Anda di halaman 1dari 33

Sukardi (1987:25) mengemukakan bahwa minat belajar adalah suatu kerangka

mental yang terdiri dari kombinasi gerak perpaduan dan campuran dari
perasaan, prasangka, cemas dan kecenderungan-kecenderungan, lain yang
biasa mengarahkan individu kepada suatu pilihan tertentu. Menurut Belly
(2006:4), minat adalah keinginan yang didorong oleh suatu keinginan setelah
melihat, mengamati dan membandingkan serta mempertimbangkan dengan
kebutuhan yang diinginkannya.

Selanjutnya menurut Bob dan Anik Anwar (1983:210), mengemukakan bahwa


minat adalah keadaan emosi yang ditujukan kepada sesuatu. Dari kedua
pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan minat
ialah suatu kondisi kejiwaan seseorang untuk dapat menerima atau melakukan
sesuatu objek atau kegiatan tertentu untuk mencapai suatu tujuan.

Sedangkan pengertian belajar dapat dikemukakan sebagai berikut: belajar


adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil pengalaman kecuali perubahan
tingkah laku yang disebabkan oleh proses menjadi matangnya seseorang atau
perubahan yang intensif atau bersifat temporer. (Oemar Hamalik, 1983:34)

Pendapat lain seperti yang dikemukakan oleh Yusuf Djayadisastra (1989:8), ialah:
belajar adalah pada hakekatnya suatu perubahan, baik sikap maupun tingkah
laku kearah yang baik, kuantitatif dan kualitatif yang fungsinya lebih tinggi dari
semula. Disamping itu Ahmad Tono (1978:25), juga mengemukakan bahwa:
belajar terdiri dari melakukan sesuatu yang baru, kemudian sesuatu yang baru
tersebut dicamkan atau dipahami oleh individu kemudian ditampilkan kembali
dalam kegiatan kemudian.

Setelah membahas tentang pengertian minat dan belajar maka yang maksud
tentang minat belajar itu ialah kondisi kejiwaan yang dialami oleh siswa untuk
menerima atau melakukan suatu aktivitas belajar.
Faktor-faktor yang mempengaruhi minat belajar
Minat belajar seseorang tidaklah selalu stabil, melainkan selalu berubah.
Olehnya itu perlu diarahkan dan dikembangkan kepada sesuatu pilihan yang
telah ditentukan melalui faktor-faktor yang mempengaruhi minat itu.
1. Faktor intern adalah sama yang ada pada diri seseorang baik jasmani
maupun rohani, fisik maupun psikhis.
2. Faktor ekstern adalah semua faktor yang ada diluar individu: keluarga,
masyarakat dan sekolah.

Cara membangkitkan minat belajar


Campbell (dalam Sofyan,2004:9) berpendapat: Bahwa usaha yang dapat
dilakukan untuk membina minat anak agar menjadi lebih produktif dan efektif
antara lain sebagai berikut:
1. Memperkaya ide atau gagasan.
2. Memberikan hadiah yang merangsang.
3. Berkenalan dengan orang-orang yang kreatif.
4. Petualangan dalam arti berpetualangan ke alam sekeliling secara sehat.
5. Mengembangkan fantasi.
6. Melatih sikap positif.
Pendapat lain yang dikemukakan oleh W. Olson (dalam Samosir, 1992:112),
bahwa untuk memupuk dan meningkatkan minat belajar anak dapat dilakukan
sebagai berikut:
1. Perubahan dalam lingkungan, kontak, bacaan, hobbi dan olahraga, pergi
berlibur ke lokasi yang berbeda-beda. Mengikuti pertemuan yang dihadiri
oleh orang-orang yang harus dikenal, membaca artikel yang belum pernah
dibaca dan membawa hobbi dan olahraga yang beraneka ragam, hal ini
akan membuat lebih berminat.
2. Latihan dan praktek sederhana dengan cara memikirkan pemecahanpemecahan masalah khusus agar menjadi lebih berminat dalam
memecahkan masalah khusus agar menjadi lebih berminat dalam
memecahkan persoalan-persoalan.
3. Membuat orang lain supaya lebih mengembangkan diri yang pada
hakekatnya mengembangkan diri sendiri.
Daftar Pustaka

Belly, Ellya dkk. 2006. Pengaruh Motivasi terhadap Minat Mahasiswa


Akuntasi. Simposium Nasional Akuntasi 9 Padang.

Djayadisastra, Yusuf. 1989. Psikologi Perkembangan. Bandung: BPGT.

Bob dan Anik Anwar. 1983. Pedoman Pelaksanaan Menuju Pra Seleksi
Murni. Bandung : Ganesa Exact.

Hamalik, Oemar. 1983. Metode Belajar dan Kesulitan Belajar. Bandung:


Tarsito.

Samosir, Marten. 1992. Seni Berpikir Kreatif. Jakarta: Erlangga.

Sofyan, Nurbaeti. 2004. Skripsi : Hubungan antara Minat dan Perhatian


dengan Prestasi Belajar Siswa Mata Pelajaran IPA pada SDN Labuang Baji
I Makassar. Makassar: Universitas Veteran Republik Indonesia

Sukardi. 1987. Bimbingan dan Penyuluhan. Surabaya: Usaha Nasional.

Tono, Achmad. 1978. Metode Pengajaran. Jakarta: Sinar Baru.

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Guru merupakan ujung tombak dalam proses belajar mengajar yang secara
langsung dapat mempengaruhi, membina dan mengembangkan kemampuan
siswa agar menjadi cerdas, terampil dan bermoral tinggi.
Pengajaran bahasa Arab harus didasarkan atas tujuan pengajaran bahasa Arab
itu sendiri. Sedangkan tujuan pengajaran bahasa Arab disesuaikan dengan
tingkatan pendidikan di mana pelajaran bahasa Arab disampaikan. Tujuan
pengajaran di tingkat Madrasah Tsanawiyah tentu tidak sama dengan tujuan
pengajaran bahasa Arab di tingkat Madrasah Aliyah. Untuk itu tujuan pengajaran
harus disesuaikan dengan tingkatan lembaga pendidikan di mana pelajaran
bahasa Arab disampaikan.
Pada Madrasah Tsanawiyah (MTs) perlu diketahui bahwa Bahasa Arab adalah
bahasa asing yang termasuk dalam kelompok mata pelajaran yang berciri khas
agama Islam yang dianggap penting untuk mrnunjang pemahaman pengetahuan
agama Islam dan pengembangan ilmu pengetahuan serta pengembangan
hubungan antar bangsa
Memperhatikan uraian di atas jelas bahwa pengajaran bahasa Arab sebagai
pelajaran inti di MTs, di mana bahan pelajaran bahasa Arab MTs merupakan
perluasan dan pengembangan bahan pelajaran Madrasah Ibtidaiyah (MI) dengan
tambahan bahan pelajaran mengenai tata bahasa.

Pelajaran bahasa Arab siswa dituntut untuk memiliki keterampilan menyimak,


berbicara, membaca, menulis dan mengarang, atau menguasai kosa kata.
Pengajaran bahasa Arab di MTs akan banyak mengalami kesulitan manakala
siswa tidak mampu membaca huruf Arab, hal ini akan dapat menghambat proses
pembelajaran bahasa Arab di kelas.
Terlebih lagi jika siswa MTs bukan berasal dari Madrasah Ibtidaiyah tetapi berasal
dari Sekolah Dasar yang tidak lancar membaca huruf Arab, maka proses
pembelajaran akan mengalami kesulitan sehingga hal inilah yang menjadi
embrio kurangnya minat siswa dalam mengikuti proses pembelajaran Bahasa
Arab. Tetapi sebaliknya jika memiliki kemampuan membaca huruf Arab dengan
lancar maka kesulitan tersebut akan dapat dengan mudah diatasi. Untuk itu
kelancaran siswa dalam membaca huruf Arab merupakan pondasi bagi anak

didik untuk dapat mengikuti pelajaran bahasa Arab di MTs hingga kejejang yang
lebih tinggi.
Madrasah Tsanawiyah Farussaadah Arabiyah Senyerang, merupakan lembaga
pendidikan dasar bercirikan Islam yang setingkat dengan Sekolah Lanjutan
Tingkat Pertama (SLTP). Siswa yang belajar di madrasah tersebut sebagian besar
berasal dari lulusan Sekolah Dasar. Sehingga latar belakang siswa tersebut
sangat bervariasi. Ada siswa yang memang dari semula berniat untuk belajar di
MTs Tersebut, tetapi ada juga siswa yang karena tidak diterima di SLTP Negeri,
akhirnya masuk dan belajar di Madrasah Tsanawiyah Farussaadah Arabiyah ini.
Latar belakang pendidikan siswa tersebut inilah yang menyebabkan beragam
pula kemampuan dasar dalam memahami dan membaca huruf Arab. Siswa yang
memang sudah berniat belajar di Farussaadah Arabiyah ini umumnya memiliki
kelancaran dalam membaca huruf Arab, walaupun ada juga yang kurang lancar.
Tetapi siswa yang masuk kerena tidak diterima di sekolah negeri lainnya,
umumnya kemampuan membaca huruf Arab masih lemah. Kondisi demikian
jelas menimbulkan problem tentang minat mereka dalam mengikuti prose
pembelajaran bahasa Arab. Untuk itu penulis ingin melihat dari dekat dengan
mengadakan penelitian yang akan penulis tuangkan dalam sebuah skripsi yang
berjudul MINAT SISWA DALAM MENGIKUTI PROSES PEMBELAJARAN BAHASA
ARAB DI MADRASAH TSANAWIYAH FARUSSAADAH ARABIYAH SENYERANG
KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT.
B. Perumusan Masalah
Masalah yang akan dirumuskan dalam penulisan penelitian ini adalah sebagai
berikut:
1. Bagaimana pelaksanaan proses pembelajaran bahasa Arab di Madrasah
Tsanawiyah Farussaadah Arabiyah Senyerang ?
2. Bagaimana minat siswa dalam mengikuti proses pembelajaran Bahasa Arab di
Madrasah Farussaadah Arabiyah Senyerang?
3. Bagaimana upaya Guru dalam mengatasi kurangnya minat siswa dalam
mengikuti proses pembelajaran bahasa Arab tersebut.?
C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Yang menjadi tujuan dalam penulisan dan penelitian ini adalah:
a. Ingin mengetahui Bagaimana pelaksanaan proses pembelajaran bahasa Arab
di Madrasah Tsanawiyah Farussaadah Arabiyah Senyerang.?
b. Ingin mengetahui Bagaimana minat siswa dalam mengikuti proses
pembelajaran Bahasa Arab di Madrasah Tsanawiyah Farussaadah Arabiyah
Senyerang.?
c. Ingin mengetahui Bagaimana upaya Guru dalam mengatasi kurangnya minat
siswa dalam mengikuti proses pembelajaran bahasa Arab tersebut.?
2. Kegunaan Penelitian
Diharapkan hasil penulisan dan penelitian ini dapat berguna :
a. Untuk memberikan gambaran tentang pelaksanaan proses pembelajaran
bahasa Arab di Madrasah Tsanawiyah Farussaadah Arabiyah Senyerang.
b. Untuk memberikan informasi mengenai kurangnya minat siswa dalam

