Anda di halaman 1dari 15

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terbanyak keempat di

dunia. Dengan jumlah penduduk yang sangat banyak, tentu permasalahan kesehatan
terutama kesehatan tulang menjadi salah satu kendala yang ditemui. Permasalahan
kesehatan tulang seperti tulang patah, tulang retak dan sebagainya juga menjadi
permasalahan bagi semua penduduk mengingat Indonesia memiliki potensi gempa
bumi yang cukup tinggi sehingga dapat mengakibatkan kecelakaan pada manusia
terutama pada tulang manusia.
Untuk menanggulangi masalah tersebut, maka dibuatlah suatu material yang
diharapkan dapat menanggulangi permasalahan kesehatan tulang ini. Material ini
disebut sebagai biokompatibel material. Biomaterial ini merupakan material yang
digunakan sebagai pengganti tulang yang rusak ataupun cedera akibat penyakit
ataupun kecelakaan yang dialami oleh manusia.
Namun, dibalik perkembangan teknologi biomaterial ini, masih terdapat
kendala penting dan akan berakibat fatal apabila hal ini terus dibiarkan. Kendala
tersebut adalah adanya unsur logam yang terlarut dalam darah dan logam ini akan
bersifat racun (toxic) yang dapat mengakibatkan berbagai macam gangguan
kesehatan lain, seperti alergi bahkan sampai kanker. Adapun unsur yang larut tersebut
adalah unsur aluminium dan vanadium dalam paduan logam Ti 6Al 4V [Fengxiang
Qin, 2011].
Dalam memecahkan permasalahan unsur terlarut ini maka dikembangkan
suatu ide untuk menggantikan logam paduan konvensional ini dengan material
terbaru, yaitu metallic glass. Metallic glass merupakan material logam amorf yang
terbentuk akibat tidak tertatanya butiran-butiran atom logam pada saat pendinginan.
Karena ketidakteraturan atom yang terbentuk inilah maka metallic glass memiliki

sifat yang tidak biasa, yaitu tidak memiliki batas butir, memiliki sifat mekanik yang
sangat baik dan memiliki ketahanan korosi lebih baik daripada logam konvensional.
Adapun paduan metallic glass yang memungkinkan untuk di aplikasikan sebagai
material biokompatibel yaitu metallic glass Ti-based. Berdasarkan peluang
pengembangan material metallic glass tersebut, maka kami ingin melakukan
penelitian mengenai karakteristik dari metallic glass paduan Ti-Cu-Zr-Pd-Co dalam
aplikasi material biokompatibel.
1
1.2

Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana karakteristik struktur mikro metallic glass paduan Ti-Cu-Zr-PdCo melalui teknik pemeriksaan metalografi?
2. Bagaimana peluang material metallic glass dalam menggantikan logam
biokompatibel konvensional?

1.3

Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari karakteristik logam,

terutama struktur mikro metallic glass paduan Ti-Cu-Zr-Pd-Co melalui teknik


pemeriksaan metalografi untuk aplikasi biokompatibel.
1.4

Hipotesa Awal
Hipotesa dari penelitian ini yaitu metallic glass paduan Ti-Cu-Zr-Pd-Co dapat

diaplikasikan sebagai material biokompatibel dengan sifat tahan korosinya yang


sangat baik dikarenakan tidak terdapatnya batas butir pada struktur mikro logam dan
akan dibuktikan dengan karakterisasi pada metallic glass paduan Ti-Cu-Zr-Pd-Co.
1.5

Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan proposal penelitian ini terdiri dari tiga bab sebagai

kajian utama. Bab I menjelaskan latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian,
hipotesa awal dan sistematika penulisan laporan yang digunakan. Bab II merupakan
tinjauan pustaka yang berisi mengenai teori singkat yang terkait dengan penelitian
yang dilakukan. Bab III menjelaskan mengenai metode penelitian yang dilakukan.

