Anda di halaman 1dari 11

Ontologi merupakan salah satu kajian filsafat yang paling kuno dan berasal dari Yunani.

Studi tersebut membahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkret. Tokoh Yunani yang
memiliki pandangan yang bersifat ontologis dikenal seperti Thales, Plato, dan Aristoteles .
Pada masanya, kebanyakan orang belum membedaan antara penampakandengan kenyataan.
Thales terkenal sebagai filsuf yang pernah sampai pada kesimpulan bahwa air merupakan
substansi terdalam yang merupakan asal mula segala sesuatu. Namun yang lebih penting
ialah pendiriannya bahwa mungkin sekali segala sesuatu itu berasal dari satu substansi belaka
(sehingga sesuatu itu tidak bisa dianggap ada berdiri sendiri).
Hakekat kenyataan atau realitas memang bisa didekati ontologi dengan dua macam sudut
pandang:
1. kuantitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan itu tunggal atau jamak?
2. Kualitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan (realitas) tersebut
memiliki kualitas tertentu, seperti misalnya daun yang memiliki warna kehijauan,
bunga mawar yang berbau harum.
Secara sederhana ontologi bisa dirumuskan sebagai ilmu yang mempelajari realitas atau
kenyataan konkret secara kritis.
Epistemologi,(dari bahasaYunani episteme (pengetahuan) dan logos (kata/pembicaraan/ilmu)
adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan asal, sifat, karakter dan jenis pengetahuan.
Topik ini termasuk salah satu yang paling sering diperdebatkan dan dibahas dalam bidang
safat, misalnya tentang apa itu pengetahuan, bagaimana karakteristiknya, macamnya, serta
hubungannya dengan kebenaran dan keyakinan. Epistemologi atau Teori Pengetahuan yang
berhubungan dengan hakikat dari ilmu pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dasardasarnya serta pertanggungjawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki
oleh setiap manusia. Pengetahuan tersebut diperoleh manusia melalui akal dan panca indera
dengan berbagai metode, diantaranya; metode induktif, metode deduktif, metode positivisme,
metode kontemplatis dan metode dialektis.
Aksiologi adalah istilah yang berasal dari kata Yunani yaitu; axios yang berarti sesuai atau
wajar. Sedangkan logos yang berarti ilmu. Aksiologi dipahami sebagai teori nilai. Jujun
S.Suriasumantri mengartika aksiologi sebagai teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan
dari pengetahuan yang diperoleh.
Rasionalisme atau gerakan rasionalis adalah doktrin filsafat yang menyatakan bahwa
kebenaran haruslah ditentukan melalui pembuktian, logika, dan analisis yang berdasarkan
fakta, daripada melalui iman, dogma, atau ajaran agama. Rasionalisme mempunyai kemiripan
dari segi ideologi dan tujuan dengan humanisme dan atheisme, dalam hal bahwa mereka
bertujuan untuk menyediakan sebuah wahana bagi diskursus sosial dan filsafat di luar
kepercayaan keagamaan atau takhayul.