mengikuti proses pembelajaran Bahasa Arab di Madrasah Tsanawiyah


Farussaadah Arabiyah Senyerang ?
c. Untuk memberikan penjelasan tentang upaya guru dalam mengatasi
kurangnya minat siswa dalam mengikuti proses pembelajaran bahasa Arab.
D. Kerangka Teori
1. Konsep Minat.
Kata minat identik dengan kata motivasi yangberasal dari kata motif yakni
segala daya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Dengan
minat atau motivasi dimaksud usaha-usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi
sehingga seseorang itu mau, dan ingin melakukannya.
Manusia makhluk yang berkembang dan dipengaruhi oleh bawaan dan
lingkungannya, menurut Islam teori konvergensi yang dikemukakan oleh William
Stern menjelaskan bahwa pendidikan dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor
bakat atau bawaan sejak lahir dan faktor lingkungan eksternal. Apa yang
dikemukakan oleh ahli pendidikan di atas mendekati kebenaran, sebagaimana
sabda Rasulullah SAW :
Rasulullah SAW berikut ini :

( (
Artinya : Dari Abi Hurairah R.a berkata : Rasulullah SAW bersabda setiap anak
dilahirkan atas fitrah (kesucian agama yang sesuai dengan naluri) sehingga
lancar lidahnya, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan dia Yahudi atau
Nasrani atau majusi. (H.R. Bukhari).
Menurut konsep hadits ini, maka orang tualah yang menjadikan anaknya baik,
hal ini banyak dipengaruhi oleh rumah tangga atau keluarga. Jadi konvergensi di
atas adalah stiap anak dilahirkan membawa fitrah, baik itu bakat, potensi dan
minat, sebagian besar dipengaruhi oleh lingkungan keluarga atau rumah tangga.
Kedua pengaruh ini baik pengaruh lingkungan keluarga maupun bakat yang
dimiliki anak, keduanya saling mendukung dan mempengaruhi. Ketika anak di
sekolah hampir saja semua pengaruh pendidikan anak di sekolah bukan hanya
dari segi kognitif saja akan tetapi terus berlanjut ke afektif dan psikomotorik
anak, sehingga anak dapat berbuat sesuai dengan ilmu pengtehuan yang
diajarkan gurunya.
Untuk mengetahui beberapa konsep dalam rangka memahami berbagai problem
tentang kurangnya minat siswa dalam mengikuti proses pembelajaran bahasa
Arab, akan penulis tuangkan beberapa teori yang dijadikan kerangka dalam
menganalisis permasalahan yang terjadi di lapangan.
2. Bahasa Arab
Behasa Arab terdiri dari dua suku kata yaitu kata bahasa dan kata Arab. Bahasa
ialah (1). Sistem lambang bunyi berartikulasi yang dihasilkan alat-alat ucap
yang bersifat sewenang-wenang dan konvensional yang deipakai sebagai alat
komunikasi untuk melahirkan perasaan dan pikiran. (2) perkataan-perkataan
yang dipakai oleh suatu bangsa (suku bangsa, negara dan daerah). Sedangkan
kata Arab ialah nama bangsa dan bahasa di Jazirah Arab dan Asia Tengah.

Dengan demikian bahasa Arab merupakan lambang bunyi sebagai alat


komunikasi untuk melahirkan perasaan dan pikiran melalui perkataan-perkataan
yang biasa dipakai oleh masyarakat di Jazirah Arab dan Asia Tengah. Atau dapat
dijadikan alat komunikasi antar sesama bangsa sebagai bahasa internasional
khususnya diwilayah Jazirah Arab, dan di Asia Tengah bahkan sebagian penjuru
dunia telah menggunakan bahasa Arab.
Dalam Garis-garis Besar Program Pengajaran (GBPP) Madrasah Tsanawiyah,
bahasa Arab telah dijadikan satu mata pelajaran pokok atau program inti. Mata
pelajaran Bahasa Arab adalah salah satu mata pelajaran dalam program inti
yang mempelajari Arab fusha, yaitu bahasa yang dipakai sebagai alat
komunikasi Bangsa Arab yang mendiami daerah luas dari Maroko sanpai Irak.
Bahasa Arab disamping sebagai bahasa Al-Quran juga merupakan salah satu
bahasa internasional yang menjadi bahasa resmi di Perserikatan Bangsa Bangsa
(PBB).
Dalam pengertian lain bahasa Arab juga dipakai dalam bahasa Al-Quran. Untuk
itu bahasa Arab juga merupakan bahasa kitab suci Al-Quran. Sebagaimana
seorang ahli mengatakan bahwa Bahasa Arab itu bahasa Quran, sebagai bahasa
sholat, sebagai bahasa hadits, sebagai bahasa perekonomian Arab dan sebagai
bilangan ahli pikir Arab.
Maka dari itu Bahasa Arab adalah suatu bahasa yang dijadikan alat komunikasi
sesama manusia di suatu wilayah khususnya Jazirah Arab dan Asia Tengah juga
dijadikan bahasa dalam kitab suci Al-Quran dan bahasa secara ritual agama
Islam.
2. Pola Pengajaran Bahasa Arab
Dalam kamus Bahasa Indonesia pola mempunyai pengertian sistem, cara kerja,
bentuk susunan yang tetap. Kemudian pola kurikulum ialah bentuk
pengorganisasian program kegiatan ataupun program belajar yang hendak
disajikan kepada murid oleh lembaga pendidikan tertentu.
Dengan demikian pola pembelajaran bahasa Arab merupakan bentuk
pengorganisasian program belajar bidang studi bahasa Arab yang hendak
disajikan kepada siswa dalam suatu lembaga pendidikan. Hal ini sering dengan
petunjuk yang termuat dalam GBPP bidang studi bahasa Arab, yang termuat
dalam pengertian bahasa Arab, fungsi babahasa Arab dan tujuan bahasa Arab
khususnya di Madrasah Tsanawiyah.
Pelajaran Bahasa Arab adalah suatu proses pendidikan yang diarahkan untuk
mendorong, membimbing, mengembangkan, dan membina kemampuan
berbahasa Arab, baik secara aktif maupun pasif, serta menumbuhkan sikap
positif terhadap bahasa Arab, dalam hal ini bahasa Arab fusha. Pelajaran bahasa
Arab di Madrasah berfungsi sebagai bahasa agama dan ilmu pengetahuan
disamping sebagai alat komunikasi. Oleh karena itu pelajaran bahasa Arab di
Madrasah Tsanawiyah merupakan bagian mata pelajaran yang tidak terpisahkan
dari mata pelajaran Pendidikan Agama Islam sebagai suatu keseluruhan.
Pelajaran Bahasa Arab di Madrasah Tsanawiyah bertujuan agar siswa dapat
menguasai serta aktif dan pasif perbendaharaan kata Arab fusha berjumlah 700
kata dan ungkapan dalam berbagai bentuk kata dan pola kalimat dasar yang
diprogramkan sehingga dapat digunakan sebagai alat komunikasi dan sebagai
dasar memahami buku-buku agama Islam yang sederhana disamping Al-Quran

