Anda di halaman 1dari 16

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tanaman Ruku-ruku


2.1.1 Sinonim
Sinonim dari tanaman ruku-ruku (Ocimum sanctum L.) adalah: Ocimum
tenuiflorum L., dengan nama daerah: Ruku-ruku, ruruku (Sumatera), kemangeni,
ko-roko (Jawa), Uku-uku (Nusa Tenggara), balakama (Sulawesi), lufe-lufe,
kemangi utan (Maluku) (Ditjen POM, 1989).
2.1.2 Klasifikasi
Menurut Sharma (1993) dan Tjitrosoepomo (2002), tanaman ruku-ruku
dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
Divisi

: Spermatophyta

Subdivisi

: Angiospermae

Kelas

: Dicotyledonae

Subkelas

: Sympetalae

Bangsa

: Tubiflorae

Suku

: Labiatae

Marga

: Ocimum

Jenis

: Ocimum sanctum L.

2.1.3 Morfologi
Tanaman ini biasanya bercabang banyak dan mempunyai bau khas
aromatis, rasa agak pedas dan warnanya hijau sampai hijau kecoklatan. Helaian
daun bentuk jorong memanjang, ujung runcing, pangkal daun runcing/tumpul,

Universitas Sumatera Utara

tulang daun menyirip, tepi bergerigi dangkal, daging daun tipis, dan permukaan
daun berambut halus (Ditjen POM, 1989).
2.1.4 Kandungan kimia
Daun ruku-ruku mengandung minyak atsiri 2%, tanin 4,6%, flavonoid,
streoid/triterpenoid (Ditjen POM, 1989). Hasil skrining fitokimia serbuk simplisia
dari daun ruku-ruku diperoleh adanya senyawa golongan alkaloida, flavonoida,
glikosida, triterpenoida/steroida, tanin, dan saponin (Darmiati, 2007).
2.1.5 Khasiat
Secara tradisional rebusan dari daun tanaman ruku-ruku ini digunakan
untuk mengobati sakit perut, sakit gigi, batuk dan pencuci luka. Sari dari daun
tanaman digunakan sebagai peluruh dahak, peluruh haid, peluruh angin, pencegah
mual, penambah nafsu makan, pengobatan pasca persalinan, pereda kejang,
laksatif, dan secara eksternal digunakan untuk reumatik. Sedangkan biji digunakan
sebagai pelembut kulit, peluruh air seni, peluruh keringat dan pereda kejang
(Christine, 1985); karminatif, dan antipiretik (Ditjen POM, 1989).

2.2 Ekstraksi
Ekstraksi adalah kegiatan penarikan kandungan kimia yang dapat larut
sehingga terpisah dari bahan yang tidak dapat larut dengan pelarut cair. Simplisia
yang diekstrak mengandung senyawa aktif yang dapat larut dan senyawa yang
tidak larut seperti serat, karbohidrat, protein dan lain-lain. Senyawa aktif yang
terdapat dalam berbagai simplisia dapat digolongkan ke dalam golongan minyak
atsiri, alkaloida, dan flavonoida, dengan diketahuinya golongan senyawa aktif
yang dikandung simplisia maka akan mempermudah pemisahan pelarut dan cara
ekstraksi yang tepat (Ditjen POM, 2000).

