Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRAKTIKUM ANALISIS KIMIA

Pembuatan Larutan dan Pengenceran

Disusun oleh:
ISHAK HASTAGINA

140 500 121

FENNY NOVITASARI

140 500 119

HEPLIN SIHOMBING

140 500 122

TEKNOLOGI PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN


POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA
SAMARINDA
2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan
rahmat-Nya kepada kita semua sehingga kita dapat beraktivitas sebagaimana
mestinya, termasuk dalam penyusunan Laporan ini yang berjudul Pembuatan
Larutan dan Pengenceran.
Laporan ini dibuat dengan berbagai observasi dan beberapa bantuan dari
berbagai pihak untuk membantu menyelesaikan tantangan dan hambatan selama
mengerjakan Laporan ini. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih
yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam
penyusunan Laporan ini.
Akhir kata semoga laporan ini bisa bermanfaat bagi pembaca pada
umumnya dan penulis pada khususnya. penulis mengharapkan saran dan kritik
yang bersifat membangun demi perbaikan kearah kesempurnaan. Akhir kata
penulis sampaikan terima kasih.
Samarinda, 9 Mei 2016

Penulis

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL......................................................................................

KATA PENGANTAR.....................................................................................

ii

DAFTAR ISI.................................................................................................. iii


BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang..................................................................................

1.2 Tujuan................................................................................................

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Defenisi Larutan................................................................................

2.2Defenisi Pengenceran.........................................................................

BAB III METODE PRAKTIKUM


3.1 Waktu dan Tempat.............................................................................

3.2 Alat dan Bahan..................................................................................

3.3 Prosedur Praktikum...........................................................................

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil.................................................................................................. 9
4.2 Pembahasan....................................................................................... 14
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan........................................................................................ 16
5.2 Saran.................................................................................................. 16
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................... 17

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Membuat larutan merupakan keterampilan mendasar di laboratorium biologi.
Larutan-larutan tersebut merupakan campuran dari dua bahan atau zat yang
berbeda baik dari bahan cair maupun padat. Setiap larutan yang dibuat pasti
mempunyai kepekatan atau konsentrasi tertentu. Dalam pembuatan larutan harus
dilakukan seteliti mungkin dan menggunakan perhitungan yang tepat, sehingga
hasil yang didapatkan sesuai dengan yang diharapkan. Contoh larutan yang umum
dijumpai adalah padatan yang dilarutkan dalam cairan, seperti garam atau gula.
Gas dapat pula dilarutkan dalam cairan, misalnya karbon dioksida atau oksigen
dalam air. Selain itu, cairan dapat pula larut dalam cairan lain, sementara gas larut
dalam gas lain. Terdapat pula larutan padat, misalnya aloi (campuran logam) dan
mineral tertentu.
Sebenarnya larutan terjadi jika atom, molekul, atau ion dari suatu zat
semuanya terdispersi (larut). Larutan terdiri atas zat yang dilarutkan (solute) dan
pelarut (solven). Untuk larutan gula dalam air, gula merupakan zat terlarutdan
pelarutnya adalah air. Untuk larutan alcohol dalam air, tergantung dari banyaknya
zat yang paling dominant. Karena itu dapat dikatakan larutan air dalam alkohol
atau larutan alkohol dalam air.
Dalam praktikum ini akan dilakukan percobaan tentang pembuatan larutan
dimana praktikan diharapkan dapat mengetahui serta memahami tentang
konsentrasi suatu larutan yang ada atau yang akan dibuat. Dalam hal ini akan
diketahui apakah larutan tersebut akan terlarut sempurna atau tidak.
Dalam percobaan ini pula, kita dapat mengetahui cara pengenceran suatu
larutan. Dalam kehidupan sehari-hari sering kita membuat teh dan terkadang
terlalu manis dan kita biasanya menambahkan air yang merupakan pelarut, itu

merupakan gambaran secara umum tentang pengenceran. Dalam dunia pendidikan


biasanya bahan yang digunakan yakni bahan kimia seperti ethanol, maka dalam
pengerjaannya harus lebih hati-hati sehingga tidak membahayakan bagi diri
sendiri maupun orang lain. Pengetahuan tentang pengenceran larutan ini penting
agar praktikan dapat menyediakan larutan yang pas untuk penelitian.