dan hadits.
Dalam pengajaran bahasa Arab pola yang digunakan sesuai rambu-rambu dalam
GBPP sebagian besar adalah:
a. Dalam setiap pokok bahasan meliputi empat sub pokok bahasan yaitu
percakapan, mufradat dan struktur kalimat serta membaca dan menulis (insya
muwajjah)
b. Sumber belajar meliputi teks book (buku pegangan utama), buku pelengkap
dan penunjang, media pengajaran lain untuk menjelaskan makna kata-kata dan
ungkapan
c. Evaluasi dilaksanakan melalui test lisan maupun tulisan, dapat berbentuk
obyektif dan uraian.
3. Materi dan Metode Pembelajaran Bahasa Arab di MTs
Pengajaran bidang studi bahasa Arab di MTs tidak terlepas dari bahan pelajaran
atau materi pokok bahasan. Materi pokok bahasan dalam pengajaran bahasa
Arab di MTs sesuai dengan GBPP yang berlaku adalah meliputi:
a. Materi Percakapan
b. Materi Mufradat dan struktur kalimat
c. Materi bacaan
d. Materi isya Muwajjah
Sedangkan metode yang diterapkan dalam pengajaran sesuai dengan materi
pokok bahasa di atas sebagai berikut:
a. Materi percakapan, menggunakan metode pengajaran :
Direct Method ( Metode langsung) yaitu kemahiran berbicara untuk mengganti,
memperdalam serta mengotak atik grammar, keterampilan menulis,
kemampuan membaca, kelancaran terjemahan, agar supaya pelajar, pemilik
bahasa itu tidak seolah-olah seperti orang bisu yang hanya mampu menuangkan
pikirannya dengan bahasa tulisan, tidak dengan bahasa lisan, ujaran.
b. Materi Mufradat dan struktur kalimat, menggunakan metode pengajaran :
Grammar-Translation Method (Meode Terjemah) metode tersebut mempunyai ciri,
gramatika yang diajarkan ialah gramatika formil. Kosakata tergantung pada
bacaan yang telah disajikan. Pelajaran terdiri dari hafalan kaidah-kaidah tata
bahasa, penterjemahan kata-kata tanpa konteks, kemudian penterjemahan
bacaan-bacaan pendek, penafsiran, latihan ucapan dan latihan menggunakan
bahasa tidak diberikan. Jika diberikan hanya jatang-jarang saja.
c. Materi Bacaan, menggunakan metode :
Reading Method, yakni bertujuan mengajarkan dan melatih kemahiran membaca
dalam bahasa asing. Materi pelajaran dibagi menjadi seksi-seksi pendek. Tiap
seksi atau bagian ini didahului dengan daftar kata-kata yang maknanya akan
diajarkan melalui konteks, terjemahan atau gambar-gambar. Setelah sampai
pada kemampuan tertentu murid menguasai kosa kata, diajarkanlah bacaan
tambahan dalam bentuk cerita singkat dengan tujuan penguasaan murid
terhadap kosa kata menjadi lebih mantap.
d. Materi Insya Muwajjah, menggunakan metode:
Phonetic Methot. Kaedah metode ini pelajaran awal diberikan dengan latihanlatihan mendengarkan atau hear training, kemudian diikuti dengan latihanlatihan mengucapkan bunyi terlebih dahulu, setelah itu kata-kata pendek, dan
akhirnya kalimat yang lebih panjang. Kalimat-kalimat tersebut kemudian

dirangkaikan menjadi percakapan dan cerita. Materi pelajaran ditulis dengan


materi fenotik, bukan ejaan sebagaimana lazimnya. Gramatika diajarkan secara
induktif, dan pelajaran mengarang terdiri dari reproduksi dari yang telah
didengar dan dibaca.
4. Standarisasi Kemampuan Siswa dalam Mempelajari Bahasa Arab di MTs
Pelajaran bahasa Arab ini disajikan dalam empat materi pokok dalam setiap
pokok bahasan sebagaimana diungkapkan di atas. Keempat materi itu antara
lain adalah percakapan, mufradat dan struktur kalimat, bacaan dan insya
muwajjah (menulis dan membuat kalimat). Empat materi pokok ini akan ada
pada setiap pokok bahasan, dengan standar kemampuan yang bertingkat, sesuai
dengan tingkatan kelas. Standar kemampuan siswa dalam setiap kelasnya dapat
dilihat pada tabel berikut :
Tabel 1: Standar Kemampuan Siswa setiap kelas.

No Standar Kemampuan Siswa


Kelas I Kelas II Kelas III
1. Mampu melafalkan kalimat Arab dengan intonasi yang benar Mampu
melafalkan kalimat Arab dengan intoneasi yang benar Mampu melafalkan
kalimat Arab dengan intoneasi yang benar
2. Memahami makna kata - kata dan ungkapan berhubungan dengan kehidupan
sehari-hari Memahami makna kata-kata dan ungkapan berhubungan dengan
kehidupan sehari-hari yang berhubungan dengan akidah dan ibadah Memahami
makna kata - kata dan ungkapan berhubungan dengan kehidupan sehari-hari
yang berhubungan dengan akidah serta ibadah
3. Mampu memahami susunan jumlah ismiyah dengan struktur kalikmat yang
meliputi bentuk-bentuk mufrad dan isim zahir, isim isyarah, dhomir dam
beberapa huruf jar / zharf makan. Mampu memahami kalimat dengan struktur
kalimat yang meliputi kata benda (isim) mufrad dan jamak, fiil mudhari, dan
hurf, serta jabatan kata
dan Mampu memahami susunan jumlah filiyah dan ismiyah dengan struktur
yang meliputi

4. Mampu
menggunakan kata-kata, ungkapan dan susunan kalimat yang diajarkan dalam
percakapan sederhana. Mampu menggunakan kata-kata, ungkapan dan susunan
kalimat tersebut dalam percakapan sederhana Mampu menggunakan kata-kata,
ungkapan dan susunan kalimat tersebut dalam percakapan sederhana
5. Mampu membaca dan memahami makna wacana yang meliputi kata dan
susunan kalimat yang diajarkan. Mampu membaca dan memahami makna
wacana yang meliputi kata dan susunan kalimat tersebut Mampu membaca dan

memahami makna wacana yang meliputi kata dan susunan kalimat tersebut
6. Siswa dapat menyusun kalimat Arab dalam isya muwajjah dengan kata-kata
dan struktur kalimat yang diajarkan. Siswa dapat menyusun kalimat Arab dalam
isya muwajjah dengan kata-kata dan struktur kalimat tersebut Siswa dapat
menyusun kalimat Arab dalam isya muwajjah dengan kata-kata dan struktur
kalimat tersebut

BAB II
PROSEDUR PENELITIAN
A. Lingkup Penelitian
Penelitian ini adalah merupakan penelitian lapangan (Field Research) dengan
ruang lingkup :
1. Penelitian ini berbentuk penelitian kualitatif deskriptif, yaitu penelitian dengan
melaporkan apa adanya yang terjadi di tempat penelitian, yakni kajian pada
lembaga pendidikan Islam Madrasah Tsanawiyah Farussaadah Arabiyah
Senyerang Kabupaten Tanjung Jabung Barat.
2. Dalam penelitian ini akan dipusatkan pada minat siswa dalam mengikuti
proses pembelajaran bahasa Arab di Madrasah Tsanawiyah Farussaadah
Arabiyah Senyerang Kabupaten Tanjung Jabung Barat.
3. Kemudian dalam penelitian ini akan dilihat dari kurangnya minat siswa dalam
mengiukuti proses pembelajaran bahasa Arab di Madrasah Farussaadah
Arabiyah Senyerang Kabupaten Tanjung Jabung Barat.
B. Jenis dan Sumber Data
Jenis dan sumber data dalam penelitian yaitu subjek dari mana data dapat
diperoleh baik berupa person (orang), Place (tempat), dan Paper (Simbol).
1. Jenis Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini pada prinsipnya dapat
dikategorikan dalam dua bentuk yaitu :
a. Data Primer
Data primer adalah data yang diambil langsung oleh peneliti dari sumbernya
tanpa adanya perantara, sumber yang dimaksud dapat berupa benda, situs atau
manusia.
Data Primer adalah data pokok yang diperoleh langsung dari responden dan
informan oleh peneliti tanpa melalui perantara yang berkenaan dengan :
1) Pelaksanaan proses pembelajaran bahasa Arab di Madrasah Tsanawiyah
Farussaadah Arabiyah Senyerang Kabupaten Tanjung Jabung Barat.
2) Minat siswa dalam mengikuti proses pembelajaran bahasa Arab di Madrasah
Tsanawiyah Farussaadah Arabiyah Senyerang Kabupaten Tanjung Jabung Barat.
3) Upaya dalam mengatasi kurangnya minat siswa dalam mengikuti
pembelajaran bahasa Arab di Madrasah Tsanawiyah Farussaadah Arabiyah
Senyerang Kabupaten Tanjung Jabung Barat.

b. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diambil secara tidak langsung dari sumbernya.
Data sekunder biasanya diambil melalui dokumen-dokumen.
Data sekunder adalah data penunjang dalam penelitian ini baik yang diperoleh
melalui dokumentasi maupun literatur-literatur yang ada kaitannya dengan
penelitian ini yang berkenaan dengan :
1). Historis dan Geografis
2). Keadaan guru dan siswa
3). Keadaan Sarana dan Prasarana
4). Struktur Organisasi Madrasah
2. Sumber Data
Sumber data adalah subyek dari mana data tersebut dapat diperoleh. Apabila
penelitian menggunakan wawancara dalam pengumpulan datanya maka sumber
data tersebut disebut responden, yaitu orang yang merespon atau menjawab
pertanyaan-pertanyaan peneliti baik tertulis maupun lisan.
Sumber data dalam penelitian ini meliputi orang dan materi. Orang yang
dijadikan sumber data dalam penelitian ini meliputi Kepala Sekolah, Guru Bidang
Studi Bahasa Arab, Tata Usaha, dan beberapa siswa yang telah di tentukan
sebagai sampel penelitian yang kesemuanya itu adalah dalam lingkungan
Madrasah Tsanawiyah Farussaadah Arabiyah Senyerang Kabupaten Tanjung
Jabung Barat.
Sedangkan sumber data melalui materi dalam penelitian ini meliputi brasurbrosur, dokumentasi, literatur-literatur yang diambil dari beberapa teori yang
bisa dijadikan landasan berpikir dalam penyusunan skripsi ini.
C. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi adalah jumlah keseluruhan dari unit analisis yang ciri-cirinya diduga.
Sedangkan populasi berjumlah 245 orang, terdiri dari Kepala Sekolah, TU dan
karyawan berjumlah 3 orang, pegawai perpustakaan berjumlah 1 orang, guru
Bahasa Arab 4 orang dan siswa kelas I, II dan III berjumlah 238 orang
2. Sampel
Dari jumlah populasi di atas maka dapat ditetapkan sebagai sampel yaitu
sebanyak 10% dari jumlah populasi yaitu berjumlah 25 orang, yang terdiri dari
siswa kelas I sampai dengan kelas III, Guru, Kepala Sekolah, Orang tua murid,
Tata Usaha, Staf dan penjaga sekolah.
Adapun teknik pengambilan sampel dengan menggunakan teknik Purpossive
Sampling. Sampel diambil dengan menggunakan persyaratan dan kriteria
tertentu oleh peneliti yang harus dipenuhi sebagai sampel. , Bahwa sampel
diambil dengan menggunakan persyaratan dan kriteria tertentu oleh peneliti
yang harus dipenuhi sebagai sampel. Jadi dasar pertibangan ditentukan
tersendiri oleh peneliti.
Dengan teknik ini peneliti harus : a) Mempunyai pengetahuan yang cukup
tentang populasinya, 2) tepat dan menentukan persyaratan, 3) menguasai
benar-benar tori penelitian dengan segala permaslahannya.
D. Metode Pengumpulan Data

Dalam pengumpulan data untuk penulisan skripsi ini digunakan langkah-langkah


yaitu:
1. Observasi
Observasi adalah pengamatan terhadap sesuatu yang dilakukan dengan sangat
hati-hati. Dalam pengertian ini observasi biasa dilakukan
sebagai pengamatan dan pencatatan dengan sistematik fenomena-fenomena
yang diselidiki.
Metode ini ditujukan kepada guru Bahasa Arab yang melaksanakan proses
belajar mengajar kepada siswa dengan melihat reaksinya saat menerima
pelajaran yang disampaikan oleh guru tersebut.
2. Wawancara
Wawancara adalah cara mendapatkan informasi dengan bertanya langsung
kepada responden.
Metode ini ditujukan kepada kepala sekolah, kepala Tata Usaha, majelis guru
bidang studi Bahasa Arab dan kepada siswa-siswi Madrasah Tsanawiyah
Farussaadah Arabiyah Senyerang Kabupaten Tanjung Jabung Barat yang erat
kaitannya dengan permasalahan yang akan dibahas dalam skripsi ini yaitu
antara lain :
a. Pelaksanaan pengaturan program belajar.
b. Dokumentasi yang meliputi jumlah siswa dan guru, struktur dan fasilitas yang
dimiliki
c. Pemecahan masalah yang dialami dalam pembelajaran.
d. Keadaan gambaran Madrasah Tsanawiyah Farussaadah Arabiyah Senyerang .
3. Dokumentasi
Dokumentasi merupakan kumpulan data verbal yang berbentuk tulisan.
Sedangkan data tersebut telah terdokumenter oleh Madrasah Tsanawiyah
tersebut.
Untuk itu metode ini digunakan untuk memperoleh data melalui tata usaha MTs.
Farussaadah Arabiyah Senyerang, sedangkan data yang diperlukan meliputi :
a. Sejarah berdirinya dan letak geografis Madrasah Tsanawiyah Farussaadah
Arabiyah Senyerang.
b. Struktur Organisasi Madrasah Tsanawiyah
c. Keadaan pasilitas yang dimiliki oleh Madrasah tersebut
d. Keadaan siswa, karyawan dan guru yang mengajar di Madrasah Tsanawiyah
tersebut.
e. Nilai bidang studi Bahasa Arab siswa.
E. Analisis Data
Analisis data dilakukan dengan langkah-langkah pengkajian yang mendalam
menurut kemampuan penulis kemudian diperiksa terhadap arti yang terkandung
didalamnya. Adapun jenis analisa yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1. Analisis Domain
Analisa domain biasanya dilakuikan untuk mendapatkan gambaran / pengertian
yang bersifat umum dan relatif menyeluruh tentang apa yang tercakup di suatu
fokus / pokok permasalahan yang tengah diteliti.
Melalui analisis data ini penulis mulai menganalisis data dari kaidah-kaidah,
fakta-fakta yang bersifat umum dan relatif menyeluruh tentang permasalahan
yang diteliti.

2. Analisis Taksonomi
Analisis taksonomi yaitu analisa yang lebih rinci atau lebih mendalam.
Hasil analisis domain yang sifatnya umum maka perlu menelaah lebih rinci. Hal
ini dapat digunakan analisis taksonomi yang bertolak dari hasil domain sebagai
sandaran penelitian yang lebih rinci dan mendalam pada analisis ini. Fokus
penelitian ditetapkan terbatas pada domain tertentu yang menganalisa catatan
semula penelitian.
3. Analisis Komponensial
Analisis komponensial yang diorganisasikan bukanlah kesamaan elemen dalam
domain melainkan kontras antara elemen dalam domain yang diperoleh melalui
observasi dan wawancara terseleksi.
Kalau pada analisis taksonomi yang ditujukan ialah struktur internal masingmasing domain dengan mengorganisasikan atau menghimpun elemen-elemen
yang berkesamaan di suatu domain, tetapi analisis komponensial terdapat
kontras antara elemen dalam domain yang diperoleh melalui observasi dan
wawancara terseleksi.
4. Analisis Tema Kultural (Dicovering Cultural Themes)
Penelitian kualitatif yang analisisnya bergerak dari analisis domain hingga
analisis tema budaya selanjutnya disebutkan analisis tema bentuknya akan
menyerupai cerobong asap di permukaannya lebar ditengahnya sempit dan di
puncaknya lebar lagi, dengan demikian analisis tema atau discovering cultural
themes sesungguhnya merupakan upaya mencari benang merah yang
menginteraksikan lintas domain yang ada.
Melalui penggunaan tema kultural ini penulis mencari data atau menganalisis
data sesempurna mungkin sehingga menjadi data yang baik dari semua data
yang ada.
F. Trianggulasi
Trianggulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfatkan
sesuatu yang lain di luar data itu keperluan pengecekan atau sebagai
perbandingan data itu. Trianggulasi dengan sumber berarti membandingkan dan
mengecek kembali derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui
waktu dan alat yang berbeda dalam metode kualitatif.
Hal itu dapat dicapai dengan jalan:
1. Membandingkan data hasil pengamatan dengan hasil wawancara
2. Membandingkan apa yang dilakukan orang di depan umum dengan apa yang
dikatakan orang secara pribadi.
3. Membandingka apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi pendidikan
dengan apa yang dikatakan sepanjang waktu.
4. Membandingkan perspektif orang biasa dengan yang berpendidikan
5. Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkantor.

BAB III
DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN

A. Historis dan Geografis


1. Historis.
Madrasah Tsanawiyah Farussaadah Arabiyah Senyerang Kabupaten Tanjung
Jabung Barat, didirikan pada 1980 Proses pendirian Sekolah tersebut diawali
dengan musyawarah warga desa yang dilakukan dirumah salah seorang pegawai
syara pada waktu itu, tepatnya pada tanggal 21 April 1980. Musyawarah ini
dihadiri oleh para pemuka agama, para tokoh masyarakat, cendikiawan, calon
tenaga pengajar, para unsur pimpinan Senyerang.
Beberapa keputusan yang dapat diambil dalam musyawarah tersebut
diantaranya adalah menyepakati tentang pendirian MTs di Senyerang,
membentuk panitia pembangunan MTs tersebut, menetapkan iuran per kepala
keluarga, menetapkan hari-hari untuk gotong royong mengerjakan
pembangunan.
Adapun tujuan dari pendirian Madrasah ini adalah sebagai wadah dan
menampung anak-anak yang telah tamat Sekolah Dasar maupun Madrasah
Ibtidaiyah,sesuai program pemerintah pemerintah dalam rangka menyongsong
program wajib belajar sembilan tahun. Disamping itu pendirian MTs ini juga
bertujuan untuk membekali anak didik memiliki ilmu pengetahuan agama yang
kuat.
Berkat kerjasama yang baik antara warga masyarakat dan panitia pembangunan
pada saat itu akhirnya tidak terlalu lama pendirian MTs Farussaadah Arabiyah
Senyerang Kecamatan Senyerang Kabupaten Tanjung Jabung Barat ini dapat
terwujud.
MTs Farussaadah ArabiyahSenyerang Kecamatan Senyerang kemudian
dibangun diatas tanah berukuran 50 x 100 meter yang diperoleh dari wakaf
seorang warga yang bernama RafiI, beliau adalah salah seorang pemuka
agama, dan tanah tersebut saat ini telah bersertifikat atas nama MTs
Farussaadah Arabiyah tersebut.
Pelaksanaan proses belajar mengajar di MTs Farussaadah Arabiyah Senyerang
Kecamatan Senyerang Kabupaten Sarolangun Senyerang selanjutnya dapat
terealisasi pada tanggal 15 Juli 1980. Keadaan murid baru kelas I berkisar antara
20 sampai 25 orang. Hal ini menunjukkan bahwa minat melanjutkan ke MTs bagi
anak yang telah menamatkan pendidikan di Sekolah Dasar dan MI cukup bagus.

