Anda di halaman 1dari 14

Nama : Vika Marcelina

NPM :140310130020
GRAPHENE

Pengertian Graphene
Graphene adalah kristal dua dimensi (2D) yang memiliki kondisi stabil terhadap
lingkungan. Graphene merupakan alotrop karbon yang berbentuk lembaran datar tipis di
mana setiap atom karbon memiliki hibridisasi ikatan sp2 dan dikemas rapat dalam bentuk kisi
kristal seperti sarang lebah atau berbentuk hexagonal dengan atom karbon dengan rantai
rangkap tunggal yang berulang (rantai konjugasi)[1].

(a)

(b)

Gambar 1. Graphite dan Lapisan Graphene (a) dan rantai karbon dari graphene (b)

Nama graphene berasal dari GRAPHITE + -ENE. Dimana grafit sendiri terdiri dari
banyak lembaran graphene yang ditumpuk secara bersama. Grafena yang sempurna secara
eksklusif terdiri dari sel-sel yang berbentuk heksagonal, sel berbentuk segi lima dan segi
tujuh merupakan sel yang cacat. Jika terdapat sel bersegi lima yang terisolasi , maka bidang
akan mengkerut menjadi berbentuk kerucut, penyisipan 12 segi lima akan membentuk
fulerena. Graphene merupakan material baru yang ditemukan tahun 2004 secara sederhana
oleh Andre Geim dan Konstantin Novoselov yaitu menggunakan selotip yang direkatkan
pada karbon sehingga didapat satu lapisan dengan orde nanometer dari karbon tersebut[1].

Gambar 2. Penemu Material Graphene Andre Geim dan Konstantin Novoselov[3]

Struktur Graphene
Karbon memiliki tiga bentuk alotrop (bentuk alam yang ditemukan), yaitu arang, intan, grafit.

(a)

(b)

(c)

Gambar 3. Tiga bentuk alotrop karbon: a) grafit, b) Intan, c) arang

Graphene merupakan alotrop karbon dengan struktur kristal 2D dari karbon dengan
struktur hexagonal yang berbentuk lembaran datar tipis di mana setiap atom karbon memiliki
hibridisasi ikatan sp2 dan dikemas rapat dalam bentuk kisi kristal yang memiliki ikatan
rangkap tunggal secara berulang (rantai konjugasi).

Gambar 4. Struktur Graphene[3]

Sifat dan Karakter Graphene


Graphene tampak berupa material kristaline berdimensi dua pada suhu kamar
memperlihatkan struktur jaringan karbon yang benar benar teratur dalam dua dimensi yaitu
dimensi panjang dan dimensi lebar. Keteraturan yang tinggi bahkan tanpa cacat ini timbul
sebagai akibat dari ikatan antar atom karbonnya yang kuat. Unit dasar struktur ini hanya
terdiri atas enam atom karbon yang saling bergabung secara kimiawi. Jarak antar atom C nya
sama dengan 0,142 nm. Konfigurasinya menyerupai struktur sarng lebah dengan ketebalan
ukuran orde atom, dalam 1 mm grafit terdapat 3000 lapisan graphene. Adapun sifat dan
karakteristik graphene yang lainnya akan dijelaskan dibawah ini[1] :
1. Sifat Optik
Memiliki transparansi sangat tinggi, hal ini disebabkan oleh dimensi graphene yang mirip
selembar kertas dan ketebalannya yang berorde atom. Namun meskipun memiliki
transparansi yang tinggi graphene tetap memiliki kerapatan yang cukup tinggi yaitu 0,77
mg/m2.
Dengan transparansi hampir 98 % dan dapat menghantarkan arus listrik dengan sangat
baik, graphene berpeluang untuk diaplikasikan pada pembuatan lapisan sentuh yang
transparan, panel listrik dan sel surya.
2. Sifat Mekanik
Memiliki daya tahan terhadap tekanan sebesar 42 N/m, dibandingkan dengan baja yang
memiliki kekuatan tekanan 0,25 1,2x109 N/m. Jika dianggap terdapat baja yang
ketebalannya sama dengan graphene, maka kekuatan baja tersebut setara dengan 0,084
0,40 N/m. Sehingga dapat dikatakan bahwa graphene seratus kali lebih kuat dari baja.
Ikatan atom karbonnya sangat fleksibel yang memungkinkan jaringannya merenggang
hingga 20 % dari ukuran awal.
3. Sifat Listrik
Bersifat konduktor listrik. Sifat konduktivitas listrik graphene berasal dari elektron ikatan
phi yang terdelokalisasi disepanjang ikatan C-C dan bertindak sebagai pembawa muatan.

