Anda di halaman 1dari 17

I.

DEFINISI
Gangguan depresi merupakan suatu masa terganggunya fungsi manusia yang
berkaitan dengan alam perasaan yang sedih dengan gejala penyerta termasuk perubahan
pola tidur, nafsu makan, psikomotor, konsentrasi, anhedonia, kelelahan, rasa putu sasa, tak
berdaya dan gagasan bunuh diri. Terdapat gangguan penyesuaian diri (gangguan dalam
perkembangan emosi jangka pendek atau masalah-masalah perilaku, dimana dalam kasus ini,
perasaan sedih yang mendalam dan perasaan kehilangan harapan atau merasa sia-sia, sebagai
reaksi terhadap stressor ) dengan kondisi mood yang menurun.
Depresi Mayor merupakan gangguan yang lebih berat, membutuhkan lima atau lebih
simptom-simptom selama dua minggu, salah satunya harus ada gangguan mood, atau
ketidaksenangan pada anak-anak. Sedangkan episode depresi berat menurut kriteria DSM-IVTR, adalah suasana perasaan ekstrem yang berlangsung paling tidak dua minggu dan meliputi
gejala-gejala kognitif (seperti perasaan tidak berharga dan tidak pasti) dan fungsi fisik yang
terganggu (seperti perubahan pola tidur, perubahan nafsu makan dan berat badan yang
signifikan, atau kehilangan banyak energi) sampai titik dimana aktivitas atau gerakan yang
paling ringan sekalipun membutuhkan usaha yang luar biasa besar.

berat
Gangguan
DEFINISI
depresi
merupakan
suatu
masa
terganggunya
fungsi
manusia
yang
berkaitan
nafsu
gagasan
bunuh
Terdapat
diri.
gangguan
penyesuaian
diri
(gangguan
dalam
perkembangan
emosi
jangka
mendalam
dengan
kondisimood
Depresi
Mayor
yang
merupakan
menurun.
gangguan
yang
lebih
berat,
membutuhkan
lima
atau
lebih
atau
ketidaksenangan
TR,
adalah
suasana
pada
perasaan
anak-anak.
ekstrem
Sedangkan
yang
berlangsung
episode
depresi
paling
berat
tidak
menurut
dua
minggu
kriteria
dan
DSM-IVmeliputi
gejala-gejala
kognitif
(seperti
perasaan
tidak
berharga
dan
tidak
pasti)
dan
fungsi
fisik
yang
signifikan,
sekalipun
ringan
membutuhkan
usaha
yang
luar
biasa
besar.
Anonim.
from
:satu
http://www.Major_depressive_disorder.htm
Major
depressive
disorder.
Update
onbercerita
2012:
Available
Pasien
ANAMNESIS
depresi
seringkali
tidak
mampu
untuk
secara
spontan
psikomotor
seseorangyang
depresi.termasuk
untuk
tidak
keluhan
somatik
Salah
adalah
aspek
berhubungan
yang
paling
dengan
sulit
dalam
gangguan
menghadapi
depresi.
pasien
depresi
adalah
mengalami
yang
sekarang
akan
terus
tidak
terbatas
dan
tidak
ada
harapan.
Dokter
psikiatrik
harus
berhati-hati
menjadi
indikasi
II.PEMERIKSAAN
Pendekata
FISIK
DAN
PENUNJANG
Karena depresi merupakan gangguan kesehatan yang sering mucul dan kadang tidak
terdiagnosa, maka dokter sering melakukan pemeriksaan fisik dan mengajukan pertanyaan
tentang perasaan dan pikiran anda ketika anda memeriksakan diri ke dokter. Kadang dokter
juga memberikan formulir pertanyaan untuk diisi untuk mengathui ada tidaknya gejala
depresi. Bila dokter menduga adanya depresi, maka dokter biasanya akan mengajukan
beberapa pertanyaan dan melakukan pemeriksaan fisik dan psikologis. Hal tersebut
diperlukan untuk menyingkirkan kemungkinan adanya penyakit lain yang menimbulkan
gejala seperti yang dikeluhkan oleh pasien, menemukan diagnose penyakit dan mendeteksi
adanya komplikasi. Beberapa pemeriksaan yang biasa dilakukan adalah:

Pemeriksaan fisik. Pemeriksaan yang dilakukan meliputi pemeriksaan berat badan


tinggi badan, suhu tubuh, tekanan darah dan detak nadi, mendengarkan jantung dan
paru paru serta memeriksa perut.
Pemeriksaan laboratorium. Dokter mungkin akan memerintahkan pemeriksaan darah
rutin, atau pemeriksaan fungsi kelenjar gondok bila ada indikasi kearah gangguan
fungsi kelenjar gondok.
1

Pemeriksaan psikologis. Untuk mengecek ada tidaknya depresi, dokter atau tenaga
kesehatan akan menanyakan tentang perasaan dan pikiran, dan pola perilaku pasien.
Dokter atau petugas akan mengajukan pertanyaan tentang gejala, kapan mulainya,
apakah pernah mengalami hal yang sama dulu. Dokter juga akan menanyakan apakah
ada pemikiran kearah menganiaya diri sendiri atau bunuh diri. Pasien mungkin akan
diminta untuk mengisi kuestionnaire (daftar pertanyaan) untuk membantu
menentukan ada tidaknya depresi.

