Anda di halaman 1dari 14

Filsafat ilmu

Filsafat Ilmu dalam Perspektif Islam

MPI II A

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Abdul Azis
(1510631120002)
Ahmad Rizqy. A
(1510631120007)
Ana Agustiani
(1510631120012)
Dede Lutfi N
(1510631120017)
Evi Puspita Pratiwi P (1510631120024)
Evi Sofiana
(1510631120025)
Jajat Sudrajat
(1510631120038)

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Filsafat Ilmu.


MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS SINGAPERBANGSA KARAWANG
2015/2016

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta
karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan Makalah ini. Tak lupa
terimakasih kepada Bapak H. Syaroni Mashum, Drs.,MM selaku dosen matakuliah Filsafat
Ilmu, yang telah membimbing kami untuk menyelesaikan materi yang diberikan dengan judul
FILSAFAT ILMU DALAM PERSPEKTIF ISLAM.

Karawang,

Mei 2016

Penulis,

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................... ii


DAFTAR ISI ......................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ......................................................................... 1
B. Tujuan Penulisan ....................................................................... 1
C. Rumusan Masalah .................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN
1.1.......................................................................Pengertian Filsafat Ilmu
.................................................................................................. 2
1.2..................................Hubungan dan Perbedaan Filsafat dengan Ilmu
.................................................................................................. 2
1.3...........................................Kedudukan Filsafat dan Ilmu dalam Islam
.................................................................................................. 3
1.4.......................................Hubungan Filsafat Ilmu dengan Umat Islam
.................................................................................................. 5
1.5.................................................Filsafat Ilmu dalam pandangan Islam
.................................................................................................. 6
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan ............................................................................... 8
B. Saran ........................................................................................ 8
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Islam memerintahkan agar umat islam selalu menuntut ilmu
setinggi-tingginya sehingga agama islam dapat mencapai kemajuan
yang pesat di berbagai bidang, sebab dengan ilmu manusia dapat
mengetahui apa-apa yang benar dan yang salah, mana yang baik dan
yang buruk.
Demikian juga dengan filsafat, meski banyak mengkonotasikan
bahwa filsafat adalah ilmu yang agak berbahaya dikarenakan disiplin
ilmu ini banyak mengedepankan pengetahuan dan pemikiran yang
rasional

dan

kebanyakan

cendrung
orang

kepada

takut

masalah

menjadi

kufur

ketuhanan,
atau

sehingga

musyrik

ketika

mempelajari disiplin ilmu ini.


Padahal anggapan tersebut tidaklah sepenuhnya benar dikarenakan
ilmu filsafat merupakan jalan, cara dan solusi yang dipakai untuk
mendapatkan

sesuatu

yang

baru,

sehingga

akan

memperkaya

khazanah keilmuan kita. Asalkan kita tidak ber-taklid buta dan


mengetahui dasar suatu pemkiran ataupun pendapat tersebut, maka
kita tidak perlu khawatir akan terperosok kedalam kesesatan. Maka
dalam kesempatan kali ini, kami akan membahas tentang filsafat dan
ilmu dalam pandangan islam, semoga makalah kami yang ringkas ini
dapat menambah pengetahuan kita bersama.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud Filsafat dan Ilmu?
2. Bagaimana kedudukan Filsafat dan Ilmu dalam pandangan Islam?
3. Bagaimana hubungan Filsafat Ilmu dengan Umat Islam?
4. Bagaimana Islam menyikapi Filsafat Ilmu ?

C. Tujuan Penulisan
1. Untuk menambah pengatahuan para mahasiswa tentang Filsafat
dan Ilmu.
2. Untuk mengetahui tentang prespektif islam berkaitan dengan
Filsafat dan Ilmu.
3. Sebagai syarat untuk memenuhi tugas pada mata kuliah Filsafat
Ilmu.
BAB II
PEMBAHASAN