Graphene

merupakan

bahan

superkonduktor,

namun

dapat

berubah

menjadi

semikonduktor dengan menambahkan dopping. Dopping ini akan memutuskan ikatan phi
pada atom karbon yang bersangkutan, sehingga menurunkan konduktivitas listrik
graphene atau membuka band gap dengan tingkat resistivitasnya menuju nol.
Kisi kisi pada graphene memungkinkan elektronnya untuk dapat menempuh jarak yang
jauh dalam graphene tanpa gangguan. Pada konduktor normal, elektron biasanya
mengalami pantulan berkali kali yang dapat melemahkan daya kerja konduktor. Namun
hal ini tidak terjadi pada graphene.
4. Sifat Termal
Campuran 1 % graphene dengan bahan plastik dapat membuat bahan plastik bersifat
menghantarkan panas. Resistansi plastik akan meningkat sampai 30 C bersamaan dengan
meningkatnya kekuatan mekanis. Hal ini memberi peluang untuk menghasilkan material
baru yang sangat kuat, tipis, elastis dan tembus pandang.
5. Sifat Graphene Sebagai Foton
Elektron elektron pada graphene berperilaku sebagai partikel cahaya, foton foton
tanpa massa yang dalam keadaan vakum dapat bergerak dengan dengan kecepatan
300.000.000 m/s. Elektron dalam graphene karena tidak memiliki massa dapat bergerak
dengan kecepatan konstan sebesar 1.000.000 m/s.

Metode Sintesis Graphene


Berbagai metode telah dikembangkan untuk membuat graphene. Metode-metode ini
terbagi menjadi dua, yaitu pembelahan grafit menjadi lapisan-lapisan graphene (top down)
dan penumbuhan graphene secara langsung dari atom-atom karbon (bottom up). Yang
termasuk metode top down adalah metode pengelupasan sadangkan metode bottom up adalah
reduksi Graphene Oksida, dispersi dalam cairan, dan pertumbuhan epitaksial.
Berikut penjelasan lebih rinci mengenai berbagai macam metode pembuatan grapheme[1] :
a. Pengelupasan
Metode

pengelupasan

merupakan

metode

yang

digunakan

oleh

Andre

Geim dan Konstantin Novoselov (penemu graphene). Dalam metode pengelupasan, selotip
direkatkan pada grafit lalu dikelupas sehingga di selotip tersebut ada lapisan tipis grafit.
Perekatan selotip dilakukan berkali-kali sampai didapat satu lapisan graphene. Andre
Geim dan Konstantin Novoselov menemukan graphene dengan tidak sengaja. Mulanya,
beliau sedang bekerja di laboratorium kemudian melihat peneliti seniornya yang sedang
meneliti grafit. Peneliti seniornya tersebut menempelkan selotip ke grafit dan mengelupasnya
dengan tujuan membersihkan grafit lalu membuang selotip tersebut ke tempat sampah. Andre