Idealisme adalah sebuah istilah yang digunakan pertama kali dalam dunia filsafat oleh
Leibniz pada awal abad 18. ia menerapkan istilah ini pada pemikiran Plato, seraya
memperlawankan dengan materialisme Epikuros. Istilah Idealisme adalah aliran filsafat yang
memandang yang mental dan ideasional sebagai kunci ke hakikat realitas. Dari abad 17
sampai permulaan abad 20 istilah ini banyak dipakai dalam pengklarifikasian filsafat.
Idealisme berasal dari kata ide yang artinya adalah dunia di dalam jiwa (Plato), jadi
pandangan ini lebih menekankan hal-hal bersifat ide, dan merendahkan hal-hal yang materi
dan fisik. Realitas sendiri dijelaskan dengan gejala-gejala psikis, roh, budi, diri, pikiran
mutlak, bukan berkenaan dengan materi.
Positivisme adalah suatu aliran filsafat yang menyatakan ilmu alam sebagai satu-satunya
sumber pengetahuan yang benar dan menolak aktifitas yang berkenaan dengan metafisik.
Tidak mengenal adanya spekulasi, semua didasarkan pada data empiris.
Eksistensialisme adalah aliran filsafat yang pahamnya berpusat pada manusia individu yang
bertanggung jawab atas kemauannya yang bebas tanpa memikirkan secara mendalam mana
yang benar dan mana yang tidak benar.
Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa kesenangan dan kenikmatan
materi adalah tujuan utama hidup. Bagi para penganut paham ini, bersenang-senang, pestapora, dan pelesiran merupakan tujuan utama hidup, entah itu menyenangkan bagi orang lain
atau tidak.
Stoisisme adalah salah satu aliran atau mazhab filsafat Yunani-Romawi yang didirikan tahun
108 SM di Athena oleh Zeno dari Citium dan memperluas pengaruhnya dalam Kekaisaran
Romawi.[1] Nama mazhab ini diambil dari lokasi di Athena tempat pertama kali mazhab ini
ditemukan. Dalam aliran stoisisme terdapat beberapa pokok pikiran yang dapat dijelaskan
menjadi 5 bagian. Pertama, Kaum Stoa menggabungkan ajaran filsuf kuno dengan pemikiran
Plato dan Aristoteles dengan keyakinan besar bahwa mereka mengajarkan etos dan sikap baru
yang mempunyai pengaruh mendalam terhadap etika. Kedua, ideal Stoisisme adalah manusia
bijaksana yang hidup selaras dengan alam, mengendalikan afeksinya, menanggung
penderitaan secara tenang dan sebagai tujuan kehidupannya ialah rasa puas dengan kebajikan
sebagai satu-satunya sumber kebahagiaan. Ketiga, Allah adalah spesies jiwa dunia. Dia
memiliki di dalam diriNya sendiri benih atau daya seminal untuk setiap perkembangan
sehingga setiap peristiwa seakan direncanakan dan menjadi akibat penyelenggaraan.
Keempat, Stoisme bukan filsafat spekulatif dan sistematik melainkan pandangan tentang
kehidupan secara mendalam memperhatikan emosi-emosi manusia. Kelima, anjuran
kesamaan semua manusia merupakan karakteristik sebagaimana juga suatu kosmopolitanisme
tertentu.
Marxisme adalah sebuah paham yang berdasar pada pandangan-pandangan Karl Marx. Marx
menyusun sebuah teori besar yang berkaitan dengan sistem ekonomi, sistem sosial, dan
sistem politik. Pengikut teori ini disebut sebagai Marxis.
Realisme adalah mazhab teori hubungan internasional. Realisme adalah "spektrum ide" yang
berpusat pada empat ide utama, yaitu grupisme politik, egoisme, anarki internasional, dan
politik kekuasaan.
Liberalisme atau Liberal adalah sebuah ideologi, pandangan filsafat, dan tradisi politik yang
didasarkan pada pemahaman bahwa kebebasan dan persamaan hak adalah nilai politik yang
2

utama.[1]Secara umum, liberalisme mencita-citakan suatu masyarakat yang bebas, dicirikan


