Anda di halaman 1dari 6

Lamun (seagrasses) adalah tumbuhan berbunga (Angiospermae), yang sudah

sepenuhnya menyesuaikan diri hidup terbenam di dalam laut. Tumbuhan ini


mempunyai beberapa sifat yang memungkinkannya hidup di lingkungan laut,
yaitu mampu hidup di media air asin, mampu berfungsi normal dalam keadaan
terbenam, mempunyai sistem perakaran jangkar yang berkembang baik, mampu
melaksanakan penyerbukan dan daur generatif dalam keadaan terbenam (Den
Hartog, 1970 dalam Dahuri, 2003). Lamun mempunyai perbedaan yang nyata
dengan tumbuhan yang hidup terbenam dalam laut lainnya, seperti makroalgae
atau rumput laut (seaweeds). Tumbuhan lamun memiliki bunga dan buah yang
kemudian berkembang menjadi benih (Dahuri, 2003).
Tumbuhan lamun terdiri dari rhizoma (rimpang), daun, dan akar. Rhizoma
merupakan batang yang terbenam dan merayap secara mendatar, serta berbukubuku (Gambar 1). Pada buku-buku tersebut tumbuh batang pendek yang tegak
keatas, berdaun dan berbunga, serta tumbuh akar. Dengan rhizoma dan akar inilah
tumbuhan tersebut menampakan diri dengan kokoh di dasar laut sehingga tahan
terhadap hempasan ombak dan arus. Lamun sebagian besar berumah dua, yaitu
dalam satu tumbuhan hanya ada satu bunga jantan saja atau satu bunga betina
saja. Sistem pembiakan bersifat khas karena mampu melakukan penyerbukan di
dalam air dan buahnya juga terbenam di dalam air (Azkab, 2006 dalam
Nainggolan, 2011).
Lamun secara struktural dan fungsional memiliki kesamaan dengan tumbuhan
(rumput) daratan. Seperti tumbuhan daratan, lamun dapat dibedakan kedalam
morfologi yang tampak seperti daun, tangkai, akar, dan struktur reproduksi (bunga
dan buah). Karena lamun hidup dibawah permukaan air baik sebagian atau
seluruh siklus hidupnya, maka sebagian besar melakukan penyerbukan di dalam
air. Perkembangbiakan lamun secara vegetatif tergantung pada pertumbuhan dan
percabangan rhizoma (Setyobudiandi dkk, 2009).
Akar-akar lamun memiliki beberapa fungsi yang sama dengan tumbuhan daratan,
yaitu untuk menancapkan tumbuhan ke substrat dan menyerap zat-zat hara.
Karena lamun mendiami lingkungan perairan, maka akar-akarnya tidak berperan
penting dalam mengambil air (dibandingkan dengan akar-akar tumbuhan daratan),
dan zat-zat hara juga langsung diserap dari kolom air melalui daun-daunnya.
Lamun mempunyai saluran udara yang berkembang di daun dan tangkainya,
sehingga tidak menjadi masalah dalam mendapatkan oksigen meskipun lamun
berada di bawah permukaan air (Setyobudiandi dkk, 2009).
Di Indonesia sampai saat ini tercatat ada 12 spesies lamun. Kedua belas jenis
lamun ini tergolong pada 7 genus. Ketujuh genus ini terdiri dari 3 genus dari
family Hydrocharitaceae yaitu Enhalus, Thalassia dan Halophila, dan 4 genus dari
family Potamogetonaceae yaitu Syringodium, Cymodocea, Halodule dan
Thalassodendron (Nontji, 1987 dalam Fauziyah, 2004). Jenis-jenis lamun yang
ada di Indonesia disajikan dalam Tabel 1.
Tabel 1. Jenis-jenis Lamun Di Indonesia

1
Cymodocea rotundata
Spesies pionir, dominan di daerah intertidal
2
Cymodocea serrulata
Tumbuh hanya di daerah yang berbatasan dengan mangrove
3
Enhalus acoroides
Tumbuh di substrat pasir berlumpur
4
Halodule pinifolia
Spesies pionir, dominan di daerah intertidal
5
Halodule uninervis
Tumbuh pada rataan terumbu karang yang rusak
6
Halophila minor
Tumbuh pada substrat berlumpur
7
Halophila ovalis
Tumbuh di daerah yang intensitas cahayanya kurang
8
Halophila decipiens
Tumbuh pada substrat berlumpur
9
Halophila spinulosa
Tumbuh pada rataan terumbu karang yang rusak
10
Syringodium isoetifolium