Geim dan Konstantin Novoselov tertarik dengan lapisan grafit yang ada di selotip tersebut.
Ternyata setelah mereka kaji dan dilakukan karakterisasi, lapisan grafit yang menempel di
selotip ini lebih memiliki sifat unggul dari pada grafitnya.
Keunggulan dari metode ini adalah graphene yang dihasilkan berkualitas tinggi
(murni atau tidak memiliki impuritas) karena diambil langsung dari grafit. Selain itu,
kualitasnya tinggi karena tidak digunakan pelarut saat mensintesisnya sehingga tidak ada sifat
pelarut yang terbawa ke graphene yang dihasilkan. Sedangkan kelemahan dari metode ini
adalah hasil produksi dalam skala kecil, biaya produksi tinggi, dan tebal graphene yang tidak
rata. Metode ini cocok jika graphene yang dihasilan untuk penelitian dimana jumlah produksi
yang diinginkan memang skala laboratorium.
Selotip tidak mempengaruhi graphene yang terbentuk karena sifat graphene yaitu
konduktivitas listrik yang baik (disebabkan karena elektron bergerak sangat cepat dengan
kecepatan relativistik karena massa dari graphene sangat kecil sehingga dianggap nol),
konduktivitas panas yang baik (disebabkan perbandingan luas permukaan dan volumenya
yang besar sehingga konduktivitas panas graphene lebih besar dibanding material lainnya),
band gap nol (dipengaruhi oleh bentuk tepi pita graphene), sifat optiknya yaitu sifat
transparannya yang baik (karena graphene hanya setebal satu atom). Dengan meninjau
penyebab dari sifat-sifat yang dimiliki graphene maka selotip tidak mempengaruhi sifat
graphene yang terbentuk.
Tahap lanjutan dari proses pengelupasan adalah drawing method yaitu mentransfer
lapisan graphene pada selotip ke substrat dengan cara menempelkan lapisan tersebut ke
substrat1. Substrat yang biasa digunakan adalah silikon (Si) dan Silika (SiO 2). Silikon yang
semula bersifat semikonduktor lalu didoping oleh graphene sehingga memiliki konduktivitas
listrik sangat baik dan menjadi konduktor. Dengan adanya metode ini, graphene yang
terbentuk dapat langsung digunakan.
b. Reduksi Graphene Oksida (GO)
Tahapan sintesisnya adalah Graphene Oksida (GO) dilarutkan dalam air. Karena GO
bersifat hidrofobik, lembaran-lembaran GO langsung terpisah dari kristal asalnya. Kemudian,
untuk mendapatkan graphene, GO diendapkan dan direduksi dengan hidrazin.
Graphene yang dihasilkan ternyata tidak rata dan memiliki konduktivitas yang rendah,
yaitu 0,05 - 2 S/cm karena masih adanya atom impuritas yaitu sisa pereduksi dan pelarut yang
menempel pada graphene. Tetapi bukan berarti metode ini tidak bisa diterapkan. Metode ini
berguna jika graphene yang dihasilkan diaplikasikan untuk tinta, cat, dan elektroda dimana
tidak membutuhkan tingkat konduktivitas terlalu tinggi. Selain memiliki kekurangan, metode

ini juga memiliki kelebihan yaitu hasil produksi dalam jumlah besar dan biaya produksi
murah.
c. Dispersi Dalam Cairan
Pada metode ini, cairan yang digunakan adalah larutan surfaktan SDBS (sodium
dodecylbenzene sulfonate). Saat dilarutkan, grafit terlepas dengan sendirinya karena sifatnya
yang hidrofobik. Setelah itu, dilakukan pengendapan dan pengeringan sehingga graphene
dapat dikumpulkan. Jenis larutan yang dapat digunakan untuk metode ini memiliki kriteria
grafit tidak larut dalam pelarut tersebut. Namun sampai saat ini, larutan yang digunakan
adalah larutan surfaktan SDBS (sodium dodecylbenzene sulfonate).
Graphene yang dihasilkan memiliki tebal sekitar 150 nm, dan memiliki konduktivitas
1500 S/m. Nilai konduktivitas yang rendah ini disebabkan amsih menempelnya molekul
surfaktan sehingga mengganggu jalannya elektron dan menurunkan konduktivitas. Walaupun
demikian, cara ini memiliki keunggulan bahwa memerlukan sedikit biaya dan hasil produksi
cukup banyak.
Metode ini sangat cocok diterapkan jika graphene yang dihasilkan digunakan untuk
elektroda transparan dan untuk sensor dimana tidak membutuhkan tingkat konduktivitas
terlalu tinggi.
d. Pertumbuhan Epitaksial
Metode pertumbuhan epitaksial adalah metode yang menggunakan substrat sebagai
bibit pertumbuhannya sehingga ikatan antara lembaran grafena bagian bawah dengan substrat
dapat memengaruhi sifat-sifat lapisan karbon[2]. Berdasarkan substratnya, pertumbuhan
epitaksial dibedakan menjadi penumbuhan dengan CVD Logam (Chemical Vapor
Deposition) dan Penumbuhan dari Silikon Karbida[1].
i)

