sewa
- Sewa Grab Sampler (10 titik sampel) [1 UNIT x 13 HR + 4 hr mob-demob]
- Analisis Substrat Laut
d. Kualitas Air (Suhu, pH, Salinitas)
Belanja Sewa
- Sewa water checker [1 UNIT x 13 HR + 4 hr mob-demob]
d.1) Kecerahan (165 titik sample)
Belanja Sewa
- Sewa Sechi dish [1 UNIT x 13 HR + 4 hr mob-demob]
e. Survey Kimia perairan (COD, BOD, Ammonia)
Belanja Jasa
- Analisis kima perairan BOD, COD, Amonia (165 titik)
f. Survey Biologi Perairan
Belanja Jasa
- Paket Analisis klorofil (165 titik sampel)
g. Survey Pemanfaatan lahan perairan dan daratan / Infrastruktur
Belanja Sewa
- GPS [1 UNIT x 7 HR + 4 hr mob-demob]
- Sewa Kendaraan Roda 4 [1 UNIT x 7 Hr]
- Sewa kendaraan roda 2

18

UH

unit

17
10

UH
Sampel

17

UH

17

UH

165

titik

165

titik

17
10
10

UH
UH
UH

Belanja Perjalanaan Dalam Rangka Survei Oseanografi


- Ahli Oseanografi
- Teknisi oseanografi [ 3 orang x 1 KL]

1
3

OK
OK

Survey Data Ekosistem Pesisir dan Sumberdaya Ikan


Belanja Sewa
- Alat selam [4 UNIT x 6 HR]
- Kompressor [1 UNIT x 6 HR]
- Tabung selam [4 UNIT x 6 HR]
- Under Water Camera [1 UNIT x 6 HR]
- Transek, meteran, jangka sorong [1 UNIT x 6 HR]

24
6
24
6
6

UH
UH
UH
UH
UH

- Sewa Kapal utk survey ekosistem [1 UNIT x 6 HR]


- GPS
- Kapal utk survey sumberdaya ikan pelagis
- Fishfinder
- Jaring
Belanja perjalanan
- Ahli Perikanan
- Tenaga Selam (Instruktur)
- Tenaga survei ekosistem [ 2 orang x 1 KL]
5

Survey Pemanfaatan Ruang Laut


Belanja Sewa
- GPS [1 UNIT x 4 Hr+4 mob-demob]
- Sewa Kendaraan Roda 4 [ 1 unit x 4 hr]
- Sewa kendaraan roda 2 [1 unit x 4 hr]
- Sewa kapal [1 unit x 4 hr]
Belanja Perjalanan
- Ahli penginderaan jauh dan SIG
- Asisten Ahli penginderaan jauh dan SIG
Survei Infrastruktur
Belanja Sewa
- GPS [1 UNIT x 3 Hr + 4 hari mob-demob]
- Sewa Kendaraan Roda 4
Belanja Bahan
- Dokumentasi (kamera) [ 1 unit x 7 Hr]
Belanja Perjalanan
- Ahli penginderaan jauh dan SIG
- Asisten Ahli penginderaan jauh dan SIG
Survei data Sosial dan Budaya
Belanja Bahan
- Penggadaan kuisioner
Belanja Sewa
- Sewa Kendaraan Roda 4 [ 1 unit x 3 hr]
Belanja Bahan
- Dokumentasi [ 1 unit x 6 hr]
Belanja Perjalanan
- Perjalanan Ahli Sosial Ekonomi

6
10
6
6
6

UH
UH
UH
UH
UH

1
1
2

OK
OK
OK

8
4
4
4

UH
UH
UH
UH

1
1

OK
OK

7
3

UH
UH

UH

1
1

OK
OK

PKT

UH

UH

OK

5)

Perjalanan Asisten Ahli Sosial Ekonomi

Survei Data Ekonomi Wilayah


Belanja Bahan
- Penggadaan kuisioner
Belanja Sewa
- Sewa Kendaraan Roda 4 [ 1 unit x 7 hr]
Belanja Bahan
- Dokumentasi [ 1 unit x 6 hr]
Belanja Perjalanan
- Perjalanan Ahli Sosial Ekonomi
- Perjalanan Asisten Ahli Sosial Ekonomi
Survei Data Risiko Bencana dan Pencemaran
Belanja Sewa
- Sewa botol sampel (menggunakan hasil survei osenografi)
- Sewa Sedimen Grab (menggunakan hasil survei osenografi)
- Sewa GPS (menggunakan hasil survei osenografi)
- Sewa Kapal (menggunakan hasil survei osenografi)
- Sewa Kendaraan Roda 4
Belanja Bahan
- Dokumentasi
Belanja Jasa
- Paket Analisis logam berat Hg
- Paket Analisis logam berat Pb
- Paket Analisis logam berat Cd
- Pemodelan hidro-oseanografi bencana
Belanja Perjalanan
- Perjalanan tenaga ahli dalam rangka survei
- Perjalanan tenaga pendukung dalam rangka survei
Penyusunan Dokumen Awal
Belanja Bahan
- ATK
- Bahan Komputer
- Pencetakan Dokumen Awal
- Pencetakan Album Peta