Tumbuh pada substrat lumpur yang dangkal


11
Thalassia hemprichii
Tumbuh pada substrat pasir berlumpur dan pecahan karang
12
Thalassodendron ciliatum
Tumbuh pada daerah subtidal
Sumber : (Bengen, 2004, Dahuri, 2003 dalam Amran, 2007)
Kirkman (1985) dalam Argadi (2003), menyatakan bahwa zonasi sebaran lamun
dari pantai kearah tubir secara umum berkesinambungan, namun bisa terdapat
perbedaan pada komposisi jenisnya (vegetasi tunggal atau campuran) maupun luas
penutupannya. Tumbuhan lamun tersebar luas pada perairan dangkal mulai dari
utara, kawasan Artik, sampai ke sebelah selatan benua Afrika dan New Zealand.
Konsentrasi sebaran tumbuhan lamun ada di daerah Indo-Pasifik dan pantai-pantai
Amerika Tengah di daerah Karibia-Pasifik (Muhamaze, 2010 dalam Tuwo, 2011).
Penyebaran padang lamun di Indonesia mencangkup perairan Jawa, Sumatra,
Bali, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara, dan Irian Jaya. Spesies yang
dominan dan dijumpai hampir diseluruh Indonesia adalah Thalassia hemprichii
(Brouns, 1985; Hutomo et al. 1988 dalam Dahuri, 2003). Luas padang lamun di
Indonesia diperkirakan 30.000 km2 (Nontji, 2010 dalam Tuwo, 2011). Tumbuhan
lamun terdiri atas 2 famili, 12 genera dengan 49 jenis. Dari 12 genera tersebut, 7
genera diantaranya hidup di perairan tropis yaitu Enhalus, Thalassia,
Thalassodendron, Halophila, Halodule, Cymodocea, dan Syringodium (Den
Hartog, 1970 dalam Tuwo, 2011).
Keragaman lamun terbesar di dunia terdapat di perairan Indo-Pasifik (Denhartog,
1970 dalam Fauziyah, 2004). Australia merupakan daerah dengan keragaman
lamun terbesar di dunia, memilki 31 jenis lamun dari 11 genus. Di perairan Asia
Tenggara terdapat 16 jenis lamun dari 7 genus. 12 jenis diantaranya tersebar
merata di seluruh perairan Indonesia, kecuali Halophila spinulosa dan Halophila
decipiens, mempunyai penyebaran yang lebih terbatas (Tomascik et al., 1997
dalam Fauziyah, 2004).
Komunitas padang lamun mempunyai 3 tipe vegetasi, yaitu monospesifik
(tunggal), asosiasi dua/tiga jenis dan vegetasi campuran. Vegetasi monospesifik
merupakan komunitas lamun yng terdiri atas satu jenis, dan terjadi sementara
sebagai fase intermediate menuju situasi yang lebih stabil (vegetasi campuran).
Vegetasi campuran biasannya terdiri dari beberapa asosiasi minimal 4 jenis
(Nienhuis et al., 1991 dalam Fauziyah, 2004).

Jenis lamun yang umumnya membentuk vegetasi monospesifik adalah Thalassia


hemprichii, Thalassodendron ciliatum, Enhalus acoroides, Cymodocea sp,
Syringodium isoetifolium, Halodule sp, Halophila sp (Nienhuis et al., 1991 dalam
Fauziyah, 2004). Vegetasi monospesifik dari Thalassia hemprichii merupakan unit
vegetasi yang paling luas sebarannya dan seringkali tumbuh dalam vegetasi
campuran pada substrat yang mengalami gangguan (Rustendi, 2001 dalam
Fauziyah, 2004). Asosiasi 2 jenis yang sering terjadi yaitu Enhalus acoroides
dengan Thalassia hemprichii (kadang dibarengi Halodule uninervis), Cymodocea
rotundata dengan Halodule uninervis, Cymodocea rotundata dengan Halophila
ovalis, Halophila ovalis dengan Halodule uninervis, dan Thalassia hemprichii
dengan Cymodocea rotundata (Nienhuis et al., 1991 dalam Fauziyah, 2005).
Suatu komunitas dikatakan mempunyai keanekaragaman tinggi jika terdapat jenis
yang melimpah secara merata. Jika komunitas disusun dari sejumlah kecil jenis
atau hanya sejumlah kecil jenis yang melimpah maka keanekaragaman jenis
dalam komunitas tersebut rendah (Brower et al., 1990 dalam Fauziyah, 2004).
Lamun dapat ditemukan pada berbagai karakteristik substrat. Di Indonesia padang
lamun dikelompokkan kedalam enam kategori berdasarkan karakteristik tipe
substratnya, yaitu lamun yang hidup di substrat lumpur, lumpur pasiran, pasir,
pasir lumpuran, puing karang dan batu karang (Kiswara et al., 1985 dalam
Hendra, 2011).
Hampir semua tipe substrat dapat ditumbuhi lamun, mulai dari substrat berlumpur
sampai berbatu. Namun padang lamun yang luas lebih sering ditemukan di
substrat lumpur-berpasir yang tebal antara hutan rawa mangrove dan terumbu
karang. Agar proses fotosintesis berjalan optimal, lamun perlu sinar matahari yang
cukup, karena itu lamun dapat tumbuh baik diperairan dangkal yang berair jernih
sampai kedalam sekitar 40 m atau sampai batas cahaya matahari dapat masuk
(sampai lamun dapat berfotosintesis). Lamun juga masih dapat tumbuh di perairan
yang relatif keruh. Di daerah pasang surut lamun tetap dapat bertahan, meskipun
daun-daunnya terjemur di terik matahari pada waktu air surut rendah yang
menyebabkan daun mengering. Daun lamun yang diatas muka air boleh
mengering, namun rimpang dan akarnya tetap bertahan hidup. Rimpang dan
akarnya ini juga mampu menyesuaikan diri dengan berbagai tipe dasar perairan
(Hutomo et al., 2009 dalam Herliandi, 2011).
Halophila decipiens tersebar luas pada daerah tropis, dan hampir mencakup
seluruh wilayah global. Lamun jenis ini ditemukan pada perairan yang dalam. H.
decipiens tidak memiliki predator atau ancaman karena berada pada perairan yang
lebih dalam. Pembangunan daerah pesisir dapat mempengaruhi lamun yang hidup
pada daerah yang dangkal, pembangunan daerah pesisir dapat mengurangi
kualitas air. Kecenderungan populasi global pada spesies ini akan stabil dan
meningkat pada beberapa daerah meskipun ada beberapa daerah yang mengalami
penurunan.