Penumbuhan dengan CVD Logam

Mekanisme penumbuhan graphene pada logam :


1. Logam (Cu dan Ni) bersuhu suhu 1000 oC direaksikan dengan gas (metana + hidrogen) ;
alasan digunakan logam Cu dan Ni karena logam ini dapat dikikis dengan etsa sehingga
graphene yang dihasilkan tidak terikat pada substrat logam. Etsa adalah peristiwa
pengikisan bagian permukaan logam dengan menggunakan asam kuat
2. Suhu diturunkan sampai suhu ruang sehingga atom karbon mengendap di permukaan
logam menjadi graphene Graphene yang telah ditumbuhkan pada logam tersebut
dipindahkan ke substrat PMMA (Polymethyl Metcrylate) sedangkan logamnya dietsa

hingga habis. Alasan digunakannya PMMA karena dapat dikikis habis dengan aseton
sehingga graphene yang terbentuk tidak terikat pada PMMA.
Selain PMMA, polimer lain juga berpotensi untuk mejadi substrat kemudian dilakukan proses
annealing (dipanaskan pada suhu tertentu dan pada waktu tertentu) sehingga polimer terkikis
habis. Tetapi, sampai saat ini polimer yang digunakan sebagai substrat adalah PMMA karena
sifat PMMA yang fleksibel jadi jika tidak dikikis pun graphene yang menempel di PMMA
dapat menjadi produk fleksibel yang bersifat konduktor dan dapat diterapkan untuk flexible
screens, dan solar cell.
ii)

Penumbuhan dengan Silikon Karbida

Penumbuhan dengan Silikon Karbida berarti menggunakan Silikon Karbida (SiC) sebagai
substrat pertumbuhannya. Ada dua cara penumbuhannya yaitu :
Cara I
Substrat SiC dipoles sampai rata kemudian dipanaskan (1500oC) dalam Ultra High
Vacuum (10-10torr) sehingga atom-atom Si menyublim dan atom karbon tertinggal di
permukaan membentuk graphene.
Cara II
Substrat SiC dipanaskan (1500oC) dalam vakum tingkat sedang (10-5 torr) dengan
menyisakan gas (O2, H2O, CO2). Gas-gas tersebut bereaksi dengan SiC dan menyisakan atom
karbon yang membentuk graphene.
Keunggulan dari metode ini adalah substrat SiC dapat langsung digunakan sebagai
piranti elektronik dan menghasilkan graphene berkualitas tinggi karena tidak menggunakan
pelarut. Selain itu, dihasilkan graphene berkualitas tinggi karena atom Si tidak berekasi
dengan karbon, melainkan menyublim pada cara I dan bereaksi dengan gas-gas pada cara II.
Sedangkan kelemahan dari metode ini adalah biaya produksi yang tinggi karena mahalnya
harga substrat dan memerlukan suhu yang tinggi mencapai 1500oC.
Graphene yang dihasilkan dengan menggunakan metode ini dapat diaplikasikan
menjadi transistor, jumper atau interconnect sircuit, dan memory card.
e. Metode Unzipping Multi-walled Carnon Nanotubes
Salah satu metode pembuatan Carbon Nanotubes adalah dengan menggulung graphene
pada arah tertentu sehingga membentuk tabung atau tube. Akan terbentuk Carbon nanotubes
multi-walled saat lapisan graphene yang digulung lebih dari satu (banyak). Metode
Unzipping Multi-walled Carnon Nanotubes adalah metode yang membuka kembali gulungan
tersebut sehingga menjadi lapisan graphene kembali.

