Anda di halaman 1dari 28

PENGELOLA ZAKAT

Makalah Ini Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah


Hukum Peribadatan Islam

Dosen Pengampu:
Dr. Imam Supriyadi, M. Th. I

Disusun oleh:
1. Arum Aisyah Abdullah
(C91215107)
2. Ayu Dewi Setyowati
(C91215109)
3. Bilqis
(C91215110)

PRODI HUKUM KELUARGA


FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
SURABAYA
2016
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah berkat rahmat, hidayah dan inayah Allah SWT kami dapat
merampungkan makalah ini. Walaupun banyak hal yang harus ditempuh sebelumnya, namun
hasil akhirnya sudah membanggakan kami secara pribadi. Shalawat dan salam semoga tetap
tercurah limpahkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai pembawa agama islam. Shalawat
dan salam juga semoga tercurahkan kepada sahabat dan kerabat yang telah membantu
perjuangan penyebaran agama islam.
Pada kesempatan ini sesuai dengan tugas yang diberikan, maka kami membuat dan
menyusun makalah yang berisikan tentang Pengelola Zakat.
Dalam proses membuat dan menyusun ada kiranya terdapat kesalahan, baik dalam
teknik hal penulisan, penyampaian materi, ataupun dalam hal isi. Semuanya tak lebih dari
proses belajar bersama menuju sesuatu yang baik ke depannya. Semoga makalah ini dapat
bermanfaat dan mungkin juga dapat diperbaiki oleh penyaji berikutnya.

Surabaya, Mei 2016


Penyusun

DAFTAR ISI

ii

KATA PENGANTAR.........................................................................................................ii
DAFTAR ISI.....................................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang......................................................................................................1
B. Rumusan Masalah.................................................................................................1
C. Tujuan Penulisan...................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian, Asas-asas, dan Tujuan Pengelola Zakat.............................................3
B. Organisasi Pengelola Zakat..................................................................................8
C. Wilayah Pembagian Tugas BAZ dan LAZ.........................................................13
D. Distribusi Pengelolaan Zakat..............................................................................14
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan.........................................................................................................22
B. Saran...................................................................................................................24
DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................................25

iii

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Zakat merupakan salah bentuk ibadah yang tidak bisa terlepas dari ajaran
islam, sehingga zakat dijadikan salah satu pasal yang ada didalam rukun islam, secara
garis besar zakat bukan saja ibadah yang mendekatkan diri kepada sang halik namun
yang paling penting adalah sifatnya yang mulia yaitu saling tolong menolong dalam
membantu mereka yang tidak mampu.
Salah satu pakar ekonomi Ibnu Kaldun dengan begitu pentingnya zakat
sehingga ia mengatakan, seorang tidak dianjurkan memakan atau menikmati sebuah
hasil kerja sementara orang lain dalam kedaan lapar. Dengan demikian zakat memiliki
dua sisi selain untuk mendekatkan diri kepada yang halik namun dilain sisi juga untuk
menciptakan kesejahteran sosial lewat zakat.
Dengan begitu pentingnya zakat, sehingga sejak zaman dahulu hingga
sekarang zakat merupakan salah satu penyumbang bagi masukan negara, hususnya
negara-negara islam didunia. Indonesia sendiri dalam kuruan waktu beberapa tahun,
jika dihitung-hitung dana zakat hampir menembus beberapa teriliun setiap tahunnya,
namun lagai-lagi yang menjadi kendala adalah perosedur pengelolaannya, bagi
manapun dan besar apapun

zakat yang dihasilkan oleh satu negara tidak akan

oktimal penyalaluranya tampa adanya lembaga dalam hal ini lembaga amil zakat.
Dengan begitu berpengaruhnya lembaga zakat dalam menyalurkan zakat
maka makalah ini mencoba membahas tentang lembaga pengelola zakat.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian, asas, dan tujuan pengelola zakat ?
2. Bagaimana organisasi dalam pengelolaan zakat ?
3. Bagaimana wilayah pembagian tugas BAZ dan LAZ ?
4. Bagaimana distribusi pengelolaan zakat ?
1

C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui pengertian, asas, dan tujuan pengelola zakat.
2. Untuk mengetahui organisasi dalam pengelolaan zakat.
3. Untuk mengetahui wilayah pembagian tugas BAZ dan LAZ.
4. Untuk mengetahui distribusi pengelolaan zakat.

BAB II
2

PEMBAHASAN

A. Pengertian, Asas, dan Tujuan Pengelola Zakat


1. Pengertian Pengelola Zakat.
Manajemen adalah ilmu yang sangat penting yang telah memasuki dan
mempengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan. Dengan managemen manusia
mampu mempraktikkan cara-cara efektif dan efisien dalam pelaksanaan pekerjaan.
Begitu pula halnya dengan kepengurusan zakat, managemen dapat dimanfaatkan
untuk merencanakan, menghimpun, mendayagunakan dan mengembangkan perolehan
dana zakat secara efektif dan efisien. Manajemen adalah ilmu yang mengajarkan
langkah dan cara terpadu dalam memanfaat tenaga orang lain untuk mencapai tujuan
organisasi. Manajemen takterpisahkan dari organisasi sebagai satu kesatuan.
Dalam organisasi, manajemen merupakan suatu kebutuhan yang tak
terelakkan sebagai alat untuk memudahkan pencapaian tujuan organisasi. Managemen
diperlukan untuk mengelola berbagai sumber daya organisasi seperti sarana dan
prasarana, modal, waktu, sumber daya manusia, metode kerja dan sebagainya secara
efektif dan efisien.1
Dalam pengelolaan zakat, pengumpulan dan pendistribusian zakat merupakan
dua hal yang sama pentingnya. Namun al-Quran lebih memperhatikan masalah
pendistribusiannya.

Hal

ini

disebabkan

pendistribusian

mencangkup

pula

pengumpulan. Apa yang akan didistribusikan jika tidak ada sesuatu yang lebih dulu
dikumpulkan atau didahulukan. Lagi pula, zakat tidak begitu sukar dikumpulkan
karena muzakki lebih suka menyetor zakat dari pada menunggu untuk dipungut,
sedangkan pendistribusiannya lebih sulit dan memerlukan berbagai sarana dan
fasilitas serta aktifitas pendataan dan pengawasan. Tanpa itu sangat mungkin
pendistribusian zakat diselewengkan.
Adapun tugas para pengelola zakat menurut Undang-undang Nomor 23
Tahun 2011 tentang pengelolaan zakat pada pasal 1 berbunyi bahwa pengelolaan
zakat adalah kegiatan perencanaan, pelaksanaan, dan pengoordinasian dalam
pengumpulan, pendistribusian, dan pendayagunaan zakat. Berdasarkan undangundang tersebut, tugas para pengelola zakat meliputi:
1

Umrotul Khasanah, Manajemen Zakat Modern, (Malang: UIN-MALIKI PRESS, 2010), h. 6263

a. Perencanaan; pada tahap ini para pengelola zakat merencanakan programprogram zakat yang diawali dengan sosialisasi zakat kepada masyarakat,
mendata jumlah muzakki dan jumlah mustahik yang berhak menerima
harta zakat.
b. Pelaksanaan; pada tahap ini para pengelola zakat melakukan kegiatan inti
yang meliputi pengumpulan, pendistribusian dan pendayagunaan zakat.
c. Pengoordisian; pada tahap ini para pengelola zakat melakukan koordinasi
kepada pihak-pihak yang bisa diajak untuk mengembangkan dan
memberdayakan zakat sebagai potensi untuk meninggikan taraf hidup
masyarakat, seperti pemerintah pusat dan daerah, lembaga-lembaga
formal dan non formal, lembaga-lembaga keuangan dan lain sebagainya.2
Dalam melaksanakan zakat ditatanan kehidupan masyrakat islam di
Indonesia, pelaksanaan zakat didasarkan pada firman Allah SWT, yang terdapat
didalam surat At-Taubah: 60.











