Anda di halaman 1dari 9

BAB 14

AUDIT SIKLUS PENJUALAN DAN PENAGIHAN: PENGUJIAN PENGENDALIAN DAN


PENGUJIAN SUBSTANTIF ATAS TRANSAKSI
AKUN DAN KELAS TRANSAKSI DALAM SIKLUS PENJUALAN SERTA PENAGIHAN
Tujuan keseluruhan dari audit siklus penjualan dan penagihan adalah untuk mengevaluasi apakah
saldo akun yang dipengaruhi oleh siklus tersebut telah disajikan secara wajar sesuai dengan sesuai
dengan prinsip-prinsip akuntansi yang diterima umum. Lima kelas transaksi dalam siklus penjualan
dan penagihan (classes of transaction in the sales and collection cycle):
1. Penjualan (penjualan tunai dan kredit)
2. Penerimaan kas
3. Retur dan pengurangan penjualan
4. Penghapusan piutang tak tertagih
5. Estimasi beban piutang tak tertagih
FUNGSI BISNIS DALAM SIKLUS DAN DOKUMEN SERTA CATATAN TERKAIT
Siklus penjualan dan penagihan (sales and collection cycle) melibatkan keputusan serta proses yang
diperlukan untuk mengalihkan kepemilikan barang dan jasa kepada pelanggan setelah keduanya
tersedia untuk dijual. Hal ini diawali dengan permintaan oleh seorang pelanggan dan diakhiri dengan
konversi bahan atau jasa menjadi piutang usaha yang akhirnya menjadi kas. Delapan fungsi bisnis
untuk siklus penjualan dan penagihan (business function for the sales and collection cycle)
ditunjukkan pada kolom ketiga tabel 14-1.

METODELOGI UNTUK MERANCANG PENGUJIAN PENGENDALIAN DAN PENGUJIAN


SUBSTANTIF ATAS TRANSAKSI PENJUALAN
Metodologi untuk memahami pengendalian internal dan merancang pengujian pengendalian serta
pengujian substantif atas transaksi penjualan yaitu:
1) Memahami pengendalian internal penjualan
Bagaimana auditor memahami pengendalian internal? Dengan menggunakan salah satu
pendekatan umum untuk untuk penjualan, auditor mempelajari bagan arus klien, menyiapkan
kuesioner tentang pengendalian internal, dan melaksanakan pengujian penjualan walkthrough.
2) Menilai risiko pengendalian yang direncanakan- penjualan
Auditor menggunakan informasi yang diperoleh dalam memahami pengendalian internal untuk
menilai risiko pengendalian.
3) Menentukan luas pengujian pengendalian, terdiri atas pemisahan tugas yang memadai, otorisasi
yang tepat, dokumen yang telah dipranomori, laporan bulanan prosedur verifikasi internal.
4) Merancang pengujian pengendalian dan pengujian substantif atas transaksi penjualan agar
memenuhi tujuan audit yang berkaitan dengan transaksi.
Untuk setiap pengendalian kunci, satu atau lebih pengujian pengendalian harus dirancang untuk
memverifikasi keefektifannya.

Dalam sebagian besar audit, relatif mudah menentukan sifat

pengujian pengendalian dari sifat pengendalian tersebut. Sebagai contoh, jika pengendalian
internal adalah untuk menandatangani pesanan pelanggan setelah kreditnya disetujui, pengujian
pengendalian adalah untuk memeriksa apakah pesanan pelanggan telah ditandatangani dengan
benar. Untuk menyediakan bukti secara simultan baik mengenai tujuan keterjadian maupun
kelengkapan, auditor dapat mengecek urutan faktur penjualan yang dipilih dari jurnal penjualan
dan mengamati salinannya serta nomor atau faktur yang hilang di luar urutan normal.
Prosedur pengujian substantif atas transaksi yang hanya dilakukan jika ada situasi tertentu yang
memerlukan perhatian audit khusus, seperti jika ada defisiensi atau kelemahan pengendalian
internal.
Mencatat Penjualan yang terjadi
Untuk tujuan ini, auditor memperhatikan tiga jenis salah saji yang mungkin terjadi:
1) Penjualan dimasukkan dalam jurnal sementara pengiriman tidak pernah dilakukan
2) Penjualan dicatat lebih dari satu kali
3) Pengiriman dilakukan kepada pelanggan fiktif dan dicatat sebagai penjualan
Dua jenis salah saji pertama dapat disebabkan oleh kesalahan atau kecurangan, sementara jenis yang
terakhir selalu disebabkan oleh kecurangan. Konsekuensi potensial dari ketiga jenis salah saji tersebut
sangatlah besar karena akan menimbulkan lebih saji (overstatement) aktiva dan laba.
Melebihkan penjualan secara tidak sengaja umumnya lebih mudah ditemukan ketimbang yang
disebabkan oleh kecurangan. Biasanya lebih saji yang tidak sengaja juga terjadi pada piutang usaha,