Universitas Sumatera Utara

Berdasarkan atas sifatnya eksrak dikelompokkan sebagai berikut (Voigt,


1995):
1. Ekstrak encer (Extractum tenue). Sediaan ini memiliki konsistensi
semacam madu dan dapat dituang.
2. Ekstrak kental (Extractum spissum). Sediaan ini liat dalam keadaan dingin
dan tidak dapat dituang.
3. Ekstrak kering (Extractum siccum). Sediaan ini memiliki konsistensi
kering dan mudah digosokkan.
4. Ekstrak cair (Ectractum fluidum). Dalam hal ini diartikan sebagai ekstrak
cair, yang dibuat sedemikian rupa sehingga 1 bagian simplisia sesuai
dengan 2 bagian (kadang-kadang satu bagian) ekstrak cair.
Beberapa metode ekstraksi dengan menggunakan pelarut, yaitu :
1. Maserasi
Maserasi berasal dari kata macerare artinya melunakkan. Maserat adalah
hasil penarikan simplisia dengan cara maserasi, sedangkan maserasi adalah cara
penarikan simplisia dengan merendam simplisia tersebut dalam cairan penyari
(Syamsuni, 2006). Maserasi adalah proses pengekstrakan dengan menggunakan
pelarut dengan beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada temperatur
ruangan. Remaserasi berarti dilakukan pengulangan penambahan pelarut setelah
dilakukan penyaringan maserat pertama dan seterusnya (Ditjen POM, 2000).
2. Perkolasi
Perkolasi berasal dari kata percolare yang artinya penetesan (Voigt,
1995). Perkolasi adalah ekstraksi dengan pelarut yang selalu baru sampai
sempurna yang umumnya dilakukan pada temperatur ruangan. Serbuk simplisia
yang akan diperkolasi tidak langsung dimasukkan kedalam bejana perkolator,

Universitas Sumatera Utara

tetapi dibasahi atau dimaserasi terlebih dahulu dengan cairan penyari sekurangkurangnya selama 3 jam. Maserasi ini penting terutama pada serbuk simplisia yang
keras dan mengandung bahan yang mudah mengembang. Bila serbuk simplisia
tersebut langsung dialiri dengan penyari, maka cairan penyari tidak dapat
menembus ke seluruh sel dengan sempurna (Depkes, 1979; Ditjen POM, 2000).
3. Refluks
Refluks adalah ekstraksi dengan pelarut pada temperatur titik didihnya
selama waktu tertentu dan jumlah pelarut terbatas yang relatif konstan dengan
adanya pendingin balik (Ditjen POM, 2000).
4. Sokletasi
Sokletasi adalah ekstraksi dengan menggunakan pelarut yang selalu baru
yang umumnya dilakukan dengan menggunakan alat soklet sehingga terjadi
ekstraksi kontinu dengan jumlah pelarut relatif konstan dengan adanya pendingin
balik (Ditjen POM, 2000).
5. Digesti
Digesti adalah maserasi kinetik dengan pengadukan kontinu pada
temperatur yang tinggi dari temperatur ruangan, yaitu secara umum dilakukan
pada temperatur 40-50oC (Ditjen POM, 2000). Dengan cara ini perolehan bahan
aktif agak lebih banyak meskipun pada saat pendinginannya pada suhu kamar
bahan ekstraktif dalam skala besar mengendap (Voigt, 1995).

2.3 Uraian Bakteri


Nama bakteri berasal dari kata bakterion (bahasa Yunani) yang berarti
tongkat atau batang. Sekarang nama itu dipakai untuk menyebut sekelompok
mikroorganisme yang bersel satu, tidak berklorofil, berbiak dengan pembelahan