2. Geografis
Pada sisi geografis letak MTs Farussaadah Arabiyah Senyerang Kecamatan
Senyerang cukup strategis, disamping lokasinya yang berada di tengah-tengah
kota, MTs Farussaadah Arabiyah Senyerang ini juga terletak di jalan poros kota
yang dengan mudah dapat dijangkau.
Sebagaimana layaknya sebuah lembaga pendidikan untuk tahap awal perjalanan
proses belajar mengajar masih banyak mengalami kekurangan, kesulitankesulitan serta hambatan-hambatan, baik sarana maupun prasarana yang
berkaitan dengan penyelenggaraan proses belajar mengajar. Walaupun
demikian, para tenaga pengajar tetap bersemangat untuk melangsungkan
proses belajar-mengajar di MTs Farussaadah Arabiyah Senyerang Kecamatan
Senyerang ini.
B. Keadaan Sarana dan Prasarana
1. Sarana
Untuk menunjang proses belajar mengajar, MTs Farussaadah Arabiyah
Senyerang Kecamatan Senyerang Kabupaten Tanjung Jabung Barat ini telah
memiliki sarana/gedung dengan status milik sendiri yang berdiri diatas tanah
seluas 50 x 100 meter.
Sarana dan prasarana yang dimiliki oleh MTs Farussaadah Arabiyah Senyerang
Kecamatan Senyerang sudah dikatakan cukup memamadai walaupun masih ada
kekurangan, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel. 2 : Keadaan Sarana Pendidikan MTs Farussaadah Arabiyah Senyerang


Tahun Pembelajaran 2009.
NO JENIS SARANA JUMLAH KONSTRUKSI KET
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

13
14 Ruang Kepala
Ruang Ka. TU
Ruang Bendaharan
Ruang Staf
Ruanjg Guru
Ruang belajar
Ruang Perpustakaan
Musholla
Ruang UKS
Kantin
WC
Lap. Tenis Meja
Lap. Bola Volly
Lap. Bulu Tangkis 1 Ruang
1 Ruang
1 Ruang
1 Ruang
1 Ruang
3 Lokal
1 buah
1 Buah
1 Ruang
1 Buah
2 Buah
1 Buah
1 Buah
1 Buah Permanen
Permanen
Permanen
Permanen
Permanen
Permanen
Permanen
Permanen
Permanen
Semi Permanen
Permanen
Permanen
Permanen
Permanen Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik

Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Tabel di atas jelaslah bahwa MTs Farussaadah Arabiyah Senyerang Kecamatan
Senyerang sudah memiliki sarana yang cukup memadai, namun proses
pembelajaran tetap berlangsung seadanya dengan tidak mengurangi jumlah
pelajaran yang telah ditetapkan dalam kurukulum.
2. Prasarana
Masalah prasarana juga merupakan hal yansangat penting untuk menunjang
proses pembelajaran, untuk lebih jelasnya mengenai sarana dan prasarana yang
dimiliki oleh MTs Farussaadah Arabiyah Senyerang Kecamatan Senyerang dapat
dilihat pada table berikut :
Tabel. 3 : Keadaan Prasarana MTs Farussaadah Arabiyah Senyerang Tahun
Pembelajaran 2009.
NO JENIS ALAT JUMLAH KET
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18 Meja Siswa
Bangku Siswa
Meja Guru
Meja Tamu
Papan Tulis
Rak Buku
Lemari (Arsip)
Mesin Tik
Komputer

Buku Pegangan Guru


Jam Dinding
Buku Perpustakaan
Rebana
Perlengkapan Tenis Meja
Perlengkapan Bulu Tangkis
Perlengkapan Bola Volly
Mikrophone dan Toa
Perlengkapan Tari 57 Buah
100 Buah
20 Buah
2 Set Buah
4 Buah
8 Buah
3 Buah
1 Buah
1 Buah
50 Buah
16 Buah
350 Eksemplar
1 Set
1 Buah
1 Set
1 Set
1 Set
1 Set Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Sarana dan prasarana yang dimiliki oleh MTs Senyerang ini tergolong lengkap
untuk ukuran sekolah Negeri yang terletak di ibu kota Kabupaten Tanjung Jabung
Barat. Fasilitas penunjang seperti buku-buku pelajaran dan buku-buku bacaan

lainnya juga cukup memadahi, karena hampir setiap tahunnya Sekolah ini
menerima bantuan buku-buku dari pemerintah. baik melalui Departemen Agama,
maupun Departemen Pendidikan Nasional.
C. Keadaan Guru dan Siswa MTs Senyerang
1. Keadaan Guru
Guru termasuk salah satu unsur yang menyebabkan terjadinya proses belajar
mengajar dengan baik, disamping itu pula guru berperan aktif dalam rangka
bagaimana anak didiknya mampu mencapai tujuan dari proses belajar mengajar
itu sendiri. Di samping itu pula guru berkewajiban memberikan arahan atau
bantuan terhadap anak didiknya dalam rangka membimbing mereka menuju
kedewasaan berfikir dan berprilaku yang sesuai dengan falsafah dan cita-cita
bangsa Indonesia, sesuai dengan ajaran agama Islam.
Di samping guru sebagai figur sentral atau merupakan suri tauladan bagi anak
didiknya dalam kehidupan sehari-hari yang juga sebagai peletah fundamental
bagi kehidupan anak untuk masa yang akan datang. Selain itu guru juga
merupakan teladan bagi masyarakat lingkungan terutama bagi orang tua para
murid yang senantiasa berpedoman kepada guru para anaknya yang
notabenenya adalah para ilmuan di lingkungan dimana mereka berdomisili.
Melihat tugas dan tanggung jawab seorang guru terhadap muridnya yang begitu
besar, terutama dari segi berhasil atau tidaknya tujuan belajar yang tergantung
pada para guru. Oleh karena itu seorang guru harus profesional terhadap tugas
yang didukung oleh latar belakang pendidikannya. Pendidikan yang lebih
menunjang terhadap keberhasilan pendidikan adalah para guru yang mempunyai
latar belakang pendidikan pada ilmu kependidikan atau minimal tamatan D III
atau S-1 Pendidikan.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tebel berikut ini.

Tabel 4 : Keadaan Guru MTs Farussaadah Arabiyah Senyerang Tahun


Pembelajaran 2009.
No Nama Jabatan Pendidikan Ket
1.

2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13
14
15
16
17
18
19
20
Drs. Darmawi, M.Pd
Drs. Azrul, S.Ag
M. Rusdi Rahim, BA
Drs. Ridwan
Salmah, A.Md
Repelitas, S.Pd
Rosmaniati, A.Md
Murti Aryati, S.Pd
Drs. Joni
Dra. Gusti Rahayu
Suhati, S.Pd
Iftitah, S.Ag
Asni, A.md
Fahmi, S.Pd
Yurlita, S.PdI
Afni Musra, S.Ag
Khustian, S.Pd
Yusran, S.Pd
Suhartarto, S.Pd
Hidayatul Fadliyah, S.Pd
Kepala Sekolah
Wk Kurikulum
Wk Humas
Wk. Kesiswaan
Guru
Guru
Guru
Guru

Guru
Guru
Guru
Guru
Guru
Guru
Guru
Guru
Guru
Guru
Guru
Guru

Para tenaga pengajar tersebut terbagi menjadi guru bidang studi yang ada di
MTs Farussaadah Arabiyah Senyerang. Sedangkan pembagiannya dapat dilihat
pada tabel di bawah ini:

Tabel 5 : Guru Bidang Studi MTs Farussaadah Arabiyah Senyerang Tahun 2009.
No Nama Bidang Studi
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13
14
15
16
17
18
19
20
21

22
23
24
25
26
27
28
29
30 Drs. Darmawi, M.Pd
Drs. Azrul, S.Ag
M. Rusdi Rahim, BA
Drs. Ridwan
Salmah, A.Md
Repelitas, S.Pd
Rosmaniati, A.Md
Murti Aryati, S.Pd
Drs. Joni
Dra. Gusti Rahayu
Suhati, S.Pd
Iftitah, S.Ag
Asni, A.md
Fahmi, S.Pd
Yurlita, S.PdI
Afni Musra, S.Ag
Khustian, S.Pd
Yusran, S.Pd
Suhartarto, S.Pd
Hidayatul Fadliyah, S.Pd
Baidawi, S.Ag
Yuhani, S.Ag
Suparmin, S.Pd
Erma Sofyanti, S.Ag
Ismail
Muksim, S.Hi
Sunarti, A.md
Silvia Magdalena, S.PdI
Sri Hafazoh, S.Pd
Igus Susanti, S.Hi
Bimbingan dan Penyuluhan
Aqidah Akhlak-Sains Fisika
Bimbingan dan Penylujan
Bahasa Arab
Fiqh
Matematika
Bahasa Inggris
Matematika
KTK

Sains Fisika
Ekonomi
Bahasa Arab-Quran Hadits
Sains Biologi
Geografi-Ekonomi
SKI-Kewarganegaraan-Q. Hadits
Pendidikan Seni I-Q. Hadits
Bahasa Inggris
Penjaskes
Bahasa Indonesia
Biologi-geografi-Kewarganegaraan
Fiqh-Sejarah-Aqidah Akhlak
Kewarganegaraan-PPKn
Bahasa Inggris-Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia-SKI
Mulok
Sejara-SKI -Bahasa Indonesia
Matematika
Sains Fisika-Kesenian
Bahasa Indonesia
Aqidah Akhlak

Berdasarkan tabel di atas maka dapat diketahui bahwa jumlah tenaga pengajar
yang ada pada Madrasah Tsanawiyah Raudatut Tholibin berjumlah 30 orang dan
latar belakang pendidikannya masih banyak yang belum mendukung tugas dan
profesi guru. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa MTs Farussaadah Arabiyah
Senyerang masih kekurangan guru yang profesional.
2. Keadaan Siswa
Siswa yang belajar pada MTs Farussaadah Arabiyah Senyerang adalah anakanak yang berasal dari berbagai daerah dalam dan luar kabuapten Tanjung
Jabung Barat. Jumlah keseluruhan dari Kelas I sampai dengan Kelas III berjumlah
410 siswa dengan perincian sebagai berikut.
Tabel 6 : Keadaan Siswa MTs Farussaadah Arabiyah Senyerang Tahun 2009.