Artinya :
Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orangorang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk
(memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk
mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan
Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana . (QS.At-Taubah: 60).
Didalam surat At-Taubah: 60 tersebut dikemukakan bahwa salah satu
golongan yang berhak menerima zakat adalah (mustahik zakat), mustahik zakat
adalah: orang yang bertugas mengurus zakat (amilina alaiha). Imam Qurtubi
mendefinisikan bahwa amil adalah: orang yang ditugaskan (diutus oleh imam atau
pemerintah) untuk mengambil, menulis, menghitung dan mencatat zakat yang diambil
dari para muzakki yang kemudian diberikan kepada yang berhak menerimanya.
2

M. Zaidi Abdad, lembaga perekonomian ummat di dunia islam, (Bandung: Angkasa


Bandung, 2003), h. 35

Dilain sisi berdasarkan definisi yang dikemukan oleh Imam Qurtubi tentang
amil, nampaknya fungsi amil menempati posisi yang sangat erat, mengingat kebijakan
zakat diarahkan kepada perwujutan keadilan sosial dan perikemanusiaan serta
memelihara kemanan dan ketahanan kedilan sosial disamping merupakan pendorong
dan pensetabilan ekonomi umat.3
Surat at-Taubah ayat 103 lebih lanjut dapat dijadikan acuan di dalam
membentuk suatu lembaga pengelolaan zakat:





Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu
membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya
doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha mendengar
lagi Maha mengetahui.
Lembaga atau jamaah pengelola zakat tersebut tampaknya menuntut
kepempinan yang berwibawa, yakni yang mampu menggerakan kaum musilimin
bahwa zakat berfungsi membersihkan diri dari kekikiran dan cinta harta yang
berlebihan. Selain itu, mensucikan (menyuburkan sifat kebaikan) bahkan lebih serius
lagi haruslah sampai kepada tingkatan yang menetramkan jiwa.
Pada zaman Rasulullah SAW, dikenal sebuah lembaga yang disebut Baitul
Maal. Baitul Maal ini memiliki tugas dan fungsi mengelola keuangan negara. Sumber
pemasukannya berasal dari dana zakat, infaq, ghanimah, dan lain-lain. Sedangkan
penggunaannya untuk ashnaf mustahiq yang telah ditentukan, untuk kepentingan
dawah, pendidikan, pertahanan, kesejahteraan sosial, pembuatan infrastrukur, dan
lain sebagainya.4
Kenyataan menunjukkan bahwa di Indonesia, organisasi pengelola zakat telah
ada sejak dahulu. Baik dalam bentuk pesantren, yayasan-yayasan sosial, maupun
bentuk-bentuk lainnya. Lembaga-lembaga ini biasanya menerima dana-dana zakat,
infaq, shadaqah, maupun wakaf dari masyarakat yang kemudian disalurkan melalui
3

Yusuf Qardawi, Peran Nilai dan Moral dalam Perekonomian Islam, (Jakarta: Robbani
Press 1997), h. 57
4
Ismail Nawawi, Zakat dalam perspektif fiqh, social, dan ekonomi, (Surabaya: CV
Putra Media Nusantara, 2010), h. 51-52

program-program sosial, seperti pembangunan masjid dan pesantren, program


dawah, bantuan kepada anak yatim, serta berbagai program sosial lainnya.
Untuk

dapat

mengumpulkan

zakat

dan

mendistribusikannya

untuk

kepentingan mustahik, pada tahun 1999, dibentuk Undang-Undang (UU) tentang


Pengelolaan Zakat, yaitu UU No. 38 Tahun 1999. UU ini kemudian ditindaklanjuti
dengan Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 581 Tahun 1999 tentang
Pelaksanaan UU Pengelolaan Zakat dan Keputusan Dirjen Bimas Islam dan Urusan
Haji Nomor D/291 Tahun 2000 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Zakat.
Sebelumnya pada tahun 1997 juga keluar Keputusan Menteri Sosial Nomor 19 Tahun
1998, yang memberi wewenang kepada masyarakat yang menyelenggarakan
pelayanan kesejahteraan sosial bagi fakir miskin untuk melakukan pengumpulan dana
maupun menerima dan menyalurkan zakat, infak dan sedekah (ZIS). Diberlakukannya
beragam peraturan tersebut telah mendorong lahirnya berbagai Lembaga Pengelola
Zakat (LPZ) di Indonesia. Kemunculan lembaga-lembaga itu diharapkan mampu
merealisasikan potensi zakat di Indonesia.5
2. Asas-asas Pengelola Zakat.
Sebagai sebuah lembaga, Lembaga Pengelolaan Zakat memiliki asas-asas
yang menjadi pedoman kerjanya. Dalam UU No. 23 Tahun 2011, disebutkan bahwa
Asas-asas Lembaga Pengelola Zakat adalah:6
a. Syariat Islam. Dalam menjalankan tugas dan fungsinya, Lembaga
Pengelola Zakat haruslah berpedoman sesuai dengan syariat Islam, mulai
dari tata cara perekrutan pegawai hingga tata cara pendistribusian zakat.
b. Amanah. Lembaga Pengelola Zakat haruslah menjadi lembaga yang dapat
dipercaya.
c. Kemanfaatan. Lembaga Pengelola Zakat harus mampu memberikan
manfaat yang sebesar-besarnya bagi mustahik.
d. Keadilan. Dalam mendistribusikan zakat, Lembaga Pengelola Zakat harus
mampu bertindak adil.
e. Kepastian hukum. Muzakki dan mustahik harus memiliki jaminan dan
kepastian hukum dalam proses pengelolaan zakat.
5

Undang-undang Republik indonesia Nomor 23 tahun 2011 Tentang Pengelolaan Zakat,


Pasal 12.
6
Suparman Usman, Hukum Islam : Asas-asas dan Pengantar Studi Hukum Islam dalam
Indonesia, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2002), h. 164.

