Anda di halaman 1dari 16

Fetal Distress (FD)

Definisi
Suatu kondisi patofisiologikal dimana O 2
tidak tersedia untuk janin dalam jumlah
yang cukup, terjadi pada antepartum
maupun inpartu -> tidak dikoreksi ->
menimbulkan dekompensasi respon
fisiologis -> kerusakan organ multipel
hingga kematian janin.

Etiologi

Faktor
Hipertensi,
MaternalDM, penyakit ginjal, kompresi VKI yang lama karena pos
Faktor
Hipertensi,
MaternalDM, penyakit ginjal, kompresi VKI yang lama karena pos

Gejala dan Tanda Fetal


Distress
Gejala

Diagnosis
Penilaian Antepartum
1. Penghitungan gerakan janin secara
subjektif oleh ibu
2. Non-Stress Test
3. Contraction Stress Test
4. Uji Non-stress Stimulasi Akustik
5. Profil biofisik
6. Volume Cairan Amnion
5. Velosimetri Doppler

Diagnosis
Penilaian Intrapartum
1. Monitoring denyut jantung janin
(DJJ) dengan CTG
2. Air ketuban hijau dan kental
(mekonium)

Patofisiologi

Penatalaksanaan
Mengoreksi setiap gangguan pada
janin:
1. Perubahan posisi maternal
2. Hidrasi
3. Pemberian oksigen
4. Dekstrose hipertonik intravena
5. Amnioinfusi
6. Tokolisis

Analisis
Kasus

Pasien seorang
wanita berusia
36 tahun, hamil
anak kedua

Teori

1. Tesseme et al. menyatakan usia


35 th memiliki prevalensi 4x lebih
sering terkena PE dibandingkan 2529 th.
2. PE biasanya mengenai wanita usia
>35 th atau <20 th dan nullipara.
Tesseme et al. -> wanita hamil usia
tua -> probabilitas besar terkena
masalah kardiovaskular karena
hilangnya compliance dari
pembuluh darah terutama
pembuluh darah uterus. Ketika
seorang wanita bertambah tua,
adaptasi hemodinamik selama
kehamilan menjadi lebih sulit.
3. Usia pasien tidak termasuk dalam
kategori ibu hamil dengan insidensi

Analisis
Kasus

Usia kehamilan 4142 minggu


menunjukkan bahwa
pasien ini hamil
aterm dan berada
pada trimester
ketiga.

Teori

Hal ini sesuai dengan teori yang


menyatakan bahwa PE secara
umum timbul pada kehamilan
>20 minggu dan dalam trimester
ketiga kehamilan, tetapi dapat
juga terjadi pada trimester kedua
kehamilan.

Analisis
Kasus

Ny. M datang dengan


keluhan mules-mules.
Keluhan dirasakan
semakin sering dan
memberat sejak 3 hari
SMRS. Riwayat keluar
lendir darah dari jalan
lahir ada.

Teori

Rasa mules pada wanita hamil


-> keluhan subjektif,
dapat diartikan sebagai adanya
kontraksi pada rahim.
Lendir darah (bloody show) ->
sumbat mukus serviks yang
bercampur darah karena
pelunakan, dilatasi dan
pendataran (effacement)
serviks.
Rasa mules yang sering dan
teratur serta adanya lendir
darah menandakan pasien ini

Analisis
Kasus

Pasien pernah
mengalami keluhan
serupa pada
kehamilan
sebelumnya.

Teori

Prawirohardjo -> Riwayat PE/E


pada kehamilan sebelumnya
termasuk ke dalam salah satu
faktor predisposisi yang
memungkinkan seorang wanita
hamil memiliki probabilitas besar
untuk terkena penyakit yang
sama. Selain itu terdapat faktorfaktor lain seperti nullipara,
kehamilan ganda, obesitas dan
lain-lain.