No.
Kelas Jenis Kelamin
Jumlah
Laki-laki Perempuan
1. I 68 71 139
2. II 67 70 137
3. III 67 67 134
Jumlah 202 208 410
Jumlah siswa MTs Farussaadah Arabiyah Senyerang di atas menunjukkan bahwa
minat orang tua/ wali untuk menyekolahkan anaknya di MTs tergolong tinggi. Hal

ini diiringi harapan agar anaknya dapat dibekali dengan pengetahuan bidang
agama yang lebih baik lagi, sehingga mereka bergairah untuk memasukkan
anaknya untuk belajar di MTs Farussaadah Arabiyah Senyerang.
Dari jumlah anak yang belajar di MTs Farussaadah Arabiyah tersebut sebagian
besar adalah lulusan dari Sekolah Dasar, sedangkan yang lulusan dari Madrasah
Ibtidaiyah relatif kecil.
D. Struktur Organisasi MTs Farussaadah Arabiyah Senyerang
Suatu lembaga pendidikan tentunya harus mempunyai komposisi kepengurusan
yang tertuang dalam struktur organisasi, begitu pula halnya dengan MTs
Farussaadah Arabiyah Senyerang Kecamatan Senyerang Kabupaten Tanjung
Jabung Barat. Struktur organisasinya adalah sebagai berikut: Kepala Madrasah,
Wakil Kepala Madrasah, komite Sekolah dan para wali kelas. Dalam
melaksanakan tugasnya sehari-hari, kepala sekolah senantiasa berkoordinasi dan
dibantu oleh para wakil dan perangkat lainnya sehingga organisasi dapat
berjalan dengan baik.
Secara rinci tugas kepala sekolah dan para wakil kepala sekolah serta para
majelis guru dalam membantu tugas Kepala Sekolah adalah sebagai berikut :
1. Tugas Kepala Sekolah diantaranya :
a. Mengatur administrasi Kantor
b. Mengatur dan membina hubungan dengan instansi vertikal (atasan)
c. Mengatur hubungan dengan masyarakat
d. Mengatur dan memperhatikan semua tugas dan tanggung jawab stafnya.
2. Tugas Wakil Kepala Sekolah bidang kurikulum
a. Memperhatikan persiapan mengajar para pengajar (guru)
b. Memperhatikan dan mempersiapkan buku-buku yang berkenaan dengan
proses belajar mengajar
c. Bertanggungjawab terhadap program pelajaran dan evaluasi belajar mengajar.
3. Wakil Kepala Bidang Kesiswaan
a. Memperhatikan kerajinan siswa dalam mengikuti program belajar mengajar.
b. Memperhatikan kedisiplinan siswa meliputi, waktu masuk dan pulang dan
disiplin tentang pakaian.
c. Membuat peraturan tentang tata tertib sekolah.
4. Bendahara mengatur tentang administrasi keuangan sekolah dan
bertanggungjawab terhadap penggunaan uang sekolah.
5. Para wali kelas bertugas mengatur kelasnya masing-masing yang berkenaan
dengan keadaan kelas tersebut.

STRUKTUR ORGANISASI
MTS FARUSSAADAH ARABIYAH SENYERANG.

BAB IV
MINAT SISWA DALAM MENGIKUTI PROSES PEMBELAJARAN
BAHASA ARAB
A. Pelaksanaan Proses Pembelajaran Bahasa Arab

Madrasah Tsanawiyah (MTs) adalah termasuk salah satu jenjang pendidikan


formal setingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) yang berciri khas
Agama Islam. Mata pelajaran yang di sajikan pada jenjang pendidikan ini selain
mata Pelajaran umum seperti pada SLTP, juga disampaikan mata pelajaran
keagamaan. Salah satunya adalah pelajaran Bahasa Arab.
Sesuai dengan Garis-garis Besar Program Pengajaran (GBPP) Madrasah
Tsanawiyah pada lampiran II Keputusan Menteri Agama RI Nomor 372 tahun
1993 tanggal 22 Desember 1993, Pelajaran Bahasa Arab adalah merupakan
salah satu pelajaran pokok yang harus diajarkan di MTs.
Selain itu Pelajaran Bahasa Arab yang diajarkan di Madrasah Tsanawiyah juga
berfungsi sebagai bahasa agama dan ilmu pengetahuan disamping sebagai alat
komunikasi. Oleh karena itu pelajaran Bahasa Arab di Madrasah Tsanawiyah
merupakan bagian mata pelajaran yang tak terpisahkan dari mata pelajaran
Pendidikan Agama Islam sebagai suatu keseluruhan. Berikut hasil wawancara
penulis dengan kepala sekolah yaitu bapak Darmawi.
Pelajaran Bahasa Arab ini menjadi sangat penting untuk sekolah-sekolah formal
yang berciri khas keagamaan (Agama Islam). Karena disamping sebagai proses
pendidikan yang diarahkan untuk mendorong, membimbing, mengembangkan,
dan membina kemampuan Bahasa Arab dalam hal ini adalah Bahasa Arab fusha,
kemampuan Berbahasa Arab juga akan menunjang siswa dalam rangka
memahami sumber ajaran Agama Islam, seperti Alquran dan Hadits, serta kitabkitab lain yang menggunakan Bahasa Arab dalam penyajiannya.
Agar proses belajar mengajar dapat terarah, sesuai dengan tujuan pembelajaran
Bahasa Arab sesuai dengan kurikulum yang berlaku maka harus ada Garis Garis
Besar Program Pengajaran (GBPP) yang sesuai dengan standar nasional.
Di Madrasah Tsanawiyah Farussaadah Arabiyah Senyerang Kabupaten Tanjung
Jabung Barat, Kecamatan Senyerang kabupaten Tanjung Jabung Barat,
pembelajaran Bahasa Arab telah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang
ada pada kurikulum Pendidikan Dasar berciri khas Agama Islam, yaitu GBPP
Madrasah Tsanawiyah Mata Pelajaran Bahasa Arab, sebagaimana hasil
wawancara penulis dengan guru bahasa Arab, beliau menuturkan,
Dimana dalam Pelajaran Bahasa Arab ini disajikan dalam empat materi pokok
dalam setiap pokok bahasan. Keempat materi itu antara lain adalah percakapan,
Mufradat dan Struktur Kalimat, Bacaan dan Insya Muwajjah (menulis dan
membuat kalimat). Empat materi pokok ini akan ada pada setiap pokok bahasan,
dengan standar kemampuan yang bertingkat, sesuai dengan tingkatan kelas.
Sedangkan metode yang diterapkan dalam proses pembelajaran disesuaikan
dengan materi dan pokok bahasan.
a. Materi percakapan
Materi ini menggunakan metode pengajaran Direct Metho (metode langusng),
yaitu kemahiran berbicara untuk mengganti, memperdalam Qawaid,
keterampilan menulis, kemampuan membaca, kelancaran terjemahan, agar
supaya pelajar, pemilik bahasa itu tidak seolah-olah seperti orang bisu yang
hanya mampu menuangkan pikirannya dengan bahasa tulisan akan tetapi
mampu menuangkan dengan bahasa lisan.

b. Materi Mufradat dan struktur kalimat


Materi ini menggunakan metode pengajaran Grammar Translation Methot,
( Penterjemahan ), Pelajaran terdiri dari hafalan kaidah-kaidah tata bahasa,
penterjemahan kata-kata tanpa konteks, kemudian penterjemahan bacaanbacaan pendek, penafsiran, latihan ucapan dan latihan menggunakan bahasa
tidak diberikan. Jika diberikan hanya kadang-kadang saja.
c. Materi Bacaan
Materi ini menggunakan metode pengajaran Reading Method, yakni bertujuan
mengajarkan dan melatih kemahiran membaca dalam bahasa asing. Materi
pelajaran dibagi menjadi seksi-seksi pendek. Tiap seksi atau bagian ini didahului
dengan daftar kata-kata yang maknanya akan diajarkan melalui konteks,
terjemahan atau gambar-gambar. Setelah sampai pada kemampuan tertentu
murid menguasai kosa kata, diajarkanlah bacaan tambahan dalam bentuk cerita
singkat dengan tujuan penguasaan murid terhadap kosa kata menjadi lebih
mantap.
d. Materi Insya Muwajjah
Materi ini menggunakan metode pengajaran Phonetic Method. Kaedah metode
ini pelajaran awal diberikan dengan latihan-latihan mendengarkan atau hear
training, kemudian diikuti dengan latihan-latihan mengucapkan bunyi terlebih
dahulu, setelah itu kata-kata pendek, dan akhirnya kalimat yang lebih panjang.
Kalimat-kalimat tersebut kemudian dirangkaikan menjadi percakapan dan cerita.
Materi pelajaran ditulis dengan materi fenotik, bukan ejaan sebagaimana
lazimnya. Gramatika diajarkan secara induktif, dan pelajaran mengarang terdiri
dari reproduksi dari yang telah didengar dan dibaca.
Adapun lama tatap muka yang dilaksanakan dalam proses pembelajaran Bahasa
Arab di Madrasah Tsanawiyah Farussaadah Arabiyah Senyerang Kabupaten
Tanjung Jabung Barat ini juga disesuaikan dengan kekentuan dalam kurikulum
pelajaran Bahasa Arab, sebagaimana hasil wawancara penulis dengan guru
bidang studi.
Kelas I semster I berjumlah 50 jam, semester II 52 jam, kelas II semster I
berjumlah 50 jam, semester II 52 jam, kelas III semester I 48 jam, semster II
berjumlah 93 jam. Sedangkan jam pelajaran setiap minggu waktu tersedia 3 jam
pelajaran untuk kelas I dan II, dan 2 jam pelajaran untuk kelas III. Setiap 1 jam 40
menit.
Hasil wawancara di atas dapat dipahami bahwa proses pembelajaran bahasa
Arab masih mengikuti rambu-rambu yang telah ditetapkan dalam kurikulum,
namun hal ini terkadang ditemukan beberapa kekurangan.
B. Minat Siswa dalam Mengikuti Proses Pembelajaran Bahasa Arab di Madrasah
Tsanawiyah Farussaadah Arabiyah Senyerang Kabupaten Tanjung Jabung Barat.
Keberhasilan proses belajar mengajar pada suatu lembaga pendidikan akan
dapat dipengaruhi oleh beberapa hal. Antara lain adalah sarana dan prasarana
penunjang, tenaga pendidik (guru), metode pengajaran, waktu yang memadahi
serta potensi siswa dalam mengikuti suatu pelajaran.
Berkaitan dengan minat siswa dalam mengikuti proses pembelajaran Bahasa