1.2 Tujuan Praktikum


Tujuan dari praktikum ini yaitu untuk mengetahui cara pembuatan larutan
KOH 2N dan pengenceran ethanol 96% menjadi 40%.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Defenisi Larutan


Larutan didefinisikan sebagai campuran homogen antara dua atau lebih zat
yang terdispersi baik sebagai molekul, atom maupun ion yang komposisinya dapat
bervariasi. Larutan dapat berupa gas, cairan atau padatan. Larutan encer adalah
larutan yang mengandung sejumlah kecil solute, relatif terhadap jumlah pelarut.
Sedangkan larutan pekat adalah larutan yang mengandung sebagian besar solute.
Solute adalah zat terlarut, sedangkan solvent (pelarut) adalah medium dalam mana
solute terlarut (Baroroh, 2004).
Banyak zat kimia yang terdapat dilaboratorium tidak dalam keadaan murni
tetapi berupa larutan seperti garam, asam sufat, asam nitrat jumlah mol zat dalam
larutan bergantung pada konsentrasi dan volumenya, suatu konsentrasi yang
umum dipakai adalah molar (M).
Untuk membuat suatu larutan dengan konsentrasi tertentu dapat dilakukan
dengan cara:
1. Melarutkan zat terlarut yang berada dalam bentuk padatan
Jika larutan yang diinginkan komponen terlarutnya pada suhu kamar berupa
padatan, maka untuk membuat larutan tersebut, ditimbang sejumlah tertentu zat
terlarut yang diperlukan.
2. Mengencerkan suatu larutan pekat
Untuk membuat jenis larutan semacam ini, sangat penting diketahui sifat-sifat dari
larutan pekat yang tersedia dan konsentrasi awal dari larutan pekat tersebut. Untuk
menentukan berapa banyak larutan pekat yang diperlukan untuk memmbuat
sejumlah tertentu larutan dengan konsentrasi yang lebih encer, persamaan yang
lazim digunakan adalah
V1 M1= V2 M2
V1 = Volume larutan atau massa sebelum diencerkaan
M1 = Konsentrasi larutan sebelum diencerkan
V2 = Volume larutan atau massa setelah diencerkan

M2 = Konsentrasi larutan setelah diencerkan


(Hort, 2006).
Pada umumnya zat yang digunakan sebagai pelarut adalah air, selain air
yang berfungsi sebagai pelarut adalah alkohol amoniak, kloroform, benzena,
minyak, asam asetat, akan tetapi kalau menggunakan air biasanya tidak
disebutkan (Gunawan, 2004).
Faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan yaitu temperatur, sifat pelarut,
efek ion sejenis, efek ion berlainan, pH, hidrolisis, pengaruh kompleks dan lainlain (Khopkar, 2003).
Untuk menyatakan komposisi larutan secara kuantitatif digunakan
konsentrasi. Konsentrasi adalah perbandingan jumlah zat terlarut dan jumlah
pelarut, dinyatakan dalam satuan volume (berat, mol) zat terlarut dalam sejumlah
volume tertentu dari pelarut. Berdasarkan hal ini muncul satuan-satuan
konsentrasi, yaitu fraksi mol, molaritas, molalitas, normalitas, ppm serta ditambah
dengan persen massa dan persen volume (Baroroh, 2004).
Banyak cara menentukan konsentrasi larutan yang semuanya menyatakan
kuantitas zat terlarut dalam kuantitas pelarut atau larutan. Dengan demikian,
setiap sistem konsentrasi harus menyatakan hal-hal sebgai berikut, satuan yang
digunakan untuk zat terlarut, kuantitas kedua dapat berupa pelarut atau larutan
keseluruhan, satuan yang digunakan untuk kuantitas kedua konsentrasi.
Suatu larutan terdiri atas dari dua komponen yang penting. Biasanya salah
satu komponen yang mengandung jumlah zat yang lebih banyak disebut pelarut
(solvent). Pelarut dipandang sebagai pembawa atau medium zat terlarut yang
dapat berperan serta dalam reaksi kimia. Kemudian, komponenlainnya yang
mengandung zat yang lebih sedikit disebut zat terlarut (solute). Kedua komponen
dalam larutan dapat sebagai pelarut atau terlarut tergantung komposisinya.
Larutan di bagi menjadi tiga jenis yaitu:
1. Larutan tak jenuh yaitu larutan yang mengandung solute kurang dari yang
diperlukan untuk membuat larutan jenuh.
2. Larutan jenuh yaitu suatu larutan yang mengandung sejumlah solute yang
larut dan mengadakan kesetimbangan dengan solute padatnya.
3. Larutan lewat jenuh yaitu larutan yang mengandung lebih banyak soluteyang
diperlukan dari pada solvent.