f. Terintegrasi. Pengelolaan zakat harus dilakukan secara hierarkis sehingga


mampu

meningkatkan

kinerja

pengumpulan,

pendistribusian,

dan

pendayagunaan zakat.
g. Akuntabilitas. Pengelolaan zakat harus bisa dipertanggung jawabkan
kepada masyarakat dan mudah diakses oleh masyarakat dan pihak lain
yang berkepentingan.
Pengelola zakat yang berkualitas sebaiknya mampu mengelola zakat yang ada
secara efektif dan efisien. Program-program penyaluran zakat harus benar-benar
menyentuh mustahik dan memiliki nilai manfaat bagi mustahik tersebut. Lembaga
pengelola zakat juga harus bersikap responsif terhadap kebutuhan mustahik, muzakki,
dan alam sekitarnya. Hal ini mendorong amil zakat untuk bersifat proaktif, antisipatif,
inovatif, dan kreatif sehingga tidak hanya bersifat pasif dan reaktif terhadap fenomena
sosial yang terjadi, Selain itu, seluruh organisasi pengelola zakat telah memahami
dengan baik syariat dan seluk beluk zakat sehingga pengelolaan zakat tetap berada
dalam hukum Islam, tentunya hal ini sejalan dengan asas-asas pengelolaan zakat.
3. Tujuan Pengelola Zakat.
Berdasarkan UU No. 23 Tahun 2011, tujuan pengelolaan zakat adalah:
a. Meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelayanan dalam pengelolaan
zakat. Pengelolaan zakat yang baik akan memudahkan langkah sebuah
LPZ untuk mencapai tujuan inti dari zakat itu sendiri, yaitu optimalisasi
zakat. Dengan bertindak efisien dan efektif, LPZ mampu memanfaatkan
dana zakat yang ada dengan maksimal.
b. Meningkatkan manfaat zakat untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat
dan penanggulangan kemiskinan. Pengelolaan zakat dimaksudkan agar
dana zakat yang disalurkan benar-benar sampai pada orang yang tepat dan
menyalurkan dana zakat tersebut dalam bentuk yang produktif sehingga
mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pemanfaatan zakat untuk
hal yang produktif dapat dilakukan dengan mendirikan Rumah Asuh,
melakukan pelatihan home industry, mendirikan sekolah gratis, dan
sebagainya.7

Didin Hafidhuddin, Zakat dalam Perekonomian Modern, (Jakarta: Gema Insani, 2004), h.
127-130

B. Organisasi dalam Pengelolaan Zakat


Sesuai dengan konsep Al-Quran, Amil adalah orang-orang yang bertugas
mengurus zakat, seperti penarik zakat, penulis dan penjaganya. Dan awal
terbentuknya BAZ dan LAZ diprakarsai oleh undang-undang Nomor 38 Tahun 1999
tentang Pengelolaan Zakat, Lahirnya Undang-Undang Nomor 38 Tahun 1999
dilatarbelakangi oleh kenyataan sosiologis, bahwa masyarakat Indonesia mayoritas
beragama Islam. Dimana Islam telah menentukan kewajiban-kewajiban yang harus
dipatuhi oleh para penganutnya. Salah satu kewajiban tersebut yang mempunyai
implikasi sangat luas terhadap kehidupan masyarakat adalah kewajiban untuk
menunaikan zakat.
Lembaga yang secara formal diakui oleh Undang-Undang Nomor 38 Tahun
1999 sebagai lembaga yang berhak mengelola zakat adalah Badan Amil Zakat (BAZ)
dan Lembaga Amil Zakat (LAZ). Oleh karena itu kedua lembaga ini memiliki peran
dan fungsi yang strategis, baik dilihat dari perspektif pemberdayaan sosial-ekonomi
umat maupun dari hubungan zakat dengan perpajakan.8
BAZ dan LAZ mempunyai tugas pokok mengumpulkan, mendistribusikan dan
mendayagunaan zakat sesuai dengan ketentuan agama. Dalam melaksanakan tugasnya
LAZ dan BAZ bertanggung jawab kepada pemerintah sesuai dengan tingkatannya
(pasal 8 dan 9 undang-undang jo. Pasal 1 KMA).
1. Badan Amil Zakat (BAZ).
Pembentukan BAZ merupakan hak otoritatif pemerintah, sehingga
hanya pemerintah yang berhak membentuk BAZ, baik untuk tingkat
nasional sampai tingkat kecamatan. Semua tingkatan tersebut memiliki
hubungan kerja yang bersifat koordinatif, konsultatif, dan informatif.9
BAZ adalah organisasi pengelola zakat yang dibentuk oleh pemerintah
terdiri

dari

unsur

masyarakat

dan

pemerintah

dengan

tugas

mengumpulkan, mendistribusikan, mendayagunaan zakat sesuai dengan


ketentuan agama. Badan Amil Zakat meliputi BAZ Nasional, BAZ
Propinsi, BAZ Kabupaten/Kota, BAZ Kecamatan.
Badan Amil Zakat terdiri atas ulama, kaum cendekia, tokoh
masyarakat, tenaga professional dan wakil pemerintah. Mereka harus
memenuhi persyaratan-persyaratan antara lain: memiliki sifat amanah,
8
9

Umrotul Khasanah, Op.cit, h. 69


Didin Hafidhuddin, Op.cit, h. 143

adil, berdedikasi, professional dan berintergritas tinggi. Masa tugas


pelaksanaannya selama tiga tahun.
Tanggung jawab, wewenang dan tata kerja BAZ meliputi:
a. Ketua badan pelaksana BAZ bertindak dan bertanggung jawab
untuk dan atas nama Badan Amil Zakat baik ke dalam maupun
keluar.
b. Dalam melaksanakan tugasnya masing-masing BAZ menerapkan
prinsip koordinasi, integrasi dan sinkronisasi di lingkungan
masing-masing, serta melakukan konsultasi dan memberikan
informasi antar BAZ di semua tingkatan.
c. Setiap pimpinan satuan organisasi di lingkungan BAZ bertanggung
jawab

mengkoordinasikan

bawahannya

masing-masing

dan

memberikan bimbingan serta petunjuk bagi pelaksanaan tugas


bawahan.
d. Setiap pimpinan satuan organisasi di lingkungan BAZ wajib
mengikuti dan mematuhi ketentuan serta bertanggung jawab
kepada atasan masing-masing dan menyampaikan berkala tepat
pada waktunya.
e. Setiap kepala divisi/bidang/seksi/urusan BAZ menyampaikan
laporan dengan kepala BAZ melalui sekretaris, dan sekretaris
menampung laporan-laporan tersebut serta menyusun laporanlaporan berkala BAZ.
f. Setiap laporan yang diterima oleh pimpinan BAZ wajib diolah dan
digunakan sebagai bahan untuk penyusunan laporan lebih lanjut
dan untuk memberikan arahan kepada bawahannya.
g. Dalam melaksanakan tugasnya setiap pimpinan satuan organisasi
BAZ dibantu oleh kepala satuan organisasi di bawahnya dan dalam
rangka pemberian bimbingan kepada bawahan masing-masing
wajib mengadakan rapat bekala.
h. Dalam melaksanakan tugasnya BAZ memberikan laporan tahunan
kepada pemerintah sesuai dengan tingkatannya.10

10

Umrotul Khasanah, Op.cit, h. 72

Tugas Badan Amil Zakat. Tugas BAZ dari Nasional sampai Kecamatan
sebagai berikut :
a. Menyelenggarakan tugas administratif dan teknis pengumpulan,
pendistribusian dan pendayagunaan zakat.
b. Mengumpulkan dan mengolah data yang diperlukan untuk
penyusunan rencana pengelolaan zakat.
c. Menyelenggarakan

bimbingan

di

bidang

pengelolaan,

pengumpulan, pendistribusian dan pendayagunaan zakat.


