Anda di halaman 1dari 79

Berawal dari Maksud

Allah untuk Dikenal


hadits qudsi:
Aku adalah
Perbendaharaan Yang
Tersembunyi, Aku ingin
dikenal,
maka Kuciptakan makhluk
dan denganKu mereka
mengenalKu.

AKU YANG MAHA ESA, AKU YANG


AWAL DAN AKU YANG AKHIR

Allah merupakan Al-Awwal yang


tidak diawali
Kesendirian Allah merupakan
kebenaran mutlak
Allah memuji diriNya sendiri
yang Maha Indah dan Elok
Allah ingin dikenal, sebagai Yang
MahaEsa
Kehendak Allah adalah untuk
dikenali (untuk dimarifati)

MISI MENGESAKAN TUHAN


Itulah yang menjadi misi setiap nabi yang turun
dimuka bumi, yaitu memperkenalkan Allah
Yang Maha Esa, misalnya surat Hud ayat 84 ;
Dan kepada (penduduk) Mad-yan (Kami utus)
saudara mereka, Syu'aib. Ia berkata: "Hai
kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada
Tuhan bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu
kurangi takaran dan timbangan, sesungguhnya
aku melihat kamu dalam keadaan yang baik
(mampu) dan sesungguhnya aku khawatir
terhadapmu akan azab hari yang
membinasakan (kiamat)".

AWAL MEMELUK AGAMA


,MENGENAL TUHAN
Mengenal Allah merupakan tugas utama
makhluk,terutama manusia
Mengenal Allah lebih signifikan dari pada
mengenal hukumhukumNya.
Dengan mengenal Allah maka kitapun
segera mengetahui apa yang
diinginkanNya dan apa yang tidak
diinginkanNya
Mengenal Allah haruslah secara kaffah,
secara totalitas

BAGAIMANA ANDA BERIBADAH


KEPADA TUHAN ?
Sementara anda belum mengenal siapa
Allah?
Ibadah tanpa marifat adalah syirik
bisa jadi kita selama ini menyembah akal
budi saja, artinya, pengenalan Tuhan itu
tidak bersumber dari kesadaran ruhaniah
tetapi karena spekulasi akal budi saja.
Yang bisa membawa makhluk (manusia)
pada Marifatullah secara kaffah adalah
dengan melalui pengalaman ruhani, karena
Allah tidak akan pernah bisa dikenal dengan
logika saja.

BAGAIMANA MENGENAL
TUHAN ?
Menghilangkan diri dan segala
sesuatu selain Allah barulah kita bisa
menggapai marifat
Allah memperkenalkan DiriNya
kepada kita sebagai rahmatNYA
Mengenal diriNya secara hakiki,bukan
hanya hasil pemikiran dan logika saja
Karena secara logika, Allah hanya
bisa dikenali perbuatanNya saja

MENGENAL TUHAN SECARA


HAKIKI
Kita harus mengenaliNya dari nama, sifat,
perbuatan, hingga dzat. Ini memang hanya
bisa ditemukan dalam tasawuf
Dan ini merupakan hasil perjalanan spiritual
dan bukan semata-mata spekulasi filsafat
saja
Rasul bersabda Dzikir.Ini merupakan
landasan sufi untuk bertarikat, dengan
melakukan ritual dzikrullah di suatu tempat
khusus, perjalanan tarikat ini disebut
dengan berkhalwat

BERDZIKRULLAH & MENAFIKAN DIRI


Berzuhud,mengisolasi hati dari
segala sesuatu selain Allah
Pada tingkatan tertentu, bahkan diri
yang mengingat pun sudah
dilupakan, sehingga yang ada hanya
yang diingat saja,yakni Allah semata
Mendekat, mendekat, lebih dekat,
hingga hakikat melebur; inilah fana

FANA DIAWALI LUMPUHNYA ILMU


DAN DIRI
Apakah selamanya FANA seperti itu? Tidak,
pengenalan dan penyatuan itu begitu singkat
Bagaimana bisa kita tahu bahwa itu Allah? Ini
tidak mungkin dijelaskan, karena hanya yang
mengalaminya saja yang memahaminya
Bisa jadi iblis yang datang? Hakikat iblis tidak
setara dengan Allah dan hanya Allah tujuan
kita, Dengan demikian, iblis tidak mungkin
mampu menembus hijab dzikrullah
Hanya Nurullah semata yang dapat
menjelaskannya.

ALLAH ADALAH SUMBER DARI


SEGALA SESUATU
Segala sesuatu bersumber dari kalam kunNya
Segala sesuatu merupakan kehendakNya
segala sesuatu juga diberikan kodrat &iradat
agar mampu mempertanggungjawabkan
perbuatan masing-masing
Innalillahi wa inna ilaihi rajiun, segala sesuatu
akan kembali kepada asal masing-masing
Jasad kembali kepada tanah, nafas kembali
pada asalnya,ruh kembali kepada asalnya di
alam arwah, kita pun kembali kepadaNya
sebagai asalnya

KITA HARUS KEMBALI KEPADA


ALLAH
Apakah kita harus menunggu meninggal
dunia baru bisa kembali kepada asal?
Atau haruskah kita mendapatkan musibah
barulah kita menyebutkannya?
Rasulullah pernah bersabda Matilah
engkau sebelum engkau mati
Petunjuk bahwa kita harus kembali kepada
Allah,kepada sumber, untuk mengenal
diriNya secara kaffah sebelum kita mati

KEMATIAN SEBELUM MATI


Diawali dengan matinya cinta kepada
dunia, yaitu dengan berzuhud
Matinya sifat-sifat dhalalah,memberantas
penyakit jiwa dengan takhalli.
Mematikan seluruh ingatan terhadap
segala sesuatu selain Allah semata
Tidak terlihatnya diri (ego)
keAKUan,melainkan hanya wujud Allah
semata.