Universitas Sumatera Utara

diri, serta demikian kecilnya sehingga hanya dapat dilihat dengan menggunakan
mikroskop (Dwijoseputro, 1982).
Ukuran bakteri bervariasi baik penampang maupun panjangnya, tetapi pada
umumnya diameter bakteri adalah sekitar 0,2-2,0 mm dan panjang berkisar 2-8
mm (Pratiwi, 2008).
Tubuh bakteri yang terdiri dari satu sel mempunyai bentuk yang
beranekaragam. Ada yang berbentuk peluru atau bola (kokus), berbentuk batang
(basil), berbentuk koma dan spiral (Tjitrosoepomo, 1994).
Berdasarkan perbedaannya di dalam menyerap zat warna gram bakteri
dibagi atas dua golongan yaitu bakteri gram positif dan bakteri gram negatif.
Bakteri gram positif menyerap zat warna pertama yaitu kristal violet yang
menyebabkan berwarna ungu, sedangkan bakteri gram negatif menyerap zat warna
kedua yaitu safranin dan menyebabkannya berwarna merah (Dwijoseputro, 1982).
Bakteri gram positif memiliki kandungan peptidoglikan yang tinggi
(dapat mencapai 50%) dibandingkan bakteri gram negatif (sekitar 10%).
Sebaliknya kandungan lipida dinding sel bakteri gram positif rendah sedangkan
pada dinding sel bakteri gram negatif tinggi yaitu sekitar 11-22% (Lay, 1992).
2.3.1 Perkembangbiakan bakteri
Pertumbuhan dan perkembangbiakan bakteri dipengaruhi oleh:
1. Suhu
Setiap spesies bakteri tumbuh pada suatu kisaran suhu tertentu. Atas dasar
ini maka bakteri diklasifikasikan menjadi (Dwijoseputro,1982):
a. Bakteri psikrofil (oligotermik) yaitu bakteri yang dapat hidup antara
suhu 0-30oC, sedangkan suhu ptimumnya antara 10-20oC.

Universitas Sumatera Utara

b. Bakteri mesofil (mesotermik), yaitu bakteri yang tumbuh pada suhu


antara 5-60oC, sedangkan suhu optimumnya antara 25-40oC.
c. Bakteri termofil (politermik), yaitu bakteri yang tumbuh dengan
baik pada suhu 50-60oC, meskipun demikian bakteri ini juga dapat
berbiak pada temperatur lebih rendah atau lebih tinggi dari pada itu,
yaitu dengan batas-batas 40-80oC.
Suhu terendah dimana bakteri dapat tumbuh disebut minimum growth
temperature. Sedangkan suhu tertinggi dimana bakteri dapat tumbuh dengan
baik disebut maximum growth temperature. Suhu dimana bakteri dapat tumbuh
dengan sempurna di antara kedua suhu tersebut disebut suhu optimum (Pratiwi,
2008).
2. pH
Pertumbuhan bakteri pada pH optimal antara 6,5 dan 7,5. Namun, beberapa
spesies dapat tumbuh dalam keadaan sangat asam atau sangat alkali. Bagi
kebanyakan spesies, nilai pH minimum dan maksimum ialah antara 4 dan 9.
Bila bakteri dibiakan dalam suatu medium, yang mula-mula disesuaikan adalah
pHnya maka mungkin sekali pH ini berubah karena adanya senyawa asam atau
basa yang dihasilkan selama pertumbuhan (Pelczar dan Chan, 1988).
3. Oksigen
Berdasarkan akan kebutuhan terhadap oksigen, bakteri dapat digolongkan
menjadi (Pratiwi, 2008):
a. Bakteri aerob mutlak, yaitu bakteri yang untuk pertumbuhannya
memerlukan adanya oksigen.
b. Bakteri anaerob fakultatif, yaitu bakteri yang dapat tumbuh, baik
ada oksigen maupun tanpa adanya oksigen.

Universitas Sumatera Utara

c. Bakteri anaerob aerotoleran, yaitu bakteri yang tidak mati dengan


adanya oksigen.
d. Bakteri anaerob mutlak, yaitu bakteri yang hidup bila tidak ada
oksigen.
e. Bakteri mikroaerofilik, yaitu bakteri yang kebutuhan oksigennya
rendah.
4.

Nutrisi
Sumber zat makanan (nutrisi) bagi bakteri diperoleh dari senyawa
karbon, nitrogen, sulfur, fosfor, unsur logam (natrium, kalsium,
magnesium, mangan, besi, tembaga dan kobalt), vitamin dan air untuk
fungsi-fungsi metabolik dan pertumbuhannya (Dwijoseputro, 1982).

5.