d. Melaksanakan pengumpulan, pendistribusian, dan pendayagunaan
zakat, menyusun rencana dan program pelaksanaan pengumpulan,
pendistribusian, pendayagunaan dan pengembangan pengelolaan
zakat. (tingkat Kabupaten/Kota dan Kecamatan).
e. Menyelenggarakan

tugas

penelitian

dan

pengembangan,

komunikasi informasi, dan edukasi pengelolaan zakat. (tingkat


Nasional dan propinsi).
2. Lembaga Amil Zakat (LAZ).
Menurut pasal 1 Ayat (2) Keputusan Menteri Agama No 581 tahun
1999 tentang Pelaksanaan UU No 38 tahun 1999, yang dimaksud dengan
Lembaga Amil Zakat adalah institusi pengelolaan zakat yang sepenuhnya
dibentuk atas prakarsa masyarakat dan oleh masyarakat yang bergerak
dibidang dawah, pendidikan, sosial dan kemaslahatan umat Islam. Badan
amil

zakat

dan

lembaga

amil

zakat

mempunyai

tugas

pokok

mengumpulkan, mendistribusikan dan mendayagunakan zakat sesuai


ketentuan agama (pasal 8 UU No. 38 tahun 1999). Lembaga Amil Zakat
(LAZ) mempunyai otoritas dalam menghimpun, mendistribusikan, dan
memanfaatkan zakat untuk khalayak umum berdasarkan syariah. Tidak
semua orang berhak mengelolanya dan tidak semua orang dapat
menikmatinya. Untuk mengelola dan mengembangkan zakat itu kita harus
memiliki potensi kepemimpinan yang berwibawa, dan berpengaruh.

10

Lembaga amil zakat harus mempunyai perencanan yang terpadu dalam


rangka mengentaskan kemiskinan secara sistematis.11
Yang patut disyukuri oleh kita saat ini adalah masih banyaknya orangorang yang peduli terhadap derita yang dialami oleh lingkungan sekitar
kita. Saking besarnya kepedulian itu, maka munculnya lembaga amil zakat
di

beberapa

daerah,

di

masjid-masjid,

bahkan

di

lembaga

pemerintah/swasta bagaikan cendawan yang tumbuh di musim hujan.


Pengumpulan harta zakat dari tahun ketahun semakin bertambah seiring
dengan pertambahan jumlah lembaga zakat yang berdiri untuk menjadi
pengelola harta zakat, meskipun masih jauh dari potensi yang seharusnya
bisa terkumpul. Di satu sisi, hal ini patut diapresiasi. Berarti negeri ini
telah membantah kalau nilai sosial masyarakatnya telah luntur dan hilang
kepedulian. Namun di sisi lain, menjamurnya lembaga amil zakat bisa
menimbulkan tidak efisiennya pengelolaan dan penyaluran dana zakat,
infak dan shadaqah. Oleh karena itu, pentingnya fungsi koordinatif,
konsultatif, dan informatif dalam penghimpunan dan penyaluran dana
harus dilakukan oleh badan yang diakui oleh seluruh Lembaga Amil Zakat
dan otoritas negara.
Keuntungan-keuntungan apabila zakat dipungut oleh Lembaga Amil
Zakat , yaitu:
a.

Para wajib zakat lebih disiplin dalam menunaikan kewajibannya


dan fakir miskin lebih terjamin haknya.

b. Perasaan fakir miskin lebih dapat terjaga.


c.

Pembagian zakat akan menjadi lebih tertib.

d. Zakat

yang diperuntukkan bagi kepentingan umum seperti

sabillilah,

misalnya

dapat

disalurkan dengan baik karena

pemerintah lebih mengetahui sasaran pemanfaatannya.12


Sebuah lembaga amil zakat harus mempunyai sifat yaitu:
a. independen, artinya lembaga ini tidak mempunyai ketergantungan
terhadap orang-orang tertentu atau lembaga lain. Sehingga akan
11

M. Arief Mufraini, Akuntansi dan Manajemen Zakat, (Jakarta: Kencana Prenada Media
Group, 2006), h. 86
12
Ismail Nawawi, Op.cit, h. 66

11

lebih leluasa dalam memberikan pertanggungjawaban kepada


muzakki.
b. netral, lembaga ini didominasi oleh masyarakat sehingga dalam
menjalankan kegiatannya tidak boleh hanya mementingkan
golongan tertentu saja.
c. tidak berpolitik praktis, harus dapat dipastikan bahwa lembaga ini
tidak terjebak dalam kegiatannya politik praktis serta tidak dapat
digunakan untuk kepentingan partai politik tertentu.
d. tidak diskriminasi, dalam menyalurkan dana zakat lembaga tidak
boleh mendasarkan pada perbedaan suku dan golongan. Tetapi
selalu

menggunakan

parameter

yang

jelas

dan

dapat

dipertanggungjawabkan secara syariah.


e. legalitas dan struktur organisasi, bentuk badan hokum lembaga
amil zakat harus sesuai dengan yayasan yang terdaftar pada akta
notaris di pengadilan negeri. Untuk struktur organisasi harus dibuat
sebaik mungkin sehingga kinerja lembaga amil zakat dapat efektif
dan efesien.13
Suatu lembaga amil zakat harus mempunyai sistem pengelolaan yang
baik. Sedangkan unsur-unsur yang harus diperhatikan adalah:
a. Memiliki sistem, prosedur dan aturan yang jelas.
b. Manajemen terbuka.
c. Mempunyai rencana kerja yang jelas.
d. Memilki komite penyaluran.
e. Memiliki system akutansi dan manajemen keuangan.
f.

Perbaikan secara terus-menerus.

Umumnya zakat yang diberikan kepada mustahiq merupakan dana


konsumtif, yaitu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ini kurang
begitu membantu mereka untuk jangka panjang, karena uang atau barang
kebutuhan sehari-hari yang telah diberikan akan segera habis dan mereka
13