UCAPKAN LA ILAHA
ILLALLAH

MAKNA 1 : Segala sesuatu selain Allah adalah


ILAH, termasuk diri sendiri
MAKNA 2 : ilah itu sebenarnyalah ada dan Allah
adalah satu-satunya ILAH.
Kedua makna ini akan menggiring kesadaran
insaniyah menuju ketenggelaman diri kedalam
hakikat Allah, sebagai sumber
Laksana secercah cahaya yang kembali pada
matahari, seperti setetes air laut kembali pada
samudra yang tak bertepi
dimana ilah tidak ada, yang ada hanya Allah.
Ingatlah, YANG ADA HANYA ALLAH.

YANG BERDZIKIR & YANG


DIDZIKIRKAN ADALAH SATU/ESA
Saat kesadaran insaniyah sudah
melebur, tenggelam, dan sirna
Apa dayanya secerah cahaya lilin pada
matahari?
Apa dayanya setetes air laut pada
samudra tak bertepi?
Kembalinya kita pada sumber selagi
masih hidup membuahkan pengenalan
luar biasa kepada Allah Yang Maha
Agung.

POTENSI BESAR DALAM DIRI


MANUSIA
Tetesan air atau secercah cahaya yang kami
maksudkan adalah Ruh
Digambarkan dalam surat Shaad ayat 72 ; Maka
apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan
Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; maka
hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud
kepadanya.
Oleh karena itu, mengapa Allah ingin dikenal dan
dia berkata dan denganKu mereka
mengenalKu. Artinya dengan setetes dari
diriNya itulah yang menyebabkankita mampu
mengenalnya, dengan cara kembali kepada
sumber kita.

AWAL MULA PENCIPTAAN SEMESTA


DAN SEGALA SEISINYA
Allah menciptakan alam semesta dari Nur
Muhammad
Nur Muhammad merupakan pancaran Nurullah
Mula-mula Allah menciptakan Nur nabimu, dan dari
Nur itulah segala sesuatu diciptakan, termasuk
engkau Jabir. Allah Maha Awal, dan telah
mengambil bahan baku penciptaan alam semesta
dari diriNya sendiri, yaitu dengan beriradah.
Termasuklah manusia, diciptakan dari Nur
Muhammad, dan Nur Muhammad diciptakan dari
cipratan Nurullah yang memancar dari diriNya
sendiri.(riwayat al jabir bertanya kepada rosullullah )

HAKEKAT ILAHI DAN INSAN SEBAGAI


KHALIFAH
Allah merupakan sumber daya dan upaya
Bagi Allah ada qudrat dan iradat, demikian
pula qudrat dan iradat insan
Qudrat Allah adalah menentukan sedangkan
qudrat insan adalah menjalankan ketentuan
Iradah Allah adalah berkehendak dan iradah
insan adalah menginginkan
Keilahiyahan tidak akan terjadi tanpa
keinsanian
Jika tidak ada makhluk maka tidak ada yang
mengakui bahwa Dia adalah Tuhan

APAKAH ALLAH MENGAKU BAHWA


DIA TUHAN ?
YA, Dia mengakuinya, namun iradahNya untuk
diketahui dan diakui menyebabkan turunnya
insan dengan hakikatnya
Hakikat insan adalah mengakui, dan hakikat
Ilahi adalah diakui
Di satu sisi, hakikat insan juga harus diakui,
yaitu Allah mengakui bahwa insan adalah
hamba.
Pengakuan ini hanya bagi insan yang ingin
mengetahui seberapa jarak antara dia dan Allah

HAK HAK INSAN YANG DIAKUI


ALLAH
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya
kepadamu tentang Aku,maka (jawablah),
bahwasanya Aku adalah dekat. Aku
mengabulkan permohonan orang yang
berdoa apabila ia memohon kepada-Ku,
maka hendaklah mereka itu memenuhi
(segala perintah) Ku dan hendaklah
mereka beriman kepada-Ku, agar mereka
selalu berada dalam kebenaran. ( AL
BAQARAH AYAT 186 )

HUBUNGAN ILAHI DAN INSAN


MENURUT SURAH AL BAQARAH
AYAT 186

Sebagai kesimpulan adalah adanya


hubungan saling mengakui hakikat
masing-masing, dan bahkan saling
mengikat antara satu dan yang lain.
Menyebabkan lahirnya bimbingan
langsung dari Allah tanpa perantara
Jika hamba itu mencintai Allah dan
tidak hanya melaksanakan ibadah
sebagai rutinitas semata

TIDAK SEMUA MANUSIA DIAKUI


ALLAH SEBAGAI HAMBANYA
Hanya sebagian dari sekian banyak manusia
yang diakui sebagai hambaNya
Ini artinya bahwa hakikat insaniyah dan ilahiyah
juga merupakan hubungan kausal (jika mengakui
maka diakui)
Allah tidak mengakui sebagian manusia sebagai
hambaNya, lantaran mereka mengikuti syaithan
Sebagian dari manusia di muka bumi ini yang
diakui sebagai hamba Allah, yakni orang-orang
yang juga mengakui hakikat Allah sebagai Sang
Ilahi, dengan pengakuan dan persaksian yang
sesungguhnya.

GAMBARAN HAKEKAT ILAHI DENGAN


INSAN SEBAGAI HAMBANYA

Ibarat cahaya dan sifat meneranginya


Es dengan dinginnya
Pedang dengan tajamnya
Gula dengan manisnya
Garam dengan asinnya
Laut dengan gelombangnya
Maka, secara hakikat, Allah dan hamba itu
tidak terpisahkan, atau merupakan rangkaian
hakikat yang tak terpisahkan.
Hakikat, ruh manusia merupakan tiupan ruh
(ciptaan) Allah yang juga suci. Karena yang
suci akan berasal dari Yang MahaSuci.