Keunggulan dari metode ini adalah menghasilkan graphene dengan kualitas tinggi karena
tidak adanya atom impuritas dan biaya produksinya yang murah. Sedangkan kelemahannya
adalah skala hasil produksinya tidak besar. Metode ini cocok diterapkan jika ingin
menghasilkan graphene yang digunakan untuk transistor efek medan dan superkapasitor yang
membutuhkan tingkat konduktivitas sangat tinggi.

Aplikasi Graphene
Aplikasi yang pertama kali akan menggunakan material graphene yaitu sebagai bahan
pengganti logam mahal seperti Indium selenida yang terdapat dalam sel surya. Kedua,
sebagai bahan perangkat komunikasi.
Tabel 1. Aplikasi Elektronik dari Graphene[4]

Gambar 5. Aplikasi Elektronik dari Graphene yang Akan Diaplikasikan pada 20 Tahun
Kedepan[4]
Tabel 2. Aplikasi Photonik dari Graphene[4]

Gambar 6. Aplikasi Photonic dari Graphene yang Akan Diaplikasikan pada 20 Tahun
Kedepan[4]
Aplikasi lainnya yaitu sebagai display transparan yang dapat diintegrasikan dimana saja
seperti pada jendela, gelas, dan di dinding. Semua itu membutuhkan material yang sangat
tipis dan transparan yaitu graphene. Berikut beberapa aplikasi material graphene yang sedang
dan akan dikembangkan.
1. Touch Screen

Gambar 7. Graphene Based Touch Screen[5]


Pertama display graphene fleksibel (foto) dibuat prototipenya pasa September 2014 oleh dua
lembaga kemitraan Universitas Cambridge Graphene Pusat dan perusahaan UK Plastic

Logic. Ini adalah layar monokrom, mirip dengan e-pembaca. Penemuan ini mungkin tampak
terbatas, tapi itu merupakan langkah penting menuju perangkat pintar wearable dan fleksibel
masa depan telah di toko layar ini khususnya, dan mungkin orang lain yang mengikutinya -.
seperti yang ada di smartphone Cina kita melihat kemarin bekerja pada prinsip matriks
elektroforesis aktif. Menggunakan medan listrik untuk output gambar melalui re-mengatur
partikel tersuspensi dalam larutan. Lapisan emulsi-diproses elektroda graphene dititipkan ke
sebuah panel plastik fleksibel dan terukir dengan sirkuit listrik. Tidak ada persyaratan
intrinsik untuk menggunakan lembar kaca, yang berarti menampilkan graphene tidak akan
dikenakan jenis dampak kerusakan yang diderita oleh layar kaca tertutup. Selain itu,
semacam ini tampilan harus lebih mudah untuk menghasilkan dari fleksibel layar OLED,
karena backplane yang lapisan listrik yang memasok listrik untuk partikel display mengatur
ulang dapat diproduksi menggunakan proses suhu rendah (di bawah 100 C / 212 F),
yang meminimalkan risiko hasil dan membuat produksi yang kurang sumber daya intensive.
Bagaimanapun, menampilkan graphene smartphone kemungkinan akan menggunakan unsurunsur dari LCD dan teknologi OLED untuk memberikan jenis warna dan refresh rate yang
diperlukan untuk pengalaman pengguna yang memadai. Hal ini pasti akan menyulitkan
produksi agak. Sekitar lima bulan kemudian, peneliti dari University of Manchester dan
University of Sheffield memperkenalkan semi-transparan, layar LED berbasis graphene, yang
merupakan dasar untuk menampilkan graphene fleksibel yang akan berakhir di perangkat
mobile masa depan. Menjadi hanya 10 sampai 40 tebal atom, itu memancarkan cahaya di
seluruh permukaan tanpa membutuhkan latar[5].
2. Transistor Graphene