yang dapat dideteksi oleh klien dengan mengirimkan laporan bulanan kepada pelanggan. Salah saji
yang tidak disengaja seringkali ditemukan dengan mudah oleh auditor pada akhir tahun melalui
prosedur konfirmasi. Dalam lebih saji yang disebabkan oleh keurangan, para pelaku akan berusaha
menutupi lebih saji tersebut sehingga lebih sulit bagi auditor menemukannya. Pengujian substantif
atas transaksi mungkin diperlukan untuk mengungkapkan penjualan yang dilebihsajikan dalam situasi
tersebut.
Penjualan dimasukkan dalam jurnal sementara pengiriman tidak pernah dilakukan
Auditor dapat memvouching ayat jurnal tertentu dalam jurnal penjualan ke salinan pengiriman dan
dokumen pendukung lainnya yang terkait untuk memastikan bahwa penjualan tersebut benar-benar
terjadi. Jika auditor merasa khawatir dengan kemungkinan adanya salinan dokumen pengiriman fiktif,
dia harus menelusuri jumlahnya ke catatan persediaan perpeptual untuk menguji apakah persediaan
telah berkurang.
Penjualan dicatat lebih dari satu kali
Penjualan duplikat dapat ditentukan dengan mereview secara numeris daftar transaksi penjualan yang
dicatat untuk melihat apakah ada nomor yang sama atau duplikat. Auditor juga dapat menguji
pembatalan dokumen pengiriman yang tepat. Pembatalan yang tepat dapat menurunkan kemungkinan
bahwa dokumen pengiriman akan digunakan untuk mencatat penjualan lainnya.
Pengiriman dilakukan kepada pelanggan fiktif dan dicatat sebagai penjualan
Biasanya jenis kecurangan ini hanya akan terjadi jika orang yang mencatat penjualan juga
mengotorisasi pengiriman. Pengendalian internal yang lemah akan sulit mendeteksi pengiriman fiktif
ini. Untuk menguji apakah ada pelanggan fiktif, auditor dapat menelusuri informasi tentang pelanggan
pada faktur penjualan ke file induk pelanggan.
METODELOGI UNTUK MERANCANG PENGUJIAN PENGENDALIAN DAN PENGUJIAN
SUBSTANTIF ATAS TRANSAKSI PENERIMAAN KAS
Prosedur audit untuk pengujian pengendalian dan pengujian substantif atas transaksi penerimaan kas
dikembangkan dengan kerangka kerja yang sama seperti yang digunakan untuk penjualan, tetapi
tujuan khususnya diterapkan bagi penerimaan kas. Berdasarkan tujuan audit yang berkaitan dengan
transaksi, auditor mengikuti proses berikut ini:

Menentukan pengendalian internal kunci untuk setiap tujuan audit

Merancang pengujian pengendalian bagi setiap pengendalian yang digunakan untuk mendukung
pengurangan risiko pengendalian

Merancang pengujian substantive atas transaksi untuk menguji salah saji moneter bagi setiap
tujuan.