Arab, penulis akan membahas satu permasalahan saja yaitu masalah potensi
siswa. Karena dalam pelajaran Bahasa Arab, kemampuan peserta didik ini
menempati posisi yang paling penting. Sebelum memahami dan mengerti
tentang bahasa Arab yang merupakan bahasa Asing, maka syarat mutlak yang
aharus dipenuhi oleh siswa adalah kemampuan membaca huruf Arab. Hal ini
karena dalam penyajian pelajaran Bahasa Arab ini disampaikan dengan tulisan
(aksara) Arab. Berdasarkan hasil wawancara penulis dengan kepala sekolah.
Yang cukup menjadi masalah (problematika) tentang minat siswa dalam proses
pembelajaran Bahasa Arab di Madrasah Tsanawiyah Farussaadah Arabiyah
Senyerang Kabupaten Tanjung Jabung Barat ini antara lain adalah:
1. Sarana dan Prasarana yang kurang menunjang
2. Tenaga pendidik (guru) belum mempunyai standar kualitas yang optimal
3. Metode pengajaran yang kurang bervariasi
4. Waktu yang kurang memadai karena Madrasah Tsanawiyah Farussaadah
Arabiyah Senyerang Kabupaten Tanjung Jabung Barat.
5. Potensi siswa dalam mengikuti suatu pelajaran Bahasa Arab terutama
kemampuan membaca aksara Arab, karena sebagain besar siswa berasal dari SD
dimana mereka banyak yang belum mampu dengan baik baca tulis huruf Arab,
sehingga hal ini menjadi kendala guru dalam menyampaikan pelajaran.
Dari sekian banyak problematika di atas yanga dapat mempengaruhi minat
siswa yaitu adalah potensi siswa. Potensi siswa ini menjadi persoalan yang paling
serius antara yang lain, karena sangat erat kaitannya dengan materi pelajaran
Bahasa Arab yang akan diajarkan. Bagi siswa yang telah mampu membaca huruf
Arab, maka pelajaran Bahasa Arab ini akan dapat diterima dengan baik dalam
penyampaiannya. Tetapi bagi yang tingkat kemampuan dalam membaca huruf
Arab kurang, atau tidak mampu sama sekali maka akan menjadi kendala
tersendiri dalam penerimaan pelajaran tersebut. Berikut hasil wawancara penulis
dengan guru bahasa Arab Yaitu Ibu Iftitah :
Seperti telah diketahui bahwa Madrasah Tsanawiyah Roudatut Thalibin, desa
Meranti Baru Kecamatan Mandiangin Kabupaten Sarolangun, merupakan
lembaga pendidikan dasar bercirikan Islam yang setingkat dengan Sekolah
Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP). Siswa yang belajar di madrasah tersebut
semuanya berasal dari lulusan Sekolah Dasar. Sedangkan latar belakang
motovasi dari siswa tersebut sangat bervariasi. Ada siswa yang memang dari
semula berniat untuk belajar di MTs Tersebut, tetapi ada juga siswa yang karena
tidak diterima di SLTP Negeri, akhirnya masuk dan belajar di Madrasah
Tsanawiyah Raudatut Thalibin ini. Latar belakan pendidikan siswa dan latar
belakang motivasi inilah yang menyebabkan beragam pula kemampuan dasar
dalam membaca huruf Arab. Siswa yang memang sudah berniat belajar di MTs ini
umumnya memiliki kelancaran dalam membaca huruf arab, walaupun ada juga
yang kurang lancar. Tetapi siswa yang masuk kerena tidak diterima di sekolah
negeri, umumnya kemampuan membaca huruf arab masih lemah. Jumlah ini
ternyata lebih dari separo jika _isbanding dengan yang lancar.
Berdasarkan hasil observasi penulis dengan tes yang dilakukan oleh pihak guru
kepada Siswa kelas I, II dan III MTs Farussaadah Arabiyah Senyerang, terhadap

kemampuannya dalam membaca huruf Arab dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 6 : Daftar Kemampuan Siswa Membaca Huruf Arab.


No. Nama Siswa Baik Sedang Kurang
1. Arif Fermadi *
2. Afid Junaidi *
3. A.Riyanto *
4. Atika Sari *
5. Deni Sri Wahyuni *
6. Depi *
7. Hendra Basuki *
8. Hotmasari *
9. Jumiardi *
10. Lia Yusnita Dewi *
11. Lagi Asri *
12. Mila Rahmawati *
13. Mariati *
14. MTSwanto *
15. Mirayanti *
16. Nur Yuni Aisyah *
17. Nur Wahid *
18. Nur Baiti *
19. Plasma Dewi *
20. Rasmini *
21. Royah *
22. Siti Sholihah *
23. Situyem *
24. Supriyanto *
25. Supriadi *
26. Tina Indriani *
27. Witantri Lestari *
Jumlah 11 4 15
Tabel di atas menunjukkan bahwa sebagain besar siswa masih kurang
kemampuannya dalam membaca huruf Arab, hal ini merupakan salah satu yang
dapat mempengaruhi minat dalam proses pembelajaran Bahasa Arab.
Dengan adanya sebagian siswa yang kemampuan membaca huruf Arabnya
kurang maka pengajaran bahasa Arab walaupun telah sesuai dengan GBPP dan
kurikulum tetapi hasilnya belum dapat memenuhi target. Hal ini terutama terjadi

pada awal-awal mengikuti Pelajaran Bahasa Arab atau diawal mereka masuk di
MTs Farussaadah Arabiyah Senyerang ini. Sulitnya mereka menerima pelajaran
Bahasa Arab karena ketidak mampu membaca huruf Arab ini akan sangat
berpengaruh dengan prestasi hasil belajar (nilai) terutama mata pelajaran
Bahasa Arab. Hasil nilai yang dicapai oleh siswa kelas satu antara yang dapat
membaca huruf Arab dengan yang tidak untuk mata pelajaran Bahasa Arab
sangat mencolok sekali perbedaannya. Umumnya untuk memperoleh nilai cukup
(6 keatas) bagi mereka sangat sulit.
Berdasarkan hasil wawancara di atas ternyata kurangnya nilai siswa dari kategori
cukup sangat dipengaruhi oleh kurang mampunya siswa membaca huruf Arab.
Hanya beberapa orang siswa saja yang kemampuan membacanya baik. Hal ini
dapat dipahami bahwa minat siswa dalam engikuti proses pembelajaran Bahasa
Arab di Madrasah Tsanawiyah Farussaadah Arabiyah Senyerang Kabupaten
Tanjung Jabung Barat dipengaruhi oleh kemampuan siswa dalam membaca huruf
Arab.
C. Upaya Mengatasi Kurangnya Minat Siswa Mengikuti Proses Pembelajaran
Bahasa Arab
Dalam pelaksanaan pembelajaran bahasa Arab di Madrasah Tsanawiyah
Farussaadah Arabiyah Senyerang Kabupaten Tanjung Jabung Barat ternyata
kemampuan siswa membaca huruf Arab menjadi persoalan tersendiri.
Penyampaian pelajaran ini tidak dapat secara maksimal diterima oleh siswa
karena adanya kurangnya minat siswa. Untuk mengatasi kurangnya minat siswa
di atas maka harus ada upaya-upaya yang dilakukan oleh pihak Sekolah dalam
hal ini Madrasah Tsanawiyah Farussaadah Arabiyah Senyerang Kabupaten
Tanjung Jabung Barat agar kurangnya minat tersebut dapat di atasi.
Upaya yang dilakukan juga harus efektif dan efisien mengingat minat belajar ini
adalah sesuatu yang mendesak. Artinya sedapat mungkin siswa kelas 1 MTs
sudah harus dapat membaca huruf Arab, karena mereka sudah harus mengikuti
pelajaran Bahasa Arab yang kemampuan membaca huruf Arab ini menjadi syarat
yang mutlak. Berikut hasil wawancara penulis dengan kepala sekolah.
Upaya yang dilakukan oleh Madrasah Tsanawiyah Farussaadah Arabiyah
Senyerang Kabupaten Tanjung Jabung Barat dalam mengatasi kurangnya minat
tersebut adalah dengan mewajibkan siswa yang belum dapat membaca huruf
Arab untuk belajar membaca Huruf Arab dengan program Iqro. Program Iqro
adalah metode atau cara cepat untuk dapat membaca Huruf Arab. Sebelum
mengikuti program Iqro, bagi seluruh siswa kelas 1 yang baru masuk akan
dilakukan test terhadap kemampuan membaca huruf Arab. Hal ini dilakukan agar
pihak sekolah dapat membedakan atau mengklasifikasikan antara siswa yang
telah mempunyai kemampuan membaca huruf Arab dengan siswa yang belum.
Dari hasil tes ini maka dapat di ketahui berapa orang siswa yang harus mengikuti
program Iqro dan berapa orang siswa yang tidak perlu. Dan pelaksanaannya
dilakukan di luar jam pelajaran sekolah. Hal ini agar tidak mempengaruhi proses
belajar mengajar secara formal di dalam jam sekolah.
Program Iqro ini dilaksanakan oleh lembaga pendidikan oleh Madrasah
Tsanawiyah Farussaadah Arabiyah Senyerang Kabupaten Tanjung Jabung Barat.