Dalam ilmu kimia dikenal suatu ungkapan Like Dissolves Like, yaitu jika
molekul terlarut dalam pelarut mirip, maka akan mudah bercampur. Secara umum,
terdapat kecenderungan kuat bagi senyawa non polar, dan senyawa kovalen polar
atau senyawa ion larut ke dalam pelarut polar. Dengan kata lain sejenis
melarutakan sejenis, dimana sejenis di sini menunjukkan persamaan dalam hal
kekuatan gaya tarik antara molekulnya.
Proses standarisasi diperlukan untuk mengetahui besar konsentrasi
sesungguhnya dari larutran yang dihsilkan. Cara yang digunakan bermacammacam, yaitu misalnya titrasi dapat digunakan jika konsentrasinya diketahui.
Standarisasi secara titrasi dapat digunakan dengan bahan baku primer yakni bahan
yang konsentrasinya dapat langsung ditentukan dari berat bahan murni yang
dilarutkan dalam volume larutan yang terjadi. Larutan yang dibuat dari bahan
baku primer disebut larutan bahan baku primer (Harjadi, 1997).
Bedasarkan keadaan fase zat setelah bercampur, maka campuran ada yang
homogen dan heterogen. Campuran homogen adalah campuran yang membentuk
satu fasa,yaitu mempunyai sifat dan komposisi yang sama antara satu bagian
dengan bagian yang lain didekatnya. Campuran homogen lebih umum disebut
larutan, contohnya air gula dan alkohol dalam air. Campuran heterogen adalah
campuran yang mengandung dua fase atau lebih, contohnya air susu dan air kopi.
Kebanyakan larutan mempunyai salah satu komponen yang lebih besar
jumlahnya. Komponen yang besar itu disebut pelarut (solvent) dan yang lain
adalah zat terlarut (solute) (Syukri, 1999).
Untuk menyatakan banyaknya zat terlarut maupun pelarut, dikenal istilah
konsentrasi. Konsentrasi larutan dapat dinyatakan dengan beberapa cara seperti
persen berat, persen volume, molaritas, molalitas, fraksi mol, normalitas dan
bagian persejuta.
1. Persen Berat (%/W)
Perbandingan massa zat terlarut dengan massa larutan dikali 100%. Biasanya
dipakai pada larutan padat-cair atau padat-padat.
2. Persen Volume (%/V)
Perbandingan volume zat terlarut dengan volume larutan dikalikan 100%
(untuk campuran dua cairan atau lebih).
3. Molaritas (M)

Banyaknya mol zat terlarut dalam tiap liter larutan. Harga kemolaran dapat
ditentukan dengan menghitung mol zat terlarut dan volume larutan. Volume
larutan adalah volume zat terlarut dan pelarut setelah bercampur.
4. Molalitas (m)
Molalitas adalah jumlah ml zat tterlarut dalam 1000gr pelarut murni.
5. Fraksi Mol (X)
Perbandingan mol salah satu komponen dengan jumlah mol semua
komponen.
6. Normalitas (N)
Jumlah ekivalen zat terlarut dalam tiap liter larutan. Ekivalen zat dalam
larutan bergantung pada jenis reaksi yang dialami zat itu, karena ini dipakai
untuk penyetaraan zat dalam reaksi.
7. Bagian Persejuta (ppm)
Miligram zat terlarut dalam tiap kg larutan, satuan ini sering dipakai untuk
konsentrasi zat yang sangat kecil dalam larutan gas, cair atau padat (Tim
Dosen Teknik Kimia, 2011).
Larutan-larutan yang tersedia dalam laboratorium umumnya dalam bentuk
pekat. Untuk memperoleh larutan yang konsentrasinya lebih rendah biasanya
dilakukan pengenceran. Pengenceran dilakukan dengan menambahkan aquadest
ke dalam larutan yang pekat. Penambahan aquadest ini mengakibatkan
konsentrasi berubah dan volume diperbesar, tetapi jumlah mol zat terlarut adalah
tetap. Selain itu, pengenceran juga dapat dilakukan dengan cara terlebih dahulu
menentukan konsentrasi dan volume larutan yang akan dibuat.