oleh kebebasan berpikir bagi para individu.[2] Paham liberalisme menolak adanya
pembatasan, khususnya dari pemerintah dan agama.
Materialisme adalah pandangan hidup yang mencari dasar segala sesuatu yang termasuk
kehidupan manusia di dalam alam kebendaan semata-mata, dengan mengesampingkan segala
sesuatu yang mengatasi alam. Sementara itu, orang-orang yang hidupnya berorientasi kepada
materi disebut sebagai materialis.
Utilitarianisme adalah suatu teori dari segi etika normatif yang menyatakan bahwa suatu
tindakan yang patut adalah yang memaksimalkan penggunaan (utility), biasanya didefinisikan
sebagai memaksimalkan kebahagiaan dan mengurangi penderitaan.
Spiritualisme di dalam agama adalah kepercayaan, atau praktik-praktik yang berdasarkan
kepercayaan bahwa jiwa-jiwa yang terangkat (saat meninggal) tetap bisa mengadakan
hubungan dengan jasad. Hubungan ini umumnya dilaksanakan melalui seorang medium yang
masih hidup. Ada keterlibatan emosional yang kuat, baik pada penolakan maupun
penerimaan terhadap spiritualisme ini yang membuat sulitnya suatu uraian imparsial dipakai
untuk membuktikannya.
Identitas nasional adalah suatu jati diri yang khas dimiliki oleh suatu bangsa dan tidak
dimiliki oleh bangsa yang lain. Dalam hal ini, tidak hanya mengacu pada individu saja, akan
tetapi berlaku juga pada suatu kelompok. Selanjutnya mengenai identitas nasional akan
dibahas di bawah ini.
Kata Identitas berasal dari kata Identitu, yang memiliki arti tanda-tanda, ciri-ciri, atau jati diri
yang melekat pada seseorang atau sesuatu yang membedakannya dengan yang lain.
Sementara itu kata "nasional" merupakan identitas yang melekat pada kelompok-kelompok
yang lebih besar yang diikat oleh kesamaan-kesamaan fisiik, baik fisik seperti budaya, agama
dan bahasa maupun nonfisik seperti cita-cita, keinginan dan tujuan. Himpunan kelompok
inilah yang kemudian disebut dengan identitas bangsa atau identitas nasional yang pada
akhirnya melahirkan tindakan kelompok yang diwujudkan dalam bentuk organisasi atau
pergerakan-pergerakan yang diberi atribut-atribut nasional.
Pengertian Identitas Nasional adalah kumpulan nilai-nilai budaya yang tumbuh dan
berkembang dalam berbagai aspek kehidupan dari ratusan suku yang dihimpun dalam satu
kesatuan Indonesia menjadi kebudayaan nasional dengan acuan pancasila dan Bhineka
Tunggal Ika sebagai dasar dan arah pengembangannya.
Hakikat Identitas Nasional kita sebagai bangsa di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara
adalah pancasila yang aktualisasinya tercermin dalam penataan kehidupan kita dalam arti
yang luas, misalnya di dalam aturan perundang-undangan atau moral yang secara normatif
diterapkan di dalam pergaulan, baik itu di dalam tataran nasional maupun internasional dan
lain sebagainya. Dengan demikian nilai-nilai budaya yang tercermin di dalam identitas
nasional tersebut bukanlah barang jadi yang sudah selesai dalam kebekuan normatif dan
domatis, melainkan sesuatu yang terbuka yang cenderung terus-menerus bersemi karena
adanya hasrat menuju kemajuan yang dimiliki oleh masyarakat. Konsekuensi dan
implikasinya adalah identitas nasional merupakan sesuatu yang terbuka untuk ditafsir dengan
diberi makna baru agar tetap relevan dan fungsional dalam kondisi aktual yang berkembang
dalam masyarakat.
3

Berbicara mengenai unsur-unsur identitas nasional, maka identitas nasional Indonesia


merujuk pada suatu bangsa yang majemuk. Kemajemukan itu merupakan gabungan unsur
unsur pembentuk identitas nasional yang meliputi :
(1) Suku Bangsa merupakan salah satu dari unsur pembentuk identitas nasional. Golongan
sosial yang khusus yang bersifat askriptif atau ada sejak lahir, dimana sama coraknya dengan
golongan umur dan jenis kelamin. Di Indonesia khususnya, terdapat banyak sekali suku
bangsa atau kelompok etnis dengan tidak kurang tiga ratus dialek bahasa.
(2) Agama merupakan salah satu dari unsur pembentuk identitas nasional. Bangsa Indonesia
dikenal sebagai masyarakat yang agamis (didasarkan pada nilai agama). Agama-agama yang
tumbuh dan berkembang di nusantara yaitu agama islam, katholik, kristen, hindu, budha dan
kong hu cu.
(3) Kebudayaan merupakan salah satu dari unsur pembentuk identitas nasional. Pengetahuan
manusia sebagai makhluk sosial yang isinya adalah perangkat-perangkat atau model-model
pengetahuan yang secara kolektif digunakan oleh pendukung-pendukung utntuk menafsirkan
dan memahami lingkungan yang dihadapi dan digunakan sebagai rujukan atau pedoman
untuk bertindak (dalam bentuk kelakukan dan benda-benda kebudayaan) sesuai dengan
lingkungan yang dihadapi.
(4) Bahasa merupakan salah satu dari unsur pembentuk identitas nasional. Dalam hal ini,
bahasa dipahami sebagai sistem perlambang yang secara arbiter dibentuk atas unsur-unsur
bunyi ucapan manusia dan digunakan sebagai sarana berinteraksi antarmanusia.
Dari unsur unsur identitas nasional di atas, dapat dirumuskan pembagiannya menjadi tiga
bagian yaitu :
(1) Identitas Fundamental, yaitu pancasila sebagai falsafat bangsa, dasar negara dan ideologi
negara.
(2) Identitas Instrumental, yaitu berisi UUD 1945 dan tata perundang-undangannya. Dalam
hal ini, bahasa yang digunakan bahasa Indonesia, bendera negara Indonesia, lambang negara
Indonesia, lagu kebangsaan Indonesia yaitu Indonesia Raya.
(3) Identitas Alamiah, yaitu meliputi negara kepulauan dan pluralisme dalam suku, budaya,
bahasa dan agama serta kepercayaan.
Nasionalisme adalah satu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah
negara (dalam bahasa Inggris nation) dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama
untuk sekelompok manusia yang mempunyai tujuan atau cita-cita yang sama dalam
mewujudkan kepentingan nasional, dan nasionalisme juga rasa ingin mempertahankan
negaranya, baik dari internal maupun eksternal.
Integrasi nasional adalah usaha dan proses mempersatukan perbedaan perbedaan yang ada
pada suatu negara sehingga terciptanya keserasian dan keselarasan secara nasional.
Seperti yang kita ketahui, Indonesia merupakan bangsa yang sangat besar baik dari
kebudayaan ataupun wilayahnya. Di satu sisi hal ini membawa dampak positif bagi bangsa
karena kita bisa memanfaatkan kekayaan alam Indonesia secara bijak atau mengelola budaya
4