OK

PKT

UH

UH

1
1

OK
OK

0
0
0
0
7

PKT
UH
UH
UH
UH

10

UH

108
108
108
1

sampel
sampel
sampel
PKT

1
1

OK
OK

1
1
1
2

PKT
PKT
eksemplar
eksemplar

6)

7)

8)

9)

10)

Konsultasi Publik 1 dan 2


Belanja Bahan
- ATK
- Bahan Komputer
- Penggandaan Bahan
Belanja Perjalanan Dinas Paket Meeting Dalam Kota
- Uang Transport Kegiatan Dalam Kota [40 ORG x 2 KL]
- Konsumsi Rapat [40 orang x 2 KL]
Belanja Sewa
- Sewa Kendaraan [ 1 unit x 3 hari x 2 KL]
- Sewa Ruangan [ 1 unit x 1 hari x 2 KL]
Belanja Perjalanan
- Perjalanan dalam rangka konsultasi publik [ 3 orang x 2 KL]

1
1
1

PKT
PKT
PKT

80
80

OK
OK

6
2

UH
UH

OK

Penyusunan Dokumen Antara


Belanja Bahan
- ATK
- Bahan Komputer
- Penggandaan Bahan
- Pencetakan Dokumen Antara
- Pencetakan Album Peta

1
1
1
1
2

PKT
PKT
PKT
eksemplar
eksemplar

Penyusunan Dokumen Final


Belanja Bahan
- ATK
- Bahan Komputer
- Pencetakan Dokumen Final dan Draft Ranperda
- Pencetakan Album Peta
- Softcopy DVD

1
1
5
2
10

PKT
PKT
eksemplar
eksemplar
Keping

Penyusunan Laporan Pendahuluan


Belanja Bahan
- ATK
- Bahan Komputer
- Pencetakan Laporan Pendahuluan

1
1
5

PKT
PKT
eksemplar

Pembahasan Laporan Pendahuluan di Pusat


Belanja Perjalanan Dinas Dalam Kota
- Konsumsi rapat ( 30 orang x 1 KL)

30

OK

11)

12)

13)

14)

15)

16)

17)

Penyusunan laporan Antara


Belanja Bahan
- Pencetakan Laporan Antara
- Pencetakan Album Peta

5
2

eksemplar
eksemplar

Pembahasan Laporan Antara di Pusat


Belanja Perjalanan Dinas Dalam Kota
- Konsumsi rapat ( 30 orang x 1 KL)

30

OK

Penyusunan Draft laporan Akhir


Belanja Bahan
- Pencetakan Laporan Antara
- Pencetakan Album Peta

5
2

eksemplar
eksemplar

Pembahasan Draft Laporan Akhir di Pusat


Belanja Perjalanan Dinas Dalam Kota
- Konsumsi rapat ( 30 orang x 1 KL)

30

OK

Penyusunan Laporan Akhir


Belanja Bahan
- Pencetakan Laporan Akhir
- Pencetakan Album Peta

5
2

eksemplar
eksemplar

Pembahasan Laporan Akhir di Pusat


Belanja Perjalanan Dinas Dalam Kota
- Konsumsi rapat ( 30 orang x 1 KL)

30

OK

80
80

OK
OK

6
2

UH
UH

OK

Pembahasan di Daerah dalam rangka laporan pendahuluan dan draft laporan akhir
Belanja Perjalanan Dinas Dalam Kota
- Konsumsi rapat ( 40 orang x 2 KL)
- Uang Transport Kegiatan Dalam Kota [40 ORG x 2 KL]
Belanja Sewa
- Sewa Kendaraan Roda 4 (Papua) [1 UNIT x 3 HR x 2 KL]
- Sewa Ruangan [ 1 unit x 1 hari x 2 KL]
Belanja Perjalanan
- Perjalanan Dalam Rangka Pembahasan [2 orang x 2 KL]

Lampiran 10. Contoh Format Penyajian Peta


Standar layout Peta Tematik dan Peta Rencana Zonasi WP-3-K Skala Kabupaten ( 1:50.000)