Pengaruh Kebasahan dan Kekeringan


Bakteri sebenarnya adalah makhluk yang suka akan keadaan basah,
bahkan dapat hidup di dalam air, hanya di dalam air yang tertutup mereka
tidak dapat hidup subur, hal ini disebabkan karena kurangnya udara. Tanah
yang basah baik untuk kehidupan bakteri. Banyak bakteri yang mati, jika
terkena udara kering (Dwijoseputro, 1982).
6. Tekanan Osmosa.
Medium yang paling cocok untuk kehidupan bakteri ialah medium
yang isotonik terhadap isi sel bakteri (Dwijoseputro, 1982).

2.3.2 Media pertumbuhan bakteri


Pembiakan mikroorganisme membutuhkan media yang berisi zat hara
serta lingkungan pertumbuhan yang sesuai bagi mikroorganisme. Media dapat
dibagi berdasarkan (Lay, 1994):

Universitas Sumatera Utara

1. Konsistensinya, media dapat dibagi menjadi tiga macam, yaitu:


a. Media padat
b. Media cair
c. Media semi padat
Media padat diperoleh dengan menambahkan agar. Agar berasal dari
ganggang merah. Agar digunakan sebagai bahan pemadat karena tidak
diuraikan oleh mikroorganisme dan membeku pada suhu diatas 45oC.
Kandungan agar sebagai bahan pemadat dalam media adalah 1,5-2%.
2. Sumber bahan baku yang digunakan, media dapat dibagi menjadi dua
macam:
a. Media sintetik, bahan baku yang digunakan merupakan bahan kimia
atau bahan yang bukan berasal dari alam. Pada media sintetik,
kandungan dan isi bahan yang ditambahkan diketahui secara
terperinci.
b. Media nonsintetik, menggunakan bahan yang terdapat di alam,
biasanya tidak diketahui kandungan kimianya secara terperinci.
Contoh: ekstrak daging, pepton, ekstrak ragi dan kaldu daging.
2.3.3 Fase pertumbuhan bakteri
Bila bakteri ditanam dalam perbenihan yang sesuai dan pada waktu-waktu
tertentu diobservasi (dihitung jumlah bakteri yang hidup), pertumbuhan dan
perkembangbiakan bakteri tersebut dapat digambarkan dengan sebuah grafik.
Pertumbuhan bakteri tersebut dapat dibagi menjadi 4 fase yaitu:
1. Fase Penyesuaian Diri (Lag phase)
Fase penyesuaian merupakan periode waktu dari bakteri yang ditanam pada
media perbenihan yang sesuai atau waktu yang diperlukan untuk beradaptasi

Universitas Sumatera Utara

terhadap lingkungan yang baru. Rentang waktu fase penyesuaian tersebut


tergantung dari fase pertumbuhan bakteri saat dipindahkan untuk diinokulasikan
pada media perbenihan yang baru dan tergantung pula pada adanya bahan toksis
atau bahan yang dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangbiakan
bakteri. Waktu penyesuaiaan ini umumnya berlangsung selama 2 jam. Pada fase
ini belum terjadi pertumbuhan dan perkembangbiakan, tetapi aktivitas
metabolismenya sangat tinggi (Pratiwi, 2008).
2. Fase Pembelahan (Log phase)
Pada fase ini bakteri berkembang biak dengan cepat, jumlah bakteri
meningkat secara eksponensial. Untuk kebanyakan bakteri, fase ini berlangsung
18 24 jam. Pada fase ini pertumbuhan sangat ideal, pembelahan terjadi secara
teratur, semua bahan dalam sel berada dalam seimbang (balanced growth)
(Pratiwi, 2008).
3. Fase Stasioner (Stationary phase)
Dengan meningkatnya jumlah bakteri, meningkat juga hasil metabolisme
yang toksik. Bakteri mulai ada yang mati, pembelahan terhambat, pada suatu
saat terjadi jumlah bakteri yang hidup sama dengan bakteri yang mati (Pratiwi,
2008).
4. Fase Kematian (Death phase)
Pada fase ini terjadi akumulasi bahan toksik, zat hara yang diperlukan oleh
bakteri berkurang sehingga bakteri akan memasuki fase kematian. Fase ini
merupakan kebalikan dari fase logaritmik. Jumlah sel menurun terus sampai
didapatkan jumlah sel yang konstan untuk beberapa waktu (Lay, 1992).