budaya yang melimpah untuk kesejahteraan rakyat, namun selain menimbulkan sebuah
keuntungan, hal ini juga akhirnya menimbulkan masalah yang baru. Kita ketahui dengan
wilayah dan budaya yang melimpah itu akan menghasilkan karakter atau manusia manusia
yang berbeda pula sehingga dapat mengancam keutuhan bangsa Indonesia.
Faktor-faktor pendorong integrasi nasional sebagai berikut:
1. Faktor sejarah yang menimbulkan rasa senasib dan seperjuangan.
2. Keinginan untuk bersatu di kalangan bangsa Indonesia sebagaimana dinyatakan dalam
Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928.
3. Rasa cinta tanah air di kalangan bangsa Indonesia, sebagaimana dibuktikan perjuangan
merebut, menegakkan, dan mengisi kemerdekaan.
4. Rasa rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan Negara, sebagaimana dibuktikan oleh
banyak pahlawan bangsa yang gugur di medan perjuangan.
5. Kesepakatan atau konsensus nasional dalam perwujudan Proklamasi Kemerdekaan,
Pancasila dan UUD 1945, bendera Merah Putih, lagu kebangsaan Indonesia Raya, bahasa
kesatuan bahasa Indonesia.
Contoh-contoh pendorong integrasi nasional :
Adanya rasa keinginan untuk bersatu agar menjadi negara yang lebih maju dan tangguh di
masa yang akan datang.
Rasa cinta tanah air terhadap bangsa Indonesia
Adanya rasa untuk tidak ingin terpecah belah, karena untuk mencari kemerdekaan itu
adalah hal yang sangat sulit.
Adanya sikap kedewasaan di sebagian pihak, sehingga saat terjadi pertentangan pihak ini
lebih baik mengalah agar tidak terjadi perpecahan bangsa.
Adanya rasa senasib dan sepenanggungan
Adanya rasa dan keinginan untuk rela berkorban bagi bangsa dan negara demi terciptanya
kedamaian
Revitalisasi Pancasila dapat diartikan sebagai usaha mengembalikan Pancasila kepada
subjeknya yaitu sebagai pedoman bagi para penyelenggara pemerintahan. Untuk
merevitalisasi Pancasila, perlu diajarkan dalam kaitannya dengan pembuatan atau evaluasi
atas kebijakan publik selain dibicarakan sebagai dasar negara.
Bapak bangsa Indonesia sering disebut sebagai The Founding Fathers adalah julukan bagi
68 orang tokoh Indonesia yang memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia dari
penjajahan bangsa asing dan berperan dalam perumusan bentuk atau format negara yang akan
dikelola setelah kemerdekaan. Mereka berasal dari berbagai macam latar belakang
pendidikan, agama, daerah, dan suku/etnis yang ada di Indonesia.
Mereka dianggap sebagai manusia-manusia yang unggul dalam pemikiran, visi, dan
intelektualisme. Berdasarkan ideologi, visi dan perjalanan sejarahnya, ada ahli yang