Pendidikan ini diselenggarakan pada sore hari yaitu setelah sholat Ashar.
Pendidikan ini adalah pendidikan non formal yang dalam pelaksanaannya khusus
mempelajari masalah agama mulai dari tingkat dasar seperti membaca Huruf
Arab sampai jenjang selanjutnya.
Seluruh siswa yang belum mampu membaca huruf Arab diwajibkan untuk
mengikuti pendidikan ini dengan program Iqro sampai siswa tersebut dapat
membaca huruf Arab. Dengan demikian maka masalah ketidak mampuan siswa
membaca huruf Arab yang menjadi kurangnya minat siswa dalam mengikuti
proses pembelajaran Bahasa Arab ini dapat di minimalisir.
Selain itu bagi siswa yang kemampuan membaca huruf Arabnya mesih kurang
dalam penyampaian pelajaran dikelas juga diberikan perhatian khusus oleh guru
bidang studi. Terutama berkaitan dengan cara membaca dan huruf-huruf
hijaiyah.
Bertitik tolak dari upaya yang telah dilakukan oleh Madrasah Tsanawiyah
Farussaadah Arabiyah Senyerang Kabupaten Tanjung Jabung Barat dalam
rangka mengatasi kurangnya minat siswa mengikuti proses pembelajaran
bahasa Arab, yaitu kurang maksimalnya siswa dalam menerima pelajaran
bahasa Arab karena kemampuan membaca huruf Arab yang masih kurang, maka
upaya ini ternyata dapat memberikan hasil yang cukup berarti dalam mengatasi
problematika tersebut.
Meskipun tidak secara langsung dapat dengan cepat di atasi, namun hasil dari
upaya ini telah menunjukkan proses penyelesaian kueangnya minat tersebut
tersebut yang mengarah pada upaya penyelesaian yang dapat menunjukkan
indikasi dari keberhasilan upaya penyelesaian problematika pembelajaran
Bahasa Arab dengan menggunakan program Iqro ini adalah hasil prestasi siswa
yang dicapai pada semester berikutnya (Semester II) terutama pada nilai mata
pelajaran Bahasa Arab itu sendiri. Setelah selama satu Semester siswa yang
belum dapat membaca huruf Arab ini mengikuti Program Iqro ternyata
perolehan nilai pada Semester berikutnya telah mengalami peningkatan.
Untuk mengetahui hasil yang telah dicapai dalam upaya mengatasi kurangya
minat siswa dalam mengokuti proses pembelajaran Bahasa Arab ini dapat dilihat
pada hasil prestasi nilai siswa Semester II bidang studi bahasa Arab. Hal ini dapat
dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 7: Daftar Nilai Bahasa Arab siswa MTs Farussaadah Arabiyah Senyerang
Tahun 2009.
No. Nama Siswa Nilai Smt. II Kategori
Baik Sedang
1
2. Afid Junaidi 7 *
3. A.Riyanto 5 *
4. Atika Sari 6 *

5. Deni Sri Wahyuni 5 *


6. Depi 6 *
7. Hendra Basuki 7 *
8. Hotmasari 6 *
9. Jumiardi 5 *
10. Lia Yusnita Dewi 6 *
11. Lagi Asri 5 *
12. Mila Rahmawati 6 *
13. Mariati 5 *
14. MTSwanto 5 *
15. Mirayanti 5 *
16. Nur Yuni Aisyah 8 *
17. Nur Wahid 7 *
18. Nur Baiti 6 *
19. Plasma Dewi 6 *
20. Rasmini 8 *
21. Royah 7 *
22. Siti Sholihah 8 *
23. Situyem 8 *
24. Supriyanto 5 *
25. Supriadi 5 *
26. Tina Indriani 8 *
27. Zainal Arifien 6 *
Jumlah 20 10
Berdasarkan data pada tabel d iatas serta hasil perhitungan maka dalam waktu
satu semester dengan adanya program Iqro bagi siswa yang belum dapat
membaca huruf Arab untuk mengatasi kurangnya minat siswa mengikuti proses
pembelajaran Bahasa Arab di Madrasah Tsanawiyah Farussaadah Arabiyah
Senyerang Kabupaten Tanjung Jabung Barat, ternyata didapatkan hasil yang
cukup baik, dimana yang semula siswa kelas 1 yang memperoleh nilai kurang
dalam pelajaran Bahasa Arab, maka sekarang sudah beloh dikatakan baik serta
sedikit demi sedikit dapat memenuhi target pencapaian tujuan pembelajaran
sesuai dengan apa yang diiginkan.

BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari hasil pembahasan dan uraian yang telah disebutkan pada bab-bab
sebelumnya dalam skripsi ini, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. MTs Farussaadah Arabiyah Senyerang Kabupaten Tanjung Jabung Barat,
proses pembelajaran Bahasa Arab telah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan
yang ada pada kurikulum Pendidikan Dasar berciri khas Agama Islam, yaitu GBPP
Madrasah Tsanawiyah Mata Pelajaran Bahasa Arab.
2. Minat siswa dalam proses pembelajaran bahasa Arab di MTs Farussaadah
Arabiyah Senyerang Kabupaten Tanjung Jabung Barat adalah kurang terutama
disebabkan kurangnya kemampuan siswa dalam membaca huruf Arab.
3. Upaya yang dilakukan untuk mengatasi kurangnya minat tersebut adalah
dengan memberikan pelajaran tambahan di luar jam belajar dengan materi cara
membaca huruf Arab atau disebut dengan program Iqro.
B. Saran-saran
Setelah mencermati minat siswa dalam pembelajaran Bahasa Arab di MTs
Senyerang, maka penulis perlu memberikan saran-saran kepada :
1. Siswa hendaknya terlebih dahulu membekali dirinya dengan kemampuan
membaca huruf Arab sebelum mengikuti pelajaran Bahasa Arab sehingga akan
dapat mengikuti pelajaran bahasa Arab dengan baik.
2. Guru Bidang Studi Bahasa Arab hendaknya memberi perhatian yang khusus
kepada siswa yang kemampuan membaca huruf Arabnya masih kurang,
mengingat minat siswa terkadang muncul manakala ia dapat memahami dan
mengerti sebauah mata pelajaran itu. Dan hal ini sangat berpengaruh dengan
hasil prestasi siswa.
3. Pihak pengelola pendidikan hendaknya lebih mengintensifkan kegiatan
pendidikan tambahan di luar jam sekolah untuk menunjang siswa yang
kemampuan dasar agama dan bahasa Arabnyanya masih rendah.
4. Agar dilakukan penelitian lebih lanjut terhadap miat siswa dalam proses
pembelajaran Bahasa Arab Di MTs Senyerang sehingga nantinya akan ada solusi
yang lebih baik lagi.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. (1993). Garis Garis Besar Program Pengajaran MTs mata Pelajaran
Bahasa Arab, Dirjen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama
RI, Jakarta.
Anonim. (1986). Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta.
Anonim (1977) Al-Quran dan terjemah, Jakarta : Depag. RI
Arikunto, Suharsimi. (1998). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek,
Jakarta : Rineka Cipta
Dahlan, Juwairiyah. (1992). Metode Belajar Mengajar Bahasa Asing, Surabaya :
Bina Aksara
Faisal, Sanfiah. (1990) Metode Penelitian Kualitati, YA 3, Malang.
Hadi, Sutrisno. (1983) Metode Resech Jilid I, Andi Ofset, Jakarta
Hadi Sutrisno. (1984) Metode Resech Jilid II, Andi Ofset, Jakarta
Koentjoroningrat. (1983) Metode Penelitian Masyarakat, Rineka Cipta, Jakarta.
Nasution. S. (1996), Dikdaktik Asas-asas Mengajar, Jemmars, Bandung.
Nasution. S. (1991), Metodologi Research, Jemmars, Bandung.
Nasution, (2000). Didaktis Asas-asas Mengajar. Jakarta ; Bumi Aksara.
Sardiman. AM. (1992), Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Rajawali, Jakarta.
Singarimbun, Masri dkk. (1987) Metode Penelitian Survei, LP3S, Jakarta.
Sujana, Nana. (1984). Nilai-nilai Dasar Pendidikan Islam, Serajaya, Jakarta.
Tafsir, Ahmad. (1992). Ilmu Pendidikan dalam Prospektif Islam. Bandung ; Remaja
Rosda Karya.