III. ANAMNESIS
No.

Aspek penilaian
Mengawali dengan basmallah

A.

Membina sambung rasa, menanyakan identitas, dan menanyakan keluhan utama

1.

Memperlihatkan sikap menerima terhadap pasien yang datang

2.

Memperkenalkan diri, mengucapkan salam Islami dan mempersilahkan duduk

3.

Menanyakan nama, umur , agama, suka bangsa, pendidikan dan pekerjaan

4.

Menanyakan keluhan keluhan yang mendorong pasien untuk berobat

B.

Menggali riwaya tpenyakit


A. Selama 2 mingguterakhir

5.

Menanyakan apakah pasien secara terus menerus merasa sedih, depresif atau
murung hampir sepanjang hari, hampir setiap hari

6.

Menanyakan apakah pasien hampir sepanjang waktu kurang berminat terhadap


banyak hal atau kurang bisa menikmati hal hal yang biasanya pasien nikmati

7.

Menanyakan apakah pasien merasa lelah atau tidak bertenaga hampir sepanjang
waktu
B. Jika ada 2 atau lebih gejala diatas maka dilanjutkan dengan pertanyaan:

8.

Menanyakan apakah nafsu makan pasien berubah secara mencolok atau apakah
berat badan pasien meningkat atau menurun tanpa upaya yang disengaja

9.

Menanyakan apakah pasien mengalami kesusahan tidur hampir setiap malam


( kesulitan untuk memulai tidur, terbangun tengah malam atau terbangun lebih
dini, tidur berlebihan)

10. Menanyakan apakah pasien berbicara atau bergerak lebih lambat dari pada
biasanya, gelisah, tidak tenang atau mengalami kesulitan untuk tetap diam
11. Menanyakanapakahpasienkehilangankepercayadiri,
atauapakahpasienmerasatakberhargaataubahkanlebihrendahdari orang lain
12. Menanyakan apakah pasien merasa bersalah atau mempersalahkan diri sendiri
2

13. Menanyakan apakah pasien mengalami kesulitan berfikir atau berkonsentrasi, atau
apakah pasien mempunyai kesulitan untuk mengambil keputusan
14. Menanyakan apakah pasien berniat untuk menyakiti diri sendiri, ingin bunuh diri
atau berharap bahwa pasein mati
Jika ada 4 item atau lebih dari seluruh pertanyaan A dan B yang di jawab YA maka
memenuhi kriteria diagnosis DEPRESI
C. Mengakhiri Wawancara
15. Memperlihatkan sikap empati kepada pasien
16. Menyimpulkan hasil wawancara
17. Menjelaskan tindak lanjut terapi
18. Mengakhiri dengan hamdallah dan menutupi dengan salam Islami

IV.KRITERIA DIAGNOSIS
F32 EPISODE DEPRESIF
GEJALA UTAMA (Pada derajat ringan, sedang dan berat) :
o Afek depresif.
o Kehilangan minat dan kegembiraan, dan
o Berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keaadaan mudah lelah ( rasa

lelah yang nyata sesudah kerja sedikit saja) dan menurunya aktivitas.
GEJALA LAINYA
o Konsentrasi dan perhatian berkurang
o Harga diri dan kepercayaan diri berkurang
o Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna
o Pandangan masa depan yang suram dan pesimistis
o Gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri
o Tidur terganggu
o Nafsu makan berkurang
Untuk episode depresif dari ketiga tingkat keparahan tersebut diperlukan masa
sekurang-kurangnya 2 minggu untuk penegakan diagnosis, akan tetapi periode lebih

pendek dapat dibenerakan jika gejala luar biasa beratnya dan berlangsung cepat.
Kategori diagnosis episode depresif ringan (F32.0), sedang (F32.1), berat (F32.2)
hanya digunakan untuk episode depresi tunggal ( yang pertama). Episode depresif
berikutnya harus diklasifikasikan dibawah salah satu diagnosis gangguan depresif
berulang (F33.-)

F32.2 EPISODE DEPRESIF BERAT TANPA GEJALA PSIKOTIK


Semua 3 gejala utama depresi harus ada
Ditambah sekurang-kurangnya 4 dari gejala lainya, dan beberapa di antaranya harus
berintensitas berat
3

Bila da gejala penting (misalnya agitasu atau retardasi psikomotot) yang mencolok,
maka pasien mungkin tidak mau atau tidak mampu untuk melaporkan gejalanya
secara rinci.
Episode depresif biasanya harus berlangsung sekurang-kurangnya 2 minggu, akan

tetapi jika gejala amatberat dan beronset sangat cepat, maka masih dibenarkan untuk
menegakan diagnosis dalam kurun waktukurang dari 2 minggu.
Sangat tidak mungkin pasien akan mampu menuruskan kegiatan sosial, pekerjaan atau

urusan rumah tangga, keuali pada taraf yang sangat terbatas.