BAB II
TEORI DASAR
2.1

Titanium dan Paduan Titanium


Titanium dan paduannya secara luas digunakan sebagai material struktur

dalam industri kimia dan luar angkasa serta sebagai material biomedik karena sifat
densitasnya rendah yang dikombinasikan dengan kekuatan yang tinggi dan ketahanan
korosi yang baik. Densitas titanium sebesar 4,5 Mg/m 3, lebih kecil bila dibandingkan
dengan densitas baja dan superalloys yaitu sekitar 7,8 Mg/m3 dan memungkinkan
untuk dijadikan material biomedik. [Reza Abbaschian;1994]
Pada temperatur rendah titanium terpasivasi dan menjadi inert secara
menyeluruh terhadap senyawa asam dan klorida. Pada temperatur tinggi, titanium

teroksidasi secara cepat karena memiliki kemampuan absorpsi oksigen yang sangat
tinggi.
Paduan titanium komersial dapat diklasifikasikan menjadi tiga yaitu fasa , ,
+ . Variasi tingkat kemurnian titanium bergantung pada kandungan pengotor,
kebanyakan oksigen dan besi. Yield strength unalloyed grades titanium bervariasi dari
170 MPa sampai 485 MPa, bergantung pada kandungan pengotor dan unsur interstisi.
Paduan titanium fasa adalah paduan titanium yang mengandung unsur
alpha stabilizer seperti Al dan Sn. Paduan ini memiliki struktur kristal HCP pada
struktur kamar. Aluminium dapat meningkatkan kekerasan namun dapat menurunkan
keuletan paduan. Timah dapat meningkatkan kekuatan tanpa mengurangi keuletan
logam. Dalam banyak kasus, kedua elemen pemadu ini ditambahkan secara
bersamaan seperti pada paduan Ti-5Al-2,5Sn. Paduan alpha titanium secara umum
memiliki karakter kekuatan yang baik, tangguh, memiliki sifat mampu las, dan creep
resistance yang baik. Perlakuan panas pada paduan ini hanya untuk menghilangkan
tegangan sisa.
Paduan titanium beta secara umum mengandung satu atau lebih beta stabilizer
seperti molybdenum, vanadium, atau chromium. Paduan ini memiliki sifat mampu
4
keras yang baik dan mampu tempa yang baik. Keuntungan
yang paling penting dari
fasa beta daripada fasa alpha yaitu fasa beta dapat diberikan perlakuan age hardening
yang menghsailkan pembentukan partikel fassa alpha halus pada matriks fasa beta.
Paduan alpha-beta mengandung campuran alpha dan beta stabilizer. Struktur
paduan ini membuat paduan ini lebih kuat dibandingkan paduan alpha atau paduan
beta. Paduan ini dapat lebih kuat bila diberi perlakuan panas [Reza Abbaschian,
1994].
2.2 Metallic Glass
Selama hampir dua dekade terakhir, perkembangan teknologi material
semakin pesat. Hal tersebut ditandai dengan munculnya sebuah material jenis baru
dengan sifat yang sangat baik, yaitu metallic glass. Metallic glass merupakan paduan

logam yang memiliki struktur atom yang amorf. Agar material dapat berstruktur
amorf, material tersebut tidak boleh mengalami kristalisasi ketika didinginkan dari
titik lelehnya. [Inoue, 2001].
Untuk mendapatkan struktur amorf dari paduan logam, maka paling tidak ada
2 cara, yaitu:
1. Pendinginan yang sangat cepat (ribuan sampai dengan jutaan K/s) untuk
menghindarkan kristalisasi;
2. Memodifikasi komposisi paduan logam sedemikian sehingga dengan
pendinginan konvensional, paduan logam tersebut tidak terkristalisasi.
Cara kedua inilah yang digunakan banyak ilmuwan material untuk
mensintesis material metallic glass. Saat ini sudah ditemukan ribuan komposisi
metallic glass, based nya pun bermacam-macam, yaitu Fe-based, Zr-based, La-based,
Cu-based, Ti-based dan lain-lain.
Adapun aturan empiris yang harus dipenuhi untuk membuat sebuah metallic
glass, yaitu:
1. Paduan multi komponen yang terdiri lebih dari 3 unsur;
2. Perbedaan ukuran atom (atomic size mismatches) lebih dari 12% diantara
unsur pemadu tersebut;
3. Mixing Enthalpy negative diantara elemen-elemen penyusun [Inoue.2001].
Metallic glass memiliki sifat yang sangat unik dan menarik. Apabila dilihat
dari sifat mekanisnya, metallic glass memiliki kekerasan yang jauh lebih baik bila
dibandingkan dengan logam konvensional. Hal ini disebabkan karena tidak
terdapatnya batas butir pada metallic glass yang merupakan awal terjadinya deformasi.
Selain itu, material ini memiliki sifat ketahanan korosi yang sangat baik, ketahanan
aus dan ketangguhan yang baik [Greer, 2010].
Paduan metallic glass berbasis titanium kini dikembangkan dalam dunia
medis sebagai material implan. Hal ini disebabkan karena sifat material ini yang
sangat cocok dengan persyaratan material untuk menjadi material biomedik, yaitu
kekuatan yang tinggi, elastisitas yang tinggi, nilai modulus Young yang rendah,
ketahanan korosi yang amat baik dan memiliki bioaktivitas yang baik dari unsur