Sifat Ilahi dan Sifat Insan


Dari segi sifat, manusia mewarisi tiga sifat
yang potensial; yakni sifat ilahiyah, sifat
malaikat, dan sifat hewani
insan mewarisi sifat hewani seperti makan,
minum, kawin, bertumbuh, memiliki rasa
marah,dan sebagainya diakomodir hawa nafsu
Dari segi malaikat, manusia memiliki naluri
beriman, beribadah, dan taat.
Sifat ilahiyah, hampir semua sifat Allah diwarisi
oleh manusia,hanya saja sifatnya tidak
memiliki makna Maha.

Jika Allah Maha Esa, maka manusia


itu pun esa
Kita hanya terlahir sekali, dan kita akan mati
sekali
Kita tidak pernah ada bandingan dengan segala
sesuatu apapun, atau dengan seorang pun
Esa, unik dan memiliki kekhususan yang tidak
akan pernah sama, walaupun kembar identik
Marifat terhadap sifat-sifat ilahiah yang
terwarisi pada diri merupakan hal mutlak yang
harus dilakukan. Ini penting dalam rangka
menuju hakikat insan kamil atau insan
sampurna.

Adanya sifat-sifat hewani dalam diri manusia


adalah untuk menguji sifat malaikat.
Sifat malaikat menjadikan kita beriman dan taat.
Sementara sifat-sifat ilahiyah menjadi penuntun
menuju insan kamil
Menekan sifat hewani dalam diri mereka habishabisan dengan cara berzuhud. mereka jarang
makan, jarang minum (puasa), mereka jarang
tidur untuk berdzikir kepada Allah diwaktu
malam, mereka menjauhi obrolan yang sia-sia,
mereka membenci pembunuhan, dan melatih
kesabaran melakukan amalan yang dilakukan
oleh para malaikat

Man arafa nafsahum faqad arafa


rabbahum
Barangsiapa mengenal dirinya maka dia
mengenal Tuhannya
Mereka kemudian mencari jati diri yang
sebenarnya, dan ini akan semakin mudah
jika aspek-aspek selain Allah dihilangkan
(dilupakan) lebih dahulu
Para sufi kemudian melakukan perjalanan
dengan pendekatan tauhid yang empat.
Yaitu Tauhidul Asma, Tauhidus Sifat,
Tauhidul Afal, dan Tauhiduzzat.

Derajat Tauhid
Pemahaman yang paling tinggi
Kata tauhid senantiasa diartikan
dengan menyucikan Allah dan tidak
menyekutukanNya
Para sufi, para ahli hakikat yang
bertauhid, langkah lebih maju dan
lebih depan dari yang bukan sufi
yang bukan ahli hakikat

Tauhidul Asma
kata Allah merupakan destinasi terakhir dari El,
Eli, Elah, Ilah, Allah.
Semua kata ini, konon, berasal dari bahasa Aram
El digunakan untuk merujuk pada Dzat Mulia,
digunakan oleh Ezra.
Eli digunakan di zaman nabi Isa as kitab tertulis
Yesus berteriak Eli Eli Lama Sabaktani yang
artinya Tuhan
kata Elah dan Ilah yang digunakan untuk arti yang
sama sampai pada bahasa Arab (ilah artinya
Tuhan)dan Allah dengan tujuan yang sama, Tuhan.

Apakah benar Allah adalah nama


Tuhan secara dzat?
Jika memang benar Allah adalah nama Tuhan,
maka betapa kasar dan tidak sopannya kita
karena menyebut namaNya tidak lebih dari
seperti memanggil nama teman kita.
Kepada ayah kita tidak memanggil nama,
kepada guru kita tidak juga berlaku demikian,
tetapi kepada Allah kita memanggil namaNya?
Allah mendeklarasikan ketuhananNya innany
Annallah dimaksudkan Sesungguhnya Akulah
Tuhan dan Tuhan adalah hakikatnya, dan bukan
nama dzatNya yang sesungguhnya tidak
berhuruf tidak pula bersuara

Sehingga pada tahap nama, Allah hanyalah


sebuah sebutan hakikat sebagai Tuhan dan bukan
nama dzatNya
Allah hanya mengajarkan bagaimana mensifatiNya
lewat asmaulhusnah
Mengenai hakikat dzatNya sendiri, Allah adalah
Sirr (Rahasia).
Nama dzatNya tidak tersentuh, dan hanya bisa
ditauhidkan dengan marifat, Hu (Dia)
ketika para sufi telah mengalami fana,
kebingungan melanda.Mereka tidak lagi bisa
membedakan mana Allah dan mana Allah dalam
Sebutan.
Insan KAMIL tidak menemukan Tuhan sebagai Allah
saat fana namun menemukan Dia sebagai Dia

Tauhidus Shifat
Setelah mentauhidkan asma Allah secara marifat
sebagai sirr (RAHASIA)
Maka sesudah itu mentauhidkan sifat-sifat ilahiyah
Sifat yang sangat relevan adalah bahwa Allah itu
Wujud. Wujudnya Allah merupakan kenyataan maujud
insan.
Mentauhidkan Wujud Allah adalah sekaligus
mentauhidkan yang maujud , Allah hadir dalam maujud
insan, baik sebelum, sedang, dan sesudah maujud itu
ada
Jika melihat makhluk, maka itu adalah cerminan Qidam
Khaliq. Kemudian, Allah Qiyamuhu Taala binafsihi,
seperti huruf alif yang berdiri tegak tanpa penyanggah
apapun. Allah pun beriradah dan insanpun demikian,

hingga qudrat ilahiyah pun ada pada qudrat


insaniyah seperti yang telah dipaparkan
sebelumnya
Mentauhidkan sifat Allah adalah mengumpulkan
segala sifat kepada Yang Satu dan mengembalikan
Yang Satu kepada yang segala.
Melihat sifat Allah pada insan dan semesta,
merupakan wujud tauhidusshifat, juga sebaliknya,
melihat sifat insan sebagai wujud sifat Allah
hal ini hanya berlaku untuk para sufi yang sudah
berzuhud menolak dunia dan akhirat
Bagi anda yang bukan atau baru akan menuju
INSAN KAMIL hal ini sangat diharamkan bagi anda
Mengakui bahwa sifat insan merupakan wujud sifat
Allah tanpa marifat sebelumnya merupakan
pengakuan buta, dan kafir