Universitas Sumatera Utara

c
b
d

Gambar 2.1 Grafik Pertumbuhan bakteri


Keterangan:
a : Lag phase
b : Log phase
c : Stationary phase
d : Death phase
2.4 Bakteri Streptococcus mutans
2.4.1 Sistematika bakteri Streptococcus mutans
Sistematika bakteri (Tjitrosoepomo, 1994):
Divisi

: Schizophyta

Kelas

: Schizomycetes

Bangsa

: Eubacteriales

Suku

: Lactobacillaceae

Marga

: Streptococcus

Spesies

: Streptococcus mutans

2.4.2 Uraian bakteri Streptococcus mutans


Streptococcus mutans merupakan bakteri gram positif, bersifat nonmotil
(tidak bergerak), bakteri anaerob fakultatif. Berbentuk kokus dan tersusun dalam
o

bentuk rantai. Bakteri ini tumbuh secara optimal pada suhu sekitar 18-40 C.
Streptococcus mutans biasanya ditemukan pada rongga gigi manusia dan menjadi
bakteri yang paling kondusif menyebabkan karies untuk email gigi (Nugraha,
2008).

Universitas Sumatera Utara

2.4.3 Karies Gigi


Pada permukaan rongga mulut terdapat banyak koloni mikroorganisme.
Salah satu penyakit yang umum pada rongga mulut akibat kolonisasi
mikroorganisme adalah karies gigi. Karies gigi diawali akibat pertumbuhan
Streptococcus mutans dan spesies Streptococcus lainnya pada permukaan gigi.
Spesies Streptococcus ini mampu menempel pada permukaan gigi. Hasil
fermentasi

metabolismenya

menghidrolisis

sukrosa

menjadi

komponen

monosakarida, fruktosa dan glukosa. Enzim glukosiltransferase selanjutnya


merakit glukosa menjadi dekstran. Residu fruktosa adalah gula utama yang
difermentasi menjadi asam laktat. Akumulasi bakteri dan dekstran menempel pada
permukaan gigi dan membentuk plak gigi (Pratiwi, 2008).

2.5 Bakteri Staphylococcus aureus


2.5.1 Sistematika Bakteri Staphylococcus aureus
Sistematika bakteri (Tjitrosoepomo, 1994):
Divisio

: Schizophyta

Kelas

: Schizomycetes

Bangsa

: Eubacteriales

Suku

: Micrococcaceae

Marga

: Staphylococcus

Jenis

: Staphylococcus aureus

2.5.2 Uraian Bakteri Staphylococcus aureus


Staphylococcus adalah sel-sel berbentuk bola dengan garis tengah sekitar
1 m dan tersusun dalam kelompok-kelompok tak beraturan seperti anggur.
Bakteri ini mudah tumbuh pada berbagai perbenihan dan mempunyai metabolisme

Universitas Sumatera Utara

aktif, meragikan karohidrat serta membentuk koloni berwarna abu-abu sampai


kuning emas tua.
Staphylococcus aureus merupakan patogen utama bagi manusia. Hampir
setiap orang akan mengalami berbagai tipe infeksi Staphylococcus aureus
sepanjang hidupnya, bervariasi dalam beratnya mulai dari keracunan makan atau
infeksi kulit ringan sampai infeksi berat yang megancam jiwa. Staphylococcus
aureus merupakan bakteri gram positif, yang terdapat pada kulit, hidung, mulut,
selaput lender, bisul dan luka yang menyebabkan pernanahan, abses dan berbagai
infeksi piogen. Pernanahan fokal (abses) adalah sifat khas infeksi Staphylococcus.
Dari setiap fokus, organisme menyebar melalui saluran getah bening dan aliran
darah ke bagian tubuh lainnya. Pernanahan dalam vena, yang disertai thrombosis,
sering

terjadi

pada

penyebaran

tersebut.