mengelompokkan mereka menjadi empat, yaitu kelompok Soekarno, Hatta, Soepomo, dan
Mohammad Yamin.[1]
Soekarno, bapak bangsa yang dijuluki juga sebagai Proklamator bersama Hatta. Seorang
ideolog dan orator ulung yang bisa menggelorakan semangat rakyat. Soekarno juga seorang
insinyur dari Technische Hoogeschool te Bandoeng yang sekarang bernama ITB. Lahir di
Surabaya, Jawa Timur pada 6 Juni 1901, putra dari Soekemi Sosrodihardjo, seorang Jawa,
dan Ida Ayu Nyoman Rai, seorang Bali. Ia merupakan tokoh utama PNI yang mengusung
ideologi nasionalis yang sekarang diwarisi oleh PDI Perjuangan. Soekarno meninggal dunia
di Jakarta pada 21 Juni 1970.
Mohammad Hatta, bapak bangsa yang juga dijuluki Proklamator mendampingi Soekarno.
Seorang ideolog, demokrat, pemikir dan ahli ekonomi. Ia mendapatkan gelar sarjana ekonomi
dari Handels Hogeschool kemudian menjadi Economische Hogeschool, sekarang menjadi
Universitas Erasmus Rotterdam, Belanda. Lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat pada 12
Agustus 1902, putra dari pasangan Minangkabau, Muhammad Djamil dan Siti Saleha. Hatta
juga dijuluki sebagai "Bapak Koperasi Indonesia", dan merupakan pencetus politik luar
negeri Indonesia yang bebas aktif yang ditulis dalam bukunya Mendayung di antara Dua
Karang. Hatta meninggal dunia di Jakarta pada 14 Maret 1980.
Soepomo, bapak bangsa yang berperan cukup besar dalam penyusunan Undang-undang
Dasar 1945 (UUD 45) bersama Mohammad Yamin dan Soekarno. Ia merupakan seorang ahli
hukum dan penganut paham integralistik atau negara kesatuan dalam pembentukan awal
negara Indonesia. Secara ideologi bernegara ia berseberangan dengan Hatta yang menganut
paham federalis dan demokratis.
Tan Malaka, bapak bangsa yang sangat radikal, revolusioner, misterius. Tan juga seorang
ideolog, orator, dan tanpa kompromi dengan penjajah. Ia juga dijuluki sebagai "Bapak
Republik Indonesia", karena ia adalah tokoh pertama yang mengemukakan konsep negara
Indonesia dalam bukunya Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia) pada
tahun 1924, mendahului konsep Hatta dan Soekarno. Pendiriannya tergambar dalam
ucapannya yang terkenal "Orang tak Akan Berunding dengan Maling di Rumahnya" atau
"Merdeka 100 persen", yang membuat ia berseberangan dengan Soekarno, Hatta, dan Sjahrir
di kemudian hari.
Ki Hadjar Dewantara,Radjiman Wediodiningrat,Mohammad Yamin,Sutan Sjahrir,Agus
Salim,Amir Sjarifuddin Harahap,Achmad Soebardjo,Mohammad Natsir,Sjafruddin
Prawiranegara,Teuku Mohammad Hasan,Iwa Koesoemasoemantri,Andi Pangeran
Pettarani,Oey Tjong Hauw,A.A. Maramis,Burhanuddin Muhammad Diah,Johannes
Leimena,Djoeanda
Kartawidjaja,Soekardjo
Wirjosandjojo,Oey
Tiang
Tjoe,Otto
Iskandardinata,Ki Bagus Hadikoesoemo,Johannes Latuharhary,I Gusti Ktut Pudja,Samsi
Sastrawidagda,Mohammad
Amir,Sam
Ratulangi,Yap
Tjwan
Bing,Soetardjo
Kartohadikoesoemo,Abikoesno
Tjokrosoejoso,Buntaran
Martoatmodjo,Siauw
Giok
Tjhan,Abdul Abbas,A. Rivai,Soediro,Harsono Tjokroaminoto,Soekarni,Andi Sultan Daeng
Radha,Chaerul Saleh,Sajuti Melik,Samaun Bakri.
Kearifan lokal (local genuine) adalah segala sesuatu yang dimiliki oleh masyarakat lokal di
daerah tertentu yang merupakan ciri keaslian dan kekhasan daerah tersebut tanpa adanya
pengaruh atau unsur campuran dari daerah lainnya. Secara umum kearifan lokal dibedakan
6