Tauhidul Afal
Perbuatan merupakan wujud sifat
Kitamelihat bumi berputar, matahari
bergerak, angin bertiup, dan
sebagainya,hingga jantung berdetak,
merupakan afal Allah pada alam dan pada
insan.
Mentauhidkan perbuatan Allah maksudnya
mengembalikan segala hakikat perbuatan
pada qudrat dan iradat, baik itu hakikat
ilahiyah maupun insaniyah

Qudrat Allah adalah bahwa Dia berkuasa


melakukan apapun yang Dia inginkan
Iradah Allah adalah bahwa Dia
berkehendak sesuai dengan
keinginanNya sendiri
Meskipun insan memilki qudrat (kuasa)
untuk melakukan apa yang diinginkan,
tetapi insan memiliki qudrat yang berada
dibawah qudrat Allah, Begitu juga iradah
(kehendak), walaupun insan
berkehendak pada sesuatu, namun
iradah Allah yang menentukan.

Tauhidul afal adalah mengembalikan


segala perbuatan insan yang
dilakukan atas dasar qudrah dan
iradah kepada qudrah dan iradah
Allah. Artinya, kita tidak akan
berkuasa tanpa izin Allah dan tidak
pula mencapai kehendak tanpa izin
Allah.
Akan tetapi hal ini tidak berarti
bahwa semua perbuatan akan
dihukumkan sebagai perbuatan Allah
Perlu dipisahkan antara perbuatan
Allah dan perbuatan insan (Afal Allah

Afal Allah meliputi afal insan,


sedangkan afal insan berada di dalam
dan di bawah afal Allah.
para sufi yang perbuatannya sudah
terikat zuhud selalu merasa dibimbing
oleh Allah.Sebagaimana ditegaskan
dalam sebuah dalil: Apa bila Aku
sudah mencintai hambaKu, maka
Aku menjadi matanya dan
denganKu dia melihat, Aku menjadi
telingaNya dan denganKu dia
mendengar; Aku menjadi lisannya
dan denganKu dia berkata-kata...

Dalil ini menegaskan bahwa bagi orang


yang sudah mentauhidkan perbuatan (Afal
Allah dan insan) akan senantiasa terjaga,
karena dia tidak akan melakukan
perbuatan apapun terkecuali itu diizinkan
oleh Allah, dan sesuai dengan ketentuan
Allah sendiri
dan bukan menganggap bahwa perbuatan
manusia merupakan perbuatan Allah. Saya
ingatkan, bahwa ini diharamkan bagi
orang-orang yang belum sampai pada
tingkatan yang seharusnya /yang belum
sampai ilmunya.

Tauhid dzat
Tingkat ini adalah tingkat paling
tertinggi dari mentauhidkan Allah
Tauhid bukan semata-mata
bertawakkal dan menolak tuhan
selain Allah, tetapi juga menolak
segala sesuatu selain Allah
Tetapi tauhid juga mensucikan Allah
dari segala sesuatu selainDia,
termasuk diri sendiri.
Diri sendiri bisa menjadi berhala

Jangan mengira diri sendiri tidak bisa


menjadi berhala. Jika seseorang telah
melakukan shalat selama puluhan tahun,
hingga dahinya menghitam sebagai
bekas sujudnya, dan dia merasa sudah
menjadi ahli ibadah, maka perasaan dan
dirinya itu akan menjadi sesuatu selain
Allah yang bisa menghalangi dia dari
pengenalan Allah yang sesungguhnya
Allah adalah Dzat Yang Maha Tinggi,
Mulia, Indah, dan seterusnya.Dia tidak
serupa dengan apapun, dan tidak bisa
digambarkan dengan apapun

Allah tidak akan pernah didapati


dengan penglihatan, baik dengan
mata hati maupun dengan mata
kepala. Namun Dzat Allah bisa
disadari hakikatNya
Mentauhidkan Dzat Allah adalah
menyadari bahwa Allah
memilikiDzatNya sendiri yang terlepas
dari dzat-dzat lain. Di saat yang
sama,mentauhidkan Dzat Allah adalah
melupakan dzat-dzat lain, dan hanya
Allah satu-satunya Dzat yang Maha
Ada; yang lain hanya diadakan saja

Di dalam hadits qudsi Allah berfirman,


Disaat engkau hadir maka Akupun
ghaib; dan disaat engkau gaib maka
Aku pun hadir.
Dalam hadits qudsi lain :Sesungguhnya
Akulah yang maha Nyata, namun
kenyataanmu telahmerenggut
kenyataanKu.
Dua hadits qudsi ini menjadi jaminan
bahwa kenyataan diri sendiri (maujud)
merupakan penghalang yang
menyebabkankenyataan Allah (Ujud)
menjadi gaib.

Untuk mencapai derajat tauhiduzzat,


maka insan harus mampumengingat
hanya Allah dan melupakan selain
Allah termasuk melupakan dirisendiri,
karena diri sendiri adalah sesuatu
selain Allah
Ketika Dzat Allahmenampakkan diri,
maka dzat diri sendiri menjadi luluh
lantak, sirna seperti setetes air masuk
ke samudra tak bertepi; lebur seperti
gunung-gunung hancur dan nabi Musa
as pun pingsan (tidak menyadari
bahwa dirinya maujud).