logam tersebut. Adapun material yang saat ini dikembangkan untuk keperluan dunia
medis adalah paduan Ti-Cu-Ni, Ti-Cu-Ni-Co, Ti-Cu-Ni-Zr, Ti-Cu-Ni-Zr-Sn, Ti-CuZr-Pd, Ti-Cu-Zr-Pd-Co dan lain-lain. Paduan ini memiliki sifat special dibandingkan
dengan material lain, yaitu paduan ini akan secara otomatis terpasivasi apabila
ditempatkan dalam matriks berupa plasma darah dan hal inilah yang mendukung
paduan ini untuk dijadikan material biomedik.
2.3

Metalografi
Metalografi adalah salah satu ilmu tentang logam yang mempelajari dan

menyajikan struktur mikro maupun topografi logam, fasa-fasa, ukuran butir dan
distribusinya, serta sifat-sifat logam serta paduannya dengan menggunakan peralatan
mikroskop. Metalografi merupakan pengujian dan pengamatan terhadap strukutur
butir suatu logam. Dalam pengamatan secara metalografi dapat diperoleh gambaran
struktur butiran suatu logam. Pengujian metalografi harus menggunakan bantuan dari
mikroskop optik.
Sebelum kita berbicara jauh tentang ilmu metalografi ada baiknya kita mulai
dengan desain pengujian, pengujian yang ideal harus mempunyai arti (meaningfull),
dapat dipercaya (reliable), dapat dilakukan kembali (reproducible), diketahui
presisinya (of known precision), dan ekonomis (econonomical). Ada dua masalah
dalam tahap pemilihan material, antara lain :
2.

1. Pengaturan prosedur fisik (diuraikan dalam standar)


Penentuan jumlah spesimen (berdasarkan standar atau pengalaman)
sebagai contoh adalah material pelat hasil giling (rolling plate) harus dibuat dalam 3
arah pengujian, yang pertama untuk casting metal, forging metal dan yang ketiga
adalah heat treated metal yang mana kesemuanya itu harus dilakukan dengan
representataif.
Sebelum kita menguji suatu material logam, yang harus dipertimbangkan
adalah dalam tahap pemotongan (shearing, punching, flame cutting) tidak boleh
membuat cacat awal pada material logam uji, dimensi atau toleransi spesimen harus