1.1. Pengertian Filsafat Ilmu


Filsafat Ilmu berasal dari dua kata, yaitu filsafat dan ilmu. Filsafat
dijabarkan dari perkataan philosophia, perkataan ini berasal dari bahasa
Yunani yang berarti cinta akan kebijakanaan. Ilmu menurut KBBI
merupakan pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara
bersistem menurut metode tertentu yang dapat digunakan untuk
menerangkan gejala tertentu.
Filsafat Ilmu merupakan penyeledikan tentang ciri-ciri pengetahuan
ilmiah dan cara-cara untuk memperolehnya. Dengan kata lain filsafat ilmu
sesungguhnya merupakan ilmu lanjutan. Atau filsafat merupakan bagian
dari epistemologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengkaji
hakikat ilmu (pengetahuan ilmu).
1.2. Hubungan dan Perbedaan Filsafat dengan Ilmu
Filsafat dan ilmu merupakan dua hal yang sangat erat berkaitan satu
sama lainnya dimana telah diketahui bahwa filsafat merupakan disiplin
dan sistem pemikiran tentang enam jenis persoalan, antara lain :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Hal ada,
Pengetahuan,
Metode,
Penyimpulan,
Moralitas, dan
Keindahan.

Keenam jenis persoalan ini merupakan materi yang dipelajari, dan


kemudian menjadi bagian utama studi filsafat yang terkenal sebagai
metafisika,

epistemologi,

metodologi,

logika,

etika

dan

estetika,

sedangkan ilmu merupakan hasil dari filsafat itu sendiri yang nantinya
akan bercabang menjadi berbagai disiplin ilmu yang banyak sekali.
Ilmu mengkaji hal-hal yang bersifat empiris dan dapat dibuktikan, filsafat
mencoba mencari jawaban terhadap masalah-masalah yang tidak bisa
dijawab oleh Ilmu dan jawabannya bersifat spekulatif, sedangkan Agama
merupakan jawaban terhadap masalah-masalah yang tidak bisa dijawab
oleh filsafat dan jawabannya bersifat mutlak. Menurut Sidi Gazlba (1976 :
25) Pengetahuan ilmu lapangannya segala sesuatu yang dapat diteliti
(riset dan/eksperimen), batasnya sampai kepada yang tidak atau belum
dapat dilakukan penelitian. Pengetahuan filsafat : segala sesuatu yang
dapat dipikirkan oleh budi (rasio) manusia yang alami (bersifat alam) dan
nisbi; batasnya ialah batas alam namun demikian ia juga mencoba
memikirkan sesuatu yang diluar alam, yang disebut oleh agama Tuhan.
Sementara itu Oemar Amin Hoesin (1964 : 7) mengatakan bahwa ilmu
memberikan kepada kita pengetahuan, dan filsafat memberikan hikmat.
1.3. Kedudukan Filsafat dan Ilmu menurut Islam
a. Kedudukan filsafat menurut islam
Dalam tulisan yang berjudul Epistemologi di dalam Islam yang
dimuat dalam surat kabar Salemba terbitan juli 1979 S.I Poeradisastra
menulis antara lain Epistemologi dalam Islam berjalan dari tingkattingkat :
1. Perenungan tentang sunnatullah sebagaimana yang dianjurkan
2.
3.
4.
5.
6.
7.

dalam al Quran
Penginderaan
Pencerapan
Penyajian
Konsep
Timbangan
Penalaran
Selanjutnya beliau mengatakan bahwa epistemologi dalam Islam

tidak terpusat kedalam manusia yang menganggap manusia sendiri

sebagai mahluk mandiri dan menentukan segala-galanya, melainkan


berpusat kepada Allah swt. Sehingga berhasil atau tidaknya tergantung
seetiap

usaha

manusia,

kepada

iradat

Allah

swt.

Setelah mengetengahkan unsur-unsur filsafat pengetahuan Islam,


maka dapat dilihat beberapa perbedaannya dengan epistemologi pada
umumnya. Pada garis besarnya, perbedaan itu terletak pada masalah
yang bersangkutan dengan sumber pengetahuan dalam Islam yakni
wahyu dan ilham; sedangkan masalah kebenaran epistemologi pada
umumnya menganggap kebenaran hanya berpusat pada manusia
sebagai

mahluk

mandiri

yang

menentukan

kebenaran.