Proses demikian disebut fana. Imam


Ali menyebutkan bahwa diapernah
mengalami hal ini (dalam kitab
Tanyalah Aku Sebelum
EngkauKehilangan Aku) bahkan
Imam Ali (Sayidina Ali) mengalami
fana di dalamfana, hingga hanya
Allah yang disaksikan, diri sendiri
sudah dilupakan

FANA TAUHID
Fana, menurut para sufi, juga
terbagi menjadi fana fil afal, fana fil
asma, fana fis shifat, dan fana fiz
dzat
Fana tingkat ini adalah fana tauhid
tertinggi, dan hanya dengan cara ini
insan bisa mengenal Allah secara
kaffah.
sebuah kesadaran spiritual yang luar
biasa dahsyat

Hadits qudsi disebutkan bahwa Innahu


Sirri wa Anaa Sirruhu yang
anrtinyaSesungguhnya hambaKu
adalah rahasiaKu dan Aku adalah
rahasianya.Rahasia Allah ada dalam
diri kita sendiri, dan apa yang kita alami
akan selalu menjadi rahasia Allah
Sehingga rahasia ini sebenarnya adalah
rahasia antara kita dan Dia
Sangat personal dan oleh karena itu
hanya bisa diungkap kebenarannya
melalui pengalaman dan bukan bacaan
atau pengkajian semata

MENGESAKAN KETUHANAN
Melewati tahap fana.
Insan sebagai ciptaan telah melupakan
dirinya sendiri sehingga yang ada hanyalah
Pencipta dan ini hanya terjadi pada proses
fana saja
jika insan telah kembali pada kesadaran
insaniyahnya, diapun akan mengakui
bahwa dia hamba dan Allah adalahTuhan
Mengakui bahwa Allah adalah Pencipta dan
manusia (sufi) hanyalah seorang insan
yang berupaya memahami Allah tanpa
ada perantara, termasuk diri sendiri

1. jika semua adalah Allah, maka apa fungsi


hamba? sebenarnya pertanyaan ini keliru,
tetapi jika harus dijawab maka akan dijawab
fungsi hamba adalah untuk meniadakan
segala sesuatu selain Dia, termasuk
dirinya sendiri.
2. Bahwa segala sesuatu adalah Allah. Ini
sebuah kekeliruan, mengungkapkan kalimat
yang mungkin tidak sesuai dengan
pengalamannya sendiri. bahwa segala
sesuatu diliputi oleh qudrat dan iradah
Allah. Mulai dari sifat sampai perbuatan
segala makhluk merupakan kenyataan
bahwa Allah beriradah dan Allah
berqudrat.

3. Menyamakan antara Pencipta dan


ciptaan, sudah tentu kursi bukanlah tukang
kayu, bahkan seorang anak yang murni
(secara jasmani) merupakanhasil
percampuran antara ayah dan ibu sekalipun
tidak akan disamakan; anak tetap anak,
ayah tetap ayah, dan ibu tetap ibu
Tetapi yang perlu disadari bahwa Allah
menciptakan segala sesuatu dengan qudrah
dan iradah melalui kalam kun dan tanpa
bahan baku, hubungan antara Pencipta dan
ciptaan adalah percikan dan
Sumber.Pencipta tetap pada hakikatnya dan
ciptaan juga pada hakikatnya

Tetapi khusus untuk manusia, Allah memberikan


kelebihan khusus, yaitu adanya percikan ilahiyah
yang merupakan peta untuk kembali kepada
Sumber utama, yaitu Allah sendiri. untuk
menelusuri peta itu, haruslah dengan jalan yang
telah saya ulas diatas, hingga mencapai tahap
fana.
4. Penyatuan wujud antara Allah dan hamba; ini
keliru,, Hakikat ilahiyah dan hakikat insaniyah
memiliki hubungan kausal, dan hubungan itu
tidak akan bisa terpisah.Ketidakterpisahan itu
merupakan jembatan yang menghubungan antara
kedua hakikat. Ini sebabnya mengapa kedua
hakikat itu berbeda tetapi disatukan,karena
adanya hubungan kausal. Tidak benar bahwa Ilahi
dan Insan mengalami penyatuan secara fisik

Ketika seorang sufi fana,pikirannya pun sudah tidak


berfungsi; bagaimana bisa seorang sufi yang dengan
kesadaran insaniyahnya berani mengaku bahwa Allah
mengambil tempat dalamwujud fisiknya? Ini mustahil.
Para sufi Wihdatul Wujud mengungkapkan ungkapanungkapan seperti Ana al-Haqq atau Syekh Siti
Jenar tidak ada, yang ada adalah Gusti
Allahmerupakan kalam qadim yang bersumber dari
mabuk marifat, Ini tidak bisa disalahkan karena
mereka berada pada tataran labil, dan mereka tidak
akan mengungkapkan secara normal, Namun sekali
lagi, kesadaran itu hanya dialami pada satu titik fana
saja, meskipun sufi tersebut sudah kembali pada
kesadaran insaniyahnya, tidak akan merubah apa
yang telah dia alami. Akan tetapi pada saat itu pula
sang sufi hanya mengetahui bahwa telah terjadi
pengenalan(marifatullah) secara kaffah tanpa
penghalang, termasuk diri sendiri

Perumpamaan dan
Penjelasan

Perumpamaan itu adalah melihat jejakjejak Afal Allah dibalik segala kenyataan
yang ada.disegala sesuatu itu terdapat
jejak-jejak perbuatan Allah, misalnya
pohon tumbuh denganhukumNya, air
mengalir dengan iradahNya, angin
bertiup dengan perintahNya
(al-Baqarah:164, misalnya), dan
seterusnya. Melalui penjejakan ini, maka
insant idak lagi terpaku pada eloknya
ciptaan, tetapi elok dan kuasanya Sang
Pencipta.