Staphylococcus

aureus

dapat

menyebabkan pneumonia, meningitis, atau sepsis dengan parnanahan pada bagian


tubuh mana pun (Jawetz, 1996).

2.6 Uji Aktivitas Antibakteri


Pengukuran aktivitas antibakteri dapat dilakukan dengan metode dilusi
(pengenceran) atau dengan metode difusi (Jawetz, 1982).
a. Metode dilusi
Zat antibakteri dengan konsentrasi yang berbeda-beda dimasukkan pada media
cair. Media tersebut langsung diinokulasi dengan bakteri dan diinkubasi.
Tujuan dari percobaan ini adalah menentukan konsentrasi terkecil suatu zat
antibakteri dapat menghambat pertumbuhan atau membunuh bakteri uji.
Metode dilusi agar membutuhkan waktu yang lama dalam pengerjaannya
sehingga jarang digunakan.

Universitas Sumatera Utara

b. Metode difusi
Metode yang paling sering digunakan adalah metode difusi agar dengan
menggunakan cakram kertas, cakram kaca, pencetak lubang. Prinsip metode
ini adalah mengukur zona hambatan pertumbuhan bakteri yang terjadi akibat
difusi zat yang bersifat sebagai antibakteri di dalam media padat melalui
pencadang. Daerah hambatan pertumbuhan bakteri adalah daerah jernih di
sekitar cakram. Luas daerah berbanding lurus dengan aktivitas antibateri,
semakin kuat daya aktivitas antibakteri maka semakin luas daerah hambatnya.

2.7 Obat Kumur


Definisi obat kumur (gargarisma/gargle) menurut Farmakope Indonesia III
adalah sediaan berupa larutan, umumnya pekat yang harus diencerkan dahulu
sebelum digunakan, dimaksudkan untuk digunakan sebagai pencegahan atau
pengobatan infeksi tenggorokan.
Menurut definisi yang lain, obat kumur adalah larutan yang biasanya
mengandung bahan penyegar nafas, astringen, demulsen, atau surfaktan, atau
antibakteri untuk menyegarkan dan membersihkan saluran pernafasan yang
pemakaiannya dengan berkumur (Backer, 1990). Selain bahan aktif yang
umumnya sebagai antibakteri, dalam formulasi obat kumur, bahan tambahan lain
yang digunakan adalah (Sagarin dan Gershon, 2001): dapar, surfaktan, dan aroma.
Secara garis besar, obat kumur dalam penggunaannya dibedakan menjadi
tiga macam, yaitu (Sagarin dan Gershon, 2001) :
1) Sebagai kosmetik; hanya membersihkan, menyegarkan, dan/atau penghilang
bau mulut.

Universitas Sumatera Utara

2) Sebagai terapeutik; untuk perawatan penyakit pada mukosa atau ginggiva,


pencegahan karies gigi atau pengobatan infeksi saluran pernafasan.
3) Sebagai kosmetik dan terapeutik.
Berdasarkan komposisinya, Sagarin dan Gershon (2001) menggolongkan
obat kumur dalam berbagai jenis, yaitu:
1) Obat kumur untuk kosmetik; terdiri dari air (dan biasanya alkohol), flavor, dan
zat pewarna. Biasanya juga mengandung surfaktan dengan tujuan meningkatkan
kelarutan minyak atsiri.
2)