F32.2 EPISODE DEPRESIF BERAT DENGAN GEJALA PSIKOTIK
Episode depresif berat yang memenuhi kriteria menurut F.32.2 tersebut diatas
Disertai waham, halusinasi atau stupor depresif. Waham biasanya melibatkan ide
tentang dosa, kemiskinan atau malapetaka yang mengancam, dan pasien merasa
bertanggug jawab atas hal itu. Halusinasi auditorik atau atau olfaktorik biasanya
berupa suara yang menghina atau menuduh, atau bau kotoran atau daging membusuk.
Retardasi psikomotor yang berat dapat menuju pada stupor. Jika diperlukan waham
atau halusnasi dapat ditetentukan sebagai serasi atau tidak serasi dengan afek.
V.DIAGNOSIS BANDING
1. Bereavement (Kehilangan teman atau keluarga karena kematian)
Bereavement atau rasa kesedihan yang berlebihan karena putusnya suatu hubungan
dapat memperlihatkan gejala yang sama dengan episode depresi mayor. Tingkat keparahan
dan durasi dari gejala dan dampaknya pada fungsi sosial dapat membantu dalam
menyingkirkan antara kesedihan yang mendalam dan MDD.
Tabel 1. Pembeda antara bereavement dan episode depresi mayor
Gejala

Bereavement

Episode depresi mayor

Waktu

Kurang dari 2 bulan

Lebih dari 2 bulan

Perasaan

tidak

berguna/tidak Tidak ada

Ada

pantas
Ide bunuh diri

Tidak ada

Kebanyakan ada

Rasa bersalah, dll

Tidak ada

Mungkin ada

Perubahan psikomotor

Agitasi ringan

Melambat

Gangguan fungsi

Ringan

Sedang Berat
4

2.

Gangguan Afektif Disebabkan Karena Zat


Efek samping obat (baik yang diresepkan atau tidak) dapat memperlihatkan gejala

depresi, jadi suatu zat yang dapat mempengaruhi gangguan mood harus dapat
dipertimbangkan dalam mendiagnosis banding MDd. Bukti dari riwayat, pemeriksaan fisik,
atau temuan laboratories digunakan untuk dapat menentukan adanya suatu pengalahgunaan,
ketergantungan, intoksikasi/keracunan, atau kondisi putus obat yang secara fisoilogis akan
menyebabkan suatu episode depresi. Selama gejala depresi karena pengaruh obat dapat
disembuhkan dengan menghentikan penggunaan obat tersebut, gejala putus obat dapat
berlangsung selama beberapa bulan.
Tabel 2. Obat yang umum disalahgunakan dan menyebabkan
gangguan mood yang dipengaruhi zat

Alcohol
Amfetamin
Anxiolitik
Kokain
Zat-zat halusinogen
Hipnotik
Inhalant
Opioid
Phencycline
Sedative

VI. PENATALAKSANAAN
Bila diagnosa depresi sudah dibuat, maka perlu dinilai taraf hebatnya gejala depresi
dan besarnya kemungkinan bunuh diri. Hal ini ditanyakan dengan bijkasana dan penderita
sering merasa lega bila ia dapat mengeluarkan pikiran-pikiran bunuh diri kepada orang yang
memahami masalahnya, tetapi pada beberapa penderita ada yang tidak memberitahukan
keinginan bunuh dirinya kepada pemeriksa karena takut di cegah. Bila sering terdapat
pikiran-pikiran atau rancangan bunuh diri, maka sebaiknya penderita dirawat di rumah sakit
dengan pemberian terapi elektrokonvulsi di samping psikoterapi dan obat anti depresan.
Sebagian besar klinisi dan peneliti percaya bahwa kombinasi psikoterapi dan
farmakoterapi adalah pengobatan yang paling efektif untuk gangguan depresi berat. Tiga jenis
psikoterapi jangka pendek yaitu terapi kognitif, terapi interpersonal dan terapi perilaku, telah
diteliti tentang manfaatnya di dalam pengobatan gangguan depresi berat.
5

Terapi Fisik dan Terapi Perubahan Perilaku


Electro Convulsive Therapy (ECT)
ECT adalah terapi dengan melewatkan arus listrik ke otak. Metode terapi semacam ini
sering digunakan pada kasus depresif berat atau mempunyai risiko bunuh diri yang besar dan
respon terapi dengan obat antidepresan kurang baik. Pada penderita dengan risiko bunuh diri,
ECT menjadi sangat penting karena ECT akan menurunkan risiko bunuh diri dan dengan
ECT lama rawat di rumah sakit menjadi lebih pendek.
Pada keadaan tertentu tidak dianjurkan ECT, bahkan pada beberapa kondisi tindakan
ECT merupakan kontra indikasi. ECT tidak dianjurkan pada keadaan:

Usia yang masih terlalu muda ( kurang dari 15 tahun )