menjadi dua yaitu kerifan lokal yang dapat dilihat dengan mata (tangible) seperti objek-objek
budaya, warisan budaya bersejarah dan kegiatan keagamaan; dan kearifan lokal yang tidak
dapat dilihat oleh mata (intangible) yang berupa nilai atau makna dari suatu objek atau
kegiatan budaya. Dalam disiplin antropologi dikenal istilah local genius. Local genius ini
merupakan istilah yang mula pertama dikenalkan oleh Quaritch Wales. Para antropolog
membahas secara panjang lebar pengertian local genius ini. Antara lain Haryati Soebadio
mengatakan bahwa local genius adalah juga cultural identity, identitas/kepribadian budaya
bangsa yang menyebabkan bangsa tersebut mampu menyerap dan mengolah kebudayaan
asing sesuai watak dan kemampuan sendiri (Ayatrohaedi, 1986:18-19). Sementara
Moendardjito (dalam Ayatrohaedi, 1986:40-41) mengatakan bahwa unsur budaya daerah
potensial sebagai local genius karena telah teruji kemampuannya untuk bertahan sampai
sekarang.
Kearifan Lokal atau sering disebut Local Wisdom adalah semua bentuk pengetahuan,
keyakinan, pemahaman, atau wawasan serta adat kebiasaan atau etika yang menuntun
perilaku manusia dalam kehidupan di dalam komunitas ekologis (Keraf, 2002). Sedangkan
menurut Gobyah, 2009 kearifan lokal didefinisikan sebagai kebenaran yang telah mentradisi
atau ajeg dalam suatu daerah.
Dari kedua definisi tersebut maka local wisdom dapat diartikan sebagai nilai yang dianggap
baik dan benar yang berlangsung secara turun-temurun dan dilaksanakan oleh masyarakat
yang bersangkutan sebagai akibat dari adanya interaksi antara manusia dengan
lingkungannya.
Dinamika Undang-Undang Dasar 1945
1. Masa Awal Kemerdekaan (1945-1949)
Pada masa awal kemerdekaan UUD 1945 belum dapat dijalankan sebagaimana yang diatur
mengingat kondisi lembaga negara yang masih belum tertata dengan baik. Faktor lainnya
adalah UUD 1945 masih sangat sederhana karena dibuat dalam waktu yang sangat singkat
kurang lebih 49 hari oleh BPUPKI pada 29 Mei-16 Juli 1945 dan PPKI tanggal 18 Agustus
1945 (Manan,2000:3). Hal ini di perkuat dengan pernyataan ketua panitia perancang UUD
1945, Soekarno yang mengutarakan:
UUD 1945 yang dibuat sekarang ini adalah UUD sementara. Kalau boleh saya memakai
perkataan: ini adalah UUD kilat. Nanti kalau kita telah bernegara didalam suasana lebih
tentram, kita tentu mengumpulkan kembali MPR yng dapat membuat UUD yang lebih
lengkap dan lebih sempurna (Manan,2000:3).
Setelah disahkan PPKI, lembaga negara yang dapat dibentuk hanyalah presiden dan wapres.
Secara yuridis hal itu dapat dilihat pada pasal III aturan peralihan UUD 1945 yang
menentukan , bahwa untuk pertama kalinya presiden dan wapres dipilih oleh PPKI.
Sementara itu, lembaga tinggi negara yang lain belum dapat diwujudkan. Bahkan sebelum
MPR, DPR, DPA di bentuk berdasarkan UUD ini, segala kekuasaan dijalankan oleh Presiden
dengan bantuan Komite Nasional. Hal itu diatur dalam ketentuan pasal IV aturan peralihan
UUD 1945.
Perubahan system pemerintahan (Presiden ke Parlemen) dan ketatanegaraan (Fungsi dan
Kedudukan Lembaga Negara) dalam negara Indonesia pada masa ini sedikit banyak
7

mewarnai pelaksanaan dari UUD 1945 tetapi tidak mengalami perubahan secara tekstual,
diantaranya:
Dalam sidang KNIP tanggal 16 Oktober 1945 di Malang, Drs. Moh Hatta mengeluarkan
maklumat no. X yang berisikan wewenang kepada KNIP untuk turut membuat UndangUndang dan menetapkan GBHN. Denagn kata lain seperti memegang sebagian kekuasaan
MPR, disamping kekuasaan DPA dan DPR (Shoepiyadi,2004:51)
Keluarnya maklumat pemerintah tanggal 3 november 1945 tentang keinginan untuk
membentuk partai-partai politik dan tanggal 14 November 1945 tentang pembentikan cabinet
parlementer pertama dibawah pampinan Perdana Menteri Sutan Syahrir dan menteri-menteri
bertanggung jawab pada KNIP sebagai pengganti DPR/MPR.
Dalam perkembangan ketatanegaraan selanjutnya sejak tanggal 27 Desember 1949,
berdasarkan hasil konferensi meja bundar di Den Haag Belanda, Indonesia berubah menjadi
Negara bagian Indonesia Serikat yaitu negara konfederasi Belanda dibawah pimpinan Raru
Belanda. Kerajaan Belanda menyerahkan kedaulatan kepada Indonesia dengan konstitusi
RIS. Kemudian memecah-mecah di wilayah Indonesia yang berpusat di Yogyakarta.