Umrotul Khasanah, Op.cit, h. 83-85

12

akan kembali hidup dalam keadaan fakir atau miskin. Banyak sekali
pendapat bahwa zakat yang disalurkan kepada dua golongan ini dapat
bersifat produktif, yaitu untuk menambah atau sebagai modal usaha
mereka.
C. Wilayah Pembagian Tugas BAZ dan LAZ
Jakupan wilayah kerja BAZ biasanya sangat terbatas, artinya budget amil
akan sangat terkuras bila harus menjaring daerah-daerah pelosok yang basanya justeru
menuntut perhatian. sedangakna justifikasi menetapkan hak amil hanya 1/8 atau
12,5% saja dari dana yang terkumpul, alokasi dana ini akan cukup minim untuk
biayaya oprasional yang dikembangkan oleh BAZ padahal besar 1/8 ini sangat
bergantung kepada besaran hasil pengumpulan dana zakat itu sendiri.
Kemudian dalam pengelolaan dengan menuju kepada jaringan evektifitas kerja
BAZ dapat dikendalikan pengoptimalkan jika bias bertumpu kepada jaringan yang
mempu mengolah informasi, dengan adanya informasi pemetaan antara garis pemisah
muslim yang surflus dan muslim yang defisit dapat menjadi objek untuk mentransfer
antar lembaga-lembaga Amil Zakat. Kepercayaan pemerintah dengan mengundangundangkan permasalahan sistem pengelolaan zakat sudah cukup untuk menjadi modal
ummat untuk bisa mengorganisir sistem peleksanaan zakat, sebagai mana yang diatur
dalam Undang-Undang nomor 38 tahun 1999 tentang pengelolaan zakat disebutkan
didalam pasal 2 mengenai susunan jaringan dan organisasi BAZ nasional yang
berkedudukan di ibu kota Negara, BAZ provinsi yang berkedudukan di ibu kota
provinsi, BAZ daerah yang berkedudukan di ibu kota kabupaten, dan terakhir BAZ
kecamatan yang berkedudukan di ibu kota kecamatan.14
Pengukuhan BAZ/LAZ dilakukan oleh pemerintah atas usul BAZ/LAZ yang
telah memenuhi persyaratan. Pengukuhan dilaksanakan setelah terlebih dahulu
dilakukan penelitian persyaratan. Pengukuhan dapat dibatalkan apabila BAZ/LAZ
tersebut tidak lagi memenuhi persyaratan. Pemerintah yang dimaksud adalah :
1. Tingkat Nasional dibentuk oleh Presiden dan usul Menteri Agama. BAZ/LAZ
Nasional berkedudukan di Ibu Kota Negara,
2. Tingkat Propinsi dibentuk oleh Gubernur dan usul Kantor Wilayah
Departemen Agama Propinsi. BAZ/LAZ Propinsi berkedudukan di ibu kota
Propinsi,
14

M. Arief Mufraini, Op.cit, h. 140-141

13

3. Tingkat Kabupaten/Kota dibentuk oleh Bupati/Walikota dan Departemen


Agama Kabupaten/Kota. Berkedudukan di ibu kota Kabupaten/Kota,
4. Tingkat Kecamatan dibentuk oleh camat atau usul Kantor Kepala Kantor
Urusan Agama Kecamatan. Berkedudukan ibu kota Kecamatan.
D. Distribusi Pengelolaan Zakat
Ada beberapa ketentuan dalam mendistribusikan dana zakat kepada mustahiq:
1. Mengutamakan distribusi domestik, dengan melakukan distribusi lokal atau lebih
mengutamakan penerima zakat yang berada dalam lingkungan terdekat dengan
lembaga zakat (wilayah muzakki) dibandingkan pendistribusiannya untuk wilayah
lain,
2. Pendistribusian yang merata dengan kaidah-kaidah sebagai berikut:
a. Bila zakat yang dihasilkan banyak, seyogyanya setiap golongan mendapat
bagiannya sesuai dengan kebutuhan masing-masing,
b. Pendistribusiannya haruslah menyeluruh kepada delapan golongan yang telah
ditetapkan,
c. Diperbolehkan untuk memberikan semua bagian zakat kepada beberapa
golongan penerima zakat saja, apabila didapati bahwa kebutuhan yang ada
pada golongan tersebut memerlukan penanganan secara khusus,
d. Menjadikan golongan fakir miskin sebagai golongan pertama yang menerima
zakat, karena memenuhi kebutuhan mereka dan membuatnya tidak bergantung
kepada golongan lain adalah maksud dan tujuan diwajibkannya zakat,
e. Seyogyanya mengambil pendapat Imam Syafii sebagai kebijakan umum
dalam menentukan bagian maksimal untuk diberikan kepada petugas zakat,
baik yang bertugas dalam mengumpulkan maupun yang mendistribusikannya.
3. Membangun kepercayaan antara pemberi dan penerima zakat. Zakat baru bisa
diberikan setelah adanya keyakinan dan juga kepercayaan bahwa si penerima
adalah orang yang berhak dengan cara mengetahui atau menanyakan hal tersebut
kepada orang-orang adil yang tinggal di lingkungannya, ataupun yang mengetahui
keadaannya yang sebenarnya.15
15

Hertanto Widodo, Akuntansi dan Manajemen Keuangan untuk Organisasi Pengelola


Zakat, (Bandung: Percetakan Asy Syaamil Press dan Grafika, 2001), h. 97-101

14

Agar dana zakat yang disalurkan itu dapat berdaya guna dan berhasil guna, maka
pemanfaatannya harus selektif untuk kebutuhan konsumtif atau produktif. Mekanisme
distribusi zakat kepada mustahiq bersifat konsumtif dan juga produktif. Menurut
Mufraini distribusi zakat tidak hanya dengan dua cara akan tetapi ada tiga yaitu:
distribusi konsumtif, distribusi produktif, dan investasi.
1. Distribusi Konsumtif Dana Zakat.
Dalam distribusi konsumtif disini dapat diklarifikasi menjadi dua, yaitu:16
a. Tradisional. Zakat dibagikan kepada mustahiq dengan secara langsung untuk
kebutuhan konsumsi sehari-hari. Misalnya pembagian zakat fitrah berupa
beras dan uang kepada fakir miskin setiap idul fitri. Pola ini merupakan
program jangka pendek dalam mengatasi permasalahan umat.
b. Kreatif. Zakat yang diwujudkan dalam bentuk barang konsumtif dan
digunakan untuk membantu orang miskin dalam mengatasi permasalahan
sosial dan ekonomi yang dihadapi. Proses pengkonsumsian dalam bentuk lain
dari barangnya semula.17 Misalnya diberikan dalam bentuk beasiswa untuk
pelajar.
Pola pendistribusian dana zakat secara konsumtif diarahkan kepada:
a. Upaya pemenuhan kebutuhan konsumsi dasar dari para mustahiq. Sama
halnya dengan pola distribusi konsumtif tradisional yang realisasinya tidak
jauh pada pemenuhan sembako bagi kelompok delapan asnaf. Yang menjadi
persoalan kemudian adalah seberapa besar volume zakat, apakah untuk
kebutuhan konsumtif sepanjang tahun, atau hanya untuk memenuhi kebutuhan
makan satu hari satu malam. Pendistribusian yang seperti ini sangat tidak
mendidik jika diberikan sepanjang tahun dan tidak berarti apa-apa jika untuk
satu hari satu malam saja.
b. Upaya pemenuhan kebutuhan yang berkaitan dengan tingkat kesejahteraan
sosial dan psikologis. Diarahkan kepada pendistribusian konsumtif non
makanan, walaupun untuk keperluan konsumsi mustahiq. Misalnya untuk
peningkatan kesejahteraan social yaitu pengupayaan renovasi tempat-tempat
pemukiman. Sedangkan untuk kesejahteraan psikologis adalah dengan

16

Fachruddin, Fiqh dan Manajemen Zakat di Indonesia (Yogyakarta: Sukses Offset, 2008),
h. 314
17
Amiruddin, dkk. Anatomi Fiqh Zakat (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), h. 3

15

Lembaga Zakat menyalurkan dalam bentuk bantuan pembiayaan. Misal nikah


masal, sunat masal bagi anak-anak mustahiq.
c. Upaya pemenuhan kebutuhan yang berkaitan dengan peningkatan SDM agar
dapat bersaing hidup di alam transisi ekonomi dan demokrasi Indonesia.
Peningkatan kualitas pendidikan mustahiq. Baik berupa beasiswa sekolah,
pelatihan-pelatihan dan peningkatan keterampilan non formal. Yang dapat
dimanfaatkan untuk kelanjutan menjalani kehidupan dan menggapai
kesejahteraannya.
2. Distribusi Produktif Dana Zakat.
Zakat produktif ini akan mampu membangun perekonomian negeri,
memberantas

kemiskinan,

menghilangkan

kebodohan,

dan

menyiapkan

masyarakat untuk menjadikan tangan mereka selalu ada di atas (dermawan).