Untuk menentukannya, tetap menggunakan rumus pengenceran, yaitu:


V1 M1 = V2 M2
Keterangan :
M

= Konsentrasi molar awal

= Konsentrasi molar akhir

= Volume larutan awal

= Volume larutan akhir

(Wanibesak, 2010).
2.2 Defenisi Pengenceran
6

Proses pengenceran adalah mencampur larutan pekat (konsentrasi tinggi)


dengan cara menambahkan pelarut agar diperoleh volume akhir yang lebih besar.
Teknik pengenceran melibatkan teknik pengukuran volume dan teknik pelarutan.
Tentang kedua teknik ini beberapa hal harus diperhatikan seperti diuraikan berikut
ini.
Hitung volume cairan pekat dan volume aquades yang akan diukur dan
disiapkan didalam gelas kimia. Teknik pengenceran dari larutan kurang pekat
menjadi larutan yang lebih encer lebih mudah dilakukan dan tidak diperlukan
diruang asam (Mulyono, 2005).
Satuan konsentrasi dilakukan berdasarkan tujuan pengukuran. Keuntungan
penggunaan molaritas adalah karena biasanya lebih mudah untuk mengukur
volume. Molaritas tidak tergantung pada suhu, sebab konsentrasi dinyatakan
dalam jumlah mol zat terlarut dan massa pelarut, sedangkan pada volume larutan
umumnya meningkatkan suhu. Larutan yang memiliki molaritas 0,1M pada 25C
mungkin menjadi 0,97 M pada 45C karena volumenya meningkat (Chang, 2004).
Rumus pengenceran menurut Gunawan (2004) yaitu:
M1V1 = M2V2
Ket:
M1 = molaritas awal larutan

V1 = volume awal larutan

M2 = molaritas akhir larutan

V2 = volume akhir larutan


BAB III

METODE PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Senin, 9 Mei 2016 di Laboratorium
Kimia Analitik Teknologi Pengolahan Hasil Perkebunan.
3.2 Alat dan Bahan
Alat

Bahan

1. Timbangan analitik

1. kristal KOH

2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Pipet gondok
Piper tetes
Labu takar
oven
Sendok
Forteks
Botol
corong

2. larutan ethanol 96%


3. aquades
4. label

3.3 Prosedur Praktikum


A. Pembuatan Larutan KOH 2N
1. Siapkan kristal KOH, lalu ditimbang di timbangan analitik sebanyak 28 gr
2. Kemudian dimasukkan kedalam labu takar 250 ml
3. Setelah itu ditambahkan aquades dan ditera sampai 250 ml dan diforteks
agar tercampur rata.
B. Pengenceran Ethanol 96%
1. Siapkan larutan ethanol 96%
2. Ambil larutan ethanol sebanyak 10,4 ml dan dimasukkan kedalam
erlenmeyer.
3. Tambahkan aquades sebanyak 25 ml dan goyang-goyang agar ethanol dan
aquades tercampur rata.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
A. Pembuatan Larutan KOH 2N
Tabel 1.1 hasil pengamatan pembuatan larutan KOH 2N
No

Berat KOH

1
Perhitungan:

28 gr

Banyak aquades yang


ditambahkan
250 ml

Untuk membuat larutan KOH 2 N maka rumusnya yaitu:


Mol

= N volume
= 2 0,25 L
= 0,5

Gr

= mol MR
8

= 0,5 56
= 28 gram
Beberapa gambar yang kami ambil dalam praktikum
1. Penimbangan kristal KOH

2. kristal KOH dimasukkan kedalam labu takar

3. pencampuran air kedalam bahan

4. Pengadukan dengan forteks

5. Hasil setelah diforteks


10

B. Pengenceran larutan Ethanol 96% menjadi 40%


Tabel 1.2 hasil pengamatan pengenceran
No

Banyak ethanol 96%

1
Perhitungan:

Banyak aquades yang

10,41 ml

ditambahkan
25 ml

Untuk mengencerkan ethanol 96% maka rumusnya yaitu:


V1.M1

= V2. M2

V1.96%

= 25 ml 40%

V1 96%

= 1000

V1

1000
96

= 10,41
Beberapa gambar yang didapat saat praktikum
1. pengambilan larutan ethanol 96%

11

2. larutan ethanol 96% dimasukkan kedalam labu takar

12

3. pengambilan aquades 25 ml

4. larutan ethanol 40%

13

4.2 Pembahasan
Pada proses pembuatan larutan KOH, dengan menambahkan aquadest ke
dalam gelas beaker 250 ml sampai pada titik tera, dan kemudian mengaduknya
sampai homogen dengan menggunakan pengaduk atau forteks, maka terjadi
reaksi yang ditandai dengan larutan menjadi panas, terjadi reaksi eksotermal.
Langkah-langkah dalam pembuatan larutan yaitu menimbang bahan, disini
wadah yang digunakan adalah labu takar. Kemudian memasukan KOH sebanyak
10,41 gram untuk membuat larutan KOH dengan Normalitas 2N. KOH yang
sudah di timbang di masukkan kedalam labu takar dengan bantuan corong. Air
aquadest dimasukkan kedalam gelas beaker hingga volumenya mencapai 250 ml,
untuk membantu melarutkan KOH agar bisa menyatu dalam air digunakan forteks
untuk mempercepat pencampuran sampai KOH tidak ada lagi dan larutan menjadi
bening kembali.
Proses pengenceran adalah mencampurkan larutan yang pekat dengan cara
menambahkan pelarut ( aquadest ) agar diperoleh volume air yang lebih besar.
Pengenceran larutan ditujukan untuk menentukan volume larutan standard yang

14

telah direncanakn. Pada larutan KOH terdapat perhitungan kimia untuk mencari
kebutuhan pelarut.
Pada percobaan pengenceran, sebelum pengenceran menghitung dahulu
berapa banyak solvent yang diperlukan untuk membuat konsentrasi yang
diinginkan. Di dalam percobaan ini pengenceran yang di buat adalah larutan
ethanol 96% dibuat menjadi larutan ethanol 40% sebanyak 25 ml. untuk mencari
banyaknya solvent yang di butuhkan digunakan rumus V1xM1=V2xM2. Dalam
perhitungan di peroleh larutan ethanol 96% sebanyak 10,41 ml dan aquades
sebanyak 25 ml

15

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari hasil pengamatan yang telah saya lakukan dilaboratorium, maka dapat
diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1. Pembuatan larutan adalah suatu kegiatan pencampuran zat terlarut dengan zat
2.
3.
4.
5.
6.

pelarutnya.
Pengenceran dilakukan untuk membuat larutan standar.
Molaritas adalah kepekaan suatu larutan.
Larutan adalah campuran homogen yang terdiri dari dua atau lebih zat.
Pengenceran larutan menggunakan aquadest.
Pembuatan larutan harus dilakukan pencampuran bahan-bahan

dan

menggunakan aquadest.
5.2 Saran
Dalam pembuatan larutan dan pengenceran sebaiknya tingkat ketelitian harus
dijaga agar hasilnya bisa dipertanggungjawabkan.

16

DAFTAR PUSTAKA
Baroroh, Umi L. U. 2004. Diktat Kimia Dasar I. Banjarbaru: Universitas
Lambung Mangkurat.
Chang, Raymond. 2004. Kimia dasar. Jakarta : Erlangga.
Gunawan, Adi dan Roeswati. 2004. Tangkas Kimia. Surabaya: Kartika.
Harjadi, W. 1997. Ilmu Kimia Analitik Dasar. Jakarta: PT. Gramedia.
Hort, J. 2006. Komposisi Larutan Minyak Atsiri Jeruk. Volume 2. Hal 40-49.
Khopkar, S. M. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: Universitas
Indonesia.
Mulyono. 2005. Membuat reagen kimia dilaboratorium. Jakarta : Bumi Aksara.
Syukri, S. 1999. Kimia Dasar Jilid 2. Bandung: ITB.
Tim Dosen Teknik Kimia. 2011. Penuntun Praktikum Kimia Dasar. Banjarbaru:
Universitas Lambung Mangkurat.

17