tercatat dan yang terakhir adalah penandaan (marking) harus dilakukan karena
ditakutkan akan terjadi kekeliruan pada saat benda uji atau logam akan diuji.
Karena pada dasarnya tujuan dari pengujian ini adalah untuk mendapatkan
sifat mekanik dan sifat fisik dari suatu material logam maka sangat penting sekali kita
harus mempertimbangkan design dari suatu struktur atau mesin maka yang harus kita
lakukan adalah melihat kekutan dari mesin yang akan kita coba, untuk menjalankan
fungsinya secara aman dan baik. Contoh sebuah crane harus medukung (support)
beban tanpa terjadi perpatahan atau tanpa pembengkokan (bending) sehingga tidak
mempersulit operator crane.
Kekuatan atau strength adalah kemampuan dari struktur atau komponen untuk
tahan terhadap pembebanan tanpa terjadi kerusakan (failure) yang disebabkan oleh
tegangan eksternal ataupun deformasi berlebihan. Sedangkan mechanical propertis
adalah sesuatu yang berhubungan dengan sifat elastis ataupun plastis material
terhadap suatu pembebanan yang diberikan.
Pada dasarnya sifat mekanis material meliputi : kekutan (strength), kekakuan
(stiffness), elastisitas, plastisitas, resilience dan ketangguhan (toughness). Kekuatan
diukur melalui tegangan yang terjadi pada material dalam kondisi tertentu.
Kekakuan (stiffnes) adalah besarnya deformasi elastis yang terjadi dibawah
pembebanan dan diukur melalui modulus elastis. Elasticity (elastisitas) adalah
kemampuan suatu material untuk berdeformasi tanpa terjadinya perubahan permanen
setelah tegangan dilepaskan. Plasticity (plastisitas) adalah kemampuan material untuk
berdeformasi permanen tanpa terjadi perpatahan. Ukuran plastisitas biasanya
ditunjukan dengan besarnya keuletan (ductility). Resilience adalah energi yang
diserap material didaerah elastis. Ketangguhan (taughness) adalah energi yang
dibutuhkan untuk mematahkan material.
Sampel yang akan diuji harus dipreparasi dengan tahap-tahap preparasi
spesimen yaitu [Tri Djaka, 2009]:
1. Sampling position (proses pengambilan sampel)

Pemilihan sampel yang tepat dari suatu benda uji studi mikroskopik
merupakan hal yang sangat penting. Pemilihan sampel tersebut didasarkan
pada tujuan pengamatan yang hendak dilakukan. Pengambilan sampel
dilakukan pada daerah yang akan diamati mikrostruktur maupun
makrostrukturnya.
2. Cutting (pemotongan sampel)
Cutting adalah proses bagian dari pengambilan sampel. Pemotongan yang
dilakukan harus tepat dan hati-hati, karena jika tidak maka akan dapat
menyebabkan struktur mikro beruba atau rusak. Dalam proses
pemotongan pasti terjadi gesekan antara dua logam, yaitu antara logam
yang ingin dipotong dengan alat pemotongnya (gergaji). Oleh karena itu,
dalam pemotongan harus dijaga jangan sampai adanya gesekan yang dapat
menghasilkan panas berlebih agar tidak merusak struktur mikro sehingga
diperlukannya coolants. Coolants adalah cairan pendingin. Dalam
pemotongan tidak boleh digunakan pemotongan basah, digunakan minyak
larut dalam air (a water soluble oil) [Tri Djaka, 2009].

Gambar 1. Mesin Cutting


3. Mounting
Proses mounting dilakukan dengan cara menempatkan benda uji dalam
suatu media mounting press machine dan ditaburkan serbuk. Serbuk yang
digunakan biasanya adalah bakelit. Di dalam prosesnya diberi panas dan

tekanan agar menjadi satu kesatuan (spesimen) antara sampel dengan


bakelit.

Gambar 2. Produk Proses Mounting


4. Grinding
Grinding merupakan salah satu tahap preparasi spesimen dimana dalam
proses ini dilakukan pengampelasan. Permukaan spesimen hasil dari
proses sebelumnya, pasti memiliki permukaan yang tidak rata, terkorosi,
terdapat gesekan bahkan porositas. Untuk meratakan dan menghilangkan
itu semua maka dilakukan grinding (pengampelasan). Pengampelasan
dilakukan dengan ampelas yang ukurannya berbeda-beda yaitu ukuran
kertas ampelasnya dikatakan dengan mesh. Pengampelasan dilakukan
mulai dari nomor mesh yang rendah (kasar) hingga yang tinggi (halus).