2. Periode 1950-1959 (UUDS 1950)


Sejak terbentuknya Negara Republik Indonesia Serikat dibawah konstitusi RIS 1949 pada
tanggal 27 Desember 1949, maka semakin kuatlah perjuangan bangsa Indonesia menentang
susunan negara yang dianggap sebagai bentukan Belanda dan semakin kuat pula tuntutan
untuk kembali kepada bentuk yang unitaristis, maka pada tanggal 17 Agustus 1950 negara
KRIS sepenuhnya kembali menjadi negara RI dengan UUDS sebagai konstitusinya.
Dalam rang memenuhi tugas yang diamanatkan oleh UUDS 1950, maka diselenggarakanlah
pemilu untuk memilih anggota Majelis Pembentuk UUD Negara Republik Indonesia yang
kemudian disebut Konstituante yang dilantik pada 10 november 1956 (Purastuti,2002:41).
Konstituante bersidang di Bandung pada Februari 1959 telah menghasilkan butir-butir materi
yang disusun menjadi materi UUD Negara namun pada akhirnya gagal mencapai kata
mufakat. Denagn berasar pada kegagalan Konstituante itulah melatarbelakangi aksi Presiden
Soekarno dengan mengelurkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang didalamnya berisikan :
Pembubaran Kontituante
Menetapkan UUD 1945 berlaku kembali mulai saat tanggal dekrit dan menyatakan UUDS
1950 tidak diberlakukan
Pembentukan MPRS

3. Masa Orda Lama


Negara Indonesia berdasarkan UUD 1945 dimulai sejak adanya Dekrit Presiden 5 Juli 1959.
Masa ini yang di sebut masa Orde Lama. Dalam masa ini dikenal sebagai periode
pemerintahan yang ditandai dengan berbagai penyimpangan terhadap Pancasila dan UUD

1945. Berbagai penyimpangan-penyimpangan UUD 1945 itu yang paling menonjol antara
lain :
Presiden mengangkat Ketua dan Wakil Ketua MPR/DPR dan MA serta Wakil Ketua DPA
menjadi menteri negara.
MPRS menetapkan Soekarno sebagai Presiden seumur hidup.
Presiden mengeluarkan produk hokum yang setingkat Undang-Undang tanpa persetujuan
DPR.
Ikut campur Presiden dalam system pemerintahan yang cenderung otoriter.
Besarnya pengaruh PKI yang mengakibatkan Ideologi Nasakom yang mencoba
menggantikan Ideologi Pancasila.
Masa Orde Lama berakhir dengan ditandai dengan adanya pemberontakan G30 S PKI yang
kemudian melahirkan Tritura yang berisikan tiga tuntutan rakyat yaitu bubarkan PKI,
bersihkan cabinet dari unsur PKI, dan turunkan harga. Akibat dari kekacauan yang melanda
negeri, maka Presiden Soekarno akhirnya memutuskan untuk mengeluarkan Surat Perintah
Sebelas Maret (SUPERSEMAR) kepada Letjen Soeharto yang kemudian Letjen Soeharto
mengeluarkan Keppres No I/3/1966 tanggal 12 Maret 1966 yang mengatur tentang
pembubaran PKI.