Menurut

pendapat penulis Epistemologi Islam juga membicarakan mengenai


pandangan pemikir Islam tentang pengetahuan dimana manusia tidak
lain hanyalah khalifah Allah, sebagai mahluk pencari kebenaran.
Sebagai mahluk pencari kebenaran, manusia tergantung kepada Allah
sebagai pemberi kebenaran.

b. Kedudukan Ilmu Menurut Islam


Ilmu menempati kedudukan yang sangat penting dalam ajaran islam
, hal ini terlihat dari banyaknya ayat Al Quran yang memandang orang
berilmu dalam posisi yang tinggi dan mulya disamping hadis-hadis nabi
yang banyak memberi dorongan bagi umatnya untuk terus menuntut
ilmu.
Didalam Al Quran , kata ilmu dan kata-kata jadianya di gunakan
lebih dari 780 kali , ini bermakna bahwa ajaran Islam sebagaimana
tercermin dari Al Quran sangat kental dengan nuansa nuansa yang
berkaitan dengan ilmu, sehingga dapat menjadi ciri penting dariagama
Islam sebagamana dikemukakan oleh Dr Mahadi Ghulsyani9(1995;; 39)
sebagai

berikut

Salah satu ciri yang membedakan Islam dengan yang lainnya adalah
penekanannya terhadap masalah ilmu (sains), Al Quran dan Al sunah
mengajak kaum muslim untuk mencari dan mendapatkan Ilmu dan

kearifan ,serta menempatkan orang-orang yang berpengetahuan pada


derajat tinggi
Allah s.w.t berfirman dalam Al Quran Surat al Mujadalah Ayat 11 yang
artinya:
Allah meninggikan baeberapa derajat (tingkatan) orang-orang yang
beriman diantara kamu dan orang-orang yang berilmu (diberi ilmu
pengetahuan).dan Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan
Ayat di atas dengan jelas menunjukan bahwa orang yang beriman dan
berilmu akan menjadi memperoleh kedudukan yang tinggi. Keimanan
yang dimiliki seseorang akan menjadi pendorong untuk menuntut
Ilmu ,dan Ilmu yang dimiliki seseorang akan membuat dia sadar betapa
kecilnya manusia dihadapan Allah ,sehingga akan tumbuh rasakepada
Allah bila melakukan hal-hal yang dilarangnya, hal inisejalan dengan
firman

Allah:

sesungguhnya yang takut kepada allah diantara hamba-hambanya


hanyalah ulama (orang berilmu)" (surat faatir:28)
Disamping ayat ayat Quran yang memposisikan Ilmu dan orang
berilmu sangat istimewa, Al Quran juga mendorong umat islam untuk
berdoa agar ditambahi ilmu, seprti tercantum dalam Al Quran sursat
Thaha

ayayt

114

yang

artinya

dan

katakanlah,

tuhanku

,tambahkanlah kepadaku ilmu penggetahuan . dalam hubungan inilah


konsep membaca, sebagai salah satu wahana menambah ilmu
,menjadi sangat penting,dan islam telah sejak awal menekeankan
pentingnya membaca , sebagaimana terlihat dari firman Allah yang
pertama diturunkan yaitu surat Al Alaq ayat 1sampai dengan ayat 5
yang

artinya:

Bacalah dengan meyebut nama tuhanmu yang menciptakan. Dia


telah

menciptakan

Kamu

dari

segumpal

darah.

Bacalah,dan

tuhanmulah yang paling pemurah.Yang mengajar (manusia ) dengan


perantara.

Dia

mengajarkan

kepada

manusia

apa

yang

tidak

diketahui.
Ayat ayat tersebut, jelas merupakan sumber motivasi bagi umat islam
untuk tidak pernah berhenti menuntut ilmu,untuk terus membaca

,sehingga posisi yang tinggi dihadapan Allah akan tetap terjaga, yang
berarti juga rasa takut kepeada Allah akan menjiwai seluruh aktivitas
kehidupan manusia untuk melakukan amal shaleh, dengan demikian
nampak