Gambar 3. Proses Pengamplasan


5. Polishing

10

Secara metalografi, polishing adalah proses terakhir dari bagian preparasi


spesimen untuk mendapatkan permukaan benda kerja yang halus dengan
menggunakan mesin poles metalografi yang terdiri dari piringan yang
berputar dan didalamnya menggunakan gaya abrasif.
6. Etching
Etsa merupakan cara untuk mengikis batas butir secara selektif dan
terkendali

dengan

pencelupan

ke

dalam

larutan

pengetsa

baik

menggunakan listrik maupun tidak ke permukaan sampel sehingga detil


struktur yang akan diamati akan terlihat dengan jelas dan tajamsehingga
struktur bahan dapat diamati dengan jelas dengan menggunakan
mikroskop optik.
7. Observasi mikroskopis / makroskopis
Pengamatan dilakukan dengan menggunakan mikroskop optik.
Pengamatan ini dilakukan setelah pemolesan hingga tahap pencucian pun
telah selesai. Dalam prosesnya kita mengamati gambaran topografi
struktur mikro spesimen yang telah dipreparasi menggunakan mikroskop
cahaya.Pengamatan metalografi dibagi menjadi 2, yaitu [Van Der Voort,
1988] :
a) Metalografi makro, yaitu penyelidikan struktur logam dengan
pembesaran 10-500 kali.
b) Metalografi mikro, yaitu penyelidikan struktur logam dengan
pembesaran 1000 kali.
Pada analisa mikro digunakan mikroskop optik untuk menganalisa
strukturnya. Berhasil tidaknya analisa ini ditentukan oleh preparasi benda
uji, semakin sempurna preparasi benda uji, semakin jelas gambar struktur
yang diperoleh.

11

Gambar 4. Susunan Skematis Mikroskop Optik

12

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1

Diagram Alir Penelitian


Diagram alir penelitian ini adalah sebagai berikut.
Metallic glass paduan Ti-Cu-Zr-PdCo

Melakukan cutting ukuran 5 mm


Melakukan mounting menggunakan bacelite
Melakukan grinding
Melakukan polishing
Melakukan etching
Mengamati struktur mikro menggunakan mikroskop optik

Data

Pembahasan

Kesimpulan

Literatur

13

Gambar 5. Diagram Alir Penelitian


3.2

Bahan yang digunakan


1. Metallic glass paduan Ti-Cr-Zr-Pd-Co
13
2. Kertas ampelas dengan ukuran 320#, 400#, 600#, 800#, 1000#, dan 1200#
3. Air
4. Alkohol (metanol)
5.
6.
7.
8.

3.3

3.4

Alumina
Larutan HF
Kapas.
Bakelite

Alat yang digunakan


1.

Mikroskop optik

2.

Mesin grinding

3.

Hair dryer

4.

Mesin mounting press

5.

Gelas ukur

6.

Mesin polishing

7.

Mesin fine cutting

8.

Penjepit

9.

Komputer

Prosedur Penelitian
1. Menyiapkan sampel penelitian yaitu material metallic glass paduan Ti-CuZr-Pd-Co
2. Melakukan cutting dengan ukuran 5 mm
3. Melakukan

mounting

menggunakan

menggunakan alat mounting press.

bacelite

kemudian

ditekan

14

4. Melakukan pengamplasan menggunakan mesin grinding dengan amplas


dari ukuran yang paling kasar (320#) sampai dengan ukuran yang paling
halus (1200#);
5. Sampel yang telah di amplas, dilakukan polishing dengan alumina;
6. Melakukan etching dengan larutan HF selama kurang lebih tiga detik
kemudian dicuci dengan alkohol setelah itu sampel dikeringkan
menggunakan hair dryer;
7. Setelah sampel dikeringkan, meletakkan sampel di mesin mikroskop optik
dengan perbesaran 500x
8. Melakukan pengamatan pada spesimen.

15

DAFTAR PUSTAKA
Elias, C.N. 2008. Biomedical Applications of Titanium and its Alloys. Biomeaterial
Laboratory : Rio De Jenairo
Qin, Fengxiang. 2011. Ti-based Bulk Metallic Glasses for Biomedical Applications.
Tohoku University : Japan
Wan, Xingming. 2006. Corrosion Behaviour of Ti-based Metallic Glasses. Tohoku
University : Japan
Dan, Zhenhua. 2009. Formation of Hydroxyapatite on Ti-coated Ti-Zr-Cu-Pd Bulk
Metallic Glass. Tohoku University : Japan
Yoshimura, Masahiro. Corrosion Behaviour of Ti-based Bulk Metallic Glass and Its
Crystalline Alloys. Tohoku University : Japan

16