Obat kumur yang mempunyai tujuan utama untuk menghilangkan atau

membunuh bakteri yang biasanya terdapat dalam jumlah besar di saluran nafas.
Komponen antiseptik dari obat kumur ini memegang peranan utama untuk
mencapai tujuan tersebut.
3) Obat kumur yang bersifat sebagai astringent, dengan maksud memberi efek
langsung pada mukosa mulut, juga untuk mengurangi flokulasi dan presipitasi
protein ludah sehingga dapat dihilangkan secara mekanis.
4) Obat kumur yang pekat, pada penggunaannya perlu diencerkan terlebih dahulu.
5) Obat kumur yang didapar, aktivitasnya tergantung pada pH larutan. Pada
suasana alkali dapat mengurangi mucinous deposits dengan dispersi dari protein.
6) Obat kumur untuk deodoran, tergantung dari aktivitas antibakteri atau dengan
mekanisme lain untuk mendapatkan efek tersebut.
7) Obat kumur untuk terapeutik, diformulasi untuk meringankan infeksi, mencegah
karies gigi, atau untuk meringankan beberapa kondisi patologis pada mulut, gigi,
atau tenggorokan.

Universitas Sumatera Utara

2.8 Komposisi Obat Kumur


2.8.1 Saccharin
Sakarin adalah salah satu bahan pemanis yang digunakan dalam minuman,
produk makanan, pemanis atau gula meja, dan produk kesehatan mulut lainnya
seperti pasta gigi dan obat kumur. Dalam formulasi farmasi oral, digunakan pada
konsentrasi 0,02-0,5% w/w. Dapat juga digunakan dalam formulasi tablet yang
dapat dikunyah sebagai bahan pemanis. Sakarin dapat digunakan untuk melapisi
berbagai karakteristik rasa yang kurang menyenangkan atau meningkatkan system
aroma. Daya pemanisnya mencapai 300-600 kali sukrosa.
Sakarin terdapat dalam kristal putih tidak berwarna atau serbuk kristal
putih. Sakarin memiliki rasa manis yang cukup tinggi dengan rasa metalik atau
menggigit setelah dirasakan yang pada tingkat penggunaan normal dapat terdeteksi
hingga 25% dari populasi. Sisa rasa dapat ditutupi dengan mencampurkan sakarin
dengan pemanis lainnya.
2.8.2 Menthol
Menthol banyak digunakan dalam produk farmasi sebagai zat pemberi
aroma atau peningkat bau. Disamping karakteristiknya berupa aroma peppermint
yang mempunyai bau alami juga memberikan rasa dingin atau segar yang
dieksploitasikan dalam berbagai obat topikal. Menhol telah diteliti sebagai
peningkat penetrasi kulit dan digunakan dalam parfum, permen karet dan sebagai
zat terapi. Ketika diberikan pada kulit, menthol akan mendilatasi pembuluh darah,
menyebabkan sensasi dingin yang diikuti oleh efek analgesik. Ketika diberikan
secara oral dalam dosis kecil memiliki aksi sebagai karminatif.
Menthol terjadi dialam sebagai l-menthol dan merupakan komponen utama
dari peppermint dan minyak cornmit yang diperoleh dari Mentha piperita dan

Universitas Sumatera Utara

Mentha arvensis species. Secara komersial, l-menthol adalah masih dihasilkan


oleh ekstraksi dari minyak volatile. Penggunaan menthol dalam berbagai sediaan
farmasi dapat dapat dilihat pada table dibawah ini:

Tabel 2.1 Penggunaan Menthol Dalam Berbagai Sediaan Farmasi (Rowe, 2009):
Penggunaan

Konsentrasi (%)

Produk farmasi
Inhalasi
Suspensi oral
Sirup oral
Tablet
Formulasi topikal

0,02-0,05
0,003
0,005-0,015
0,2-0,4
0,05-10,0

Produk kosmetik
Pasta gigi
Obat kumur
Spray oral

0,4
0,1-2,0
0,3

Universitas Sumatera Utara