Menentukan apakah kas yang diterima telah dicatat


Jenis penggelapan kas yang paling sulit dideteksi oleh auditor adalah ketika hal tersebut terjadi
sebelum kas dicatat di jurnal penerimaan kas atau listing kas lainnya, terutama jika penjualan dan
penerimaan kas dicatat secara serentak atau simultan. Sebagai contoh, pengendalian untuk toko ritel
dimana kas diterima oleh orang yang sama dengan menjual barang dagang dan memasukkan
penerimaan kas ke register kas harus berbeda dengan pengendalian untuk perusahaan dimana semua
penerimaan diterima melalui pos beberapa minggu setelah penjualan dilakukan. Jadi menelusuri dari
remittance advice atau prelisting penerimaan kas yang telah dipranomori ke jurnal penerimaan kas
dan catatan pembantu piutang usaha sebagai pengujian substantif atas pencatatan kas actual yang
diterima merupakan praktik yang normal.
Penyiapan bukti penerimaan kas
Prosedur audit yang bermanfaat untuk menguji apakah semua penerimaan kas yang dicatat telah
disetorkan dalam akun atau rekening bank adalah bukti penerimaan kas (proof of cash receipts).
Dalam pengujian ini, total penerimaan kas yang dicatat dalam jurnal penerimaan kas selama suatu
periode tertentu, seperti satu bulan akan direkonsiliasi dengan deposito atau setoran actual yang
dilakukan ke bank selama periode yang sama. Perbedaan di antara keduanya mungkin diakibatkan
oleh setoran dalam perjalanan dan pos pos lainnya, tetapi jumlahnya dapat direkonsiliasi dan
dibandingkan.
Pengujian untuk mengungkapkan lapping piutang usaha
Lapping piutang usaha adalah penundaan ayat jurnal penagihan piutang usaha untuk menutupi
kekurangan kas yang ada. Penggelapan dilakukan oleh seseorang yang menangani penerimaan kas
dan kemudian memasukkannya ke dalam sistem komputer. Dia lalu menunda pencatatan penerimaan
kas dari satu pelanggan dan menutupi kekurangannya dengan penerimaan kas lainnya, yang
selanjutnya ditutupi dengan penerimaan dari pelanggan yang ketiga beberapa hari kemudian.
Karyawan tersebut harus terus menutupi kekurangan melalui lapping yang berulang, mengganti uang
yang dicuri, atau mencari cara lain untuk menutupi kekurangan itu. Penggelapan ini sebenarnya dapat
dicegah dengan mudah melalui pemisahan tugas dan kebijakan cuti wajib bagi karyawan yang
menangani kas sekaligus memasukkan penerimaan kas ke dalam sistem. Penggelapan ini dapat
dideteksi dengan membandingkan nama, jumlah, dan tanggal yang ditunjukkan pada remittance
advice dengan ayat jurnal penerimaan kasdan salinan slip setoran terkait. Prosedur ini biasanya hanya
dilakukan apabila ada dugaan bahwa penggelapan akan terjadi akibat defisiensi pengendalian internal.
PENGUJIAN AUDIT UNTUK MENGHAPUS PIUTANG TAK TERTAGIH
Sama seperti retur dan pengurangan penjualan, kekhawatiran utama auditor dalam melakukan audit
atas penghapusan piutang usaha tak tertagih adalah kemungkinan karyawan klien menutupi
penggelapan dengan menghapus piutang usaha yang sudah ditagih (tujuan audit yang berkaitan

dengan transaksi keterjadian). Auditor hanya memeriksa persetujuan oleh orang yang tepat.
Menyangkut sampel piutang yang dihapus, biasanya auditor juga harus memeriksa korespondensi
dalam file klien yang menyatakan ketidaktertagihannya. Setelah auditor menyimpulkan bahwa
penghapusan piutang oleh ayat jurnal umum sudah benar, pos tertentu harus ditelusuri ke file induk
piutang usaha untuk menguji apakah penghapusan telah dicatat dengan benar. Estimasi piutang tak
tertagih didasarkan pada saldo piutang usaha akhir tahun, auditor mengevaluasi estimasi piutang tak
tertagih sebagai bagian dari pengujian rincian saldo piutang usaha akhir.
PENGENDALIAN INTERNAL TAMBAHAN ATAS SALDO AKUN DAN PENYAJIAN SERTA
PENGUNGKAPAN
Klien harus menetapkan beberapa pengendalian untuk mengurangi kemungkinan piutang tak tertagih.
Dua pengendalian lainnya adalah:

Penyusunan neraca saldo umur piutang usaha periodik untuk review dan tindak lanjut oleh
personil manajemen yang tepat.

Kebijakan menghapus piutang tak tertagih apabila sudah tidak mungkin lagi untuk ditagih.