Masih sekolah atau kuliah
Mempunyai riwayat kejang
Psikosis kronik
Kondisi fisik kurang baik
Wanita hamil dan menyusui
Selain itu, ECT dikontraindikasikan pada : penderita yang menderita epilepsi, TBC

milier, tekanan tinggi intra kracial dan kelainan infark jantung. Depresif berisiko kambuh
manakala penderita tidak patuh, ketidaktahuan, pengaruh tradisi yang tidak percaya dokter,
dan tidak nyaman dengan efek samping obat. Terapi ECT dapat menjadi pilihan yang paling
efektif dan efek samping kecil. Terapi perubahan perilaku meliputi penghapusan perilaku
yang mendorong terjadinya depresi dan pembiasaan perilaku baru yang lebih sehat. Berbagai
metode dapat dilakukan seperti CBT (Cognitive Behaviour Therapy) yang biasanya
dilakukan oleh konselor, psikolog dan psikiater.
Psikoterapi
Psikoterapi merupakan terapi yang digunakan untuk menghilangkan atau mengurangi
keluhan-keluhan dan mencegah kambuhnya gangguan psikologik atau pola perilaku
maladaptif. Terapi dilakukan dengan jalan pembentukan hubungan profesional antar terapis
dengan penderita. Psikoterapi pada penderita gangguan depresif dapat diberikan secara
individu, kelompok, atau pasangan disesuaikan dengan gangguan psikologik yang
mendasarinya. Psikoterapi dilakukan dengan memberikan kehangatan, empati, pengertian dan
optimisme. Dalam pengambilan keputusan untuk melakukan psikoterapi sangat dipengaruhi
oleh penilaian dari dokter atau penderitanya.
Terapi Farmakologi
Saat merencanakan intervensi pengobatan, penting untuk menekankan kepada penderita
bahwa ada beberapa fase pengobatan sesuai dengan perjalanan gangguan depresif:
6

Fase akut bertujuan untuk meredakan gejala


Fase kelanjutan untuk mencegah relaps
Fase pemeliharaan/rumatan untuk mencegah rekuren

Penggolongan Antidepresan
1. Antidepresan Klasik (Trisiklik & Tetrasiklik)
Mekanisme kerja : Obatobat ini menghambat resorpsi dari serotonin dan
noradrenalin dari sela sinaps di ujung-ujung saraf.
Efek samping :
Efek jantung ; dapat menimbulkan gangguan penerusan impuls jantung

dengan perubahan ECG, pada overdosis dapat terjadi aritmia berbahaya.


Efek anti kolinergik ; akibat blokade reseptor muskarin dengan menimbulkan
antara lain mulut kering, obstipasi, retensi urin, tachycardia, serta gangguan

potensi dan akomodasi, keringat berlebihan.


Sedasi
Hipotensi ortostatis dan pusing serta mudah jatuh merupakan akibat efek
antinoradrenalin, hal ini sering terjadi pada penderita lansia, mengakibatkan

gangguan fungsi seksual.


Efek antiserotonin; akibat blokade reseptor 5HT postsinaptis dengan

bertambahnya nafsu makan dan berat badan.


Kelainan darah; seperti agranulactose dan leucopenia, gangguan kulit
Gejala penarikan; pada penghentian terapi dengan mendadak dapat timbul
antara lain gangguan lambung-usus, agitasi, sukar tidur, serta nyeri kepala dan
otot.

Obat-obat yang termasuk antidepresan klasik :


a) Imipramin
Dosis lazim : 25-50 mg 3x sehari bila perlu dinaikkan sampai maksimum 250-300
mg sehari.
Kontra Indikasi : Infark miokard akut
Interaksi Obat : anti hipertensi, obat simpatomimetik, alkohol, obat penekan SSP
Perhatian : kombinasi dengan MAO, gangguan kardiovaskular, hipotensi,
gangguan untuk mengemudi, ibu hamil dan menyusui.
b) Klomipramin
Dosis lazim : 10 mg dapat ditingkatkan sampai dengan maksimum dosis 250 mg
sehari.
Kontra Indikasi : Infark miokard, pemberian bersamaan dengan MAO, gagal
jantung, kerusakan hati yang berat, glaukoma sudut sempit.

Interaksi Obat : dapat menurunkan efek antihipertensi penghambat neuro


adrenergik, dapat meningkatkan efek kardiovaskular dari noradrenalin atau
adrenalin, meningkatkan aktivitas dari obat penekan SSP, alkohol.
Perhatian : terapi bersama dengan preparat tiroid, konstipasi kronik, kombinasi
dengan beberapa obat antihipertensi, simpatomimetik, penekan SSP, anti
kolinergik, penghambat reseptor serotonin selektif, antikoagulan, simetidin.
Monitoring hitung darah dan fungsi hati, gangguan untuk mengemudi.
c) Amitriptilin
Dosis lazim : 25 mg dapat dinaikan secara bertahap sampai dosis maksimum 150300 mg sehari.
Kontra Indikasi : penderita koma, diskrasia darah, gangguan depresif sumsum
tulang, kerusakan hati, penggunaan bersama dengan MAO.
Interaksi Obat : bersama guanetidin meniadakan efek antihipertensi, bersama
depresan SSP seperti alkohol, barbiturate, hipnotik atau analgetik opiate
mempotensiasi efek gangguan depresif SSP termasuk gangguan depresif saluran
napas, bersama reserpin meniadakan efek antihipertensi
Perhatian : ganguan kardiovaskular, kanker payudara, fungsi ginjal menurun,
glakuoma, kecenderungan untuk bunuh diri, kehamilan, menyusui, epilepsi.
d) Lithium karbonat
Dosis lazim : 400-1200 mg dosis tunggal pada pagi hari atau sebelum tidur
malam.
Kontra Indikasi : kehamilan, laktasi, gagal ginjal, hati dan jantung.
Interaksi Obat : diuretik, steroid, psikotropik, AINS, diazepam, metildopa,
tetrasiklin, fenitoin, carbamazepin, indometasin.
Perhatian : Monitor asupan diet dan cairan, penyakit infeksi, demam, influenza,
gastroentritis.
2. Antidepresan Generasi ke-2
Mekanisme kerja :
SSRI ( Selective Serotonin Re-uptake Inhibitor ) : Obat-obat ini menghambat

resorpsi dari serotonin.