4. Masa Orde Baru


Pada hakekatnya UUD 1945 pada masa ini digunakan untuk membantu mensukseskan
pembangunan nasional yang menjadi tekad dari pemerintahan Orde Baru. Langkah awal yang
ditempuh oleh Pemerintah Orde Baru adalah memperbaiki penyimpangan-penyimpangan
terhadap pelaksanaan UUD 1945 dan Pancasila pada periode 1959-1965 yaitu dengan
mengeluarkan TAP MPRS No.XX/MPRS/1966. Selain itu MPRS juga mengeluarkan
ketetapan lain diantaranya:
TAP No.XII/MPRS/1966 tentang instruksi kepada Soeharto agar segera membentuk kabinet
Ampera.
TAP No.XVII/MPRS/1966 tentang penarikan kembali pengangkatan pemimpin besar
revolusi menjadi Presiden seumur hidup.
TAP No.XXI/MPRS/1966 tentang penyederhanaan kepartaian, keormasan, dan kekaryaan.
TAP No.XXV/MPRS/1966 tentang pembubaran PKI.
TAP No.XV/MPRS/1966 tentang pemilihan atau penunjukan Wakil Presiden dan mengangkat
Soeharto sebagai Presiden.
Pemerintahan di bawah kepemimpinan Soeharto berkomitmen untuk melaksanakan Pancasila
dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Untuk memilih anggota-anggota Badan
Permusyawaratan dan Perwakilan Rakyat dilaksanakan Pemilu tahun 1971 dengan didasari
Undang-undang No. 15 tahun 1969. Pemilu ini Berhasil mengubah fungsi dan kedudukan
lembaga negara menjadi tetap tidak lagi bersifat sementara. Dalam mengantisipasi konflik
9

ideologis Pemerintah Soeharto membangun suatu konsep baru demokrasi yang diberi nama
Demokrasi Pancasila. Masa ini akhirnya harus tenggelam pula dengan adanya krisis moneter
yang mengakibatkan hilangnya simpati rakyat terhadap pemerintahan.

5. Masa Reformasi
Pada masa ini sering terjadi pergantian kepemimpinan dalam pemerintah. Tercatat pada masa
ini terdapat empat kali pergantian Presiden yaitu BJ Habibie, Abdurahman Wahid, dan
Megawati Soekarnoputri. Yang paling terasa pada pelaksanaan UUD 1945 pada masa ini
terutama pada masa Presiden Megawati adalah terjadi perubahan-perubahan pada batang
tubuh UUD 1945 atau yang akrab kita dengar denagn istilah amandemen. Tujuannya adalah
menyempurnakan aturan dasar seperti tatanan negara, kedaulatan rakyat, HAM, pembagian
kekuasaan, eksistensi negara demokrasi dan negara hukum, serta hal-hal lain yang sesuai
denagn perkembangan aspirasi dan kebutuhan bangsa. Tercatat telah terjadi empat kali
Amandemen UUD 1945 selama kurun waktu 1999-2002 diantaranya:
Sidang Umum MPR, tanggal 14-21 Oktober 1999 Perubahan Pertama
Sidang Tahunan MPR, tanggal 7-21 Agustus 2000 Perubahan Kedua
Sidang Tahunan MPR, tanggal 1-9 November 2001Perubahan Ketiga
Sidang Tahunan MPR, tanggal 1-11 Agustus 2002Perubahan Keempat
Menurut Soetanto ( 2004: 93-94 ) ada beberapa alas an dari segi materi muatan, mengapa
UUD 1945 setelah berbagai perubahan perlu disempurnakan dalam rangka reformasi hukum,
diantaranya:
Alasan Histories, bahwa sejarah mencatat pembentukan UUD 1945 memang didesain para
pendiri negara (BPUPKI & PPKI) sebagai UUD yang sifatnya sementara dan butuh
penyempurnaan lebih lanjut.
Alasan Filosofis, bahwa dalam UUD 1945 terdapat percampuradukan beberapa gagasan yang
saling bertentangan.
Alasan Teoritis, bahwa dari sudut pandang teori konstitusi, keberadaan konstitusi bagi suatu
negara hakikatnya adalah untuk membatasi kekuasaan negara agar tidak sewenang-wenang
tetapi justru UUD 1945 kurang menonjolkan hal tersebut.
Alasan Yuridis, sebagaimana lazimnya konstitusi tertulis yang selalu memuat adanya klausula
perubahan didalam naskahnya, begitupun UUD 1945 yang didasari akan ketidaksempurnaan
didalamnya dikarenakan UUD 1945 itu sendiri merupakan hasil pekerjaan manusia.
Alasan Politis Praktis, bahwa secara sadar atau tidak, langsung atau tidak langsung, dalam
praktik politik sebenarnya UUD 1945 sudah sering mengalami perubahan yang menyimpang
dari teks aslinya.

10

DAFTAR PUSTAKA
https://en.wikipedia.org/
http://novian25.blogspot.sg/2012/03/local-wisdom-di-indonesia.html
http://hitamandbiru.blogspot.sg/2011/01/dinamika-undang-undang-dasar-1945.html

11