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

L.10-1

Lampiran 10. Contoh Format Penyajian Peta


Standar layout Peta Tematik dan Peta Rencana Zonasi WP-3-K Skala Kabupaten ( 1:50.000)

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

L.10-2

Lampiran 10. Contoh Format Penyajian Peta


Contoh Kerangka Layout Peta Tematik dan Peta Rencana Zonasi WP-3-K Skala Kabupaten

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

L.10-3

Lampiran 11. Contoh NLP (Nomor Lembar Peta)

Tabel L11. Contoh NLP (Nomor Lembar Peta)

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

L.11-1

Lampiran 12. Contoh Peta Dasar dan Peta Tematik


Contoh Peta Dasar dan Peta Tematik
A. Peta dasar
1) Terestrial
1. Tanah

Gambar L.12. 1. Contoh Peta Jenis Tanah


2. Topografi

Gambar L.12. 2. Contoh Peta Topografi


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

L.12-1

Lampiran 12. Contoh Peta Dasar dan Peta Tematik


3. Kemiringan Lereng

Gambar L.12.3. Contoh Peta Kemiringan Lereng

2) Bathimetri

Gambar L.12.4. Contoh Peta Bathimetri

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

L.12-2

Lampiran 12. Contoh Peta Dasar dan Peta Tematik


B. Peta Tematik
1. Geologi

Gambar L.12.5. Contoh Peta Geologi


2. Geomorfologi

Gambar L.12.6. Contoh Peta Geomorfologi

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

L.12-3

Lampiran 12. Contoh Peta Dasar dan Peta Tematik


3. Oseanografi
a. Arus

Gambar L.12.7. Contoh Peta Arus

b. Gelombang

Gambar L.12.8. Contoh Peta Gelombang

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

L.12-4

Lampiran 12. Contoh Peta Dasar dan Peta Tematik


c. Data Fisika dan Kimia Perairan
1) Parameter Fisika

Gambar L.12. 9. Contoh Peta Suhu Permukaan

Gambar L.12.10. Contoh Peta Kecerahan

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

L.12-5

Lampiran 12. Contoh Peta Dasar dan Peta Tematik

Gambar L.12.11. Contoh Peta Sebaran TSS

2) Parameter Kimia

Gambar L.12.12. Contoh Peta Sebaran pH

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

L.12-6

Lampiran 12. Contoh Peta Dasar dan Peta Tematik

Gambar L.12.13. Contoh Peta Sebaran Salinitas

Gambar L.12.14. Contoh Peta Sebaran DO (Oksigen Terlarut)

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

L.12-7

Lampiran 12. Contoh Peta Dasar dan Peta Tematik

Gambar L.12.15. Contoh Peta Sebaran BOD

Gambar L.12.16. Contoh Peta Sebaran Ammonia

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

L.12-8

Lampiran 12. Contoh Peta Dasar dan Peta Tematik

Gambar L.12.17. Contoh Peta Sebaran Nitrat

Gambar L.12.18. Contoh Peta Sebaran Fosfat

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

L.12-9

Lampiran 12. Contoh Peta Dasar dan Peta Tematik


4. Penggunaan Lahan, Status Lahan dan Rencana Tata Ruang Wilayah

Gambar L.12.19. Contoh Peta Penggunaan Lahan

5. Pemanfaatan Wilayah Laut

Gambar L.12.20. Contoh Pemanfaatan Wilayah Laut

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

L.12-10

Lampiran 12. Contoh Peta Dasar dan Peta Tematik


6. Sumberdaya Air

Gambar L.12.21. Contoh Peta Sumberdaya Air

7. Ekosistem Pesisir dan Sumberdaya Ikan


a) Eksosistem Pesisir

Gambar L.12.22. Contoh Peta Mangrove

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

L.12-11

Lampiran 12. Contoh Peta Dasar dan Peta Tematik

Gambar L.12.23. Contoh Peta Terumbu Karang

Gambar L.12.24. Contoh Peta Lamun

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

L.12-12

Lampiran 12. Contoh Peta Dasar dan Peta Tematik

Gambar L.12.25. Contoh Peta Sumberdaya Ikan

8. Infrastruktur

Gambar L.12.26. Contoh Peta Infrastruktur

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

L.12-13

Lampiran 12. Contoh Peta Dasar dan Peta Tematik


9. Demografi dan Sosial

Gambar L.12.27. Contoh Peta Jumlah Penduduk


10. Ekonomi Wilayah

Gambar L.12.28. Contoh Peta Pergerakan Ekonomi Wilayah

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

L.12-14