Karena itu, harta zakat tidak semata disalurkan dalam bentuk materi yang bisa
langsung dinikmati oleh para mustahik, mereka mendapatkan uang atau bahan
makanan yang bisa dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka tetapi
juga mampu menghilangkan kesulitan mereka dan mengangkat derajat kehidupan
mereka menjadi lebih baik.
Penyaluran zakat bukan dengan cara memberikan ikan yang bisa langsung
dimasak namun bagaimana mendayagunakan kail sehingga bisa mendapatkan ikan
yang lebih banyak. Peran inilah yang seharusnya menjadi ruh dalam
menyalurkan zakat, yakni memberdayakan masyarakat. Itulah yang disebut
dengan zakat produktif.
Pasal 27 Undang-undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang pengelolaan zakat
mengatur tentang zakat produktif sebagai berikut:
a. Zakat dapat didayagunakan untuk usaha produktif dalam rangka penanganan
fakir miskin dan peningkatan kualitas umat,
b. Pendayagunaan zakat untuk usaha produktif dimaksud dalam ayat (1)
dilakukan apabila kebutuhan dasar mustahik sudah terpenuhi,
c. Ketentuan lebih lanjut mengenai pendayagunaan zakat untuk usaha produktif
sebagaimana diatur melalui peraturan menteri.
Pola distribusi dana zakat produktif menjadi menarik untuk dibahas mengingat
statement syariah menegaskan bahwa dana zakat yang terkumpul sepenuhnya
16

adalah hak milik dari mustahiq delapan asnaf. Konsep distribusi produktif yang
dikedepankan oleh sejumlah lembaga pengumpul zakat, biasanya dipadukan
dengan dana lain yang terkumpul, misal infaq dan sadaqah.
Dalam Pendistribusian Zakat Produktif disini dapat diklarifikasikan menjadi
dua bagian yaitu antara lain:18
a. Tradisional/konvensional. Zakat yang diberikan dalam bentuk barang-barang
produktif, dimana dengan menggunakan barang-barang tersebut, para
mustahiq dapat menciptakan suatu usaha. Misalnya pemberian bantuan ternak
kambing, sapi.
b. Kreatif. Zakat yang diwujudkan dalam bentuk pemberian modal bergulir, baik
untuk permodalan proyek sosial seperti membangun sekolah, tempat ibadah,
maupun sebagai modal usaha untuk membantu mengembangkan usaha para
pedagang atau pengusaha kecil.19
Zakat secara produktif ini bukan tanpa dasar, zakat ini pernah terjadi di zaman
Rasulullah dikemukakan dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim dari Salim
Bin Abdillah Bin Umar dari ayahnya, bahwa Rasulullah telah memberikan
kepadanya zakat lalu menyuruhnya untuk dikembangkan atau disedekahkan lagi.
Dalam kaitan dengan penyaluran zakat yang bersifat produktif, ada pendapat
menarik yang dikemukakan oleh Syekh Yusuf Qardhawi, dalam bukunya yang
fenomenal, yaitu Fiqh Zakat, bahwa pemerintah Islam diperbolehkan membangun
pabrik-pabrik atau perusahaan-perusahaan dari uang zakat untuk kemudian
kepemilikan dan keuntungannya bagi kepentingan fakir miskin, sehingga akan
terpenuhi kebutuhan hidup mereka sepanjang masa. Dan untuk saat ini peranan
pemerintah dalam pengelolaan zakat digantikan oleh Badan Amil Zakat atau
Lembaga Amil Zakat.20
Menurut K.H. Didin Hafidhuddin,M.Sc. BAZ ataupun LAZ, jika memberikan
zakat

yang

bersifat produktif, harus

pula melakukan

pembinaan

dan

pendampingan kepada para mustahik agar kegiatan usahanya dapat berjalan


dengan baik. Disamping melakukan pembinaan dan pendampingan kepada para
mustahik dalam kegiatan usahanya, BAZ dan LAZ juga harus memberikan
18

Ibid
Departemen Agama, Manajemen Pengelolaan Zakat (Depok: Direktorat Pengembangan
Zakat dan Wakaf, 2005), h. 35-36.
20
Yusuf Al-Qardawi. Hukum Zakat, Edisi terjemahan (Bogor: Litera AntarNusa, . 1997), h.
121
19

17

pembinaan ruhani dan intelektual keagamaannya agar semakin meningkat kualitas


keimanan dan keIslamanannya.
Selain sebagai modal usaha, penyaluran zakat produktif juga dapat berupa
penyediaan sarana kesehatan gratis dan sekolah gratis untuk anak keluarga miskin.
Tetapi sekali lagi, pendataan keluarga miskin ini harus dilakukan dengan ketat
agar zakat tidak terdistribusi kepada golongan yang tidak berhak.
Pola distribusi zakat produktif yang dikembangkan pada umunya mengambil
skema qardul hasan. Yaitu salah satu bentuk pinjaman yang menetapkan tidak
adanya tingkat pengembalian tertentu dari pokok pinjaman. Namun bila ternyata
si peminjam dana tersebut tidak mampu mengembalikan pokok tersebut, maka
hukum zakat mengidentifikasikan bahwa si peminjam tersebut tidak dapat dituntut
atas ketidakmampuannya tersebut, karena pada dasarnya dana tersebut adalah hak
mereka.
Pola distribusi produktif yang mengedepankan pola qardul hasan dapat
diilustrasikan sbb:

Ada juga penyaluran dana zakat produktif yang memanfaatkan skema


mudharabah. Lembaga BAZIS membuat inovasi dimana lembaga amil tersenut
berlaku sebagai investor (mudharib) yang menginvestasikan dana hasil
pengumpulan ZIS kepada mustahiq sendiri, sebagai peminjam dana yang dituntut
tingkat pengembalian tertentu khusus bagi para pedagang kecil di pasar
tradisional, dengan angsuran pinjaman dan tingkat pengembalian dibayarkan per
hari. Berikut skema penyaluran produktif dana zakat dengan pola mudharabah:

Antara pola mudharabah dan qardul hasan hampir sama. Namun yang
membedakan adalah apabila usaha tersebut untung, maka mustahiq dan BAZ/LAZ
saling membagi hasil keuntungan. Mustahiq mengambil sejumlah persen laba dan
18

sejumlah persen dikembalikan kepada BAZ/LAZ berikut modalnya. BAZ/LAZ


menerima modal kembali berikut persentase keuntungan usaha. Untuk selanjutnya
sama.
Adapun langkah-langkah pendistribusian zakat produktif tersebut berupa
sebagai berikut:
a. Pendataan yang akurat sehingga yang menerima benar-benar orang yang tepat.
b. Pengelompokkan peserta ke dalam kelompok kecil, homogen baik dari sisi
gender, pendidikan, ekonomi dan usia dan kemudian dipilih ketua kelompok,
diberi pembimbing dan pelatih.
c. Pemberian pelatihan dasar, pada pendidikan dalam pelatihan harus berfokus
untuk melahirkan pembuatan usaha produktif, manajemen usaha, pengelolaan
keuangan usaha dan lain-lain. Pad pelatihan ini juga diberi penguatan secara
agama sehingga melahirkan anggota yang berkarakter dan bertanggung jawab.
d. Pemberian dana, dana diberikan setelah materi tercapai, dan peserta dirasa
telah dapat menerima materi dengan baik. Usaha yang telah direncanakan pun
dapat diambil. Anggota akan dibimbing oleh pembimbing dan mentor secara
intensif sampai anggota tersebut mandiri untuk menjalankan usaha sendiri.
3. Distribusi Investasi Dana Zakat.
Menurut Dr. Umer Chapra, zakat mempunyai dampak positif dalam
meningkatkan ketersediaan dana bagi investasi sebab pembayaran zakat pada
kekayaan dan harta yang tersimpan akan mendorong para pembayar zakat untuk
mencari pendapatan dari kekayaan mereka, sehingga mampu membayar zakat
tanpa mengurangi kekayaannya.
Dengan demikian, dalam sebuah masyarakat yang nilai-nilai Islam-nya telah
terinternalisasi, simpanan emas dan perak serta kekayaan yang tidak produktif
cenderung akan berkurang, sehingga meningkatkan investasi dan menimbulkan
kemakmuran yang lebih besar.
Pendapat senada juga dikemukakan oleh Neal Robinson, Guru Besar pada
Universty of Leeds, yang mengatakan bahwa zakat mempunyai fungsi sosial
ekonomi yang sangat tinggi, dan berhubungan dengan adanya larangan riba, zakat
mengarahkan kita untuk tidak menumpuk harta namun malahan merangsang
investasi untuk alat produksi atau perdagangan.
19

Namun persolalan yang sangat akan muncul adalah siapa yang akan
menginvestasikan dana tersebut?. Dalam kajian fiqh klasik, pembahasan yang
sudah akrab berkisar pada kemungkinan mustahiq sendiri yang menginvestasikan
dana tersebut atau si muzakki yang menginvestasikannya. Para ahli fiqh klasik
menyebutkan bahwa:21
a. Bila mustahiq yang menginvestasikan dana zakat. Seorang mustahiq dapat
menginvestasikan dana zakatnya setelah mustahiq menerima dana zakatnya.
Ketika zakat diserahkan maka otomatis akan jadi milik sepenuhnya. Ada
empat

golongan

dari

delapan

asnaf

yang

diperbolehkan

untuk

menginvestasikan dana zakatnya, yaitu fakir, miskin, amil dan muallaf.


Namun jika melihat asnaf versi Indonesia maka kemungkinannya adalah:
1) Sulit bagi fakir miskin untuk menginvestasikan dana zakatnya. Karena
kebutuhan primer mereka adalah pemenuhan sandang, pangan, papan yang
harus segera dikonsumsi.
2) Ada kemungkinan bagi amil dan muallaf untuk menginvestasikan dana
zakatnya. Namun untuk muallaf mungkin akan sulit karena ketidakadaan
karakteristik muallaf Indonesia pada umumnya. Berbeda dengan amil,
yang dapat menjadi peluang tersendiri bagi seseorang yang sudah cukup
mapan taraf hidupnya untuk berinvestasi.
Lalu untuk empat golongan sisanya (riqab, gharim, fisabilillah, dan
ibnu sabil) ialah untuk menginvestasikan dana zakatnya adalah tindakan
yang sangat cerdas. Kecuali bagi gharim, karena kelompok ini punya
kewajiban terlebih dahulu yang harus dipenuhi yaitu membayar hutangnya
sendiri.
b. Bila muzakki yang menginvestasikan dana zakat. Menurut ahli fiqh klasik
terdapat perdebatan dalam hal ini. Namun dalam konteks kekinian, sangat
mungkin seorang muzakki berada pada tingkat kesejahteraan yang luar biasa.
Tarif zakat dari asetnya yang sudah cukup untuk diinvestasikan pada saham
perusahaan. Saat pembelian saham, muzakki hanya sebagai wakil dari
mustahiq untuk menginvestasikan dana zakatnya. Jadi saham tersebut atas
nama mustahiq. Mustahiq harus mampu menangguhkan haknya untuk
mengkonsumsi dana zakat tersebut. Namun tahun depan, mustahiq dapat
mencicipi dana dari deviden saham perusahaan tersebut.
21

M. Arief Muraini, Op.cit, h. 177-178.

20

c. Bila pemerintah atau yang mewakilinya (amil) yang menginvestasikan dana


zakat. Dalam kajian fiqh klasik, pembahasan ini belum banyak dibahas.
Terlepas dari perbedaan pendapat para ulama, yang terpenting adalah mencari
pola pendistribusian yang paling efektif secara ekonomi, namun tetap tidak
jauh dari pendapat madzab yang tervalid. Dari sudut pandang para ulama,
memang pada hukum asalnya, dana zakat yang diterima pemerintah ataupun
yang mewakili harus segera mendistribusikannya kepada para mustahiq dan
tidak dibenarkan untuk menundanya, maka hal itu dapat dibenarkan, sedang
untuk menginvestasikannya, hal ini dapat dibenarkan jika ada alas an yang
kuat dari kepentingan menginvestasikannya, seperti untuk menjamin adanya
sumber-sumber keuangan yang relative permanen atau untuk mengurangi
pengangguran dari pihak delapan asnaf.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
21

1. Pengertian, Asas, dan Tujuan Pengelola Zakat.


a. Pengertian Pengelola Zakat.
Menurut Undang-undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang pengelolaan
zakat pada pasal 1 berbunyi bahwa pengelolaan zakat adalah kegiatan
perencanaan,

pelaksanaan,

dan

pengoordinasian

dalam

pengumpulan,

pendistribusian, dan pendayagunaan zakat.