Gambar 8. Transistor Graphene[2]


Graphene dapat diukir ke sirkuit elektronik kecil dengan transistor individu yang memiliki
ukuran tidak lebih besar daripada molekul. "Semakin kecil ukuran transistor lebih baik

performanya "Seperti Kata

Peneliti Manchester. dua tahun lalu Manchester memecahkan

rekor ukuran transistor menggunakan graphene. Transistor graphene yang memiliki kinerja
tertinggi telah dibuat pada graphene yang terbentuk dari gumpalan dipipihkan dari grafit dan
menempel pada substrat. Transistor dibuat pada graphene terbentuk pada permukaan substrat
yang sejauh ini berkinerja buruk dibandingkan dengan mereka graphene yang dipipihkan. Di
sini kita berbicara tentang dua perusahaan yang membuat transistor graphene yang
mencengangkan dan beberapa khusus sifat transistor graphene.
3. Graphene-based OLED outperforms one based on ITO
Graphene telah dipuji sebagai pengganti potensial untuk Indium Thin Oxide (ITO) di pasar
yang telah berkembang menjadi konduktor transparan, khususnya karena memungkin untuk
menjadi perangkat portabel yang fleksibel. Ketidakdewasaan teknologi sejauh ini telah
menghambat meluasnya penggunaan graphene sebagai elektroda transparan, namun peneliti
dari Philips Research, University of Cambridge, dan Graphenea telah direkayasa organic light
emitting diode (OLED) berdasarkan graphene yang mengungguli performa perangkat ITO.

Gambar 9. Graphene-based OLED[6]


Mobilitas tinggi elektronik dan transparansi optik dari graphene membuat bahan ini
sangat baik untuk perangkat opto-elektronik, seperti sel surya, light emitting diode (LED),
dan layar sentuh. Saat ITO adalah bahan yang paling banyak digunakan untuk aplikasi
tersebut. Namun, harga yang mahal dan ketersediaan Indium yang terbatas, dikombinasikan
dengan tren pasar ke arah perangkat fleksibel, dengan permintaan konduktor transparan
alternatif (TC) untuk perangkat generasi berikutnya.
4. Baterai

Peneliti UCLA telah berhasil mengembangkan baterai graphene yang tidak beracun, murah,
dan mengisi ulang (charging) dalam waktu singkat.Baterai ini bisa mengisi ponsel hanya
dalam waktu 5 detik.

5. Night Vision
Graphene bersama dengan sulfida timbal dapat menciptakan gambar atau citra lebih halus
dalam kondisi cahaya yang sangat rendah.Terobosan ini akan mendorong diproduksinya
kamera ultra ringan dan kacamata night vision.
6. Mendeteksi Bahan Peledak
Graphene dapat berguna dan sangat efisien dalam mendeteksi bahan peledak.
Meskipun desain awal telah dikembangkan oleh Rensselaer Polytechnic Institute, masih
dibutuhkan waktu lama sebelum produk ini bisa digunakan oleh tim penjinak bom.
7. Rompi Anti Peluru Kualitas Tinggi
Kekuatan graphene yang begitu besar menjadikannya ideal digunakan sebagai bahan pembuat
rompi antipeluru. Sebuah penelitian di Australia telah berhasil menemukan cara untuk
menggabungkan karbon nanotube dengan graphene untuk membuat rompi antipeluru yang
sejauh ini paling aman.
8. Cat Kualitas Super
Para peneliti terus bereksperimen mencampur graphene dengan unsur lain untuk membentuk
sel-sel fotovoltaik (sel surya) ultra tipis yang dapat digunakan untuk mengecat rumah. Cat ini
pada gilirannya dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan listrik seluruh rumah dengan
memanfaatkan sinar matahari.
9. Layar Transparan yang Lebih Kuat dari Baja
Dengan sifat graphene yang kuat, kita bisa berharap akan banyak layar elektronik transparan
dipasang di mana-mana. Layar konvensional, seperti yang kita tahu, akan menjadi usang
segera setelah itu.
10. Graphene Mampu Mengubah Teknologi Sel Surya
Energi matahari merupakan sumber daya gratis dan tak ada habisnya. Hanya saja, teknologi
sel surya saat ini masih belum begitu efisien.
Graphene dapat mengubah semua itu di masa depan. Dengan sel surya graphene ultra tipis,
energi yang bisa diserap dari sinar matahari akan berlipat dibandingkan yang bisa dilakukan
saat ini.
11. Kapasitor Super Graphene untuk Menyalakan Laptop Berhari-hari