NaSA ( Noradrenalin and Serotonin Antidepressants ): Obat-obat ini tidak
berkhasiat selektif, menghambat re-uptake dari serotonin dan noradrenalin.
Terdapat beberapa indikasi bahwa obat-obat ini lebih efektif daripada SSRI.

Efek samping :

Efek seretogenik; berupa mual ,muntah, malaise umum, nyeri kepala,


gangguan tidur dan nervositas, agitasi atau kegelisahan yang sementara,

disfungsi seksual dengan ejakulasi dan orgasme terlambat.


Sindroma serotonin; berupa antara lain kegelisahan, demam, dan menggigil,
konvulsi, dan kekakuan hebat, tremor, diare, gangguan koordinasi.
8

Kebanyakan terjadi pada penggunaan kombinasi obat-obat generasi ke-2


bersama obat-obat klasik, MAO, litium atau triptofan, lazimnya dalam waktu
beberapa jam sampai 2- 3 minggu. Gejala ini dilawan dengan antagonis

serotonin (metisergida, propanolol).


Efek antikolinergik, antiadrenergik, dan efek jantung sangat kurang atau sama
sekali tidak ada.

Obat-obat yang termasuk antidepresan generasi ke-2 :


a) Fluoxetin
Dosis lazim : 20 mg sehari pada pagi hari, maksimum 80 mg/hari dalam dosis
tunggal atau terbagi.
Kontra Indikasi : hipersensitif terhadap fluoxetin, gagal ginjal yang berat,
penggunaan bersama MAO.
Interaksi Obat : MAO, Lithium, obat yang merangsang aktivitas SSP, anti
depresan, triptofan, karbamazepin, obat yang terkait dengan protein plasma.
Perhatian : penderita epilepsi yang terkendali, penderita kerusakan hati dan
ginjal, gagal jantung, jangan mengemudi / menjalankan mesin.
b) Sertralin
Dosis lazim : 50 mg/hari bila perlu dinaikkan maksimum 200 mg/hr.
Kontra Indikasi : Hipersensitif terhadap sertralin.
Interaksi Obat : MAO, Alkohol, Lithium, obat seretogenik.
Perhatian : pada gangguan hati, terapi elektrokonvulsi, hamil, menyusui,
mengurangi kemampuan mengemudi dan mengoperasikan mesin.
c) Citalopram
Dosis lazim : 20 mg/hari, maksimum 60 mg /hari.
Kontra indikasi : hipersensitif terhadap obat ini.
Interaksi Obat : MAO, sumatripan, simetidin.
Perhatian : kehamilan, menyusui, gangguan mania, kecenderungan bunuh diri.
d) Fluvoxamine
Dosis lazim : 50mg dapat diberikan 1x/hari sebaiknya pada malam hari,
maksimum dosis 300 mg.
Interaksi Obat : warfarin, fenitoin, teofilin, propanolol, litium.
Perhatian : Tidak untuk digunakan dalam 2 minggu penghentian terapi MAO,
insufiensi hati, tidak direkomendasikan untuk anak dan epilepsi, hamil dan laktasi.
e) Mianserin
Dosis lazim : 30-40 mg malam hari, dosis maksimum 90 mg/ hari
Kontra Indikasi : mania, gangguan fungsi hati.
Interaksi Obat : mempotensiasi aksi depresan SSP, tidak boleh diberikan dengan
atau dalam 2 minggu penghentian terapi.
Perhatian : dapat menganggu psikomotor selama hari pertama terapi, diabetes,
insufiensi hati, ginjal, jantung.
f) Mirtazapin
Dosis lazim : 15-45 mg / hari menjelang tidur.
Kontra Indikasi : Hipersensitif terhadap mitrazapin.
9