b. Asas-asas Pengelola Zakat.
1) Syariat Islam.
2) Amanah.
3) Kemanfaatan.
4) Keadilan.
5) Kepastian hukum.
6) Terintegrasi.
7) Akuntabilitas.
c. Tujuan Pengelola Zakat.
Berdasarkan UU No. 23 Tahun 2011, tujuan pengelolaan zakat adalah:
1) Meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelayanan dalam pengelolaan
zakat,
2) Meningkatkan manfaat zakat untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat
dan penanggulangan kemiskinan.
2. Organisasi dalam Pengelolaan Zakat.
Lembaga yang secara formal diakui oleh Undang-Undang Nomor 38 Tahun
1999 sebagai lembaga yang berhak mengelola zakat adalah Badan Amil Zakat
(BAZ) dan Lembaga Amil Zakat (LAZ).
a. Badan Amil Zakat (BAZ). BAZ adalah organisasi pengelola zakat yang
dibentuk oleh pemerintah terdiri dari unsur masyarakat dan pemerintah
dengan tugas mengumpulkan, mendistribusikan, mendayagunaan zakat
sesuai dengan ketentuan agama. Badan Amil Zakat meliputi BAZ
Nasional, BAZ Propinsi, BAZ Kabupaten/Kota, BAZ Kecamatan.
b. Lembaga Amil Zakat (LAZ). Menurut pasal 1 Ayat (2) Keputusan Menteri
Agama No 581 tahun 1999 tentang Pelaksanaan UU No 38 tahun 1999,
yang dimaksud dengan Lembaga Amil Zakat adalah institusi pengelolaan
zakat yang sepenuhnya dibentuk atas prakarsa masyarakat dan oleh
masyarakat yang bergerak dibidang dawah, pendidikan, sosial dan
22

kemaslahatan umat Islam. Badan amil zakat dan lembaga amil zakat
mempunyai

tugas

pokok

mengumpulkan,

mendistribusikan

dan

mendayagunakan zakat sesuai ketentuan agama (pasal 8 UU No. 38 tahun


1999). Lembaga Amil Zakat (LAZ) mempunyai otoritas dalam
menghimpun, mendistribusikan, dan memanfaatkan zakat untuk khalayak
umum berdasarkan syariah.
3. Wilayah Pembagian Tugas BAZ dan LAZ.
Pengukuhan BAZ/LAZ dilakukan oleh pemerintah atas usul BAZ/LAZ yang
telah memenuhi persyaratan. Pengukuhan dilaksanakan setelah terlebih dahulu
dilakukan penelitian persyaratan. Pengukuhan dapat dibatalkan apabila BAZ/LAZ
tersebut tidak lagi memenuhi persyaratan. Pemerintah yang dimaksud adalah :
a. Tingkat Nasional dibentuk oleh Presiden dan usul Menteri Agama. BAZ/LAZ
Nasional berkedudukan di Ibu Kota Negara,
b. Tingkat Propinsi dibentuk oleh Gubernur dan usul Kantor Wilayah
Departemen Agama Propinsi. BAZ/LAZ Propinsi berkedudukan di ibu kota
Propinsi,
c. Tingkat Kabupaten/Kota dibentuk oleh Bupati/Walikota dan Departemen
Agama Kabupaten/Kota. Berkedudukan di ibu kota Kabupaten/Kota,
d. Tingkat Kecamatan dibentuk oleh camat atau usul Kantor Kepala Kantor
Urusan Agama Kecamatan. Berkedudukan ibu kota Kecamatan.
4. Distribusi Pengelolaan Zakat.
Agar dana zakat yang disalurkan itu dapat berdaya guna dan berhasil guna,
maka pemanfaatannya harus selektif untuk kebutuhan konsumtif atau produktif.
Mekanisme distribusi zakat kepada mustahiq bersifat konsumtif dan juga
produktif. Menurut Mufraini distribusi zakat tidak hanya dengan dua cara akan
tetapi ada tiga yaitu: distribusi konsumtif, distribusi produktif, dan investasi.
a. Distribusi Konsumtif Dana Zakat. Dalam distribusi konsumtif disini dapat
diklarifikasi menjadi dua, yaitu:
1) Tradisional. Zakat dibagikan kepada mustahiq dengan secara langsung
untuk kebutuhan konsumsi sehari-hari.

23

2) Kreatif. Zakat yang diwujudkan dalam bentuk barang konsumtif dan


digunakan untuk membantu orang miskin dalam mengatasi permasalahan
sosial dan ekonomi yang dihadapi.
b. Distribusi Produktif Dana Zakat. Dalam Pendistribusian Zakat Produktif disini
dapat diklarifikasikan menjadi dua bagian yaitu antara lain:
1) Tradisional/konvensional. Zakat yang diberikan dalam bentuk barangbarang produktif, dimana dengan menggunakan barang-barang tersebut,
para mustahiq dapat menciptakan suatu usaha.
2) Kreatif. Zakat yang diwujudkan dalam bentuk pemberian modal bergulir,
baik untuk permodalan proyek sosial seperti membangun sekolah, tempat
ibadah, maupun sebagai modal usaha untuk membantu mengembangkan
usaha para pedagang atau pengusaha kecil.
c. Distribusi Investasi Dana Zakat. Menurut Dr. Umer Chapra, zakat mempunyai
dampak positif dalam meningkatkan ketersediaan dana bagi investasi sebab
pembayaran zakat pada kekayaan dan harta yang tersimpan akan mendorong
para pembayar zakat untuk mencari pendapatan dari kekayaan mereka,
sehingga mampu membayar zakat tanpa mengurangi kekayaannya.
B. Saran
Dalam rangka memaksimalkan peran dan fungsi lembaga pengelolaan zakat,
tentunya harus dikelola sebaik mungkin. Tidak cukup sampai di situ, lembaga
pengelolaan zakat juga harus akuntabel, yaitu amanah terhdap kepercayaan yang
diberikan

oleh muzakki dan

juga

amanah

dalam

mendistribusikannya

kepadamustahiq,dalam arti tepat sasaran dan tepat guna.

DAFTAR PUSTAKA
Abdad, M. Zaidi. 2003. Lembaga perekonomian ummat di dunia islam. Bandung: Angkasa
Bandung.
24

Amiruddin, dkk. 2005. Anatomi Fiqh Zakat. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.


Departemen

Agama.

2005.

Manajemen

Pengelolaan

Zakat.

Depok:

Direktorat

Pengembangan Zakat dan Wakaf.


Fachruddin. 2008. Fiqh dan Manajemen Zakat di Indonesia. Yogyakarta: Sukses Offset.
Hafidhuddin, Didin. 2004. Zakat dalam Perekonomian Modern. Jakarta: Gema Insani.
Khasanah, Umrotul. 2010. Manajemen Zakat Modern. Malang: UIN-MALIKI PRESS.
Mufraini, M. Arief. 2006. Akuntansi dan Manajemen Zakat. Jakarta: Kencana Prenada Media
Group.
Nawawi, Ismail. 2010. Zakat dalam perspektif fiqh, social, dan ekonomi. Surabaya: CV Putra
Media Nusantara.
Qardawi, Yusuf. 1997. Hukum Zakat, Edisi terjemahan. Bogor: Litera AntarNusa.
Qardawi, Yusuf.1997. Peran Nilai dan Moral dalam Perekonomian Islam. Jakarta: Robbani
Press.
Undang-undang Republik indonesia Nomor 23 tahun 2011 Tentang Pengelolaan Zakat, Pasal
12.
Usman, Suparman. 2002. Hukum Islam : Asas-asas dan Pengantar Studi Hukum Islam dalam
Indonesia. Jakarta: Gaya Media Pratama.
Widodo, Hertanto. 2001. Akuntansi dan Manajemen Keuangan untuk Organisasi Pengelola
Zakat. Bandung: Percetakan Asy Syaamil Press dan Grafika.

25