Anda di halaman 1dari 45

Pertemuan ke-11

ANALISIS & MANAJEMEN


PANGAN HALAL

PENGERTIAN SJH
Sistem Jaminan Halal adalah sistem yang
mencakup struktur organisasi, tanggung jawab,
prosedur, aktivitas, kemampuan dan sumber
daya yang ditujukan untuk menjamin bahwa
proses produksi dan produk yang dihasilkan
adalah halal.
Sistem jaminan halal dibuat sebagai bagian
integral dari kebijakan perusahaan untuk selalu
menjaga status kehalalan produknya.

TUJUAN SJH
Menjaga kesinambungan proses produksi halal,
sehingga produk yang dihasilkan dapat selalu
dijamin kehalalannya sesuai dengan ketentuan
LPPOM MUI.

Manfaat SJH
Memastikan bahwa produk pangan tersebut sudah
melalui pemeriksaan yg seksama sesuai dengan
prosedur yang berlaku.
Melindungi konsumen agar terhindar dari produk
yang dilarang (haram) dan meragukan (syubhat)
menurut ketentuan syariah Islam.
Menjadi pedoman implementasi halal bagi setiap
perusahaan/produsen dalam memproduksi produk
pangan halal.
Sebagai bagian dari persyaratan sistem audit pangan
halal.

Prinsip SJH

Contoh kasus

Total Quality Management

4 KOMITMEN TQM
1. Konsistensi perusahaan untuk memenuhi
permintaan dan persyaratan konsumen.
2. Peningkatan mutu produk dengan harga
terjangkau (zero limit)
3. Bebas dari kerusakan fisik selama produksi,
pengemasan dan pendistribusian hingga ke
tangan konsumen (zero defect).
4. Bebas dari bahan berbahaya dan bahan yg
haram (zero risk).

Konsep SJH
Perusahaan/
Produsen
SYARIAT ISLAM
(HALAL/HARAM)

TQM (Total Quality


management)

Etika Usaha

INPUT

Zero limit

PROSES

Zero Defect

PRODUK

Zero Risk

KOMITMEN PERUSAHAAN/ PRODUSEN

Siklus Operasi SJH

SJH merupakan kerangka kerja yang dipantau terus menerus dan


dikaji secara periodik untuk memberikan arahan yang efektif bagi
pelaksanaan kegiatan proses produksi halal.

PRINSIP-PRINSIP IMPLEMENTASI SJH


1. Maqoshidu syariah (memelihara kesucian agama, kesucian pikiran, kesucian
jiwa, kesucian keturunan, dan kesucian harta).
2. Jujur : (menjelaskan semua bahan yang digunakan dan proses produksi yang
dilakukan di perusahaan di dalam Manual SJH).
3. Kepercayaan (LPPOM memberikan kepercayaan kepada perusahaan untuk
menyusun sendiri Manual SJH nya berdasarkan kondisi nyata internal
perusahaan.
4. Sistematis (Dokumentasi manual SJH dan arsip terkait)
5. Sosialisasi Internal Perusahaan
6. Keterlibatan key person (Auditor Halal Internal)
7. Komitmen manajemen
8. Pelimpahan wewenang
9. Mampu telusur
10. Absolut
11. Spesifik

Struktur Organisasi Tim Manajemen Halal


Manajemen halal merupakan organisasi internal perusahaan yang mengelola
seluruh fungsi dan aktivitas manajemen dalam menghasilkan produk halal.

Tugas dan Tanggung Jawab


Pimpinan Perusahaan
Mengangkat & menetapkan seorang koordinator halal
dan seorang internal halal auditor yg beragama islam,
taat dan memahami persyaratan sistem jaminan halal.
Menetapkan garis wewenang, tugas, fungsi & tanggung
jawab koordinator halal & internal halal auditor.
Mengkomunikasikan sistem jaminan halal terhadap
seluruh personil perusahaan.

Wewenang & Tugas Koordinator Halal

Mengakses ke seluruh bagian perusahaan dalam kaitannya dgn


penerapan dan pemeliharaan sistem jaminan halal.
Berkoordinasi dengan Internal Halal Auditor dlm pengawasan
sistem jaminan halal.
Memberikan laporan kepada pimpinan puncak tentang kinerja
sistem jaminan halal & keperluan untuk perbaikan.
Memastikan bahwa seluruh proses yg diperlukan untuk sistem
jaminan halal yg ditetapkan dpt diimplementasikan dan dipelihara
dgn baik.

Wewenang & Tugas Internal Halal Auditor


Menyampaikan laporan secara kontinyu tentang
penerapan sistem jaminan halal yg berkaitan dgn proses
produksi, distribusi dan pengembangan produk kepada
koordinator halal.
Melakukan pengawasan tentang penerapan standar
operasional protokol (SOP) yg diberlakukan di
perusahaan.
Mendokumentasikan hasil audit internal.

Kriteria Internal Halal Auditor


1. Muslim & memahami persyaratan Islam.
2. Memahami teknologi dan proses produksi
pangan halal.
3. Independen thd bidang yg diaudit.
4. Memiliki sertifikasi pelatihan audit internal
halal

Panduan Halal
1. Pengertian halal dan haram.
2. Dasar Al Quran dan Fatwa MUI.
3. Pohon keputusan untuk indentifikasi titik kritis
keharaman bahan dan proses produksi.
4. Tabel hasil identifikasi titik kritis keharaman bahan dan
tindakan pencegahannya.
5. Tabel hasil identifikasi titik kritis peluang kontaminasi
proses produksi dari bahan haram/najis dan tindakan
pencegahannya.
6. Publikasi LPPOM MUI (Jurnal Halal LPPOM MUI dan
website www.halalmui.org).

Sistem Administrasi SJH

Sistem Dokumentasi
1. Pembelian bahan
2. Penerimaan Bahan
3. Penyimpanan Bahan
4. Riset and Pengembangan (Formulasi)
5. Produksi (Proses Produksi dan Pembersihan Fasilitas Produksi)
6. Penyimpanan Produk
7. Distribusi Produk
8. Evaluasi dan Monitoring (laporan berkala)
9. Kegiatan Pelatihan dan Sosialisasi
10. Tindakan Perbaikan atas Ketidaksesuaian
11. Manajemen Review

BAHAN (LANJUTAN)..

IMPLEMENTASI SJH
1. Pernyataan kebijakan perusahaan tentang
halal (Halal policy)
2. Tim Manajemen Halal
3. Panduan halal (Halal Guidelines)
4. Uraian titik kendali kritis keharaman produk
5. Sistem audit halal internal

KOMITMEN PELAKSANAAN SJH