Hak dan kewajiban serta penyajian dan pengungkapan hampir bukan merupakan masalah yang
signifikan bagi piutang usaha. Karena itu, personil akuntansi yang kompeten biasanya sudah
merupakan pengendalian yang cukup bagi tujuan audit tersebut.
PENGARUH HASIL PENGUJIAN PENGENDALIAN DAN PENGUJIAN SUBSTANTIF ATAS
TRANSAKSI
Pengaruh yang paling signifikan dari hasil pengujian pengendalian dan pengujian substantif atas
transaksi dalam siklus penjualan dan penagihan adalah terhadap konfirmasi piutang usaha. Jenis
konfirmasi, ukuran sampel, dan penetapan waktu pengujian semuanya juga terpengaruh.

BAB 15
SAMPLING AUDIT UNTUK PENGUJIAN PENGENDALIAN DAN PENGUJIAN
SUBSTANTIF ATAS TRANSAKSI
SAMPEL REPRESENTATIF
Ketika memilih sampel dari populasi, auditor berusaha untuk memperoleh sampel yang refresentif.
Sampel refresentatif (refresentatif sample) adalah sampel yang karakteristiknya hampir sama
dengan yang dimiliki oleh populasi. Item-item yang dijadikan sampel serupa dengan item-item yang
tidak dijadikan sampel. Jika auditor memilih sampel sebanyak 100 salinan faktur penjualan dan
menemukan tiga lampiran dokumen pengiriman yang hilang, sampel tersebut dianggap sangat
refresentatif. Jika tidak ditemukan banyak item yang hilang, sampel tersebut dianggap
nonrepresentatif. Auditor dapat meningkatkan kemungkinan sampel dianggap representatif dengan
menggunakannya secara cermat ketika merancang proses sampling, pemilihan sampel, dan evaluasi
hasil sampel. Hasil sampling dapat menjadi nonrepresentatif akibat kesalahan nonsampling atau
kesalahan sampling. Risiko nonsampling (nonsampling risk) adalah risiko bahwa pengujian audit
tidak menemukan pengecualian yang ada dalam sampel. Dua penyebab risiko nonsampling adalah
kegagalan auditor untuk mengenali pengecualian dan prosedur audit yang tidak sesuai atau tidak
efektif. Auditor mungkin gagal mengenali pengecualian karena kelelahan, bosan, atau yang tidak
memahami apa yang harus dicari. Risiko sampling (sampling risk) adalah risiko bahwa auditor
mencapai kesimpulan yang salah karena sampel populasi tidak refresentatif. Risiko sampling adalah
bagian sampling yang melekat akibat menguji lebih sedikit dari populasi secara keseluruhan. Sebagai
contoh, asumsikan auditor memutuskan bahwa pengendalian dianggap tidak efektif jika terdapat
tingkat pengecualian populasi sebesar 6 persen. Asumsikan auditor menerima bahwa pengendalian
dianggap efektif berdasarkan pengujian pengendalian dengan sampel sebanyak 100 item yang
memiliki dua pengecualian. Jika populasi sebenarnya memiliki tingkat pengecualian sebesar 8 persen,
auditor menerima populasi yang salah karena sampel tidak cukup mewakili populasi. Auditor
memiliki dua cara untuk mengendalikan risiko sampling:
1. Menyesuaikan ukuran sampel
2. Menggunakan metode pemilihan item sampel yang tepat dari populasi
Meningkatkan ukuran sampel dapat mengurangi risiko sampling, dan sebaliknya. Penggunaan metode
pemilihan sampel yang sesuai dapat meningkatkan kemungkinan keterwakilan sampel bersangkutan.