Analisis
Kasus

Teori

PEB memiliki syarat TD sistolik >160 &


diastolik >110. TD diukur saat pasien
dalam keadaan istirahat, boleh
TTV: KU: sedang,
berbaring atau duduk. Pemeriksaan
Kes: CM
dapat diulangi sekali lagi setelah 4 jam
TD : 170/110 mmHg untuk menkonfirmasi hasil yang
N : 102 x/menit
didapatkan sehingga hasil pengukuran
tekanan darah dapat dipercaya.
RR : 22 x/menit
Proteinuria pada kasus ini tidak sesuai
T
: 36,70 C
dengan teori dimana PEB memiliki
syarat proteinuria 5 g/ > +2
Pemeriksaan protein Pemeriksaan protein urin dengan
urin (metode
metode dipstik (uji kualitatif) sangat
dipstik) didapatkan
baik dalam menginterpretasikan hasil
proteinuria (sensitivitas 96% dan
hasil +2 (setara
dengan 300 mg/dl). spesifitas 87%).
Kekurangan metode ini: Terkadang hasil
dipengaruhi oleh urin terlalu kental,
bersifat basa atau urin yang terlalu

Analisis
Kasus

DJJ saat di PONEK


IGD adalah
128x/menit,
namun saat
observasi di KB
selama 1 jam, DJJ
menurun dalam
rentang 100-110
selama lebih dari 5
menit.

Teori

Thurlow menyatakan bahwa salah


satu tanda-tanda FD yang dapat
diketahui melalui CTG adalah
bradikardi persisten -> DJJ < 120
dpm selama 5 menit atau lebih.
Frekuensi DJJ berada pada kendali
kemoreseptor arterial. Kondisi
hipoksia dan hiperkapnia
mempengaruhi kecepatan DJJ.
Hipoksia berat dan berkepanjangan,
disertai peningkatan kadar laktat
dalam darah (asidosis metabolik
berat) memicu penurunan frekuensi
DJJ berkepanjangan.

Analisis
Kasus

Teori

Status PEB pada


pasien ini dan FD
yang terjadi pada
janinnya
memerlukan
tatalaksana
pembedahan Seksio
Sesarea segera.

Seksio Sesarea merupakan


tindakan untuk melahirkan janin
yang sudah mampu hidup (beserta
plasenta dan selaput ketuban)
secara transabdominal melalui
insisi uterus.
FD dan PEB termasuk indikasi
untuk dilakukannya Seksio Sesarea
segera pada pasien karena
ditakutkan pada sisi maternal
dapat mengalami perburukan
menjadi eklamsi dan insufisiensi
uteroplasenta yang terus menerus
terjadi akan berdampak buruk bagi
sisi Fetal.

Analisis
Kasus

Obat-obatan yang
diberikan pada
kasus ini adalah
Nifedipin sebagai
antihipertensi dan
MgSO4 sebagai
antikejang.

Teori

Nifedipin termasuk penyekat kanal


kalsium tipe-L golongan dihidropiridin
-> bekerja dari sisi dalam membran
dan terikat dengan lebih efektif pada
kanal di membran yang
terdepolarisasi. Ikatan obat akan
menurunkan frekuensi pembukaan
kanal yang biasanya ditimbulkan oleh
depolarisasi sehingga menurunkan
aliran kalsium transmembran yang
nyata, menghasilkan relaksasi otot
polos yang lama.
Obat diberikan sebelum persalinan
yang berlangsung dapat
menyebabkan FD, abrupsio plasenta
atau ruptur uterus.

Analisis
Kasus

Teori

Obat-obatan
yang diberikan
pada kasus ini
adalah
Nifedipin
sebagai
antihipertensi
dan MgSO4
sebagai
antikejang.

MgSO4 konsentrasi 40% diberikan secara


bolus 4 gr (loading dose) dan drip 6 gr
dalam RL 500cc, kec 28 tetes/menit
(maintenance dose). Mekanisme dan
aksi magnesium sulfat sebagai
antikejang masih belum diketahui
secara pasti. Beberapa peneliti ->
aksinya di perifer, pada neuromuscular
junction dengan efek minimal atau (-)
sama sekali efek padasentral.
Sebagianpeneliti -> aksi utamanya
adalah di sentral dengan efek minimal
pada blokneuromuskuler. Obat dapat
menekan saraf pusat -> menimbulkan
anestesi dan mengakibatkan penurunan
reflek fisiologis. Rendahnya kadar MgSO4
dalam darah -> peningkatan iritabilitas