Interaksi Obat : dapat memperkuat aksi pengurangan SSP dari alkohol,


memperkuat efek sedatif dari benzodiazepine, MAO.
Perhatian : pada epilepsi sindroma otak organic, insufiensi hati, ginjal, jantung,
tekanan darah rendah, penderita skizofrenia atau gangguan psikotik lain,
penghentian terapi secara mendadak, lansia, hamil, laktasi, mengganggu
kemampuan mengemudi atau menjalankan mesin.
g) Venlafaxine
Dosis lazim : 75 mg/hari bila perlu dapat ditingkatkan menjadi 150-250 mg
1x/hari.
Kontra Indikasi : penggunaan bersama MAO, hamil dan laktasi, anak < 18
tahun.
Interaksi Obat : MAO, obat yang mengaktivasi SSP lain.
Perhatian : riwayat kejang dan penyalahgunaan obat, gangguan ginjal atau sirosis
hati, penyakit jantung tidak stabil, monitor tekanan darah jika penderita mendapat
3. Antidepresan MAO
Inhibitor Monoamin Oksidase (Monoamine Oxidase Inhibitor, MAOI)
Farmakologi
Monoamin oksidase merupakan suatu sistem enzim kompleks yang terdistribusi luas
dalam tubuh, berperan dalam dekomposisi amin biogenik, seperti norepinefrin,
epinefrin, dopamine, serotonin. MAOI menghambat sistem enzim ini, sehingga
menyebabkan peningkatan konsentrasi amin endogen.
Ada dua tipe MAO yang telah teridentifikasi, yaitu MAO-A dan MAO-B. Kedua
enzim ini memiliki substrat yang berbeda serta perbedaan dalam sensitivitas terhadap
inhibitor. MAO-A cenderungan memiliki aktivitas deaminasi epinefrin, norepinefrin,
dan serotonin, sedangkan MAO-B memetabolisme benzilamin dan fenetilamin.
Dopamin dan tiramin dimetabolisme oleh kedua isoenzim. Pada jaringan syaraf,
sistem enzim ini mengatur dekomposisi metabolik katekolamin dan serotonin. MAOI
hepatic menginaktivasi monoamin yang bersirkulasi atau yang masuk melalui saluran
cerna ke dalam sirkulasi portal (misalnya tiramin).
Semua MAOI nonselektif yang digunakan sebagai antidepresan merupakan inhibitor
ireversibel, sehingga dibutuhkan sampai 2 minggu untuk mengembalikan metabolism
amin normal setelah penghentian obat. Hasil studi juga mengindikasikan bahwa terapi
MAOI kronik menyebabkan penurunan jumlah reseptor (down regulation) adrenergic
dan serotoninergik.
Farmakokinetik
Absorpsi/distribusi Informasi mengenai farmakokinetik MAOI terbatas. MAOI
tampaknya terabsorpsi baik setelah pemberian oral. Kadar puncak tranilsipromin dan
10

fenelzin mencapai kadar puncaknya masing-masing dalam 2 dan 3 jam. Tetapi,


inhibisi MAO maksimal terjadi dalam 5 sampai 10 hari.
Metabolisme/ekskresi metabolisme MAOI dari kelompok hidrazin (fenelzin,
isokarboksazid) diperkirakan menghasilkan metabolit aktif. Inaktivasi terjadi terutama
melalui asetilasi. Efek klinik fenelzin dapat berlanjut sampai 2 minggu setelah
penghentian terapi. Setelah penghentian tranilsipromin, aktivitas MAO kembali dalam
3 sampai 5 hari (dapat sampai 10 Hari). Fenelzin dan isokarboksazid dieksresi melalui
urin sebagian besar dalam bentuk metabolitnya. Populasi khusus asetilator
lambat: Asetilasi lambat dari MAOI hidrazin dapat memperhebat efek setelah
pemberian dosis standar
Indikasi
Depresi: Secara umum, MAOI diindikasikan pada penderita dengan depresi atipikal
(eksogen) dan pada beberapa penderita yang tidak berespon terhadap terapi
antidpresif lainnya. MAOI jarang dipakai sebagai obat pilihan.
Kontraindikasi
Hipersensitif terhadap senyawa ini; feokromositoma; gagal jantung kongestif; riwayat
penyakit liver atau fungsi liver abnormal; gangguan ginjal parah; gangguan
serebrovaskular; penyakit kardiovaskular; hipertensi; riwayat sakit kepala; pemberian
bersama dengan MAOI lainnya; senyawa yang terkait dibenzazepin termasuk
antidepresan trisiklik, karbamazepin, dan siklobenzaprin; bupropion; SRRI; buspiron;
simpatomimetik; meperidin; dekstrometorfan; senyawa anestetik; depresan SSP;
antihipertensif; kafein; keju atau makanan lain dengan kandungan tiramin tinggi.
Peringatan
Memburuknya gejala klinik serta risiko bunuh diri: Penderita dengan
gangguan depresif mayor, dewasa maupun anak-anak, dapat mengalami perburukan
depresinya dan/atau munculnya ide atau perilaku yang mengarah pada bunuh diri
(suicidality), atau perubahan perilaku yang tidak biasa, yang tidak berkaitan dengan
pemakaian antidepresan, dan risiko ini dapat bertahan sampai terjadinya pengurangan
jumlah obat secara signifikan. Ada kekhawatiran bahwa antidepresan berperan dalam
menginduksi memburuknya depresi dan kemunculan suicidality pada penderita
tertentu. Antidepresan meningkatkan risiko pemikiran dan perilaku yang mengarah
pada bunuh diri (suicidality) dalam studi jangka pendek pada anak-anak dan dewasa
yang menderita gangguan depresif mayor serta gangguan psikiatrik lainnya.
Krisis hipertensif: reaksi paling serius melibatkan perubahan tekanan darah;
tidak dianjurkan untuk menggunakan MAOI pada penderita lanjut usia atau
11