SAMPLING STASTIK VERSUS SAMPLING NONSTATISTIK DAN PEMILIHAN SAMPEL


PROBABILISTIK VERSUS NONPROBABILISTIK
Metode sampling audit yaitu sampling statistik dan nonstatistik, yang melibatkan tiga tahap :
1) Perencanaan sampel
2) Pemilihan sampel dan melakukan penelitian
3) Pengevaluasian hasil
Sampling statistik (statistical sampling) berbeda dari sampling nonstatistik dalam hal bahwa dengan
menerapkan aturan matematika, auditor dapat mengukur risiko sampling dalam merencanakan sampel
dan dalam mengevaluasi hasil. Sampling nonstatistik (non statistical sampling), auditor tidak
mengkuantifikasi risiko sampling. Sebaliknya, auditor memilih item sampel yang diyakini akan
memberikan informasi yang paling bermanfaat dalam situasi tertentu dan mencapai kesimpulan
mengenai populasi atas dasar pertimbangan.
Pemilihan sampel probabilistik maupun nonprobabilistik berada pada langkah 2. Apabila
menggunakan pemilihan sampel probabilistic (probabilistic sample selection) auditor memilih secara
acak item-item sehingga setiap item populasi memiliki probabilitas yang sama untuk dimasukkan
dalam sampel. Dalam pemilihan sampel nonprobabilistik (nonprobabilistic sample selection), auditor
memilih item sampel dengan menggunakan pertimbangan professional dan bukan metode
probabilistik. Auditor dapat menggunakan salah satu dari beberapa metode pemilihan sampel
nonprpbabilistik.
Standar auditing memungkinkan auditor untuk menggunakan metode sampling statistik maupun
nonstatistik, semua langkah dalam proses harus diikuti dengan hati-hati.
METODE PEMILIHAN SAMPEL NONPROBABILISTIK
Metode pemilihan sampel nonprobabilistik adalah metode yang tidak memenuhi persyaratan teknis
bagi pemilihan sampel probabilistik. Karena metode tersebut tidak didasarkan pada probabilitas
matematika, keterwakilan sampel mungkin sulit ditentukan.
Pemilihan sampel terarah
Dalam pemilihan sampel terarah (directed sample selection) auditor dengan sengaja memilih setiap
item dalam sampel berdasarkan kriteria pertimbangannya sendiri ketimbang menggunakan pemilihan
acak. Pendekatan yang umumnya digunakan termasuk:
-Pos yang paling mungkin mengandung salah saji
-Pos yang mengandung karakteristik populasi terpilih
-Cakupan nilai uang yang besar
Pemilihan Sampel Blok
Pemiliha sampel blok (block sample selection), auditor memilih pos pertama dalam suatu blok, dan
sisanya dipilih secara berurutan. Sebagai contoh, asumsikan sampel blok adalah berupa urutan
transaksi penjualan sebanyak 100 dari jurnal penjualan untuk minggu ketiga bulan Maret. Auditor

dapat memili total sampel sebanyak 100 dengan mengambil 5 blok dari 20 pos, 10 blok dari 10, 50
blok dari 2 atau 1 blok dari 100.
Biasanya penggunaan sampel blok hanya dapat diterima jika jumlah blok yang digunakan masuk akal.
Sebagai contoh, dalam contoh sebelumnya sampling 10 blok dari 10 dalam minggu ketiga bulan
Maret sangatlah tidak tepat ketimbang memilih 10 blok dari 10 dalam bulan yang berbeda. Sampling
blok juga dapat digunakan untuk melengkapi sampel lainnya apabila ada kemungkinan salah saji yang
tinggi selama periode tertentu. Sebagai contoh, auditor mungkin memilih ke-100 penerimaan kas dari
minggu ketiga bulan Maret jika klerk akuntansi sedang berlibur dan karyawan sementara yang belum
berpengalaman memproses transaksi penerimaan kas.
Pemilihan sampel sembarangan
Pemilihan sampel sembarangan (haphazard sample selection) adalah pemilihan item atau pos tanpa
bias yang disengaja oleh auditor. Dalam kasus ini, auditor memilih item populasi tanpa memandang
ukurannya, sumber, atau karakteristik lainnya yang membedakan. Kekurangan pemilihan sampel
sembarangan adalah sulitnya agar tetap tidak bias dalam melakukan pemilihan. Karena bias tidak
sengaja, item populasi tertentu akan lebih besar kemungkinannya untuk dimasukkan dalam sampel
ketimbang yang lainnya. Pemilihan sampel sembarangan dan blok tampak kurang logis ketimbang
pemilihan sampel terarah, namun banyak auditor menggunakan pendekatan sembarangan atau blok
karena lebih sederhana dan lebih murah.
METODE PEMILIHAN SAMPEL PROBABILISTIK
Sampling statistic mengharuskan sampel probabilistic mengukur risiko sampling. Untuk sampel
probabilistik, auditor tidak menggunakan pertimbangan mengenai item atau pos sampel mana yang
akan dipilih, kecuali dalam memilih mana dari empat metode pemilihan yang akan digunakan.
Pemilihan sampel acak sederhana
Sampel acak (random sample) sederhana, setiap kombinasi dari item populasi mempunyai
kesempatan yang sama untuk dimasukkan dalam sampel. Tabel angka acak, anggaplah auditor
memutuskan untuk memilih sampel dari total 12.000 transaksi pengeluaran kas selama tahun tersebut.
Sampel acak sederhana dari situ transaksi semacam itu akan membuat masing-masing dari 12.000
transaksi tersebut memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih. Auditor akan memilih satu angka
acak antara 1 dan 12.000. Asumsikan bahwa angka tersebut adalah 3.895. hanya akan memilih dan
menguji transaksi pengeluaran kas yang ke 3.895. Untuk sampel acak sebanyak 100, setiap item
populasi juga memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih. Angka acak yang dihasilkan
komputer, sebagian besar sampel acak yang digunakan auditor dihasilkan oleh komputer dengan
menggunakan salah satu dari tiga jenis program: spreadsheet elektronik generator angka acak, dan
perangkat lunak audit yang tergeneralisasi. Program komputer menawarkan beberapa keunggulan:
penghematan waktu, berkurangnya kemungkinan kesalahan auditor dalam memilih angka, dan
dokumentasi otomatis.