Cincin Kehidupan (Awal adalah


akhir, dan akhir adalah awal)
Kehidupan manusia seperti sebuah cincin,
dimana temukan awal maka disitu pulalah
akhir; dan akhir itu merupakan awal pula.
Jika diperhatikan,orang yang sudah
menjelang usia sangat tua, sikapnya
kembali pada sikap kanak-kanak, dan
bahkan ketidakberdayaannya seperti
bayi. Ini karena diakembali pada awal
dia dilahirkan. Cincin tersebut tidak
benar-benar berupa cincin, tetapi ada
sedikit potongan yang memisahkan cincin

Kita berasalh dari Allah dan Allahlah tempat kita


akan dikembalikan. Awal merupakan akhir, dan akhir
itu merupakan awal. Yang dimaksudkan adalahbahwa
manusia dihidupkan dengan tiupan nafas, dan akan
berakhir denganmenghembuskan nafas, yaitu nafas
yang ditiupkan untuk menghidupkan dan kelak akan
diambil untuk mematikan. Perjalanan kembali kepada
awal sebelum waktunya memang disebut prematur,
tetapi itulah yang harus dilakukan agar kehidupan di
dunia ini tidak sia-sia
Jika semasa hidupnya kita tidak pernahmenziarahi
awal, yakni berjumpa dengan Allah, maka kita sama
saja seperti orang yang buta
Ketika hidup tidak mengenal Allah, dan ketika
menjelang sakartul maut kita pun tidak mengenal
Allah. Dengan kata lain, kita buta kepada Allah
semasa hidup, maka akan lebih buta lagi di akhirat
nanti (al-Isra:72).

Alif
Suatu ketika, Rasulullah ditanyakan tentang hakikat
ikhlas
Rasulullahmenjawb Ikhlas itu laksana seekor
semut hitam, berada di atas batu hitam, didalam
goa, di malam hari. Makna yang terkandung adalah
bahwa Rasulullah membayangkan keberadaan
semut hitam itu yang tidak diketahui oleh siapapun
terkecuali semut hitam itu sendiri dan Allah.
Hubungan saling mengetahui itu membentuk garis
vertikal antara Allah Maha Tinggi dan insan yang
rendah diri.Garis vertikal itu kemudian membentuk
huruf Alif yang menggambarkan sifatAllah
Qiyamuhu Binafsihi.

Alif itu menghubungkan hakikat Allah di satu titik


tertinggi, dan insan di satu titik terendah,
tetapiapakah ujung-ujung huruf alif itu terpisah? Allah
menciptakan insan (Adam)dan diturunkan ke bumi;
kemudian Allah juga berfirman bahwa pada akhir
sepertiga malam Dia turun ke langit yang dekat
dengan bumi, kedua pernyataanini menggambarkan
bahwa ada posisi atas dan posisi bawah. Adam
diturunka nmelalui aliran vertikal Alif dari atas ke
bawah, dan Allah turun dari singgasanaNya pun
menggambarkan gerak vertikal dari atas ke bawah. Ini
menggambarkan posisi Allah sebagai Al-Ala (Yang
Maha Tinggi)kedudukanNya, dan insan pada derajat
yang rendah karena diciptakan dari air yang hina
(secara jasmaniah)
ujung demi ujung huruf Alif itu merupakan jalinan
rahasia yang menyatukan hamba dan Allah, yakni
keikhlasan.

Setetes air dan samudra tak bertepi


dan secercah cahaya dan matahari
Setetes air yang tertetes ke samudra tak
bertepi tidak akan merubah hakikat samudra
itu, tetapi menghilangkan hakikat insan;
bukan berarti insan menjadi Allah, tetapi
kesadaran insan lebur dan hanya Allah Yang
Maha Ada. Sesaat saja, ketika tetesan air tadi
terhempas kembali keluar dari samudra tak
bertepi,tetesan tersebut tetap mengingat
samudra tak bertepi untuk selamanya.
Seorang insan yang kembali pada kesadaran
insaniyahnya, tidak akan pernah melupakan
siapa TuhanNya.

Titik dan Cahaya


Sebagaimana hubungan dengan Allah
disimbolkan dengan Alif yang berdiri tegak tanpa
disanggah apapun, insan disimbolkan dengan
titik yang merupakan bayangan dibawah kaki
Alif itu. Mengapa bayangan Alif membentuk
titik? Hal ini karena cahaya yang menyinari Alif
itu berada tepat diatas Alif. Alif itu merupakan
Zaitunatil la syarkiyyah wala gharbiyyah
cahaya itu tidak berada di timur atau di barat,
tidak pula di selatan atau di utara,dan berada
tepat di atasnya. Cahaya itulah Nurullah, yang
Allah berikan kepada siapa saja yang Dia
kehendaki (an-Nuur:35).

Sesungguhnya Nur itu terdiri atas 3, yakni


Nurullah, Nur Muhammad dan NurInsan.
Ada yang menyebutnya NurIslam, Nur
Iman, dan Nur Ihsan.
Inilah yang dimaksud dalam ayat di surat
Annur sebagai cahaya di atas cahaya.
Insan hanyalah titik yang
merupakanbayang-bayang Tuhan, yang
mendapatkan pancaran cahaya, hingga
cahayanya sendiri memendar seperti
tersentuh oleh cahaya yang lain.
Cahaya insan merupakan cahaya
pinjaman yang dipantulkan dari cahaya
Muhammad(seperti cahaya bulan
meminjam cahaya matahari),

Dan Nur Muhammad itu sendiri


merupakan pancaran Nur Ilahiyah
Insan tercipta dari satu titik air yang hina
(Yaasin:77), dan titik itu pula awal segala
huruf dan kejadian
Titik mengawali alif, ba, ta, tsa, dan
seterusnya. Sehingga ada dua jenis titik,
yaitu titik nuthfah, dan titik nukhtah.
Dari titik-titik ini insan dan al-Quran
diciptakan, sehingga insan dapat
mengenali Allah dengan dua jalan, yaitu
jalan melalui diri sendiri, dan jalan
melalui al-Quran