berkondisi lemah atau mengalami hipertensi, penyakit kardiovaskular atau


serebrovaskular, atau pemberian bersama obat-obatan atau makanan tertentu.
Karakteristik gejala krisis dapat berupa: sakit kepala pada daerah oksipital (belakang)
yang dapat menjalar ke daerah frontal (depan), palpitasi (tidak beraturannya pulsa
jantung), kekakuan/sakit leher, nausea, muntah, berkeringat (terkadang bersama
demam atau kulit yang dingin), dilatasi pupil, fotofobia. Takhikardia atau bradikardia
dapat terjadi dan dapat menyertai sakit dada. Pendarahan intrakranial (terkadang fatal)
telah dilaporkan berkaitan dengan peningkatan tekanan darah paradoks. Harus sering
diamati tekanan darah, tapi jangan bergantung sepenuhnya pada pembacaan tekanan
darah, melainkan penderita harus sering pula diamati. Bila krisis hipertensi terjadi,
hentikan segera penggunaan obat dan laksanakan terapi untuk menurunkan tekanan
darah.
Jangan menggunakan reserpin parenteral. Sakit kepala cenderung mereda
sejalan dengan menurunnya tekanan darah. Berikan senyawa pemblok alfa adrenergik
seperti fentolamin 5 mg i.v. perlahan untuk menghindari efek hipotensif berlebihan.
Tangani demam dengan pendinginan eksternal.
Peringatan kepada penderita: Peringatkan penderita agar tidak memakan
makanan yang kaya tiramin, dopamine, atau triptofan selama pemakaian dan dalam
waktu 2 minggu setelah penghentian MAOI. Setiap makanan kaya protein yang telah
disimpan lama untuk tujuan peningkatan aroma diduga dapat menyebabkan krisis
hipertensif pada penderita yang menggunakan MAOI. Juga peringatkan penderita
untuk tidak mengkonsumsi minuman beralkohol serta obat- obatan yang mengandung
amin simpatomimetik selama terapi dengan MAOI. Instruksikan kepada penderita
untuk tidak mengkonsumsi kafein dalam bentuk apapun secara berlebihan serta
malaporkan segera adanya sakit kepala atau gejala lainnya yang tidak biasa,
Risiko bunuh diri: Pada penderita yang mempunyai kecenderungan bunuh diri,
tidak ada satu bentuk penanganan pun, seperti MAOI, elektrokonvulsif, atau terapi
lainnya, yang dijadikan sandaran tunggal untuk terapi. Dianjurkan untuk melakukan
penanganan ketat, lebih baik dilakukan perawatan di rumah sakit.
Pemberian bersamaan antidepresan: Pada penderita yang menerima suatu
SRRI dalam kombinasi dengan MAOI, telah dilaporkan reaksi serius yang terkadang
fatal termasuk hipertermia, kekakuan, mioklonus, instabilitas otonom disertai
fluktuasi cepat pada tanda vital, dan perubahan status mental termasuk agitasi hebat,
yang meningkat menjadi delirium dan koma. Reaksi ini telah terjadi pada penderita
12

yang baru saja menghentikan SRRI dan baru mulai menggunakan MAOI. Bila terjadi
pengalihan dari SRRI ke MAOI, maka harus ada selang 2 minggu diantara pergantian.
Setelah penghentian fluoxetin, maka harus ada selang 1 atau 2 minggu
sebelum mulai menggunakan MAOI. Jangan memberikan MAOI bersama atau segera
setelah antidepresan trisiklik. Kombinasi ini menyebabkan seizure, koma,
hipereksitabilitas, hipertermia, takhikardia, takhipnea, sakit kepala, midriasis,
kemerahan kulit, kebingungan, koagulasi intravaskular meluas, dan kematian. Beri
selang paling tidak 14 hari diantara penghentian MAOI dan mulainya antidepresan
trisiklik.
VII.EDUKASI
Langkah pertama dalam mengendalikan stress adalah mengidentifikasi sumber stress
tersebut. Ini bukan pekerjaan mudah karena sumber stress sering tidak terlihat jelas. Sering
kali kita stress karena adanya tenggat waktu untuk menyelesaikan pekerjaan. Mungkin bukan
banyaknya pekerjaan yang jadi masalah, namun kebiasaan menunda-nunda pekerjaan yang
menjadi penyebab stress.
Langkah kedua adalah mengamati bagaimana selama ini anda atau penderita
gangguan jiwa bereaksi terhadap stres. Berikut ini cara berekasi terhadap stress yang tidak
sehat:

merokok
makan atau minum berlebihan atau tidak mau makan/minum
minum alkohol
menghindar dari kawan, saudara atau kegiatan
terlalu banyak tidur
minum obat tidur atau obat penenang
duduk didepan komputer atau TV selama berjam-jam
menunda pekerjaan atau kegiatan
melepaskan stress dengan marah atau membanting barang atau menyerang orang lain
Ada berbagai teknik untuk mengendalikan stress.Penderita depresi tentunya tidak bisa