Pemilihan sampel sistematis


Pemilihan sampel sistematis (systematic sample selection) auditor menghitung suatu interval dan
kemudian memilih item-item yang akan dijadikan sampel berdasarkan ukuran interval tersebut.
Interval ditentukan dengan membagi ukuran populasi dengan ukuran sampel yang diinginkan. Dalam
suatu populasi faktur penjualan yang berkisar dari 652 hingga 3.151 dengan ukuran sampling yang
diingan sebesar 125, intervalnya adalah 20 [(3.151-651)/125). Pertama auditor akan memilih angka
acak antara 0 hingga 19 (ukuran interval) untuk menentukan titik awal sampel. Jika angka yang
dipilih secara acak adalah 9, item pertama dalam sampel akan menjadi nomor faktur 661 (652+ 9).
Sementara 124 item yang tersisa adalah 681 (661+20), 701 (681+20) dan seterusnya hingga item
3.141.
Keunggulan dari pemilihan sistematis adalah lebih mudah digunakan. Dalam sebagian besar populasi,
sampel sistematis dapat diambil dengan cepat dan pendekatannya secara otomatis akan menempatkan
nomor dalam urutan, yang membuatnya lebih mudah untuk mengembangkan dokumen yang sesuai.
SAMPLING UNTUK TINGKAT PENGECUALIAN
Auditor menggunakan sampling pada pengujian pengendalian dan pengujian substantive atas
transaksi untuk mengestimasi persentase item-item dalam populasi yang memiliki karakteristik atau
atribut kepentingan. Persentase disebut sebagai tingkat keterjadian (occurance rate) atau tingkat
pengecualian untuk verifikasi internal faktur penjualan adalah sekitar 3%, maka rata-rata 3 dari setiap
100 faktur tidak diverifikasi secara layak.
Auditor sangat memperhatikan jenis pengecualian berikut dalam populasi data akuntansi:
1. Penyimpangan atau deviasi dari pengendalian yang ditetapkan klien
2. Salah saji moneter dalam populasi data transaksi
3. Salah saji moneter dalam populasi rincian saldo akun
Sebagai contoh, asumsikan bahwa auditor ingin menentukan persentase salinan faktur penjualan yang
tidak dilampirkan dokumen pengiriman. Karena auditor tidak dapat mengecek setiap faktur,
persentase aktual dari dokumen pengiriman yang hilang tetap tidak diketahui . auditor hanya
memperoleh smapel salinan faktur penjualan dan menentukan persentase faktur yang tidak dilampiri
dokumen pengiriman. Karena tingkat pengecualian didasarkan pada sampel akan berbeda dari tingkat
pengecualian populasi actual. Perbedaan ini disebut kesalahan sampling (sampling eror). Auditor
memperhatikan baik estimasi kesalahan sampling maupun realibitas estimasi tersebut yang disebut
risiko sampling (sampling risk).
Dalam menggunakan sampling audit untuk menentukan tingkat pengecualian, auditor ingin
mengetahui seberapa besar tingkat pengecualian itu, dan bukan lebar interval keyakinannya. Karena
itu, auditor berfokus pada batas atas estimasi interval, yang disebut tingkat pengecualian atas yang
dihitung (computed upper exception rate=CUER).