Melalui diri sendiri,insan akan menemukan


akhir bahwa dia hanyalah titik yang tidak
berdaya, yang berada di dalam samudra tak
bertepi, yang lemah berada di dalam kekuatan
dankebesaran, yang merupakan bayangan dari
Alif Qiyamuhu Taala Binafsihi
Sedangkan melalui al-Quran, dia akan
menemukan dirinya adalah titik dibawah huruf
Ba dari ayat Bismillahirrahmanirrahim, ayat
pertama surat al-Fatihah. Artinya, dia berada di
bawah awal al-Quran diturunkan, dan dia
harus menjalankan semua perintah karena dia
hanyalah titik bayang-bayang semata,yang
tidak berdaya upaya, kecuali bersandar
kepada Allah semata

Bertemunya titik dan Alif kembali yaitu


kenyataan bahwa al-Quran diawali
dengan huruf Ba, sedangkan ayat
pertama yang turun adalah Iqra, yang
diawali dengan huruf Alif.
Inilah, Alif, titik, dan cahaya
Cahaya menyinari Alif, dan
menghasilkan bayangan titik. Cahaya
adalah Nurullah, Alif adalah jalinan cinta
dan hubungan mesra antara Allah dan
Insan lewat sifat-sifat mereka, dan titika
dalah insan yang tak berdaya.

Kemudian titiklah awal dan sekaligus


akhir segala-galanya, di dalam alQuran, titik mengawali segalanya
dan jugamengakhiri segalanya
Hakekatnya titik itu adalah
kesadaran spiritual yang tak
berhuruf dan tak bersuara, hanya
ada Insan dan Allah, dan insan pun
hilang, sehingga hanya adaA llah
semata

Penjara Kedirian
Titik (jauhar, nuthfah, nukhtah) adalah
hakikat insaniyah ketikahakikat itu
ditiupkan ke dalam jasad, maka
terpenjaralah insan di dalam penjara
kedirian, yaitu jasad dan segala
keinginannya
Karena jasad maka kita mengantuk, lelah,
lapar, haus, berbirahi, berkeinginan pada
dunia. Jasad merupakan penjara yang
mengikat kita kepada dunia, dan
menjauhkan kita dari Allah.

Kita tertipu dengan nikmat dunia, dan kita


mensyukuri bahwa kita diberikan tangan dan
kaki untuk mendapatkan harta, padahal kita
akan lebih bersyukur jika kita tidak
menginginkan semua itu dan tidak pernah
dilemparkanke dunia jasmani dan senantiasa
berada di dekat Allah sediakala
Karena jasad kita harus melakukan segala
sesuatu selain beribadah kepada Allah
karena jasad kita menjadi terhalang dari Allah
Inilah mengapa setiap anak yang dilahirkan
selalu sajamengeluarkan tangisan, karena
setelah terlahir, hakikatnya melihat dunia yang
tidak sama dengan alam kebersamaannya
bersama hakikat ilahiyah

Karena jasad kita juga berpeluang masuk neraka,


padahal walaupun tidak masuk syurga, namun
berada disisi Allah kita lebih bahagia
Inilah mengapa sehingga para sufi senantiasa
berzuhud, yakni menepis segala keinginan jasad
dimana berhasil menepis, memusnahkan jasad,
maka kebahagiaan terlahir, sebuah kebahagiaan
dahsyat yang menyebabkan sukr dan syathiyat.
Sekembali pada jasad, maka para sufi tidak lagi
merasa terpenjara, karena Allah pun selalu
besertanya (innallaha maana). Segala yang
maujud ternyata merupakan kenyataan bahwa
Ujud Allah nyata. Kebahagiaan itu melahirkan
kerinduan untuk kembali, kembali kepada Sumber,
kembali pada Awal, kembali kepada Allah.

Maqam
Yang dimaksud dengan Maqam adalah
tingkatan atau wilayat yang akan (harus)
dilalui oleh seorang sufi Marifat putus. Yang
saya sebutkan dan jelaskan disini hanyalah
Maqam yang inti-inti saja
Takhalli merupakan tingkatan dimana insan,
karena beriradah kepada ilahi, melakukan
proses penyucian diri, dengan cara bertaubat,
berpuasa,menyucikan diri jasmani,
menekankan keinginan jasmani, menjauhkan
pikiran dari kesenangan duniawi, dan
membersihkan hati dari sifat-sifat
mazmumah(tercela).

Di dalam diri insan terdapat empat belas


gudang yang mula-mula berisi kejahatan
dan kegelapan; tujuh pada jasad dan tujuh
pada ruh
Keempat belasnya harus dibersihkan dan
kelak diisi dengan perbuatan suci yang
mahmudah (terpuji).
Tujuh pada jasad adalah: mata, telinga,
hidung, mulut, tangan, kaki, dan
kemaluan. Ketujuh ini harus disucikan
dengan cara bertaubat atas segala perbuatan
yang keji dan mungkar. Untuk menyucikan
ini, setelah bertaubat haruslah
menggunakannya di jalan yang ditentukan
oleh syariatIslam.

Tujuh pada ruhani adalah titik-titik halus


(lathifah atau lathaif)
yakni:lathifatul qalbi, lathifatul
khafi, lathifatul akhfa, lathifatur ruh,
lathifatus sirri,lathifatun nafsi,
lathifatu kullu jasad Semua lathifah ini
harus dicuci dan mencucinya harus
dengan berzuhud. Dzikir merupakan
pencuci lathifah,khususnya hati, sebagai
mana Rasulullah bersabda Segala
sesuatu ada pencucinya, dan pencuci
hati adalah dzikir. Dzikir yang
diutamakan adalah istighfar dan tahlil.

Tahalli
Setelah insan bertakhalli, saatnya dia harus
bertahalli, yaitu menghiasi diri dengan amalanamalan mahmudah (terpuji). Secara jasmani
dia harus bersadaqah, baik kepada orang lain,
kepada alam semesta, maupun kepada dirinya
sendiri. Semua itu harus terprogram dalam
kehidupan insan secarateratur, terencana, dan
bertujuan yang jelas. Dalam bertahalli ini,
seorang insanbukan hanya mencintai amalan
fardhu, tetapi juga amalan sunnah.
Allahmencintai insan bukan dengan amalan
fardhu, tetapi amalan sunnah. Insanharus
menekan hasrat duniawinya dengan cara
berpuasa dan zuhudl illahitaala.