Di perairan atlantik spesies ini ditemukan diteluk meksiko di laut karibia,


bermuda, dan brazil timur. Jenis ii juga ditemukan didaerah pantai barat laut afrika
dan di kepulauan Kanari
Di daerah pasifik spesies ini ditemukan di perairan jepang selatan dan di pantai
China di seluruh Asia tenggara dan meluar menuju Laut Coral Fiji. Spesies ini
juga ditemukan didaerah di temukan di Great Barrier Reef Australia utara. Di
Samudra Hindia H. decipiens ditemukan dari barat daya Australia dari laut Timor
di sepanjang pantai Indonesia, Thailand dan Myanmar selatan (Novak et al. 2009).
Lamun ini juga terdapat di India, disebelah tenggara dan barat-tengah pantai.
H. decipiens biasanya ditemukan pada sedimen kasar, pasir, dan dasar berlumpur.
Spesies lamun ini hidup di perairan yang dalam tetapi ada beberapa yang
ditemukan di perairan dangkal dibawah dermaga dan di daerah keruh. H.
decipiens dapat tumbuh didaerah dengan sedimentasi yang tinggi. Halophila
decipiens merupakan monoecious. Dengan bunga jantan dan betina terdapat pada
tempat yang sama. Bunga betina dapat menghasilkan sekitar 30 biji.
Dikaribia spesies ini dapat ditemuka pada kedalaman sekitar 30 m, namun di
Indo_pasifik dapat ditemukan pada kedalamn 58. Spesies ini cenderung berada di
padang lamun monospesifik tapi beberapa kadang berasosiasi dengan H. spinulosa
dan H. baillonii. Lamun ini merupakan lamun musiman dan memiliki kantung
benih yang besar. Spesies ini merupakan spesies yang dapat berkoloni kembali
dengan cepat saat terganggu predatornya.
H. decipiens dapat menyebar melalui tunas, tetapi tetap bergantung pada benih
yang terkubur untuk populasi pada pembentukan kembali pada saat musimnya
atau pada lingkungan dengan gangguan yang tinggi. Spesies ini merupakan
spesies yang subur, tahunan, dan memiliki oportunistik. Spesies ini tidak mampu
bersaing dengan spesies lain.
Di Thailand spesies ini diperkirakan hanya tumbuh di perairan dengan kedalaman
9-36 m tetapi saat ini spesies ini telah ditemukan pada didaerah intertidal dimana
spesies ini terkena pasang surut. Di amerika selatan, spesies ini berasosiasi dengan
terumbu karang dan alga di kedalaman
Spesimen dari lamun ini pertama kali ditemukan di barat daya Australia oleh
Hardy Inlet dekat muara sungai Blackwood pada akhir desember 1991. H.
decipiens sering bersama dengan H. ovalis pada kedalaman 35 m, serta berada
pada kolom batu pada area pasang surut. Tanaman dewasa menghasilka bunga di
musim gugur dan padang lamun spesies ini akan menghilang selama musim
dingin.
Daun : Lamun ini memiliki daun oval dengan panjang 1-2,5 cm dan lebar 0,5 cm.
Lamun ini memiliki gerigi pada tepi daun dan rambut pada kedua sisi daun. Daun
dari lamun ini tipis, halus dan memiliki rimpang putih. Daun pada lamun ini
muncul berpasangan dari rimpang tersebut

Bunga dan Buah : Buah dari lamun ini hijau kecil 0,5 cm berisi hingga 30 biji.
Spesies ini berperilaku sebagai tumbuhan tahunan, tumbuh, berbunga dan mati
dalam waktu yang singkat.
Halophila decipiens memiliki helai-helai daun yang berbulu, tembus
cahaya, tipis menyolok, dan berbentuk oval atau elips. Selain itu mempunyai tepi
daun yang bergerigi seperti gergaji, daun yang berpasang-pasangan, rhizomanya
berbulu dan sering tampak kotor karena sedimen menempel pada bulu-bulu
tersebut.
Kingdom
Divisi
Kelas

: Plantae
: Anthophyta
: Angiospermae

Subkelas : Monocotyledonae
Ordo

: Helobiae

Famili

: Hydrocharitaceae

Genus

: Halophila

Spesies

: Halophila decipiens