Kapasitor super yang menggunakan lapisan karbon diantara dua pelat diprediksi akan mampu
meningkatkan kapasitas penyimpanan muatan listrik.
Secara teori, kapasitor ini akan sanggup menyalakan laptop hingga berhari-hari.
12. Membuat Speaker yang Lebih Baik dan Murah
Speaker graphene telah dikembangkan dalam bentuk yang masih kasar saat ini. Penelitian
terus dilakukan untuk meningkatkan kualitas serta keterjangkauannya di pasaran. Selain suara
yang mumpuni, speaker graphene juga mengkonsumsi daya lebih rendah dibandingkan
speaker konvensional.
13. Pembuangan Limbah Nuklir yang Lebih Mudah
Graphene oksida akan membuat pembuangan limbah nuklir dari badan air lebih mudah dari
sebelumnya. Saat dicampur dengan limbah radioaktif, graphene oksida berubah menjadi
gumpalan sehingga lebih mudah diangkat dari badan air.
14. Membuat Otot Buatan
Graphene berpotensi digunakan untuk membuat otot manusia buatan. Sekali lagi, meskipun
memiliki peluang, diperlukan riset lebih jauh untuk mewujudkannya.
15. Anti Karat
Karat adalah masalah kecil namun merepotkan, terutama di mesin berbagai peralatan.
Sifat graphene yang menolak air dapat dimanfaatkan untuk mencegah karat. Ahli kimia di
SUNY telah berhasil menciptakan lapisan yang dapat mencegah baja dari karat hingga 1
bulan saat terendam dalam larutan air garam.
16. Layar Touchscreen Ekstra Kuat
Memasukkan graphene sebagai konduktor di layar sentuh (touchscreen) akan membuatnya
menjadi produk kuat sehingga akan menggantikan material plastik. Dengan Samsung
mencoba untuk memonopoli teknologi ini secara agresif, kita bisa mengharapkan smartphone
murah dengan layar sentuh yang lebih tahan lama di masa depan.
17. Membuat Air Laut Bisa Diminum
Peneliti MIT sedang merancang filter menggunakan graphene (grafena) yang dapat
memisahkan garam dari air laut.

DAFTAR PUSTAKA
[1] Widiatmoko, Eko. GRAPHENE : SIFAT, FABRIKASI, DAN APLIKASINYA. Bandung :
Jurusan Fisika, Institut Teknologi Bandung.
[2] Raza, Hassan. 2012. Grapehene Nanoelectronics. New York : Springer
[3] http://folk.uio.no/yurig/Nanotechnology/Graphene/Graphene.pdf
[4]http://www.condmat.physics.manchester.ac.uk/media/eps/condensedmatterphysicsgroup/p
ublications/GrapeneRoadmap.pdf (Diakses pada tanggal 28 April 2016 Pukul 13:55 WIB)
[5] http://www.nature.com/nphoton/journal/v4/n9/fig_tab/nphoton.2010.186_F4.html
(Diakses pada tanggal 28 April 2015 Pukul 21:28)
[6] Spasenovik, Marco. 2014. Graphene based OLED outperforms one based on ITO.
http://www.graphenea.com/blogs/graphene-news/14789501-graphene-based-oledoutperforms-one-based-on-ito (Diakses pada tanggal 28 April 2016 Pukul 21:48)

Beri Nilai