Di waktu siang dan malam hanya


mengingat Allah, bersunyi
diri,mencari keridhaan Allah,
menyeru dalam hati Ilahi Anta
Maqsuudi,Waridhaka Mathluubi.
Hanya Allah yang dimaksudkan dan
keridhaanNya yang dicari.
Lisannya selalu basah dengan La
ilaha illallah,
Hatinya selalu berdetak Allah-Allah,
Nafasnya naik turun mengikuti irama
dzikir Hu dan Allah

Pandangan matanya dijaga dari yang


haram, telinganya, lisannya dan
segalanya
maqam dzikirnya secara umum disebut
sebagai berikut:Mahabbah awalnya
insan harus menghadirkan cinta dan
kerinduan kepada Allah.Bagaimana
mungkin seseorang melakukan
perjalanan secara berhasil jika dia
melakukannya tanpa kerinduan terhadap
apa yang dia cari Pada maqam ini, Pada
maqam ini, insan berdzikir istighfar
dan ya Rahman ya Rahim...

Mujahadah Ini adalah tahapan dimana insan


berupaya keras, berjuang melawansegala
sesuatu selain Allah yang menghampiri hati dan
pikiran. Biasanya iniadalah pengaruh dari
semakin banyaknya kesibukan dunia yang
menjebak kita.Dalam situasi ini, kita benar-benar
bisa mengukur sedalam apakah kita terjebak
dengan dunia, semakin keras pejuangan kita,
adalah pertanda bahwa ikatan dunia yang
menjebak kita semakin keras, tebal, dan dalam.
Pikiran insan akan seperti seekor burung
yang bertengger dari satu dahan kesibukan
dunia kedahan ingatan dunia yang lain.
Hanya rahmat Allah saja yang bisa membuat
insan berhasil melalui maqam ini

Insan harus senantiasa berusaha untuk


menepis segala sesuatu selain Allah,
sementara itu Allah pun belum dikenal,maka
dengan demikian insan hanya bisa menepis
segala-galanya karena Allah laisa kamistlihi
syaiun, tidak serupa dengan apapun jua
Sang insan menahan lapar, haus, lelah,
mengantuk; perjuangan jasad, hati, dan
akal. Insan tetap berjuang sambil berdzikir
La ilaha illallah...
ketika bayang-bayang apapun muncul
dalam hati dan pikirannya, insan berlindung
dengan menyebut kanaudzu billahi minka
(aku berlindung kepada Allah dari engkau)

Jika seorang insan telah terlepas dari


maqam ini, pertandanya adalah
ketika tidak ada sesuatu apapun
yang hadir, dan ini hal ini sangat
sulit saya gambarkan dengan katakata.Namun sewaktu-waktu insan
bisa saja terjatuh lagi dan harus
bermujahadah lagi. Ini merupakan
pintu masuk ke wilayat fana yang
paling sulit,

Muraqabah Di maqam ini, insan sudah tidak lagi


menyadari hal lain selain dirinyadan Allah saja, dia
berupaya untuk mendekat kepada Allah dengan
hakikathakikatnya,dengan ilmu dan marifat yang
dia miliki, disertai dengan dzikir YaAllah Ya Allah...
pada saat ini, insan hanya menyadari bahwa
Allahlah yang diatuju, hakikat Allah. Setelah melalui
perjalanan yang keras. Cinta dan kerinduan
tidaklah boleh surut, haruslah lebih bersemangat
lagi. Hati merasa dituntun olehAllah dan inilah jalan
untuk mendekatkan diri kepada Allah. Inilah jalan
yangdicari dan dipilih oleh insan, untuk memenuhi
panggilan Allah dalam surat al-Maidah ayat 35. Dan
sebagai hasil dari upaya kerasnya, insan akan
berjumpadengan Allah (al-Insyiqaaq:6). Akan
tetapi, masih terdapat hijab antara Allahdan
insan; hijab inilah merupakan hakikat yang
membedakan antara Allah dan insan.

Mukasyafah Pada tahap ini, hijab


tersingkap, Allah membuka hijab itu
denganrahmatNya, sehingga insan dapat
(seolah-olah) melihat Allah dengan
melalui NurNya. Inilah ihsan yang
Rasulullah maksudkan, seolah-olah
engkaumelihatNya, dan jika tidak
maka Dia melihat engkau. Cahaya
itu semakin lama semakin dekat,
besar, dan terang. Insan melihat Nur.
Lisan telah mati, hati danakal berdzikir
tanpa nama, hanya menunjuk pada Dia
(Hu..., atau ada sufi lainmengatakan
Hua...).

Musyahadah Di maqam ini, insan


melakukan persaksian (syahadah)
yangs esungguhnya, seperti insan
mengakuiNya ketika berada di Alam
Arham,dimana Allah bertanya Alastu
birabbikum, dan insan menjawab
BalaaSyahidna... yang saya temukan
adalah Syahidna ala anfusana
watsabataindanaa, Anta Khaliiquna, wa
Anta Rabbuna, wa La ilaha illa Anta.
Ini adalahpersaksian sesungguhnya
kepada Allah, dimana hanya ada Allah
dan insan,hamba yang terpilih.

Mukafanah Pada tahapan ini, saya tidak


bisa menjelaskan apa-apa lagi,
melainkan menyebutkan bahwa inilah
saatnya lumpuh segala ilmu dan
marifat,lumpuhnya kesadaran insaniyah,
dan lebur ke dalam hakikat ilahiyah
dan.... (.)sekali lagi, tidak ada lagi yang
dapat dibicarakan oleh kata-kata disini.
Dan inilah puncak tertinggi perjalanan
spiritual, Marifat putus/penamat. Saya
memohonampun kepada Allah karena
telah membuka rahasiaNya, demi
mengembalikan iman pada tempatnya.