melakukan semua hal dibawah ini untuk mengurangi stress. Oleh karena itu, mereka bisa
memilih yang sesuai dengan keadaan diri mereka.
Dibawah ini cara cara sehat mengendalikan stress:
1. Hindari situasi yang membuat stress dengan:
13

belajar berkata tidak. Setiap orang perlu tahu batas-batas dan teguh
memegang batas batas tersebut. kapan kita harus setuju dan kapan harus
menolak.
hindari orang orang yang selama ini bikin kita stress
kendalikan lingkungan sekitar. Misalnya bila mendengar berita sore di TV

bikin stress, pindahkan saluran atau matikan TV


hindari bicara topik yang bikin stress. Bila bicara tentang politik atau

kematian bikin anda stress, maka hindari bicara tentang topik tersebut.
evaluasi jadwal kerja/ tugas harian. Bila terlalu banyak, maka tugas kegiatan
tersebut bisa dikurangi
2. Ubah situasi yang membuat stress dengan:
sampaikan bila anda tidak berkenan atau merasa terganggu dengan seseorang
atau suatu situasi.
bersedia kompromi. Bila kita ingin orang lain berubah perilaku, kita juga
harus mau berubah perilaku pula.
berperilaku assertive. Lakukan sesuatu untuk mencegah atau merubah sesuatu
yang tidak kita inginkan, jangan hanya diam saja. Misalnya, bila anda harus
belajar dan teman ngajak ngobrol terus, bilang bahwa anda harus belajar dan
hanya punya waktu 5 menit untuk mengobrol.
kelola waktu dengan baik. Jangan menunda-nunda pekerjaan, jangan terlalu
banyak janji, dll.
3. Menyesuaikan diri dengan sumber stress. Bila kita tidak bisa menghindar atau
mengubah penyebab stress, maka kita harus berusaha menyesuaikan diri. caranya:
formulasi ulang masalah. Bila kita terjebak macet, kita lihat hal tersebut
sebagai kesempatan untuk mendengarkan radio, misalnya.
lihat pada gambar besarnya. Apakah ada dampak masalah ini bulan depan
atau tahun depan?
sesuaikan standar, jangan ingin sempurna.
lihat sisi positifnya.
4. Terima apa apa yang tidak bisa diubah
jangan coba coba mengendalikan yang tidak bisa dikendalikan.
belajar memaafkan
berbagi rasa. Bicara dengan orang orang yang bisa dipercaya.
lihat sisi positifnya.
5. Sediakan waktu untuk santai dan kegiatan yang menyenangkan
sediakan waktu untuk bersantai
sediakan waktu untuk bergaul dengan orang orang yang mendukung
14

lakukan kegiatan yang disenangi (main musik, dll)


6. Biasakan berperilaku hidup sehat :
berolah raga secara teratur
makan makanan yang sehat
kurang kopi dan gula
hindari alkohol, rokok, obat/ narkoba
tidur yang cukup.

VIII.PROGNOSIS
Gangguan depresi berat bukan merupakan gangguan yang ringan. Keadaan ini
cenderung merupakan gangguan yang kronis dan pasien cenderung mengalami relaps. Pasien
yang dirawat di rumah sakit untuk episode pertama gangguan depresif memiliki
kemungkinan 50 % untuk pulih di dalam tahun pertama.
Rekurensi episode depresi berat juga sering, kira-kira 30 sampai 50 % dalam dua
tahun pertama dan kira-kira 50 sampai 70 % dalam 5 tahun. Insidensi relaps adalah jauh lebih
rendah dari pada angka tersebut pada pasien yang meneruskan terapi psikofarmakologis
profilaksis dan pada pasien yang hanya mengalami satu atau dua episode depresi.

15

Gambar 1. Algoritma untuk terapi depresi (Teter et al.,2007).

DAFTAR PUSTAKA

Wiguna, I Made. 2010. Gangguan Mood. Dalam : Kaplan Sadock. Sinopsis Psikiatri. Jilid
I. Tangerang : Binarupa Aksara.
M Ismail, Irawati R dan Siste, Kristiana. 2013. Gangguan Depresi : Buku Ajar Psikiatri UI.
Edisi kedua. Jakarta : Badan Penerbit FKUI.
Teter, C. S., Kando, J. C., Wells, B. G., & Hayes, P. E., 2007, Depressive Disorder ,dalam
Dipiro, J. T., Talbert, R. L., Yee, G. C., Matzke, G. R., Wells, B. G.,& Posey Micheal, L.,
(eds), Pharmacotherapy A Pathophysiologic Approach,7th Edition, Appleton and lange,
New York.
16

Tirto j, 2012. Depresi : Panduan Bagi Pasien, Keluarga dan Teman Dekat. Seri Depresi. Pusat
Pemulihan dan Pelatihan bagi Penderita Gangguan jiwa. Jawa tengah. Indonesia
Maslim r, 2003. BUKU SAKU DIAGNOSIS GANGGUAN JIWA RUJUKAN RINGKAS
dari PPDGJ-III. Jakarta
Anonim.Major
depressive
disorder.
Update
Availablefrom : http://www.Major_depressive_disorder.html

on

2012:

W. Lam R, Mok H. Depression Oxford Psychiatry Library. Lunbeck Institutes. 2012. p. 1-57.

17