bahwa

keimanan

yang

dibarengi

denga

ilmu

akan

membuahkan amal ,sehingga Nurcholis Madjd (1992: 130) meyebutkan


bahwa keimanan dan amal perbuatan membentuk segi tiga pola hidup
yang

kukuh

ini

seolah

menengahi

antara

iman

dan

amal

Dari ayat-ayat tersebut di atas, semakin jelas komitmen ajaran Islam


pada ilmu, dimana menuntut ilmu menduduki posisi fardhu (wajib) bagi
umat islam tanpa mengenal batas wilayah.
1.4. Hubungan Filsafat Ilmu dengan Umat Islam
Filsafat merupakan cara pandang yang diracikberdasarkan kemampuan
rasionalitas secara maksimal. Filsafat adalah pemikiran rasional, kritis,
sistematis dan radikal tentang suatu objek. Filsafat berlandaskan akal.
Akal adalah anugerah Allah yang sangat besar kepada manusia. Dengan
akal manusia bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah,
baik dan buruk, yang menyelamatkan dan yang menyesatkan, dan
sebagainya. Al Quran menempatkan akal ke posisi yang amat tinggi,
karena akal dapat digunakan untuk memahami Al Quran dan ajaran islam
sebaik-baiknya dan seluas-luasnya. Seperti pada QS. Ali Imran (190), yang
artinya:
sesunguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya
malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orng yang berakal.
Berfikir disini adalah berfikir tentang alam semesta, diri sendiri,
realitas kehidupan, dan sebagainya, supaya perjalanan hidup di dunia
dapat ditempuh setepat-tepatnya sesuai dengan kedudukan manusia
sebagai makhluk Allah. Sebagai entitas yang menyimbolkan keunggulan
manusia dibandingkan dengan makhluk lain, akal tidak boleh dipasung,
tetapi harus dikembangkan. Di dalam Al-Quran,menurut Fazlur Rahman,
penciptaan gagasan ilmiah lewat akal merupakan aktivitas yang nilainya
paling tinggi.

Islam tidak mencegah orang untuk mempelajari ilmu filsafat,


bahkan menganjurkan orang berfilsafat, berpikir menurut logika untuk
memperkuat kebenaran yang dibawa oleh Al-Quran dengan dalil akal dan
pembawaan rasional. Aspek pemikiran dalam Islam terutama masalah
keimanan, aqidah, ketuhanan, menunjukan pembahasan yang cukup lama
telah dimulai semasa nabi masih hidup, yang kemudian menjadi sebab
pokok dari ilmu-ilmu yang berbeda-beda, sebagaimana kalam (dogmatic
scholastic), dan tasawuf (mystico-spirituaistic).
Filsafat dianggap dapat membawa kepada kebenaran, maka islam
mengakui bahwa selain kebenaran Hakiki, masih ada lagi kebenaran yang
tidak bersifat absolute, yaitu kebenaran yang dicapai sebagai hasil usaha
akal budi manusia. Akal adalah anugrah dari Allah SWT kepada manusia.
Maka

sewajarnya

kalau

akal

mampu

pula

mencapai

kebenaran,

kendatipun kebenaran yang dicapainya itu hanyalah dalam taraf yang


relatif.

Oleh

sebab

itu

kalau

kebenaran

yang

relative

itu

tidak

bertentangan dengan ajaran islam ( Al-Quran dan Hadist ) maka


kebenaran itu dapat saja digunakan dalam kehidupan ini. Filsafat cukup
mendapat tempat penting dalam Islam dengan beberapa kenyataan :

Dalam sejarah Islam pernah muncul filosof-filosof muslim yang terkenal


seperti Al Faraby, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd dan lain-lain. Bahkan mereka ini
dianggap sebagai mata rantai yang menghubungkan kembali filsafat
Yunani yang pernah menghilang di barat dan berkat jasa-jasa kaum
muslimin maka filsafat tersebut dapat dikenal kembali oleh orang-orang

Barat.
Terdapatnya sejumlah ayat-ayat Al-Quran yang mendorong pemikiran-

pemikiran filosofis.
Meskipun Islam memberi

tempat

yang

layak

bagi

hidup

dan

perkembangan filsafat, namun Islam menilai bahwa falsafat tu hanyalah


merupakan alat belaka dan bukan tujuan. Falsafat dapat digunakan
untuk memperkokoh kedudukan Islam, umpamanya dapat dijadikan

sebagai jalan untuk memperkuat bukti eksistensi Allah SWT.


Diakui pula bahwa kebenaran filsafat bersifat nisbi dan spekulatif. Nisbi
artinya relative dan tidak mutlak kebenaranya. Spekulatif artinya

kebenaranya bersifat spekulasi dan tidak dapat dibuktikan secara


empiris.
Jadi tidak perlu melihat filsafat sebagai momok yang menakutkan tetapi ia
harus dipelajari dengan baik. Dengan demikian kita dapat menggunakan
hal hal yang positif didalamnya dan membuang hal-hal yang tidak
menguntungkan bagi Islam.
1.5. Filsafat dan Ilmu dalam Pandangan Islam
Filsafat merupakan suatu cara yang di dalam islam serupa dengan
ijtihad, yakni berungsi untuk menggali dan mencari suatu keilmuan dan
hukum yang belum ada dan belum ditemukan baik didalam Al-Qur'an
maupun Al-Hadist, yang mana cara yang digunakan telah di jelaskan
melalui tahapan-tahapan tertentu yakni : Penginderaan, Pencerapan,
Penyajian, Konsep, Timbangan dan Penalaran. Sehingga nantinya akan di
peroleh

sesuatu

yang

baru

Di dalam suatu hadist yang diriwayatkan oleh Al-Bukhory di katakana


bahwasanya

allah

berfirman:

"Berfikirlah tentang makhluk-ku, tetapi jangan berfikir tentang dzat-ku"


Sebab dengan memfikirkan tentang ciptaan Allah, maka kita akan
semakin mengerti betapa besar kekuasaan dan keagungan Allah s.w.t.
Sedangkan ilmu yang merupakan hasil dari penggalian filsafat tersebut
adalah sebuah pengetahuan yang wajib kita pelajari sampai batas
kemampuan akal an diri kita sampai nabi memerintahkan untuk menuntut
ilmu ini meski sampai menyebrangi lautan dan pergi ke negeri cina,
sebuah filosofi perumpaan yang sangat tinggi yang menggambarkan
begitu pentingnya ilmu didalam islam, sebab ilmu merupakan suatu solusi
untuk memajukan ummat islam ini.
Filsafat yang tidak dibenarkan oleh islam adalah filsafat yang hanya
meninitik beratkan pada rasionalitas dan akal, sebab manusia adalah
makhluk yang memiliki banyak keterbatasan untuk mengetahui semua

keilmuan yang ada di dunia ini, Imam Al-ghozali dalam kitabnya Al-Ihya'
al-ulumuddin membandingkan antara pengetahuan seluruh manusia dan
tuhan adalah ibarat setetes air di tengah lautan yang luas.
Sehingga nyata kiranya islam tidak melarang filsafat akan tetapi harus
sesuai dan sejala dengan aturan dan syari'at islam yang telah digariskan.
Sehingga pada akhirnya filsafat dan ilmu dapat berjalan seiringan
sehingga dapat diambil kemanfaatannya oleh umat islam itu sendiri
Dalam Islam filsafat dan ilmu pengetahuan berjalan seiring dan
berdampingan, meskipun terdapat beberapa friksi antara filsafat dan ilmu,
tetapi itu sangat sedikit dan terjadi karena interpretasi dari teks agama
yang terlalu dini. Namun secara keseluruhan filsafat dan ilmu saling
mendukung. Malah tidak sedikit dari ulama Islam, juga sebagai ilmuwan
seperti : Ibnu Sina, al Farabi, Jabir bin al Hayyan, al Khawarizmi, Syekh al
Thusi dan yang lainnya. Oleh karena itu, ledakan intelektual dalam Islam
tidak terjadi. Perkembangan ilmu di dunia Islam relatif stabil dan tenang.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Filsafat merupakan suatu cara yang di dalam islam serupa dengan
ijtihad, yakni berungsi untuk menggali dan mencari suatu keilmuan dan
hukum yang belum ada dan belum ditemukan baik didalam Al-Qur'an
maupun Al-Hadist. Sedangkan ilmu yang merupakan hasil dari
penggalian filsafat tersebut adalah sebuah pengetahuan yang wajib
kita pelajari sampai batas kemampuan akal an diri kita sampai nabi
memerintahkan untuk menuntut ilmu ini meski sampai menyebrangi
lautan dan pergi ke negeri cina, Filsafat yang tidak dibenarkan oleh

islam adalah filsafat yang hanya meninitik beratkan pada rasionalitas


dan akal, sebab manusia adalah makhluk yang memiliki banyak
keterbatasan untuk mengetahui semua keilmuan yang ada di dunia ini.
B. Saran
Kami menyadari makalah yang kami susun ini jauh dari kata
sempurna maka dari itu Kritik dan Saran dari pembaca sangat kami
butuhkan.

DAFTAR PUSTAKA

Zakiyah Darajat, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1991


Al-Quran in world
Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Islam dalam Perspektif Islam Bandung:

Remaja Rosda Karya, 2000


Prof. S.I Poeradisastra, Sumbangan Islam Kepada Ilmu dan Peradaban
Modern Jakarta; P3M, 1986